MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Kamis, 23 Desember 2021

PEMBEKALAN KE-NU-AN DALAM MEMBENTUK, MENYATUKAN, MENYELARASKAN DAN MEMPERTAHANKAN KE-ASWAJA-AN

KARAKTER ASWAJA

(Akhlaqul Karimah)

1. Ahlul Hadits/Atsariyah (Literalis)

2. Ahlun Nazhor Wal 'Aqli/Nazhoriyah 'Aqliyah (Rasionalis), dan

3. Ahlul Wijdan Wal Kasyf/Syufiyah (Sufiyah)

SIKAP MILITANSI

(Fikrah, Harakah, dan Amaliah Nahdliyah)

Fikrah

1. Berkembang/Dinamis (تطوريا),

2. Penjernihan (تصويفيا),

3. Moderat (توسطيا), dan

4. Manhaj/Metodilogis (منهجيا)

المحافظة على القديم الصالح والأخذ باالجديد الأصلح، ألإصلاح الى ما هو الأصلح ثم الأصلح فالأصلخ

Harakah

1. Menjaga (تحفيظا),

2. Menguatkan  (تقويا),

3. Mendengar (سمعا),

4. Kesetiaan (طاعة),

5. Ramah (تودديا), dan

6. Kasih Sayang (ترحميا)

Amaliah

1. Beradaptasi & Menjaga Tradisi (عرفيا),

2. Bermadzhab  (مذهبيا),

3. Kesinambungan (سنديا),

4. Seimbang (توازن,

5. Toleransi (تسامح),

6. Pertengahan (تواسط), dan

7. Adil (إعتدل) serta

8. Dakwah Bil Hikmah Wal Mau'izhoh Hasanah

POLA PIKIR DAN CATA PANDANG

1. Berkembang/Dinamis (تطوريا),

2. Penjernihan (تصويفيا), 

3. Moderat (توسطيا), dan

4. Manhaj/Metodilogis (منهجيا)

المحافظة على القديم الصالح والأخذ باالجديد الأصلح، ألإصلاح الى ما هو الأصلح ثم الأصلح فالأصلخ

HARAKAH/PERGERAKAN

1. Menjaga (تحفيظا),

2. Menguatkan  (تقويا),

3. Mendengar (سمعا),

4. Kesetiaan (طاعة),

5. Ramah (تودديا), dan

6. Kasih Sayang (ترحميا)

GAYA HIDUP

1.Beradaptasi & Menjaga Tradisi (عرفيا),

2. Bermadzhab  (مذهبيا),

3. Kesinambungan (سنديا),

4. Seimbang (توازن), 

5. Toleransi (تسامح), 

6. Pertengahan, dan 

7. Adil (إعتدل) serta 

8. Dakwah Bil Hikmah Wal Mau'izhoh Hasanah

KECAKAPAN DAN KESEJAHTERAAN HIDUP

*فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا (26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا (29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (32)*

"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-mayur, zaitun dan pohon kurma. kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian." (QS. Abasa : 24-32)

Bagaimana NU memandang kemandirian ekonomi ummatnya?

Sebelum NU lahir, Mbah Wahab Chasbullah dan kiai lainnya mendirikan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para pedagang). Ini adalah cikal bakal dari NU. Maka dari itu, di dalam sejarahnya para pendiri NU memiliki perhatian yang lebih terhadap perekonomian dan kesejahteraan ummat. Karena apabila Nahdliyin ekonominya kuat, maka NU dan Indonesia akan juga kuat. Begitu juga sebaliknya.

Kalau saat ini?

Sebagaimana yang telah disepakati saat Muktamar ke-33 di Jombang tahun 2015 bahwa ada tiga (3) amanah yang menjadi perhatian khusus, yaitu :

Pertama, peningkatan bidang pendidikan. Saat ini, ada puluhan ribu sekolah Ma’arif dan ada tiga puluh satu perguruan tinggi NU yang sudah dibangun. 

Kedua, peningkatan bidang kesehatan. NU juga sudah membangun rumah sakit, klinik kesehatan, dan pelayanan-pelayanan kesehatan lainnya.

Ketiga, peningkatan bidang ekonomi. PBNU juga berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan Nahdliyin dalam bidang ekonomi. Ekonomi Nahdliyin kebanyakan di sektor-sektor informal dan masih menengah ke bawah seperti pedagang kecil, petani, nelayan, dan lainnya. Kita terus dorong mereka agar bisa naik ke level menengah.

Caranya?

Dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dan juga meningkatkan mutu kualitas hasil produksinya. Distribusi hasil produksi juga harus diperluas. Kalau dulu hanya dijajakan di kampungnya saja, sekarang bisa dipasarkan kemana-mana dan murah dengan menggunakan internet seperti toko online di website ataupun media sosial.

Di era globalisasi ini, warga NU harus berani mengambil langkah-langkah strategis di berbagai bidang, baik itu bidang perdagangan, pertanian, perikanan, dan nelayan. Selain itu, pemerintah juga harus mendukung pelaku ekonomi menengah ke bawah yang mayoritas adalah warga NU tersebut.

Bauran Capaian

1. Efektifitas Organisasi

2. Penguatan Kapasitas Sumberdaya Pengurus (SDM)

3. Penyelarasan Pemahaman Aswaja An-Nahdliyah

Bauran Atribusi

1. As-Shidqu (Jujur)

2. Al-'Adalah (Adil)

3. Al-Istiqomah (Konsisten)

4. At-Ta'awun (Saling Menolong), dan

5. Al-Amanah Wal Wafa Bil 'Ahdi (Dapat Dipercaya dan Menepati Janji)

Demikian Asumun Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin

والله الموفق الى أقوم الطريق

KAJIAN TENTANG HUKUM BACAAN AL-QUR'AN DI KUBURAN

Ada sementara pendapat yang meyakini bahwa bacaan Al-Qur'an di kuburan tidak ada tuntunannya karena tidak ada riwayat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah melakukannya. Benarkan anggapan yang demikian itu?

Didalam kitab Fathul Qadir diriwayatkan sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda,

مَنْ مَرَّ عَلَى الْمَقَابِرِ وَ قَرَأَ  قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اِحْدَى عَشْرَةَ, ثُمَّ وَهَبَ أَجْرَهَا لِلْأَمْوَاتِ, اُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ بِعَدَدِ اْلأَمْوَاتِ.

“Siapa saja yang melewati lokasi pekuburan dan membaca Qul huwallohu ahad (surat al-Ikhlash) sebelas kali, lantas pahala bacaannya dihadiahkan kepada para mayit, maka ia diberi pahala sejumlah mayit itu”. (HR Ar-Rafi'i dalam Tarikh Quzwain II/297, sebagaimana dikutip oleh Syaikh al-'Ajluni dalam Kasyf al-Khafa' II/272)

Senada dengan itu, Abul Qasim Sa’d bin ‘Ali az-Zanjani dalam Fawaidi nya mentakhrij hadits yang bersumber dari Abu Hurairah ra, katanya, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ ثُمَّ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَأَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ ثُمَّ قَالَ إِنِّي جَعَلْتُ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُ مِنْ كَلاَمِكَ ِلأَهْلِ الْمَقَابِرِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَانُوْا شُفَعَاءَ لَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى

”Siapa saja yang masuk ke pekuburan, lalu membaca QS Al-Fatihah, QS. Al-Ikhlash dan QS. At-Takatur, kemudian mengatakan, “Aku jadikan / hadiahkan pahalaku dari membaca firman-Mu tersebut untuk ahli kubur dari kalangan kaum mukminin dan mukminat”, maka mereka memperoleh syafaat / pertolongan Allah SWT.”

Penulis Al-Khallal dengan sanadnya meriwayatkan hadits dari Anas ra, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ فَقَرَأَ سُوْرَةَ يس خَفَّفَ اللهُ عَنْهُمْ وَكَانَ لَهُ بِعَدَدِ مَنْ فِيْهَا حَسَنَاتٌ

“Siapa yang masuk ke pekuburan, lalu membaca surat Yaasiin, maka Allah SWT memperingan siksaan mereka, dan si pembaca memperoleh ganjaran sejumlah ahli kubur yang ada di situ”. (Baca kitab ‘Umdatul Qari syarh Shahih al-Bukhari (IV/497), kitab Syarh ash-Shudur bi Syarh Hal al-Mauta wa al-Qubur (I/303), tulisan imam Jalaluddin as-Suyuthi; dan Ahkam Tamanni Al-Maut hal. 75 tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri aliran Wahhabiyah).

Dalam kitab Nailul Authar juz 4 hal. 53 Imam As-Syaukani menjelaskan, 

وعن معقل بن يسار قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم:

اقرؤوا يس على موتاكم رواه أبو داود وابن ماجة وأحمد ولفظه: يس قلب القرآن لا يقرؤها رجل يريد الله والدار الآخرة إلا غفر له واقرؤوها على موتاكم.

Dari Ma'qil bin Yasar, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bacalah Yaasiin di atas kematianmu Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibn Majah dan Imam Ahmad, dalam redaksinta, Surat Yaasiin adalah jantungnya Al-Qur'an. Tidaklah seseorang yang membacanya karena mengharap ridha Allah dan (kebahagiaan) negeri akhirat kecuali dia akan diampuni, maka bacalah olehmu surat yaasiin untuk orang yang meninggal diantara kalian." (Nailul Authar juz 4 hal. 53)

Demikian juga dengan Imam Al-Mawardi Asy-Syafi’i didalam Al-Hawi Al-Kabir fi Fiqh Madzhab Asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) juz 3 hal.26,

فأما القراءة عند القبر فقد قال الشافعي: ورأيت من أوصى بالقراءة عند قبره وهو عندنا حسن

“Adapun membaca Al-Qur’an disisi qubur maka sungguh Imam asy-Syafi’i telah berkata, “aku memandang orang yang berpesan agar dibacakan Al-Qur’an disisi quburnya adalah hasan (bagus) menurut kami”.

Imam Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi’i asy-Syafi’i menyebutkan didalam Fathul ‘Aziz bisyarhi al-Wajiz juz 5 hal. 249 dan dari apa yang beliau tuturkan menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an diatas kubur memang telah dilakukan oleh kaum Muslimin sejak dahulu.

والسنة ان يقول الزائر سلام عليكم دار قوم مؤمنين وانا ان شاء الله عن قريب بكم لاحقون اللهم لا تحرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم وينبغي أن يدنو الزائر من القبر المزور بقدر ما يدنو من صاحبه لو كان حيا وزاره وسئل القاضى أبو الطيب عن ختم القرآن في المقابر فقال الثواب للقارئ ويكون الميت كالحاضرين يرجى له الرحمة والبركة فيستحب قراءة القرآن في المقابر لهذا المعني وأيضا فالدعاء عقيب القراءة أقرب الي الاجابة والدعاء ينفع الميت

“dan sunnah agar peziarah mengucapkan, “Salamun ‘Alaikum daara qaumi Mukminiin wa Innaa Insya Allahu ‘an qariibi bikum laa hiquun Allahumma laa tahrimnaa ajrahum wa laa taftinnaa ba’dahum”, dan sepatutnya zair (peziarah) mendekat ke kubur yang diziarahi seperti dekat kepada sahabatnya ketika masih hidup dan menziarahinya, Al-Qadli Abu Ath-Thayyib ditanya tentang mengkhatamkan Al-Qur’an dipekuburan maka beliau menjawab; ada pahala bagi pembacanya, sedangkan mayyit seperti orang yang hadir yang diharapkan mendapatkan rahmat dan berkah baginya, maka disunnahkan membaca Al-Qur’an di pekuburan berdasarkan makna ini, dan juga disunnahkan berdo’a mengiringi bacaan Al-Qur’an sebab lebih dekat untuk di ijabah sedangkan do’a bermanfaat bagi mayyit”.

Imam al-Hafidz Syaikhul Islam Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i di dalam Raudlatuth Thalibiin wa ‘Umdatul Muftiin juz 2 hal.139 menjelaskan,

فرع يستحب للرجال زيارة القبور، وهل يكره للنساء؟ وجهان. أحدهما: وبه قطع الأكثرون: يكره. والثاني، وهو الأصح عند الروياني: لا يكره إذا أمنت من الفتنة. والسنة أن يقول الزائر: سلام عليكم دار قوم مؤمنين، وإنا إن شاء الله عن قريب بكم لاحقون، اللهم لا تحرمنا أجرهم، ولا تفتنا بعدهم. وينبغي للزائر، أن يدنو من القبر بقدر ما كان يدنو من صاحبه في الحياة لو زاره. وسئل القاضي أبو الطيب عن قراءة القرآن في المقابر فقال: الثواب للقارئ، ويكون الميت كالحاضر، ترجى له الرحمة والبركة، فيستحب قراءة القرآن في المقابر لهذا المعنى، وأيضا فالدعاء عقيب القراءة أقرب إلى الإجابة، والدعاء ينفع الميت.

