MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Rabu, 13 Desember 2017

KAJIAN TENTANG KEUTAMAAN QIYAMUL LAIL


Qiyamul lail adalah ibadah yang ditunaikan di malam hari, walau hanya sesaat. Di dalamnya ada shalat, membaca Al-Qur’an dan ibadah lainnya. Disebut qiyamul lail (menghidupkan malam) tidak mesti menghidupkan dengan mayoritas malam.

Dalam Muroqi Al-Falah disebutkan bahwa qiyamul lail yang terpenting adalah menyibukkan malam hari dengan ibadah (ketaatan). Ada juga pendapat lain yang mengatakan sudah disebut qiyamul lail walau hanya sebentar dengan membaca Al-Qur’an, mendengar hadits, berdzikir atau bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 34: 117)

Kata Qiyamul Lail terdiri dari dua kata atau kalimat yaitu pertama kata  Qiyam (قيام) apabila asalnya dari kata kerja (fi'il) qaa-ma, artinya : tegak atau berdiri. Kata qiyam juga merupakan bentuk isim fa'il (orang yang melakukan pekerjaan) dari kata qaa-imun (قائم), artinya orang yang berdiri.

Kedua dari kata atau kalimat Al-Lail (الليل) dalam bahasa Indonesia biasanya diartikan malam, yaitu masa atau waktu yang datang sesudah siang. Maka yang disebut malam adalah  masa yang terbentang dari sejak terbenam matahari hingga terbitnya.

Secara umum, qiyamul lail adalah perkara yang sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Berikut diantara fadhilah yang bersumber dari beberapa dalil dari ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan berbagai keutamaannya.

Qiyamul Lail adalah sifat seorang mukmin yang mewujudkan hakikat keimanannya. Allah Ta’âlâ berfirman,

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang, apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabb-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkah-kan sebagian dari rizki yang Kami berikan ke-pada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. As-Sajdah/32 : 16-17]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan apa yang mereka lakukan adalah shalat malam dan meninggalkan tidur serta berbaring di atas tempat tidur yang empuk.” [Tafsiir Ibni Katsir (VI/363)].

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ. قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا. نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا. أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا.

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk mengerjakan shalat) pada malam hari, kecuali sedikit (dari malam itu), (yaitu) seperduanya atau kurangilah sedikit dari seperdua itu, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur`ân itu dengan perlahan-lahan.” [QS. Al-Muzzammil: 1-4]

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

“Dan pada sebagian malam, bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang saat malam hari.” [QS. Al-Insân: 26-28]

كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالأَسْحَارِهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon ampunan di waktu sahur (menjelang fajar).” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)

Dari Asma’ binti Yazid Radhiyallahu anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَمَعَ اللهُ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، جَاءَ مُنَادٍ فَنَادَى بِصَوْتٍ يَسْمَعُ الْخَلاَئِقُ: سَيَعْلَمُ أَهْلُ الْجَمْعِ اَلْيَوْمَ مَنْ أَوْلَى بِالْكَرَمِ، ثُمَّ يَرْجِعُ فَيُنَادِي: لِيَقُمَ الَّذِيْنَ كاَنَتْ (تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ) فَيَقُوْمُوْنَ وَهُمْ قَلِيْلٌ.

“Bila Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir pada hari Kiamat kelak, maka datang sang penyeru lalu memanggil dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, ‘Hari ini semua yang berkumpul akan tahu siapa yang pantas mendapatkan kemuliaan!’ Kemudian penyeru itu kembali seraya berkata, ‘Hendaknya orang-orang yang ‘lambungnya jauh dari tempat tidur’ bangkit, lalu mereka bangkit, sedang jumlah mereka sedikit.” [HR. Abu Ya'la dalam al-Musnadul Kabiir (IV/373)]

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَـةً، لاَ يُوَافِقُهَا رَجُـلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ.

“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” [HR. Muslim dalam kitab Shalaatul Musaafiriin, bab Fil Laili Saa’tun Mustajaabun fii had Du’aa’, (hadits no. 757)].

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menetapkan adanya waktu dikabulkannya do’a pada setiap malam, dan mengandung dorongan untuk selalu berdo’a di sepanjang waktu malam, agar mendapatkan waktu itu.” [Lihat Shahiih Muslim bi Syarhin Nawawi (VI/36)].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَحِمَ اللهُ رَجُـلاً، قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ اِمْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِيْ وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ اِمْرَأَةً، قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِيْ وَجْهِهِ الْمَاءَ.

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan istrinya lalu sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di waktu malam lalu ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila si suami enggan untuk bangun ia pun memercikkan air ke wajahnya.” [HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Qiyaamul Lail, (hadits no. 1308), an-Nasa-i dalam kitab Qiyaamul Lail, bab at-Targhiibu fii Qiyaamil Lail, (hadits no. 1610), Ibnu Majah dalam kitab Iqaamatush Shalaah, bab Maa Jaa-a fii man Ayqazha Ahlahu minal Lail, (hadits no. 1336), Ibnu Khuzaimah dalam Shahiihnya, (II/183), Ibnu Hibban dalam Shahiihnya (VI/306)].

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اسْتَيْقَظَ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا، كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ.

“Barangsiapa yang bangun di waktu malam dan ia pun membangunkan isterinya lalu mereka shalat bersama dua raka’at, maka keduanya akan dicatat termasuk kaum laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah.” [HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab al-Hatstsu ‘ala Qiyaamil Lail, (hadits no. 1451), Ibnu Majah, dalam kitab Iqaamatish Shalaah, bab Maa Jaa-a fii man Ayqazha Ahlahu minal Lail, (1339), Ibnu Hibban dalam Shahiihnya, (VI/307)].

Al-Munawi berkata, “Hadits ini seperti dikemukakan oleh ath-Thibi menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan kebaikan seyogyanya menginginkan untuk orang lain apa yang ia inginkan untuk dirinya berupa kebaikan, lalu ia pun memberikan kepada yang terdekat terlebih dahulu.” [Lihat Faidhul Qadiir oleh al-Munawi, (IV/25)].

*Keaimpulan keutamaan qiyamul lail adalah:*

1. Mendapatkan pujian yang banyak dalam Alquran.
2. Hatinya akan terjaga dari kerusakan dan penyakit hati. Karena terlalu banyak tidur bisa menyebabkan rusaknya hati, karenanya dengan qiyamul lail dia bisa mengurangi tidurnya.
3. Dia merupakan sholat sunnah yang paling utama.
4. Orang yang mengerjakannya secara berkesinambungan akan digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah.
5. Dia akan lepas dari gangguan setan di malam harinya.
6. Qiyamul lail merupakan sebab baiknya jiwa, lapangnya dada, dan semangatnya anggota tubuh.
7. Orang yang mengerjakannya berkesempatan mendapatkan 1/3 malam terakhir yang merupakan waktu di mana doa akan dikabulkan. 8. Dan sebaik-baik doa saat itu adalah permohonan ampun akan semua dosa-dosa, sebagaimana yang diisyaratkan dalam surah Adz-Dzariyat di atas. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Minggu, 10 Desember 2017

ADAKAH HADITS CINTA TANAH AIR ?


Jika koh #Felix_Siauw mengatakan bahwa mencintai tanah air tidak ada dalilnya sy maklumi soalnya dia seorang muallaf yg masih harus banyak belajar dan juga bukan penduduk asli indonesia. Mayoritas bangsa dan masyarakat indonesia mengakui bahwa mencintai tanah air sebagian dari keimanan, khususnya bagi warga NU sebagai ormas islam terbesar sebagaimana KH. Wahab Hasbullah pernah mengatakan, "HUBBUL WATHON MINAN IMAN".

Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas ra. yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu,” (HR Ibnu Hibban).

Di samping Mekah, Madinah adalah juga merupakan tanah air Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di situlah beliau menetap serta mengembangkan dakwah Islamnya setelah terusir dari Mekah. Di Madinah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berhasil dengan baik membentuk komunitas Madinah dengan ditandai lahirnya watsiqah madinah atau yang biasa disebut oleh kita dengan nama Piagam Madinah.

Kecintaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap Madinah juga tak terelakkan. Karenanya, ketika pulang dari bepergian, Beliau memandangi dinding Madinah kemudian memacu kendarannya dengan cepat. Hal ini dilakukan karena kecintaannya kepada Madinah.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Dari Anas ra. bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila kembali dari berpergian, beliau melihat dinding kota Madinah, maka lantas mempercepat ontanya. Jika di atas atas kendaraan lain (seperti bagal atau kuda, pen) maka beliau menggerak-gerakannya karena kecintaanya kepada Madinah,” (HR Bukhari).

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika kembali dari bepergian, yaitu memandangi dinding Madinah dan memacu kendaraannya agar cepat sampai di Madinah sebagaimana dituturkan dalam riwayat Anas ra. di atas, menurut keterangan dalam kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani menunjukkan atas keutamaan Madinah disyariatkannya cinta tanah air.

وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِينِ إِلَيْهِ

“Hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencitai tanah air serta merindukannya” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz III, halaman 621).

Dari penjelasan singkat ini maka setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwa mencintai tanah air merupakan tabiat dasar manusia, di samping itu juga dianjurkan oleh syara` (agama) sebagaimana penjelasan dalam kitab karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dikemukakan di atas.

Kesimpulannya adalah bahwa mencintai tanah air bukan hanya karena tabiat, tetapi juga lahir dari bentuk dari keimanan kita. Karenanya, jika kita mendaku diri sebagai orang yang beriman, maka mencintai Indonesia sebagai tanah air yang jelas-jelas penduduknya mayoritas Muslim merupakan keniscayaan. Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman)

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 07 Desember 2017

BENARKAH BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW BERTULISKAN لا إله الا الله محمد رسول الله


Tulisan ini hanya untuk meluruskan wacana yang diframing sedemikian rupa oleh oknum-oknum tertentu, sehingga seolah itu benar seratus persen. Bahkan dengan bahasa-bahasa maut framing tersebut mampu menjerat siapapun yang menentangnya. (lihat potongan video ILC)

Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”

Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

“Bahwa Nabi Saw masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.”

Ibn Abi Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata:

كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ

“Liwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna putih.”

Saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi panglima militer di Khaibar, beliau bersabda:

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْلَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ الله َوَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ

“‘Sungguh besok aku akan menyerahkan ar-râyah atau ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Tiba-tiba kami melihat Ali, sementara kami semua mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan ar-rayah itu kepada Ali. Kemudian Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan berita duka atas gugurnya Zaid, Ja‘far, dan Abdullah bin Rawahah, sebelum berita itu sampai kepada beliau, dengan bersabda:

أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ

“Ar-Râyah dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur; kemudian diambil oleh Ja‘far, lalu ia pun gugur; kemudian diambil oleh Ibn Rawahah, dan ia pun gugur.” (HR. Bukhari)

Dari Ibn Abbas –radhiyaLlâhu ’anhu-:

«كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ»

“Panjinya (râyah) Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”.” (HR. Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath (219).

Mari kita kaji dengan teliti riwayat-riwayat terkait secara terbuka. Untuk mendekatkan pemahaman kita simak definisi masing-masing rooyah dan liwaa’.

*Ar-Rooyah* adalah bendera yang ada di tangan pimpinan-pimpinan devisi perang, karenanya jumlahnya banyak saat peperangan berkecamuk.

*Al-Liwa’* adalah bendera penanda keberadaan pimpinan perang tertinggi yang mengatur seluruh devisi perang. Bendera ini diikat di tombak.

Dalam hal ini Imam Ibrahim Al-Harbi dalam kitab Ghorib al-Hadits menyatakan,

الرّاية : وهي أعلام لكلّ فريق، واللواء: للأمير الأعظم وقد يُسمَّى اللواء راية.

“Ar-Royah adalah panji-panji untuk masing-masing devisi perang. Sementara Al-Liwaa’ adalah bendera untuk pimpinan tinggi. Tapi terkadang Liwaa’ juga dinamai Ar-Rooyah.”

Berikut ini 10 riwayat hadits ttg Al-Liwaa’ dan Ar-Rooyah:

*HADITS KE-1*

عن جابر رضي الله عنه قال: كان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض ، و رايته سوداء " .
أخرجه الترمذي والحاكم وابن ماجة والخطيب في التاريخ.

“Dari Jabir ra. Dia berkata, “Liwaa’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna putih dan rooyah-nya berwarna hitam”. (HR. AT-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Majah dan Al-Khothib dalam kitab At-Tarikh)

Penilaian Muhaddits: At-Tirmidzi menilai hadits ini sebagai Hasan Ghorib.

Riwayat Pendukung:

" أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة يوم الفتح ولواؤه أبيض ". أخرجه أبو داود و النسائي وابن ماجة و الترمذي وابن حبان في صحيحه والبيهقي والحاكم وقال : صحيح على شرط مسلم

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam masuk kota Mekah pada saat pembebasan benderanya berwarna putih”. (HR. Abu dawud, an-Nasa’i, ibnu Majah, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi dan Al-Hakim.

Al-Hakim menilai hadits ini sebagai hadits shahih sesuai standar periwayatan Imam Muslim)

*HADITS KE-2*

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ : كَانَتْ رَايَاتُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ. (أخرجه أحمد في المسند والترمذي وابن ماجة والبيهقي في السنن الكبرى وأبو يعلى في المسند وأبو نعيم في الحلية) ، ومثله عند الطبراني من حديث بريدة.

“Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa dia berkata, “Rooyah-rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna hitam dan Liwaa’ beliau berwarna putih” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Abu Ya’la dan Abu Nu’aim).

Riwayat-Riwayat lain dari Ibnu Abbas:

1 - ومثله عند الطبراني من حديث بريدة.

1 - Hadits serupa diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarani dari Buraidah.

2 - وأخرجه ابن عدي والطبراني وابو الشيخ من طريق حيان بن عبيد الله وهو مضطرب الحديث،كان قد اختلط، وصعفه ابن عدي في الكامل، ويزيد أحيانا في هذا الحديث: " ولواؤه أبيض مكتوب فيه لا اله الا الله محمد رسول الله " وهو قد اضطرب في هذه الزيادة فتارة يذكرها وتارة يحذفها، وتارة يرويه عن ابن عباس وتارة يرويه عن بريدة ولذلك قال الحافظ:إسنادها واه. أي شديد الضعف.

2 - Hadits di atas juga ditakhrij oleh Ibnu Ady, Ath-Thabarani, Abu Asy-Syaikh dari jalur Hayyan bin Abdullah, seorang yang haditsnya tidak konsisten (mudthorib), hafalannya lemah dan di-lemahkan oleh Ibnu Ady dalam kitab Al-Kamil. Bahkan terkadang menambah redaksi hadits ini *“LIWAA’ BELIAU BERWARNA PUTIH DAN TERTULIS ‘LAA ILAAHA ILLAALLOOH MUHAMMADUR ROSULULLOH”.*

Tambahan konten hadits ini tidak konsisten karena terkadang menyebutkannya dan terkadang membuangnya. Bahkan terkadang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan lain kali meriwayatkannya dari Buraidah. Karenanya, Al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan, ‘Sanadnya waahin (sangat-sangat lemah)
 
3 - وأخرجه أبو الشيخ من حديث أبي هريرة من طريق محمد بن أبي حميد ، عن الزهري ، عن سعيد بن المسيب ، عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم ، مثله.
وهذا منكر جدا ولا أصل له من حديث الزهري ولا سعيد ابن المسيب، وآفته محمد بن أبي حميد تفرد به عن إمام يجمع حديثه بسند مشرق، وهو مع ذلك فقد قال البزار فيه: أحاديثه لا يتابع عليها، ولا أحسب ذلك من تعمده ، ولكن من سوء حفظه ، فقد روي عنه أهل العلم. وقال الهيثمي: قد أجمعوا على ضعفه، وهو ضعيف جدا. وقال البخاري: وهو ضعيف ذاهب الحديث لا أروي عنه شيئا. وقال أبو حاتم: هو منكر الحديث.

3 - Hadits serupa ditakhrij oleh Abu Asy-syeikh dari hadits Abu Hurairah dari jalur Muhammad bin Abi Humaid, dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan redaksi yang sama.

Penilaian Riwayat ini dinila sebagai MUNKAR JIDDAN (sangat-sangat buruk) dan tak berdasar sama sekali
Cacat hadits ini ada pada perawi yang bernama Muhammad bin Abu Humaid.

Al-Bazzar berkata, Hadits-haditsnya tidak bisa dikuatkan dg riwayat lain. Itu bukan karena faktor kesengajaannya, tetapi lebih karena faktor hafalannya yang tidak tajam. Namun banyak ulama meriwayatkan darinya.

Al-Haitsami berkata, Muhadditsun bersepakat ttg lemahnya Muhammad bin Abu Humaid ini. Dia sangat lemah sekali.

Imam Al-Bukhori berkata, *“Dia lemah dan hilang haditsnya. Tak satupun aku meriwayatkan darinya”.*

Abu Hatim berkata, “Dia haditsnya MUNKAR”.

4 - وأخرج العقيلي في الضعفاء عن يزيد بن بلال، وكان من أصحاب علي رضي الله عنه ، قال: " رأيت راية علي حمراء مكتوب فيها محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم ". إسناده ضعيف جدا

4 – Al-Uqaili Yazid bin Bilalmentyakhrij dalam kitab Adh-Dhu’afa dari Yazid bin Bilal (pengikut Ali bin Abi Thalib). Dia berkata, *“SAYA MENYAKSIKAN ROOYAH ALI BERWARNA MERAH DAN TERTULIS ‘MUHAMMAD RASULULLAH”.* (Sanadnya sangat-sangat lemah sekali)

*HADITS KE-3*

عن أبي هريرة قال: "كانت راية النبي صلى الله عليه وسلم قطعة قطيفة سوداء كانت لعائشة وكان لواؤه أبيض، وكان يحملها سعد بن عبادة ثم يركزها في الأنصار في بني عبد الأشهل وهي الراية التي دخل بها خالد بن الوليد ثنية دمشق وكان اسم الراية العقاب فسمت ثنية العقاب". أخرجه ابن عدي في الكامل وابن عساكر في تاريخه ، وإسناده ضعيف.

“Dari Abu Hurairah ra. “Rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berupa qith’ah qothifah (sepotong kain mantel) warna hitam yang miliki Aisyah ra. Dan Liwaa’ beliau berwarna putih. Mulanya Rooyah itu dibawa oleh Sa’d bin Ubadah, lalu ditancapkan di kalangan Anshor Bani Asyhal; itulah rooyah yang dibawa masuk Kholid bin Al-Walid ke dataran Damaskus. Rooyah tersebut diberi nama Al-Iqaab. Sehingga dataran Damaskus dinamai sebagai Tsaniyah Al-Iqaab”. (HR. Ibnu Ady dalam Al-Kamil dan Ibnu Asakir dalam kitab At-Tarikh. Sanadnya lemah)

*HADITS KE-4*

عن عمرة بنت عبد الرحمن ، قالت : "كان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض ، وكانت رايته سوداء من مِرطٍ لعائشة مُرَحّل " أخرجه أبو يوسف في الخراج وابن أبي شيبة في المصنف وأبو الشيخ في أخلاق النبي والبغوي

“Dari Amrah bin Abdurrohman, dia berkata, “Liwaa’ Rsulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwarna putih dan Rooyahnya berwarna hitam yang terbuat dari kain selimut milik Aisyah ra. bergambar rohl (dudukan penunggang onta)”. (Ditakhrij oleh Abu Yusuf dalam kitab Al-Khorooj, Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, Abu Asy-Syeikh dalam kitab Akhlaq an-Nabi dan Al-Baghawi).

Penilaian Muhadditsin: Sanad hadits ini lemah karena menggunakan model periwayatan ‘an’anah Ibnu Ishaq yang terkenal sebagai mudallis (tukang memelintir sanad). Namun hadits ini bisa naik kelas menjadi Hasan lighoirihi (baik karena didukung riwayat lain)

Riwayat Penguat:

عن ابن أبي جرير: " أنّ راية النبي صلى الله عليه وسلم كانت قطعة من مرط كان لعائشة " ( أخرجه أبو الشيخ في أخلاق النبي )

“Dari Ibnu Abi Jarir, ‘Sesungguhnya Rooyah nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah sepotong kain dari selimut milik Aisyah ra.”. (Ditakhrij oleh Abi Asy-Syeikh dalam kitab Akhlaq An-Nabi)

*HADITS KE-5*

عن يونس بن عبيد مولى محمد بن القاسم قال: بعثني محمد بن القاسم إلى البراء بن عازب يسأله عن راية رسول الله صلى الله عليه و سلم ما كانت؟ فقال: كانت سوداء مُرَبّعَة من نَمِرَة. (أخرج البخاري في التاريخ وأحمد في المسند والترمذي وأبو داود والنسائي في الكبرى وأبو يعلى والروياني في مسنديهما) ، وقال البخاري في علل الترمذي: هو حديث حسن.

“Dari Yunus bin Ubaid, budak Muhammad bin Al-Qasim. Dia berkata, Muhamamad bin Al-Qasim mengutusku kepada Al-Barra` bin Azib guna menanyakan tentang Rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; bagaimana bentuknya?. Al-Barra` menjawab, ‘Rooyah beliau berwarna hitam persegi dari namirah (selimut wol belang belang-belang seperti kulit macan)”. (Ditakhrij oleh Al-Bukhari dalam kitab At-tarikh, imam Ahmad dalam Al-Musnad, At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa`i, Abu Ya’la dan Ar-Rouyani dalam musnadnya).

*(FAEDAH)*

Terkait Rooyah namirah ini banyak ulama (Imam Al-Farra`, Imam Tsa’lab, Al-Hafidz Ibnu Hajar) memberikan gambaran yang semuanya mengarah bahwa Rooyah Namirah ini  tidak murni berwarna hitam pekat, tetapi ada garis-garis putih tipis sehingga nampak dari kejauhan berwarna hitam.

*HADITS KE-6*

عَنْ الْحَارِثِ بْنِ حَسَّانَ قَالَ: قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا عَلَى الْمِنْبَرِ وَبِلَالٌ قَائِمٌ بَيْنَ يَدَيْهِ مُتَقَلِّدٌ سَيْفًا وَإِذَا رَايَةٌ سَوْدَاءُ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا هَذَا عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ قَدِمَ مِنْ غَزَاةٍ . (أخرج ابن ماجة في سننه وأحمد في المسند وابن أبي شيبة في المسند ) حسن .

“Dari Al-Harits bin Hassan, dia berkata, “Aku datang ke Madinah, lalu aku menyaksikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar, sementara Bilal berdiri di depan beliau sambil menghunus pedang. Tiba-tiba nampak bendera hitam. Maka aku bertanya, ‘Siapa orang ini?’. Mereka menjawab, ‘Ini adalah Amr bin Al-Ash ra. baru datang dari perang”. (Ditakhrij oleh Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Ibnu Abi syaibah). Hadits ini bernilai HASAN

*HADITS KE-7*

عن أنس قال : استخلف رسول الله صلى الله عليه و سلم بن أم مكتوم مرتين على المدينة ولقد رأيته يوم القادسية معه راية سوداء. (أخرج أحمد في المسند) حسن

“Dari Anas, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai penggantinya di Madinah sebanyak dua kali. Aku melihatnya pada perang Qadisiyah membawa rooyah hitam”. (Ditakhrij oleh Imam Ahmad). Hadits ini bernilai HASAN

*HADITS KE-8*

عن أبي بكر بن عياش قال : قدم علينا شعيب بن شعيب بن محمد بن عبد الله بن عمرو بن العاص ، فكان الذي بيني وبينه ، فقال يا أبا بكر : « ألا أخرج لك مصحف عبد الله بن عمرو بن العاص ؟ فأخرج حروفا تخالف حروفنا ، فقال : وأخرج راية سوداء من ثوب خشن ، فيه زران وعروة ، فقال : هذه راية رسول الله صلى الله عليه وسلم التي كانت مع عمرو ». أخرج ابن أبي داود في المصاحف وابن أبي الدنيا ، إسناده لا بأس به

Dari Abu Bakar bin Ayyasy, dia berkata, “Datang kepadaku syu’aib bin Syu’aib bin Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Antara dia dan aku terjalin pertemanan. Dia berkata, ‘Wahai Abu Bakar, maukah engkau aku tunjukkan mushaf milik Abdullah bin Amr bin Al-Ash?’. Lalu dia mengeluarkan mushaf yang berisi tulisan yang berbeda dengan mushaf kami. Lalu dia mengeluarkan lagi Rooyah berwarna hitam dari dalam kantung kain kasar yang ada dua kancing dan tali. Kemudia dia berkata, ‘Ini adalah Rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang disimpan Amr bin Al-Ash”. (Ditakhrij oleh Ibnu Abi Dawud dalam kitab Al-Mashahif dan Ibnu Abi ad-Dunya). Sanad riwayat ini tidak bermasalah.

*HADITS KE-9*

عن يزيد بن أبي حبيب قال: كانت رايات رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداً . أخرج ابن أبي داود في المصاحف وابن أبي الدنيا ، مرسل.

“Dari Yazid bin Abi Habib, dia berkata, “Rooyah-rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna hitam”. (Ditakhrij oleh Ibnu Abi Dawud dalam kitab Al-Mashahif dan Ibnu Abi ad-Dunya). Hadits ini MURSAL

*HADITS KE-10*

عن ابن عمر ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا عقد لواء عقده أبيض ، وكان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض . أخرج أبو الشيخ في أخلاق النبي ، إسناده ضعيف

“Dari Ibnu Umar, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika memasang Liwaa’ maka Liwaa’ itu berwarna putih. Dan memang Liwaa’ Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwarna putih”. (Ditakhrij oleh Abu Asy-Syaikh dalam Akhlaq An-Nabi). Sanadnya lemah.

*KESIMPULAN:*

1. Liwaa’ yang digunakan rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam berwarna PUTIH dari potongan selimut Aisyah ra. bergambar rohl (kursi dudukan pengendara onta)

2. Rooyah-rooyah beliau berwarna HITAM bergaris-garis putih tipis berbentuk persegi

3. Liwaa’ dan Rooyah tidak ada sama sekali tulisan kalimat LAA ILAAHA ILLAALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH.

*4. BARANGSIAPA YANG MASIH MENGKLAIM DAN MENGAMPANYEKAN ADANYA KALIMAT TAUHID MAKA DIA BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH)*

Simaklah perkataan Abu Syamah rahimahullah (lihat Tamam al-Minnah halaman 32), “Perbuatan para ulama yang membawakan hadits-hadits dla’if ini, menurut para muhaqqiq (ahli) hadits, ulama ushul dan pakar Fikih adalah *SUATU KEKELIRUAN.* Bahkan mereka wajib menjelaskan perkara tersebut jika mampu. Jika tidak, mereka akan terkena ancaman Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits berikut,

عن سمرة قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ حَدَّثَ عَنىِّ بِحَدِيْثٍ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ اْلكَاذِبِيْنَ

1). Dari Samurah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku padahal ia mengetahui bahwasanya ia berdusta maka dia adalah salah seorang pendusta”. [HR Muslim, at-Turmudzi: 2664 dan Ahmad: V/ 19. Shahih Muslim: 1863].

عن سلمة بن الأكوع قال: سَمِعْتُ  النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم  يَقُوْلُ: مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَاَ لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

2). Dari Salamah bin al-Akwa’ radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkata atas namaku sesuatu yang TIDAK pernah aku katakan, maka siapkan tempatnya  di neraka”. [HR al-Bukhori: 109 dan Ahmad: II/ 501 dari Abu Hurairah. Mukhtasor Shahih al-Bukhori : 74]

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Rabu, 29 November 2017

SAUDARAMU LEBIH MULIA DARI ANJINGMU


Ada hadits yang membicarakan tentang seorang ahli ibadah yang masuk neraka dan juga hadits tentang keutamaan memberikan minum atau minum pada hewan yang mengantarkannya masuk syurga. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan untuk berbuat baik pada manusia khususnya sesama muslim juga keutamaan berbuat baik kepada setiap makhluk termasuk pula hewan. 

Suatu hari, seperti biasa Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat berkumpul di masjid. Di depan masjid itu ada sebuah rumah, di rumah itu tinggal seorang wanita yang dikenal sebagai ahli ibadah di lingkungan tempat tinggalnya, sebut saja `si fulanah`. Saat si fulanah keluar rumah hendak melaksanakan sholat berjama`ah di masjid, para sahabat memuji-mujinya dan ada yang berkata, `tentulah si fulanah itu ahli surga, karena dia senantiasa puasa di siang hari dan sholat di malam hari.` Kemudian Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam beranjak dari tempat duduknya dan menjawab,

`TIDAK! Hiya fin naar.. Hiya fin naar.. (Dia ahli neraka.. Dia ahli neraka..)`

Para sahabat bertanya-tanya, `kenapa?`.

Karena mulutnya sering menyakiti orang lain. Dia suka mengganggu tetangganya dengan ucapannya. Seluruh amal ibadahnya hancur, karena dia punya akhlak yang buruk. Dia menjadi ahli neraka karena ibadahnya tidak mampu menjadi motivasi baginya untuk berakhlak yang baik.

من كان يؤمن باالله واليوم الاخر فليقل خيرا اوليصمت

"Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.` (HR. Bukhori no. 6018)

Hadits lain yg serupa: “Dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash ra dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

“Muslim ialah orang yang semua orang Islam lainnya selamat dari kejahatan lidah -ucapan- dan kejahatan tangannya -perbuatannya-.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Adapun hadits yang membicarakan seorang laki-laki dan seorang wanita pezina yang memberi minum atau makan pada anjing dan akhirnya ia mendapatkan pengampunan dosa adalah sbb:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ « فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ »

“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Setiap memberi minum pada hewan akan mendapatkan ganjaran.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)

Juga dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Memberi minum pada hewan itu akan meraih pahala. Memberi makan juga termasuk bentuk berbuat baik padanya. Demikian penjelasan dari Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14: 214).

2- Boleh bersafar seorang diri tanpa membawa bekal selama tidak khawatir kesulitan berat saat safar. (Fathul Bari, 5: 42).

3- Hadits di atas juga berisi motivasi untuk berbuat baik pada manusia. Jika dengan memberikan minum pada anjing bisa mendapatkan pengampunan dosa, maka memberi minum pada manusia tentu pula akan mendapatkan pahala yang besar. (Idem)

4- Boleh memberikan sedekah sunnah pada orang musyrik selama tidak ada yang muslim. Namun jika ada, ia lebih berhak. (Idem)

5- Jika ada hewan yang butuh minum, manusia pun demikian, maka manusia yang lebih didahulukan. (Idem)

6- Memberikan minum pada hewan yang membutuhkan termasuk pula anjing akan menuai pahala dan terhapusnya dosa.

7- Besarnya karunia Allah dan keluasan rahmat-Nya. Dia membalas dengan balasan yang besar atas perbuatan yang sedikit. Allah mengampuni dosa orang tersebut hanya dengan sedikit perbuatan, yaitu dengan memberi minum anjing.

8- Seorang muslim pelaku dosa besar tidak divonis kafir. Bisa jadi Allah mengampuni dosa besar tanpa taubat karena dia melakukan kebaikan yang dengannya Allah mengampuninya. Wanita pezina itu diampuni bukan karena taubatnya, namun karena dia memberi minum anjing, sebagaimana hal itu jelas terlihat dari hadits. Tidak mengkafirkan seorang muslim karena suatu dosa adalah sesuatu yang ditetapkan di dalam syariat Islam. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG HUKUM MEMBUNUH SESAMA MUSLIM




Shalat Jum'at di Masjid Al-Rawdah, Bir al-Abed, Sinai Utara, Mesir, menjadi salat terakhir dari ratusan jama'ah yang meninggal saat bom dan penembakan brutal mengguncang pekan lalu. Sebanyak 305 orang tewas dalam pembantaian di masjid yang dikenal sebagai masjid kaum Sufi itu.
Sepekan sebelum serangan, warga desa di dekat Masjid Al-Rawdah sudah mendapat ancaman dari sekelompok orang yang minta agar ritual yang berkaitan dengan kelompok Sufi dihentikan. Namun, komunitas sufi di wilayah sedang menyambut Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tidak ada salahnya kalau kita mengulang-ulang kembali pelajaran tentang ajaran Islam yang damai. Islam tidak membolehkan kita membunuh orang kafir, selama dia bukan kafir harbi. Apalagi membunuh muslim, tentu jauh lebih haram lagi.
Tragedi bom di Masjid Al-Rawdah, Bir al-Abed, Sinai Utara, Mesir adalah peristiwa yang diprediksikan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang munculnya generasi muda yang mengatasnamakan penegak sunnah dan islam, namun justru mereka adalah penghancur islam itu sendiri, dan kita diperintahkan memerangi mereka. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
ﺳَﻴَﺨْﺮُﺝُ ﻓِﻲ ﺁﺧِﺮِ ﺍﻟﺰَّﻣﺎﻥِ ﻗَﻮﻡٌ ﺃَﺣْﺪَﺍﺙُ ﺍْﻷَﺳْﻨَﺎﻥِ ﺳُﻔَﻬَﺎﺀُ ﺍْﻷَﺣْﻼَﻡِ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ ﻗَﻮْﻝَ ﺧَﻴْﺮِ ﺍﻟْﺒَﺮِﻳَّﺔِ ﻳَﻘْﺮَﺅُﻭﻥَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻻَ ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺣَﻨَﺎﺟِﺮَﻫُﻢْ ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮْﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻤْﺮُﻕُ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ ، ﻓَﺈﺫَﺍ ﻟَﻘِﻴْﺘُﻤُﻮْﻫُﻢْ ﻓَﺎﻗْﺘُﻠُﻮْﻫُﻢْ ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻗَﺘْﻠَﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮﺍً ﻟِﻤَﻦْ ﻗَﺘَﻠَﻬُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍْﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔ. (روه البخارى ٣٣٤٢)
“Akan keluar di akhir zaman, suatu
kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sebaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “. (HR. Imam Bukhari 3342)
Setiap muslim yang pernah belajar ilmu syariah, pasti tahu bahwa hukum membunuh nyawa sesama muslim diharamkan dan merupakan dosa besar. Tindakan keji itu jelas diharamkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ada begitu banyak dalil yang melarang perang dengan sesama pemeluk agama Islam sendiri, di antaranya :
*1. Diancam Masuk Jahannam dan Abadi di dalamnya*
Orang yang membunuh nyawa seorang muslim tanpa hak, maka Allah Ta'ala mengancamnya dengan siksa berupa dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Tidak akan keluar lagi, abadi di dalamnya.
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً
"Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya." (Qs. An-Nisa' : 93)
Perhatikan baik-baik detail ayat ini. Rupanya orang yang membunuh nyawa muslim tanpa hak, bukan hanya dimasukkan ke dalam jahannam saja. Ternyata masih ada lagi ancaman lainnya, yaitu Allah Ta'ala marah kepada pelakunya, bahkan mengutuk atau melaknatnya.
Di dalam banyak kitab tafsir disebutkan bahwa menurut Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, inilah ayat yang terakhir kali turun dalam sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak ada lagi ayat yang turun setelah ayat ini.
*2. Membunuh Satu Nyawa Sama Dengan Membunuh Semua Nyawa*
Salah satu alasan kenapa membunuh nyawa muslim diharamkan, karena pembunuhan nyawa manusia itu akan melahirkan dendam dari pihak keluarga atau kelompoknya. Lalu dendam ini akan melahirkan pembunuhan yang kedua, ketiga dan seterusnya.
مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرائيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعاً وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعاً
"Siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya." (QS. Al-Maidah : 32)
Maka dalam syariat Islam, dendam untuk membunuh itu diharamkan. Istilah nyawa dibayar nyawa tidak dikenal di dalam syariat Islam, kalau yang dimaksud adalah balas dendam dengan cara membunuh lagi.
Nyawa dibalas nyawa hanya dibenarkan manakala dilakukan lewat proses pengadilan yang sah. Kalau pembunuhnya terbukti membunuh dengan sengaja, tanpa tekanan dan dengan penuh kesadaran, serta dilengkapi dengan saksi dan bukti yang diterima secara hukum, maka barulah dijalankan hukum qishash.
Sebaliknya, bila pengadilan yang sah tidak berhasil membuktikannya, maka tidak bisa dijalankan hukum qishash. Dan penting untuk dicatat, eksekusi hukum qishash itu tidak dilakukan oleh pihak keluarga korban, melainkan oleh petugas negara.
*3. Wasiat Allah : Haram Membunuh Muslim*
Kecuali lewat jalur hukum yang benar, maka membunuh nyawa seorang muslim itu jelas-jelas sesuatu yang diharamkan. Dan keharamannya disampaikan dalam bentuk WASIAT dari Allah.
وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." (QS. Al-An'am : 151)
Dan tidaklah ada orang yang melanggar apa-apa yang telah Allah Ta'ala wasiatkan, kecuali dia memang benar-benar telah melakukan dosa besar.
*4. Membunuh Muslim : Dosa Yang Dihisab Pertama Kali*
Di hari kiamat nanti, amal yang pertama kali dihisab dalam urusan hubungan kepada Allah adalah masalah shalat. Siapa yang lulus urusan shalatnya, maka dia akan mudah dalam hisab-hisab selanjutnya.
Sedangkan dalam urusan dengan sesama manusia, amal-amal yang akan dihisab pertama kali adalah urusan hutang nyawa. Maksudnya, kalau sampai seorang muslim membunuh nyawa dengan sesama muslim, maka di akhirat urusannya akan jadi gawat. Sebab dosa membunuh nyawa sesama muslim ini akan menjadi pintu gerbang dan faktor penentu utama, apakah dia akan lulus dari hisab atau tidak.
Dahsyatnya dosa membunuh sesama muslim digambarkan dalam hadits berikut ini :
أولُ ما يُحاسَبُ به العبدُ الصلاةُ وأولُ ما يُقضَى بينَ الناسِ الدماءُ
"Yang dihisab pertama kali dari seorang hamba adalah masalah shalat. Dan yang pertama kali dihisab atas dosa sesama manusia adalah dosa menumpahkan darah muslim." (HR. Bukhari)
Maka urusan membunuh dan menghilangkan nyawa sesama muslim ini amat berat. Kita tidak boleh gegabah dan menganggap dosa berbunuhan ini cuma masalah sepele. Jangan sampai urusan kita nanti di akhirat jadi runyam, cuma lantaran kita suka membunuh nyawa sesama muslim.
*5. Kedua Belah Pihak Masuk Neraka*
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak main-main ketika melarang sesama umat Islam saling berbunuhan. Kalau sampai ada perang dan saling berbunuhan antara dua pihak, padahal keduanya sama-sama mengaku muslim, maka ancamannya tidak tanggung-tanggung, yaitu kedua belah pihak diancam akan sama-sama masuk neraka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار . قلت : يا رسول الله ، هذا القاتل فما بال المقتول قال : إنه كان حريصاً على قتل صاحبه
Dari Abu Bakrah Nafiq bin Al-Harits, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila dua pihak muslim bertemu (saling berbunuhan) dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang dibunuh masuk neraka. Aku bertanya,"Ya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, wajar masuk neraka bagi yang membunuh, tetapi bagaimana dengan yang dibunuh?". Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,"Yang dibunuh masuk neraka juga, karena dia pun berkeinginan untuk membunuh lawannya". (HR. Bukhari dan Muslim)
Pihak yang terbunuh ikut masuk neraka juga, karena biar bagaimana pun dia ikut terjun ke medan perang yang haram. Sebuah medan perang yang melibatkan kedua belah pihak yang sama-sama muslim adalah medan perang yang harus dijauhi dan tegas diharamkan untuk ikut terlibat di dalamnya.
Maka sikap nekat dan ikut-ikutan membela salah satu pihak, lalu ikut saling berbunuhan juga, bukanlah termasuk jihad membela agama Allah. Perbuatan itu termasuk menginjak-injak larangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan pantas bila yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama masuk neraka.
Dosanya jelas, karena yang terbunuh berniat untuk membunuh saudaranya. Seandainya dia tidak terbunuh, dia pun pasti akan membunuh juga.
*6. Hancurnya Dunia Lebih Ringan Dari Membunuh Muslim*
Menumpahkan darah seorang muslim bukan cuma dosa, tetapi peristiwa itu lebih dahsyat dan hancurnya dunia dan alam semesta. Apalagi kalau sampai terjadi perang saudara sesama muslim, tentu lebih parah lagi kondisinya. Sebab dalam sebuah peperangan, nyawa yang terbunuh biasanya bukan cuma satu atau dua orang, tetapi bisa ratusan bahkan ribuan.
Betapa beratnya dosa membunuh nyawa seorang muslim, juga ditegaskan oleh sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
والذي نفسي بيده لقتل مؤمن أعظم عند الله من زوال الدنيا
"Demi Allah Yang jiwaku berada di tangan-Nya, membunuh seorang muslim itu lebih dahsyat di sisi Allah dari hancurnya dunia." (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain disebutkan hal yang sama meski dengan redaksi yang agak berbeda :
لزوال الدنيا أهون على الله من قتل رجل مسلمٍ
"Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dari dibunuhnya seorang muslim." (HR. Muslim)
Maka haram bagi seorang muslim untuk turun ke medan perang, kalau orang yang harus dibunuhnya ternyata masih beragama Islam. Dan tentu saja perang semacam itu bukan jihad. Sebab jihad itu hanya dalam rangka perang melawan orang kafir saja. Kafirnya pun bukan sembarang kafir, tetapi syaratnya harus kafir harbi.
*7. Nyawa Seorang Muslim Hanya Halal Lewat Pengadilan Syariah Yang Sah*
Pada dasarnya umat Islam itu bersaudara. Maka tidak boleh seorang muslim menghunuskan pedangnya kepada sesama muslim, apalagi sampai membunuh dan menumpahkan darah.
Kalau pun ada jalur yang sah dimana darah seorang muslim itu bisa menjadi halal, maka jalurnya amat sempit dan terbatas sekali. Di dalam hadits nabi kita sudah diingatkan bahwa tidak halal darah seorang muslim, kecuali hanya karena satu dari tiga sebab.
لايحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاث : الثيّب الزاني والنفس بالنفس والتارك لدينه المفارق للجماعة
"Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah, kecuali karena satu dari tiga penyebab. [1] Pelaku zina, [2] nyawa dibalas nyawa (qishash), dan [3] orang yang keluar dari agama dan meninggalkan jamaah umat Islam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا …
“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Kemudian ada yang mengatakan, “Wahai Rasulullah, apa dosa-dosa tersebut? ” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan (di antaranya), “Berbuat syirik, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa jalan yang benar, memakan hasil riba …” (HR. Bukhari no. 6857 dan Muslim no. 89)
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
>لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الأَرْضِ اِشْتَرَكُوْا فِي دَمِّ مُؤْمِنٍ لَأَكَّبَهُمُ اللهُ فِي النَّارِ
“Seandainya penduduk langit dan bumi bersekongkol untuk membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan menelungkupkan mereka ke dalam neraka.” (HR. At Tirmidzi)
Dari ‘Ubadah bin Ash Shoomit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا فَاغْتَبَطَ بِقَتْلِهِ لَمْ يَقْبَلِ اللهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً
“Barangsiapa membunuh seorang mukmin lalu dia bergembira dengan pembunuhan tersebut, maka Allah tidak akan menerima amalan sunnah juga amalan wajibnya.” (HR. Abu Daud no.2450)
Adapun untuk pembunuhan terhadap seorang mukmin secara tidak sengaja, maka Allah telah memerintahkan untuk membayar diat dan kafarat. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tidak sengaja, dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tidak sengaja (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisaa’: 92)
Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin
*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 25 November 2017

KAJIAN TENTANG BENDERA MERAH-PUTIH, BENDERA HTI / ISIS DAN BENDERA RASULLULLAH AL-LIWA' DAN AR-RAYAH



Ketahuilah bahwa sang saka merah putih merupakan bendera Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Para ulama dalam sejarahnya berjuang buat mengenalkan si saka merah putih bagaikan bendera Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada bangsa indonesia dengan mengajarkannya berulang semenjak abad ketujuh masehi ataupun abad pertama hijriah. masa ini berbarengan dengan masuknya agama islam ke nusantara.

Para ulama membudayakan bendera merah putih dengan bermacam fasilitas antara lain 3 trik berikut:

#Pertama, mengawali pembicaraan ataupun pengantar buku/novel, sering diucapkan ataupun dituliskan sebutan "sekapur sirih" dan juga "seulas pinang". Bukankah kapur dengan sirih jika tercampur akan melahirkan corak merah? Kemudian, apabila buah pinang diiris ataupun dibelah, akab tampak di dalamnya berwara putih?

#Kedua, budaya menyongsong kelahiran dan juga pemberian nama balita dan tahun baru islam tetap dirayakan dengan menyajikan bubur merah putih?

#Ketiga, pada saat membangun rumah, di lapisan atas dikibarkan si merah putih. tiap hari jum'at, mimbar jum'at di masjid agung ataupun masjid raya dihiasi dengan bendera merah putih.

Pendekatan budaya yang dicoba para ulama telah menjadikan pemerintah kolonial belanda tidak mampu melarang pengibaran bendera merah putih oleh rakyat indonesia. Bukankah bendera perbendaharaan (simpanan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bercorak merah putih?

Hadits shohih yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan Jilid X, halaman 340 dari Hamisy Qastalani. Disitu tercatat, Imam Muslim berkata : “Zuhair bin Harb menceritakan kepadaku, demikian juga Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna din Ibnu Bagyar. Ishaq menceritakan pada kami. Orang-orang lain berkata : Mu’aelz bin Hisyam menceritakan pada kami, bapak saya menceritakan kepadaku, dad Oatadah dari Abu Qalabah, dari Abu Asma’ Ar-Rahabiy, Dari Tsauban radhiallahu anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

" إن الله زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوى لي منها وأعطيت الكنزين الأحمر والأبيض وإني سألت ربي لأمتي أن لا يهلكها بسنة عامة وأن لا يسلط عليهم عدوا من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم وإن ربي قال يا محمد إني إذا قضيت قضاء فإنه لا يرد وإني أعطيتك لأمتك أن لا أهلكهم بسنة عامة وأن لا أسلط عليهم عدواً من سوى أنفسهم يستبيح بيضتهم ولو اجتمع عليهم من بأقطارها أو قال من بين أقطارها حتى يكون بعضهم يهلك بعضاً ويسبي بعضهم بعضاً "

أخرجه مسلم رقم ( 2889 ) 4 / 2215 ، وأبو داود رقم ( 4252 ) 4/97 ، والترمذي رقم ( 2176 ) 4 / 472 ، وأحمد رقم ( 22448 ) 5/278 ، ورقم ( 22505 ) 5/ 284، وابن حبان رقم ( 6714 ) 15 / 109 ، وابن حبان رقم (7238 ) 16/220 ، وابن أبي شيبة رقم ( 31694 ) 6/311 ، والحاكم في المستدرك رقم ( 8390 ) 4/496، والبيهقي في السنن الكبرى رقم ( 18398 ) 9/181، والطبراني في مسند الشهاب رقم ( 1113 ) 2 / 166 ، وأخرجه أحمد أيضاً من حديث شداد بن أوس رقم ( 17156 ) 4 / 123.

"Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku hingga saya dapat lihat timur serta baratnya. Serta sebenarnya kekuasaan ummatku bakal meraih apa yang sudah dinampakkan untukku. Saya di beri dua harta simpanan : #MERAH serta #PUTIH. Serta sebenarnya saya memohon Rabbku untuk ummatku supaya Dia (Allah) tak membinasakan mereka dengan kekeringan menyeluruh, supaya Dia (Allah) tak berikan kuasa musuh untuk kuasai mereka terkecuali diri mereka sendiri hingga menyerang perkumpulan mereka. Serta sesungguhnya Rabbku berfirman, “Hai Muhammad, sebenarnya Aku apabila memastikan takdir tak dapat dirubah, sesungguhnya Aku memberi untuk umatmu supaya mereka tak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh serta Aku akan tidak berikan kuasa musuh untuk menyerang mereka terkecuali diri mereka sendiri lantas mereka menyerang perkumpulan mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari semua penjurunya, sampai pada akhirnya beberapa dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian yang lain serta saling menawan keduanya. ” (HR. Muslim no.2889, Abu Daud no.4252, Tirmidzi no.2176, Ahmad no.22448 /22305 /17156, Ibnu Hibban no.6712/7238, Ibnu Syaibah no.31694, Al-Hakim no.8390, Al-Baihaqi no.18398, At-Thabrani no.1113).

Dalam kandungan hadits diatas dijelaskan pula tentang doa permohonan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk umatnya agar dijauhkan dari kekeringan (kelaparan), agar tidak dikalahkan dan dikuasai musuhnya namun justru umat islam lah yang saling menyerang dan doa ini dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Sementara dalam hadits tersebut Allah menjelaskan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa umat islam sendiri yang saling bermusuhan, menyerang dan membunuh. Hal ini terlihat nyata dengan munculnya ISIS yang mengklaim pembawa panji-panji  kebenaran dan bendera Ar-Rayyah (bendera warna hitam dengan tulisan warna putih) kemudian mereka membantai umat islam saudaranya sendiri.

Akhir-akhir ini banyak yang bingung, penasaran, dan ingin tahu tentang bendera umat Islam yang disebut Liwa dan Rayah. Bendera-bendera tersebut mencuat ke permukaan dengan ramai setelah saudara muslim kita dari kalangan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) mengklaim bahwa mereka menjunjung dan mengibarkan Panji Rasulullah. Lantas, pertanyaan yang muncul adalah benarkah itu bendera umat Islam dari Rasulullah?

Al-liwâ’ dan al-râyah merupakan nama untuk bendera dan panji Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Secara bahasa, keduanya berkonotasi al-’alam (bendera). Namun secara syar’i, al-liwâ’ (jamak: al-alwiyah) dinamakan pula al-râyah al-’azhîmah (panji agung), dikenal sebagai bendera negara atau simbol kedudukan pemimpin, yang tidak dipegang kecuali oleh pemimpin tertinggi peperangan atau komandan brigade pasukan (Amîr al-Jaisy) yakni pemimpin itu sendiri, atau orang yang menerima mandat dari pemimpin, sebagai simbol kedudukan komandan pasukan. Ia memiliki karakteristik berwarna putih, dengan khath berwarna hitam “lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh”, berjumlah satu.

Sedangkan al-râyah (jamak: al-râyât), ia adalah panji (al-’alam) berwarna hitam, dengan khath berwarna putih “lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh”, dinamakan pula al-’uqâb. al-râyah berukuran lebih kecil daripada al-liwâ’, dan digunakan sebagai panji jihad para pemimpin detasemen pasukan (satuan-satuan pasukan (katâ’ib)), tersebar sesuai dengan jumlah pemimpin detasemen dalam pasukan, sehingga berjumlah lebih dari satu.

*Riwayat Hadits tentang bendera Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diantaranya sbb:*

Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”

Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

“Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.”

Ibn Abiy Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata:

كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ

“Liwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna putih.”

Saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi panglima militer di Khaibar, beliau bersabda:

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْلَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ الله َوَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ

“‘Sungguh besok aku akan menyerahkan ar-râyah atau nanti ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Tiba-tiba kami melihat Ali, sementara kami semua mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan ar-rayah itu kepada Ali. Kemudian Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.”.

Dari penjelasan hadits-hadits tentang bendera Al-Liwa' dan Ar-Rayah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diatas diperuntukkan sebagai panji kepemimpinan (tanda kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ra) dan tanda panji jihad melawan musuh islam, dan bukan dijadikan panji pembunuhan dan pembantaian umat islam seperti yang dilakukan ISIS dan bukan pula sebagai panji demonstrasi seperti saat ini. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 11 November 2017

KAJIAN TENTANG MENGAPA BELAJAR PERLU GURU?


Manfa'at berguru adalah agar terhindar dari perkara-perkara yang SESAT & untuk mnghindari FITNAH.

Adapun fungsi GURU atau SANAD (sandaran) adalah mencegah manusia untuk berbicara semaunya /seenak Gue, atau bicara hanya berdasarkan dari kerangka otaknya doang.

DENGAN SANAD, maka Hal-hal yang diajarkan Rosululloh, terjaga keaslian isi ilmunya, tanpa ada yang dikurangi atau di tambah-tambah (DI MODIFIKASI MANUSIA).

ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟـﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺆُﻭﻻً  (ﺍﻹﺳﺮﺍﺀ : 36 )

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Sebagian ulama berkata,

ﻓَﻴَﻘِﻴْﻨُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻤُﺸْﻜِﻼَﺕِ ﻇُﻨُﻮْﻥُ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳُﺸَﺎﻓِﻪْ ﻋَﺎﻟِﻤًﺎ ﺑِﺄُﺻُﻮْﻟِﻪِ

Barangsiapa tidak mengambil dasar ilmu dari ulama, maka keyakinannya dalam perkara adalah TERTOLAK

Abu Hayyan berkata,

ﻳَﻈُﻦَّ ﺍﻟﻐَﻤْﺮُ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻜُﺘُﺐَ ﺗَﻬْﺪِﻱ ﺃَﺧَﺎ ﻓَﻬْﻢٍ ﻹِﺩْﺭَﺍﻙِ ﺍﻟﻌُﻠُﻮْﻡِ

Anak muda mengira bahwa buku membimbing orang yang mau memahami untuk mendapatkan ilmu

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺪْﺭِﻱ ﺍﻟﺠَﻬُﻮْﻝُ ﺑِﺄَﻥَّ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻏَﻮَﺍﻣِﺾَﺣَﻴَّﺮَﺕْ ﻋَﻘْﻞَ ﺍﻟﻔَﻬِﻴْﻢِ

Orang bodoh tidak mengetahui bahwa di dalamnya terdapat kesulitan yang membingungkan akal orang

ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻣْﺖَ ﺍﻟﻌُﻠُﻮْﻡَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺷَﻴْﺦٍ ﺿَﻠَﻠْﺖَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻘِﻴﻢْ

Jika kamu menginginkan ilmu tanpa syaikh, niscaya kamu tersesat dari jalan yang lurus

ﻭَﺗَﻠْﺘَﺒِﺲُ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺼِﻴْﺮَ ﺃَﺿَﻞَّ ﻣِﻦْ ﺗُﻮْﻣَﺎ ﺍﻟﺤَﻜِﻴْﻢِ

Perkara-perkara menjadi rancu atasmu sehingga kamu kebih tersesat daripada Tuma al-Hakim

Ada maqolah ulama yang berbunyi :

مَنْ تَعَلَّمَ اْلعِلْمَ وَلَيْسَ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ شَيْطَانٌ

Barang siapa yang belajaar ilmu namun tidak berguru, maka gurunya adalah setan

Bahkan Imam Bukhari yang terkenal ahli hadits itu jumlah gurunya sampai 1.080 orang.

Oleh karena itu banyak ulama yang berkaata tentang pentingnya berguru dalam mempelajari ilmu bagi penuntut ilmu tingkat dasar dan menengah, diantaranya adalah :

1. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, beliau berkata :

فَاعْلَمْ أَنَّ الْأُسْتَاذَ فَاتِحٌ وَمُسَهِّلٌ، وَالتَّحْصِيْلُ مَعَهُ أَسْهَلُ وَأَرْوَحُ

Ketahuilah olehmu, bahwasanya guru itu adalah pembuka (yang tertutup) dan memudahkan (yang rumit). Mendapatkan ilmu dengan adanya bimbingan guru akan lebih mudah dan lebih menyenangkan. (Minhajul 'Abidin ilaa Janhati Rabbil 'Alamiin, halaman 8)

2. Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqaf, beliau berkata :

إِنَّ الْمَشِيْخَةَ شَأْنُهَا عَظِيْمٌ وَأَمْرُهَا عَالٍ جَسِيْمٌ

Sesungguhnya guru itu kedudukannya sangat penting dan peranannya amat tinggi lagi besar (Kitab Al-Fawaaidul Makkiyyah, halaman 25)

3. Syekh Zarnuji, beliau mengemukakan sebuah syair ciptaan sayyidina Ali

أَلَا لَا تَنَالُ اْلعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ  #  سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانِ

ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ   #  وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

Ingatlah, kamu tidak akan meraih ilmu melainkan dengan enam perkara (syarat yang harus dipenuhi). # Aku akan ceritakan kepadamu semua itu dengan sejelas-jelasnya

Cerdas, semangat tinggi, ulet dan tabah, punya biaya # bimbingan guru dan waktunya lama. (Kitab Ta'lim Muta'allim, halaman 14)

4. Al-Habib Ahmad bin Abi Bakar Al-Hadhrami, beliau berkata :

إِنَّ اْلأَخْذَ مِنْ شَيْخٍ لَهُ تَمَامُ الْإِطِّلَاعِ مِمَّا يُتَعَيَّنُ عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ، وَأَمَّا مُجَرَّدُ اْلمُطَالَعَةِ بِغَيْرِ شَيْخٍ إِتِّكَالًا عَلَى اْلفَهْمِ فَقَلِيْلَةُ الْجَدْوَى إِذْ لَابُدَّ أَنْ تَعْرِضَ عَلَيْهِ مُشْكِلَاتٌ تَتَّضِحُ لَهُ إِلَّا إِنْ حَلَّهَا شَيْخٌ

Bahwasanya mengambil ilmu dari seseorang guru yang sempurna penelaahannya itu dipandang penting bagi orang yang menuntut ilmu. Dan adapun semata-mata muthala'ah tanpa ada bimbingan dari guru karena mengandalkan pemahaman sendiri saja, maka sedikit hasilnya. Karena jika dia menemukan kerumitan-kerumitan, tidak akan jelas baginya kecuali adanya uraian dari guru. (Kitab manhalul Wurraadi min  Faidhil Imdaadi, halaman 102)

5. Al-Alamah Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid ra

قال العلامة الشيخ بكر بن عبد الله أبو زيد رحمه الله في كتابه القيم حلية طالب العلم :
تلقي العلم عن الأشياخ:
الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب، والأول من باب أخذ النسيب عن النسيب الناطق، وهو المعلم أما الثاني عن الكتاب، فهو جماد، فأنى له اتصال النسب؟
وقد قيل:"من دخل في العلم وحده؛ خرج وحده"(1)؛ أي: من دخل في طلب العلم بلا شيخ؛ خرج منه بلا علم، إذ العلم صنعة، وكل صنعة تحتاج إلى صانع، فلا بد إذاً لتعلمها من معلمها الحاذق.

Al-Alamah Syeikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid ra mengatakan dalam kitabnya Hilyah Thalib Al-Ilmi, 'Menerima Ilmu dari Para Masyayikh'.
Asal muda ilmu itu didapat dengan jalan bertalaqqi (bertemu/menerima langsung) dan didapat langsung dari para guru dan bimbingan para Masyayikh', mengambil ilmu dari mulutnya seorang lelaki bukan dari lembaran didalam kitab.

Pertama, dari bab mengambil bagian dari tema orang yg menyampaikan ilmu yaitu guru pembimbing (mu'allim) dan yg kedua dari kitab itu sendiri yg menjadi rujukan baku. Maka darimana sesungguhnya koneksi ilmu itu didapat?

Telah dikatakan : "Barangsiapa masuk mencari ilmu sendirian (tanpa guru), maka dia akan keluar dengan sendirian (tanpa ilmu)." Artinya, "Barangsiapa yg masuk untuk menuntut ilmu tanpa syaikh, maka dia keluar tanpa mendapat ilmu." Karena ilmu itu ditulis, dan setiap yg ditulis membutuhkan penulisnya/pengarangnya. Maka sudah seharusnya jika ingin mempelajari ilmu harus dari seorang pengajar yg pintar. (Al-Jawahir wa Ad-Durur Imam As-Sakhawi [5/58])

6. Al-Hafizh Ad-Dzahabi ra mengatakan :

قال الحافظ الذهبي رحمه الله تعالى في ترجمته له(2):
"ولم يكن له شيخ، بل اشتغل بالأخذ عن الكتب، وصنف كتاباً في تحصيل الصناعة من الكتب، وأنها أوفق من المعلمين، وهذا غلط"1هـ.

Al-Hafizh Ad-Dzahabi ra dalam kitab terjemahannya beliau mengatakan, "Dan bagi orang yg tidak memiliki syaikh pembimbing tetapi sibuk mengutip dari kitab untuk mengarang kitab dan menghasilkan karangan sebuah kitab yg cocok/sesuai dari para ahli ilmu hal ini adalah sebuah kesalahan." (Siir Al-A'lam An-Nubala' [18/105], Syarh Al-Ihya' [1/66], Bughyah Al-Wa'ah [1/131], Syadzrat Ad-Dzahab [5/11] dan Al-Ghunyah Li Al-Qadhi 'Iyadh [16-17])

Dlam kitab Al-Fawaaidul Makkiyyah, halaman 25 dan kitab Taudhihul Adillah, juz III, halaman 147, terdapat syair :

مَنْ يَأْخُذِ الْعِلْمَ عَنْ شَيْخٍ مُشَافَهَةً # يَكُنْ عَنِ الزَّيْغِ وَالتَّحْرِيْفِ فِى حَرَمٍ

Barang siapa yang mengambil ilmu dari seorang guru secara langsung bergadap-hadapan # niscaya akan terjagalah dia dari kesesatan dan kekeliruan

وَإِنَّ بْتِغَاءَ اْلعِلْمِ دُوْنَ مُعَلِّمٍ # كَمُوْقِدِ مِصْبَاحٍ وَلَيْسَ لَهُ دُهْنٌ

Dan bahwasanya menuntut ilmu tanpa ada bimbingan dari guru # Laksana seseorang yang menyalakan pelita, padahal pelita itu tidak berminyak

كُلُّ مَنْ يَطْلُبُ اْلعُلُوْمَ فَرِيْدًا # دُوْنَ شَيْخٍ فَإِنَّهُ فِى ضَلَالٍ

Setiap orang yang menuntut ilmu secara tersendiri # tanpa guru, maka sesungguhnya dia berada dalam kesesatan.

Berkata Al-Kholil bin Ahmad,

ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺭﺟﻞ ﻳﺪﺭﻱ ﻭﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﺃﻧﻪ
ﻳﺪﺭﻱ ﻓﺬﺍﻙ ﻏﺎﻓﻞ ﻓﻨﺒﻬﻮﻩ ﻭﺭﺟﻞ ﻻ ﻳﺪﺭﻱ
ﻭﻳﺪﺭﻱ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﻓﺬﺍﻙ ﺟﺎﻫﻞ ﻓﻌﻠﻤﻮﻩ
ﻭﺭﺟﻞ ﻳﺪﺭﻱ ﻭﻳﺪﺭﻱ ﺃﻧﻪ ﻳﺪﺭﻱ ﻓﺬﺍﻙ ﻋﺎﻗﻞ
ﻓﺎﺗﺒﻌﻮﻩ ﻭﺭﺟﻞ ﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﻭﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﺃﻧﻪ ﻻ
ﻳﺪﺭﻱ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺎﺋﻖ ﻓﺎﺣﺬﺭﻭﻩ

“Orang-orang itu ada empat macam:

1. Seorang yang mengetahui dan tidak mengetahui bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang lalai maka ingatkalah ia

2. Dan seorang yang tidak tahu dan ia mengetahui bahwasanya ia tidak tahu, itulah orang yang jahil (bodoh) maka ajarilah ia.

3. Dan seorang yang mengetahui dan ia tahu bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang pandai maka ikutilah.

4. Dan seorang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwsanya ia tidak tahu, dan dia mengajarkan orang, itulah orang tolol maka jauhilah dia”          (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/441 no 828)

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