MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Kamis, 25 Juli 2024

EDISI KHUTBAH JUM'AT (Orang Beriman dan Beramal Shalih Tetapi Masuk Neraka)

*Khutbah Pertama*

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ، 

أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام ، أَمَّا بَعْدُ: 

فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ ذَوِى اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى : وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا. 

*Jama'ah shalat jum'at rahimakumullah*

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang sesuai dengan isi hati mereka dan membuktikannya dengan beramal saleh bahwa mereka akan mendapat ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala yang besar berupa surga. Sebagaimana firman-nya,

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ۙ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (المائدة : ٩)

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal shaleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Maidah : 9)

Namun dalam firman-Nya yang lain Allah juga menjelaskan,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (الفتح : ٢٩)

"Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fath : 29)

Dalam ayat ini Allah Ta'ala menegaskan bahwa "diantara mereka" mendapat ampunan dan pahala besar yaitu surga. Artinya ada sebagian dari orang yang beriman dan beramal shaleh yang tidak mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah Ta'ala, disinilah perlu kita cari tau apa penyebabnya.

Dalam sebuah hadits juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan hakikat amal ibadah seorang hamba bahwa sama sekali tidak bisa menjadi jaminan untuk masuk surga kecuali disertai rahmat Allah Ta'ala sebagaimana hadits berikut,

لا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللهِ

“Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah.” (HR. Muslim).

*Jama'ah shalat jum'at rahimakumullah*

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah juga bercerita kepada Abu Hurairah ra. tentang dua orang bersaudara dari kalangan  Bani Israil dengan sifat yang sangat kontras; yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sangat rajin beribadah.

Rupanya si ahli ibadah yang selalu menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa tak betah untuk tidak menegur. Teguran  pertama pun terlontar. Seolah tak memberikan efek apa pun, perbuatan dosa tetap berlanjut dan sekali lagi tak luput dari pantauan si ahli ibadah.

“Berhentilah!” Sergahnya untuk kedua kali.

Si pendosa lantas berucap, "Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?"

Mungkin karena sangat kesal, lisan saudara yang rajin beribadah itu tiba-tiba mengeluarkan semacam kecaman:

وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللهُ الْجَنَّةَ

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Kisah ini terekam sangat jelas dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu Hibban, Abu Dawud dan Ahmad. Di bagian akhir, hadits tersebut memaparkan, tatkala masing-masing meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala.

Kepada yang tekun beribadah, Allah mengatakan, "Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?"

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

"Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku," kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, "(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka."

Berikut teks haditsnya,

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَآخِيَيْنِ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُولُ أَقْصِرْ. فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَىَّ رَقِيبًا فَقَالَ وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللهُ الْجَنَّةَ. فَقُبِضَ أَرْوَاحُهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَقَالَ لِهٰذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ». قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ.

Abu Hurairah Radhiallahu ’anhu berkata, 'Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu ada dua orang di Bani Isra’il yang bersaudara, salah satunya suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Saudaranya yang ahli ibadah setiap melihat saudaranya yang suka berdosa maka dia menasihatinya, ‘Berhentilah kamu.’ Pada suatu saat, dia mendapatinya melakukan dosa lalu menasihatinya tetapi saudaranya yang berdosa mengatakan, ‘Biarkanlah diriku dengan Rabbku, apakah kamu diutus untuk mengawasiku?’ Maka saudaranya berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu atau tidak akan memasukkanmu ke surga.’ Akhirnya, keduanya dibangkitkan ruh keduanya maka keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam, lalu Allah mengatakan kepada yang rajin ibadah, ‘Apakah kamu lebih tahu daripada Aku? Apakah kamu memiliki kekuasaan apa yang berada pada Tangan-Ku.’ Dan Allah berfirman kepada yang berdosa, ‘Pergilah kamu dan masuklah ke surga dengan sebab rahmat-Ku’ dan mengatakan untuk saudaranya yang lain, ‘Seretlah dia ke neraka.’” Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh dia telah mengucapkan suatu ucapan yang menyengsarakan dunia dan akhiratnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Abu Dawud no.4901)

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

 *Khutbah Kedua*   

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقَ وَالْبَشَرِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلَّمُ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ ۰ 

فَيَاعِبَادَ ﷲ... اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا:  ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ...

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ 

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ    

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Kamis, 04 Juli 2024

KAJIAN TENTANG HUKUM MENUDUH KAFIR BAGI YANG TIDAK PERCAYA HABAIB

Mencela sesama kaum muslimin secara umum termasuk dalam perbuatan dosa besar, apalagi mengkafirkan sesama muslimin. Diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)

Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالفُسُوقِ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan tuduhan fasik dan jangan pula menuduhnya dengan tuduhan kafir, karena tuduhan itu akan kembali kepada dirinya sendiri jika orang lain tersebut tidak sebagaimana yang dia tuduhkan.” (HR. Bukhari no. 6045)

Dari sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ، أَوْ قَالَ: عَدُوُّ اللهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ

“Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut.” (HR. Muslim no. 61)

Belakangan ini kita dihebohkan oleh ungkapan yang terlalu vulgar, diekspos secara serampangan dan ditujukan kepada sembarang orang. Kafir, begitulah ungkapan itu. Seolah-olah kata tersebut memiliki makna tunggal, yaitu keluar dari Islam. 

Al-Quran mendefinisikan kata kafir sebagai perbuatan yang berhubungan dengan Tuhan. Seperti mengingkari nikmat Allah Ta'ala, tidak berterima kasih kepada-Nya, lari dari tanggung jawab, melepaskan diri dari suatu perbuatan, dan banyak lagi.

Di dalam literatur fiqih klasik, terdapat empat kategori kafir, yakni harbi, dzimmi, mu’ahad, dan musta’man. 

1. Kafir Muharib atau Ahlul Harb

Kafir muharib adalah orang kafir yang memerangi umat Islam di suatu negeri yang saat itu tengah terjadi konflik antar pemeluk agama. Kaum muslimin disyariatkan untuk memerangi orang kafir semacam ini sesuai dengan kemampuan mereka.

Allah Ta'ala berfirman,

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

"Dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa." (QS. At-Taubah : 36).

2. Kafir Mu'ahid atau Ahul-'ahd

Kafir mu'ahid merupakan orang kafir yang terikat perjanjian dengan pemimpin kaum muslimin untuk menghentikan perang (gencatan senjata) dalam kurun waktu tertentu. Mereka juga tinggal di negerinya sendiri.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari no. 3166)

3. Kafir Dzimmi atau Ahludz Dzimmah

Jenis orang kafir selanjutnya adalah kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang diizinkan untuk tinggal di negeri kaum muslimin. Sebagai gantinya mereka mengeluarkan jizyah, yakni semacam upeti. Tujuannya adalah sebagai kompensasi perlindungan terhadap mereka dan mengindahkan batasan-batasan aturan Islam.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” (HR. An Nasa’i

4. Kafir Musta'man

Kafir musta'man adalah orang kafir yang masuk ke negeri kaum muslimin dan diberi jaminan keamanan oleh penguasa muslim atau dari salah seorang penduduk muslim.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah: 6)

Termasuk tuduhan yang tidak pantas dengan sebutan kafir yang dilontarkan dalam sebuah video yang disana mengatakan bahwa orang yang sudah tidak percaya habaib itu kafir hukumnya dan yang tidak percaya sama habaib bukan manusia. Siapakah mereka para habaib itu, ahlul bait kah atau kah manusia suci sehingga yang tidak percaya kepadanya menjadi kafir?

Pertanyaan tersebut perlu jawaban yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan alasannya. Sampai saat ini validitas ahlul bait bagi habaib masih diperdebatkan kebenarannya, apalagi mereka para habaib belum bisa membuktikan pengakuannya secara ilmiah maupun berani tes DNA sebagai bukti nyata. Sementara yang mengatakan para habaib terputus dari dzurriyah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah memaparkan kajian ilmiahnya.

Terkait menghormati ahlul bait Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam para ulama telah menyebutkan bahwa orang yang menyakiti Ahlul Bait dan menyakiti Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam maka sama dengan menyakiti Allah Ta'ala. Al-Qur'an memberi ancaman tentang hal ini sebagaimana fırman-Nya:

اِنَّ الَّذِيۡنَ يُؤۡذُوۡنَ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فِى الدُّنۡيَا وَالۡاٰخِرَةِ وَاَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا مُّهِيۡنًا

"Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka." (QS 33, Al-Ahzab Ayat 57)

وَمَا كَانَ لَـكُمۡ اَنۡ تُؤۡذُوۡا رَسُوۡلَ اللّٰهِ وَلَاۤ اَنۡ تَـنۡكِحُوۡۤا اَزۡوَاجَهٗ مِنۡۢ بَعۡدِهٖۤ اَبَدًا ؕ اِنَّ ذٰ لِكُمۡ كَانَ عِنۡدَ اللّٰهِ عَظِيۡمًا

"Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah." (QS 33, Al-Ahzab Ayat 53)

Di dalam Hadis disebutkan,

إن النبي صلى الله عليه وسلم قال وهو على المنبر ما بال اقوام يؤذوننى فى نسبى وذوى رحمى الا من آذى نسبى وذوى رحمى فقد آذانى ومن آذانى فقد آذى الله تعالى

Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda sedangkan beliau di atas mimbar: "Apa keadaan kaum yang menyakiti aku dalam nasab dan kerabatku. Ingat, barangsiapa yang menyakiti keturunanku dan orang-orang yang mempunyai hubungan denganku, berarti ia menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku, maka ia benar-benar menyakiti Allah Ta'ala." (HR At-Thabrani dan Al-Baihaqi)

إن الله حرم الجنة على من ظلم اهل بيتى او قاتلهم او اعان عليهم او سبهم

"Sesungguhnya Allah melarang masuk surga terhadap orang yang menganiaya ahlu baitku , atau orang yang memerangi mereka, atau orang yang membantu orang yang memerangi mereka, atau orang yang memaki-maki mereka." (HR. Imam Ahmad)

إن النبي صلى الله عليه و سلم قال لو ان رجلا صفن بين الركن والمقام و صلى وصام ثم مات وهو مبغض لأهل بيت محمد صلى الله عليه وسلم دخل النار

Sesungguhnya Nabi  Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Andaikata seorang laki-laki berdiri antara hajar aswad dan maqam Ibrahim melakukan shalat dan puasa, kemudian meninggal dunia sedangkan membenci ahli bait Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ia masuk neraka." (HR at-Thabrani dan Al-Hakim)

قال عليه الصلاة والسلام اشتد غضب الله على من آذانى فى عترتى

Rasulullah bersabda, "Murka Allah menjadi sangat terhadap orang yang menyakiti aku tentang keluargaku." (HR Ad-Dailami). 

Singkatnya, jika memang habaib itu punya bukti sebagai dzurriyah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maka sebagai muslim wajib  menghormati mereka, tapi jika tidak, maka seseorang memiliki hak untuk memilih percaya dan tidaknya tidak menjadikannya kafir sebagaimana yang dituduhkan. Karena yang sudah jelas halal dan haram saja manusia bisa memilih. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 15 Juni 2024

BEDA ANTARA MUHAMMAD BIN IBRAHIM THABATHABA (W 199 H) DENGAN YAHYA THABATHABA ATAU IBNU THABATHABA (W 478 H)





Dalam kitab Itti'azh Al-Hunafa bi Akhbar Aimmah Al-Fathimiyyin Al-Kulafa karya Al-Imam Taqiyuddin Al-Maqrizi  juz 1 halaman 12 dijelaskan tentang biografi Muhammad bin Ibrahim Thabathaba ternyata adalah seorang Imam Syi'ah Zaidiyyah di Yaman sebagaimana penjelasan berikut,

محمد بن إبراهيم طباطبا (73 هـ - 199 هـ) من أئمة الزيديين في اليمن 

الأب : ابراهيم طباطبا  تعديل قيمة خاصية (P22) في ويكي بيانات

الأم : أم الزبير بنت عبد اللّه بن أبي بكر بن عباس بن عبد الرحمن بن الحرث بن هشام بن المغيرة بن عبد اللّه بن عمرو بن مخزوم

إخوة وأخوات : القاسم الرسي

له كتب ألفها في الأشعار والآداب، منها: كتاب سنام المعالي. كتاب عيار الشعر

إتعاظ حنفاء بأخبار الأمة الفاطميين الخلفاء لامام تقي الدين المقريزى جز ١ ص ١٢

عز الدين علي بن محمد بن الأثير (2012م). الكامل في التاريخ. بيروت: دار الكتاب العربي. ج. 5. ص. 464.

Muhammad bin Ibrahim Ṭhabaṭhaba (lahir 73 H - wafat 199 H) adalah salah satu imam dari Zaidiyah di Yaman.

- Ayah: Ibrahim Ṭhabaṭhaba

- Ibu: Umm Az-Zubair binti Abdullah bin Abi Bakr bin Abbas bin Abdul Rahman bin Al-Harth bin Hisham bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum

- Saudara: Al-Qasim Ar-Rasy

Dia menulis banyak buku tentang puisi dan sastra, di antaranya: buku "Sinam Al-Ma'ali" dan buku "'Iyar Ash-Shi'r".

Referensi:

I'tiazh Al-Ḥanafa' bi Akhbar Al-Ummah Al-Faṭhimiyyin al-Khulafa' li-Imam Taqiuddiin Al-Maqrizi, juz 1, halaman 12.

Sumber:

Ibn al-Athir, 'Izz al-Din Ali bin Muhammad. (2012). "Al-Kamil fi At-Tarikh". Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi. Jilid 5. Halaman 464.

Adapun biografi lengkap Abu Ma'mar Yahya bin Muhammad bin Qasim Al-Husaini Al-Alawi Asy-Syahir bi Ibni Thabathaba (Ibnu Thabathaba w.478) pengarang kitab Abna' Al-Imam Fi Mishr Wa Asy-Syam Al-Hasan Wa Al-Husein adalah,

أبو معمر يحيى طباطبا هو أبو معمر يحيى بن محمد بن القاسم بن محمد بن إبراهيم طباطبا بن إسماعيل الديباج بن إبراهيم بن الحسن المثنى بن الحسن بن علي بن أبي طالب. وهو نسابة شهير، و كان من فضلاء الحسنيين من أهل بغداد، كما كان شاعراً وأديباً. وقد توفي سنة 199 هـ.

ألف كتاب أبناء الإمام في مصر والشام في المائة الثانية بناءً على طلب جمهرة من الناس لما كثر مدعوو النسب إلى آل البيت.

يحيى طباطبا العلوي الشريف أبو المعمر يحيى بن طباطبا العلوي، فإنه كان من أهل الأدب والسؤدد، وإليه انتهت معرفة نسب الطالبين في وقته.

وأخذ عن علي بن عيسى الربعي وعن أبي القاسم الثمانيني، وأخذ عنه شيخنا الشريف أبو السعادات هبة الله بن علي بن محمد بن حمزة العلوي الحسني المعروف بابن الشجري.

Abu Ma'mar Yahya Ṭhabaṭhaba adalah Abu Ma'mar Yahya bin Muhammad bin Al-Qasim bin Muhammad bin Ibrahim Ṭhabaṭhaba bin Isma'il Ad-Dabaj bin Ibrahim bin Al-Ḥasan al-Muthannā bin Al-Ḥasan bin Ali bin Abi Ṭhalib. Dia adalah seorang ahli silsilah terkenal dan termasuk di antara orang-orang terhormat dari kalangan Hasyimi di Baghdad. Selain itu, dia juga seorang penyair dan intelektual. Dia meninggal pada tahun 199 Hijriah.

Dia menulis buku Abna' Al-Imam fi Mishri wa Asy-Syam (Anak-anak Imam di Mesir dan Syam pada Abad ke-2) atas permintaan banyak orang karena banyaknya orang yang mengklaim keturunan dari keluarga (Ahlu) Al-Bait.

Yahya Ṭhabaṭhaba al-'Alawi

Adapun al-Syarif Abu al-Ma'mar Yahya bin Ṭhabaṭhaba al-'Alawi, dia merupakan seorang ahli sastra dan keturunan terhormat. Dia adalah seorang yang paling ahli dalam pengetahuan tentang silsilah di zamannya. Dia belajar dari Ali bin Isa al-Rubai dan Abu Al-Qasim Ath-Thamani, dan belajar dari guru kami Asy-Syarif Abu As-Sa'adat Hibatullah bin Ali bin Muhammad bin Hamzah Al-'Alawi Al-Hasani yang dikenal sebagai Ibnu Ash-Shujari. (Al-Maktabah Syamilah)

Disinilah penyebab salah satu awal perbedaan pro-krontra terkait asal-usul ba'alawi dari Ubaidillah bin Ahmad bin Isa yang ramai saat ini dan belum terselesaikan masalahnya.

Dalam kitab karya Yahya Thabathaba dikenal sebagai Ibnu Thabathaba yaitu Abna' Al-Imam fi Mishri wa Asy-Syam pada halaman 167 yang menjelaskan bahwa Imam Ahmad bin Isa memiliki 4 orang anak yaitu :

1. Muhammad bin Ahmad

2. Abdullah bin Ahmad

3. Ali bin Ahmad, dan

4. Husain bin Ahmad

Sebagaimana ibarot dari kitab tersebut sebagai berikut,

ذكر ولد السيد عيسى بن محمد بن علي العريضي

عيسى بن محمد بن علي العريضي بن جعفر الصادق وهو عيسى الاكبر، الملقب بالازرق، والمشهور بالرومي، أمه رومية ام الولد، وفى ولده عدد كبير من العريضيين، منتشرون فى كثير من البلدان، بالعراق، وحضرموت، والشام، ومصر، وغيرها. وقد أعقب خمسة وثلاثين ولدا، ثلاثون ذكرا، وخمسة اناث، ومن الذكور من كان مقلا ومنهم من كان مكثرا ومنهم من لم يعقب أو انقراض نسله.

لكن عقب السيد عيسى بن احمد بن عيسى الشهير بالمهاجر كان كثيرا جدا فى حضرموت وبعض بلاد المسلمين، له أربعة أولاد : محمد بن احمد، وعبد الله بن احمد، وعلي بن احمد وحسين بن احمد

"Menyebutkan anak dari Sayyid Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi, yaitu :

Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja'far As-Shadiq yang lebih tua, yang dijuluki Al-Azraq, dan terkenal sebagai (Isa) Ar-Rumi, ibunya adalah Rumiyyah Ummul Walad, dan dia memiliki banyak keturunan Uraidhi tersebar di banyak negara, termasuk Irak, Hadhramaut, Syam, Mesir, dan lain-lain. Dia memiliki lima puluh lima anak, tiga puluh laki-laki, dan lima perempuan, dan di antara laki-laki ada yang memiliki keturunan sedikit, ada yang memiliki keturunan banyak, dan ada yang tidak memiliki keturunan atau keturunannya punah.

Namun, keturunan Sayyid Isa bin Muhammad dari putranya Ahmad bin Isa yang terkenal dengan nama Al-Muhajir sangat banyak di Hadhramaut dan beberapa negara Muslim lainnya. Dia memiliki empat anak: Muhammad bin Ahmad, Abdullah bin Ahmad, Ali bin Ahmad, dan Husain bin Ahmad." (Abna' Al-Imam Fi Mishr Wa Asy-Syam Al-Hasan Wa Al-Husein karya Abu Mu'ammar Yahya bin Muhammad bin Qasim Al-Husaini Al-Alawi Asy-Syahir Bi Ibni Thabathaba (Ibnu Thabathaba [w.478] hal. 167)

Dan kemudian ada penjelasan di halaman 169 dalam tabel silsilah nasab terkait nama Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir lebih dikenal dengan nama Ubaidillah sebagaimana disebutkan, 

عبد الله عرف بعبيد الله (بالتصغير) حيث كان يستحسن ذالك تواضعا وكنيته ابو علوي, وعلوي ابنه اكبر, وهو جد السادة العلوية الشافعية ويعرفون بأل علوي, بني علوي, باعلوي, بن علوي له عقب منتشر فى غالب البلدان

"Abdullah dikenal sebagai 'Ubaidillah' (dengan penulisan yang lebih kecil), karena dia menghendaki itu sebagai tanda kerendahan hati, dan julukannya adalah Abu Alawi. Alawi, putranya tertua, adalah leluhur dari para tuan Alawi dari Syafi'iyyah, yang dikenal sebagai keluarga Alawi, Bani Alawi, Baa' Alawi, dan keluarga Alawi yang memiliki keturunan yang tersebar di sebagian besar negara." (Abna' Al-Imam Fi Mishr Wa Asy-Syam Al-Hasan Wa Al-Husein karya Abu Mu'ammar Yahya bin Muhammad bin Qasim Al-Husaini Al-Alawi Asy-Syahir Bi Ibni Thabathaba (Ibnu Thabathaba [w.478] hal. 169). 

Yang menjadikan pertanyaan adalah dalam sampul kitab Abna' Al-Imam fi Mishri wa Asy-Syam tertulis karya Ibnu Thabathaba (w 478), sementara di dalam mukaddimah kitab yang disampaiakn As-Sayyid Yusuf bin Abdullah Jamalullail bahwa pengarang kitab Abna' Al-Imam fi Mishri wa Asy-Syam adalah As-Sayyid Asy-Syarif Ibnu Ma'mar bin Muhammad bin Qasim bin Ibrahim bin Isma'il Ad-Dabbaj bin Ibrahim bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan As-Sabth bin Al-Imam Ali bin Abi Thalib wa Fathimatuz Zahra yang wafat tahun 199 H padahal yang wafat di tahun tersebut sebagaimana penjelasan diatas adalah Muhammad bin Ibrahim Thabathaba. Ini yang terlihat agak janggal dan perlu segera diketemukan jawabannya. Wallahu a'lam bis-Shawab 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Aamiin 

*والله الموفق الى اقوم الطريق*

Jumat, 14 Juni 2024

KONTRADIKSI ANTARA PENJELASAN KITAB ASY-SYAJARAH AL-MUBARAKAH IMAM FAKHRURRAZI DENGAN KITAB ABNA' AL-IMAM IBNU THABATHABA



Perdebatan di media sosial Indonesia seputar legitimasi komunitas Ba'alawi sebagai keturunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Episode tersebut menggambarkan bahwa silsilah tidak hanya mengacu pada daftar nama. Itu adalah identitas sosial, sejarah, dan agama. Oleh karena itu, ketika seorang cendekiawan Islam Banten KH. Imaduddin Utsman menentang klaim yang telah lama diterima bahwa Ba'alawi adalah keturunan Nabi, tidak mengherankan jika ia menerima banyak reaksi balik. Meskipun tesis tersebut sebagai tindakan akademis, ada pula yang melihatnya sebagai serangan sembarangan terhadap komunitas mulia, dan bahkan upaya yang sia-sia.

KH. Imaduddin Utsman mengatakan bahwa baru sejak abad ke sepuluh Islam muncul dalam kitab nasab mereka mempunyai hubungan dengan Ahmad bin 'Isa, dan bahwa 'Ubaidillah ditanamkan pada silsilah Ahmad bin 'Isa. Di dalam kitab nasab yang dikaitkan dengan ulama abad keenam Al-Fakhr Ar-Razy yang berjudul As-Syajarah Al-Mubarakah (Pohon Keluarga yang Diberkahi) menutup pintu terhadap klaim Ba'alawi karena menunjukkan bahwa Ahmad memiliki tiga orang putra dan tidak ada satupun di antara mereka yang bernama 'Ubaidillah. Kemudian beliau menyimpulkan bahwa Ba'alawi bukanlah keturunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang sebenarnya.

Dalam penelusuran penulis dalam kitab dimaksud disebutkan dalam halaman 27 sebagai berikut,

وأما احمد الابح، عقبه من ثلاثة بنين : محمد ابو جعفر بالري، وعلي بالرملة، والحسين عقبه بنيسابور. واختلطت نسب ولد الحسين هذا بولد الحسين بن احمد الشعراني بن علي العريضي.

"Adapun Ahmad al-Abah memiliki keturunan dari tiga anak laki-laki yaitu Muhammad Abu Ja'far di Rayy, Ali di Ramalah (Palestina), dan Husain di Naisabur (Iran). Keturunan dari Husain ini bercampur dengan keturunan Husain bin Ahmad al-Sharani bin Ali Al-Uraidhi." 

Sementara dalam penjelasan kitab Abna' Al-Imam Fi Mishr Wa Asy-Syam Al-Hasan Wa Al-Husein karya Abu Mu'ammar Yahya bin Muhammad bin Qasim Al-Husaini Al-Alawi Asy-Syahir bi Ibni Thabathaba (Ibnu Thabathaba w.478) halaman 167 disana dijelaskan bahwa Imam Ahmad bin Isa memiliki 4 orang anak yaitu :

1. Muhammad bin Ahmad

2. Abdullah bin Ahmad

3. Ali bin Ahmad, dan

4. Husain bin Ahmad

Meskipun ada keterangan dari kitab-kitab yang menjelaskan bahwa Abdullah atau Ubaidillah ini pun termasuk salah satu dari anak dari Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi diantaranya adalah kitab Abna' Al-Imam Fi Mishr Wa Asy-Syam Al-Hasan Wa Al-Husein karya Abu Mu'ammar Yahya bin Muhammad bin Qasim Al-Husaini Al-Alawi Asy-Syahir Bi Ibni Thabathaba (Ibnu Thabathaba [w.478] hal. 167. Namun penjelasan dari kitab karya golongan Ba'alawi tidak diakui keshahihannya oleh KH. Imaduddin Utsman.

Adapun ibarotnya dari kitab tersebut sebagai berikut,

ذكر ولد السيد عيسى بن محمد بن علي العريضي

عيسى بن محمد بن علي العريضي بن جعفر الصادق وهو عيسى الاكبر، الملقب بالازرق، والمشهور بالرومي، أمه رومية ام الولد، وفى ولده عدد كبير من العريضيين، منتشرون فى كثير من البلدان، بالعراق، وحضرموت، والشام، ومصر، وغيرها. وقد أعقب خمسة وثلاثين ولدا، ثلاثون ذكرا، وخمسة اناث، ومن الذكور من كان مقلا ومنهم من كان مكثرا ومنهم من لم يعقب أو انقراض نسله.

لكن عقب السيد عيسى بن محمد من ابنه احمد بن عيسى الشهير بالمهاجر كان كثيرا جدا فى حضرموت وبعض بلاد المسلمين، له أربعة أولاد : محمد بن احمد، وعبد الله بن احمد، وعلي بن احمد وحسين بن احمد

"Menyebutkan anak dari Sayyid Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi, yaitu :

Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja'far As-Shadiq yang lebih tua, yang dijuluki Al-Azraq, dan terkenal sebagai (Isa) Ar-Rumi, ibunya adalah Rumiyyah Ummul Walad, dan dia memiliki banyak keturunan Uraidhi tersebar di banyak negara, termasuk Irak, Hadhramaut, Syam, Mesir, dan lain-lain. Dia memiliki lima puluh lima anak, tiga puluh laki-laki, dan lima perempuan, dan di antara laki-laki ada yang memiliki keturunan sedikit, ada yang memiliki keturunan banyak, dan ada yang tidak memiliki keturunan atau keturunannya punah.

Namun, keturunan Sayyid Isa bin Muhammad dari putranya Ahmad bin Isa yang terkenal dengan nama Al-Muhajir sangat banyak di Hadhramaut dan beberapa negara Muslim lainnya. Dia memiliki empat anak: Muhammad bin Ahmad, Abdullah bin Ahmad, Ali bin Ahmad, dan Husain bin Ahmad." (Abna' Al-Imam Fi Mishr Wa Asy-Syam Al-Hasan Wa Al-Husein karya Abu Mu'ammar Yahya bin Muhammad bin Qasim Al-Husaini Al-Alawi Asy-Syahir Bi Ibni Thabathaba (Ibnu Thabathaba [w.478] hal. 167)

Dan kemudian ada penjelasan di halaman 169 dalam tabel silsilah nasab terkait nama Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir lebih dikenal dengan nama Ubaidillah sebagaimana disebutkan, 

عبد الله عرف بعبيد الله (بالتصغير) حيث كان يستحسن ذالك تواضعا وكنيته ابو علوي, وعلوي ابنه اكبر, وهو جد السادة العلوية الشافعية ويعرفون بأل علوي, بني علوي, باعلوي, بن علوي له عقب منتشر فى غالب البلدان

"Abdullah dikenal sebagai 'Ubaidillah' (dengan penulisan yang lebih kecil), karena dia menghendaki itu sebagai tanda kerendahan hati, dan julukannya adalah Abu Alawi. Alawi, putranya tertua, adalah leluhur dari para tuan Alawi dari Syafi'iyyah, yang dikenal sebagai keluarga Alawi, Bani Alawi, Baa' Alawi, dan keluarga Alawi yang memiliki keturunan yang tersebar di sebagian besar negara." (Abna' Al-Imam Fi Mishr Wa Asy-Syam Al-Hasan Wa Al-Husein karya Abu Mu'ammar Yahya bin Muhammad bin Qasim Al-Husaini Al-Alawi Asy-Syahir Bi Ibni Thabathaba (Ibnu Thabathaba [w.478] hal. 169). 

Kesimpulannya, dalam hal ini kedua pihak harus bisa saling menghormati pendapat masing-masih dengan tidak merendahkan satu sama lain dan merasa lebih baik dari orang lain dalam nasab dan lainnya, serta meneliti dan membaca untuk mengetahui pendapat yang lebih benar di antara pendapat-pendapat yang diungkapkan oleh para ulama. Wallahu a'lam bis-Shawab

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Aamiin 

*والله الموفق الى اقوم الطريق*

Rabu, 12 Juni 2024

IBNU HAZM MENCATAT BAHWA BANI UBAID DAN UBAIDILLAH YANG MENGAKU AHLUL BAIT ADALAH KEDUSTAAN YANG KEJI




Syahdan, Ibnu Hazm adalah seorang sejarawan, ahli fikih, dan imam Ahlussunnah di Spanyol Islam. Ia dikenal karena produktivitas keliteraturannya, luas ilmu pengetahuannya, dan kepakaran dalam bahasa Arab. 

Dalam salah satu kitab karyanya Jamharat Ansab Al-Arab menuliskan kesaksian akan adanya sebuah klaim nasab dari ahlul bait, pertama dari Bani Ubaid yang ingin mendompleng kekuasaan ahlul bait pada awal kepemimpinan mereka oleh penguasa Mesir. Banu Ubaid, mengakui Abdullah bin Ja'far bin Muhammad sebagai pemimpin. Namun, ketika mereka mengetahui bahwa Abdullah tidak memiliki keturunan laki-laki, mereka meninggalkannya dan beralih ke Ismail bin Ja'far bin Muhammad. Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Hussein yang memiliki keturunan Ismail sebagai titik temu (tujuan) hidupnya. Kisah Bani Ubaid mendompleng ahlul bait dalam kekuasaan dicatat oleh Ibnu Hazem pada hal. 54 kitab karyanya, 

هولاء ولد محمد بن علي بن الحسين بن علي بن ابي طالب

ولد محمد بن علي : عبدالله ، ابراهيم وعلي وجعفر، لتعقب لعبد الله ولا لابراهيم ولا لعلي. الا أن عبدالله كان له ابن اسمه حمزة، مات عن ابنة فقط ولا عقب له ولا ابنته. وعبدالله هذا هو الملقب بالافطح، كان افطح الرأس، وكانت شيعة تدعى امامته، منهم زرارة بن أعين الكوفي، محدث ضعيف فقدم زرارة المدينة، فلق عبدالله ، فسأله عن مسائل من الفقه، فألفاه فى غاية الجهل فرجع عن امامته، فلما انصرف إلى الكوفة أتاه أصحابه فسألوه عن أمامه وامامهم، وكان المصحف بين يديه فاشارلهم اليه، وقال لهم : هذا امامي، لا أمام لي غير ه، فانقطعت الشيعة المعروفة بالافطاحية.

ولا عقب لمحمد الا من جعفر بن محمد فقط. الا أن بني عبيد، ولاة مصر الان، قد ادعوا فى أول أمرهم إلى عبدالله بن جعفر بن محمد هذا، فلما صح عندهم أن عبدالله هذا لم يعقب الابنة واحدا تركوه وانتموا إلى اسماعيل بن جعفر بن محمد، فولد جعفر بن محمد بن علي بن الحسين : اسماعيل ملتقى حياته, وامامته تدعى القرامطة والعلاقة من الرفيضة، وأمه فاطمة بنت الحسين بن الحسين بن علي بن ابي طالب. وموسى وأمانته تدعى إلى امامية من الرفيضة، ومحمد ادعى الخلافة بمكة أيام المأمون، ثم انخلع وبقى فى غمار الناس حتى مات.

والشيعة تلقبه الديباحة لجمال وجهه، وكان فى أول أمره محدثا، واسحاق امهم ثلاثتهم ام ولد، وعلي القائم بالبصرة، لام ولد، لكل واحد منهم عقب، وعبدالله لم يعقب الا ابنة  اسمها فاطمة، تزوجها العباس بن موسى بن عيسى بن موسى بن محمد بن علي بن عبدالله بن عباس بن عبد المطلب، ثم ابن عمها علي بن اسماعيل بن جعفر بن محمد. فولد علي بن جعفر بن محمد : علي، وجعفر، والحسن، ومحمد, وأحمد.

"Mereka inilah anak-anak Muhammad bin Ali bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib."

"Muhammad bin Ali memiliki empat putra: Abdullah, Ibrahim, Ali, dan Ja'far. Namun, hanya Abdullah yang memiliki putra bernama Hamzah. Hamzah meninggal tanpa meninggalkan keturunan laki-laki atau perempuan. Abdullah dikenal sebagai "Al-Afthah" karena kepala botaknya. Dia awalnya diikuti oleh pengikut Syiah, tetapi kemudian meninggalkan kepercayaan itu. Diantara mereka adalah Zararah bin A'in Al-Kufi, seorang muhaddits yang lemah, ketika Zararah datang dari Madinah, Abdullah bertemu dengannya dan bertanya tentang beberapa masalah fikih, tetapi dia menjawab dengan sangat tidak tahu sehingga Abdullah menolaknya sebagai imam. Setelah kembali ke Kufah, para pengikutnya bertanya tentang imam mereka, dan dia menunjuk Al-Qur'an, mengklaim bahwa Al-Qur'an adalah imamnya. Dengan itu, pengikut Syiah yang dikenal sebagai Al-Afthahiyah (kepala botak) tidak lagi mengikuti dia."

"Muhammad bin Ali hanya memiliki keturunan melalui Ja'far bin Muhammad. Namun, pada awal kepemimpinan mereka oleh penguasa Mesir, Banu Ubaid, mengakui Abdullah bin Ja'far bin Muhammad sebagai pemimpin. Namun, ketika mereka mengetahui bahwa Abdullah tidak memiliki keturunan laki-laki, mereka meninggalkannya dan beralih ke Ismail bin Ja'far bin Muhammad. Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Hussein memiliki keturunan: 

Ismail adalah titik temu hidupnya, dan kepemimpinannya disebut Al-Qaramithah dan hubungan dinastinya berasal dari Rafidhah, dan ibunya adalah Fatimah binti Hussein bin Ali bin Abi Thalib. Musa dan Amanatnya juga terlibat dalam keimaman dari aliran Rafidhah, sedangkan Muhammad mengklaim kekhalifahan di Makkah pada masa Al-Ma'mun, tetapi kemudian turun tahta dan tinggal di antara masyarakat hingga kematiannya. 

"Orang-orang Syiah menyebutnya dengan julukan 'Ad-Dibajah' karena kecantikan wajahnya, (Ismail) dan pada awalnya dia adalah seorang ahli hadits. Ibunya Ishaq, memiliki tiga anak, baik laki-laki maupun perempuan. Ali yang tinggal di Basrah, adalah anak laki-laki. Setiap dari mereka memiliki keturunan. Abdullah hanya memiliki seorang anak perempuan yang bernama Fatimah, yang menikah dengan Abbas bin Musa bin Isa bin Musa bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muttalib, kemudian sepupunya Ali bin Ismail bin Ja'far bin Muhammad. Ali bin Ja'far bin Muhammad memiliki empat anak: Ali, Ja'far, Hasan, Muhammad, dan Ahmad." (Jamharah Ansab Al-Arab, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm Al-Andalusi (Ibnu Hazm), 384-456 cet. Daar Al-Ma'rif Al-Mishri cetakan pertama, tahun 1948 hal. 53)

Kemudian yang kedua menurut catatan Ibnu Hazm adalah klaim nasab ahlul bait dari orang yang bernama Ubaidillah yang tinggal di Maroko mengaku sebagai saudara laki-laki Hasan Al-Baghidh. Namun pengakuan sebagai bagian dari ahlul bait oleh Ubadillah ini adalah sebuah kedustaan yang keji menurut Ibnu Hazm yang dicatat di dalam kitabnya hal. 54 sebagai berikut, 

وادعى عبيد الله القائم بالمغرب أنه اخو حسن البغيض هذا، وشهد له بذالك رجل من بنى البغيض، وشهد له أيضا بذالك جعفر بن محمد بن الحسين بن أبي الجن علي بن محمد الشاعر بن علي بن إسماعيل بن جعفر، ومرة ادعى أنه ولد الحسين بن محمد بن اسماعيل بن جعفر، وكل دعوة مفتضحة، لأن محمد بن اسماعيل بن جعفر لم يكن له قط ولد اسمه الحسين، وهذا كذب فاحش، ولأن مثل هذا النسب لايخفى على من له أقل عالم بالنسب ولا يجهل أهله الا جهل.

"Ubaidillah yang menetap di maghrib (Maroko) mengklaim bahwa dia adalah saudara laki-laki Hasan Al-Baghidh ini, dan seorang pria dari Bani Al-Baghidh bersaksi untuknya, dan juga Ja'far bin Muhammad bin Al-Husain bin Abi Al-Jin Ali bin Muhammad As-Sya'ir bin Ali bin Ismail bin Ja'far bersaksi untuknya. Sebelumnya dia mengklaim bahwa dia adalah anak dari Husain bin Muhammad bin Ismail bin Ja'far, dan setiap klaim tersebut jelas-jelas palsu, karena Muhammad bin Ismail bin Ja'far tidak pernah memiliki anak yang bernama Husain, ini adalah kebohongan besar (keji), dan karena hubungan semacam ini tidak akan tersembunyi bagi mereka yang memiliki pengetahuan dasar tentang silsilah dan tidak akan tidak diketahui oleh ahli silsilah kecuali orang yang bodoh." (Jamharah Ansab Al-Arab Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm Al-Andalusi (Ibnu Hazm) 384-456 cet. Daar Al-Ma'rif cetakan kelima hal. 54). Wallahu a'lam bis-Shawab 

Demikianlah Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

MENGKROSCEK DUA KITAB THABAQAT AL-ASYRAF ATH-THALIBIYIN DAN KITAB AS-SULUK FI THABAQAT AL-ULAMA WA AL-MULUK




Dalam sebuah postingan FB saya membaca narasi status yang menyebutkan ada 70 ulama ahli nasab yang mengisbat dan menetapkan saadah ba'alawi sebagai dzurriyah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut nama kitabnya dan halamannya yaitu dari hal.98-110. Adapun nama kitab dimaksud adalah Thabaqat Al-Ashraf Al-Talibiyyin karya Sayyid Salim bin Abdul Latif Al-Harbawi Al-Sabsibi Al-Rifa'i Al-Husaini.

Jiwa penasaran saya memotivasi untuk segera menuju TKP dengan mendownload kitab dimaksud dan ternyata cetakan tahun 2022 M dan tertulis stampel (نسخة معدة للنشر الكتروني فقط) "versi ini hanya untuk publikasi elektronik". Salah satu kitab yang dinafikan oleh KH. Imaduddin Usman karena karya ulama dari kalangan ba'alawi sendiri.

Setelah menuju pada halaman yang disebutkan dalam postingan FB ternyata di halaman 98 benar menerangkan tentang nasab keluarga ba'alawi yang kemudian menyebutkan ada 70 ulama ahli nasab yang mengisbat dan menetapkan saadah ba'alawi sebagai dzurriyah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Meskipun ini kitab karya ulama ba'alawi yaitu Sayyid Salim bin Abdul Latif Al-Halbiyah Al-Sabsibi Al-Rifa'i Al-Husaini akan tetap saya paparkan kepada semuanya dalam rangka fastabiqul khairat menyampaikan apa yang saya ketahui dengan harapan ada manfaat yang didapat. Adapun penjelasannya sebagai berikut,

نسب ال بعلوي

الطبيقة الخامسة : (علوي بن عبيد الله), ثم الاولى (الحسين) نسبة الى السيد علوي بن عبد الله بن احمد المهاجر بن عيسى بن محمد بن علي العريضي بن جعفر الصادق بن محمد الباقر بن علي زين العابدين بن الحسين بن علي بن ابي طالب رضي الله عنهما, من اهل القرن الخامس تقديرا.

وممن نص على النسب الشريف لهذا البيت او ذكر احدا ابنائه بالسيادة والشرف :

١). الجندي (ت: ٧٣٢ ه‍), فى كتاب السلوك فى طبقات العلماء والملوك, ذكر ترجمة الشيخ علي بن محمد بن احمد بن حديد باعلوي, ورفع نسبه الى الحسين بن علي بن ابي طالب رضي الله عنهما. [السلوك فى طبقات العلماء والملوك جز ٢ ص ١٣٥] (طبقات الاشراف الطالبيين ص ٩٨ السيد سالم بن عبد اللطيف الحربية السبسبي الرفاعي الحسيني)

*Nasab Keluarga Ba'alawi*

Bagian kelima: (Ali bin Ubaidillah), kemudian yang pertama (Al-Husain) yang terkait dengan Sayyid Ali bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja'far Al-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhuma (semoga Allah meridhai keduanya), dari orang-orang abad kelima secara perkiraan.

Diantara mereka yang menegaskan keturunan bangsawan dari keluarga ini atau menyebut salah satu anaknya dengan kedaulatan dan kehormatan:

1). Al-Jundi (w. 732 H), dalam kitab "Al-Suluk fi Thabaqat Al-Ulama' wa Al-Muluk", menyebutkan biografi Sheikh Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hadid Ba'lawi, dan menyatakan keturunannya sampai kepada Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhuma (semoga Allah meridhai keduanya). [Al-Suluk fi Thabaqat Al-Ulama' wa Al-Muluk jilid 2 halaman 135] (Thabaqat Al-Ashraf Al-Talibiyyin halaman 98 oleh Sayyid Salim bin Abdul Latif Al-Halbiyah Al-Sabsibi Al-Rifai Al-Husaini).

Dalam kitab tersebut menjelaskan dimana ada 70 ulama diantara mereka menegaskan keturunan bangsawan dari keluarga ini (ba'alawi) atau menyebut salah satu anaknya dengan kedaulatan dan kehormatan dan saya akan mwnyampaikam salah satu dari 70 ulama tersebut adalah Iman Al-Kindi (w.730 atau 732 M tertulis dalam sampul kitab) dalam kitabnya As-Suluk fi Thabaqat Al-Ulama wa Al-Muluk.

Setelah saya dapatkan PDF nya ternyata cetakan Maktabah Al-Irsyad cetakan ketiga tahun 1995 M/1416 H juz 2 hal. 135-136 menyebutkan, 

وهو الان معيد بمدرسة ام السلطان التي احدثوها وقد ذكرتها مع ابن جبريل وقد انقضى ذكر اهل تعز من فقهائها واحببت ان الحق بهم الذين وردوها ودرسوا فيها وهم جماعة من الطبقة الاولى منهم ابو الحسن علي بن محمد ابن احمد بن حديد (بن علي بن محمد بن عبد الله بن) احمد بن عيسى بن محمد بن علي ابن جعفر الصادق بن محمد الباقر بن علي بن زين العابدين بن الحسين علي ابن ابي طالب كرم الله وجهه ويعرف بالشريف ابي الحديد عند اهل اليمن اصله من حضرموت من اشراف هنالك بال ابي علوي بيت الصلاح وعبادة على طريق التصوف وفيهم فقهاء

"Dia sekarang menjadi pengajar di Sekolah Umm As-Sulthan yang mereka dirikan. Saya telah menyebutkannya bersama dengan Ibnu Jibril, dan telah selesai menyebut ulama Ta'izz. Saya ingin mengakui mereka yang mewarisi dan mengajar di sana, mereka adalah sekelompok orang dari kalangan teratas, di antaranya Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Haddad (bin Ali bin Muhammad bin Abdullah bin) Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja'far As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali bin Zainal Abidin bin Al-Hussain bin Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah (semoga Allah memuliakan wajahnya), yang dikenal sebagai Asy-Syarif Abu Al-Haddad di kalangan penduduk Yaman. Asalnya dari Hadhramaut, dari keturunan bangsawan di sana, dari keluarga Abu Alawi Bait As-Shalah, dan mereka beribadah dengan cara tasawwuf, di antara mereka ada ulama fiqh." (As-Suluk fi Thabaqat Al-Ulama wa Al-Muluk juz 2 hal. 135-136 Abu Abdullah Baha'uddin Muhammad bin Yusuf bin Ya'qub Al-Janadi Al-Saksaki Al-Kindi). Wallahu a'lam bis-Shawab

Dari uraian penjelasan kandungan kitab yang saya sampaikan harapannya mampu memberikan kedewasaan dalam menyikapi setiap perbedaan dalam memaham kitab yang ada dan kebebasan memilih mana yang dianggap valid dan shahih selanjutnya terserah anda.

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

DZURRIYAH RASULULLAH SAW TIDAK PERLU TEST DNA CUKUP MASUK KE KANDANG SINGA



Sedang viral nih teman, KH Imaduddin Utsman Al-Bantanie  di kanal YouTuber Islam Aktual TV lalu memaparkan tentang keturunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun demikian, menurut KH Imaduddin, belum terbukti secara ilmiah adanya keturunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam di Indonesia. Oleh karena itu, dia menantang orang-orang yang mengaku untuk melakukan tes DNA.

Disisi lain dalam sebuah kajian, Buya Yahya menjawab pertanyaan tentang tes DNA untuk mencari nasab anak.

"Di dalam menentabkan nasab ada ilmunya di dalam Islam, DNA tidak masuk dalam hal ini. Dan justru bahaya sekali kalau orang sudah masuk pembahasan-pembahasan seperti ini. Urusan nasab jangan dihubungkan dengan urusan DNA."

Demikian halnya saya punya solusi dari perdebatan tes DNA ini sebagaimana pernah dicatat dalam sejarah saat itu untuk mengetahui benar tidaknya pengakuan seseorang sebagai dzurriyah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam cukup dengan masuk ke kandang singa. Jika tidak diterkam oleh singa berarti dia benar dari keturunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam beberapa kitab memuat kisah tentang "Zainab Al-Kadzdzab" yang mengaku cucu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan untuk membuktikan kebenaran Zainab sebagai cucu nabi ada beberapa cucu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam di masa pemerintahan Al-Mutawakkil ternyata aman dan selamat dari singa-singa ganas sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Muhammad Baqir Al-Majlisi dalam karyanya Bihar Al-Anwar juz 50 hal. 149-150 sebagai berikut,

روي أن أبا هاشم الجعفري قال: ظهرت في أيام المتوكل امرأة تدعي أنها زينب بنت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وآله فقال المتوكل: أنت امرأة شابة وقد مضى من وقت رسول الله صلى الله عليه وآله ما مضى من السنين، فقالت: إن رسول - الله صلى الله عليه وآله مسح علي وسأل الله أن يرد علي شبابي في كل أربعين سنة، ولم أظهر للناس إلى هذه الغاية فلحقتني الحاجة فصرت إليهم.

فدعا المتوكل مشايخ آل أبي طالب وولد العباس وقريش وعرفهم حالها فروى جماعة وفاة زينب في سنة كذا، فقال لها: ما تقولين في هذه الرواية؟

فقالت: كذب وزور، فان أمري كان مستورا عن الناس فلم يعرف لي حياة ولا موت، فقال لهم المتوكل: هل عندكم حجة على هذه المرأة غير هذه الرواية؟ فقالوا: لا، فقال: هو برئ من العباس إن لا أنزلها عما ادعت إلا بحجة.

قالوا: فأحضر ابن الرضا عليه السلام فلعل عنده شيئا من الحجة غير ما عندنا فبعث إليه فحضر فأخبره بخبر المرأة فقال: كذبت فان زينب توفيت في سنة كذا في شهر كذا في يوم كذا قال: فان هؤلاء قد رووا مثل هذه وقد حلفت أن لا أنزلها إلا بحجة تلزمها.

قال: ولا عليك فههنا حجة تلزمها وتلزم غيرها، قال: وما هي؟ قال: لحوم بني فاطمة محرمة على السباع فأنزلها إلى السباع فان كانت من ولد فاطمة فلا تضرها فقال لها: ما تقولين؟ قالت: إنه يريد قتلي قال: فههنا جماعة من ولد الحسن والحسين عليهما السلام فأنزل من شئت منهم، قال: فوالله لقد تغيرت وجوه الجميع فقال بعض المبغضين: هو يحيل على غيره لم لا يكون هو؟.

فمال المتوكل إلى ذلك رجاء أن يذهب من غير أن يكون له في أمره صنع فقال: يا أبا الحسن لم لا تكون أنت ذلك؟ قال: ذاك إليك قال: فافعل! قال:

أفعل فاتي بسلم وفتح عن السباع وكانت ستة من الأسد فنزل أبو الحسن إليها فلما دخل وجلس صارت الأسود إليه فرمت بأنفسها بين يديه، ومدت بأيديها، ووضعت رؤوسها بين يديه فجعل يمسح على رأس كل واحد منها، ثم يشير إليه بيده إلى الاعتزال فتعتزل ناحية حتى اعتزلت كلها وأقامت بإزائه.

فقال له الوزير: ما هذا صوابا فبادر باخراجه من هناك، قبل أن ينتشر خبره فقال له: يا أبا الحسن ما أردنا بك سوءا وإنما أردنا أن نكون على يقين مما قلت فأحب أن تصعد، فقام وصار إلى السلم وهي حوله تتمسح بثيابه.

فلما وضع رجله على أول درجة التفت إليها وأشار بيده أن ترجع، فرجعت وصعد فقال: كل من زعم أنه من ولد فاطمة فليجلس في ذلك المجلس، فقال لها المتوكل: انزلي، قالت: الله الله ادعيت الباطل، وأنا بنت فلان حملني الضر على ما قلت، قال المتوكل: ألقوها إلى السباع فاستوهبتها والدته

Diceritakan bahwa Abu Hashim Al-Ja'fari berkata: "Pada zaman Al-Mutawakkil, muncul seorang wanita yang mengaku sebagai Zainab binti Fatimah, cucu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Al-Mutawakkil berkata: 'Engkau adalah seorang wanita muda, dan telah berlalu dari zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berapa tahun.' Wanita itu menjawab: 'Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengusapiku dan memohon kepada Allah agar menjaga kehidupan mudaku setiap empat puluh tahun, dan aku tidak memperlihatkan diriku kepada orang-orang sampai saat ini, tetapi karena kebutuhan mendesak, maka aku harus bertemu dengan mereka.' Al-Mutawakkil memanggil para *masyaikh* dari keluarga Abu Thalib dan keturunan Abbas, serta suku Quraisy, dan menginformasikan kepada mereka tentang keadaannya. Kemudian, dia meminta mereka untuk menyampaikan kabar kematian Zainab pada tahun tersebut. Dia bertanya: 'Apa pendapatmu tentang laporan ini?' Wanita itu menjawab: 'Itu adalah kebohongan dan pemalsuan. Jika urusanku disembunyikan dari orang-orang, maka mereka tidak mengetahui tentang hidupku atau kematiannya.' Al-Mutawakkil berkata kepada mereka: 'Apakah kalian memiliki bukti lain tentang wanita ini selain laporan ini?' Mereka menjawab: 'Tidak.' Dia berkata: 'Dia dibebaskan dari tuduhan Abbas kecuali jika ada bukti lain.'

Mereka berkata: 'Panggil Ibnu Ar-Ridha (Alaihis Salam), mungkin dia memiliki bukti yang tidak kami miliki.' Mereka mengirim pesan kepadanya, dan dia datang. Mereka memberitahunya tentang wanita tersebut. Ibnu Ar-Ridha (Alaihis Salam) berkata: 'Dia berbohong. Zainab meninggal pada tahun ini, pada bulan ini, pada hari ini.' Dia berkata: 'Orang-orang ini telah memberikan laporan semacam ini, dan aku bersumpah bahwa aku tidak akan menjatuhkan hukuman kepadanya kecuali dengan bukti yang lebih kuat.'

Dengan alasan yang meyakinkan dia.

Dia berkata: "Tidak apa-apa, karena di sini ada alasan yang mengikatnya dan mengikat orang lain." Dia bertanya: "Apa itu?" Dia menjawab: "Daging dari keturunan Fatimah diharamkan bagi binatang-binatang buas, jadi turunkan dia kepada binatang-binatang buas. Jika dia adalah dari keturunan Fatimah, dia tidak akan dirugikan." Dia berkata kepadanya: "Apa yang kamu katakan?" Dia menjawab: "Dia ingin membunuhku." Dia berkata: "Di sini ada kelompok dari keturunan Al-Hasan dan Al-Husain (Alaihimas Salam), jadi turunkan salah satu dari mereka yang kamu sukai." Dia berkata: "Demi Allah, wajah mereka semua berubah." Beberapa orang yang bermusuhan berkata: "Dia mengalihkan masalah kepada orang lain, mengapa dia tidak menghadapinya sendiri?"

Al-Mutawakkil beralih ke harapan bahwa masalah akan diselesaikan tanpa intervensi darinya, dan dia berkata: "Wahai Abu Al-Hasan, mengapa kamu tidak menjadi orang itu?" Dia berkata: "Itu urusanmu." Dia berkata: "Lakukanlah!" Dia berkata: "Aku akan melakukannya." Dia kemudian datang dengan damai dan membuka pintu bagi binatang-binatang buas. Ada enam singa di sana. Abu Al-Hasan turun ke arah mereka. Ketika dia masuk dan duduk, singa-singa itu datang kepadanya, berbaring di depannya, menyilangkan tangan mereka di depannya, dan menempatkan kepala mereka di depannya. Dia mulai mengelus kepala masing-masing dari mereka, kemudian dia menunjukkan kepadanya untuk pergi, dan mereka pergi satu per satu sampai semuanya pergi dan berdiri di sampingnya.

Menteri berkata kepadanya: "Ini tidak benar, jadi keluarkanlah dia dari sana sebelum berita ini menyebar." Dia berkata kepadanya: "Wahai Abu Al-Hasan, kami tidak bermaksud mencelamu, kami hanya ingin yakin dengan apa yang telah kamu katakan, jadi lebih baik kamu naik." Dia bangkit dan mulai naik, sementara binatang-binatang buas menggosok-gosokkan diri pada pakaiannya.

Ketika dia meletakkan kakinya di tangga pertama, dia memalingkan wajahnya dan menunjuk kepadanya untuk kembali. Dia kembali dan naik lagi. Dia berkata: "Setiap orang yang mengklaim bahwa dia dari keturunan Fatimah, biarkan dia duduk di majlis itu." Al-Mutawakkil berkata kepadanya: "Turunlah." Dia berkata: "Astaghfirullah, kamu menyebut saya dengan dusta, saya adalah putri fulan, kamu telah membebaniku dengan tuduhan palsu." Al-Mutawakkil berkata: "Lepaskanlah dia kepada binatang-binatang buas." Dia kemudian diambil oleh ibunya." (Bihar Al-Anwar Syeikh Muhammad Baqir Al-Majlisi cet. Ihya' Al-Kutub Al-Islamiyah juz 50 hal. 149-150). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menjelaskan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*