MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Jumat, 29 Desember 2023

MWC NU CIPAYUNG; ISTIGHOTSAH AKHIR TAHUN 2023

Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kec. Cipayung di penghujung tahun 2023 ini Sabtu, 30 Desember 2023 mengadakan giat Istighotsah Akhir Tahun 2023 yang dilaksanakan di GOR Andi Malarangeng Jl. Raya Cilangkap RT 04/04 Cilangkap -Cipayung Kota Administrasi Jakarta Timur dan bertepatan dengan Istighosah yang dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta yang dilaksanakan di Masjid Istiqlal.

Dalam acara ini dihadiri sesuai undangan oleh aparatur pemerintahan dan aparatur negara, ormas dan warga masyarakat sekitar, diantaranya Camat Cipayung, Lurah se-Kec. Cipayung, Kapolsek Cipayung, Danramil 07 Cipayung, Ketua DMI Cipayung, Ketua FK ULUM Kec. Cipayung, Ketua FORKABI DPC Cipayung, Ketua LPTQ Kec. Cipayung, Pengurus Brother Hood Munjul, Pengurus Bang Japar Cipayung, MUI Kec Cipayung, Ketua PANWASCAM Cipayung, Ketua PPK Cipayung dan yang lainnya disamping hadir jajaran Mustasyar, Rois Syuriah dan Tanfidziah MWC NU juga segenap pengurus PRNU dan jama'ah se-Kec. Cipayung - Jakarta Timur.

Istighotsah kali ini diawali dengan lantunan lagu Indonesia Raya dan Yaa Lal Wathon oleh Muslimat Cipayung dilanjutkan dengan lantunan Kalam Ilahi, dan kemudian acara inti do'a untuk negeri dalam Pemilu Damai yaitu Istighotsah Akhir Tahun 2023 yang dipimpin langsung oleh Katib PWNU DKI Jakarta KH. Lukman Hakim Hamid Pengasuh PP Al-Hamid Cilangkap - Cipayung - Jakarta Timur.

Di penghujung acara ini ada beberapa sambutan diantaranya dari Ibu Heni Hermayani, S.AM. MM. Wakil Camat Cipayung mengharapkan agar warga masyarakat khususnya warga nahdliyin Cipayung mampu berkontribusi dalam menciptakan kondusifitas Pemilu Damai 2024 dan ditutup dengan doa oleh Ust.H.Dindin Abdul Hamid.

Itulah rangkaian acara Istighotsah Akhir Tahun 2023 MWC NU Cipayung - Jakarta Timur semoga Allah Ta'ala meridhoi. Aamiin (Asimun Mas'ud.red)

Kamis, 19 Oktober 2023

KAJIAN TENTANG PENJELASAN BENARKAH GAMBAR NABI ISA ALAIHISSALAM DAN MARIAM DI DALAM KA'BAH

Beredar kembali sebuah video viral berbahasa arab yang mengulas tentang gambar yang dibiarkan berada dalam ka'bah waktu fathul Makkah, dan sekitar tahun 2021 pernah disampaikan pula bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menghapus gambar nabi Isa dan Maryam dari dalam Ka'bah oleh seorang Buya Syakur dalam sebuah ceramah, lalu viral, dan akhirnya menjadi kontroversial di tengah umat Islam.

Perlu diketahui, seluruh riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan keberadaan gambar atau lukisan nabi Isa dan ibunya ‘alaihimassalam di dalam Ka'bah, satu pun tidak terdapat dalam kitab hadits yang muktabar.

Tidak terdapat dalam kitab-kitab sunan dan musnad yang masyhur, dalam Kutubus Sittah, dan dalam kitab-kitab yang biasa dipakai oleh para ulama sebagai hujah.

Riwayat-riwayat itu hanya terdapat dalam kitab-kitab sejarah yang sebagiannya tidak diketahui identitas penulisnya (majhul) dan tentunya bukan kitab-kitab sejarah yang muktabar.

Sumbernya ada, yaitu Akhbar Makkah karya Al Azraqi, dan Al Maghazi karya Al Waqidi. Sebagaimana layaknya kitab-kitab hadits dan sejarah dalam Islam yang penulisnya tidak hidup di masa kenabian, maka mereka menyampaikannya dalam bentuk periwayatan, bukan kesaksian langsung dengan mata kepala.

Dengan demikian untuk mengatakan otentik sebuah sejarah, haruslah dilakukan pengujian validitas berupa pemeriksaan sanad (mata rantai) dari riwayat yang ingin diteliti kebenarannya. Jika ternyata setelah diteliti riwayatnya lemah atau bahkan palsu, maka tidaklah dapat dikatakan sebagai sejarah yang otentik.

Terkait riwayat dalam referensi-referensi sejarah, ada sebuah rambu-rambu yang digariskan oleh al-Hafizh al-Iraqi kepada para penuntut ilmu dalam bait Alfiyah yang beliau gubah,

ولِيَعْلمِ الطَّالبُ أنَّ السّيَرَا # تَجمَعُ مَا صحَّ وَمَا قدْ أُنْكَرَا. 

والْقَصْدُ ذِكْرُ مَا أَتَى أَهْلُ السّيَرْ # بِهِ، وإنْ إِسْنَادُهُ لَمْ يُعْتَبَر

“Hendaknya penutut ilmu tahu bahwa sejarah, menghimpun riwayat yang shahih dan yang mungkar."

"Karena tujuan adalah menyampaikan ucapan pakar sejarah, meski sanadnya tidak muktabar.” (Alfiyah as-Sirah an-Nabawiyah, Abdurrahim bin al-Husain al-Iraqi, 29)

Setiap muslim tidak boleh menelan bulat-bulat seluruh riwayat sejarah, karena banyaknya percampuran riwayat yang shahih dan mungkar di dalamnya.

Sebab, riwayat-riwayat yang fokus pada sejarah umumnya berorientasi untuk menyingkap sejarah dan peristiwa sejarah itu sendiri melalui pandangan para pakar sejarah, sehingga tidak begitu menaruh perhatian pada jalur periwayatan (sanad).

Alangkah bagusnya ucapan Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah,

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, semua orang bebas berbicara (tentang riwayat) semaunya.” (Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisamburi, I/15)

Diantara sejarah yang menjelaskan hal tersebut ialah Al-Azraqi seorang tabi'in pernah meriwayatkan 4 hadits dalam karyanya Akhbaru Makkah yang kesemua sanadnya munqathi' (terputus) dan mursal (tidak tersambung dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) dan bertentangan dengan hadits shahih. Satu dari riwayat tersebut adalah,

وَحَدَّثَنِي جَدِّي، قَالَ: حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: أَخْبَرَنِي بَعْضُ الْحَجَبَةِ، عَنْ مُسَافِعِ بْنِ شَيْبَةَ بْنِ عُثْمَانَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَا شَيْبَةُ، امْحُ كُلَّ صُورَةٍ فِيهِ إِلَّا مَا تَحْتَ يَدِي. قَالَ: فَرَفَعَ يَدَهُ عَنْ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأُمِّهِ

“Kakekku menceritakan kepadaku. Ia mengatakan, Dawud bin Abdurrahman menceritakan kepada kami. Ia berkata, sebagian juru kunci Kakbah mengabarkan kepadaku, dari Musafi’ bin Syaibah bin Utsman, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Syaibah, hapuslah seluruh gambar di dalam baitullah, kecuali yang berada di bawah tanganku ini.’ Beliau pun mengangkat tangan beliau yang menutupi gambar nabi Isa putra Maryam dan ibunya.” (Akhbaru Makkah, Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Azraqi, 1/137)

Imam al-Azraqi sendiri selaku periwayat hadits ini dalam kitabnya Akhbaru Makkah tidak mengetahui keadaan siapa sahabat nabi yang menjadi sanad hadits (munqathi'/terputus) atau tidak jelas status keperawiannya, dan ini menjadi ganjil, karena berbeda versi dengan yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Tarikh beliau,

مُسَافِعُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ شَيْبَةَ بْنِ عُثْمَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا شَيْبَةُ امْحُ كُلَّ صُورَةٍ فِي الْبَيْتِ

“Musafi’ bin Abdullah, dari Syaibah bin Utsman, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Syaibah, hapuslah seluruh gambar di Baitullah!” (At-Tarikh al-Kabir, Imam al-Bukhari, 8/70)

Ditegaskan pula oleh al-Allamah al-Muallimi rahimahullah mengenai ketsiqahan al-Azraqi,

وَلَكِنَّ الْأَزْرَقَيَّ نَفْسَهُ لَمْ يُوَثِّقُهُ أَحَدٌ مِنْ أَئِمَّةِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ، وَلَمْ يَذْكُرْهُ الْبُخَاَرِيُّ، وَلَا ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، بَلْ قَالَ الْفَاسِي فِي تَرْجَمَتِهِ مِنَ الْعَقْدُ الثَّمِينِ: لَمْ أَرَ مَنْ تَرْجَمَهُ. فَهُوَ عَلَى قَاعِدَةِ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ: مَجْهُولُ الْحَالِ

“Namun al-Azraqi sendiri tidak ditsiqahkan oleh seorang ulama pun yang berkapasitas dalam memberikan penilaian negatif (jarh) maupun positif (ta’dil). Al-Bukhari tidak menyebutnya, demikian juga Ibnu Abi Hatim. 

Bahkan Imam Alfasi menyebutkan pada biografi tentangnya dalam al-Aqd ats-Tsamin, ‘Aku belum mendapatkan orang yang menjelaskan tentangnya.’ Maka al-Azraqi termasuk dalam rambu-rambu para imam hadits, yaitu majhul hal.” (Maqam Ibrahim, al-Muallimi, 56)

Sejatinya sejarah yang salah satunya disampaikan oleh al-Azraqi diatas sudah terpatahkan dan gugur karena bertentangan dengan hadits yang jelas-jelas shahih tanpa diragukan lagi keshahihannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari dengan tegas keberadaan gambar atau lukisan manusia di dalam Ka'bah. Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، أَنَّ بُكَيْرًا، حَدَّثَهُ عَنْ كُرَيْبٍ، مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ البَيْتَ، فَوَجَدَ فِيهِ صُورَةَ إِبْرَاهِيمَ، وَصُورَةَ مَرْيَمَ، فَقَالَ أَمَا لَهُمْ، فَقَدْ سَمِعُوا أَنَّ المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ، هَذَا إِبْرَاهِيمُ مُصَوَّرٌ، فَمَا لَهُ يَسْتَقْسِمُ

“Yahya bin Sulaiman menceritakan kepada kami. Ia berkata, Ibnu Wahb menceritakan kepadaku. Ia berkata, Amru (bin al-Harits) mengabarkanku bahwa Bukair menceritakan kepadanya dari Kuraib maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ia berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasuki Baitullah (Ka'bah).

Beliau pun menemukan adanya lukisan Ibrahim ‘alaihissalam dan lukisan Maryam ‘alaihassalam di dalamnya. Beliau pun bersabda, “Mengapa dengan mereka, padahal mereka telah mendengar bahwa para malaikat tidak akan memasuki rumah yang terdapat lukisan di dalamnya?! Ini justru Ibrahim dijadikan sebagai lukisan (dengan memegang busur panah), padahal ia tidak pernah mengundi nasib (dengan anak panah).”(HR. Al-Bukhari No. 3351)

Imam Abu Dawud rahimahullah menceritakan,

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ، أَنَّ إِسْمَاعِيلَ بْنَ عَبْدِ الْكَرِيمِ، حَدَّثَهُمْ، قَالَ: حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ عَقِيلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ، عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ زَمَنَ الْفَتْحِ وَهُوَ بِالْبَطْحَاءِ أَنْ يَأْتِيَ الْكَعْبَةَ، فَيَمْحُوَ كُلَّ صُورَةٍ فِيهَا، فَلَمْ يَدْخُلْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى مُحِيَتْ كُلَّ صُورَةٍ فِيهَا

“Al-Hasan bin ash-Shabbah menceritakan kepada kami bahwa Ismail bin Abdul Karim menceritakan kepada mereka. Ia berkata, Ibrahim yakni Ibnu ‘Aqil menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Wahb bin Munabbih, dari Jabir,

‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu pada saat Fathu (Makkah) ketika Umar masih di wilayah gurun pasir untuk mendatangi Ka'bah. Umar pun menghapus seluruh gambar di dalam Ka'bah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memasuki Kakbah sampai seluruh gambar di dalamnya dihapuskan semuanya.” (HR. Abu Dawud No. 4156)

Imam al-Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَارِثِ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ أَبَى أَنْ يَدْخُلَ البَيْتَ وَفِيهِ الآلِهَةُ، فَأَمَرَ بِهَا فَأُخْرِجَتْ، فَأَخْرَجُوا صُورَةَ إِبْرَاهِيمَ، وَإِسْمَاعِيلَ فِي أَيْدِيهِمَا الأَزْلاَمُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَاتَلَهُمُ اللَّهُ، أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّهُمَا لَمْ يَسْتَقْسِمَا بِهَا قَطُّ». فَدَخَلَ البَيْتَ، فَكَبَّرَ فِي نَوَاحِيهِ، وَلَمْ يُصَلِّ فِيهِ

“Abu Ma’mar menceritakan kepada kami, Abdul Waris menceritakan kepada kami, Ayyub (as-Sikhtiyani) menceritakan kepada kami, Ikrimah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ia mengatakan,

‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala tiba (di Makkah), beliau menolak untuk memasuki Ka'bah karena adanya gambar berhala-berhala di dalamnya. Nabi pun memerintahkan agar gambar-gambar itu dikeluarkan. Para sahabat pun mengeluarkan gambar Ibrahim dan Ismail dalam keadaan busur panah (untuk mengundi) ada di tangan keduanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Semoga Allah membinasakan mereka (kaum musyrik). Demi Allah, sungguh mereka tahu bahwa keduanya (Ibrahim dan Ismail) tidak mengundi dengan anak panas sedikit pun.”

Beliau lalu memasuki Ka'bah, bertakbir di setiap sudut-sudutnya, dan tidak shalat di dalamnya.” (HR. Al-Bukhari No. 1601)

Kesimpulannya, seluruh riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam Ka'bah sebelum seluruh gambar di dalamnya dikeluarkan atau masuk ke dalam Ka'bah dalam keadaan gambar masih ada dan atau bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menemukan adanya gambar nabi Isa putra Maryam dan ibunya ‘alaihimassalam di dalam Ka'bah swmuanya riwayat lemah dan mungkar.

Sebab hadits-hadits shahih yang dapat dipastikan keshahihannya hanya menyebutkan bahwa Rasulullah hanya menemukan gambar Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam di dalam Ka'bah, bukan gambar nabi Isa dan ibunya ‘alaihimassalam.

Dengan adanya seluruh fakta ini, maka gugurlah klaim dan asumsi bahwa Rasulullah tidak menghapus gambar nabi Isa dan Maryam dari dalam Ka'bah. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 12 Oktober 2023

KAJIAN TENTANG HUKUM PENETAPAN NASAB BERDASARKAN TES DNA (Deoxyrebose Nucleic Acid)

Islam sangat memelihara masalah keturunan, karena itu Islam mengajarkan agar hubungan tetap terjaga murni sehingga orang tua dapat mengetahui dengan benar siapa anaknya. Dalam hukum Islam asal-usul seorang anak (nasab) dapat diketahui dari salah satu diantara tiga sebab, yaitu al-firasy, iqrar dan bayyinah. Dalam bidang kedokteran untuk mengetahui masalah nasab dapat melalui tes DNA.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتِ اخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِيْ وَقَّاصٍ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فِيْ غُلاَمٍ فَقَالَ سَعْدٌ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ ابْنُ أَخِيْ عُتْبَةَ بْنِ أَبِيْ وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابْنُهُ انْظُرْ إِلَى شَبَهِهِ وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ هَذَا أَخِيْ يَا رَسُولَ اللهِ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِيْ مِنْ وَلِيدَتِهِ فَنَظَرَ رَسُولُ اللهِ  :  إِلَى شَبَهِهِ فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ وَاحْتَجِبِيْ مِنْهُ يَا سَوْدَةُ بِنْتَ زَمْعَةَ فَلَمْ تَرَهُ سَوْدَةُ قَطُّ

(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)

“Dari Aisyah rah. ia berkata, “Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abd bin Zam’ah berselisih tentang seorang anak lelaki. Kata Sa’ad, “Ya Rasulallah, ini anak saudara laki-laki saya ‘Utbah bin Abi Waqqash. Ia telah berpesan kepadaku bahwa bocah tersebut adalah anaknya. Lihatlah kemiripan bocah ini. Akan tetapi Abd bin Zam’ah berkata, “Bocah ini saudara laki-laki saya wahai Rasulallah, ia dilahirkan dari hubungan badan ayahku dengan budak wanitanya.” Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meneliti kemiripannya, maka beliau melihat anak itu sangat mirip dengan ‘Utbah, lalu beliau bersabda, “Anak ini saudaramu wahai Abd bin Zam’ah, seorang anak adalah milik orang yang berhubungan badan di tempat tidur, sedangkan bagi orang yang berzina mendapat kerugian, dan pakailah tirai darinya wahai Saudah binti Zam’ah. Sejak saat itu Saudah tidak pernah melihat anak itu lagi.” (HR. Bukhari)  

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ : دَخَلَ عَلَيْهَا مَسْرُورًا تَبْرُقُ أَسَارِيرُ وَجْهِهِ فَقَالَ أَلَمْ تَرَىْ أَنَّ مُجَزِّزًا نَظَرَ آنِفًا إِلَى زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَقَالَ هَذِهِ اْلأَقْدَامُ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ قَالَ أَبُوْ عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَى ابْنُ عُيَيْنَةَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ وَزَادَ فِيهِ أَلَمْ تَرَ أَنَّ مُجَزِّزًا مَرَّ عَلَى زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَدْ غَطَّيَا رُءُوسَهُمَا وَبَدَتْ أَقْدَامُهُمَا فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ اْلأَقْدَامَ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَهَكَذَا حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدِ احْتَجَّ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِهَذَا الْحَدِيثِ فِي إِقَامَةِ أَمْرِ الْقَافَةِ

(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Dari A’isyah rah. ia berkata, “Sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengunjunginya dengan keadaan suka cita, guratan kegembiraan nampak di wajah beliau. Lalu beliau bersabda, “Tidakkah kamu tadi melihat Mujazzir (seorang ahli nasab) memandang  Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid, lalu berkata: “Kaki-kaki ini memiliki kesamaan antara satu dengan yang lain.” Abu Isa (Tirmidzi) berkata, “Ini merupakan hadits hasan shahih.” Dan sungguh Ibn ‘Uyainah meriwayatkan hadits ini dari al-Zuhri dari Urwah dari Aisyah, dengan tambahan, “Tidakkah kamu melihat Mujazzir melintas di depan Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid saat kepala mereka tertutup dan terlihat kakinya. Lalu ia berkata: “Sesungguhnya kaki-kaki ini memiliki kesamaan antara satu dengan yang lain.” Demikianlah Sa’id bin Abdirrahman dan lebih dari seorang perawi menceritakan hadits ini kepada kami, dari Sufyan bin Uyaynah, dari al-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah. Dan ini merupakan hadis shahih, sebagian ulama telah menjadikan hadits ini sebagai hujjah dalam masalah qiyafah." (HR. Tirmidzi)  

فَأَقْصَى اْلإِمْكَانِ فِيْ ذَلِكَ أَنَّ الرَّسُوْلَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ لَوْ لَمْ يَكُنْ مُعْتَقِدًا قَبُوْلَ قَوْلِ الْقَائِفِ لَعَدَّهُ مِنَ الزَّجْرِ وَالْفَأْلِ وَالْحَدْسِ وَالتَّخْمِيْنِ، وَلَمَا أَبْعَدَ أَنْ يُخْطِئَ فِيْ مَوَاضِعَ وَإِنْ أَصَابَ فِيْ مَوَاضِعَ، فَإِذَا تَرَكَهُ وَلَمْ يَرُدَّهُ كَانَ الْكَلاَمُ عَلَى اْلأَنْسَابِ بِطَرِيْقِ الْقِيَافَةِ، فَهَذَا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ قَدْ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ مُسْتَنَدُ اْلأَنْسَابِ، فَهَذَا هُوَ الْمُمْكِنُ فِيْ ذَلِكَ

"Kemungkinan paling maksimal dalam hal tersebut adalah bahwa andaikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallah tidak meyakini informasi ahli nasab, tentu beliau menganggapnya sebagai larangan, asumsi, perkiraan, dan taksiran, dan tentu akan sering dalam tidak tepat dalam beberapa kesempatan, meski bisa tepat dalam kesempatan lain. Maka ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membiarkan dan tidak menolaknya, maka pembahasan tentang nasab itu berdasarkan teori qiyafah. Maka penerimaan ahli nasab dari kajian tersebut bisa menunjukkan, bahwa qiyafah adalah dasar penentuan nasab, dan demikian yang mungkin dalam masalah tersebut." (Abdul Malik al-Juwaini/Imam Haramain, al-Burhan fi Ushul al-Fiqh, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1997) h. 188). 

وَالْمَقْصُوْدُ أَنَّ أَهْلَ الْقِيَافَةِ كَأَهْلِ الْخِبْرَةِ وَأَهْلِ الْخَرْصِ وَالْقَاسِمِيْنَ وَغَيْرِهِمْ مِمَّنْ اعْتِمَادُهُمْ عَلَى اْلأُمُوْرِ الْمُشَاهَدَةِ الْمَرْئِيَّةِ لَهُمْ وَلَهُمْ فِيْهَا عَلاَمَاتٌ يَخْتَصُّوْنَ بِمَعْرِفَتِهَا مِنَ التَّمَاثُلِ وَاْلاخْتِلاَفِ وَالْقَدْرِ وَالْمَسَاحَةِ وَأَبْلَغُ مِنْ ذَلِكَ النَّاسُ يَجْتَمِعُوْنَ لِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ فَيَرَاهُ مِنْ بَيْنِهِمْ الْوَاحِدُ وَاْلإِثْنَانِ فَيُحْكَمُ بِقَوْلِهِ أَوْ قَوْلِهِمَا دُوْنَ بَقِيَّةِ الْجَمْعِ

"Yang dimaksud adalah sungguh ahli qiyafah itu seperti pakar bidang tertentu, juru taksir, juru pembagi, dan semisalnya dari orang-orang yang berpedoman pada perkara yang bersifat kasat mata dan bisa dilihat mereka. Dalam hal tersebut mereka memiliki tanda-tanda yang secara khusus diketahui mereka, yaitu kemiripan, perbedaan, taksiran, dan ukuran luas. Yang lebih mendalam dari hal itu adalah orang-orang yang berkumpul untuk melihat hilal, ketika satu atau dua orang di antara mereka melihatnya, maka diputuskan dengan informasi satu atau dua orang tadi, tanpa informasi dari selainnya." (Ibn Qayyim al-Jauziyah, al-Thuruq al-Hukmiyah fi al-Siyasah al-Syari’ah, (Kairo: Dar al-Hadits, 2000), hal.139). 

 بِدِقَّتِهَا وَصِحَّتِهَا مَوْضُوْعُ نَظَرٍ لِأَنَّ تَشَابُهَ فَصَائِلَ الدَّمِ بَيْنَ شَخْصٍ وَآخَرَ أَمْرٌ وَارِدٌ مَعَ إِمْكَانِيَّةِ خَطَأِ التَّحَالِيْلِ وَتَزْوِيْرِهَا، وَلِذَلِكَ فَإِنَّ اْلإِسْتِعَانَةَ بِهَذِهِ الْقَرِيْنَةِ فِي النَّفْيِ وَلَيْسَتْ فِي اْلإِثْبَاتِ

"Terkadang hasil penelitian laborat bisa memberi manfaat, hanya saja detail dan kebenaran secara pasti masih menjadi bahan diskusi, dikarenakan kemiripan golongan darah antara seseorang dengan orang lain merupakan hal yang bisa saja terjadi, di samping masih terbukanya kemungkinan kesalahan hasil analisa laborat dan terjadinya pemalsuan. Oleh karena itu penggunaan sarana ini hanya untuk meniadakan hubungan garis keturunan saja, dan tidak untuk digunakan dalam menetapkan hubungan garis keturunan (nasab)." (Shalih Ali Nashir, dkk, Tharaiq al-Hukm fi al-Syar’iyah al-Islamiyah, hal.350).

Singkatnya, penggunaan teknologi tes DNA dalam menentukan hubungan keturunan (nasab) bisa dilakukan dan dijadikan sebagai bagian yang mendukung boleh tidaknya seseorang itu diakui sebagai nasabnya. Dengan tes DNA itu, seseorang bisa dinasabkan secara biologis, tetapi tidak bisa dinasabkan sebagai nasab secara syar' i. Sebab, yang bersangkutan itu lahir atas pernikahan secara sah atau tidak, itulah pennasalahannya. (Sidang Komisi Bahsul Masa'il ad-Diniyyah al-Waqi'iyyah Nahdlatul Ulama (BM-NU) ke-31 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Pada tanggal, 28 November - 02 Desember 2004, yang bertepatan pada tanggal 15-18 Syawal 1425 H). Wallahu a'lam 🙏🏻

Video hanya pemanis 😊😊😊

Kamis, 28 September 2023

EDISI KHUTBAH JUM'AT (Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Menjadi Insan Mulia)

*Khutbah Pertama*   

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِك. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِك. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَه. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيرْاً وَنَذِيْراً. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَاماً دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

*Jama'ah Jum'at Rahimakumullah*

Hari ini kita berada di hari yang mulia, di bulan yang mulia Rabiul Awwal 1445 H, bulan kelahiran orang yang paling mulia yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mengajarkan bagaimana kita meraih dan menjadi pribadi yang mulia di sisi Allah Ta'ala dan manusia lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat : 13)

Dalam Musnad Ahmad Hadts Nomor 22.391 disebutkan,

‎وعن أبي نضرة قال: «حدثني من سمع خطبة النبي صلى الله عليه وسلم في وسط أيام التشريق فقال: ” يا أيها الناس، إن ربكم واحد وأباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على عجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا أسود على أحمر، ولا أحمر على أسود إلا بالتقوى، أبلغت؟ “. قالوا: بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Dari Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang pernah mendengar khutbah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (maksudnya Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?” mereka menjawab: Iya, benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan.” (HR. Ahmad)

Dalam ayat dan hadits diatas menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang diantara yang lainnya itu dikarena ketaqwaan bukan karena kesukuan atau yang lainnya.

*Jama'ah Jum'at Rahimakumullah*

Sebuah kisah menarik yang disampaikan oleh Imam Al-Qusyairi dalam bab Khusyu' dan Tawadhu' pada karyanya kitab Ar-Risalatul Qusyairiyah  hal. 85 bahwa sahabat Abu Dzar Al-Ghifari ra sekali waktu terlibat perseteruan dengan sahabat Bilal ra. Keduanya berseteru karena suatu sebab. Keduanya terlibat adu mulut sebelum akhirnya sahabat Abu Dzar ra melontarkan makian rasis. “Dasar hitam,” kata Abu Dzar ra untuk sahabat Bilal ra yang memiliki ras kulit hitam. 

Dari semua percekcokan, Bilal ra tidak menganggapnya masalah. Tetapi ketika menyinggung warna kulit, Bilal as tersinggung berat. Tidak ada kalimat Abu Dzar ra yang membuatnya kecewa berat selain ucapan rasis tersebut. 

Bilal ra tidak terima makian rasis tersebut. Ia kemudian mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengadukan lontaran rasis Abu Dzar ra kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Rasulullah menerima laporannya dengan baik. 

“Abu Dzar, di benakmu masih tersimpan keangkuhan Jahiliyah,” kata Rasulullah menjawab kasus rasis yang dilaporkan sahabat Bilal ra. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Dzar ra,

انْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلَا أَسْوَدَ إِلَّا أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى

"Perhatikanlah! Sesungguhnya kamu tidak lebih baik dari orang yang berkulit merah dan tidak juga dari orang yang berkulit hitam kecuali jika kamu melebihi mereka dalam bertakwa (HR. Ahmad no. 20438).

Sahabat Abu Dzar ra menjatuhkan diri di tanah. Ia menyesali lontaran rasisnya terhadap Bilal ra. Ia kemudian bersumpah untuk tidak mengangkat kepalanya sebelum Bilal berkenan menjejakkan kakinya pada pipi Abu Dzar sebagai tebusan lontaran rasisnya." (Imam Al-Qusyairi dalam bab Khusyu' dan Tawadhu pada karyanya kitab Ar-Risalatul Qusyairiyah, Kairo, Darus Salam: 2010 M/1431 H, hal. 85).

*Jama'ah Jum'at Rahimakumullah*

Singkatnya sebagai muslim dalam meneladani baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus memiliki sifat yang telah dicontohkan sebagaimana sabda beliau

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ

Mukmin itu bukanlah orang yang suka menghina, melaknat, berbuat keji (berakhlak buruk), dan berkata kotor (HR. Tirmidzi no. 1977).

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

*Khutbah Kedua*  

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. 

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ  اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Rabu, 20 September 2023

JAUHI DOKTRIN PAHAM RASISME

 


Rasisme merupakan suatu paham yang membenarkan dominasi satu kelompok ras tertentu terhadap kelompok lain.

Paham ini menilai seserang bukan dari kualitasnya, namun dari faktor fisik atau anatomi tubuh serta ”darah” atau keturunan. Rasisme menyebabkan orang dinilai dan dihargai berdasarkan rasnya.

Sebuah kisah menarik yang disampaikan oleh Imam Al-Qusyairi dalam bab Khusyu' dan Tawadhu pada karyanya kitab Ar-Risalatul Qusyairiyah  hal. 85 bahwa sahabat Abu Dzar Al-Ghifari ra sekali waktu terlibat perseteruan dengan sahabat Bilal ra. Keduanya berseteru karena suatu sebab. Keduanya terlibat adu mulut sebelum akhirnya sahabat Abu Dzar ra melontarkan makian rasis. “Dasar hitam,” kata Abu Dzar ra untuk sahabat Bilal ra yang memiliki ras kulit hitam. 

Dari semua percekcokan, Bilal ra tidak menganggapnya masalah. Tetapi ketika menyinggung warna kulit, Bilal as tersinggung berat. Tidak ada kalimat Abu Dzar ra yang membuatnya kecewa berat selain ucapan rasis tersebut. 

Bilal ra tidak terima makian rasis tersebut. Ia kemudian mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengadukan lontaran rasis Abu Dzar ra kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Rasulullah menerima laporannya dengan baik. 

“Abu Dzar, di benakmu masih tersimpan keangkuhan Jahiliyah,” kata Rasulullah menjawab kasus rasis yang dilaporkan sahabat Bilal ra. 

Sahabat Abu Dzar ra menjatuhkan diri di tanah. Ia menyesali lontaran rasisnya terhadap Bilal ra. Ia kemudian bersumpah untuk tidak mengangkat kepalanya sebelum Bilal berkenan menjejakkan kakinya pada pipi Abu Dzar sebagai tebusan lontaran rasisnya." (Imam Al-Qusyairi dalam bab Khusyu' dan Tawadhu pada karyanya kitab Ar-Risalatul Qusyairiyah, Kairo, Darus Salam: 2010 M/1431 H, hal. 85).

Dalam sebuah hadits shahih juga dijelaskan,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم جاءه أعرابي فقال: يا رسول الله، إن امرأتي ولدت غلاما أسود، فقال: «هل لك من إبل» قال: نعم، قال: «ما ألوانها» قال: حمر، قال: «هل فيها من أَوْرَقَ» قال: نعم، قال: «فأنى كان ذلك» قال: أراه عرق نزعه، قال: «فلعل ابنك هذا نَزَعَهُ عِرْقٌ»  

[صحيح] - [متفق عليه]

Dari Abu Hurairah raḍiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam didatangi orang Arab baduwi, lalu orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku telah melahirkan seorang anak (berkulit) hitam." Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apakah kamu mempunyai unta?" Orang itu menjawab, "Ya." Beliau bertanya, "Apa warnanya?" Orang itu menjawab, "Kemerah-merahan." Beliau bertanya, "Apakah di kulitnya ada warna abu-abu?" Orang itu menjawab, "Di unta itu ada warna abu-abu." Beliau bertanya, "Dari mana warna itu?" Orang itu menjawab, "Mungkin saja dari faktor keturunan." Beliau bersabda, "Anakmu juga mungkin ditarik faktor keturunan (genetik)."  

(HR. Muttafaq 'alaih)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat : 13)

Video hanya pemanis 😊🙏🏻

Kamis, 10 Agustus 2023

HIZIB NASHAR (HIZIB QAHR) SYEIKH ABU HASAN ASY-SYADZILI


وَقَالَ مُوسَى إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ.

اللّهُمَّ بِسَطْوَةِ جَبَرُوتِ قَهْرِكَ, وَبِسُرْعَةِ إغَاثَةِ نَصْرِكَ, وبِغَيْرَتِكَ ِلانْتِهَاكِ حُرْمَاتِكَ,

وَبِحِمَايَتِكَ لِمَنِ احْتَمَى بِآيَاتِكَ, نَسْئَلُكَ يَا أللهُ يَا أللهُ يَا أللهُ يَا سَمِيْعُ ياقَرِيْبُ يَامُجِيْبُ يَاسَرِيْعُ, يَامُنْتَقِمُ يَاقَهَّارُ, يَاشَدِيْدَ الْبَطْشِ يَاجَبَّارُ, ياعَظِيْمَ الْقَهْرِ, يَامَنْ لاَيُعْجِزُهُ قَهْرُالجَبَابِرَةِ, وَلاَ يَعْظُمُ عَلَيْهِ هَلاَكُ الْمُتَمَرِّدَةِ, منَ الْمُلُوْكِ وَاْلأَكَاسِرَةِ, وَاْلأَعْدَاءِ الْفَاجِرَةِ, أسْئَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كَيْدَ مَنْ كاَدَنَا فِى نَحْرِهِ, وَمَكْرَ مَنْ مَكَرَ بِنَا عَائِدًا عَلَيْهِ, وحُفْرَةَ مَنْ حَفَرَلَنَا حُفْرَةً وَاقِعًا فِيْهَا, وَمَنْ نَصَبَ لَنَا شَبَكَةَ الْخِدَاعِ, إجْعَلْهُ يَاسَيِّدِى مُسَاقًا إِلَيْهَا, وَمُصَادًا فِيْهَا وَأَسِيْرًا لَدَيْهَا.

Waqaala muusaa innii ‘udztu birabbii warab-bikum min kulli mutakabbirin laa yukminu biyaumil hisaab. Alloohumma bisathwati jaba-ruuti qahrik, wabisur’ati ighaa-tsati nashrik. Wabighairatika lintihaaki hurumaa-tik. Wabihi-maayatika limanih-tamaa bi aayaatik, nas-aluka yaa Allah, yaa Allah, yaa Allah, yaa samii’u.

Yaa qariibu yaa mujiibu yaa sarii’u yaa muntaqimu yaa qahhaar, yaa syadiidal bathsyi yaa jabbaar. Yaa ‘azhiimal qahri yaa man laa yu’jizuhuu qahrul jabaabirah, walaa ya’zhumu ‘alaihi halaakul mutamarridah. Minal muluuki wal akaasirah, wal a’daa-il faajirah. As-aluka antaj’ala kaida man kaadanaa fii nahrih, wa makra man makara binaa ‘aa-idan ‘alaiih.

Wahufrata man hafara lanaa hufratan waaqi’an fiihaa, waman nashaba lanaa syabakatal khi-dzaa’. Ij’al-hu yaa sayyidii musaaqan ilaihaa, wamushaadan fiihaa wa asiiran ladaihaa.

(Dan Musa berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab". (QS al-Mukmin : 27).

Yaa Allah! Dengan perantaraan kekuatan kekua-saan penaklukan-Mu; dengan perantaraan kecepatan datangnya pertolongan-Mu; dengan perantaraan kecemburuan-Mu bagi pelanggaran terhadap larangan-larangan-Mu; dengan perantaraan perlindungan-Mu terhadap orang yang memohon perlindungan dengan ayat-ayat-Mu, kami memohon kepada-Mu, Ya Allah,Ya Allah, Ya Allah, Yaa Sami’ (Wahai Yang Maha Mendengar), Ya Qariib (Maha Dekat), Ya Mujib (Pengabul doa), Ya Sari’ (Maha Cepat), Ya Muntaqimu (Penuntut Balas), ya Qahhar (Maha Perkasa), wahai Yang Keras siksaan-Nya, wahai Maha Kuasa, wahai Yang Agung penundukan-Nya, wahai Dzat Yang penaklukan para penguasa tidak mampu melumpuhkan-Nya dan tidak sulit atas-Nya menghancurkan orang yang durhaka dari kalangan para raja, kaisar dan musuh yang kurangajar.

Aku memohon kepada-Mu, kiranya Engkau jadikan persekongkolan orang yang bermaksud jahat kepada kami mengakibatkan ia terbantai sendiri, (jadikan) kemakaran orang yang makar kepada kami kembali kepada dirinya, (Jadikan) galian orang yang menggali lubang untuk kami membuatnya jatuh sendiri kedalamnya. Dan orang yang memasang jaring tipuan kepada kami, jadikan ia, wahai Tuhanku, terjerumus kedalamnya, binasa didalamnya dan menjadi tawanannya."

اللَّهُمَّ بِحَقِّ كهيعص كهيعص كهيعص إِكْفِنَا هَمَّ الْعِدَا ولَقِّهِمُ الرَّدَى, وَاجْعَلْهُمْ لِكُلِّ حَبِيْبٍ فِدَا, وسَلِّطْ عَلَيْهِمْ عَاجِلَ النِّقْمَةِ فِى الْيَوْمِ وَاْلغَدَا

Allahumma bihaqqi kaaf haa yaa ‘aiin shaad, kaaf haa yaa ‘aiin shaad, kaaf haa yaa ‘aiin shaad, ikfinaa hammal ‘idaa. Walaqqihimur-radaa, waj’alhum likulli habiibin fidaa.Wasallith ‘alaihim ‘aajilan-niqmati fil yaumi wal ghadaa.

(Ya Allah! Berkat kebenaran Kaaf haa yaa ‘aiin shad (3x) tolonglah kami dari maksud/rencana musuh. Lemparkan mereka kedalam kebinasaan. Jadikan mereka sebagai korban bagi setiap orang yang dicintainya. Kuasakan atas mereka segera menda-patkan balasan pada hari ini dan esok.)

اللّهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ, اللّهُمَّ أَقْلِلْ عَدَدَهُمْ, أللّهُمَّ فُلَّ حَدَّهُمْ, اللّهُمَّ أجْعَلِ الدَّائِرَةِ عَلَيْهِمْ, اللّهُمَّ أَرْسِلِ الْعَذَابَ إِلَيْهِمْ

Allahumma baddid syamlahum wafarriq jam’a-hum. Allahumma aqlil ‘adadahum. Allahumma fulla haddahum. Allahummaj’alid daa-irata ‘alai-him. Allahumma arsilil ‘adzaaba ilaihim.

(Ya Allah! Cerai beraikan persatuan mereka dan pisah-pisahkan jamaah/organisasi mereka. Ya Allah! Sedikitkan jumlah mereka. Ya Allah! Buatlah batas-batas (barisan) mereka menjadi kocar kacir. Ya Allah! Jadikan lingkaran/melapetaka atas mereka. Ya Allah! Turunkan azab siksaan kepada mereka.)

وَاَسْلُبْهُمْ مَدَدَ اْلإِمْهَالِ, وَغُلَّ أَيْدِيَهُمْ إِلَى أَعْنَاقِهِمْ, وارْبُطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ, وَلاَ تُبَلِّغْهُمُ اْلآمَالَ

Allahumma akhrijhum ‘an daa-iratil hilmi walluthfi. Waslubhum madadal imhaali, waghulla aidiyahum ilaa a’naaqihim. Warbuth ‘alaa qu-luubihim, walaa tuballighhumul aamaal.

(Ya Allah! Usirlah mereka dari kawasan sifat Penyantun dan Kelamahlembutan-Mu. Rampaslah dari mereka bantuan keramahan. Kuncilah tangan-tangan mereka pada leher-lehernya dan ikatlah pada hati-hati mereka, Serta jangan sampaikan/sukseskan angan-angan mereka.)

اللَّهُمَّ قَلِّبْ تَدْبِيْرَهُمْ, وَقَرِّر تَدْمِيْرَهُمْ, وَاقْطَعْ دَابِرَهُمْ, وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ

Allahumma qallib tadbiirahum, waqarrir tadmii-rahum, waqtha’ daabirahum, wakhudz-hum akh-dza ‘aziizin muqtadir.

(Ya Allah! Ubahlah langkah mereka, tentukan penghancuran terhadap mereka, berantaslah mereka, dan siksalah mereka dengan siksaan yang sangat pedih.)

اللّهُمَّ مَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ مَزَّقْتَهُ لأَعْدَائِكَ, إِنْتِصَارًا ِلأَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَأَوْلِيَائِكَ

Allahumma mazziqhum kulla mumazzaqin mazzaqtahuu li-a’daa-ika, intishaaran li-anbiyaa-ika warusulika wa auliyaa-ika.

(Ya Allah! Cabik-cabiklah mereka, sebagaimana Engkau mencabik-cabik para muruh-Mu untuk membantu para Nabi, Rasul dan auliya’-Mu.)

اَللَّهُمَّ انْتَصِرْلَنَا اِنْتِصَارَكَ ِلأَحْبَابِكَ عَلَى أَعْدَائِكَ (3×).

Allahummantashir lanantishaaraka li-ahbaabi ka ‘alaa a’daa-ika (Dibaca 3 x)

(Ya Allah! Menangkanlah kami, seperti kemenangan yang Engkau berikan kepada para kekasih-Mu.)

اللَّهُمَّ لاَ تُمَكِّنِ اْلأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَمِنَّا, وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوبِنَا (3×)

Allahumma laa tumakkinil a’daa-a fiinaa walaa minnaa, walaa tusallith-hum ‘alainaa bidzunuu-binaa. (Dibaca 3 x)

(Ya Allah! Jangan Engkau kokohkan para musuh pada kami dan dari kami dan jangan Engkau berikan kekuasaan pada mereka untuk menguasai kami disebabkan dosa-dosa kami.)

حم حم حم حم حم حم حم. حُمَّ اْلأَمْرُ وَجَاءَ النَّصْرُ فَعَلَيْنَا لاَ يُنْصَرُونَ (7×)

Haamiim, Haamiim, Haamiim, Haamiim, Haa-miim, Haa miim, Haa miim. Hummal-amru wa jaa-annashru fa’alainaa laa yunsharuun. (Dibaca 7x)

(Haa miim (7x). Telah ditakdirkan suatu urusan dan telah datang pertolongan, sehingga mereka tidak mampu mengalahkan kami.)

حمعسق حِمَايَتُنَا مِمَّا نَخَافُ, اَللَّهُمَّ بِحَقِّ طَهَ وَقَافِ, وَسُورَةِ اْلأَحْقَافِ, بِلُطْفِكَ يَاخَفِيَّ اْلأَلْطَافِ, نَجِّنَا مِمَّا نَخَافُ,

Haa miim ‘aiin siin qaaf himaayatunaa mimmaa nakhaafu. Alloohumma bihaqqi thaahaa wa qaaf wa suuratil-ahqaaf, biluthfika yaa khafiyyal al-thaaf, najjinaa mimmaa nakhaaf.

(Haa miim ‘aiib siin qaaf adalah perlindungan kami dari apa saja yang kami takuti. Ya Allah! Berkat Thaha, Qaf dan surat al-Ahqaf, berkat kelemah-lembutan-Mu, wahai Yang Samar kelemah lembutannya, selamatkan kami dari apa saja yang kami takuti.)

اللّهُمَّ قنِاَ شَرَّ اْلأَسْوَى, وَلاَ تَجْعَلْنَا مَحَلاًّ لِلْبَلْوَى, اللّهُمَّ أَعْطِنَا أَمَلَ الرَّجَاءِ وَ فَوْقَ اْلأَمَلِ

Allahumma qinaa syarral aswaa, walaa taj’a-lnaa mahallan lilbalwaa. Allahumma a’thinaa amalar-rajaa-i wafauqal amal.

(Ya Allah Lindungi kami dari kejahatan yang paling buruk dan jangan Engkau jadikan kami sebagai tempat sasaran balak-bencana. Ya Allah! Anugerahilah kami pengharapan dan di atas harapan.)

يَاهُوَ يَاهُوَ يَاهُوَ, يَامَنْ بِفَضْلِهِ لِفَضْلِهِ نَسْئَلُكَ, إِلَهِى الْعَجَلَ الْعَجَلَ الْعَجَلَ, إِلَهِى اْلإِجَابَةَ اْلإِجَابَةَ اْلإِجَابَةَ

Yaa huu, Yaa huu, Yaa huu, Yaa man bifadhlihii lifadhlihii nas-al, ilaahil’ajalal ‘ajal, ilaahil ijaabatal ijaabatal ijaabah.

(Wahai Dia, wahai Dia, wahai Dia! Wahai Dzat yang dengan kelebihan-Nya bagi kelebihan-Nya, kami memohon, wahai Tuhanku, segera (kabulkan), segera (kabulkan), segera (kabulkan). Tuhanku, semoga terkabul, semoga terkabul, semoga terkabul.)

يَامَنْ أَجَابَ نُوحًا فِى قَوْمِهِ, يَامَنْ نَصَرَ إِبْرَاهِيْمَ عَلَى أَعْدَائِهِ, يامَنْ رَدَّ يُوسُفَ عَلَى يَعْقُوبَ, يَامَنْ كَشَفَ الضُّرَّ عَنْ أَيُّوبَ, يامَنْ أَجَابَ دَعْوَةَ زَكَرِيَّا, يَامَنْ قَبِلَ تَسْبِيْحَ يُونُسَ ابْنِ مَتَّى,

Yaa man ajaaba nuuhan fii qaumih. Yaa man nashara Ibraahiima ‘alaa a’daa-ih. Yaa man radda yuusufa ‘alaa ya’quub. Yaa man kasyafadh-dhurru ‘an ayyuub. Yaa man ajaaba da’wata zakariyyaa. Yaa man qabila tasbiiha yuunusabni matta.

(Wahai Dzat Yang mengabulkan doa Nabi Nuh dalam masalah kaumnya. Wahai Tuhan Yang menolong Nabi Ibrahim atas para musuhnya. Wahai Tuhan Yang mengembalikan Nabi Yusuf kedalam pangkuan Nabi Ya’qub. Wahai Tuhan Yang menghilangkan penderitaan (bahaya) dari Nabi Ayyub. Wahai Tuhan Yang mengabulkan doa Nabi Zakariyya. Wahai Tuhan Yang menerima tasbihnya Nabi Yunus bin Matta.)

نَسْئَلُكَ اللَّهُمَّ بِأَسْرَارِ أَصْحَابِ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ, أنْ تَتَقَبَّلَ مِنَّا مَابِهِ دَعَوْنَا, وَأَنْ تَعْطِيَنَا مَاسَأَلْنَاكَ,

أَنْجِزْ لَنَا وَعْدَكَ الَّذِى وَعَدْتَهُ لِعِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ, بالنَّصْرِ وَالظَّفَرِ وَالْفَتْحِ الْمُبِيْنَ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتَ مِنَ الظَّالِمِيْنَ,

Nas-alukallahumma bi-asraari ashhaabi haadzihid-da’awaatil musta-jaabaat. An tataqab-bala minnaa maa bihii da’aunaaka, wa an tu’thiyanaa maa sa-alnaaka. Anjiz lanaa wa’dakalladzii wa’adtahuu li’ibaa-dikas-shaali-hiin. Binnashri wazh-zhafari walfat-hil mubiin. Laa ilaaha illaa anta sub-haanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

(Kami memohon kepada Engkau, Ya Allah, dengan perantaraan berbagai rahasia para pendoa yang terkabul tersebut. Kiranya Engkau menerima dari kami apa saja yang kami mintakan kepada-Mu dan kiranya Engkau memberikan kepada kami apa saja yang kami mohonkan kepada-Mu. Wujudkan untuk kami janji-Mu yang telah Engkau janjikan kepada para hamba-Mu yang shalih. Janji berupa bantuan, pertolongan dan kemenangan yang gemilang. Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Aku sungguh termasuk golongan orang-orang yang zhalim.)

إِنْقَطَعَتْ آمَالُنَا وَعِزَّتِكَ إلاَّ مِنْكَ, وَخَابَ رَجَاؤُنَا وَحَقِّكَ إلاَّ فِيْكَ (3×)

Inqatha’at aamaalunaa wa’izzatika illaa minka, wakhaaba rajaa-unaa wahaqqika illaa fiika. (Dibaca 3 x)

(Terputus angan-angan kami, Demi Kemuliaan-Mu, selain yang berasal dari-Mu. Gagal harapan kami, Demi Hak-Mu, selain yang ada pada-Mu.)

يَاوَاحِدُ يَاعَلِىُّ يَاحَلِيْمُ, وَحَسْبُنَا الَّلهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ, ولاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالَّلهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ, سلاَمٌ عَلَى نُوحٍ فِى الْعَالَمِيْنَ, إِسْتَجِبْ لَنَا آمِيْن آمِيْن آمِيْن.

Yaa waahidu yaa ‘aliyyu yaa haliimu, hasbunalloohu wani’mal wakiil. Walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim. Salaamun ‘alaa nuhin fil ‘aalamiin. Istajib lanaa aamiin aamiin aamiin.

(Wahai Yang Maha Esa, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Maha Penyantun. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Salam sejahtera atas Nabi Nuh di alam semesta. Kabulkan doa kami. Aamiin. Aamiin. Aamiin)

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

وَصَلىَّ اللَّهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ, وَعَلَىآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Faquthi’a daabiral  qaumilladziina zhalamuu fa-ashbahuu laa yuraa illaa masaakinuhum, walham-dulillaahi rabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin sayyidil mursaliin, wa’alaa aalihii washahbihii ajma’iin.

(Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Sehingga jadilah mereka tidak diperlihatkan selain tempat-tempat tinggal mereka Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan rahma ta’zhim kepada junjungan kami, Muhammad yang menjadi penghulu para Rasul, beserta keluarga dan sahabatnya seluruhnya.)

اللّهُمَّ أَنْتَ تَعْلَمُ أَعْدَائَنَا عَدَدًا, فَبَدِّدْ شَمْلَهُمْ بِدَدًا, وَلاَ تُبْقِ مِنْهُمْ أَحَدًا, إِنَّكَ أَنْتَ الْبَاقِى سَرْمَدًا.

Allahumma anta ta’lamu a’daa-anaa ‘adadaa, fabaddid syamlahum bidadaa, wala tubqi minhum ahadaa, innaka antal baaqii sarmadaa.

(Ya Allah! Engkau mengetahui pusuh-musuh kami berbilang-bilang, cerai beraikan persatuan mereka dengan sungguh-sungguh dan jangan Engkau sisakan dari mereka seorang pun, karena Engkau adalah Dzat Yang Maha Kekal abadi.)

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ.

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ.

فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا.

Wamakaruu makran wamakarnaa makran wa hum laa yasy’uruun. Fanzhur kaifa kaana ‘aaqi-batu makrihim annaa dammarnaahum wa qauma-hum ajma’iin. Fatilka buyuutuhum khaawiyatan bimaa zhalamuu.

(Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka." (QS an-Naml : 50)

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لاَ يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ .

Tudammiru kulla syai-in bi-amrirabbihaa fa-ashbahuu laa yuraa illaa masaakinuhum.

(Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka." (QS al-Ahqaf : 25)

فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ. وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا. فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Fahal taraa lahum min baaqiyah. Wahiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruu-syihaa.

Faquthi’a daabirul qaumilladziina zhalamuu walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

(Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. (QS al-Haaqqah : 8)

Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (QS al-An’am : 45). Wallahu a'lam 🙏🏻

Senin, 07 Agustus 2023

KAJIAN TENTANG HUKUM MENJADI BIDUAN DAN MENGENAL 4 BIDUAN DI MASA RASULULLAH SAW

Bagaimana hukum perempuan menjadi penyanyi. Pasalnya, banyak pandangan yang menyebutkan bahwa perempuan tidak boleh hukumnya menjadi penyanyi. Sebab suara perempuan bisa menimbulkan fitnah.

Lalu bagaimana hukum dalam fikih bagi perempuan muslim yang berprofesi menjadi penyanyi? Atau sebagai qariah yang melanggamkan ayat-ayat Al-Qur'an?

Menurut ulama fikih, status suara perempuan memang terjadi perbedaan pendapat. Ada yang menyebutnya aurat, ada juga yang menyebutnya tidak aurat. Perdebatan ini sudah lama terjadi di antara kalangan ulama. Namun, sebagian besar ulama menyebutkan bahwa suara perempuan tidak termasuk aurat.

Penjelasan ini sebagaimana dikutipkan dalam kitab al fiqhu Islami wa Adillatuhu, karya dari Syekh Wahbah Zuhaili.

 وتخفض المرأة صوتها إن صلت بحضرة الرجال الأجانب، بحيث لا يسمعها من صلت بحضرته من الأجانب، دفعاً للفتنة، وإن كان الأصح أن صوتها ليس بعورة، فلا يحرم سماع صوت المرأة ولو مغنية، إلا عند خوف الفتنة، بأن كان لو اختلى الرجل بها، لوقع بينهما مُحرَّم

"Perempuan merendahkan suaranya ketika shalat di dekat laki-laki yang bukan mahram sekira laki-laki tidak dapat mendengar suaranya untuk menghindari fitnah sekalipun menurut pendapat yang shahih suaranya bukan aurat.

Mendengarkan suara perempuan tidak diharamkan sekalipun suara biduanita atau penyanyi perempuan kecuali bila dikhawatirkan menimbulkan fitnah, yaitu misalnya seorang laki-laki bukan mahram menyendiri bersama perempuan tersebut, tentu hal ini diharamkan."

Pendapat ini pula dikuat oleh Syihabuddin Ahmad Al-Barlisi lewat kitab Hasyiyah Umairah, juz I, pada halaman 177, yang menjelaskan bahwa suara perempuan bukanlah aurat. Pandangan ini pula yang banyak berkembang di kalangan ulama mazhab Syafi’i, bahwa suara perempuan bukan aurat.

Dengan demikian, seorang laki-laki boleh saja mendengar perempuan membaca Al-Qur’an dengan keras, atau mendengar mereka mendengungkan qasidah atau shalawat dengan merdu.

 (فائدة صوت المرأة ليس بعورة على الصحيح فلا يحرم سماعه ولا تبطل الصلاة به لو جهرت والخنثى كالأنثى رقا وحرية)

"Faedah, suara perempuan bukan aurat menurut pendapat yang shahih. tidak haram hukumnya mendengarkan suara perempuan. Shalat perempuan tidak batal seandainya mereka mengeraskan suara. Status hukum khunsa (banci) setara dengan perempuan baik posisinya sebagai budak maupun merdeka."

Sementara itu dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan nomor hadits 987, dijelaskan bahwa dalam suatu hari di Mina, Aisyah didampingi dua orang perempuan yang sedang memukul alat musik dan bernyanyi.

Melihat itu Abu Bakar hendak menegur perempuan yang bernyanyi tersebut, akan tetapi Rasulullah melarangnya dan membiarkan perempuan itu bernyanyi. Simak hadis berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِي أَيَّامِ مِنَى تُدَفِّفَانِ، وَتَضْرِبَانِ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَغَشٍّ بِثَوْبِهِ، فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَجْهِهِ، فَقَالَ: دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ، وَتِلْكَ الأَيَّامُ أَيَّامُ مِنًى رواه البخاري.

Dari ‘Aisyah r.a. (diriwayatkan) bahwa Abu Bakar r.a. menemui Aisyah pada saat di Mina. Di samping Aisyah ada dua orang perempuan menyanyi dan memukul alat musik dan saat itu Rasulullah saw sedang menutup wajahnya dengan baju.

Abu Bakar lalu mencegah kedua perempuan itu, maka Rasulullah membuka wajahnya lalu berkata: biarkan mereka wahai Abu Bakar, karena sekarang adalah hari raya, yaitu hari-hari ketika kita menginap di Mina." (HR. Bukhari no.987)

Di samping itu, ada juga hadits lain yang bersumber dari Imam Bukhari, yang menjelaskan bahwa Rasulullah pernah menyaksikan sebuah pernikahan. Dalam pernikahan tersebut sebagaimana cerita Rubayyi binti Afra, bahwa ia berhadapan dengan Nabi. Di tengah acara pesta pernikahan tersebut beberapa orang wanita menyanyi diiringi dengan tambor. Dalam keadaan tersebut Nabi membiarkan mereka menyanyi.

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ ذَكْوَان قَالَ: قَالَتِ الرُّبَيِّعُ بِنْتُ مُعَّوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ: جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ حِينَ بُنِيَ عَليّ فَجَلسَ عَلَى فِراشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي، فَجَعَلَتْ جُوَيْرِيَاتٌ لَنَا يَضْرِبْنَ بالدُفِّ وَيَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِي يَوْمَ بَدْرٍ، إِذْ قَالَتْ إِحْدَاهُنَّ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدِ، فَقَالَ: دَعَي هَذِهِ وَقَوْلِي بِالَّذِيِ كُنْتِ تَقُولِين [رواه البخارى].

"Khalid bin Dzakwan (diriwayatkan) menceritakan kepada kami, ia berkata: Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin Afra’ berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang menghadiri pesta nikah,  lalu duduk aku (dulu) menikah (sehingga) aku dan Nabi saling berhadapan.

Kemudian beberapa wanita membawakan nyanyian disertai iringan tambor untuk mengenang keluarganya yang mati syahid di Badar. Salah seorang wanita (penyanyi) tersebut mengatakan bahwa (di depan mereka) ada Rasul yang mengetahui apa yang terjadi hari esok. Rasul bersabda: Jauhi meramal dan teruslah bernyanyi." (HR. Bukhari)

Sampai di sini, kita dibuat lupa bahwa pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga terdapat aktivitas bernyanyi dan profesi sebagai penyanyi. Bahkan, sebagian penyanyi di zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan kaum perempuan. Nabi tidak melarang profesi yang dijalani kaum perempuan pada masa beliau.

Ini menunjukkan bahwa tidak semua yang berkaitan dengan nyanyian dilarang dalam agama Islam. Dalam istilah ilmu hadis, hadits jenis ini disebut dengan nama hadis taqriri. Apa yang ditaqrir oleh Nabi menunjukkan bahwa hal itu diperbolehkan dalam agama.

Untuk mendukung argumen bahwa nyanyian dan profesi sebagai penyanyi diperbolehkan dalam agama Islam, selagi tidak melanggar beberapa aturan yang dibuat untuk menetralisir kemungkinan timbulnya dampak buruk, penulis akan menghadirkan informasi yang disajikan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Ishabah Fi Tamyiz As-Shahabah. Sebuah kitab yang berisi data para sahabat Nabi.

Sahabat Nabi merupakan kelompok masyarakat dalam sejarah Islam yang sangat dihormati. Status sebagai sahabat memiliki kemuliaan tertinggi dalam Islam. Dalam kritik hadits Sunni, status sahabat membuat seorang perawi tidak perlu lagi dipertanyakan kualifikasinya. Tingkatannya bahkan lebih tinggi dibanding mereka yang berkualifikasi autsaqun nas (orang yang paling terpercaya).

Dalam menelusuri para perempuan penyanyi di zaman Nabi, kita menggunakan kata kunci “Mughanniyah” yang berarti penyanyi perempuan. Istilah al-mughanniyah digunakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani untuk menyebut perempuan-perempuan yang memiliki keahlian dan dikenal menerima ‘undangan’ untuk acara-acara tertentu seperti pernikahan.

Dari penelusuran dengan kata tersebut, hasilnya, ditemukan ada empat orang setidaknya yang diberi gelar Al-Mughanniyah oleh masyarakat sahabat. Berikut adalah nama-nama Al-Mughanniyah dari kalangan sahabat perempuan.

*Arnab Al-Madinah*

Arnab al-Madinah, secara tekstual berarti “Si kelinci kota Madinah”. Ia adalah nama seorang perempuan yang tinggal di Kota Madinah pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mungkin sejenis nama panggung. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebut “Arnab al-Madinah Al-Mughanniyah”, Arnab Al-Madinah sang biduan Kota Madinah.

١٠٧٨٦ ارناب المدينة المغنية

روينا من جزء الثالث من الاملي المحملي روية الاصبهانيين, من طريق ابن جريج أخبرني ابو الاصبع أن جميلة المغنية أخبرته أنها سألت جابر بن عبد الله عن الغناء, فقال : نكح بعض الانصار أهل عائيشة فأهديتها الى قباء, فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم, أهديت عروسك, قال : نعم, قال : فأرسلت بها بغناء, فإن الانصار يحبونه, قالت : لا, قال : فأدركيها بأرنب. إمرأة كانت تغني باالمدينة

Dalam kitab Al-Amali juz 3 karya Al-Mahamili terdapat riwayat dari Ibnu Juraij, dari Abul Asba’ bahwa Jamilah Al-Mughanniyah “Sang biduan” menceritakan bahwa dirinya bertanya kepada sahabat Jabir bin Abdullah tentang hukum menyanyi. Jabir berkata, “Ada orang Anshar yang menikahi seorang perempuan dari keluarga Aisyah. Lalu Aisyah memberi kado sebuah Quba’. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya (kepada Aisyah), “Apakah engkau telah memberi kado kepada pengantinmu?” Aisyah menjawab, “Iya, sudah.” Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Apakah engkau mengirim nyanyian bersama kadomu, karena orang-orang senang dengan hal itu?” Aisyah menjawab, “Tidak.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Susulkan Arnab pada hadiahmu.” 

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan biografi Arnab dalam urutan ke-10786 dengan menyebutnya sebagai “Imra’ah kanat tughanni bi al-madinah” (“Seorang perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi di Kota Madinah”). (Al-Ishabah Fi Tamyiz As-Shahabah juz 8 hal.6-7)

*Hamamah al-Mughanniyah*

Ibnu Hajar al-Asqalani menyebut nama lain sebagai biduan kota Madinah. Dalam biografi nomor 11.059, Ibnu Hajar menyebut nama Hamamah al-Mughanniyah.  Seorang gadis dari suku Anshar. Secara tekstual, Hamamah berarti “Merpati”. Mungkin  ini adalah semacam nama panggung untuk si penyanyi.

١١٠٥٩. حمامة المغنية. من جواري الانصار

ذكرت فى حديث عائيشة : لما دخل ابو بكر عليها فى يوم عيد, وعندها جاريتان تغنيان سمي منهما حمامة, وفى روية قليح لابن ابى الدنيا, عن هشام عن ابيه عن عائيشة. واصل الحديث فى الصححين من هذا الوجه, لكن لاتسم فيه عن واحدة منهما, وأوضحتها فى فتح الباري

Dalam riwayat Shahih Al-Bukhari, diceritakan bahwa Aisyah menghadirkan dua orang gadis penyanyi ke rumahnya saat Hari Raya Id. Abu Bakar mengunjungi Aisyah dan menemukan dua gadis sedang berdendang. Abu Bakar menegur keduanya. Namun, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam justru menegur balik Abu Bakar dan menyuruhnya membiarkan keduanya meneruskan bernyanyi.

Dalam riwayat Shahih Al-Bukhari tidak disebutkan nama gadis penyanyi itu. Tetapi, dalam riwayat Ibnu Abi Dunya disebutkan nama gadis itu adalah Hamamah. Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan permasalahan ini dalam kitab Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari miliknya." (Al-Ishabah Fi Tamyiz As-Shahabah juz 8 hal.88)

*Asma’*

Ibnu Hajar al-Asqalani menyebut dalam biografi bernomor 10.908 seorang bernama Asma’ yang diidentifikasi sebagai mughanniyatu Aisyah (biduan yang langganan diundang oleh Aisyah). Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan nama lengkapnya adalah Asma’ binti Yazid bin As-Sakan. Tidak disebutkan riwayat tentang bagaimana Asma’ binti Yazid bernyanyi di hadapan Aisyah.

١١٩٠٨ أسماء مغنية عائيشة, هي أسماء بنت يزيد بن السكن. افردها ابو موسى, واخرج أحمد من وجه الاخر عن أسماء بنت يزيد أنها هي.

Tetapi, riwayat lain menyebut bahwa Asma’ binti Yazid, selain ahli dalam bernyanyi, juga ahli dalam merias. Ia adalah seorang seniman rias atau hari ini populer dengan istilah Make Up Artist (MUA). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa yang merias Aisyah saat menikah dengan Rasulullah. Dua pekerjaan ini sering bersandingan. Ada kemungkinan bahwa Asma’ binti Yazid adalah seorang event organizer untuk istilah sekarang." (Al-Ishabah Fi Tamyiz As-Shahabah juz 8 hal.43)

*Zainab Al-Anshariyyah*

١١٢٦٠ زينب الانصارية, غير منسوبة, جاء كانت تغني باالمدينة فأخرج ابن طاهر فى كتاب "الصفوة" من طريق المحملي, حدثنا زبير بن خالد, حدثنا صفوان بن هبيرة, عن إبن جريج, أخبرني ابو الاصبع, أن جميلة أخبرته سألت عن جابر بن عبد الله عن الغناء, روينا من جزء الثالث من الاملي المحملي روية الاصبهانيين, من طريق ابن جريج أخبرني ابو الاصبع أن جميلة المغنية أخبرته أنها سألت جابر بن عبد الله عن الغناء, فقال : نكح بعض الانصار أهل عائيشة فأهدتها الى قباء, فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم, أهديت عروسك, قال : نعم, قال : فأرسلت بها بغناء, فإن الانصار يحبونه, قالت : لا, قال : فأدركيها بأرنب. إمرأة كانت تغني باالمدينة

Begitulah Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutnya. Disebutkan bahwa ia bernyanyi di Kota Madinah. Dalam kitab al-Shafwah karya Ibnu Thahir, ditemukan riwayat dari jalur Al-Mahamili, dari Abul Usbu’ bahwa Jamilah memberitahunya, dirinya pernah bertanya kepada Jabir bin Abdullah tentang nyanyian. Jabir kemudian menceritakan orang Madinah yang menikah kerabat Aisyah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh Aisyah agar mengundang seorang biduan bernama Zainab Al-Anshariyah yang dikenal sebagai penyanyi di kota Madinah." (Al-Ishabah Fi Tamyiz As-Shahabah juz 8 hal.165)

Riwayat ini mirip dengan biografi Arnab Al-Mughanniyah. Tetapi, Ibnu Hajar membedakan biografi keduanya. Zainab Al-Anshariyah disebutkan pada nomor urut sahabat perempuan ke-11.260.

Demikian empat penyanyi perempuan sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa penyanyi perempuan sudah ada pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka ditoleransi oleh Nabi sehingga hal ini menjadi petunjuk kebolehan profesi tersebut; dengan ketentuan tidak disertai mudarat tertentu.

Kesimpulannya, berdasarkan sumber dari hadis dan pendapat ulama tersebut, seorang hukum perempuan menjadi penyanyi adalah boleh selama ia tidak mengumbar aurat tubuhnya atau melakukan tindakan senonoh dan amoral. Semoga keterangan penyanyi perempuan sahabat Nabi Muhammad ini memberikan manfaat dan pengetahuan baru. Wallahu ‘alam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 27 Juli 2023

KAJIAN TENTANG TRADISI 10 MUHARRAM SEBAGAI HARI RAYA ANAK YATIM

Idul Yatama (hari raya anak-anak yatim) yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram (Asyura) sebenarnya bukan hari raya sebagaimana hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Istilah Idul Yatama hanya sebagai ungkapan kegembiraan bagi anak-anak yatim. Karena pada tanggal tersebut, banyak orang yang memberikan perhatian dan santunan kepada mereka.

Dalam hadits riwayat Abu Dawud ra. dinyatakan bahwa Hari Raya umat Islam hanya ada dua, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri,

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى، وَيَوْمَ الْفِطْرِ “

Dari Anas, ia berkata, Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah dan mereka (orang Madinah) menjadikan dua hari raya dimana mereka bergembira. Lalu Rasulullah bertanya, “Apa maksud dua hari ini?” Mereka menjawab, “Kami biasa bermain (bergembira) pada dua hari ini sejak zaman Jahiliyah.” Rasulallah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untukmu dengan dua hari raya yang lebih baik dari padanya, yaitu hari raya Adha dan hari raya Fitri."  (HR. Abu Daud no. 1134)

Dari sini dapat dipahami, selain Idul Adha dan Idul Fitri bukanlah hari raya yang sebenarnya, melainkan semacam perayaan. Dalam syair-syair Arab, banyak terdapat kata-kata ‘Ied, tetapi yang dimaksud bukan hari raya melainkan hari kegembiraan. Jadi, Istilah Idul Yatama tidak jauh berbeda dengan istilah Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, Hari Lingkungan Hidup, Hari Ibu, dan sejenisnya. Hanya semacam momen untuk mengingatkan masyarakat agar peduli kepada nasib anak-anak yatim. Momen itu tidak pula dimaksudkan bahwa santunan kepada anak yatim hanya berlangsung pada tanggal 10 Muharram. Menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapanpun dan di manapun.

Momentum 10 Muharram dijadikan sebagai Idul Yatama, berdasarkan anjuran untuk menyantuni anak-anak yatim pada hari tersebut. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyayangi anak-anak yatim. Dan beliau lebih menyayangi lagi pada hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Dimana pada tanggal tersebut, Beliau menjamu dan bersedekah bukan hanya kepada anak yatim, tapi juga keluarganya. Dalam kitab Faidul Qadir disebutkan, menjamu anak yatim dan keluarganya pada tanggal 10 Muharram merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh.

Kemudian dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiyaa-i wal Mursalin disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

“Barangsiapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharran, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan baragsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya“.

Sanad hadits ini memang dla’if (lemah), tapi isinya (matan hadits) boleh diamalkan, karena berkaitan dengan kebajikan-kebajikan (fadla’ilul a’mal).

Mengenai maksud “mengusap kepala anak yatim” dalam hadits di atas, sebagian ulama mengartikannya sebagai makna hakiki (mengusap kepala dengan tangan), dan sebagian lainnya mengartikan sebagai makna kinayah (kiasan). Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan,

 والمراد من المسح في الحديث الثاني حقيقته كما بينه آخر الحديث وهو (من مسح رأس يتيم لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة تمر عليها يده عشر حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو في الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه) . وخص الرأس بذلك لأن في المسح عليه تعظيما لصاحبه وشفقة عليه ومحبة له وجبرا لخاطره، وهذه كلها مع اليتيم تقتضي هذا الثوب الجزيل….

“Maksud dari “mengusap” dalam hadits yang kedua adalah makna hakiki, sebagaimana diterangkan oleh hadits lain, yaitu “Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim semata-mata karena Allah, niscaya Allah memberikan 10 kebaikan pada setiap helai rambut yang diusapnya. Dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim, perempuan atau laki-laki, niscaya aku (Nabi Muhammad) akan bersamanya seperti ini (dua jari tangan); lalu Nabi berisyarah dengan dua jarinya”. Penyebutan kata ra’sun (kepala), karena mengusap kepala berarti menghargai, mengasihi, cinta kasih, dan mengayomi kebutuhannya. Jika semua itu dilakukan pada anak yatim, maka akan mendapatkan pahala yang sangat besar….” (al-Fatawa al-Haditsiyyah li-Ibni Hajar al-Haitami, 1/43)

Sedangkan Syeikh Abu Thayyib menyatakan,

قال الطيبي: مسح رأس اليتيم كناية عن الشفقة والتلطف إليه، ولما لم تكن الكناية منافية لإرادة الحقيقة لإمكان الجمع بينهما

“Abu Thayyib berkata, “Mengusap kepala anak yatim adalah sebuah kinayah tentang kasih sayang dan sikap lemah lembut (kepada anak yatim). Makna kinayah ini tidak bertentangan dengan makna hakiki, karena keduanya bisa dipadukan”. (Mirqatul Mafatih, 8/3115)

Kasih sayang kepada anak yatim, tentu saja bukan hanya diwujudkan dengan belaian rambut belaka, tapi juga mengurus anak yatim secara baik dan memberi santunan untuk sandang, pangan, papan, dan pendidikannya. Maka, pemberian santunan bukan hanya dilakukan pada tanggal 10 Muharram saja, tapi juga pada bulan-bulan lainnya.

*Tradisi Masyarakat dan Ulama*

Menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram (Asyura) merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak lama. al-Hafizh Ibnu Al-Jauzi (508-597 H/1114-1201 M), seorang ahli hadits Madzhab Hanbali, menjelaskan kebiasaan para ulama pada hari Asyura,

فَوَائِدُ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ. اَلْفَائِدَةُ اْلأُوْلَى: يَنْبَغِيْ أَنْ تَغْسِلَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَقَدْ ذُكِرَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَخْرِقُ فِيْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ زَمْزَمَ إِلىَ سَائِرِ الْمِيَاهِ، فَمَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَئِذٍ أَمِنَ مِنَ الْمَرَضِ فِيْ جَمِيْعِ السَّنَةِ، وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيْثٍ، بَلْ يُرْوَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. اْلفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ: الصَّدَقَةُ عَلىَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ. اْلفَائِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَمْسَحَ رَأْسَ الْيَتِيْمِ. اَلْفَائِدَةُ الرَّابِعَةُ أَنْ يُفَطِّرَ صَائِمَا. اَلْفَائِدَةُ الْخَامِسَةُ أَنْ يُسْقِيَ الْمَاءَ. اَلْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَنْ يَزُوْرَ اْلإِخْوَانَ. اَلْفَائِدَةُ السَّابِعَةُ: أَنْ يَعُوْدَ الْمَرِيْضَ. اَلْفَائِدَةُ الثَّامِنَةُ أَنْ يُكْرِمَ وَالِدَيْهِ وَيَبُرَّهُمَا. الْفَائِدَةُ التَّاسِعَةُ أَنْ يَكْظِمَ غَيْظَهُ. اَلْفَائِدَةُ الْعَاشِرَةُ أَنْ يَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَهُ. اَلْفَائِدَةُ الْحَادِيَةَ عَشَرَةَ: أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنَ الصَّلاَةِ وَالدُّعَاءِ وَاْلاِسْتِغْفَارِ. اَلْفَائِدَةُ الثَّانِيَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ. اَلْفَائِدَةُ الثَّالِثَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُمِيْطَ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ. اَلْفَائِدَةُ الرَّابِعَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُصَافِحَ إِخْوَانَهُ إِذَا لَقِيَهُمْ. اَلْفَائِدَةُ الْخَامِسَةَ عَشَرَةَ: أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنْ قِرَاءَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَنْ قَرَأَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَلْفَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ نَظَرَ اللهُ إِلَيْهِ وَمَنْ نَظَرَ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا 

Faidah-faidah hari Asyura :

1. Mandi pada hari Asyura. Telah disebutkan bahwa Allah SWT membedah komunikasi air Zamzam dengan seluruh air pada malam Asyura’. Karena itu, siapa yang mandi pada hari tersebut, maka akan aman dari penyakit selama setahun. Ini bukan hadits, akan tetapi diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a.

2. Bersedekah kepada fakir miskin.

3. Menyantuni dan mengusap kepala anak yatim.

4. Memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa.

5. Memberi minuman kepada orang lain.

6. Mengunjungi saudara seagama (silaturrahim).

7.Menjenguk orang sakit.

8.Memuliakan dan berbakti kepada kedua orang tua.

9. Menahan amarah dan emosi.

10. Memaafkan orang yang berbuat zalim.

11. Memperbanyak ibadah seperti shalat, doa, dan istighfar.

12. Memperbanyak zikir kepada Allah.

13. Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan.

14. Berjabat tangan dengan orang yang dijumpai.

15. Memperbanyak membaca surat al-Ikhlash, sampai seribu kali. Karena ada atsar yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a.: Barangsiapa membaca surah al-Ikhlash 1000 kali pada hari Asyura, maka Allah akan “memandangnya”. Barangsiapa “dipandang” oleh Allah, maka Dia tidak akan mengazab selamanya." (Al-Hafizh Ibnu Al-Jauzi Al-Hanbali, Al-Majalis, hal. 73-74, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah).

Juga riwayat hadits berikut, 

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم من صام يوم عاشوراء من المحرم اعطاه الله تعالي ثواب عشرة الاف مللك ومن صام يوم عاشوراء من المحرم اعطي ثواب عشر شهيد ومن مسح يده علي راس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالي له بكل شعرة درجة

Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra. Ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa puasa pada hari ‘asyura (10 Muharram), Allah memberikan 10.000 pahala malaikat. Barang siapa puasa pada hari ‘asyura Muharram, Allah memberikan pahala 10.000 para syuhada’. Dan barang siapa mengusap kepala anak yatim pad tgl 10 muharram, Allah mengangkat derajatnya dengan setiap rambut yang diusap." (Manaahiij al-Imdaad I/521)

عن أبي هريرة ان رجلا شكى إلى النبي صلى الله عليه و سلم قسوة قلبه فقال اطعم المسكين وامسح رأس اليتيم وسنده حسن

Ada hadits hasan yang dimiliki oleh Imam Ahmad dari riwayat Abu Hurairah, "Sesungguhnya seorang lelaki mengadu pada Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang kerasnya hatinya, Nabi bersabda ‘Berikan makanan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (HR. Ahmad, sanadnya Hasan). [ Fath al-Baari XI/151 ].

Kesimpulannya, tradisi menyantuni anak yatim pada hari 'Asyura memang sudah ada sejak lama, dan dilakukan oleh masyarakat umum maupun para ulama. Dari tradisi tersebut lalu muncul istilah Idul Yatama (hari raya anak yatim). Namun, yang dimaksud Idul Yatama bukanlah hari raya seperti Idul Fitri atau Idul Adha, melainkan momen untuk membahagiakan hati anak yatim. Juga waktu yang tepat untuk mengingatkan orang yang selama ini acuh tak acuh, agar terbuka mata hatinya sehingga mau memperhatikan nasib anak-anak yatim. Momen 10 Muharram tidak pula dimaksudkan bahwa santunan kepada anak yatim hanya berlangsung pada hari tersebut, karena menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Wallahu a’lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Selasa, 04 Juli 2023

BACAAN KHUTBAH SAAT LAMARAN BERIKUT DOANYA

 

*Khutbah lamaran dan doa bagi laki-laki yang akan melamar*

Prosesi lamaran (khitbah) merupakan pembuka dari prosesi akad nikah. Pada saat prosesi lamaran tersebut, ada kesunnahan yang pahalanya besar, yakni menyampaikan khutbah. 

Keterangan tentang kesunnahan khutbah pada saat prosesi lamaran ini bisa kita simak pada pemaparan Imam Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi al-Kabir (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999), juz IX, hal. 163, 

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ خُطْبَةَ النِّكَاحِ قَبْلَ الْخِطْبَةِ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةُ 

“Imam al-Mawardi berkata: “Ketahuilah bahwa khutbah nikah sebelum acara lamaran itu hukumnya sunnah.”   

Adapun khutbah yang dibacakan saat mau melamar perempuan sebagaimana yang disampaiakan oleh Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi dalam Al- Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), juz II, hal. 437 sebagai berikut,

الْحَمْدُ لِلّٰهِ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَآ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ، يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

“Segala puji bagi Allah, kami memohon pertolongan pada-Nya, kami memohon ampunan pada-Nya, kami memohon perlindungan dengan-Nya atas segala kejelekan diri kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, maka tiada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan maka tiada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah  utusan-Nya.   

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.   

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.   

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung."

*Doa Setelah Melamar*

Dikutip dari karya Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Al-Adzkâr al-Muntakhabah min Kalâmi Sayyid al-Abrâr, (Surabaya: Kharisma, 1998), halaman: 283, berikut ini adalah doa yang sepatutnya diucapkan oleh seorang calon mempelai yang akan melaksanakan prosesi khitbah. 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينْ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيّدِنَا محمّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِينْ.

 أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّه وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَهْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَقْدِرُ وَلآ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلآ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ فَإِنْ رَأَيْتَ لِيْ فِيْ (.......) خَيْرًا فِى دِيْنِيْ وَآخِرَتِيْ فَاقْدِرْهَا لِيْ

جِئْتُكُمْ رَاغِباً فِي فَتَاتِكُمْ (......) أَوْ فِي كَرِيْمَتِكُمْ ...... بِنْتِ .......

"Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Salam dan shalawat semoga terlimpah kepada  sayyidinaa penghulu kami Nabi Muhammad, kepada seluruh keluarganya  sahabatnya."

“Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai hamba dan utusan-Nya.”

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Menakdirkan, dan bukanlah aku yang menakdirkan. Dan (Engkau) Maha Mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Maka jika Engkau melihat kebaikan antara diriku dan (..... *[sebutkan nama calon pasangan binti ayahnya]*....) untuk agama dan akhiratku, maka takdirkanlah akubb bersamanya."

"Aku datang karena cinta kepada pemudi kalian (...*sebutkan nama wanitanya*...) dan wanita mulia kalian (.....nama wanita binti...sebut nama orang tuanya .....)."

*Doa Pihak Mempelai wanita ketika mendapatkan lamaran dari laki-laki*

Ketika seorang wanita dilamar oleh laki-laki, ia dianjurkan atau walinya untuk membaca doa ini,

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينْ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيّدِنَا محمّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِينْ.

 أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّه وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَهْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللهم كَمَا اَنْعَمْتَ عَلَيْنَا بِقَبُوْلِ خِطْبَتِنَا، وَتَصْدِيْقِ اَقْوَالِنَا، وَتَجْهِيْزِ اَصْهَارِنَا. نَسْئَلُكَ بِجَاهِ نَبِيِّكَ الْوَسِيْمِ، سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّسُوْلِ الْعَمِيْمِ، الْمَعْصُوْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. اَنْ تَقَبَّلَ اَمْلَاكَنَا، وَتُبَلِّغَ مَرَامَنَا، وَتُثَبِّتَ اَقْدَامَنَا، وَتَنْصُرَ عَلَى اَعْدَائِنَا، وَتَسْتُرَ عُيُوْبَنَا، وَتَغْفِرَ ذُنُوْبَنَا، وَتْجَمَعَ اِخْوَاننَا حَيْثُمَا دَعَوْنَا، اِنَّكَ عَلَى مَا تَشَاءُ قَدِيْرٌ، وَبِالْاِجَابَةِ جَدِيْرٌ. اللهُمَّ يَافَاتِحَ الْبَرَكَاتِ، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، يَابَدِيْعَ الْاَرْضِ وَالسَّمَاوَاتِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْد لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

"Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Salam dan shalawat semoga terlimpah kepada  sayyidinaa penghulu kami Nabi Muhammad, kepada seluruh keluarganya  sahabatnya."

“Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai hamba dan utusan-Nya.”

"Ya Allah, seperti halnya nikmat yang Engkau beri kepada kami dengan menerima khitbah ini serta membenarkan ucapan kesanggupan kami dan mertua yang Engkau siapkan untuk kami. Kami memohon dengan ke-Agungan Nabi-Mu, Nabi Muhammad Saw., untuk menerima harta kami, menetapkan langkah usaha kami, dan menjauhkan dari musuh-musuh kami, menutupi aib atau kekurangan kami, memaafkan semua dosa kami, mengumpulkan saudara-saudara kami di mana pun kami berseru. Karena Engkaulah Zat yang Maha Menghendaki atas segalanya. Ya Allah, Zat Pembuka Keberkahan, Zat Pemenuh Kebutuhan, dan Zat  yang menciptakan langit bumi." Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 


Minggu, 25 Juni 2023

KAJIAN TENTANG TAFSIR QS. ALI IMRAN : 102-103

(Menjawab Pertanyaan Ikhwan)

Dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan dalam beragama, persatuan dan kesatuan warga negara khususnya umat islam adalah sebuah hal yang mutlak. Persatuan dan kesatuan ini sudah pasti merupakan dorongan faktor kesetiaan akan janji yang sudah pernah dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai bersama, yaitu kemakmuran dan keselamatan dunia akhirat. Tanpa faktor pendorong ini, sulit rasanya untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan apalagi di tengah banyaknya pihak yang tidak menyadari akan bahaya pecah belahnya suatu bangsa dan negara khusnya umat islam.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْداءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواناً وَكُنْتُمْ عَلى شَفا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْها كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آياتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan amarah hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk." (QS. Ali Imran : 102-103)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103)

Adapun tafsir penggalan ayat surat Ali Imran ayat 103,

وَلا تَفَرَّقُوا

"Dan jangan kalian bercerai-berai." (Ali Imran: 103)

Allah memenntahkan kepada mereka untuk menetapi jamaah (kesatuan) dan melarang mereka bercerai-berai. Banyak hadits yang isinya melarang bercerai-berai dan memerintahkan untuk bersatu dan rukun. Seperti yang dinyatakan di dalam kitab Sahih Muslim melalui hadits Suhail ibnu Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا، يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ، وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ»

"Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian dalam tiga perkara dan murka kepada kalian dalam tiga perkara. Allah ridha kepada kalian bila kalian menyembah-Nya dan kalian tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, bila kamu sekalian berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai, dan bila kalian saling menasihati dengan orang yang dikuasakan oleh Allah untuk mengurus perkara kalian. Dan Allah murka kepada kalian dalam tiga perkara, yaitu qil dan qal (banyak bicara atau berdebat), banyak bertanya dan menyia-nyiakan (menghambur-hamburkan) harta." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bilamana mereka hidup dalam persatuan dan kesatuan, niscaya terjaminlah mereka dari kekeliruan, seperti yang disebutkan oleh banyak hadits mengenai hal tersebut. Sangat dikhawatirkan bila mereka bercerai-berai dan bertentangan (karena berbeda pendapat) menjadikan mereka lemah. 

Dalam Tafsir Al-Baghawi menurut Abu Muhammad al-Husayn ibn Mas'ud ibn Muhammad al-Farra' al-Baghawi (w. 516 H) juz 2, halaman 103, beliau menjelaskan mengenai urgensi persatuan sebagaimana tersirat dari Surat Ali Imran : 103 di atas. Didalam penafsirannya yang memgambil riwayat dari Ibnu Mas'ud, bahwa bersatu dan menjaga kekompakan (jama'ah) merupakan perkara yang ditekankan oleh syariat. 

(واعتصموا بحبل الله جميعا) الحبل : السبب الذي [ يتوصل ] به إلى البغية وسمي الإيمان حبلا لأنه سبب يتوصل به إلى زوال الخوف واختلفوا في معناه هاهنا ، قال ابن عباس : معناه تمسكوا بدين الله ، وقال ابن مسعود : هو الجماعة ، وقال : عليكم بالجماعة فإنها حبل الله الذي أمر الله به ، وإن ما تكرهون في الجماعة والطاعة خير مما تحبون في الفرقة

“(wa’tashimu bi habli al-lahi jami’an). Makna al-hablu (dalam ayat ini) adalah suatu sebab yang bisa mengantarkan pada tercapainya cita-cita. Iman dinisbatkan maknanya dengan tali karena iman merupakan sebab bagi tercapainya tujuan, yaitu hilangnya rasa takut/kekhawatiran. Para ulama tafsir bersilang pendapat mengenai maknanya dalam hal ini. Ibnu Abbas berkata: “berpegang teguhlah kalian kepada agama Allah”. Ibnu Mas’ud berkata: “al-habl itu adalah jama’ah. Lebih jauh ia menjelaskan: (seolah ayat bermakna) Wajib atas kalian berjama'ah (bersatu). Karena sesungguhnya jama'ah merupakan tali Allah yang dengannya Allah menyampaikan perintah. Sesungguhnya sesuatu yang kalian benci bersama jama’ah dan ketaatan adalah lebih baik dibanding dengan sesuatu yang kalian benci dalam kondisi perpecahan/tercerai berai” (Abu Muhammad al-Husayn ibn Mas'ud ibn Muhammad al-Farra' al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, Tanpa Nama Kota: Dar al-Taybah, 1997, juz 2, halaman 103).   

Dalam Tafsir Al-Qurthubi menurut Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi (w. 671 H) beliau lebih menyinggung pentingnya berada di dalam ikatan jama'ah (persatuan) itu. Di dalam kitab tafsirnya, yang sering dikenal dengan nama Tafsir al-Qurthubi, Juz 4, halaman 159, ia menukil sebuah riwayat tafsir yang juga disandarkan periwayatannya pada Ibnu Mas’ud. Berikut penjelasannya,

عن عبد الله بن مسعود واعا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا قال : الجماعة ; روي عنه وعن غيره من وجوه ، والمعنى كله متقارب متداخل ; فإن الله تعالى يأمر بالالفة وينهى عن الفرقة فإن الفرقة هلكة والجماعة نجاة

“Dari Abdullah ibn Mas’ud, ayat wa’tashimu bi habli al-lahi jami’an wa la tafarraqu. Menurut Ibnu Mas’ud: ayat ini bermakna jamaah. Makna senada diriwayatkan oleh Taqi ibn Mukhallid dari banyak jalur lain selain Ibn Mas’ud. Namun dari sisi makna, seluruhnya menunjukkan makna yang saling mendekati dan saling mendukung satu sama lain. [Substansinya ayat seolah menunjukkan, bahwa] sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan agar bersikap lunak/toleran (ulfah) dan melarang sikap cerai-berai/ perpecahan. Karena sikap suka perpecahan adalah condong pada kerusakan, sementara sikap berjama'ah (bersatu) adalah condong pada keselamatan.” (Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Riyadl: Dar al-’Alam al-Kutub, Tanpa Tahun, Juz 4, halaman 159)   

Lebih lanjut, Imam Syamsudin al-Qurthubi (w. 671 H), menukil sebuah ungkapan dari Ibn al-Mubarak sebagai berikut, 

ورحم الله ابن المبارك حيث قال إن الجماعة حبل الله فاعتصموا منه بعروته الوثقى لمن دانا   

“Semoga Allah merahmati Ibn Mubarak yang berpendapat bahwa sesungguhnya jama'ah itu adalah talinya Allah. Maka dari itu, berpeganglah kalian darinya dengan ikatan yang kokoh khususnya bagi orang yang mendekat.” (Tafsir al-Qurthubi, Riyadl: Dar al-’Alam al-Kutub, Tanpa Tahun, Juz 4, halaman 159)

Singkatnya, maksud firman Allah, 

وَلا تَفَرَّقُوا

"Dan jangan kalian bercerai-berai." (Ali Imran: 103) 

Pertama, mengandung perintah agar kita mengikuti suara (pendapat) mayoritas. Kedua, ketika ada perbedaan pendapat jangan sampai dijadikan ajang perdebatan yang saling menyalahkan, karena sesuai hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim diatas ada tiga hal yang dimurkai Allah Ta'ala yaitu perderbatan, banyaknya pertanyaan yang tidak berfaedah hanya akan mempersulit diri sendiri serta boros dalam menghamburkan harta benda. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 22 Juni 2023

KAJIAN TENTANG HUKUM NON SAYYID (AKHWAL) MENIKAHI SYARIFAH

KAJIAN TENTANG HUKUM NON SAYYID (AKHWAL) MENIKAHI SYARIFAH 

(Artikel Request Ikhwan Aswaja)

Para ulama berselisih pendapat tentang kesetaraan nasab di dalam pernikahan. Di antara mereka ada yang menganggapnya dan berkata; Tidak boleh orang yang bukan Syarif menikahi wanita Syarifah dari Bani Hasyim.

Apakah syarifah boleh menikah dengan laki-laki non sayyid? Imam Abdurrahman Ba'alawi di dalam kitabnya "Bughyah al-Murtasyidin" berpendapat bahwa seorang keturunan dari Fatimatuz Zahra hanya dapat menikah dan dinikahi oleh kalangan mereka baik yang dekat maupun yang jauh.

Di dalam kitab ini tidak diperbolehkan adanya perkawinan seorang syarifah dengan laki-laki yang bukan sayyid, meski perempuannya ridha. Hal ini dikarenakan nasab yang mulia tidak bisa dibandingi dengan sembarangan.

Perkawinan seorang sayyid dan syarifah sangatlah bergantung dan berhubungan dengan kafaah karena hal ini bergantung pada nasab, seorang sayyid-syarifah ini adalah keturunan langsung dari Rasulullah SAW yang memiliki kemuliaan nasab. Maka dari itu syarifah harus menikah dengan seorang sayyid yang sekafaah dengannya.

Di dalam sebuah perkawinan yaitu adanya suatu kafaah. Kafaah adalah kesepadanan atau kesetaran antara calon suami dan calon isteri, termasuk dari segi agama, keturunan, dan dari segi keilmuannya.

Hanya saja, syarat kafaah ini masih terdapat perbedaan di antara para ulama khususnya terkait kafaah nasab yaitu jika seorang syarifah menikah dengan laki-laki yang non sayyid.

Menurut Mazhab Maliki, perkawinan di antara seorang syarifah dengan non sayyid adalah sah. Mazhab Maliki membolehkan perkawinan ini karena di dalam Mazhab Maliki kafaah hanya dibagi menjadi dua yaitu: agama dan bebas dari aib yang ditentukan oleh perempuan.

Sedangkan menurut Mazhab Syafii tidaklah sah karena dianggap tidak sekufu dalam hal nasab, hal ini juga mengakibatkan putusnya nasab Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika pun diperbolehkan maka seorang syarifah harus mendapatkan ridha oleh seluruh walinya, baik itu wali yang terdekat maupun wali yang jauh.

Muhammad bin Abdurrahman dalam bukunya berjudul "Fiqih Empat Madzhab" mengatakan di dalam Mazhab Syafi'i kafaah ialah di antaranya, nasab, agama, kemerdekaan, dan khifah (profesi). Bani Hasyim hanya setara antara sesama mereka sendiri.

Kafaah adalah syarat bagi sahnya suatu perkawinan jika tidak ada kerelaan, namun bila ada kerelaan maka kafaah tidak dijadikan sebagai syarat, dan hal itu juga adalah hak seorang perempuan dan juga walinya bersama-sama.

Ibnu Hajar menyatakan dalam kitab Fathul Bari, yang seharusnya diunggulkan adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib dari keluarga Quraisy yang lain. Sedangkan di luar mereka antara satu sama yang lainnya sebanding.

*Kasus di Hadramaut*

Persoalan apakah syarifah boleh menikah dengan laki-laki non sayyid juga banyak dibahas di Hadramaut. Disana, seorang syarifah tidak boleh dinikahkan kecuali oleh sayyid. Argumen mereka juga sama, dalam rangka menjalankan sunnah tentang adanya kesetaraan (kafa'ah) antara kedua calon pengantin, baik itu dari segi agama seperti iffah (keterjagaan dari maksiat), atau hirfah (mata pencaharian), aib nikah, merdeka, maupun nasab. 

Ulama Hadramaut sangat memelihara kafa'ah nasab. Lebih-lebih lagi mereka yang bernasab melantas kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yang kerap dikenal sebagai ahlu bait. Mesti kita ketahui, kekangan ini hanya berlaku kepada syarifah yang kepingin menikah dengan non-sayyid. Namun, bila seorang sayyid hendak menikahi non-syarifah, maka akan terlepas dari belenggunya. Sebab, persoalan nasab akan menjalur kepada sang ayah, bukan kepada ibu (kecuali dalam beberapa masalah). 

Syekh Dr. Muhammad bin Ali Ba'atiyah menukil perkataan Imam Suyuti dalam kitabnya: "Keturunan itu akan mengikuti nasab ayahnya, dan akan ikut kepada ibu ketika ibunya berstatus isteri dan hamba sahaya (meski ayahnya merdeka) atau merdeka (meski ayahnya hamba sahaya)." 

Ulama Hadramaut menetapkan fatwa ketidakabsahan pernikahan antara syarifah dengan non-sayyid, yang demikian itu semata-mata demi melindungi kelestarian nasab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar tak terputus dan terus bersambung hingga hari kiamat. 

Dalam kitab Umdatul Mufti wal Mustafti, Mufti Hadramaut Imam Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman Al-Ahdal menyebutkan, "Tidak boleh bagi seorang syarif (Sayyid) mengawinkan anak perempuannya (syarifah) dengan selain syarif, namun andaikata ia (syarifah) telah baligh dan ridha, maka diperkenankan baginya melakukan hal tersebut. Karena persolaan kesetaraan (kafa'ah) merupakan hak bagi perempuan dan walinya, dan jika salah satunya menafikan perkara tersebut, hilanglah anjuran kesetaraan dalam pernikahan."

Imam Jamaluddin menegaskan dalam kitabnya, jika hal itu (pernikahan syarifah dengan non-dayyid) berlangsung, maka ulama berkewajiban mencegah dan memisahkan mereka, tak boleh hanya berdiam diri, sebab itu akan melambangkan keridhaannya terhadap perzinaan.

Dalil yang digunakan adalah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,

لا تنكحوا النساء إلا إلى الأكفاء. (رواه الطبراني) وفي رواية: ألا لا تزوج النساء إلا الأولياء، ولا يزوجن من غير الأكفاء.

"Janganlah kalian mengawinkan perempuan kecuali dengan orang yang sekufu (setara)." (HR. Thabrani). Dalam riwayat lain: "Tidaklah menikahkan seorang perempuan kecuali walinya, dan janganlah menikahkan mereka dengan orang yang tidak sekufu."

Berdasarkan konteks hadits, menerangkan bahwa kafa'ah (kesetaraan) dalam pernikahan merupakan anjuran Nabi. Oleh karenya, Imam Syafi'i, Ahmad, Sufyan, dan Abu Hanifah mencantumkan hukum kafa'ah dalam madzhabnya masing-masing. Kendati demikian, kafa'ah tidak termasuk syarat sahnya sebuah pernikahan.

Ibnu Hajar Al-Haitami pakar ulama fikih ternama madzhab Syafi'i berkata, "Dan (kafa'ah) dalam sebuah pernikahan tidak menjadi syarat sah nikah secara mutlak. Akan tetapi akan berubah sebagai syarat ketika sang perempuan tidak ridha (ketika tidak adanya kafa'ah). . . ."

Di dalam kitab Bugyatul Mustarsyidin, Mufti Tarim Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Husein Al-Masyur menyebutkan, "Saya tidak melihat kebolehan mengenai pernikahan (antara syarifah dengan non-syarif) meski dirinya (syarifah) dan sang wali ridha atas perihal tersebut, karena kemuliaan nasab tidak boleh dicemari dan dikotori, dan setiap kerabat dekat atau pun jauh memiliki hak atas keturunan (Fatimah) Az-Zahra, yaitu adalah keridhaan terhadap apa yang ia (Syarifah) lakukan."

Sayyid Abdurrahman menuturkan kisah yang pernah berlaku di kota Mekkah, yaitu menikahnya non-sayyid dengan syarifah. Topik ini menjadi kontroversi dan tak luput dari kepedulian ulama Saadah Ba'alawi, yang condong tidak setuju. Sontak, mereka mengerahkan segala usaha dan upaya agar melepaskannya dari ikatan pernikahan.

Walhasil, mayoritas ulama yang notebenenya Saadah Ba'alawi memutuskan fatwa larangan terkait pernikahan antara syarifah dan non-sayyid. Meski begitu, syariat tetap melegalkannya ketika dilambari keridhaan dari syarifah sendiri atau pun walinya.

Pendapat yang benar adalah kesamaan nasab itu tidak menjadi syarat sahnya pernikahan. Karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkan Zainab binti Jahsy Al-Qurasiyah dengan Zaid bin Haritsah yang merupakan maula beliau.

Nabi juga menikahkan putri beliau dengan Utsman bin Affan padahal beliau bukan dari Bani Hasyim bahkan beliau malah berasal dari bani Abdu Syams.

Dan sahabat Ali bin Abi Thalib juga menikahan putrinya yaitu Ummu Kultsum binti Fatimah Az-Zahra dengan Umar bin Khathab radhiyallahu anhum sementara Umar berasal dari Bani Adi bukan Bani Hasyim.

Di dalam hadits disebutkan : Jika telah datang kepada engkau seorang lelaki yang engkau ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia.” (Fatawa Ad-Durar As-Saniyah no. 292).

Kesimpulannya adalah sah pernikahan antara Akhwal dengan Syarifah jika sama sama ridha dan terpenuhi syarat serta rukun pernikahannya. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*