MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR
Tampilkan postingan dengan label HILYATUL AULIYA'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HILYATUL AULIYA'. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 September 2025

MENGENAL SAHABAT KHUDZAIFAH AL-YAMANI




Hudzaifah bin Al-Yamani adalah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dikenal sebagai "Pemegang Rahasia Rasul" karena kemampuannya dipercaya Rasulullah untuk mengetahui orang-orang munafik di sekitar Madinah. Ia juga diamanahi untuk tugas-tugas intelijen, termasuk menyusup ke kemah musuh saat perang Khandaq. Keimanannya yang kuat, sifat jujur, dan amanah membuatnya sangat dipercaya oleh Nabi dan para Khulafaur Rasyidin. 

Hudzaifah bin Al-Yamani merupakan sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keturunan bani Al-Abbasi. Ayahnya bernama Husail bin Jabir, yang akrab disapa Al-Yaman. Ibunya bernama al-Rubab binti Ka'b Al-Asyhiliyyah. Hudzaifah memiliki saudara laki-laki bernama Shafwan.

Dalam kitab Hilyah Al-Auliya' wa Thabaqat Al-Ashfiya' dijelaskan tentang siapa sebenarnya Hudzaifah Al-Yamani radhiyallahu 'anhu inilah kisah singkatnya,

٤٢ - حذيفة بن اليمان عنه

ومنهم: العارف بالمحن، وأحوال القلوب والمشرف على الفتن والآفات والعيوب، سأل عن الشر فاتقاه، وتحرى الخير فاقتناه، سكن عند الفاقة والعدم، وركن إلى الإنابة والندم، وسبق رتق الأيام والأزمان، أبو عبد الله حذيفة بن اليمان.

وقد قيل: إن التصوف مرامقة صنع الرحمن، والموافقة مع المنع والحرمان.

حدثنا أبو بكر محمد بن أحمد بن يعقوب، ثنا أحمد بن عبد الرحمن السقطي، ثنا يزيد بن هارون، أخبرنا أبو مالك الأشجعي عن ربعي بن خراش عن حذيفة –رضي الله تعالى عنه- أنه قدم من عند عمر -رضي الله تعالى عنه فقال لما جلسنا إليه: سأل أصحاب محمد ﷺ : أيكم سمع قول رسول الله ﷺ في الفتن التي تموج موج البحر، فأسكت القوم، وظننت أنه إياي يريد، قال: فقلت: أنا، قال: أنت الله أبوك، قلت: «تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوْبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ، فَأَيُّ قَلْبٍ أنْكَرَهَا نُكِتَتْ فِيْهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، حَتَّى نَصِيرَ الْقُلُوْبُ عَلَى قلْبَيْنِ : قَلْبٌ أَبْيَضُ مِثْلَ الصَّفَا لَا يَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَدًا كالْكُوْزِ مُجَخَّيَّا»، وأمال كفه، وأن أبا يزيد قال: هكذا، وأمال كفه، «لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ منْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ) وحدثته: «أَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا يُوْشَكُ أَنْ يُكْسَرَ كَسْرًا»؛ فقال عمر: كسرا. لا أبا لك، قلت: نعم، قال: فلو أنه فتح لكان لعله أن يعاد فيغلق، فقلت: بل كسرا، قال: وحدثته: أن ذلك الباب رجل يقتل أو يموت حديثا ليس بالأغاليط . رواه عن أبي مالك الأشجعي جماعة منهم: زهير، ومروان الفزاري، وأبو خالد الأحمر.

42 - Hudzaifah bin Al-Yaman ra.

Di antara mereka adalah orang yang mengenal cobaan, keadaan hati, dan mengawasi fitnah, bencana, dan aib. Ia bertanya tentang keburukan, lalu menjauhinya, mencari kebaikan, lalu menggapainya. Ia tinggal dalam keadaan kekurangan dan ketidakadaan, berpegang pada tobat dan penyesalan, dan mendahului waktu-waktu dan zaman. Abu Abdullah Hudzaifah bin Al-Yamani.

Dikatakan bahwa tasawuf adalah pandangan dari Sang Rahman, dan kesesuaian dengan larangan dan kekurangan. 