“Disunnahkan bagi laki-laki melakukan ziarah qubur, sedangkan apakah bagi perempuan dimakruhkan? terdapa dua pendangan; pertama, kebanyakan ‘ulama memuturkan bahwa dimakruhkan bagi perempuan melakukan ziarah qubur, kedua, yakni pendapat yang lebih shahih menurut Imam Ar-Ruyani, tidak dimakruhkan apabila aman dari fitnah. Sunnah bagi peziarah mengucapkan “Salamun ‘alaykum dar qaumin Mukminiin, wa innaa InsyaAllahu ‘an qaribi bikum laa hiquun, Allahumma laa tahrimnaa ajrahum wa laa taftinnaa ba’dahum”, sepatutnya bagi peziarah supaya mendekat ke qubut seperti mendekat kepada kawannya ketika hidup, Al-Qadli Abu Thayyib tentang pembacaan Al-Qur’an di pekuburan, maka ia berkata : terdapat pahala bagi pembacanya, sedangkan mayyit seperti orang yang hadlir, yang diharapkan mayyit mendapatkan rahmat dan barakah, maka disunnahkan membaca Al-Qur’an dipekuburan berdasarkan pengertian ini, dan juga disunnahkan berdo’a, do’a mengiringi pembacaan Al-Qur’an sebab itu lebih dekat di ijabah, sedangkan do’a bermanfaat bagi mayyit”.

Dalam Riyadlush Shalihin juz 1 hal.295 beliau juga menyebutkan,

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمهُ اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْدهُ كانَ حَسناً.

“Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari Al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan Al-Qur’an disisi quburnya maka itu bagus”

Kembali disebutkan didalam Al-Majmu’ syarah Al-Muhadzdzab juz hal. 94 dan 311 dijelaskan,

يستحب أن يمكث على القبر بعد الدفن ساعة يدعو للميت ويستغفر له نص عليه الشافعي واتفق عليه الأصحاب قالوا ويستحب أن يقرأ عنده شئ من القرآن وإن ختموا القرآن كان أفضل.... وروى البيهقي بإسناده أن ابن عمر رضي الله عنهما استحب قراءة أول البقرة وآخرها عند القبر والله أعلم.

“Disunnahkan agar berdiam sejenak diatas kubur setelah pemakaman untuk mendo’akan dan memohon ampunan untuk mayyit, nas Al-Imam Asy-Syafi’i dan ashhab Asy-Syafi’i menyepakatinya, dan mereka juga berkata, "disunnahkan agar membaca sesuatu dari Al-Qur’an disisi qubur mayyit, namun apabila mengkhatamkan al-Qur’an itu lebih utama, ... Imam Al-Baihaqi meriwayatkan beserta sanadnya bahwa Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhumaa menganjurkan (mensunnahkan) pembacaan awal surah Al-Baqarah dan akhirnya disisi qubur, wallahu a’lam”.

ويستحب للزائر أن يسلم على المقابر ويدعو لمن يزوره ولجميع أهل المقبرة والأفضل أن يكون السلام والدعاء بما ثبت في الحديث ويستحب أن يقرأ من القرآن ما تيسر ويدعو لهم عقبها نص عليه الشافعي واتفق عليه الأصحاب قال الحافظ أبو موسى الأصفهاني رحمه الله في كتابه آداب زيارة القبور الزائر بالخيار إن شاء زار قائما وإن شاء قعد

“disunnahkan bagi peziarah agar mengucapkan salam kepada penghuni kubur dan mendo’akan orang yang diziarahi dan seluruh penghuni qubur, dan yang afdlal mengucapkan salam dan do’a dengan yang telah tsabit didalam hadits, dan disunnahkan agar membaca sesuatu yang mudah dari Al-Qur’an dan mendo’akan mereka mengiringi pembacaan Al-Qur’an, nas Imam Asy-Syafi’i dan telah disepakati oleh ashhab Syafi’i, Al-Hafidz Abu Musa Al-Ashfahani rahimahullah didalam kitabnya Adab Ziarah Qubur, peziarah qubur boleh memilih antara duduk dan berdiri”.

وروينا في " سنن البيهقي " بإسناد حسن، أن ابن عمر استحبَّ أن يقرأ على القبر بعد الدفن أوّل سورة البقرة وخاتمتها.

“Kami meriwayatkan didalam Sunan Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan, bahwa Ibnu ‘Umar mensunnahkan agar membaca awal surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya diatas qubur setelah pemakaman”.

Imam Zakariyya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariyya al-Anshariy didalam Al-Gharar al-Bahiyyah fi syarhi al-Bahjah al-Wardiyah juz 2 hal.121 menjelaskan,

ويندب أن يقول الزائر: سلام عليكم دار قوم مؤمنين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون اللهم لا تحرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم وأن يقرأ ما تيسر من القرآن ويدعو لهم وأن يسلم على المزور من قبل وجهه وأن يتوجه في الدعاء إلى القبلة وعن الخراسانيين إلى وجهه وعليه 

“Disunnahkan bagi peziarah mengucapkan salam (..), kemudian (disunnahkan) membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an dan mendo’akan mereka, serta mengucapkan salam atas yang diziarahi sebelum menghadapnya, disunnahkan menghdap qiblat ketika berdo’a sedangkan Khurasaniyyun menghadap ke wajah mayyit, dan dengan ini mereka beramal.”

Kembali beliau menuturkan dalam Fathul Wahab bisyarhi Minhaj ath-Thullab juz 1 hal.118,

( و ) أن ( يقرأ ) من القرآن ما تيسر ( ويدعو ) له بعد توجهه إلى القبلة لأن الدعاء ينفع الميت وهو عقب القراءة أقرب إلى الإجابة

“dan disunnahkan agar membaca apa yang dirasa mudah dari Al-Qur’an, kemudian berdo’a setelah menghadap ke qiblat, karena sesungguhnya do’a bermanfaat bagi mayyit, dan do’a yang mengiringi bacal Al-Qur’an lebih dekat di ijabah”.

Juga di dalam Asnal Mathalib juz 1 hal.331 disebutkan,

(وأن يقرأ) عنده ما تيسر من القرآن (ثم يدعو) له بعد توجهه إلى القبلة قال النووي ويستحب الإكثار من الزيارة وأن يكثر الوقوف عند قبور أهل الخير والفضل (والأجر له) أي للقارئ (والميت كالحاضر ترجى له الرحمة) والبركة

“(disunnahkan) agar perziarah membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an disisi kuburan, kemudian berdo’a untuk mayyit menghadap qiblat, an-Nawawi berkata, disunnahkan memperbanyak ziarah dan memperbanyak diam di qubur ahlul khair wal fadll, dan ada pahala bagi pembacanya sedangkan mayyit seperti orang yang hadir yang diharapkan mendapatkan syafa’at dan berkah.”

Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Khathib as-Sarbini didalam al-Iqnaa’ fi Halli Alfadh Abi Syuja’ juz 1 hal.208 menyebutkan,

وَينْدب أَن يسلم الزائر لقبور الْمُسلمين مُسْتَقْبلا وَجه الْمَيِّت قَائِلا مَا علمه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِذا خَرجُوا للمقابر السَّلَام على أهل الدَّار من الْمُؤمنِينَ وَالْمُسْلِمين وَإِنَّا إِن شَاءَ الله بكم لاحقون أسأَل الله لي وَلكم الْعَافِيَة أَو السَّلَام عَلَيْكُم دَار قوم مُؤمنين وَإِنَّا إِن شَاءَ الله بكم لاحقون رَوَاهُمَا مُسلم وَزَاد أَبُو دَاوُد اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمنَا أجرهم وَلَا تفتنا بعدهمْ لَكِن بِسَنَد ضَعِيف وَقَوله إِن شَاءَ الله للتبرك وَيقْرَأ عِنْدهم مَا تيَسّر من الْقُرْآن فَإِن الرَّحْمَة تنزل فِي مَحل الْقِرَاءَة وَالْمَيِّت كحاضر ترجى لَهُ الرَّحْمَة وَيَدْعُو لَهُ عقب الْقِرَاءَة لِأَن الدُّعَاء ينفع الْمَيِّت وَهُوَ عقب الْقِرَاءَة أقرب إِلَى الْإِجَابَة وَأَن يقرب زَائِره مِنْهُ كقربه مِنْهُ فِي زيارته حَيا احتراما لَهُ قَالَه النَّوَوِيّ وَيسْتَحب الْإِكْثَار من الزِّيَارَة وَأَن يكثر الْوُقُوف عِنْد قُبُور أهل الْخَيْر وَالْفضل

“disunnahkan bagi peziarah mengucapkan salam kepada qubur muslimin dengan menghadap wajah mayyit, ucapannya sebagaimna diajarakan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika keluar kepekuburan, “assalaamu ‘alaa ahlid dar minal mukminiina wal muslimiin wa innaa insyaAllahu bikum la hiquun as-alullaha liy wa lakum al-‘afiyah” atau “Assalamu ‘alaykum dara qaumin mukminiin wa inna Insya Allahu bikum laa hiquun, keduanya diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan Imam Abu Daud menambahkan : “Allahumma laa tahrimnaa ajrahum wa laa taftinnaa ba’dahum”, tetapi sanadnya dlaif, adapun perkataan “InsyaAllah” bertujuan untuk tabarruq (ngalap berkah), dan disunnahkan membaca apa yang dirasa mudah dari Al-Qur’an disisi kubur muslimin, karena sesungguhnya rahmat diturunkan ditempat pembacaan Al-Qur’an, sedangkan mayyit seperti orang yang hadlir yang diharapkan baginya mendapatkan rahmat, kemudian disunnahkan mendo’akan mereka mengiringi bacaan Al-Qur’an karena sesungguhnya do’a bermanfaat bagi mayyit apalagi mengiringi bacaan Al-Qur’an maka itu lebih dekat kepada di ijabah, dan agar menziarahinya seperti dekatnya berziarah ketika masih hidup untuk memulyakannya, ini sebagaimana Imam an-Nawawi, dan disunnahkan memperbanyak ziarah qubut, dan supaya memperbanyak diam disisi qubut ahlul khair wal fadll”.

Beliau kembali menuturkan dalam kitab Mughni Muhtaj juz 2 hal.56,

(ويقرأ) عنده من القرآن ما تيسر، وهو سنة في المقابر فإن الثواب للحاضرين والميت كحاضر يرجى له الرحمة، وفي ثواب القراءة للميت كلام يأتي إن شاء الله تعالى في الوصايا (ويدعو) له عقب القراءة رجاء الإجابة؛ لأن الدعاء ينفع الميت وهو عقب القراءة أقرب إلى الإجابة، وعند الدعاء يستقبل القبلة وإن قال الخراسانيون باستحباب استقبال وجه الميت. قال المصنف: ويستحب الإكثار من الزيارة، وأن يكثر الوقوف عند قبور أهل الخير والفضل.

“dan membaca apa yang dirasa mudah dari Al-Qur’an di sisi qubur, dan itu adalah sunnah di pekuburan, dan sesungguhnya pahala bagi orang-orang yang hadir sedangkan mayyit seperti orang yang hadlir yang diharapkan ia mendapatkan rahmat, dan tentang pahala pembacaan Al-Qur’an bagi mayyit, InsyaAllah bahasannya yang akan datang pada pembasan Al-Washaya, dan mendo’akan mayyit mengiringi bacaan Al-Qur’an niscaya itu lebih dekat di ijabah, dan berdo’a menghadap kiblat sedangkan ulama Khurasan menganjurkan menghadap ke wajah mayyit”.

Syaikh Muhammad bin ‘Umar an-Nawawi al-Jawi al-Bantani (Sayyid ‘Ulama Hijaz) didalam Nihayatuz Zain juz 1 hal.162 menjelaskan,

(وَسَلام) ندبا حَالَة كَون الزائر مُسْتَقْبلا وَجه الْقُبُور قَائِلا مَا علمه رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لعَائِشَة رَضِي الله عَنْهَا وَهُوَ السَّلَام على أهل الدَّار من الْمُؤمنِينَ وَالْمُسْلِمين وَيرْحَم الله الْمُسْتَقْدِمِينَ والمستأخرين وَإِنَّا إِن شَاءَ الله بكم لاحقون أَو مَا علمه رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لأَصْحَابه وَهُوَ السَّلَام على أهل الدَّار من الْمُؤمنِينَ وَالْمُسْلِمين وَإِنَّا إِن شَاءَ الله بكم لاحقون أسأَل الله لنا وَلكم الْعَافِيَة رَوَاهُ مُسلم زَاد أَبُو دَاوُد بِسَنَد ضَعِيف اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمنَا أجرهم وَلَا تفتنا بعدهمْ وَيقْرَأ وَيَدْعُو عقب قِرَاءَته وَالدُّعَاء ينفع الْمَيِّت وَهُوَ عقب الْقِرَاءَة أقرب للإجابة

“(disunnahkan mengucapkan salam) bagi peziarah dengan menghadap ke kubur, seperti yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anhaa, yakni “(..)”, atau seperti yang diajar kepada shabatnya yakni (...), dan berdo’a mengiringi bacaan Al-Qur’an, sedangkan do’a bermanfaat bagi mayyit, dan berdo’a mengirisi bacaan Al-Qur’an lebih dekat untuk di ijabah”.

Syaikh al-'Allamah Zainuddin Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz bin Zainuddin bin ‘Ali bin Ahmad al-Malibari asy-Syafi’i didalam Fathul Mu’in bisyarhi Qurrati ‘Ain bin Muhimmatid Diin pada pembahasan terkait ziarah qubur,

ويسن كما نص عليه أن يقرأ من القرآن ما تيسر على القبر فيدعو له مستقبلا للقبلة.

“disunnahkan –sebagaimana nas (hadits) yang menerangkan tentang hal itu- agar membaca apa yang dirasa mudah dari Al-Qur’an diatas qubur, kemudian berdo’a untuk mayyit menghadap ke qiblat”

Imam Syamsuddin Muhammad bin Abul ‘Abbas Ahmad bin Hamzah Syihabuddin ar-Ramli didalam Nihayatul Muhtaj ilaa syarhi al-Minhaj juz 3 hal.36 pada pembahasan terkait ziarah qubur,

(ويقرأ ويدعو) عقب قراءته، والدعاء ينفع الميت وهو عقب القراءة أقرب للإجابة

“(kemudian disunnahkan) membaca Al-Qur’an dan berdo’a mengiri pembacaan Al-Qur’an, sedangkan do’a bermanfaat bagi mayyit, dan do’a mengiringi bacaan Al-Qur’an lebih dekat di ijabah”

Imam Ahmad Salamah Al-Qalyubi didalam Hasyiyatani Qalyubi wa ‘Umairah pada pembahasan terkait ziarah qubur,

قوله: (ويقرأ) أي شيئا من القرآن ويهدي ثوابه للميت وحده أو مع أهل الجبانة، ومما ورد عن السلف أنه من قرأ سورة الإخلاص إحدى عشرة مرة، وأهدى ثوابها إلى الجبانة غفر له ذنوب بعدد الموتى فيها

“dan perkataannya (dan –disunnahkan- membaca Al-Qur’an) yakni sesuatu yang mudah dari Al-Qur’an, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada mayyit secara sendiri atau bersama ahl qubur, dan diantara yang telah warid dari salafush shalih bahwa barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas 11 kali, dan menghadiahkan pahalanya kepada ahl qubur maka diampuni dosanya sebanyak orang yang mati dipekuburan itu”.

Syaikh al-'Allamah Sulaiman bin ‘Umar bin Manshur Al-Azhari (Syaikh Al-Jamal) didalam Hasyiyatul Jamal ‘alaa Syarhi Al-Minhaj (Futuhaat Al-Wahab) tentang ziarah qubur,

ح ل والتحقيق أن القراءة تنفع الميت بشرط واحد من ثلاثة أمور إما حضوره عنده أو قصده له، ولو مع بعد أو دعاؤه له، ولو مع بعد أيضا اهـ. شيخنا (قوله ما تيسر) أي ويهدي ثوابه للميت وحده أو مع أهل الجبانة (فائدة) ورد عن السلف أن من قرأ سورة الإخلاص إحدى عشرة مرة وأهدى ثوابها لجبانة غفر له ذنوب بعدد الموتى فيها وروى السلف عن علي - رضي الله تعالى عنه - أنه يعطى من الأجر بعدد الأموات اهـ.

“dan tahqiq bahwa pembacaan Al-Qur’an bermanfaat bagi mayyit dengan memenuhi satu dari 3 syarat yakni apabila dibaca dihadapan mayyit (atau disisi kubur) atau apabila meng-qashad-kannya (meniatkan tujuannya) bagi mayyit walaupun jaraknya jauh, atau mendo’akannya (agar sampai) untuk mayyit walaupun jaraknya juga jauh. Intahaa. Syaikh kami (tentang perkataannya “apa yang mudah”) yakni menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada mayyit sendirian atau beserta ahl qubur, (Faidah) telah warid dari salafush shalih bahwa barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas 11 kali dan menghadiahkan pahalanya kepada .... maka diampuni dosanya sebnya jumlah orang yang mati disana, dan salafush shalih telah meriwayatkan dari ‘Ali radliyallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya beliau ...., Intahaa/selesai.

Syaikh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi didalam I’anathuth Thalibin ‘alaa Halli Alfadh Fathul Mu’iin terkait ziarah qubur,

(قوله: ويسن كما نص عليه أن يقرأ الخ) أي لما ورد إن فمن زار قبر والديه أو أحدهما فقرأ عنده يس والقرآن الحكيم، غفر له بعدد ذلك آية أو حرفا. وعن الإمام أحمد بن حنبل أنه قال: إذا دخلتم المقابر فاقرأوا بفاتحة الكتاب والإخلاص والمعوذتين، واجعلوا ثواب ذلك لأهل المقابر، فإنه يصل إليهم. فالاختيار أن يقول القارئ بعد فراغه: اللم أوصل ثواب ما قرأته إلى فلان.

“(frasa, disunnahkan –sebagaimana nas tentang hal itu- agar membaca Al-Qur’an...) yakni berdasarkan riwayat bahwa barangsiapa yang berziarah qubur kedua orang tuanya, atau salah satu dari keduanya, maka bacalah Yasiin dan Al-Qur’an al-Kariim disisi quburnya, niscaya Allah akan memberikan ampun baginya sebanyak ayat atau huruf yag dibaca. Dan dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ia berkata, "apabila kalian memasuki pekuburan maka bacalah oleh kalian Fatihatul Kitab, al-Ikhlas dan Mu’awwidatain (Al-Falaq dan An-Naas), dan jadikanlah pahalanya untuk penghuni pekuburan, sebab pahalanya itu sampai kepada mereka, dan yang lebih baik (pendapat yang di pilih dalam madzhab Syafi’i) agar seorang qari berdo’a setelah selesai membaca Al-Qur’an, "ya Allah sampaikanlah pahala apa yang telah dibaca kepada Fulan”.

 (قوله: من القرآن) بيان لما، مقدم عليه. (قوله: فيدعو له) أي فعقب القراءة يسن أن يدعو للميت رجاء الإجابة، لأن الدعاء ينفع الميت، وهو عقب القراءة أقرب إلى الإجابة. وسيأتي - في باب الوصية - كلام في حصول ثواب الدعاء والقراءة للميت - إن شاء الله تعالى -

“(perkataannya –membaca sesuatu yang mudah- dari Al-Qur’an) penjelasannya telah berlalu. (frasa, maka berdo’a untuknya) yakni mengikuti pembacaan Al-Qur’an yang disunnahkan berdo’a untuk mayyit agar di ijabah, karena do’a bermanfaat bagi mayit, sedangkan do’a mengiringi bacaan Al-Qur’an lebih dekat di ijabah. dan akan datang  - di bab wasiat- perbincangan tentang sampainya pahala do’a dan pembacaan Al-Qur’an untuk mayyit –Insya Allah-.

Imam Muhammad ‘Ali bin Muhammad bin ‘Allan bin Ibrahim al-Bakriasy-Syafi’i di dalam Dalilul Falihin li-Thuruqi Riyadl ash-Shalihiin juz 6hal.426 menyebutkan perkataan Imam asy-Syafi’i dan mensyarahnya sebagai berikut,

قال الشافعي رحمه الله: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القرآن) ليصيبه من الرحمة النازلة على القراء للقرآن نصيب (وإن ختموا القرآن) أي قرءوه (كله كان حسناً) لعظيم فضله.

“(Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, " Disunnahkan agar membaca sesuatu dari Al-Qur’an di samping qubur) agar ia mendapatkan rahmat yang diturunkan atas pembacanya karena Al-Qur’an (apabila mengkhatamkan al-Qur’an) semuanya itu bagus karena banyaknya fadlilah.”

إذا دخلتم المقابر فقال الثواب للقارىء ويكون الميت كالحاضر ترجى له الرحمة والبركة فيستحب قراءة القرآن في المقابر لهذا المعنى وأيضا فالدعاء عقيب القراءة أقرب إلى الاجابة والدعاء ينفع الميت

“Ketika ditanya perihal membaca Al-Qur’an di kuburan, Qadhi Abut Thayyib menjawab, ‘Pahala membaca itu kembali kepada orang yang membaca. Sedangkan mayit seperti orang hidup yang diharapkan rahmat dan keberkahan Allah untuknya. Pembacaan Al-Qur’an dianjurkan dalam rangka ini. Sedangkan doa setelah pembacaan Al-Qur’an lebih dekat pada ijabah. Doa orang hidup itu akan bermanfaat bagi si mayit,’” (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, [Riyadh, Daru Alamil Kutub: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 657).

Salah seorang murid terdekat Imam Ahmad, Abu Bakar Al-Marrudzi, pernah mendengar gurunya berkata: 

إذا دخلتم المقابر فاقرءوا بفاتحة الكتاب والمعوذتين، وقل هو الله أحد، واجعلوا ثواب ذلك إلى أهل المقابر؛ فإنه يصل إليهم، وكانت هكذا عادة الأنصار في التردد إلى موتاهم؛ يقرءون القرآن.

Jika kalian masuk ke kuburan, maka bacalah Surat Al-Fatihah, Al-Muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), dan Al-Ikhlas. Lantas jadikanlah pahala bacaan itu untuk ahli kubur, maka hal itu akan sampai ke mereka. Dan inilah kebiasaan kaum Anshar ketika datang ke orang-orang yang telah wafat, mereka membaca Al-Qur’an (Mushtafa bin Saad al-Hanbali w. 1243 H, Mathalib Ulin Nuha, h. 935).

Dalam kitabnya Ar-Ruuh, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga meriwayatkan kebiasaan senada yang dilakukan oleh kaum Anshar,

 اْلأَنْصَارُ إِذَا مَاتَ لَهُمُ الْمَيِّتُ اِخْتَلَفُوْا إِلَى قَبْرِهِ يَقْرَءُوْنَ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ

Al-Khallal menyebutkan dari Syu’bi bahwa sahabat Anshar jika di antara mereka ada yang meninggal, maka mereka bergantian ke kuburnya membaca Al-Qur’an (Ibnu Qayyim, Ar-Ruuh hal.11). 

Itulah riwayat hadits dan penjelasan para ulama terkait kesunnahan membaca Al-Qur'an diatas kuburan, dan masih banyak lagi referensi yang ada.

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

Jumat, 17 Desember 2021

ADAB DAN TATA CARA ZIARAH KUBUR WALIYULLOH

*1. Perjalanan Menuju Makam*

Dalam perjalanan (ketika di kendaraan) menuju makam, hendaknya tidak bergurau, dan lebih baik diisi dengan nasehat dan hikmah atau riwayat para wali yang akan diziarahi dan berdoa mohon kelancaran, keselamatan dan keberkahan maksud dan tujuan saat berangkat sampai pulangnya,

عَلَى هَذِهِ النِّيَّةِ وَ عَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ وَ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ المصطفى محمد صَلَّى اللهُ عَلَىْهِ وَ سَلَّمَ (الْفَاتِحَة)

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

*2. Sampai di makam menyampaikan salam*

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَ إِنَّا إِنْ شَـآءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ. 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا وَلِيَ اللهِ ……

صَاحِبَ اْلكَرَامَةِ. جِئْنَاكَ زَائِرِيْنَ وَ عَلَى مَقَامِكَ وَاقِفِيْنَ. أَوْدَعْنَا عِنْدَكَ شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شيئ لِلَّهِ تَعَالَى... اَلْفَاتِحَة     

*3. Doa’ Tawassul (oleh Imam Ziarah)*

عَلَى هَذِهِ النِّيَّةِ وَ عَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ وَ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى محمد صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وَاَزْوَا جِهِ وَاَوْلاَ دِهِ وَذُرِّيَّا تِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمْ (الْفَاتِحَة) ....

وإلَى حَضَرَاتِ اِخْوَا نِهِ مِنَ الْاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَاءِ وَاَلشَّهَدَاءِ وَاَلصَّا لِحِيْنَ وَاَلصَّحَا بَةِوَ التَّا بِعِيّنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَا مِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَ جَمِيْعِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّ بِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَيْدِ الْقَادِرِا لْجَيْلَا نِى شَيْءٌ لِلهِ لَهُمْ (الْفَاتِحَة) ....

واِلَى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْ مِنين وَالْمُؤْ مِنَاتِ

 مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ وَمَغَا رِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِ هَا خُصُوصًا اَبَاءَنَا وَ اُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَا دَنَا وَجَدَّا تِنَا وَمَشَايِخَنَا وَمَشَايِخَ مَشَا يِخِنَا وَاَسَاتَذَةِ اِسَاتِذَ تِنَا (وَحُصُوْصًا اِلَى الرُّحِ …) وَلَمِنِ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمْ (الْفَاتِحَة) ....

اللَّهُمَّ اِنّا نسْأَلُكَ وَ نتـَوَجَّهُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ, فِيْ حُصُوْلِ الْمُرَادَاتِ و أَنْ تَكُوْنَ سَبَاباً لِيَقْضِيَ اللهُ حَوَائِجَنَا هَذِهِ ...(ذكر الحاجة)

*4.    Membaca Yasin,  Tahlil dan atau Istighatsah*

*5.    Berdoa Selesai Tahlil

*6.  Membaca Qosidah :

عِبَادَ اللهِ رِجَـالَ اللهِ * أَغِيْثُـوْنَا ِلأَجْـلَ اللهِ

وَكُوْنُوْا عَوْنَنَـا ِللهِ * عَسَى نَحْظَى بِفَضْلِ اللهِ

سَلاَمُ اللهِ و الرَّحْمَة * عَلَيْكُمْ  يَا وَلــِيَّ اللهِ

أَتَيْنَاكُمْ وَ زُرْناَكُمْ * وَقَفْنَا يَا وَلــِيَّ اللهِ

سَعِدْناَ إِذْ لَقِيْنَاكُمْ * قَصَدْناَ يَا وَلــِيَّ اللهِ

تَــوَّسَّلْناَبِكُمْ لِلّهِ * أَجِيْبُوْا يَا وَلــِيَّ اللهِ

رَجَوْناَمِنْ مَزَايَاكُمْ *  لِتَدْعُوَا يَا وَلــِيَّ اللهِ

إِلَى الرَّحْمنِ ماَ يُرَامُ  *  لَدَيــْْناَ يَا وَلــِيَّ اللهِ

طَلَبْناَ وُسْعَةَ الْأَرْزاَقِ  *  حَلاَلاً  يَا وَلــِيَّ اللهِ

وَحَجَّ الْبَيْتِ فِيْ الْحَرَامِ *  مِرَاراً  يَا وَلــِيَّ اللهِ

وَحُسْناً فِي اخْتِتاَمِناَ *   كِراَماً  يَا وَلــِيَّ اللهِ

عَسَى نُرْضى عَسَى نُحْظَى* بِقُرْبٍ يَا وَلــِيَّ اللهِ

وَ صَلَّى سَلَّمَ عَلَى *  مُحَمَّدْ يَا وَلــِيَّ اللهِ

 وَ حَمْداً لِلْمُهَيْمِنِ  *  وَ شُكْراً يَا وَلــِيَّ اللهِ

*7. Setelah do’a membaca sholawat :

يَارَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلَّغْ مَقَاصِدَنَا * وَاغْفِرْ لَنَا مَامَضَى يَا وَسِعَ الْكَرَمِ

مَوْلاَيَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِـمًا أَبَدً * عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِالْخَلْقِ كُلِّهِمِ

هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِي تُرْجَى شَفَاعَتُه ُ* لِكُلِّ هَوْلٍ مِّنَ اْلأَهْوَالِ  مُقْتَحَمِ

*8. Diakhiri dengan membaca :

رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ  - وَاهْدِنَا اْلحُسْنى بِحُرْمَتِهِمْ

وَأَمِتْنَا فِيْ طَرِيْقَنِهِمْ - وَ مُعَافاَةٍ مِّنَ اْلفِتَنِ  َ

مَنْ أَمَّكُمْ لِرَغْبَةٍ فِيْكُمْ جُبِرَ وَمَنْ تَكُوْنُوْا نَاصِرِيْهِ يَنْتَصِرُ (يَا سَادَتِي x3)

(الْفَاتِحَة ... صلوات ....)

Kamis, 16 Desember 2021

KAJIAN TENTANG MENDOAKAN KESEMBUHAN NON MUSLIM YANG SAKIT

Islam mengajarkan berbuat baik kepada siapa saja, bahkan kepada apa saja. Pesan bahwa Rasulullah diutus sebagai penebar kasih sayang bagi seluruh alam (rahamtan lil alamin) merupakan legitimasi dari sikap tersebut. Sebagaimana pula Allah yang diyakini sebagai rabbul 'alamin (Tuhan bagi seluruh alam). 

Begitu pula kepada nonmuslim. Islam memang memiliki garis tegas secara akidah yang berbeda dari agama-agama lain. Islam juga tak menoleransi semua pemikiran dan perilaku yang berseberangan dengan prinsip tauhid. Tapi bukan berarti perbedaan itu mesti merenggangkan tali silaturahim dan pergaulan secara wajar dalam masyarakat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. al-Mumtahanah: 8-9)

Mendoakan kebaikan orang kafir untuk kebaikan dunia, termasuk berbuat baik kepada mereka yang diperbolehkan.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf nya, dari Ibrahim, dia berkisah,

جاء رجل يهودي الى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : ادع لي : فقال : اكثر الله مالك وولدك واصح جسمك واطال عمرك

"Ada seorang laki-laki Yahudi datang menemui Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam, kemudian dia berkata kepada beliau, ‘Doakanlah aku’. Kemudian beliau berdoa, ‘Semoga Allah memperbanyak hartamu, anakmu, menyehatkan tubuhmu, dan memperjang umurmu.’ (

Dalam kitab Al-Azkar, Imam Nawawi membolehkan untuk mendoakan semua bentuk kebaikan untuk non-muslim, seperti agar mendapat hidayah, diberi kesehatan dan lainnya. Namun beliau melarang mendoakan ampunan atas mereka. Beliau berkata,

لا يجوز أن يُدعى له بالمغفرة وما أشبهها مما لا يُقال للكفار، لكن يجوزُ أن يُدعى بالهداية وصحةِ البدن والعافية وشبهِ ذلك.

"Tidak boleh mendoakan ampunan dan doa semisalnya yang tidak boleh diucapkan untuk orang-orang non-Muslim, tetapi boleh mendoakannya agar mendapat hidayah, kesehatan dan semisalnya.

Imam Nawawi juga mengatakan,

وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع  – المجموع 5 / 120

"Adapun menyolatkan jenazah orang kafir, atau mendoakannya agar mendapat ampunan; maka hukumnya haram berdasarkan nas Al-Qur'an dan ijma’." (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, 5/120).

Hadits mengenai Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri yang meruqyah seorang pemimpin kampung yang kafir, yang terkena sangetan kalajengking dan langsung sembuh. Berikut riwayatnya,

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ « وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ». ثُمَّ قَالَ « خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ »

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para  sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyahkarena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah. pembesar tersebut pun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya (dan disebutkan), ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.” (HR. Bukhari no. 5736 dan Muslim no. 2201)

Dijelaskan dalam kitab ensiklopedi fikh, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwatiyah,

لا خلاف بين الفقهاء في جواز رقية المسلم للكافر . واستدلوا بحديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه الذي سبق ذكره ووجه الاستدلال أن الحي – الذي نزلوا عليهم فاستضافوهم فأبوا أن يضيفوهم – كانوا كفارا ، ولم ينكر النبي صلى الله عليه وسلم ذلك عليه

“Tidak ada khilaf di antara ulama mengenai bolehnya seorang muslim meruqyah orang kafir. Para ulama berdalil dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Dan sisi pendalilannya bahwa kampung (yang mereka singgahi dan meminta agar dijamu) kampung kafir. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alahi wa salam tidak mengingkarinya”. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwatiyah 13/34, syamilah)

Itulah yang diteladankan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bergaul secara baik dengan siapa saja dan dari kelas mana saja. Hingga orang-orang yang tak mengikuti risalahnya pun menaruh simpatik kepadanya. Seperti terungkap dalam hadits dari Anas radliyallâhu ‘anhu bahwa tatkala Nabi membutuhkan minum seorang pria dari kalangan Yahudi memberinya air. Rasulullah pun membalasnya dengan doa, “Jammalakallah (semoga Allah memperelok dirimu)”. Berkat doa ini, orang Yahudi tersebut tak memiliki uban satu pun hingga akhir hayatnya. 

Atas hadits ini ulama bersepakat tentang kebolehan mendoakan dzimmî (nonmuslim yang taat terhadap konstitusi), seperti doa atas kesehatan badannya, kelancaran rezekinya, sukses pekerjaannya, dan lain sebagainya. Demikian Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi (Imam Nawawi) dalam kitab Al-Adzkâr. Redaksi kalimat dan jenis bahasa doa bisa menyesuaikan konteksnya. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 10 Desember 2021

KAJIAN TENTANG MIMBAR MASJID, ASAL USUL, BENTUK, FUNGSI DAN LETAKNYA

Masih teringat mimbar di sebuah masjid di Makassar dibakar seseorang yang hanya karena sakit hati kepada pengurus masjid, di mana setiap pelaku ini datang di masjid untuk beristirahat dan tidur di depan mimbar selalu dilarang oleh pengurus masjid dan pihak sekuriti. Terlepas dari alasan pengurus masjid melarang tidur didepan mimbar, ada baiknya memahami apa itu mimbar?

Definisi Mimbar (bahasa Arab: منبر‎),

المِنْبَرُ : منصّة، مرقاة يصعد عليها الخطيبُ من إمام وغيره ليسمعه ويراه الناس

"Mimbar adalah panggung (tempat yang ditinggikan) yang berada di dalam masjid tempat kedudukan (khatib), imam atau lainnya menyampaikan khutbah agar bisa didengar dan dilihat jamaah." (Ma'ani Al-Jami')

Mimbar adalah elemen umum arsitektur masjid tradisional, termasuk di Indonesia.

Mimbar berasal dari akar kata bahasa Arab نبر = nabara (menaikkan, meninggikan); bentuk jamaknya manābir (bahasa Arab: مَنابِر‎)

Mimbar adalah satu peralatan penting yang terdapat di setiap masjid. Hal ini didasarkan pada praktek Rasulullah bahwa beliau menyampaikan khutbah menggunakan mimbar. Beliau mulai memakai mimbar pada tahun ke tujuh atau setelah masjid Nabawi direnovasi. Ada juga yang menyatakan penggunaan mimbar pada tahun ke delapan hijriah setelah dikuasainya Khaibar. Mimbar ini terutama digunakan Rasulullah untuk khutbah Jumat. Sedangkan untuk khutbah ‘Id, informasi sebagian hadits menjelaskan Nabi tidak menggunakannya. Nabi berkhutbah di atas kendaraan beliau.

Secara umum terdapat dua bentuk mimbar pada banyak masjid. Pertama, mimbar dengan model anak tangga di depan. Model ini terlihat dalam beberapa bentuk: terdiri dari tiga tangga atau lebih, memakai atap dan tanpa atap, serta menggunakan pintu atau tanpa pintu. Kedua, mimbar dengan anak tangga terdapat di belakang, sementara pada bagian depan tertutup hingga separoh atau sepertiga badan khatib atau penceramah. Kedua bentuk mimbar tersebut terkadang dihiasi pula dengan berbagai ukiran.


Sebagian orang membedakan mimbar dengan podium. Model pertama ini mereka sebut mimbar, sedangkan model kedua disebut podium. Namun, bila dilihat bahwa mimbar yang terambil dari kata nabara yang bermakna mengangkat atau meninggikan sesuatu, tidak ada beda mimbar dengan podium. Semua tempat yang tinggi untuk berpidato atau khutbah dapat dikatakan mimbar.

*Asal Usul Mimbar*

Beberapa hadits menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam awalnya berkhutbah di atas pangkal pohon kurma, lalu sahabat mengusulkan agar dibuatkan untuk beliau mimbar supaya jamaah dapat melihat dan mendengar khutbah. Dalam riwayat Imam Bukhari yang disampaikan oleh Jabir usulan tersebut datang dari seorang wanita Anshar yang dalam riwayat lain disebutkan wanita tersebut memiliki anak seorang tukang kayu. Wanita tersebut menyatakan kepada Nabi, "Bolehkah kami membuat mimbar untukmu?" Kemudian Nabi mempersilahkannya.

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Ubay bin Ka'ab disebutkan,

عَنِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ يُصَلِّي إِلَى جِذْعٍ إِذْ كَانَ الْمَسْجِدُ عَرِيشًا وَكَانَ يَخْطُبُ إِلَى ذَلِكَ الْجِذْعِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ: هَلْ لَكَ أَنْ نَجْعَلَ لَكَ شَيْئًا تَقُومُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَرَاكَ النَّاسُ وَتُسْمِعَهُمْ خُطْبَتَكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَصَنَعَ لَهُ ثَلاَثَ دَرَجَاتٍ فَهِيَ الَّتِي أَعْلَى الْمِنْبَرِ فَلَمَّا وُضِعَ الْمِنْبَرُ وَضَعُوهُ فِي مَوْضِعِهِ الَّذِي هُوَ فِيهِ. 


“Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat dengan menghadap ke batang pohon karena masjidnya ketika itu merupakan bangunan dari unsur kayu dan beliau berkhutbah di atas batang pohon.’ Lalu ada seseorang dari Sahabatnya berkata, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu yang bisa kami buatkan mimbar untukmu sehingga engkau bisa berdiri di atas-nya pada hari Jum’at sehingga orang-orang bisa melihatmu dan engkau bisa memperdengarkan khutbahmu kepada mereka?’ Beliau menjawab, ‘Ya, punya.’ Kemudian orang itu membuatkan untuknya tiga tingkat yang ia berada di bagian atas mimbar. Dan ketika mimbar itu diletakkan, maka mereka meletak-kannya di tempatnya yang biasa dia berada di tempat itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam riwayat Imam Abu Daud, usulan tersebut datang dari sahabat yang bernama Tamim al-Dari yang dalam riwayat lain ditambahkan ia yang pernah melihat mimbar di Syam, lalu Nabi menerima usulan itu. Ada yang menjelaskan bahwa usulan tersebut datang dari seorang sahabat yang tidak disebutkan namanya, yang menawarkan kepada Nabi membuat mimbar, Nabi kemudian menerima tawaran tersebut.


Usulan sahabat tersebut dapat dipahami bahwa mereka kesulitan melihat dan mendengar beliau berkhutbah. Hal ini disebabkan jamaah kaum muslimin semakin hari semakin banyak. Pada tahun ke-7 atau ke-8 Hijriah, masyarakat muslim tidak hanya terdiri semenanjung Arab, tetapi juga telah meluas sampai ke Irak. Sebagian dari warga muslim dari daerah lain berdatangan ke Madinah untuk mendapatkan pelajaran dari Rasulullah. Itu sebabnya muncul ide dari salah seorang mereka membuat mimbar untuk Nabi supaya mereka dapat melihat Nabi dengan leluasa dan mendengarkan pengajaran-pengajaran dari beliau.

