Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda,
أَبْغَضُ الْعِبَادِ إِلَى اللَّهِ مَنْ كَانَ ثَوْبَاهُ خَيْرًا مِنْ عَمَلِهِ ، أَنْ تَكُونَ ثِيَابُهُ ثِــيَابَ الأَنْـبِـــيَاءِ وَعَمَلُهُ عَمَلَ الْجَبَّارِينَ. (رواه الديلـمي عن عائشة)
"Hamba yang paling dibenci oleh Allah adalah, orang yang kedua pakaiannya lebih baik daripada amal perbuatannya yaitu, pakaiannya ibarat pakaian para nabi tetapi amal perbuatannya seperti perbuatan orang-orang angkara murka." (HR. Ad-Dailami dari Aisyah rah.)
Berpakaian ala ulama (seperti gamis, sorban, atau peci putih) secara umum diperbolehkan dan bahkan bernilai ibadah karena termasuk menutup aurat dan mengikuti sunnah. Namun, menurut pandangan para ulama, hukumnya menjadi makruh atau haram jika pakaian tersebut dimaksudkan untuk menipu orang lain agar dianggap sebagai orang alim (ahli ilmu) padahal orang awam yang tidak alim.
Cara berpakaian tentu bukan hal yang bisa dianggap remeh, apalagi jika dapat menimbulkan kesimpangsiuran orang lain dan berpotensi memunculkan ghurur atau menyebabkan tertipunya orang yang melihat. Misalkan pesulap, dukun atau manusia jadi-jadian (bergaya ulama) yang notabene tidak kompeten di bidang agama mengenakan jubah dan sorban yang merupakan identitas keulamaan, lalu mereka berfatwa atau berbicara tentang agama, maka ini sangat membahayakan umat.
Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili Asy-Syafi’i An-Naqsabandy menjelaskan masalah tersebut dalam kitab Tanwirul Qulub hal.99,
ومن البدع توسيع الثياب والأكمام لكنه مكروه لا حرام إلا ما صار شعارا للعلماء فيندب لهم ليعرفوا ويحرم على غيرهم التشبه بهم في ذلك لئلا يغتر بهم فيستفتوا فيفتوا بغير علم
"Diantara beberapa perbuatan bid'ah itu adalah melebarkan baju dan lengan baju, tetapi ini hukumnya makruh, tidak haram, kecuali baju itu telah menjadi syiar atau ciri khas ulama, maka hal ini dianjurkan agar keulamaannya diketahui. Dan haram bagi selain ulama untuk berpakaian menyerupai (ulama), agar tidak terjadi penipuan. Sehingga kemudian mereka (yang bukan ulama) memberikan fatwa tanpa ilmu." (Tanwirul Qulub, Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili Asy-Syafi’i An-NaqsabandI, hal.99).
Demikian halnya berpakaian mengikuti pakaian ala habaib seperti sorban, imamah dan baju gamis luar yang biasa dipakainya. Maka terdepat keterangan terkait pakaian kebiasaan mereka,
وذكر ابن عبيدالله أن السيد محمد بن علوي بن أحمد بن الفقيه المقدم اشتهر بصاحب العمائم بعد أن احترقت عليه عدة عمائم بسبب الاستغراق في المطالعة بجوار السراج إلا أن ذلك لا يؤكد كما استنتج ابن عبيدالله الاستمرار في لبس العمائم لأن صاحب العمائم لم يكن يلبسها بحضرموت. وإنما كان بمقدشوة من أرض الصومال حيث كان هاجر إليها لطلب لعلامة العلم على عبدالصمد الشيخ محمد بن الجوهي“".
قال ابن عبيدالله وفي مناقب سيدنا الحسن بن عبدالله الحداد المسمى المواهب والمنن لحفيده العلامة أحمد علوي بن أحمد ابن الحسن ما نصه: (ولم يلبس بعد الحج إلا الخوذة والبشت والكوفية البيضاء المخرمة والعمامة للجمعة والزيارة والأوابين في البلد وسروال وقميص من البفْت وفوقه أيضاً بفت وكان حجه في سئة ١/5 ١اه.
Ibnu Ubaidillah menyebutkan bahwa Sayyid Muhammad bin Alawi bin Ahmad bin Al-Faqih Al-Muqaddam terkenal dengan julukan “Pemilik Serban” setelah beberapa serbannya terbakar karena beliau terlalu tenggelam dalam membaca di dekat lampu minyak. Namun hal itu tidak memastikan, sebagaimana disimpulkan Ibnu Ubaidillah, kebiasaan beliau terus-menerus memakai serban. Karena “Pemilik Serban” tidak memakainya di Hadhramaut. Beliau justru memakainya di Mogadishu, tanah Somalia, tempat beliau hijrah untuk menuntut ilmu kepada Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Al-Jauhi.
Ibnu Ubaidillah berkata: Dan dalam Manaqib Sayyidina Al-Hasan bin Abdullah Al-Haddad yang berjudul Al-Mawahib wa Al-Minan karya cucunya Al-‘Allamah Ahmad Alawi bin Ahmad bin Al-Hasan disebutkan teks berikut, “Dan beliau tidak memakai setelah haji kecuali khawdzah(1), bisyit(2), kufiah putih bermotif, dan serban untuk shalat Jumat, ziarah, serta shalat Awwabin di negeri. Juga celana dan baju dari kain baft, dan di atasnya juga kain baft(3). Haji beliau pada tahun 1151 H.”_
____
(1). Al-Khawdzah: Penutup kepala yang keras. Khawdzah dirancang untuk memberikan perlindungan kepala dari cedera di tempat kerja, konstruksi, atau saat berkendara.
(2) Al-Bisyit: Jubah longgar. Bisyit dan syal pria tradisional yang lebar dan terbuka yang dikenakan di atas baju.
(3) Baft: Kain katun yang ringan, tipis, dan berwarna putih. (Al-Istizadah fi Akhbar As-Sadah, Al-Habib Ali bin Muhsin Assegaf, juz 1 hal.208). Wallahu a'lam
Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin
*والله الموفق الى أقوم الطريق*

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar