MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 22 Juni 2026

HABAIB BANI ALAWI AHLI WARA' TIDAK SUKA MENDATANGI PEMIMPIN



Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْأُمَرَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْعُلَمَاءَ وَيَمْقُتُ الْعُلَمَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْأُمَرَاءَ لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْأُمَرَاءَ رَغِبُوْا فِي الدُّنْيَا وَإِذَا خَالَطَهُمُ الْأُمَرَاءَ رَغِبُوْا فِي الْآخِرَةِ

“Sungguh Allah mencintai penguasa (pemerintah) yang mendatangi ulama. Dan (Allah) membenci ulama yang mendatangi penguasa, karena ulama ketika dekat dengan penguasa akan senang pada dunia, namun jika penguasa yang mendekati ulama maka mereka akan senang pada akhirat.” (HR. Ad-Dailami).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, 

إِذَا رَأيْتَ العالِمَ يُخالِطُ السُّلْطانَ مُخالطَةً كَثِيرَةً فاعْلَمْ أنَّهُ لِصٌّ

“Jika kamu melihat orang alim berbaur dengan penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri.” (HR. Abu Hurairah).

Dari beberapa hadits ini, Sayyid Muhammad Murtadha Az-Zabidi dalam salah satu karyanya memberikan alasan kenapa para ulama akan kehilangan otoritasnya ketika sudah berbaur dengan pemerintah. Menurutnya, karena beberapa orang dari mereka akan melakukan kebohongan, kemunafikan, mencari muka dan ingin dipuji hanya untuk mendapatkan pangkat dan harta yang lebih banyak, padahal semua ini merupakan penyebab hancurnya agama seseorang. Karena itu, menurut Sayyid Murtadha, para ulama seharusnya mengambil jarak dengan pemerintah agar bisa selamat dari beberapa perbuatan hina, agar otoritasnya tidak hilang. (Sayyid Murtadha, Ithafussadah Al-Mutaqin bi Syarhi Ihya Ulumiddin, Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt, juz I, hal. 638).

Demikian halnya penjelasan dalam kitab bahwa ternyata bani alawi (habaib) tidak suka mendatangi pemimpin,

اشتهر العلويون بالورع الشديد، ولمع في ذلك قصص كثيرة أولاً، فما حدث عند انتقالهم من بلدتهم بيت جبر إلى تريم، فلقد كانوا ينقلون التراب الذي يستعملونه لبيوتهم من بيت جبر إلى تريم، حتى لا يبنوا بيوتهم إلا من تراب حلال يملكونه.

ومن ورعهم: أنهم كانوا لا يدخلون بيوت الأمراء والسلاطين، ولا يأكلون من طعامهم وذلك خوفاً أن يكون من مظلمة، ويؤكد ذلك كلام الحبيب عبدالله بن حسين بن طاهر (ت ١٢٧٧هـ) الذي يقول: إنه لا يجوز دخول دار الظلمة والفسقة، ولا حضور المواضع التي يشاهد فيها المنكر مع عدم القدرة على تغييره.(١)

وتروى في ذلك قصص كثيرة منها: ما رواه الفقيه عبدالله بن عمر بامخرمة، وكان شاهد عيان، فقال: إن السلطان بدر بن عبدالله بن عمر الكثيري الذي تولى السلطنة سنة ١٠٥٨هـ ذهب قاصداً قرية حريضة لزيارة الحبيب عمر بن عبدالرحمن العطاس، وأرسل له رسولاً يستأذنه في الدخول إلى بلده المذكور، وكان مع السلطان جند عظيم، فأشار على السلطان بإبقائه في مكانه، وأنه سيأتيه، لأنه أحق بذلك، وعمل الحبيب قهوته، وأخذ جمرته، فقيل له الخادم: إن النار توجد عند السلطان، فقال الحبيب: نحن لا نستعمل نار السلطان أبداً، وقال السلطان: يا سبحان الله! تتحرجون حتى عن قهوتنا ونارنا.

وذكر الأستاذ ابن هاشم: "أن هذا السلطان كان عظيم القدر، سمت الأخلاق، له مكانة رفيعة أكسبها بحلمه وأخلاقه الفاضلة، وكان يقصد أعلام الفتوى والولاية يزورهم ويستشيرهم ويكرمهم، ويتحمل ما يبدر منهم من كلمة عتب أو نصيحة قاسية".(٢)

___________

(١) مجموع كلام الحبيب عبدالله بن حسين بن طاهر صفحة ١١٤.

(٢) محمد بن هاشم تاريخ الدولة الكثيرية بتريم للدراسات والنشر صفحة ١٠١-١٠٢.

Para Alawiyyin terkenal dengan sikap wara’ yang sangat tinggi. Banyak kisah yang menonjol dalam hal ini. Pertama, apa yang terjadi ketika mereka pindah dari kampung mereka Bait Jabir ke Tarim. Mereka memindahkan tanah yang dipakai untuk rumah-rumah mereka dari Bait Jabir ke Tarim, agar mereka tidak membangun rumah kecuali dari tanah halal yang mereka miliki sendiri.

Di antara sikap wara’ mereka: mereka tidak masuk ke rumah para amir dan sultan, serta tidak makan dari makanan mereka. Hal itu karena takut kalau makanan itu berasal dari kezaliman. Hal itu dikuatkan oleh perkataan Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir, wafat 1277 H, yang berkata: Sesungguhnya tidak boleh masuk ke rumah orang zalim dan fasik, serta tidak menghadiri tempat-tempat yang terlihat kemungkaran di dalamnya tanpa adanya kemampuan untuk mengubahnya. (1)

Banyak kisah yang diriwayatkan tentang hal itu, di antaranya: apa yang diriwayatkan Al-Faqih Abdullah bin Umar Bamakhromah, dan beliau adalah saksi mata. Beliau berkata: Sesungguhnya Sultan Badr bin Abdullah bin Umar Al-Katsiri yang menjabat sebagai sultan tahun 1058 H, pergi menuju desa Haridhah untuk menziarahi Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas. Ia mengirim utusan untuk meminta izin masuk ke negeri tersebut. Bersama sultan ada pasukan besar. Maka Al-Habib memberi isyarat kepada sultan agar tetap di tempatnya, dan beliau sendiri yang akan mendatanginya, karena sultan lebih berhak untuk didatangi. Al-Habib membuat kopinya dan mengambil bara apinya. Lalu pelayan berkata kepadanya: Api ada di tempat sultan. Maka Al-Habib berkata: Kami tidak pernah memakai api milik sultan sama sekali. Sultan pun berkata: Maha Suci Allah! Kalian sampai bersikap hati-hati seperti itu, bahkan terhadap kopi dan api kami.

Ustadz Ibnu Hasyim menyebutkan: “Sultan ini adalah orang yang agung kedudukannya, mulia akhlaknya, memiliki kedudukan tinggi yang ia peroleh karena sifat lembut dan akhlaknya yang mulia. Ia mendatangi tokoh-tokoh fatwa dan kewalian, menziarahi mereka, meminta nasihat mereka, memuliakan mereka, dan bersabar terhadap ucapan celaan atau nasihat keras yang keluar dari mereka.” (2). (Istizadah fi Akhbar As-Sadah, Al-Habib Ali bin Muhsin Assegaf, juz 1 hal.187)

_________

1. Majmu’ Kalam Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir hal 114.  

2. Muhammad bin Hasyim, Tarikh Ad-Daulah Al-Katsiriyyah bi Tarim li Ad-Dirasat wa An-Nasyr hal 101-102.

وجاء السلطان بدر بوطويرق مؤسس الدولة الكثيرية الأولى إلى تريم، كما ذكره الأستاذ بن هاشم في تاريخ الدولة الكثيرية، ونوى زيارة الولي الصالح السيد أحمد بن علوي باحجيب (المتوفى سنة ٩٧٣هـ) فقال لجماعته: مرادنا نزور السيد الشريف أحمد ولا نزعجه أو نكدر عليه، وذلك لما علمه من السيد أحمد يستوحش من أهل الدنيا، فلما أخبروا السيد أحمد بقدوم السلطان قال: لا حول ولا قوة إلا بالله! وأيش لنا حاجة بمجيئه؟ وقال: نحن نخرج إليه، ثم أخذ ملحفته وغطى بها جسده ويديه، ثم خرج لمقابلة السلطان فلما وصل استلم السلطان يده وبقي واقفاً، فقال له السيد: الله الله في العدل، فقد كان والدك طيباً مع الناس، وأنت الله الله فيهم، فقال السلطان: قد جئنا بشيء من الذهب والفضة باسم الفقراء تفرقونه على من شئتم من جماعتكم، فقال السيد: لا حاجة لذلك، وأنتم عليكم مصاريف كبيرة، فقال السلطان: اقبلوا منا شيئاً من البن والعود، فقال السيد: عندنا البن والعود ولا نحتاج لشيء منهما، ثم استودع منه، ولما رجع السلطان بدر بوطويرق قال لجماعته: الحمد لله الذي جعل في ولايتي مثل هذا السيد

Sultan Badr Buthairiq, pendiri Negara Katsiri pertama, datang ke Tarim, sebagaimana disebutkan Ustadz Ibnu Hasyim dalam Tarikh Ad-Daulah Al-Katsiriyyah. Ia berniat menziarahi wali saleh Sayyid Ahmad bin Alawi Bahajjib, wafat tahun 973 H. Lalu ia berkata kepada rombongannya: Maksud kami menziarahi Sayyid Asy-Syarif Ahmad, dan kami tidak ingin mengganggunya atau membuatnya susah. Hal itu karena ia tahu bahwa Sayyid Ahmad merasa tidak nyaman dengan orang-orang dunia. 

Ketika mereka memberitahu Sayyid Ahmad tentang kedatangan sultan, beliau berkata: Laa haula wa laa quwwata illa billah! Apa urusan kami dengan kedatangannya? Lalu beliau berkata: Kita keluar menemuinya. Kemudian beliau mengambil selendangnya dan menutupi tubuh serta kedua tangannya, lalu keluar untuk menemui sultan. Ketika sampai, sultan menjabat tangannya dan tetap berdiri. Maka Sayyid berkata kepadanya: Allah, Allah dalam berbuat adil. Sungguh ayahmu baik terhadap manusia, maka engkau, Allah, Allah terhadap mereka. 

Sultan berkata: Kami datang membawa sedikit emas dan perak atas nama fakir miskin, kalian bagikan kepada siapa saja yang kalian kehendaki dari kelompok kalian. Sayyid berkata: Tidak perlu. Kalian memiliki pengeluaran besar. Sultan berkata: Terimalah dari kami sedikit kopi dan gaharu. Sayyid berkata: Kami punya kopi dan gaharu, dan kami tidak butuh sedikit pun dari keduanya. Lalu beliau berpamitan darinya. 

Ketika Sultan Badr Buthairiq kembali, ia berkata kepada rombongannya: Segala puji bagi Allah yang menjadikan di wilayahku orang seperti Sayyid ini. (Istizadah fi Akhbar As-Sadah, Al-Habib Ali bin Muhsin Assegaf, juz 1 hal.187-188). Wallahu a’lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar