Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10
بَابُ العُشَارِيِّ
وَفِيْهِ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ مَوْعِظَةً، إِحْدَى عَشْرَةَ أَخْبَارٌ وَالْبَاقِيَةُ آثَارٌ.
Dalam bab ini ada dua puluh sembilan nasihat, sebelas hadits dan sisanya atsar.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 1
الْمَقَالَةُ الْأُولَى (قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ) أَيْ الْزَمُوْهُ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَفِى كُلِّ حَالٍ (فَإِنَّ فِيهِ عَشْرَ خِصَالٍ) مَحْمُودَةٍ
Maqolah yang pertama (Telah bersabda Rasulullah ﷺ: Hendaklah kalian bersiwak) Maksudnya biasakanlah bersiwak pada setiap waktu dan pada setiap keadaan (Karena sesungguhnya dalam bersiwak itu ada sepuluh sifat) Yang terpuji
(يُطَهِّرُ الْفَمَ) بِزَوَالِ الرَّائِحَةِ الْكَرِيْهَةِ (وَيُرْضِى الرَّبَّ) أَيْ يُثِيْبُ عَلَيْهِ
(Dapat membersihkan mulut) Dengan menghilangkan bau-bau yang tidak sedap (Dan mendatangkan keridhaan Allah) Maksudnya Allah memberikan pahala atasnya.
(وَيُسْخِطُ الشَّيْطَانَ وَيُحِبُّهُ الرَّحْمٰنُ وَالْحَفَظَةُ) أَيْ الْمَلَائِكَةُ الَّذِيْنَ يَحْفَظُوْنَ الْعَبْدَ بِكِتَابَةِ أَعْمَالِهِ وَغَيْرِهِ
(Dan membuat marah setan, dan Allah akan mencintainya serta para malaikat hafadzoh) Yaitu malaikat-malaikat yang menjaga hamba dengan mencatat amal-amalnya dan lainnya.
(وَيَشُدُّ اللِّثَةَ) بِكَسْرِ اللَّامِ وَهُوَ لَحْمُ الْأَسْنَانِ (وَيَقْطَعُ الْبَلْغَمَ) أَيْ يَنْزِعُهُ (وَيُطَيِّبُ النَّكْهَةَ) أَيْ النَّفَسَ مِنَ الْأَنْفِ
(Dan dapat menguatkan gusi) Lafadz اللثة dengan mengkasrahkan huruf ل, Yaitu daging pada gigi (Dan dapat memutus dahak) Maksudnya menghilangkannya (Dan memperbaiki aroma) Yaitu napas dari hidung.
(وَيُطْفِئُ الْمِرَّةَ) بِكَسْرِ الْمِيْمِ، وَهُوَ خَلَطٌ مِنْ أَخْلَاطِ الْبَدَنِ كَالصُّفَرَاءِ وَالسَّوْدَاءِ وَالدَّمِ وَالْبَلْغَمِ وَفِى رِوَايَةٍ وَيُصْلِحُ الْمَعِدَةَ
(Dan memadamkan al-mirrah) Dengan mengkasrahkan huruf م, yaitu cairan dari cairan-cairan tubuh seperti empedu kuning, empedu hitam, darah, dan dahak. Dan dalam satu riwayat: Dan memperbaiki lambung.
(وَيُجْلِى الْبَصَرَ) أَيْ يَكْشِفُ ظُلْمَتَهُ (وَيُذْهِبُ الْبَخْرَ) أَيْ نَتْنَ رَائِحَةِ الْفَمِ (وَهُوَ) أَيْ السِّوَاكُ (مِنَ السُّنَّةِ) أَيْ الطَّرِيْقَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ كَانَ ﷺ يُدَاوِمُ عَلَيْهَا.
(Dan mencerahkan penglihatan) Maksudnya menghilangkan kegelapannya. (Dan menghilangkan bau mulut) Busuknya aroma mulut. (Dan ia) Maksudnya siwak (Itu termasuk sunnah) Yaitu metode yang terpuji, terbukti Nabi ﷺ itu mendawamkan bersiwak.
(ثَمَّ قَالَ ﷺ: [اَلصَّلَاةُ بِالسِّوَاكِ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِيْنَ صَلَاةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ]) وَهٰذَا لَايَدُلُّ عَلَى أَفْضَلِيَّةِ السِّوَاكِ عَلَى الْجَمَاعَةِ الَّتِي هِيَ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ. لِأَنَّ دَرَجَةً مِنْ هٰذِهِ قَدْ تَعْدِلُ كَثِيرًا مِنْ تِلْكَ السَّبْعِينَ.
(Kemudian Nabi ﷺ bersabda: [Shalat dengan siwak itu lebih utama dari pada tujuh puluh sholat tanpa siwak]). Dan hal ini tidak menunjukkan keutamaan siwak atas shalat berjamaah, yang pahalanya adalah dua puluh tujuh derajat, karena satu derajat dari sholat berjamaah terkadang dapat menyamai lebih banyak dari tujuh puluh shalat tersebut.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 2
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّٰهُ عَنْهُ: مَا مِنْ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللّٰهُ عَشْرَ خِصَالٍ إلَّا وَقَدْ نَجَا مِنَ الْآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ كُلِّهَا) وَالْعَاهَاتُ عَطْفُ مُرَادِفٍ، وَهِيَ فِي الْأَصْلِ مَا يُفْسِدُ الزَّرْعَ
Maqolah yang kedua (Telah berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu: Tidaklah dari seorang hamba yang telah Allah berikan rizki kepadanya sepuluh sifat melainkan dia benar-benar selamat dari segala penyakit dan bencana seluruhnya) Lafadz العاهات adalah atof dari lafadz sinonim, Lafadz العاهات pada asal maknanya adalah sesuatu yang dapat merusak tanaman
(وَصَارَ فِى دَرَجَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ) مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى (وَنَالَ دَرَجَةَ الْمُتَّقِيْنَ) أَيْ الَّذِيْنَ تَرَكُوْا شَهَوَاتِ النَّفْسِ وَاجْتَنَبُوْا الْمَنْهِيَّاتِ.
(Dan dia benar-benar menempati derajat orang-orang yang dekat) dengan Allah Ta'ala (Dan dia benar-benar meraih derajat orang-orang yang bertakwa) Yaitu orang-orang yang meninggalkan kesenangan-kesenangan nafsu dan orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang dilarang.
(أَوَّلُهَا: صِدْقٌ دَائِمٌ مَعَهُ قَلْبٌ قَانِعٌ) أَيْ رَاضٍ بِالْقِسْمَةِ، فَصِدْقُ اللِّسَانِ أَوَّلُ السَّعَادَةِ مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ.
(Yang pertama dari sepuluh sifat itu: Adalah kejujuran yang terus menerus bersama dengan kejujuran tersebut hati yang qana'ah) Maksudnya ridha dengan takdir. Maka, kejujuran lisan adalah awal dari kebahagiaan. Barang siapa yang sedikit kejujurannya, sedikit pula temannya.
(وَالثَّانِى: صَبْرٌ كَامِلٌ مَعَهُ شُكْرٌ دَائِمٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَفْضَلُ الْإِيْمَانِ الصَّبْرُ وَالسَّمَاحَةُ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [نِعَمَ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ الصَّبْرُ وَالدُّعَاءُ].
(Dan yang kedua: Adalah kesabaran yang sempurna bersama dengan kesabaran tersebut rasa syukur yang terus-menerus) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Paling utamanya keimanan adalah kesabaran dan kemurahan hati]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami. Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sebaik-baik senjata orang mumin adalah kesabaran dan doa].
وَقَالَ سَيِّدِيْ الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِيُّ قَدَّسَ سِرَّهُ: كَيْفَ يَحْسُنُ مِنْكَ الْعُجْبُ فِى أَعْمَالِكَ وَرُؤْيَةُ نَفْسِكَ فِيْهَا وَطَلَبُ الْأَعْوَاضِ عَلَيْهَا وَجَمِيْعُ ذٰلِكَ بِتَوْفِيْقِ اللّٰهِ تَعَالَى وَفَضْلِهِ وَإِنْ كُنْتَ تَرَكْتَ الْمَعْصِيَةَ فَبِحِفْظِهِ،
Dan telah berkata tuanku Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Qoddasa Sirroh: Bagaimana bisa bagus darimu sifat ujub atas amal-amalmu dan memandangnya dirimu dalam amal tersebut serta meminta balasan-balasan atas amal tersebut, sedangkan semua itu adalah karena taufik Allah Ta'ala dan karunia-Nya. Dan Jika engkau terbukti meninggalkan maksiat maka itu pun karena penjagaan-Nya."
أَيْنَ أَنْتَ مِنَ الشُّكْرِ عَلَى ذٰلِكَ وَالِاعْتِرَافِ بِهٰذِهِ النِّعَمِ الَّتِيْ أَعْطَاكَهَا فَاللَّهُ خَالِقُكَ وَخَالِقُ أَفْعَالِكَ مَعَ كَسْبِكَ أَنْتَ الْكَاسِبُ وَهُوَ تَعَالَى الْخَالِقُ.
Di manakah engkau dari rasa syukur atas hal itu dan pengakuan terhadap nikmat-nikmat ini yang telah Dia berikan kepadamu kenikmatan itu? Allah adalah Penciptamu dan Pencipta segala amal perbuatanmu, bersamaan dengan usahamu. Engkaulah yang berusaha, dan Allah Ta'ala yang menciptakan.
(وَالثَّالِثُ: فَقْرٌ دَائِمٌ مَعَهُ زُهْدٌ حَاضِرٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يَا مَعْشَرَ الْفُقَرَاءِ أَعْطُوْا اللّٰهَ الرِّضَا مِنْ قُلُوْبِكُمْ تَظْفَرُوا بِثَوَابِ فَقْرِكُمْ وَإِلَّا فَلَا]. قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: اِسْتِغْنَاؤُكَ عَنِ الشَّيْءِ خَيْرٌ مِنْ اِسْتِغْنَائِكَ بِهِ.