*Bentuk Mimbar*,

Mengenai bentuk atau model mimbar, tidak ditemukan petunjuk Nabi seperti tangga dari arah depan atau dari arah lainnya atau begitu juga jumlah anak tangga yang hanya tiga tingkat. Ketika Sahabat mengusulkan membuat mimbar Hanya menjawab “silakan kalau kamu mau” (in syi’tum) atau “ya” (na’am/bala). Bagian yang paling jelas yang dinformasikan kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah dan Musnad Ahmad adalah mimbar dibuatkan oleh tukang kayu. Hal ini terlihat dari redaksi beberapa hadits. Meskipun dengan redaksi haditsnya berbeda antara yang satu dengan lainnya, tetapi maksudnya adalah sama, seperti “dibuatlah untuk beliau tiga tingkat anak tangga” (fashuni’a lahu tsalatsu darajat), “maka dia (tukang kayu) membuat (mimbar) dengan tiga anak tangga” (fashana’a tslatsa darajat), “dia (tukang kayu) membuat mimbar Nabi tiga anak tangga” (fa’amila al-mimbar tsalatsa darajat) “lalu mereka membuatnya bagi Nabi (mimbar) tiga anak tangga” (fashana’u lahu tsalatsa darajat).

*Letak Mimbar*

Keterangan Ibnu Qudamah (ulama Hambali) menjelaskan,

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ الْمِنْبَرُ عَلَى يَمِينِ الْقِبْلَةِ، لأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم هَكَذَا صَنَعَ

"Dianjurkan agar mimbar diletakkan di sebelah kanan arah ketika melihat ke arah kiblat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan seperti ini." (Al-Mughni, 2/144)

Keterangan An-Nawawi (ulama Syafi'iyah) mengatakan,

قَالَ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ: وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ الْمِنْبَرُ عَلَى يَمِينِ الْمِحْرَابِ, أَيْ عَلَى يَمِينِ الإِمَامِ إذَا قَامَ فِي الْمِحْرَابِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ, وَهَكَذَا الْعَادَةُ

"Ulama madzhab kami dan yang lainnya mengatakan, dianjurkan agar posisi mimbar di sebelah kanan mihrab. Artinya di sebelah kanan imam, ketika dia berada di mihrab menghadap kiblat. Seperti ini tradisi kaum muslimin." (Al-Majmu’, 4/527)

Keterangan Imam Al-Buhuti (ulama Hambali) juga menegaskan,

وَيَكُونُ الْمِنْبَرُ أَوْ الْمَوْضِعُ الْعَالِي عَنْ يَمِينِ مُسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةِ بِالْمِحْرَابِ، لأَنَّ مِنْبَرَهُ صلى الله عليه وسلم كَذَا كَانَ

Posisi mimbar atau tempat yang tinggi untuk khutbah berada di sebelah kanan mihrab jika dilihat dengan menghadap kiblat. Karena mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu seperti ini. (Kasyaf al-Qina’, 2/35).

Keterangan mengenai posisi mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menunjukkan bahwa itu wajib. Meskipun dianjurkan untuk memposisikannya, dalam rangka meniru keadaan yang ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga sama sekali tidak mempengaruhi hukum khutbah atau apalagi keabsahan shalat jamaah atau shalat jumat.

Syaikh Athiyah Shaqr (Seorang mufti Mesir) menjelaskan,

لم يَرد نص بالالتزام وإنما الكلام الوارد هو بيان موضع المنبر وهو لا يدل على الوجوب، وإن كان يدل على الندب اقتداء بما كان عليه الحال في أيام الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ وليس بحرام أن يُوضع المنبر في أي مكان. والمهم هو وجود شيء مرتفع يساعد الخطيب على إسماع الناس

"Tidak terdapat dalil yang mewajibkan posisi mimbar harus di sebelah kanan. Keterangan yang ada hanya penjelasan posisi mimbar dan ini tidak menunjukkan itu wajib, meskipun menunjukkan anjuran, dalam rangka meniru keadaan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak haram untuk meletakkan mimbar di tempat manapun. Yang penting, disediakan satu tempat yang tinggi yang bisa membantu khatib agar suaranya bisa didengarkan jamaah." (Fatawa Athiyah Shaqr, 4/140)

Singkatnya, fungsi utama mimbar masjid adalah sebagai tempat berdirinya khatib. Khatib adalah orang yang menyampaikan khutbah pada saat shalat Jum'at agar bisa di lihat dan di dengar jamaah, khatib juga bertugas menjadi imam untuk memimpin shalat Jum'at.

Sementara larangan tidur di depan atau di dekat mimbar diantara alasannya adalah demi menjaga kebersihan masjid dan agar tidak mengganggu orang yang mau beribadah, meskipun tidur di masjid dibolehkan sebagaimana hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّهُ كَانَ يَنَامُ وَهُوَ شَابٌّ أَعْزَبُ لاَ أَهْلَ لَهُ فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika masih muda, bujangan, dan belum berkeluarga, beliau tidur di masjid Nabawi." (HR. Bukhari 440).

Masjid dibangun sebagai tempat untuk mengagungkan Allah. Karena itu, bagi siapapun yang melakukan hal mubah di masjid, seperti makan, atau tidur, selayaknya menjaga masjid dari kotoran, maupun najis, dan tidak boleh mengganggu orang yang menjalankan ibadah. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini memyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 09 Desember 2021

KAJIAN TENTANG BENARKAH ORANG TUA NABI MUHAMMAD SAW MASUK NERAKA?

Viral Ustadz Wahabi Firanda Andirja dalam sebuah video menyebutkan bahwa menurut jumhur ulama ayah Nabi Muhammad masuk neraka. Landasan mereka yang meyakini kedua orang tua nabi di neraka diantaranya adalah hadits berikut,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِيْ؟ قَالَ: فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR. Imam Muslim dalam Shahîh-nya (203).

Sementara hadits riwayat Abu Hurairah ra. menyebutkan sebagai berikut. 

زَارَ النّبِيّ صلى الله عليه وسلم قَبْرَ أُمّهِ. فَبَكَىَ وَأَبْكَىَ مَنْ حَوْلَهُ. فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأذِنَ لِي

"Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menziarahi makam ibunya. Di sana Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menangis sehingga para sahabat di sekitarnya turut menangis. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kepada Allah Aku sudah meminta izin untuk memintakan ampun bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengizinkanku. Lalu Aku meminta kepada-Nya agar Aku diizinkan menziarahi makam ibuku, alhamdulillah Dia mengizinkanku," (HR Muslim). 

Secara harfiah pemahaman yang kita dapati dari keterangan dua hadits di atas menujukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk ke dalam penghuni neraka. Tetapi sebenarnya ulama baik dari kalangan ahli hadits maupun kalangan ahli kalam berbeda pendapat perihal ini. Di antara ulama yang memaknai hadits ini secara harfiah adalah Imam An-Nawawi. Dalam kitab Syarah Muslim yang ditulisnya menunjukkan secara jelas posisinya seperti keterangan berikut ini, 

قوله ( أن رجلا قال يا رسول الله أين أبي قال في النار فلما قفى دعاه فقال إن أبي وأباك في النار ) فيه أن من مات على الكفر فهو في النار ولا تنفعه قرابة المقربين وفيه أن من مات في الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأوثان فهو من أهل النار وليس هذا مؤاخذة قبل بلوغ الدعوة فان هؤلاء كانت قد بلغتهم دعوة ابراهيم وغيره من الأنبياء صلوات الله تعالى وسلامه عليهم وقوله صلى الله عليه و سلم أن أبي وأباك في النار هو من حسن العشرة للتسلية بالاشتراك في المصيبة ومعنى قوله صلى الله عليه و سلم قفي ولى قفاه منصرفا 

“Pengertian hadits ‘Seorang lelaki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ dan seterusnya, menunjukkan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kufur bertempat di neraka. Kedekatan kerabat muslim tidak akan memberikan manfaat bagi mereka yang mati dalam keadaan kafir. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mereka yang meninggal dunia di masa fatrah (masa kosong kehadiran rasul) dalam keadaan musyrik yakni menyembah berhala sebagaimana kondisi masyarakat Arab ketika itu, tergolong ahli neraka. Kondisi fatrah ini bukan berarti dakwah belum sampai kepada mereka. Karena sungguh dakwah Nabi Ibrahim AS, dan para nabi lainnya telah sampai kepada mereka. Sedangkan ungkapan ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka’ merupakan ungkapan solidaritas dan empati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sama-sama terkena musibah seperti yang dialami sahabatnya nasib orang tua keduanya. Ungkapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ‘Ketika orang itu berpaling untuk pergi’ bermakna beranjak meninggalkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.” (lihat Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, Dar Ihyait Turats Al-Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1392 H). 

Sementara ulama lain menilai hadits ini telah dimansukh (direvisi) oleh riwayat Sayidatina Aisyah rah. Dengan demikian kedua orang tua Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terbebas sebagai penghuni neraka seperti keterangan hadits yang telah dimansukh. Salah satu ulama yang mengambil posisi ini adalah Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam karyanya Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj. 

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب قالا حدثنا محمد بن عبيد عن يزيد بن كيسان عن أبي حازم عن أبي هريرة قال زار النبي صلى الله عليه و سلم قبر أمه الحديث قال النووي هذا الحديث وجد في رواية أبي العلاء بن ماهان لأهل المغرب ولم يوجد في روايات بلادنا من جهة عبد الغافر الفارسي ولكنه يوجد في أكثر الأصول في آخر كتاب الجنائز ويضبب عليه وربما كتب في الحاشية ورواه أبو داود والنسائي وابن ماجة قلت قد ذكر بن شاهين في كتاب الناسخ والمنسوخ أن هذا الحديث ونحوه منسوخ بحديث إحيائها حتى آمنت به وردها الله وذلك في حجة الوداع ولي في المسألة سبع مؤلفات 

“Dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menziarahi makam ibunya dan seterusnya. Menurut Imam An-Nawawi, ‘Hadits ini terdapat pada riwayat Abul Ala bin Mahan penduduk Maghrib, tetapi tidak terdapat pada riwayat orang-orang desa kami dari riwayat Abdul Ghafir Al-Farisi. Namun demikian hadits ini terdapat di kebanyakan ushul pada akhir Bab Jenazah dan disimpan. Tetapi terkadang ditulis di dalam catatan tambahan. Hadits ini diiwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.’ Hemat saya jelas, Ibnu Syahin menyebutkan di dalam kitab Nasikh dan Mansukh bahwa hadits ini dan hadits yang semakna dengannya telah dimansukh oleh hadits yang menerangkan bahwa Allah menghidupkan kembali ibu Rasulullah sehingga ia beriman kepada anaknya, lalu Allah mewafatkannya kembali. Ini terjadi pada Haji Wada’. Perihal masalah ini saya telah menulis tujuh kitab,” (Lihat Abdurrahman bin Abu Bakar, Abul Fadhl, Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj).

Kemudian dalam video hasil editing ada seorang anak perempuan meluruskan anggapan Firanda bahwa kedua orang tua nabi masuk neraka dengan berhujjah memakai QS. Al-Isra' : 15.

Ada baiknya kita menyimak penjelasan Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat dimaksud.

Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

"Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isra: 15)

Makna ayat ini menggambarkan tentang keadilan Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa Dia tidak akan mengazab seorang pun melainkan setelah tegaknya hujah terhadap dirinya melalui rasul yang diutus oleh Allah kepadanya.

Masih banyak ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah tidak memasuk­kan seorang manusia pun ke dalam neraka kecuali setelah Allah mengutus rasul-Nya kepada mereka. Berangkat dari pengertian ini ada sejumlah ulama yang membahas lafazh yang diutarakan secara mu'jamah dalam kitab Shahih Bukhari pada pembahasan tafsir firman-Nya,

إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

"Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'raf: 56)

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَان، عَنِ الْأَعْرَجِ بِإِسْنَادِهِ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "اخْتَصَمَتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ" فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَى أَنْ قَالَ: "وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا، وَأَنَّهُ يُنْشِئُ لِلنَّارِ خَلْقًا فَيُلْقَوْنَ فِيهَا، فَتَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ؟ ثَلَاثًا، وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa'd, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Saleh ibnu Kaisan, dari Al-A'raj dengan sanadnya sampai kepada Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Surga dan neraka mengadukan perkaranya (kepada Allah)," yang antara lain di sebutkan dalam hadits ini, "Adapun surga, maka Allah tidak menganiaya terhadap seseorang pun dari kalangan makhluk-Nya. Dan sesungguhnya Dia terus membuat makhluk untuk neraka, lalu makhluk itu dilemparkan ke dalam­nya, dan neraka berkata, "Masih adakah tambahannya," sebanyak tiga kali. Hingga akhir hadits.

Padahal sesungguhnya hal ini hanyalah terjadi pada surga, karena surga adalah tempat menetapnya karunia Allah. Adapun neraka adalah tempat dilaksanakannya keadilan Allah, tiada seorang pun yang memasu­kinya kecuali sesudah adanya alasan untuk memasukinya dan telah tegaknya hujah atas orang yang memasukinya.

Sejumlah ulama membicarakan bunyi teks hadits ini. Mereka me­ngatakan bahwa barangkali perawinya mengutarakannya terbalik, sebagai buktinya ialah adanya sebuah hadits yang diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab shahihnya masing-masing, sedangkan teks hadits berikut menurut apa yang ada pada Imam Bukhari melalui hadits Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Harnmam, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,

"تَحَاجَّتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ" فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَى أَنْ قَالَ: "فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ فِيهَا قَدَمَهُ، فَتَقُولَ: قَطٍ، قَطٍ، فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيَزْوِي بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا، وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَيُنْشِئُ اللَّهُ لَهَا خَلْقًا"

"Surga dan neraka bersengketa. Yang di dalamnya antara lain disebutkan: Adapun neraka, maka ia tidak merasa kenyang dengan penghu­ninya sehingga Allah meletakan telapak kaki kekuasaan-Nya ke dalam neraka, maka barulah neraka berkata, "Cukup, cukup.” Saat itulah neraka penuh dan sebagian darinya memisahkan diri dari sebagian lainnya. Dan Allah tidak berbuat aniaya terhadap seorang pun dari makhluk-Nya. Adapun surga, sesungguhnya Allah membuatkan baginya makhluk (yang baru)." (HR. Bukhari)

Riwayat hadits lain dari Al-Aswad ibnu Sari',

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "أَرْبَعَةٌ يَحْتَجُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرِمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ، فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ: رَبِّ، قَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا، وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ: رَبِّ، قَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ، وَأَمَّا الهَرَمُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا، وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ: رَبِّ، مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ. فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ ليُطِعنّه فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنِ ادْخُلُوا النَّارَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا"

Imam Ahmad mengata­kan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah mencerita­kan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, dari Al-Ahnaf ibnu Qais, dari Al-Aswad ibnu Sari', bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, Empat orang akan mengajukan alasannya kelak dihari kiamat, yaitu seorang lelaki tuli yang tidak dapat mendengar suara apa pun, seorang lelaki dungu (idiot), seorang lelaki pikun, dan seorang lelaki yang mati di masa fatrah. Orang yang tuli mengajukan alasannya, "Wahai Tuhanku, Islam telah datang, tetapi saya tidak dapat mendengar apa pun.” Orang yang dungu beralasan, "Wahai Tuhanku, Islam telah datang, sedangkan anak-anak kecil melempariku dengan kotoran ternak (yang kering).” Orang yang pikun beralasan, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya Islam telah datang, tetapi saya tidak ingat akan sesuatu pun.” Orang yang meninggal dalam masa fatrah beralasan, "Wahai Tuhanku, tiada seorang pun dari rasul-Mu yang datang kepadaku.” Maka Allah mengambil janji dari mereka, bahwa­sanya mereka harus benar-benar taat kepada-Nya. Setelah itu diperintahkan agar mereka dimasukkan ke dalam neraka. Maka demi Tuhan yang jiwa Muhammad ini berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya mereka memasukinya, tentulah ne­raka itu menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi mereka." (HR. Ahmad)

Diriwayatkan pula melalui sahabat Tsauban,

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرٍو بْنِ عَبْدِ الْخَالِقِ الْبَزَّارُ فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ، حَدَّثَنَا رَيْحَانُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابة، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبَانَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عظَّم شَأْنَ الْمَسْأَلَةِ، قَالَ: "إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، جَاءَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَحْمِلُونَ أَوْثَانَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ، فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ تُرْسِلْ إِلَيْنَا رَسُولًا وَلَمْ يَأْتِنَا لَكَ أَمْرٌ، وَلَوْ أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا لَكُنَّا أَطْوَعَ عِبَادِكَ، فَيَقُولُ لَهُمْ رَبُّهُمْ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ تُطِيعُونِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَأْمُرُهُمْ أَنْ يَعْمِدُوا إِلَى جَهَنَّمَ فَيَدْخُلُوهَا، فَيَنْطَلِقُونَ حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْهَا وَجَدُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا، فَرَجَعُوا إِلَى رَبِّهِمْ فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا أَخْرِجْنَا -أَوْ: أَجِرْنَا-مِنْهَا، فَيَقُولُ لَهُمْ: أَلَمْ تَزْعُمُوا أَنِّي إِنْ أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ تُطِيعُونِي؟ فَيَأْخُذُ عَلَى ذَلِكَ مَوَاثِيقَهُمْ. فَيَقُولُ: اعْمَدُوا إِلَيْهَا، فَادْخُلُوهَا. فَيَنْطَلِقُونَ حَتَّى إِذَا رَأَوْهَا فَرِقوا وَرَجَعُوا، فَقَالُوا: رَبَّنَا فَرِقنا مِنْهَا، وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَدْخُلَهَا فَيَقُولُ: ادْخُلُوهَا دَاخِرِينَ". فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَوْ دَخَلُوهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ كَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا".

Al-Hafiz Abu Bakar Ahmad ibnu Amr ibnu Abdul Khaliq Al-Bazzar di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa'id Al-Jauhari, telah menceritakan kepada kami Raihan ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Mansur, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma, dari Sauban, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberatkan masalah ini. Maka beliau  bersabda, "Apabila hari kiamat tiba, orang-orang Jahiliyah datang dengan membawa dosa-dosa mereka di punggungnya. Lalu Tuhan menanyai mereka, dan mereka menjawab, "Wahai Tuhan kami. Engkau tidak mengutus seorang rasul pun kepada kami, dan tidak pernah pula datang suatu perintah pun dari Engkau. Seandainya Engkau mengutus kepada kami seorang rasul, tentulah kami akan menjadi seorang yang paling taat di antara hamba-hamba-Mu.” Allah berfirman kepada mereka, "Bagaimanakah pendapat kalian jika Aku perintahkan kalian suatu perintah? Apakah kalian mau taat kepada-Ku?” Mereka menjawab, "Ya.” Maka Allah memerintahkan kepada mereka untuk berangkat menuju neraka Jahannam dan memasukinya. Tetapi ketika mereka telah berada di dekat neraka Jahannam. mereka menjumpainya sedang bergejolak dan bersuara gemuruh, akhirnya mereka kembali kepada Tuhannya. Dan mereka mengatakan, "Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami," atau "Lindungi­lah kami dari neraka Jahannam.” Allah berfirman kepada mereka, "Bukankah tadi kalian mengatakan bahwa jika Aku perintahkan sesuatu kepada kalian, maka kalian akan taat kepada-Ku?" Maka Allah mengambil janji dari mereka untuk hal tersebut, lalu berfirman, "Pergilah kalian ke neraka dan masuklah ke dalamnya!" Maka mereka pun berangkat. Dan ketika mereka melihat neraka, rasa takut menimpa mereka, lalu mereka kembali dan berkata, "Wahai Tuhan kami, kami takut kepada neraka, dan kami tidak mampu memasukinya.” Lalu Allah berfirman, "Masuklah kalian ke dalam neraka dengan hina dina!' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, "Seandainya mereka masuk ke dalam neraka pada yang pertama kali, tentulah neraka menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi mereka." (HR. Al-Bazzar) (Lihat : Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Isra' : 15)

Di kalangan Ahlussunnah wal Jama'ah Al-Asya'irah menempatkan ahli fatrah sebagai kalangan yang terbebas dari tuntutan tauhid karena tidak ada rasul yang membimbing mereka. Berikut ini perbedaan pendapat yang bisa kami himpun. 

واختلف هل يكتفي بدعوة أي رسول كان ولو آدم أو لا بد من دعوة الرسول الذي أرسل إلى هذا الشخص. والصحيح الثاني. وعليه فأهل الفترة ناجون وإن غيروا و بدلوا وعبدوا الأوثان. وإذا علمت أن أهل الفترة ناجون علمت أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان لكونهما من أهل الفترة بل هما من أهل الإسلام لما روي أن الله تعالى أحياهما بعد بعثة النبي صلى الله عليه وسلم فآمنا به... ولعل هذا الحديث صح عند بعض أهل الحقيقة... وقد ألف الجلال السيوطي مؤلفات فيما يتعلق بنجاتهما فجزاه الله خيرا.

“Ulama berbeda pendapat perihal ahli fatrah. Apakah kehadiran rasul yang mana saja sekalipun Nabi Adam AS yang jauh sekali dianggap cukup bahwa dakwah telah sampai (bagi masyarakat musyrik Mekkah) atau mengharuskan rasul secara khusus yang berdakwah kepada kaum tertentu? Menurut kami, yang shahih adalah pendapat kedua. Atas dasar itu, ahli fatrah selamat dari siksa neraka meskipun mereka mengubah dan mengganti keyakinan mereka, lalu menyembah berhala. Kalau ahli fatrah itu terbebas dari siksa neraka, tentu kita yakin bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selamat dari neraka karena keduanya termasuk ahli fatrah. Bahkan keduanya termasuk pemeluk Islam berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah menghidupkan keduanya setelah Nabi Muhammad diangkat sebagai rasul sehingga keduanya berkesempatan mengucapkan dua kalimat syahadat. Riwayat hadits ini shahih menurut sebagian ahli hakikat. Syekh Jalaluddin As-Suyuthi menulis sejumlah kitab terkait keselamatan kedua orang tua Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di akhirat. Semoga Allah membalas kebaikan Syekh Jalaluddin atas karyanya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Baijuri ala Matnis Sanusiyyah, Dar Ihya’il Kutub Al-Arabiyyah, Indonesia, Halaman 14). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini memyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Senin, 06 Desember 2021

KAJIAN TENTANG EMPAT (4) TINGKATAN DAN PERUMPAMAAN MEMBACA AL-QUR'AN

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 

الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Dari Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” (HR. Muslim).

Secara bahasa, Al-Qur'an adalah bentuk masdar dari qara'a (قرأ) yang berarti bacaan yang menjadi sumber hukum yang sifatnya abadi dan kekal. Al-Qur'an juga bermakna Al-Jam'u atau kumpulan karena terdiri dari sekumpulan surah dan ayat, memuat kisah-kisah, ilmu syariat dan penyempurna dari kitab sebelumnya.

Sebelum mendalami Al-Qur'an, umat Islam perlu mengetahui tingkatan dalam membaca Al-Qur'an. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa orang yang membaca Al-Qur'an akan mendapat ganjaran 1 huruf sama dengan 10 kebaikan. Berikut 4 tingkatan membaca Al-Qur'an :

*1. Tahqiq (التحقيق)*

Ini adalah tingkatan bagi pemula yang baru belajar ilmu tajwid. Cara membacanya seperti tartil, namun at-Tahqiq lebih lambat dan tenang. Bacaan at-Tahqiq seperti mazhab Qiraat Hamzah dan Qiraat Warsh yang bukan dari Tariq Asbahani. At-Tahqiq merupakan tahapan awal sebelum masuk ke tingkatan berikutnya.

*2. Tartil (الترتيل)*

At-Tartil menurut arti kata adalah perlahan-lahan. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, tartil berarti membaca sesuai hukum tajwid. Membaca dengan tartil akan membantu seseorang untuk memahami dan mentadabburi Al-Qur'an. Tartil juga diartikan membaca dengan memberikan hak-hak dan sifat-sifat. Membaca dengan tartil sanat dianjurkan sebagaimana firman Allah, 

وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا

"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil." (QS. Al-Muzzammil: 4).

*3. Tadwir (التدوير)*

Tadwir atau At-Tadwir adalah tingkatan pertengahan antara perlahan dan cepat. Bacaan dengan Tadwir ini sering kita dengar di dalam salat berjamaah. Bacaan Tadwir adalah membaca Mad Munfasil tidak lebih dari 6 harakat.

*4. Hadar (الحدر)*

Hadar atau Al-Hadar adalah bacaan cepat namun masih menjaga hukum-hukum tajwid. Al-Hadar merupakan tingkat bacaan paling cepat. Tingkatan ini sering dipakai oleh para penghafal Qur'an yang ketika mengulang hafalannya. Meskipun cepat, cara membacanya tetap mengindahkan hukum-hukum yang ada seperti apabila berdengung dia dengung, apabila wakaf dia berhenti. Bacaan Hadar adalah membaca Mad Munfasil dengan 2 harakat.

Menurut para ulama, bacaan yang paling afdhal adalah membaca dengan cara Tartil (perlahan-lahan) karena Al-Qur'an diturunkan secara tartil sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Muzammil ayat 4. Membaca dengan tartil juga memungkinkan seseorang mengeluarkan suara yang indah dan merdu, sehingga membuat bacaan lebih meresap di hati.

*Perumpamaan pembaca Al-Qur'an*

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan orang mu’min yang membaca al-Quran ialah seperti buah Utrujjah (الأُتْرُجَّةِ), baunya enak dan rasanya pun enak. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur'an ialah seperti buah kurma (التَّمْرَةِ), tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca al-Quran ialah seperti tumbuhan harum raihanah (الرَّيْحَانَةِ), baunya enak sedang rasanya pula pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur'an ialah seperti buah hanzhalah (الْحَنْظَلَةِ), tidak ada baunya dan rasanya pun pahit.” (HR. Bukhari, no. 5059)

Pembaca Al-Qur'an dalam hadits di atas terbagi menjadi 4 jenis. Yang pertama disebut Al-Utrujjah (jeruk lemon), yang kedua disebut At-Tamrah (kurma,), yang ketiga disebut Ar-Raihanah (bunga yang harum baunya tapi pahit rasanya) dan yang keempat disebut Al-Hanzhalah (buah mirip semangka tapi sebesar tomat). Setiap sebutan memiliki kualifikasinya masing-masing. Al-Utrujjah dan At-Tamrah menyangkut pribadi orang mukmin, sedangkan Ar-Raihanah dan Al-Hanzhalah menyangkut pribadi orang munafik.

Perumpamaan manusia terkait aktivitasnya dalam membaca Al-Qur'an ternyata masing-masing memiliki rasa dan aroma yang berbeda-beda. Namun bagaimana sebenarnya rupa dan rasa buah Utrujjah hingga dijadikan perumpamaan bagi orang mukmin yang membaca Al-Qur'an. Nama buahnya memang aneh. Pernahkah kita melihatnya atau bahkan mencicipinya?.

Buah Utrujjah merupakan buah yang sangat harum, warnanya juga sangat cantik sehingga menunjukkan bahwa buah tersebut bukanlah buah sembarangan, sewangi aromanya dan seindah warnanya, rasanya manis sekali, melengkapi keunggulan buah ini. dari jenis buah lainnya.

Buah yang ada di timur tengah ini umumnya dikenal dengan nama Utrujah (الأترجة). Meskipun buah ini memiliki nama yang berbeda di setiap negara. Utrujah adalah kata yang berasal dari dialek fush-ha (standar). Buah ini juga bisa disebut (متك) Mutk, atau di Syria disebut Kubbaad (كباد), sebaliknya di UAE disebut (شخاخ) Syikhookh. Di Mesir atau di Irak disebut Utrujah. Meskipun ada juga nama lain seperti Laymuun al Yahud (lemon Yahudi), atau juga Laymuun al 'Ajami (lemon non-Arab). Bahkan ada yang menyebut Laymuun al Firdausi (surga lemon).

Buah ini dipercaya berasal dari Asia Tenggara. Namun, buah ini banyak ditemukan di Maroko, seperti di Maroko. Buah ini juga disebutkan dalam Al-Qur'an. Dikatakan bahwa ketika Zulakha mengundang beberapa petinggi wanita Mesir untuk melihat Nabiyullah Yusuf 'alaihis salam. Zulaikha memberi mereka semua pisau dan Utrujah masing-masing. Setelah itu yang terjadi adalah seperti yang kita ketahui dalam kisah Nabi Yusuf yang diriwayatkan dalam Al-Qur'an.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani pernah mengomentari mengapa Utrujjah dipilih untuk tamtsil (perumpamaan) di atas. Hikmah dari spesialisasi Utrujjah sebagai tamtsil karena kulit Utrujjah dapat digunakan sebagai obat. Dari bijinya juga bisa dihasilkan minyak yang memiliki beragam manfaat. Ada juga yang mengatakan bahwa jin tidak akan mendekati rumah yang di dalamnya terdapat Utrujjah. Maka sangat tepat jika Al-Qur'an dibandingkan dengannya yang tidak akan didekati oleh setan.

Kulit bijinya berwarna putih yang juga sejalan dengan hati seorang mukmin. Beberapa fitur lainnya adalah bentuknya yang besar, penampilan yang cantik, warna yang menyenangkan, dan lembut saat disentuh. Saat dimakan rasanya enak, aromanya harum, mudah dikunyah dan juga bisa membersihkan perut.

Syekh Al-Mubarakfuri juga mengomentari buah ini, mengapa Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam mengkhususkan pada buah ini? Karena buah ini adalah yang terbaik yang dapat ditemukan di semua bagian alam.

Beberapa kekhususan terbesar buah Utrujjah ini penampilan bagus, memiliki rasa yang enak, lembut jika kita menyentuhnya, dapat "menghipnotis" siapa saja yang melihatnya, warnanya sangat cerah, menyenangkan bagi siapa saja yang memandangnya, menambah nafsu makan ketika melihatnya, memiliki manfaat setelah mengkonsumsinya, maka keempat indera penglihatan, rasa, penciuman, sentuhan-memperoleh manfaat yang dimilikinya.

Salah satu Syekh bernama al Azhim Ubadi berkata, "Mengapa Utrujjah dipilih? Karena Utrujjah merupakan kumpulan rasa dan aroma yang thoyyib, warnanya bagus, dan memiliki banyak manfaat. Dan tujuan perumpamaan dengan menggunakannya adalah sebagai penjelasan tentang kondisi seorang mukmin dan ketinggian amalnya (dalam tilawatul Quran). Wallahu  a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Minggu, 05 Desember 2021

KAJIAN TENTANG HUKUM MENGAKU KETURUNAN NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah berada di pertengahan dalam mencintai ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

أُذَكِّرُكم اللهَ في أهلِ بيتي، ثلاثًا 

“Dan terhadap ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku”. Beliau mengulang ucapannya sampai tiga kali” [HR. Muslim : 24028]

Seseorang yang mengaku habib sudah tidak asing lagi. Bahkan orang yang mengaku nabi dan malaikat pun banyak. Namun orang yang mengaku iblis belum ditemukan.

Banyak oknum yang mengaku sebagai habib hanya untuk kepentingan pribadinya, apakah karena ingin dihormati ataupun karena motif lain.

Keutamaan nasab adalah karunia Allah ‘Azza wa Jalla bagi siapa saja yang Allah kehendaki, dan hal itu diluar batas kemampuan makhluk untuk mengusahakannya, dari itu kita dilarang membangga-banggakan nasab atau kasta, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثلاثة من الجاهلية: الفخر بالأحساب والطعن في الأنساب والنياحة

“Ada tiga termasuk perkara Jahiliyyah; Bangga dengan kasta, mencela nasab, dan Niyahah (meratapi mayit).” (HR: Al-Thabrani, dan disebutkan Assuyuthi dalam Al-Jami’ush-Shaghir).

Dan karena nasab yang mulia bukanlah penentu dan jaminan seorang akan pasti selamat masuk surga dan mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ومن بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Siapa saja yang amalannya lambat maka nasabnya tidak akan mempercepat.” (HR: Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

معناه من كان عمله ناقصا لم يلحقه بمرتبة أصحاب الأعمال فينبغى أن لايتكل على شرف النسب وفضيلة الآباء ويقصر فى العمل

“Maknanya, siapa saja yang amalnya kurang maka ia tidak akan dapat menyusul level orang-orang yang beramal, maka semestinya ia tidak boleh bersandar di atas kemuliaan nasab dan keutamaan bapak-bapaknya sedangkan ia teledor dalam beramal.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 17/22-23)

Dan pada saat setelah perintah turun kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan peringatan kepada kerabatnya, Beliau bersabda,

يا فاطمة أنقذي نفسك من النار فإني لا أملك لكم من الله شيئا غير أن لكم رحما سأبلها ببلالها

“Wahai Fathimah selamatkan dirimu dari neraka, sesungguhnya aku tidak memiliki apa pun untuk kalian selain dari hubungan rahim yang akan terus aku sambung.” (HR: Muslim)

Inilah ketetapan mendasar dan akidah yang benar dalam syariat Islam dalam menyikapi penomena kesumringahan dan syubuhat sebagian oknum yang merasa paling terjamin dan berhak dengan Agama ini sehingga seolah kebenaran sudah pasti mutlak dan terjamin berada di sisi mereka, karena merasa label nasab yang mereka sandang sebagai keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

*Bahaya Mengaku Keturunan Nabi Tanpa Bukti*

Dan terlebih jika kejelasan nasabnya tidak valid sebagai keturunan nabi alias hanya mengaku-ngaku saja, maka tentu hal ini semakin menambah berat keadaan, sedangkan mengaku-ngaku diri sebagai keturunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada bukti jelas dan kuat, adalah kesalahan yang berat, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

عَنْ سَعْدِ بن أَبي وقَّاصٍ رضي اللَّه عَنْهُ أنَّ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ: مَن ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أنَّهُ غَيْرُ أبِيهِ فَالجَنَّةُ عَلَيهِ حَرامٌ”. متفقٌ عليهِ.

Dari Sa’d bin Abi Waqqash radliyallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Siapa saja yang mengaku kepada selain Bapaknya dan ia mengetahui bahwa orang itu bukanlah Bapaknya, maka surga haram atasnya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Hadits ini menunjukkan bahasan yang tengah kita bahas, yakni siapa saja yang mengaku dirinya keturunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berarti ia telah mengakui jika Bapaknya atau kakek tertinggi dan terjauhnya adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun jika pengakuan itu tidak terbukti, dan ia memang mengetahui kalau Bapak teratasnya bukanlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia terancam oleh ancaman yang ada di hadits ini.

Imam Assakhawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

عن مالك بن أنس رحمه الله قال ؛ من انتسب الى بيت النبي صلى الله عليه وسلم – يعني بالباطل – يضرب ضربا وجيعا ويشهر ويحبس طويلا حتى تظهر توبته لأنه إستخفاف بحق الرسول صلى الله عليه وسلم

“Dari Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Siapa saja yang menisbatkan diri kepada keluarga Nabi ﷺ (yaitu dengan cara batil) dipukul dengan pukulan yang menyakitkan dan dimasyhurkan dan ditahan dalam waktu yang lama sampai pertaubatannya nampak, karena hal itu adalah peremehan terhadap hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau juga berkata,

رحم الله مالكا كيف لو أدرك من يتسارع الى ثبوت ما يغلب على الظن التوقف في صحته من ذلك بدون تثبت غير ملاحظ ما يترتب عليه من الأحكام غافلا عن هذا الوعيد الذي كان معينا على الو قوع فيه . إما بثبوته ولو بالإعذار فيه طمعا في الشيئ التافة الحقير ، قائلا ؛ الناس مؤتمنون على أنسابهم وهذا لعمري توسع غير مرضي ومن هنا توقف كثير ممن أدركناه من قضاة العدل عن التعرض لذلك ثبوتا ونفيا للرهبة مما قدمته

“Semoga Allah merahmati Imam Malik, bagaimana gerangan jika beliau mendapatkan orang-orang yang tergesa-gesa menetapkan dengan tanpa validitas sesuatu yang dominan dalam sangkaan sebagai hal yang masih menggantung  (tawaqquf) kebenarannya, tanpa memperhatikan akibat hukum yang akan terjadi atasnya, dalam keadaan lalai dari ancaman ini, yang di mana hal ini dapat menjadi pendorong terjatuh ke dalamnya.

Yaitu entah dengan menetapkannya walau pun disertai pemberian keringanan di dalam menetapkannya karena keinginan yang keras terhadap sesuatu yang remeh dan hina, seraya berkata, “orang menjadi aman di atas nasab-nasab mereka”, dan hal ini sungguh-sungguh merupakan sikap pelonggaran yang tak diridlai, dan dari sinilah kemudian banyak dari kalangan Qadhi (hakim) yang adil yang telah kami jumpai mengambil sikap abstain  (tawaqquf) dari menangani hal itu baik sebagai orang yang akan menetapkan atau meniadakan karena takut dengan apa-apa yang telah kami utarakan sebelumnya.” (Istijlabu Irtiqa’il Ghuraf 630-631). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 03 Desember 2021

PELANTIKAN DAN MUSKER MWC NU CIPAYUNG JAKARTA TIMUR


https://youtu.be/d4UniMrUwvs

Acara Pelantikan Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Cipayung Jakarta Timur masa khidmat 2021-2026 berjalan lancar dan sukses. Acara pelantikan dilaksanakan di Aula Yayasan Islamic Centre Wasilah Shubuh Cilangkap Cipayung Jakarta Timur, Sabtu (4/12/21) pagi sampai selesai.

Pelantikan dan pembaiatan MWC dan Ranting NU dipimpin oleh Rais Syuriyah PCNU Jakarta Timur KH. Ibnu Mulkan, S.Sos.I. yang didampingi oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Jakarta Timur Gus Azaz Rulyaqien dan Sekjen PCNU Jakarta Timur Ust. Syarif Cahyono. 

Hadir dalam acara pelantikan tersebut Camat Cipayung, Lurah Cilangkap, Lurah Pondok Ranggon, Katib PWNU DKI Jakarta KH. Lukman Hakim Hamid, Banom NU Anshor, Muslimat Cipayung Tampak juga hadir anggota Polsek Cipayung, FKDM, RT/RW, alim ulama dan tokoh masyarakat setempat.

Ketua PCNU Jakarta Timur dalam sambutannya memberikan apresiasi atas usaha MWC NU Cipayung melaksanakan program-progamnya meski baru dilantik saat ini dan terealisasinya pembentukan delapan (8) Ranting, dan Gus Azaz sangat menekankan dalam konsolidasi masa NU dengan mendata warga NU untuk memiliki Kartanu, juga sebagai pengurus NU harus semangat dalam mensyiarkan majelis ta'lim dengan menjadi jamaah maupun sebagai pemateri dalam keberlangsungan syiar Aqidah Ahlussunah Wal Jama'ah an-Nahdliyah dan melalui Lailatul Ijtima' yang sudah berjalan harus mampu menghadirkan Umara dalam rangka sinergitas dalam membantu program pemerintah di segala lininya.

Satu hal yang menarik ketika menjadi pengurus NU kata Gus Azaz adalah komitmennya NU untuk selalu berpegang teguh kepada empat pilar kebangsaan sebagai pondasi negara yang terus dijaga dan dipelihara. Empat pilar itu adalah Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

"Sebagai warga NU mestinya kita harus bangga, karena kita sudah menjalankan apa yang telah dicita-citakan bangsa ini." Kata Gus Azaz Rulyaqien Ketua Tanfidziyah PCNU Jakarta Timur.

Mencermati situasi dan kondisi bangsa saat ini, dengan maraknya perebutan Masjid-Masjid NU, penyebaran paham radikal yang berafiliasi dengan kaum ekstrimis beliau mengingatkan kepada warga NU untuk mewaspadai gerakan tersebut. Warga NU jangan sampai terlibat dalam gerakan yang ekstrim.

"Mari kita hidup rukun dan damai. Saya juga berharap MWC NU harus mengembangkan kegiatan-kegiatan untuk warga masyarakat Cipayung, khususnya warga NU. Jadilah pengurus yang benar-benar mengurus NU. Jadilah pengurus yang kompak untuk memajukan NU," pinta Gus Azaz. (Asimun Mas'ud).

KAJIAN TENTANG SIFAT BIJAK MENYIKAPI HADITS DHA'IF DAN MAUDHU' DALAM BERDAKWAH

Dalam satu ceramah yang ditampilkan lewat YouTube channel Audio Dakwah, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan soal hadits palsu  dengan mengatakan, "Kita sering dengar, makan saat lapar berhenti sebelum kenyang, itu ternyata bukan hadits, bukan hadits, itu hadits palsu. Saking palsunya di kitab hadits palsu pun tidak ditemukan," kata UAH.

Sementara seorang ulama Timur Tengah (wahabi) Syeikh Abdul Aziz bin Baz sangat bijak dan arif dalam menjawab saat ditanya, "Bagaimana keshahihan hadits berikut,

نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع

“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.“

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab, "Hadits ini memang diriwayatkan dari sebagian sahabat yang bertugas sebagai utusan, namun sanadnya dhaif. Diriwayatkan bahwa para sahabat tersebut berkata dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع

“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.“

Maksudnya yaitu bahwa kaum muslimin itu hemat dan sederhana. Beliau melanjutkan,

هذا المعنى صحيح لكن السند فيه ضعيف. [يراجع في زاد المعاد والبداية لابن كثير]. وهذا ينفع الإنسان إذا كان يأكل على جوع أو حاجة، وإذا أكل لا يسرف في الأكل ، ويشبع الشبع الزائد، أما الشبع الذي لا يضر فلا بأس به

"Maknanya benar, namun sanadnya dhaif, silahkan periksa di Zaadul Ma’ad dan Al-Bidayah Wa An-Nihayah. Faidahnya, bahwa seseorang baru makan sebaiknya jika sudah lapar atau sudah membutuhkan. Dan ketika makan, tidak boleh berlebihan sampai kekenyangan. Adapun rasa kenyang yang tidak membahayakan, tidak mengapa. Karena orang-orang di masa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan masa selain mereka pun pernah makan sampai kenyang. Namun mereka menghindari makan sampai terlalu kenyang."

Maknanya memang benar sebagaimana dikuatkan dengan hadits dan penjelasan ulama yang lainnya. Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,

لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة

“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”. (Kitab Adab As-Syafi'i wa Manaqibih  hal. 78 Imam Ar-Razi, Ibnu Abi Hatim).  

Bahkan kekenyangan hukumnya bisa haram, Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,

وما جاء من النهي عنه محمول على الشبع الذي يثقل المعدة ويثبط صاحبه عن القيام للعبادة ويفضي إلى البطر والأشر والنوم والكسل وقد تنتهي كراهته إلى التحريم بحسب ما يترتب عليه من المفسدة

“Larangan kekenyangan dimaksudkan pada kekenyangan yang membuat penuh perut dan membuat orangnya berat untuk melaksanakan ibadah dan membuat angkuh, bernafsu, banyak tidur dan malas. Bisa jadi hukumnya berubah dari makruh menjadi haram sesuai dengan dampak buruk yang ditimbulkan (misalnya membahayakan kesehatan)." (Fathul Bari Ibnu Hajar 7258/10164)

Secara medis, makan tidak hanya memberi energi bagi tubuh, setiap asupan makanan yang masuk ke dalam perut akan memengaruhi suasana hati. Logikanya, jika seseorang makan dengan takaran yang tidak tepat atau berlebihan maka perut terasa sesak dan sakit sehingga malas beraktivitas.

Dalam hadits disebutkan, 

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

“Tidaklah sekali-sekali manusia memenuhi sebuah wadah pun yang lebih berbahaya dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika ia harus mengisinya, maka sepertiga (bagian lambung) untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk napasnya (udara).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Imam al-Suyuthi dalam bukunya yang berjudul al-Rahmah fi al-Thibb wa al-Hikmah, ada empat orang dokter ahli berkumpul di istana Raja Persia. Empat dokter ini masing-masing dari Irak, Romawi, India, dan Sudan. Di antara keempat dokter ini yang paling cerdas adalah dokter dari Sudan. 

Kepada keempat dokter ini, raja meminta resep atau obat-obatan yang paling manjur dan tidak membawa efek samping. Dokter dari Irak mengatakan, obat yang tidak membawa efek samping adalah minum air hangat tiga teguk setiap pagi, ketika bangun tidur.

Dokter dari Romawi mengatakan, obat yang tidak membawa efek samping adalah menelan biji rasyad (sejenis sayuran) setiap hari. Sedangkan dokter dari India mengatakan, obat yang tidak membawa akibat sampingan adalah memakan tiga biji ihlilaj yang hitam tiap hari. Ihliljaj adalah sejenis gandum yang tumbuh di India, Afghanistan, dan China.

Ketika tiba giliran dokter dari Sudan berbicara, dia diam saja. Kemudian raja bertanya, “Mengapa kamu diam saja?”

“Wahai Tuanku, air hangat itu dapat menghilangkan lemak ginjal dan menurunkan lambung. Biji rasyad dapat membuat kering jaringan tubuh. Dan ihlilaj juga dapat membuat kering jaringan tubuh yang lain.”

“Kalau begitu menurutmu, obat apa yang tidak mengandung efek samping?”

Dokter dari Sudan itu menjawab, “Wahai Tuanku, obat yang tidak mengandung efek samping adalah Anda tidak makan kecuali saat lapar. Dan apabila Anda makan, angkatlah tangan Anda sebelum Anda merasa kenyang. Apabila hal itu Anda lakukan, maka Anda tidak akan terkena penyakit kecuali penyakit mati.”

Penelitian modern juga menunjukkan bahwa makan secara cukup (tidak berlebihan) juga berdampak bagi umur seseorang. Penemuan Kalluri Suba Rao, ahli biologi melekuler membuktikan, makan sedikit memungkinkan tubuh untuk lebih berkonsentrasi memperbaiki dirinya sendiri, sehingga kegiatan perbaikan DNA , membuang zat-zat toksin keluar tubuh, dan regenerasi sel-sel rusak dengan sel sehat dapat berlangsung lebih optimal.

Sedangkan bila kita makan banyak melebihi batasan, maka tubuh akan lebih sibuk dengan kegiatan metabolisme (menguraikan makanan-makanan itu dalam tubuh) dan tidak sempat memperbaiki dirinya sendiri. Inilah salah satu pengundang berbagai penyakit yang dapat memperpendek umur manusia. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN SYUKURAN ACARA KEHAMILAN 7 BULANAN BID'AHKAH?

 

Acara 7 bulanan kehamilan dalam adat jawa disebut dengan *"mitoni",* acara disebut juga dengan *"tingkepan",* berasal dari bahasa jawa dari kata dasar : *"tingkep" = sing dienti-enti wis mathuk jangkep* (yang ditunggu-tunggu sudah hampir sempurna), karena pada masa ini umur kandungan sudah mendekati masa kelahiran. 

Acara 7 bulanan atau tingkepan itu memang tak ada dalil khususnya dan tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, namun boleh dikerjakan, bahkan hukumnya sunat apabila dikerjakan untuk menampakkan rasa gembira dan syukur atas nikmat Allah, apalagi bila disertai dengan sedekah. Dan tentu saja acara ini diperbolehkan selama tidak terdapat hal yg dilarang dalam prosesi acara tersebut. 

Salah satu dalil yang melandasi iringan dia kehamilan adalah firman Allah Ta'ala, 

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata, "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". [QS. Al-A’raaf: 189]

Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut,

ينبه تعالى على أنه خلق جميع الناس من آدم، عليه السلام، وأنه خلق منه زوجته حواء، ثم انتشر الناس منهما، { فَلَمَّا تَغَشَّاهَا } أي: وطئها { حَمَلَتْ حَمْلا خَفِيفًا } وذلك أول الحمل، لا تجد المرأة له ألما، إنما هي النُّطفة، ثم العَلَقة، ثم المُضغة.

وقوله: { فَمَرَّتْ بِهِ } قال مجاهد: استمرت بحمله. وروي عن الحسن، وإبراهيم النَّخَعَي، والسُّدِّي، نحوه.

وقال ميمون بن مهران: عن أبيه استخفته.

{ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا } أي: بشرا سويا، كما قال الضحاك، عن ابن عباس: أشفقا أن يكون بهيمة.

"Allah menjelaskan bahwa seluruh manusia berawal dari Nabi Adam as. Dan daripadanya diciptakan istrinya Hawa, kemudian dari keduanya manusia menjadi banyak [menyebar], {Maka setelah dicampurinya}yakni bersenggama {istrinya itu mengandung kandungan yang ringan}dan itu adalah awal kehamilan, wanita tdk [belum] merasakan kesakitan [kepayahan] sesungguhnya masih berbentuk seperma, kemudian menjadi darah kemudian menjadi daging.

Dan Firman Allah : {dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu)} Mujahid berkata, kehamilannya berjalan dgn terasa ringan, diriwayatkan dari Hasan, Ibrahim An-Nakha-i, As-Sa'di dan lainnya.

Firman Allah tentang do’a Nabi Adam as dan Hawa: {keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata, "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna} yakni manusia yg sempurna [tdk cacat] sebagaimana perkataan Adz-Dzihak dari Ibnu Abbas ra. karena keduanya [Nabi Adam as dan Hawa] hawatir anaknya itu adalah [berbentuk] binatang." (Tafsir Ibnu Katsir)

Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya mengatakan bahwa,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ سُمْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "وَلَمَّا وَلَدَتْ حَوَّاءُ طَافَ بِهَا إِبْلِيسُ -وَكَانَ لَا يَعِيشُ لَهَا وَلَدٌ -فَقَالَ: سَمِّيهِ عَبْدَ الْحَارِثِ؛ فَإِنَّهُ يَعِيشُ، فَسَمَّتْهُ عَبْدَ الْحَارِثِ، فَعَاشَ وَكَانَ ذلك من وحي الشَّيْطَانِ وَأَمْرِهِ".

"Telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yg telah bersabda, "Ketika Hawa melahirkan, iblis berputar-putar mengelilinginya, dan Hawa tidak pernah mempunyai anak yg tetap hidup. Lalu iblis berkata, "Namailah dia Abdul Haris. maka sesungguhnya dia akan hidup.” Lalu Hawa menamai anaknya Abdul Haris. dan ternyata anaknya tetap hidup. Hal tersebut berasal dari inspirasi dan perintah setan." (HR. Ahmad)

Adapun jika bayi dari kehamilan tersebut telah dilahirkan ada kesunahan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana hadits riwayat Imam At-Tabrani dalam kitab Al-Ausath dari Ibnu Abbas sebagai berikut,

سَبْعَةٌ مِنَ السُّنَّةِ فِي الصَّبِيِّ يَوْمَ السَّابِعِ: يُسَمَّى وَيُخْتَنُ وَيُمَاطُ عَنْهُ الأَذَى وَيُثْقَبُ أُذُنُهُ وَيُعَقُّ عَنْهُ وَيُحْلقُ رَأْسهُ وَيُلَطَّخُ بِدَمِ عَقِيقَتِهِ وَيُتَصَدَّقُ بِوَزْنِ شَعْرِهِ مِنْ رَأْسِهِ ذَهَبًا أَوْ فِضَّةً

"Tujuh hal yang termasuk Sunnah bagi bayi pada hari ketujuh adalah; 

(1) diberi nama, 

(2) dikhitan dan dihilangkan kotoran darinya, 

(3) dilubangi daun telinganya, 

(4) di‘aqiqahi, 

(5) dicukur rambutnya, 

(6) dilumuri darah hewan ‘aqiqahnya, dan 

(7) bersedekah dengan emas atau perak seberat rambutnya." (HR. Thabrani)

Menurut ulama, yang dimaksud bersedekah dengan emas atau perak seberat rambut yang dipotong bisa juga dimaknai berupa uang tunai yang seharga emas tersebut. Jadi, tidak harus berupa emas atau perak.

Dalam hal ini Al-Imam Al-Hafizh An-Nawawi (seorang ulama ahli hadits dan fiqih madzhab al-Syafi’i), menjelaskan,

يُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ أَمَامَ الْحَاجَاتِ مُطْلَقًا. (المجموع شرح المهذب ٤/٢٦٩). 

وَقَالَ أَصْحَابُنَا: يُسْتَحَبُّ اْلإِكْثَارُ مِنَ الصَّدَقَةِ عِنْدَ اْلأُمُوْرِ الْمُهِمَّةِ. (المجموع شرح المهذب ٦/٢٣٣).

“Disunnahkan bersedekah sekedarnya ketika mempunyai hajat apapun." (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 4, hal. 269). 

"Para ulama kami berkata, “Disunnahkan memperbanyak sedekah ketika menghadapi urusan-urusan yang penting.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 6, hal. 233). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*