Kami diberitahu oleh Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Ya'qub, ia berkata, Ahmad bin Abdul Rahman as-Saqti, ia berkata, Yazid bin Harun, ia memberitakan kepada kami Abu Malik Al-Asyja'i dari Rubai bin Khurasy tentang Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia datang dari Umar radhiyallahu 'anhu dan ketika kami duduk di dekatnya, ia bertanya kepada sahabat-sahabat Muhammad  Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Siapa di antara kalian yang mendengar perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah yang bergelora seperti gelombang laut?" Mereka terdiam, dan aku mengira ia mengarah kepadaku. Ia berkata: "Kamu, wahai anak Allah." Aku berkata: "Fitnah itu akan diperlihatkan kepada hati seperti tikar, maka setiap hati yang menolak fitnah itu akan ditandai dengan tanda putih, dan setiap hati yang terkena fitnah itu akan ditandai dengan tanda hitam, hingga hati-hati itu menjadi dua jenis: satu hati yang putih seperti batu pualam yang tidak akan terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi ada, dan yang lainnya hitam legam seperti bejana yang terbalik." Ia menggerakkan tangannya, dan Abu Yazid berkata: "Begini," sambil menggerakkan tangannya, "tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari keburukan, kecuali apa yang sudah tercampur dengan hawa nafsunya." Dan aku memberitahunya: "Bahwa di antara kamu dan fitnah itu ada pintu yang tertutup yang hampir akan dihancurkan." Umar berkata: "Hancurkanlah. Tidak ada yang lebih baik untukmu." Aku berkata: "Ya," ia berkata: "Kalau begitu, jika pintu itu dibuka, mungkin akan ditutup kembali." Aku berkata: "Tetapi hancurkanlah." Ia berkata: "Dan aku memberitahunya: bahwa pintu itu adalah seorang lelaki yang akan terbunuh atau mati, berita ini bukanlah dusta." Diriwayatkan oleh Abu Malik Al-Asyja'i oleh beberapa orang, di antaranya: Zuhair, Marwan Al-Fazari, dan Abu Khalid Al-Ahmar.

حدثنا عبد الله بن جعفر، ثنا يونس بن حبيب، ثنا أبو داود، ثنا المسعودي، وقيس عن الأعمش عن زيد بن وهب، قال: قال حذيفة رضي الله تعالى عنه : حدثنا رسول الله ﷺ حديثين قد رأيت أحدهما وأنا أنتظر الآخر، حدثنا: «أَنَّ الأَمَانَةَ نَزَلَتْ في حِذْرٍ قُلُوْبِ الرِّجَالِ، فَعَلِمُوا من الْقُرْآنِ وَعَلِمُوا من السُّنَّةِ»، ثم حدثنا عن رفعها؛ فقال: «يَنَامُ الرَّجُلُ فِيْكُم فَيُنْكَتُ فِي قَلْبِهِ نُقْطَةٌ سَوْدَاءُ، فَيَظُلُّ أَثَرُهَا كَالِجَلِّ كَجَمْرٍ دَحْرَجْتَهُ عَلَى رِجْلِكَ فَنَقَطَ، فَتَرَاهُ مُتَبِرًا لَيْسَ فِيْهِ شَيْءٌ، فيُصْبِحَ النَّاسُ لَيْسَ فِيهِم أَمَيْنٌ، وَلَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُقَالُ لِلْرَجُلِ : مَا أَظْرَفَهُ، وَمَا أَعْقَلَهُ، وَمَا في قَلْبِهِ من الإِيمَانِ مِثْقَالُ شَعِيرَةِ». رواه الناس من الأعمش (۱)

حدثنا عبد الله بن جعفر، ثنا يونس بن حبيب، ثنا أبو داود، وحدثنا أبو بكر بن خلاد، ثنا الحارث بن أبي أسامة، ثنا أبي النضر قالا: ثنا سليمان بن المغيرة، حدثني حميد بن هلال، ثنا نصر ابن عاصم الليثي قال: أتيت اليشكري في رهط من بني ليث؛ فقال: قدمت الكوفة فدخلت المسجد، فإذا فيه حلقة كأنها قطعت رءوسهم يستمعون إلى حديث رجل، فقمت عليهم، فقلت:

من هذا؟ قيل: حذيفة بن اليمان، فدنوت منه فسمعته يقول: كان الناس يسألون رسول الله ﷺ عن الخير، وكنت أسأله عن الشر، فعرفت أن الخير لم يسبقني، قلت: يا رسول الله. أبعد هذا الخير شر؟ قال: «يَا حُذَيْفَةُ. تَعَلَّمْ كِتَابَ الله وَاتَّبِعْ مَا فِيْهِ ثلاثا، قال: قلت: يا رسول الله. هل بعد هذا الخير شر؟ قال: «فِتْنَةٌ وَشَر»، وقال أبو داود: «هَدْنَةٌ عَلَى دَخَنِ»، قال: قلت: يا رسول الله . ما الهدنة على دخن؟ قال: «لَا تَرْجِعُ قُلُوبُ أَقْوَامٍ إِلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ»، ثم قال رسول الله ﷺ : ثُمَّ

تَكُوْنُ فِتْنَةٌ عَمْيَاءٌ صَمَّاءُ عَلَيْهَا دُعَاةُ ضَلَالَةٍ»، أو قال: «دُعَاةُ النَّارِ، فَلَئِنْ تَعَضَّ عَلَى جِذْلِ شَجَرَةٍ خيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَتْبَعَ أَحَدًا مِنْهُم».(۲) رواه قتادة عن نصر، وسمى اليشكري خالدا

Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja‘far, dari Yunus bin Habib, dari Abu Dawud, dari Al-Mas‘udi, dan Qais dari Al-A‘mash dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kami dua perkara. Salah satunya telah aku lihat, dan aku sedang menunggu yang lainnya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amanah diturunkan ke dalam hati para laki-laki, lalu mereka mengetahui (maknanya) dari Al-Qur’an dan mengetahui dari Sunnah.”

Kemudian beliau menceritakan tentang pencabutannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang di antara kalian tidur, lalu amanah itu dicabut dari hatinya, hingga tertinggal padanya bintik hitam kecil. Kemudian ia tidur lagi, maka hilang (amanah itu) hingga meninggalkan bekas seperti gelembung, seperti bara api yang engkau gelindingkan di kakimu lalu membuat melepuh, maka engkau melihatnya melepuh tanpa ada sesuatu pun (yang bermanfaat di dalamnya). Lalu pada pagi harinya, manusia tidak lagi memiliki orang yang amanah di antara mereka. Akan datang suatu masa kepada manusia, di mana dikatakan tentang seseorang: ‘Alangkah cerdasnya dia, alangkah pandainya dia,’ padahal dalam hatinya tidak ada iman seberat biji sawi pun.”

(Hadits ini diriwayatkan oleh sekelompok perawi dari Al-A‘mash). 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja‘far, dari Yunus bin Habib, dari Abu Dawud, dan diriwayatkan pula dari Abu Bakar bin Khallad, dari Al-Harits bin Abi Usamah, dari Abu Al-Nadhr, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Humaid bin Hilal, dari Nashr bin ‘Ashim Al-Laitsi, ia berkata:

Aku datang menemui Al-Yasykari bersama sekelompok orang dari Bani Laits. Ia berkata: Aku pernah datang ke Kufah, lalu masuk ke masjid. Di sana ada sebuah halaqah, seakan-akan kepala mereka dipotong karena serius mendengarkan perkataan seseorang. Maka aku mendekat kepada mereka, lalu aku bertanya:

“Siapa orang ini?”

Dikatakan: “Itu Hudzaifah bin Al-Yamani."

Maka aku mendekat kepadanya dan mendengar ia berkata:

“Manusia dahulu biasa bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku khawatir keburukan itu menimpaku. Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Hudzaifah, pelajarilah Kitab Allah dan ikutilah apa yang ada di dalamnya.” (Beliau mengulanginya tiga kali).

Aku bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab: “Akan ada fitnah dan keburukan.”

Abu Dawud meriwayatkan: “Akan ada masa damai yang tercampur dengan kekeruhan.”

Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa maksud masa damai yang tercampur dengan kekeruhan itu?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hati sebagian kaum tidak akan kembali seperti sebelumnya.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kemudian akan datang fitnah yang buta dan tuli, di atasnya ada para penyeru kesesatan, atau beliau bersabda: para penyeru ke neraka. Maka jika engkau harus menggigit akar pohon (untuk bertahan), itu lebih baik bagimu daripada engkau mengikuti salah seorang dari mereka.” 

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Qatadah dari Nashr, dan ia menyebut Al-Yasykari dengan nama Khalid. (Hilyah Al-Auliya' wa Thabaqat Al-Auliya', Al-Imam Abu Nu'aim Al-Ashfahani juz 1 hal.343-344). Wallahu a’lam 🙏🏻

MENGENAL KHALIFAH UMAR IBNU KHATHTHAB RADHIYALLAHU 'ANHU


Khalifah Umar bin Khattab lahir di Mekah pada tahun 584 M dari suku Banu Adi, bagian terhormat dari kabilah Quraisy. Beliau wafat pada tahun 644 M setelah ditikam oleh seorang budak Persia bernama Abu Lu’lu’ah saat salat Subuh di Masjid Nabawi. Luka yang dialami sangat parah, dan ia meninggal beberapa hari kemudian. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal dengan sikapnya yang tegas dan keras, serta dihormati oleh masyarakatnya karena keteguhan pendirian dan keberaniannya. Pada awalnya, Umar bin Khaththab adalah salah satu musuh Islam yang paling keras dan bahkan pernah berniat membunuh Nabi Muhammad SAW untuk mempertahankan keyakinan leluhurnya.

Namun, Allah SWT membuka hati Umar dengan cara yang luar biasa. Dalam perjalanannya menuju rumah saudarinya, Fatimah, Umar mendengar lantunan ayat Al-Qur'an yang sangat menyentuh hatinya. Setelah itu, Umar memeluk Islam dan menjadi salah satu pembela yang paling setia, berubah dari musuh menjadi sekutu kuat Nabi.

Dalam kitab Hilyah Al-Auliya' wa Thabaqat Al-Ashfiya' dijelaskan tentang siapa sebenarnya Umar Ibnu Khaththab radhiyallahu 'anhu inilah kisah singkatnya,

٢- عمر بن الخطاب رضي الله عنه  

قال الشيخ رحمه الله تعالى: وثاني القوم عمر الفاروق ذو المقام الثابت المأثور، أعزّ الله تعالى به دعوة الصادقين المصدوق، وقرن به بين الفصل والعدل، وأيّد به قوائم ما خوّله من لوامع الطول، ومهّد به من منائح الفضل شواهد التوحيد، وبيدت به مواد التنديد، فظهرت الدعوة ورسخت الكلمة، فنجع الله بما منحه من الصلابة ما نشأت لهم به الدولة، فملأت بالتوحيد أفواههم، وضاقت برحابة إيمانهم صدورهم، فأرهفت عزائمهم فغلب كيد المشركين بما لزم الحق إزاؤه، لا يلتفت إلى كثرتهم وأطوالهم، ولا يكتفي بعددهم وأموالهم، آكلاً من زاد يقينه، شارباً من مشرب دينه، مستبسلاً في نصرة نبيّه، مستعملاً في إعلاء كلمة رسوله، ومصطلياً لحرّ الهيجاء، مراهناً على صدق الوعد ومضاء العزم، واقفاً لا يزيغ ولا ينحرف، ملازماً له نصرة، وصابراً في حمايته، ومقاماً في مراميه، ومعاضداً له في مغازيه، ومتوجهاً لتكليف من المشور والتوجيه المختص من بين الصحابة بالمعارضة للمبطّلين، والموافقة في الأحكام لربّ العالمين. السكوت تنطق على لسانه، والحكم تجري الحكمة عن بيانه، كان للحق مائلاً، وبالحق صادعاً، وللاعتقال حمالاً، ولم يخف دون الله طائلاً.  

إن التصور ركب الصعب وركب الصعب في جلال الكرب.  

أبو محمد عبد الله بن جعفر بن أحمد بن فارس بن يونس بن حبيب، ثنا أبو داود، ثنا زمر، عن أبي إسحاق عن البراء رضي الله عنه قال: جاء أعرابي يوم أحد، فقال: أتيكم محمد؟  

فقال رسول الله ﷺ: "لا تجيبوه".  

ثم قال: أتيكم محمد؟  

فلم يجيبوه، ثم قال الثالثة: أتيكم محمد؟  

فلم يجيبوه، ثم قال: أتيكم ابن أبي قحافة؟  

فلم يجيبوه، قال: أتيكم عمر بن الخطاب؟ قالوا: هذا ثلاثاً،  

ثم قال: أتيكم عمر بن الخطاب؟ فقالوا: نعم.  

فلم يجيبوه.  

فقال: أما هؤلاء فقد كُنتموهم، فلم يملك عمر نفسه، فقال: كذبت يا عدو الله، ها هو ذا رسول الله ﷺ، وأبو بكر، وأنا أحياء، ولك منا يوم سوء.  

فقال: يوم بيوم بدر، والحرب سجال.  

وقال: أعلُ هُبَل.  

فقال رسول الله ﷺ: «أجيبوه».  

قالوا: يا رسول الله، وما نقول؟  

قال: «قولوا: الله أعلى وأجلّ».  

فقال: لنا العُزّى ولا عُزّى لكم.  

فقال رسول الله ﷺ: «أجيبوه».  

قالوا: يا رسول الله، وما نقول؟  

قال: «قولوا: الله مولانا ولا مولى لكم».  

حدثنا عبد الله بن إبراهيم بن أيوب بن أبي ثنا أبو معشر الدارمي، ثنا عبد الواحد بن غياث، ثنا حازم بن أبي حازم عن عمرة: أن أبا سفيان بن حرب لما قال: أعلُ هُبَل، قال رسول الله ﷺ لعمر بن الخطاب: «قل: الله أعلى وأجلّ».  

فقال أبو سفيان: لنا العُزّى ولا عزّى لكم.  

فقال رسول الله ﷺ لعمر: «قل: الله مولانا والكافرون لا مولى لهم».  

حدثنا فارق بن عبد الحميد بن زيد الجهني، ثنا إبراهيم بن المنذر، ثنا محمد بن خليع، ثنا هارون.  

ثنا موسى بن عقبة عن ابن شهاب الزهري، قال: لما كان يوم أحد قال أبو سفيان: أعلُ هُبَل، بفخر بثائه.  

فقال عمر: اسمع يا رسول الله ما يقال عدوّ الله؟  

فقال رسول الله ﷺ: «فأجبه: الله أعلى وأجلّ».  

قال الشيخ رحمه الله: أمره الرسول ﷺ بالمجاهرة لما اختص به من الصلابة والمهابة، وما عُهد له من ملازمة التفرد وقيامه على معارضة أهل التنديد وآله، لا ينهدم مع كثرتهم العدة والعديد.  

قال الشيخ رحمه الله: كان سيفه مسلولاً للدين صقيلًا، ولأعمال البر مبُيطاً.  

وقد قيل: إن التصوف الوصول بما أعلن إلى ظهور ما بطن.  

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Syekh rahimahullah berkata: Yang kedua dari kaum itu adalah Umar Al-Faruq, seorang yang memiliki kedudukan tinggi lagi kokoh. Allah Ta‘ala telah memuliakan dakwah orang-orang yang jujur dan shadiq (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) dengannya, menjadikannya pembeda antara kebenaran dan kebatilan serta penopang keadilan. Allah menegakkan dengan dirinya tiang-tiang kekuasaan dan memperlihatkan tanda-tanda keutamaan, menjadi saksi ketauhidan, serta menghancurkan sumber kesyirikan. Maka dakwah pun tampak, kalimat (tauhid) semakin kokoh, hingga dengan keteguhan hati yang Allah berikan kepadanya lahirlah kekuatan yang darinya berdirilah sebuah negara.  

Dengan tauhid, mulut mereka dipenuhi dengan iman dada mereka disempitkan, lalu tekad mereka tajam hingga tipu daya musyrikin dapat dikalahkan. Dengan selalu berpegang pada kebenaran, ia tidak menoleh pada jumlah besar mereka dan tubuh mereka yang tinggi, tidak pula pada harta kekayaan mereka. Ia makan dari bekal keyakinannya, minum dari mata air agamanya, siap berkorban pada jalan menolong Nabi-nya, mengorbankan jiwa demi meninggikan kalimat Rasulnya, menghadapi panasnya peperangan, mempertaruhkan kebenaran janji, dan meneguhkan tekad. Ia berdiri tegak tanpa menyimpang, selalu setia menjadi penolong Nabi, sabar melindunginya, ikut serta dalam perjuangannya, menolongnya dalam peperangan, serta mendapat tugas-tugas dari musyawarah dan arahan yang khusus. Di antara para sahabat, ia adalah yang paling kuat menentang orang-orang batil, dan paling sesuai dalam hukum-hukum dengan Tuhan semesta alam. Diamnya juga mengandung makna, dan lisannya penuh hikmah. Ia selalu cenderung pada kebenaran, lantang menegakkannya, teguh menanggung kesulitan, dan tidak takut pada siapa pun selain Allah.  

Sesungguhnya keberanian menunggangi kesulitan, dan menghadapi kerasnya ujian dalam kebesaran penderitaan.  

Abu Muhammad Abdullah bin Ja‘far bin Ahmad bin Faris bin Yunus bin Habib meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, telah menceritakan kepada kami Zumar, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:  

Pernah datang seorang Arab Badui pada hari perang Uhud seraya berkata: "Apakah Muhammad ada di antara kalian?"  

Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jangan kalian jawab!"  

Lalu ia bertanya lagi: "Apakah Muhammad ada di antara kalian?"  

Mereka tetap tidak menjawab. Ia bertanya untuk ketiga kalinya: "Apakah Muhammad ada di antara kalian?"  

Mereka tetap tidak menjawab. Lalu ia bertanya: "Apakah Abu Bakar (bin Abi Quhafah) ada di antara kalian?"  

Mereka pun tetap tidak menjawab. Ia lalu bertanya: "Apakah Umar bin Khaththab ada di antara kalian?" Mereka menjawab: "Ya, dia ada" dan itu ia ulangi tiga kali.  

Kemudian ia berkata: "Apakah Umar bin Khaththab ada di antara kalian?" Mereka pun menjawab: "Ya."  

Namun mereka tetap tidak menjawab.  

Orang Badui itu berkata: “Adapun mereka (yang kalian sebut), mereka telah terbunuh. Umar pun tak kuasa menahan diri lalu berkata: ‘Engkau dusta wahai musuh Allah! Inilah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan aku, kami masih hidup. Untukmu akan datang hari yang buruk’.”  

Maka ia pun berkata: “Hari ini sama dengan hari Badar, dan perang itu silih berganti.”  

Kemudian ia berkata: “Tinggilah (jayalah) Hubal!”  

Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jawablah dia.” 

Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami ucapkan?”  

Beliau bersabda: “Katakanlah: Allah lebih tinggi dan lebih mulia.”  

Lalu ia berkata lagi: “Kami punya Al-‘Uzza, sedangkan kalian tidak punya Al-‘Uzza!”  

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kembali bersabda: “Jawablah dia.”  

Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami ucapkan?”  

Beliau bersabda: “Katakanlah: Allah penolong kami, dan kalian tidak memiliki penolong.” 

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ibrahim bin Ayyub bin Abi dari Abu Ma‘syar Ad-Darimi, dari ‘Abd al-Wahid bin Ghiyats, dari Hazim bin Abi Hazim, dari ‘Amrah, bahwa Abu Sufyan bin Harb ketika berkata: “Tinggilah Hubal,” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Umar bin Khaththab: “Katakanlah: Allah lebih tinggi dan lebih mulia.”  

Lalu Abu Sufyan berkata: “Kami punya Al-‘Uzza, sedangkan kalian tidak punya Al-‘Uzza.”  

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar: “Katakanlah: Allah penolong kami, sedangkan orang-orang kafir tidak memiliki penolong.”  

Diriwayatkan pula oleh Farq bin ‘Abd Al-Hamid bin Zaid Al-Juhani, dari Ibrahim bin Al-Mundzir, dari Muhammad bin Khuli‘, dari Harun.  

Diriwayatkan dari Musa bin ‘Uqbah, dari Ibnu Syihab Az-Zuhri, ia berkata:  

Ketika hari perang Uhud, Abu Sufyan berkata: “Tinggilah (jayalah) Hubal!” dengan penuh kesombongan.  

Maka Umar berkata: “Dengarlah wahai Rasulullah, apa yang dikatakan musuh Allah itu.”  

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jawablah dia: Allah lebih tinggi dan lebih mulia.”  

Syekh rahimahullah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkannya (Umar) untuk menyatakan jawaban dengan suara lantang karena keistimewaan Umar berupa keteguhan, kewibawaan, serta kebiasaannya untuk bersikap tegas dalam membantah kaum musyrikin dan berhala-berhala mereka. Ia tidak akan melemah meski mereka memiliki banyak pasukan dan perlengkapan.  

Syekh rahimahullah juga berkata: Pedang Umar selalu terhunus untuk membela agama, tajam dan bersinar, serta selalu siap untuk amal-amal kebaikan.  

Dan telah dikatakan: Sesungguhnya tasawuf adalah sampai pada keadaan bahwa apa yang tampak di lahiriah selaras dengan apa yang tersembunyi di batin."  (Hilyah Al-Auliya' wa Thabaqat Al-Auliya', Al-Imam Abu Nu'aim Al-Ashfahani juz 1 hal.71-73). Wallahu a’lam 🙏🏻

MENGENAL KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ RADHIYALLAHU 'ANHU


Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur'an maupun sunnah yang memerintahkan kita untuk meneladani para sahabat, di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115).

Salah satu diantara sahabat Khulafaur Rasyidin (Khalifah/ para pengganti yang mendapat petunjuk benar) adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Abu Bakar Ash-Shiddiq (nama asli Abdullah bin Abu Quhafah) adalah sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling utama, termasuk orang pertama yang masuk Islam, dan dikenal dengan gelar "Ash-Shiddiq" karena selalu membenarkan Nabi. Beliau menjadi khalifah setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, memimpin umat Islam untuk memerangi pemberontak, mengumpulkan Al-Qur'an, dan melanjutkan penyebaran Islam ke seluruh dunia. 

Dalam kitab Hilyah Al-Auliya' wa Thabaqat Al-Ashfiya' dijelaskan tentang siapa sebenarnya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu inilah kisah singkatnya,

أبو بكر الصديق رضي الله عنه

أبو بكر الصديق السابق إلى التصديق، الملقب بالعتيق، المؤيد من الله بالتوفيق، صاحب النبي ﷺ في الغار والأسفار، ورفيقه الشفيق في جميع الأطوار، ورضيعه بعد المولد في الروضة المحفوفة بالأسرار، المخصوص بالذكر الحكيم بمبختر فإن به كافة الأخبار، وعامة الآثار، رقي مشرُفاً على ذُرى الأعصار، فلم يُسم في ذُروته من أُولي الأيدي والأبصار، حيث يقول عالم الأسرار: ﴿ثاني اثنين إذ هما في الغار إذ يقول لصاحبه لا تحزن إن الله معنا﴾ [التوبة: 40]، إلى غير ذلك من الآيات والآثار، ومشهور العناصر الواردة من الأحاديث والأخبار، التي غدت كالمشمس في الانتشار، وتقل كل من غابر وفات كل من حاد، وانحضر ونزل من كل من أنكر وتكبر، حتى أتفق على قبوله الفتح وتلقته الجلة.  

توحّد الصديق في الأحوال بالتحقيق، واختار الأخبار من الله، دعاه إلى الطريق تجرد من الأموال والأغراض، وانتَصَب في قيام التوحيد للهدف والأغراض، صار للمحن هادياً وبلاء، وغرضاً وزهداً فيما عزله جواهر كان أو عرضاً، نفر ذابغ عن الالتفات إلى الخلق.  

وقد قيل: إن التصوف الاعتصام بالحقائق عند اختلاف الطرائق.  

حدثنا أبو بكر بن خلاد، قال: حدثنا أحمد بن إبراهيم بن ملحان ثنا يحيى بن بكير، قال: حدثني الليث بن سعد عن عقيل عن ابن شهاب، قال: أخبرني أبو سلمة بن عبد الرحمن عن ابن عباس رضي الله عنهما، أن أبا بكر رضي الله عنه خرج حين توفي رسول الله ﷺ، وعمر يكلم الناس، فقال: اجلس يا عمر. فأبى عمر أن يجلس. فقال: اجلس يا عمر. فشَهد: فقال: أما بعد، فمن كان يعبد محمداً فإن محمداً قد مات، ومن كان يعبد الله فإن الله حي لا يموت، إن الله تعالى قال: ﴿وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قُتِل انقلبتم على أعقابكم﴾ [آل عمران: 144].  

والله لكأن الناس لم يعلموا أن الله أنزل هذه الآية حتى تلاها أبو بكر، فتلقاها منه الناس كلهم، فما أسمع بشراً من الناس إلا يتلوها.  

Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.  

Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang pertama kali membenarkan (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam), mendapat julukan *Al-‘Atiq* (yang dibebaskan dari neraka), orang yang ditolong Allah dengan taufik-Nya, sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di gua dan dalam perjalanan, pendamping setia beliau dalam seluruh keadaan, yang menyusu bersama beliau sejak kecil di taman yang dipenuhi rahasia. Ia disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dengan berita agung yang mengandung berbagai kabar dan atsar. Ia mencapai kedudukan yang tinggi di puncak zaman, hingga tidak ada seorang pun yang dapat menandingi dari kalangan ulul albab dan ulul abshar, sebagaimana firman Allah tentang dirinya:  

"Ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya: Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita" (QS. At-Taubah: 40).  

Dan masih banyak ayat dan atsar yang menunjukkan kedudukan beliau. Riwayat-riwayat tentang beliau sangat masyhur seperti matahari yang menyinari, diarahkan kepada semua generasi, diterima oleh seluruh kaum muslimin, tidak ada yang mengingkari kecuali orang yang keras kepala.  

Ash-Shiddiq menempuh keadaan dengan penuh keyakinan dan mengambil berita dari Allah. Allah menyerunya menuju jalan-Nya. Ia meninggalkan harta dan kepentingan duniawi, bangkit dalam tauhid demi tujuan dan maksudnya, menjadi penunjuk jalan dalam menghadapi cobaan, tabah, zuhud terhadap dunia, dan menjauh dari segala bentuk kemewahan, berpaling dari ketergantungan pada makhluk.  

Ada yang berkata: Tasawuf adalah berpegang teguh pada hakikat ketika banyaknya perbedaan jalan. 

Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Khallad, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim bin Malhan menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Bukair, dari Al-Laits bin Sa‘d, dari ‘Uqail, dari Ibn Syihab, ia berkata: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadaku dari Ibnu Abbas ra., bahwa ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar ra. keluar sedangkan Umar sedang berbicara kepada manusia. Abu Bakar berkata: “Duduklah wahai Umar.” Namun Umar enggan duduk. Lalu Abu Bakar berkata: “Duduklah wahai Umar.” Maka Abu Bakar berkata:  

“Amma ba‘du, siapa yang menyembah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati. Sesungguhnya Allah telah berfirman: ‘Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kalian akan berbalik ke belakang (kembali kafir)?’ (QS. Ali ‘Imran: 144).”  

Ibnu Abbas ra berkata, "Demi Allah, seolah-olah manusia tidak tahu bahwa Allah menurunkan ayat ini hingga Abu Bakar membacakannya. Lalu semua orang pun menerima dan membacakannya, sehingga setiap orang yang terdengar pasti melantunkan ayat tersebut." (Hilyah Al-Auliya' wa Thabaqat Al-Auliya', Al-Imam Abu Nu'aim Al-Ashfahani juz 1 hal.58-59). Wallahu a’lam 🙏🏻