Kamis, 09 Juli 2015

DO'A MALAM LAILATUL QODAR



Ada do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam kemuliaan tersebut yaitu do’a:

اللهم انك عفو تحب العفوا فااعف عنا

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anna

(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai org yg meminta maaf, karenanya maafkanlah kami).

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yg aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yg mesti kuucapkan?”

Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai org yg meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Al Baihaqi rahimahullah berkata, “Meminta maaf atas kesalahan dianjurkan setiap waktu dan tidak khusus di malam lailatul qadar saja.” (Fadho-ilul Awqot, hal. 258).

Ibnu Rajab rahimahullah juga memberi penjelasan menarik,

و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

“Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam2 Romadhon dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena org yg arif adalah yg ber-sungguh2 dalam beramal. Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti org yg penuh kekurangan karena dosa.”

Yahya bin Mu’adz pernah berkata,

ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو

“Bukanlah org yg arif jika ia tidak pernah mengharap ampunan Allah."

Hadits ‘Aisyah di atas juga menunjukkan bahwa do’a di malam lailatul qadar adalah do’a yang mustajab sehingga dia bertanya pada Rasul mengenai do’a apa yang mesti dipanjatkan di malam tersebut.

CONTOH DO'A

استعفر الله العظيم 3x ياموﻻنا يامعبود.......

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد سيد اﻻولين واﻻخرين وصل وسلم ورضي الله تبارك وتعالى عن سادتنا اصحاب رسول الله اجمعين.....

الحمد لله رب العالمين. حمدا يوافئ نعامه ويكافئ مزيده. ياربنا لك الحمد ولك الشكر ولك المعبود كمابنبغى لجﻻلك الكربم ولعظيم سلطانك.....

اللهم ياغني ياحميد يامبدئ يامعيد يارحيم ياودود. اغننا بحﻻلك عن حرامك وبطعاتك عن معصيتك وبفصلك عمن سواك.....

اللهم انك عفو تحب العفوا فااعف عنا

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anna

"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai org yg meminta maaf, karenanya maafkanlah kami."

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

"Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yg melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yg Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yg kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yg kulakukan."

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yg aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang2 yg merugi." (QS: Huud Ayat: 47)

رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرّٰحِمِينَ

"Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang terbaik.” (QS: Al-Mu’minun: 109)

رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ الرّٰحِمِينَ

"Ya Tuhanku berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah Pemberi rahmat yg paling baik."(QS: Al-Mu’minun: 118)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan2 kami yg ber-lebih2an (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yg kafir." (QS: Âl-´Imrân : 147)

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka." (QS: Âl-´Imrân : 16)

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّاسَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُالْمِيعَادَ

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yg menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kalian kepada Rabb kalian", maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa2 kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan2 kami, dan wafatkanlah kami beserta orang2 yg banyak berbakti (shalih). Ya Tuhan kami, berilah kami apa yg telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul2 Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat kelak. Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji." (QS: Âl-´Imrân : 193-194)

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku." (QS: Al-Qashash: 16)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِالْكَافِرِينَ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami dengan beban yg berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang2 sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yg tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yg kafir." (QS: Al-Baqarah: 286)

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Ya Rabb kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang2 yg merugi.” (QS: Al-A'raf : 23)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yg telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yg Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yg akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim." (QS. Al-Ahqaf: 15)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْراً

“Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

 اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar

"Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka).” (HR. Bukhari Muslim)

امين يارب العالمين ببركة الفاتحة........

Sabtu, 04 Juli 2015

UCAPAN YANG DIPEREBUTKAN 30 MALAIKAT UNTUK MENERIMANYA



KRONOLOGI BACAAN '' سمع الله لمن حمده " SAAT BERDIRI DARI RUKU' MENUJU I'TIDAL

Siapa yg tak kenal beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama pengganti Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam.

Beliau dalam sholatnya tidak pernah tertinggal unt berjamaah dengan Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallan.

Suatu hari, diwaktu ashar tiba, beliau Abu Bakar menduga bahwa beliau sudah tidak menemukan sholat ashar bersama dengan Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam. Beliau pun sangat sedih dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke Masjid dimana Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam mengimami sholat jamaah ashar disitu.

Setiba di masjid, beliau masuk, ternyata Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam masih dalam takbir hendak ruku'. Sontak beliau mengucapkan " الحمد لله ", lantas takbir dibelakang Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam.

Lalu turunlah malaikat Jibril 'Alaihissalam. Dan posisi Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam masih dalam keadaan ruku'. Jibril 'Alaihissalam berkata, " Wahai Muhammad,
سمع الله لمن حمده
"Alloh mendengarkan orang yg telah memuji-Nya ".

Maka, bacalah "
سمع الله لمن حمده

Kemudian, Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam pun membacanya disaat Beliau bangun dari ruku'. Maka jadilah bacaan tersebut menjadi sebuah kesunahan bacaan disaat berdiri dari ruku' dimulai saat itu. Yang mana sebelum ada kejadian, Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam tatkala bangun dari ruku, Beliau membaca takbir. Wallohu a'lam

ATS TSIMAR AL YANIAH FII AR RIYADH AL BADIAH, halaman.37

والحكمة في مشروعية التسميع أن أبا بكر الصديق لم تفته صلاة خلف رسول الله قط فجاء يوما وقت صلاة العصر وظن أنها فاتته فاغتم لذلك وهرول ودخل المسجد فوجد رسول الله صلي الله عليه وسلم مكبرا للركوع فقال الحمد لله وكبر خلفه فنزل جبريل والنبي صلي الله عليه وسلم في الركوع فقال يا محمد سمع الله لمن حمده فقل سمع الله لمن حمده فقالها عند الرفع من الركوع ورفع به فصارت سنة من ذلك الوقت ببركة الصديق رضي الله عنه وكان قبل ذلك يرفع رسول الله صلي الله عليه وسلم بالتكبير

Bagaimana dengan bacaan, ربناولك الحمد ? Ini jawabannya:

 عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِىِّ قَالَ :

( كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ : رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ . فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : مَنِ الْمُتَكَلِّمُ ؟ قَالَ : أَنَا . قَالَ : رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُُ ) رواه البخاري (799) .

Dari Rifa'ah bin Rofi' Az-Zaroqi ra, suatu hari kami pernah sholat bersama Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam. Ketika beliau mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku' beliau mengucapkan,
 سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه

Seorang laki2 dibelakangnya mengucapkan,

 رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu lah segala pujian. Pujian yg banyak, yg baik, yg diberkahi di dalamnya.”

Seselesainya dari shalat, Rasulullah bertanya, “Siapa yg mengucapkannya tadi?”Orang itu berkata, “Saya, wahai Rasulullah.”

Rasulullah bersabda, “Sungguh aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yg paling dahulu mencatatnya.” (HR. Bukhari dari hadits Rifa’ah ibnu Rafi’).

عن أبي هريرة : { كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قال سمع الله لمن حمده قال : اللهم ربنا ولك الحمد الى اخره...... }

Dari Abu Hurairah yg dikeluarkan oleh Ahmad dan lain-lain, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila membaca Sami’ allahu Liman Hamidahu (Allah Maha Mendengar terhadap orang yg memuji-Nya), maka katakanlah: Allahumma Rabbana wa Laka al-Hamdu (Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian). Barangsiapa bacaannya bersamaan dengan bacaan malaikat, maka akan diampuni dosa2nya yg telah lalu.” (Al-Bukhari, bab Adzan, pasal Keutamaan Allahumma Rabbana wa Laka al-Hamdu)

وفى صحيح مسلم عن ابن عمر { أن النبي صلى الله عليه وسلم : كان إذا رفع رأسه من الركوع قال : سمع الله لمن حمده اللهم ربنا لك الحمد ملء السماوات وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعد }

Di dalam shohih Muslim dari Ibnu Umar ra berkata sesunghuhnya Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam ketika mengangkat kepalanya dari riku' beliau mengucapkan "Sami'allohu liman hamidahu Allohumma ribbanaa wa lakal hamdu mil-us samaawati wa mil-ul ardhi wa mil-u maa syi'ta min syai-in ba'du." (HR. Muslim)

Wallohu a'lam bis-Showab. Demikian !!!


KRONOLOGI BACAAN '' سمع الله لمن حمده " SAAT BERDIRI DARI RUKU' MENUJU I'TIDAL

Siapa yg tak kenal beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama pengganti Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam.

Beliau dalam sholatnya tidak pernah tertinggal unt berjamaah dengan Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallan.

Suatu hari, diwaktu ashar tiba, beliau Abu Bakar menduga bahwa beliau sudah tidak menemukan sholat ashar bersama dengan Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam. Beliau pun sangat sedih dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke Masjid dimana Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam mengimami sholat jamaah ashar disitu.

Setiba di masjid, beliau masuk, ternyata Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam masih dalam takbir hendak ruku'. Sontak beliau mengucapkan " الحمد لله ", lantas takbir dibelakang Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam.

Lalu turunlah malaikat Jibril 'Alaihissalam. Dan posisi Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam masih dalam keadaan ruku'. Jibril 'Alaihissalam berkata, " Wahai Muhammad,
سمع الله لمن حمده
"Alloh mendengarkan orang yg telah memuji-Nya ".

Maka, bacalah "
سمع الله لمن حمده

Kemudian, Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam pun membacanya disaat Beliau bangun dari ruku'. Maka jadilah bacaan tersebut menjadi sebuah kesunahan bacaan disaat berdiri dari ruku' dimulai saat itu. Yang mana sebelum ada kejadian, Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam tatkala bangun dari ruku, Beliau membaca takbir. Wallohu a'lam

ATS TSIMAR AL YANIAH FII AR RIYADH AL BADIAH, halaman.37

والحكمة في مشروعية التسميع أن أبا بكر الصديق لم تفته صلاة خلف رسول الله قط فجاء يوما وقت صلاة العصر وظن أنها فاتته فاغتم لذلك وهرول ودخل المسجد فوجد رسول الله صلي الله عليه وسلم مكبرا للركوع فقال الحمد لله وكبر خلفه فنزل جبريل والنبي صلي الله عليه وسلم في الركوع فقال يا محمد سمع الله لمن حمده فقل سمع الله لمن حمده فقالها عند الرفع من الركوع ورفع به فصارت سنة من ذلك الوقت ببركة الصديق رضي الله عنه وكان قبل ذلك يرفع رسول الله صلي الله عليه وسلم بالتكبير

Bagaimana dengan bacaan, ربناولك الحمد ? Ini jawabannya:

 عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِىِّ قَالَ :

( كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ : رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ . فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : مَنِ الْمُتَكَلِّمُ ؟ قَالَ : أَنَا . قَالَ : رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُُ ) رواه البخاري (799) .

Dari Rifa'ah bin Rofi' Az-Zaroqi ra, suatu hari kami pernah sholat bersama Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam. Ketika beliau mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku' beliau mengucapkan,
 سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه

Seorang laki2 dibelakangnya mengucapkan,

 رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu lah segala pujian. Pujian yg banyak, yg baik, yg diberkahi di dalamnya.”

Seselesainya dari shalat, Rasulullah bertanya, “Siapa yg mengucapkannya tadi?”Orang itu berkata, “Saya, wahai Rasulullah.”

Rasulullah bersabda, “Sungguh aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yg paling dahulu mencatatnya.” (HR. Bukhari dari hadits Rifa’ah ibnu Rafi’).

عن أبي هريرة : { كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قال سمع الله لمن حمده قال : اللهم ربنا ولك الحمد الى اخره...... }

Dari Abu Hurairah yg dikeluarkan oleh Ahmad dan lain-lain, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila membaca Sami’ allahu Liman Hamidahu (Allah Maha Mendengar terhadap orang yg memuji-Nya), maka katakanlah: Allahumma Rabbana wa Laka al-Hamdu (Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian). Barangsiapa bacaannya bersamaan dengan bacaan malaikat, maka akan diampuni dosa2nya yg telah lalu.” (Al-Bukhari, bab Adzan, pasal Keutamaan Allahumma Rabbana wa Laka al-Hamdu)

وفى صحيح مسلم عن ابن عمر { أن النبي صلى الله عليه وسلم : كان إذا رفع رأسه من الركوع قال : سمع الله لمن حمده اللهم ربنا لك الحمد ملء السماوات وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعد }

Di dalam shohih Muslim dari Ibnu Umar ra berkata sesunghuhnya Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam ketika mengangkat kepalanya dari riku' beliau mengucapkan "Sami'allohu liman hamidahu Allohumma ribbanaa wa lakal hamdu mil-us samaawati wa mil-ul ardhi wa mil-u maa syi'ta min syai-in ba'du." (HR. Muslim)

Wallohu a'lam bis-Showab. Demikian !!!

UCAPAN YANG DIPEREBUTKAN 30 MALAIKAT UNTUK MENERIMANYA



KRONOLOGI BACAAN '' سمع الله لمن حمده " SAAT BERDIRI DARI RUKU' MENUJU I'TIDAL

Siapa yg tak kenal beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama pengganti Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam.

Beliau dalam sholatnya tidak pernah tertinggal unt berjamaah dengan Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallan.

Suatu hari, diwaktu ashar tiba, beliau Abu Bakar menduga bahwa beliau sudah tidak menemukan sholat ashar bersama dengan Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam. Beliau pun sangat sedih dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke Masjid dimana Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam mengimami sholat jamaah ashar disitu.

Setiba di masjid, beliau masuk, ternyata Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam masih dalam takbir hendak ruku'. Sontak beliau mengucapkan " الحمد لله ", lantas takbir dibelakang Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam.

Lalu turunlah malaikat Jibril 'Alaihissalam. Dan posisi Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam masih dalam keadaan ruku'. Jibril 'Alaihissalam berkata, " Wahai Muhammad,
سمع الله لمن حمده
"Alloh mendengarkan orang yg telah memuji-Nya ".

Maka, bacalah "
سمع الله لمن حمده

Kemudian, Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam pun membacanya disaat Beliau bangun dari ruku'. Maka jadilah bacaan tersebut menjadi sebuah kesunahan bacaan disaat berdiri dari ruku' dimulai saat itu. Yang mana sebelum ada kejadian, Rasululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam tatkala bangun dari ruku, Beliau membaca takbir. Wallohu a'lam

ATS TSIMAR AL YANIAH FII AR RIYADH AL BADIAH, halaman.37

والحكمة في مشروعية التسميع أن أبا بكر الصديق لم تفته صلاة خلف رسول الله قط فجاء يوما وقت صلاة العصر وظن أنها فاتته فاغتم لذلك وهرول ودخل المسجد فوجد رسول الله صلي الله عليه وسلم مكبرا للركوع فقال الحمد لله وكبر خلفه فنزل جبريل والنبي صلي الله عليه وسلم في الركوع فقال يا محمد سمع الله لمن حمده فقل سمع الله لمن حمده فقالها عند الرفع من الركوع ورفع به فصارت سنة من ذلك الوقت ببركة الصديق رضي الله عنه وكان قبل ذلك يرفع رسول الله صلي الله عليه وسلم بالتكبير

Bagaimana dengan bacaan, ربناولك الحمد ? Ini jawabannya:

 عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِىِّ قَالَ :

( كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ : رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ . فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : مَنِ الْمُتَكَلِّمُ ؟ قَالَ : أَنَا . قَالَ : رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُُ ) رواه البخاري (799) .

Dari Rifa'ah bin Rofi' Az-Zaroqi ra, suatu hari kami pernah sholat bersama Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam. Ketika beliau mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku' beliau mengucapkan,
 سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه

Seorang laki2 dibelakangnya mengucapkan,

 رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu lah segala pujian. Pujian yg banyak, yg baik, yg diberkahi di dalamnya.”

Seselesainya dari shalat, Rasulullah bertanya, “Siapa yg mengucapkannya tadi?”Orang itu berkata, “Saya, wahai Rasulullah.”

Rasulullah bersabda, “Sungguh aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yg paling dahulu mencatatnya.” (HR. Bukhari dari hadits Rifa’ah ibnu Rafi’).

عن أبي هريرة : { كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قال سمع الله لمن حمده قال : اللهم ربنا ولك الحمد الى اخره...... }

Dari Abu Hurairah yg dikeluarkan oleh Ahmad dan lain-lain, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila membaca Sami’ allahu Liman Hamidahu (Allah Maha Mendengar terhadap orang yg memuji-Nya), maka katakanlah: Allahumma Rabbana wa Laka al-Hamdu (Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian). Barangsiapa bacaannya bersamaan dengan bacaan malaikat, maka akan diampuni dosa2nya yg telah lalu.” (Al-Bukhari, bab Adzan, pasal Keutamaan Allahumma Rabbana wa Laka al-Hamdu)

وفى صحيح مسلم عن ابن عمر { أن النبي صلى الله عليه وسلم : كان إذا رفع رأسه من الركوع قال : سمع الله لمن حمده اللهم ربنا لك الحمد ملء السماوات وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعد }

Di dalam shohih Muslim dari Ibnu Umar ra berkata sesunghuhnya Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam ketika mengangkat kepalanya dari riku' beliau mengucapkan "Sami'allohu liman hamidahu Allohumma ribbanaa wa lakal hamdu mil-us samaawati wa mil-ul ardhi wa mil-u maa syi'ta min syai-in ba'du." (HR. Muslim)

Wallohu a'lam bis-Showab. Demikian !!!

Kamis, 02 Juli 2015

TATA CARA SHOLAT NABI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM



TATA CARA SHOLAT NABI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz

كيفية صلاة النبي صلى الله عليه وسلم

Diterjemahkan dan Dilengkapi Oleh:
Ibnu Mas’ud As-Sarkubi Al-Menyani Al-Jawi Al-Wustho

الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على عبده ورسوله نبينا محمد وآله وصحبه .
أما بعد : فهذه كلمات في بيان صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم ، أردت تقديمها إلى كل مسلم ومسلمة ليجتهد كل من يطلع عليها في التأسي به صلى الله عليه وسلم في ذلك ، لقوله صلى الله عليه وسلم: ((صلوا كما رأيتموني أصلي)) [1] رواه البخاري ، وإلى القارئ بيان ذلك :

[1] رواه البخاري في ( الأذان ) برقم ( 595 ) ، والدارمي في ( الصلاة ) برقم ( 1225 ).

Segala puji bagi Alloh yang Maha Esa, Sholawat dan salam atas hamba-Nya dan Rosul-Nya Nabi Kita Muhammad (Shollallohu ‘alaihi wa sallam), keluarga dan sahabatnya.

Adapun setelah itu, kalimat ini menerangkan tentang sifat sholat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Aku (Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz) hendak mempersembahkan kepada kaum muslimin dan muslimat yang menginginkan shalatnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

صَلُّوا كَمَارَأَيْتُمُونِيْ أُصَلِّيْ

"Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat." (HR. Al Bukhari, Muslim, Darimi dan Ahmad)

Rincian praktek shalat Nabi yang harus kita ikuti itu adalah:

1 - يسبغ الوضوء ، وهو أن يتوضأ كما أمره الله ؛ عملا بقوله سبحانه وتعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ[2] وقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((لا تقبل صلاة بغير طهور)) [3] وقوله صلى الله عليه وسلم للذي أساء صلاته : ((إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء...)) [4

[2] سورة المائدة الآية 6 .
[3] رواه مسلم في ( الطهارة ) برقم ( 329 ) ، والترمذي في ( الطهارة ) برقم ( 1 ).
[4] رواه البخاري في ( الاستئذان ) برقم ( 5782 ) ، وفي ( الأيمان والنذور ) برقم ( 6174 ) ، وأبو داود في ( الصلاة ) برقم ( 730 ) ، وابن ماجه في ( الطهارة وسننها ) برقم ( 441 ).

PERMULAAN SHALAT

1. Memperbaiki (menyempurnakan) wudhu’, yaitu mengerjakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan Allah melalui firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu ingin mendirikan shalat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku dan usaplah  kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS, Al-Maidah : 6), dan Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak diterima shalat kecuali dalam keadaan suci.”, (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Dan sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah sholatnya,

إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء واستقبل القبلة وكبر

“Dan apabila kamu mendirikan sholat maka perbaikilah wudhu, menghadap kiblat dan bertakbirlah.” (HR. Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Tambahan:

Dalam riwayat lain  “Allah tidak menerima shalat salah satu diantara kalian ketika berhadats sehingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)

2 - يتوجه المصلي إلى القبلة وهي الكعبة أينما كان بجميع بدنه قاصدا بقلبه فعل الصلاة التي يريدها من فريضة أو نافلة ، ولا ينطق بلسانه بالنية ، لأن النطق باللسان غير مشروع لكون النبي صلى الله عليه وسلم لم ينطق بالنية ولا أصحابه رضي الله عنهم ، ويجعل له سترة يصلي إليها إن كان إماما أو منفردا ، واستقبال القبلة شرط في الصلاة إلا في مسائل مستثناة معلومة موضحة في كتب أهل العلم .

2. Orang yang shalat harus menghadapkan wajahnya ke kiblat, yaitu Ka’bah dimana saja dia berada dengan badannya dan niat dalam hatinya mengerjakan shalat yang dikehendaki dari (shalat) fardhu atau (shalat) sunat, dan tidak mengucapkan niat dengan lisannya (bagi yang menghendaki), karena melafatkan niat dengan lisan tidak disunahkan oleh Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam juga para shahabat ra, namun   boleh   juga  dilafatkan  dengan  lisan.  Dan membuatkan pembatas baginya apabila berjama’ah bersama imam atau sendiri.

Tambahan:

Dari Abu Hurairah ra berkata, “Sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Jika engkau bangkit hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu’ kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah,” (HR. Bukhari Muslim)

3- يكبر تكبيرة الإحرام قائلا الله أكبر ناظرا ببصره إلى محل سجوده .

3. Membaca takbiratul ihram, dengan mengucapkan, "اللهُ أَكْبَر" “Allahu Akbar” seraya mata memandang tempat sujudnya.

Tambahan:

Dari ‘Aisyah ra berkata, “Adalah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam jika membuka shalat dengan membaca takbiratul ihram,” (HR. Muslim)

Dari Anas bin Malik ra berkata, “Rasulullah bersabda, “Apakah sebabnya kaum-kaum itu mengangkat pandangannya ke langit ketika shalat. Lalu Rasul mempertegas sabdanya itu dengan bersabda, ”Hendaklah mereka berhenti dari (pandangannya ke langit) itu, atau pandangan mereka dicabut.” (HR. Bukhari)

4 - يرفع يديه عند التكبير إلى حذو منكبيه أو إلى حيال أذنيه .

4. Mengangkat kedua tangannya ketika takbir sampai sejajar dengan kedua bahunya atau sampai sekitar kedua telinganya.

Tambahan:

Abi Humaid As-Sa’idi berkata, “Aku melihat Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika bertakbir beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya,” (HR. Bukhari)

Dari Wail bin Hujr ra berkata, bahwa telah melihat, “Sesungguhnya Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika masuk (mulai) shalat dengan bertakbir (Alloohu Akbar) dengan mengisyaratkan kedua tangannya (diangkat) sekitar kedua telinganya kemudian diletakkannya dibalik  bajunya  kemudian  diletakkannya  tangannya yang kanan diatas tangannya yang kiri, maka ketika hendak ruku’ dikeluarkannya kedua tangannya dari balik bajunya, kemudian diangkat keduanya kemudian bertakbir (Alloohu Akbar)  maka ruku’lah. Maka ketika mengucapkan “Sami’alloohu liman hamidah” (I’tidal), diangkat kedua tangannya, maka ketika sujud, sujudlah diantara kedua telapak tangannya.” (HR. Muslim)

5- يضع يديه على صدره ، اليمنى على كفه اليسرى لثبوت ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم .

5. Meletakkan kedua tangan di atas dada. Tangan kanan diatas tangan kiri karena ketetapan hal itu dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Tambahan:

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Aku telah memperhatikan benar kepada shalat Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, bagaimana cara ia shalat, maka aku melihat kepadanya, diletakakannya tangannya yang kanan di atas belakang tangannya yang kiri, memegang pergelangan tangan dan hasta tangan kiri itu,” (HR. Abu Daud)

Dari Wail bin Hujr ia berkata, “Pernah aku shalat bersama-sama dengan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, lalu diletakkannya tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dada.” (HR. Abu Bakar dan Khuzaimah)

6- يسن أن يقرأ دعاء الاستفتاح وهو : اللهم باعد بيني وبين خطاياي كما باعدت بين المشرق والمغرب ، اللهم نقني من خطاياي كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس ، اللهم اغسلني من خطاياي بالماء والثلج والبرد . . وإن شاء قال بدلا من ذلك : سبحانك اللهم وبحمدك وتبارك اسمك وتعالى جدك ولا الله غيرك ، وإن أتى بغيرهما من الاستفتاحات الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم فلا بأس ، والأفضل أن يفعل هذا تارة وهذا تارة لأن ذلك أكمل في الاتباع ، ثم يقول : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ، بسم الله الرحمن الرحيم ، ويقرأ سورة الفاتحة لقوله صلى الله عليه وسلم : ((لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب)) [5] ويقول بعدها آمين جهرا في الصلاة الجهرية ، ثم يقرأ ما تيسر من القرآن .

[5] رواه البخاري في ( الأذان ) برقم ( 714 ) ، ومسلم في ( الصلاة ) برقم ( 595 ) ، والترمذي في ( الصلاة ) برقم ( 230 ) ، والنسائي في ( الافتتاح ) برقم ( 901) .

6. Disunnahkan membaca do’a istiftah (pembuka), yaitu

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَد
ِ
“Ya Allah, jauhkanlah aku dari segala dosa, sebagai¬mana Engkau menjauhkan Timur dan Barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa seperti dibersih¬kannya kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari segala dosa dengan air, es, dan salju." [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i]

Selain doa di atas, bisa juga membaca doa:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ

"Mahasuci Engkau, ya Allah. Aku memuji-Mu dengan pujian-Mu. Mahaberkah asma-Mu, Mahatinggi kebesaran-Mu, dan tiada tuhan selain Engkau." [HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah, Shahih]

Kemudian membaca ta'awwudz: (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ), basmalah (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ) dan surat Al Fatihah, karena Rasulullah telah bersabda:

لاَصَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

"Tidak sah shalat orang yang tidak membaca fatihatul Kitab." [HR. Bukhari dan Muslim]

Setelah membaca Fatihah, ucapkan "Aamiin [آمِينَ]" dengan suara keras dalam shalat jahriah (shalat yang bacaan¬nya dikeraskan/disuarakan). Setelah itu bacalah salah satu surat dari Al Qur'an yang dihafal.

Tambahan:

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah membaca do’a istiftah sbb,

وجهت وجهي للذى فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين. ان صلاتى ونسكى ومحياي ومماتى لله رب العالمين لاشريك له وبذلك امرت وانا من المسلمين

“Wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros samaawaati wal ardho haniifam muslimaw wa maa ana minal musyrikiin. Inna sholaati wa nusukii wa mahyaaya wa mamatii lillaahi robbil ‘aalamiin, laa syariika lahuu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.” (Kuhadapkan wajahku kepada Dzat yang mencipta langit dan bumi dalam keadaan lurus dan pasrah. Dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan Semua Alam, tiada sekutu bagi-Nya. dan begitulah aku diperintahkan dan aku dari golongan orang muslim(. (HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib ra)
Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa ada seorang sahabat yang menambahi do’a Rasul diatas dengan kalimat,

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا.

“Alloohu akbar kabiiroo wal hamdulillaahi katsiiroo wasubhaanalloohi bukrotaw wa ashiilaa (Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyak pujian. Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore). ”Maka Rasul bersabda, “Siapakah yang membaca kalimat begini dan begitu?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya ya Rasulullah!” Rasulullah bersabda, “Aku kagum dengan kalimat itu dimana pintu langit terbuka karena kalimat itu.”  (HR. Muslim)
Atau dengan do’a, “Alloohumma baa’id bainii wa baina khothooyaaya kamaa baa’adta baimal masyriq wal maghrib, Alloohumma naqqinii min khothooyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Alloohumma ighsilnii min khothooyaaya bil maa-i wats tsalji wal barodi.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)

Jjika menghendaki (boleh juga ) membaca do’a sebagai ganti dari do’a itu dengan, “Subhaanaka Alloohumma wa bihamdika wa tabaaroka ismuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaha ghoiruka.” Kemudian  membaca ta’awudz. Dari Jubair bin Muth’am ra berkata, adalah Nabi saw membaca ta’awudz sebelum membaca fatihah. (HR. Ahmad dan Abu Daud) juga basmalah.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Apabila kamu hendak membaca Alhamdulillah (Alfatihah), maka bacalah Bismillahirrahmanirrahim, karena sesungguhnya   Alhamdulillah  (Alfatihah) itu Ummul Kitab dan Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Bismillahirrahmanirrahim itu salah satu dari ayatnya.” (HR. Daruquthni dari Abu Hurairah ra) dan membaca fatihah bagi yang mampu, karena Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tidaklah sah shalat yang tidak membaca fatihah didalamnya.” (HR. Bukhari Muslim  dari Ubadah bin Shamith ra)

Bagi yang belum bisa membaca fatihah boleh membaca yang lainnya. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Apabila kamu diperintah mengerjakan sesuatu, maka lakukanlah darinya sesuai kemampuanmu.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra), dan mengucapkan sesudahnya “Amiin”. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Jika imam selesai membaca “Ghoiril maghzhuubi ‘alaihim wa ladh-dhoolliin” maka ucapkanlah “Amiin” karena barangsiapa ucapannya tepat dengan ucapan malaikat, maka dosa-dosa masa lalunya diampuni.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Bila imam membaca “Amiin” maka imiin pulalah olehmu, karena malaikat mengaminkan beserta aminnya imam. Maka barangsiapa yang sama aminnya dengan amin malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam riwayat lain Nabi saw seusai membaca “Ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhoolliin” Maka beliau berkata, “Amiin” dengan memanjangkan suaranya (HR. At-Tirmidzi  dan Abu Daud dari Wail bin Hujr ), kemudian membaca surat yang mudah.dalam dua rakaat pertama, jika shalat lebih dua rakaat maka rakaat berikutnya cukup membaca Fatihah saja. Bahwasanya Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Ummul Kitab (Alfatihah)  dan dua surat pada shalat zhuhur, dan pada rekaat berikutnya (dua rakaat terakhir) dengan Ummul Kitab saja. Kadang-kadang beliau memperdengarkan Al-Qur’an kepada shahabat (dalam shalatnya -yang jahriyah-) (HR. Muttafaq ‘Alaih).

7- يركع مكبرا رافعا يديه إلى حذو منكبيه أو أذنيه جاعلا رأسه حيال ظهره واضعا يديه على ركبتيه مفرقا أصابعه ويطمئن في ركوعه ويقول : سبحان ربي العظيم ، والأفضل أن يكررها ثلاثا أو أكثر ويستحب أن يقول مع ذلك : سبحانك اللهم ربنا وبحمدك ، اللهم اغفر لي .

7. Ruku’ dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”, dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau kedua telinganya, kepalanya diluruskan dengan punggungnya, kedua tangannya diletakkan di kedua lutulnya dengan merenggangkan jari-jari (tangannya), serta thuma’ninah dan mengucapkan, سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ  “Subhaana rabbiyal azhiimi” dan yang utama diulang tiga kali (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra) atau lebih banyak, dan disunatkan jika menambahi bacaan dengan “Subhaanaka Alloohumma wa bihamdika Alloohummaghfirlii.” (HR. Bukhari Muslim dari Aisyah ra)

Tambahan:

Dari Aisyah ra berkata, “Dan biasanya bila beliau ruku’, maka beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya, akan tetapi antara itu.” (HR. Muslim)

8- يرفع رأسه من الركوع رافعا يديه إلى حذو منكبيه أو أذنيه قائلا : سمع الله لمن حمده إن كان إماما أو منفردا ، ويقول حال قيامه : ربنا ولك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه ملء السموات وملء الأرض وملء ما بينهما وملء ما شئت من شيء بعد ، أما إن كان مأموما فإنه يقول عند الرفع : ربنا ولك الحمد إلى آخر ما تقدم ، ويستحب أن يضع كل منهما - أي الإمام والمأموم - يديه على صدره كما فعل في قيامه قبل الركوع لثبوت ما يدل على ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم من حديث وائل ابن حجر وسهل بن سعد رضي الله عنهما .

8. Mengangkat kepala dari ruku’ (I’tidal), dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu atau kedua telinga dengan mengucapkan, “Sami’alloohu liman hamidah” baik ketika berjama’ah maupun sendirian dan ketika sudah berdiri membaca,

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

"Ya Robb kami, bagi Engkau-lah segala puji dengan pujian yang banyak, baik, diberkati,1 yang memenuhi langit, bumi, antara langit dan bumi, dan memenuhi apa saja yang Engkau kehendaki."

Ketika berdiri dari ruku', makmum mengucapkan: "Rabbanaa wa lakal hamdu...[ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ]" dan seterusnya.

Baik imam, munfarid, dan makmum disunnatkan me¬letakkan kedua tangan di atas dada seperti ketika ber¬diri sebelum ruku'. Ini berdasarkan petunjuk dari Rasulullah dari hadits yang diriwayatkan oleh Wail bin Hujr dan Sahal bin Sa'ad radhiyallohu ‘anhuma.

Tambahan:

Lebih baik lagi apabila setelah mengucapkan doa [ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ] ter¬sebut, membaca:

أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ. اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

"Yang Memiliki pujian dan Keagungan yang berhak menerima apa yang dikatakan hamba-Nya. Kami semua milik-Mu, ya Allah. Tidak ada yang dapat me¬nolak apa yang telah Engkau berikan; tidak ada yang dapat memberikan apa yang telah Engkau tolak; dan tidak ada gunanya bagi Engkau kekayaan manusia." [HR. Muslim]

Hadits tersebut derajatnya Hasan, karena do'a di atas terdapat dalam beberapa hadits yang shahih.  “Robbanaa walakalhamdu” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)

Atau “Robbana lakalhamdu mil’us samaawati wa mil’ul ardhi wa mil’u maa syi’ta min syai-im ba’du.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Abi ‘Aufa)

Atau “Robbanaa wa lakalhamdu hamdan katsiiroon thoiyiban mubaarokan fiihi,” (HR. Muslim)

Disunatkan dalam i’tidal meletakkan kedua tangannya diatas dadanya seperti yang dilakukan sebelum ruku’ (sesudah takbiratul ihram) dan boleh juga tidak.

Dari Wail bin Hujr dan Sahal bin Sa’ad ra, bahwasanya Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah setelah mengucapkan, “Sami’alloohu liman hamidah” dan mengangkat kedua tangannya dan berdiri tegak hingga kembali semua tulang pada tempatnya seperti semula.”

9- يسجد مكبرا واضعا ركبتيه قبل يديه إذا تيسر ذلك ، فإن شق عليه قدم يديه قبل ركبتيه مستقبلا بأصابع رجليه ويديه القبلة ضاما أصابع يديه ويسجد على أعضائه السبعة : الجبهة مع الأنف ، واليدين ، والركبتين ، وبطون أصابع الرجلين . ويقول : سبحان ربي الأعلى ، ويكرر ذلك ثلاثا أو أكثر ، ويستحب أن يقول مع ذلك : سبحانك اللهم ربنا وبحمدك ، اللهم اغفر لي ، ويكثر من الدعاء لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ((أما الركوع فعظموا فيه الرب وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقمن أن يستجاب لكم)) [6] ويسأل ربه من خير الدنيا والآخرة سواء كانت الصلاة فرضا أو نفلا ، ويجافي عضديه عن جنبيه وبطنه عن فخذيه وفخذيه عن ساقيه ويرفع ذراعيه عن الأرض؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ((اعتدلوا في السجود ولا يبسط أحدكم ذراعيه انبساط الكلب)) [7]

[6] رواه مسلم في ( الصلاة ) برقم ( 738 ) ، وأبو داود في ( الصلاة ) برقم ( 742 ) ، وأحمد في ( مسند العشرة المبشرين بالجنة ) برقم ( 1260 ) و ( مسند بني هاشم ) برقم ( 1801 ) .
[7] رواه البخاري في ( الأذان ) برقم ( 779 ) ومسلم في ( الصلاة ) برقم ( 762 ) ، والنسائي في ( التطبيق ) برقم ( 1098 ).

9. Sujud dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”, serta meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan (kalau bisa/mampu). Bila tidak bisa/tidak mampu, maka boleh mendahulukan meletakkan tangan sebelum lutut. Jari-jari kedua kaki dan kedua tangan dihadapkan ke arah kiblat, dan jari-jari tangan dirapatkan. Sujud di atas anggota sujud yang tujuh, yaitu kening bersama hidung, kedua tangan, kedua lutut, dan jari-jari kedua kaki, serta mengucapkan:

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى

"Mahasuci Allah Yang Mahatinggi." (3x atau lebih) [HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Shahih], Disunnatkan lagi membaca:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

"Mahasuci Allah, Robb kami, dan dengan memuji Engkau, ya Allah, ampunilah aku." [HR. Bukhari dan Muslim]

Disunnatkan pula memperbanyak doa. Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّا اَلرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ اَلرَّبَّ وَأَمَّا اَلسُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي اَلدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

''Tatkala ruku', maka besarkanlah/agungkanlah (nama) Robbmu. Tatkala sujud, maka bersungguh-sunggulah dalam berdoa karena doa kalian layak untuk dikabul¬kan.'' (HR. Muslim)

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ. فَأَكْثِرُوامِنَ الدُّعَاءِ

"Hamba yang paling dekat dengan Robbnya adalah dikala ia sedang sujud, karena itu perbanyaklah doa." (HR. Muslim)

Disunnatkan pula memohon kepada tuhannya untuk kebaikan di dunia dan di akhirat baik dalam sholat fardhu maupun sholat sunnah (untuk diri sendiri dan men¬doakan umat Islam lainnya-pen)

Ketentuan lainnya adalah merenggangkan kedua lengan dari kedua lambung, tidak merapatkan perut dengan kedua paha, merenggangkan kedua paha dari kedua betis, dan mengangkat kedua lengan dari tanah (bawah/dasar). Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ وَلَا يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ

"Tegaklah dalam sujud kalian. Jangan ada seorang dari kalian yang meletakkan (menghamparkan) kedua lengannya seperti anjing." [HR.Bukhari dan Muslim]

Tambahan:

Mendahulukan (meletakkan) kedua lututnya sebelum kedua tangannya, “Adalah Nabi jika ia sujud, meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari Wail bin Hujr)

Dengan menghadapkan  jari-jari kaki dan jari-jari tangannya (dirapatkan) ke arah kiblat, ” Adalah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam jika ia sujud, lalu diletakkannya kedua telapak tangan dan kakinya dan anak-anak jarinya ke kiblat.” (HR. Baihaqi dari Al-Bara’ in ‘Azib).

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Adalah Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila ruku’ merenggangkan jari-jari tangannya, dan apabila sujud merapatkan jari-jari tangannya.” (HR. Al-Hakim)

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan bila sujud, maka membaca “Subhaana robbiyal a’la wa bihamdih” tiga kali, maka sesungguhnya telah sempurna sujudnya, dan itulah sekurang-kurangnya.”  (HR.  Abu   Daud   dan Tirmidzi)

Dari Barra’ bin ‘Azib ra, Rasul Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau sujud maka letakkan kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikutmu.” (HR. Muslim)

10 - يرفع رأسه مكبرا ويفرش قدمه اليسرى ويجلس عليها وينصب رجله اليمنى ويضع يديه علو فخذيه وركبتيه ويقول : رب اغفر لي وارحمني واهدني وارزقني وعافني واجبرني ، ويطمئن في هذا الجلوس .

10. Mengangkat kepala (bangun) dari sujud dan membaca takbir, “Alloohu Akbar”, dengan duduk iftirasy yaitu menghamparkan kakinya yang kiri (diduduki) dan menegakkan kakinya yang kanan menghadapkan ujung jari kaki ke kiblat (HR. Muslim dan Baihaqi dari Aisyah ra,.), dan kedua tangan diletakkan diatas kedua paha dan lututnya serta membaca,

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ واهدني وارزقني وعافني واجبرني ، ويطمئن في هذا الجلوس .

'Ya Tuhanku, ampunilah aku, sayangilah aku, tunjukkanlah aku, berikanlah rezeki kepadaku, sehatkan aku, tunjukilah aku, dan cukupkanlah segala kekurangan¬ku."  Dan thuma'ninah (menenangkan badan) ketika duduk (se¬hingga tulang-tulangnya kembali lagi ke tempat asalnya, seperti i'tidal setelah ruku'-pen).

Tambahan:

“Robbighfirlii (Alloohummaghfirlii) warhamnii (wajburnii) wa ‘aafinii wahdinii warzuqnii.” (HR. Abu Daud da Tirmidzi dari Ibnu Abbas ra)

. 11- يسجد السجدة الثانية مكبرا ويفعل فيها كما فعل في السجدة الأولى .

11. Sujud yang kedua dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”, dan melakukan sujudnya seperti sujud yang pertama.

. 12- يرفع رأسه مكبرا ويجلس جلسة خفيفة كالجلسة بين السجدتين وتسمى جلسة الاستراحة ، وهي مستحبة وإن تركها فلا حرج وليس فيها ذكر ولا دعاء ثم ينهض قائما إلى الركعة الثانية معتمدا على ركبتيه إن تيسر ذلك وإن شق عليه اعتمد على الأرض ، ثم يقرأ الفاتحة وما تيسر له من القرآن بعد الفاتحة ثم يفعل كما فعل في الركعة الأولى .

12. Bangun (mengangkat kepala) dari sujud membaca takbir (Alloohu Akbar), dan duduk sebentar yaitu duduk istirahah (istirahat), dan ini sunat, jika ditinggalkan tidak mengapa, tidak ada bacaan atau do’a. Kemudian berdiri untuk rekaat kedua dengan bantuan kedua lutut jika itu mudah dilakukannya, jika sulit, maka boleh dengan bantuan tangan ke tanah (lantai) kemudian membaca fatihah dan membaca apa (surat) yang mudah (bisa) dari Al-Qur’an, kemudian melakukan apa yang telah dilakukan seperti pada rekaat pertama.

. 13- إذا كانت الصلاة ثنائية أي ركعتين كصلاة الفجر والجمعة والعيد جلس بعد رفعه من السجدة الثانية ناصبا رجله اليمنى مفترشا رجله اليسرى واضعا يده اليمنى على فخذه اليمنى قابضا أصابعه كلها إلا السبابة فيشير بها إلى التوحيد وإن قبض الخنصر والبنصر من يده وحلق إبهامها مع الوسطى وأشار بالسبابة فحسن لثبوت الصفتين عن النبي صلى الله عليه وسلم ، والأفضل أن يفعل هذا تارة وهذا تارة ويضع يده اليسرى على فخذه اليسرى وركبته ، ثم يقرأ التشهد في هذا الجلوس وهو : ( التحيات لله والصلوات والطيبات ، السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، ثم يقول : اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد ) ، ويستعيذ بالله من أربع فيقول : اللهم إني أعوذ بك من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن فتنة المسيح الدجال ، ثم يدعو بما شاء من خير الدنيا والآخرة ، وإذا دعا لوالديه أو غيرهما من المسلمين فلا بأس سواء كانت الصلاة فريضة أو نافلة لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم في حديث ابن مسعود لما علمه التشهد : ((ثم ليتخير من الدعاء أعجبه إليه فيدعو)) [8] وفي لفظ آخر : ((ثم ليتخير بعد من المسألة ما شاء)) [9] وهذا يعم جميع ما ينفع العبد في الدنيا والآخرة ، ثم يسلم عن يمينه وشماله قائلا : السلام عليكم ورحمة الله ، السلام عليكم ورحمة الله .

¬¬¬[8] رواه النسائي في ( السهو ) برقم ( 1281 ) ، وأبو داود في ( الصلاة ) برقم ( 825 ) .
[9] رواه مسلم في ( الصلاة ) برقم ( 609 ).

13. Jika shalat itu shalat yang dua rakaat seperti shalat Shubuh, Jum’at, atau shalat ‘Id, duduk (terakhir)nya (bukan duduk iftirasy seperti ketika duduk diantara dua sujud atau duduk pada dua rakaat pertama (tahiyat awal), yaitu  kaki kiri diduduki dan kaki kanan berdiri dan ujung jari kaki menghadap kiblat), diletakkannya tangan kanan diatas paha yang kanan semua jari-jari di genggam kecuali jari telunjuk untuk berisyarat tauhid, dan jika jari kelingking dan jari  manis  digenggam,  ibu  jari  (jempol) dan jari tengah di akadkan (dilingkarkan) dan memberi isyarat (tauhid) dengan telunjuk itu lebih baik.

Kedua cara ini berdasarkan hadits dari Nabi.

Tangan kiri diletakkan di atas paha atau lutut yang kiri juga. Dalam duduk itu kemudian membaca tasyahud, yaitu:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

"Segala puja dan puji, shalat dan kebaikan milik Allah. Selamat sejahtera kepadamu, wahai Nabi, rahmat Allah dan berkah-Nya. Selamat sejahtera kepada kami dan hamba-hamba Allah yang baik. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muham¬mad itu hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, sampaikan selamat sejahtera kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan selamat sejahtera kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Terpuji dan Mahaagung. Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Terpuji dan Mahaagung. Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu dari siksa jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Al Masih Ad-Dajjal."

Kemudian berdoa apa saja meminta kebaikan di dunia dan akhirat. Jika mendoakan orang tua atau sesama kaum muslimin, maka tidak apa-apa, baik dilakukan dalam shalat wajib maupun dalam shalat sunnat. Sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam hadits riwayat Ibnu Mas’ud ra ketika beliau mengajarkan (do’a setelah-pen) Tasyahud (tahiyyat): “Kemudian pilihlah do’a yang disukai lalu memohonlah kalian,” dalam lafazh lain, “Kemudian setelah tasyahud mintalah sesuai apa yg dikehendaki.” Dan ini do’a umum seluruh apa yang bermanfa’at untuk seorang hamba dunia dan akhirat. Selanjutnya salam ke kanan dan ke kiri, seraya mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّه

Tambahan:

Dari Ibnu Umar ra berkata, “Sesunguhnya Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila duduk untuk tasyahud, diletakkannya tangannya yang kanan diatas lututnya yang kanan, dan diakadkan bilangan lima puluh tiga (huruf arab), dan diisyaratkan dengan telunjuk.” (HR. Muslim) Mengisyaratkan dengan telunjuk ketika mengucapkan “Laa Ilaaha -Illallooh-” (HR. Al-Baihaqi)

Dari Ibnu Zubair ra, “Sesungguhnya Nabi saw adalah ber-isyarat dengan telunjuk dan tidak menggerak-gerakkannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Hibban)

Dari Wail bin Hujr berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam mengangkat anak jarinya (telunjuk ketika tasyahud), maka aku melihat ia menggerak-gerakkanya, yang memanggil-manggil dengan jari itu.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi)

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Sesungguhnya  Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam meletakkan sikunya yang kanan diatas pahanya yang kanan, kemudian diakadkannya jari-jarinya, yaitu kelingking dan yang mengirinya (jari manis dan jari tengah), dan dibuatnya lingkaran dengan jarinya dengan ibu jari (jempol)nya, lalu diangkat telunjuknya dan kulihat ia mengisyaratkan dengan telunjuk itu.” (HR. Al-Baihaqi), dan meletakkan tangan kiri dan sikutnya diatas paha yang kiri kmudian membaca tasyahud, yaitu “Attaahiyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoiyibaatu lillaah……ilaa akhirihi (sampai akhirnya) (HR. Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada kami lalu bersabda,”Apabila seorang dari kalian shalat, hendaklah mengucapkan: “Attahiyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoiyibaat, assalaamu’alaika aiyuhannabiyyu wa rohmatulloohi wa barookaatuh, assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin, asyhadu allaa ilaaha illallooh, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluh.“ Kemudian hendaklah memilih do’a itu sesuai yang dia sukai lalu berdo’a dengan do’a itu. (HR. Muttafaq ‘Alaih) Kemudian membaca, ”Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad……ilaa akhirihi (sampai khirnya) fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid.”

