MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Kamis, 25 Oktober 2018

EDISI KHUTBAH JUM'AT (Mewaspadai Bahaya di Tahun Politik)



*Khutbah Pertama*

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ  أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

*Jama'ah shalat Jum'at rahimakumullah,*

Pernahkah kita bertekad pada diri sendiri untuk menjadi warga negara yang baik? Jika belum, mari mulai hari ini kita niatkan harapan baik tersebut. Menjadi "warga negara yang baik" lebih dari sekadar menjadi "individu yang baik". Sebab, dengan menjadi warga negara, kita sesungguhnya tak hanya sedang memikirkan kepentingan diri sendiri melainkan juga kepentingan bersama. Dari sinilah, kita beranjak dari cuma menjadi makhluk individual, menjadi makhluk sosial.

Contoh penerapan menjadi warga negara yang baik bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari: di rumah, jalan raya, masjid, kantor, pasar, media sosial, dan lain sebagainya. Di jalan raya, misalnya, warga negara yang baik tidak akan menerobos lampu merah. Di dunia maya, warga negara yang baik tidak mudah mengumbar kata-kata kebencian atau kabar yang belum jelas kebenarannya. Di masjid, warga negara yang baik lebih suka membangun ukhuwah (persaudaraan) ketimbang memojokkan orang/golongan lain. Mengapa? Karena warga negara yang baik akan selalu memikirkan kepentingan yang luas daripada kepentingan diri sendiri atau kelompoknya sendiri.

Dalam kaidah fiqih disebutkan:

  المتعدّى افضل من القاصر

“Perbuatan yang mencakup kepentingan orang lain, lebih utama ketimbang yang terbatas untuk kepentingan sendiri.”

*Jama'ah shalat Jum'at rahimakumullah,*

Momen yang sarat dengan hiruk pikuk politik seperti sekarang ini adalah tepat bagi kita untuk menghidupkan kembali kesadaran untuk menjadi warga negara yang baik. Hal tersebut tidak lepas dari kenyataan bahwa politik kerapkali menjerumuskan sebagian orang ke dalam perbuatan tercela (akhlaq madzmûmah): permusuhan, adu domba, fitnah, dengki, riya', risywah (suap), bohong, dan lain sebagainya.

Islam bukan agama yang anti-politik. Bahkan, karena terkait dengan persoalan kepemimpinan, politik menjadi hal yang niscaya. Imam Al-Ghazali mengaitkan pentingnya pemimpin dengan kelestarian agama sebagai berikut:

المُلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya. Sesuatu yang tidak memiliki landasan pasti akan tumbang. Sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal akan tersia-siakan.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihyâ Ulumiddin, tt, Beirut: Darul Ma’rifah, Juz 1, h. 17)

Namun demikian, politik dalam Islam tak pernah menjadi tujuan akhir (ghâyah). Melainkan wasîlah, perantara menuju tercapainya tujuan sebuah negara, yakni kemaslahatan bersama. Negara tak hanya wajib memberi jaminan keamanan dan kebebasan bagi tiap orang untuk beribadah kepada Allah tapi juga mesti punya iktikad sungguh-sungguh menyejahterakan warganya serta menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Dengan bahasa lain, politik sesungguhnya merupakan sesuatu yang baik, atau paling tidak: netral. Hanya saja, ia nama baiknya sering ternoda karena tingkat sebagian elite politik yang tak mengindahkan etika yang digariskan syariat. Dari sinilah, bencana moral lantas meluas ke masyarakat akibat provokasi, mobilisasi, dan politisasi setiap lini oleh kalangan politisi. Masyarakat pun kerap tergiring ke arah tindakan-tindakan yang tak selaras dengan nilai-nilai Islam.

*Jama'ah shalat Jum'at rahimakumullah,*

Dalam konteks ini, paling tidak ada dua bahaya yang perlu diwaspadai saat musim pemilihan umum atau pergantian kekuasaan datang.

*Bahaya Pertama* adalah mengorbankan kepentingan bersama untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok secara terbatas.

Fanatisme dukungan yang diberikan kepada calon tertentu acapkali menyeret seseorang hanya berpikir pada lingkup yang sangat sempit. Pembelaan dilakukan secara mati-matian kepada calon yang didukung, sementara di sisi lain permusuhan dialamatkan secara berlebihan kepada lawan politiknya. Situasi inilah yang kadang membuat orang gelap mata untuk melakukan serangan-serangan secara verbal, baik di media sosial ataupun kehidupan sehari-hari, tak hanya kepada sang calon pemimpin tapi juga para pendukungnya. Caci maki, saling hujat, serta kata-kata kotor bertebaran di mana-mana, tanpa ingat bahwa sebelum terlibat dalam politik dukung-mendukung, mereka lebih dulu adalah saudara dalam satu rumah bernama “Indonesia”.

Fanatisme dukungan yang berlebihan membuat banyak orang lupa bahwa masing-masing mereka sedang mengorbankan persatuan dan perdamaian, untuk tujuan jangka pendek politik. Akhlak Islam yang amat menjunjung tinggi persatuan dan perdamaian pun ditinggalkan, demi pilihan politik yang bisa jadi benar bisa jadi salah. Padahal, kerukunan adalah kepentingan bersama, sementara urusan dukung-mendukung adalah soal aspirasi pribadi atau kelompok. Jangan sampai kita terperdaya, sehingga yang terakhir ini lebih prioritas dibanding yang pertama.

*Bahaya kedua* adalah bersikap tidak adil (objektif) kepada orang lain karena diliputi rasa benci. Kondisi ini lazimnya bermula dari tumbuhnya kebencian berlebihan kepada sesama. Penyakit hati satu ini merupakan dampak dari persepsi negatif kepada seseorang yang terus menumpuk. Opini buruk tentang seorang calon pemimpin yang diterima terus-menerus tanpa klarifikasi, bisa mengubah orang yang semula biasa-biasa saja menjadi amat membenci si calon tersebut. Kebencian yang terus dipupuk akan meningkat statusnya kepada permusuhan. Dimulai dari membenci, kemudian memusuhi. Calon pemimpin yang tak disukai dilihat dalam citra yang selalu negatif. Sebaliknya, calon pemimpin yang didukung dielu-elukan, nyaris tanpa kritik sama sekali.

Situasi semakin parah ketika kebencian meningkat levelnya dari membenci individu kepada membenci kelompok, dari membenci seorang calon pempin kepada membenci semua orang yang mendukungnya. Gontok-gontokkan pun menjadi kian ramai. Masing-masing pendukung menunggu atau mencari-cari kesalahan lawan politik untuk kemudian diserang habis-habisan, sementara kelemahan sang idola tak pernah disinggung—bahkan dicitrakan seolah-olah baik seratus persen.

Padahal, dalam Islam, tak ada manusia yang selalu jahat dan salah seperti setan, sebagaimana tak ada pula manusia yang selalu baik dan benar selayak malaikat. Sebagai manusia, politisi adalah orang-orang yang berpotensi keliru. Bahkan, untuk calon dengan gagasan cemerlang pun, tak ada jaminan pasti bahwa ia selalu mulus dalam melaksanakan program-programnya kelak. Mempunyai pilihan politik berdasarkan kriteria ideal adalah hak dan harus, tapi memutlakkan manusia-manusia politik itu sebagai “setan” yang mesti dibenci setengah mati adalah tak masuk di akal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

"Cintailah idolamu sewajarnya, karena boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR Tirmidzi)

Hadits tersebut memberi pesan bahwa kondisi manusia sejatinya sangat dinamis. Karena itu kita diperintahkan untuk berlaku sedang-sedang saja. Pilihan dukungan ditetapkan dengan kepala jernih, dan energi yang dikerahkan untuk mendukung pun mesti dilaksanakan dengan bijaksana. Dengan sikap politik yang proporsional seperti ini, kita bisa lebih tenang menghadapi persaingan politik, termasuk dengan saudara-sadara kita yang berpeda pilihan.

*Jama'ah shalat Jum'at rahimakumullah,*

Firman Allah ﷻ yang penting kita renungkan bersama dalam hal ini adalah ayat 8 Surat al-Maidah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Maa’idah: 8)

Kitab Tafsîr Jalâlain menjelaskan bahwa kata “kaum” dalam ayat tersebut adalah mengacu pada orang-orang kafir. Artinya, ayat tersebut melarang kaum mukmin gelap mata akibat kebencian sehingga berlaku tidak adil kepada kaum kafir. Secara sederhana bisa dianalogikan bahwa bila kepada orang kafir saja, Islam memerintahkan kita berbuat adil, apalagi kepada sesama umat Islam, dan apalagi sesama anak bangsa. Wallahu a’lam.

*Khutbah Kedua*

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Senin, 22 Oktober 2018

BENARKAH MEMBELA KALIMAH TAUHID, ATAU MEMBELA KEPENTINGAN?







Bukan saya anti pada kalimat Tauhid. Sebab setiap selesai shalat kami membaca La Ilaha Illa Allah dengan suara keras. Jika ada orang wafat kami kami antar ke pemakaman dengan La Ilaha Illa Allah. Malamnya kami Tahlili dengan La Ilaha Illa Allah. Dzikir Thariqah pun ratusan kali kami baca La Ilaha Illa Allah.

Tapi kami tidak pernah menggunakan kalimat Tauhid untuk politik, merebut kekuasaan dan mengganti negara dengan simbol Tauhid. Terlebih dari mereka menginjak-injak kalimat Tauhid.

Imam An-Nawawi berkata dalam Minhajut Thalibin:

ﻭاﻟﻔﻌﻞ اﻟﻤﻜﻔﺮ ﻣﺎ ﺗﻌﻤﺪﻩ اﺳﺘﻬﺰاء ﺻﺮﻳﺤﺎ ﺑﺎﻟﺪﻳﻦ ﺃﻭ ﺟﺤﻮﺩا ﻟﻪ ﻛﺈﻟﻘﺎء ﻣﺼﺤﻒ ﺑﻘﺎﺫﻭﺭﺓ

“Perbuatan yang dapatkan menyebabkan kufur adalah kesengajaan melakukan perbuatan tersebut dengan bentuk menghina secara terang-terangan dengan agama atau mengingkari terhadap agama, seperti melempar kotoran terhadap Al-Qur’an”

Kemudian diberi penjelasan lebih gamblang oleh Syekh Al-Qulyubi:

ﻭﺃﻟﺤﻖ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﻪ ﻭﺿﻊ ﺭﺟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻧﻮﺯﻉ ﻓﻴﻪ ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﺎﻟﻤﺼﺤﻒ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻗﺮﺁﻥ، ﻭﻣﺜﻠﻪ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻛﻞ ﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ ﺃﻭ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ اﺳﻢ ﻣﻌﻈﻢ، ﻗﺎﻝ ﺷﻴﺨﻨﺎ اﻟﺮﻣﻠﻲ ﻭﻻ ﺑﺪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻦ ﻗﺮﻳﻨﺔ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ اﻹﻫﺎﻧﺔ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ

“Sebagian ulama menyamakan bentuk meletakkan kaki di atas Al-Qur’an (namun) pendapat ini dibantah oleh ulama lain.
Yang dimaksud Mushaf adalah lembaran yang berisikan Al-Qur’an. Demikian halnya kitab hadits, ilmu agama atau sesuatu yang tertulis nama yang diagungkan. Guru kami (Ar-Ramli) berkata: “Untuk selain Qur’an harus ada bukti yang menunjukkan bentuk penghinaan, jika tidak maka tidak sampai kufur” (Hasyiyah Qulyubi 4/177)

Saya yakin di gambar-gambar yang saya sertakan tidak ada yang berniat melecehkan kalimat Tauhid, namun paling tidak berada di ambang yang amat sangat mengkhawatirkan.

Contoh kalimah tauhid yang seharusnya kita bela dan selamatkan dari TINDAK PENISTAAN oleh orang-orang bodoh atas nama agama demi KEPENTINGANNYA adalah kalimah tauhid di kaos, di topi, di bola, di bendera, di baju, di sepatu dan lainnya

Manusia mulia bukan karena jabatan, bukan karena harta, bukan karena wanita. Namun karena satu hal yaitu tauhid.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

"Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (QS. Al Munafiqun: 8).

Umar bin Khattab pun mengingatkan hal ini, beliau berkata:

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَهْمَا اِبْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

“Kita adalah bangsa yang dimuliakan dengan Islam, maka ketika kita mencari kemuliaan dengan selainnya maka Allah akan hinakan kita.”

Maraknya penggunaan simbol-simbol keagamaan sebagai sablon pakaian, atribut maupun aksesoris lainnya, disayangkan oleh sejumlah tokoh islam. Selain melanggar aturan syar'i, tindakan seperti itu juga menunjukkan sikap berlebih-lebihan dalam beragama yang pada dasarnya dilarang oleh agama.

Dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud dijelaskan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَه

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki kamar mandi, beliau meletakkan cincinnya.”

Hal itu untuk menjaga kagungan lafadz Allah yang terdapat dalam cincin tersebut. Bahkan saking hati-hatinya para ulama untuk menjaga keagungan nama Allah tersebut, penulis kitab fikih ternama: Nihayatul Muhtaj Ilaa Syarh al-Minhaj, Syihabuddin ar-Ramli (w. 1004 H) melarang bahkan mengharamkan membawa tulisan nama Allah ke dalam kamar mandi, bahkan jika nama Allah tersebut tertulis di mata uang sekalipun, apalagi sekedar kaos dan topi.

Lalu, bagi orang-orang yang menggunakan kaos atau topi yang bertuliskan kalimat tauhid, yakin mereka akan melepas atributnya sebelum masuk ke toilet? Yakin, saat di tempat umum mereka mau melepas kaosnya sebelum masuk toilet? Apalagi toilet mall.

Bayangkan kalau orang memakai kaos, topi, sepatu, atau lainnya bersablon tulisan kalimat tauhid seperti itu, apakah kemudian kalau dia ke kamar mandi untuk buang air juga sempat melepas atau meninggalkannya. Hal-hal seperti itu apakah sudah diperhitungkan benar-benar ketika membuatnya.

*Kalimat Tauhid Bukan sekedar Atribut*

Kalimat tauhid merupakan salah satu representasi dari Iman. Berdasarkan definisi yang dicetuskan oleh para ulama ahlus sunnah wal jamaah, iman adalah mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota

(الإيمان قول باللسان وتصديق بالقلب وعمل بالجوارح)

Dari definisi tersebut, tidak ada sama sekali penulisan asma Allah atau kalimat tauhid atribut dalam kaos atau topi menjadi bagian dari iman. Tentunya dari definisi iman tersebut, yang diinginkan adalah kita senantiasa memperbaharui iman kita dengan senantiasa menggunakan kalimat tauhid tersebut untuk berdzikir kepada Allah dengan lisan dan hati kita, juga memanifestasikannya dengan sikap dan perbuatan kita sehari-hari, bukan menyablonnya di kaos atau topi, atau malah menjualnya semurah barang dagangan.

Bisa menjamin, orang yang menggunakan atribut tauhid perilakunya mencerminkan unsur keimanan? atau justru sebaliknya, malah memalukan Islam?

Lalu, apa yang masih kalian banggakan dengan atribut kalimat tauhid?

Designnya?

Ah, designnya juga tidak kreatif, nyontek design benderanya HTI, kok! hehehe.....

Loh, bendera HTI kan bendera Rasul?

Yakin, bendera rasul, khat-nya pake khat tsuluts, seperti bendera HTI?

Bisa jadi, design khat di bendera rasul lebih bagus dari design khatnya benderanya HTI, bukan?

Lalu, benderanya HTI itu bendera Rasul, bukan sih? Wallahu A’lam.

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menjelaskan semoga bermanfaat. Aamiin

Rabu, 12 September 2018

SULAMUT TAUFIQ; CARA TAUBAT

Cara Taubat

Cara Taubat

Cara Taubat

Cara bertaubat pada Allah menurut kitab Sullamut Taufiq ada tiga tahap yaitu menyesali yang telah dilakukan, meninggalkan perbuatan dosa tersebut dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi. Apalagi kesalahan itu terkait hak sesama manusia, maka harus meminta maaf pada orangnya juga.

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Pengarang: Habib Abdullah bin Husin bin Thahir

Pasal: Cara Taubat

فَصْلٌ : في التَّوْبَةِ

تَجِبُ التَّوْبَةُ مِنَ الذُّنُوبِ [صَغِيرِها وكَبِيرِها] فَوْرًا على كُلِّ مُكَلَّفٍ، وهي: [1] النَّدَمُ، [2] والإقْلاعُ، [3] والعَزْمُ على أنْ لا يَعُودَ إلَيْها، و[لا يُشْتَرَطُ] الاسْتِغْفارُ [بِاللِّسانِ] ، وإنْ كانَ الذَّنْبُ تَرْكَ فَرْضٍ قَضاهُ، أو تَبِعَةً لِآدَمِيٍّ قَضاهُ أو اسْتَرْضاهُ.

Kewajiban bagi setiap orang mukalaf (muslim yang baligh) untuk segera bertaubat dari segala dosa kecil dan besar yaitu (dengan cara): menyesal, meninggalkan dosa, dan berniat untuk tidak mengulanginya. Tidak disyaratkan istighfar atau memohon ampun secara lisan. Apabila dosa itu berupa meninggalkan kewajiban maka harus diqadha (dilunasi) atau dosa hak sesama manusia maka ia harus melunasi atau meminta kerelaannya.

Penutup

خاتِمَةٌ

انْتَهَى ما قَدَّرَ اللهُ جَمْعَه، وأَرْجُو منه سُبْحانَهُ أنْ يُعِمَّ نَفْعَه، ويُكثِرَ في القُلُوبِ وَقْعَه، وأَطْلُبُ مِمَّنِ اطَّلعَ عليه مِنْ أُولِي المَعْرِفَةِ ورَأَى فيه خَطَأً أو زَلَلاً أنْ يُنَبِّهَ على ذٰلك، بِالرَّدِّ الصَّرِيحِ، لِيَحْذَرَ النّاسُ مِنَ اتِّباعِي على غَيْرِ الصَّوابِ، فَالحَقُّ أَحَقُّ أنْ يُتَّبَعَ، والإنْسانُ مَحَلُّ الخَطَأِ والنِّسْيانِ.

﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾، اللّٰهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوبِنا، ورَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدَنا مِنْ أَعْمالِنا، ﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ - آمِينَ.

Usai sudah apa yang telah ditakdirkan Allah terhimpun dan aku berharap dariNya Yang Maha Suci agar memberikannya manfaat secara merata dan memperbanyak kedudukannya dalam hati juga aku berharap ada seseorang yang rela menelaahnya dari kalangan cendekiawan dan apabila ternyata melihat kesalahan atau kekeliruan yang ada di dalamnya agar mengingatkan hal itu dengan pembenaran yang jelas, supaya orang lebih berhati-hati mengikuti perkataanku pada hal yang tidak benar karena kebenaran itu lebih berhak diikuti.

Sedangkan manusia adalah tempat kesalahan dan lupa. Wahai Allah swt ampunilah kami dan saudara kami yaitu orang-orang yang telah mendahului kami dengan membawa iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami sebagai kebencian terhadap orang-orang yang beriman.

Wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Allah swt ampunanMu yang paling luas dibanding dosa-dosa kami dan RahmatMu lah yang aku harapkan di sisi kami. Maha Suci Tuhanmu Ya Nabi Muhammad yang menguasai kemuliaan jauh dari orang banyak, juga kesejahteraan atas para Rasul dan segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh alam.[alkhoirot.org]

Biografi Pengarang Kitab Sullam Taufiq

ترجمة المؤلف عبدالله بن حسين بن طاهر باعلوي

عبدالله بن حسين بن طاهر باعلوي. (H 1191 - 1272 /M 1777 - 1855 )
ولد في مدينة تريم (حضر موت - اليمن) وتوفي في مسيلة آل شيخ (تريم - حضرموت).
عاش في اليمن، والحجاز.

تلقى معارفه في معاهد العلم والثقافة بمدينة تريم فأحرز بعض العلوم على يد علمائها ومشايخها، وتزود من العلوم العربية والفقهية أثناء مكوثه بالحجاز الذي امتد عدة أعوام، حتى أصبح شخصية علمية في زمانه، وكان لأخيه طاهر أثر كبير في تربيته وتأديبه واطلاعه على الكثير من العلوم.

عمل معلمًا ومرشدًا دينيًا وواعظًا فاجتمع له العديد من الطلاب والمريدين من شتى البقاع في مدينة حضرموت وغيرها.

كان في طليعة الزعماء ممن مهدوا للثورة الوطنية على مروجي الفوضى والفساد في مدينة حضرموت، وكان من المبادرين إلى حمل السلاح والدعوة إلى مبايعة أخيه طاهر على خلافة حضرموت.
Ia bernama Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi. Ia lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman pada 1777 M bertepatan dengan 1191 Hijriah dan wafat pada 1855 Masehi atau 1272 Hijriah. Ia hidup di Yaman dan Hijaz.

Ia belajar di sejumlah mahad ilmu di kota Tarim di bawah para ulama dan masyayikh di sana. Ia menambah keilmuannya di Hijaz selama beberapa tahun sampai menjadi ulama di zamannya. Saudaranya, Tohir, mempunyai pengaruh besar dalam mendidik berbagai macam ilmu.

Ia menjadi seorang pengajar, mursyid dan pendakwah sehingga memiliki banyak pelajar dan murid (tarekat) dari berbagai kawasan Hadramaut dan lainnya.

Syarah Sullamut Taufiq

شرح سلم التوفيق

مرقاة صعود التصديق في شرح (سلم التوفيق لمحمد بن عمر نووي الجاوي البنتني
شرح كتاب سلّم التوفيق إلى محبة الله على التحقيق للشيخ عبد الله باعلوي لعبد الله الهرري 

Ada dua kitab syarah sullamut taufiq yaitu:
- Mirqat Shu'ud Al-Tashdiq fi Syarhi Sullamit Taufiq karya Muhammad bin Umar Nawawi Al-Jawi Al-Bantani

- Syarah Kitab Sullamit Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq karya Abdullah Al-Harari.

SULAMUT TAUFIQ; NASEHAT HABIB ABDULLOH BIN ALWY AL-HADDAD

Maksiat (Dosa)

Maksiat (Dosa)
Istilah maksiat (dosa) mata, maksiat perut, zina tangan, dll hanyalah untuk untuk mempermudah pengajaran. Intinya adalah cukup bagi muslim mengetahui haramnya perkara-perkara ini agar dijauhi.

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Nama asal kitab dalam tulisan Arab: سُلَّمُ التَّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق مُخْتَصَرٌ فِيما يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ أنْ يَعْلَمَهُ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ وفُرُوعِهِ
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 H/-1777 M)

Nasihat dari Syaikh Abdullah bin Alawi Al-Haddad

فَصْلٌ : في نَصِيحَةٍ نَفِيسَةٍ مِنْ عالِمٍ جَلِيلٍ

وقالَ سَيِّدُنا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَلَوِيٍّ الحَدّادُ، رَضِيَ اللهُ عنه ونَفَعَنا بِهِ، في كِتابِهِ النَّصائحِ الدِّينِيَّةِ ما مَعْناهُ: "وهٰذه أوْصافٌ يَجِبُ أنْ يَتَحَلَّى بِها ويَتَّصِفَ بِها كُلُّ مُؤْمِنٍ"اهـ، وهي قَوْلُهُ قَبْلَ هٰذا بَقَلِيلٍ: "أنْ يَكُونَ خاشِعًا، مُتَواضِعًا، خائفًا، وَجِلًا، مُشْفِقًا، مِنْ خَشْيَةِ اللهِ تَعالَى، زاهِدًا في الدُّنيا، قانِعًا بِاليَسِيرِ منها، مُنْفِقًا لِلْفاضِلِ عَنْ حاجَتِهِ مِمّا في يَدِهِ، ناصِحًا لِعِبادِ اللهِ تَعالَى، مُشْفِقًا عليهم، رَحِيمًا بِهِم، آمِرًا بِالمَعْرُوفِ، ناهِيًا عَنِ المُنْكَرِ، مُسارِعًا في الخَيْراتِ، مُلازِمًا لِلْعِباداتِ، دالًّا على الخَيْرِ، داعِيًا إلى الهُدَى، ذا سَمْتٍ وتُؤَدَةٍ، ووَقارٍ وسَكِينَةٍ، حَسَنَ الأَخْلاقِ، واسِعَ الصَّدْرِ، لَيِّنَ الجانِبِ، مَخْفُوضَ الجَناحِ لِلْمُؤْمِنِينَ، لا مُتَكَبِّرًا ولا مُتَجَبِّرًا، ولا طامِعًا في النّاسِ، ولا حَرِيصًا على الدُّنْيا، ولا مُؤْثِرًا لَها على الآخِرَةِ، ولا جامِعًا لِلْمالِ، ولا مانِعًا له عَنْ حَقِّهِ، ولا فَظًّا ولا غَلِيظًا، ولا مُمارِيًا ولا مُجادِلًا ولا مُخاصِمًا، ولا قاسِيًا، ولا سَيِّئَ الأَخْلاقِ، ولا ضَيِّقَ الصَّدْرِ، ولا مُداهِنًا، ولا مُخادِعًا، ولا غاشًّا، ولا مُقَدِّمًا لِلْأَغْنِياءِ على الفُقَراءِ، ولا مُتَرَدِّدًا على السَّلاطِينِ، ولا ساكِتًا عَنِ الإنْكارِ عليهم مَعَ القُدْرَةِ، ولا مُحِبًّا لِلْجاهِ والمالِ والوِلاياتِ، بَلْ يَكُونُ كارِهًا لِذٰلك كُلِّهِ، لا يَدْخُلُ في شَيْءٍ منه، ولا يُلابِسُهُ، إلَّا مِنْ حاجَةٍ أو ضَرُورَةٍ" انْتَهَى كَلامُهُ رَضِيَ اللهُ عنه ونَفَعَنا بِهِ.

Junjungan kami Abdullah bin Alawi Al-Hadad ra, berpendapat dalam kitabnya yang bctjudul “Nashaaihud Diniyyah ”, bahwa semua itu adalah beberapa sifat yang wajib menghiasi setiap mukmin. Inilah sedikit pendapat darinya agar orang mukmin sebagai orang yang khusyu' dan tawadu' (rendah hati), takut dan merasa khawatir karena Allah swl, berzuhud di dunia, qana'ah dengan hal yang sedikit, dan berinfaq dengan kelebihan hartanya, memberi nasehat kepada hamba Allah swt. dengan belas kasih kepada mereka, memerintahkan dengan kebaikan dan mencegah kemungkaran. 

Konsisten terhadap beberapa ibadah yang memberi petunjuk pada kebaikan serta mengajak kepada petunjuk yang bersifat diam, santai, belas kasih, dan bersifat tenang yang baik budi, bijaksana, merendah kepada orang mukmin, tidak sombong, tidak bertindak lalim, tidak loba terhadap manusia, tidak berambisi terhadap dunia, dan tidak mendahulukan urusan dunia, mengakhirkan urusan akhirat, tidak suka 
mengumpulkan harta, juga tidak menolak haknya harta, tidak kurang ajar, sombong kepada orang mukmin, dan tidak bicara kasar, tidak suka membantah, bercekcok, membantah kebenaran, dan tidak berhati keras, tidak buruk budi, tidak berpandangan sempit, tidak menjilat (mengambil muka), menipu memalsukan dan tidak mendahulukan orang kaya dari orang fakir, tidak terus-menerus mendatangi para Raja, tidak diam karena tidak setuju, kepada mereka padahal ia mampu, juga tidak suka kemegahan, harta, kekuasaan, akan tetapi bagi orang mukmin adalah membencinya, tidaklah ia menyandangnya melainkan adanya hajat atau karena darurat. Selesai sudah pendapat Sayid Abdullah bin Alawi Al-Haddad ra. [alkhoirot.org] 

Bab tentang Maksiat

بابُ بَيانِ المَعاصِي

[تَنْبِيهاتٌ]

[(1) يُرادُ مِنْ إضافَةِ المَعاصِي إلى جَوارِحِ البَدَنِ وأَعْضائِهِ، كَاليَدِ والبَطْنِ، في هٰذا البابِ، مُجَرَّدُ التَّقْسِيمِ لِتَسْهِيلِ التَّعْلِيمِ، وإلّا فَيَكْفِي أنْ يَعْرِفَ المُسْلِمُ تَحْرِيمَ هٰذه الأُمُورِ لِيَجْتَنِبَها، ويَخافَ منها، ولو لم يَعْرِفْ ما تُضافُ إليه مِنَ الجَوارِحِ والأَعْضاءِ.

(2) تَكُونُ الإضافَةُ في اللُّغَةِ لِأَدْنَى مُلابَسَةٍ أو عَلاقَةٍ، ولِذٰلك فَما يَذْكُرُهُ هٰذا البابُ مِنْ إضافَةِ المَعاصِي إلى بَعْضِ الجَوارِحِ قَدْ يَكُونُ سَبَبُهُ حَقِيقِيًّا جَلِيًّا، كَإضافَةِ مَعْصِيَةِ نَظَرِ العَوْراتِ إلى العَيْنِ، وقَدْ يَكُونُ مَجازِيًّا خَفِيًّا، كَإضافَةِ مَعْصِيَةِ أَخْذِ الرِّبا والانْتِفاعِ بِهِ إلى البَطْنِ.

(3) المَعْصِيَةُ قَدْ تَكُونُ كُفْرًا مُخْرِجًا مِنَ الإسْلامِ، وقَدْ تَكُونُ دُونَ ذٰلك، والمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعالَى بَيَّنَ المَعاصِي المُخْرِجَةَ مِنَ الإسْلامِ مِنْ أَقْوالٍ وأَفْعالٍ واعْتِقاداتٍ في أَوَّلِ هٰذا الكِتابِ، لٰكِنَّهُ يَذْكُرُ أَيْضًا هُنا في تَقْسِيمِهِ المَعاصِي على الجَوارِحِ ما هُوَ كُفْرٌ منها مَعَ ما هو دُونَهُ، دُونَ أنْ يَلْتَزِمَ فَرْزَ الكُفْرِ عَمّا دُونَهُ، ولِذٰلك نَبَّهْتُ بَيْنَ مَعْقُوفَيْنِ على ما كانَ كُفْرًا منها؛ ومِنَ المَعْلُومِ أنَّ أَكْبَرَ الكَبائرِ وأَعْظَمَ المَعاصِي وأَشْنَعَ الذُّنُوبِ وأفْظَعَ الجَرائِمِ، شَرْعًا على الحَقِيقَةِ والإطْلاقِ، كُلُّ ما كانَ كُفْرًا، لأنَّهُ يُخْرِجُ مِنْ دِينِ الإسْلامِ.

(4) المَعْصِيَةُ قَدْ تَكُونُ كَبِيرَةً، وقَدْ تَكُونُ صَغِيرَةً، والمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعالَى لم يَلْتَزِمْ تَمْيِيزَ الكَبائرِ مِنَ الصَّغائِرِ، واكْتفَى بِسَرْدِها بِلا فَرْزٍ، لِأَنَّ كُلًّا منها يَجِبُ اجْتِنابُهُ دائمًا والابْتِعادُ عنه مُطْلَقًا، ولِأَنَّ العاقِلَ مَتَى اسْتَحْضَرَ أنَّ المَعْصِيَةَ هِيَ مُخالَفَةٌ لِنَهْيِ الخالِقِ العَظِيمِ رَآها كَبِيرَةً، وإنْ كانَتْ صَغِيرَةً بِاعْتِبارِ عَدَمِ فُسُوقِ مُرْتَكِبِها، وغَيْرِ ذلِكَ مِنَ الاعْتِباراتِ.]

1. Yang dimaksud dengan pembagian maksiat anggota badan seperti tangan dan perut di bab ini hanyalah untuk mempermudah pengajaran. Sebenarnya cukup bagi muslim mengetahui haramnya perkara-perkara ini agar dijauhi dan ditakuti walaupun dia tidak mengetahui apa itu dosa anggota badan. 

2. Menyandarkan maksiat pada sebagian anggota badan terkadang sebabnya bersifat hakiki dan jelas. Seperti menyandarkan maksiat melihat aurat ke mata. Terkadang bersifat majazi yang samar seperti menyandarkan maksiat mengambil dan memanfaatkan harta riba pada perut.

3. Maksiat terkadang menyebabkan kufur dan mengeluarkan dari Islam. Terkadang tidak sampai tingkat itu. Pengarang menjelaskan maksiat yang mengeluarkan dari Islam berupa perkataan, perbuatan, dan aqidah (keyakinan) di awal kitab ini. Namun ia juga menyebutkan di sini pembagian maksiat pada beberapa anggota badan ada yang kufur ada yang tidak. Seperti diketahui, dosa terbesar dan maksiat tertinggi secara syariah adalah segala dosa yang kufur karena ia mengeluarkan seseorang dari agama Islam.

4. Maksiat itu terkadang besar, terkadang kecil. Pengarang tidak menetapkan perbedaan antara dosa besar dan kecil. Karena kedua jenis dosa itu wajib dijauhi selamanya secara mutlak. Juga, karena manusia berakal sehat apabila mengetahui bahwa maksiat itu berlawanan dengan larangan Allah, maka ia menganggapnya sebagai dosa besar walaupun ia dosa kecil dari segi tidak fasiknya pelakunya. 

SULAMUT TAUFIQ; CARA MENCINTAI ALLOH

Cara Mencintai Allah

Cara Mencintai Allah

Cara mencintai Allah meliputi beberapa hal, antara lain, yaitu dengan cara menempatkan hati untuk beribadah kepada-Nya saja, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Nama asal kitab dalam tulisan Arab: سُلَّمُ التَّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق مُخْتَصَرٌ فِيما يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ أنْ يَعْلَمَهُ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ وفُرُوعِهِ
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 H/-1777 M)

KEWAJIBAN HATI

فَصْلٌ : في واجِباتِ القَلْبِ

مِنَ الواجِباتِ القَلْبِيَّةِ: الإيمانُ بِاللهِ [كما تَقَدَّمَ بَيانُهُ في بابِ أُصُولِ الدِّينِ]، و[الإيمانُ] بِما جاءَ عَنِ اللهِ [كما تَقَدَّمَ بَيانُهُ في بابِ أُصُولِ الدِّينِ]، والإيمانُ بِرَسُولِ اللهِ [كما تَقَدَّمَ بَيانُهُ في بابِ أُصُولِ الدِّينِ]، و[الإيمانُ] بِما جاءَ عَنْ رَسُولِ اللهِ [كما تَقَدَّمَ بَيانُهُ في بابِ أُصُولِ الدِّينِ]، والتَّصْدِيقُ [وهو مَعْنَى الإيمانِ] ، واليَقِينُ [وهو عَدَمُ الشَّكِّ فِيما يَجِبُ الإيمانُ بِهِ] ، والإخْلاصُ وهو العَمَلُ [بِالطّاعَةِ] للهِ وَحْدَهُ، والنَّدَمُ على المَعاصِي [لَكُوْنِها مُخالَفَةً لِأَمْرِ الخالِقِ]،

والتَّوَكُّلُ [وهو الاعْتِمادُ] على اللهِ [في أُمُورِ الرِّزْقِ والسَّلامَةِ مِنَ الضَّرَرِ وغيرِ ذٰلك، وعَدَمُ الرُّكُونِ إلى الأَسْبابِ مَعَ الأَخْذِ بِها]، والمُراقَبَةُ للهِ [وهي أنْ يُدِيمَ اسْتِحْضارَ أنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عليه يَعْلَمُ بِهِ ويَراهُ ويَسْمَعُهُ، لِيَدُومَ خَوْفُهُ مِنْ مُخالَفَةِ أَمْرِهِ] ، والرِّضا عَنِ اللهِ [وهو التَّسْلِيمُ له تَعالَى وتَرْكُ الاعْتِراضِ عليه سُبْحانَهُ]، وحُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ [بِأَنْ يَتَذَكَّرَ ما عَوَّدَهُ عليه مِنَ الإحْسانِ فَيَرْجُوَ مِثْلَهُ في المُسْتَقْبَلِ]، و[حُسْنُ الظَّنِّ] بِخَلْقِ اللهِ [بِألّا يَظُنَّ بِهِمْ سُوءًا بِغَيْرِ قَرِينَةٍ كافِيَةٍ شَرْعًا]، وتَعْظِيمُ شَعائرِ اللهِ [أي كُلِّ ما جُعِلَ عَلَمًا على طاعَةٍ كَالصَّلاةِ، والمُرادُ تَعْظِيمُ كُلِّ ما عَظَّمَهُ الشَّرْعُ]، والشُّكْرُ على نِعَمِ اللهِ [أي عَدَمُ اسْتِعْمالِها في مَعْصِيَةٍ]، والصَّبْرُ على أداءِ ما أَوْجَبَ اللهُ، والصَّبْرُ عَمّا حَرَّمَ اللهُ [أي على البُعْدِ عَنِ الحَرامِ]، و[الصَّبْرُ] على ما ابْتَلاكَ اللهُ به [بِألّا يَدْفَعَكَ بَلاءٌ إلى مَعْصِيَةٍ]، والثِّقَةُ بِالرِّزْقِ [أي بِأنَّ ما كُتِبَ لَكَ أنْ تَنْتَفِعَ بِهِ لَنْ يَفُوتَكَ]، واتِّهامُ النَّفْسِ [فِيما تَأمُرُهُ بِهِ خَشْيَةَ أنْ تَكُونَ تُخادِعُ لِلتَّوَصُّلِ إلى مُحَرَّمٍ]، وعَدَمُ الرِّضا عنها [أي عَنِ النَّفْسِ، بِتَذَكُّرِ تَقْصِيرِها]، وبُغْضُ الشَّيْطانِ [بِالمَيْلِ إلى مُخالَفَتِهِ]، وبُغْضُ الدُّنْيا [بِعَدَمِ الالْتِفاتِ إلى ما يُلهِي منها عَنْ طاعَةِ اللهِ]،
وبُغْضُ أَهْلِ المَعاصِي [بِالمَيْلِ عنهم، والنُّفُورِ مِنْ مَعاصِيهِمْ، ورَفْضِ الاقْتِداءِ بِهِمْ فيها]،

ومَحبَّةُ اللهِ [تَعالَى بِتَوْطِينِ القَلْبِ على عِبادَتِهِ وَحْدَهُ واتِّباعِ أَوامِرِهِ واجْتِنابِ نَواهِيهِ]، و[مَحَبَّةُ] كَلامِهِ [تَعالَى، بِمُراعاةِ تَعْظِيمِ آياتِهِ والتَّسْلِيمِ له والعَمَلِ بِهِ]،
و[مَحَبَّةُ] رَسُولِهِ [تَعالَى، صَلّى اللهُ عليه وسَلَّمَ، بِالإيمانِ به وتَوْقِيرِهِ والمَيْلِ إلى كَمالِ اتِّباعِهِ، [ومَحَبَّةُ سائِرِ أَنْبِيائِهِ تَعالَى، بالإيمانِ بِهِم وتَعْظِيمِهِمْ]، و[مَحَبَّةُ] الصَّحابَةِ [بِاسْتِحْضارِ فَضْلِهِمْ، بِما لَهُمْ مِنْ سابِقَةٍ في الإسْلامِ، وشَرَفٍ بصُحْبَتِهِمْ لِلنَّبِيِّ، ونُصْرَتِهِمْ لَهُ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وتَبْلِيغِهِمْ لِلدِّينِ]، و[محبَّةُ] الآلِ [بِمُراعاتِهِمْ إكْرامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ، فَهُمْ أَهْلُهُ وذَوُو قَرابَتِهِ]،
و[مَحَبَّةُ المُهاجِرِينَ و]الأَنْصارِ [الَّذِينَ نَصَرُوا الدِّينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ المُكَرَّمَةِ والمَدِينَةِ المَنَوَّرَةِ، ولا سِيَّما السّابِقينَ الأَوَّلِينَ منهم]، و[مَحَبَّةُ] الصّالِحِينَ [بِتَعْظِيمِهِمْ والمَيْلِ إلَيْهِمْ وسُلُوكِ طَرِيقِهِمْ].

UNSUR-UNSUR IMAN

Termasuk kewajiban-kewajiban hati adalah :
1. Iman kepada Allah .
2. Iman kepada apa yang datang dari Allah.
3. Iman kepada utusan Allah
4. Iman kepada apa yang datang dari utusan Allah.
5. Tashdiq (menerima dan tunduknya hati thd apa yang sudah diketahui dari agama secara pasti) yang bermakna iman kepada ke empat hal tsb
6. Yakin yaitu tidak ragu terhadap apa yang wajib diimani.

IKHLAS

7. Ikhlash yaitu amal dalam keta'atan hanya untuk Allah saja.
8. Menyesali kemaksiyatan karena maksiyat menyelisihi perintah sang Maha Pencipta.

TAWAKAL 

9. Tawakkal yaitu berpegang teguh kepada Allah dalam urusan rizki, keselamatan dari bahaya dan selain hal itu, dan tidak condong kepada sebab-sebab beserta menggunakannya.

10. Muroqobah lillah /merasa diawasi oleh Allah, yaitu melanggengkan rasa hadir bahwa sesungguhnya Allah mengawasinya, mengetahui, melihat dan mendengarnya, tujuan muroqobah adalah agar langgeng perasaan takut dari menyelisihi perintah Allah.

11. Ridho kepada Allah, yaitu pasrah kepada Allah ta'ala dan tdk berpaling kepada Allah subhanah.

CARA HUSNUDZON (BERBAIK SANGKA) 

12. Husnudz dzon billah /berbaik sangka kepada Allah caranya dengan mengingat ingat apa yang Allah biasakan kepadanya dari kebaikan, jadi dia mengharap kebaikan yang serupa di waktu mendatang.

13. Husnudz dzon kepada makhluk Allah, caranya dengan tdk berburuk sangka tanpa adanya indikasi yang mencukupi secara syar'i.

14. Mengagungkan syi'ar Allah, maksud syi'ar disini adalah setiap sesuatu yang dijadikan tanda atas keta'atan misalnya sholat,dan maksudnya adalah mengagungkan setiap hal yang di agungkan oleh syare'at.

CARA BERSYUKUR

15. Bersyukur atas nikmat Allah, maksudnya adalah tdk mengunkana kenikmatan dalam bermaksiyat kepada Allah.

SABAR

16. Bersabar dalam menjalankan apa yang Allah wajibkan dan bersabar atas apa yang Allah hramkan , maksudnya adalah menjauh dari hal yang di larang.dan bersabar terhadap ujian Allah kepadamu dengan cara ujian tsb tidak mendorongmu kepada kemaksiyatan.

17. Tsiqoh (percaya) dalam masalah rizki, yaitu percaya bahwa apa yang telah ditulis bagimu untuk kau manfa'atkan tidak akan hilang darimu.

MENGONTROL NAFSU DAN SETAN

18. Mencurigai nafsu terhadap apa yang diperintahkan olehnya, khawatirnya perintah tsb adalah tipuan yang bisa menyampaikan pada hal yang dilarang,
19. Tidak ridho kepada nafsu dengan mengingat ingat kesalahannya.
20. Membenci syetan dengan cara condong pada menyelisihinya.
21. Membenci dunia dengan tidak melirik pada apa yang dapat melalaikan dari keta'atan kepada Allah,
22. Membenci ahlul maksiyat dengan menjauh darinya, lari dari kemaksiyatan dan menolak ikut dengan mereka dalam kemaksiyatan.

CARA MENCINTAI ALLAH

23. Cinta kepada Allah ta'ala dengan cara menempatkan hati untuk beribadah kepada-Nya saja, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

24. Mencintai kalam-Nya dengan cara menjaga keagungan ayat-ayatnya, menghormatinya dan beramal dengannya.

25. Mencintai utusan-Nya yaitu Nabi shollallohu alaihi wasallma , dengan cara beriman kepadanya, menghormatinya dan condong kepada kesempurnaan mengikutinya.

26. Mencintai Nabi-nabi Allah lainnya, dengan cara beriman kepada mereka dan menghormati mereka.

27. Mencintai para sahabat dengan menghadirkan keutamaan mereka sebab mereka lebih dahulu masuk islam dan kemuliaan mereka sebab bersahabat dengan Nabi, dan pertolongan mereka kepada Nabi shollallohu alaihi wasallam dan sebab penyampaian mereka kepada agama.

28. Mencintai keluarganya Nabi dengan cara menjaga mereka untuk memuliakan Nabi shollallohu alaihi wasllam, mereka adalah keluarganya Nabi dan kerabatnya.

29. Mencintai muhajirin dan anshor yaitu orang yang menolong agama dari penduduk makkah almukarromah dan madinah al munawwawroh, apalagi yang mula-mula masuk islam diantara mereka.

30. Mencintai orang sholeh dengan cara mengagungkan mereka , condong kepada mereka dan menapaki jalan mereka. Wallohu a'lam 

SULAMUT TAUFIQ; FIQIH MUAMALAH

Fikih Muamalah

Fikih Muamalah

Seorang muslim harus memahami fikih muamalah yaitu aturan syariah terkait masalah non-ibadah seperti jual beli, pernikahan dan perceraian. Jual beli yang boleh dan yang haram harus diketahui agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan haram.

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Nama asal kitab dalam tulisan Arab: سُلَّمُ التَّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق مُخْتَصَرٌ فِيما يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ أنْ يَعْلَمَهُ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ وفُرُوعِهِ
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 H/-1777 M)

Fikih Muamalah

فَصْلٌ : فِيما يَجِبُ في المُعامَلاتِ والأَنْكِحَةِ

يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ أنْ لا يَدْخُلَ في شَيْءٍ حَتَّى يَعْلَمَ ما أَحَلَّ اللهُ مِنْهُ وما حَرَّمَ؛ لِأَنَّ اللهَ سُبْحانَهُ تَعَبَّدَنا [أي كَلَّفَنا] بِأَشْياءَ فَلا بُدَّ مِنْ مُراعاةِ ما تَعَبَّدَنا بِهِ.

وقَدْ أَحَلَّ اللهُ البَيْعَ وحَرَّمَ الرِّبا، وقَدْ قَيَّدَ الشَّرْعُ هذا البَيْعَ، المُعَرَّفَ بِآلَةِ التَّعْريفِ، بِقُيُودٍ وشُرُوطٍ وأرْكانٍ لا بُدَّ مِنْ مُراعاتِها، فَعَلَى مَنْ أَرادَ البَيْعَ والشِّراءَ أنْ يَتَعَلَّمَ ذٰلك، وإلّا أَكَلَ الرِّبا، شاءَ أمْ أَبَى، 

وقَدْ قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ: «التّاجِرُ الصَّدُوقُ يُحْشَرُ يَوْمَ القِيامَةِ مَعَ [النَّبِيِّينَ و]الصِّدِّيقِينَ والشُّهَداءِ» [رَواهُ التِّرْمِذِيُّ وصَحَّحَهُ]، وما ذاكَ إلّا لِأَجْلِ ما يَلْقاهُ مِنْ مُجاهَدَةِ نَفْسِهِ وهَواهُ وقَهْرِهِما على إجْراءِ العُقُودِ على ما أَمَرَ اللهُ [أي الطَّرِيقِ الشَّرْعِيِّ]، وإلّا فَلا يَخْفَى ما تَوَعَّدَ اللهُ [بِهِ] مَنْ تَعَدَّى الحُدُودَ؛ ثُمَّ إنَّ بَقِيَّةَ العُقُودِ، مِنَ الإجارَةِ والقِراضِ والرَّهْنِ والوَكالَةِ والوَدِيعَةِ والعارِيَّةِ والشَّرِكَةِ والمُساقاةِ وغَيْرِها، كَذٰلك لا بُدَّ مِنْ مُراعاةِ شُرُوطِها وأرْكانِها.
وعَقْدُ النِّكاحِ يَحْتاجُ إلى مَزِيدِ احْتِياطٍ وتَثَبُّتٍ حَذَرًا مِمّا يَتَرَتَّبُ على فَقْدِ ذٰلك.

Bagi orang muslim mukallaf berkewajiban mendalami sesuatu sampai mengetahui perkara yang telah dihalalkan Allah swt. dan yang diharamkan oleh-Nya, karena sesungguhnya Allah swt. membebankan perkara-perkara yang kita wajib menjaganya. Dan sesungguhnya Allah swt. telah meng halalkan jual beli dan mengharamkan riha’. Syara’ telah memberikan ketentuan perundang-undangan, persyaratan serta beberapa rukun yang 
wajib memeliharanya, maka seseorang yang menghendaki akad jual beli seharusnya mengetahui ketentuan itu, jika ia tidak mengetahuinya niscaya ia akan memakan harta riba’ dengan semaunya.

Rasulullah saw. telah bersabda : “Pedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama para Nabi, orang-orang jujur, para syuhada pada hari kiamat”.(HR Tirmidzi, sahih). Tidaklah dikumpulkan melainkan karena jihad melawan hawa nafsunya dan memaksanya atas terlaksananya ketentuan yang diterapkan oleh Allah swt. jika tidak memenuhi ketentuan-Nya maka jelaslah janji Allah swt. terhadap orang yang melanggarnya. Sesungguhnya akad ijarah, qirad, gadai, wakalah, wadi’ah, ariyah, syirkah (serikat, kongsi). musaqat serta lainnya tetap menjaga syarat dan rukunnya, begitu pula akad nikah yang butuh lebih berhati-hati dan lebih terfokus karena khawatir akan tak terpenuhinya syarat dan rukun itu. [alkhoirot.org]

Larangan dalam Jual Beli

فَصْلٌ : في مَنْهِيّاتٍ مِنَ البُيُوعِ

يَحْرُمُ الرِّبا فِعْلُهُ وأَكْلُهُ وأَخْذُهُ وكِتابَتُهُ وشَهادَتُهُ وحِيْلَتُهُ، وهو [أَنْواعٌ مِنها]: بَيْعُ أَحَدِ النَّقْدَيْنِ بِالآخَرِ نَسِيئَةً [أي لِأَجَلٍ]، أو [بَيْعُ أحَدِ النَّقْدَيْنِ بِالآخَرِ] بِغَيْرِ تَقابُضٍ [في مَجْلِسِ العَقْدِ ولَوْ بِغَيْرِ اشْتِراطِ أَجَلٍ]، أو [بَيْعُ أحَدِ النَّقْدَيْنِ] بِجِنْسِهِ كَذٰلك [أي نَسِيئَةً أو بِغَيْرِ تَقابُضٍ] ، أو [بَيْعُ أحَدِ النَّقْدَيْنِ بِجِنْسِهِ] مُتَفاضِلًا [بِالوَزْنِ]،

و[بَيْعُ] المَطْعُوماتِ بَعْضِها بِبَعْضٍ كَذٰلك [أي نَسِيئَةً أو بِغَيْرِ تَقابُضٍ ولَوْ بِغَيْرِ جِنْسِهِ، ومُتَفاضِلًا إنْ كانَ بِجِنْسِهِ] ؛ ويَحْرُمُ بَيْعُ ما لم يَقْبِضْهُ؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] اللَّحْمِ بِالحَيَوانِ؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ؛ و[يَحْرُمُ] بَيْعِ الفُضُوليِّ [وهو مَنْ يَبِيعُ ما لَيْسَ لَهُ عليه مِلْكٌ ولا وِلايَةٌ]؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] ما لم يَرَهُ [إلّا في بَيْعِ المَوْصُوفِ في الذِّمَّةِ وفي السَّلَمِ]؛ و[يَحْرُمُ] بَيْعُ غَيْرِ المُكَلَّفِ وعليه [أي الشِّراءُ منه والبَيْعُ له]؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] ما لا مَنْفَعَةَ فيه؛ أو [ما] لا قُدْرَةَ على تَسْلِيمِهِ [أي يَحْرُمُ بَيْعُهُ]؛ أو [بَيْعٌ] بِلا صِيغَةٍ [فَيَحْرُمُ] ؛ و[يَحْرُمُ] بَيْعُ ما لا يَدْخُلُ تَحْتَ المِلْكِ كَالحُرِّ والأَرْضِ المَواتِ؛ و[يَحْرُمُ] بَيْعُ المَجْهُولِ؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] النَّجِسِ، كَالكَلْبِ [والدَّمِ] وكُلِّ مُسْكِرٍ [مائِعٍ]؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] مُحَرَّمٍ [أي ما يَحْرُمُ اسْتِعْمالُهُ مُطْلَقًا] كالطُّنْبُورِ [والتِّمْثالِ المُجَسَّمِ لِحَيَوانٍ، والصَّلِيبُ ولو مِنْ ذَهَبٍ ولو لِلزِّينَةِ (ويَكْفُرُ مَنْ يَبِيعُهُ لِمَنْ يَعْلَمُ أنَّهُ يُرِيدُهُ لِلْكُفْرِ)] ؛ ويَحْرُمُ بَيْعُ الشَّيْءِ الحَلالِ الطّاهِرِ على مَنْ تَعْلَمُ أنَّهُ يُرِيدُ أنْ يَعْصِيَ بِهِ [كَبَيْعِ العِنَبِ لِمَنْ تَعْلَمُ أنَّهُ يُرِيدُهُ لِيَصْنَعَ منه خَمْرًا لِلشُّرْبِ المُحَرَّمِ] ؛ و[يَحْرُمُ بَيْعُ] الأَشْياءِ المُسْكِرَةِ [ولَوْ طاهِرَةً كَالحَشِيشَةِ] ؛ ولا يَصِحُ بَيْعُ المُكْرَهِ؛ ويَحْرُمُ بَيْعُ المَعِيبِ بِلا إظْهارٍ لِعَيْبِهِ؛

ولا تَصِحُّ قِسْمَةُ تَرِكَةِ مَيِّتٍ، ولا بَيْعُ شَيْءٍ منها، ما لم تُوَفَّ دُيُونُهُ ووَصاياهُ، وتُخرَجْ أُجْرَةُ حَجَّةٍ وعُمْرَةٍ إنْ كانا عليه، إلّا أنْ يُباعَ شَيْءٌ [مِنَ التَّرِكَةِ] لِقَضاءِ هٰذه الأَشْياءِ، فَالتَّرِكَةُ كَمَرْهُونٍ بِذٰلك؛

كـ[ـذٰلك يَحْرُمُ بَيْعُ] رَقِيقٍ جَنَى، ولَوْ بِأَخْذِ دانِقٍ، [و]لا يَصِحُّ بَيْعُهُ، حَتَّى يُؤَدَّى ما بِرَقَبَتِهِ، أوْ يَأْذَنَ الغَرِيمُ في بَيْعِهِ؛ ويَحْرُمُ أنْ يُفَتِّرَ رَغْبَةَ المُشْتَرِي أو البائعِ بَعْدَ اسْتِقْرارِ الثَّمَنِ لِيَبِيعَ عليه أو لِيَشْتَرِيَ منه، وبَعْدَ العَقْدِ في مُدَّةِ الخِيارِ أَشَدُّ؛

و[يَحْرُمُ] أنْ يَشْتَرِيَ الطَّعامَ [أي القُوتَ كالقَمْحِ] وَقْتَ الغَلاءِ والحاجَةِ لِيَحْبِسَهُ ويَبِيعَهُ بِأَغْلَى؛ و[يَحْرُمُ] أنْ يَزِيدَ في [ثَمَنِ] سِلْعَةٍ لِيَغُرَّ غَيْرَهُ؛ و[يَحْرُمُ] أنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ الجارِيَةِ ووَلَدِها قَبْلَ التَّمْيِيزِ [بِنَحْوِ بَيْعِ أَحَدِهما دُونَ الآخَرِ]؛

و[يَحْرُمُ] أنْ يَغُشَّ [في البَيْعِ]؛ أو يَخُونَ في الكَيْلِ والوَزْنِ والذَّرْعِ والعَدِّ؛ أو يَكْذِبَ [في البَيْعِ]؛ ويَحْرُمُ أنْ يَبِيعَ القُطْنَ أو غَيْرَهُ مِنَ البَضائِعِ ويُقْرِضَ المُشْتَرِيَ مَعَهُ دَراهِمَ و[يَشتَرِطَ عليه أنْ] يَزِيدَ في ثَمَنِ تِلْكَ البِضاعَةِ لِأجْلِ القَرْضِ؛ و[يَحْرُمُ] أنْ يُقْرِضَ الحائكَ أو غَيْرَهُ مِنَ الأُجَراءِ و[يَشْتَرِطَ عليه أنْ] يَسْتَخْدِمَهُ بِأَقَلَّ مِنْ أُجْرَةِ المِثْلِ لِأَجْلِ ذٰلك القَرْضِ، ويُسَمُّونَ ذٰلك [القَرْضَ في هٰذه المُعامَلَةِ والَّتِي قَبْلَها] الرَّبْطَةَ؛ و[يَحْرُمُ] أنْ يُقْرِضَ الحَرّاثِينَ إلى وَقْتِ الحَصادِ [ويَشْتَرِطَ أنَّهُمْ يَنْتَظِرُونَ الحَصادَ] ثُمَّ يَبِيعُونَ عليه طَعامَهُمْ بِأَوْضَعَ مِنَ السِّعْرِ قَلِيلًا، ويُسَمُّونَ ذٰلك المَقْضِيَّ. وكَذا جُمْلَةٌ مِنْ مُعامَلاتِ أَهْلِ هٰذا الزَّمانِ - أو أَكْثَرُها - خارِجَةٌ عَنْ قانُونِ الشَّرْعِ.

فَعَلَى مُرِيدِ رِضا رَبِّهِ [أيْ نَيْلِ ثَوابِهِ والفَوْزِ بِإِكْرامِهِ]، وسَلامَةِ دِينِهِ ودُنْياهُ، أنْ يَتَعَلَّمَ ما يَحِلُّ وما يَحْرُمُ، مِنْ عالِمٍ ،وَرِعٍ، ناصِحٍ، شَفِيقٍ على دِينِهِ؛ فَإنَّ طَلَبَ الحَلالِ فَرِيضَةٌ على كُلِّ مُسْلِمٍ.

Haram mengerjakan riba, memakan, mengambil kemanfaatan, menulis, menyaksikan dan merekayasanya. 

Riba adalah : Menjual salah satu dari emas dan perak (barang) dengan sesuatu yang lain dengan tempo, tidak saling menyerahkan atau menjual dengan jenis yang sama, begitu juga menjual adanya kelebihan, dan menjual sebagian makanan dengan makanan lain. 

Hukumnya haram menjual barang yang belum diterimakan, menjual daging dengan hewan, menjual hutang dengan hutang, menjual barang yang bukan miliknya, sesuatu yang tidak kelihatan, menjualnya seseorang yang bukan mukallaf, sesuatu yang tidak bermanfaat, dan sesuatu yang tidak mampu diserahkan, menjual tanpa shighat (ucapan serah terima 
barang), menjual sesuatu yang tidak dibawah kepemilikan, seperti menjual orang merdeka dan menjual tanah mati (tak berfungsi), juga menjual barang yang belum diketahui, menjual barang najis seperti anjing dan setiap sesuatu yang memabukkan. 

Serta menjual barang yang diharamkan, seperti halnya biola, dan haram pula menjual barang halal dan suci kepada orang yang kamu mengetahuinya bahwa dia akan bctbuat maksiat, menjual barang-barang yang memabukkan (narkoba), menjual barang cacat yang tidak diperlihatkan sebenarnya. Juga tidak sah membagi harta tinggalannya mayit dan 
menjualnya sebelum hutangnya dilunasi, wasiatnya terpenuhi serta ongkos haji dan umrah telah dikeluarkan jika itu ada. Tidak haram menjual barang (tinggalannya mayit) kecuali untuk melunasi semuanya, karena harta tinggalannya mayit sebagaimana barang yang digadaikan untuk itu. 

Seperti halnya budak yang melukai meskipun dengan 1/6 dirham maka tidaklah sah menjualnya, sampai ongkos kebudakannya diserahkan atau orang yang menghutangi telah mengijinkan dalam menjualnya. Haram pula mengendorkan rangsangan penjual dan pembeli setelah ditetapkannya harga yang akan dijual dan dibeli, dan sangat diharamkan 
sesudah akad jadi dalam masa khiyar. 

Juga haram membeli makanan di saat sedang mahal dan sangat membutuhkan yang tujuannya adalah menimbun dan menjualnya lagi dengan harga yang lebih mahal, menambah harga barang guna menarik konsumen lain dengan menipu. Haram juga memisahkan perempuan dan anaknya sebelum masa tamyiz (pintar), menipu menggelapkan takaran, timbangan, sehasta dan hilangan serta membohongi. Dan haram menjual 
kapas dan lain-lainnya dari barang dagangan serta menghutangkan kepada 
pembeli diatas satu dirham dan melebihi harga barang itu untuk dihutang- 
kan, menghutangi tukang tenun alau lainnya dan memperkerjakannya 
dengan gaji yang lebih rendah di banding harga umum (UMR). 

Ulama memberi nama jual beli itu dengan sebutan jual beli yang masih basah, atau haram menghutangi petani sampai waktu panen, kemudian mereka menjualnya dengan harga rendah, dan para ulama menamainya sebagai jual beli yang disetorkan. Begitu juga beberapa muamalah jaman sekarang yang keluar dari balasan syara’ maka wajib bagi orang yang mencari ridha Allah yang Maha Suci, mencari keselamatan agama serta dunianya, agar mengetahui yang halal dan yang haram dari orang alim lagi wara’, pemberi nasehat dan belas kasihan terhadap agamanya. Karena sesungguhnya mencari kehidupan yang halal adalah merupakan kewajiban bagi orang muslim. [alkhoirot.org]

Kewajiban Menafkahi Kerabat

فَصْلٌ : في النَّفَقاتِ الواجِبَةِ وما يُذْكَرُ مَعَها

يَجِبُ على المُوسِرِ نَفَقَةُ أُصُولِهِ المُعْسِرِينَ [أي الآباءِ والأُمَّهاتِ الفُقَراءِ] وإنْ قَدِرُوا على الكَسْبِ، ونَفَقَةُ فُرُوعِهِ [أي أَوْلادِهِ وأَحْفادِهِ] إذا أَعْسَرُوا وعَجَزُوا عَنِ الكَسْبِ لِصِغَرٍ أو زَمانَةٍ، ويَجِبُ على الزَّوْجِ نَفَقَةُ الزَّوْجَةِ ومَهْرُها، وعليه لَها مُتْعَةٌ [وهي مالٌ يَتَراضَيانِ عليه أو يُقَدِّرُهُ القاضِي إنْ تَنازَعا] إنْ طَلَّقَها [بِلا سَبَبٍ منها]، وعلى مالِكِ العَبِيدِ والبَهائِمِ نَفَقَتُهُمْ، وأنْ لا يُكَلِّفَهُمْ مِنَ العَمَلِ ما لا يُطِيقُونَ، ولا يَضْرِبَهُمْ بِغَيْرِ حَقٍّ؛ ويَجِبُ على الزَّوْجَةِ طاعَةُ الزَّوْجِ في نَفْسِها إلّا ما لا يحِلُّ، وأنْ لا تَصُومَ [نَفْلًا] ولا تَخْرُجَ مِنْ بَيْتِهِ إلّا بِإذْنِهِ.

Kewajiban orang tua yang kaya adalah memberi nafkah kepada anak-anaknya yang miskin, meski mereka mampu bekeija, juga memberi nafkah kepada cabang-cabangnya yang lemah dan miskin dari pekeijaan, dikarenakan masih terlalu kecil atau lumpuh. 

Sedang kewajibannya suami adalah memberi nafkah istri dan memberinya mas kawin, serta memberi kesenangan jika ia menceraikannya. Bagi pemilik hamba sahaya dan hewan ternak juga berkewajiban memberikan nafkah mereka dan tidak berhak memukul mereka. Juga sang istri, dirinya wajib taat terhadap suaminya kecuali hal yang tidak 
dihalalkan, dan tidaklah ia berpuasa dan keluar rumah melainkan telah mendapat ijin suaminya

SULAMUT TAUFIQ; FIQIH HAJI DAN UMROH

Dalil Haji dan Umroh

Dalil Haji dan Umroh

Haji dan umroh wajib dilaksanakan setiap muslim mukalaf yang mampu satu kali seumur hidup. Berikut aturan dan Dalil Haji dan Umroh dari Al Quran dan hadits (Sunnah)

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Nama asal kitab dalam tulisan Arab: سُلَّمُ التَّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق مُخْتَصَرٌ فِيما يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ أنْ يَعْلَمَهُ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ وفُرُوعِهِ
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 H/-1777 M) 

BAB HAJI DAN UMRAH

فَصْلٌ : فِيمَن يَجِبُ عليه الحَجُّ والعُمْرَةُ

يَجِبُ الحَجُّ والعُمْرَةُ في العُمْرِ مَرَّةً على المُسْلِمِ، الحُرِّ، المُكَلَّفِ، المُسْتَطِيعِ بِما يُوصِلُهُ ويَرُدُّهُ إلى وَطَنِهِ، فاضِلًا عن دَيْنِهِ، ومَسْكَنِهِ وكِسْوَتِهِ اللّائِقَيْنِ بِهِ، ومُؤْنَةِ مَنْ عليه مُؤْنَتُهُ مُدَّةَ ذَهابِهِ وإيابِهِ.

فَصْلٌ : في أَرْكانِ الحَجِّ والعُمْرَةِ

وأرْكانُ الحَجِّ: الإحْرامُ [بِأَنْ يَقُولَ بِقَلْبِهِ: "دَخَلْتُ في عَمَلِ الحَجِّ"]، والوُقُوفُ بِعَرَفَةَ، والطَّوافُ بِالبَيْتِ، والسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفا والمَرْوَةِ، والحَلْقُ أو التَّقْصِيرُ [وأَقَلُّهُ لِثَلاثِ شَعَراتٍ مِنَ الرَّأْسِ]، وهي [أي الأَرْكانُ المَذْكُورَةُ] إلّا الوُقُوفَ أرْكانُ العُمْرَةِ. ولهٰذه الأرْكانِ فُرُوضٌ وشُرُوطٌ لا بُدَّ مِنْ مُراعاتِها.

فَصْلٌ : فِيما يَحْرُمُ على المُحْرِمِ والمُحْرِمَةِ

وحَرُمَ على مَنْ أَحْرَمَ: طِيبٌ [كَعِطْرٍ]، ودَهْنُ رَأْسٍ ولِحْيَةٍ [بِزَيْتٍ ونَحْوِهِ]،
وإزالَةُ ظُفْرٍ وشَعْرٍ، وجِماعٌ ومُقَدِّماتُهُ [كَتَقْبِيلٍ بِشَهْوَةٍ]، وعَقْدُ نِكاحٍ [لَهُ ولِغَيْرِهِ، ولا يَنْعَقِدُ]، واصْطِيادُ صَيْدٍ مَأْكُولٍ بَرِّيٍّ [وَحْشِيٍّ]، و[يَحْرُمَ] على [الـ]ـرَجُلِ سَتْرُ رَأْسِهِ، و[يَحْرُمُ على الرَجُلِ] لُبْسُ مُحِيطٍ بِهِ، و[يَحْرُمُ] عليها [أي المَرْأَةِ] سَتْرُ وَجْهِها، و[يَحْرُمُ على المَرْأَةِ لُبْسُ] قُفّازٍ.

فَصْلٌ : فِيما يَجِبُ بِفِعْلِ مُحَرَّماتِ الإحْرامِ

فَمَنْ فَعَلَ شَيْئًا مِنْ هٰذه المُحَرَّماتِ فَعَلَيْهِ الإثْمُ، والكَفّارَةُ، [أي الفِدْيَةُ، في غَيْرِ عَقْدِ الزَّواجِ]؛ ويَزِيدُ الجِماعُ بِالإفْسادِ، ووُجُوبِ القَضاءِ فَوْرًا [أي بِلا تَأْخِيرٍ] ، وإتْمامِ الفاسِدِ.

فَصْلٌ : في واجِباتِ الحَجِّ والعُمْرَةِ

ويَجِبُ [في الحَجِّ والعُمْرَةِ]: أنْ يُحرِمَ مِنَ المِيقاتِ؛ و[يَجِبُ] في الحَجِّ:
مَبِيتُ مُزْدَلِفَةَ [لَحْظَةً في النِّصْفِ الثّاني مِنْ لَيْلَةِ العِيدِ]، و[مَبِيتُ] مِنًى [أكْثَرَ مِنْ نِصْفِ كُلٍّ مِنْ لَيالي التَّشْرِيقِ] ، ورَمْيُ جَمْرَةِ العَقَبَةِ يَوْمَ النَّحْرِ [أي العِيدِ] ،
ورَمْيُ الجِمارِ الثَّلاثِ أيّامَ التَّشْرِيقِ، وطَوافُ الوَداعِ.

فَصْلٌ : في حُكْمِ صَيْدِ الحَرَمَيْنِ ونَباتِهِما

ويَحْرُمُ صَيْدُ الحَرَمَيْنِ [المَكِّيِّ والمَدَنِيِّ]، و[قَطْعُ] نَباتِهِما، على مُحْرِمٍ وحَلالٍ [أي غيرِ مُحْرِمٍ]، وتَزِيدُ مَكَّةُ [المُكَرَّمَةُ] بِوُجُوبِ الفِدْيَةِ.

Haji dan umrah seumur hidup sekali diwajibkan bagi orang muslim merdeka lagi mukallaf dengan sesuatu yang menyampaikan dan mengembalikannya menuju daerah asalnya setelah adanya kelebihan dari hutang, tempat dan pakaiannya yang layak juga menghidupi seseorang yang masih dalam tanggungannya semasa ia pergi dan sekembalinya. 

Rukun Haji ada Lima dan Rukun Umrah

Sedangkan yang menjadikan rukun haji ialah sebagai berikut : 

1. Ihram 
2. Wukuf di Arafah. 
3. Thawaf di Baitullah. 
4. Sa’i antara Shafa dan Marwah. 
5. Mencukur dan menggunting rambut. 

Lima rukun selain wukuf adalah beberapa rukunnya umrah, dan rukun ini adalah kewajiban dan syarat yang wajib dijaga. 

Yang Haram bagi Pelaku Ihram Haji dan Umrah

Yang diharamkan bagi orang yang berihram : 

1 . Memakai minyak wangi, minyak rambut, jenggot. 
2. Menghilangkan kuku serta rambut. 
3. Bersetubuh, dan hal-hal yang memulai persetuhuhan, melaksanakan akad nikah. 
4. Membunuh hewan darat yang dapai dimakan. 
5. Bagi lelaki diharamkan menutup kepala dan memakai pakaian berjahit, juga bagi perempuan menutup wajahnya dan memakai kaos tangan. 

Hukum Pelaku Pelanggaran Haji dan Umroh

Siapa yang melakukan sesuatu yang telah diharamkan, maka ia berdosa baginya dan harus membayar kafarah. 

Sedangkan jima’ (bersetubuh) adalah lebih merusak dan segera wajih mengqadha’ serta menyempurnakan yang lelah rusak. 

Wajib Haji dan Umroh

1. Kewajiban ihram ialah dari miqat. 
2. dan kewajiban haji ialah menginap di Muzdalifah dan Mina, 
3. juga melempar jumrah aqabah pada hari raya kurban, 
4. melempar jumrah tiga kali pada hari tasyriq, 
5. dan thawaf wada’. 

Hukum Berburu Binatang di Makkah dan Madinah

Diharamkan bagi orang yang ihram dan orang yang bukan ihram membunuh binatang dan merusak tumbuhan di dua tempal tanah haram (Mekkah dan Madinah), lebih-lebih di tanah Mekkah dengan kewajiban membayar fidyah (tebusan).[alkhoirot.org] 

***


DALIL HAJI DAN UMROH

DALIL HAJI

- QS Ali Imron 3:97

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا

Artinya: mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

- Hadits sahih riwayat Bukhori dan Muslim (muttafaq alaih)

بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصوم رمضان وحج البيت من استطاع إليه سبيلا

Artinya: Islam dibangun atas lima hal: Dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, haji ke Baitullah bagi yang mampu.

DALIL UMROH

Surat Al-Baqarah Ayat 158

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah[102]. Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, Maka tidak ada dosa baginya[103] mengerjakan sa’i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri[104] kebaikan lagi Maha mengetahui.

Ayat Quran Tentang Umrah Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 196 :

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban[120] yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu[121], sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. apabila kamu telah (merasa) aman, Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.

Hadits tersebut adalah:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR al-Bukhari dan Muslim)