MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Selasa, 27 Januari 2026

DOA UNTUK ANAK SHOLEHKU MUHAMMAD AMMAR AL-FAQIH

MILAD KE-5

اللهم احفظ إبني محمد عمار الفقيه واحرسه بعينك الذي لا تنام، واجعله من الصالحين البارين، وحفظة كتابك الكريم، وارزقه فرحة وسعادة لا تنتهي، وبارك له في عامه الجديد

اللهم اجعل ابني حسن الخلق والخلق، قوي الدين والبدن، سعيد الدنيا والاخرة، وقر عيني به، وارزقه الصحبة الصالحة

اللهم إني أستودعك عاما مضى من عمره، وعاما قادم، فبدل أقداره إلى أجملها، واجعله عام خير وفرح

حصنتك برب الفلق يا بني أن لا يقترب منك سوء، ولا يضرك مع اسمه شيء

اللهم ارزقه الحكمة، والعلم النافع، وأعني على تربيته على ما يرضيك

يا رب، أسعد قلبه، وأبعد عنه الحزن، واجعله سنداً لي في الحياة

اللهم بارك لي فيه، ولا تريني فيه بأساً يبكيني، فإنه قطعة من روحي

Ya Allah, lindungilah anakku Muhammad Ammar Al-Faqih dan jagalah dia dengan penjagaan-Mu yang tidak pernah tidur. Jadikanlah dia termasuk orang-orang yang shalih dan berbakti, serta penghafal Kitab-Mu yang mulia. Berikanlah dia kebahagiaan dan kesenangan yang tidak pernah berakhir, dan berkahilah dia di tahun barunya.

Ya Allah, jadikanlah anakku memiliki akhlak dan perilaku yang baik, kuat dalam agama dan fisik, bahagia di dunia dan akhirat, dan jadikanlah dia penyejuk hatiku. Berikanlah dia teman-teman yang baik.

Ya Allah, aku titipkan tahun yang telah berlalu dari umurnya dan tahun yang akan datang kepada-Mu. Ubahlah takdirnya menjadi yang lebih baik, dan jadikanlah tahun ini tahun kebaikan dan kebahagiaan.

Aku lindungkan kamu dengan Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, wahai anakku, agar tidak ada keburukan yang mendekatimu, dan tidak ada yang dapat membahayakanmu dengan nama-Nya.

Ya Allah, berikanlah anakku hikmah dan ilmu yang bermanfaat, dan bantulah aku untuk mendidiknya sesuai dengan apa yang Engkau ridhai.

Ya Rabb, jadikanlah hatinya bahagia, jauhkanlah kesedihan darinya, dan jadikanlah dia sebagai sandaran bagiku dalam kehidupan.

Ya Allah, berkahilah aku dengan anakku, dan janganlah Engkau perlihatkan kepadaku sesuatu yang menyakitkan darinya, karena dia adalah bagian dari jiwaku.

Sabtu, 24 Januari 2026

KAJIAN TENTANG JENAZAH YANG MANDI SENDIRI, BENARKAH?

Diberanda sy lewat sebuah video pendek seorang habib yg menjelaskan terkait jenazah yg bisa memandikan dirinya sendiri (mandi sendiri) ada dua ulama berbeda pendapat dalam penjelasannya konon jika dia mengutip perkataan Imam Romli dalam kitabnya adalah diperbolehkan.

Melalui penelusuran sy dapatkan jawaban bahwa perbedaan pendapat Imam Romli tersebut bukan kebolehan jenazah mandi sendiri tetapi jika ada jin yg memandikan jenazah menurut Imam Ibnu Hajar (Al-Haitami) tidak cukup (tidak boleh) dan menurut Imam Romli adalah cukup (boleh)

واختلف في تغسيل الجن، فذهب ابن حجر إلى عدم الاكتفاء بتغسيلهم

"Ulama berbeda pendapat tentang jika yang memandikan itu jin, maka Ibnu Hajar berpendapat bahwa tidak cukup dengan memandikan mereka. Sedangkan Ramli berpendapat bahwa itu sudah cukup." ((I'anah Ath-Thalibin juz 2 hal. 124)

Hukum memandikan jenazah adalah Fardhu Kifayah. Jika kita melihat ada jenazah yang dimandikan oleh malaikat maka itu tidak mencukupi dan harus diulang mandinya karena yang diperintahkan adalah kita. Sedangkan jika yang memandikan jenazah adalah jin maka terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar yang berpendapat tidak mencukupi , sedangkan menurut Imam Romli sudah mencukupi.

Menurut Ibnu Qosim jika ada jenazah yang mandi sendiri sebab karomahnya maka sudah mencukupi, tidak bisa dikatakan bahwa yang diperintah dengan wajibnya memandikan adalah selain jenazahnya karena boleh saja bahwa perintah tersebut karena jenazahnya tidak mampu mandi sendiri, maka jika jenazahnya bisa mandi sendiri sebab karomahnya maka itu sudah mencukupi.

(قوله: وإن شاهدنا الملائكة تغسله) غاية لمفهوم ما قبله، أي فلا يسقط عنا الطلب بفعل غيرنا، وإن شاهدنا الملائكة تغسله فلا بد من إعادة غسله.

قال سم: وينبغي في صلاة الملائكة ما قيل في غسلهم إياه، بخلاف التكفين والدفن، فيجزئ من الملائكة. قال: وظاهر أن الحمل كالدفن، بل أولى كما هو ظاهر. اه.

وإنما اكتفى بذلك منهم لأن المقصود الستر والمواراة، وقد حصلا. بخلاف الغسل والصلاة، فإن المقصود منهما التعبد بفعلنا مع النظافة في الغسل. واختلف في تغسيل الجن، فذهب ابن حجر إلى عدم الاكتفاء بتغسيلهم. وذهب الرملي إلى الاكتفاء بذلك.

قال سم: (فرع) لو غسل الميت نفسه كرامة، فهل يكفي؟ لا يبعد أن يكفي. ولا يقال المخاطب بالفرض غيره، لجواز أنه إنما خوطب بذلك غيره لعجزه، فإذا أتى به كرامة كفى. (إعانة الطالبين ج ٢ ص ١٢٤)

"(Perkataanya: Dan jika kita melihat malaikat memandikannya) adalah batasan untuk makna sebelumnya, yaitu tidak gugur kewajiban kita dengan perbuatan orang lain, meskipun kita melihat malaikat memandikannya, tetap harus dimandikan lagi.

Syaikh Sam berkata: Dan dalam shalat malaikat, berlaku apa yang dikatakan tentang memandikan mereka, berbeda dengan mengkafani dan mengkubur, maka itu sudah cukup jika dilakukan oleh malaikat.

Dia berkata: Dan yang jelas, membawa mayit ke kubur seperti mengkubur, bahkan lebih utama.

Dan dia hanya mencukupkan diri dengan itu dari mereka karena tujuan adalah menutupi dan menyembunyikan, dan itu telah tercapai. Berbeda dengan mandi dan shalat, karena tujuan dari keduanya adalah ibadah dengan melakukan kita sendiri beserta kebersihan dalam mandi.

Ulama berbeda pendapat tentang jika yang memandikan itu jin, maka Ibnu Hajar berpendapat bahwa tidak cukup dengan memandikan mereka. Sedangkan Ramli berpendapat bahwa itu sudah cukup.

Syaikh Sam berkata: (Cabang) Jika mayit memandikan dirinya sendiri sebagai karamah, apakah itu cukup? Tidak jauh bahwa itu cukup. Dan tidak dikatakan bahwa yang diperintahkan dengan kewajiban adalah orang lain, karena boleh jadi dia hanya diperintahkan dengan itu karena ketidakmampuannya, maka jika dia melakukannya sebagai karamah, itu sudah cukup." (I'anah Ath-Thalibin juz 2 hal. 124)

قال سم : (فرع) لو غسل الميت نفسه كرامة، فهل يكفي؟ لا يبعد أن يكفي. ولا يقال المخاطب بالفرض غيره، لجواز أنه إنما خوطب بذلك غيره لعجزه، فإذا أتى به كرامة كفى. (نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ج 2 ص 444)

"Syaikh Sam berkata: (Cabang) Jika mayit memandikan dirinya sendiri sebagai karamah, apakah itu cukup? Tidak jauh bahwa itu cukup. Dan tidak dikatakan bahwa yang diperintahkan dengan kewajiban adalah orang lain, karena boleh jadi dia hanya diperintahkan dengan itu karena ketidakmampuannya, maka jika dia melakukannya sebagai karamah, itu sudah cukup." (Nihayah Al-Muhtaj Ila Syarh Al-Minhaj juz 2 hal.444) Wallahu 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

HUKUM DAN BATASAN MENCINTAI YAHUDI (DAN NON-MUSLIM LAINNYA)

Dalam sebuah penggalan video yg lewat di beranda FB Habib Ali Al-Jufri mengatakan mencintai yahudi adalah jalan sufi, sepertinya beliau sedang menjawab satu pertanyaan sebagaimana beliau ucapkan, 

أأذا قال تحب اليهود, قال : نعم, مرة أخرى... مرة أخرى... انا احب اليهود واكرم اختلال المختل منهم

"Apakah kamu mengatakan, kamu mencintai orang Yahudi? Dia menjawab: Ya, sekali lagi...sekali lagi... saya mencintai orang Yahudi dan saya menghormati orang yang sakit di antara mereka."

Bagaimana pandangan Islam batasan mencintai yahudi (dan non-muslim secara umum)?

Dalam pandangan Islam, batasan mencintai Yahudi (dan non-muslim secara umum) berkaitan erat dengan prinsip Al-Wala' (loyalitas/kecintaan) dan Al-Bara' (berlepas diri). 

Islam membedakan antara interaksi sosial (muamalah) yang baik dengan loyalitas akidah. Berikut adalah rincian batasan kebolehannya:

*1. Batasan dalam Interaksi Sosial (yang dibolehkan)*

Islam membolehkan (bahkan mendorong) seorang Muslim untuk berbuat baik, bersikap adil, dan bergaul dengan non-muslim, termasuk Yahudi, selama mereka tidak memerangi umat Islam. 

a. Berbuat Adil dan Berbuat Baik: 

Muslim diperbolehkan berlaku adil, bersikap baik, dan membantu mereka dalam urusan keduniawian.

b. Hidup Berdampingan (Koeksistensi): 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berteman baik dengan seorang Yahudi (contoh: Muhairik) dan bertetangga dengan mereka.

c. Hubungan Sosial: 

Diperbolehkan menjalin hubungan sosial, seperti teman sepekerjaan, selama menjaga kehormatan dan tidak merugikan. 

*2. Batasan dalam Loyalitas/Kecintaan (yang dilarang)*

Islam melarang menjadikan mereka sebagai auliyaa (teman setia/pemimpin/pelindung) yang diiringi dengan loyalitas penuh pada keyakinan atau ketaatan yang merugikan Islam. 

a. Loyalitas Akidah: 

Tidak boleh mencintai/menjadikan mereka teman setia yang loyalitasnya melebihi loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya, terutama jika mereka memerangi Islam.

b. Tasyabbuh (Menyerupai): 

Dilarang meniru gaya hidup atau perilaku khusus mereka yang bertentangan dengan syariat, karena dapat merusak keimanan.

c. Mengutamakan Mereka: 

Dilarang mengutamakan kepentingan mereka di atas kepentingan sesama muslim. 

Sementara dengan sangat jelas Allah Ta'ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Maidah : 51)

Asbabun nuzul ayat diatas berkenaan dengan Ubadah bin Al-Samit memegang teguh keimannya yang berlindung hanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ubadah bin Al-Samit adalah sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam terkemuka dari kaum Anshar, seorang pemimpin, peserta Baiat Aqabah, panglima perang, dan hakim pertama di Palestina yang dikenal karena keteguhan iman, keilmuan Al-Qur'an, dan keberaniannya dalam banyak peperangan, serta dihormati sebagai salah satu perawi hadits terpercaya. 

12156 - حدثنا أبو كريب قال، حدثنا ابن إدريس قال، سمعت أبي، عن عطية بن سعد قال: جاء عبادة بن الصامت من بني الحارث بن الخزرج، إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إن لي موالي من يهود كثيرٌ عدَدُهم، وإني أبرأ إلى الله ورسوله من وَلاية يهود، وأتولَّى الله ورسوله. فقال عبد الله بن أبي: إنّي رجل أخاف الدَّوائر، لا أبرأ من ولاية مواليّ. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعبد الله ابن أبيّ: يا أبا الحباب، ما بخلتَ به من ولاية يهود على عبادة بن الصامت فهو إليك دونه؟ (1) قال: قد قبلتُ. فأنـزل الله: " يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضُهم أولياء بعض " إلى قوله: فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ .

12156 - Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, dia berkata: Aku mendengar dari ayahku, dari 'Athiyah bin Sa'ad, dia berkata: Ubadah bin Al-Samit dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak sekutu dari orang Yahudi, dan aku melepaskan diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari perwalian (perlindungan) Yahudi, dan aku berwala' (berlindung) kepada Allah dan Rasul-Nya.

Abdullah bin Ubay berkata: Aku adalah orang yang takut akan perubahan keadaan, aku tidak melepaskan diri dari perwalian (perlindungan) sekutuku.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Abdullah bin Ubay: Wahai Abu Al-Hubab, apakah kamu tidak memberikan perwalian Yahudi kepada Ubadah bin Al-Samit? Abdullah bin Ubay berkata: Aku menerimanya.

Maka Allah menurunkan ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." sampai ayat "Maka kamu melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya..." (Tafsir Ath-Thabari)

Abdulloh bin Ubay dalam riwayat hadits diatas adalah Abdullah bin Ubay bin Salul (pemimpin kaum munafik Madinah), yang sering disalahartikan sebagai Abdullah bin Ubay bin Ka'ab (sahabat utama penghafal Al-Qur'an), padahal keduanya adalah orang yang sangat berbeda, di mana yang satu adalah musuh dalam selubung (munafik) dan yang lainnya adalah salah satu sahabat terdekat dan ahli Al-Qur'an yang bernama lengkap Ubay bin Ka'ab bin Qays Al-Khazraji Al-Anshari. 

Jadi, Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik Madinah) dan Abdullah bin Ubay bin Ka'ab (tokoh penghafal Al-Qur'an adalah nama tokoh berbeda di zaman Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG PERINGATAN HAUL DAN DALILNYA (By Request)

*Definisi haul*

Haul berasal dari Bahasa Arab “Al-Haulu” ) الحول ) atau “Al-Haulaini”( الحولين ) artinya kekuatan, kekuasaan, daya, upaya, perubahan, perpindahan, setahun, dua tahun, pemisah, dan sekitar. ‎Sedang haul dalam arti dalam satu tahun, dapat ditemukan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits, yaitu:

a) Surat Al Baqarah: 240, berbentuk mufrad, dalam arti satu tahun dalam arti satu tahun untuk kasus perceraian, yaitu:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (البقره :240)

"Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya (yaitu) diberi nafkah hingga satu tahun lamanya." (QS. Al-Baqarah: 240)

b) Al-Hadits berbentuk mufrad dalam kasus zakat, yaitu:

لَا زَكاتَ فى الما ل المستفادِ حَتَّى يحُولَ عليه الحولُ… .رواه الترمذي

"Tidak wajib zakat terhadap harta yang belum haul (berumur satu tahun)." (HR. At-Turmudzi)

Kemudian kata haul tersebut berkembang menjadi istilah Bahasa Indonesia, yang lazim di pakai komunitas masyarakat muslim di indonesia, dan dari istilah indonesia inilah, katahaul memiliki dua pengertian, yaitu:

1) Haul berarti berlakunya waktu dua belas bulan, tahun Hijriyyah terhadap harta yang wajib dizakati di tangan pemilik (Muzzaki) ‎arti ini berkaitan erat dengan masalah zakat.

2) Haul berati upacara peringatan mengenang satu tahun dan seterusnya wafatnya seseorang (terutama tokoh agama islam), dengan berbagai acara, yang puncaknya menziarahi kubur almarhum atau almarhumah Secara kultural, “haul” ialah peringatan hari kematian seorang tokoh masyarakat, seperti syaikh, wali, sunan, kiai, ulama, orang tua, keluarga dan lain-lain yang diadakan setahun sekali bertepatan dengan tanggal wafatnya. Untuk mengenang jasa-jasa, karomah, akhlaq, dan keutamaan mereka.

Dari dua pengetian tersebut, yang akan diuraikan dalam tulisan ini hanya yang menyangkut pengertian yang kedua, yaitu yang berhubungan dengan peringatan genap satu tahun dari wafatnya almarhum atau almarhumah, sebab haul dengan arti: “Peringatan genap satu tahun”,sudah berlaku bagi keluarga siapa saja, tidak terbatas bagi orang orang yang ada di Indonesia saja, tetapi berlaku pula bagi komunitas masyarakat atau negara lainnya, sekalipun bukan muslim.‎

*Tujuan Diadakannya Peringatan Haul*

Peringatan haul ini diadakan karena adanya tujuan yang penting yaitu mengenang jasa dan hasil perjuangan para tokoh terhadap tanah air, bangsa serta umat dan kemajuan agama Allah, atau mengenang jasa orang tua dan keluarga seperti peringatan haul wali songo, ulama besar, orang tua dan lainnya, untuk dijadikan suri tauladan oleh generasi penerus yang biasanya disisi dengan pengajian,  lantunan kalimah-kalimah thoyyibah seperti bacaan surat Yaasiin, surat-surat pendek, dzikir tahlil serta doa dan istighfar (memohonkan ampunan) buat yang telah meninggal.

Sebagaimana perintah Allah dalam firman-Nya,

وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

"Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr : 10)

وما أحسن ما استنبط الإمام مالك من هذه الآية الكريمة : أن الرافضي الذي يسب الصحابة ليس له في مال الفيء نصيب لعدم اتصافه بما مدح الله به هؤلاء في قولهم : ( ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم )

"Dan betapa baiknya apa yang disimpulkan oleh Imam Malik dari ayat yang mulia ini: bahwa orang Rafidhah yang mencela sahabat-sahabat (nabi) tidak berhak mendapatkan bagian dari harta fai' (rampasan perang) karena (Rafidhah) tidak memiliki sifat yang dipuji oleh Allah dalam firman-Nya: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallaha 'anha,

وقال إسماعيل بن علية ، عن عبد الملك بن عمير ، عن مسروق ، عن عائشة قالت : أمرتم بالاستغفار لأصحاب محمد - صلى الله عليه وسلم - فسببتموهم . سمعت نبيكم - صلى الله عليه وسلم - يقول : " لا تذهب هذه الأمة حتى يلعن آخرها أولها " . رواه البغوي

"Dari Ismail bin Aliyah, dari Abdul Malik bin Umair, dari Masruq, dari Aisyah, dia berkata: Kamu diperintahkan untuk memohon ampun bagi sahabat-sahabat Muhammad SAW, tetapi kamu malah mencela mereka. Aku mendengar Nabi kalian SAW bersabda: "Umat ini tidak akan binasa sampai generasi terakhir mereka melaknat generasi pertama mereka." (HR. Al-Baghawi) (Tafsir Ibnu Katsir)

*Rangkaian Kegiatan yang dilaksanakan dalam Acara Haul*

a. Ziarah ke makam sang tokoh dan membaca dzikir, tahlil, kalimah thayyibah serta membaca Al-Qur’an secara berjama’ah dan do’a bersama di makam;

وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” (QS Ar-Ra’d: 24) “Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Lanjutan riwayat:

ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ

Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”

b. Diadakan doa dan istighfar bersama yang diisi bacaan kalimah-kalimah thoyyibah, majlis ta’lim, mau’idzoh hasanah, pernbacaan biografi sang tokoh/manaqib seorang wali/ulama atau orang tua dan keluarga

ما الْمَيّتُ في القَبْرِ إلاّ كالْغَرِيْق الْمُتَغَوِّثِ يَنتَظِرُ دَعْوَةً تَلحَقُه مِن أبٍ أوْ أُمٍّ أوْ أخٍ أوْ صَدِيقٍ فإذا لَحِقَتْه كانَتْ أحَبَّ إليه مِن الدُّنيا ومَا فيها وإنَّ اللهَ عزّ وجلّ لَيُدخِلُ على أهْلِ القُبُورِ مِن دُعاءِ أهْلِ الأَرْضِ أمْثَالَ الجِبالِ وإنَّ هَديَّةَ الأَحْيَاءِ إلى الأَمْوَاتِ الاِسْتِغفارُ لهم  

"Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak, dan kawan yang tepercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia berikut segala isinya. Dan sesungguhnya Allah menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka." (HR. Ad-Dailami)

c. Dihidangkan sekedar makanan dan minuman dengan niat selamatan/shodaqoh ‘anil mayit.

وَعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ: تَصَدَّقُوْا عَلَى اَنْفُسِكُمْ وَعَلَى اَمْوَاتِكُمْ وَلَوْ بِشُرْبَةِ مَاءٍ فَاِنْ لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَى ذَالِكَ فَبِأَيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَاِنْ لَمْ تَعْلَمُوْا شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ فَادْعُوْا لَهُمْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ فَاِنَّ اللهَ وَعَدَكُمُ اْلاِجَابَةِ.

"Sabda Nabi SAW: Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan untuk orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya seteguk air. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat kitab suci Allah (Al-Qur’an), jika kalian tidak mengerti sesuatu dari Al-Qur’an maka berdoalah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, Allh telah berjanji akan mengabulkan doa kalian." (HR. An-Nasa'i)

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 02 Januari 2026

KAJIAN TENTANG KISAH AL-IMAM AHMAD AR-RIFA'I MENCIUM TANGAN NABI DARI DALAM KUBURNYA, BENARKAH?


Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i, tokoh sufi di mana Thariqah Rifa'iyyah, yang lahir dengan nama Ahmad bin Shalih, diketahui memiliki sejumlah nama seperti Ahmad bin Abi Al-Hasan Al-Rifa'i, Ahmad bin Ali Abul Abbas, Syaikh Ahmad kabir Rifa'i, atau nama lengkapnya Ahmad bin Yahya bin Husain bin Rifa'ah. Ia dilahirkan pada bulan Muharram tahun 500 Hijriah/ September 1106 Masehi tetapi ada juga yang menyatakan kelahirannya pada bulan Rajab tahun 512 H/ Oktober-November 1118 Masehi. Sebagian sumber menyebut Syaikh Ahmad Rifa'i lahir di Marokko, tetapi sumber yang kuat menyatakan ia lahir di Qaryah Hassan, dekat Basrah di Irak. Menurut satu cerita, nama Rifa'i berkaitan dengan nama Suku Rifa'i yang tinggal di Makkah sejak tahun 217 H tetapi pindah ke Sevilla di Spanyol. Pada masa kakek Syaikh Ahmad Rifa'i pada tahun 450 H, datanglah keluarga Rifa'i ke Basrah.

Oleh karena datang dari barat, maka kakek Syaikh Ahmad Rifa'i memakai nama Al-Maghribi. Sebagian meriwayatkan, ayah dari Syaikh Ahmad Rifa'i yang pindah dari Maghrib (Maroko) ke Irak, tinggal di kota Ummu ‘Ubaidah di Batha'ih.

Kisah Syekh Ahmad Ar-Rifa'i mencium tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari dalam kubur adalah narasi sufistik yang masyhur, menggambarkan puncak kerinduan dan karamah sang sufi. Konon, saat berziarah ke Madinah, beliau mengucapkan bait syair kerinduan, dan tangan Rasulullah keluar dari makam, yang kemudian dicium oleh beliau di hadapan banyak saksi. 

Banyak kitab yang memuat kisah Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i mencium tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang keluar dari dalam kuburnya di Madinah. Hal inilah yang kemudian menimbulkan pro kontra tentang kebenarannya dan semua tergantung bagaimana kita memahami dan mengambil hikmahnya.

Kitab Asy-Syaraf Al-Muhattam, (Asy-Syaraf Al-Muhattam fimaa Mannallah bihi 'ala Waliyyihi As-Sayyid Ahmad Ar-Rifa'i min Taqbili Yad An-Nabi) adalah karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi yang membahas karamah Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i, khususnya kisah beliau mencium tangan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kitab ini memaparkan peristiwa tersebut sebagai kemuliaan yang diberikan Allah, namun dikritik oleh Syaikh Abdullah Al-Ghumari dalam kitab An-Naqd Al-Mubram di hal.12-21 karena dianggap tidak shahih. Berikut kisahnya,

حدثنا شيخ الإسلام الشيخ كمال الدين إمام الكاملية عن شيخ مشايخنا الإسلام الإمام العلامة الهمام الشيخ شمس الدين الجزري عن شيخه الإمام الشيخ زين الدين المراغي عن شيخ الشيوخ البطل المحدث الواعظ الفقيه المقرئ المفسر الإمام القدوة الحجة الشيخ عز الدين أحمد الفاروقي الواسطي عن أبيه الأستاذ الأصيل العلامة الجليل الشيخ أبي إسحاق إبراهيم الفاروقي عن إمام الفقهاء والمحدثين وشيخ أكابر الفقهاء والعلماء العاملين الشيخ عز الدين عمر أبي الفرج الفاروقي الواسطي قدست أسرارهم أجمعين، 

قال: كنت مع شيخنا ومفزعنا وسيدنا أبي العباس القطب الغوث الجامع الشيخ السيد أحمد الرفاعي الحسيني رضي الله تعالى عنهما خمس وخمسين وخمسمائة العام، الذي قدر الله له فيه الحج فلما وصل مدينة الرسول صلى الله عليه وسلم وقف تجاه حجرة النبي صلى الله عليه وسلم، وقال على رؤوس الأشهاد: السلام عليك ياجادي، فقال له: عليه الصلاة والسلام: وعليك السلام يا ولدي.

سمع ذلك كل من في المسجد النبوي فتواجد سيدنا السيد أحمد وارعد واصفر لونه وجثى على ركبتيه قام وبكى وأن طويلا وقال يا جداه ... 

في حالة البعد روحي كنت أرسلها تقبل الارض عني وهى نائبتي...  

وهذه دولة للأشباح قد حضرت… قامدد يمينك كي تحطى بها شفتي...

فمدّ له رسول الله صلى الله عليه وسلم يديه الشريفة العطرة من قبره الأزهر المكرم، فقبّلها ملأ، يقرب من تسعين ألف رجل، والناس ينظرون إلى اليد الشريفة، وكان في المسجد مع الحجاج الشيخ حياة بن قيس الحرني والشيخ عبد القادر الجيلي المقيم ببغداد، والشيخ خميس، والشيخ عدي بن مسافر الشامي وغيرهم، نفعنا الله تعالى بعلومهم وشرفنا معهم برؤية اليد المحمدية الزكية.

Telah menceritakan kepada kami Syaikhul Islam Syaikh Kamaluddin, Imam Al-Kamilia, dari Syaikhnya Syaikh Islam kami, Al-Imam Al-Alamah Hammaam, Syaikh Shamsuddin Al-Jazari, dari gurunya Imam Syaikh Zainuddin Al-Maraghi, dari Syaikhnya para Syaikh Al-Batthal, Muhaddits, Wa'izh, Al-Faqih, Al-Muqri', Al-Mufassir, Al-Imam, Al-Qudwah, Al-Hujjah, Syaikh Izzuddin Ahmad Al-Faruqi Al-Wasithi, dari ayahnya, Asatidz, Ashil, Al-Alamah, Al-Jalil, Syaikh Abu Ishaq Ibrahim Al-Faruqi, dari Imam Fuqaha dan Muhadditsin, Syaikh Akabir Fuqaha dan Ulama 'Aamilin, Syaikh Izzuddin 'Umar Abu Al-Faraj Al-Faruqi Al-Wasithi, semoga Allah mensucikan rahasia mereka semua, dia berkata:

"Aku bersama Syaikh kami, tempat berlindung kami, dan Sayyid kami, Abu Al-Abbas, Al-Qutub, Al-Ghauts, Al-Jami' Asy-Syaikh As-Sayyid Ahmad Ar-Rifai Al-Husaini, semoga Allah ridha kepada keduanya, pada tahun 555 H, tahun di mana Allah menetapkannya untuk berhaji. Ketika dia tiba di Kota Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berdiri di depan kamar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata dengan suara keras: "Assalamu'alaika, ya Jaddi!" (Salam sejahtera atasmu, wahai kakekku!)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Wa 'alaikassalam, ya waladi." (Dan salam sejahtera atasmu, wahai anakku.)

Semua orang yang ada di Masjid Nabawi mendengar itu, maka Sayyid Ahmad terjatuh, gemetar, dan berubah warna. Dia berlutut, menangis, dan berkata: "Wahai kakekku..."

(Dalam keadaan jauh, aku mengirimkan ruhku untuk mencium tanah di hadapanmu, sebagai pengganti diriku... Dan ini adalah kesempatan bagi para ruh untuk hadir... Ulurkan tangan kananmu, agar aku dapat menciumnya...)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengeluarkan tangan mulia dan harumnya dari kuburnya yang suci, dan Sayyid Ahmad menciumnya, diikuti oleh sekitar 90.000 orang. Orang-orang melihat tangan mulia itu. Di masjid ada Syaikh Hayat bin Qais Al-Harani, Syaikh Abdul Qadir Al-Jili yang tinggal di Baghdad, Syaikh Khumais, Syaikh 'Adi bin Musafir Asy-Syami, dan lainnya. Semoga Allah memberi manfaat kepada kita dengan ilmu mereka, dan memuliakan kita dengan melihat tangan Muhammad yang suci." (Asy-Syaraf Al-Muhtam Al-Imam  Al-Hafizh Jalaluddin Abdurrahman Abu Bakar As-Suyuti [w. 911] cet. Dar Burhan hal. 4-5). 

Kisah Imam Ahmad Ar-Rifa'i bersalaman dengan tangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari dalam kubur dalam kitab karya Imam As-Suyuthi tersebut dibantah, ditolak dan dijelaskan panjang lebar dalam Kitab Auliya' wa Karamat An-Naqd Al-Mubram Lirisalah Asy-Syarif Al-Muhattam yang merupakan salah satu karya tulis dari Syekh Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq Al-Ghumari (juga dikenal sebagai Sayyid Ahmad Al-Ghumari), seorang ulama besar dan pakar hadits terkemuka dari Maroko pada abad ke-20 diantara bantahannya sebagai berikut, 

الوجه الثاني: أن رواة القصة لم يتفقوا على سياقها، بل اختلفوا فيه اختلافًا يقضى ببطلاتها فبينما عن الدين القروثي عن الشيخ أحمد بن الرفاعي، وقف نجاه حجرة النبي صلى الله عليه وسلم وقال على رؤس الاشهاد: السلام عليك يا جدي، فقال له النبي ﷺ: وعليك السلام يا ولدي، سمع ذالك كل من في المسجد النبوي، إذا بالشيخ عدى بن مسافر وتلميذه علي بن موهوب يقولان: كن الشيخ أحمد الرافعي واقفا تجاه حجرة الطاهرة, وقد تكلم بكلمات ضبطها عنه جماعة يقصدان بيتى الشعر  فما أتم كلامه الا وقد مدت له يد رسول الله صلى الله عليه وسلم فقبلها ونحن ننظر مع الحاضرين, فلم يذكرا كلام النبي صلى الله عليه وسلم, وقد سمعه كل من فى المسجد النبوي, وهو لا يقل غرابة وعجبا عن خروج اليد الشريفة من القبر, بل هو الذي السجع الشيخ الرفاعي على إنشاء البيتين.

فكيف سكت عنه? لا تعليل لذالك الا أن صانع القصة لم يحسن سبكها.

Wajah kedua: Bahwa para perawi kisah ini tidak sepakat tentang urutan ceritanya, bahkan mereka berbeda pendapat tentangnya dengan perbedaan yang menunjukkan kebatilan kisah ini. Sementara menurut Ad-Din Al-Qaruthi, dari Syaikh Ahmad bin Ar-Rifai, dia berdiri di depan kamar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata dengan suara keras: "Assalamu 'alaika, ya jaddi" (Salam sejahtera atasmu, wahai kakekku!), maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Wa 'alayka al-salam, ya walidi" (Dan salam sejahtera atasmu, wahai anakku). Semua orang yang ada di Masjid Nabawi mendengar itu.

Namun, Syaikh 'Adi bin Musafir dan muridnya, Ali bin Mauhub, mengatakan: Syaikh Ahmad Ar-Rifai berdiri di depan kamar suci, dan dia mengucapkan beberapa kata yang dihafal oleh sekelompok orang, yaitu dua bait syair. Belum selesai dia berbicara, tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah diulurkan, dan dia menciumnya, sementara kami melihat bersama orang-orang yang hadir. Mereka tidak menyebutkan ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal semua orang di Masjid Nabawi mendengarnya. Ini tidak kalah aneh dan ajaibnya dengan keluarnya tangan mulia dari kubur. Bahkan, ini yang membuat Syaikh Ar-Rifai menyusun dua bait syair itu. Bagaimana dia bisa tidak menyebutkan itu? Tidak ada alasan lain kecuali bahwa pembuat kisah ini tidak bisa menyusunnya dengan baik." (Auliya' wa Karamat An-Naqd Al-Mubram Lirisalah Asy-Syarif Al-Muhattam karya Syekh Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq Al-Ghumari cet.pertama tahun 1998 M/1319 H. Maktabah Al-Qahirah, Al-Azhar  - Mesir hal. 15). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*