Dari Fadholah  bin ‘Ubaid ra berkata, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seorang yang berdo’a di dalam shalatnya  dan tidak membaca shalawat atas Nabi, lalu beliau bersabda, “Jika diantara kamu shalat, maka hendaklah memulai dengan memuji Tuhannya dan menyanjungnya kemudian membaca shalawat atas Nabi saw kemudian berdo’a dengan do’a yang dia sukai.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Dari Abu Mas’ud ra berkata; Basyir bin Sa’ad  ra bertanya kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, Allah memerintahkan kami untuk bershalawat kepada engkau, bagaiman cara kami mengucapkan shalawat atasmu? Beliau diam sebentar dan berkata, “Ucapkanlah; Alloohummaa sholli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohim……ilaa akhirihi (sampai khirnya) fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Dan membaca salam sebagaimana telah kamu ketahui” (HR. Muslim) Kemudian berdo’a minta perlindungan dari empat hal yaitu, “Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wamin fitnatil masiikhid dajjaal.” Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika diantara kamu sedang tasyahhud (Tahiyat), maka mintalah perlindungan kepada Allah dari empat hal, Nabi berkata, “Alloohummaa innii a’uudzubika……(sampai akhir do’a).” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata,“Sesungguhnya Rasulullah saw adalah ketika salam dari arah kanannya dan baru arah kirinya sehingga terlihat putih pipinya seraya mengucap, “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih)

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka ketika dia salam ke arah kanannya mengucapkan, “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barookaatuh” dan ke arah kirinya juga mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barookaatuh” (HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih)

14 - إن كانت الصلاة ثلاثية كالمغرب أو رباعية كالظهر والعصر والعشاء فإنه يقرأ التشهد المذكور آنفا مع الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ثم ينهض قائما معتمدا على ركبتيه رافعا يديه إلى حذو منكبيه قائلا : الله أكبر ويضعهما - أي يديه - على صدره كما تقدم ويقرأ الفاتحة فقط وإن قرأ في الثالثة والرابعة من الظهر زيادة عن الفاتحة في بعض الأحيان فلا بأس

[[[ لثبوت ما يدل على ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم من حديث أبي سعيد رضي الله عنه ، وإن ترك الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بعد التشهد الأول فلا بأس لأنه مستحب وليس بواجب في التشهد الأول ، ثم يتشهد بعد الثالثة من المغرب وبعد الرابعة من الظهر والعصر والعشاء كما تقدم ذلك في الصلاة الثنائية ثم يسلم عن يمينه وشماله ويستغفر الله ثلاثا ويقول : اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ، لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير ، لا حول ولا قوة إلا بالله ، اللهم لا مانع لما أعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد منك الجد ، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه له النعمة وله الفضل وله الثناء الحسن ، لا إله إلا الله مخلصين له الدين ولو كره الكافرون ، ويسبح الله ثلاثا وثلاثين ويحمده مثل ذلك ويكبره مثل ذلك ويقول تمام المائة لا الله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير ، ويقرأ أية الكرسي وقل هو الله أحد ، وقل أعوذ برب الفلق وقل أعوذ برب الناس بعد كل صلاة ، ويستحب تكرار هذه السور ، الثلاث ثلاث مرات بعد صلاة الفجر وصلاة المغرب لورود الأحاديث بها عن النبي صلى الله عليه وسلم ، وكل هذه الأذكار سنة وليست بفريضة ، ويشرع لكل مسلم ومسلمة أن يصلي قبل الظهر أربع ركعات وبعدها ركعتين وبعد المغرب ركعتين وبعد العشاء ركعتين وقبل صلاة الفجر ركعتين ، الجميع اثنتا عشرة ركعة وهذه الركعات تسمى الرواتب لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يحافظ عليهما في الحضر ، أما في السفر فكان يتركها إلا سنة الفجر والوتر فإنه كان عليه الصلاة والسلام يحافظ عليهما حضرا وسفرا ، والأفضل أن تصلى هذه الرواتب والوتر في البيت ، فإن صلاها في المسجد فلا بأس لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ((أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة)) [10]والمحافظة على هذه الركعات من أسباب دخول الجنة لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ((من صلى اثنتي عشرة ركعة في يومه وليلته تطوعا بنى الله له بيتا في الجنة)) [11] رواه مسلم في صحيحه . وإن صلى أربعا قبل العصر ، واثنتين قبل صلاة المغرب ، واثنتين قبل صلاة العشاء فحسن لأنه قد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يدل على ذلك ، وإن صلى أربعا بعد الظهر وأربعا قبلها فحسن لقوله صلى الله عليه وسلم : ((من حافظ على أربع ركعات قبل الظهر وأربع بعدها حرمه الله تعالى على النار))[12] رواه الإمام أحمد وأهل السنن بإسناد صحيح عن أم حبيبة رضي الله عنها . والمعنى أنه يزيد على السنة الراتبة ركعتين بعد الظهر لأن السنة الراتبة أربع قبلها وثنتان بعدها . فإذا زاد ثنتين بعدها حصل ما ذكر في حديث أم حبيبة رضي الله عنها . والله
ولي التوفيق ، وصلى الله وسلم على نبينا محمد بن عبد الله وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان إلى يوم الدين]]] .

[10] رواه البخاري في ( الأذان ) برقم ( 689 ) واللفظ له ، ومسلم في ( صلاة المسافرين ) برقم ( 1301 ) ، والترمذي في ( الصلاة ) برقم (412 ).
[11] رواه مسلم في ( صلاة المسافرين ) برقم ( 1198 ، 1199 ) ، وأبو داود في ( الصلاة ) برقم ( 1059 ) , والنسائي في ( قيام الليل وتطوع النهار ) برقم ( 1773 ) .
[12] رواه الترمذي في ( الصلاة ) برقم ( 393 ) ، وأبو داود في ( الصلاة ) برقم ( 1077 ) وأحمد في ( باقي مسند الأنصار ) برقم ( 25547 ) .

14. Jika shalat itu tiga rakaat seperti shalat Maghrib atau empat rakaat seperti Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya’, membaca tasyahud tersebut beserta shalawat atas Nabi saw kemudian bangkit berdiri bertatakan kedua lututnya dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu atau sekitar kedua telinganya dengan mengucapkan “Alloohu Akbar” dan meletakkan keduanya yaitu kedua tangannya di atas dadanya seperti dijelaskan sebelumnya dan membaca fatihah saja. Jika pada rakaat ketiga dan keempat dalam shalat zhuhur (misalnya) menambahkan dari al-Fatihah tidaklah mengapa.

[[[ Ketetapan ini sebagaimana petunjuk dari Nabi saw dari riwayat Abi Sa’id ra. Kemudian setelah membaca tasyahud (akhir) sesudah  rakaat  ketiga dari maghrib dan sesudah rakaat keempat dari shalat Zhuhur, Ashar dan ‘Isya’ sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya didalam shalat yang dua rakaat, kemudian salam dari arah kanan dan arah kiri, dan beristighfar tiga kali dan mengucapkan, “Alloohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroom” (HR. Muslim dari Tsauban ra) “Laa Ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra) “Alloohumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’tawa laa yanfa’u dzal jaddi minkaljad” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Mughirah bin Syu’bah ra) “Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah, laa ilaaha illalloohu wa laa na’budu illaa iyyah, lahun ni’matu wa lahul fadhlu wa lahuts tsinaa’ul husni, laa ilaaha illalloohu mukhlishiina lahud diini wa lau karihal kaafiruun.” Dan bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid dan bertakbir demikian pula, dan mengucapkan untuk menyempurnakan seratus, “Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qoodiir.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra) Dan membaca ayat kursi, al-Ikhlash dan surat mu’awidzatain sesudah selesai tiap-tiap shalat (HR. Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ath-Thabrani   dari  Abi Amamah ra), dan  disunnatkan mengulangi masing-masing surat tersebut tiga kali sesudah shalat fajar (Subuh) dan Maghrib. Telah diriwayatkan beberapa hadits tentangnya dari Nabi saw, dan tiap-tiap dzikir itu hukumnya sunat bukanlah fardhu. Dan Allah lah yang telah memberikan taufik kepadaku.

Dan diperintahkan bagi muslim dan muslimah melaksanakan sholat sunnah empat raka’at sebelum zhuhur dan dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya’ dan dua raka’ta sebelum subuh. Seluruhnya berjumlah sebelas ra’aat dan inilah yang disebut sholat sunnat rawatib serta sholat witir dilakukan di rumah. Dan jika dilakukan di dalam masjid tidaklah mengapa sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumah, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari Muslim dan Tirmidzi). Dan orang yang menjaga ini raka’at (sholat sunnah) menyebabkannya masuk syurga sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang melaksanakan sholat sunnat sebelas raka’at pada siang hari dan malamnya, maka Alloh buatkan sebuah rumah di syurga.” (HR. Muslim, Abu Daud dan Nasa’i)

Dan apabila melakukan sholat sunnat empat raka’at sebelum ashar, dua raka’at sebelum maghrib dan dua raka’at sebelum isya’ maka itu hal yang baik, karena sesungguhnya hal itu telah dibenarkan oleh Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam petunjuknya. Dan jika mengerjakan sholat sunnat empat raka’at sebelum zhuhur dan empat raka’at sesudahnya itu hal yang baik sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa menjaga sholat empat raka’at sebelum zhuhur dan empat raka’at sesudahnya, maka Alloh mengharamkan jasadnya masuk neraka.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad dengan sanad yang shohih dari Ummu Habibah Ra).

Dan sesungguhnya makna Nabi menambahkan dalam sholat rowatib dua raka’at sesudah zhuhur karena sholat rowatib itu empat raka’at sebelum zhuhur dan dua raka’at sesudahnya. Maka jika setelah zhuhur ditambah dua raka’at jadilah sebagaimana hadits yang disebutkan oleh Ummu Habibah Ra. Dan milik Alloh lah segala petunjuk (taufiqa).

Dan semoga Allah memberikan keselamatan dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad saw bin ‘Abdullah dan atas keluarganya, sahabat-sahabatnya dan pengikut-pengikutnya yang baik sampai hari pembalasan. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam ]]].

Tambahan:

Diantara dzikir-dzikir yang sifatnya muqayyad adalah dzikir setelah salam dari shalat wajib. Setelah selesai mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, kita disunnahkan membaca dzikir, yaitu sebagai berikut:

1. Membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

“Aku meminta ampunan kepada Allah (tiga kali). Ya Allah, Engkaulah As-Salaam (Yang selamat dari kejelekan-kejelekan, kekurangan-kekurangan dan kerusakan-kerusakan) dan dari-Mu as-salaam (keselamatan), Maha Berkah Engkau Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Baik.” (HR. Muslim 1/414)

2. Membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menolak terhadap apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau tolak dan orang yang memiliki kekayaan tidak dapat menghalangi dari siksa-Mu.” (HR. Al-Bukhariy 1/255 dan Muslim 414)

3. Membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada Allah, milik-Nya-lah segala kenikmatan, karunia, dan sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, kami mengikhlashkan agama untuk-Nya walaupun orang-orang kafir benci.” (HR. Muslim 1/415)

4. Membaca:

سُبْحَانَ اللهُ

“Maha Suci Allah.” (tiga puluh tiga kali)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ

“Segala puji bagi Allah.” (tiga puluh tiga kali)

اَللهُ أَكْبَرُ

“Allah Maha Besar.” (tiga puluh tiga kali)

Kemudian dilengkapi menjadi seratus dengan membaca,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

“Barangsiapa mengucapkan dzikir ini setelah selesai dari setiap shalat wajib, maka diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. (HR. Muslim 1/418 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Catatan:
Kalimat yang berwarna kuning dengan tanda “[[[...........]]]” yang menjelaskan tentang dzikir Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam setelah sholat sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz yang dihilangkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dalam buku terjemahan kitab  “كيفية صلاة النبي صلى الله عليه وسلم” (Tata Cara Sholat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam), apakah hal itu disengaja atau tidak yang jelas ini merupakan pembohongan publik. Wallohu a’lam bis-Showab

الرئيس العام لإدارات البحوث العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد
عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Minggu, 19 April 2015

KONTROVERSI SHALAT SUNNAT DAN PUASA RAJAB



Islam adalah agama yg rohmatan lil’alamin. Artinya kasih sayang islam menjadikan khilafiyah (perbedaan pendapat) adalah hal yg wajar dan tidak dijadikan alasan untuk saling menyalahkan satu sama lain.

