MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 27 April 2026

KITAB NASHOIHUL IBAD BAB 6 MAQALAH 1-8

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6

بَابُ السُّدَاسِيِّ


وَفِيْهِ سَبْعَ عَشْرَةَ مَوْعِظَةً، ثِنْتَانِ خَبَرَانِ، وَالْبَاقِي آثَارٌ.

Dalam bab ini ada tujuh belas mau'idhoh, Dua adalah hadits dan sisanya adalah atsar


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 1

اَلْمَقَالَةُ الْأُوْلَى (قَالَ النَّبِيُّ) ﷺ (سِتَّةُ أَشْياءَ هُنَّ غَرِيْبَةٌ) أَيْ بَعِيْدَةٌ عَنِ الْمُنَاسَبَةِ (فِى سِتَّةِ مَوَاضِعَ: اَلْمَسْجِدُ غَرِيْبٌ) إِذَا كَانَ الْمَسْجِدُ مَبْنِيًّا (فِيْمَا بَيْنَ قَوْمٍ لَا يُصَلُّوْنَ فِيْهِ) أَيْ فِى ذٰلِكَ الْمَسْجِدِ

Maqolah yang pertama (Telah bersabda Nabi) ﷺ (Ada enam perkara, enam perkara itu adalah asing) Maksudnya jauh dari kesesuaian (Pada enam tempat: Masjid itu asing) jika terbukti masjid itu dibangun (Pada tempat di antara kaum yang mereka tidak sholat di dalamnya) Maksudnya di dalam masjid itu.

(وَالْمُصْحَفُ غَرِيْبٌ) إِذَا كَانَ الْمُصْحَفُ مَوْضُوْعًا (فِى مَنْزِلِ قَوْمٍ لَا يَقْرَؤُوْنَ فِيْهِ) أَيْ فِى ذٰلِكَ الْمُصْحَفِ (وَالْقُرْآنُ غَرِيْبٌ) إِذَا كَانَ مَحْفُوْظًا (فِى جَوْفِ الْفَاسِقِ) أَيْ فِى قَلْْبِ مَنْ اِعْتَقَدَهُ وَشَهِدَهُ وَلَمْ يَعْمَلْ بِمَا فِيْهِ

(Dan mushaf itu asing) Jika terbukti mushaf itu disimpan (Di rumah kaum yang mereka tidak membaca padanya) Maksudnya pada mushaf itu (Dan Al-Qur'an itu asing) Jika terbukti Al-quran itu dihafal (Di dalam hati orang yang fasik) Maksudnya dalam hati orang yang meyakininya dan bersaksi padanya dan ia tidak mengamalkan pada apa yang ada di dalamnya.

(وَالْمَرْأَةُ الْمُسْلِمَةُ الصَّالِحَةُ) أَيْ اَلْمُطِيْعَةُ لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ الْمُحْسِنَةُ لِلْأُمُوْرِ (غَرِيْبَةٌ فِى يَدِ رَجُلٍ ظَالِمٍ) أَيْ إِذَا كَانَتْ فِى عِصْمَةِ زَوْجٍ مُجَاوِزٍ عَنِ الْحَقِّ إِلَى الْبَاطِلِ (سَيِّئِ الْخُلُقِ) قَالَ النَّبِيُّ ﷺ : [أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلَاقًا اَلْمُوَطِّئُوْنَ أَكْنَافًا الَّذِيْنَ يَأُلَفُوْنَ وَيُؤْلَفُوْنَ] اه.

(Dan seorang wanita muslimah yang sholihah) Maksudnya yang ta'at kepada Allah dan ta'at kepada Rasul yang bagus dalam berbagai hal (Itu asing di tangan seorang lelaki yang dzolim) Maksudnya Jika terbukti wanita sholihah itu dalam ikatan seorang suami yang melewati batas kebenaran melakukan kebatilan (Yang buruk akhlaknya) Telah bersabda Nabi ﷺ : [Orang yang paling dicintai di antara kalian olehku adalah orang yang paling baik di antara kalian akhlaknya yang menundukkan pundaknya yang mengakrabi dan diakrabi].

وَحُسْنُ الْخُلُقِ أَنْ يَكُوْنَ سَهْلَ الْعَرِيْكَةِ لَيِّنَ الْجَانِبِ طَلِيْقَ الْوَجْهِ قَلِيْلَ الْفَوْرِ طَيِّبَ الْكَلِمَةِ. قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ : [أَهْلُ الْجَنَّةِ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ طَلْقٍ].

Akhlak yang baik adalah akhlak yang terbukti sederhana karakternya, lemah lembut sikapnya, ceria wajahnya, sedikit sifat kerasnya, bagus perkataannya. Telah bersabda Rasulullah ﷺ [Ahli surga adalah setiap orang yang tidak kaku perangainya, yang lemah lembut, yang entengan dan yang ceria].

(وَالرَّجُلُ الْمُسْلِمُ الصَّالِحُ غَرِيْبٌ فِى يَدِ امْرَأَةٍ رَدِيَّةٍ) أَيْ إِذَا كَانَ فِى مُعَاشَرَةِ امْرَأَةٍ وَضِيْعَةٍ فِى الْحَسَبِ حَقِيْرَةٍ فِى النَّسَبِ (سَيِّئَةِ الْخُلُقِ)

(Dan seorang lelaki muslim yang sholeh itu asing di tangan seorang wanita yang hina) Maksudnya jika terbukti lelaki sholih itu hidup bersama seorang wanita yang hilang garis keturunan leluhurnya dan rendah nasabnya (Yang jelek akhlaknya).

قَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: اَلْحَسَنُ الْخُلُقِ مِنْ نَفْسِهِ فِى رَاحَةٍ وَالنَّاسُ مِنْهُ فِى سَلَامَةٍ، وَالسَّيِّئُ الْخُلُقِ مِنَ النَّاسِ مِنْهُ فِى بَلَاءٍ وَهُوَ مِنْ نَفْسِهِ فِى عَنَاءٍ (وَالْعَالِمُ غَرِيْبٌ) إِذَا كَانَ مُقِيْمًا (بَيْنَ قَوْمٍ لَا يَسْتَمِعُوْنَ إِلَيْهِ) أَيْ لَا يُلْقُوْنَ السَّمْعَ إِلَى حَدِيْثِهِ.

Sebagian ahli balaghoh berkata: Orang yang berakhlak baik dari dirinya sendiri itu ada dalam ketenangan dan manusia darinya itu dalam keselamatan sedangkan orang yang berakhlak buruk dari manusia karenanya itu dalam bencana dan dia karena dirinya itu dalam kesulitan (Dan orang yang alim itu terasing) Jika terbukti orang alim itu bermukim (Di antara kaum yang mereka tidak mau mendengarkan padanya) Maksudnya mereka tidak menerima untuk mendengar pada nasihatnya.

(ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: [إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ) أَيْ هٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ لَا يُصْغُوْنَ إِلَى كَلَامِ الْعَالِمِ (يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَظَرَ الرَّحْمَةِ])

(Kemudian Nabi Alaihis Sholatu Wassalam bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak melihat kepada mereka) Maksudnya kepada kaum ini yang mereka tidak mendengarkan pada perkataan orang yang alim (Pada hari kiamat dengan pandangan kasih sayang])

وَيُحْتَمِلُ أَنْ يَرْجِعَ الضَّمِيْرُ إِلَى الْمَذْكُوْرِيْنَ أَوَّلًا وَهُمُ الَّذِيْنَ لَمْ يُصَلُّوْا فِى ذٰلِكَ الْمَسْجِدِ وَلَمْ يَقْرَؤُوْا فِى ذٰلِكَ الْمُصْحَفِ، وَالْخَارِجُ عَنْ أَمْرِ اللّٰهِ وَالسَّيِّئُ الْخُلُقِ مِنَ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ وَمَنْ لَمْ يَتَّبِعْ كَلَامَ الْعَالِمِ.

Dan memungkinkan untuk merujuk dhomir pada orang-orang yang disebutkan di awal dan mereka adalah orang-orang yang tidak sholat di masjid itu dan mereka tidak membaca pada mushaf itu, dan mereka keluar dari perintah Allah dan orang yang buruk akhlaknya dari lelaki dan perempuan dan orang yang tidak mengikuti perkataan orang yang alim.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 2

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ : سِتَّةٌ) مِنَ النَّاسِ (لَعَنْتُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللّٰهُ تَعالَى) دُعَاءٌ مِنْهُ ﷺ عَلَيْهِمْ

Maqolah yang ke dua (Telah bersabda Nabi ﷺ: Enam) Dari manusia (Aku melaknat mereka dan Allah ta'ala melaknat mereka) Ini adalah doa dari Nabi ﷺ kepada mereka.

(وَكُلُّ نَبِيٍّ مُجَابِ الدَّعَوَاتِ) وَفِى الْجَامِعِ الصَّغِيْرِ: مُجَابٌ بِحَذْفِ الْمُضَافِ إِلَيْهِ: أَيْ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى وَمِنَ الْخَلْقِ، وَرُوِيَ بِيَاءِ تَحْتِيَةٍ بَدَلُ الْمِيْمِ. وَالْجُمْلَةُ مِنَ الْمُبْتَدَأِ وَالْخَبَرِ حَالٌ مِنْ فَاعِلِ لَعَنْتُهُمْ.

(Dan melaknat juga setiap Nabi yang diijabah doa-doanya) Dan dalam kitab Jami'us Shogir: Lafadz مُجَابٌ dengan membuang mudhof ilaih : Maksudnya dari Allah Ta'ala dan dari makhluk. Dan diriwayatkan dengan huruf ي yang bertitik di bawah sebagai badal dari huruf mim. Dan jumlah dari mubtada dan khobar itu menjadi hal dari fa'il yang ada pada lafadz لَعَنْتُهُمْ.

(الزَّائِدُ فِى كِتَابِ اللّٰهِ تَعَالَى) أَيْ مَنْ يُدْخِلُ فِيْهِ مَا لَيْسَ مِنْهُ وَيُؤَوِّلُهُ بِمَا لَا يَصِحُ

(Orang yang menambah-nambah pada kitab Allah Ta'ala) Maksudnya orang yang memasukkan ke dalam Al-Quran kalimat-kalimat yang bukan termasuk Al-quran dan mentakwil-takwil Al-Quran dengan takwilan yang tidak benar

(والْمُكَّذِّبُ بِقَدَرِ اللّٰهِ تَعالَى) وَهُوَ تَعَلُّقُ الْإِرَادَةِ الذَّاتِيَّةِ بِالْأَشْيَاءِ فِى أَوْقَاتِهَا الْخَاصَّةِ فَتَعْلِيْقُ كُلِّ حَالٍ مِنْ أَحْوَالِ الْأَعْيَانِ بِزَمَانٍ مُعَيَّنٍ وَسَبَبٍ مُعَيَّنٍ عِبَارَةٌ عَنِ الْقَدَرِ

(Dan orang yang mendustakan takdir Allah Ta'ala) Takdir adalah hubungan kehendak Allah dengan sesuatu pada waktu-waktunya yang telah ditentukan. Maka menggantungkan setiap keadaan dari keadaan keadaan suatu perkara dengan zaman yang telah ditentukan dan dengan sebab yang telah ditentukan itu adalah ibarat dari takdir.

(وَالْمُتَسَلِّطُ بِالْجَبَرُوْتِ) بِفَتْحِ الْبَاءِ أَيْ بِالْكِبَرِ وَالْقَهْرِ (فَيُعِزُّ) بِذٰلِكَ (مَنْ أَذَلَّهُ اللّٰهُ تعالَى) وَهُمْ أَهْلُ الْبَاطِلِ. (وَيُذِلُّ مَنْ أَعَزَّهُ اللهُ) وَهُمْ أَهْلُ الْحَقِّ، قَوْلُهُ: فَيُعِزُّ بِالْفَاءِ عَطْفُ تَفْسِيْرٍ وَفِى نُسْخَةٍ بِاللَّامِ

(Dan orang yang berkuasa dengan semana-mena) Dengan membaca fathah pada huruf ba Maksudnya dengan kesombongan dan memaksa (Maka ia memuliakan) Dengan kekuasaannya (Orang yang telah menghinakan kepadanya Allah Ta'ala) Dan mereka adalah orang-orang yang batil. (Dan ia merendahkan orang yang telah memuliakan kepadanya Allah) Dan mereka adalah orang-orang yang benar. Perkataan mushonnif : Lafadz فَيُعِزُّ dengan huruf ف adalah athof sebagai penjelas dan dalam suatu naskh dengan huruf ل.

(وَالْمُسْتَحِلُّ لِحَرَمِ اللّٰهِ تَعَالَى) بِفَتْحِ الْحَاءِ وَالرَّاءِ: أَيْ حَرَمِ مَكَّةَ وَهُوَ مَنْ فَعَلَ فِى الْحَرَمِ مَا يَحْرُمُ فِعْلُهُ

(Dan orang yang telah menghalalkan pada apa yang telah Allah Ta'ala haramkan) Dengan memfathahkan huruf ح dan ر : Maksudnya tanah suci mekkah dan ia adalah orang yang melakukan di tanah suci segala sesuatu yang haram dikerjakannya.

(وَالْمُسْتَحِلُّ مِنْ عِتْرَتِيْ) أَيْ ذُرِّيَّتِيْ وَقَرَابَتِيْ (مَا حَرَّمَ اللّٰهُ) وَهُوَ مَنْ فَعَلَ فِى ذُرِّيَّةِ رَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ مَا يُحْرَمُ فِعْلُهُ مِنَ الْمَعَاصِي وَالْمَظَالِمِ

(Dan orang yang menghalalkan di antara keturunanku) Maksudnya keturunanku dan kerabat-kerabatku (apa-apa yang telah Allah haramkan) Yaitu orang yang melakukan pada keturunan Rasulullah ﷺ apa-apa yang haram mengerjakannya dari berbagai macam kemaksiatan dan berbagai macam kedzholiman.

(وَالتَّارِكُ لِسُنَّتِيْ) بِالْإٍعْرَاضِ عَنْهَا اِسْتِخْفَافًا (فَإِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَظَرَ الرَّحْمَةِ) رَوَى هٰذَا الْحَدِيْثَ التُّرْمُذِيُّ وَالْحَاكِمُ عَنْ عَائِشَةَ وَالْحَاكِمُ عَنْ عَلِيٍ.

(Dan orang yang meninggalkan sunahku) Dengan berpaling dari sunahku karena meremehkan (Karena sesungguhnya Allah tidak memandang enam golongan itu pada hari kiamat dengan pandangan kasih sayang) Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Turmudi dan Imam Hakim dari Aisyah dan Imam hakim dari Ali.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 3

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ) رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ (إِنَّ إِبْلِيْسَ قَائِمٌ أَمَامَكَ) يَقُوْدُكَ إِلَى الْبَاطِلِ (وَالنَّفْسَ عَنْ يَمِيْنِكَ) أَيْ مُتَجَاوِزَةٌ مَكَانَ يَمِيْنِكَ فِى الْجُلُوْسِ إِلَى مَكَانٍ آخَرَ

Maqolah yang ke tiga (Telah berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya iblis itu berdiri di hadapanmu) Iblis menuntun kamu pada yang batil (Dan nafsu itu berdiri di bagian kananmu) Maksudnya melewati tempat sebelah kananmu ketika duduk ke tempat yang lain.

(وَالْهَوَى عَنْ يَسَارِكَ) أَيْ مُتَجَاوِزٌ مَكَانَ يَسَارِكَ إِلَى مَكَانٍ آخَرَ (وَالدُّنْيَا مِنْ خَلْفِكَ) أَيْ مُتَجَاوِزَةٌ مَكَانًا خَلْفَكَ إِلَى مَكَانٍ آَخَرَ (وَالْأَعْضَاءُ عَنْ حَوْلِكَ) أَيْ مُتَجَاوِزَةٌ مَكَانًا حَوْلَكَ إِلَى مَكَانٍ آخَرَ

(Dan hawa itu berdiri di bagian kirimu) Maksudnya hawa melewati tempat sebelah kirimu ketika duduk ke tempat yang lain (Dan dunia itu berdiri di bagian belakangmu) Maksudnya melewati tempat belakangmu pada tempat yang lain (Dan anggota tubuh itu berdiri di sekitarmu) Maksudnya melewat pada tempat disekitarmu pada tempat yang lain

(وَالْجَبَّارُ فَوْقَكَ) يَعْنِيْ بِالْقُدْرَةِ لَا بِالْمَكَانِ لِاسْتِحَالَتِهِ عَلَيْهِ تَعَالَى فَاللّٰهُ يُقْهِرُكَ إِلَى مُرَادِهِ تَعَالَى (فَإِبْلِيْسٌ لَعَنَهُ اللّٰهُ يَدْعُوْكَ إِلَى تَرْكِ الدِّيْنِ) أَيْ اَلشَّرِيْعَةُ (وَالنَّفْسُ) أَيْ اَلْأَمَّارَةُ (تَدْعُوْكَ إِلَى الْمَعْصِيَةِ).

(Dan dzat yang maha perkasa berdiri di bagian atasmu) Yakni dengan kekuasaan bukan pada tempat karena mustahilnya sebuah tempat pada Allah Ta'ala maka Allah maha memaksa kamu pada sesuatu yang Allah ta'ala inginkan (Maka Iblis itu semoga Allah melaknatnya mengajak kamu untuk meninggalkan agama) Maksudnya syariat (Dan nafsu itu) Maksudnya nafsu Ammarah (mengajakmu untuk bermaksiat).

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [ضَرَبَ اللهُ تَعالَى مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وعَلَى جَنْبَيِ الصِّرَاطِ سُوْرَانِ فِيْهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الأَبْوَابِ سُتُوْرٌ مُرْخَاةٌ وعَلَى بَابٍ الصِّرَاطِ دَاعِ

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Allah Ta'ala telah membuat satu perumpamaan jalan yang lurus dan di kedua sisi jalan itu ada dua pagar pada kedua pagar itu ada pintu-pintu yag dibuka dan pada pintu-pintu itu ada tabir yang halus dan di pintu sirot ada penyeru

يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوْا الصِّرَاطَ جَمِيعًا ولَا تَتَعَرَّجُوْا، وَدَاعٍ يَدْعُوْ مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئَا مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ

Wahai umat manusia masuklah kejalan yang lurus semuanya dan janganlah kalian naik dan penyeru di atas sirot maka ketika manusia ingin membuka sesuatu dari pintu pintu itu

قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، فَالصِّرَاطُ الإِسْلَامُ، والسُّورَانِ حُدُوْدُ اللهِ، والْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللّٰهِ، وَذٰلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللهِ، والدَّاعِي مِنْ فَوْقُ وَاعِظُ اللّٰهِ فِى قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ] رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ.

Orang yang menyeru berkata: Celakalah kamu, janganlah kamu membukanya karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk ke dalamnya. Jalan yang lurus adalah Islam dan dua pagar adalah batas ketentuan Allah dan pintu-pintu yang dibuka adalah larangan-larangan Allah dan penyeru yang di depan jalan itu adalah kitabullah dan penyeru yang berada di atas adalah nasihat Allah dalam hati setiap muslim]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Muslim.

(وَالْهَوَى يَدْعُوْكَ إِلَى الشَّهْوَاتِ) أَيْ إِلَى مُرَادَاتِهَا (وَالدُّنْيَا تَدْعُوْكَ إِلَى اِخْتِيَارِهَا) وَتَقْدِيْمِهَا (عَلَى الْآخِرَةِ) قَالَ الشَّاعِرُ مِنْ بَحْرِ الْبَسِيْطِ:

(Dan hawa itu mengajakmu menuju syahwat) Maksudnya menuju keinginan-keinginan hawa (Dan dunia itu mengajakmu untuk memilihnya) dan mendahulukannya (Dari pada akhirat) Telah berkata seorang penyair dari bahar basit:

وَصَيَّرَ النَّاسَ مَرْفُوْضًا وَمَرْفُوْقًا*سُبْحَانَ مَنْ أَنْزَلَ الْأَيَّامَ مَنْزِلَهَا
Maha suci Allah yang menempatkan hari hari pada tempatnya*Dan maha suci Allah yang telah menjadikan manusia ditolak dan dimulyakan
وَجَاهِلٌ خَرِقٌ تَلْقَاهُ مَرْزُوْقًا*فَعَاقِلٌ فَطِنٌ أَعْيَتْ مَذَاهِبُهُ
Maka ada orang yang berakal yang cerdas yang merepotkan jalan-jalan kehidupannya*Dan ada orang bodoh yang menuruti hawa nafsu engaku menemukan orang bodoh itu diberi rizki
وَصَيَّرَ الْعَاقِلَ النَّحْرِيْرَ زِنْدِيْقًا*هٰذَا الَّذِيْ تَرَكَ الْأَلْبَابَ حَائِرَةً
Inilah yang membuat akal fikiran menjadi bingung*Dan ini yang menjadikan orang berakal yang pakar menjadi ingkar syariat

وَقَالَ الشَّاعِرُ مِنْ بَحْرِ الْكَامِلِ الْمَجْزُوْءِ:

Telah berkata seorang penyair dari bahar kamil yang dikurangi satu wazan:

قَدُّ الْحِدَاءِ عَلَى مِثَالِهِ*اَلنَّاسُ مِثْلُ زَمَانِهِمْ
Manusia adalah perumpamaan zamannya*Ukuran sepatu itu seperi manusia
رِكَ فِى تَقَلُّبِهِ وَحَالِهِ*وَرِجَالُ دَهْرِكَ مِثْلُ دَهْ
Dan seseorang di zamanmu adalah perumpamaan zamanmu*Dalam berbulak baliknya zaman itu
نُ جَرَى الْفَسَادُ عَلَى رِجَالِهِ*وَكَذَا إِذَا فَسَدَ الزَّمَا
Dan demikian ketika sudah rusak suatu zaman*Maka berjalan kerusakan itu kepada orang-orang pada zaman itu

(وَالْأَعْضَاءُ تَدْعُوْكَ إِلَى الذُّنُوْبِ، وَالْجَبَّارُ) جَلَّ وَعزَّ (يَدْعُوْكَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ﴾ [البقرة: الآية ٢٢١] فَمَنْ أَجَابَ إِبْلِيْسَ) أَيْ دُعَاءَهُ (ذَهَبَ عَنْهُ الدِّيْنُ) أَيْ اَلْمِلَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ

(Dan anggota badan itu mengajakmu untuk berbuat dosa, dan dzat yang maha perkasa) Jalla Wa Azza (Itu mengajakmu menuju surga dan ampunan Allah Ta'ala berfirman: ﴾Mereka mengajak menuju neraka sedangkan Allah mengajak menuju surga dan ampunan dengan izin-Nya ﴿ [Q.S Al-Baqarah: Ayat 221] Maka barang siapa yang memenuhi Iblis) Maksudnya pada ajakan Iblis (Maka hilang darinya agama) Maksudnya agama Nabi Muhammad

(وَمَنْ أَجَابَ النَّفْسَ ذَهَبَ عَنْهُ الرُّوْحُ) أَيْ اَلْإِنْسَانُ، وَهِيَ لَطِيْفَةٌ عَالِمَةٌ مُدْرِكَةٌ رَاكِبَةٌ عَلَى الرُّوْحِ الْحَيَوَانِيُّ الَّذِيْ هُوَ جِسْمٌ لَطِيْفٌ مَنْبَعُهُ تَجْوِيْفُ الْقَلْبِ الْجِسْمَانِيُّ يَنْتَشِرُ بِوَاسِطَةِ الْعُرُوْقِ إِلَى سَائِرِ أَجْزَاءِ الْبَدَنِ

(Dan barang siapa yang memenuhi ajakan nafsu maka hilang darinya kerohanian) Maksudnya kemanusiaan. Ruh adalah sesuatu yang lembut yang dapat mengetahui yang dapat menangkap yang naik di atas ruh yang bersifat kehewanan yang ruh itu adalah wujud yang lembut. Sumbernya adalah rongga hati yang bersifat jasmani menyebar keseluruh tubuh melalui pembuluh darah ke seluruh bagian tubuh.

(وَمَنْ أَجَابَ الْهَوَى ذَهَبَ عَنْهُ الْعَقْلُ) وَهُوَ قُوَّةٌ لِلنَّفْسِ النَّاطِقَةُ الَّتِيْ يُشِيْرُ إِلَيْهَا كُلُّ أَحَدٍ بِقَوْلِهِ أَنَا وَهُوَ آلَةٌ لَهَا فِى الْفِعْلِ بِمَنْزِلَةِ السِّكِيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْقَاطِعِ

(Dan barang siapa yang memenuhi panggilan nafsu maka hilang darinya akal) Dan akal adalah kekuatan bagi jiwa yang bisa berfikir yang memberi isyarat kepadanya setiap orang dengan perkataan saya dan akal adalah alat untuk jiwa dalam pekerjaan semartabat dengan pisau dengan menisbatkan pada orang yang memotong.

(وَمَنْ أَجَابَ الدُّنْيَا ذَهَبَتْ عَنْهُ الْآخِرَةُ) لِأَنَّهَا ضَرَّتُهَا (وَمَنْ أَجَابَ الْأَعْضَاءَ ذَهَبَتْ عَنْهُ الْجَنَّةُ).

(Dan barang siapa yang memenuhi panggilan dunia maka hilang darinya akhirat) Karena sesungguhnya dunia itu merusak akhirat (Dan barang siapa yang memenuhi panggilan badan maka hilang darinya surga)

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا مِنْ عَبْدٍ إِلَّا وَلَهُ بَيْتَانِ بَيْتٌ فِي الجَنَّةِ وبَيْتٌ فِي النَّارِ، فَأَمَّا المُؤْمِنُ فَيَبْنِي بَيْتَهُ فِى الجَنَّةِ ويَهْدِمُ بَيْتَهُ فِى النَّارِ، وأَمَّا الْكَافِرُ فَيَهْدِمُ بَيْتَهُ فِى الْجَنَّةِ ويَبْنِي بَيْتَهُ فِى النَّارِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidaklah dari seorang hamba melainkan baginya ada dua rumah satu rumah di surga dan satu rumah di neraka. Adapun seorang mu'min maka dia membangun rumahnya di surga dan merobohkan rumahnya di neraka. Dan adapun orang kafir dia merobohkan rumahnya di surga dan membangun rumahnya di neraka] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami

(وَمَنْ أَجَابَ اللّٰهَ تَعَالَى ذَهَبَتْ عَنْهُ السَّيَّئَاتُ ونَالَ جَمِيعَ الْخَيْرَاتِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ أَحَدٌ إِلَّا رَأَى مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ لِيَزْدَادَ شُكْراً، وَلَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ إِلَّا رَأَى مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ لَوْ أَحْسَنَ لِيَكُوْنَ عَلَيْهِ حَسْرَةً] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

(Dan barang siapa memenuhi panggilan Allah Ta'ala maka hilang darinya keburukan-keburukan dan ia akan memperoleh seluruh kebaikan) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Seseorang tidak akan masuk ke dalam surga kecuali ia melihat tempat tinggalnya di neraka andai dia berbuat kemaksiatan supaya bertambah rasa syukurnya. Dan tidaklah seseorang masuk neraka melainkan pasti dia melihat tempat tinggalnya di surga andai ia berbuat baik supaya ada pada dirinya rasa penyesalan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhori.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 4

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ) وَجَزَاهُ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ خَيْرًا (إِنَّ اللّٰهَ كَتَمَ سِتَّةً) مِنَ الْخِصَالِ (فِى سِتَّةِ) مِنَ الْأَشْيَاءِ

Maqolah yang ke empat (Telah berkata Umar Radhiallahu Anhu) Semoga Allah membalas kepada Umar dari Umat Muhammad ﷺ kebaikan (Sesungguhnya Allah itu menyembunyikan enam) Dari perkara (Dalam enam) Dari perkara

(كَتَمَ الرِّضَا فِى طَاعَةٍ) مِنَ الطَّاعَاتِ لِيَجْتَهِدَ النَّاسُ فِى جَمِيْعِ الطَّاعَاتِ رَجَاءً أَنْ يُصَادِفُوْهَا فَلَا يَجُوْزُ لَنَا أَنْ نُحْقِرَ طَاعَةً وَلَوْ صَغِيْرَةً جِدًّا لِأَنَّهُ رُبَّمَا كَانَ رِضَاهُ تَعَالَى فِيْهَا

(Allah Menyembunyikan ridho dalam keta'atan) Dari keta'atan-keta'atan supaya manusia bersungguh sungguh dalam semua jenis keta'atan dengan harapan mereka menemukan ridho itu. Maka tidak boleh bagi kita meremehkan suatu keta'atan meskipun itu sangat kecil karena sesungguhnya kadang-kadang ada ridho Allah Ta'ala di dalamnya

(وَكَتَمَ الْغَضَبَ فِى مَعْصِيَةٍ) مِنَ الْمَعَاصِيْ لِيُجَنِّبَهَا النَّاسُ خَشْيَةَ الْوُقُوْعِ فِيْهِ فَلَا يَجُوْزُ لِشَخْصٍ أَنْ يُحَقِّرَ مَعْصِيَةً وَإِنْ دَقَّتْ جِدًّا لِأَنَّهُ لَا يُعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ يَكُوْنُ فِيْهَا غَضَبُهُ تَعَالُى

(Dan Allah menyembunyikan marah dalam kemaksiatan) Dari kemaksiatan-kemaksiatan supaya manusia menjauhi kemaksiatan kemaksiatan itu karena takut terjatuh dalam kemarahan Allah. Maka tidak boleh bagi seseorang meremehkan kemaksiatan-kemaksiatan meskipun sangat lembut karena seseorang tidak tahu sesungguhnya terkadang ada dalam kemaksiatan kecil itu murkanya Allah Ta'ala.

(وَكَتَمَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ) لِيَجْتَهِدَ النَّاسُ فِى إِحْيَاءِ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِالْعِبَادَةِ فَإِنَّ أَجْرَ النَّفْلِ كَأَجْرِ الْفَرْضِ فِى غَيْرِهِ كَمَا فِى الْحَدِيْثِ، بَلْ قَالَ النَّخَعِيُّ: رَكْعَةٌ فِيْهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ رَكْعَةٍ فِى غَيْرِهِ وَتَسْبِيْحَةٌ فِيْهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ تَسْبِيْحَةٍ فِى غَيْرِهِ.

(Dan Allah menyembunyikan malam Lailatul Qodar di bulan Ramadhan) Supaya manusia bersungguh-sungguh dalam menghidupkan seluruh bulan Ramadhan dengan ibadah karena sesungguhnya pahala amal kesunahan seperti pahala amal fardu di selain bulan Ramadhan sebagai mana dalam hadits. Bahkan telah berkata Imam An-Nakho'i: Satu raka'at di bulan Ramadhan itu lebih utama dari seribu raka'at di selain bulan Ramadhan dan satu bacaan tasbih di bulan Ramadhan itu lebih utama dari seribu bacaan tasbih di selain bulan Ramadhan

وَلِيَجْتَهِدُوْا فِى إِحْيَاءِ لَيَالِيْهِ رَجَاءً أَنْ يُصَادِفُوْا لَيْلَةَ الْقَدَرِ فَإِنَّهَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ وَهِيَ ثَلَاثُ وَثَمَانُوْنَ سَنَةً وَأَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ .

Dan supaya mereka bersungguh sungguh dalam menghidupkan malam Ramadhan karena mengharapkan agar mereka menemukan Lailatul Qodar karena sesungguhnya Lailatul Qodar itu lebih baik dari seribu bulan seribu bulan itu delapan puluh tiga tahun lebih empat bulan.

وَفِى حَدِيْثِ الطَّبْرَانِى مَرْفُوْعًا إِلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: [إِنَّ مَنْ زَنَا فِيهِ أَوْ شَرَبَ خَمْرًا لَعَنَهُ اللّٰهُ ومَنْ فِى السَّماوَاتِ إِلَى مِثْلِهِ مِنَ الحَوْلِ الثَّانِيي]،

Dan dalam hadits riwayat Imam Thobroni marfu kepada Rasulullah ﷺ:[sungguh orang yang berzina di bulan Ramadhan atau meminum arak maka akan melaknat kepadanya Allah dan orang yang ada di langit sampai datang bulan yang sama dari tahun yang kedua]

فإنَّ مَنْ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَ رَمَضَانَ فَلَيْسَتْ لَهُ عِنْدَ اللّٰهِ حَسَنَةٌ يَتَّقِيْ بِهَا النَّارَ فَاتَّقُوْا اللّٰهَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ فإنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيْهِ مَا لَا تُضَاعَفُ فِيْمَا سِوَاهُ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ.

Sungguh orang yang mati sebelum menemukan bulan Ramadhan maka tidak ada baginya di sisi Allah kebaikan yang ia bisa menghindari dengan kebaikan itu pada neraka. Maka takutlah kamu kepada Allah di bulan Ramadhan karena sesungguhnya amal amal kebaikan akan dilipat gandakan di bulan Ramadhan tidak seperti dilipat gandakannya kebaikan itu di bulan-bulan selain Ramadhan dan demikian dilipat gandakan pula amal-amal keburukan.

(وََكَتَمَ أَوْلِيَاءَهُ فِيْمَا بَيْنَ النَّاسِ) كَيْ لَايَحْتَقِرُوْا أَحَدًا مِنْهُمْ وَكَيْ يَطْلُبُوْا الدُّعَاءَ مِنْهُمْ رَجَاءً أَنْ يُصَادِفُوْا الْوَلِيَّ فَلَا يَجُوْزُ لِشَخْصٍ أَنْ يُحْقِرَ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ لِأَنَّهُ لَا يَدْرِيْ رُبَّمَا هُوَ مِنْ أَوْلِيَائِهِ تَعَالَى

(Dan Allah menyembunyikan wali-walinya di antara manusia) Supaya manusia tidak menghina seseorang di antara mereka dan supaya manusia meminta doa dari kalangan mereka karena berharap supaya mereka menemukan seorang wali maka tidak boleh bagi seseorang meremehkan satu orangpun dari manusia karena sesungguhnya dia tidak tahu barangkali orang itu termasuk dari wali-walinya Allah Ta'ala

(وَكَتَمَ الْمَوْتَ فِى الْعُمُرِ) فَيَنْبَغِي حِيْنَئِذٍ لِكُلِّ أَحَدٍ أَنْ يَسْتَعِدَ لِلْمَوْتِ فِى كُلِّ وَقْتٍ بِالْعِبَادَاتِ فَرُبَّمَا يَفْجَأُهُ الْمَوْتُ

(Dan Allah menyembunyikan kematian dalam umur) Maka penting pada waktu itu bagi setiap orang untuk bersiap-siap menghadapi kematian di setiap waktu dengan melakukan ibadah-ibadah karena barangkali akan datang kepadanya kematian.

(وَكَتَمَ الصَّلَاةَ الْوُسْطَى) أَيْ اَلْفَضْلَى (فِى الصَّلَوَاتِ) أَيْ الْخَمْسِ لِيَتَحَرِّيَ النَّاسُ جَمِيْعَهَا،

(Dan Allah menyembunyikan Sholat wustho) Maksudnya yang paling utama (Dalam sholat-sholat) Maksudnya yang lima waktu supaya manusia bersungguh-sungguh pada semua sholat

وَأَخْفَى اللّٰهُ اِسْمَهُ الْأَعْظَمَ فِى جَمِيْعِ أَسْمَائِهِ لِيَجْتَهِدَ النَّاسُ فِى الدُّعَاءِ بِجَمِيْعِهَا رَجَاءً أَنْ يُصَادِفُوْهُ،

Dan Allah menyembunyikan nama-namanya yang paling agung di semua nama-namanya supaya manusia bersungguh-sungguh dalam berdoa dengan semua nama Allah karena berharap supaya mereka menemukan ismul A'dhom

وَأَخْفَى سَاعَةَ الْإِجَابَةِ فِى يَوْمِ الْجُمْعَةِ لِيَجْتَهِدَ النَّاسُ بِالدُّعَاءِ فِيْهِ،

Dan Allah menyembunyikan waktu ijabah di hari Jum'at supaya manusia bersungguh-sungguh dalam berdoa di hari jum'at

وَأَخْفَى السَّبْعَ الْمَثَانِى فِى جُمْلَةِ سُوَرِ الْقُرْآنِ لِيَجْتَهِدَ النَّاسُ فِى قِرَاءَةِ جَمِيْعِهَا .

Dan Allah menyembunyikan tujuh ayat yang di ulang-ulang dalam keseluruhan surat Al-Qur'an supaya manusia bersungguh-sunguh dalam membaca keseluruhan Al-Qur'an


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 5

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ (قَالَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: إِنَّ الْمُؤْمِنَ) يَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ مَاشِيًا (فِى سِتَّةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْخَوْفِ).

Maqolah yang kelima (Telah berkata Utsman Radhiallahu Anhu: Sesungguhnya orang yang beriman) Penting agar ia berjalan (Dalam enam perkara dari rasa takut)

(أَحَدُهَا) أَنْ يَّخَافَ (مِنْ قِبَلِ اللّٰهِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْهُ الْإِيْمَانَ) وَقْتَ النَّزْعِ. رُوِيَ أَنَّ ابْنَ مَسْعُوْدٍ دَعَا بِهٰذَا الدُّعَاءِ: اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لَا يَرْتَدُّ وَنَعِيْمًا لَا يَنْفَدُّ وَقُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ وَمُرَافَقَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ فِى أَعْلَى جَنَانِ الْخُلْدِ.

(Yang pertama dari enam perkara itu) Adalah agar ia takut (Dari arah Allah yang dapat mengambil darinya keimanan) Di waktu sekarat. Diriwayatkan sesungguhnya Ibnu Mas'ud berdoa dengan doa ini: Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadamu keimanan yang tidak akan murtad keimanan itu dan kenikmatan yang tidak akan habis kenikmatan itu dan kesenangan hati yang tidak akan terputus-putus kesenangan hati itu dan menemani Nabi-Mu Muhammad ﷺ di paling atasnya surga yang abadi

(وَالثَّانِى) أَنْ يَخَافَ (مِنْ قِبَلِ الْحَفَظَةِ) أَيْ اَلْكَاتِبِيْنَ لِأَعْمَالِ الْعِبَّادِ (أَنْ يَكْتُبُوْا عَلَيْهِ مَا يَفْتَضِحُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ) عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: [فُضُوْحُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ فُضُوْحِ الْآخِرَةِ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ عَنِ الْفَضْلِ.

(Dan yang kedua) Adalah agar ia takut (Dari arah Malaikat hafadzoh) Maksudnya para malaikat yang menuliskan amal-amal para hamba (Yang dapat menulis atas orang yang beriman pada sesuatu yang akan membuka aib baginya di hari kiamat) Dari Nabi ﷺ bersabda: [Terbukanya aib di dunia itu lebih ringan dibandingkan terbukanya aib di akhirat]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni dari Fadli

قَالَ الْمَنَاوِيُّ: أَيْ اَلْعَارُ الْحَاصِلُ لِلنَّفْسِ مِنْ كَشْفِ الْعَيْبِ فِى الدُّنْيَا بِقَصْدِ التَّنَصُّلِ مِنْهُ أَهْوَنُ مِنْ كِتْمَانِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَنْتَشِرَ وَيَشْتَهِرَ فِى الْمَوْقِفِ اهـ.

Imam Al-Manawi berkata: Artuinya rasa malu yang timbul pada diri sendiri karena terbukanya aib di dunia dengan niat melepaskan diri dari aib itu lebih ringan dibandingkan menutupi aib sampai hari kiamat sehingga menyebar dan terkenal aib itu di padang mahsyar.

وَلِذَا لَمَّا وَقَعَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ فِى الزِّنَا وَعَرَفَ هٰذَا الْحَدِيْثَ أَقَرَّ بِذٰلِكَ لَهُ ﷺ لِيَحُدَّهُ وَلَمْ یَرْجِعْ عَنِ الْإِقْرَارِ مَعَ تَعْرِيْضِهِ ﷺ لَهُ بِالرُّجُوْعِ لِعِلْمِهِ بِأَنَّ فَضِيْحَتَهُ فِى الدُّنْيَا بِإِقَامَةِ الْحَدِّ أَهْوَنُ مِنْ فَضِيْحَةِ الْآخِرَةِ.

Oleh karena itu tatkala terjerumus salah seorang sahabat dalam perbuatan zina dan dia mengetahui hadits ini maka dia mengakui atas perbuatan zina itu di hadapan Nabi ﷺ supaya Nabi mengukumnya dan dia tidak mau mencabut pernyataan dari pengakuannya serta berpalingnya Nabi ﷺ dari sahabat itu supaya dia menarik kembali pengakuannya. Karena dia tahu sesungguhnya terbukanya aibnya di dunia dengan menegakkan hukuman itu lebih ringan dibandingkan terbukanya aib di akhirat

(وَالثَّالِثُ) أَنْ يَخَافَ (مِنْ قِبَلِ الشَّيْطَانِ أَنْ يُبْطِلَ عَمَلَهُ) الصَّالِحَ.

(Dan yang ketiga) Adalah agar ia takut (Dari arah setan yang dapat membatalkan amalnya) Yang sholeh

(وَالرَّابِعُ) أَنْ يَخَافَ (مِنْ قِبَلِ مَلَكِ الْمَوْتِ أَنْ يَأْخُذَهُ) أَيْ يُقْبِضُ رُوْحَهُ حَالَ كَوْنِهِ (فِى غَفْلَةٍ) عَنِ اللّٰهِ تَعَالَى (بَغْتَةً) أَيْ فَجْأَةً مِنْ غَيْرِ تَقَدُّمِ سَبَبِ الْمَوْتِ.

(Dan yang keempat) Adalah agar ia takut (Dari arah malakal maut yang dapat mengambilnya) Maksudnya yang dapat mencabut ruhnya dalam keadaan ia (Dalam kelalaian) Jauh dari Allah (Secara tiba-tiba) Maksudnya tiba-tiba tanpa didahului sebab kematian

(وَالْخَامِسُ) أَنْ يَخَافَ (مِنْ قِبَلِ الدُّنْيَا) أَيْ مَتَاعِهَا وَزِيْنَتِهَا (أَنْ يَغْتَرَّ) أَيْ يَطْمَئِنَّ (بِهَا وَتُشْغِلُهُ عَنِ الْآخِرَةِ) وَيَنْسَى أَهْوَالَهَا.

(Dan yang kelima) Adalah agar ia takut (Dari arah dunia) Maksudnya dari kenikamatan dunia dan dari hiasan dunia (Yang ia tertipu) Maksudnya ia merasa tenang (Karena dunia dan dunia menyibukkannya jauh dari akhirat) Dan ia lupa pada keributan akhirat

(وَالسَّادِسُ) أَنْ يَخَافَ (مِنْ قِبَلِ الْأَهْلِ وَالْعِيَالِ) وَهُمْ مِنْ يَمُوْنِهِمْ (أَنْ يَشْتَغِلَ بِهِمْ فَیُشْغِلُوْنَهُ عَنْ ذِکْرِ اللّٰهِ تَعَالَی) وَعَنْ طَاعَتِهِ .

(Dan yang keenam) Adalah agar ia takut (Dari arah keluarga dan orang yang menjadi tanggungan) Dan mereka dari orang terdekatnya (Ia menjadi sibuk karena keluarga sehingga keluarganya menyibukkan dia jauh dari mengingat Allah Ta'ala) Dan jauh dari keta'atan kepada Allah


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 6

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ وَكَرَّمَ وَجْهَهُ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ جَمَعَ سِتَّةَ خِصَالٍ لَمْ يَدَعْ) أَيْ لَمْ يَتْرُكْ (لِلْجَنَّةِ مَطْلَبًا وَلَا عَنِ النَّارِ مَهْرَبًا) أَيْ هٰذِهِ السِّتَّةُ مَفَاتِيْحُ الْجَنَّةِ وَمَغَالِيْقُ النَّارِ

Maqolah yang keenam (Dari Ali Radhiallahu Anhu Wakarrama Wajhahu sesungguhnya ia berkata: Barang siapa yang mengumpulkan enam perkara maka ia tidak akan meninggalkan) Maksudnya ia tidak akan meninggalkan (Dari Surga sebagai tempat pencarian dan ia tidak akan meninggalkan dari neraka sebagai tempat kabur) Maksudnya enam perkara ini adalah kunci pembuka surga dan gembok neraka

(أَوَّلُهَا: عَرَفَ اللّٰهَ تَعَالَى) بِأَنَّهُ خَالِقُهُ وَرَازِقُهُ وَمُحْيِيْهِ وَمُمِيْتُهُ (فَأَطَاعَهُ) أَيْ فَوَافَقَهُ فِى أَوَامِرِهِ

(Yang pertama dari enam perkara itu: Adalah ia mengetahui Allah Ta'ala) Bahwa sesungguhnya Allah adalah dzat yang telah menciptakannya dan dzaat yang memberikan rizki padanhya dan dzat yang menghidupkannya dan dzat yang mematikannya (Kemudian ia taat kepada Allah) Maksudnya Ia setuju kepada Allah dalam perintah-perintah-Nya

(وَعَرَفَ الشَّيْطَانَ) بِأَنَّهُ عَدُوُّهُ (فَعَصَاهُ) أَيْ خَالَفَ أَمْرَهُ

(Dan ia mengetahui setan) Bahwa sesungguhnya ia adalah musuhnya (Kemudian ia menentang kepadanya) Maksudnya ia menyelisihi perintah setan

(وَعَرَفَ الْآخِرَةَ) بِأَنَّهَا دَارُ الْبَقَاءِ (فَطَلَبَهَا) بِاسْتِعْدَادِ الزَّادِ لَهَا

(Dan ia mengetahui akhirat) Bahwa sesungguhnya akhirat adalah tempat yang kekal (Kemudian ia mencarinya) Dengan cara menyiapkan bekal untuk akhirat

(وَعَرَفَ الدُّنْيَا) بِأَنَّهَا فَانِيَةٌ وَأَنَّهَا دَارُ الْمَمَرِّ (فَرَفَضَهَا) أَيْ تَرَكَهَا وَلَمْ يَأْخُذْ مِنْهَا إِلَّا بِقَدْرِ زَادِهِ لِلْآخِرَةِ

(Dan ia mengetahui dunia) Bahwwa sesungguhnya dunia itu akan sirna dan sesungguhnya dunia itu adalah tempat melewat (Kemudian ia menolak dunia) Maksudnya ia meninggalkan dunia dan ia tidak mengambil darinya kecuali hanya sebatas bekalnya untuk akhirat

(وَعَرَفَ الْحَقَّ) أَيْ اَلصَّوَابَ مِنَ الْأَحْكَامِ (فَاَتْبَعَهُ) وَعَمِلَهُ

(Dan ia mengetahui kebenaran) Maksudnya kebenaran dari hukum-hukum (Kemudian ia mengikuti kebenaran itu) Dan ia mengamalkannya

(وَعَرَفَ الْبَاطِلَ) أَيْ غَيْرَ الصَّحِيْحِ (فَاجْتَنَبَهُ) وَلَمْ يَعْمَلْهُ.

(Dan ia mengetahui kebatilan) Maksudnya yang tidak benar (Kemudian ia menjauhi kebatilan itu) Dan ia tidak mengamalkannya


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 7

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ (قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللّٰهُ وَجْهَهُ) وَفِى نُسْخَةٍ: وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ

Maqolah yang ketujuh (Telah berkata Ali Karramallahu Wajhahu) Dan pada sebagian catatan: Dan telah berkata Umar Radhiallahu Anhu

(الَنِّعَمُ) أَيْ أَعْظَمُهَا (سِتَّةُ أَشْيَاءَ: اَلْإِسْلَامُ وَالْقُرْآنُ وَمُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّٰهِ) وَيَنْبَغِيْ لَنَا أَنْ نَقُوْلَ كُلَّ يَوْمٍ: رَضِيْتُ بِاللّٰهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ رَسُوْلًا وَنَبِيًّا وَبِالْقُرْآنِ حُكْمًا وَإِمَامًا

(Nikmat-nikmat) Maksudnya paling agungnya nikmat (Itu enam perkata: Islam dan Al-Qur'an dan Rasulullah) Dan patut bagi kita semua untuk membaca dalam setiap hari: Aku ridho kepada Allah sebagai dzat yang mengurus dan mengatur dan aku ridho kepada Islam sebagai Agama dan aku ridho kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul dan sebagai Nabi dan aku ridho kepada Al-Quran sebagai hukum dan imam

(وَالْعَافِيَةُ) أَيْ دِفَاعُ الْمَكَارِهِ (وَالسَّتْرُ) أَيْ سَتْرُ الْعُيُوْبِ (وَالْغِنَى عَنِ النَّاسِ) فِى أُمُوْرِ الدُّنْيَا.

(Dan selamat) Maksudnya terhindarnya perkara-perkara yang tidak diinginkan (Dan ditutup) Maksudnya ditutupi aib-aibnya (Dan mandiri dari manusia) Dalam urusan dunia

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيًّ ﷺ قَالَ: [يَقُوْلُ رَبُّكُمْ فِى الْحَدِيْثِ الْقُدْسِيِّ: يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ أَمْلَأْ قَلْبَكَ غِنًى وَأَمْلَأْ يَدَيْكَ رِزْقًا، يَا ابْنَ آدَمَ لَا تَبَاعَدْ عَنِّيْ أَمْلَأْ قَلْبَكَ فَقْرًا وَأَمْلَأْ يَدَيْكَ شُغْلًا] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ وَالْحَاكِمُ.

Dari Anas sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tuhan kalian telah berfirman dalam hadist Qudsi: Wahai anak Adam luangkanlah waktumu untuk beribadah kepadaku maka aku akan memenuhi hatimu dengan kecukupan dan aku akan memenuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam janganlah kalian saling menjauhkan diri dariku Maka pasti aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan aku pasti akan memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukkan] Telah meriwayatkan pada hadits Ini Imam Thobroni dan Imam Hakim


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 8

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ (عَنْ يَحْيٰى بْنِ مُعَاذٍ الرَّازِيِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ: اَلْعِلْمُ دَلِيْلُ الْعَمَلِ) أَيْ مُرْشِدُهُ وَكاَشِفُهُ فَلَا يُوْجَدُ الْعَمَلُ بِدُوْنِ الْعِلْمِ

Maqolah yang ke delapan (Dari Yahya Bin Mu'adz Ar-Razi Rahimahullah: Ilmu adalah petunjuk amal) Maksudnya penunjuk amal dan pembuka amal maka tidak akan ditemukan suatu amal tanpa ilmu

(وَالْفَهْمُ وِعَاءُ الْعِلْمِ) فَلَا يُوْجَدُ الْعِلْمُ بِدُوْنِ تَصَوُّرِ مَعْنَى اللَّفْظِ

(Dan pemahaman adalah penampung ilmu) Maka tidak akan dapat ditemukan suatu ilmu tanpa menggambarkan makna lafadz

(وَالْعَقْلُ قَائِدٌ لِلْخَيْرِ) أَيْ حَامِلٌ لَهُ فَلَا يُوْجَدُ الْخَيْرُ إِلَّا بِالْعَقْلِ الدَّاعِى إِلَيْهِ

(Dan akal adalah pemimpin bagi kebaiakan) Maksudnya yang membawa pada kebaikan maka tidak akan dapat ditemukan suatu kebaikan kecuali dengan akal yang mengajak padanya

(وَالْهَوَى مَرْكَبٌ لِلذُّنُوْبِ) أَيْ مِثْلُ سَفِيْنَةٍ لَهَا فَلَا تُوْجَدُ الذُّنُوْبُ إِلَّا عَلَى الْهَوَى

(Dan hawa nafsu adalah kendaraan bagi dosa-dosa) Maksudnya seperti perahu bagi dosa-dosa maka tidak akan dapat ditemukan dosa-dosa kecuali menaiki hawa nafsu

(وَالْمَالُ رِدَاءُ الْمُتَكَبِّرِيْنَ) أَيْ مِثْلُ الرِّدَاءِ لَهُمْ

(Dan harta adalah selendangnya orang-orang yang sombong) Maksudnya seperti selendang bagi orang-orang sombong

(وَالدُّنْيَا سُوْقُ الْآخِرَةِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ أَخَذَ مِنَ الدُّنْيَا مِنَ الْحَلَالِ حَاسَبَهُ اللّٰهُ، وَمَنْ أَخَذَ مِنَ الدُّنُيَا مِنَ الحَرَامِ عَذَّبَهُ اللّٰهُ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ.

(Dan dunia adalah pasarnya akhirat) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang mengambil dari dunia dari yang halal maka Allah akan menghisab padanya dan barang siapa yang mengambil dari dunia dari yang haram maka Allah akan mengadzab padanya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هٰذِهِ الدُّنْيَا دَارُ التِّوَاءِ لَا دَارُ اسْتِوَاءِ مَنْزِلُ تَرَحٍ لَا مَنْزِلُ فَرَحِ فَمَنْ عَرَفَهَا لَمْ يَفْرَحْ لِرَخَاءٍ وَلَمْ يَحْزَنْ لِشِدَّةٍ

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ Bersabda: [Wahai manusia ingatlah sesungguhnya dunia ini adalah tempat yang terjal bukan tempat yang rata tempat susah bukan tempat bersenang-senang. Barang siapa yang mengenal pada dunia maka dia tidak akan bersenang-senang karena kemakmuran dan tidak akan bersedih karena kemelaratan.

أَلَا وَإِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ الدُّنْيَا دَارَ بَلْوَى وَالْآخِرَةَ دَارَ عُقْبَى فَجَعَلَ بَلْوَى الدُّنْيَا لِثَوَابِ الْآخِرَةِ وثَوَابَ الْآخِرَةِ مِنْ بَلْوَى الدُّنْيَا عِوَضًا فَيَأْخُذُ لِيُعْطِى ويَبْتَلِى لِيَجْزِيَ فَاحْذَرُوْا حَلَاوَةَ رِضَاعِهَا لِمَرَارَةِ فِطَامِهَا

Dan ingatlah sesungguhnya Allah menciptakan dunia sebagai tempat ujian dan Allah menciptakan akhirat sebagai tempat pembalasan maka Allah menjadikan ujian dunia sebagai pahala akhirat dan Allah menjadikan pahala akhirat sebagai kompensasi dari ujian dunia karena Allah mengambil untuk memberi dan Allah menguji untuk memberi balasan maka waspadalah kalian semua terhadap manisnya menyusu pada dunia karena betapa pahitnya disapih dari dunia

وَاهْجُرُوْا لَذِيْذَ عَاجِلِهَا لِكَرِيْهِ اَجِلِهَا وَلَا تَسْعَوْا فِى عُمْرَانِ دَارٍ قَدْ قَضَى اللّٰهُ خَرَابَهَا وَلَا تُوَاصِلُوْهَا وَقَدْ أَرَادَ مِنْكُمْ اِجْتِنَابَهَا فَتَكُوْنُوْا لِسُخْطِهِ مُتَعَرِّضِيْنَ وَلِعُقُوْبَتِهِ مُسْتَحِقِّيْنَ] رَوَاهُ الدَّيْلِمِيُّ.

Dan tinggalkanlah kenikmatan-kenikmatan dunia karena pahitnya akhirat dan janganlah kalian berusaha untuk membangun kembali sebuah rumah yang telah Allah tetapkan kehancurannya, dan janganlah kamu melanjutkannya padahal Allah telah menghendaki dari kalian agar menjauhi dunia, Maka jadilah kalian semua terhadap murkanya Allah sebagai orang-orang yang menantang dan terhadap hukuman Allah sebagai orang-orang yang pantas mendapatkannya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami



Tidak ada komentar:

Posting Komentar