Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 21
(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (اِخْتَارَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ) أَيْ أَرْبَعَ جُمَلٍ (مِنْ أَرْبَعَةِ كُتُبٍ) سَمَاوِيَّةٍ (مِنَ التَّوْرَاةِ: مَنْ رَضِيَ بِمَا أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى) مِنَ الرِّزْقِ (اسْتَرَاحَ) أَيْ صَارَ تَعَبُهُ ذَاهِبًا (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمِنَ الْإِنْجِيلِ: مَنْ هَدَمَ الشَّهَوَاتِ) أَيْ مَنْ تَرَكَ مُشْتَاقَاتِ النَّفْسِ (عَزَّ) أَيْ صَارَ قَوِيًّا (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمِنَ الزَّبُورِ: مَنْ تَفَرَّدَ) بِنَفْسِهِ وَبِمَالِهِ (عَنِ النَّاسِ نَجَا) أَيْ خَلَصَ مِنَ الْهَلَاكِ وَبَعُدَ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ (وَمِنَ الْفُرْقَانِ: مَنْ حَفِظَ اللِّسَانِ) مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَمِمَّا لَا يُعْتَدُّ بِهِ (سَلِمَ) أَيْ خَلَصَ مِنَ الْآفَاتِ (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ).
Maqolah yang ke dua puluh satu (Telah memilih sebagian orang-orang yang bijaksana pada empat kalimat) Maksudnya pada empat jumlah (Dari empat kitab-kitab) Samawi (Dari kitab Taurat: Barang siapa yang ridho atas perkara yang telah memberikan kepadanya Allah Ta'ala) Dari rizqi (Maka menjadi tenang) Maksudnya jadi rasa lelahnya orang itu menghilang (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab Injil: Barang siapa yang menghancurkan syahwat-syahwatnya) Maksudnya barang siapa yang meninggalkan perkara yang diinginkan nafsu (Maka mulia) Maksudnya ia menjadi kuat (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab zabur: Barang siapa yang menyendiri) dengan dirinya dan dengan hartanya (Dari manusia maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan dan ia jauh dari kerusakan itu di dunia dan di akhirat (Dan dari Al-Furqon: Barang siapa yang menjaga pada lisan) Dari perkara yang tidak ada faedah di dalamnya dan dari perkara yang tidak di anggap dengannya (Maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan-kerusakan (Di dunia dan di akhirat).
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى حِفْظُ اللِّسَانِ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [الْعَافِيَةُ عَشَرَةُ أَجْزَاءٍ: تِسْعَةٌ فِي الصَّمْتِ وَالْعَاشِرَةُ فِي الْعُزْلَةِ عَنِ النَّاسِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah menjaga lidah] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Keselamatan itu ada 10 bagian yang kesembilan itu dalam diam dan kesepuluh itu dalam menyendiri dari manusia] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailimi.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 22
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَاللَّهِ مَا ابْتُلِيْتُ بِبَلِيَّةٍ إِلَّا وَكَانَ لِلَّهِ عَلَيَّ فِيهَا) أَيْ تِلْكَ الْبَلِيَّةِ (أَرْبَعُ نِعَمٍ، أَوَّلُهَا: إِذْ لَمْ تَكُنْ) أَيْ تِلْكَ الْبَلِيَّةُ (فِي دِيْنِي) فَإِنَّ الِامْتِحَانَ فِي الدِّينِ أَعْظَمُ مِنَ الْاِمْتِحَانِ فِي الْبَدَنِ وَالْمَالِ (وَالثَّانِي: إِذْ لَمْ تَكُنْ) أَيْ الْبَلِيَّةُ (أَعْظَمَ مِنْهَا) أَيْ مِنْ تِلْكَ الْبَلِيَّةِ الَّتِي أَصَابَتْنِي (وَالثَّالِثُ: إِذْ لَمْ تَكُنْ مُحَرَّمَ الرِّضَا) أَيْ مَمْنُوعَ الرِّضَا (بِهَا) أَيْ بِتِلْكَ الْبَلِيَّةِ (وَالرَّابِعُ: أَنِّيْ أَرْجُو الثَّوَابَ عَلَيْهَا) أَيْ تِلْكَ الْبَلِيَّةِ.
Maqolah yang ke dua puluh dua (Dari Umar Radhiallahu Anhu: Demi Allah tidaklah aku diuji dengan musibah kecuali pasti ada milik Allah atas ku di dalam musibah itu) Maksudnya musibah itu (Empat kenikmatan, yang pertama dari empat kenikmatan: Adalah ketika tidak ada) Maksudnya musibah itu (Dalam masalah agama) Karena sesungguhnya ujian dalam masalah agama itu lebih besar daripada ujian dalam masalah badan dan masalah harta (Dan yang kedua: Adalah ketika tidak ada) Maksudnya musibah (Yang lebih besar darinya) Maksudnya dari musibah itu yang menimpa kepadaku (Dan yang ketiga: Adalah ketika tidak ada musibah itu yang menghalangi dari keridhoan) Maksudnya yang terhalang dari keridhoan (Dengannya) Maksudnya dengan balai itu (Dan yang ke empat: Adalah sesungguhnya aku mengharapkan pahala atasnya) Maksudnya musibah itu.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 23
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ رَجُلًا حَكِيمًا) وَهُوَ مَنْ يَعْرِفُ الْأُمُورَ (جَمَعَ الْأَحَادِيثَ فَاخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَحَادِيثِ الْمَجْمُوعَةِ (أَرْبَعِينَ أَلْفًا) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُنْتَقَاةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِينَ أَلْفًا (أَرْبَعَةَ آلَافٍ) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُصَفَّاةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعَةِ آلَافٍ (أَرْبَعَمِائَةٍ) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُسْتَخْرَجَةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِمِائَةِ (أَرْبَعِينَ) حَدِيثًا مُبَجَّلًا (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِينَ (أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ) أَيْ أَرْبَعَ جُمَلٍ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُسْتَخْلَصَةِ.
Maqolah yang ke dua puluh tiga (Dari Abdullah bin Mubarok) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Sesungguhnya ada seorang lelaki yang ahli hikmah) Ahli hikamah adalah orang yang mengetahui berbagai perkara (Itu mengumpulkan hadits-hadits kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari hadits-hadits yang dikumpulkan (Empat puluh ribu) Dari hadits-hadits yang dipilih (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh ribu (Empat ribu) Dari hadits-hadits yang disaring (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ribu (Empat ratus) Dari hadits-hadits yang dikeluarkan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ratus (Empat puluh) Hadits yang dimuliakan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh (Empat kalimat) Maksudnya empat jumlah dari hadits-hadits yang dirangkum.
(إِحْدَاهُنَّ: لَا تَثِقَنَّ بِامْرَأَةٍ) أَيْ لَا تَطْمَئِنُّ إِلَيْهَا وَلَا تَأْتَمِنَّهَا (عَلَى كُلِّ حَالٍ) بَلْ لَا بُدَّ لِلرَّجُلِ مِنَ الْغَيْرَةِ أَيْ كَرَاهَةِ شَرِكَةِ الْغَيْرِ فِي حَقِّهِ.
(Salah satu dari empat kalimat itu: Adalah janganlah kamu percaya pada seorang wanita) Maksudnya janganlah kamu tenang kepada seorang wanita dan janganlah kamu mengamanatkan kepada seorang wanita (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak untuk seorang lelaki dari rasa cemburu maksudnya tidak ingin disertai oleh orang lain dalam haknya.
(وَالثَّانِيَةُ: لَا تَغْتَرَّنَّ بِالْمَالِ) أَيْ لَا تَظُنَّ الْأَمْنَ مِنَ الْهَلَاكِ بِسَبَبِ الْمَالِ فَلَمْ تَحْفَظْ الْأُمُورَ وَلَا تَكُنْ مَخْدُوعًا بِكَثْرَةِ الْمَالِ (عَلَى كُلِّ حَالٍ) بَلْ لَا بُدَّ مِنَ الِاحْتِيَاطِ وَمِنْ تَذَكُّرِ الْآخِرَةَ.
(Dan yang kedua: Adalah janganlah kamu teripu dengan harta) Maksudnya janganlah kamu merasa aman dari kebinasaan sebab harta kemudian kamu tidak menjaga pada urusan-urusan dan janganlah kamu menjadi orang yang tertipu sebab banyak harta (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak dari berhati-hati dan dari mengingat akhirat.
(وَالثَّالِثَةُ: لَا تُحَمِّلْ مَعِدَتَكَ مَا لَا تُطِيقُهُ) قَالَ ﷺ: [أَصْلُ كُلِّ دَاءٍ الْبَرَدَةُ] رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ عَنْ أَنَسٍ وَابْنِ السُّنِّيِّ وَأَبُو نُعَيْمٍ عَنْ عَلِيٍّ وَعَنِ ابْنِ سَعِيدٍ وَعَنِ الزُّهْرِيِّ، أَيْ أَصْلُ كُلِّ دَاءٍ مُتَعَلِّقٌ بِالْمَعِدَةِ التُّخْمَةُ وَهِيَ إِدْخَالُ الطَّعَامِ عَلَى الطَّعَامِ وَكَذَا شُرْبُ الْمَاءِ عَقِبَ الطَّعَامِ أَوْ بَيْنَ الطَّعَامَيْنِ قَبْلَ هَضْمِ الْأَوَّلِ.
(Dan yang ke tiga: Adalah janganlah kamu membebani perutmu dengan makanan yang tidak mampu menanggungnya) Telah bersabda ﷺ: [Pangkal setiap penyakit adalah terlalu kenyang] Telah merwayatkan hadits ini Imam Ad-Daruqutni dari Anas dan Ibnu Sunni dan Abu Nuaim dari Ali dan dai Ibnu Sa'id dan dari Zuhri. Maksudnya pangkal setiap penyakit yang berhubungan dengan pencernaan adalah kenyang yaitu memasukkan makanan di atas makanan dan begitu juga meminum air setelah makan atau meminum air di antara dua kali makan sebelum dicerna makanan yang pertama.
(وَالرَّابِعَةُ: لَا تَجْمَعْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَا يَنْفَعُكَ) قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَأَخَافَ أَنْ أُضَيِّعَهُ، فَقَالَ: كَفَى بِتَرْكِكَ لِلْعِلْمِ إِضَاعَةً. وَقَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مِنْ مَكَايِدِ الشَّيْطَانِ تَرْكُ الْعَمَلِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ إِنَّهُ لَمُرَاءٍ لِأَنَّ تَطْهِيرَ الْعَمَلِ مِنْ نَزَعَاتِ الشَّيْطَانِ بِالْكُلِّيَّةِ مُتَعَذِّرٌ، فَلَوْ وَقَّفْنَا الْعِبَادَةَ عَلَى الْكَمَالِ لَتَعَذَّرَ الِاشْتِغَالُ بِشَيْءٍ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَذَلِكَ يُوجِبُ الْبَطَالَةَ الَّتِي هِيَ أَقْصَى غَرَضِ الشَّيْطَانِ، وَلِذَا قَالَ بَعْضُهُمْ: سِيرُوا إِلَى اللَّهِ عُرْجًا وَمَكَاسِیْرَ.
(Dan yang ke empat: Adalah janganlah kamu mengumpulkan ilmu yang tida bermanfaat padamu) Telah berkata seorang lelaki kepada Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu: Sesungguhnya aku ingin mencari ilmu dan aku takut menyia-nyiakan ilmu kemudian Abu Huroiroh berkata: Cukuplah dengan meninggalkannya kamu pada ilmu menjadi sia-sia. Telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anu: Sebagian dari tipu daya setan adalah meninggalkan amal karena taku berkata para manusia sungguh orang itu benar-benar ria karena sesungguhnya mensucikan amal-amal dari godaan setan secara keseluruhan itu sulit. Andai kita mengsyaratkan pada ibadah atas kesempurnaan maka pasti kesulitan menyibukkan satu perkara dari ibadah dan hal itu bisa mengakibatkan bermalas-malasan yang bermalas malasan itu adalah puncak dari tujuan setan. Karena itu berkata sebagian ulama: Berjalanlah kalaian menuju Allah sambil terpincang-pincang dan patah.
وَقَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظَمَتْ قِيمَتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ اهُ.
Dan telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anhu: Barangsiapa yang mempelajari Al-Qur'an maka pasti agung nilainya dan barang siapa yang mempelajari ilmu fekih maka pasti mulia kedudukannya dan barang siapa yang menulis hadits maka pasti kuat hujjahnya orang itu dan barang siapa mempelajari ilmu hisab maka pasti banyak idenya dan barang siapa yang mempelajari bahasa Arab maka pasti menjadi lemah lembut sifatnya dan barang siapa yang tidak menjaga dirinya sendiri maka pasti tidak bermanfaat padanya ilmunya. Sampai sini perkataan Imam Syafi'i berakhir.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 24
(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَسَيِّدًا وَحَصُورًا﴾ [آلِ عِمْرَانَ: الْآيَةَ ٣٩]) أَيْ لَا يَرْغَبُ فِي النِّسَاءِ لَا لِعَجْزٍ بَلْ لِمَنْعِ الشَّهْوَةِ فَقَطْ (﴿وَنَبِيًا مِنَ الصَلِحِينَ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: الْآيَةَ ٣٩]) قَالَ - أَيْ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ -: (ذَكَرَ اللَّهُ) سَيِّدَنَا (يَحْيَى) عَلَيْهِ السَّلَامُ (سَيِّدًا وَهُوَ عَبْدُهُ) تَعَالَى (لِأَنَّهُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (كَانَ غَالِبًا عَلَى أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: عَلَى الْهَوَى وَعَلَى إِبْلِيسَ وَعَلَى اللِّسَانِ وَعَلَى الْغَضَبِ).
Maqolah yang ke dua puluh empat (Dari Muhammad bin Ahmad Rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah Azza Wajalla: ﴾Sebagai sayid dan sebagai orang yang menahan diri﴿ [Ali Imran: Ayat 39]) Maksudnya Nabi Yahya tidak memiliki hasrat terhadap wanita, bukan karena ketidakmampuannya, tetapi untuk mencegah syahwat saja (﴾Dan sebagai Nabi dari golongan orang-orang sholeh﴿ [Ali Imran: Ayat 39]) Telah berkata-Maksudnya Syeikh Muhammad-: (Telah menyebutkan Allah) kepada tuan kita (Nabi Yahya) Alaihis Salam (Sebagai Sayid sedangkan Nabi Yahya adalah hamba Allah) Ta'ala (Karena sesungguhnya Nabi Yahya) Alaihis Salam (Terbukti menang atas empat perkara: Menang atas hawa nafsu dan menang atas Iblis dan menang atas lisan dan menang atas emosi).
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 25
(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (لَا يَزَالُ الدِّينُ وَالدُّنْيَا قَائِمَيْنِ) أَيْ ظَاهِرَيْنِ (مَا دَامَتْ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ) فَمَا مَصْدَرِيَّةٌ ظَرْفِيَّةٌ، وَدَامَ تَامٌّ بِمَعْنَى بَقِيَ (مَا دَامَ الْأَغْنِيَاءُ لَا يَبْخَلُونَ بِمَا خُوِّلُوْا) بِالْبِنَاءِ لِلْمَجْهُولِ أَيْ لَا يَمْنَعُونَ مِنْ إِعْطَاءِ السَّائِلِ مِمَّا أَعْطَاهُمْ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا يَمْنَعُونَ الْوَاجِبَ عَلَيْهِمْ (وَمَا دَامَ الْعُلَمَاءُ يَعْمَلُونَ بِمَا عَلِمُوا) مِنَ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ (وَمَا دَامَ الْجُهَلَاءُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَمَّا لَمْ يَعْلَمُوا) أَيْ لَا يُعْرِضُونَ وَلَا يَمْتَنِعُونَ مِنْ تَعَلُّمِ مَا لَمْ يَعْلَمُوا (وَمَا دَامَ الْفُقَرَاءُ لَا يَبِيعُونَ آخِرَتَهُمْ بِدُنْيَاهُمْ) أَيْ مَا دَامُوا لَا يَتْرُكُونَ الدِّينَ بِأَخْذِ الدُّنْيَا.
Maqolah yang ke dua puluh lima (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Tidak akan berhenti agama dan dunia yang tegak keduanya) Maksudnya yang nampak keduanya (Selagi masih langgeng empat perkara) Lafadz مَا pada lafadz مَا دَامَتْ adalah مَا masdariyah dhorfiyah dan lafadz دَامَ adalah tam dengan ma'na langgeng (Selagi masih langgeng orang-orang kaya itu mereka tidak pelit atas perkara yang di amanatkan kepada mereka) Lafadz خُوِّلُوْا dengan bina majhul maksudnya mereka tidak menahan dari memberi kepada orang yang meminta dari perkara yang telah memberikan kepada mereka oleh Allah Ta'ala dan mereka tidak menahan pada kewajiban atas mereka (Dan selagi masih langgeng para ulama itu mereka mengamalkan pada perkara yang mereka tahu) Dari perintah dan larangan (Dan selagi masih langgeng orang-orang bodoh itu mereka tidak sombong tentang perkara yang mereka tidak tahu) Maksudnya mereka tidak menolak dan mereka tidak menahan diri dari mempelajari perkara yang tidak mereka ketahui (Dan selagi masih langgeng orang-orang fakir itu mereka tidak menjual pada akhirat mereka dengan dunia mereka) Maksudnya selagi masih langgeng orang-orang fakir itu mereka tidak meninggalkan agama dengan mengambil dunia.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 26
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَحْتَجُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَرْبَعَةِ أَنْفُسٍ) أَيْ أَشْخَاصٍ (عَلَى أَرْبَعَةِ أَجْنَاسٍ مِنَ النَّاسِ) فَيَحْتَجُّ اللَّهُ الْعَظِيمُ (عَلَى الْأَغْنِيَاءِ بِسُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ) عَلَيْهِمَا السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِالْأَمْوَالِ وَبِالْمَمْلَكَةِ قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: فَأَيُّ مَمْلَكَةٍ أَكْبَرُ مِنْ مَمْلَكَةِ سُلَيْمَانَ وَأَيُّ مَالٍ أَكْثَرُ مِنْ مَالِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.
Maqolah yang ke dua puluh enam (Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala itu berhujjah pada hari kiamat dengan empat orang) Maksudnya individu (kepada empat kelompok dari manusia) Maka berhujjah Allah yang maha agung (Kepada orang-orang kaya dengan Nabi Sulaiman bin Daud) Alaihimas Salam seperti Allah berfirman kepada orang-orang kaya: kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: Kami disibukkan dengan harta-harta dan kerajaan maka Allah berfirman kepada mereka: kerajaan manakah yang lebih besar daripada kerajaan Sulaiman dan harta manakah yang lebih banyak daripada hartanya Sulaiman dan Sulaiman itu tidak meninggalkan ibadah.
(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْعَبِيدِ بِيُوسُفَ) كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِخِدْمَةِ سَادَاتِنَا، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي يُوسُفُ تَحْتَ عَزِيزِ مِصْرَ وَامْرَأَتِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.
(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada para hamba sahaya dengan Nabi Yusuf) Seperti Allah berfirman kepada para hamba sahaya: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan berkhidmah kepada tuan-tuan kami, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Yusuf itu ada di bawah kekuasaan raja mesir dan istrinya raja mesir dan Yusuf itu tidak meninggalkan ibadah.
(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْمَرْضَى بِأَيُّوبَ) عَلَيْهِ السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمَ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَرْضَى، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي أَيُّوبُ مَرِضَ مَرَضًاً شَدِيدًاً وَهُوَ لَمْ يَتْرُكْ الْعِبَادَةَ.
(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang sakit dengan Nabi Ayyub) Alaihis Salam Seperti Allah berfirman kepada orang-orang sakit: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami sakit, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Ayyub itu sakit dengan penyakit yang sangat berat dan Ayyub itu tidak meninggalkan ibadah.
(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْفُقَرَاءِ بِعِيسَى]) كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَھُمْ: لِمَ تَرَکْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِمَشَقَّةِ الْفَقْرِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ: عَبْدِي عِيسَى أَفْقَرُ مَنْ فِي الْأَرْضِ وَهُوَ لَمْ يَمْلِكْ شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا فَلَيْسَ لَهُ بَيْتٌ وَلَا مَالٌ وَلَا زَوْجَةٌ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.
(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang-orang fakir dengan Nabi Isa]) Seperti Allah berfirman kepada orang-orang fakir: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan beratnya menanggung kemiskinan , maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Isa adalah sefakir-fakirnya orang yang ada di atas bumi dan Isa itu tidak memiliki apapun dari dunia dan tidak ada baginya rumah dan tidak ada baginya harta dan tidak ada baginya istri dan Isa itu tidak meninggalkan ibadah.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 27
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ سَعْدِ بْنِ هِلَالٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ) أَيْ صَارَ ذَا ذَنْبٍ (مَنَّ اللَّهُ تَعَالَى) أَيْ أَنْعَمَ (عَلَيْهِ بِأَرْبَعِ خِصَالٍ: لَا يَحْجُبُ عَنْهُ الرِّزْقَ) أَيْ لَا يَمْنَعُهُ مِنَ الرِّزْقِ (وَلَا يَحْجُبُ عَنْهُ الصِّحَّةَ) أَيْ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ صِحَّةِ الْبَدَنِ (وَلَا يُظْهِرُ عَلَيْهِ الذَّنْبَ) بَلْ يَسْتُرُهُ (وَلَا يُعَاقِبُهُ عَاجِلًا) أَيْ فِي السَّاعَةِ الْحَاضِرَةِ بَلْ يُمْهِلُهُ وَلَا يُهْمِلُهُ.
Maqolah yang ke dua puluh tujuh (Dari Sa'd bin Hilal Rahimahullah: Sesungguhnya seorang hamba ketika berbuat dosa) Maksudnya jadi memiliki dosa (Maka memberikan anugrah Allah Ta'ala) Maksudnya memberikan nikmat (Kepada orang yang berbuat dosa dengan empat perkara: Allah tidak akan menutup darinya rezeki) Maksudnya Allah tidak akan mencegah pada orang yang berbuat dosa dari rizki (Dan Allah tidak akan menutup darinya kesehatan) Maksudnya Allah tidak akan mencegah pada orang yang berbuat dosa dari kesehatan badan (Allah tidak akan menampakkan atasnya dosa) Bahkan Allah menutup dosa orang yang berbuat dosa (Dan Allah tidak akan menyiksanya di dunia) Maksudnya di waktu sekarang bahkan Allah memberikan kesempatan taubat kepada orang yang berdosa dan Allah tidak abai pada orang yang berdosa.
وَحُكِيَ أَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ أَعْطَى أُمَّةَ مُحَمَّدٍ أَرْبَعَ كَرَامَاتٍ مَا أَعْطَانِيهَا: إِحْدَاهَا: قَبُولُ تَوْبَتِي كَانَ بِمَكَّةَ، وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَتُوبُونَ فِي كُلِّ مَكَانٍ فَيُقْبَلُ تَوْبَتُهُمْ. وَالثَّانِيَةُ: أَنِّي كُنْتُ لَابِسًا، فَلَمَّا عَصَيْتُ جَعَلَنِي عُرْيَانًا وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ عُرَاةً فَيُلْبِسُهُمْ. وَالثَّالِثَةُ: لَمَّا عَصَيْتُ فَرَّقَ بَيْنِي وَبَيْنَ امْرَأَتِي وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ اللَّهَ وَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَزْوَاجِهِمْ. وَالرَّابِعَةُ: أَنِّي عَصَيْتُ فِي الْجَنَّةِ فَأَخْرَجَنِي مِنْهَا وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ اللَّهَ تَعَالَى خَارِجَ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلُهُمْ فِيهَا إِذَا تَابُوا.
Dihikayatkan sesungguhnya Nabi Adam Alaihis Salam bersabda: Sesungguhnya Allah itu telah memberikan kepada umat Nabi Muhammad empat kemuliaan yang Allah tidak memberikan kepadaku kemuliaan itu: Salah satu dari empat kemuliaan itu: Adalah penerimaan taubatku itu berada di mekkah, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bertaubat di setiap tempat kemudian diterima taubatnya umat Nabi Muhammad. Yang kedua: Adalah sesungguhnya Aku itu berpakaian, ketika aku bermaksiat maka Allah membuatku telanjang, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat dalam keadaan telanjang, maka Allah memberi pakaian kepada mereka. Dan yang ketiga: Adalah ketika aku bermaksiat, Allah memisahkan antara aku dan antara istriku, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat kepada Allah, dan Allah tidak memisahkan antara mereka dan antara istri-istri mereka. Dan yang keempat: Adalah sesungguhnya aku itu bermaksiat di surga, kemudian Allah mengeluarkanku dari surga, Sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat kepada Allah Ta'ala di luar Surga, kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga jika mereka bertaubat.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 28
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَرَفَ أَرْبَعًا إِلَى أَرْبَعٍ وَجَدَ الْجَنَّةَ) أَيْ مَنْ تَرَكَ أَرْبَعًا وَتَوَجَّهَ إِلَى أَرْبَعٍ وَجَدَ الْجَنَّةَ (النَّوْمَ إِلَى الْقَبْرِ) بِأَنْ تَرَكَ رَاحَةَ النَّوْمِ وَتَوَجَّهَ إِلَى رَاحَتِهِ فِي الْقَبْرِ بِأَنْ عَمِلَ صَالِحًا لِأَجْلِهِ (وَالْفَخْرَ إِلَى الْمِيزَانِ) بِأَنْ تَرَكَ التَّطَاوُلَ عَلَى النَّاسِ بِتَعْدِيدِ الْمَنَاقِبِ وَتَوَجَّهَ إلَى عَمَلِ الْحَسَنَاتِ لِأَجْلِ زِيَادَتِهَا فِي الْمِيزَانِ (وَالرَّاحَةَ إلَى الصِّرَاطِ) بِأَنْ تَرَكَ رَاحَةَ الْبَدَنِ وَتَوَجَّهَ إلَى عَمَلٍ يُسْرِعُ الْمُرُورَ عَلَى الصِّرَاطِ وَذَلِكَ بِإِسْرَاعِ اجْتِنَابِ الْمَعَاصِي (وَالشَّهْوَةَ إلَى الْجَنَّةِ) بِأَنْ تَرَكَ الشَّهْوَةَ وَتَوَجَّهَ إلَى مَشَقَّاتِ الْعِبَادَاتِ فَإِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ كَمَا فِي الْحَدِيثِ.
Maqolah yang ke dua puluh delapan (Dari Hatim Al-Ashom Rahimahullah sesungguhnya Hatim Al-Ashom berkata: Barang siapa memalingkan empat menuju empat maka ia pasti akan menemukan surga) Maksudnya barang siapa yang meninggalkan empat kemudian ia menghadap pada empat makak pasti ia akan menemukan surga (Memalingkan tidur menuju qubur) Dengan cara ia meninggalkan kenikmatan tidur kemudian ia menghadap pada kenikmatan tidur di dalam qubur dengan mengamalkan amalan sholeh karena arah-arah kenikmatan tidur di dalam qubur (Dan memalingkan kebanggaan menuju timbangan) Dengan cara ia meninggalkan bersombong-sombong kepada manusia dengan menghitung-hitung kebaikan kemudian ia menghadap menuju amal yang baik-baik karena arah-arah menambah amal kebaikan pada timbangan (Dan memalingkan kenikmatan menuju sirot) Dengan cara ia meninggalkan kenikmatan badan kemudian ia menghadap menuju amalan yang bisa mempercepat lewat di atas sirot dan amalan itu adalah dengan cepat menjauhi maksiat (Dan memalingkan syahwat menuju surga) Dengan cara ia meninggalkan syahwat kemudian ia menghadap menuju beratnya ibada karena sesungguhnya surga itu dikelilingi dengan perkara-perkara yang di benci sebagaimana dalam hadits.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 29
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَامِدٍ اللَّفَّافِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأُمُورِ (طَلَبْنَاهَا فِي أَرْبَعَةٍ) مِنَ الْمَسَالِكِ (فَأَخْطَأْنَا طُرُقَهَا) أَيْ تِلْكَ الْأُمُورِ الْأَرْبَعَةِ (فَوَجَدْنَاهَا فِي أَرْبَعَةٍ أُخْرَى) مِنَ الْمَسَالِكِ (طَلَبْنَا الْغِنَى) أَيْ الْيَسَارَ (فِي الْمَالِ فَوَجَدْنَاهُ) أَيْ الْغِنَى (فِي الْقَنَاعَةِ) أَيْ فِي الرِّضَا بِالْقِسْمَةِ وَفِي سُكُونِ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ (وَطَلَبْنَا الرَّاحَةَ) أَيْ زَوَالَ الْمَشَقَّةِ (فِي الثَّرْوَةِ) أَيْ كَثْرَةِ الْمَالِ (فَوَجَدْنَاهَا فِي قِلَّةِ الْمَالِ، وَطَلَبْنَا اللَّذَّاتِ) بِحَلَاوَةِ الذَّوْقِ وَنُورِ الْبَصَرِ وَحُضُورِ الْمَرْجُوِّ (فِي النِّعْمَةِ) وَهِيَ مَا قُصِدَ بِهِ النَّفْعُ (فَوَجَدْنَاهَا) أَيْ اللَّذَّاتِ (فِي الْبَدَنِ الصَّحِيحِ. وَطَلَبْنَا الْعِلْمَ فِي بَطْنٍ شِبْعٍ فَوَجَدْنَاهُ فِي بَطْنٍ جَائِعٍ) وَفِي نُسْخَةٍ: وَطَلَبْنَا الرِّزْقَ فِي الْأَرْضِ فَوَجَدْنَاهُ فِي السَّمَاءِ، أَيْ مَقْسُومًا فِي السَّمَاءِ.
Maqolah yang ke dua puluh sembilan (Dari Hamid Al-Lafaf Rahimahullah sesungguhnya Hamid Al-Lafaf berkata: Empat) Dari perkara (Yang telah kami cari padanya dalam empat) Dari jalur (Kemudian kami salah pada jalannya) Maksudnya perkara itu yang empat (Ternyata kami menemukan pada perkara itu dalam empat yang lain) Dari jalur-jalur (Kami mencari kekayaan) Maksudnya kemudahan (Dalam harta ternyata kami menemukan kekayaan itu) Maksudnya kekayaan (Dalam keadaan qona'ah) Maksudnya dalam keadaan ridho atas bagian dari Allah dan dalam keadaan tenangnya hati dari tidak adanya yang dibutuhkan (Dan kami mencari ketenangan) Maksudnya hilangnya kesusahan (Dalam harta yang banyak) Maksudnya banyaknya harta (Ternyata kami menemukan ketenangan itu dalam keadaan sedikitnya harta, dan kami mencari kelezatan-kelezatan) Atas manisnya rasa dan terangnya penglihatan dan hadirnya yang diinginkan (Dalam kenikmatan) Nikamat adalah perkara yang dituju dengannya manfaat (Ternyata kami menemukan kelezatan-kelezatan itu) Maksudnya kelezatan-kelezatan (Dalam keadaan badan yang sehat. Dan kami mencari ilmu dalam keadaan perut yang kenyang ternyata kami menemukan ilmu itu dalam keadaan perut yang lapar) Dan dalam salinan matan: Dan kami mencari rizki di bumi ternyata kami menemukan rizki itu di langit maksudnya yang dibagi di langit.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 30
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّلَاثُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ قَلِيلُهَا كَثِيرٌ) فَيَتَأَذَّى النَّاسُ بِذَلِكَ الْقَلِيلِ (الْوَجَعُ) أَيْ الْأَلَمُ (وَالْفَقْرُ) أَيْ فَقْدُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ (وَالنَّارُ وَالْعَدَاوَةُ) أَيْ قَصْدُ الْإِضْرَارِ الْمُتَمَكِّنِ فِي الْقَلْبِ.
Maqolah yang ke tiga puluh (Dari Ali Radhiallahu Anhu sesungguhnya ia berkata: Empat perkara yang sedikitnya empat perkara itu adalah banyak) Sehingga merasa sakit manusia dengan yang sedikit itu (Sakit) Maksudnya sakit (Dan kemiskinan) Maksudnya tidak adanya perkara yang ia membutuhkan pada perkara itu (Dan api dan musuh-musuh) Maksudnya yang bertujuan mencelakai yang menetap di dalam hati.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الْإِيمَانِ بِاَللَّهِ تَعَالَى التَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ]. وَقَالَ سَيِّدُنَا سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِابْنِهِ: لَا تَسْتَكْثِرْ أَنْ يَكُونَ لَكَ أَلْفُ صَدِّيقٍ فَالْأَلْفُ قَلِيلٌ وَلَا تَسْتَقِلَّ أَنْ يَكُونَ لَكَ عَدُوٌّ وَاحِدٌ فَالْوَاحِدُ كَثِيرٌ.
Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Pangkalnya akal sesudah iman kepada Allah adalah menunjukkan rasa kasih sayang kepada manusia] Dan telah bersabda Nabi Sulaiman Alaihis Salam kepada anaknya: Janganlah kamu menganggap banyak jika ada bagimu seribu teman karena seribu itu adalah sedikit dan janganlah kamu menganggap sedikit jika ada bagimu musuh yang hanya satu karena satu itu adalah banyak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar