MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Sabtu, 30 April 2022

EDISI KHUTBAH IDUL FUTRI (Makna IIdul Fitri Dan Syawal)

*Khutbah Pertama*

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر x ٩

اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كثيرا وسبحان الله بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ. اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون 

قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

صدق الله العظيم.

*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,*

Pada saat ini kita semua patut bersyukur bahwa bulan suci Ramadhan baru saja kita lalui bersama dengan baik. Ini berarti kita semua telah lulus ujian, yakni berhasil menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh sesuai dengan ketentuan syari’at. Sekarang juga, kita patut bergembira karena di samping telah berhasil menambah pundi-pundi pahala, juga dosa-dosa kita diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu sebagai berikut,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ‏

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari hadits tersebut lahirlah makna Idul Fitri yang dalam konteks Indonesia tidak hanya secara bahasa bermakna Hari Raya setelah berakhirnya Ramadhan, atau yang dalam Kamus Al-Maany dimaknai sebagai 

اَليَوْمُ اْلأوَّلُ الَّذِي يَبْدَأُ بِهِ الإفْطَارُ لِلصَّائِمِيْنَ

(hari pertama bagi orang-orang yang berpuasa Ramadhan mulai kembali berbuka [dengan makan dan minum seperti di hari-hari biasa]), tetapi juga secara konseptual bermakna “kembali suci” seperti ketika kita baru terlahir ke dunia.

Makna secara konseptual tersebut, yakni “kembali suci”, secara budaya telah diterima umat Islam Indonesia dari generasi ke generasi dengan merujuk pada maksud hadits di atas. Setidaknya hal ini merupakan doa kita semua kepada Allah dan semoga dikabulkan. Namun demikian perlu ada ketegasan bahwa yang dimaksud “kembali suci” dalam konteks ini adalah terbebas dari dosa-dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja karena hanya menyangkut hablum minallah. Sedangkan “kembali suci” dari dosa-dosa kepada manusia tidak otomatis terjadi karena hal ini menyangkut hablum minannas. Semua persoalan yang terkait dengan sesama manusia harus diselesaikan sendiri antar sesama manusia. 

Oleh karena itu, kita akan benar-benar mencapai Idul fitri dalam arti “kembali suci” seperti ketika baru terlahir ke dunia apabila urusan dosa-dosa dengan sesama manusia bisa kita selesaikan dengan berakhirnya Ramadhan. Tentu saja lebih baik urusan dosa dengan sesama manusia bisa kita selesaikan sesegera mungkin tanpa menunggu berakhirnya Ramadhan. Jadi maksudnya, jangan sampai hingga datangnya bulan Syawal ini kita masih memiliki dosa-dosa dengan sesama manusia yang belum terselesaikan. 

Jika itu terjadi, maka sudah pasti dosa-dosa kepada sesama manusia tersebut akan menghalangi kembalinya kita kepada “fitrah” atau “suci”. Hal inilah yang kemudian melahirkan tradisi saling bermaaf-maafan diantara umat Islam yang di Indonesia dikenal dengan Halal bi halal. Tradisi ini tentu saja baik karena dapat memperbaiki hubungan antar sesama manusia yang kadang-kadang memang sulit terhindar dari konflik, ketegangan dan bahkan permusuhan. 

*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,*

Datangnya Idul Fitri membawa kita semua kembali pada kesucian sebagaimana telah diuraikan di atas. Lalu, bagaimanakah kita menyikapi hari-hari setelah kita kembali pada keadaan suci ini? Setidaknya ada dua jawaban sebagai berikut:

*Pertama,* kita hendaknya meneruskan kebaikan yang sudah dicapai selama Ramadhan. Dalam kaitan ini Syekh Muhammad ibn ‘Umar Nawawi al-Bantani mengingatkan salah satu dari kesepuluh amaliah sunnah Ramadhan dalam kitabnya berjudul Nihâyah al-Zain fî Irsyâd al-Mubtadi’in, yakni istiqamah dalam menjalankan amaliah Ramadhan dan melanjutkan amaliah-amaliah tersebut di bulan-bulan berikutnya. 

Jika kita bisa melanjutkan amaliah-amaliah sunnah di bulan Ramadhan seperti menahan lisan dan anggota badan lainnya dari perkara-perkara yang tak berguna - apalagi perkara-perkara haram, memperbanyak sedekah, memperbanyak i'tikaf, mengkhatamkan Al-Quran setidaknya sebulan sekali, dan sebagainya, maka itu berarti kita melakukan upaya peningkatan kualitas ruhani kita. Peningkatan semacam itu sejalan dengan makna kata “Syawal” (شَوَّالُ) secara bahasa berarti "ada yang tertinggal/membekas" dan secara etimologis berasal dari kata “Syala” (شَالَ) yang berarti “irtafaá” (اِرْتَفَعَ) yang berarti “meningkatkan”.

Tentu saja mungkin kita tidak bisa melakukan persis sama dengan apa yang kita lakukan selama Ramadhan dalam rangka peningkatan amal karena berbagai alasan seperti kesibukan menjalankan tugas sehari-hari dan sebagainya. Tetapi setidaknya ada ikhtiar kita untuk melestarikan ibadah-ibadah seperti itu, misalnya dengan menjauhi maksiat, berpuasa 6 hari di bulan Syawal dan sebagainya. Ramadhan memang dimaksudkan sebagai bulan tarbiyah atau bulan pendidikan dimana umat Islam digembleng selama sebulan penuh agar menjadi orang-orang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala.  

*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,*

*Kedua,* menjaga agar kita tidak mengalami kebangkrutan amal yang telah kita raih baik sebelum dan selama Ramadhan dengan cara tidak menzalimi orang lain. Dalam hal ini Rasulullah shallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang kebangkrutan amal sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam sebuah berikut,

“أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟

“Tahukah kalian siapakahorang yang mengalami kebangkrutan amal?" 

قَالُوْا: اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ

“Para sahabat menjawab, "Orang bangkrut menurut pendapat kami ialah mereka yang tiada mempunyai uang dan tiada pula mempunyai harta benda.”

فَقَال : إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي، من يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هٰذَا، وَقَذَفَ هٰذَا، وَأَكَلَ مَالَ هٰذَا، وَسَفَكَ دَمَ هٰذَا، وَضَرَبَ هٰذَا. فَيُعْطِى هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهٰذَا مِنٰ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ، قَبْلَ أَنْ يَقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ. ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”

“Maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku ialah mereka yang pada hari kiamat membawa amal kebaikan dari shalat, puasa, dan zakat. Tetapi mereka dahulu pernah mencaci maki orang lain, menuduh (dan mencemarkan nama baik) orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain dan memukul orang lain. Maka kepada orang yang mereka salahi itu diberikan pahala amal baik mereka; dan kepada orang yang lain lagi diberikan pula amal baik mereka. Apabila amal baik mereka telah habis sebelum utangnya lunas, maka diambillah kesalahan orang yang disalahi itu dan diberikan kepada mereka; Sesudah itu, mereka yang suka mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, dan memukul orang lain itu, akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari Muslim)

*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,*

Hadits tersebut hendakklah dapat kita hayati bersama karena memberikan kesadaran kepada kita betapa pentingnya menghindari perbuatan mendzalimi sesama manusia. Alasannya adalah kedzaliman seperti itu dapat membuat kita bangkrut secara agama, yakni ludesnya amal-amal kebaikan kita yang telah kita kumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun, bahkan selama hidup kita. 

*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,*

Mudah-mudahan kita semua senantiasa mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga hal-hal jelek  benar-benar dapat kita hindari bersama, dan akhirnya kita semua kelak  diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ditempatkan di surga bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang saleh lainnya. Amin… Amin ya Rabbal 'alamin.

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الاَبْتَرُ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*Khutbah Kedua*

اللهُ اَكْبَرْ (٣×) اللهُ اَكْبَرْ (٤×) 

اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Kamis, 28 April 2022

KAJIAN TENTANG HUKUM MENYAMBUNG RAMBUT ATAU BULU MATA BAGI WANITA

Setiap manusia secara naluri ingin selalu terlihat menarik di hadapan orang lain terlebih bagi wanita yang masih gadis atau yang sudah bersuami. Salah satunya memiliki bulu mata yang indah dan menawan di mata suami atau orang lain.

Tidak sedikit wanita yang menghabiskan waktu dan biaya untuk dapat memiliki bulu mata yang panjang dan lentik.

Tren yang saat ini sangat digemari oleh para wanita adalah menyambung bulu mata atau yang lebih dikenal dengan Eyelash Extension.

Memasang atau menyambung rambut atau bulu mata asli dengan rambut atau bulu mata palsu biasanya bertujuan untuk memperpanjang, mempertebal dan memperlentik bulu mata. Memasang bulu mata palsu ini umumnya dilakukan oleh para wanita saat acara tertentu, seperti menghadiri kondangan, menjadi pengantin, dan lain sebagainya.

Umumnya, memasang bulu mata palsu ini dihukumi haram. Adapun hujjahnya sebagai berikut,

Dari Abu Hurairah radliyallah ‘anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ

“Allah melaknat wanita penyambung rambut dan yang disambung rambutnya, wanita pembuat tato dan yang bertato.” (HR. Bukhari No. 5589 dan 5602 )

Ancaman laknat, menunjukkan bahwa menyambung rambut merupakan dosa besar. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama,

كل ما لعن الله ورسوله فهو كبيرة

"Setiap dosa yang diancam laknat Allah dan RasulNya adalah dosa besar." (Lihat : Ad-Da’wad Dawa’ hal. 293)

Sebuah riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu ditegaskan,

زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَصِلَ الْمَرْأَةُ بِرَأْسِهَا شَيْئًا

"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang wanita untuk menyambung rambut/bulu dengan sesuatu apapun." (HR. Muslim)

Kata “شَيْئًا” pada hadits diatas, dalam gramatikal bahasa Arab disebut sebagai kata nakiroh (indefinitif). Yaitu kata (isim) yang mengandung makna yang tidak ditentukan (mutlak) atau makna umum (‘aam). Cirinya adalah dapat berharokat tanwin.

Saat ada kata nakiroh yang berada dalam konteks kalimat positif, maka kata tersebut mengandung makna mutlak (makna yang tidak ditentukan). Sebagaimana dijelaskan dalam Kaidah Ushul Fikih,

منـكر إن بعـد إثبـات يرد فمـطلـــــق

"Isim nakiroh yang terdapat setelah kalimat positif, bermakna mutlak."

Dari sinilah kita bisa menyimpulkan, bahwa larangan menyambung rambut/bulu yang dimaksud dalam hadits diatas, berlaku untuk jenis rambut/bulu apa saja, alami maupun sintesis.

Imam Nawawi rahimahullah beliau  mengatakan,

وفي هذا الحديث أن الوصل حرام، سواء كان لمعذورة أو عروس أو غيرهما

"Di dalam hadits ini (hadits diatas) menunjukkan haramnya menyambung rambut/bulu, baik karena udzur, acara pernikahan atau alasan lainnya. (Al-Minhaj juz 14 hal.105-106)

Namun dalam masalah diatas menurut ilmu fiqih terdapat beberapa perincian hukum mengenai Eyelash Extension ini. Berikut perincian dan pandangan ulama fiqih hukum mengenai memasang bulu mata palsu sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab mereka.

*Pertama,* dihukumi haram jika bulu mata palsu terbuat dari benda najis, seperti terbuat dari bulu binatang yang haram dimakan.

*Kedua,* dihukumi haram jika bulu mata palsu tersebut berasal dari bulu manusia, meskipun bulu milik diri sendiri. Misalnya, menyambung bulu mata dengan bulu mata sendiri yang sudah lepas. Begitu juga haram menyambung bulu mata dengan bulu mata milik orang lain.

*Ketiga,* boleh jika bulu mata palsu tersebut terbuat dari benda suci, seperti terbuat dari plastik dan mendapat izin dari suami.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiah Al-Bujairimi 'Ala Syarh Minhaj Ath-Thullab berikut,

حاصله أن وصل المرأة شعرها بشعر نجس أو شعر آدمي حرام مطلقا سواء كان طاهرا أم نجسا من شعرها أو شعر غيرها بإذن الزوج أو السيد أم لا وأما وصلها بشعر طاهر من غير آدمي فإن أذن فيه الزوج أو السيد جاز وإلا فلا

"Intinya, perempuan menyambung rambut/bulunya dengan rambut/bulu yang najis atau bulu anak adam (manusia) adalah haram secara mutlak, baik bulu manusia itu suci atau najis, bulu milik diri sendiri atau orang lain, seizin suami dan tuannya atau tidak. Adapun jika perempuan menyambung bulunya dengan bulu yang suci dari selain bulu manusia, jika mendapat izin dari suami atau tuannya, maka hukumnya boleh. Jika tidak mendapat izin suami atau tuannya, maka tidak boleh."

*Keempat,* jika belum punya suami dan ingin memasang bulu mata palsu yang terbuat dari benda suci, maka menurut Syaikh Abu Hamid Al-Isfirayini makruh, tidak haram. Sementara menurut sebagian ulama adalah haram. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Asy-Syarh  Al-Kabir berikut,

أما شعر غير الادمى فينظر فيه الي حال المرأة ان لم يكن لها زوج ولا سيد فلا يجوز لها وصله للخبر ولانها تعرض نفسها للتهمة ولانها تغر الطالب وذكر الشيخ ابو حامد وطائفة انه يكره ولا يحرم

"Adapun bulu selain bulu anak adam (manusia), maka perlu dilihat kondisi seorang perempuan. Jika dia tidak punya suami, maka dia tidak boleh menyambungnya karena hadits diatas. Juga hal itu akan memunculkan prasangka negative pada dirinya dan akan menipu calon (orang yang hendak meminangnya). Dan Syaikh Abu Hamid dan sekelompok ulama menyebutkan bahwa hal itu hanya makruh, tidak haram." 

Dalam Fathul Jawwad Halaman 27 juga disebutkan,

كوصل المرأة شعرها بشعر نجس حاصل مسئلة وصل الشعر كما قال شيخ مشايخنا الشيخ عطية الاجهوري انه ان كان بنجس حرم مطلقا وإن كان بطاهر فإن كان من أدمي ولو من نفسها حرم مطلقا وإن من غير أدمي فيحرم مطلقا بغير إذن الزوج ويجوز بإذنه.

"Seperti perempuan yang menyambung rambut/bulunya dengan rambut/bulu yang najis menjadikan masalah (haramnya)  menyambung rambut/bulu, sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Athiyah Al-Ajhuri bahwa sesungguhnya menyambung rambut/bulu dengan benda najis hukumnya haram mutlak, dan jika dengan benda suci dari anak adam (manusia) meskipun dari dirinya sendiri adalah haram mutlak, dan jika dengan (benda lain) selain benda dari anak adam (manusia) haram mutlak jika tanpa seizin suami dan  jika mendapat izin suami maka boleh." (Fath Al-Jawwad hal. 27).

Namun bila yang dipakai sebagai penyambung rambut tersebut bukan sesuatu yang menimbulkan kesan penipuan karena bentuk sambungannya bukan rambut atau hal yang menyerupai rambut, hukumnya boleh.

ووصل شعر الآدمي بشعر نجس أو شعر آدمي حرام للخبر السابق ولأنه في الأول مستعمل للنجس العيني في بدنه وفي الثاني مستعمل لشعر آدمي والآدمي يحرم الانتفاع به وبسائر أجزائه لكرامته وكالشعر الخرق والصوف كما قاله في المجموع قال : وأما ربط الشعر بخيوط الحرير الملونة ونحوها مما لا يشبه الشعر فليس بمنهي عنه

"Menyambung rambut/bulu dengan menggunakan rambut/bulu najis atau rambut anak adam hukumnya haram berdasarkan hadits diatas dan karena memakaikan barang najis dalam dirinya (dalam masalah pertama) serta mengambil keuntungan dari bagian tubuh (rambut) orang lain yang kemuliaannya haram dimanfaatkan. Seperti halnya rambut juga tidak boleh disambung dengan memakai sobekan kain, bulu wool. Sedang mengikat rambut memakai benang-benang sutera yang di warnai dan benang lain yang tidak menyerupai rambut hukumnya tidaklah di larang." (Mughni Al-Muhtaj juz 1 hal.191). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

LUTHFI BASORI (NUGL), KYAI YANG TURUN DERAJATNYA MENJADI SEORANG PROVOKATOR & P3MB3NCI

KLARIFIKASI VIDEO SEORANG BANSER YANG TERLIHAT DITAMPAR KYAI

*Ngalap Berkah, Banser Ditampar Kyai*

Baru-baru ini viral sebuah video pendek seorang Kyai menampar anak muda berjaket Banser. Di dalam video tersebut, kyai mengatakan "Menjaga kiai, mestinya kamu di rumah saya, Banser ini. Tapi akhirnya Banser, kiainya enggak dijaga gereja yang dijaga".

Video tersebut kemudian dinarasikan sejumlah pihak bahwa Kyai menampar Banser karena tidak menjaga kyai, malah menjaga gereja. 

Jika melihat sekilas dan tidak mengenal tradisi Kyai-Santri/Alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman, tentu dengan mudah mengamini narasi tersebut.

Sebagai alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman, saya perlu meluruskan peristiwa yang terjadi.

Pertama, bahwa di dalam video tersebut adalah Gurunda kami, KH Syukron Makmun tengah menampar anak muda berpakaian Banser yang merupakan santrinya, bernama Dul Hamid, Ketua Ranting Ansor Jati Karya, Bekasi. Dul Hamid ini adalah adik kelas saya di Pesantren, kakaknya yang sudah almarhum kebetulan satu angkatan dengan saya. 

Kedua, peristiwa terjadi setelah selesai acara Nuzulul Qur'an PBNU di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jumat 22 April 2022.

Kebetulan saya juga berada di lokasi acara tersebut hingga pukul sebelas malam, dan sempat mencium tangan beliau saat keluar masjid, namun tidak sempat mendapatkan tamparan karena situasinya cukup crowded dan kondisi Kyai tengah berjalan dikawal ketat sejumlah Banser.

Ketiga, Tradisi Daarul Rahman (DR). Tidak banyak yang tahu, kecuali keluarga, alumni, dan santri. Bahwa, setiap kali santri atau alumni yang bertemu atau bersilaturahmi dengan KH Syukron Makmun, pasti tidak lepas untuk meminta barokah, berupa tamparan dari sang Kyai. Jadi alumni ditampar Kyai menjadi hal yang biasa.

Jadi tamparan di dalam video tersebut, bukan kemarahan Kyai terhadap Banser. Tapi, memang Banser yang merupakan santri Kyai sedang ngalap barokah dengan meminta tamparan. Justru, kalau alumni tidak mendapat tamparan, maka akan merasa sia-sia atau tidak mendapatkan barokah.

Malam itu, tidak hanya Dul Hamid yang mendapatkan berkah tamparan, tapi puluhan alumni lainnya, yang menunggu hingga tengah malam usai acara Nuzulul Qur'an pun mendapatkan tamparan berkah di depan rumah Kyai.

Saya sendiri dalam beberapa kesempatan, dari reuni alumni yang dihadiri Pak Kyai, hingga acara Maulid Nabi di Pondok Pesantren, pasti ngalap berkah, antre minta ditampar di rumah Pak Kyai, begitu juga dengan ratusan alumni lainnya. Jadi, soal Pak Kyai menampar alumni dan santrinya adalah hal yang lumrah terjadi.

PBNU di Daarul Rahman

Memang malam itu, acara Nuzulul Qur'an PBNU di Pondok Pesantren Daarul Rahman adalah peristiwa yang tidak biasa.

Belakangan, silaturahmi KH Syukron Makmun dengan pemimpin PBNU cukup intens, dari Rais Am PBNU KH Miftahul Achyar, Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, hingga Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Hingga akhirnya, malam Nuzulul Qur'an PBNU tahun 2022 diputuskan di Pondok Pesantren Daarul Rahman. Para alumni dari Jabodetabek antusias untuk hadir, mengikuti pengajian seperti biasanya.

Pesan kuat Pak Kyai dalam acara tersebut adalah, mengajak seluruh pengurus PBNU untuk menghidupkan NU dan tidak mencari hidup dari NU. Sebab, Kyai meyakini orang yang menghidupi NU sudah pasti "hidup". Pesan ini sangat melekat kepada ribuan alumni yang hadir di lokasi atau pun melalui YouTube, utamanya alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman yang aktif sebagai pengurus NU, Ansor, dan Banom lainnya, dari pusat hingga daerah.

Andai seluruh alumni yang aktif di organisasi NU atau pun tidak, hadir secara offline, sudah pasti mereka juga akan antre bersama alumni yang lain untuk meminta tamparan Kyai, dengan serempak mengatakan "Sami'na wa ato'na Kyai".

*****

*Yunus*

Alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman angkatan 19 (1992-1998)

Sekian Klarifikasi Kami

Sumber: 

https://m.facebook.com/713662864/posts/10158779550792865/

Rabu, 27 April 2022

TARIKH AN-NAJD IBNU GHANAM JUGA MENCATAT SEJARAH KELAM WAHABI MEMBUNUH MUSLIM DI DALAM MASJID

Bukti kejahatan ajaran wahhabiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najd melalui tangan-tangan pengikut setianya melalui kitab-kitab karyanya. Setelah kitab 'Unwan Al-Majdi Fi Tarikh An-Najdi karya Utsman bin Abdullah bin Bisyr juga dicatat dalam kitab karya ulama wahabi lainnya yaitu kitab Tarikh An-Najd  diberi nama Raudhah Al-Afkar Wa Al-Afham hal. 102 karya Syeikh Al-Alamah Husain bin Ghanam yang dikenal dengan Ibnu Ghanam cetakan ke-4 Tahun 1415 H/1992 M penerbit Daar Asy-Syuruq hal.103 disebutkan tentang dibunuhnya seorang hakim Uyainah bernama Utsman bin Mu'ammir terjadi di hari Jum'at yang dilakukan oleh pengikut paham Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi selesai shalat Jum'at,

فلما تحقق اهل الاسلام ذالك تعاهد على قتله نفر, منهم حماد بن راشد وابراهيم بن زيد, فلما انقضت صلاة الجمعة قتله فى مصلاه بالمسجد فى رجب سنة ١١٦٣ ه

Ketika umat Islam menyadari hal itu, sekelompok orang berjanji untuk membunuhnya (Utsman bin Mu'ammir) termasuk diantaranya (yang ingin membunuhnya adalah Hammad bin Rasyid dan Ibrahim bin Zaid, dan ketika shalat Jumat berakhir, dia dibunuh di tempat shalatnya di masjid di bulan Rajab pada Tahun 1163 H." (Tarikh An-Najd Ibnu Ghanam (Syeikh Imam Husain bin Ghanam) cetakan ke-4 tahun 1994 M/1415 H penerbit Daar Asy-Syuruq hal. 103)

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

BUKTI KITAB LAIN BAHWA MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AN-NAJD PELOPOR PAHAM WAHABI ADALAH SHAHAFI (BELAJAR TAFSIR DAN HADITS TANPA SANAD/GURU)

Ternyata Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najd belajar ilmu tafsir dan hadits tanpa sanad/tanpa guru pembimbing alias shahafi disebutkan dalam biografinya yang ditulis oleh seorang pengikutnya lagi dalam salah satu kitab karya ulama wahabi yaitu kitab Tarikh An-Najdi yang diberi nama Raudhah Al-Afkar Wa Al-Afham hal. 83 karya Syeikh Al-Alamah Husain bin Ghanam (Ibnu Ghanam) cetakan ke-4 tahun 1415 H/1992 M disebutkan, 

وكان والده انذاك قاضى العيينة, فقراء عليه فى الفقه على مذهب الامام أحمد, وكان راحمه الله على صغر سنه, كثير المطالعة على كتاب التفسير والحديث والكلام العلماء فى اصل الاسلام, وكان لسرعة الكتابته يكتب فى المجلس الواحد كراسا من غير يتعب, فيحار من يراه لسرعة حفظه, وسرعة كتابته 

"Ayahnya (Abdul Wahhab bin Sulaiman) pada waktu itu adalah seorang hakim 'Uyainah, jadi dia membacakan / mengajarkan kepadanya dalam fikih menurut mazhab Imam Ahmad, dan dia (Muhammad bin Abdul Wahhab), semoga -Allah merahmatinya- di usianya yang masih muda, adalah suka membaca kitab (muthala'ah) tafsir, hadits dan wacana ilmiah tentang asal usul Islam, dan untuk kecepatan penulisannya, ia menulis dalam satu majelis sendirian sebuah tulisan buku tanpa lelah, dan orang-orang yang melihatnya bingung dengan kecepatan cara menghafalnya, dan menulisnya dengan cepat."

Syaikh Nashir Al-Asad menjelaskan mengenai status orang yang belajar kitab (muthala'ah) tanpa guru,

أَمَّا مَنْ كَانَ يَكْتَفِي بِاْلأَخْذِ مِنَ الْكِتَابِ وَحْدَهُ دُوْنَ أَنْ يُعَرِّضَهُ عَلَى الْعُلَمَاءِ وَدُوْنَ أَنْ يَتَلَقَّى عِلْمُهُ فِي مَجَالِسِهِمْ فَقَدْ كَانَ عَرَضَةً لِلتَّصْحِيْفِ وَالتَّحْرِيْفِ، وَبِذَلِكَ لَمْ يَعُدُّوْا عِلْمَهُ عِلْمًا وَسَمُّوْهُ صَحَفِيًّا لاَ عَالِمًا …. فَقَدْ كَانَ الْعُلَمَاءُ يُضَعِّفُوْنَ مَنْ يَقْتَصِرُ فِي عِلْمِهِ عَلَى اْلأَخْذِ مِنَ الصُّحُفِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَلْقَى الْعُلَمَاءَ وَيَأْخُذَ عَنْهُمْ فِي مَجَالِسِ عِلْمِهِمْ، وَيَسُمُّوْنَهُ صَحَفِيًّا، وَمِنْ هُنَا اشْتَقُّوْا “التَّصْحِيْفَ” وَأَصْلُهُ “أَنْ يَأْخُذَ الرَّجُلُ اللَّفْظَ مِنْ قِرَاءَتِهِ فِي صَحِيْفَةٍ وَلَمْ يَكُنْ سَمِعَهُ مِنَ الرِّجَالِ فَيُغَيِّرُهُ عَنِ الصَّوَابِ”. فَاْلإِسْنَادُ فِي الرِّوَايَةِ اْلأَدَبِيَّةِ لَمْ يَكُنْ، فِيْمَا نَرَى، إِلاَّ دَفْعًا لِهَذِهِ التُّهْمَةِ (مصادر الشعر الجاهلي للشيخ ناصر الاسد ص 10 من مكتبة الشاملة)

“Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim… Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini.” (Mashadir Asy-Syi’ri Al-Jahili juz 10). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Minggu, 24 April 2022

KAJIAN TENTANG HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT FITRAH KEPADA SEORANG USTADZ

Zakat, suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Sebelum berzakat maka harus mengetahui siapa saja yang berhak dalam menerima Zakat.

Orang yang berhak menerima Zakat di dalam Al-Qur’an ada 8 golongan termasuk seorang yang fakir.

Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah (sabilillah) dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan (Ibnu Sabil), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60).

Dr. Khalid Al-Musyaiqih menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang cakupan makna fi sabilillah,

وقوله جل وعلا: “وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ” اختلف العلماء رحمهم الله في تفسيره، فالإمام مالك رحمه الله يرى أن المراد به ما يتعلق بالجهاد على وجه العموم. والرأي الثاني: أن المراد بـ”وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ” هم المجاهدون الذين ليس لهم ديوان، أي ليس لهم راتب من بيت المال، وهذا ما ذهب إليه الإمام أحمد رحمه الله والشافعي. والرأي الثالث: أن طرق الخير كلها وسبله من الجهاد وغيره من بناء المساجد ومدارس التعليم وتعبيد الطرق وحفر الآبار وغير ذلك.

Makna firman Allah, ‘Fi sabilillah’ diperselisihkan ulama tentang tafsirnya,

1. Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa makna ‘fi sabilillah’ adalah semua yang terkait dengan jihad secara umum (baik personel maupun senjata).

2. Pendapat kedua, makna ‘fi sabilillah’ adalah orang yang berangkat jihad, sementara mereka tidak mendapat gaji tetap dari negara atau baitul mal. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan Imam As-Syafii rahimahullah.

3. Pendapat ketiga, makna ‘fi sabilillah’ adalah semua kegiatan kebaikan, baik itu jihad maupun yang lainnya, seperti membangun masjid, sekolah islam, memperbaiki jalan, membuat sumur, atau lainnya.

Dalam tafsir Al-Wasith Li Ath-Thanthawi dijelaskan tentang makna sabilillah,

وقال الإِمام أحمد : يجوز صرف سبيل الله إلى مريد الحج .

وقال بعضهم : يجوز صرف سبيل الله إلى طلبة العلم .

وفسره بعضهم بجميع القربات . فيخل فيه جميع الخير ، مثل تكفين الموتى ، وبناء القناطر ، والحصون ، وعمارة المساجد ( وَفِي سَبِيلِ الله ) عام فى الكل .

Dan menurut Imam Ahmad berkata, "Dibolehkan mengarahkan Sabilillah (jalan Allah) kepada orang yang ingin menunaikan haji."

Sebagian dari mereka berkata, "Dibolehkan mengarahkan jalan Allah kepada para penuntut ilmu."

Dan beberapa dari mereka menafsirkan itu semua. Di dalamnya, semua kebaikan, seperti untuk mengkafani jenazah, membangun jembatan, membangun benteng, dan membangun masjid (dan karena di jalan Allah) bersifat umum." (Imam Ath-Thanthawi Tafsir Al-Wasith)

Dalam Tafsir As-Sa'di disebutkan makna sabilillah,

وقال كثير من الفقهاء‏:‏ إن تفرغ القادر على الكسب لطلب العلم، أعطي من الزكاة، لأن العلم داخل في الجهاد في سبيل اللّه‏.‏

وقالوا أيضًا‏:‏ يجوز أن يعطى منها الفقير لحج فرضه، ‏[‏وفيه نظر‏]‏ ‏.‏

Dan banyak ahli fikih berkata, "Jika orang yang mampu mencari uang mengabdikan dirinya untuk mencari ilmu, dia diberi zakat, karena ilmu termasuk jihad di jalan Allah."

Mereka juga berkata, "Dibolehkan bagi orang miskin untuk diberikan darinya untuk haji wajib, [dan ada pertimbangan di dalamnya]." (Tafsir As-Sa'di)

Sudah menjadi kebiasaan di Indonesia terutama di desa-desa menjelang Idul Fitri seperti saat ini masyarakat berbondong-bondong memberikan zakat fitrah, termasuk kepada kiai, tokoh agama atau ustadz.

Lantas bagaimana fikih Islam memandang hal ini ? Bolehkah memberikan zakat fitrah kepada Kiai, tokoh agama atau ustadz ?

Imam Al-Kharayi dalam kitab karyanya Syarh Mukhtashar Khalil beliau mengatakan,

يَجُوْزُ إِعْطَاءُ الزَّكَاةِ لِلْقَارِئِ وَالْعَالِمِ وَالْمُعَلِّمِ وَمَنْ فِيْهِ مَنْفَعَةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَلَوْ كَانُوْا أَغْنِيَاءَ لِعُمُوْمِ نَفْعِهِمْ وَلِبَقَاءِ الدِّيْنِ

“Boleh memberikan zakat kepada ahli qiraat, orang alim, pengajar, dan orang yang bermanfaat bagi kaum muslimin meskipun mereka terbilang mampu. Hal ini dikarenakan manfaat mereka yang bersifat umum serta dapat melestarikan agama.” (Syarh Mukhtashar Khalil, juz 2 hal.216).

Hal ini senada dengan pendapat Imam Musthafa Imarah dalam kitab Jawahirul Bukhari, bahwa kata في سبيل الله tidak hanya terbatas kepada orang-orang yang berperang,

ﺍﻫﻞ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻯ ﺍﻟﻐﺰﺍﺓ ﺍﻟﻤﺘﻄﻌﻮﻥ ﺑﺎﻟﺠﻬﺎﺩ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺍﻏﻨﻴﺎﺀ ﺍﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻃﻠﺒﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻭﺭﻭﺍﺩ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﻃﻼﺏ ﺍﻟﻌﺪﻝ ﻭﻣﻘﻴمو ﺍﻻﻧﺼﺎﻑ ﻭﺍﻟﻮﻋﻆ ﻭﺍﻻﺭﺷﺎﺩ ﻭﻧﺎﺻﺮو ﺍﻟﺪﻳﻦ الحنيف. ﺍﻩ

“Sabilillah adalah orang-orang yang berperang dan berjihad dengan sukarela walaupun mereka kaya, karena untuk membantu jihad. Dan masuk dalam kategori Sabilillah yaitu orang-orang yang mencari ilmu, orang-orang yang menyampaikan kebenaran, orang yang menegakkan keadilan, serta orang-orang yang membela agama yang lurus (Islam)." (Jawahirul Bukhari Syarh Al-Qasthalani hal 106). 

Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa kiai atau ustadz termasuk dalam ketegori Sabilillah atau mereka yang berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala,

وَفِي سَبِيْلِ اللّٰهِ وَهُمْ فِي رَأْيِ الْجُمْهُوْرِ الْغُزَّاةُ المُجَاهِدُوْنَ الَّذِيْنَ لَا حَقَّ لهُم فِي دِيْوَانِ الْجُنْدِ

“Dan golongan Sabilillah. Menurut mayoritas ulama mereka adalah pasukan perang jihad yang tidak memiliki bagian hak dalam buku catatan tentara.” (Tafsir Al-Munir, X/273)

Keterangan Imam Ad-Darimi juga ditermukan dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawi, dengan redaksi sebagai berikut,

وَالثَّالِثُ إِنْ كَانَ نَجِيْباً يُرْجَى تَفَقُّهُهُ وَنَفْعُ المُسْلِمِيْنَ بِهِ اِسْتَحَقَّ

“Bagian ketiga : andaikan dia (penuntut ilmu) bisa diharapkan ke-faqihan-nya dan bisa memberi manfaat kepada orang-orang islam dengan ilmunya, maka dia berhak menerima zakat.“ Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 23 April 2022

CATATAN KELAM PAHAM WAHABI MEMBUNUH SESAMA MUSLIM DI DALAM MASJID

Terbongkarnya kejahatan ajaran wahhabiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najd melalui tangan-tangan pengikut setianya melalui kitab-kitab karyanya. Melaui salah satu kitab karya ulama wahabi yaitu kitab 'Unwan Al-Majid Fi Tarikh An-Najd juz 1 hal. 60 karya salah seorang ulama wahabi Utsman bin Abdullah bin Basyar cetakan ke-4 Ar-Riyadh 1402 H/1982 M disebutkan tentang dibunuhnya seorang hakim Uyainah bernama Utsman bin Muammir terjadi di hari Jum'at yang dilakukan oleh pengikut paham Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi selesai shalat Jum'at,

فلما تحقق اهل البلد ماعزم عليه من ذالك, غزم رجال على قتله والفتك به, ومن مشاهريهم حميد بن راشيد وابراهيم بن زيد الباهل, فلما فرغت صلاة الجمعة, وخرج سرعان الناس قتل فى المسجد

"Ketika orang-orang di negara itu menyadari apa yang telah mereka putuskan untuk dilakukan, orang-orang dipaksa untuk membunuhnya (Utsman bin Muammir), dan diantara mereka adalah Hamid bin Rasyid dan Ibrahim bin Zaid Al-Bahil. Ketika shalat Jumat selesai dan ketika orang-orang bersegera keluar (meninggalkan masjid), dia (Utsman bin Muammir) dibunuh di Masjid." (Unwan Al-Majid Fi Tarikh An-Najd juz 1 hal. 60). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

DAKWAH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AN-NAJD DENGAN CACIAN DAN PERAMPOKAN

Dalam kitab 'Unwan Al-Majdi Fi Tarikh An-Najdi karya ulama wahabi Syeikh Utsman bin Abdullah bin Bisyr dijelaskan bahwa, "Perintah jihad datang dari pendiri Wahabi yaitu (Muhammad bin Abdul Wahhab), dan jihad pertama diikuti hanya oleh 7 pasukan penunggang kuda. Lihat scan kitab hal. 45-46,

ثم أمر الشيخ باالجهاد لمن عادى أهل التوحيد وسبه وسب أهله, وحضهم عليه فامتثلوا, فأول جيش غزا سبع ركايب, فلما ركبوها وأعجلت بهم النجايب فى سيرها سقطوا من أكوارها, لانهم لم يتعادوا ركوبها, فأغاروا أظنه على بعض الاعراب فغنموا ورجعوا.

“Kemudian Syaikh itu (yakni Muhammad ibnu Abdul Wahhab) memerintahkan jihad melawan orang yang menentang ahli Tauhid, dengan mencacinya dan mencaci keluarganya. Dia mengajak mereka (para pengikutnya) untuk jihad, maka mereka pun berjihad. Pasukan perang jihad pertama menunggang tujuh tunggangan. Ketika mereka menungganginya dan memacunya terlalu cepat, mereka jatuh terpelanting dari pelananya, karena mereka belum terbiasa menunggangnya. Kemudian mereka menyerang sebagian penduduk yang diyakini sebagai Arab kampung, sehingga mereka kembali dengan membawa harta ghanimah.” 

فكانت الاخماس والزكاة ولما يجبى الى الدرعية من دقيق الاشياء وجليلها, كلها ندفع اليه. يضعها حيث يشاء, ولا يأخذ عبد العزيز ولا غيره من ذالك شيئا الا عن أمره, فبيده الحل والعقد, والاخذ والاعطاء, والتقديم والتأخير, ولا يركب جيس ولا يصدر رأي من محمد, وعبد العزيز الا عن قوله ورأيه. 

“Ghanimah seperlima, zakat dan apa yang dibawa ke Dir’iyah dari barang-barang yang murah sampai yang mahal semuanya diberikan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab. Dia meletakkan semua harta-harta itu sekehendaknya. Abdul Aziz (anaknya Muhammad ibnu Saud) maupun lainnya tidak mengambil harta itu kecuali atas perintahnya. Maka di tangannyalah (Muhammad bin Abdul Wahhab) kekuasaan al-hal wa al-aqd (pengambilan keputusan), perintah mengambil, memberi, maju dan mundur, tidak ada perintah dari Muhammad (yakni Muhammad ibnu Saud) dan Abdul Aziz (anaknya) kecuali setelah ada perintah dan izin darinya (Muhammad bin Abdul Wahhab).” (''Unwan Al-Majdi Fi Tarikh An-Najdi juz 1 hal. 45-46). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AN-NAJD PELOPOR PAHAM WAHABI ADALAH SHAHAFI (BELAJAR TAFSIR DAN HADITS TANPA SANAD/GURU)

Ternyata Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najd belajar ilmu tafsir dan hadits tanpa sanad/tanpa guru pembimbing alias shahafi disebutkan dalam biografinya yang ditulis oleh pengikutnya sendiri dalam salah satu kitab karya ulama wahabi yaitu kitab 'Unwan Al-Majdi Fi Tarikh An-Najdi juz 1 hal. 33 karya Syeikh Utsman bin Abdullah bin Bisyr cetakan ke-4 Ar-Riyadh 1402 H/1982 M disebutkan, 

فقراء الشيخ محمد بن عبد الوهاب على ابيه فى الفقه, وكان رحمه الله فى صغيره كثير المطالعة فى كتب التفسير والحديث وكلام العلماء فى اصل الاسلام. فشرح الله صدره فى معريفة التوحيد وتحقيقه, ومعريفة نواقضه المضلة عن طريقه.

"Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab membaca (belajar) pada ayahnya dalam ilmu fiqih, dan beliau (semoga Allah merahmatinya), di masa mudanya banyak membaca kitab-kitab tafsir dan hadits serta perkataan ulama tentang asal-usul Islam. Maka Allah membuka (menjelaskan) hatinya dalam mengerti (memahami) tauhid dan kebenarannya, dan mengerti cara dalam mengatasi kesesatan dari jalannya." ('Unwan Al-Majdi Fi Tarikh An-Najdi juz 1 hal. 33). 

Syaikh Nashir Al-Asad menjelaskan mengenai status orang yang belajar kitab (muthala'ah) tanpa guru,

أَمَّا مَنْ كَانَ يَكْتَفِي بِاْلأَخْذِ مِنَ الْكِتَابِ وَحْدَهُ دُوْنَ أَنْ يُعَرِّضَهُ عَلَى الْعُلَمَاءِ وَدُوْنَ أَنْ يَتَلَقَّى عِلْمُهُ فِي مَجَالِسِهِمْ فَقَدْ كَانَ عَرَضَةً لِلتَّصْحِيْفِ وَالتَّحْرِيْفِ، وَبِذَلِكَ لَمْ يَعُدُّوْا عِلْمَهُ عِلْمًا وَسَمُّوْهُ صَحَفِيًّا لاَ عَالِمًا …. فَقَدْ كَانَ الْعُلَمَاءُ يُضَعِّفُوْنَ مَنْ يَقْتَصِرُ فِي عِلْمِهِ عَلَى اْلأَخْذِ مِنَ الصُّحُفِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَلْقَى الْعُلَمَاءَ وَيَأْخُذَ عَنْهُمْ فِي مَجَالِسِ عِلْمِهِمْ، وَيَسُمُّوْنَهُ صَحَفِيًّا، وَمِنْ هُنَا اشْتَقُّوْا “التَّصْحِيْفَ” وَأَصْلُهُ “أَنْ يَأْخُذَ الرَّجُلُ اللَّفْظَ مِنْ قِرَاءَتِهِ فِي صَحِيْفَةٍ وَلَمْ يَكُنْ سَمِعَهُ مِنَ الرِّجَالِ فَيُغَيِّرُهُ عَنِ الصَّوَابِ”. فَاْلإِسْنَادُ فِي الرِّوَايَةِ اْلأَدَبِيَّةِ لَمْ يَكُنْ، فِيْمَا نَرَى، إِلاَّ دَفْعًا لِهَذِهِ التُّهْمَةِ (مصادر الشعر الجاهلي للشيخ ناصر الاسد ص 10 من مكتبة الشاملة)

“Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim… Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini.” (Mashadir Asy-Syi’ri Al-Jahili juz 10). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 21 April 2022

KAJIAN TENTANG SUNNAH SUJUD TILAWAH SHUBUH DI HARI JUM'AT

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan ketika membaca atau mendengar ayat-ayat tertentu dari kitab suci Al-Qur’an. Ayat-ayat tersebut disebut dengan ayat sajdah. Di dalam mushaf Al-Qur’an ayat-ayat sajdah ini biasanya bisa diketahui dengan adanya tanda tertentu seperti tulisan kata as-sajdah dengan tulisan Arab di pinggir halaman sebaris dengan ayatnya, atau adanya gambar seperti kubah kecil di akhir ayat. Ketika ayat sajdah dibaca orang yang membaca atau yang mendengarnya disunahkan untuk bersujud satu kali baik dalam keadaan shalat maupun di luar shalat. 

Disyariatkannya sujud tilawah atau sujud sajadah ketika membaca atau mendengar ayat sajdah didasarkan pada beberapa hadits di antaranya: 

Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﺇﺫا ﻗﺮﺃ اﺑﻦ ﺁﺩﻡ اﻟﺴﺠﺪﺓ ﻓﺴﺠﺪ اﻋﺘﺰﻝ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻳﺒﻜﻲ، ﻳﻘﻮﻝ: ﻳﺎ ﻭﻳﻠﻪ ﺃﻣﺮ اﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺑﺎﻟﺴﺠﻮﺩ ﻓﺴﺠﺪ ﻓﻠﻪ اﻟﺠﻨﺔ، ﻭﺃﻣﺮﺕ ﺑﺎﻟﺴﺠﻮﺩ ﻓﺄﺑﻴﺖ ﻓﻠﻲ اﻟﻨﺎﺭ "   

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jika manusia membaca ayat sajadah lalu sujud maka syetan menyingkir dan menangis. Ia berkata, "Celaka aku. Manusia diperintah sujud kemudian sujud maka surga baginya. Sementara aku diperintah sujud tapi aku menolak, maka neraka bagiku." (HR. Muslim)

Hadits riwayat Imam Abu Dawud dari Ibnu Umar ra,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا الْقُرْآنَ، فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ، وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ

“Adalah nabi membacakan Al-Qur’an kepada kita, maka ketika melewati ayat As-Sajdah beliau bertakbir dan bersujud, dan kami pun bersujud bersamanya.” (HR. Abu Daud)

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Muin mengatakan, 

تسن سجدة التلاوة لقارئ وسامع جميع آية سجدة، ويسجد مصل لقرآءته إلا مأموما فيسجد هو لسجدة إمامه 

“Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca atau mendengar ayat sajdah. Begitu pula orang yang sedang mengerjakan shalat dianjurkan sujud ketika membaca ayat sajdah, kecuali bagi makmum, karena dia mesti sujud mengikuti sujud imamnya.” 

Syekh Zainuddin Al-Malibari melanjutkan penjelasannya, 

فإن سجد إمامه وتخلف هو عنه أو سجد هو دونه بطلت صلاته ولو لم يعلم المأموم سجوده  بعد رفع رأسه من السجود لم تبطل صلاته ولايسجد بل ينتظر قائما 

“Apabila imam sujud tilawah, sementara makmum tidak sujud, atau makmum sujud sendiri tanpa imam, shalatnya batal. Kalau makmum tidak mengetahui sujud imam setelah imam mengangkat kepalanya, tidak batal shalatnya dan makmum tidak perlu sujud, tapi tunggu saja dalam keadaan berdiri.” Kalau makmum tidak ikut sujud bersama imam, padahal dia mengetahui imam sedang sujud tilawah, maka shalatnya batal. Tapi kalau makmum tidak mengetahui dan menyadari, baru sadar setelah imam bangkit dari sujud, maka shalatnya tidak batal dan makmum tidak perlu sujud tilawah, tapi tunggu saja imam dalam kondisi berdiri." 

*Tata Cara Sujud Tilawah* 

Di luar shalat ketika seseorang membaca atau mendengar ayat sajdah dan ia berkehendak untuk melakukan sujud tilawah maka yang mesti ia lakukan adalah memastikan dirinya tidak berhadats dan tidak bernajis dengan cara berwudhu dan mensucikan najis yang ada. Setelah itu menghadapkan diri ke arah kiblat untuk kemudian bertakbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangan. Setelah berhenti sejenak lalu bertakbir lagi untuk turun bersujud tanpa mengangkat kedua tangan. Setelah sujud satu kali lalu bangun untuk kemudian duduk sejenak tanpa membaca tahiyat dan mengakhirinya dengan membaca salam.

Apakah harus berdiri sebelum melakukan sujud tilawah? Para ulama Syafi’iyah berbeda pendapat dalam hal ini. Syekh Abu Muhammad, Qadli Husain dan lainnya lebih menyukai sujud tilawah dilakukan dengan cara dimulai dari berdiri dan berniat lebih dahulu. Namun pendapat ini diingkari oleh Imam Haramain dengan mengatakan, “Saya tidak melihat untuk masalah ini adanya penuturan dan dasar.” Apa yang menjadi pendapat Imam Haromain ini dipandang oleh Imam Nawawi sebagai pendapat yang lebih benar dan karenanya yang dipilih adalah tidak berdiri untuk sujud tilawah (lihat Yahya bin Syaraf Al-Nawawi, Raudlatut Thâlibîn wa ‘Umdatul Muftîn, (Beirut: Al-Maktab Al-Islamy, 1991), jil. I, hal. 321 – 322).

Sedangkan melakukan sujud tilawah atau sujud sajadah dalam keadaan sedang shalat dengan cara setelah dibacanya ayat sajdah maka bertakbir tanpa mengangkat tangan untuk kemudian turun bersujud satu kali. Setelah itu bangun dari sujud untuk berdiri lagi dan melanjutkan shalatnya. Bila ayat sajdah yang tadi dibaca berada di tengah surat maka ia kembali melanjutkan bacaan suratnya hingga selesai dan ruku’. Namun bila ayat sajdah yang tadi dibaca berada di akhir surat maka setelah bangun dari sujud tilawah ia sejenak berdiri atau lebih disukai membaca sedikit ayat lalu diteruskan dengan ruku’ dan seterusnya. Perlu diketahui, Dr. Musthafa Al-Khin dalam kitabnya al-Fiqhul Manhaji memberikan peringatan bahwa takbiratul ihram dan membaca salam merupakan syarat sujud tilawah. Syarat yang lainnya adalah sebagaimana syarat shalat pada umumnya seperti menghadap kiblat, suci dari hadats dan najis, dan sebagainya (lihat Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji [Damaskus: Darul Qalam, 2013], jil. I, hal. 175 – 176). 

Adapun bacaan yang sunah dibaca ketika sujud tilawah sebagaimana disebutkan Imam Nawawi dalam kitab Raudlatut Thâlibîn adalah,

سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ 

“Sajada wajhiya lil ladzî khalaqahû wa shawwarahû wa syaqqa sam’ahû wa basharahû bi haulihî wa quwwatihî.”

Juga disunahkan membaca do’a,

اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَاقْبَلْهَا مِنِّي، كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ  

“Allâhummaktub lî bihâ ‘indaka ajraa, waj’alhâ lî ‘indaka dzukhran, wa dla’ ‘annî bihâ wizran, waqbalhâ minnî kamâ qabiltahâ min ‘abdika dâwuda ‘alaihissalâm.” 

Namun demikian masih menurut (Imam Nawawi) bila yang dibaca adalah do’a yang biasa dibaca saat sujud di waktu shalat maka diperbolehkan. 

Kesunahan sujud tilawah atau sajadah dalam shalat shubuh hari Jum'at sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah berkata,   

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْرَأُ فِى الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ (الم تَنْزِيلُ) فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى وَفِى الثَّانِيَةِ هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا   

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘alif lamim tanzil..’ (surat As-Sajdah) pada raka’at pertama shalat Shubuh di hari Jum’at. Sementara pada raka’at kedua, beliau membaca ‘hal atâ ‘alal insâni…” (surat Al-Insan),” (HR Muslim)   

Hikmah membaca kedua surat ini dijelaskan oleh Imam As-Suyuthi dalam Nurul Lum’ah fi Khashaish Jum’ah 

والحكمة في قرايتهما الاشارة إلى ما فيهما من ذكر خلق آدم وأحوال يوم القيامة لأن ذلك كان ويقع يوم الجمعة ذكره ابن دحية وقال غيره بل قصد السجود الزائد. وأخرج ابن أبي شيبة عن ابراهيم النخعي أنه قال يستحب أن يقرأ في صبح يوم الجمعة بسورة فيها سجدة 

“Di antara hikmah membaca kedua surat di atas ialah untuk mengingat penciptaan Adam dan kondisi hari kiamat, karena keduanya terjadi pada hari Jum’at. Ibnu Dahiyyah menjelaskan, ada pula yang berpendapat bahwa kesunahan membaca surat tersebut dikarenakan di dalamnya ada sujud sajadah. Sebab itu, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i bahwa kita disunahkan membaca setiap surat yang terdapat di dalamnya ayat sajadah pada Subuh hari Jum’at.” Wallahu a’lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Minggu, 17 April 2022

KAJIAN TENTANG MENGGAPAI AMPUNAN ALLAH

Adakah yang bisa menjamin dirinya terlepas dari dosa dalam sehari saja? Mulai dari dosa yang muncul dari mata, telinga, mulut, tangan, kaki, badan, hingga hati yang senantiasa berjibaku dengan nafsu dan godaan setan al-rajīm. Nafsu dan godaan setan merupakan tantangan yang niscaya akan dihadapi oleh setiap anak Adam. Apabila ia sanggup menahan dan mengendalikan setiap keinginan hawa nafsu dan godaan setan, tentu ia akan menang dan memperoleh pahala di sisi Allah. Namun, jika ia kalah dan terjerumus sehingga menjadi budak hawa nafsu dan menuruti godaan setan, maka dosa akan menyelimutinya. Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmiżi no. 2499, Ṣahih al-Targīb 3139)

Hadits ini menggambarkan bagaimana kesalahan (dosa) merupakan perkara yang tidak terlepas dari diri manusia. Akan tetapi, Allah Ta’ala memberikan solusi dan jalan keluar bagi hamba-Nya yang berbuat kesalahan, yaitu bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ 

"Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka." (HR. Muslim, no. 2749)

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Qudsi menyatakan,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً 

Allah berfirman, "Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa sepenuh bumi dosa kemudian kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik) tentu saja aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan." (HR Muslim).

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّنَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَجِبْرِيْلُ يَدْعُوْ قَالَ الصَّحَابَةُ : أَمَّنْتَ يَا رَسُوْلَ الله قَالَ:جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ : بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْتُ: آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الثَّانِيَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قُلْتُ: آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الثَّالِثَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ قُلْتُ آمِيْن 

"Sesungguhnya Nabi mengucapkan amîn sebanyak tiga kali tatkala Jibril berdoa. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan amîn”. Beliau menjawab: “Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata: “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan salawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn”. (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim hadits shahih)

Mengenai amal salih yang dapat menghapus dosa, Allah Ta’ala berfirman,

 إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

 “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)” (QS. Hud: 114).

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Abu Dzar ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku: “Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Sebagaimana juga firman Allah Ta'ala,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imran : 133)

Pada ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan ;

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.(QS. Al-Hadid : 21)

Akhirnya, semestinya kita sebagai seorang hamba Allah yang lemah kiranya menyadari bahwa luasnya ampunan Allah Ta’ala tersebut diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri dan bertaubat serta tidak mengulangi dosa dan kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Namun demikian, jangan pula remehkan sekecil apa pun dosa. Sebab tiada lain yang kita maksiati ketika melakukan perbuatan dosa kecuali Rabb Yang Maha Esa.

Bilal bin Sa’ad berkata,

 لا تنظر إلي صغر المعصية، و لكن انظر من عصيت

 “Janganlah Engkau melihat kecilnya maksiat, tetapi lihatlah kepada siapa Engkau bermaksiat.” (Al-Dā’ wa  al-Dawā’ hal. 82)

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

https://fb.watch/cs3VJVhhC3/

Senin, 11 April 2022

KAJIAN TENTANG NAJD (HIJAZ) ADALAH TEMPAT KAUM FADDADIN YANG BERHATI KASAR DAN KERAS

Disebutkan dalam hadits terkait dengan suatu kaum yang keras dan kasar hatinya yaitu kaum faddadin,

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو أَبِي مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ أَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ نَحْوَ اليَمَنِ فَقَالَ : الإِيمَانُ يَمَانٍ هَا هُنَا، أَلاَ إِنَّ القَسْوَةَ وَغِلَظَ القُلُوبِ فِي الفَدَّادِينَ،(1) عِنْدَ أُصُولِ أَذْنَابِ الإِبِلِ، حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ فِي رَبِيعَةَ وَمُضَرَ.(2) ورواه الإمام مسلم والبيهقي وأحمد وابن حبّان وابن أبي شيبة والطبراني.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amr Abu Mas’ud berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk dengan tangan Beliau ke arah Al Yaman sambil berkata, "Keimanan itu ada pada orang Yaman di arah sana, dan kekerasan hati dan tabi’at kasar terdapat pada Faddadin bagi orang yang suka mengikuti di belakang ekor unta, yaitu ditempat dua tanduk setan muncul, pada kabilah Rabi’ah dan Mudlar." (HR. 

1) نَجد الحِجاز كانت أرض الفَدّادين رِعاءِ الإبِل، والعراق كانت أرض زراعة وصناعة وتجارة وما كانت ءانذاك أرضًا لرِعاء الإبل كما يدّعي بعضهم أنّ المراد بِطُلُوع قرن الشيطان في نجد الحجاز.

Najd Hijaz adalah bumi faddadin (bumi sangat luas) untuk menggembala unta, dan negeri Iraq adalah tempat untuk bercocok tanam, bekerja dan berniaga. Bukankah itu bumi untuk menggembala unta sebagaimana sebagian mereka menyebut bahwa maksudkan tempat terbitnya tanduk setan adalah Najd Hijaz.

2) نجد الحجاز هي بلاد ربيعة ومضر وليس نجد العِراق.

Najd Hijaz adalah negeri bagi kabilah Rabi'ah dan Mudhar dan bukan negeri Iraq.

وقال النووي: (والصواب فى الفدادين بتشديد الدال جمع فداد بدالين أولاهما مشددة وهذا قول أهل الحديث وجمهور أهل اللغة وهو من الفديد وهو الصوت الشديد فهم الذين تعلو أصواتهم في ابلهم وخيلهم وحروثهم ونحو ذلك. وقال أبو عبيدة معمر بن المثنى هم المكثرون من الابل الذين يملك أحدهم المائتين منها إلى الالف. وقوله ان القسوى فى الفدادين عند أصول أذناب الابل معناه الذين لهم جلبة وصياح عند سوقهم لها)

Imam An-Nawawi berkata, "Yang benar dalam kata Faddadin itu dengan tasydid dal-nya jamak dari kata 'Fadadun' dengan dua huruf dal. Dal yang pertama bertasydid dan ini menurut pendapat ahli hadits. Dan menurut jumhur ahli bahasa kata Faddadin dari kata fadid yang berarti suara yang keras dan mereka itu orang-orang yang meninggikan suaranya ketika menggembalakan onta, kuda dan binatang peliharaannya untuk membajak tanah dan semisalnya. Dan menurut Abu Ubaidah bin Mu'ammar Al-Matsna mereka adalah para pemiliki onta yang diantara salah suatu dari mereka memiliki dua ratus onta bahkan diantara yang lainnya sampai seribu onta. Menurut Imam Nawawi, 'bagi orang yang suka mengikuti di belakang ekor onta', disebut demikian karena sifat onta yang keras sehingga membuat peternak bersikap kasar pula terhadap onta-ontanya."

الأقوال في المقصود بالفدادين الواردة في سياق الذم في الحديث

Berbagai pendapat terkait dengan siapa yang dimaksud dengan kaum Al-Faddadin sebagaimana yang disebutkan dalam hadits diatas,

من يعلو صوته في إبله وخيله وحرثه. ذكره الخطابي

1. Orang yang meneriaki ontanya (mungkin maksudnya saat menggiring/mengembalanya), kudanya dan binatang peliharaan yang dipakai untuk membajak. Pendapat ini disampaikan oleh Al-Khitabi.

-من يسكن الفدافد وهي الصحاري، حكاه الأخفش

2. Orang yang tinggal di Al-Fadafid, yaitu gurun sahara. Ini pendapat yang dikemukakan oleh Al-Akhfasi

3- أصحاب الإبل الكثيرة من المائتين إلى الألف ، حكاه أبو عبيدة معمر بن المثنى

3. Para pemiliki onta yang cukup banyak dari dua ratus sampai seribu onta (mungkin memaksudkan kaum yang kaya dan bergelimangan harta)

الرعاة والجمالون، قاله أبو العباس

4. Para pengembala dan pemilik onta. Ini pendapat Abu Abbas

البقر التي يحرث عليها

5. Sapi yang digunakan untuk membajak tanah. 

ورجلٌ فَدَّادٌ: شديدُ الصوتِ. وفي الحديث: "إنَّ القسوة وغلظ القلب في الفَدَّادينَ"، بالتشديد، وهم الذين تعلوا أصواتُهم في حروثِهِم ومواشيهم. وأما الفَدادينُ بالتخفيف، فهي البقر التي تحرث، واحدها، فَدَّانٌ بالتشديد

Ketika disebut, 'rajulun faddadun' itu adalah orang yang siaranya keras. Dalam dalam hadits, "Sesungguhnya  kekerasan dan kekakuan hati itu terdapat pada 'Al-Faddadin', dengan tasydid mereka adalah para peternak onta yang mempunyai suara yang keras saat membajak dan ketika menggembalakan onta,l. (Disebut demikian karena sifat onta yang keras sehingga membuat peternak bersikap kasar pula terhadap onta-ontanya). Adapaun kata Fadadin yang dibaca ringan (tanpa tasydid) itu adalah sapi yang digunakan untuk membajak tanah." (Mu'jam Ma'ani Al-'Arabi) 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي اللَّه عَنْه عَنِ النَّبِيِّ قَالَ “يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ ويقرأون الْقُرْآنَ لا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لا يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ قِيلَ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ. رواه البخاري.

Dari Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu ''anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan keluar manusia dari arah Timur dan membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya hingga anak panah kembali ke busurnya. Dikatakan apa ciri-ciri mereka, Nabi menjawab, "Ciri-ciri mereka berkepala plontos (gundul).” (HR. Bukhari). Wallahu 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Minggu, 10 April 2022

KAJIAN TENTANG MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB ADALAH NABI BAGI ORANG NAJD (HIJAZ)


Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa sebagai berikut,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ (اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا)، قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا؟ قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا، قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا؟ قَالَ : هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ. رواه البخاري وغيره 

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda, "Ya Allah, berkahilah kami di negeri Syam kami, Ya Allah, berkahilah kami di negeri Yaman kami." Mereka (para sahabat) berkata, "Dan di daerah Najd kami?" beliau bersabda, "Ya Allah, berkahilah kami di negeri Syam kami, dan berkahilah kami di negeri Yaman kami." Mereka (para sahabat) berkata, "Dan di daerah Najd kami?" beliau bersabda, "Di sana akan terjadi kegoncangan dan fitnah-fitnah." Atau beliau bersabda, "Darinya akan muncul tanduk setan." (HR. Bukhari dan lainnya)

أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس

Bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penduduk Yaman datang, mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin (tanah yang luas) Ahlul Wabar (arab badui) di arah terbitnya matahari." (HR. Muslim)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو أَبِي مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ أَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ نَحْوَ اليَمَنِ فَقَالَ : الإِيمَانُ يَمَانٍ هَا هُنَا، أَلاَ إِنَّ القَسْوَةَ وَغِلَظَ القُلُوبِ فِي الفَدَّادِينَ،(1) عِنْدَ أُصُولِ أَذْنَابِ الإِبِلِ، حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ فِي رَبِيعَةَ وَمُضَرَ.(2) ورواه الإمام مسلم والبيهقي وأحمد وابن حبّان وابن أبي شيبة والطبراني.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amru Abu Mas’ud berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk dengan tangan Beliau ke arah Al Yaman sambil berkata, "Keimanan itu ada pada orang Yaman di arah sana, dan kekerasan hati dan tabi’at kasar terdapat pada Faddadin (tanah luas buat orang-orang yang mengembala unta), sebagai dasar tabi’at orang yang suka mengikuti di belakang ekor unta, yaitu ditempat dua tanduk setan muncul, pada kabilah Rabi’ah dan Mudlar." (HR. 

1) نَجد الحِجاز كانت أرض الفَدّادين رِعاءِ الإبِل، والعراق كانت أرض زراعة وصناعة وتجارة وما كانت ءانذاك أرضًا لرِعاء الإبل كما يدّعي بعضهم أنّ المراد بِطُلُوع قرن الشيطان في نجد الحجاز.

Najd Hijaz adalah bumi faddadin (bumi sangat luas) untuk menggembala unta, dan negeri Iraq adalah tempat untuk bercocok tanam, bekerja dan berniaga. Bukankah itu bumi untuk menggembala unta sebagaimana sebagian mereka menyebut bahwa maksudkan tempat terbitnya tanduk setan adalah Najd Hijaz.

2) نجد الحجاز هي بلاد ربيعة ومضر وليس نجد العِراق.

Najd Hijaz adalah negeri bagi kabilah Rabi'ah dan Mudhar dan bukan negeri Iraq.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي اللَّه عَنْه عَنِ النَّبِيِّ قَالَ “يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ ويقرأون الْقُرْآنَ لا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لا يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ قِيلَ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ. رواه البخاري.

Dari Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu ''anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan keluar manusia dari arah Timur dan membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya hingga anak panah kembali ke busurnya. Dikatakan apa ciri-ciri mereka, Nabi menjawab, "Ciri-ciri mereka berkepala plontos (gundul).” (HR. Bukhari)

Muhammad bin Abdul Wahhab "Pendiri Wahhabi" telah mencapai Maqom Nabi. Pernyataan langsung diakui oleh pengikutnya sendiri yaitu Syekh Abdullah bin Jarullah Al-Jarullah, ia membuat statement mencengangkan dalam kitabnya,

أما بعد ؛ فإن كتاب التوحيد الذى هو حق الله على العبيد الذى ألفه الإمام المجدد الشيخ محمد بن عبد الوهاب بن سليمان التميمى المولود عام ١١١٥ هجرية و المتوفى عام ١٢٠٦ هجرية ، ألفه لما رأى حالة الناس و ما هم عليه من الشرك و عبادة غير الله و دعوة غيره و الذبح لغيره و صرف أنواع العبادة لغير الله ، فرأى من واجبه الدعوة إلى الله و الجهاد فى سبيله ، فجاهد فى الله حق جهاده و ألف عدة مؤلفات قيمة و من أهمها هذا الكتب القيم الذى هو من أهم الكتب المصنفة فى التوحيد و هو مستفاد من كتاب الله تعالى و سنة رسوله صلى الله عليه و سلم ، فَأَقَامَ اللّهُ هَذَا الْإِمَامَ فِى أَهْلِ نَجْدٍ مَقَامَ نَبِيٍّ 

"Amma ba'du, sesungguhnya Kitab At-Tauhid yang merupakan hak Allah atas hamba-Nya Disusun ileh Al-Imam Al-Mujaddid Asy-Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimi lahir Tahun 1115 H dan mati Tahun 1206 H. Beliau menyusun kitab ini tatkala melihat keadaan manusia telah jatuh dalam kesyirikan, beribadah kepada selain Allah, berdoa nan menyembelih binatang pada selain-Nya, serta melakukan berbagai macam ubadah untuk selain-Nya. Maka beliau melihat bahwa sebagian dari kewajiban beliau ialah mengajak kepada Allah serta berjihad di jalan-Nya, lalu beliau berjihad dengan sebenar-senarnya dan menyusun kitab-kitab diantaranya kitab yang aku syarahkan ini, judulnya kitab At-Tauhid, yakni kitab yang lurus yang merupakan kitab paling penting dalam masalah tauhid, kitab tersebut diambil faidahnya dari Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Allah menetapkan beliau (Muhammad bin Abdul Wahhab) nenempati MAQOM NABI untuk penduduk Najd." (Al-Jami’ Al-Farid Li-as’ilati wal Ajwibati ‘Ala Kitab At-Tauhid, hlm.5). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 08 April 2022

GIAT RAMADHAN PP NIHADLUL QULUB PEMALANG JAWA TENGAH

MWC NU Cipayung News | Pondok Pesantren Nihadlul Qulub Moga, Pemalang, Jawa Tengah pada Ramadhan 1443 H ini kembali menggelar pengajian milenialan. 

Tidak seperti pesantren-pesantren pada umumnya yang ketika bulan puasa membedah berbagai macam kitab kuning, Pesantren Nihadlul Qulub memilih menyelenggarakan kegiatan unik yang dikemas dalam bentuk pelatihan.

Seperti bulan puasa pada tahun lalu, sasaran kali ini pun sama, yaitu kalangan milenial dengan fokus pada metodologi dakwah di era kekinian.

Dengan tema "Pelatihan Sinematografi Dakwah Milenial," kegiatan yang didukung oleh Bank Mandiri ini membidik para santri yang concern di bidang medsos dan digital. Tujuannya adalah agar para santri memiliki skill yang makin mumpuni di dunia dakwah, tidak hanya terkait materi pengetahuannya namun juga metodologi dakwah dan persebarannya. 

Kegiatan yang berlangsung selama 10 hari dari tanggal 6-15 April ini fokus melatih kader untuk dapat mengartikulasikan pesan-pesan kyainya melalui medsos dan digital dalam rangka persebaran nilai-nilai Islam secara lebih luas sesuai kondisi zamannya.

Harapan kami sepulang pelatihan, para santri utusan pondok pesantren ini dapat melakukan kegiatan dakwah melalui media sosial, mulai dari memproduksi wejangan atau nasehat kyai/nyainya, qaul ulama, sampai hadits ataupun shirah nabawiyyah dan ayat-ayat Qur'an.

Pelatihan ini diramaikan oleh narasumber nasional yang kompeten di bidangnya, seperti Salamun Ali Mafaz, sineas muda pengarang novel best seller Mekah I'm Coming yang novelnya itu sudah naik ke  layar lebar. Disain grafis diisi oleh Hendri Lisdian, Ketua Lakpesdam PCNU Kota Tegal yang memang seorang disainer grafis. Materi editing video dimentori oleh Wahyu Gitara, pengurus LTN PCNU Kab. Tegal yang sudah malang melintang di bidang video periklanan.

Ada juga Kendi Setiawan, seorang jurnalis nasional dan seni peran, yang memandu peserta via daring. Narasumber lainnya adalah Andi, seorang pelaku SEO (search engine optimation) dan Facebook Ads untuk materi strategi perluasan konten.

Selain materi teknikal di atas, ada juga materi pembekalan spiritual dalam bentuk mujahadah ba'da Ashar dengan dzikir istighatsah dan Waqi'ahan untuk fokus _jalbur rizq_ dan sholawat Jibril ba'da maghrib.

Juga, ada materi khusus dalam hal pembenahan karakter, yaitu dengan pendekatan Teknologi Ruh pada ba'da Tarawih yang disampaikan langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Nihadlul Qulub, Ali Sobirin, yang adalah peramu buku tersebut. 

Pendalaman materi dilakukan setelah pembekalan tersebut. Ba'da Shubuh diisi dengan kegiatan tadarusan.

Pelatihan ini diikuti oleh para remaja dari pondok pesantren, SMP, SMA, SMK dari Tegal dan Pemalang, dan beberapa mahasiswa.

Pondok Pesantren Nihadlul Qulub bersuasana bebukitan di kaki Gunung Slamet dengan udara yang amat jernih dan air yang sangat sejuk, tepatnya di Jl. Soka, desa Moga, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.*

KAJIAN TENTANG NASHIRUDDIN AL-ALBANI BUKAN MUHADDITS (AHLI HADITS) MENURUT PARA ULAMA

Kitab-kitab modern saat ini, atau kitab klasik yang ditakhrij, karya-karya tulis ilmiah, artikel-artikel dan sebagainya, serentak semuanya menggunakan hasil takhrij hadits yang dilakukan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani.

Ada apa di balik gerakan ini? Sosok yang satu ini tiba-tiba melejit menjadi ‘ahli hadits’ tanpa tandingan bagi kalangan Salafi Wahhabi, tanpa diketahui perjalanan menuntut ilmu haditsnya dan guru-guru yang membimbingnya.

Sementara tahapan teoritik dan faktual untuk menjadi ‘Ahli Hadits (Muhaddits)’ amatlah rumit dan tak semudah menjadi ahli hadits gadungan. Pembahasan disini tentang kriteria seorang Muhaddits (ahli hadits) asli, bukan ahli hadits gadungan yang menempuh jalan otodidak seperti Syaikh Albani, dan bukti-bukti nyata kesalahan fatal ahli hadits palsu, baik dari pengikut Albani maupun dari para kritikusnya.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيّهَا النَّاس تَعَلَّمُوا ، إِنَّمَا الْعِلْم بِالتَّعَلُّمِ ، وَالْفِقْه بِالتَّفَقُّهِ ، وَمَنْ يُرِدْ اللَّه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدِّين

"Wahai Manusia, Kalian belajarlah, sesungguhnya ilmu itu dengan belajar, dan kefahaman itu dengan mencari kefahaman, dan Siapa saja yang Allah menghendakinya pada kebaikannya maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama." (HR.Bukhari)

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan makna hadits diatas adalah,

لَيْسَ الْعِلْم الْمُعْتَبَر إِلَّا الْمَأْخُوذ مِنْ الْأَنْبِيَاء وَوَرَثَتهمْ عَلَى سَبِيل التَّعَلُّم 

"Tidak ada ilmu muktabar melainkan diambil dari para Nabi, dan mewarisi mereka (para nabi) atas jalan ta’allum (belajar)."

*Kriteria Ahli Hadits (Muhaddits) dan Al-Hafizh*

Imam Al-Hafidz As-Suyuthi mengutip dari para ulama tentang ‘Ahli Hadits’ dan ‘Al-hafidz’,

قَالَ الشَّيْخُ فَتْحُ الدِّينِ بْنِ سَيِّدِ النَّاسِ وَأَمَّا الْمُحَدِّثُ فِي عَصْرِنَا فَهُوَ مَنِ اشْتَغَلَ بِالْحَدِيْثِ رِوَايَةً وَدِرَايَةً وَاطَّلَعَ عَلَى كَثِيْرٍ مِنَ الرُّوَاةِ وَالرِّوَايَاتِ فِي عَصْرِهِ, وَتَمَيَّزَ فِي ذَلِكَ حَتَّى عُرِفَ فِيْهِ حِفْظُهُ وَاشْتَهَرَ فِيْهِ ضَبْطُهُ. فَإِنْ تَوَسَّعَ فِي ذَلِكَ حَتَّى عَرَفَ شُيُوْخَهُ وَشُيُوْخَ شُيُوْخِهِ طَبْقَةً بَعْدَ طَبْقَةٍ، بِحَيْثُ يَكُوْنَ مَا يَعْرِفُهُ مِنْ كُلِّ طَبْقَةٍ أَكْثَرَ مِمَّا يَجْهَلُهُ مِنْهَا، فَهَذَا هُوَ الْحَافِظُ (تدريب الرّاوي في شرح تقريب النّواوي 1 / 11)

"Syaikh Ibnu Sayyidinnas berkata, "Ahli hadits (Al-Muhaddits) di masa kami adalah orang yang dihabiskan waktunya dengan hadits baik secara riwayat atau ilmu mushthalah, dan orang tersebut mengetahui beberapa perawi hadits dan riwayat di masanya, serta menonjol sehingga dikenal daya hafalannya dan daya akurasinya. Jika ia memiliki pengetahuan yang lebih luas sehingga mengetahui para guru, dan para maha guru dari berbagai tingkatan, sekira yang ia ketahui dari setiap jenjang tingkatan lebih banyak daripada yang tidak diketahui, maka orang tersebut adalah Al-Hafidz.” 

وَقَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّيْنِ السُّبْكِي إِنَّهُ سَأَلَ الْحَافِظَ جَمَالَ الدِّيْنِ الْمِزِّي عَنْ حَدِّ الْحِفْظِ الَّذِي إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ الرَّجُلُ جَازَ أَنْ يُطْلَقَ عَلَيْهِ الْحَافِظُ ؟ قَالَ يُرْجَعُ إِلَى أَهْلِ الْعُرْفِ, فَقُلْتُ وَأَيْنَ أَهْلُ الْعُرْفِ ؟ قَلِيْلٌ جِدًّا, قَالَ أَقَلُّ مَا يَكُوْنُ أَنْ يَكُوْنَ الرِّجَالُ الَّذِيْنَ يَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُ تَرَاجُمَهُمْ وَأَحْوَالَهُمْ وَبُلْدَانَهُمْ أَكْثَرَ مِنَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْرِفُهُمْ, لِيَكُوْنَ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ, فَقُلْتُ لَهُ هَذَا عَزِيْزٌ فِي هَذَا الزَّمَانِ 

“Syaikh Taqiyuddin As-Subki berkata bahwa ia bertanya kepada Al-Hafidz Jamaluddin Al-Mizzi tentang kriteria gelar Al-Hafidz. Syaikh Al-Mizzi menjawab, "Dikembalikan pada ‘kesepakatan’ para pakar." Syaikh As-Subki bertanya, "Siapa para pakarnya?" Syaikh Al-Mizzi menjawab, "Sangat sedikit. Minimal orang yang bergelar Al-Hafidz mengetahui para perawi hadits, baik biografinya, perilakunya dan asal negaranya, yang ia ketahui lebih banyak daripada yang tidak diketahui. Agar mengena kepada yang lebih banyak." Saya (As-Subki) berkata kepada beliau, "Orang semacam ini sangat langka di masa sekarang (Abad ke 8 Hijriyah).” (Al-Hafidz As-Suyuthi, Tadrib Ar-Rawi Fi Syarh Taqrib An-Nawawi juz I hal. 11).

*Belajar hadits secara otodidak bukan Ahli Hadits (Muhaddits)*

Makna otodidak,

(الصَّحَفِيّ) مَنْ يَأْخُذُ الْعِلْمَ مِنَ الصَّحِيْفَةِ لاَ عَنْ أُسْتَاذٍ (المعجم الوسيط 1/ 508 تأليف إبراهيم مصطفى وأحمد الزيات وحامد عبد القادر ومحمد النجار)

“Shahafi (otodidak) adalah orang yang mengambil ilmu dari kitab (buku), bukan dari guru.” (Mu’jam al-Wasith juz I hal.508)

يَقُوْلُ الدَّارِمِي مَا كَتَبْتُ حَدِيْثًا وَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ لاَ يُؤْخَذُ الْعِلْمُ مِنْ صَحَفِيٍّ (سير أعلام النبلاء للذهبي بتحقيق الارناؤط 8/ 34)

“Imam Ad-Darimi (ahli hadits) berkata, "Saya tidak menulis hadits (tapi menghafalnya)." Ia juga berkata, "Jangan mempelajari ilmu dari orang yang otodidak.” (Siyar A’lam An-Nubala’, karya Imam Adz-Dzahabi ditahqiq oleh Syuaib Al-Arnauth, juz 8 hal.34).

Syuaib al-Arnauth memberi catatan kaki tentang ‘shahafi’ tersebut,

الصَّحَفِيُّ مَنْ يَأْخُذُ الْعِلْمَ مِنَ الصَّحِيْفَةِ لاَ عَنْ أُسْتَاذٍ وَمِثْلُ هَذَا لاَ يُعْتَدُّ بِعِلْمِهِ لِمَا يَقَعُ لَهُ مِنَ الْخَطَأِ

“Shahafi adalah orang yang mengambil ilmu dari kitab, bukan dari guru. Orang seperti ini tidak diperhitungkan ilmunya, sebab akan mengalami kesalahan.”

Al-Hafidz adz-Dzahabi berkata,

قَالَ الْوَلِيْدُ كَانَ اْلاَوْزَاعِي يَقُوْلُ كَانَ هَذَا الْعِلْمُ كَرِيْمًا يَتَلاَقَاهُ الرِّجَالُ بَيْنَهُمْ فَلَمَّا دَخَلَ فِي الْكُتُبِ دَخَلَ فِيْهِ غَيْرُ أَهْلِهِ وَرَوَى مِثْلَهَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنِ اْلاَوْزَاعِي. وَلاَ رَيْبَ أَنَّ اْلاَخْذَ مِنَ الصُّحُفِ وَبِاْلاِجَازَةِ يَقَعُ فِيْهِ خَلَلٌ وَلاَسِيَّمَا فِي ذَلِكَ الْعَصْرِ حَيْثُ لَمْ يَكُنْ بَعْدُ نَقْطٌ وَلاَ شَكْلٌ فَتَتَصَحَّفُ الْكَلِمَةُ بِمَا يُحِيْلُ الْمَعْنَى وَلاَ يَقَعُ مِثْلُ ذَلِكَ فِي اْلاَخْذِ مِنْ أَفْوَاهِ الرِّجَالِ (سير أعلام النبلاء للذهبي 7/ 114)

“Al-Walid mengutip perkataan Al-Auza’i, “Ilmu ini adalah sesuatu yang mulia, yang saling dipelajari oleh para ulama. Ketika ilmu ini ditulis dalam kitab, maka akan dimasuki oleh orang yang bukan ahlinya.” Riwayat ini juga dikutip oleh Ibnu Mubarak dari Al-Auza’i. Tidak diragukan lagi bahwa mencari ilmu melalui kitab akan terjadi kesalahan, apalagi dimasa itu belum ada tanda baca titik dan harakat. Maka kalimat-kalimat menjadi rancu beserta maknanya. Dan hal ini tidak akan terjadi jika mempelajari ilmu dari para guru.” (Siyar A’lam An-Nubala’, karya adz-Dzahabi, juz 7 hal.114).

Syuaib al-Arnauth juga memberi catatan kaki tentang hal tersebut,

وَلِهَذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ لاَ يَعْتَدُّوْنَ بِعِلْمِ الرَّجُلِ إِذَا كَانَ مَأْخُوْذًا عَنِ الصُّحُفِ وَلَمْ يَتَلَقَّ مِنْ طَرِيْقِ الرِّوَايَةِ وَالْمُذَاكَرَةِ وَالدَّرْسِ وَالْبَحْثِ

“Oleh karena itu, para ulama tidak memeperhitungkan ilmu seseorang yang diambil dari buku, yang tidak melalui jalur riwayat, pembelajaran dan pembahasan.”

Apakah orang yang otodidak dari kitab-kitab hadits layak disebut ahli hadits? Syaikh Nashir al-Asad menjawab pertanyaan ini,

أَمَّا مَنْ كَانَ يَكْتَفِي بِاْلأَخْذِ مِنَ الْكِتَابِ وَحْدَهُ دُوْنَ أَنْ يُعَرِّضَهُ عَلَى الْعُلَمَاءِ وَدُوْنَ أَنْ يَتَلَقَّى عِلْمُهُ فِي مَجَالِسِهِمْ فَقَدْ كَانَ عَرَضَةً لِلتَّصْحِيْفِ وَالتَّحْرِيْفِ، وَبِذَلِكَ لَمْ يَعُدُّوْا عِلْمَهُ عِلْمًا وَسَمُّوْهُ صَحَفِيًّا لاَ عَالِمًا …. فَقَدْ كَانَ الْعُلَمَاءُ يُضَعِّفُوْنَ مَنْ يَقْتَصِرُ فِي عِلْمِهِ عَلَى اْلأَخْذِ مِنَ الصُّحُفِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَلْقَى الْعُلَمَاءَ وَيَأْخُذَ عَنْهُمْ فِي مَجَالِسِ عِلْمِهِمْ، وَيَسُمُّوْنَهُ صَحَفِيًّا، وَمِنْ هُنَا اشْتَقُّوْا “التَّصْحِيْفَ” وَأَصْلُهُ “أَنْ يَأْخُذَ الرَّجُلُ اللَّفْظَ مِنْ قِرَاءَتِهِ فِي صَحِيْفَةٍ وَلَمْ يَكُنْ سَمِعَهُ مِنَ الرِّجَالِ فَيُغَيِّرُهُ عَنِ الصَّوَابِ”. فَاْلإِسْنَادُ فِي الرِّوَايَةِ اْلأَدَبِيَّةِ لَمْ يَكُنْ، فِيْمَا نَرَى، إِلاَّ دَفْعًا لِهَذِهِ التُّهْمَةِ (مصادر الشعر الجاهلي للشيخ ناصر الاسد ص 10 من مكتبة الشاملة)

“Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim… Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini.” (Mashadir Asy-Syi’ri Al-Jahili juz 10).

Imam ar-Razi dan Ibnu ‘Adi juga melarang mempelajari hadis dari shahafi,

بَابُ بَيَانِ صِفَةِ مَنْ لاَ يُحْتَمَلُ الرِّوَايَةُ فِي اْلاَحْكَامِ وَالسُّنَنِ عَنْهُ … عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوْسَى اِنَّهُ قَالَ لاَ تَأْخُذُوْا الْحَدِيْثَ عَنِ الصَّحَفِيِّيْنَ وَلاَ تَقْرَأُوْا الْقُرْآنَ عَلَى الْمُصْحَفِيِّيْنَ (الجرح والتعديل للرازي 2/ 31 والكامل في ضعفاء الرجال لابن عدي 1/ 156)

“Bab tentang sifat orang-orang yang tidak boleh meriwayatkan hukum dan sunah darinya… Dari Sulaiman bin Musa, ia berkata, "Janganlah mengambil hadits dari orang otodidak dan janganlah belajar al-Quran dari orang yang otodidak.” (Al-Razi dalam Al-Jarhu wa At-Ta’dil juz 2 hal.31 dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil juz 1 hal.156)

Dengan demikian, orang yang otodidak dalam hadits yang tidak memiliki guru bukanlah ahli hadits, karya kitab-kitabnya banyak ditemukan kesalahan-kesalahan dan para ulama melarang mengutip riwayat darinya.

*Syaikh Nashiruddin Al-Albani adalah Shahafi (Otodidak).*

Syaikh Albani awalnya adalah tukang service jam, namun ia punya semangat mempelajari hadits di Perpustakaan Adh-Dhahiriyah di Damaskus. Konon setiap harinya mencapai 12 jam di Perpustakaan. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu shalat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan. Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuknya. Bahkan kemudian ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, Al-Albani makin leluasa mempelajari banyak sumber.

Sekilas biografi diatas sesuai dengan kisah berikut ini. Diceritakan bahwa ada seseorang dari Mahami yang bertanya kepada Syaikh Albani, “Apakah anda ahli hadits (Muhaddits)?” Syaikh Albani menjawab, “Ya!” Ia bertanya, “Tolong riwayatkan 10 hadits kepada saya beserta sanadnya!” Syaikh Albani menjawab, “Saya bukan ahli hadits penghafal, saya ahli hadis kitab.” Orang tadi berkata, “Saya juga bisa kalau menyampaikan hadits ada kitabnya.” Lalu Syaikh Albani terdiam. (Syaikh Abdullah Al-Harari dalam Tabyin Dhalalat Albani hal.6). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Selasa, 05 April 2022

KAJIAN TENTANG HUKUM MENGHADIRI UNDANGAN BUKA BERSAMA DARI NON MUSLIM

Tidak masalah bagi umat Islam pada saat bulan Ramadhan untuk menerima makanan ifthor atau menghadiri acara buka puasa yang dipersembahkan oleh non muslim. Seperti halnya juga tidak masalah menerima dana dari mereka untuk membeli makanan buka puasa, yang menjadi tujuan dari makanan tersebut adalah hibah atau hadiah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menerima hadiah dari sebagian orang yahudi.

Dari Abu Sa’id as Sa’idi berkata,

غزونا مع النبي صلى الله عليه وسلم تبوك ، وأهدى ملك أيلة للنبي صلى الله عليه وسلم بغلة بيضاء ، وكساه بُرداً. رواه البخاري 2990

“Kami telah berperang bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang Tabuk, Raja Eliyah telah menyerahkan hadiah kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tunggangan putih (peranakan kuda dan keledai) dan memakaikan jubah kepada Beliau”. (HR. Bukhari: 2990)

Abbas bin Abdul Muththalib berkata pada saat perang Hunain,

وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَغْلَةٍ لَهُ بَيْضَاءَ أَهْدَاهَا لَهُ فَرْوَةُ بْنُ نُفَاثَةَ الْجُذَامِيُّ. رواه مسلم 1775

“Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di atas tunggangan putih (peranakan kuda & keledai) yang didapat sebagai hadiah dari Farwah bin Nufatsah al Judami”. (HR. Muslim: 1775)

Dari Ali bin Abi Thalib ra bahwa,

أَنَّ أُكَيْدِرَ دُومَةَ أَهْدَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَ حَرِيرٍ فَأَعْطَاهُ عَلِيًّا فَقَالَ شَقِّقْهُ خُمُرًا بَيْنَ الْفَوَاطِمِ. رواه البخاري 2472 ، ومسلم واللفظ له 2071

“Akdiradumah telah memberikan hadiah pakaian sutera lalu oleh beliau diberikan kepada Ali seraya bersabda: “Robeklah untuk dijadikan khimar (kerudung) bagi tiga orang Fatimah (Fatimah binti Rasulullah, Fatimah binti Asad, Fatimah binti Hamzah)”. (HR. Bukhari: 2472 dan Muslim dan ini redaksi beliau: 2071)

Imam An-Nawawi ra berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa hukumnya boleh menerima hadiah dari orang kafir”. (Syarah Muslim: 14/50-51)

Jika dewasa ini kemudian ada orang atau pihak yang mengharamkannya, apakah yang jadi landasan sebagai larangan itu adalah dari makanannya, tempat berbuka puasanya, kebersamaan Muslim yang berpuasa dengan non-muslimnya, atau siapa yang mengundangnya? Menurut pendapat kami, setidaknya empat pokok masalah ini yang dipersoalkan. Kita akan memulai satu persatu menguraikan empat masalah ini. 

Pertama masalah makanannya. Kalau makanan yang dihidangkan untuk berbuka puasa itu terbuat dari zat yang diharamkan seperti babi, anjing, khamar, dan segala bentuk makanan dan minuman, jelas memakan dan meminumnya adalah haram. Tetapi kalau yang dihidangkan berupa makanan yang halal, maka tidak masalah mengonsumsinya meskipun itu disediakan oleh non-muslim. Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 5 sebagai berikut,

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ 

“Makanan Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal juga bagi mereka.” (QS. Al-Maidah : 5)

Perihal ayat ini, An-Nasafi dalam tafsirnya Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil menjelaskan,  

وَطَعَامُ الذين أُوتُواْ الكتاب حِلٌّ لَّكُمْ } أي ذبائحهم لأن سائر الأطعمة لا يختص حلها بالملة { وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ } فلا جناح عليكم أن تطعموهم لأنه لوكان حراماً عليهم طعام المؤمنين لما ساغ لهم إطعامهم 

“(Makanan Ahli Kitab itu halal bagimu) maksudnya adalah hewan yang disembelih oleh mereka. Karena semua makanan itu tidak dihalalkan secara khusus untuk agama ini. (dan makanan kamu halal juga bagi mereka) sehingga tidak dosa kamu berbagi makanan dengan mereka. Karena seandainya makanan orang beriman itu haram untuk mereka, niscaya tidak boleh memberikan makanan itu kepada mereka,” (Lihat Abdullah bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi, Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil, Darul Fikr, Beirut). 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ ، وَلا يَأْكُلُ الصَّدَقَةَ ، فَأَهْدَتْ لَهُ يَهُودِيَّةٌ بِخَيْبَرَ شَاةً مَصْلِيَّةً سَمَّتْهَا، فَأَكَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan tidak memakan sedekah. Suatu ketika ada wanita Yahudi di Khaibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dagingnya. (HR. Abu Dawud).

Sedangkan kedua, masalah tempat sahur atau tempat berbuka puasa. Kita harus mengaitkan ibadah puasa dengan ibadah lainnya. Para ulama membedakan ibadah puasa dari lainnya. Kalau ibadah lainnya seperti shalat, umrah, dan haji, waktu dan tempat pelaksanaannya sudah ditentukan. Orang tidak bisa berhaji di sembarang tempat. Demikian juga shalat. Meskipun setiap jengkal tanah bisa menjadi tempat shalat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memakruhkan shalat di tempat menderumnya unta, kolam pemandian, tempat penampungan sampah, kuburan, atau di jalanan sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

عن ابن عمر قال نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يصلى في سبع مواطن في المزبلة والمجزرة والمقبرة وقارعة الطريق والحمام ومعاطن الإبل وفوق الكعبة

“Dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang shalat di tujuh lokasi, tempat sampah, tempat jagal hewan, kuburan, di tengah jalan, kolam pemandian, tempat menderum unta, dan di atas Ka’bah.” (HR Ibnu Majah). 

Adapun ibadah puasa hanya ditentukan waktunya yakni sejak terbit hingga terbenam matahari seperti disebutkan Al-Qur'an di Surat Al-Baqarah. Sedangkan perihal tempat, agama tidak membatasi orang yang berpuasa untuk melakukan sahur dan berbuka puasa di manapun. Jadi tidak ada larangan dalam Islam untuk bersahur dan berbuka puasa di tempat tertentu. 

Sementara ketiga, kebersamaan dengan non-muslim. Pergaulan antara muslim dan non-muslim tidak dipermasalahkan oleh Islam. Pada Surat Al-Mumtahanah ayat 8-9, Allah SWT menegaskan bagaimana seharusnya hubungan muslim dan non-muslim. 

ولذا قال تعالى: لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9) 

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sungguh Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah : 8-9)

Pada ayat ini, kita dapat melihat sababun nuzulnya terlebih dahulu. Ibnu Ajibah membawa riwayat sebagai berikut,

رُوِي أن « قُتَيلةَ بنت عبد العزى » قَدِمَتْ مشركة على بنتها « أسماء بنت أبي بكر » رضي الله عنه ، بهدايا ، فلم تقبلها ، ولم تأذن لها بالدخول فنزلت ، وأمرها رسولُ الله صلى الله عليه وسلم أن تقبل منها ، وتُكرمها ، وتُحسن إليها

“Diriwayatkan bahwa Qutailah binti Abdul Uzza (ketika musyrik) mendatangi anaknya, Asma binti Abu Bakar dengan membawa hadiah. Tetapi Asma tidak menerima pemberian ibunya dan tidak mengizinkan ibunya masuk rumah. Lalu turunlah ayat itu (Al-Mumtahanah ayat 8-9). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu meminta Asma untuk menerima pemberian ibunya, menghormati dan memuliakan ibunya,” (Lihat Ibnu Ajibah, Tafsir Al-Bahrul Madid). 

Terakhir, adalah masalah siapa yang mengundang. Keterangan Abu Bakar bin Sayid Muhammad Syatha Dimyathi dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin dapat membantu kita memperjelas persoalan ini. 

( قوله إن دعاه مسلم ) خرج به ما لو كان كافرا فلا تطلب إجابته نعم تسن إجابة ذمي 

“(Jika diundang oleh seorang muslim), kafir (harbi) tidak masuk kategori muslim.Kalau diundang oleh kafir harbi, muslim tidak wajib mendatangi undangannya. Tetapi disunahkan mendatangi undangan dzimmi (non-muslim yang hidup rukun dengan muslim).” (Lihat Abu Bakar bin Sayid Muhammad Syatha Dimyathi, Hasyiyah I’anatut Thalibin, Darul Fikr, Beirut). 

Dari empat pokok yang dipermasalahkan, kita ternyata tidak menemukan masalah di dalamnya. Memang benar tidak ada ayat Al-Qur'an dan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menganjurkan kita untuk berbuka puasa atau sahur bersama non-muslim. Tetapi kita juga tidak menemukan dalil Al-Qur'an dan hadits yang melarang buka puasa bersama di tempat ibadah non-muslim. Alangkah bijaknya jika masyarakat muslim terus menggali perihal agama dan terutama hukum Islam secara seksama dan mendalam sehingga tidak berteriak ini munkar, itu munkar tanpa dasar kajian. Semuanya sudah jelas di dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*