(Dan yang ketiga: Adalah Kefaqiran yang terus-menerus bersama dengan kefakiran tersebut sikap zuhud yang hadir) Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Wahai golongan orang-orang fakir, berikanlah kepada Allah keridhoan dari hati kalian, maka kalian akan memperoleh pahala dari kemiskinan kalian, dan jika tidak, maka tidak]. Telah berkata sebagian dari orang-orang yang bijaksana: Ketidakbutuhanmu terhadap sesuatu lebih baik daripada ketergantunganmu padanya.
(وَالرَّابِعُ: فِكْرٌ دَائِمٌ مَعَهُ بَطْنٌ جَائِعٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [تَفَكَّرُوْا فِى كُلِّ شَيْءٍ وَلَا تَفَكَّرُوْا فِى ذَاتِ اللّٰهِ، فَإِنَّ بَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ إلَى كُرْسِيِّهِ سَبْعَةَ آلَافِ نُوْرٍ وَهُوَ فَوْقَ ذٰلِكَ] رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [رَحِمَ اللّٰهُ قَوْمًا يَحْسُبُهُمُ النَّاسُ مَرْضَى وَمَا هُمْ بِمَرْضَى] رَوَاهُ ابْنُ الْمُبَارَكِ.
(Keempat: Adalah tafakkur yang terus menerus bersama dengan tafakkur tersebut perut yang lapar) Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: [Bertafakkurlah kalian pada segala sesuatu, namun janganlah kalian bertafakkur tentang Dzat Allah, karena sesungguhnya antara langit ketujuh sampai kursi-Nya terdapat tujuh ribu cahaya, sedangkan kursi-Nya Allah di atas itu semua]. Diriwayatkan sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: [Allah merahmati suatu kaum yang manusia mengira kaum tersebut sakit sedangkan tidaklah mereka itu sakit]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Mubarok
(وَالْخَامِسُ: حُزْنٌ دَائِمٌ مَعَهُ خَوْفٌ مُتَّصِلٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا لَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ لَأَحْبَبْتُمْ أَنْ تَزْدَادُوْا فَاقَةً وَحَاجَةً] رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ.
(Kelima: Adalah kesedihan yang terus-menerus bersama dengan kesedihan tersebut rasa takut yang berkelanjutan). Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: [Seandainya kalian mengetahui ganjaran untuk kalian di sisi Allah , niscaya kalian akan mencintai bertambahnya kefakiran dan kebutuhan]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Tirmidzi.
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [كَفَى بِالْمَرْءِ عِلْمًا أَنْ يَخْشَى اللّٰهَ، وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يَعْجَبَ بِنَفْسِهِ]. رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Cukuplah bagi seorang hamba dikatakan berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukuplah bagi seorang hamba dikatakan bodoh jika ia mengagumi dirinya sendiri]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi
وَرُوِيَ أَنَّهَ ﷺ قَالَ: [إنَّمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ يَرْجُوْهَا وَإِنَّمَا يَجْتَنِبُ النَّارَ مَنْ يَخَافُهَا، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللّٰهُ مَنْ يَرْحَمُ].
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya yang akan masuk surga hanyalah orang yang mengharapkannya, dan sesungguhnya yang akan menjauhi neraka hanyalah orang yang takut kepadanya, dan sesungguhnya Allah akan mengasihi hanya kepada orang yang mengasihi].
(وَالسَّادِسُ: جُهْدٌ) أَيْ مَشَقَّةٌ (دَائِمٌ مَعَهُ بَدَنٌ مُتَوَاضِعٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [تَوَاضَعُوْا وَجَالِسُوْا الْمَسَاكِيْنَ تَكُونُوْا مِنْ كِبَارِ أَهْلِ اللّٰهِ وَتَخْرُجُوْا مِنَ الْكِبْرِ] رَوَاهُ أَبُوْ نُعَيْمٍ.
(Dan yang keenam: Adalah usaha) Maksudnya kesulitan (Yang terus-menerus bersama dengan usaha tersebut badan yang tawadhu) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Bersikap sederhanalah kalian dan duduklah kalian bersama orang-orang miskin niscaya kalian akan menjadi bagian dari kalangan pembesar wali-wali Allah dan kalian akan terlepas dari kesombongan]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim
وَقَالَ سَيِّدِيْ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيلَانِيُّ قَدَّسَ سِرَّهُ: كُلَّمَا جَاهَدْتَ نَفْسَكَ وَقَتَلْتَهَا بِسَيْفِ الْمُخَالَفَةِ أَحْيَاهَا اللّٰهُ وَنَازَعَتْكَ وَطَلَبَتْ مِنْكَ الشَّهَوَاتِ وَاللَّذَّاتِ لِتَعُوْدَ إِلَى الْمُجَاهَدَةِ لِيَكْتُبَ لَكَ ثَوَابًا دَائِمًا
Telah berkata tuanku Abdul Qodir Al Jailani Qoddasa Sirroh: Setiap kali engkau melawan nafsumu dan engkau membunuh nafsumu dengan pedang pertentangan maka Allah akan menghidupkannya dan nafsumu akan melawanmu dan meminta darimu syahwat-syahwat kenikmatan agar engkau kembali berjidah melawannya sehingga Allah akan mencatat bagimu pahala yang terus menerus
وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾ [الْحِجْرِ: الْآيَةُ ٩٩] أَيْ وَخَالِفْ نَفْسَكَ يَا أَشْرَفَ الْخَلْقِ إِلَى أَنْ يَأْتِيَكَ الْمَوْتُ. وَسُمِّيَتْ مُخَالَفَةُ النَّفْسِ بِالْعِبَادَةِ لِأَنَّ النَّفْسَ تَأْبَاهَا وَتُرِيْدُ ضِدَّهَا.
Dan ini adalah makna dari firman Allah Ta'ala: ﴾Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian﴿ [Q.S Al-Hijr: Ayat 99]. Maksudnya lawanlah nafsumu wahai makhluk yang paling mulia sampai datang kepadamu kematian. Dan dinamakan menolak nafsu dengan ibadah karena sesungguhnya nafsu menolak ibadah dan dia menginginkan kebalikannya.
(وَالسَّابِعُ: رِفْقٌ دَائِمٌ) أَيْ فِى جَمِيْعِ الْأَفْعَالِ (مَعَهُ رَحِمٌ حَاضِرٌ) وَفِى الْحَدِيْثِ: [إنَّمَا يَرْحَمُ اللّٰهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءُ] إِنْتَهَى، يُرْوَى بِالنَّصْبِ عَلَى أَنَّهُ مَفْعُوْلُ يَرْحَمُ وَبِالرَّفْعِ عَلَى أَنَّهُ خَبَرُ إنَّ وَمَا بِمَعْنَى الَّذِيْ.
(Dan yang ketujuh: Adalah sifat lemah lembut yang terus-menerus) Maksudnya kelembutan dalam semua tindakan (Bersama dengan sifat lemah lembut tersebut kasih sayang yang selalu hadir) Dan dalam suatu hadits: [Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang penuh kasih sayang]. Sampai sinilah hadits berakhir. Lafadz رُحَمَاءُ diriwayatkan dengan dua bacaan: dibaca naṣab karena sesungguhnya lafadz رُحَمَاءُ berfungsi sebagai maf‘ūl dari kata يَرْحَمُ. Atau dengan dibaca rafa‘ karena sesungguhnya lafadz رُحَمَاءُ adalah khabar dari harap إِنَّ sedangkan lafadz ما dengan bermakna isim mausul الَّذِيْ.
(وَالثَّامِنُ: حُبٌّ دَائِمٌ) فِى اللّٰهِ تَعَالَى (مَعَهُ حَيَاءٌ حَاضِرٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [كُلُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قَالُوْا: نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ.
(Dan yang kedelapan: Adalah cinta yang terus-menerus) Kepada Allah Ta'ala (Bersama dengan rasa cinta tersebut rasa malu yang hadir) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Masing masing dari kalian semua ingin masuk surga? Para sahabat berkata: Iya wahai Rasulallah
قَالَ: أَقْصِرُوْا مِنَ الْأَمَلِ وَأَثْبِتُوْا آجَالَكُمْ بَيْنَ أَبْصَارِكُمْ وَاسْتَحْيُوْا مِنَ اللّٰهِ حَقَّ الْحَيَاءِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ كُلُّنَا نَسْتَحِيِ مِنَ اللّٰهِ،
Nabi ﷺ bersabda: Pendekkanlah oleh kalian lamunan-lamunan kosong dan tetapkanlah oleh kalian ajal kalian di depan mata kalian dan malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah masing-masing dari kami malu kepada Allah
قَالَ: لَيْسَ كَذٰلِكَ الْحَيَاءُ مِنَ اللّٰهِ وَلٰكِنِ الْحَيَاءُ مِنَ اللّٰهِ أَنْ لَّا تَنْسَوْا الْمَقَابِرَ وَالْبِلَى وأَنْ لَا تَنْسَوْا الْجَوْفَ وَمَا وَعَى وأَنْ لَا تَنْسَوْا الرَّأْسَ وَمَا حَوَى.
Nabi ﷺ bersabda: Bukan seperti itu rasa malu kepada Allah. Akan tetapi, rasa malu kepada Allah adalah kalian tidak melupakan kuburan-kuburan dan kerusakan jasad dan kalian tidak melupakan perut dan sesuatu yang ia kandung dan kalian tidak melupakan kepala dan sesuatu yang ia muat
وَمَنِ اشْتَهَى كَرَامَةَ الْآخِرَةِ يَدَعْ زِيْنَةَ الدُّنْيَا هُنَالِكَ اسْتَحْيَا الْعَبْدُ مِنَ اللّٰهِ وهُنَالِكَ أَصَابَ وِلَایَةَ اللّٰهِ] رَوَاهُ أَبُوْ نُعَیْمٍ
Dan barang siapa yang menginginkan kemuliaan akhirat maka hendaknya dia meninggalkan perhiasan dunia disitulah rasa malu seorang hamba kepada Allah dan disanalah dia akan mendapatkan kewalian dari Allah]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim.
(وَالتَّاسِعُ: عِلْمٌ نَافِعٌ مَعَهُ عَمَلٌ دَائِمٌ) وَفِى نُسْخَةٍ مَعَهُ حِلْمٌ دَائِمٌ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [تَعَلَّمُوْا مِنَ الْعِلْمِ مَا شِئْتُمْ أَنْ تَعْلَمُوْا فَلَنْ يَنْفَعَكُمْ اللّٰهُ بِالْعِلْمِ حَتَّى تَعْمَلُوْا بِمَا تَعْلَمُوْنَ] رَوَاهُ ابْنُ عَدِيٍّ،
(Dan yang kesembilan: Adalah ilmu yang bermanfaat bersama ilmu tersebut amal yang terus-menerus) Dalam suatu naskh bersama ilmu tersebut sabar yang terus-menerus. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Pelajarilah oleh kalian ilmu sebanyak yang kalian inginkan untuk dipelajari namu Allah tidak akan memberi manfaat kepada kalian dengan ilmu hingga kalian mengamalkan atas apa yang kalian ketahui] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Adiy
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [آفَةُ الظَّرْفِ الصَّلْفُ، وَآفَةُ الشَّجَاعَةِ الْبَغْيُ، وَآفَةُ السَّمَاحَةِ الْمَنُّ، وَآفَةُ الْجَمَالِ الْخُيَلَاءُ، وَآفَةُ الْعِبَادَةِ الْفِتْرَةُ، وَآفَةُ الْحَدِيْثِ الْكَذِبُ، وَآفَةُ الْعِلْمِ النِّسْيَانُ، وَآفَةُ الْحِلْمِ السَّفَهُ، وَآفَةُ الْحَسَبِ الْفَخْرُ، وَآفَةُ الْجُوْدِ السَّرَفُ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi bersabda: [Penyakit cerdas adalah kesombongan dan penyakit berani adalah semena-mena dan penyakit dermawan adalah mengungkit pemberian dan penyakit tampan adalah kesombongan dan penyakit ibadah adalah kelalaian dan penyakit ucapan adalah kebohongan penyakit ilmu adalah lupa dan penyakit sabar adalah kebodohan penyakit turunan mulia adalah berbangga diri dan penyakit murah hati adalah pemborosan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam al-Baihaqi
(وَالْعَاشِرُ: إِيْمَانٌ دَائِمٌ مَعَهُ عَقْلٌ ثَابِتٌ) فَالْعَقْلُ يَنْبُوْعُ الْأَدَبِ. قَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: خَيْرُ الْمَوَاهِبِ الْعَقْلُ وَشَرُّ الْمَصَائِبِ الْجَهْلُ. وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ: صَدِيْقُ كُلِّ امْرِىءٍ عَقْلُهُ وَعَدُوُّهُ جَهْلُهُ وَقَدْ جَعَلَ اللّٰهُ الْعَقْلَ أَصْلًا لِلدِّيْنِ وَعِمَادًا لَهُ.
(Dan yang kesepuluh adalah iman yang terus-menerus bersama dengan iman tersebut akal yang kokoh) Maka akal itu menjadi sumber adab. Sebagian ahli balaghah berkata: Sebaik-baik anugerah adalah akal, dan seburuk-buruk musibah adalah kebodohan. Dan sebagian ahli adab berkata: Sahabat setiap orang adalah akalnya, dan musuh setiap orang adalah kebodohannya. Dan benar-benar Allah telah menjadikan akal sebagai dasar agama dan penopang baginya.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 3
(و) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: عَشَرَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (لَا تَصْلُحُ بِغَيْرِ عَشَرَةٍ) تُقَارِنُهَا (لَا يَصْلُحُ الْعَقْلُ بِغَيْرِ وَرَعٍ) أَيْ اِجْتِنَابِ الْمَحْظُوْرَاتِ.
Maqolah yang ketiga (Telah berkata Umar Radhiallahu Anhu: Sepuluh) Dari sifat-sifat (Tidak akan menjadi baik tanpa sepuluh) Yang menyertainya (Tidak akan menjadi baik akal tanpa sifat wara') Maksudnya meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.
قَالَ عَامِرُ بْنُ قَيْسٍ: إِذَا عَقَلَكَ عَقْلُكَ عَمَّا لَا يَنْبَغِي فَأَنْتَ عَاقِلٌ، وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [اَلْعَقْلُ نُوْرٌ فِى الْقَلْبِ يُفَرِّقُ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ].
Telah berkata Amir bin Qois: Jika akalmu dapat mencegah dirimu dari perkara-perkara yang tidak pantas maka kamu adalah orang yang berakal. Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Akal adalah cahaya dalam hati yang bisa membedakan antara hak dan batil].
(وَلَا الْعَمَلُ بِغَيْرِ عِلْمٍ) رُوِيَ عَنْهُ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الْعِلْمُ بِاللّٰهِ إنَّ الْعِلْمَ يَنْفَعُكَ مَعَهُ قَلِيْلُ الْعَمَلِ وَكَثِيرُهُ وَإِنَّ الْجَهْلَ لَا يَنْفَعُكَ مَعَهُ قَلِيْلُ الْعَمَلِ وَلَا كَثِيْرُهُ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ.
(Dan tidak akan menjadi baik amal tanpa ilmu) Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Paling utamanya amal adalah pengetahuan tentang Allah. Sesungguhnya ilmu akan bermanfaat bagimu bersamanya, baik sedikitnya amal maupun banyaknya amal. Dan sesungguhnya kebodohan tidak akan bermanfaat bagimu bersamanya, baik sedikitnya amal maupun banyaknya amal]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim
(وَلَا الْفَوْزُ بِغَيْرِ خَشْيَةٍ) أَيْ لَا يَصْلُحُ الظَّفَرُ بِالْمَطْلُوْبِ وَلَا النَّجَاةُ مِنَ الْهَلَاكِ بِغَيْرِ خَشْيَةِ اللّٰهِ تَعَالَى.
(Tidak akan menjadi baik keberuntungan tanpa rasa takut) Maksudnya Tidak akan menjadi baik mendapatkan sesuatu yang dicari dan tidak akan menjadi baik selamat dari kebinasaan tanpa rasa takut kepada Allah Ta'ala
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [لَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ حَتَّى يَلِجَ اللَّبَنُ فِى الضَّرْعِ].
Dari Abu Huroiroh berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah hinga masuk susu ke dalam payaudara].
(وَلَا السُّلْطَانُ بِغَيْرِ عَدْلٍ) رُوِيَ أَنْهَ ﷺ قَالَ: [أَحَبُّ النَّاسِ إلَى اللّٰهِ تَعَالَى يَوَْمَ الْقِيَامَةِ وَأَذْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إمَامٌ عَادِلٌ، وَأَبْغَضُ النَّاسِ إلَى اللّٰهِ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَبْعَدُهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إمَامٌ جَائِرٌ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ.
(Dan tidak akan menjadi baik seorang raja tanpa sifat adil) Diriwayatkan sesungguhnya nabi ﷺ bersabda: [Manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan manusia yang paling dekat dari Allah tempat duduknya adalah imam yang adil. Dan manusia yang paling dibenci Allah pada hari kiamat dan manusia yang paling jauh dari Allah tempat duduknya adalah imam yang dzolim] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam at-Turmudzi
(وَلَا الْحَسَبُ) أَيْ اَلْمَنَاقِبُ كَالْعِلْمِ وَالشَّجَاعَةِ (بِغَيْرِ أَدَبٍ) قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: اَلْعِلْمُ شَرَفٌ لَا قِيْمَةَ لَهُ وَالْأَدَبُ مَالٌ لَا خَوْفَ عَلَيْهِ.
(Dan tidak akan menjadi baik derajat sosial) Maksudnya riwayat hidup seperti ilmu dan keberanian (Tanpa adab) Telah berkata sebagian dari orang-orang yang bijaksana: Ilmu itu adalah kemuliaan yang tidak ternilai harganya dan adab adalah harta yang tidak ada ketakutan atasnya.
(وَلَا السُّرُوْرُ بِغَيْرِ أَمْنٍ) أَيْ لَا تَصْلُحُ الْمَسَرَّةُ بِغَيْرِ سُكُوْنِ الْقَلْبِ
(Dan tidak akan menjadi baik kegembiraan tanpa ada keamanan) Maksudnya tidak akan menjadi baik kegembiraan tanpa ketenangan hati
(وَلَا الْغِنَى) بِالْمَالِ (بِغَيْرِ جُوْدٍ) قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: [اَلسَّخِيُّ قَرِيْبٌ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى قَرِيْبٌ مِنَ النَّاسِ قَرِيْبٌ مِنَ الْجَنَّةِ بَعِيْدٌ مِنَ النَّارِ، وَالْبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى بَعِيْدٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيْدٌ مِنَ الْجَنَّةِ قَرِيْبٌ مِنَ النَّارِ، وَالْجَاهِلُ السَّخِيُّ أَحَبُّ إلَى اللّٰهِ تَعَالَى مِنَ الْعَابِدِ الْبَخِيْلِ].
(Dan tidak akan menjadi baik kaya) Dengan harta (Tanpa kedermawanan) Telah bersabda Rassulullah ﷺ: [Orang yang dermawan itu dekat Allah dekat manusia dekat dekat surga jauh dari neraka sedangkan orang pelit itu jauh dari Allah jauh dari manusia jauh dari surga dekat dari neraka dan orang bodoh yang dermawan itu lebih disukai oleh Allah Ta'ala daripada seorang ahli ibadah yang pelit].
(وَلَا الْفَقْرَ بِغَيْرِ قَنَاعَةٍ) قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحْسِنْ مُجَاوَرَةَ مَنْ جَاوَرَك تَكُنْ مُسْلِمًا، وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ].
(Dan tidak akan menjadi baik kefakiran tanpa qona'ah) Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Jadilah kamu orang yang wara' maka kamu akan menjadi manusia yang paling beribadah, dan jadilah kamu orang yang qona'ah maka kamu akan menjadi manusia paling bersyukur, dan cintailah manusia dengan sesuatu yang engkau cintai sesuatu itu untuk dirimu sendiri maka kamu akan menjadi orang yang beriman, dan berbaik-baiklah kamu bertetangga dengan orang yang menjadi tetanggamu maka kamu akan menjadi orang muslim, dan sedikitkanlah olehmu tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa itu bisa mematikan hati].
قَالَ عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ الْمُبَارَكِ: إظْهَارُ الْغِنَى فِي الْفَقْرِ أَحْسَنُ مِنَ الْفَقْرِ.
Telah berkata Abdullah bin Mubarok: Menampakkan seakan-akan kaya dalam kefakiran itu lebih baik daripada kefakiran.
(وَلَا الرِّفْعَةُ) أَيْ فِى النَّسَبِ وَالْحَسَبِ (بِغَيْرِ تَوَاضُعٍ) وَهُوَ الْاِسْتِسْلَامُ لِلْحَقِّ وَتَرْكُ الْاِعْتِرَاضِ عَلَى الْحُكْمِ
(Dan tidak akan menjadi baik kemuliaan) Maksudnya kemuliaan dalam nasab dan status sosial (Tanpa kerendahan hati) Rendah hati adalah menyerahkan diri pada kebenaran dan meninggalkan penolakan terhadap hukum.
(وَلَا الْجِهَادُ) أَيْ اَلدُّعَاءُ إلَى الدِّيْنِ الْحَقِّ (بِغَيْرِ تَوْفِيْقٍ) وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ فِعْلُ الْعَبْدِ مُوَافِقًا لِمَا يُحِبُّهُ اللّٰهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ.
(Dan tidak akan menjadi baik jihad) Maksudnya menyeru pada agama yang benar (Tanpa taufik) Taufik adalah terbuktinya perbuatan seorang hamba sesuai dengan perkara yang Allah Ta'ala cinta pada perkara tersebut dan ridho pada perkara tersebut.
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ وَهَوَاكَ فِى ذَاتِ اللّٰهِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Paling utamanya jihad adalah kamu memerangi nafsumu dan keinginanmu karena Allah]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam ad-Dailami
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 4
(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (قَالَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: أَضْيَعُ الْأَشْيَاءِ) أَيْ أَشَدُّ الْأَشْيَاءِ هَلَاكًا (عَشَرَةٌ: عَالِمٌ لَا يُسْأَلُ عَنْهُ، وَعِلْمٌ لَا يُعْمَلُ بِهِ) قَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ: اَلْعِلْمُ أَفْضَلُ خَلَفٍ وَالْعَمَلُ بِهِ أَكْمَلُ شَرَفٍ
Maqolah yang keempat (Telah berkata Utsman Radhiallahu Anhu: Paling sia-sianya perkara) Maksudnya perkara yang paling rusak (Itu ada sepuluh: Seorang alim yang tidak ditanya kepadanya, dan ilmu yang tidak diamalkan dengannya) Sebagian ahli sastra berkata: Ilmu adalah paling baiknya peninggalan, dan mengamalkan ilmu adalah paling sempurnanya kemuliaan
(وَرَأْيٌ) أَيْ تَدْبِيْرٌ (صَوَابٌ لَا يُقْبَلُ، وَسِلَاحٌ لَا يُسْتَعْمَلُ، وَمَسْجِدٌ لَا يُصَلَّى فِيْهِ، وَمُصْحَفٌ لَا يُقْرَأُ فِيْهِ، وَمَالٌ لَا يُنْفَقُ مِنْهُ، وَخَيْلٌ لَا تُرْكَبُ، وَعِلْمُ الزُّهْدِ فِى بَطْنِ مَنْ يُرِيْدُ الدُّنْيَا)
(Dan pendapat) Maksudnya perencanaan (Yang benar namun tidak diterima dan senjata yang tidak digunakan dan masjid yang tidak didirikan salat di dalamnya dan mushaf yang tidak dibaca dan harta yang tidak dinafkahkan darinya dan kuda yang tidak ditunggangi, dan ilmu zuhud yang ada di dalam hati orang yang menginginkan dunia)
وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [مَنِ ازْدَادَ فِى الْعِلْمِ رُشْدًا فَلَمْ يَزْدَدْ فِى الدُّنْيَا زُهْدًا، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللّٰهِ إلَّا بُعْدًا].
Dan benar-benar telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Barang siapa yang bertambah cerdas dalam ilmu tetapi tidak bertambah zuhud di dunia maka dia tidak akan bertambah dari Allah melainkan semakin jauh].
(وَعُمْرٌ طَوِيْلٌ لَا يَتَزَوَّدُ فِيْهِ لِسَفَرِهِ) إلَى الدَّارِ الْآخِرَةِ.
(Dan umur yang panjang tetapi tidak mempersiapkan bekal untuk perjalanannya) Menuju negeri akhirat
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 5
(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ (قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (اَلْعِلْمُ خَيْرُ مِيْرَاثٍ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَكْرِمُوْا الْعُلَمَاءَ فَإِنَّهُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ فَمَنْ أَكْرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهُ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ.
Maqolah yang kelima (Telah berkata Ali Radhiallahu Anhu) Wakarroma Wajhahu (Ilmu adalah sebaik-baiknya warisan) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Muliakanlah oleh kalian ulama karena sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Barang siapa memuliakan ulama maka dia benar-benar telah memuliakan Allah dan Rasulnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam at-Thobroni.
(وَالْأَدَبُ خَيْرُ حِرْفَةٍ) أَيْ مَكْسَبٍ
(Dan adab adalah sebaik-baiknya pekerjaan) Maksudnya pekerjaan
(وَالتَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ) لِلْآخِرَةِ. وَأَصْلُ التَّقْوَى اتِّقَاءُ الشِّرْكِ ثُمَّ بَعْدَهُ اتِّقَاءُ الْمَعَاصِي وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَعْدَهُ اتِّقَاءُ الشُّبُهَاتِ ثُمَّ تَدَعُ بَعْدَهُ الْفُضُلَاتِ كَذَا مِنْ أَبِي عَلِيٍّ الدَّقَّاقِ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى
(Dan takwa adalah sebaik-baiknya bekal) Untuk akhirat. Asal dari takwa adalah mengindari kemusyrikan kemudian setelah itu menghindari kemaksiatan dan berbagai keburukan kemudian setelah itu menghindari perkara-perkara syubhat kemudian hendaknya kamu meninggalkan setelah itu hal-hal yang tidak berguna. Penjelasan demikian ini dari Abu Ali ad-Daqoqi Rahimahullah.
(وَالْعِبَادَةُ) وَهِيَ نِهَايَةُ تَعْظِيْمِ اللّٰهِ تَعَالَى (خَيْرُ بِضَاعَةٍ) وَهِيَ مَا تُعَدُّ لِلتِّجَارَةِ مِنَ الْمَالِ
(Dan Ibadah) Ibadah adalah puncak pengagungan kepada Allah Ta'ala (Adalah sebaik-baiknya modal) Modal adalah sesuatu yang dipersiapkan untuk diperdagangkan dari harta benda.
(وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ خَيْرُ قَائِدٍ) إلَى الْجَنَّةِ (وَحُسْنُ الْخُلُقِ خَيْرُ قَرِيْنٍ) لِصَاحِبِهِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
(Dan amal sholeh adalah sebaik-baiknya penuntun) Menuju surga (Dan akhlak yang baik adalah sebaik-baiknya teman) bagi pemiliknya di dunia dan akhirat
(وَالْحِلْمُ) وَهُوَ التَّأَنِّي فِى الْأُمُوْرِ وَحُسْنُ الْهَيْئَةِ (خَيْرُ وَزِيْرٍ) أَيْ مُعِيْنٍ فِى تَدْبِيْرِ الْأُمُوْرِ
(Dan berlapang dada) Yaitu bersikap tenang dalam berbagai perkara dan baiknya tingkah laku (Adalah sebaik-baiknya penolong) Maksudnya pembantu dalam menata berbagai perkara
(وَالْقَنَاعَةُ) أَيْ الرِّضَا بِالْقِسْمَةِ (خَيْرُ غِنًى) قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿مَنْ عَمِلَ صٰلِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: الآية ٩٧] ، قَالَ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ التَّفْسِيْرِ: الْحَيَاةُ الطَّيِّبَةُ فِى الدُّنْيَا الْقَنَاعَةُ
(Dan qonaah) Maksudnya ridho terhadap bagian (Adalah sebaik-baiknya kekayaan) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Barang siapa mengerjakan amal sholeh baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia adalah orang yang beriman Maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik﴿ [An-Nahl: Ayat 97]. Telah berkata kebanyakan dari ahli tafsir: Kehidupan yang baik di dunia adalah qona'ah
(وَالتَّوْفِيْقُ) لِلطَّاعَةِ وَفِى الطَّاعَةِ (خَيْرُ عَوْنٍ) لِلْأُمُوْرِ (وَالْمَوْتُ خَيْرُ مُؤَدِّبٍ) أَيْ مُعَلِّمٍ لِمَحَاسِنِ الْأَخْلَاقِ.
(Dan pertolongan dari Allah) Untuk melakukan keta'atan dan dalam melakukan keta'atan (Adalah sebaik-baiknya penolong) Untuk berbagai perkara (Dan mati adalah sebaik-baik guru) Maksudnya pengajar untuk memperbaiki akhlak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar