MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Minggu, 09 Desember 2018

KAJIAN HADITS TENTANG FITNAH AKHIR ZAMAN DARI AHLUL BAIT


*Mengenal Ahlul Bait dan Habaib*

Secara bahasa, kata الأَهْل berasal dari أَهْلاً وَ أُهُوْلاً أَهِلَ – يَأهَلُ = seperti أَهْلُ المْكَاَن berarti menghuni di suatu tempat. أَهْلُ jamaknya adalah أَهْلُوْنَ وَ أَهْلاَتُ وَ أَهَاِلي misal أَهْلُ الإِسْلاَم artinya pemeluk islam, أَهْلُ مَكَّة artinya penduduk Mekah. أَهْلُ الْبَيْت berarti penghuni rumah. Dan أَهْلُ بَيْتِ النَّبي artinya keluarga Nabi yaitu para isrti, anak perempuan Nabi serta kerabatnya yaitu Ali dan istrinya.

Sedangkan menurut istilah, para ulama Ahlus Sunnah telah sepakat tentang Ahlul Bait bahwa mereka adalah keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diharamkan memakan shadaqah. Mereka terdiri dari : keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Aqil, keluarga Abbas, keluarga bani Harist bin Abdul Muthalib, serta para istri beliau dan anak anak mereka.

Sementara “Habib” yang secara tekstual berarti “kekasih” adalah gelar kehormatan yang ditujukan kepada para keturunan Nabi Muhammad Shallalahu 'alaihi wa sallam yang tinggal di daerah Lembah Hadhramaut, Yaman; Asia Tenggara; dan Pesisir Swahili, Afrika Timur. *(Ismail Fajrie Alatas, Habaib in Southeast Asia, The Encyclopaedia Of Islam Three (Leiden: Brill, 2018), hlm 56).*

Lebih spesifik lagi, definisi “keturunan” ini mesti dari keturunan Husein, yakni putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra (putri Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam).

Secara sosiologis dan budaya Indonesia, gelar “Habib” atau yang semakna dengan istilah itu, umumnya dilekatkan untuk orang-orang yang punya Darah Nasab yang bersambung hingga Rasulullah. Secara empirisnya, biasanya dibuktikan dengan silsilah nasab keluarga, yang diakui oleh – perkumpulan semisal- Rabithah Alawiyah. Jadi, intinya adalah di titik Nasab (darah biologis).

Jadi, Habib di kalangan Arab - Indonesia adalah gelar bangsawan Timur Tengah yang merupakan kerabat Nabi Muhammad (Bani Hasyim) dan secara khusus dinisbatkan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah az-Zahra (yang berputera Husain dan Hasan) dan Ali bin Abi Thalib. Habib yang datang ke Indonesia mayoritas adalah keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib dan Fatimah binti Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.

*Keutamaan Mencintai Ahlul Bait/Habaib*

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي

“Cintailah Allah karena nikmat yang diberikan kepada kalian cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Segala sesuatu ada asasnya, dan asas islam adalah mencintai Rasulullah dan ahli baitnya.” (HR. Tirmidzi [no.3789])

فلو أن رجلا صفن بين الركن والمقام فصلى صام ثم لقى الله وهو مبغض لأهل بيت محمد دخل النار
حديث حسن صحيح على شرط مسلم

“Seandainya seorang beribadah diantara rukun dan maqam (di depan Ka’bah) kemudian dia bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan dia benci pada keluarga Muhammad, niscaya dia akan masuk neraka.” (HR. Al-Hakim)

Lalu, Bagaimana menurut Rasulullah; Apakah *“Yang Dikasihi” olehnya itu maksudnya adalah “Habib”* sebagaimana dalam konteks sosiologis dan budaya Indonesia tersebut?

Sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Musnadnya [no.5892] dan Imam Abu Dawud dalam Sunannya [no.3704]) dijelaskan sbb;

عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ ، يَقُولُ : كنا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم قعودا نذكر الفتن , فأكثر ذكرها حتى ذكر فتنة الأحلاس , فقال قائل : يا رسول الله و ما فتنة الأحلاس ? قال : هي ” . الحديث . و هذا إسناد صحيح رجاله كلهم ثقات رجال البخاري غير العلاء بن عتبة و هو صدوق فتنة الأحلاس هي فتنة هرب و حرب , ثم فتنة السراء دخلها أو دخنها من تحت قدمي رجل من أهل بيتي يزعم أنه مني و ليس مني إنما وليي المتقون , ثم يصطلح الناس على رجل كورك على ضلع , ثم فتنة الدهيماء لا تدع أحدا من هذه الأمة إلا لطمته لطمة , فإذا قيل : انقطعت تمادت يصبح الرجل فيها مؤمنا و يمسي كافرا حتى يصير الناس إلى فسطاطين : فسطاط إيمان لا نفاق فيه و فسطاط نفاق لا إيمان فيه , إذا كان ذاكم فانتظروا الدجال من اليوم أو غد.

Dari ‘Umair ibn Hani Al ‘Ansiy. Ia berkata: Aku mendengar ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk bersama Rasulullah. Beliau memberikan peringatan tentang fitnah-fitnah (ujian besar di akhir zaman) yang banyak bermunculan, sampai beliau menyebutkan Fitnah Ahlas.

Seseorang bertanya : *“Wahai Rasulallah, apa yang dimaksud fitnah Ahlas?*

Beliau menjawab :  “Yaitu; fitnah pelarian dan peperangan. Kemudian *FITNAH SARRA’*(karena banyak bermegah-megahan hingga lupa dan jatuh dalam prilaku maksiat), yang asapnya dari bawah kaki seseorang dari *AHLI BAIT-ku; ia mengaku bagian dariku, padahal bukan dariku. Karena sesungguhnya orang-orang yang aku kasihi hanyalah orang-orang yang bertaqwa."*

Kemudian manusia bersepakat pada seseorang seperti bertemunya pinggul di tulang rusuk, kemudian Fitnah Duhaima’ yang tidak membiarkan ada seseorang dari umat ini kecuali dihantamnya.

Jika dikatakan : ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut, di dalamnya seorang pria pada pagi hari beriman, tetapi pada sore hari men­jadi kafir, sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak mengandung kemunafikan dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan.

Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya." (HR. Ahmad [no.5892] dan Abu Daud [no.3704])

Kemudian, berkenaan dengan hadits ini, Imam Mula Ali Al-Qari (w. 1014 H) dalam Mirqatul Mafaatih Syarh Misykatul Mashabih menyatakan;

)يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي) أَيْ: فِي الْفِعْلِ وَإِنْ كَانَ مِنِّي فِي النَّسَبِ، وَالْحَاصِلُ أَنَّ تِلْكَ الْفِتْنَةَ بِسَبَبِهِ، وَأَنَّهُ بَاعِثٌ عَلَى إِقَامَتِهَا ” وَلَيْسَ مِنِّي ” أَيْ: مِنْ أَخِلَّائِي أَوْ مِنْ أَهْلِي فِي الْفِعْلِ ; لِأَنَّ لَوْ كَانَ مِنْ أَهْلِي لَمْ يُهَيِّجِ الْفِتْنَةَ، وَنَظِيرُهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ} [هود: 46] ، أَوْ لَيْسَ مِنْ أَوْلِيَائِي فِي الْحَقِيقَةِ، وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُهُ: ” إِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ “، وَهَذَا أَبْلَغُ مِنْ حَدِيثِ ” آلُ مُحَمَّدٍ كُلُّ تَقِيٍّ”

(Maksudnya) Ia mengaku bagian dariku, karena nyatanya ia bagian dariku dalam hal Nasab. Adapun hasil nyatanya; fitnah tersebut ada karena disebabkan olehnya, dan ia mensupport akan tegaknya fitnah tersebut. Maka, Rasulullah bersabda “laisa minni”, yang artinya; hakekatnya justru ia bukanlah Ahli Baitku (keluargaku). Sebab, jikalau ia benar-benar Ahli Bait Rasulullah, maka tentu tidaklah ia berkontribusi pd adanya fitnah ini.

Terjadinya fitnah sarra’ ini diawali oleh seorang yang secara nasab bersambung kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam (Ahlul Bait). Namun perilakunya yang menyebabkan bencana ini menjadikannya tidak bisa dianggap bagian darinya.

Ini persis sebagaiman yang Allah ta’ala firmankan terhadap Nabi Nuh, sebab prilaku anaknya;

إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

"Sesungguhnya ia (anakmu yang durhaka) bukanlah Keluargamu, krna sesungguhnya prilakunya begitu buruk." (Q.S. Huud; 46)

Senada dengan hal itu, sabdanya,

إِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ

"Sesungguhnya Orang-Orang yang Kukasihi hanyalah Al-Muttaqun (Yang Bertakwa)." (HR. Thabrani)

Beberapa waktu lalu dalam kunjungannya ke kediaman Gus Mus, Prof HM. Quraisy Syihab mengatakan bahwa sebutan Habib mempunyai makna orang yang dicintai sekaligus mencintai. Jadi menurut penulis Kitab Tafsir al-Misbah ini, seseorang dengan sebutan Habib tidak hanya ingin dincintai, tetapi juga harus mencintai.

Prof. HM. Quraisy Syihab memberikan penekanan bahwa ada persoalan mendasar terkait sebutan Habib, yaitu akhlak. Terkait dengan akhlak ini, menjadi alasan fundamental bahwa tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.

Dari beberapa literatur, keturunan Nabi dari Sayyidina Husein disebut sayyid, sedangkan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyidah Fatimah binti Muhammad dari hasil pernikahannya dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Habib atau sayyid adalah sebutan atau gelar penghormatan dari masyarakat untuk mereka yang memiliki garis keturunan (nasab) yang bersambung hingga Rasulullah Muhammad Shallallqhu 'alaihi wa sallam. Secara nasab para habib (habaib) itu jelas sangatlah mulia dan umat Islam wajib memuliakan dan menghormati mereka. Merendahkan dan menghina nasab mereka merupakan perbuatan tercela dan berdosa. Tidak memandang rendah atau meremehkan nasab (garis keturunan) habaib kecuali mereka yang berpenyakit hati seperti sombong dan dengki.

Meskipun habaib itu bernasab hingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka juga manusia yang memiliki berbagai kelebihan dan tentu saja kekurangan. Berbeda dari para Nabi dan Rasul, termasuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dijamin oleh Allah terjaga dari perbuatan dosa, maka para habib itu tidak terjaga (ma'shum) dari melakukan kesalahan, maksiat atau dosa.

Ajaran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. yang paling dasar tentang “keistimewaan” di dalam Islam adalah hadits ini,

لا فضل لعربيّ على أعجميّ ولا لعجميّ على عربيّ، ولا لأحمر على أسود ولا لأسود على أحمر إلاّ بالتقوى.

“Tidak ada yang lebih mulia orang Arab atas orang asing, atau orang asing atas orang orang Arab; tidak juga kulit merah atas kulit hitam, atau kulit hitam atas kulit merah, kecuali dengan dengan taqwa.” *(Musnad Imam Ahmad Juz 5, hal. 411)*

Suatu hari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di hadapan keluarganya,

يا بني هاشم لا تأتيني الناس بأعمالهم وتأتوني بأنسابكم

“Wahai Bani Hasyim, janganlah datang kepadaku dengan membawa nasab kalian, sementara manusia datang kepadaku dengan amal mereka,” *(Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, Juz 1, hal. 314; Al-Zayla’I, Takhrij Al-Akhbar, Juz 1, hal. 91; Al-Masyhadi, Kanz Al-Daqaiq, Juz 1, hal. 349).*

Tetapi pada beberapa sumber, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan dengan kalimat begini,

لا أغني عنكم من الله شيئاً ،وعنه صلى الله عليه وآله وسلم مَنْ أبطأ به عملُه، لم يُسرع به نسبُه

“Aku tidak bisa menolong kalian dari ancaman Allah.” Dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Barang siapa yang amalannya kurang lagi lamban, maka nasabnya tak dapat menutupi kekurangannya.”
*(Al-Jashshash, Ahkam al-Quran, Juz 1. Hal. 1)*

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda,

يا معشر قريش اشتروا أنفسكم لا أغني عنكم من الله شيئا يا بني عبد مناف لا أغني عنكم من الله شيئا.يا عباس بن عبد المطلب لا أغني عنك من الله شيئا.ويا صفية عمة رسول الله لا أغني عنك من الله شيئا.ويا فاطمة بنت محمد سليني ما شئت من مالي لا أغني عنك من الله شيئا.

”Wahai orang-orang Qurays belilah diri kalian sendiri, saya tidak bisa membantu kalian sedikit pun dari azab Allah Subhanahu wa Ta'ala, wahai Bani Manaf saya tidak bisa membantu kalian sedikit pun dari azab Allah Ta'ala, wahai Abbas bin Abdul Muththalib saya tidak bisa membantu kalian sedikit pun dari azab Allah Ta'ala, wahai Shofiyah bibi Rasulullah, saya tidak bisa membantumu sedikit pun dari azab Allah, wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah harta sebanyak apa pun dariku, tapi saya tidak bisa membantumu sedikit pun dari adzab Allah.“ *(HR. Bukhari, Juz 3, hal. 191)*

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling taqwa.” *(QS. Al-Hujurat 13)*

Kecintaan umat Islam Indonesia kepada para habib (habaib) itu telah mentradisi, khususnya di kalangan warga NU. Barangkali tidak ada penghormatan di negara lain kepada habaib yang bisa melibihi penghormatan warga NU yang kadangkala, bahkan terkesan berlebihan.

Sebaliknya, kita jangan pernah melontarkan sekerat pujian kepada habaib yang jahil, yang sering kali tertipu oleh perasaannya sendiri, yang tidak punya bashirah dalam beragama, tidak punya pengetahuan dan keyakinan kuat, karena pujian itu pasti merusak hatinya dan itu hanya menambah keangkuhannya.

Sesungguhnya nasab semata tidaklah bermanfaat dan tidak meninggikan martabat seseorang bila tidak diiringi oleh ketakwaan. Bila nasab orang yang mulia itu tidak mampu menunjukkan kemuliaan jiwa seperti para pendahulunya, maka patutkah seseorang itu hanya membangga-banggakan nasab sepanjang hayatnya? Sesungguhnya yang paling mulia menurut Allah hanyalah yang paling takwa kepada-Nya. Wallahu a'lam

Demikianlah Asimun Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Kamis, 06 Desember 2018

DOWNLOAD 100 KITAB KARYA ULAMA INDONESIA


*DOWNLOAD 100 KITAB KARYA ULAMA INDONESIA*

Jika kita mau menelusuri, banyak jejak intelektual pemikiran ulama indonesia yang tertuang dalam kitab. Adalah Nanal Ainal Fauz bin Mudatsir dari Demak mencoba menghimpun dan mendokumentasikan karya-karya ulama indonesia agar bisa dibaca dan dikaji oleh kaum muslimin, khususnya para santri yang tingal di nusanara.

Berikut ini adalah daftar kitab-kitab karya ulama indonesia yang berhasil dihimpun nanal, (Silahkan copas dan sebarkan di FB, FP, Blog, Wabsite, dan akun sosial media lainnya. Perkenalkan karya-karya ulama Indonesia kepada masyarakat umum)
==========
Nanal Ainal Fauz bin Mudatsir Adalah Khodim PP. Fadlul Mujib Karanganyar, Demak, Jateng.

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله , والصلاة والسلام على رسول الله , وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد :
فهذا ما تيسر لي في جمع الروابط لتحميل الكتب التي ألفها علماؤنا الإندونيسيون القدماء أو الجدد.
وأسأل الله أن ينفع به مسلمي أندونيسيا خاصة ومسلمي العالم عامة, وعسى أن يجعله في ميزان حسناتي وحسنات والدي ومن له فضل علي في هذا العمل المبارك.

1. حاشية الترمسي المسمى موهبة ذي الفضل على شرح العلامة ابن حجر مقدمة بافضل
المؤلف : الإمام العلامة الفقيه المدقق الشيخ محمد محفوظ بن عبد الله الترمسي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_88.html

2. ترجمة العلامة الفقيه الأصولي محمد أحمد سهل بن محفوظ بن عبد السلام بن عبد الله الحاجيني الجاوي الإندونيسي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_44.html

3. نـور الظلام شــرح مـنظومة عقيدة العــوام
المؤلف : العلامة المفسر الشيخ محمد نووي بن عمر بن عربي الجاوي البنتني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_80.html

4. فيـض الحـجــا على نيل الرجا منظومة سفينة النجا
المؤلف : العلامة الفقيه الأصولي أحمد سهل بن أبى هاشم محمد محفوظ سلام الحاجينى

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_16.html

5. كفاية الاتقياء و منهج الاصفياء
بهامشه : سلالم الفضلاء لخاتمه النبلاء,علي منظومه هدايه الاذكياء الي طريق الاولياء
مؤلف السلالم : العلامة المفسر محمد نووي الجاوي البنتني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_91.html

6. كشف التباريح في بيان صلاة التراويح
المؤلف : العلامة الشيخ أبو الفضل بن عبد الشكور السنوري
الطوباني رحمه الله تعالى آمين

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_94.html

7. البيان الملمع عن ألفاظ اللمع للشيخ أبى إسحاق الشيرازي
تأليف : العلامة الفقيه الأصولي أحمد سهل بن أبى هاشم محمد محفوظ سلام الحاجينى

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_97.html

8. التبيان في النهي عن مقاطعة الأرحام والأقارب والإخوان
المؤلف : العلامة مؤسس جمعية نهضة العلماء حضرة الشيخ العارف بالله محمد هاشم أشعرى الجومباني رضي الله عنه

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/…/blog-post_6.html

9. حاشية تشويق الخلان على شرح الآجرومية لأحمد زيني دحلان
المؤلف : العلامة الشيخ الحاج محمد معصوم بن الشيخ سالم السماراني السفاطوني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_71.html

10. الكتاب: طريقة الحصول على غاية الوصول
المؤلف : الشيخ الكياهي محمد أحمد سهل بن محفوظ سلام الحاجينى

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_64.html

11. نصائح العباد شرح على المنبهات على الاستعداد ليوم المعاد
المؤلف : العلامة محمد بن عمر نووي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_14.html

12. مراقي العبودية شرح على بداية الهداية
المؤلف : العلامة محمد بن عمر نووي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_19.html

13. قطر الغيث في شرح مسائل أبي الليث
المؤلف : العلامة محمد بن عمر نووي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_12.html

14. شرح عقود اللجين في بيان حقوق الزوجين
المؤلف : الإمام العلامة محمد بن عمر نووي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_68.html

15. فتح الإزار في كشف الأسرار لأوقات الحرث وخلقة الأبكار
المؤلف : فوزي الأندونيسي الشافعي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/…/blog-post_4.html

16. سراج الطالبين شرح منهاج العابدين للغزالي
المؤلف : العلامة الشيخ محمد إحسان بن دحلان الجمفسي الكديري الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_18.html

17. منهج ذوي النظر في شرح منظومة الأثر للحافظ جلال الدين السيوطي
المؤلف : الإمام العلامة الفقيه المقرئ محمد محفوظ بن عبد الله بن عبد المنان الترمسي الجاوي الأندونيسي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_13.html

18. كفاية المستفيد لما علا من الأسانيد
المؤلف : الإمام العلامة الفقيه المقرئ محمد محفوظ بن عبد الله بن عبد المنان الترمسي الجاوي الأندونيسي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_46.html

19. مراح لبيد لكشف معانى القرآن المجيد
المؤلف : الشيخ نووي بن عمر بن عربي الجاوي البنتني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_79.html

20. كاشفة السجا في شرح سفينة النجا
المؤلف : الشيخ محمد نووي بن عمر بن عربي الجاوي البنتني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_11.html

21. سلم المناجاة شرح سفينة الصلاة
المؤلف: العلامة الإمام محمد نووي بن عمر البنتني التناري الجاوي الشافعي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_941.html

22. نهاية الزين في إرشاد المبتدئين شرح على قرة العين بمبهمات الدين
المؤلف: العلامة الفقيه محمد بن عمر النووي الجاوي أبو المعطي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_209.html

23. بهجه الوسائل بشرح المسائل
المؤلف: العلامة محمد بن عمر نووي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_431.html

24. مرقاة صعود التصديق في شرح سلم التوفيق
المؤلف : العلامة الفقيه المفسر محمد نووي الجاوي البنتني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_545.html

25. الفصوص الياقوتية على الروضة البهية في الابواب التصريفية
المؤلف : العلامة الإمام محمد نووي بن عمر الجاوي
بهامشه : الرياض الفولية
المؤلف : العلامة المذكور

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_909.html

26. توشيح على ابن قاسم (قوت الحبيب الغريب توشيح على فتح القريب المجيب شرح غاية التقريب)
للعلامة محمد نووي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_636.html

27. مدارج الصعود إلى اكتساء البرود
للعلامة محمد نووي البنتني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_512.html

28. ترغيب المشتاقين لبيان منظومة السيد البرزنجي زين العابدين
المؤلف : العلامة محمد نووي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_999.html

29. الابريز الداني في مولد سيدنا محمد السيد العدناني
(وهو مختصر من مولد العلامة القسطلاني المسمى بالعظيم الشان الفصيح البيان )
المؤلف : العلامة محمد نووي بن عمر بن عربي البنتني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_832.html

30. النهجة الجيدة لحل نقاوة العقيدة
وهذا شرح على منظومة في التوحيد
الناظم والشارح : العالم العلامة محمد نووي الجاوي البنتني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_634.html

31. فتح غافر الخطبة في شرح الكواكب الجلية نظم الأجرومية للنبراوي
المؤلف : العلامة الفقيه المفسر محمد نووي الجاوي
نسخة مخطوطة

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_838.html

نسخة محققة

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_833.html

32. العجالة في الأحاديث المسلسلة
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_825.html

33. الفيض الرحماني بإجازة العثماني
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_265.html

34. المسلك الجلي في أسانيد محمد علي
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_273.html

35. ورقات في مجموعة المسلسلات والأوائل والاسانيد العالية
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_756.html

36. ثبت الكزبري
ويليه إتحاف الطالب السري بأسانيد الوجيه الكزبري
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_225.html

37. اتحاف الإخوان باختصار مطمح الوجدان في اسانيد الشيخ عمر حمدان
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_749.html

38. الأربعون البلدانية : أربعون حديثا عن أربعين شيخا من أربعين بلدا
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_991.html

39. أسانيد الفقيه أحمد بن محمد بن حجر الهيتمي
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_468.html

40. الأسانيد المكية لكتب الحديث والسير والشمائل المحمدية
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_932.html

41. الوافي بذيل تذكار المصافي بإجازة الفخر عبد الله بن عبد الكريم الجرافي والصفي أحمد بن أحمد الجرافي
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_331.html

42. فيض المبدي بإجازة الشيخ محمد عوض منقش الزبيدي
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_997.html

43. فيض الخبير وخلاصة التقرير على نهج التيسير شرح منظومة التفسير
وفيه منظومة الزمزمي رحمه الله تعالى
ويليها شرح السيد محسن بن علي المساوي الفلمباني رحمه الله تعالى
ثم حاشية فيض الخبير للسيد علوي المالكي رحمه الله تعالى
ثم تعليقات الفاداني رحمه الله تعالى

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_762.html

44. سد الأرب من علوم الإسناد والأدب. وبذيله : نهاية المطلب تعليقات علي سد الأرب أو إتحاف السمير بأوهام ما في ثبت الأمير
مؤلف نهاية المطلب : مسند الدنيا ياسين الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_700.html

45. حسن الوفا لإخوان الصفا - ثبت فالح الظاهري
تعليق وتصحيح المسند الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_271.html

46. بلغة المشتاق في علم الاشتقاق
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_547.html

47. الفوائد الجنبّة: حاشية المواهب السنية شرح الفرائد البهية في نظم القواعد الفقهية ( في الأشباه والنظائر على مذهب الشافعي )
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_882.html

48. أسماء الكتب الفقهية لسادتنا الأئمة الشافعية
للشيخ محمد نور الدين مربو بنجر المكي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_822.html

49. حسن الصياغة شرح كتاب دروس البلاغة
العلامة مسند العصر محمد ياسين بن عيسى الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_707.html

50. بلوغ الأماني في التعريف بشيوخ وأسانيد مسند العصر الشيخ محمد ياسين بن محمد عيسى الفاداني المكي
جمع وترتيب محمد مختار الدين بن زين العابدين الفلمباني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_905.html

51. كنوز المقاليد في مجموعة الأسانيد
المؤلف : الشيخ العلامة محمد نجيح ميمون حفظه الله

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_620.html

52. رسالة أهل السنة والجماعة في حديث الموتى وأشراط الساعة وبيان مفهوم أهل السنة والجماعة
تأليف : العلامة حضرة الشيخ محمد هاشم أشعرى الرئيس الأكبر لجمعية نهضة العلماء

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_621.html

53. الفروق الشاسعة بين حقائق السنة واباطيل الشيعة

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_355.html

54. النصوص العلمية في عدم صحة إمامة المرأة للرجال في الصلاة
المؤلف: الشيخ محمد نجيح ميمون الساراني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_880.html

55. رسالة التوحيد (باللغة الجاوية)
للشيخ الحاج مدثر بن كوستام الدماكي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_110.html

56. تقريب المقصد في العمل بالربع المجيب
للشيخ محمد مختار عطارد البوغوري الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_333.html

57. حاشية تقريب المقصد في العمل بالربع المجيب
للشيخ أبي البحر مفتاح بن مأمون بن عبد الله المرتي الشنجوري الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_989.html

58. فتح العلي الجليل في نظم أسماء النبي الإكليل
الناظم : ننال عين الفوز بن مدثر الدماكي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_444.html

59. النَّفحة الحسنيَّة شرح التُّحفة السَّنيَّة (في علم الفرائض)
للعلامة السيد محسن المُسَاوى الفالمباني رحمه الله

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_514.html

60. بغية الأذكياء في البحث عن كرامات الأولياء
للإمام محمد محفوظ الترمسي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_957.html

61. السلاح في بيان النكاح
للشيخ محمد خليل البنكلاني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_958.html

62. فتح الرؤوف المنان (في علم الفلك)
للشيخ أبي حمدان عبد الجليل بن عبد الحميد قدس

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_729.html

63. سلم النيرين في معرفة الاجتماع والكسوفين
للشيخ محمد منصور بن عبد الحميد البتاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_725.html

64. انتفاخ الودجين عند مناظرة علماء حاجين في الرؤية بزجاج العينين
للإمام العلامة محمد أحمد سهل بن محفوظ الحاجيني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_154.html

65. الأربعون حديثاً من أربعين كتاباً عن أربعين شيخاً
المؤلف: مسند العصرالعلامة محمد ياسين بن عيسى الفاداني المكي أبو الفيض

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_239.html

66. إجازة الشيخ بدر الدين الحسني للفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_181.html

67. المتن الشريف الملقب بفتح اللطيف (في الفقه)
للشيخ العلامة محمد خليل البنكلاني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_947.html

68. أصل القدر في خصائص فضائل أهل بدر
الناظم: الشيخ العلامة محمد دمياطي بن محمد أمين البنتني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_112.html

69. نظم عقيدة التوحيد
للشيخ محمد حسن الغنغاني الكركساني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_157.html

70. ثمرات الفكر في حساب أوقات الصلاة والأهلة وخسوف القمر
للشيخ أحمد غزالي محمد فتح الله

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_548.html

71. رسالة بديعة المثال في حساب السنين والهلال
للشيخ العلامة محمد معصوم بن علي المسكوممباني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_494.html

72. شرح ثمرات الوسيلة المسمى بالمواهب الجزيلة في أزهار الخميلة (في علم الفلك)
للشيخ العلامة مسند العصر محمد ياسين الفاداني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_780.html

73. إرشاد الأنام في ترجمة أركان الإسلام (باللغة الاندونيسية)
للسيد الحبيب عثمان بن يحيى مفتي بتاوي سابقا

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_600.html

74. فتح المجيد في شرح جوهرة التوحيد
المؤلف : العلامة الشيخ حسين بن عمر بن علي بن علوي الفالمباني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_687.html

75. الأمثلة التصريفية
المؤلف : الشيخ العلامة محمد معصوم بن علي كوارون جومباغ

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_940.html

76. الإمام الشافعي في مذهبيه القديم والجديد
للشيخ العلامة الدكتور أحمد نحراوي عبد السلام البتاوي الإندونيسي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_817.html

77. المفاخر السنية في الأسانيد العلية القدسية
للشيخ عبد الحميد بن علي بن عبد القادر قدس الخطيب

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_864.html

78. كافية الطلاب في علم النحو والصرف
للشيخ العلامة أبي الفضل بن عبد الشكور السنوري الطوباني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_612.html

79. تنوير الحجا نظم سفينة النجا
للشيخ العلامة أحمد بن صديق بن عبد الله اللاسمي الفاسورواني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_913.html

80. إرشاد المهتدي إلى شرح كفاية المبتدي
الشارح : الشيخ العلامة عبد الحميد بن علي بن عبد القادر قدس الخطيب
الماتن : والد الشارح الشيخ العلامة علي بن عبد القادر قدس

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_654.html

81. لطائف الإشارات شرح تسهيل الطرقات لنظم الورقات في أصول الفقه
المؤلف : الشيخ العلامة عبد الحميد بن علي بن عبد القادر قدس الخطيب

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_972.html

82. نفحات القبول والابتهاج في قصه الاسراء والمعراج (مخطوط)
المؤلف : الشيخ العلامة عبدالحميد بن محمد علي بن عبدالقادر قدس الخطيب

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_897.html

83. الذخائر القدسية في زيارة خير البرية
المؤلف : الشيخ العلامة عبد الحميد بن محمد علي قدس الخطيب

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_871.html

84. ضياء الأنوار في تصفية الأكدار
للسلطان قائم الدين محمد عيدروس ابن السلطان بدر الدين البطوني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_721.html

85. مؤنسة القلوب في الذكر ومشاهدة علام الغيوب
للسلطان قائم الدين محمد عيدروس ابن السلطان بدر الدين البطوني

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_751.html

86. حاشية قواعد البيان
للشيخ أبي البحر مفتاح الشنجوري الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_868.html

87. فيض الأساني على حرز الأماني 1
للشيخ العلامة محمد شعراني أحمدي القدسي الجاوي حفظه الله

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/1.html

88. التجريد المصفى لمرفوعات الموطا إلى المصطفى
صلى الله عليه وسلم
تأليف : الشيخ العلامة محمد نجيح بن ميمون زبير الساراني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_977.html

89. الاحتجاج الشافية على الروافض الإمامية
تأليف : الشيخ العلامة محمد نجيح بن ميمون زبير الساراني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_764.html

90. البحوث العلمية الهامة في حوادث الأمة العامة
تأليف : الشيخ العلامة محمد نجيح بن ميمون زبير الساراني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_168.html

91. التدخين بين الكتاب والسنة والطب والخلق والضعف الجنسي والاقتصاد واستراتيجية أعداء الإسلام
تأليف : الشيخ العلامة محمد نجيح بن ميمون زبير الساراني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_380.html

92. الدراسة الدينية في مسائل الزكاة العصرية
تأليف : الشيخ العلامة محمد نجيح بن ميمون زبير الساراني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_397.html

93. الأدلة القرآنية والحديثية على وجوب نصب القاضي الحاكم بما أنزل الله
تأليف : الشيخ العلامة محمد نجيح بن ميمون زبير الساراني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_406.html

94. الرسالة الإسلامية؛ كمالها وخلودها وعالميّتها
تأليف : الشيخ العلامة محمد نجيح بن ميمون زبير الساراني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_646.html

95. السياسة
تأليف : الشيخ العلامة محمد نجيح بن ميمون زبير الساراني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_766.html

96. الشذرات اللماعة في بعض أصول أهل السنة والجماعة
تأليف : الشيخ العلامة محمد نجيح بن ميمون زبير الساراني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_123.html

97. نظم سلسلة الشيوخ لـ مجلس رسول الله صلى الله عليه وسلم
من الحبيب منذر المساوى إلى رسول الله
الناظم : ننال عين الفوز بن مدثر الدماكي الجاوي غفر الله له ولأبويه

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_324.html

98. قاموس المنور
المؤلف : الشيخ العلامة أحمد ورسون منور الجكجاوي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_691.html

99. الرعاة الغامضة في نقض كلام الرافضة
مترجما إلى اللغة الإندونيسية
المؤلف : الحبيب العلامة سالم بن أحمد بن جندان

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_256.html

100. جوهر الحكمة (باللغة الإندونيسية)
للشيخ أبويا يحيى زين المعارف

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_815.html

101. كتاب وعلم آدم الأسماء
في بيان معنى الآية وفضيلة العلم والعالم والتعلم
المؤلف : الشيخ أحمد بن أشموني الجاروني الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_828.html

102. عشرون صفة لله (باللغة الإندونيسية)
المؤلف : العلامة السيد مفتي بتافيا سابقا عثمان بن عبد الله بن عقيل بن يحيى

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_934.html

103. اعرف عقيدتك (باللغة الإندونيسية)

Kenalilah Akidahmu
المؤلف : سيدي الحبيب الداعي إلى الله منذر بن فؤاد المساوى

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/…/kenalilah-akidahmu_2…

104. إسعاف المطالع بشرح البدر اللامع نظم جمع الجوامع
للشيخ العلامة الإمام محمد محفوظ بن عبد الله الترمسي الجاوي

http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/10/blog-post_395.html

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Demikian Asimun Mas'ud menginfokan semoga bermanfaat. Aamiin

Link rujukan : https://demak-ku.blogspot.com/2015/11/100-kitab-karya-ulama-indonesia-yang.html?m=1

Rabu, 05 Desember 2018

SURGAMU BUKAN KARENA NASABMU, TAPI KARENA AMAL IBADAHMU


Ajaran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. yang paling dasar tentang “keistimewaan” di dalam Islam adalah hadits ini:

لا فضل لعربيّ على أعجميّ ولا لعجميّ على عربيّ، ولا لأحمر على أسود ولا لأسود على أحمر إلاّ بالتقوى.

“Tidak ada yang lebih mulia orang Arab atas orang asing, atau orang asing atas orang orang Arab; tidak juga kulit merah atas kulit hitam, atau kulit hitam atas kulit merah, kecuali dengan dengan taqwa.” *(Musnad Imam Ahmad Juz 5, hal. 411)*

Suatu hari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di hadapan keluarganya,

يا بني هاشم لا تأتيني الناس بأعمالهم وتأتوني بأنسابكم

“Wahai Bani Hasyim, janganlah datang kepadaku dengan membawa nasab kalian, sementara manusia datang kepadaku dengan amal mereka,”
*(Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, Juz 1, hal. 314; Al-Zayla’I, Takhrij Al-Akhbar, Juz 1, hal. 91; Al-Masyhadi, Kanz Al-Daqaiq, Juz 1, hal. 349).*

Tetapi pada beberapa sumber, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan dengan kalimat begini,

لا أغني عنكم من الله شيئاً ،وعنه صلى الله عليه وآله وسلم مَنْ أبطأ به عملُه، لم يُسرع به نسبُه

“Aku tidak bisa menolong kalian dari ancaman Allah.” Dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Barang siapa yang amalannya kurang lagi lamban, maka nasabnya tak dapat menutupi kekurangannya.” 
*(Al-Jashshash, Ahkam al-Quran, Juz 1. Hal. 1)*

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda,

يا معشر قريش اشتروا أنفسكم لا أغني عنكم من الله شيئا يا بني عبد مناف لا أغني عنكم من الله شيئا.يا عباس بن عبد المطلب لا أغني عنك من الله شيئا.ويا صفية عمة رسول الله لا أغني عنك من الله شيئا.ويا فاطمة بنت محمد سليني ما شئت من مالي لا أغني عنك من الله شيئا.

”Wahai orang-orang Qurays belilah diri kalian sendiri, saya tidak bisa membantu kalian sedikit pun dari azab Allah Subhanahu wa Ta'ala, wahai Bani Manaf saya tidak bisa membantu kalian sedikit pun dari azab Allah Ta'ala, wahai Abbas bin Abdul Muththalib saya tidak bisa membantu kalian sedikit pun dari azab Allah Ta'ala, wahai Shofiyah bibi Rasulullah, saya tidak bisa membantumu sedikit pun dari azab Allah, wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah harta sebanyak apa pun dariku, tapi saya tidak bisa membantumu sedikit pun dari adzab Allah.“ *(HR. Bukhari, Juz 3, hal. 191)*

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling taqwa.” *(QS. Al-Hujurat 13)* Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Minggu, 02 Desember 2018

HUKUM SHALAT BERJAMAAH ERA 212


*Pertanyaan*

Bagaimana hukum shalat apabila posisi laki-laki ketika shalat berjama'ah bercampur sejajar atau ada di belakang wanita, seperti saat acara reuni 212 Minggu, 02 Desrmber 2018 kemarin dan saat pelaksanaan shalat Idul Adha atau Idul Fitri yang seringkali saf shalatnya tak beraturan atau berantakan. mohon penjelasannya, syukron.

*Jawaban*

Dalam kaifiyah/tata cara shalat berjama'ah ada aturan yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai sunnahnya. Namun dalam situasi dan kondisi tertentu terpaksa sunnah Rasul tersebut terpaksa ditinggalkan. Sebagaimana penjelasan ushul fiqih ada sebuah kaidah,

الضرورات تبيح المحضورات

“Darurat/kebutuhan yang mendesak bisa membolehkan sesuatu yang sebelumnya terlarang”, (Kondisi darurat membolehkan yang diharamkan).

Kaidah diatas berlandaskan pada firman Allah yang berbunyi,

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Akan tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173)

Prinsipnya dalam keadaan terpaksa, ini diikat dengan suatu batasan *“tidak boleh melampaui batas”* dalam menggunakan sesuatu yang tidak patut atau haram, juga tidak keluar dari batasan darurat.

*Landasan shaf shalat berjama'ah*

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf (barisan di dalam shalat) bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang terakhir dan yang paling buruk adalah yang paling depan (HR. Muslim 132, Tirmidzi, no. 224, dan Ibnu Majah, no. 1000)

Hadits ini merupakan aturan ideal untuk posisi shaf lelaki dan wanita, bahwa yang lebih sesuai sunah, shaf wanita berada di belakang lelaki. Semakin jauh dari lelaki, semakin baik.

قَوْلُهُ خَيْرُ صُفُوفِ اَلرِّجَالِ أَوَّلُهَا لِقُرْبِهِمْ مِنَ الْاِمَامِ وَاسْتِمَاعِهِمْ لِقِرَاءَتِهِ وَبُعْدِهِمْ مِنَ النِّسَاءِ وَشَرُّهَا اَخِرُهَا لِقُرْبِهِمْ مِنَ النِّسَاءِ وَبُعْدِهِمْ مِنَ الْاِمَامِ وَخَيْرُ صُفُوفِ النَّسَاءِ اَخِرُهَا لِبُعْدِهِنَّ مِنَ الرِّجَالِ وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا لِقُرْبِهِنَّ مِنَ الرِّجَالِ

“Pernyataan; ‘sebaik-baiknya shaf laki-laki adalah shaf yang pertama’ karena dekatnya dengan imam, bisa mendengar dengan baik bacaannya, dan jauh dari perempuan. ‘Seburuk-buruknya shaf mereka adalah yang paling terakhir’ karena dekat dengan perempuan dan juah dari imam. ‘Sebaik-baiknya shaf perempuan adalah yang paling akhir’ karena jauh dengan laki-laki. Dan ‘seburuk-buruknya shaf perempuan’ adalah yang pertama karena dekat dengan laki-laki” (Al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarhi Jami’ at-Tirmidzi, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz, 2, h. 13)

*Jika shaf wanita sejajar dengan lelaki, apakah membatalkan shalat?*

Berikut keterangan seorang ulama Saudi Syeikh Sholeh Al-Utsaimin,

وقوف المرأة خلف صف الرجال سنة مأمور بها، ولو وقفت في صف الرجال لكان ذلك مكروهاً، وهل تبطل صلاة من يحاذيها؟ فيه قولان للعلماء في مذهب أحمد وغيره:

”Posisi shaf wanita di belakang laki-laki adalah aturan yang diperintahkan. Sehingga ketika wanita ini berdiri di shaf lelaki (sesejar dengan lelaki) maka statusnya dibenci. Apakah shalat lelaki yang berada di sampingnya itu menjadi batal? Ada dua pendapat dalam madzhab hambali dan madzhab yang lainnya.”

Selanjutnya beliau menyebutkan perselisihan mereka,

أحدهما: تبطل، كقول أبي حنيفة وهو اختيار أبي بكر وأبي حفص من أصحاب أحمد. والثاني: لا تبطل، كقول مالك والشافعي، وهو قول ابن حامد والقاضي وغيرهما

*Pendapat pertama,* shalat lelaki yang disampingnya batal, ini pendapat Abu Hanifah , dan pendapat yang dipilih oleh Abu Bakr dan Abu Hafsh di kalangan ulama hambali.

*Pendapat kedua,* shalatnya tidak batal. Ini pendapat Malik, as-Syafii, pendapat yang dipilih Abu Hamid, al-Qadhi dan yang lainnya. (al-Fatawa al-Kubro, 2/325).

 وَقَالَ الْجُمْهُورُ غَيْرُ الْحَنَفِيَّةِ:إِنْ وَقَفَتِ الْمَرْأَةُ فِي صَفِّ الرِّجَالِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاةُ مَنْ يَلِيهَا وَلَاصَلَاةُ مَنْ خَلْفَهَا، فَلَا يَمْنَعُ وُجُودُ صَفٍّ تَامٍّ مِنَ النِّسَاءِ اِقْتِدَاءُ مَنْ خَلْفَهُنَّ مِنَ الرِّجَالِ، وَلَا تَبْطُلُ صَلَاةُ مَنْ أَمَامَهَا، وَلَا صَلَاتُهَا، كَمَا لَوْ وَقَفَتْ فِي غَيْرِ صَلَاةٍ،

“Jumhurul ulama selain berpendapat; jika perempuan berdiri di shaf laki-laki maka shalatnya orang yang ada di sebelahnya tidak batal, begitu juga shalat orang yang ada di belakangnya. Karena itu adanya shaf perempuan yang sempuran tidak bisa menghalangi mengikutinya orang laki-laki yang ada di belakangnya. Dan tidak batal shalat orang yang ada di depan perempuan, begitu juga shalatnya perempuan. Hal ini sebagaimana ia berdiri pada selain shalat” (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-4, edisi revisi, juz, 2, h. 402)

وَالْأَمْرُ بِتَأْخِيرِ الْمَرْأَةِ: أَخِّرُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَخَّرَهُنَّ اللهُ لَا يَقْتَضِي الْفَسَادَ مَعَ عَدَمِهِ؛ لِأَنَّ تَرْتِيبَ الصُّفُوفِ سُنَّةٌ نَبَوِيَّةٌ فَقَطْ، وَالْمُخَالَفَةُ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ النِّسَاءِ لَا تُبْطِلُ الصَّلَاةَ، بِدَلِيلِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ وَقَفَ عَلَى يَسَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ

“Perintah untuk mengakhirkan (menempatkan perempuan pada barisan yang akhir setalah shaf laki-laki) sebagai sabda Rasulullah saw: ‘akhirkan mereka sebagaimana Allah mengkahirkannya’, tidak dengan serta merta mengharuskan fasad (rusak) shalat ketika shaf perempuan tidak berada di belakang shaf laki-laki. Karena urut-urutan shaf itu hanya sunnah nabi saja. Sedangkan berbeda dengan sunnah tersebut, baik laki-laki maupun perempuan tidak membatalkan shalat karena ada dalil yang menyatakan bahwa Ibnu Abbas ra pernah berdiri (bermakmum) di sebelah kiri Nabi tetapi shalatnya tidak batal”. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-4, edisi revisi, juz, 2, h. 402)

Dengan mengacu kepada penjelasan ini maka jika dalam shalat berjama'ah baik disaat acara reuni 212 kemarin atau shalat Idul Fitri atau Idul Adha terdapat shaf atau barisan shalat laki-laki berada sejajar (campur) atau di belangkang shaf perempuan tidaklah membatalkan shalat, namun tetap di hukumi makruh karena meninggalkan sunnah.

Demikian jawaban yang dapat saya (Asimun Mas'ud) kemukakan. Semoga bisa bermanfaat. Aamiin

* والله الموفق الى أقوم الطريق"

Sabtu, 01 Desember 2018

MELURUSKAN KESALAHAN DALAM MEMAHAMI HADITS TENTANG BID'AH



Perayaan Maulid Nabi, Tahlilan, Yasinan dan tasyakkuran sejenisnya sering dinilai sebagai amalan sia-sia dan mengada-ngada dalam agama yg harus dihindari. Demikian anggapan mereka yg memahami hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam secara tekstual tanpa memahaminya secara detail kandungan dan maksud hadits tersebut. Misal dalam memahami hadits-hadits berikut :

Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718]

Dalam riwayat Muslim, disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim, no. 1718]

*Memahami hadits per-kata*

Hadits pertama,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini..."

Hadits kedua,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً
"Barangsiapa melakukan suatu amalan..."

*Penjelasan penggalan hadits*

Contoh : Perayaan Maulid Nabi, Tahlilan, Yasinan dan sejenisnya adalah *perkara baru dalam agama atau suatu amalan baru dalam agama (bid'ah).*

مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"...yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”

لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"...yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”

*Penjelasan penggalan hadits*

Contoh : Perayaan Maulid Nabi, Tahlilan, Yasinan dan sejenisnya *pada umumnya berisi bacaan kalimah-kalimah thoiyibah seperti dzikir, sholawat, tasbih, tahlil, tahmid, bacaan Al-Qur'an dan Hadits Nabi serta taushiyah adalah berasal dari perintah agama,* maka semuanya itu tidaklah tertolak sebagaimana yg mereka pahami selama ini.

*Kesimpulannya*

Perayaan Maulid Nabi, Tahlilan, Yasinan dan tasyakkuran sejenisnya adalah *merupakan sesuatu perkara baru atau amalan baru yg berlandaskan perintah agama, maka hal baru tersebut tidaklah tertolak.* Wallahu a'lam bis-Shawab

Demikian Asimun Mas'ud menjelaskan semoga bermanfa'at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 29 November 2018

KAJIAN TENTANG SIFAT PROVOKATIF (TAHRISY)



Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengatakan tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun politik. Para calon anggota DPR, DPRD dan calon presiden-wakil presiden saling berloma merebut suara dan memenangkan pemilihan.

Namun saat ini ada hal-hal yang memprihatinkan. Itu tak lain karena adanya oknum tertentu dari para pelaku politik dan pendukungnya, melontarkan kata-kata panas yang sangat mengganggu dan merusak. Seperti adanya ajakan untuk melawan dan melibas musuh dan lawan politik mereka.

MUI juga menghimbau agar menghindarkan klaim-klaim sepihak, yang akan menambah runyam situasi. MUI meminta semua pihak agar berlaku dewasa dan menghormati nilai-nilai agama dan budaya bangsa Indonesia dan menjauhi sifat-sifat tercela yang mengotori rasa persaudaraan.

Di antara perbuatan tercela yang merusak persaudaraan, merusak persatuan, mengganggu stabilitas dan merupakan perbuatan setan, adalah tahrisy atau provokasi sesama Muslim.

*Definisi Tahrisy*

Imam Al Baghawi mengatakan,

التحريش : إيقاع الخصومة والخشونة بينهم

“Tahrisy adalah memicu adanya saling bertengkar dan saling berbuat kasar antara sesama Muslim” (Syarhus Sunnah, 13/104).

Imam Ibnu Atsir mengatakan,

التحريش : الإغراء بين الناس بعضهم ببعض

“Tahrisy adalah memancing pertengkaran antara orang-orang satu sama lain” (Jami’ Al Ushul, 2/754).

Tahrisy adalah perbuatan setan
Provokasi antara sesama Muslim atau tahrisy adalah perbuatan setan. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قد أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ في جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ في التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa melakukan tahrisy di antara mereka” (HR. Muslim no. 2812).

Beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ على الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ منه مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فيقول: ما صَنَعْتَ شيئا، قال ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: ما تَرَكْتُهُ حتى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قال: فَيُدْنِيهِ منه، وَيَقُولُ: نِعْمَ أنت فَيلتَزمُهُ

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian ia mengutus para tentaranya. Tentara iblis yang paling bawah adalah yang paling besar fitnah (kerusakan) nya. Salah satu tentara iblis berkata: saya telah melakukan ini dan itu. Maka iblis mengatakan: kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian tentara iblis yang lain datang dan berkata: Aku tidak meninggalkan seseorang kecuali setelah ia berpisah dengan istrinya. Maka tentara iblis ini pun didekatkan kepada iblis. Lalu iblis berkata: kamulah yang terbaik, teruslah lakukan itu” (HR. Muslim no. 2813).

Dalam hadits ini juga setan melakukan tahrisy sehingga suami dan istri saling berpisah.

*Tahrisy termasuk Namimah*

Al Imam Ibnu Katsir mengatakan,

النميمة على قسمين: تارة تكون على وجه التحريش بين الناس وتفريق قلوب المؤمنين فهذا حرام متفق عليه

“Namimah ada dua macam: terkadang berupa tahrisy (provokasi) antara orang-orang dan mencerai-beraikan hati kaum Mu’minin. Maka ini hukumnya haram secara sepakat ulama” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/371, Asy Syamilah).

*Apa itu namimah?*

Imam Adz Dzahabi mengatakan,

والنمام هو الذي ينقل الحديث بين الناس وبين اثنين بما يؤذي أحدهما أو يوحش قلبه على صاحبه أو صديقه بأن يقول له قال عنك فلان كذا وكذا

“Nammam (pelaku namimah) adalah orang yang menukil perkataan dari satu orang ke orang lain atau antara dua orang untuk menimbulkan gangguan pada salah satunya, atau memprovokasi salah satu dari mereka terhadap yang lain atau terhadap temannya. Yaitu dengan mengatakan: ‘si Fulan mengatakan tentang kamu demikian dan demikian'” (Al Kabair, 217).

Contohnya, si A berkomunikasi dengan B via whatsapp, lalu B menyebutkan sesuatu yang kurang bagus tentang C. A lalu screenshot chat dari B tersebut kemudian di kirim kepada C, ini namimah!! Allahul musta’an.

Dan namimah ini merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُطِع كل حلاف مهين هماز مشاء بنميم

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,yang banyak mencela, yang kian ke mari menebar namimah” (QS. Al Qalam: 10-11).

Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak masuk surga pelaku namimah” (HR. Muslim no. 105).

Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam pernah mendengar rintihan orang yang disiksa dalam kuburnya, beliau bersabda,

فقال يعذبان وما يعذبان في كبير وإنه لكبير كان أحدهما لا يستتر من البول وكان الآخر يمشي بالنميمة

“Dua orang ini sedang diadzab dalam kubur. Dan mereka tidak diadzab karena sesuatu yang mereka anggap besar, namun besar (di sisi Allah). Yang pertama di adzab karena tidak menutupi auratnya ketika buang air kecil, yang kedua diadzab karena melakukan namimah” (HR. Bukhari no. 216, Muslim no. 292).

Beliau juga bersabda,

إنَّ شرارَ عبادِ اللهِ من هذه الأُمَّةِ المشَّاؤونَ بالنميمةِ ، المُفرِّقون بين الأحبَّةِ الباغونَ للبُرآءِ العنتَ

“Seburuk-buruk hamba Allah adalah orang yang suka melakukan namimah. Ia memisahkan orang-orang yang saling mencintai, pengkhianat terhadap orang-orang yang baik” (HR. Ahmad).

Ahlul hikmah mengatakan,

النَّمَّامُ شُؤْمٌ لَا تَنْزِلُ الرَّحمة على قوم هو فيهم

“Tukang namimah (adu domba) adalah racun yang membuat suatu kaum tidak mendapat rahmat Allah selama masih ada mereka”.

Maka hendaknya jauhkan diri kita dari tahrisy dan juga namimah, karena ini perbuatan yang sangat busuk dan tercela.

*Dekatkan bukan jauhkan*

Maka ketika dua pihak dari kaum Muslimin sedang bertikai, maka wajib mengusahakan perdamaian antara keduanya bukan malah memprovokasi. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

“Dan damaikanlah orang yang berselisih di antara kalian” (QS. Al Anfal: 1).

Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ألا أُخبِرُكم بأفضلَ من درجةِ الصيامِ والصلاةِ والصدقةِ ؟ قالوا : بلى . قال : صلاحُ ذاتِ البَيْنِ ، فإنَّ فسادَ ذاتِ البَيْنِ هي الحالقةُ

“Maukah kalian aku kabarkan amalan yang menyamai derajat puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat menjawab: tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda, "Mendamaikan orang-orang yang berseteru. Karena orang semakin merusak keadaan orang-orang yang berseteru, dialah pembuat kebinasaan” (HR. At Tirmidzi no. 2509, ia berkata: “shahih”).

Maka ketika ada saudara seiman yang berselisih, berbeda pendapat atau pilihan politik, damaikan bukan provokasi, dekatkan bukan jauhkan. Semoga Allah meridhoi dan memberi taufik kepada kita semua.

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 24 November 2018

KAJIAN TENTANG HIKMAH MENCINTAI PRIA YANG LEBIH MUDA*


(Jawaban untuk pertanyaan akhwat yg galau karena dilamar brondong)

Pernikahan, usia istri lebih tua dari pada suami, memang terhitung jarang. Karena umumnnya, lelaki lebih tua dibandingkan wanita.

Meskipun demikian, hal ini sah-sah saja dalam islam. Karena di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada banyak pernikahan, dimana usia istri lebih tua dibandingkan suami. Bahkan yang menjalani hal ini adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.

Menurut keterangan mayoritas ahli sejarah, usia Khadijah ketika menikah dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekitar 40 tahun. Ada juga yang mengatakan 45 tahun. Sementara menurut riwayat al-Baihaqi dan al-Hakim, usia Khadijah 35 tahun. Sementara Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia sekitar 25 tahun.

Al-Hafidz Ibnu Katsir menukil keterangan az-Zuhri,

قال الزهري: وكان عمر رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم تزوج خديجة إحدى وعشرين سنة، وقيل خمسا وعشرين سنة، زمان بنيت الكعبة، وقال الواقدي وزاد: ولها خمس وأربعون سنة

Az-Zuhri mengatakan, “Usia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikah dengan Khadijah adalah 21 tahun. Ada juga yang mengatakan 25 tahun. Di zaman pembangunan ulang Ka’bah. Sementara kata al-Waqidi, ada tambahan, “Usia Khadijah 45 tahun.” (as-Sirah an-Nabawiyah, Ibnu Katsir, 4/581).

Setelah Khadijah Radhiyallahu ‘anha meninggal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Saudah bintu Zam’ah. Berapa Usia Saudah?

Beliau janda yang sudah tua. Saudah dinikahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di usia sekitar 66 th.

Muhammad Abu Zahrah dalam kitabnya Khatam an-Nabiyin mengatakan,

تزوج النبي صلى الله تعالى عليه وسلم من بعدها قبل الهجرة سودة بنت زمعة، وكانت نحو سن خديجة، أي في ست وستين من عمرها

Setelah meninggalnya Khadijah, sebelum Hijrah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Saudah bintu Zam’ah. Usianya seperti Khadijah, kurang lebih 66 tahun. (Khatam an-Nabiyin, 3/1097)

Perbedaan usia terkadang membuat anda bimbang untuk melanjutkan atau mengakhiri hubungan, terlebih bila anda memiliki pacar yg berusia lebih muda. Anda mungkin berpikir pria lebih muda biasanya memiliki pemikiran yg belum dewasa dan mengharuskan anda untuk lebih ngemong. Belum lagi hubungan asmara dengan pria lebih muda sering kali dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Dibalik itu semua, ternyata ada beberapa kelebihan jika anda memiliki hubungan asmara dengan pria lebih muda, di antaranya:

*1. Ta'arruf/perkenalan jadi lebih menyenangkan*

Menjalin hubungan asmara dengan pria lebih muda akan menghadirkan suasana baru dalam hidup anda. Ya, gaya pacaran dengan pria lebih muda tentu akan berbeda bila anda berpacaran dengan pria yg usianya lebih tua dari anda.

Pria usia muda cenderung memiliki ide-ide kreatif untuk menyenangkan hati anda saat ta'arrufan (perkenalan), baik secara fisik dan emosional.

Dengan demikian, menjalin perkenalan dengan pria lebih muda justru bisa membuat kisah asmara anda semakin romantis dan harmonis. Tidak hanya itu, anda akan merasa sangat diutamakan dan dihargai olehnya.

*2. Lebih terbuka*

Dengan siapapun anda menjalin hubungan, tentunya anda ingin tahu seluk-beluk kehidupan pasangan, termasuk soal mantan pacar dan kehidupan asmaranya di masa lalu.

Semakin muda usia pasangan, maka ia akan semakin terbuka dengan anda, baik itu tentang masa lalunya, mantan pacarnya, dan sebagainya.

Akan tetapi, anda tetap perlu berkompromi dengan pasangan tentang hal ini untuk mencegah segala konflik. Ambil contoh, saat anda dan pasangan dilanda konflik, mungkin anda membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan diri, sementara pasangan mungkin ingin segera menyelesaikannya saat itu juga.

Hal-hal seperti itu yg harus didiskusikan bersama supaya hubungan asmara terus langgeng dan awet.

*3. Jadi awet muda*

Menghabiskan banyak waktu dengan pasangan yg lebih muda dapat membantu memunculkan aura jiwa muda anda. Pasalnya, tidak menutup kemungkinan pasangan anda akan mengajak anda melakukan aktivitas yg mungkin belum pernah atau jarang anda lakukan sebelumnya.

Misalnya saja menjelajah tempat2 menarik yg belum pernah anda kunjungi. Ya, berhubungan dengan pria lebih muda dapat membuat anda tersenyum lebih banyak dan membuat anda awet muda.

*Benarkah Rentan Perceraian?*

Masalah rentan perceraian, sebenarnya ini kembali kepada sikap. Memang umumnya lelaki diharapkan jauh lebih dewasa dari pada wanita. Karena dia yang akan menjadi kepala keluarga. Sehingga dengan posisi usia yang lebih tua, diharapkan dia bisa lebih dewasa dari pada istrinya.

Meskipun dalam banyak kasus, usia tidak menjamin.

Kita mengakui, Rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Khadijah adalah rumah tangga sangat bahagia. Meskipun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih muda dari pada Khadijah.

Jangan pernah lepas untuk belajar segala persiapan nikah. Karena ilmu menjadi modal utama semua pelaku rumah tangga. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud menjelaskan semoga bermanfa'at. Aamiin

*والله الموفق الى اقوم الطريق*

🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