Sejak awal abad XI Hijriyah atau sekitar empat ratus tahun yang lalu, rokok dikenal dan membudaya di berbagai belahan dunia Islam. Sejak itulah sampai sekarang hukum rokok gencar dibahas oleh para ulama di berbagai negeri, baik secara kolektif maupun pribadi. Perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hukum rokok tidak dapat dihindari dan berakhir kontroversi. Itulah keragaman pendapat yang merupakan fatwa-fatwa yang selama ini telah banyak terbukukan.
Syahdan; As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain Al-Masyhur (w: 1320 H) (pengarang kitab Bughyah Al-Mustarsyidin) menjelaskan bahwa tembakau sudah dikenal sebagai salah satu dari keburukan yang termasuk dalam hal yang dihalalkan, karena dapat merusak keadaan (jiwa) dan harta.
التنباك معروف من أقبح الحلال إذ فيه إذهاب الحال والمال، ولا يختار استعماله أكلاً أو سعوطاً أو شرباً لدخانه ذو مروءة من الرجال، وقد أفتى بتحريمه أئمة من أهل الكمال كالقطب سيدنا عبد الله الحداد والعلامة أحمد الهدوان، كما ذكره القطب أحمد بن عمر بن سميط عنهما وغيرهم من أمثالهم، بل أطال في الزجر عنه الحبيب الإمام الحسين ابن الشيخ أبي بكر بن سالم وقال: أخشى على من لم يتب عنه قبل موته أن يموت على سوء الخاتمة والعياذ بالله تعالى.
"Tembakau itu dikenal sebagai seburuk-buruk perkara halal, karena di dalamnya ada penghilangan keadaan baik dan penghabisan harta. Dan tidaklah pantas orang yang punya muru'ah/kewibawaan dari kalangan laki-laki memilih menggunakannya, baik dengan cara dimakan, dihirup ke hidung, atau diminum asapnya.
Sungguh telah berfatwa tentang haramnya para imam dari kalangan ahli kesempurnaan, seperti Al-Qutb Sayyidina Abdullah Al-Haddad dan Al-Allamah Ahmad Al-Hadwan.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qutb Ahmad bin Umar bin Sumaith dari keduanya, dan juga yang lainnya yang semisal mereka.
Bahkan Al-Habib Al-Imam Al-Husain bin Syaikh Abu Bakar bin Salim sangat panjang dalam melarangnya dan berkata: "Aku khawatir bagi orang yang tidak bertaubat darinya sebelum mati, bahwa ia akan mati dalam keadaan su'ul khatimah wal 'iyadzu billah".
Tidaklah seorang laki-laki yang memiliki kehormatan dan harga diri memilih untuk menggunakannya (baik dengan cara dimakan, dihirup, maupun dihisap asapnya). Telah ada fatwa pengharaman tembakau dari para imam besar yang sempurna keilmuannya, seperti Al-Quthub Sayyiduna Abdullah Al-Haddad dan Al-‘Allamah Ahmad Al-Hinduan, sebagaimana disebutkan oleh Al-Quthub Ahmad bin Umar bin Sumaiṭ dari keduanya dan juga dari selain mereka yang semisal. Bahkan Al-Habib Al-Imam Al-Husain bin Syaikh Abi Bakar bin Salim sangat keras melarangnya. Ia menjelaskan bahwa: ia khawatir, barang siapa yang tidak bertaubat dari tembakau sebelum wafatnya, maka ia akan mati dalam su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk). (Bughyah Al-Mustarsyidin hal.552).
قال : لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف ، وكل ما يروى فيه من ذلك لا أصل له ، بل مكذوب لحدوثه بعد الألف ، واختلف العلماء فيه حلاً وحرمة ، وألفت فيه التآليف ، وأطال كل في الاستدلال لمدعاه ، والخلاف فيه واقع بين متأخري الأئمة الأربعة ، والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام ، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره ، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً ، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها ، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر ، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه ، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة.
"Beliau berkata: Tidak ada hadits tentang tembakau, dan tidak ada atsar dari seorang pun dari kalangan Salaf. Dan semua yang diriwayatkan tentangnya tidak ada asalnya, bahkan itu dusta karena tembakau muncul setelah tahun 1000 Hijriyah.
Para ulama berbeda pendapat tentangnya antara halal dan haram. Banyak kitab yang dikarang tentangnya, dan masing-masing panjang lebar dalam berdalil untuk pendapatnya. Perselisihan ini terjadi di kalangan ulama muta'akhirin dari 4 mazhab.
Yang tampak adalah:
1. Jika ada hal yang mengharamkannya secara khusus bagi orang yang membahayakan akal atau badannya, maka haram.
Sebagaimana madu diharamkan bagi orang yang demam, dan tanah liat bagi orang yang membahayakannya.
2. Terkadang ada keadaan yang membolehkannya, bahkan menjadikannya sunnah.
Seperti jika digunakan untuk berobat dengan ucapan dokter yang tsiqah, atau dari pengalaman dirinya sendiri bahwa itu obat untuk penyakit yang dideritanya. Sama seperti berobat dengan najis selain khamr murni.
3. Jika kosong dari 'ilal/penyebab di atas, maka hukumnya makruh. Karena adanya khilaf yang kuat tentang haramnya itu menunjukkan kepada kemakruhan." (Bughyah Al-Mustarsyidin hal.552).
Akan tetapi yang lebih dahsyat lagi adalah keterangan terkait karomah Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan yang bisa melihat perokok di dalam kuburnya menghisap kemaluannya,
وكان الحبيب أحمد بن عمر الهندوان يرى ذنوب الناس مكتوبة على جباههم، وقد كشف الله له عن صاحب قبر كان يميز التبّاك، فرآه يمص ذكره بدل قصبة الرشية التي كان يمصها وهو في الدنيا.
ويقال: إنه مر بدار يقال لها: دار آل الصليبية، فجلس عندها يرى المارين في الطريق، فكشف الله له عن بواطنهم، فكان يرى بعضهم على صورة كلب، وبعضهم على صورة خنزير، فدعا الله أن يستر عنه ذلك وكان عظيم الحال، قال الحبيب عبد الله الحداد: إن الله أورثه مقام الصديقية الكبرى. وقال له يوماً: خاطرك بالهندوان، فقيل له: ما يصلح الهندوان إلا الحداد.
وحث – رضي الله عنه – على التبكير للجمعة والغسل لها، وبعد أن ذكر الأحاديث الواردة في فضلها قال:
كان الحبيب عبد الله الحداد لا يترك غسل الجمعة، لا في حضر ولا في سفر، ولا في حر ولا في برد. وكان يقول: ما من سنة سنها النبي ﷺ إلا وأرجو أني قد عملت بها.
وقال – رضي الله عنه –: الشيخ عبد الله باعلوي إذا زار الفقيه.. يندهش ويقول: الصيد كل الصيد في جوف الفراء.
والحبيب عبد الله الحداد قد يطلع إلى التربة ويزور الفقيه فقط، ويقرأ ثلاثاً من الإخلاص والمعوذتين ثم يرتب الفاتحة ويرجع، وربما سئل وقيل له: لماذا لا تكمل الزيارة؟
فقال: الحج عرفة، يعني: إن زيارة الفقيه كافية؛ لأن أرواح البقية حاضرة عنده.
Al-Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan pernah melihat dosa-dosa manusia tertulis di kening mereka. Dan Allah telah menyingkapkan kepadanya tentang penghuni sebuah kubur yang dulu di dunia pekerjaannya menyaring (menghisap) tembakau (merokok). Beliau melihatnya sedang menghisap kemaluannya, sebagai ganti dari pipa rokok yang biasa ia hisap ketika di dunia.
Diceritakan pula: Beliau pernah melewati sebuah rumah yang disebut "Dar Aali Ash-Shalibiyyah" (rumah keluarga Shalibiyah). Lalu beliau duduk di dekatnya sambil memperhatikan orang-orang yang lewat di jalan. Maka Allah menyingkapkan batin mereka kepadanya. Beliau melihat sebagian dari mereka berwujud seperti anjing, dan sebagian lagi berwujud seperti babi. Lalu beliau berdoa kepada Allah agar menutup hal itu darinya. Dan beliau adalah orang yang memiliki kedudukan yang sangat agung.
Al-Habib Abdullah Al-Haddad berkata: "Sesungguhnya Allah mewariskan kepadanya maqam Ash-Shiddiqiyyah Al-Kubra/derajat shiddiqin yang paling tinggi." Dan suatu hari beliau berkata kepadanya: "Hati-hati kamu dengan Al-Hinduan." Maka dikatakan kepadanya: "Tidak ada yang pantas dengan Al-Hinduan kecuali Al-Haddad."
Beliau radhiyallahu 'anhu juga menganjurkan untuk bersegera berangkat ke shalat Jumat dan mandi untuknya. Setelah beliau menyebutkan hadits-hadits yang datang tentang keutamaannya, beliau berkata: Al-Habib Abdullah Al-Haddad tidak pernah meninggalkan mandi Jumat, baik ketika mukim maupun safar, baik di cuaca panas maupun dingin. Dan beliau berkata: "Tidak ada satu sunnah pun yang disunnahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku berharap aku telah mengamalkannya."
Beliau radhiyallahu 'anhu berkata: "Asy-Syaikh Abdullah Ba'Alawi, apabila berziarah kepada Al-Faqih... beliau terkagum dan berkata: 'Buruan yang sesungguhnya ada di dalam bulu." Maksudnya: orang yang paling mulia ada di dalam diri Al-Faqih (Al-Muqaddam).
Dan Al-Habib Abdullah Al-Haddad, terkadang beliau hanya naik ke pekuburan dan berziarah kepada Al-Faqih (Al-Muqaddam) saja (tidak ziarah ke tempat lain). Beliau membaca 3x surat Al-Ikhlas dan Al-Mu'awwidzatain, kemudian menyusun Al-Fatihah lalu pulang.
Terkadang beliau ditanya dan dikatakan: "Mengapa engkau tidak menyempurnakan ziarahnya?" Maka beliau menjawab: "Haji itu Arafah"
Maksudnya: "Ziarah kepada Al-Faqih saja sudah cukup, karena ruh-ruh yang lainnya hadir di sisinya." (Tuhfah Al-Ahbab wa Tadzkirah Uli Al-Albab, Umar bin Alawi bi Abi Bakar Al-Kaaf, hal.203). Wallahu a'lam
Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin
والله الموفق الى أقوم الطريق


Tidak ada komentar:
Posting Komentar