MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Selasa, 30 Juni 2026

KAJIAN TENTANG KAROMAH BISA MELIHAT RASULULLAH SAW SECARA LANGSUNG/TERJAGA


Dalam tradisi Islam, isu tentang bertemu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sadar atau terjaga (yaqdzah) merupakan salah satu perdebatan yang terus berlangsung. Masalah ini bukanlah perkara hukum yang wajib diimani, melainkan pengalaman spiritual yang diperdebatkan oleh para ulama.

Tersebutlah nama Seorang Syaikhah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi adalah salah satu tokoh perempuan shalehah dan waliyullah yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Beliau merupakan ibu dari ulama besar dan waliyullah Syeikh Abu Bakar As-Sakran, serta nenek moyang dari keluarga besar Ba'lawi.

Beliau lahir di perkampungan Al-Urra, Hadramaut, dari keluarga Az-Zubaidi yang berasal dari kabilah Bani Haritsah Al-Kindiah, suku yang terkenal dengan keberanian dan kekuatan.

Diceritakan oleh Al Imam Al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi (Shahibul Maulid), bahwanya di Yaman ada seorang wali agung perempuan yang bernama Syeikhah Sulthanah Radhiallahu ‘Anha. Beliau memiliki gelar Rabia‘atul Adawiyahnya Yaman Hadramaut. Pekerjaan beliau ini setiap waktunya bahkan setiap hembusan nafasnya selalu bershalawat kepada Baginda Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam. Dan lebih hebatnya lagi, beliau ini tiada pekerjaan lain selain shalawat, kecuali di saat waktu shalat tiba.

Pada suatu ketika beliau mendapat suara ghaib, yang meminta beliau untuk minta apa saja, dan permintaan tersebut pasti dikabulkan. Namun beliau sebagai seorang ahli tashawwuf yang mursyid, jadi beliau tidak langsung mengucapkan permintaannya. Beliau menemui Guru beliau dari keluarga Baqushair, dan menanyakan kepada Guru beliau "Apakah ada di dunia ini ada maqam kewalian yang tidak ada lagi maqam sesudahnya ??" Jawab Guru beliau : "Ada, yakni bertemu secara terjaga dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam." Kemudian Syeikhah Sulthanah meminta agar dipertemukan secara terjaga dengan Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seketika itu juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada di hadapan beliau.

Pada zaman beliau banyak orang-orang titip salam kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lewat beliau, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam titip menasihati kepada Syaikhah Sulthanah untuk orang-orang sekitarnya. Adapun kisah dimaksud sebagaimana diterangkan dalam sebuah kitab sebagai berikut,

قالوا إن الشيخة سلطانة بنت علي الزبيدي لازمت ذكر الحبيب ﷺ وصارت تلهج به حتى وصلت بسببه إلى مقام شريف وهو مقام المكالمة، فسمعت النداء من الحق يقول لها في سرها: يا سلطانة اطلبي ما تريدين، فرحلت إلى قُسْمٍ إلى عند الشيخ محمد بن حكم باقشير (٢) وأخبرته بذلك وقالت له: أبغي رتبة عظيمة وليس فوقها شيء من المراتب. فقال لها: إن رؤية الحبيب ﷺ ما فوقها شيء من المراتب، فقالت: يا رب أبغي الاجتماع بالنبي ﷺ يقظة فأعطاها الله ذلك حتى إنه يأتي إليها الآتي من أهل عصرها ويقول لها: قولي للنبي ﷺ كذا وكذا. فيأتي إليها النبي ويخبره بذلك فيقول لها: قولي له يفعل كذا وكذا أو لا يفعله. 

Mereka berkata: Sesungguhnya Asy-Syaikhah Sulthanah binti Ali Az-Zubaidi melazimi dzikir kepada Al-Habib (Nabi) Shallallahu 'alaihi wa sallam dan terus berdzikir dengannya sampai dengan sebab itu dia sampai ke maqam syarif (mulia), yaitu maqam Al-Mukalamah (diajak bicara langsung oleh Allah).

Maka dia mendengar seruan dari Al-Haq yang berkata kepadanya dalam sirnya: "Wahai Sulthanah, mintalah apa yang engkau inginkan". 

Lalu dia pergi ke Qism ke tempat Asy-Syaikh Muhammad bin Hakim Baqasyir dan mengabarkannya tentang itu. Dan dia berkata kepadanya: "Aku menginginkan kedudukan yang agung dan tidak ada di atasnya kedudukan apapun". 

Maka beliau berkata kepadanya: "Sesungguhnya melihat Al-Habib (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada di atasnya kedudukan apapun dari kedudukan-kedudukan". 

Maka dia berkata: "Wahai Rabb, aku menginginkan pertemuan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sadar/yaqzhah". 

Maka Allah memberinya hal itu, sampai-sampai ada orang yang datang kepadanya dari penduduk masanya dan berkata kepadanya: "Katakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam begini dan begitu". 

Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepadanya dan dia memberitahukannya hal itu. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: "Katakan kepadanya, lakukan begini dan begini, atau jangan dia lakukan". (Kunuz As-Sa'dah Al-Abadiyah, Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, hal.199). 

Singkatnya, bahwa mengaku bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan sadar bukan merupakan kemusyrikan. Tetapi itu merupakan keyakinan yang tidak benar, dan bisa menyebabkan kesesatan dan kemusyrikan.

Yaitu jika seseorang mengaku bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, kemudian, dia mendapatkan amalan-amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, lalu dia meyakini kebenarannya dan mengamalkannya, maka itu merupakan kesesatan. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Senin, 29 Juni 2026

KAJIAN TENTANG WAFATNYA ABU THALIB SEBAGAI SEORANG MUKMIN SESUAI PETUNJUK MIMPI




Mengenai status keimanan Abu Thalib sendiri ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat Abu Thalib wafat dalam keadaan tidak beriman karena sampai detik terakhir kewafatan tidak mengucapkan kalimat syahadat. Sesuai riwayat hadits Abu Thalib tetap berpegang pada agama Abdul Muthalib. Sebagaimana riwayat yang shahih sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ « أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَالاَ يُكَلِّمَانِهِ حَتَّى قَالَ آخِرَ شَىْءٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ . فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم « لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ » . فَنَزَلَتْ ( مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِى قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ) وَنَزَلَتْ ( إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ)

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah shallallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu,

“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muththalib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muththalib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan : “Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Kemudian turunlah ayat,

“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” (QS. Al-Qashshash: 56) (HR. Bukhari, no. 3884 dan Muslim, no. 24)

Dari ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ

“Apa manfaat yang engkau berikan kepada pamanmu (Abu Thalib) karena dia dulu telah membelamu dan marah demi mendukungmu?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هُوَ فِى ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِى الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Ia berada di tempat yang dangkal (tidak berada di bagian dasar) dari neraka. Seandainya bukan karena aku niscaya ia berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka.” (HR. Bukhari, no. 3883 dan Muslim, no. 209)

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib. Dia memakai dua sandal (dari api) hingga mendidih otaknya (karena panasnya kedua sandal itu).”(HR. Muslim, no. 213)

Namun ada juga yang meyakini bahwa wafatnya Abu Thalib dalam keadaan beriman kepada Allah Ta'ala sesuai pengakuannya sendiri saat berdialog dengan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar dalam mimpinya sesuai keterangan berikut,

ورأيت سيدي علي بن أبي طالب كرم الله وجهه، وحصلت بيني وبينه مذاكرة ومباحثة طويلة، ومن جملتها أني قلت له: إن السيدة فاطمة، اختلف أهل العلم في دفنها، هل كان في الحجرة أو في البقيع؟ فقال لي: إنها في البقيع، وأنا دفنتها بنفسي في الليل، ثم قلت له: وكذلك أبو طالب اختلف العلماء فيه، هل مات على الإيمان أم لا؟ وأنت داري بالأشياء، فقال: مات على الإيمان، والحمد لله على ذلك، قال سيدي رضي الله عنه: وقد سمعت السيد أحمد دحلان في الحلقة يقول: إن الذي ندين الله به، أن أبا طالب مات على الإيمان، والذي قال بإيمانه أربعة عشر حافظًا، قال سيدي: ونحن والحمد لله، معنا شيء زائد على الناس؛ لأن علمنا ليس ملتقطًا من الحروف، ولا من الكتب التي في الرفوف، بل متلقى من معدنه ومن أهله، وبعض الناس لما لم يعجبهم حق السلف خلّفوه". (تذكر الناس ص ٢٢٣-٢٢٤)

وفي هذا النص تصريح واضح من أحد كبارهم في عدم التعويل على الكتب المعتمدة على علوم الشرع، وإنما الاعتماد على الأحلام والرؤى بما تحمله من مخالفات شرعية، ويزعمون كذلك أن تلك المخالفات متلقاة من المعدن ومن أهل العلم، في أي معدن يقصدون، ومن هم أهل هذا المعدن الذين اتبع القوم سبيلهم؟ فالمعدن وأهله هو السبل الشيطانية التي قادتهم للانحراف عن مصادر المسلمين وهما الكتاب والسنة، وأردتهم في مهاوي الردى فتلقفوا من غيرهما فانحرفوا عن سواء السبيل.

"Dan aku (Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar)  melihat junjunganku Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu (karamallahu wajhah), lalu terjadilah antara aku dan beliau mudzakarah dan diskusi yang panjang. Dan di antaranya aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Sayyidah Fathimah, para ulama berselisih tentang pemakamannya, apakah di Hujrah atau di Baqi'? Maka beliau berkata kepadaku: Sesungguhnya beliau di Baqi', dan aku sendiri yang menguburkannya di malam hari. 

Kemudian aku berkata kepadanya: Demikian pula Abu Thalib, para ulama berselisih tentangnya, apakah dia wafat di atas keimanan atau tidak? Dan engkau mengetahui perkara-perkara. Maka beliau berkata: Dia wafat di atas keimanan, dan segala puji bagi Allah atas itu. 

Berkata sayyidku (semoga Allah meridhainya): Dan aku telah mendengar As-Sayyid Ahmad Dahlan di halaqah berkata: Sesungguhnya yang kami beragama kepada Allah dengannya adalah, bahwa Abu Thalib wafat di atas keimanan. Dan yang berkata dengan keimanannya ada 14 orang hafizh.

Berkata sayyidku: Dan kami, Alhamdulillah, memiliki sesuatu yang lebih dari manusia; karena ilmu kami tidak dipungut dari huruf-huruf, dan tidak dari kitab-kitab yang ada di rak, akan tetapi diambil langsung dari sumbernya dan dari ahlinya. Dan sebagian orang, tatkala kebenaran salaf tidak membuat mereka senang, maka mereka menyelisihinya". (Tadzkirus Naas hal.223-224)

Dan dalam teks ini ada pernyataan jelas dari salah seorang tokoh besar mereka tentang tidak berpegang pada kitab-kitab mu'tabar yang bersumber dari ilmu syariat, akan tetapi berpegang pada mimpi dan ru'ya yang membawa pelanggaran-pelanggaran syariat. Dan mereka menyangka pula bahwa pelanggaran-pelanggaran itu diambil dari "sumbernya dan ahlinya". Sumber apa yang mereka maksud, dan siapa "ahli sumber" yang mereka ikuti jalannya? Maka "sumber dan ahlinya" itu adalah jalan-jalan setan yang menuntun mereka menyimpang dari sumber kaum muslimin yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan menjerumuskan mereka ke jurang kebinasaan, lalu mereka mengambil dari selain keduanya maka mereka menyimpang dari jalan yang lurus." (Ash-Shufiyah fi Hadhramaut, Amin bin Ahmad bin Abdullah As-Sa'di, cet. Jami' Al-Huquq Mahfuzhah, cet.pertama 2008 M/1429 H. hal.312). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG KISAH PERNIKAHAN DI ALAM KUBUR DALAM "KITAB TADZKIRUN NAAS"



Kitab Tadzkir An-Nas (atau Tadzkirunnas) adalah kumpulan kalam nasihat, serta hikmah karya Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas. Di dalamnya banyak menyajikan kisah-kisah di luar nalar (khariqul 'adah) yang jika dicerna tanpa ilmu dan pemahaman dapat menghipnotis pembacanya percaya pada hal-hal khurafat dianggap sebagai karomah.

Kitab Tadzkirun Nas, ada sejumlah konten yang saya kuatirkan membentuk alam pikir yang mundur, memuja karomah secara salah, dan mengelu-elukan wali secara tidak proporsional.

Kisah-kisah seperti ini lebih dekat dengan khurofat dan bisa merusak pemahaman tentang karomah yang tidak proporsional. Karomah itu haqq, tapi dalam menerima berita karomah harus super hati-hati, agar tidak tercampur mana yang dongeng dan mana kejadian asli. Berita semacam itu harus dicek dengan level ketelitian seperti menyaring hadits. Sebagaimana kisah-kisah berikut,

وبلغنا أن الحبيب صالح بن عبد الله العطاس وعظ أناسا ، وحثّهم على الصلاة، وقال لهم: إن الذي يصلي لا تحرقه النار، وكانت هناك قهوة تُطبخ على النار فرفعها، وجلس محلها فوق النار، ولم تحرقه، يريهم عيِّانًا أن المصلي لا تحرقه النار. وجاء إلى مرة أحد من صلحاء البرزخ ثم لما أراد الخروج أُخذت به إلى ناحية بيت مقابل الباب الذي يريد أن يخرج منه، فقال لي: إن أهل هذا البيت يتهاونون بالصلاة، وإن المكان الذي يتهاون أهله بالصلاة لا يقدر أهل البرزخ أن يمروا حوله، فأخذت به إلى جهة أخرى، فبسط جناحيه، وطار في الهواء.

Dan sampai kepada kami bahwa Al-Habib Shalih bin Abdullah Al-Athas pernah menasihati beberapa orang, dan mendorong mereka untuk shalat. Beliau berkata kepada mereka: "Sesungguhnya orang yang shalat, api tidak akan membakarnya".

Dan di situ ada kopi yang sedang dimasak di atas api. Lalu beliau mengangkatnya, dan duduk di tempatnya tepat di atas api, dan beliau tidak terbakar. Beliau memperlihatkan secara nyata kepada mereka bahwa orang yang shalat, api tidak akan membakarnya.

Dan pernah suatu ketika datang salah seorang dari orang-orang shalih alam Barzakh Kemudian ketika dia hendak keluar, dia dibawa ke arah rumah yang berseberangan dengan pintu yang ingin dia lalui. Maka dia berkata kepadaku: "Sesungguhnya penghuni rumah ini meremehkan shalat. Dan sesungguhnya tempat yang penghuninya meremehkan shalat, maka penduduk Alam Barzakh tidak mampu lewat di sekitarnya".

Lalu dia membawaku ke arah lain, lalu dia membentangkan kedua sayapnya, dan terbang di udara." (Kitab Tadzkir An-Nas, Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, Zawiyah Al-Idrus Al-Ilmiah, Tarim, hal.98)

ورأيت امرأةً شريفةً بعد ما ماتت، وسألناها فقالت: إني قد حفظت نصف القرآن، وقد آتاني بعض الناس، وقال لي: أنك رأيت الشيخ أبا بكر بن سالم، وقال إن هذا عرس هذه الأيام، لأبنى فلان، على بنتى فلانة.

وقد وقع لي مثل هذا، وهو أنه مات بعض السادة عندنا، فخرجت إلى المسجد لحضور الصلاة عليه، فتوضأت وصليت ركعتين، فأعتراني ثِقَلٌ، ولم أقدر على الحركة، وأخذتني سِنةٌ، فدخل عليَّ ذلك السيد ومعه شريفة كانت ماتت قبله، فقلت لهما: ما شأن هذا الاختلاط؟ فقال إنها لي، وهي زوجتي في البرزخ.

Dan aku melihat seorang wanita yang mulia setelah dia wafat. Lalu kami bertanya kepadanya, maka dia berkata: "Sesungguhnya aku telah menghafal setengah Al-Qur'an. Dan sebagian orang telah mendatangiku dan berkata kepadaku: Sesungguhnya engkau telah melihat Asy-Syaikh Abu Bakar bin Salim, dan dia berkata: Sesungguhnya ini adalah pernikahan pada hari-hari ini, untuk anakku fulan, dengan putri fulanah".

Dan hal serupa pernah terjadi padaku, yaitu: wafatlah sebagian dari para sadah di daerah kami. Maka aku keluar ke masjid untuk menghadiri shalat jenazahnya. Lalu aku berwudhu dan shalat 2 rakaat. Maka datanglah rasa berat padaku, dan aku tidak mampu bergerak. Lalu kantuk menguasaiku. Maka masuklah kepadaku sayyid itu bersama seorang wanita mulia yang telah wafat sebelum dia. Maka aku berkata kepada keduanya: "Apa urusan pertemuan khalwat ini?" Maka dia berkata: "Dia adalah milikku, dan dia adalah istriku di alam barzakh". (Kitab Tadzkir An-Nas, Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, Zawiyah Al-Idrus Al-Ilmiah, Tarim, hal.197). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG SYAFAAT WALI MENYAMAI SYAFAAT NABI MUHAMMAD SAW, BENARKAH?



Dalam ajaran Islam, seorang wali atau orang saleh tidak bisa memberikan syafaat (pertolongan di akhirat) kepada orang non-muslim. Syafaat di akhirat hanya berlaku bagi mereka yang meninggal dalam keadaan beriman dan bertauhid (mengesakan Allah). Syafaat sepenuhnya adalah milik Allah dan hanya diberikan kepada orang-orang yang diridai-Nya. Para nabi, wali, atau syuhada hanya bisa memberikan syafaat jika telah diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Syafaat terbesar di akhirat (syafa'atul 'uzma) adalah milik Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diberikan untuk memberikan keringanan dan pertolongan, namun tetap dikhususkan bagi umatnya yang beriman dan pelaku dosa besar yang belum sempat bertaubat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْـوَةٌ مُسْـتَجَابَةٌ فَتَعَجَّـلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَـهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْـوَتِى شَــفَاعَةً لأُمَّـتِى يَوْمَ الْقِيَـامَـةِ فَهِىَ نَائـِلَةٌ إِنْ شَـاءَ اللَّهُ مَنْ مَـاتَ مِنْ أُمَّـتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajabah, maka setiap Nabi doanya dikabulkan segera, sedangkan saya menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat. Syafaat itu insya Allah diperoleh umatku yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”. (HR. Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) 

Namun anehnya ada saja pengakuan bahwa syafaat seorang wali bisa mengeluarkan penduduk Tarim dari neraka, baik yang beriman maupun yang kafirnya, sehingga dalam kitab Ash-Shufiyah fi Hadhramaut ini sebagai bentuk kritikan kepada kitab karya ba'alawi, adapun teksnya sebagai berikut,

وقال شيخ بن عبد الله العيدروس: «وروى عن الشيخ إبراهيم ابن الشيخ عبد الرحمن رحمه الله ونفع به، قال: قال لي الشيخ الجليل والقدوة الشهير أبو بكر بن الشيخ عبد الرحمن رحمه الله، ونفع بهم: أشهد عني أن والذي أعطى على الأولياء من الشفاعة مثل ما أعطى منها محمداً ﷺ على الأنبياء صلوات الله عليهم أجمعين؛ فإنه أخرج من النار كل من دخلها من أهل تريم ذلك كشفاً منه...». (٢)

وهذا النص فيه رفع منزلة أوليائهم في الشفاعة وجعلها في منزلة النبي ﷺ، وكذا رفع منزلة أوليائهم على بقية أولياء الصوفية وغيرهم، ودعوى التصرف في أمور الآخرة، حيث يزعمون - أن أولياءهم يخرجون من النار جميع أهل تريم مؤمنهم وكافرهم، الموحد منهم والمشرك، هكذا بلغ بهم الغلو والانحراف عن دين الله جل وعلا، ولا حول ولا قوة إلا بالله.

وكذا جعلوا شفاعة أوليائهم يوم القيامة لمحبيهم، وهذه دعوة منهم لمحبة أوليائهم على ما عندهم من الانحراف، وترويج هذه الفضيلة عند الناس للتعلق بهم، لينالوا هذه الشفاعة المزعومة، فقد جاء في مناقب محمد بن أحمد المعروف بمقدم تربة قسم أن جمل الليل قال: «لما مات محمد بن أحمد ارتفع عن تربته العذاب وأنه يشفع لجميع أهل محبته...». (٣)

ومن انحرافاتهم دعوى أن مشايخهم تتعدى للقبائل الحضرمية، جاء في كتاب شرح العينية: «وقال الشيخ الجليل الفقيه محمد أبي بكر عباد: الذي يغلب على الظن أن الشيخ محمد بن علي يشفع حتى في تهد (١) (٢).

قال عبد الله باسودان في كلام له في شرح الواسطة الشركية التي اعتمدتها صوفية حضرموت: «كما قال سيدنا الشيخ عبد الله الحداد صاحب الراتب - قدس الله روحه - أن الولي يكون اعتناؤه بقريبه واللائذين به بعد موته أقوى من اعتنائه بهم في حياته؛ لأنه مشغول بالتكاليف وبعد موته طرح عنه الأعباء وتجرد.. انتهى.

وذلك: لأن الله تعالى متولي أمر الولي في الدنيا والآخرة، بل قد يتوجه بعض من له حاجة إلى الولي من نحو شفاعة في جلب نفع أو دفع مكروه وضر من كل الأغراض الدنيوية والأخروية، فيعلم الله المتوجه إليه، ويأذن له في إيصال مطلوبه إليه، فيكون الله سبحانه هو الفاعل لذلك والولي واسطة وآلة». (٣)

Dan Syaikh bin Abdullah Al-Idrus berkata: "Dan diriwayatkan dari Asy-Syaikh Ibrahim bin Asy-Syaikh Abdurrahman (semoga Allah merahmatinya dan memberi manfaat dengannya), dia berkata: Berkata kepadaku Asy-Syaikh yang mulia dan qudwah yang masyhur Abu Bakar bin Asy-Syaikh Abdurrahman (semoga Allah merahmatinya dan memberi manfaat dengan mereka): Aku bersaksi atas diriku bahwa yang telah diberikan kepada para wali berupa syafaat itu semisal apa yang diberikan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dari syafaat atas para nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya dia telah mengeluarkan dari neraka setiap orang yang masuk ke dalamnya dari penduduk Tarim, hal itu secara kasyaf darinya..." (2) 

Dan teks ini berisi pengangkatan kedudukan para wali mereka dalam syafaat dan menyamakannya dengan kedudukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian pula mengangkat kedudukan para wali mereka di atas sisa wali-wali Sufi lainnya dan selain mereka. Serta klaim tasharruf (campur tangan dalam urusan akhirat, dimana mereka menyangka) bahwa para wali mereka mengeluarkan dari neraka seluruh penduduk Tarim, baik mukmin maupun kafirnya, yang bertauhid maupun musyriknya. Demikianlah ghuluw dan penyimpangan dari agama Allah Jalla wa 'Ala telah sampai pada mereka, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Demikian pula mereka menjadikan syafaat para wali mereka pada hari kiamat untuk orang-orang yang mencintai mereka. Dan ini adalah ajakan dari mereka untuk mencintai para wali mereka di atas penyimpangan yang ada pada mereka, dan menyebarkan keutamaan ini di tengah manusia agar bergantung kepada mereka, supaya mereka mendapatkan syafaat yang disangka-sangka ini.

Sungguh telah datang dalam Manaqib Muhammad bin Ahmad yang dikenal dengan Muqaddam Tarbat Qism bahwa Jammal Al-Lail berkata: "Tatkala Muhammad bin Ahmad wafat, siksaan diangkat dari kuburnya dan sesungguhnya dia memberi syafaat kepada seluruh orang yang mencintainya..." (3)_

______

(2) Al-'Aqd An-Nabawi fi Manaqib As-Sadah Al-Asyraf Bani Alawi juz 1 hal.365)

(3) Al-Maayru' Ar-Rawi juz 1 hal.174). 

Dan termasuk penyimpangan mereka adalah klaim bahwa syaikh-syaikh mereka mencakup kabilah-kabilah Hadramaut. Telah datang dalam kitab Syarh Al-'Ainiyah: "Dan berkata Asy-Syaikh yang mulia Al-Faqih Muhammad Abu Bakar 'Abbad: Yang lebih kuat menurut perkiraan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Ali memberi syafaat sampai kepada Tihd".

Berkata Abdullah Basudan dalam ucapannya tentang Syarh Al-Wasithah Asy-Syirkiyah yang dijadikan pegangan oleh Sufi Hadramaut: "Sebagaimana berkata junjungan kami Asy-Syaikh Abdullah Al-Haddad pemilik Ar-Ratib (semoga Allah mensucikan ruhnya): Sesungguhnya wali itu perhatiannya kepada kerabatnya dan orang-orang yang berlindung kepadanya setelah wafatnya lebih kuat daripada perhatiannya kepada mereka ketika hidupnya. Karena dia sibuk dengan taklif, dan setelah wafatnya beban itu diletakkan darinya dan dia menjadi murni... selesai.

Dan demikian itu: karena Allah Ta'ala yang mengurusi urusan wali di dunia dan akhirat. Bahkan terkadang sebagian orang yang punya hajat menghadap kepada wali dalam hal seperti syafaat untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudharat dan bahaya dari semua tujuan duniawi dan ukhrawi, maka Allah mengetahui orang yang menghadap kepadanya, lalu mengizinkannya untuk menyampaikan hajatnya kepadanya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala yang melakukan itu dan wali adalah perantara dan alat". (Ash-Shufiyah fi Hadhramaut, Amin bin Ahmad bin Abdullah As-Sa'di, cet. Jami' Al-Huquq Mahfuzhah, cet.pertama 2008 M/1429 H. hal.536-537). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 26 Juni 2026

INILAH ISI SURAT HABIB USMAN BIN YAHYA KEPADA SNOUCK HURGRONJE MEMINTA JABATAN SEBAGAI "MUFTI BATAVIA"

Dalam bukunya: “Islam, Kolonialisme dan Zaman Modern di Hindia-Belanda, Nico J.G. Kaptein seorang akademisi dan pakar studi Islam terkemuka asal Belanda yang memiliki fokus mendalam pada perkembangan Islam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia menyatakan bahwa jabatan “Mufti” yang disandang Habib Usman bin Yahya bukan begitu saja diberikan oleh penjajah, tetapi karena Habib Usman bin Yahya beberapa kali memintanya.

Habib Usman bin Yahya pernah menulis surat kepada Cristian Snouck Hurgronje pada 30 Agustus 1886 yang sudah saya tulis ulang sebelumnya dari manuskrip aslinya diantara isinya adalah agar Snouck berkenan menyebut nama Usman bin Yahya di hadapan para pejabat Belanda, baik yang ada di Batavia maupun di Eropa. Ia juga  mengirim surat kepada Snouck tanggal 4 Januari 1887 yang isinya ia meminta jabatan dalam pemerintahan kolonial Belanda, namun tidak disebutkan jabatan apa yang ia inginkan. Baru pada surat yang dikirimkan kepada Snouck tanggal 8 Juli 1888/28 Syawal Habib Usman bin Yahya menyebut jabatan yang ia inginkan yaitu sebagai “Mufti” bagi pemerintah Penjajah Belanda. Adapun isi suratnya sebagai berikut,

الحمد لله وحده

الى حضرة الجناب المكرم والنحر المفخم ذى العلم المنيف الغني من الاعريف عزيزنا وصحبنا الدكتور سنوكهرخرنج طابت ايامه وهلا فى الافاق اعلقمه صمت الاخرى من بندر بتاوي ومشرفكم العزيز المؤرخ ٢٨ شعبان الينا وصل وبه الاتي حصل وما ذكرتم من مطلوبكم باموس باللغة المستهل عند الخضارم فعسى ان كان به فرصة لنا ان اصنع لكم جدولا فيه المستعملات من اللغة عند الحضارم وعند اهل مكة وعند اهل مصر وما حصل من التفاوت بينهم فى ذالك مثل هذه العينة التي باطن هذالكتاب وايضا مطلوبنا من فضلكم واحسانكم وعل. قدر محبتكم ان ترسلولنا نسخة من الجرابة التي طبعتوها فى بلدكم فى العلم الماضى او قبلها التي فيها ذكر كتابنا الوثيقة الوفية وذكر اسمنا مرادنا ان ترسلولنا نسخة منها مبادرة لحيث انها لم توجد الان فى بتاوي ومرادنا بها التوسل بها الى الرضى حصول مطلوبنا عند الرئيس وهو منزلة اطفيسور لعلها بالعرابية المفتي لحيث ان جميع قضاء اهل جاوا والملايو وغيرهم وروساءهم اقايتى معهم مثله مشكلة فى انكهتهم وطلاقهم وفرائضهم لم يطلبو معرفتها الامننا وروساء الانرنج فى بتاوي احيانا يستعينون بنا فى الاستخراج بعض الكتب او فى تفتيش مشايخ الطريقة او الكهنة مثلا ولاشيئ معنا حاصل لامشاهرة ولا غيرها بل ولا مقصودنا بذكر بل مقصودنا سيانة اسمنا وعرضنا عند العوام ليلا يتجرؤن علينا بالكلام الذي لا يليق مثلا وكذالك استعين بكم بحسب المحبة بيننا وبينكم ان تتسببون فى حصول تلك المرتبة لنا هذا ما اخبركم وايضا من طرق مسئلة الاحجار المكتوبة قد سفر ولدنا السيد محمد بن عثمان الى حضرموت فى تفنيش ذالك فاذا حصل من ذالك شيئا لابد ما اخبركن بذالك ودمتم مجمالين المكرمين

فى بتاوي ٢٨ شوال 

الحقير عثمام بن عبد الله بن عقيل بن يحي

*"Segala puji bagi Allah semata.*

Kepada hadirat tuan yang mulia, yang terpandang, yang memiliki ilmu yang tinggi, yang tidak butuh diperkenalkan, sahabat kami yang kami cintai, *Dr. Snouck Hurgronje.* Semoga hari-harinya baik, dan namanya tersebar ke seluruh penjuru. 

Surat mulia Anda dari Bandar Batavia bertanggal 28 Sya’ban telah sampai kepada kami, dan kami telah memahami isinya. 

Adapun yang Anda minta berupa kamus dengan bahasa yang lazim dipakai orang-orang Hadhramaut, maka mudah-mudahan jika ada kesempatan bagi kami, kami akan buatkan untuk Anda sebuah tabel berisi kosakata yang dipakai oleh orang Hadhramaut, orang Mekah, dan orang Mesir, beserta perbedaan di antara mereka dalam hal itu. Contohnya seperti contoh yang ada di dalam buku ini.

Dan juga, kami memohon kemurahan dan kebaikan Anda, sesuai dengan besarnya cinta Anda kepada kami, agar berkenan mengirimkan kepada kami satu naskah jaraabah/buletin yang Anda terbitkan di negeri Anda pada tahun lalu atau sebelumnya, yang di dalamnya ada penyebutan kitab kami *Al-Watsiqah Al-Wafiyah* dan penyebutan nama kami. Tujuan kami adalah agar Anda segera mengirimkan satu naskah darinya, karena sekarang naskah itu tidak ada di Batavia. Kami menginginkannya untuk menjadikannya perantara guna tercapainya hajat kami di hadapan Tuan Residen, yaitu jabatan Adviseur yang dalam bahasa Arab disebut Mufti. Karena semua qadi orang Jawa, Melayu, dan lainnya, serta para kepala mereka, semuanya memiliki masalah yang sama seperti beliau dalam urusan nikah, talak, dan faraid. Mereka tidak meminta pengetahuan tentang itu kecuali dari kami. Dan para kepala orang Arab di Batavia kadang-kadang meminta bantuan kami untuk mengeluarkan beberapa kitab, atau untuk mencari para syaikh tarekat atau dukun misalnya. 

Akan tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa, baik gaji maupun lainnya. Bukan pula tujuan kami dengan menyebut ini adalah popularitas. Tujuan kami hanyalah menjaga nama baik dan kehormatan kami di hadapan orang awam, agar mereka tidak berani berbicara kepada kami dengan perkataan yang tidak pantas misalnya. 

Demikian juga, kami mohon bantuan Anda, sesuai dengan persahabatan antara kami dan Anda, untuk berupaya mewujudkan jabatan tersebut bagi kami. Inilah yang ingin kami sampaikan kepada Anda.

Juga terkait masalah batu-batu bertulis, anak kami Sayyid Muhammad bin Utsman telah pergi ke Hadhramaut untuk menyelidiki hal itu. Jika ada hasil dari itu, pasti kami akan mengabarkan kepada Anda. 

Semoga Anda senantiasa dimuliakan.

Di Batavia, 28 Syawal. 

Yang hina, Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya

Harapan Habib Usman untuk diangkat menjadi “mufti” itu sampai tahun 1888 belum juga dikabulkan. Entah apa yang membuat Snouck tidak segera mengusahakan agar Usman bin Yahya segera mendapat jabatan dari pemerintah Belanda.  Oleh karena itu, Habib Usman mengirim surat lagi kepada Snouck pada 8 Juli 1888. Dalam surat itu Habib Usman bin Yahya meminta agar Snouck mengirimkan salinan surat kabar di Belanda yang memuat tulisan Snouck yang menyebut namanya dan kitabnya Al-Watsiqah Al-Wafiyah. Dalam surat itu Usman menyatakan bahwa jika Salinan surat kabar yang menyebut namanya itu telah datang ia akan membawanya kepada pejabat Belanda di Batavia untuk menjadi pertimbangan meminta jabatan. Dalam surat kali ini, Usman dengan terus terang menyebut jabatan apa yang ia inginkan. Dalam suratnya itu Usman menyatakan bahwa jabatan yang ia inginkan adalah  sebagai “mufti” bagi pemerintah Belanda di Batavia. Inti surat Habib Usman bin Yahya meminta jabatan sebagai mufti beliau menuliskan dalam suratnya,

“…ومراد نا بها التوسل بها إلى حصول مطلوبنا عند الرئيس وهو منزلة اطفيسور لعلها بالعربية المفتي”

“…maksud kami dengan bantuan itu adalah menjadi jembatan tercapainya maksud kami kepada Gubernur Jenderal (ra’is) untuk mendapatkan jabatan Advisor (penasihat),  mungkin dengan nama Arab, ‘mufti’.” Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

MENYINGKAP DOA HABIB USMAN BIN YAHYA UNTUK RATU WIHELMINA BELANDA





Doa Habib Usman bin Yahya untuk Ratu Wilhelmina adalah sebuah teks doa khusus yang disusun untuk merayakan penobatan sang Ratu pada 1898. Doa ini berisi permohonan kepada Tuhan agar Ratu Belanda tersebut diberikan keberkahan, umur panjang, keadilan dalam memimpin, serta kesejahteraan bagi rakyatnya.

Teks doa ini disusun oleh Mufti Betawi, Habib Usman bin Yahya, bertepatan dengan penobatan Ratu Wilhelmina pada 6 September 1898.

Isi doa memohon kepada Allah SWT agar Ratu Wilhelmina senantiasa diberikan kelapangan, takdir kebaikan, umur panjang, kesehatan, dan kemampuan untuk memimpin dengan adil dan sejahtera. Teks doa ini dicetak dan disebarluaskan oleh para bupati di Jawa dan Madura atas instruksi pemerintah kolonial Belanda, yang kemudian memicu pro dan kontra di kalangan umat Islam Nusantara saat itu.

Langkah Habib Usman menyusun doa ini memicu kritik keras dari tokoh Islam lainnya. Ulama pada masa itu memandang bahwa mendoakan kesejahteraan penjajah kolonial, apalagi seorang pemimpin non-Muslim, adalah hal yang bertentangan dengan semangat perlawanan umat. Adapun doa tersebut sesuai manuskrip sejarah tertulis sebagai berikut,

اَللّٰهُمَّ يَا لَطِيْفُ الْطُفْ بِنَا، وَيَا كَنْزَ الضُّعَفَاءِ, وَيَا مَالِكَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، أَنْتَ تَعْلَمُ مَا ظَهَرَ مِنَّا وَمَا خَفِيَ، اَللّٰهُمَّ كَمَا لَطُفْتَ بِنَا فِي دِيَارِ هٰذِهِ الْمَمْلَكَةِ حَيْثُ لَا أَحَدَ يَتَعَرَّضُ عَلَيْنَا فِي دِيْنِنَا مِنْ صَلَاتِنَا وَزَكَاتِنَا وَصِيَامِنَا وَمَعَاشِنَا وَأَنْكِحَتِنَا، وَأَنْعَمْتَ، اَللّٰهُمَّ عَلَيْنَا لُطْفًا مِنْكَ بِالْأَمَانِ الْمَوْجُوْدِ لِأَنْفُسِنَا وَأَهَالِيْنَا وَأَمْوَالِنَا، وَيَسَّرْتَ لَنَا السَّعْيَ فِي أَسْبَابِ مَعِيْشَتِنَا، وَجَعَلْتَ الْوَاسِطَةَ وَالسَّبَبَ فِي هٰذِهِ النِّعَمِ لَنَا مِنْكَ هُوَ مَا قَدَّرْتَ مِنْ ضَبْطِ دَوْلَةِ الْهُولَنْدَا الْبِلَادَ الْأَمَانَ وَالْإِنْصَافَ مَعَ مُرَاعَاتِهَا مِمَّا رَاعَتْهُ مِنْ أَمْرِ دِيْنِنَا كَنَصْبِ قُضَاتِنَا وَإِجْرَاءِ أَرْزَاقِهِمْ وَإِصْلَاحِ مَسَاجِدِنَا وَعَدَمِ التَّعَرُّضِ لِشَيْءٍ مِنْ أُمُوْرِ دِيْنِنَا، وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِذٰلِكَ مِنَّا، فَنَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ مَزِيْدَ نِعَمِ هٰذِهِ الْأَلْطَافِ مِنْكَ لَنَا، اَللّٰهُمَّ كَمَا قَدَّرْتَ وَأَجْرَيْتَ هٰذِهِ النِّعْمَةَ بِوَاسِطَةِ هٰذِهِ الدَّوْلَةِ، فَنَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ مُكَافَأَةً لِإِحْسَانِهَا بِمَا ذُكِرَ أَنْ تُلْطِفَ بِالسَّلَامَةِ لِلْمَلِكَةِ الْجَدِيْدَةِ الْعَزِيْزَةِ، وَتَمُنَّ لَهَا بِطُوْلِ الْحَيَاةِ الْمُحَلَّاةِ بِالصِّحَّةِ الْبَدَنِيَّةِ، وَلِفُلَّالِهَا بِالْأَرْبَاحِ الدُّنْيَوِيَّةِ، وَبِمَخَبَّآتِ الْأَرْضِ مِنَ الْمَعَادِنِ وَالْمَزَارِعِ النَّبَاتِيَّةِ، وَتَمُنَّ لَهَا بِحُسْنِ الرِّعَايَةِ لِمَنْ فِي حِمَايَتِهَا بِكَمَالِ الْإِنْصَافِ وَبِحُسْنِ الِاتِّصَافِ بِمَا هُوَ مَحْبُوْبٌ عِنْدَكَ يَا وَلِيَّ الْهِدَايَةِ حَتَّى يَطْلُعَ كَوْكَبُ مُلْكِهَا مُضِيْئًا بَيْنَ الْأَنَامِ. مُسْعِدًا لِأَمْلَاكِهَا بِالْخِصْبِ والنِّظَامِ وَلِمَنْ تَحْتَ حِمَايَتِهَا بِصَلَاحِ كُلِّ شَأْنٍ وَدَوَامِ تِلْكَ النِّعَمِ لَنَا مَعَ السَّلَامَةِ عَلَى الدَّوَامِ،. آمِيْنَ

"Ya Allah, Wahai Dzat Yang Maha Lembut, lembutkanlah kami. Wahai Perbendaharaan orang-orang lemah, Wahai Pemilik langit dan bumi, Engkau tahu apa yang tampak dari kami dan apa yang tersembunyi.

Ya Allah, sebagaimana Engkau telah berlembut kepada kami di negeri kerajaan ini, di mana tidak ada seorang pun yang mengganggu kami dalam agama kami: dalam shalat kami, zakat kami, puasa kami, penghidupan kami, dan pernikahan kami. Dan Engkau telah memberi nikmat.

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kelembutan dari-Mu berupa rasa aman yang ada untuk jiwa kami, keluarga kami, dan harta kami. Engkau mudahkan kami berusaha untuk sebab-sebab penghidupan kami. 

Dan Engkau jadikan perantara serta sebab datangnya nikmat-nikmat ini kepada kami dari-Mu adalah apa yang Engkau tetapkan berupa kekuasaan Negara Belanda yang mengatur negeri ini dengan aman dan adil, serta menjaga perkara agama kami: seperti mengangkat hakim-hakim kami, memberi gaji mereka, memperbaiki masjid-masjid kami, dan tidak mengganggu sedikit pun urusan agama kami. Dan Engkau lebih tahu tentang itu daripada kami.

Maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, tambahkanlah nikmat-nikmat kelembutan-Mu ini untuk kami. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menetapkan dan menjalankan nikmat ini melalui perantara negara ini, maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, sebagai balasan atas kebaikan mereka sebagaimana yang telah disebut, agar Engkau berlembut dengan keselamatan untuk Ratu yang baru yang mulia. 

Anugerahkanlah untuknya panjang umur yang dihiasi kesehatan badan. Anugerahkanlah untuk rakyatnya keuntungan-keuntungan duniawi, dan anugerahkanlah simpanan-simpanan bumi berupa barang tambang dan pertanian. 

Anugerahkanlah untuknya kebaikan dalam menjaga orang-orang yang berada dalam perlindungannya dengan kesempurnaan keadilan dan dengan sifat-sifat terpuji yang Engkau cintai, Wahai Pemberi petunjuk. Hingga bintang kerajaannya terbit dengan cemerlang di antara manusia. Membahagiakan wilayah-wilayahnya dengan kesuburan dan keteraturan, dan bagi orang-orang yang berada di bawah perlindungannya dengan kebaikan segala urusan serta langgengnya nikmat-nikmat itu untuk kami beserta keselamatan selamanya. Aamiin."

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

MENYINGKAP ISI SURAT HABIB USMAN BIN YAHYA KEPADA SNOUCK HURGRONJE



Surat-menyurat antara Sayyid Usman bin Yahya (Mufti Betawi) dan penasihat kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, adalah kumpulan korespondensi rahasia era 1886–1913 yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Surat-surat ini membahas pelaporan intelijen, saran kebijakan, hingga permintaan jabatan secara langsung.

*Rincian penting dari korespondensi ini mencakup:*

*Pencarian Jabatan:* 

Dalam surat bertanggal 30 Agustus 1886 dan 4 Januari, Sayyid Usman secara aktif meminta Snouck untuk merekomendasikan namanya agar diangkat sebagai Mufti Batavia oleh pemerintah kolonial.

*Politik dan Keamanan:* Surat-surat mereka membahas strategi meredam pemberontakan berbasis agama di Hindia Belanda, termasuk langkah memisahkan antara agama dan politik untuk mencegah perlawanan rakyat.

*Karya dan Nasihat:* 

Mereka bertukar naskah dan fatwa, seperti penyusunan karya-karya Sayyid Usman yang didanai dan disebarkan oleh pemerintah kolonial untuk mengarahkan umat Islam.Kontroversi Doa: Surat juga membahas kecaman keras dari kalangan umat Islam terhadap Sayyid Usman karena ia mengeluarkan fatwa dan doa resmi dalam bahasa Arab untuk Ratu Wilhelmina dari Belanda.

Adapun contoh tulisan yang terdapat dalam manuskrip surat Habib Usman bin Yahya kepada Snouck Hurgronje sebagai berikut,

بتاوي ٣٠ اقتوبر ١٨٨٦

الحمد لله وحده

ان ابهى ما وشحت به صدور الكتاب والدفاتر ونطقت به ألسنة الاقلام عن افواه المحابر عاطر الحيات يفوح بعبير المحبة نفحه وشرق فى سماء الطروس صبحه يهدى لحضرة خلاص المجد ومعدن الفخار والحمد مخدوم السياءة والسعد الخواجة سنكهرخرنج لازال علمه زاخرا وسحاب فهمه ماطرا وكوكب سعده طالعا وضياء فضله لامعا أما بعد فصدر هذا الكتاب من بلد بتاوي فالموجب لذكران اصحابي الكرام الخواجة هولان والخواجة فندرسيس أخبراني بانكم اطلعهم ونظرتم قصجح الصادر من الشيخ نووي البنتني والشيخ جنيد بتاوي المقيمين فى مكة على رسالتي المسماة النصيحة الاتية ثم اني احببت الان ارسل هذه الرسالة ايضا المسماة الوثيقة الوفية اعرضها اليكم لتنظروها فالمقصود من تصنيفها وكذالك التي قبلها هو اعلام واعلان بان الطريقة التي نشت هذالزمان وعلمها المشايخ للجهال فهي ليست على الصواب بل ربما يقل امرها الى مفاسد بنية دنياوية بسبب فقد ان شروطها مع اني تلطفت فى هذه الرسالة فى أخرها لحيث لم اذكر احدا بعينه لاجل السلامة من الفتنة من مشايخ الطريقة فأنتم اذا رأيتم هذه الرسالة وتبين لكم ان فيها ارشاد الناس الى الحق والى عدم الدعاوي الفارغة ولاجل السلامة من المفاسد فالمطلوب من جنابكم ان تصححوا عليها وان تذكروا ما فيها من ارشاد الناس لكي يسلموا من المفاسد وان تذكروا اسمي عند ارباب الدولة الولنده فى ارض جاوه وغيرها لما استقرلي الابامة فى بتاوي لحيث ان كثيرا من مشايخ الطريقة وغيرهم من الحاسدين يريدون السعاية الى هلاكي ولو لا عدل الولنده فى ارض جاوه وغيرها لما استقرلي الاقامة فى بتاوي هذا ما اخبركم وارجوا من جنابكم جواب كتابي هذا بالعرابية وتصحيح هذه الرساله بالافرنجية وترسلوهما الى بتاوي الى عند الخواجة فندرسيس دام فضلكم وطابت إياكم

السيد عثمان بن عبد الله بن عقيل بن يحي

*Batavia, 30 Oktober 1886*

*Segala puji hanya bagi Allah semata.*

Sesungguhnya seindah-indah hiasan yang menghiasi dada kitab-kitab dan lembaran-lembaran, dan sefasih-fasih ucapan yang dilantunkan oleh lisan-lisan pena dari mulut-mulut tempat tinta, adalah puji-pujian yang harum, semerbak dengan wangi kecintaan. Semerbaknya menyebar, dan fajarnya terbit di langit lembaran-lembaran kertas. 

Aku persembahkan kepada junjungan yang merupakan puncak kemuliaan, sumber kebanggaan dan pujian, tuan hamba yang beruntung dan bahagia, *Snouck Hurgronje*. Semoga ilmunya senantiasa melimpah, awan pemahamannya senantiasa menurunkan hujan, bintang keberuntungannya terus terbit, dan cahaya keutamaannya senantiasa bersinar. 

Amma ba’du, maka surat ini dikirim dari negeri Batavia. Adapun sebabnya adalah bahwa dua orang sahabatku yang mulia, *Tuan Holla* dan *Tuan Fandersis* mengabarkan kepadaku bahwa kalian telah menelaah dan melihat risalah yang diterbitkan oleh *Syekh Nawawi Al-Bantani* dan *Syekh Junaid dari Batavia* yang bermukim di Makkah, atas risalahku yang bernama _An-Nashihah Al-Atiyah_. 

Kemudian aku ingin sekarang mengirimkan juga surat ini yang bernama *Al-Watsiqah Al-Wafiyyah* untuk aku ajukan kepada kalian agar kalian menelaahnya. Tujuan dari pengarangannya, begitu pula surat yang sebelumnya, adalah untuk memberitahukan dan mengumumkan bahwa tarekat yang berkembang di zaman ini dan yang diajarkan oleh para syaikh kepada orang-orang awam, ia tidak berada di atas kebenaran. Bahkan urusannya bisa sampai kepada kerusakan-kerusakan duniawi karena tidak terpenuhinya syarat-syaratnya.

Dan sesungguhnya aku telah berlemah-lembut dalam surat ini pada bagian akhirnya, di mana aku tidak menyebut seorang pun secara khusus, demi keselamatan dari fitnah terhadap para syaikh tarekat. 

Maka jika kalian melihat surat ini dan menjadi jelas bagi kalian bahwa di dalamnya ada bimbingan manusia kepada kebenaran, dan kepada meninggalkan klaim-klaim yang kosong, serta demi keselamatan dari kerusakan-kerusakan, maka yang aku minta dari tuan adalah agar kalian mengoreksinya. Dan agar kalian menyebutkan apa yang ada di dalamnya berupa bimbingan manusia supaya mereka selamat dari kerusakan.

Dan agar kalian menyebut namaku di hadapan para penguasa Belanda di tanah Jawa dan selainnya, karena aku bisa menetap di Batavia. Padahal banyak dari para syaikh tarekat dan selain mereka dari kalangan orang-orang dengki yang ingin mengadu domba untuk membinasakanku. Dan seandainya bukan karena keadilan orang-orang Belanda di tanah Jawa dan selainnya, niscaya aku tidak akan bisa menetap di Batavia.

Inilah yang aku kabarkan kepada kalian, dan aku berharap dari tuan jawaban atas suratku ini dalam bahasa Arab, dan koreksi surat ini dalam bahasa Belanda, lalu kalian kirimkan keduanya ke Batavia kepada *Tuan Fandersis*. Semoga keutamaan kalian langgeng dan hari-hari kalian baik.

*As-Sayyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya*

*Catatan :*

*Tuan Holla;* merupakan nama seorang meneer (tuan) Belanda yang dikisahkan sangat bersahabat dengan petani pribumi perkebunan teh di Garut tahun 1843. Masyarakat Garut mengenal Tuan Holla dengan istilah mitra noe tani (sahabat petani).

Pria bernama asli *Karel Frederik Holle (1829-1896) atau Sayyid Muhammad bin Holla* ini begitu optimis menciptakan petani teh di Garut melek akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selepas pensiun dari kerja, Tuan Holla sering meluangkan waktunya untuk mengajar petani di Garut mengenai cara berkebun menggunakan teknologi.

*Tuan Fandersis;* "Fandersis" adalah sebutan atau pelokalan dari kata "Pandersie" (dari bahasa Belanda: Collecteur atau Ontvanger), yaitu sebutan untuk pegawai kolonial Belanda yang bertugas mengumpulkan atau memungut pajak bumi dan hasil bumi dari rakyat.Istilah ini sangat populer di masa Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada abad ke-19, di mana para mandor, kepala desa, atau pejabat pribumi sering ditugaskan sebagai penarik pajak. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaa. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Senin, 22 Juni 2026

KAJIAN TENTANG HUKUM BERPAKAIAN BERGAYA ULAMA BAGI ORANG AWAM


Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda,

أَبْغَضُ الْعِبَادِ إِلَى اللَّهِ مَنْ كَانَ ثَوْبَاهُ خَيْرًا مِنْ عَمَلِهِ ، أَنْ تَكُونَ ثِيَابُهُ ثِــيَابَ الأَنْـبِـــيَاءِ وَعَمَلُهُ عَمَلَ الْجَبَّارِينَ. (رواه الديلـمي عن عائشة)

"Hamba yang paling dibenci oleh Allah adalah, orang yang kedua pakaiannya lebih baik daripada amal perbuatannya yaitu, pakaiannya ibarat pakaian para nabi tetapi amal perbuatannya seperti perbuatan orang-orang angkara murka." (HR. Ad-Dailami dari Aisyah rah.)

Berpakaian ala ulama (seperti gamis, sorban, atau peci putih) secara umum diperbolehkan dan bahkan bernilai ibadah karena termasuk menutup aurat dan mengikuti sunnah. Namun, menurut pandangan para ulama, hukumnya menjadi makruh atau haram jika pakaian tersebut dimaksudkan untuk menipu orang lain agar dianggap sebagai orang alim (ahli ilmu) padahal orang awam yang tidak alim.

Cara berpakaian tentu bukan hal yang bisa dianggap remeh, apalagi jika dapat menimbulkan kesimpangsiuran orang lain dan berpotensi memunculkan ghurur atau menyebabkan tertipunya orang yang melihat. Misalkan pesulap, dukun atau manusia jadi-jadian (bergaya ulama) yang notabene tidak kompeten di bidang agama mengenakan jubah dan sorban yang merupakan identitas keulamaan, lalu mereka berfatwa atau berbicara tentang agama, maka ini sangat membahayakan umat.

Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili Asy-Syafi’i An-Naqsabandy menjelaskan masalah tersebut dalam kitab Tanwirul Qulub hal.99,

ومن البدع توسيع الثياب والأكمام لكنه مكروه لا حرام إلا ما صار شعارا للعلماء فيندب لهم ليعرفوا ويحرم على غيرهم التشبه بهم في ذلك لئلا يغتر بهم فيستفتوا فيفتوا بغير علم 

"Diantara beberapa perbuatan bid'ah itu adalah melebarkan baju dan lengan baju, tetapi ini hukumnya makruh, tidak haram, kecuali baju itu telah menjadi syiar atau ciri khas ulama, maka hal ini dianjurkan agar keulamaannya diketahui. Dan haram bagi selain ulama untuk berpakaian menyerupai (ulama), agar tidak terjadi penipuan. Sehingga kemudian mereka (yang bukan ulama) memberikan fatwa tanpa ilmu." (Tanwirul Qulub, Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili Asy-Syafi’i An-NaqsabandI, hal.99).

Demikian halnya berpakaian mengikuti pakaian ala habaib seperti sorban, imamah dan baju gamis luar yang biasa dipakainya. Maka terdepat keterangan terkait pakaian kebiasaan mereka,

وذكر ابن عبيدالله أن السيد محمد بن علوي بن أحمد بن الفقيه المقدم اشتهر بصاحب العمائم بعد أن احترقت عليه عدة عمائم بسبب الاستغراق في المطالعة بجوار السراج إلا أن ذلك لا يؤكد كما استنتج ابن عبيدالله الاستمرار في لبس العمائم لأن صاحب العمائم لم يكن يلبسها بحضرموت. وإنما كان بمقدشوة من أرض الصومال حيث كان هاجر إليها لطلب لعلامة العلم على عبدالصمد الشيخ محمد بن الجوهي“". 

قال ابن عبيدالله وفي مناقب سيدنا الحسن بن عبدالله الحداد المسمى المواهب والمنن لحفيده العلامة أحمد علوي بن أحمد ابن الحسن ما نصه:  (ولم يلبس بعد الحج إلا الخوذة والبشت والكوفية البيضاء المخرمة والعمامة للجمعة والزيارة والأوابين في البلد وسروال وقميص من البفْت وفوقه أيضاً بفت وكان حجه في سئة ١/5‏ ١اه.‏

Ibnu Ubaidillah menyebutkan bahwa Sayyid Muhammad bin Alawi bin Ahmad bin Al-Faqih Al-Muqaddam terkenal dengan julukan “Pemilik Serban” setelah beberapa serbannya terbakar karena beliau terlalu tenggelam dalam membaca di dekat lampu minyak. Namun hal itu tidak memastikan, sebagaimana disimpulkan Ibnu Ubaidillah, kebiasaan beliau terus-menerus memakai serban. Karena “Pemilik Serban” tidak memakainya di Hadhramaut. Beliau justru memakainya di Mogadishu, tanah Somalia, tempat beliau hijrah untuk menuntut ilmu kepada Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Al-Jauhi.

Ibnu Ubaidillah berkata: Dan dalam Manaqib Sayyidina Al-Hasan bin Abdullah Al-Haddad yang berjudul Al-Mawahib wa Al-Minan karya cucunya Al-‘Allamah Ahmad Alawi bin Ahmad bin Al-Hasan disebutkan teks berikut, “Dan beliau tidak memakai setelah haji kecuali khawdzah(1), bisyit(2), kufiah putih bermotif, dan serban untuk shalat Jumat, ziarah, serta shalat Awwabin di negeri. Juga celana dan baju dari kain baft, dan di atasnya juga kain baft(3). Haji beliau pada tahun 1151 H.”_

____

(1). Al-Khawdzah: Penutup kepala yang keras. Khawdzah dirancang untuk memberikan perlindungan kepala dari cedera di tempat kerja, konstruksi, atau saat berkendara.

(2) Al-Bisyit: Jubah longgar. Bisyit dan syal pria tradisional yang lebar dan terbuka yang dikenakan di atas baju. 

(3) Baft: Kain katun yang ringan, tipis, dan berwarna putih. (Al-Istizadah fi Akhbar As-Sadah, Al-Habib Ali bin Muhsin Assegaf, juz 1 hal.208). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

HABAIB BANI ALAWI AHLI WARA' TIDAK SUKA MENDATANGI PEMIMPIN



Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْأُمَرَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْعُلَمَاءَ وَيَمْقُتُ الْعُلَمَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْأُمَرَاءَ لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْأُمَرَاءَ رَغِبُوْا فِي الدُّنْيَا وَإِذَا خَالَطَهُمُ الْأُمَرَاءَ رَغِبُوْا فِي الْآخِرَةِ

“Sungguh Allah mencintai penguasa (pemerintah) yang mendatangi ulama. Dan (Allah) membenci ulama yang mendatangi penguasa, karena ulama ketika dekat dengan penguasa akan senang pada dunia, namun jika penguasa yang mendekati ulama maka mereka akan senang pada akhirat.” (HR. Ad-Dailami).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, 

إِذَا رَأيْتَ العالِمَ يُخالِطُ السُّلْطانَ مُخالطَةً كَثِيرَةً فاعْلَمْ أنَّهُ لِصٌّ

“Jika kamu melihat orang alim berbaur dengan penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri.” (HR. Abu Hurairah).

Dari beberapa hadits ini, Sayyid Muhammad Murtadha Az-Zabidi dalam salah satu karyanya memberikan alasan kenapa para ulama akan kehilangan otoritasnya ketika sudah berbaur dengan pemerintah. Menurutnya, karena beberapa orang dari mereka akan melakukan kebohongan, kemunafikan, mencari muka dan ingin dipuji hanya untuk mendapatkan pangkat dan harta yang lebih banyak, padahal semua ini merupakan penyebab hancurnya agama seseorang. Karena itu, menurut Sayyid Murtadha, para ulama seharusnya mengambil jarak dengan pemerintah agar bisa selamat dari beberapa perbuatan hina, agar otoritasnya tidak hilang. (Sayyid Murtadha, Ithafussadah Al-Mutaqin bi Syarhi Ihya Ulumiddin, Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt, juz I, hal. 638).

Demikian halnya penjelasan dalam kitab bahwa ternyata bani alawi (habaib) tidak suka mendatangi pemimpin,

اشتهر العلويون بالورع الشديد، ولمع في ذلك قصص كثيرة أولاً، فما حدث عند انتقالهم من بلدتهم بيت جبر إلى تريم، فلقد كانوا ينقلون التراب الذي يستعملونه لبيوتهم من بيت جبر إلى تريم، حتى لا يبنوا بيوتهم إلا من تراب حلال يملكونه.

ومن ورعهم: أنهم كانوا لا يدخلون بيوت الأمراء والسلاطين، ولا يأكلون من طعامهم وذلك خوفاً أن يكون من مظلمة، ويؤكد ذلك كلام الحبيب عبدالله بن حسين بن طاهر (ت ١٢٧٧هـ) الذي يقول: إنه لا يجوز دخول دار الظلمة والفسقة، ولا حضور المواضع التي يشاهد فيها المنكر مع عدم القدرة على تغييره.(١)

وتروى في ذلك قصص كثيرة منها: ما رواه الفقيه عبدالله بن عمر بامخرمة، وكان شاهد عيان، فقال: إن السلطان بدر بن عبدالله بن عمر الكثيري الذي تولى السلطنة سنة ١٠٥٨هـ ذهب قاصداً قرية حريضة لزيارة الحبيب عمر بن عبدالرحمن العطاس، وأرسل له رسولاً يستأذنه في الدخول إلى بلده المذكور، وكان مع السلطان جند عظيم، فأشار على السلطان بإبقائه في مكانه، وأنه سيأتيه، لأنه أحق بذلك، وعمل الحبيب قهوته، وأخذ جمرته، فقيل له الخادم: إن النار توجد عند السلطان، فقال الحبيب: نحن لا نستعمل نار السلطان أبداً، وقال السلطان: يا سبحان الله! تتحرجون حتى عن قهوتنا ونارنا.

وذكر الأستاذ ابن هاشم: "أن هذا السلطان كان عظيم القدر، سمت الأخلاق، له مكانة رفيعة أكسبها بحلمه وأخلاقه الفاضلة، وكان يقصد أعلام الفتوى والولاية يزورهم ويستشيرهم ويكرمهم، ويتحمل ما يبدر منهم من كلمة عتب أو نصيحة قاسية".(٢)

___________

(١) مجموع كلام الحبيب عبدالله بن حسين بن طاهر صفحة ١١٤.

(٢) محمد بن هاشم تاريخ الدولة الكثيرية بتريم للدراسات والنشر صفحة ١٠١-١٠٢.

Para Alawiyyin terkenal dengan sikap wara’ yang sangat tinggi. Banyak kisah yang menonjol dalam hal ini. Pertama, apa yang terjadi ketika mereka pindah dari kampung mereka Bait Jabir ke Tarim. Mereka memindahkan tanah yang dipakai untuk rumah-rumah mereka dari Bait Jabir ke Tarim, agar mereka tidak membangun rumah kecuali dari tanah halal yang mereka miliki sendiri.

Di antara sikap wara’ mereka: mereka tidak masuk ke rumah para amir dan sultan, serta tidak makan dari makanan mereka. Hal itu karena takut kalau makanan itu berasal dari kezaliman. Hal itu dikuatkan oleh perkataan Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir, wafat 1277 H, yang berkata: Sesungguhnya tidak boleh masuk ke rumah orang zalim dan fasik, serta tidak menghadiri tempat-tempat yang terlihat kemungkaran di dalamnya tanpa adanya kemampuan untuk mengubahnya. (1)

Banyak kisah yang diriwayatkan tentang hal itu, di antaranya: apa yang diriwayatkan Al-Faqih Abdullah bin Umar Bamakhromah, dan beliau adalah saksi mata. Beliau berkata: Sesungguhnya Sultan Badr bin Abdullah bin Umar Al-Katsiri yang menjabat sebagai sultan tahun 1058 H, pergi menuju desa Haridhah untuk menziarahi Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas. Ia mengirim utusan untuk meminta izin masuk ke negeri tersebut. Bersama sultan ada pasukan besar. Maka Al-Habib memberi isyarat kepada sultan agar tetap di tempatnya, dan beliau sendiri yang akan mendatanginya, karena sultan lebih berhak untuk didatangi. Al-Habib membuat kopinya dan mengambil bara apinya. Lalu pelayan berkata kepadanya: Api ada di tempat sultan. Maka Al-Habib berkata: Kami tidak pernah memakai api milik sultan sama sekali. Sultan pun berkata: Maha Suci Allah! Kalian sampai bersikap hati-hati seperti itu, bahkan terhadap kopi dan api kami.

Ustadz Ibnu Hasyim menyebutkan: “Sultan ini adalah orang yang agung kedudukannya, mulia akhlaknya, memiliki kedudukan tinggi yang ia peroleh karena sifat lembut dan akhlaknya yang mulia. Ia mendatangi tokoh-tokoh fatwa dan kewalian, menziarahi mereka, meminta nasihat mereka, memuliakan mereka, dan bersabar terhadap ucapan celaan atau nasihat keras yang keluar dari mereka.” (2). (Istizadah fi Akhbar As-Sadah, Al-Habib Ali bin Muhsin Assegaf, juz 1 hal.187)

_________

1. Majmu’ Kalam Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir hal 114.  

2. Muhammad bin Hasyim, Tarikh Ad-Daulah Al-Katsiriyyah bi Tarim li Ad-Dirasat wa An-Nasyr hal 101-102.

وجاء السلطان بدر بوطويرق مؤسس الدولة الكثيرية الأولى إلى تريم، كما ذكره الأستاذ بن هاشم في تاريخ الدولة الكثيرية، ونوى زيارة الولي الصالح السيد أحمد بن علوي باحجيب (المتوفى سنة ٩٧٣هـ) فقال لجماعته: مرادنا نزور السيد الشريف أحمد ولا نزعجه أو نكدر عليه، وذلك لما علمه من السيد أحمد يستوحش من أهل الدنيا، فلما أخبروا السيد أحمد بقدوم السلطان قال: لا حول ولا قوة إلا بالله! وأيش لنا حاجة بمجيئه؟ وقال: نحن نخرج إليه، ثم أخذ ملحفته وغطى بها جسده ويديه، ثم خرج لمقابلة السلطان فلما وصل استلم السلطان يده وبقي واقفاً، فقال له السيد: الله الله في العدل، فقد كان والدك طيباً مع الناس، وأنت الله الله فيهم، فقال السلطان: قد جئنا بشيء من الذهب والفضة باسم الفقراء تفرقونه على من شئتم من جماعتكم، فقال السيد: لا حاجة لذلك، وأنتم عليكم مصاريف كبيرة، فقال السلطان: اقبلوا منا شيئاً من البن والعود، فقال السيد: عندنا البن والعود ولا نحتاج لشيء منهما، ثم استودع منه، ولما رجع السلطان بدر بوطويرق قال لجماعته: الحمد لله الذي جعل في ولايتي مثل هذا السيد

Sultan Badr Buthairiq, pendiri Negara Katsiri pertama, datang ke Tarim, sebagaimana disebutkan Ustadz Ibnu Hasyim dalam Tarikh Ad-Daulah Al-Katsiriyyah. Ia berniat menziarahi wali saleh Sayyid Ahmad bin Alawi Bahajjib, wafat tahun 973 H. Lalu ia berkata kepada rombongannya: Maksud kami menziarahi Sayyid Asy-Syarif Ahmad, dan kami tidak ingin mengganggunya atau membuatnya susah. Hal itu karena ia tahu bahwa Sayyid Ahmad merasa tidak nyaman dengan orang-orang dunia. 

Ketika mereka memberitahu Sayyid Ahmad tentang kedatangan sultan, beliau berkata: Laa haula wa laa quwwata illa billah! Apa urusan kami dengan kedatangannya? Lalu beliau berkata: Kita keluar menemuinya. Kemudian beliau mengambil selendangnya dan menutupi tubuh serta kedua tangannya, lalu keluar untuk menemui sultan. Ketika sampai, sultan menjabat tangannya dan tetap berdiri. Maka Sayyid berkata kepadanya: Allah, Allah dalam berbuat adil. Sungguh ayahmu baik terhadap manusia, maka engkau, Allah, Allah terhadap mereka. 

Sultan berkata: Kami datang membawa sedikit emas dan perak atas nama fakir miskin, kalian bagikan kepada siapa saja yang kalian kehendaki dari kelompok kalian. Sayyid berkata: Tidak perlu. Kalian memiliki pengeluaran besar. Sultan berkata: Terimalah dari kami sedikit kopi dan gaharu. Sayyid berkata: Kami punya kopi dan gaharu, dan kami tidak butuh sedikit pun dari keduanya. Lalu beliau berpamitan darinya. 

Ketika Sultan Badr Buthairiq kembali, ia berkata kepada rombongannya: Segala puji bagi Allah yang menjadikan di wilayahku orang seperti Sayyid ini. (Istizadah fi Akhbar As-Sadah, Al-Habib Ali bin Muhsin Assegaf, juz 1 hal.187-188). Wallahu a’lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 20 Juni 2026

KAROMAH AL-FAQIH AL-MUQADDAM BISA BERKUNJUNG KE SURGA, DAN JUGA MENGABARKAN KEPADA NABI AKAN TERJADINYA KEBAKARAN MASJID NABAWI


Peristiwa yang dimaksud dikenal sebagai salah satu karamah (keistimewaan) dari Al-Faqih Al-Muqaddam (Muhammad bin Ali Ba'alawi), pendiri Tarekat Alawiyyin di Hadramaut, Yaman. Beliau kasyaf (diberi penglihatan ghaib oleh Allah Ta'ala) mengenai akan terjadinya peristiwa kebakaran Masjid Nabawi yang terjadi pada awal Ramadhan 654 H. Sebagaimana dijelaskan Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani berikut,

(محمد بن علي بن محمد صاحب مرباط) المشهور بالأستاذ الأعظم الفقيه المقدم أبو علي جمال المسلمين والإسلام، وواسطة عقد العلماء الأعلام، شيخ شيوخ الشريعة، وإمام أئمة الطريقة والحقيقة، بدر العلم والتصوف، ومكث في القطيبة مائة وعشرين ليلة، كما قاله الشيخ عبد الرحمن السقاف.

ومن كراماته أن خادمه بإفريقية سافر سفراً طويلاً، فبلغ أهله أنه قد مات، فتعبوا وأتوا إلى الأستاذ فأطرق ساعة وقال: لم يمت بإفريقية، فقيل له: قد جاء الخبر بموته، فقال: إني اطلعت على الجنة فلم أجده فيها ولم يدخل فقيرى النار، ثم جاء الخبر بحياته وقدم هو بعد مدة.

ومنها: أنه وافق جماعة في الطلب في صغره وجعلوا على من فاته الجماعة شيئاً، فنام الأستاذ وقت القيلولة فلم يستيقظ إلا بالإقامة، فأشار إلى الدلو فطلع من البئر ملآن وتوضّاً وأدرك الجماعة.

ومنها: أنه قال لأصحابه: لعل أحداً منكم رأى رؤيا، فقال رجل: رأيت القيامة قامت وحضر الأولياء وقائل يقول: اشتغل الشيخ محمد بن علي بالتمر، فقال الأستاذ: التمر يحرق فاحترق التمر جميعه، فقال الرجل: والله ما رأيت رؤيا وإنما قلت ذلك ليعطني من ذلك التمر، فقال: لا حاجة لنا بما يحول بيننا وبين ربنا.

ومنها: أنه أخبر بأمور غريبة فوقعت كما أخبر، منها: أنه أخبر بغرق بغداد، فزادت الدجلة زيادة مهولة ودخل الماء من سور البلد وانهدمت دار الوزير وخزانة الخليفة وثلاثة وثلاثون داراً، ومات تحت الهدم خلق كثير وغرق جم غفير، وذلك في جمادى الآخرة سنة ٦٥٤.

وأخبر بحريق المسجد النبوي على صاحبه أفضل الصلاة والسلام، فاحترق أول رمضان في السنة المذكورة، وأخبر بواقعة التتار المصيبة التي لم يُسمع مثلها في الفلك الدوار المشتملة على كل قبيح وعار، فقتل الخليفة في صفر سنة ٦٥٦، وهذه الأمور الثلاثة وقعت بعد موته.

وأخبر بسيل عظيم يكون في حضرموت، فسال أوديتها وأخرب عدة بلدان، وأهلك ما ينيف عن أربعمائة إنسان. توفي الشيخ سنة ٦٥٣ بمدينة تريم، وقبره مشهور يُزار، وعمره ٧٩ سنة. قاله في المشرع الروي.

Muhammad bin Ali bin Muhammad pemilik Marbat, yang terkenal dengan sebutan Al-Ustadz Al-A’zham Al-Faqih Al-Muqaddam, Abu Ali, perhiasan kaum muslimin dan Islam, penghubung untaian para ulama terkemuka, guru dari para guru syariat, imam dari para imam tarekat dan hakikat, rembulan ilmu dan tasawuf. Beliau tinggal di Al-Qatibah selama seratus dua puluh malam, sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Abdurrahman As-Saqqaf.

Di antara karamah beliau: 

1. Khadim (pembantu) beliau di Afrika pernah melakukan perjalanan jauh. Sampai kabar kepada keluarganya bahwa ia telah meninggal. Mereka sedih dan mendatangi Al-Ustadz. Beliau menunduk sejenak lalu berkata: "Ia tidak mati di Afrika." Dikatakan kepada beliau: "Sudah datang kabar kematiannya." Beliau menjawab: "Sungguh aku telah mendatangi surga dan aku tidak mendapatinya di sana, dan orang miskin kami tidak akan masuk neraka." Kemudian datang kabar bahwa ia masih hidup, dan ia pun datang beberapa waktu setelahnya.

2. Ketika beliau masih kecil, beliau sepakat dengan sekelompok orang untuk menuntut ilmu. Mereka membuat syarat, siapa yang ketinggalan berjamaah harus membayar sesuatu. Al-Ustadz tertidur di waktu qailulah dan tidak bangun kecuali saat iqamah dikumandangkan. Lalu beliau memberi isyarat ke timba, maka timba itu naik dari sumur dalam keadaan penuh. Beliau berwudhu dan mendapati shalat berjamaah.

3. Beliau berkata kepada murid-muridnya: "Mungkin salah satu dari kalian bermimpi." Maka seorang laki-laki berkata: "Aku bermimpi kiamat telah terjadi dan para wali hadir, lalu ada suara yang berkata: Syekh Muhammad bin Ali sibuk dengan kurma." Al-Ustadz berkata: "Kurma itu akan terbakar." Maka semua kurma itu pun terbakar. Laki-laki itu berkata: "Demi Allah aku tidak bermimpi, aku hanya berkata begitu agar aku diberi kurma itu." Beliau menjawab: "Kami tidak butuh sesuatu yang menghalangi kami dari Tuhan kami."

4. Beliau mengabarkan perkara-perkara aneh yang kemudian terjadi sesuai kabarnya. Di antaranya: 

- Beliau mengabarkan tenggelamnya Baghdad. Maka Sungai Tigris meluap sangat besar, air masuk dari benteng kota, rumah menteri hancur, perbendaharaan khalifah jebol, dan tiga puluh tiga rumah roboh. Banyak orang mati tertimpa reruntuhan dan banyak yang tenggelam. Itu terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahun 654 H.

- Beliau mengabarkan kebakaran Masjid Nabawi kepada pemiliknya (Nabi Muhammad) sebaik-baik shalawat dan salam tercurah kepadanya. Maka masjid itu terbakar pada awal Ramadhan tahun yang disebutkan.

- Beliau mengabarkan musibah bangsa Tartar yang belum pernah terdengar semisalnya di dunia berputar ini, musibah yang mencakup segala keburukan dan aib. Khalifah terbunuh pada bulan Safar tahun 656 H. Ketiga peristiwa ini terjadi setelah beliau wafat.

- Beliau mengabarkan banjir besar akan terjadi di Hadhramaut. Maka lembah-lembahnya meluap, beberapa negeri hancur, dan lebih dari empat ratus orang binasa.

Syekh wafat tahun 653 H di kota Tarim. Kubur beliau terkenal dan diziarahi. Umur beliau 79 tahun. Ini disebutkan dalam kitab Al-Masyra’ Ar-Rawi. (Jami' Karamat Al-Auliya' karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani  juz 1 hal.213-214). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

MENYEBUT NAMA HABIB ABDULLAH AL-HADDAD MENYELAMATKAN PERTANYAAN MUNKAR DAN NAKIR


Beberapa hari yang lalu saya memposting sebuah penggalan video dari WAG dimana terlihat Habib Ahmad bin Ali Assegaf menyampaikan (terlihat beliau membaca kitab) bahwa ada seorang yang meninggal dunia ketika ditanya oleh malaikat (Munkar Nakir), "Man Robbuka (siapa tuhanmu), dia menjawab, "Habibi Abdullah (kekasihku adalah Abdullah)." Dan ketika ditanya malaikat, "Wa Man Nabiyuka (dan siapa nabimu)," dia menjawab, "Habibi Abdullah (kekasihku adalah Abdullah)."

Dari sanalah saya terobsesi mencari rujukan kitab apa kira-kira yang menyampaikan kisah aneh bin ajaib tersebut.

Syahdan, akhirnya saya dapatkan kitab Jami' Karamat Al-Auliya' karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani juz 2 hal.244-245 terdapat kisah yang mirip dengan apa disampaikan Habib Ahmad bin Ali Assegaf sebagaimana dalam video tersebut meskipun redaksinya sedikit berbeda sebagaimana berikut,

(عبد الله بن علوى ابن الأستاذ الأعظم) 

إمام العلماء العاملين وقدوة الأولياء العارفين ، وهو شيخ الشريعة والحقيقة ، وشيخ مشايخ الطريقة و من كراماته : أنه أنكر على رجل بمكة المشرفة شرب الخمر ، فقال له :رجل خياط أستعين بذلك على صنعتى ، فقال : إن أغناك الله عن ذلك تعاهدني على أن لا تعود لشربه ؟ فقال نعم ، فدعا رضى الله عنه ربه أن يتوب عليه وأن يغنيه عنه فتاب وحسنت توبته وأغناه الله ، وعاهده ثلاث ليال لئلا ينقض توبته ، رأى السيد عبد الله المذكور كأن قائلا يقول : احفروا لفلان في محل كذا مد البصر ، ومن صلى عليه غفر له ، فاستيقظ وسأل عنه فإذا هو قد مات فصلى عليه .

ومنها : أن رجلا أنشد أبياتا تتعلق بالبعث والحساب ، فتواجد صاحب الترجمة وخر مغشيا عليه ، فلما أفاق قال للرجل : أعد الأبيات ، فقال الرجل : بشرط تضمن لى الجنة ، فقال : ليس ذلك إلى ولكن اطلب ماشئت من المال, فقال الرجل : ما أريد إلا الجنة وإن حصل لنا شيء ما كرهنا فدعا له بالجنة ، فحسنت حالة الرجل وانتقل إلى رحمة الله ، وشيعه السيد عبد الله المذكور وحضر دفنه ، وجلس عند قبره ساعة فتغير وجهه ثم ضحك واستبشر ، فسئل عن ذلك

فقال : إن الرجل لما سأله الملكان عن ربه قال : شيخي عبد الله باعلوى ، فتعبت لذلك ، فسألاه أيضا فأجاب بذلك ، فقالا : مرحبا بك وبشيخك عبد الله باعلوى. قال بعضهم : هكذا ينبغي أن يكون الشيخ يحفظ مريده حتى بعد موته .

(Abdullah bin Alawi bin Al-Ustadz Al-A'zham) 

Adalah Imam para ulama yang beramal dan teladan para wali. Ia adalah guru syariat dan hakikat, serta guru dari para syaikh tarekat. Di antara karamatnya adalah ketika ia menegur seorang pria di Mekkah yang sedang minum khamar. Pria itu berkata, "Saya adalah seorang tukang jahit yang mengandalkan itu untuk pekerjaan saya." Abdullah bertanya, "Jika Allah memberikanmu kecukupan, maukah engkau berjanji untuk tidak kembali meminum khamar?" Pria itu menjawab, "Ya." Maka Abdullah berdoa kepada Allah agar pria tersebut bertaubat dan diberikan kecukupan, dan Allah mengabulkan doanya. Pria tersebut bertaubat dengan baik, dan Abdullah mengikat janji selama tiga malam agar taubatnya tidak terputus.

(Suatu ketika), Abdullah melihat seolah-olah ada yang berkata, "Galilah (kubur) untuk si fulan di tempat yang terlihat, dan barang siapa yang menshalatkan atasnya, akan diampuni." Ia terbangun dan menanyakan tentang orang itu, dan ternyata ia telah meninggal, lalu Abdullah menshalatkan atasnya.

Di lain waktu, seorang pria melantunkan syair tentang kebangkitan dan perhitungan amal, sehingga Abdullah merasa terharu dan pingsan. Ketika ia sadar, ia meminta pria itu untuk mengulangi syairnya. Pria itu menjawab, "Dengan syarat engkau menjamin saya surga." Abdullah menjawab, "Itu bukan urusanku, tetapi mintalah apa pun yang kau inginkan dari harta." Pria itu berkata, "Saya tidak ingin selain surga, dan jika kami mendapatkan sesuatu, kami tidak keberatan." Abdullah mendoakan pria itu agar mendapatkan surga. Keadaan pria itu membaik dan ia pun berpulang kepada rahmat Allah. Abdullah mengantarkan jenazahnya dan hadir dalam pemakamannya. Ia duduk di dekat kuburnya sejenak, wajahnya berubah, lalu ia tertawa dan bersuka cita. Ketika ditanya tentang itu, ia berkata, "Ketika malaikat bertanya kepada pria itu tentang Tuhannya, ia menjawab, 'Guru saya Abdullah Alawi,' dan saya merasa lelah karena itu. Mereka bertanya lagi, dan ia menjawab dengan hal yang sama, lalu mereka berkata, 'Selamat datang kepadamu dan gurumu Abdullah Alawi.'" Sebagian orang berkata, "Begitulah seharusnya seorang guru menjaga muridnya bahkan setelah ia meninggal." (Jami' Karamat Al-Auliya' karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani  juz 2 hal.244-245). Wallahu a'lam bis-Shawab 🙏 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 19 Juni 2026

KAJIAN TENTANG MAKAM WALI DI SURABAYA BISA PINDAH KE ZANBAL TARIM, HADHRAMAUT YAMAN


Syahdan; Mengenal Haul Solo merupakan peringatan haul untuk mengenang wafatnya seorang ulama yaitu Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (pengarang kitab maulid Simtudduror) lahir di Qasam (Hadramaut, Yaman) dan wafat di Seiwun (Hadramaut, Yaman). Meskipun tidak pernah menetap di Indonesia, keturunan dan keluarganya berdakwah di Nusantara, dan jangan heran kenapa haulnya diadakan di Solo? Konon, makam seorang wali itu bisa berpindah sebagaimana kisah wali yang makamnya pindah dijelaskan dalam sebuah kitab.

Sebelumnya saya infokan  bahwa Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih & Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih: diakui sebagai Dua Wali Quthub Kota Malang.

Dikisahkan bahwa Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih melakukan perjalanan hijrahnya menuju pulau Jawa lebih tepatnya yakni di kota Surabaya. Beliau menetap di Surabaya sampai akhir hayatnya. 

Ketika wafatnya, Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah (Keponakan Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih) yang kala itu sedang berada di kota Tarim. Beliau bermimpi bahwasannya para salaf (Sadah Ba'alawi) di alam barzakh sedang dalam keadaan menunggu kedatangan salah seorang. Maka Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah bertanya kepada mereka tentang perihal itu. Mereka mengatakan,

" Sesungguhnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam dan para Salaf Ba'alawi, mereka sedang menunggu kedatangan salah satu anak turun mereka yang wafat di Surabaya "

Kemudian dalam mimpi tersebut, Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah melihat seakan-akan para salaf tersebut datang sembari membawa jenazah menuju ke Pemakaman Zanbal Tarim dan dikebumikan di depan Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam.

Seketika al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah terbangun dari tidurnya dan menunggu kabar salah satu seorang Sadah Alawiyyin yang wafat dari Jawa. 

Tidak lama kemudian, sampailah kabar wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih dan mimpi yang dialami oleh Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah terjadi persis bersamaan dengan hari wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih.

Dan juga diriwayatkan, ketika Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih wafat dan dikebumikan. Makam beliau menghilang dari pandangan orang-orang. 

Mereka tidak mengetahui dan juga tidak lagi mendapati keberadaan makam tersebut. 

Maka putra beliau yang bernama Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih merasa sedih akan kejadian tersebut. 

Ketika Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih tidur, beliau melihat Ayahanda nya yang berkata, "Jangan cari aku, karena sesungguhnya aku telah dipindahkan ke pemakaman Zanbal."

Narasi kisah tersebut adalah gambaran kisah yang terdapat dalam kitab Lawami' An-Nur Nukhbah Min A'lam Hadhramaut juz 2 hal. 106 sebagai berikut,

سافر الحبيب أحمد إلى جواه "سرباية"، ومكث بها بقية حياته وتوفي بسُرباية. وعند وفاته رأى الحبيب عبد القادر، وكان بتريم، أن السلف وكان في البرزخ كانوا على غاية من الانتظار لاستقبال أحد الوافدين إليهم، فسألهم فقالوا: إن الفقيه والسلف منتظرين أحد أبنائهم توفي في "سُرباية"، ثم رأى كأنهم جاؤوا بالميت إلى زنبيل ودفن أمام قبر الفقيه المقدم فانتبه الرائي وانتظر خبراً من جاوة عن موت أحد العلويين. فكان الأمر كما ذُكر حيث وصل إليهم خبر وفاة الحبيب أحمد بن محمد بلفقيه، وكانت الرؤيا موافقة ليوم وفاته.

وقبل أيضاً أنه لما توفي ودفن في المقبرة طمس القبر عن الأنظار ولم يفقوا عليه، فأغتمَّ لذلك ولده عبد القادر، فلما كان في المنام رأى والده يقول له: لا تبحث عني فإني قد نُقلت إلى "زنبيل". (لوامع النور نخبة من أعلام حضرموت ص ١.٦)

Al-Habib Ahmad melakukan perjalanan ke Jawa "Surabaya", dan beliau tinggal di sana hingga sisa hidupnya, lalu wafat di Surabaya. 

Ketika beliau wafat, Al-Habib Abdul Qadir yang berada di Tarim melihat dalam mimpi bahwa para salaf yang berada di alam barzakh sedang sangat menanti untuk menyambut kedatangan seseorang di antara mereka. Beliau bertanya kepada mereka, maka mereka menjawab: "Sesungguhnya para fuqaha dan para salaf sedang menunggu salah seorang anak mereka yang wafat di 'Surabaya'." 

Kemudian beliau melihat seakan-akan mereka membawa jenazah itu ke "Zanbal" dan menguburkannya di depan makam Al-Faqih Al-Muqaddam. Lalu orang yang bermimpi itu terbangun dan menanti kabar dari Jawa tentang wafatnya salah seorang dari keturunan Alawi. 

Maka jadilah kenyataan seperti yang disebutkan, yaitu sampailah kepada mereka berita wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih. Dan mimpinya itu bertepatan dengan hari wafatnya.

Disebutkan juga bahwa ketika beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman, kuburannya tertutup dari pandangan dan mereka tidak menemukannya. Maka putranya Abdul Qadir pun bersedih karena hal itu. Ketika ia tidur, ia bermimpi melihat ayahnya berkata kepadanya: "Jangan cari aku, karena sesungguhnya aku telah dipindahkan ke 'Zanbil'." (Lawami’ An-Nur Nukhbah min A’lam Hadhramaut, Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali bin Abu Bakar Al-Masyhur, cet. Maktabah Dar Al-Muhajir li An-Nashr wa At-Tauzi', Sana'a - Yaman, juz 2 hal. 106). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG TIGA HIKMAH ACARA HAUL DAN TIGA TANDA KEMATIAN

Haul kematian adalah tradisi peringatan wafatnya seseorang yang diadakan setahun sekali berdasarkan penanggalan Hijriah. Esensi utamanya adalah untuk mendoakan almarhum, mengingat kematian, bersedekah, serta mengenang kembali jasa, ilmu, atau keteladanan yang ditinggalkan.

Kematian adalah kepastian dan pengingat dari Allah SWT bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Ini adalah peringatan keras agar manusia menjauhi maksiat, bersegera dalam taubat, dan memperbanyak bekal amal shaleh, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ (١٢٤) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا (١٢٥) قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ (١٢٦)

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat? Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan." (QS. Thaha : 124-126)

Tiga hikmah haul adalah :

1. Lil Istighfar 

2. Lil Istidzkar

3. Lil Ijtima'

Tiga tanda kematian sebagaimana kisah malaikat maut dengan nabi Ya'kub 'alaihissalam,

كان مُؤاخِيًا لِمَلَكِ الْمَوتِ فَزارَه فَقالَ لَه يَعقُوبُ عَلَيه الصلاةُ والسلامُ: يا مَلكَ الْمَوتِ، أَزائِراً جئتَ أم قابضاً رُوحِي؟ فَقالَ: بَل زائِراً، قالَ: فإنِّي أَسأَلُكَ حاجَةً، قالَ: وما هِي؟ قال: أن تُعْلِمَني إذا دَنَى أَجلِي وأَرَدتَ أن تَقبِضَ رُوحِي، فَقال: نَعَم أُرسِلُ إلَيك رَسُولَين أو ثَلاثَةً فلمَّا انْقَضَى أجَلُه أتَى إليه مَلَكُ الْمَوتِ، فَقال: أَزائِراً جئتَ، أم لِقَبضِ رُوحِي؟ فَقال: لِقَبضِ رُوحِكَ، فَقالَ: أوَلَستَ كنتَ أَخبَرتَني أنَّكَ تُرسِلُ إليَّ رَسُولَين، أو ثَلاثةً؟ قال: قَد فَعَلتُ، بَياضُ شَعرِكَ بَعدَ سَوادِه، وضُعفُ بَدَنِك بَعد قُوَّتِه، وانْحِناءُ جِسمِك بَعدَ استِقامَتِه، هذِه رُسُلِي يا يَعقُوبُ إلى بَنِي آدَمَ، قَبلَ الْمَوتِ

Dikisahkan dalam kitab Majmu’at Rasail, karya Abu Hamid Al-Ghazali, bahwa malaikat maut (Izrail) bersahabat dengan Nabi Ya’qub AS. Suatu ketika Nabi Ya’qub berkata kepada malaikat maut. Aku menginginkan sesuatu yang harus kamu penuhi sebagai tanda persaudaraan kita.

Apakah itu? tanya malaikat maut. Jika ajalku telah dekat, beri tahu aku. Malaikat maut berkata, Baik aku akan memenuhi permintaanmu, aku tidak hanya akan mengirim satu utusanku, namun aku akan mengirim dua atau tiga utusanku. Setelah mereka bersepakat, mereka kemudian berpisah.

Setelah beberapa lama, malaikat maut kembali menemui Nabi Ya’qub. Kemudian, Nabi Ya’qub bertanya, Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?

Aku datang untuk mencabut nyawamu. Jawab malaikat maut. Lalu, mana ketiga utusanmu? tanya Nabi Ya’qub. Sudah kukirim. Jawab malaikat, Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan bungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya’qub, itulah utusanku untuk setiap bani Adam.

Kisah tersebut di atas mengingatkan tentang tiga tanda kematian yang akan selalu menemui kita, yaitu memutihnya rambut; melemahnya fisik, dan bungkuknya badan. Jika ketiga atau salah satunya sudah ada pada diri kita, itu berarti malaikat maut telah mengirimkan utusannya. Karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi utusan tersebut.

Kematian adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia sebagaimana yang telah ditegaskan dalam firman Allah SWT: 

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran [3]: 185).

Karena itu, kita berharap agar saat menghadapi kematian dalam keadaan tunduk dan patuh kepada-Nya. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran [3]: 102).

Tidaklah terlalu penting kita akan mati, tapi yang terpenting adalah sejauh mana persiapan menghadapi kematian itu. Rasulullah SAW mengingatkan agar kita bersegera untuk menyiapkan bekal dengan beramal saleh.  

Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan tentu akan kesulitan dalam mengarungi perjalanan yang panjang dan melelahkan. 

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ

“Oleh karena itu, Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Juga mengutip keterangan dari kitab Zuhur Ar-Riyadhah, Imam Al-Ghazali mengisahkan dalam Mukasyafatul Qulub bahwa Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam bersahabat dengan malaikat maut. Pada suatu ketika, malaikat datang kepadanya. Ditanya oleh Nabi Ya‘qub, “Wahai malaikat maut, engkau datang kemari untuk bertamu atau mencabut ruhku?” Malaikat menjawab, “Aku datang hanya bertamu.”

Nabi Ya’qub ‘alaihissalam bertanya, “Jika begitu, aku ingin menyampaikan suatu permintaan.” Malaikat bertanya, “Permintaan apa itu?” Nabi melanjutkan, “Aku harap engkau memberitahuku saat ajalku sudah dekat dan engkau ingin mencabut ruhku.” Malaikat pun menyanggupi, “Baiklah, aku akan mengirim dua atau tiga utusan.”

Tatkala ajal Sang Nabi sudah habis, malaikat maut kembali datang. Ditanya lagi oleh Nabi alaihissalam, “Apakah engkau sekadar bertamu, atau hendak mencabut ruh?” Malaikat menjawab, “Aku datang untuk mencabut ruhmu.” Sang Nabi terkejut, sebab malaikat datang tiba-tiba untuk mencabut nyawa tanpa pemberitahuan sebelumnya, “Bukankah engkau pernah memberi tahuku akan mengirim dua atau dua utusan?” Malaikat menjawab, “Benar, dan aku telah mengirim putih rambutmu sebagai utusan pertama. Padahal engkau tahu, rambutmu sebelumnya hitam. Kemudian aku mengirim lemah badanmu sebagai utusan kedua. Padahal, engkau tahu tubuhmu sebelumnya kuat. Terakhir, aku mengirim bongkok tubuhmu sebagai utusan ketiga. Padahal, tubuhmu sebelumnya tegak. Itulah utusan-utusanku kepadamu, wahai Ya‘qub, sekaligus kepada Bani Adam menjelang kematian mereka.”

Di antara pelajaran penting yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah jangan pernah lalai dalam mengingat kematian. Cukuplah putihnya uban, lemah dan bongkoknya badan menjadi pertanda dekatnya kematian. Kendati demikian, kematian bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Adapun waktu, tempat, dan caranya dirahasiakan. Pesan kisah ini sejalan dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,

أكثروا ذكر هادم اللذات, وهي الموت

 “Perbanyaklah mengingat perkara yang memutus berbagai kenikmatan, yaitu kematian.” (H.R. At-Tirmidzi). 

Mengapa beliau berpesan demikian? Sebab pada dasarnya, manusia memiliki sifat lalai dan pelupa. Tak terkecuali para nabi. Contohnya seperti yang terjadi pada Nabi Yaqub ‘alaihissalam. Namun, menurut para ulama, kelalaian Nabi Yaqub ‘alaihissalam ini bukan sebuah kekurangan, melainkan semata agar menjadi pelajaran bagi umat-nya dan juga umat-umat berikutnya.

Dalam kaitan ini, Imam As-Samarqandi menambahkan, ada banyak manfaat dari mengingat kematian, di antaranya 

(1) semakin giat dalam beribadah, 

(2) menyegerakan bertaubat, 

(3) merasa cukup atas apa yang diberikan Allah. 

Sebaliknya, melalaikan kematian akan mewarisi sifat malas dalam beribadah, menuda-nunda bertaubat, dan tamak alias tidak puas atas pemberian Allah. (Lihat: Syekh Ibrahim As-Samarqandi, Tanbih Al-Ghafilin, [Surabaya: Harisma], hal. 10).

Manfaat lain dari mengingat kematian adalah menghilangkan sifat hasud, menjernihkan hati, menghapus dosa-dosa, menjauhkan kesusahan, dan mengendalikan diri dari perbuatan hura-hura serta mencari kegembiraan semata. Bahkan, mengingat kematian hingga 20 kali dalam sehari semalam akan mewarisi kematian husnul khatimah dan dibangkitkan bersama para syuhada pada hari Kiamat. Demikian sebagaimana yang diriwayatkan oleh Siti ‘Aisyah radliyallahu ‘anha. Wallahu ‘alam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*