MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 03 Oktober 2022

PELANTIKAN PENGURUS RANTING SE-KEC. CIPAYUNG JAKARTA TIMUR

Cipayung News| Meskipun diguyur hujan yang sangat lebat Senin, 3 Oktober 2022 adalah hari bersejarah bagi MWC NU Cipayung atas suksesnya pelantikan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) di delapan (8) Kelurahan yang ada di wilayah Cipayung Jakarta Timur yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Hamid Putra yang berlokasi di Jl. Cilangkap Baru No. 1 RT 12/RW 02 Kel. Munjul Kec. Cipayung Jakarta Timur 13850, dan  sekaligus lounching mimpi besar pilot project kepemilikan dan pembangunan gedung MWC NU Cipayung.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang dari kalangan Pengurus Ranting yang akan dilantik, Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Cipayung, banom NU, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat serta aparatur pemerintahan maupun aparatur negara setempat. 

Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dua periode 2012-2022 yaitu Buya KH. Said Aqil Sirodj yang memberikan taushiah dalam pemahaman dan penguatan ke-NU-an. Hadir Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta diwakili oleh Katib PWNU KH. Lukman Hakim Hamid sekaligus mewakili tuan rumah sebagai Pengasuh PP Al-Hamid. Beliau dalam kepengurusan MWC NU Cipayung sebagai Mustasyar.

Dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Timur hadir Rois Syuriah KH. Ibnu Mulkan, S. Sos.I, Ketua Tanfidziyah Gus Azaz Rulyaqien dan Sekjen PCNU Ust. Syarif Cahyono. Pengurus MWC NU Cipayung Rois Syuriah Ust. Muhammad Guntur, Katib Ust. Muttaqin dan jajaran Tanfidziyah diwakili oleh sekertaris Ust. H. Muhammad Amin.

Sementara banom NU yang hadir diantaranya Muslimat, Fatayat, IPNU/IPPNU, Anshor. Forum Komunikasi Ulama dan Umara (FK ULUM) Kec. Cipayung juga tomas toga turut hadir dalam memeriahkan suksesnya Pelantikan PRNU.

Salah satu bukti kesuksesan acara tersebut dihadiri oleh tiga pimpinan wilayah yaitu Camat, Kapolsek dan Danramil, Kepala KUA Cipayung serta enam (6) Lurah dari delapan (8) Kelurahan yang ada di Kec. Cipayung.

Acara diawali dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh santri PP Al-Hamid Putra dilanjutkan dengan lagu Indonesia Raya dan Yaalal Wathon oleh IPNU Cipayung.

Setelah sambutan panitia Ust. Fajar Alfiandi dilanjutkan sambutan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta sekaligus mewakili tuan rumah sebagai Pengasuh PP Al-Hamid oleh Katib PWNU DKI Jakarta KH. Lukman Hakim Hamid yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa, "NU Cipayung harus mampu menyatukan antara Ulama dan Umara dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan dalam membina masyarakat yang majmuk serta melestarikan budaya betawi yang amaliah dan ubudiyahnya sudah NU sebagai kaum Anshor (penolong) terhadap kaum Muhajirin (masyarakat pendatang) dalam dakwah  menyebarkan kasih sayang kepada umat manusia. 

Acara dilanjutkan pembacaan SK Pelantikan PRNU yang diawali dengan SK Ranting Lubang Buaya, Setu, Bambu Apus, Ceger, Cipayung, Cilangkap, Munjul dan PRNU Pondok Ranggon oleh Ust. Syarif Cahyono Sekjen PCNU Jakarta Timur. Sementara Baiat Pelantikan PRNU dipimpin oleh Rois Syuriah PCNU Jakarta Timur KH. Ibnu Mulkan, S. Sos.I

Diakhir acara Pelantikan PRNU Cipayung mendapatkan apresiasi support dan bimbingan melalui taushiah penguatan dan pemahaman ke-NU-an oleh Buya KH. Said Aqil Siradj yang dalam penyampaiannya beliau menekankan pentingnya kecerdasan, kemapanan, kemampuan dan juga kemauan dalam mengemban amanah sehingga NU tidak tertinggal secara ekonomi, sosial dan peradaban dalam menghadapi gempuran akidah dan pemahaman baru di negeri ini yang semakin gencar melaui semangat melestarikan budaya dan adat istiadat nusantara yang masih sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan serta relevansinya dengan syariat agama. Demikian Asimun Mas'ud melaporkan.

Jumat, 16 September 2022

KAJIAN TENTANG HARI DISUNNAHKAN UNTUK MEMOTONG KUKU

Menurut Kitab Hasyiyah Al-Bajuri karya Imam Ibnu Qosim Al-Ghazi, memotong kuku disunahkan untuk dilakukan pada hari Jumat. Selain Jumat ada hari lain yang dianjurkan, termasuk ada hari tertentu yang disarankan tak boleh untuk melakukan potong kuku.

Ibnu Qosim al-Ghazi, dalam kitabnya Hasyiyah Al-Bajuri menjelaskan bahwa memotong kuku disunnahkan pada hari Jum’at, Senin, dan Kamis. Sebagaimana penjelasan dalam syair berikut;

ومثل يوم الجمعة فى سن ذلك يوم الخميس ويوم الاثنين دون بقية الايام

“Seperti hari Jum’at, hari-hari seperti Kamis dan Senin disunnahkan untuk memotong kuku, adapun hari selainnya sebagai berikut;

قَصُّ الْأَظَافِرِ يَوْمَ السَّبْتِ اٰكِلَةٌ # تَبْدُوْ وَفِيْمَا يَلِيْهِ يُذْهِبُ الْبَرَكَهْ

“Memotong kuku hari Sabtu menimbulkan penyakit yang menggerogoti tubuh. Melakukan hal serupa pada hari Ahad menyebabkan hilangnya barokah.”

وَعَالِمٌ فَاضِلٌ يَبْدُوْ بِتَلْوِهِمَا # وَاِنْ يَكُنْ فِي الثُّلَاثَا فَاحْذَرِ الْهَلَكَهْ

“Memotong kuku pada hari senin menjadi orang alim dan mempunyai keutamaan, dan jika dilakukan di hari selasa menyebabkan kebinasaan.”

وَيُوْرِثُ السُّوْءَ فِي الْأَخْلَاقِ رَابِعُهَا # وَفِي الْخَمِيْسِ الْغِنٰى يَأْتِىْ لِمَنْ سَلَكَهْ

“Dan pada hari keempat, yaitu Rabu, memotong kuku dapat menyebabkan buruk akhlak. Dan di hari Kamis, melakukannya mendatangkan kekayaan.”

وَالْعِلْمُ وَالْحِلْمُ زِيْدَا فِىْ عُرُوْبَتِهَا # عَنِ النَّبِيِّ رُوَيْنَا فَاقْتَفُوْا نُسُكَهْ

“Dan menambah ilmu dan sifat santun, jika dilakukannya pada hari Jum’at. Demikianlah kami riwayatkan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam.”

Dalam penjelasan lain menyebut bahwa pada dasarnya tidak ada kemutlakan hari baik potong kuku. Tidak ada batasan hari tertentu, kamu bisa melakukannya kapan saja, sebab memotong kuku termasuk sikap membersihkan diri yang sangat dianjurkan Islam.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits, namun hadits ini dnilai maudhu’ oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Al Maudhu’aat juz 3 halaman 53, dan Syeikh Syaukani dalam Kitab Al Fawa`idul Majmu’ah Fil Ahaditsil Maudhu’ah halaman 197: Berikut sanad dan matan selengkapnya dalam kitab Al Maudhu’aat,

أنبأنا المبارك بن على الصدفى أنبأنا سعد الله بن على بن أيوب أنبأنا هناد ابن إبراهيم أنبأنا إسماعيل بن محمد بن على البخاري حدثنا محمد بن نصر بن خلف حدثنا سيف بن حفص السمرقندى حدثنا على بن الحسين حدثنا الحسن بن شبل أنبأنا الفضل بن خالد النحوي عن أبى عصمة نوح بن أبى مريم عن عطاء عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ السَّبْتِ خَرَجَ مِنْهُ الدَّاءُ وَدَخَلَ فِيْهِ الشِّفَاءُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الْأَحَدِ خَرَجَتْ مِنْهُ الْفَاقَةُ وَدَخَلَ فِيْهِ الْغِنَاءُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ خَرَجَتْ مِنْهُ الْعِلَّةُ وَدَخَلَتْ فِيْهِ الصِّحَّةُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ خَرَجَ مِنْهُ الْبَرَصُ وَدَخَلَتْ فِيْهِ الْعَافِيَةُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الأَرْبَعَاءِ خَرَجَ مِنْهُ الْوِسْوَاسُ وَالْخَوْفُ وَدَخَلَ فِيْهِ الْأَمْنُ وَالصِّحَّةُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ الْخَمِيْسِ خَرَجَ مِنْهُ الْجُذَامُ وَدَخَلَ فِيْهِ الْعَافِيَةُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ دَخَلَتْ فِيْهِ الرَّحْمَةُ وَخَرَجَ مِنْهُ الذُّنُوْبُ 

“Siapa yang memotong kuku di hari Sabtu, keluar darinya penyakit dan masuk ke dalam dirinya kesembuhan. Siapa yang memotong kuku di hari Ahad, keluar darinya kemiskinan dan masuk padanya kekayaan. Siapa yang memotong kuku di hari Senin, keluar darinya penyakit dan masuk padanya kesehatan. Siapa yang memotong kuku di hari Selasa, keluar darinya penyakit dan masuk padanya ‘afiyat. Siapa yang memotong kuku hari Rabu, keluar darinya waswas dan masuk padanya keamanan dan kesehatan. Siapa yang memotong di hari Kamis, keluar darinya penyakit judzam dan masuk padanya kesehatan. Siapa yang memotong kuku di hari Jumat masuk padanya rahmat dan keluar darinya segala dosa.”

Tunggu dulu. Apakah hadits ini bisa dijadikan pijakan? Mari kita simak penjelasan Imam Syaukani tentang hadits diatas,

هُوَ مَوْضُوعٌ، فِي إِسْنَادِهِ: وَضَّاعَانِ وَمَجَاهِيلُ فَقَبَّحَ اللَّهُ الْكَذَّابِينَ وَقَبَّحَ أَلْفَاظَهُمُ السَّاقِطَةَ وَكَلِمَاتِهِمُ الرَّكِيكَةَ.

قَالَ السَّخَاوِيُّ فِي الْمَقَاصِدِ: لَمْ يَثْبُتْ فِي كَيْفِيَّةِ قَصِّ الأَظْفَارِ وَلا فِي تَعْيِينِ يَوْمٍ لَهُ شَيْءٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ وَمَا يَعْزَى مِنَ النُّظُمِ فِيهَا لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فباطل (الفوائد المجموعة للشوكاني ص 197).

“Hadits ini maudhu’ (palsu). Dalam sanadnya ada dua orang pemalsu hadits dan orang-orang yang majhul (tidak dikenal). Semoga Allah burukkan para pembohong itu dan diburukkan juga lafaz (redaksi) mereka yang sangat rendah dan pilihan kalimatnya yang sangat lemah.”

Jadi, kapan kita dianjurkan memotong kuku? Mari simak penjelasan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berikut ini :

ولم يثبت أيضا في استحباب قص الظفر يوم الخميس حديث وقد أخرجه جعفر المستغفري بسند مجهول ورويناه في مسلسلات التيمي من طريقه وأقرب ما وقفت عليه في ذلك ما أخرجه البيهقي من مرسل أبي جعفر الباقر قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستحب أن يأخذ من أظفاره وشاربه يوم الجمعة وله شاهد موصول عن أبي هريرة لكن سنده ضعيف أخرجه البيهقي أيضا في الشعب وسئل أحمد عنه فقال يسن في يوم الجمعة قبل الزوال وعنه يوم الخميس وعنه يتخير وهذا هو المعتمد أنه يستحب كيف ما احتاج إليه (فتح الباري 10/346).

“Tidak ada hadits yang dapat diterima tentang kesunnahan memotong kuku di hari Kamis. Ja’far al-Mustaghfiri memang meriwayatkannya dengan sanad yang majhul dan kami juga meriwayatkannya dalam Musalsalat at-Taimiy dari jalurnya.

Hadits yang agak dekat yang pernah saya temukan adalah hadits yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi dari mursal Ja’far al-Baqir, ia berkata: “Rasulullah Saw menganjurkan memotong kuku dan kumis di hari Jumat.”

Hadits ini punya syahid (pendukung) yang maushul dari Abu Hurairah, tapi sanadnya lemah. Ini diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.

Imam Ahmad ditanya tentang ini. Ia menjawab: “Disunnahkan di hari Jumat sebelum matahari tergelincir.” (Fathul Bari 10/346).

Tapi ada juga riwayat dari beliau, disunnahkan di hari Kamis. Ada juga riwayat lainnya dari beliau, hal ini sifatnya bebas (pilihan). Inilah pendapat yang mu’tamad (terpercaya) ; memotong kuku disunnahkan kapan diperlukan.”

Di antara riwayat yang menyebutkan anjuran memotong kuku hari Jum'at adalah:

Hadits pertama,

كان يقلم أظافره ويقص شاربه يوم الجمعة قبل أن يخرج إلى الصلاة

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa memotong kuku dan kumis beliau pada hari Jumat, sebelum berangkat shalat Jumat.” (HR. At-Thabrani)

Hadits kedua,

من قلم أظافره يوم الجمعة وقي من السوء إلى مثلها

“Barang siapa yang memotong kukunya pada hari Jumat maka dia dilindungi dari kejelekan semisalnya.” (HR.At-Thabrani)

Kedua hadits tersebut dinilai “lemah” oleh sebagian ulama hadits.

Berdasarkan keterangan di atas, para ulama menyimpulkan, tidak ada anjuran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memotong kuku di hari Jumat. Al-Hafizh As-Sakhawi mengatakan,

لم يثبت في كيفيته ولا في تعيين يوم له عن النبي صلى الله عليه وسلم شيء

“Tidak terdapat riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara memotong kuku dan hari tertentu untuk memotong kuku.” (Al-Maqasidul Hasanah, hlm. 163). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 01 September 2022

EDISI KHUTBAH JUM'AT (Benarkah Bulan Safar Bulan Kesialan)

*Khutbah Pertama*

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ و يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ

اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ

أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ... الى أخر الاية.

*Hadirin jama'ah Jum'at rahimakumullah,*

Sekarang kita telah masuk bulan Safar yang memiliki arti kosong. Disebut Safar karena dahulu pada bulan ini orang-orang Arab mengumpulkan makanan dari berbagai tempat, sehingga tempat itu kosong dari makanan. Adapula yang mengatakan, disebut Safar karena dahulu pada bulan ini kota Makkah menjadi kosong ditinggalkan bepergian oleh penduduknya. Dan safar dianggap bulan kesialan.

Islam tidak mengenal hari, bulan, atau tahun sial. Sebagaimana seluruh keberadaan di alam raya ini, waktu adalah makhluk Allah. Waktu tidak bisa berdiri sendiri. Ia berada dalam kekuasaan dan kendali penuh Rabb-nya. Setiap umat Islam wajib berkeyakinan bahwa pengaruh baik maupun buruk tidak ada tanpa seizin Allah SWT, dan tentunya disebabkan oleh perilaku manusia. Begitu juga dengan bulan Safar. Ia adalah bagian dari dua belas bulan dalam satu tahun hijriah. Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Qamariyah, terletak sesudah Muharram dan sebelum bulan Rabiul Awwal.   

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun : 11)

Nabi Muhammad Shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, 

إِنَّ أَصْفَرَ البُيُوتِ من الخَيْرِ البَيْتُ الصِّفْرُ من كتابِ اللَّهِ

“Sungguh rumah yang paling kosong dari kebaikan adalah rumah yang kosong dari bacaan kitabullah Al-Qur’an.” (HR At-Thabrani)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat At-Taubah ayat 36 yang membicarakan tentang bilangan bulan dalam satu tahun, menjelaskan bawah nama shafar terkait dengan aktivitas masyarakat Arab terdahulu. Shafar berarti kosong. Dinamakan demikian karena di bulan tersebut masyarakat kala itu berbondong-bondong keluar mengosongkan daerahnya, baik untuk berperang ataupun menjadi musafir.   

Ada anggapan bahwa bulan safar bulan kesialan. Padahal sama seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Jika pun ada kejadian buruk di dalamnya, maka itu semata-mata karena faktor lain, bukan karena bulan Safar itu sendiri.   

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, 

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ

"Tidak ada 'adwa, thiyarah, hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa. (HR Bukhari dan Muslim)   

*Hadirin jama'ah Jum'at rahimakumullah,*

*Adwa* adalah keyakinan tentang adanya wabah penyakit yang menular dengan sendirinya, tanpa sebuah proses sebelumnya dan tanpa seizin Allah. *Thiyarah* adalah keyakinan tentang nasib baik dan buruk setelah melihat burung. Dalam masyarakat jahiliah ada mitos yang mengatakan, bila seorang keluar rumah dan menyaksikan burung terbang di sebelah kanannya, maka tanda nasib mujur bakal datang. Sementara bila melihat burung terbang di sebelah kirinya maka tanda kesialan akan tiba sehingga sebaiknya pulang.  

Sedangkan *hammah* adalah semacam anggapan bahwa ketika terdapat burung hantu hinggap di atas rumah maka pertanda nasib sial akan tiba kepada pemilik rumah tersebut. Tak beda jauh dengan *Shafar* yang diyakini sebagai waktu khusus yang bisa mendatangkan malapetaka.   

*Hadirin jama'ah Jum'at rahimakumullah,*

Rasulullah sendiri menampik anggapan negatif masyarakat jahiliah tentang bulan Safar dengan sejumlah praktik positif. Habib Abu Bakar al-‘Adni dalam Mandhûmah Syarh al-Atsar fî Mâ Warada 'an Syahri Shafar memaparkan bahwa beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi terjadi pada bulan Safar. Di antaranya pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah, menikahkah putrinya Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, hingga mulai berhijrah dari Makkah ke Madinah. Artinya, Rasulullah membantah keyakinan masyarakat jahiliah bukan hanya dengan argumentasi tapi juga pembuktian bagi diri beliau sendiri. Dengan melaksanakan hal-hal sakral dan penting di bulan Safar, Nabi seolah berpesan bahwa bulan Safar tidak berbeda dari bulan-bulan lainnya. 

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathâif al-Ma’ârif fîmâ li Mawâsim al-‘Am min al-Wadhâif, berpesan melalui syair,

تُوْبُوا إِلَى اللهِ فِيْهِ مِنْ ذُنُوْبِكُمْ ... مِنْ قَبْلُ يَبْلُغُ فِيْكُمْ حَدُّهُ الْعُمْرُ

"Bertobatlah kepada Allah di bulan Safar dari dosa-dosa, sebelum batas akhir usia menghampiri pada kalian."

Semoga kita semua menjadi peribadi-pribadi yang senantiasa dianugerahi kekuatan untuk menghormati waktu-waktu yang Allah anugerahkan kepada kita untuk perbuatan dan pikiran yang berfaedah, membawa maslahat, baik di dunia maupun di akhirat, amin. 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

*Khutbah Kedua*

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا  

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Kamis, 25 Agustus 2022

16 KIFAYATUL AKHYAR TERJEMAH

 


CARA MEMBASUH WAJAH KETIKA BERWUDHU'

قَالَ : ﴿ وَغَسْلِ الْوَجْهِ ﴾ الْفَرْضُ الثَّانِيْ : غَسْلُ الْوَجْهِ وَهُوَ أَوَّلُ الْأَرْكَانِ الظَّاهِرَةُ

Al-Mushonnif berkata : ﴾ Dan membasuh wajah ﴿ Fardhu Wudhu' yang kedua : membasuh wajah adalah Rukun pertama yang tampak

قَالَ تَعَالَى : 《 فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ 》 وَيَجِبُ اِسْتِيْعَابُهُ بِالْغَسْلِ وَحْدَهُ منْ مُبْتَدَأُ تَسْتَطِيْعِ الْجَبْهَةُ إِلَى مُنْتَهَى الذَّقْنِ طُوْلاً وَمِنَ الْأُذُنِ إِلَى الْأُذُنِ عَرْضَا وَمَوْضِعُ التَّحْذِيْفِ لَيْسَ مِنَ الْوَجْهِ وَالصُّدْغَانِ لَيْسَ مِنَ الْوَجْهِ عَلَى الْأَصَحِّ فِي شَرْحِ الرَّوْضَةِ وَرَجَّحَ فِي الْمُحَرَّرِ أَنَّهُمَا مِنَ الْوَجْهِ

Firman Allah Ta'ala : 《 Maka basuhlah wajah kalian 》 dan wajib meliputinya dengan satu basuhan dari permulaan kening pada batas akhir sampai dagu yang panjang dan dari telinga sampai telinga secara bergantian dan tempat tumbuhnya rambut halus bukan dari wajah dan tepi telinga bukan dari bagian wajah, atas pendapat yang Shahih dalam kitab 《 SYARAH RAUDHAH 》 dan di rajihkan dalam kitab 《 AL-MUHARRAR 》 bahwa keduanya termasuk dari wajah

ثُمَّ الشَّعْرُ النَّابِتُ فِی الْوَجْهِ قِسْمَانِ :

Kemudian rambut yang tumbuh di wajah ada dua bagian :

أَحَدُهُمَا : لَمْ يَخْرُجَ عَنْ حَدُّ الْوَجْهِ

Salah satunya : tidak keluar dari tepi wajah

اَلثَّانِيْ : خَارِجَ عَنْهُ وَالَّذِيْ لَمْ يَخْرُجْ عَن حَدُّ الْوَجْهِ قَدْ يَكُوْنُ نَادِرَ الْكَثَافَةِ وَقَدْ يَكُوْنُ غَيْرَ نَادِرِ الْكَثَافَةِ فَالنَّادِرُ الْكَثَافَةِ كَالْحَاجِبَيْنِ وَالْأَهْدَابِ وَالشَّارِبَيْنِ وَالْعِذَارَيْنِ وَهُمَا الْمُحَاذَيَانِ لِلْأُذُنَيْنِ بَيْنَ الصُّدْغِ وَالْعَارِضُ

Kedua : keluar darinya dan yang tidak keluar dari tepi wajah adalah sungguh menjadi jarang yang lebat dan sungguh menjadi tidak jarang yang lebat, maka yang jarang lebat seperti alis dan bulu mata dan kumis dan dua jambang dan keduanya yang bersebelahan pada dua telinga diantara pelipis dan tepi telinga

فَيَجِبُ غَسْلُ ظَاهِرِ هَذِهِ الشُّعُوْرِ وَبَاطِنُهَا مَعَ الْبَشَرَةِ تَحْتَهَا وَإِنْ كَثُفَ لِأَنَّهَا مِنَ الْوَجْهِ

Maka wajib membasuh luar rambut ini dan bagian dalamnya bersama kulit luar yang di bawahnya dan jika tebal, karena sesungguhnya tidak keluar dari wajah

وَأَمَّا شَعْرُ الْعَارِضَيْنَ فَإِنْ كَانَ خَفِيْفًا وَجَبَ غَسَلِ ظَاهِرِهِ وَبَاطِنِهِ مَعَ الْبَشَرَةِ

Dan adapun rambut pada duanpipi, maka jika ada yang tipis, maka wajib membasuh bagian luarnya dan bagian dalam bersama kulitnya

وَإِن كَانَ كَثِيْفًا وَجَبَ غَسَلُ ظَاهِرِهِ عَلَى الْأَظْهَرِ

Dan jika ada yang lebat, maka wajib membasuh bagian luarnya, atas pendapat yang jelas

وَلَوْ خَفَّ بَعْضُهُ وَكَثَفَ بَعْضُهُ فَالرَّاجِحُ أَنَّ لِلْخَفِيْفِ حُكْمَ الْخَفِيْفِ الْمَحْضِ وَلِلْكَثِيْفِ حُكْمَ الْكَثِيْفِ الْمَحْضِ

Dan seandainya tipis sebagiannya dan tebal sebagiannya, maka yang rajih bahwa untuk bulu pipi yang tipis adalah memiliki hukum tipis yang murni dan untuk yang tebal adalah memiliki hukum tebal yang murni

وَفِي ضَابِطِ الْخَفِيْفِ وَالْكَثِيْفِ خِلاَفُ الصَّحِيْحُ

Dan dalam ukuran yang tipis dan yang tebal adalah ada perbedaan pendapat yang Shahih

أَنَّ الْخَفِيْفَ مَا تَرَى الْبَشَرَةُ تَحْتَهُ فِی مَجْلِسِ التَّخَاطُبِ

Bahwa yang tipis adalah apa yang tampak di kulit bawahnya dalam pertemuan orang yang saling berbicara

وَالْكَثِيْفُ مَا يَمْنَعُ الرُّؤْيَةُ

Dan yang tebal adalah apa yang dapat merintangi pandangan kulit tersebut

الْقِسْمُ الثَّانِيْ : اَلشُّعُوْرُ الْخَارِجَةُ عَنْ حَدِّ الْوَجْهِ وَهُوَ شَعْرُ اللِّحْيَةِ وَالْعَارِضِ

Bagian kedua : rambut yang keluar dari tepi wajah adalah rambut jenggot dan tepi telinga

وَالْعِذَارَ وَالسِّبَالِ طُوْلاً وَعَرْضًا فَالرَّاجِحُ وُجُوْبُ غَسْلِ ظَاهِرِهَا فَقَطْ لِأَنَّهُ يَحْصُلُ بِهِ الْمَوَاجَهَةَ

Dan rambut rang tumbuh di pipi dan ujung kumis secara panjang dan lebar, maka pendapat yang rajih adalah wajib membasuh luarnya saja karena sesungguhnya akan menghasilkan dengannya yang berhadapan

وَقِيْلَ : لاَ يَجِبُ لِأَنَّ خَارِجَةٌ عَنْ حَدِّ الْوَجْهِ

Dan di katakan : tidak wajib karena bahwa rambut yang keluar dari tepi wajah

قَالَ فِي زِيَادَةِ الرَّوْضَةِ يَجِبُ غَسْلُ جُزْءٍ مِنْ رَأْسِهِ وَرَقَبَتِهِ وَمَا تَحْتَ ذَقْنِهِ مَعَ الْوَجْهِ لِيَتَحَقَّقَ اِسْتِيْعَابُهُ

Imam Nawawi berkata dalam tambahan kitab 《 AR-RAUDAH 》 wajib membasuh bagian dari kepalanya dan lehernya dan apa yang di bawah dagunya bersama wajah untuk mencapai kepastian penyerapan seluruhnya

وَلَوْ قُطِعَ أَنْفُهُ أَوْ شَفَتُهُ لَزِمَهُ غَسْلُ مَا ظَهْرَ بِالْقَطْعِ فِي الْوُضُوْءِ وَالْغَسْلِ عَلَى الصَّحِيْحِ لِأَنَّهُ يَبْقَى وَجْهًا

Dan seandainya terpotong hidungnya atau bibirnya, maka harus membasuh apa yang tampak dengan potongan tersebut dalam berwudhu' dan mandi, atas pendapat yang Shahih, karena sesungguhnya ia tetap sebagai wajah

وَيَجِبُ غَسْلُ مَا ظَهْرَ مِنْ حَمْرَةِ الشَّفَتَيْنِ

Dan wajib membasuh apa yang nampak dari yang merah pada dua bibir

وَيَسْتَحِبُّ أَنْ يَأْخُذَ الْمَاءَ بِيَدَيْهِ جَمِيْعًا

Dan di sunnahkan untuk mengambil air dengan tangannya secara kesemuanya

CARA MEMBASUH DUA TANGAN SAMPAI PADA DUA SIKU

قَالَ : ﴿ وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ ﴾ اَلْفَرْضُ الثَّالِثُ : غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ

Al-Mushonnif berkata : ﴾ Dan membasuh kedua tangan bersama dua siku ﴿ Fardhu wudhu' yang ketiga : membasuh kedua tangan bersama dua siku

لِقَوْلِهِ تَعَالَى : 《 وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ 》

Karena Firman-Nya Allah Ta'ala : 《 Dan tangan kalian sampai pada siku 》

وَلَفْظَةُ إِلَى تَرِدُ بِمَعْنَى مَعَ

Dan lafadz 《 ILA 》 mengandung arti bersama

كَمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : 《 مَنْ أَنْصَارِيْ إِلَى اللّٰهِ 》 أَيْ : مَعَ اللّٰهِ

Sebagaimana Firman-Nya Allah Ta'ala : 《 Siapa yang menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan agama Allah 》 maksudnya : bersama Allah

وَيَدُلُّ لِذَلِكَ مَا رَوَى جَابِرْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ : 《 رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ٬ يُدِيْرُ الْمَاءَ عَلَى الْمَرَافِقِ 》

Dan menunjukkan untuk hal itu apa yang di riwayatkan Jabir ra, ia berkata : 《 saya melihat Rasulullah saw memutarkan air di atas siku 》

وَرَوَى : 《 أَنَّهُ أَدَارَ الْمَاءَ عَلَى مِرْفَقَيْهِ 》

Dan riwayat lain : 《 bahwasannya Nabi saw melakukan wudhu' maka meratakan air ke atas sikunya 》

وَقَالَ : 《 هَذَا وُضُوْءٌ لَا يَقْبَلُ اللّٰهُ الصَّلَاةَ إِلَّا بِهِ 》

Dan Nabi saw bersabda : 《 ini adalah wudhu' dan Allah tidak menerima Shalat kecuali dengan wudhu' 》

وَيَجِبُ إِيْصَالُ الْمَاءِ إِلَى جَمِيْعِ الشَّعْرِ وَالْبَشَرَةِ حَتَّى لَوْ كَانَ تَحْتَ أَظْفَارِهِ وَسِخُ يَمْنَعُ وُصُوْلُ الْمَاءُ إِلَى الْبَشَرَةِ لَمْ يَصِحَّ وُضُوْؤُهُ وَصَلاَتَهُ بَاطِلَهُ، وَاللّٰهُ أَعْلَمْ

Dan wajib mengalirkan air pada semua rambut dan kulit sehingga seandainya ada di bawah kukunya terdapat kotoran yang dapat mencegah sampainya air pada kulit, maka tidak Sah wudhu'nya dan Shalatnya bathil, dan Allah lebih mengetahui

CARA MENGUSAP SEBAGIAN KEPALA KETIKA BERWUDHU'

قَالَ : ﴿ وَمَسْحُ بَعْضَ الرَّأْسِ ﴾ اَلْفَرْضُ الرَّابِعُ : مَسْحُ بَعْضَ الرَّأْسِ

Al-Mushonnif berkata : ﴾ Dan mengusap sebagian kepala ﴿ Fardhu wudhu' yang ke empat : mengusap sebagian kepala

لِقَوْلِهِ تَعَالَى 《 وَامْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ 》 وَلَيْسَ

Karena Firman-Nya Allah Ta'ala : 《 Dan usaplah dengan kepala kalian 》 dan bukan

الْمُرَادُ هُنَا مَسْحَ جَمِيْعِ الرَّأْسِ

yang di maksud di sini adalah mengusap seluruh kepala

لِحَدِيْثِ الْمُغِيْرَةِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ : 《 أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ٬ تَوَضَّأَ وَمَسْحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَى عِمَامَتِهِ وَعَلَى الْخُفَّيْنِ 》

Karena ada Hadits dari Al-Mughirah ra : 《 Bahwasannya Nabi saw berwudhu' dan mengusap dengan ubun-ubunnya dan bagian atas surbannya dan bagian atas dua sepatu 》

وَلِأَنَّ مَنْ أَمَرَّ يَدَهُ عَلَى هَامَّةُ الْيَتِيْمِ صَحَّ أَنْ يُقَالَ : مَسْحُ بِرَأْسِهِ

Dan karena sesungguhnya barangsiapa membiarkan mengusap tangannya di atas kepala anak yatim, maka di benarkan, jika ia berkata : mengusap pada kepalanya

وَحِيْنَئِذٍ فَالْوَاجِبُ مَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اِسْمُ الْمَسْحُ

Dan pada waktu itu, maka mewajibkan apa yang telah di sebut mengusap

وَلَوْ بَعْضَ شَعْرَةٍ أَوْ قَدْرَهُ مِنَ الْبَشَرَةِ

Dan seandainya sebagian rambut atau ukurannya dari kulit

وَشَرْطُ الشَّعْرِ الْمَمْسُوْحُ أَنْ لَا يَخْرُجَ عَنْ حَدِّ الرَّأْسِ لَوْ مُدَّهُ بِأَنَّى بِأَنْ كَانَ مُتَجَعِّدًا وَلاَ يَضُرُّ مُجَاوَزَةِ مُنْبَتِ الْمَمْسُوْحِ عَلَى الصَّحِيْحِ

Dan Syarat rambut yang di usap bahwa tidak keluar dari batas kepala, seandainya panjang dengan dimana pada adanya mengeriting dan tidak berbahaya melewati tempat tumbuhnya rambut yang di basuh, atas pendapat yang Shahih

وَلَوْ غَسْلَ رَأْسَهُ بَدَلَ الْمَسْحِ أَوْ أَلْقَى عَلَيْهِ قَطْرَةً وَلَمْ تَسِلْ أَوْ وَضَعَ يَدَهُ الَّتِيْ عَلَيْهَا الْمَاءُ عَلَى رَأْسِ وَلَمْ يُمِرَّهَا أَجْزَأَهُ عَلَى الصَّحِيْحِ

Dan seandainya seseorang mengusap kepalanya sebagai ganti mengusap atau menjatuhkan atasnya meniteskan air pada rambut dan air tetesan tidak kemana-mana atau menaruh tangannya atasnya di basahi air, maka menaruh di atas kepala dan tidak menyapukannya, maka mencukupi, atas pendapat yang Shahih

قَالَ فِيْ زِيَادَةِ الرَّوْضَةِ وَلَا تَتَعَيَّنُ الْيَدُ لِلْمَسْحِ بَلْ يَجُوْزُ بِخَشَبَةٍ أَوْ خِرْقَةٍ وَغَيْرِهِمَا وَيُجْزِيْ مَسْحُ غَيْرَهُ لَهُ وَالْمَرْأَةُ كَالرَّجُلِ فِی الْمَسْحِ، وَاللّٰهُ أعْلَمْ

Imam Nawawi berkata dalam kitab tambahan 《 AR-RAUDHAH 》 dan tidak harus dengan tangan untuk membasuh tapi boleh dengan potongan kayu atau sobekan kain dan selain keduanya dan membalas usapan orang lain padanya dan wanita seperti laki-laki dalam mengusap, Allah lebih mengetahui

CARA MEMBASUH KEDUA KAKI SAMPAI DUA MATA KAKI KETIKA BERWUDHU'

قَالَ : ﴿ وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ ﴾

Al-Mushonnif berkata : ﴾ Dan membasuh kedua kaki bersama dua mata kaki ﴿

لِقَوْلِهِ تَعَالَى : 《 وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ 》

Karena Firman-Nya Allah Ta'ala : 《 Dan basuhlah kaki kalian sampai dua mata kaki 》

فَعَلَى قِرَاءَةِ النَّصْبِ يَكُوْنُ الْغَسْلُ مُتَعَيِّنًا وَالتَّقْدِيْرِ وَاغْسِلُوْا أَرْجُلِكُمْ وَعَلَى قِرَاءَةِ الْجَرِّ فَالسُّنَّةُ بَيَّنَتِ الْغَسْلُ وَلَوْ كَانَ الْمَسْحُ جَائِزًا لَبَيَّنَهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ مَرَّةِ كَمَا فَعَلَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَيرِ ذَلِكَ

Maka pada lafadz 《 ARJULAKUM 》 di baca Nashab, akan harus menjadi membasuh dan di perkirakan basuhlah kaki kalian dan jika lafadz 《 ARJULIKUM 》 atas membaca Jar, maka sunnah tetap menjelaskan suatu basuhan dan jika seandainya ada yang membasuh itu boleh dalam wudhu' pasti untuk di jelasankan oleh Nabi saw walaupun sekali, sebagaimana yang di lakukan Nabi saw dalam selain hal itu

قَالَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمْ وَاتِّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبَيْنِ الْعَظْمَانِ النَّاتِئَانِ بَيْنَ السَّاقِ وَالْقَدَمِ وَفِي كُلِّ رِجْلٍ كَعْبَانِ

Imam Nawawi berkata dalam kitab 《 SYARAH MUSLIM 》 para ulama' sepakat atas mata kaki, bahwa maksud dengan dua mata kaki adalah dua tulang yang menonjol di antara betis dan telapak kaki dan dalam setiap kaki memiliki dua mata kaki

وَشَذَّتِ الرَّافِضَةِ قَبَّحَهُمُ اللّٰهُ تَعَالَى فَقَالَتْ فِي كُلِّ رِجْلٍ كَعْبٌ وَهُوَ الْعَظْمُ الَّذِي فِي ظَهْرِ الْقَدَمِ

Dan sekelompok Rofidhah mengeluarkan pendapat yang sangat janggal, maka ia berkata : dalam setiap kaki memiliki mata kaki dan dia adalah tulang yang ada di punggung telapak kaki

وَحُكِيَ هَذَا عَنْ مُحَمَّد بِنْ اَلْحَسَنْ وَلَا يَصِحُّ وَحُجَّةُ الْعُلَمَاءِ فِيْ ذَلِكَ نَقْلُ أَهْلِ اللُّغَةِ وَالْإِشْتِقَاقُ وَهَذَا

Dan kisah ini dari Muhammad Bin Al-Hasan dan pendapat tersebut tidak benar darinya dan alasan para ulama' dalam hal itu menukil dari ahli bahasa dan ahli kosa kata dan ini

اَلْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ الَّذِيْ نَحْنُ فِيْهِ يَدُلُّ لِذَلِكَ فَفِيْهِ

Hadits Shahih yang kami jadikan dalil untuk hal itu, maka dalam hadits tersebut adalah di dalamnya di sebutkan

《 فَغَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَرِجْلَهُ الْيُسْرَى كَذَلِكَ 》

《 maka basuhlah kakinya yang kanan sampai dua mata kaki dan kakinya yang kiri seperti itu 》

فَأَثْبَتَ فِيْ كُلِّ رِجْلٍ كَعْبَيْنِ، وَاللّٰهُ أَعْلَمْ

maka menetapkan dalam semua kaki sampai dua mata kaki, dan Allah lebih mengetahui

قُلْتُ وَحَدِيْثُ النُّعْمَانِ بِنْ بَشِيْرَ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ صَرِيْحَ فِي ذَلِكَ

Saya berkata dan hadits An-Nu'man Bin Basyir ra, telah jelas dalam hal itu

قَالَ : قَالَ لَنَا رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : 《 أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْصِقُ مِنْكِبَهُ بِمِنْكَبِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ 》

ia berkata : Rasulullah bersabda kepada kami : 《 tegakkanlah Shaf kalian, maka saya melihat laki-laki dari kami akan melekatkan bahunya dengan bahu temannya dan kakinya dengan kaki temannya 》

وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ هَذَا فِي كَعْبِ الْمَفْصِلِ وَلَا يَتَأَتَّى فِي الَّذِيْ عَلَى ظَهْرِ الْقَدَمِ، وَاللّٰهُ تَعَالَى أَعْلَمْ

Dan telah di ketahui bahwa ini dalam mata kaki yang bersambung dengan dua tulang dan tidak dapat mengakibatkan dalam kaki yang atas punggung mata kaki, dan Allah Ta'ala lebih mengatahui

وَاعْلَمْ أَنَّ الْغَسْلَ وَاجِبٌ إِِذَا لَمْ يَمْسَحَ عَلَى الْخُفِّ وَقِرَاءَةِ الْجَرِّ مَحْمُوْلَةٍ عَلَى مَسْحِ الْخُفِّ

Dan ketahuilah bahwa membasuh kaki adalah wajib apabila tidak mengusap atas sepatu dan membaca Jar di bebankan atas membasuh sepatu

وَيَجِبُ غَسْلُ جَمِيْعِ الرِّجْلَيْنِ بِالْمَاءِ وَيُنَقِّي الْبَشَرَةِ وَالشَّعْرُ حَتَّى يَجِبُ غَسْلُ مَا ظَهَرَ بِالشَّقِّ

Dan wajib membasuh seluruh kaki dengan air dan meliputi kulit dan rambut sehingga wajib membasuh apa yang nampak dengan sebagian yang teriris

وَلَوْ وَضَعَ فِي الشَّقِّ شَمْعَةً أَوْ حِنَّاءً وَلَهُ جِرْمِ لَا يَجْزِيْءُ وُضُوْؤُهُ وَلَا تَصِحُّ صَلاَتُهُ وَكَذَا يَجِبُ عَلَيْهِ إِزَالَةِ خُرْءِ الْبَرَاغِيْثِ حَيْثُ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَحْتَرِزَ عَن مِثْلِ ذَلِكَ فَلَوْ تَوَضَّأَ وَنَسِيَ إِزَالَتَهُ ثُمَّ عَلِمَ وَجَبَ عَلَيْهِ غَسْلُ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَمَا بَعْدَهُ وَإِعَادَةِ الصَّلاَةِ، وَاللّٰهُ أَعْلَمْ

Dan seandainya seseorang menaruh dalam sebagian yang teriris dengan lilin atau pacar dan padanya badan yang terluka tidak mencukupi wudhu'nya dan tidak Shah Shalatnya dan demikian wajib atasnya menghilangkan tahi kuku ketika bangun dari tidurnya, maka untuk berhati-hati dari menyerupai hal itu, maka seandainya berwudhu' dan lupa menghilangkannya, kemudian mengetahui, maka wajib atasnya membasuh pada tempatnya itu dan apa yang setelahnya dan memperbarui Shalatnya, dan Allah lebih mengetahui

https://terjemahan-kifayatul-akhyar.blogspot.com/search/label/Cara%20Membasuh%20Kedua%20Kaki%20Sampai%20Dua%20Mata%20Kaki%20Bagian%2028