Maraknya paham yg merasa paling benar dewasa ini yg suka menyalahkan saudaranya disaat ingin melakukan amalan ibadah (sunnah) guna mensyi’arkan ajaran islam kadang menjadi pemicu perpecahan dan permusuhan, misalnya terkait sholat dan puasa sunnah di bulan rajab seperti saat ini. Oleh karenanya sy alfaqir Asimun Ibnu Mas’ud mencoba menjabarkan penjelasan ulama terkait masalah tersebut.

Rajab berasal dari kata: رَجَبَ الرجل رَجَبًا وَ رَجَبَهُ يَرْجُبُ رَجلْبًا رُجُوْبًا, maknanya menghormati dan mengagungkan. Sehingga bulan Rajab ini bermakna bulan yg agung.

Di dalam ash-Shahihain terdapat hadist dari Abu Bakrah rahimahulloh dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wa ssalam banwa beliau bersabda, “Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu terdapat dua belas bulan. Empat diantaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari empat bulan itu, (jatuh secara) berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga sebagai) syahru Mudhar, terletak diantara Jumada (ats Tsaniyah) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahulloh meriwayatkan melalui sanadnya, dari Ibnu Abbas radhiallohu anhu sehubungan dengan pengagungan Allah terhadap kesucian bulan-bulan ini, beliau berkata, “Allah Ta’ala telah menjadikan bulan-bulan ini sebagai (bulan-bulan yang) suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan ini menjadi lebih besar dan menjadikan amal shalih serta pahala pada bulan ini juga lebih besar.”
(Tafsir ath-Thabari)

Bulan Rajab memiliki 14 nama, yaitu Rajab, Al-Asham, Al-Ashab, Rajm, Al-Harm, Al-Muqim, Al-Mu’alla, Manshal Al-Asinnah, Manshal Al-Aal, Al-Mubri’ , Al-Musyqisy, Syahru Al-‘Atirah dan Rajab Mudhar.

Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yg artinya bahwa org yg melaksanakan Shalat Rajab
1. Diampuni dosanya oleh Allah
2. Diberi pahala sebagaimana pahala orang puasa di bulan rajab.
3. Dicatat sebagai orang yg shalat terus sampai tahun yg akan datang.
4. Dalam setiap hari mendapat pahalanya orang yg mati syahid di perang badar.
5. Bila orang yg melaksanakan shalat rajab tersebut puasa maka setiap hitungan hari puasanya mendapat nilai ibadah satu tahun.
6. Allah menaikkan seribu derajat bagi yang melaksanakan sharat tersebut.
7. Jika seseorang melakukan puasa sebulan dan melaksanakan shalat tersebut maka Allah akan memberikan
1) Selamat dari neraka.
2) Dimasukkan kedalam Surga.
3) Dekat dengan Allah.

Inilah keterangan yg diuraikan oleh Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani Qs. Dalam kitab "الغنية لطالبي طريق الحق" (Al-Ghunyah Litholibi Thoriq Al-Haq Juz 1 hal. 180-181 Pasal tentang Sholat dan Wirid di Bulan Rajab)

TATA CARA PELAKSANAAN SHALAT RAJAB MADZHAB SYAFI’I

Jumlah keseluruhan shalat rajab adalah tiga puluh rakaat yang dilaksanakan tiga kali yaitu sepuluh rakaat pada tanggal 1. Sepuluh rakaat berikutnya pada tanggal 15 dan sepuluh rakaat berikutnya pada tanggal 30.

Niat shalat rajab :

أُصَلِّي سُنَّةً لِشَهْرِ رَجَبَ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلهِ تَعَالَى

Pada setiap rakaat setelah membaca Fatihah membaca Surat Al-Kafirun dan Al- Ikhlas masing-masing 3x

Doa yg dibaca setelah melaksanakan shalat rajab pada tanggal 1 adalah:

لآاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَيَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. اللهم لاَمَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَيَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدِّ.

Tidak ada batasan untuk membaca doa tersebut diatas.

Doa yang dibaca setelah melaksanakan shalat rajab pada tanggal 15 adalah:

لآاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَيَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. اِلهًا واَحِدًا صَمَدًا فَرْدًا وِتْرًا لَمْ يَتَّخِذْصَاحِبَةً وَلاَوَلَدًا

Tidak ada batasan untuk membaca doa tersebut diatas.

Doa yang dibaca setelah melaksanakan shalat rajab pada tanggal 30 adalah:

لآاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَيَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. وَصَلّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى ألِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

Tidak ada batasan untuk membaca doa tersebut diatas.

Hendaknya setiap selesai membaca doa, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan kita.

Penting juga untuk kita laksanakan di bulan rajab, adalah shalat raghaib ((صلاة رغائب Tata cara shalat tersebut sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةَ الرَّغَائِبِ ⁄ لِشَهْرِ رَجَبَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلهِ تَعَالَى

Setiap rakaat setelah membaca Fatihah membaca Surat Al-Qadr 3x dan Surat Al-Ikhlas 12x. Shalat Raghaib dilaksanakan sebanyak 12 rakaat 6x salam.

Setelah melaksanakan Shalat Raghaib, kemudian membaca :

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى ألِهِ وَسَلِّمْ

Sebanyak 70x, kemudian dilanjutkan dengan sujud. Dalam sujud membaca :

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلآئِكَةِ وَالرُّوْحِ

 Sebanyak 70x, lalu duduk dan membaca :

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمْ فَاءِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزِالأَعْظَمْ

Sebanyak 70x, kemudian dilanjutkan dengan sujud. Dalam sujud membaca :

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلآئِكَةِ وَالرُّوْحِ

 Sebanyak 70x, lalu sebelum bangun dari sujud, mohon kepada Allah apa yang menjadi hajat kita Insyaallah hajatnya terkabul. Amin!

Wirid yang dibaca setiap setelah Maghrib dibulan rajab. Dari tanggal 1 sampai 10 membaca :

سُبْحَانَ اللهِ الْحَيُّ الْقَيُّوْمِ

Sebanyak 100x, dan dari tanggal 11 sampai 20 membaca :

سُبْحَانَ اللهِ اْلأَحَدِالصَّمَدِ

Sebanyak 100x, serta dari tanggal 21 sampai tanggal 30 membaca :

سُبْحَانَ اللهِ الرَّؤُفِ

Sebanyak 100x.

ULAMA MADZHAB HAMBALI YANG MENGINGKARI PUASA DAN SHALAT  SUNNAH RAJAB

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَ شَعْبَان شَهْرِيْ وَ رَمَضَانُ شَهْرأَمَّتِي ................ وَمَا مِنْ أَحَدٍ يَصُوْمُ يَوْمَ الْخَمِيْسِ أَوَّلَ خَمِيْسٍ فِيْ رَجَبٍ ثُمَّ يُصَلِّي فِيْمَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعَتَمَةِ يَعْنِيْ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ ثِنْتَيْ عَشَرَةَ وَكْعَةً يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ مَرَّةً و (إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) ثَلا َثَ مَرَّاتٍ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اثْنَتَيْ عَشَرَةَ مَرَّةً يُفْصَلُ بَيْنَ كَلِّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِمَتَيْنِ فَإِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ صَلِّيْ عَلَيَّ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ يَقُوْلُ اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيْ الأمِيْ وً عًلًى آلِهِ ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُوْلُ فِيْ سُجُدِهِ سُبُوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئكَةِ وَ الرُّوْحِ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُوْلُ رَيِّ اغْفِرْلِيْ وارْحَمْ وَ تَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الأَعْظَمُ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ يَسْجُدُ الثَّانِيَةَ فَيَقُوْلُ مِثْلَ مَا قَالَ فِيْ السَجْدَةِ الأُولَى ثُمَّ يَسْأَلُ اللهَ حَاجَتَهُ فَإِنَّهَا تُقْضَى قَالَ رَسُوْل الله : وَالَّذِيْ تَفْسِيْ بيَدِهِ مَا مِنْ عَبْدٍ وَلا َ لأ أَمَةٍ صَلَّى هَذِهِ الصَلاَةَ إِلاَّ غَفَرَ الله لَهُ جَمِيْعَ ذُنُوْبِهِ وَ إنْ كَانَ مِثْلَ زَيَدِ الْبَحْرِ وَ عَدَدَ وَرَقِ الأَشْجَارِ و شَفَعَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيْ سَبْعِمِائَةِ مِنْ أَهْلَ بَيْتِهِ . فَإِذَا كَانَ فِيْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِيْ قَبْرِهِ جَاءَ ثَوَّابُ هَذِهِ الصَّلاَةِ فَيُجِيْبُهُ بِوَجْهٍ طَلِقٍ وَلِسَانٍ ذَلِقٍ فَيَقُوْلُ لَهُ حَبِيْبِيْ أَبْشِرْ فَقَدْ نَجَوْتَ مِنْ كُلِّ شِدَّةٍ فَيَقُوْلُ مَنْ أَنْتَ فَوَ اللهِ مَا رَأَيْتُ وَجْهًا أَحْسَنَ مِنْ وَجْهِكَ وَلاَ سَمِعْتُ كَلاَمًا أَحْلَى مِنْ كَلاَمِكَ وَلاَ شَمَمْتُ رَائِحَةُ أَطْيَبُ مِنْ رَائِحَتِكَ فَيَقُوْلُ لَهُ يَا حَبِيْبِيْ أَنَا ثَوَابُ الصَلاَةِ الَّتِيْ صَلَّيْتَهَا فِيْ لَيْلَةِ كَذَا فِيْ شَهْرِ كَذَا جِئْتُ الليْلَة َ لأَ قْضِيْ حَقَّكَ وَ أُوْنِسَ وَحْدَتَكَ وَ أَرْفَعَ عَنْكَ وَحْشَتَكَ فَإِذَا نُفِخَ فِيْ الصُوْرِ أَظْلَلْتُ فِيْ عَرَصَةِ الْقِيَامَةِ عَلَى رَأْسِكَ وَ أَبْشِرْ فَلَنْ تَعْدَمَ الْخَيْرَ مِنْ مَوْلاَكَ أَبَدًا

Rajab bulan Allah dan Sya’ban bulanku serta Ramadhon bulan umatku. Tidak ada seorang berpuasa pada hari Kamis, yaitu awal Kamis dalam bulan Rajab, kemudian shalat diantara Maghrib dan ‘Atamah (Isya) -yaitu malam Jum’at- (sebanyak) dua belas raka’at. Pada setiap raka’at membaca surat Al Fatihah sekali dan surat Al Qadr tiga kali, serta surat Al Ikhlas duabelas kali. Shalat ini dipisah-pisah setiap dua raka’at dengan salam. Jika telah selesai dari shalat tersebut, maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali, kemudian mengatakan “Allahhumma shalli ‘ala Muhammadin Nabiyil umiyi wa alihi, kemudian sujud, lalu menyatakan dalam sujudnya “Subuhun qudusun Rabbul malaikati wa ar ruh” tujuh puluh kali, lalu mengangkat kepalanya dan mengucapkan “Rabbighfirli warham wa tajaawaz amma ta’lam, inaka antal ‘Azizul a’zham” tujuh puluh kali, kemudian sujud kedua dan mengucapkan seperti ucapan pada sujud yang pertama. Lalu memohon kepada Allah hajatnya, maka hajatnya akan dikabulkan. Rasululloh bersabda,”Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidak ada seorang hamba lali-laki atau perempuan yang melakukan shalat ini, kecuali akan Allah ampuni seluruh dosanya, walaupun seperti buih lautan dan sejumlah daun pepohonan, serta bisa memberi syafa’at pada hari kiamat kepada tujuh ratus keluarganya. Jika berada pada malam pertama, di kuburnya akan datang pahala shalat ini. Ia menemuinya dengan wajah yang berseri dan lisan yang indah, lalu menyatakan: ‘Kekasihku, berbahagialah! Kamu telah selamat dari kesulitan besar’. Lalu (orang yang melakukan shalat ini) berkata: ‘Siapa kamu? Sungguh demi Allah aku belum pernah melihat wajah seindah wajahmu, dan tidak pernah mendengar perkataan seindah perkataanmu, serta tidak pernah mencium bau wewangian, sewangi bau wangi kamu’. Lalu ia berkata: ‘Wahai, kekasihku! Aku adalah pahala shalat yang telah kamu lakukan pada malam itu, pada bulan itu. Malam ini aku datang untuk menunaikan hakmu, menemani kesendirianmu dan menghilangkan darimu perasaan asing. Jika ditiup sangkakala, maka aku akan menaungimu di tanah lapang kiamat. Maka berbahagialah, karena kamu tidak akan kehilangan kebaikan dari maulamu (Allah) selama-lamanya’.” [Tabyin Al-‘Ajab Bima Waroda Fi Fadhli Rojab Ibnu Hajar Al-Asqalani hal. 34-36 Hadits ke-18 Bab Sholat Raghaib]

Dari hadits ini, dapat diketahui secara ringkas tata cara shalat Raghaib, yaitu sebagai berikut:
1. Jumlah raka’at dua belas dibagi setiap dua rakaat satu salam.
2. Bertakbir dengan mengucapkan Allahu Akbar.
3. Pada setiap raka’at membaca surat Al Fatihah sekali, surat Al Qadar tiga kali dan surat Al Ikhlash dua belas kali.
4. Kemudian ruku’ dan sujud.
5. Usai shalat Raghaib mengucapkan shalawat kepada Nabi sebanyak tujuh puluh kali dengan lafadz Allahhumma shlli ‘Ala Muhammadin Nabiyil umiyi wa ‘alihi
6. Kemudian sujud dengan membaca Subuhun qudusun Rabul malaikati wa ar ruh.
7. Lalu bangun dan duduk dengan mengucapkan Rabbighfirli warham wa tajaawaz amma ta’lam, innaka antal ‘Azizul a’hzam.
8. Lalu sujud lagi dan mengucapkan sebagaimana ucapan yang sama dengan sujud yang pertama.
9. Kemudian berdo’a kepada Allah sesuai dengan hajat kebutuhannya.

Melalui penjelasan dalam kitab Ibnu Hajar Al-Asqalani diatas, maka ulama salafi wahabi seperti Bin Baz mengatakan bahwa hadits diatas adalah maudhu’ (palsu). Tapi jika dicermati lebih teliti akan sangat terlihat PERBEDAAN RIWAYAT, MATAN HADITS JUGA REDAKSINYA. Wallohu a’lam bis-Showab dan semoga bermanfa’at. Aamiin

Kamis, 06 November 2014

HUKUM ISTRI MENGGUGAT CERAI SUAMI (KHULU’)




Perceraian adalah perkara halal yang paling dibenci oleh Allah. Perceraian dipilih ketika dibutuhkan saja, yaitu apabila mempertahankan pernikahan akan mengakibatkan mudharat yang lebih besar. Dan jika tidak sangat diperlukan maka perceraian menjadi makruh karena mengakibatkan bahaya yang tidak bisa ditutupi.
Bagi wanita, meminta cerai adalah perbuatan sangat buruk. Dan Islam melarangnya dengan menyertakan ancaman bagi pelakunya, jika tanpa adanya alasan yang dibenarkan.
الطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْزَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئاً إِلاّض أَنْ يَخَافَا أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, MAKA TIDAK ADA DOSA ATAS KEDUANYA TENTANG BAYARAN YANG DIBERIKAN OLEH ISTRI UNTUK MENEBUS DIRINYA. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah 2:229)
Syariat Islam memberikan jalan keluar bagi pasangan suami istri ketika mereka tidak lagi merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam keluarganya. Baik dalam bentuk cerai yang itu berada di tangan suami atau gugat cerai (khulu’) sebagai jalan keluar bagi istri yang tidak memungkinkan lagi untuk tinggal bersama suami. Dan semuanya harus dilakukan dengan aturan yang telah ditetapkan syariat.
HUKUM ISTRI MENGGUGAT CERAI SUAMI (KHULU’)
Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan hal ini, diantaranya,
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أيُّما امرأةٍ سألت زوجَها طلاقاً فِي غَير مَا بَأْسٍ؛ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ
“Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 2226, At-Turmudzi 1187).
Hadits ini menunjukkan ancaman yang sangat keras bagi seorang wanita yang meminta perceraian tanpa ada sebab yang diizinkan oleh syariat.
Dalam Aunul Ma’bud, Syarh sunan Abu Daud dijelaskan makna ‘tanpa kondisi mendesak’,
أي لغير شدة تلجئها إلى سؤال المفارقة
“Yaitu tanpa ada kondisi mendesak memaksanya untuk meminta cerai…” (Aunul Ma’bud, 6:220)
Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُنْتَزِعَاتُ وَالْمُخْتَلِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ
Para wanita yang berusaha melepaskan dirinya dari suaminya, yang suka khulu’ (gugat cerai) dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq.” (HR. Nasa’i 3461)
Al-Munawi menjelaskan hadis di atas,
أي اللاتي يبذلن العوض على فراق الزوج بلا عذر شرعي
“Yaitu para wanita yang mengeluarkan biaya untuk berpisah dari suaminya tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat.’
Beliau juga menjelaskan makna munafiq dalam hadis ini,
نفاقاً عملياً والمراد الزجر والتهويل فيكره للمرأة طلب الطلاق بلا عذر شرعي
‘Munafiq amali (munafiq kecil). Maksudnya adalah sebagai larangan keras dan ancaman. Karena itu, sangat dibenci bagi wanita meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat.’ (At-Taisiir bi Syarh al-Jaami’ as-Shogiir, 1:607).
HAL-HAL YANG MEMBOLEHKAN GUGAT CERAI SUAMI
Hadits-hadits di atas tidaklah memaksa wanita untuk tetap bertahan dengan suaminya sekalipun dalam keadaan tertindas. Karena yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan gugat cerai tanpa alasan yang dibenarkan. Artinya, jika itu dilakukan karena alasan yang benar, syariat tidak melarangnya, bahkan dalam kondisi tertentu, seorang wanita wajib berpisah dari suaminya.
Apa saja yang membolehkan para istri untuk melakukan gugat cerai? Imam Ibnu Qudamah telah menyebutkan kaidah dalam hal ini. Beliau mengatakan,
وجمله الأمر أن المرأة إذا كرهت زوجها لخلقه أو خلقه أو دينه أو كبره أو ضعفه أو نحو ذلك وخشيت أن لا تؤدي  حق الله في طاعته جاز لها أن تخالعه بعوض تفتدي به نفسها  منه
“Kesimpulan masalah ini, bahwa seorang wanita, jika membenci suaminya karena akhlaknya atau karena fisiknya atau karena agamanya, atau karena usianya yang sudah tua, atau karena dia lemah, atau alasan yang semisalnya, sementara dia khawatir tidak bisa menunaikan hak Allah dalam mentaati sang suami, maka boleh baginya untuk meminta khulu’ (gugat cerai) kepada suaminya dengan memberikan biaya/ganti untuk melepaskan dirinya.” (al-Mughni, 7:323).
Berikut beberapa kasus yang membolehkan sang istri melakukan gugat cerai,
  1. Jika sang suami sangat nampak membenci sang istri, akan tetapi sang suami sengaja tidak ingin menceraikan sang istri agar sang istri menjadi seperti wanita yang tergantung.
  2. Akhlak suami yang buruk terhadap sang istri, seperti suka menghinanya atau suka memukulnya.
  3. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, suka mendengar musik, dll
  4. Jika sang suami tidak menunaikan hak utama sang istri, seperti tidak memberikan nafkah kepadanya, atau tidak membelikan pakaian untuknya, dan kebutuhan-kebutuhan primer yang lainnya, padahal sang suami mampu.
  5. Jika sang suami ternyata tidak bisa menggauli istrinya dengan baik, misalnya jika sang suami cacat, atau tidak bisa melakukan hubungan biologis, atau tidak adil dalam mabit (jatah menginap), atau tidak mau atau jarang memenuhi kebutuhan biologisnya karena condong kepada istri yang lain.
  6. Jika sang wanita sama sekali tidak membenci sang suami, hanya saja sang wanita khawatir tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sehingga tidak bisa menunaikan hak-hak suaminya dengan baik. Maka boleh baginya meminta agar suaminya meridoinya untuk khulu’, karena ia khawatir terjerumus dalam dosa karena tidak bisa menunaikan hak-hak suami.
  7. Jika sang istri membenci suaminya bukan karena akhlak yang buruk, dan juga bukan karena agama suami yang buruk. Akan tetapi sang istri tidak bisa mencintai sang suami karena kekurangan pada jasadnya, seperti cacat, atau buruknya suami.
GUGAT CERAI OLEH ISTRI

Yaitu perceraian yang dilakukan oleh istri kepada suami. Cerai model ini dilakukan dengan cara mengajukan permintaan perceraian kepada Pengadilan Agama. Dan perceraian tidak dapat terjadi sebelum Pengadilan Agama memutuskan secara resmi.

Ada dua istilah yang dipergunakan pada kasus gugat cerai oleh istri, yaitu fasakh dan khulu’:

1. FASAKH

Fasakh adalah pengajuan cerai oleh istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami, dalam kondisi di mana:
Suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama enam bulan berturut-turut;
  1. Suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa ada kabar berita (meskipun terdapat kontroversi tentang batas waktunya);
  2. Suami tidak melunasi mahar (mas kawin) yang telah disebutkan dalam akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya (sebelum terjadinya hubungan suamii istri); atau
  3. Adanya perlakuan buruk oleh suami seperti penganiayaan, penghinaan, dan tindakan-tindakan lain yang membahayakan keselamatan dan keamanan istri.
Jika gugatan tersebut dikabulkan oleh Hakim berdasarkan bukti-bukti dari pihak istri, maka Hakim berhak memutuskan (tafriq) hubungan perkawinan antara keduanya. 

2. KHULU’

Khulu’ adalah kesepakatan penceraian antara suami istri atas permintaan istri dengan imbalan sejumlah uang (harta) yang diserahkan kepada suami. Khulu' disebut dalam QS Al-Baqarah 2:229.
Adapun dalil haditsnya adalah sebuah hadits shahih yang mengisahkan tentang istri Tsabit bin Qais bin Syammas bernama Jamilah binti Ubay bin Salil yang datang pada Rasulullah dan meminta cerai karena tidak mencintai suaminya. Rasulullah lalu menceraikan dia dengan suaminya setelah sang istri mengembalikan mahar.
[Hadits riwayat Bukhari no. 4973; riwayat Baihaqi  dalam Sunan al-Kubro no. 15237; Abu Naim dalam Al-Mustakhroj no. 5275;  Teks asal dari Sahih Bukhari sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلَا خُلُقٍ إِلَّا أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا
DEFINISI KHULU’
Definisi khuluk menurut madzhab Syafi’i adalah sebagai berikut: 
الخلع شرعا هو اللفظ الدال على الفراق بين الزوجين بعوض متوفرة فيه الشروط الآتي بيانها في شروط العوض فكل لفظ يدل على الطلاق صريحا كان أو كناية يكون خلعا يقع به الطلاق البائن وسيأتي بيان ألفاظ الطلاق في الصيغة وشروطها 
(Khulu’ secara syariah adalah kata yang menunjukkan atas putusnya hubungan perkawinan antara suami istri dengan tebusan [dari istri] yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Setiap kata yang menunjukkan pada talak, baik sharih atau kinayah, maka sah khulu-nya dan terjadi talak ba’in.) [Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/185 mengutip definisi khuluk menurut madzhab Syafi’i]. 
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari mendefinisikan khuluk demikian: 
الخلع هو أن تفتدي المرأة نفسها بمال تدفعه لزوجها، أو هو فراق الزوجة على مال 
(Khuluk adalah istri yang menebus dirinya sendiri dengan harta yang diberikan pada suami atau pisahnya istri dengan membayar sejumlah harta). [Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, IX/490; Mu’jam Al-Mustalahat al-Fiqhiyah, II/46 – 48)]. 
HUKUM KHULU’ 
Adapun hukum asal dari gugat cerai adalah boleh. Imam Nawawi menyatakan: 
وأصل الخلع مجمع على جوازه ، وسواء في جوازه خالع على الصداق أو بعضه ، أو مال آخر أقل من الصداق ، أو أكثر ، ويصح في حالتي الشقاق والوفاق ، 
(Hukum asal dari khulu’ adalah boleh menurut ijmak ulama. Baik tebusannya berupa seluruh mahar atau sebagian mahar atau harta lain yang lebih sedikit atau lebih banyak. Khulu’ sah dalam keadaan konflik atau damai.) [ Abu Syaraf An-Nawawi dalam Raudah at-Talibin 7/374;  Al-Hashni dalam Kifayatul Akhyar, III/40]. 
Al-Jaziri membagi hukum khuluk menjadi boleh, wajib, haram, dan makruh: 
الخلع نوع من الطلاق لأن الطلاق تارة يكون بدون عوض وتارة يكون بعوض والثاني هو الخلع وقد عرفت أن الطلاق يوصف بالجواز عند الحاجة التي تقضي الفرقة بين الزوجين وقد يوصف بالوجوب عند عجز الرجل عن الإنفاق والاتيان وقد يوصف بالتحريم إذا ترتب عليه ظلم المرأة والأولاد وقد يوصف بغير ذلك من الأحكام المتقدم ذكرها هناك على أن الأصل فيه المنع وهو الكراهة عند بعضهم والحرمة عند بعضهم ما لم تفض الضرورة إلى الفراق
(Khuluk itu setipe dengan talak. Karena, talak itu terkadang tanpa tebusan dan terkadang dengan tebusan. Yang kedua disebut khuluk. Seperti diketahui bahwa talak itu boleh apabila diperlukan. Terkadang wajib apabila suami tidak mampu memberi nafkah. Bisa juga haram apabila menimbulkan kezaliman pada istri dan anak. Hukum asal adalah makruh menurut sebagian ulama dan haram menurut sebagian yang lain selagi tidak ada kedaruratan untuk melakukannya). [Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/186]. 
As-Syairazi dalam Al-Muhadzab menyatakan bahwa khuluk itu boleh secara mutlak walaupun tanpa sebab asalkan kedua suami istri sama-sama rela.  Apalagi kalau karena ada sebab, baik sebab yang manusiawi seperti istri sudah tidak lagi mencintai suami; atau sebab yang syar’i seperti suami tidak shalat atau tidak memberi nafkah. 
إذا كرهت المرأة زوجها لقبح منظر أو سوء عشرة وخافت أن لا تؤدي حقه جاز أن تخالعه على عوض لقوله عز و جل { فإن خفتم أن لا يقيما حدود الله فلا جناح عليهما فيما افتدت به } [ البقرة : 229 ] وروي أن جميلة بنت سهل كانت تحث ثابت بن قيس بن الشماس وكان يضربها فأتت إلى النبي ( ص ) وقالت : لا أنا ولا ثابت وما أعطاني فقال رسول الله ( ص ) [ خذ منها فأخذ منها فقعدت في بيتها ] وإن لم تكره منه شيئا وتراضيا على الخلع من غير سبب جاز لقوله عز و جل { فإن طبن لكم عن شيء منه نفسا فكلوه هنيئا مريئا } [ النساء : 4 ] 
(Apabila istri tidak menyukai suaminya karena buruk fisik atau perilakunya dan dia kuatir tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri, maka boleh mengajukan gugat cerai dengan tebusan karena adanya firman Allah dalam QS Al Baqaran 2:229 dan hadits Nabi dalam kisab Jamilah binti Sahl, istri Tsabit bin Qais. … Apabila istri tidak membenci suami akan tetapi keduanya sepakat untuk khuluk tanpa sebab maka itupun dibolehkan karena adanya firman Allah dalam QS An Nisa 4:4). [As-Syairozi, Al-Muhadzab,  II/289]. 
KHULU’ DI LUAR PENGADILAN 
Khuluk, sebagaimana halnya talak, dapat dilakukan secara langsung antara suami istri tanpa melibatkan hakim dan pengadilan agama. Seperti dikatakan Imam Nawawi dalam Al-Majmuk Syarh al-Muhadzab: 
ويجوز الخلع من غير حاكم لأنه قطع عقد بالتراضي جعل لدفع الضرر، فلم يفتقر إلى الحاكم كالإقالة في البيع. 
(Khuluk dapat dilakukan tanpa hakim karena khuluk merupakan pemutusan akad dengan saling sukarela yang bertujuan untuk menolak kemudaratan. Oleh karena itu ia tidak membutuhkan adanya hakim sebaagaimana iqalah dalam transaksi jual beli). [Imam Nawawi, Al-Majmuk Syarh al-Muhadzab, XVII/13]. 
Walaupun khuluk dapat dilakukan di luar pengadilan, namun secara formal itu tidak diakui negara. Untuk mengesahkannya secara legal formal menurut undang-undang Indonesia, maka pihak yang berperkara tetap harus mengajukannya ke Pengadilan Agama.[KHI (Kompilasi Hukum Islam) , Bab XVI Pasal 114] 
Harus juga diingat, bahwa proses perceraian di Pengadilan Agama dapat dilakukan apabila memenuhi sejumlah persyaratan yang ditentukan. Seperti, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), suami tidak memberi nafkah, ditinggal suami selama 2 tahun berturut-turut, dan lain-lain. [KHI (Kompilasi Hukum Islam) , Bab XVI Pasal 116]. 
KHULU’ DI PENGADILAN AGAMA 
Suatu gugatan perceraian akan diakui negara dan akan memiliki kekuatan legal formal apabila dilakukan di Pengadilan Agama dan diputuskan oleh seorang Hakim. [Pasal 1 Bab I Ketentuan Umum PP No 9/1975 tentang Pelaksanaan UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan] 
Untuk mengajukan gugatan cerai atau khulu’, seorang istri atau wakilnya dapat mendatangi Pengadilan Agama (PA) di wilayah tempat tinggalnya. Bagi yang tinggal di Luar Negeri, gugatan diajukan di PA wilayah tempat tinggal suami. Bila istri dan suami sama-sama tinggal di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama di wilayah tempat keduanya menikah dulu, atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat. [Pasal 73 UU No 7/89 tentang Peradilan Agama]. 
Berbeda dengan khuluk yang dilakukan di luar Pengadilan, maka gugat cerai yang diajukan melalui lembaga pengadilan harus memenuhi syarat-syarat antara lain: 
  1. Suami berbuat zina, pemabuk, pemadat, penjudi dan sebagainya;
  2. suami meninggalkan anda selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ada ijin atau alasan yang jelas dan benar, artinya: suami dengan sadar dan sengaja meninggalkan anda;
  3. suami dihukum penjara selama (lima) 5 tahun atau lebih setelah perkawinan dilangsungkan;
  4. suami bertindak kejam dan suka menganiaya anda;
  5. suami tak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami karena cacat badan atau penyakit yang dideritanya;
  6. terjadi perselisihan dan pertengkaran terus menerus tanpa kemungkinan untuk rukun kembali;
  7. suami melanggar taklik-talak yang dia ucapkan saat ijab-kabul;
  8. suami beralih agama atau murtad yang mengakibatkan ketidaakharmonisan dalam keluarga. []Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam jo Pasal 19 PP No 9 tahun 1975. 
Syarat-syarat di atas tentu saja harus disertai dengan adanya saksi dan bukti-bukti yang menguatkan gugatan. 
GUGAT CERAI TANPA KERELAAN SUAMI 
Gugat cerai pada dasarnya harus dilakukan atas sepengetahuan dan kerelaan suami. Karena pihak yang memberi kata cerai dalam khuluk adalah suami. Jadi, kalau suami tidak rela atau tidak mau meluluskan gugatan perceraian istri, maka khuluk tidak bisa terjadi. 
Namun demikian, dalam situasi tertentu Hakim di Pengadilan Agama dapat meluluskan gugat cerai tanpa persetujuan atau bahkan tanpa kehadiran suami apabila berdasarkan pertimbangan tertentu Hakim menganggap bahwa perceraian itu lebih baik bagi pihak penggugat yaitu istri. Misalnya, karena terjadinya konflik yang tidak bisa didamaikan, atau suami tidak bertenggung jawab, terjadi KDRT yang membahayakan istri dan lain sebagainya. [Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah, II/290]. 
Dalam konteks ini, maka hakim dapat menceraikan keduanya bukan dalam akad khuluk tapi talak biasa. Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah dinyatakan: 
وبضرر زوج لزوجته – نحو: لم نزل نسمع عن الثقات وغيرهم أنه يضارها فيطلقها عليه الحاكم 
(Disebabkan perilaku suami yang membahayakan istri, misalnya ada berita dari sejumlah sumber terpercaya bahwa suami melakukan kekerasan pada istri, maka hakim dapat menceraikan keduanya.). [Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, XII/285]. 
Apabila suami tidak memiliki kesalahan signifikan pada istri, hanya istri kurang menyukai suami dan kuatir tidak dapat memenuhi hak-hak suami dan kewajibannya sebagai istri, maka istri dapat mengajukan khuluk dan sunnah bagi suami untuk meluluskannya.  Apabila suami tidak rela dan tidak mau, maka ada dua pendapat ulama. Pendapat pertama, hakim tidak boleh memaksa suami. Konsekuensinya, hakim tidak dapat menceraikan mereka. Ini pandangan mayoritas ulama, termasuk madzhab Syafi’i. 
Pendapat kedua, hakim boleh memaksakan kehendak istri untuk bercerai walaupun suami tidak rela.  Pandangan ini terutama berasal dari madzhab Hanbali.  Al-Mardawi dalam Al-Inshaf: menyatakan: 
وإذا كانت المرأة مبغضة للرجل وتخشى أن لا تقيم حدود الله في حقه فلا بأس أن تفتدي نفسها منه، فيباح للزوجة ذلك والحالة هذه على الصحيح من المذهب وعليه أكثر الأصحاب وجزم الحلواني بالاستحباب، وأما الزوج فالصحيح من المذهب أنه يستحب له الإجابة إليه وعليه الأصحاب. واختلف كلام الشيخ تقي الدين رحمه الله في وجوب الإجابة إليه. وألزم به بعض حكام الشام المقادسة الفضلاء 
(Apabila istri marah pada suami dan takut tidak dapat menjalankan perintah Allah dalam memenuhi hak-hak suami maka istri boleh melakukan gugat cerai. … Al-Halwani menyatakan gugat cerai dalam konteks ini sunnah. Adapun suami maka menurut pendapat yang sahih adalah sunnah mengabulkan permintaan istri. Syekh Taqiuddin dan sebagian hakim Suriah menyatakan bahwa suami wajib memenuhi permintaan istri.) [Al-Mardawi, Al-Inshaf, VIII/382].
KESIMPULAN
Khuluk atau gugat cerai dari seorang istri pada suami hukumnya boleh dan sah dilakukan kapan saja baik dalam damai atau karena konflik rumah tangga. Karena faktor kesalahan suami atau karena istri tidak lagi mencintai suami. Dengan syarat adanya kerelaan suami. Dan dapat dilakukan di depan pengadilan atau di luar pengadilan. 
Gugat cerai di Pengadilan Agama yang disebabkan oleh perilaku suami yang tidak bertanggungjawab dapat diluluskan oleh hakim dengan sistem talak (bukan khuluk) tanpa perlu persetujuan suami. 
Adapun gugat cerai yang murni karena istri tak lagi mencintai suami, bukan karena kesalahan suami, maka suami disunnahkan untuk menerima permintaan istri. Dalam konteks ini, maka ulama berbeda pendapat ada yang MEMBOLEHKAN dan ada yang MELARANG. Wallahu a’lam bis-Shawab dan semoga bermanfa’at. Aamiin