MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 27 April 2026

KITAB NASHOIHUL IBAD BAB 8 MAQALAH 4-5

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 8 Maqolah 4

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: عَلَامَةُ الْعَارِفِيْنَ ثَمَانِيَةُ أَشْيَاءَ: قَلْبُهُ) أَيْ الْعَارِفُ (مَعَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ)

Maqolah yang ke empat (Dari Utsman Radhiallahu Anhu sesungguhnya dia berkata: Tanda-tanda orang-orang yang ma'rifat itu ada delapan perkara: Hatinya) Maksudnya hati orang ma'rifat (Itu disertai rasa khouf dan roja)

وَأَصْلُ الْخَوْفِ مَعْرِفَةُ الْقَلْبِ بِجَلَالِ اللّٰهِ تَعَالَى وَقَهْرِهِ وَغِنَاهُ عَنْ جَمَيْعِ خَلْقِهِ وَشَدِيْدِ عِقَابِهِ لِمَنْ عَصَاهُ فَنَشَأَ مِنْ هٰذِهِ الْمَعْرِفَةِ حَالَةُ وَجَلٍ تُسَمَّى الْخَوْفَ وَثَمْرَتُهُ الْمَقْصُودَةُ مِنْهُ تَرْكُ الْمَعَاصِى،

Dan asal dari rasa khouf adalah mengertinya hati tentang keagungan Allah Ta'ala dan mengertinya hati tentang kekuasaan Allah dan mengertinya hati tentang tidak butuhnya Allah dari semua makhluknya dan mengertinya hati tentang kerasnya siksaan dari Allah kepada orang yang durhaka kepadanya sehingga muncul dari pengetahuan ini suatu keadaan takut yang diberi nama khouf dan buahnya khouf yang diharapkan darinya adalah meninggalkan kemaksiatan

وَأَصْلُ الرَّجَاءِ مَعْرِفَةُ الْقَلْبِ سَعَةَ رَحْمَةِ اللّٰهِ وَعَظِيْمَ فَضْلِهِ وَجَمِيْلَ وَعْدِهِ لِمَنْ أَطَاعَهُ فَيَنْشَأُ مِنْ هٰذِهِ الْمَعْرِفَةِ حَالَةُ فَرَحٍ تُسَمَّى الرَّجَاءَ وَثَمْرَتُهُ الْمَقْصُودَةُ مِنْهُ الْمُسَارَعَةُ فِى الْخَيْرَاتِ.

Dan asal dari rasa roja adalah mengertinya hati tentang luasnya rahmat Allah dan mengertinya hati tentang agungnya anugrah dari Allah dan mengertinya hati tentang indahnya janji Allah untuk orang-orang yang taat kepadanya sehingga muncul dari pengetahuan ini suatu keadaan bahagia yang diberi nama raja dan buahnya raja yang diharapkan darinya adalah bersegera dalam berbagai kebaikan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا اجْتَمَعَ الرَّجَاءُ وَالْخَوْفُ فِى قَلْبِ مُؤْمِنٍ إلَّا أَعْطَاهُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ الرَّجَاءَ وَأَمَّنَهُ مِنَ الْخَوْفِ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidaklah berkumpul sifat raja dan khouf di dalam hati seorang mu'min melainkan Allah Azza Wajalla pasti akan memberikan kepadanya harapan dan memberikan rasa aman kepadanya dari rasa takut]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni

(وَلِسَانُهُ مَعَ الْحَمْدِ وَالثَّنَاءِ) عَلَى اللَّهِ تَعَالَى (وَعَيْنَاهُ مَعَ الْحَيَاءِ وَالْبُكَاءِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَوْ أَنَّ بُكَاءَ دَاوُدَ وَبُكَاءَ أَهْلِ الْأَرْضِ يَعْدِلُ بُكَاءَ آدَمَ مَا عَدَلَهُ] رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ.

(Dan lisan orang ma'rifat itu disertai memuji dan menyanjung) Kepada Allah Ta'ala (Dan kedua mata orang ma'rifat itu disertai rasa malu dan tangisan) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Andai sesungguhnya tangisan Nabi Daud dan tangisan penduduk bumi membandingi keduanya pada tangisan Nabi Adam maka tidak akan bisa membandingi tangisan keduanya pada tangisan Nabi Adam] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Asakir

(وَإِرَادَتُهُ) أَيْ الْعَارِفُ (مَعَ التَّرْكِ وَالرِّضَا) أَيْ مَعَ تَرْكِ إرَادَةِ نَفْسِهِ وَمَعَ الرِّضَا لِإِرَادَتِهِ تَعَالَى لِنَفْسِ الْعَارِفِ فَالْعَارِفُ مُرَادٌ لَا مُرِيْدٌ (يَعْنِى) بِذٰلِكَ (تَرْكَ الدُّنْيَا وَطَلَبَ رِضَا مَوْلَاهُ).

(Dan kehendaknya) Maksudnya orang ma'rifat (Itu disertai meninggalkan dan ridho) Maksudnya disertai meninggalkan keinginan dirinya sendiri dan disertai ridho pada kehendak Allah Ta'ala untuk diri orang yang ma'rifat. Maka orang yang ma'rifat itu dikehendaki bukan menghendaki (Utsman Radhiallahu Anhu bermaksud) Dengan ucapan itu (Meninggalkan dunia dan mencari ridho tuhannya)


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 8 Maqolah 5

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ اللّٰهُ وَجْهَهُ (لَا خَيْرَ فِى صَلَاةٍ لَا خُشُوْعَ فِيْهَا) فَالْخُشُوْعُ فِى جُزْءٍ مِنَ الصَّلَاةِ وَاجِبٍ لَيْسَ بِشَرْطٍ كَمَا قَالَهُ شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّحْرَاوِيُّ.

Maqolah yang kelima (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Tidak ada kebaikan dalam sholat yang tidak ada khusyu di dalamnya) Khusyu pada bagian dari sholat wajib bukan termasuk syarat sebagaimana telah berkata pada ucapan itu Syekh Ahmad An-Nahrawi.

أَوْحَى اللّٰهُ إلَى بَعْضِ أَنْبِيَائِهِ: [عَبْدِيْ هَبْ لِيْ مِنْ عَيْنِكَ الدُّمُوْعَ وَمِنْ قَلْبِكَ الْخُشُوْعَ ثُمَّ ادْعُ فَإِنِّيْ أَسْتَجِيْبُ لَكَ وَأَنَا الْقَرِيْبُ الْمُجِيْبُ.]

Allah telah mewahyukan kepada sebagian dari Nabi-Nabinya: [Hambaku berikanlah kepadaku dari kedua matamu air mata dan dari hatimu khusyu kemudian berdoalah karena sesungguhnya aku akan mengabulkan untuk mu dan aku adalah yang maha dekat, maha mengabulkan].

(وَلَا خَيْرَ فِى صَوْمٍ لَا امْتِنَاعَ فِيْهِ عَنِ اللَّغْوِ) أَيْ الْكَلَامِ الَّذِيْ لَا فَائِدَةَ فِيْهِ

(Dan tidak ada kebaikan dalam puasa yang tidak mencegah di dalamnya dari perbuatan yang sia-sia) Maksudnya perkataan yang tidak ada manfaat di dalamnya

(وَلَا خَيْرَ فِى قِرَاءَةٍ) لِلْقُرْآنِ (لَا تَدَبُّرَ فِيْهَا) أَيْ لَا نَظَرَ فِى أَحْكَامِهَا

(Dan tidak ada kebaikan di dalam membaca) Al-Qur'an (Yang tidak ada tadabbur di dalamnya) Maksudnya tidak memperhatikan pada hukum-hukumnya

(وَلَا خَيْرَ فِى عِلْمٍ لَا وَرَعَ) عَنِ الشُّبُهَاتِ وَالْمُحَرَّمَاتِ (فِيْهِ) أَيْ مَعَ الْعِلْمِ.

(Tidak ada kebaikan dalam ilmu yang tidak ada wara') Dari perkara-perkara syubhat dan perkara-perkara yang diharamkan (Di dalamnya) Maksudnya disertai ilmu

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [مَنِ اتَّقٰى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبَرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ]

Telah bersabda Nabi ﷺ: [Barang siapa menghindari perkara-perkara syubhat maka benar-benar dia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya dan barang siapa terjerumus dalam perkara-perkara syubhat maka dia terjerumus dalam perkara-perkara haram].

(وَلَا خَيْرَ فِى مَالٍ لَا سَخَاوَةَ فِيْهِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ بِصَدَقَةٍ أَوْ صِلَةٍ إلَّا زَادَهُ اللّٰهُ بِهَا كَثْرَةً، وَمَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ يُرِيْدُ بِهَا كَثْرَةً إلَّا زَادَهُ اللّٰهُ بِهَا قِلَّةً] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.

(Dan tidak ada kebaikan dalam harta yang tidak ada kedermawanan di dalamnya) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidaklah membuka seseorang pada pintu memberi dengan bersedekah atau dengan bersilatur rahmi melainkan Allah akan menambah kepadanya dengan sebab sedekah atau silaturahmi itu kemakmuran dan tidaklah membuka seseorang pada pintu mengemis yang dia ingin dengan sebab mengemis itu menjadi makmur melainkan Allah akan menambah kepadanya dengan sebab mengemis itu ketidak cukupan]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi

(وَلَا خَيْرَ فِى أُخُوَّةٍ لَا حِفْظَ فِيْهَا) رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [عَلَيْكُمْ بِإِخْوَانِ الصَّفَا فَإِنَّهُمْ زِيْنَةٌ فِى الرَّخَاءِ وَعَضْمَةٌ فِى الْبَلَاءِ].

(Dan tidak ada kebaikan dalam persaudaraan yang tidak menjaga di dalamnya) Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Wajib atas kalian menjalin persaudaraan yang tulus karena sesungguhnya persaudaraan yang tulus itu adalah perhiasan di saat lapang dan penjaga di saat ada musibah ].

وَرَوَى أَبُوْ الزُّبَيْرِ عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: [اَلْمَرْءُ كَثِيْرٌ بِأَخِيْهِ وَلَا خَيْرَ فِى صُحْبَةِ مَنْ لَا يَرَى لَكَ مِنَ الْحَقِّ مِثْلَ مَا تَرَى لَهُ].

Abu Zubair telah meriwayatkan dari Sahl bin Sa'd sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Seseorang itu makmur karena saudaranya dan tidak ada kebaikan dalam menemani orang yang tidak melihat pada mu dari hak-hak sebagaimana engkau melihat pada haknya].

(وَلَا خَيْرَ فِي نِعْمَةٍ لَا بَقَاءَ فِيْهَا) وَكَانَ بَعْضُهُمْ دَعَا بِهٰذَا الدُّعَاءِ: اَللّٰهُمَّ لَا تَسْلِبْ مِنِّيْ نِعْمَةً أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ

(Dan tidak ada kebaikan dalam nikmat yang tidak kekal di dalamnya) Dan ada sebagian ulama berdoa dengan doa ini: Ya Allah semoga engkau tidak mencabut dariku kenikmatan yang telah engkau berikan kenikmatan itu kepadaku

(وَلَا خَيْرَ فِى دُعَاءٍ لَا إخْلَاصَ فِيْهِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إنَّ هٰذِهِ الْقُلُوْبَ أَوْعِيَةٌ فَخَيْرُهَا أَوْعَاهَا فَإِذَا سَأَلْتُمْ اللّٰهَ فَاسْأَلُوْهُ وَأَنْتُمْ وَاثِقُوْنَ بِالْإِجَابَةِ فَإِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءَ مَنْ دَعَا مِنْ ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ.

(Dan tidak ada kebaikan dalam doa yang tidak ada keikhlasan di dalamnya) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya berbagai hati ini adalah wadah maka yang paling baik darinya adalah yang paling banyak menampung. Maka ketika kalian meminta kepada Allah mintalah kepadanya dan kalian yakin akan dikabulkan karena sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa orang yang berdoa dari luar hati yang lalai] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni


Tidak ada komentar:

Posting Komentar