MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Minggu, 23 Desember 2018

KAJIAN TENTANG MUSIBAH SEBAGAI UJIAN, TEGURAN ATAU ADZAB


Apakah musibah itu sebagai ujian untuk meninggikan derajat hamba? Atau musibah sebagai teguran? Ataukah musibah sebagai siksa (azab) yang disegerakan di dunia? Ketiga kemungkinan itu bisa ada. Sehingga dengan mengetahui hikmah musibah tersebut seharusnya membuat kita giat dan berusaha keras untuk bersabar serta meraih pahala lewat ujian.

Musibah atau bencana yang menimpa orang yang beriman yang tidak lalai dari keimanannya, sifatnya adalah ujian dan cobaan. Allah ingin melihat bukti keimanan dan kesabaran kita. Jika kita bisa menyikapi dengan benar, dan mengembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan dan rahmat sesudah musibah atau bencana tersebut.

Sebaliknya bagi orang-orang yang bergelimang dosa dan kemaksiatan,  bencana atau musibah yang menimpa, itu adalah sebagai teguran agar mereka sadar dari kesalahannya dan memperbaikinya. Bahkan merupakan siksa atau azab dari Allah atas dosa-dosa mereka. Apabila ada orang yang hidupnya bergelimang kejahatan dan kemaksiatan, tetapi lolos dari bencana/musibah, maka Allah sedang menyiapkan bencana yang lebih dahsyat untuknya, atau bisa jadi ini merupakan siksa atau azab yang ditangguhkan, yang kelak di akhiratlah balasan atas segala dosa dan kejahatan serta maksiat yang dilakukannya.

Sebenarnya yang terpenting bukan musibahnya, tetapi apa alasan Allah menimpakan musibah itu kepada kita. Untuk di ingat, jika musibah itu terjadi, disebabkan dosa-dosa kita, maka segeralah bertobat kepada Allah. Kalau musibah yang terjadi karena ujian keimanan kita, maka kuatkan iman dan berpegang teguhlah kepada Allah.

Siapa saja berbuat kebaikan, maka manfaatnya akan kembali kepadanya. Sedangkan siapa saja berbuat kejahatan, maka bencananya juga akan kembali kepada dirinya sendiri. Bisa dibalas didunia atau di akhirat.

*1- Musibah yang menimpa adalah ujian sebagaimana yang menimpa para Nabi dan Rasul.*

Misalnya dengan ditimpakan penyakit dan tidak diberikan keturunan. Maksud musibah seperti ini adalah untuk meninggikan derajat, memperbesar pahala, dan sebagai qudwah (teladan) bagi yang lainnya untuk bersabar.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185).

*2- Musibah bisa jadi pula sebagai sebab dihapuskannya dosa.*

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

“Barang siapa yang melakukan keburukan (baca:maksiat) maka dia akan mendapatkan balasan karena keburukan yang telah dilakukannya”(QS An Nisa: 123).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (وصب) (yang terus menerus), rasa capek (نصب), kekhawatiran (pada pikiran), sedih  (ولا هم ولا حزن) (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hati (غم) atau sesuatu yang menyakiti (ولا أذى) sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

*Keterangan*

Kata “وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ” keduanya adalah penyakit hati. (Lihat Fathul Bari, 10: 106)

Kata “غَمٍّ” termasuk penyakit hati yang berarti kesempitan (kesulitan) yang diderita hati. Ada ulama yang merinci makna dari tiga kata “الْهَمّ وَالْغَمّ وَالْحُزْن”. Kata “الْهَمّ” muncul dari pikiran yang timbul bentuk menyakiti dari orang lain. Kata “وَالْغَمّ” timbul pada hati. Sedangkan “وَالْحُزْن” timbul karena sesuatu yang hilang sehingga membuat susah. (Lihat Fathul Bari, 10: 106)

Ada yang menyatakan bahwa maksudnya adalah umum. Ada yang menyatakan khusus pada bentuk menyakiti dari orang lain padanya. (Lihat Fathul Bari, 10: 106)

*3- Musibah bisa jadi adalah hukuman yang disegerakan (baca: siksaan atau adzab) di dunia disebabkan tumpukan maksiat dan tidak bersegera untuk bertaubat.*

Dari Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396

Musibah dan bencana dalam Kitab dan Sunah ada dua sebab secara langsung –disamping hikmah Allah Ta’ala dalam qodo dan qadar-Nya:

*Sebab pertama;* dosa dan kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang. Baik kekufuran,  kemaksiatan atau dosa besar. Maka Allah 'Azza wa Jalla menguji disebabkan pelaku kemaksiatan melakukannya berlebihan sebagai hukuman yang disegerakan.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

( وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ) النساء/79

“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa;: 79).

Para ahli tafsir mengatakan maksdunya disebabkan dosa anda. Dan Firman Subhanahu wa Ta’ala:

( وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ) الشورى/30

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. As-Syuro: 30)

Silahkan melihat ‘Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, (2/363).

Dari Anas radhiallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

( إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ). رواه الترمذي (2396)

“Ketika Allah menginginkan hamba-Nya suatu kebaikan, maka disegerakan hukumannya di dunia. Kalau Allah menginginkan hamba-Nya suatu kejelekan, maka dosanya ditahan sampai dibalas nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmizi, 2396)

*Sebab kedua;* keinginan Allah Ta’ala untuk meninggikan derajat orang mukmin yang sabar. Sehingga dicoba dengan musibah agar ridho dan bersabar. Dan akan diberikan pahala orang-orang sabar di akhirat. Ditulis di sisi Allah termasuk orang yang beruntung. Dimana cobaan seringkali mengiringi para nabi dan orang-orang sholeh tanpa meninggalkan mereka. Allah menjadikan sebagai kemulyaan bagi mereka agar mendapatkan derajat tinggi di surga. Oleh karena itu telah ada hadits shoheh dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,

( إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ). رواه أبو داود (3090) 

“Sesungguhnya seorang hamba ketika didahului kedudukan di sisi Allah, dimana amalannya tidak sampai (kepada-Nya), maka Allah akan mengujinya di badan atau harta atau anaknya.” (HR. Abu Dawud, (3090)

Dan dari Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ ) . رواه الترمذي (2396)

“Sesungguhnya agungnya pahala disertai dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang redo maka Dia akan redo dan siapa yang murka, maka Dia juga akan murka.” (HR. Abu Dawud, (2396)

Sehingga dikumpulkan dua sebab dalam hadits Aisyah radhiallahu anha sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

( مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً ، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً )
رواه البخاري (5641) ، ومسلم (2573)

“Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya. Atau dihapuskan kesalahannya dengannya.” HR. Bukhori, (5641) dan Muslim, (2573).

Kemudian saling terkait diantara dua sebab ini, hal itu lebih agung dibandingkan hanya sendirian. Tidaklah anda melihat, bahwa orang yang dicoba oleh Allah dengan suatu musibah dikarenakan dosanya dan dia bersabar serta bersyukur. Maka Allah akan mengampuni dosanya, mengangkat derajatnya di surga dan dipenuhi pahala orang-orang yang sabar dan orang yang mengharap pahala.

Sebagaimana orang yang dicoba oleh Allah dengan suatu musibah, agar mendapatkan kedudukan tinggi yang telah Allah tulis di surga baginya. Menghapuskan dosa-dosa yang lalu. Dan hal itu termasuk balasan baginya di dunia, tidak terulang nanti di akhirat. Sebagaimana yang terjadi pada sebagian Rasul dan Nabi. Seperti Adam alaihis salam, Yunus alaihis salam. Ketika Allah menguji Adam dengan mengeluarkannya dari surga. Yunus bin Matta dicoba dengan masuk ke dalam perut ikan paus. Sehingga Allah mengangkat keduanya dengan cobaan ini karena kesabaran dan harapan (menggapai) pahala di sisi Allah Subhanah. Hal itu sebagai tebusan karena kesalahan yang terjadi padanya pada kedua nabi alaihimas salam.

Yang menunjukkan hal itu bahwa balasan dunia tidak terpisah dengan balasan akhirat. Dan menyatuan dua sebab ini telah ada pada banyak hadits nabawi yang shoheh. Diantaranya diriwayatkan oleh Sa’d bin Abi Waqqos radhiallahu anhu berkata,

( قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ! أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَمَا يَبْرَحُ البَلاَءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ). رواه الترمذي (2398) وقال : حسن صحيح

“Saya bertanya, Wahai Rasulullah !! siapakah manusia yang paling berat cobaannya? Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian yang paling bagus dan paling bagus. Sehingga seseorang dicoba sesuai dengan agamanya. Kalau agamanya kuat, maka dia akan diberi cobaan yang berat. Kalau agamanya lemah, maka dicoba sesuai dengan agamanya. Tidaklah cobaan berada dari seorang hamba sampai dia meniggalkannya dan berjalan di atas bumi sementara dia tidak mempunyai kesalahan.” (HR. Tirmizi, (2398) dan mengatakan, “Hasan Shoheh).

Meskipun begitu terkadang salah satu sebab lebih menonjol pada sebagian contoh cobaan dari sebab lainnya. Mungkian hal itu dapat dipahami di sela-sela kaitan kondisi yang terkait dengan musibah itu.

Kalau yang dicoba orang kafir, maka tidak mungkin cobaannya itu mengangkat derajatnya. Karena kafir disisi Allah tidak ada harganya pada hari kiamat. Akan tetapi hal itu bisa menjadi pelajaran dan peringatan bagi yang lainnya agar tidak melakukan prilaku sepertinya. Bisa jadi hal itu termasuk balasan Allah yang disegerakan di dunia. Tambahan dari apa yang disimpan di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman:

( أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي الأرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ * لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَشَقُّ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ ) الرعد /33-34

“Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu." Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk. Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah.” (QS. Ar-Ra’du: 33-34).

Sementara kalau yang terkena musibah itu orang Islam, berbuat kemaksiatan secara terang-terangan. Atau orang fasik yang Nampak kefasikannya. Bisa jadi persangkaan kuat itu sebagai balasan dan hukuman dari cobaan ini. Karena menghapus kesalahan itu lebih dahulu dibandingkan mengangkat derajat. Orang bermaksiat lebih membutuhkan menghapus kesalahan dibandingkan dengan mengangkat derajatnya.

Sebaliknya kalau seorang muslim itu ahli ibadah taat dan sholeh. Tidak ada antara dia dengan Allah hanya ibadah saja. Bersyukur, memuji, kembali dan tunduk kepada-Nya subhanah. Persangkaan kuat, dalam cobaannya itu dari sisi kemulyaan dan menaikkan derajatnya. Orang ahli ibadah adalah para saksi Allah di bumi, ketika diketahui pada dirinya ada kebaikan, maka mereka diberi kabar gembira dengan menaikkan derajat di sisi Allah kalau dia sabar dalam cobaannya.

Sementara kalau orang yang terkena musibah Nampak  tidak rela dan mengeluh, tidak disangka kalau hal itu menjadi penghormatan dari Allah untuk mengangkat derajatnya. Allah telah mengatahui ketidak sabaran dan ketidak redoan. Yang lebih dekat dari fenomena ini adalah balasan dan hukuman. Sebagian orang sholeh mengatakan “Tanda cobaan itu sebagai balasan dan imbalan adalah tidak sabar ketika ada cobaan dan mengeluh serta mengaduh kepada makhluk.

Tanda cobaan itu sebagai penghapus dan filter kesalahan adalah adanya kesabaran nan indah tanpa ada keluhan. Tidak mengeluh dan tidak mengaduh. Tidak berat dalam menunaikan perintah ketaatan.

Tanda cobaan untuk mengankat derajat adalah adanya keredoan dan persetujuan, jiwanya tenang serta damai dalam ketentuan sampai terlampaui (terselesaikan).” Selesai

Begitulah, tidak ada kecuali qorinah persangkaan memungkinkan seorang hamba memperhatikan agar dapat mengetahui sesuatu dari hikmah Allah ta’ala dalam musibah dan bencana. Bukan menentukan hikmah pada diri atau kepada hamba Allah yang terkena musibah.

Mungkin yang terpenting dari penjelasan ini semua adalah dapat dikatakan, “Sesungguhnya faedah amal yang selayaknya seorang hamba merenungkannya adalah bahwa semua musibah dan cobaan bagi dia akan mendapatkan kebaikan dan pahala selagi dia sabar dan mengharap pahala. Dan semua cobaan serta musibah bagi dia buruk dan jelek kalau dia mengeluh dan mengaduh. Kalau dirinya dapat menerima musibah dan reda terhadap qodho’ Allah, hal itu tidak akan berpengaruh baginya setelah itu, apakah mengetahui sebab cobaan atau tidak mengetahui. Bahkan yang lebih utama, hendaknya dia selalu menyalahkan dirinya dengan dosa dan kekurangan. Mengevaluasi diri dari kekurangan atau kesalahan. Semua kita mempunyai kesalahan. Siapakah diantara kita yang tidak kurang di sisi Allah Ta’ala. Kalau Allah Subhanahu wata’ala telah menimpakan musibah pada waktu Uhud dengan keguguran yang besar. Mereka adalah para shahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam, manusia terbaik setelah para Rasul dan para Nabi disebabkan menyalahi perintah Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Bagaimana seseorang menyangka hal itu pada dirinya layak untuk mengangkat derajatnya pada setiap musibah yang menimpanya. Dahulu Ibrohim bin Adham rahimahullah -ketika beliau melihat hembusan angin kencang dan perubahan (cuaca) di langit- beliau mengatakan, “Ini disebabkan dosaku. Kalau sekiranya saya keluar diantara kamu semua, maka tidak akan menimpa pada kalian semua.”

Bagaimana dengan kondisi kita yang kurang dan berdosa?.

Kemudian yang lebih utama dan lebih penting dari itu semua, hendaknya seorang hamba senantiasa berprasangka baik kepada Tuhannya. Dalam setiap kondisi. Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Mengetahui, Maha Menghendaki dan Sang Pemilik Ampunan.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar mengasihi dan mengampuni kita semua. Mengajarkan apa yang bermanfaat untuk kita. Memberikan pahala terhadap musibah dan ujian kita. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Ibnu Mas'ud menyampaikan semoga bermanfa'at. Aamiin

* والله الموفق الى أقوم الطريق*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar