MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Rabu, 24 Februari 2016

KAJIAN TENTANG "MANHAJ SALAF" BUKAN MILIK SALAFI WAHABI


Kata salaf sering dikaitkan dengan masa/waktu/jaman. Kadang dikaitkan dengan generasi. Kadang dikaitkan dengan keadaan. Semua itu merujuk ke masa lalu.
Adapun Salaf yg dimaksud dalam Islam, dalam kajian dakwah, akidah, maupun fikih, merujuk kepada hadits Nabi sbb:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ( خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ ) . روه البخاري ومسلم
Dari Andullah bin Mas'ud (Ibnu Mas'ud) ra dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah jaman (sesudah) ku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya kemudian akan datang suatu kaum yg persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya (orang2 yg banyak berdusta dan tidak bisa dipercaya)". (HR. Bukhari Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa “qarniy” (jamanku) adalah era kehidupan Nabi dan para Shahabat radhiyallahu 'anhum. Kadang disebut, “Jaman Shahabat.” Adapun jaman sesudah itu adalah para Pengikut (Tabi’in) dari para Shahabat, kemudian jaman sesudahnya adalah para pengikut Tabi’in (Tabi’ut Tabi’in).
Itulah 3 generasi awal perintis ajaran Islam. Itulah jaman SALAF yg dikehendaki. Ada yg menyebut istilah, 3 abad pertama hijriah. Atau abad 1, 2, dan 3 setelah hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ke Madinah.
Keutamaan 3 generasi terbaik
طُوْبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي وَطُوْبَى لِمَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَلِمَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَأَمَنَ بِي طُوْبَى لَهُمْ وَحُسْنَ مَآبٍ
Beruntunglah bagi orang yg melihatku dan beriman kepadaku (para sahabat), dan beruntunglah bagi orang yg melihat orang yg melihatku (tabi'in) dan orang yg melihat orang yg melihat orang yg melihatku dan beriman kepadaku (tabi'ut tabi'in). Beruntung bagi mereka dan tempat kembali yg baik." (HR. At-Thabrani)
لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَآنِي وَصَاحَبَنِي , وَاللهِ لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ , مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي , وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي , وَاللهِ لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ , مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي , وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي
"Kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yg melihatku dan menjadi sahabatku. Demi Allah kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yg melihat orang yg melihatku dan menjadi Sahabat dari Sahabatku. Demi Allah, kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yg melihat orang yg melihat orang yg melihatku dan menjadi Sahabat dari Sahabat para Sahabatku (HR. Ibnu Abi Syaibah dan al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan sanadnya hasan dalam Fathul Bari')
Definisi Manhaj
Manhaj menurut bahasa artinya jalan yg jelas dan terang. Allah Ta’ala berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Maidah : 48)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, "Maksudnya, jalan dan syari’at"
Sedang menurut istilah, manhaj ialah kaidah2 dan ketentuan2 yg digunakan bagi setiap pembelajaran ilmiah, seperti kaidah2 bahasa Arab, ushul ‘aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir dimana dengan ilmu2 ini pembelajaran dalam Islam beserta pokok2nya menjadi teratur dan benar.
Definisi Salaf
Salaf berasal dari kata: سلف، يسلف، سلفا (salafa-yaslufu-salafan), artinya adalah: telah lalu. Kalimat yang berbunyi سلف الصالح (salafussholih), artinya kaum terdahulu yg shalih. Kata Salaf juga bermakna orang2 yg telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan.
Adapun menurut istilah, Salaf adalah sifat yg khusus dimutlakkan kepada para Shahabat. Ketika disebutkan Salaf, maka yg dimaksud pertama kali adalah para Shahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in.
AllahTa’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم
ُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah : 100)
Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan generasi pertama umat ini adalah para Shahabat radhiyallahu 'anhum dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Mereka adalah orang2 yg diridhai Allah, dan mereka dijamin masuk Surga. Dan orang2 setelah mereka, yg mengikuti mereka dengan baik dalam ‘aqidah, manhaj, dan lainnya, maka mereka pun akan mendapatkan ridha Allah dan akan masuk Surga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُم
ْ
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)
Dan yg dimaksud “orang2 yg bersama dia”, adalah para Shahabat.
Para ulama lain dari berbagai firqah pun mengatakan dan mengakui bahwa yg dimaksud dengan Salaf adalah para Shahabat dan dua generasi sesudahnya.
Imam Ghazali rahimahullah berkata ketika beliau mendefinisikan kata Salaf, “Yang saya maksud adalah mazhab Shahabat dan Tabi’in.”
Al-Baijuri rahimahullah berkata, “Maksud dari orang2 terdahulu (Salaf) adalah orang2 terdahulu dari kalangan para Nabi, para Shahabat, Tabi’in, dan pengikutnya.”
Jadi, klaim kelompok salafi wahabi pengikut ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab dewasa ini sebagai firqah najiyah (kelompok yg selamat) sebagai pengikuti salafusshalih dan menafikan kelompok ahlussunnah wal jama'ah yg lainnya adalah suatu KESALAHAN. Karena Muhammad bin Abdul Wahhab sesungguhnya bukan termasuk orang yg hidup di zaman salaf, meski tetap bermanhaj salaf. Dia seorang yg katanya sangat menekankan dalam aspek pembersihan aqidah, bukan seorang yg secara khusus mendalami ilmu fiqih dan perbedaan pendapat di dalamnya. Setidaknya, kita tidak pernah mendapatkan karya2nya di bidang fiqih, tidak juga di bidang kritik hadits. Kitabnya yg dikenal luas adalah kitab tauhid.
Satu hal lagi, janganlah kita mencampur aduk pandangan fiqih dan perbedaan pendapat yg ada pada generasi salaf dengan pendapat2 syeikh Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah dalam urusan fiqih. Apalagi kita tahu bahwa keduanya justru hidup jauh setelah lewatnya generasi salaf.
Jangan kita salah duga bahwa kita merasa sedang mendakwahkan manhaj salaf, ternyata yg kita sampaikan hanyalah pendapat fiqih dari syeikh Ibnu Taimiyah yg hidup jauh setelah generasi salaf. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau sebagai ulama, namun jangan disalah persepsikan bahwa pandangan fiqih salaf hanyalah yg sesuai dengan pandangan fiqih beliau.
Jangan pula kita beranggapan bahwa yg salaf itu hanya Imam Ahmad bin Hanbal saja, sedangkan Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i yg hidupnya lebih dahulu dari mereka dianggap bukan salaf. Padahal Imam Ahmad adalah murid langsung Al-Imam Asy-Syafi’i. Bagaimana mungkin Al-Imam As-Syafi’i dan pengikutnya khususnya muslim indonesia dikatakan tidak bermanhaj salaf?
Jangan pula manhaj salaf itu berubah menjadi semua pendapat fiqih Nashiruddin Al-Albani. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepadanya, namun dia pun seringkali menyelisihi pendapat para ulama di masa salaf dalam urusan furu’. Itu sekali lagi membuktikan bahwa di kalangan orang yg mengaku bermanhaj salaf sendiri pun juga tidak lepas dari perbedaan pendapat atau khilafiyah.
Bukankah pendapat syeikh Abdullah bin Baz seringkali menyelisihi pendapat syeikh Shaleh Al-‘Utsaimin dan Albani?
Apakah kita masih saja berprinsip bahwa siapa saja yg tidak sependapat dengan pendapat golonganku, berarti dia sesat, ahlu bid’ah, penyembah kubur, musyrik dan masuk neraka? Emang surga punya siapa?
Oleh karenanya untuk ikhwan wa akhwat salafi wahabi, janganlah klaim surga dan kebenaran hanya milik kalian. Kebenaran yg haqiqi hanya milik Allah Ta'ala, kita semua hanya menuju jalan yg benar sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah yg telah dijelaskan oleh para ulama. Wallahu a'lam
Demikian Ibnu Mas'ud At-Tamanmini menjelaskan dan semoga bermanfa'at. Aamiin
والله الموفق الى اقوم الطريق

Tidak ada komentar:

Posting Komentar