MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 27 April 2026

KITAB NASHOIHUL IBAD BAB 10 MAQALAH 26-29

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 26

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (عَنْ شَقِيْقِ الْبَلْخِيِّ أَنَّهُ قَالَ: كَانَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ يَمْشِي فِي أَسْوَاقِ الْبَصْرَةِ فَاجْتَمَعَ النَّاسُ إلَيْهِ قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ حِينَ سَأَلُوهُ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿أُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾ [غافر: الْآيَةُ ٦٠]: وَإِنَّا) مُنْذُ دَهْرٍ (نَدْعُو فَلَمْ يُسْتَجَبْ لَنَا،

Maqolah yang kedua puluh enam (Dari Syaqiq Al-Balkhi sesungguhnya dia berkata: Ada Ibrahim bin Adham dia berjalan di pasar-pasar Basroh kemudian berkumpullah manusia kepadanya. Berkatalah Ibrahim Bin Adham ketika manusia bertanya kepadanya tentang firman Allah Ta'ala ﴾Berdoalah kalian kepadaku niscaya akan aku ijabah untuk kalian [Q.S Ghofir: Ayat 60]﴿ Dan sesungguhnya kami) Sejak waktu yang lama (Berdoa tapi tidak di ijabah untuk kami

فَقَالَ:) أَيْ إِبْرَاهِيمُ: يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ لِأَنَّهُ قَدْ (مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ عَشَرَةِ أَشْيَاءَ) فَكَيْفَ يُسْتَجَابُ دُعَاؤُكُمْ: أَوَّلُهَا أَنَّكُمْ (عَرَفْتُمُ اللّٰهَ) أَنَّهُ خَالِقُكُمْ وَرَازِقُكُمْ (وَلَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ) بِأَنْ لَمْ تَعْبُدُوهُ كَمَا أَمَرَكُمْ.

Maka berkata:) Maksudnya Ibrahim: Wahai Ahlul Basroh Karena sesungguhnya benar-benar (Telah mati hati kalian sebab sepuluh perkara) Maka bagaimana diijabah do'a kalian?: Yang pertama dari sepuluh adalah sesungguhnya kalian (Mengenal kepada Allah) Sesungguhnya Allah adalah dzat yang menciptakan kalian dan dzat yang memberi rizqi kepada kalian (sedangkan kalian tidak menunaikan kewajiban kepada Allah) dengan cara kalian tidak menyembah Allah sebagaimana Allah telah perintahkan kepada kalian

(وَ) الثَّانِي أَنَّكُمْ (قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللّٰهِ وَلَمْ تَعْمَلُوا بِهِ) أَيْ بِمَضْمُونِهِ.

(Dan) Yang kedua, sesungguhnya kalian (Membaca Kitabullah sedangkan kalian tidak mengamalkannya) Maksudnya dengan kandungan Al-Qur'an

(وَ) الثَّالِثُ: أَنَّكُمْ (اِدَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ إبْلِيسَ وَوَالَيْتُمُوهُ) أَيْ تَابَعْتُمُوهُ فِي أَوَامِرِهِ.

(Dan) Yang ketiga: Sesungguhnya kalian (Mengklaim memusuhi iblis sedangkan kalian berkawan kepadanya) Maksudnya kalian mengikutinya dalam perintah-perintahnya

(وَ) الرَّابِعُ: أَنَّكُمْ (اِدَّعَيْتُمْ حُبَّ الرَّسُولِ وَتَرَكْتُمْ أَثَرَهُ) أَيْ عَمَلَهُ (وَسُنَّتَهُ) أَيْ طَرِيقَتَهُ فَلَمْ تَقْتَدُوا بِهِ.

(Dan) Yang keempat: Sesungguhnya kalian (Mengklaim cinta Rasul sedangkan kalian meninggalkan atsarnya) Maksudnya amalannya (Dan sunnahnya) Maksudnya cara hidupnya sehingga kalian tidak mengikutinya

(وَ) الْخَامِسُ: أَنَّكُمْ (اِدَّعَيْتُمْ حُبَّ الْجَنَّةِ وَلَمْ تَعْمَلُوا لَهَا) أَيْ لَمْ تَعْمَلُوا الْعَمَلَ الْمُوصِلَ إِلَيْهَا .

(Dan) Yang kelima: Sesungguhnya kalian (Mengklaim cinta surga sedangkan kalian tidak beramal untuknya) Maksudnya kalian tidak mengerjakan amalan yang dapat menghantarkan pada surga

(وَ) السَّادِسُ: أَنَّكُمْ (اِدَّعَيْتُمْ خَوْفَ النَّارِ وَلَمْ تَنْتَهُوا عَنِ الذُّنُوبِ) أَيْ الْمُوْقِعَاتِ فِي النَّارِ.

(Dan) Yang keenam: Sesungguhnya kalian (Mengklaim takut neraka sedangkan kalian tidak berhenti dari dosa-dosa) Maksudnya yang menjerumuskan ke dalam neraka

(وَ) السَّابِعُ: أَنَّكُمْ (اِدَّعَيْتُمْ) أَيْ اعْتَقَدْتُمْ (أَنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ) أَيْ وَاقِعٌ لَا بُدَّ مِنْهُ (وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ) أَيْ لَمْ تَتَأَهَّبُوا بِإِتْيَانِ الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَجْلِهِ.

(Dan) Yang ketujuh: Sesungguhnya kalian (Mengklaim) Yakni kalian mengitikadkan (Bahwa kematian adalah nyata) Yakni terjadi yang tidak dapat dihindari daripadanya (Sedangkan kalian tidak bersiap-siap untuknya) Maksudnya kalian tidak mempersiapkan diri dengan melakukan amal sholih untuk menghadapi kematian

(وَ) الثَّامِنُ: أَنَّكُمْ (اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ غَيْرِكُمْ) بِالِاغْتِيَابِ (وَتَرَكْتُمْ عُيُوبَ أَنْفُسِكُمْ) بِأَنْ لَمْ تُحَاوِلُوا فِي تَطْهِيرِهَا.

(Dan) Yang kedelapan: Sesungguhnya kalian (Sibuk dengan aib-aib orang lain) Dengan cara mengumpat (Sedangkan kalian meninggalkan aib-aib pada diri kalian sendiri) Dengan cara kalian tidak berusaha dalam mensucikan diri

(وَ) التَّاسِعُ: أَنَّكُمْ (تَأْكُلُونَ رِزْقَ اللّٰهِ وَلَا تَشْكُرُونَهُ) فَشُكْرُ الْعَبْدِ لِلّٰهِ تَعَالَى ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ بِذِكْرِ إحْسَانِهِ إلَيْهِ ثُمَّ طَاعَتُهُ لِلَّهِ تَعَالَى.

(Dan) Yang kesembilan: Sesungguhnya kalian (Memakan rizki dari Allah sedangkan kalian tidak bersyukur kepada Allah) Syukurnya seorang hamba kepada Allah Ta'ala adalah memujinya seorang hamba kepada Allah dengan menyebut kebaikan-kebaikan Allah kepadanya tersebut kemudian dia taat kepada Allah Ta'ala

(وَ) الْعَاشِرُ: أَنَّكُمْ (تَدْفِنُونَ مَوْتَاكُمْ) مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ (وَلَا تَعْتَبِرُونَ) أَيْ لَا تَتَّعِظُوْنَ (بِهِمْ) وَلَا تَتَذَكَّرُونَ فَإِنْ كُنْتُمْ تَتَذَكَّرُونَ فَتَرْغَبُونَ بِمَا فِي أَهْلِ الْخَيْرِ وَتَرْهَبُونَ بِمَا فِي أَهْلِ الشَّرِّ.

(Dan) Yang kesepuluh: Sesungguhnya kalian (Mengubur orang-orang mati di antara kalian) Satu persatu (Sedangkan kalian tidak mengambil pelajaran) Maksudnya kalian tidak mengambil nasihat (Dengan orang-orang mati) Dan kalian tidak sadar. Jika kalian sadar maka kalian akan menginginkan dengan apa yang ada pada ahli kebaikan dan kalian akan takut dengan apa yang ada pada ahli keburukan

وَعَنِ ابْنِ أَبِي حَاتِمٍ: [أنَّ جِبْرِيْلَ قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: مَا بُعِثْتُ إِلَى أَحَدٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْكَ أَفَلَا أُعَلِّمُكَ دُعَاءً اِخْتَبَأْتُهُ لَكَ لَمْ أُعَلِّمْهُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ تَدْعُو بِهِ فِي الرَّغْبَةِ وَالرَّهْبَةِ

Dan dari Ibnu Abi Hatim [Sesungguhnya Jibril berkata kepada Nabi ﷺ: Tidaklah aku diutus kepada salah seorang nabi yang lebih disukai olehku daripadamu tidakkah aku beritahukan kepadamu sebuah doa yang telah aku sembunyikan doa tersebut untukmu tidaklah aku beritahukan doa tersebut kepada seorangpun sebelum dirimu. Kamu dapat berdoa dengan doa tersebut dalam keadaan berharap dan dalam keadaan takut

قُلْ: يَا نُورَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَيَا قَيُّومَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَيَا صَمَدَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَيَا زَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَيَا جَمَالَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَيَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ، وَيَا غَوْثَ الْمُسْتَغِيثِينَ وَمُنْتَهَى رَغْبَةِ الْعَابِدِينَ وَمُنَفِّسَ الْكُرَبِ عَنِ الْمَكْرُوبِينَ وَمُفَرِّجَ الْغَمِّ عَنِ الْمَغْمُومِينَ وَصَرِيخَ الْمُسْتَصْرِخِينَ وَمُجِيْبَ سُؤَالِ الْعَابِدِينَ، ثُمَّ تَسْأَلُ اللّٰهَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ].

Ucapkanlah olehmu: Wahai Allah Dzat yang menerangi seluruh langit dan bumi, wahai Allah Dzat yang mendirikan seluruh langit dan bumi, wahai Allah Dzat yang menopang seluruh langit dan bumi, wahai Allah Dzat yang menghiasai seluruh langit dan bumi, wahai Allah Dzat yang memperindah seluruh langit dan bumi, wahai Allah Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Allah Dzat yang menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, wahai Allah Dzat yang menjadi puncak harapan orang-orang yang ahli ibadah, Wahai Allah Dzat yang melonggarkan berbagai kesusahan dari orang-orang yang menerima kesusahan, wahai Allah Dzat yang menghilangkan kesedihan dari orang-orang yang berduka, wahai Allah Dzat yang menolong orang-orang yang memohon pertolongan, wahai Allah Dzat yang mengabulkan permintaan orang-orang yang ahli ibadah. kemudian kamu meminta kepada Allah kebutuhan dari kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat].


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 27

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [مَا مِنْ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ دَعَا بِهٰذَا الدُّعَاءِ فِي لَيْلَةِ عَرَفَةَ أَلْفَ مَرَّةٍ وَهِيَ عَشْرُ كَلِمَاتٍ) أَيْ تَسْبِيحَاتٍ

Maqolah yang kedua puluh tujuh (Telah bersabda Nabi ﷺ: [Tidaklah dari seorang hamba laki-laki atau hamba perempuan berdoa dengan doa ini pada malam Arafah seribu kali dan doa tersebut itu ada sepuluh kalimat) Yakni Tasbih-tasbih

(لَمْ يَسْأَلِ اللّٰهَ شَيْئًا) مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ بَعْدَهَا (إلَّا أَعْطَاهُ سُؤَالَهُ مَا لَمْ يَدْعُ بِقَطِيعَةِ رَحِمٍ أَوْ مَأْثَمٍ، أَوَّلُهَا: سُبْحَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ) أَيْ فِي جِهَةِ الْعُلُوِّ (عَرْشُهُ) فَإِنَّ الْعَرْشَ فَوْقَ الْكُرْسِيِّ وَهُوَ فَوْقَ السَّمَاوَاتِ

(Maka tidaklah dia meminta kepada Allah sesuatupun) Dari kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat setelah membaca sepuluh tasbih tersebut (Melainkan Allah pasti akan memberi padanya permintaan-permintaannya selama dia tidak berdoa untuk memutuskan silaturrahmi atau untuk berbuat dosa. Yang pertama dari sepuluh kalimat tersebut: Adalah Maha suci Allah Dzat yang berada dilangit) Maksudnya di arah yang tinggi (Arsynya) Karena sesungguhnya Arsy itu di atas Kursi dan Kursi di atas seluruh langit

1.

Maksudnya adalah maha suci Allah yang arsynya berada di atas langit.

(سُبْحَانَ الَّذِي فِي الْأَرْضِ مُلْكُهُ وَقُدْرَتُهُ) فَإِنَّ ظُهُورَ مُلْكِهِ تَعَالَى لَنَا فِي الْأَرْضِ

(Maha suci Allah Dzat yang berada di bumi kerajaannya dan kekuasaannya) Karena sesungguhnya nampaknya kerajaan Allah Ta'ala bagi kita itu berada di bumi

1.

Yakni Maha suci Allah yang kerajaan dan kekuasaannya berada di bumi

(سُبْحَانَ الَّذِي فِي الْبَحْرِ سَبِيلُهُ) اَلَّتِي تُوْصِلُ الْعِبَادَ إِلَى جَمِيعِ الْجِهَاتِ لِأَسْبَابِ مَعَايِشِهِمْ

(Maha suci Allah Dzat yang berada di lautan jalannya) Jalan yang bisa menghubungkan hamba-hamba pada semua arah untuk memenuhi sebab-sebab kebutuhan hidup mereka

1.

Yakni Maha suci Allah Dzat yang jalannya berada di laut

(سُبْحَانَ الَّذِي فِي الْهَوَاءِ رَوْحُهُ) فَإِنَّ الرِّيحَ مُسَخَّرٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَمَعْدِنُهُ فِي الْأَرْضِ الثَّالِثَةِ الرَّوحُ بِالْوَاوِ أَصْلٌ لِلرِّيحِ بِالْيَاءِ وَيُصَغَّرُ عَلَى رُوَيْحَةَ وَجَمْعُهُ أَرْوَاحٌ وَرِيَاحٌ

(Maha suci Allah Dzat yang berada di awang-awang anginnya) Karena sesungguhnya angin itu ditundukkan di antara langit dan bumi dan sumbernya angin itu di dalam bumi ke tiga. Lafadz اَلرَّوْحُ dengan و adalah asal bagi lafadz اَلرِّيْحُ dengan huruf ي dan ditashghir lafadz اَلرَّوْحُ dengan wazan رُوَيْحَة. Jamak dari lafadz اَلرَّوْحُ adalah أَرْوَاحٌ dan lafadz رِيَاحٌ

(سُبْحَانَ الَّذِي فِي النَّارِ سُلُطَانُهُ) وَلِذَلِكَ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ أَنْ يُعَذِّبَ أَحَدًا مِنَ الْحَيَوَانَاتِ بِالنَّارِ

(Maha suci Allah Dzat yang berada pada api kekuasaannya) Oleh karena itu tidak boleh bagi seseorang dari makhluk-makhluk untuk menyiksa salah satu dari hewan-hewan dengan api.

1.

Yakni Api adalah simbol kekuasaan Allah

(سُبْحَانَ الَّذِي فِي الْأَرْحَامِ عِلْمُهُ) فَلَا يَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ إِلَّا اللّٰهُ تَعَالَى

(Maha suci Allah Dzat yang berada di dalam rahim-rahim ilmunya) Tidaklah mengetahui apa yang ada di dalam rahim-rahim kecuali Allah Ta'ala

(سُبْحَانَ الَّذِي فِي الْقُبُورِ قَضَاؤُهُ) فَلَا يَحْكُمُ مَنْ فِي الْقُبُورِ بِالنِّعْمَةِ وَالنِّقْمَةِ إِلَّا اللّٰهُ تَعَالَى

(Maha suci Allah yang berada di dalam seluruh kubur qodhonya) Maka tidaklah bisa menghukumi kepada orang yang berada di dalam kubur dengan nikmat dan dengan siksa kecuali Allah Ta'ala

(سُبْحَانَ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاءَ بِغَيْرِ عَمَدٍ) كَمَا هُوَ مَرْئِيٌّ لَنَا

(Maha suci Allah Dzat yang mengangkat langit tanpa tiang) Sebagaimana langit tersebut itu terlihat oleh kita

(سُبْحَانَ الَّذِي وَضَعَ الْأَرْضَ) أَيْ بَسَطَ الْأَرْضَ (عَلَى الْمَاءِ فَجَمَدَ،

(Maha suci Allah Dzat yang menempatkan bumi) Yakni membentangkan bumi (Di atas air sehingga menjadi keras)

سُبْحَانَ الَّذِي لَا مَلْجَأَ) أَيْ لَا اعْتِصَامَ (وَلَا مَنْجَا) أَيْ لَا مَخْلَصَ (مِنْهُ) أَيْ مِنْ عَذَابِ اللّٰهِ (إِلَّا إِلَيْهِ تَعَالَى).

Maha suci Allah Dzat yang tidak ada tempat perlindungan) Yakni tidak ada tempat bergantung (Dan tidak ada tempat selamat) Yakni tidak ada tempat untuk terlepas (Darinya) Yakni dari adzab Allah.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 28

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ لِإِبْلِيسَ عَلَيْهِ اللَّعْنَةُ: [كَمْ أَحِبَّاؤُكَ مِنْ أُمَّتِيْ؟

Maqolah yang kedua puluh delapan (Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma sesungguhnya dia berkata: Telah bersabda Nabi ﷺ pada suatu hari kepada Iblis Alaihi La'nat: [Berapa banyak kekasih-kekasihmu dari umatku?

قَالَ) أَيْ إِبْلِيسُ: أَحِبَّائِي (عَشَرَةُ نَفَرٍ أَوَّلُهُمْ: الْإِمَامُ الْجَائِرُ) أَيْ اَلظَّالِمُ لِرَعِيَّتِهِ، قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: [مَنْ دَعَا لِظَالِمٍ بِالْبَقَاءِ فَقَدْ أَحَبَّ أَنْ يُعْصَى اللَّهُ فِي أَرْضِهِ].

Dia berkata) Yakni Iblis: Kekasih-kekasihku (Itu ada sepuluh golongan, yang pertama dari sepuluh golongan tersebut: Adalah Imam yang dzolim) Yakni pemimpin yang dzolim kepada rakyatnya. Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Barang siapa yang berdoa untuk pemimpin yang dzolim agar langgeng maka dia benar-benar lebih senang agar Allah didurhakai di buminya].

(وَالْمُتَكَبِّرُ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذُّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ يُسَاقُونَ إلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُوْلُسَ يُسْقُونَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ.

(Orang sombong,) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Akan dikumpulkan orang-orang sombong pada hari kiamat seperti semut kecil dalam wujud manusia, menutupi kepada orang-orang sombong kehinaan dari segala tempat, mereka digiring menuju penjara di dalam neraka jahannam yang dinamakan bulus, mereka diberi minuman dari perasan keringat para penduduk neraka] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi

(وَالْغَنِيُّ الَّذِي لَا يُبَالِي مِنْ أَيْنَ يَكْتَسِبُ الْمَالَ وَفِي مَاذَا يُنْفِقُ،

(Orang kaya yang tidak peduli dari mana dia mendapatkan harta dan ke mana dia membelanjakannya,

وَالْعَالِمُ الَّذِي صَدَّقَ الْأَمِيرَ عَلَى جَوْرِهِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ أَفْتَى بِغَيْرِ عِلْمٍ لَعَنَتْهُ مَلَائكَةُ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ] رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ.

Orang alim yang membenarkan seorang pemimpin atas kedzolimannya,) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang berfatwa tanpa ilmu maka pasti akan melaknat kepadanya malaikat langit dan bumi] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Asakir

(وَالتَّاجِرُ الْخَائِنُ) فِي الْمِكْيَالِ أَوِ الْمِيزَانِ أَوْ فِي غَيْرِ ذٰلِكَ

(Pedagang yang berkhianat) Pada takaran atau pada timbangan atau pada selain itu

(وَالْمُحْتَكِرُ) بِأَنْ يَشْتَرِيَ الْقُوتَ وَمَا يُعِينُ عَلَيْهِ كَاللَّحْمِ وَقْتَ الْغَلَاءِ فَيَحْبِسُهُ لِيَبِيعَهُ بِأَغْلَى مِنْ ذَلِكَ وَقْتَ اشْتِدَادِ حَاجَةِ النَّاسِ إِلَيْهِ.

(Orang yang menimbun,) Dengan cara dia membeli makanan pokok dan membeli apa yang mendukung makanan itu seperti daging pada waktu mahal lalu dia menahan makanan tersebut untuk dia jual makanan tersebut dengan harga yang lebih mahal dari pembeliannya pada waktu sangat mendesaknya kebutuhan manusia pada makanan tersebut.

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [مَنِ احْتَكَرَ طَعَامًا أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَقَدْ بَرِئَ مِنَ اللّٰهِ وَبَرِئَ اللّٰهُ مِنْهُ]،

Telah bersabda Nabi ﷺ: [Barang siapa yang menimbun makanan empat puluh hari maka benar-benar dia telah berlepas diri dari Allah dan Allah berlepas diri darinya].

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: [مَنِ احْتَكَرَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ طَعَامَهُمْ ضَرَبَهُ اللّٰهُ بِالْجُذَامِ وَالْإِفْلَاسِ].

Dan telah bersabda Nabi ﷺ: [Barang siapa yang menimbun atas umat Islam pada makanan-makanan mereka maka pasti Allah akan menimpakan kepadanya dengan penyakit kusta dan kebangkrutan]

(وَالزَّانِي) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّاكُمْ وَالزِّنَا فَإِنَّ فِيهِ أَرْبَعَ خِصَالٍ: يُذْهِبُ الْبَهَاءَ مِنَ الْوَجْهِ وَيَقْطَعُ الرِّزْقَ وَيُسْخِطُ الرَّحْمٰنَ وَيَسْتَوْجِبُ الْخُلُودَ فِي النَّارِ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ.

(Orang yang berzina,) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Jauhilah oleh kalian zina karena sungguh di dalamnya ada empat perkara: Zina menghilangkan cahaya dari wajah, memutus rezeki, Menjadikan Allah murka dan mengharuskan kekekalan di neraka] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni

(وَآكِلُ الرِّبَا) وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ: [إنَّ آكِلَ الرِّبَا يُعَذَّبُ مِنْ حِينِ يَمُوتُ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِالسِّبَاحَةِ فِي بَحْرٍ أَحْمَرَ مِثْلَ الدَّمِ وَأَنَّهُ يُلْقَمُ الْحِجَارَةَ كُلَّمَا أُلْقَمَ حَجَرًا سَبَّحَ بِهِ ثُمَّ عَادَ فَاغِرًا فَاهُ فَيُلْقَمُ آخَرُ وَهٰكَذَا إلَى الْبَعْثِ] وَقَالَ قَتَادَةُ: إنَّ آكِلَ الرِّبَا يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُونًا.

(Pemakan riba,) Telah datang dalam sebuah hadits: [Sesungguhnya orang yang memakan riba itu akan diadzab dari waktu dia mati samapai hari kiamat dengan berenang di dalam lautan yang merah seperti darah dan sesungguhnya orang yang memakan riba diberi makan batu, setiap kali dia diberi makan batu dia menelannya kemudian dia kembali seraya membuka kedua bahamnya kemudian dia diberi makan batu yang lain dan begitu seterusnya hingga hari kebangkitan] Dan telah berkata imam Qotadah: Sesungguhnya orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila.

(وَالْبَخِيلُ الَّذِي لَا يُبَالِي مِنْ أَيْنَ يَجْمَعُ الْمَالَ) قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: [مَا تَلِفَ مَالٌ فِي بَرٍّ وَلَا بَحْرٍ إِلَّا بِمَنْعِ الزَّكَاةِ].

(Orang pelit yang tidak peduli darimana dia mengumpulkan harta,) Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Tidaklah menjadi rusak suatu harta di daratan dan tidak juga di lautan kecuali dengan sebab menolak zakat].

(وَشَارِبُ الْخَمْرِ الْمُدْمِنُ عَلَيْهَا) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ شَرِبَ خَمْرًا خَرَجَ نُورُ الْإِيمَانِ مِنْ جَوْفِهِ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ.

(Dan orang yang meminum arak yang kecanduan atasnya) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barangsiapa yang meminum khomr maka pasti keluar cahaya keimanan dari hatinya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni.

(ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ) لِإِبْلِيسَ (فَكَمْ أَعْدَاؤُكَ مِنْ أُمَّتِي؟ قَالَ) أَيْ إِبْلِيسُ لِرَسُولِ اللّٰهِ ﷺ: أَعْدَائِي (عِشْرُونَ نَفَرًا أَوَّلُهُمْ أَنْتَ يَا مُحَمَّدُ، فَإِنِّي أُبْغِضُكَ) أَيْ وَأَبْغِضُ أَهْلَ بَيْتِكَ

(Kemudian bersabda Nabi ﷺ:) Kepada Iblis (Berapa banyak musuh-musuhmu dari umatku? Berkata) Yakni Iblis kepada Rasulullah ﷺ: Musuh-musuhku (Itu ada dua puluh golongan yang pertama dari dua puluh golongan tersebut adalah kamu wahai Muhammad, Karena sesungguhnya aku membencimu) Yakni dan aku membenci keluargamu

(وَالْعَالِمُ الْعَامِلُ بِالْعِلْمِ) أَيْ وَسَائِرُ الْأَبْرَارِ

(Dan orang berilmu yang beramal dengan ilmu,) Yakni dan seluruh orang-orang yang berbuat baik

(وَحَامِلُ الْقُرْآنِ) أَيْ حَافِظُهُ (إذَا عَمِلَ بِمَا فِيهِ) قَالَ ﷺ: [حَمَلَةُ الْقُرْآنِ عُرَفَاءُ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالشُّهَدَاءُ قُوَّادُ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَالْأَنْبِيَاءُ سَادَةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ].

(Penghafal Al-Qur'an) Yakni orang yang menghafalkan Al-Qur'an (Apabila dia beramal dengan apa yang terkandung di dalamnya,) Telah bersabda Nabi ﷺ: [Para penghafal Al-Qur'an adalah orang-orang yang terkenal di antara ahli surga pada hari kiamat dan para Syuhada adalah komandan-komandan ahli surga dan para Nabi adalah pemimpin-pemimpin ahli surga]

(وَالْمُؤَذِّنُ لِلّٰهُ فِي خَمْسِ صَلَوَاتٍ) قَالَ ﷺ: [اَلْمُؤَذِّنُ الْمُحْتَسِبُ كَالشَّهِيدِ الْمُتَشَحِّطِ فِي دَمِهِ إذَا مَاتَ لَمْ يُدَوَّدْ فِي قَبْرِهِ]

(Orang yang adzan karena Allah pada lima sholat,) Telah bersabda Nabi ﷺ: [Orang yang adzan yang ikhlas itu seperti orang mati syahid yang berlumuran dengan darah ketika dia mati maka dia tidak akan dimakan ulat di dalam kuburnya ].

أَيْ اَلْمُؤَذِّنُ الَّذِي أَرَادَ بِأَذَانِهِ وَجْهَ اللّٰهِ لَهُ أَجْرٌ كَأَجْرِ الشَّهِيدِ وَلَا تَأْكُلُهُ الْأَرْضُ

Yakni orang yang adzan yang dia mengharapkan dengan adzannya pada keridhoan Allah baginya adalah pahala seperti pahala orang mati syahid dan tidak akan memakan padanya bumi.

(وَمُحِبُّ الْقُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْيَتَامَى) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَلْجُلُوسُ مَعَ الْفُقَرَاءِ مِنَ التَّوَاضُعِ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْجِهَادِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

(Orang yang mencintai orang-orang fakir, orang-orang miskin, dan anak-anak yatim,) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Duduk bersama orang-orang fakir adalah sebagian dari sifat tawadhu, dan itu sebagian dari paling utamanya jihad] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لِكُلِّ شَيْءٍ مِفْتَاحٌ وَمِفْتَاحُ الْجَنَّةِ حُبُّ الْمَسَاكِينِ وَالْفُقَرَاءِ] رَوَاهُ ابْنُ لَآلِ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Bagi segala sesuatu itu ada kunci dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin dan orang-orang fakir] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Laali

(وَذُو قَلْبٍ رَحِيمٍ) فِي جَمِيعِ أُمُورِ عِبَادِ اللّٰهِ لَا سِيَّمَا أَهْلُ الْمَعَاصِي

(Orang yang memiliki hati yang penyayang,) Pada semua urusan-urusan hamba-hamba Allah terutama orang-orang ahli maksiat

(وَالْمُتَوَاضِعِ لِلْحَقِّ) قَالَ الْقُشَيْرِيُّ: وَالتَّوَاضُعُ هُوَ الِاسْتِسْلَامُ لِلْحَقِّ وَتَرْكُ الْاِعْتِرَاضِ عَلَى الْحُكْمِ

(Orang yang tawadhu terhadap kebenaran,) Telah berkata Al-Qusyairi: Rendah hati adalah berserah diri pada kebenaran dan meninggalkan sifat menentang terhadap hukum

(وَشَابٌّ نَشَأَ فِي طَاعَةِ اللّٰهِ تَعَالَى) أَيْ شَابٌّ مُطِيعٌ لِلّٰهِ مِنَ الصِّغَرِ إلَى الْكِبَرِ

(Pemuda yang tumbuh dalam keta'atan kepada Allah Ta'ala,) Yakni seorang pemuda yang taat kepada Allah kecil hingga besar

(وَآكِلُ الْحَلَالِ) قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: لَا يَقْبَلُ اللّٰهُ صَلَاةَ امْرِىءٍ فِي جَوْفِهِ لُقْمَةُ حَرَامٍ

(Orang yang memakan makanan halal,) Telah berkata Ibnu Abbas: Allah tidak akan menerima sholat seseorang yang di dalam perutnya ada satu suap dari makanan haram

(وَالشَّابَّانِ الْمُتَحَابَّانِ فِي اللّٰهِ) أَيْ إلَى أَنْ يَمُوتَا

(Dua anak muda yang saling mencintai karena Allah,) Yakni hingga keduanya mati

(وَالْحَرِيصُ) أَيْ الْمُحَافِظُ (عَلَى الصَّلَاةِ فِي الْجَمَاعَةِ) قَالَ ﷺ: [صَلُّوا خَلْفَ كُلِّ بَرٍّ وَفَاجِرٍ].

(Orang yang bersemangat) Yakni orang yang menjaga (Pada sholat berjamaah,) Telah bersabda Nabi ﷺ: [Sholatlah kalian di belakang setiap orang baik maupun jelek]

(وَاَلَّذِي يُصَلِّي بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ) قَالَ ﷺ: [صَلُّوا مِنَ اللَّيْلِ وَلَوْ أَرْبَعًا صَلُّوا وَلَوْ رَكْعَتَيْنِ مَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ تُعْرَفُ لَهُمْ صَلَاةٌ مِنَ اللَّيْلِ إلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْبَيْتِ قُومُوا لِصَلَاتِكُمْ].

(Orang yang sholat di waktu malam sedangkan manusia tidur,) Telah bersabda Nabi ﷺ: [Sholatlah kalian di malam hari walaupun empat rokaat, sholatlah kalian walaupun dua rokaat. Tiada suatu penghuni rumah yang dikenal bagi mereka sholat di waktu malam melainkan memanggil kepada mereka malaikat yang menjadi juru penyeru: Wahai penghuni rumah bangunlah kalian untuk melaksanakan shalat kalian]

(وَاَلَّذِي يُمْسِكُ نَفْسَهُ عَنِ الْحَرَامِ) فِي الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ

(Orang yang menahan diri dari yang haram,) Dalam ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan

(وَاَلَّذِي يَنْصَحُ) وَفِي رِوَايَةٍ يَدْعُو (لِلْإِخْوَانِ وَلَيْسَ فِي قَلْبِهِ شَيْءٌ) أَيْ مِنَ الْغِشِّ وَالْحِقْدِ وَالْخِدَاعِ.

(Orang yang tulus) Dan dalam satu riwayat, orang yang berdoa (Untuk saudara-saudaranya, dan tidak ada di dalam hatinya sesuatu,) Yakni dari tipu daya, dendam, dan kemunafikan.

قَالَ بِشْرُ بْنُ الْحَرِثِ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ، فَقَالَ: [يَا بِشْرُ أَتَدْرِي لِمَ رَفَعَكَ اللّٰهُ تَعَالَى مِنْ بَيْنِ أَقْرَانِكَ ؟ فَقُلْتُ: لَا، قَالَ: بِاتِّبَاعِكَ لِسُنَّتِيْ وَخِدْمَتِكَ الصَّالِحِيْنَ وَنُصْحِكَ لِإِخْوَانِكَ وَمَحَبَّتِكَ لِأَصْحَابِيْ وَأَهْلِ بَيْتِيْ هٰذَا الَّذِي بَلَّغَكَ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ].

Telah berkata Bisyr Bin Harits: Aku melihat Nabi kemudian Nabi bersabda: [Wahai Bisyr apakah kamu tahu kenapa Allah Ta'ala mengangkat derajatmu di antara teman-temanmu ? kemudian aku berkata: Tidak, kemudian Nabi bersabda: Karena kamu mengikuti sunnahku, karena pengabdianmu kepada orang-orang sholeh, karena ketulusanmu kepada teman-temanmu, dan karena kecintaanmu kepada sahabatku dan ahli baitku inilah yang menghantarkan kamu kepada kedudukan-kedudukan orang-orang yang berbuat baik].

(وَاَلَّذِي يَكُونُ أَبَدًا عَلَى وُضُوءٍ) قَالَ ﷺ: [مَنْ تَوَضَّأَ عَلَى طُهْرٍ كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ]. قَالَ الشَّيْخُ الْحِفْنِيُّ: أَيْ مَنْ تَوَضَّأَ وُضُوءًا مُصَاحِبًا لِطُهْرٍ كُتِبَ لَهُ عَشْرُ وُضُوءَاتٍ وَالْوُضُوءُ بِسَبْعِمِائَةِ حَسَنَةٍ،

(Dan orang yang terbukti senantiasa dalam keadaan berwudhu,) Telah bersabda Rasulullah ﷺ : [Barangsiapa berwudhu dalam keadaan suci, ditulis baginya sepuluh kebaikan]. Telah berkata Syaikh Al-Hifni: Yakni, barangsiapa berwudhu dengan wudhu yang disertai dengan keadaan suci, ditulis baginya sepuluh wudhu, dan setiap wudhu bernilai tujuh ratus kebaikan.

لِأَنَّ أَقَلَّ الْمُضَاعَفَةِ سَبْعُمِائَةٍ زِيَادَةً عَلَى الْعَشْرِ الْمَذْكُورِ فِي قَوْله تَعَالَى: ﴿مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا﴾ [الْأَنْعَامِ: الْآية ١٦٠] عَلَى أَحَدِ الْأَقْوَالِ،

Karena minimalnya penggandaan adalah tujuh ratus, sebagai tambahan atas sepuluh kali yang disebutkan dalam firman Allah Ta'ala: ﴾Barangsiapa yang datang dengan membawa kebaikan, maka baginya sepuluh kali yang semisalnya﴿ [QS. Al-An'am: 160], menurut salah satu dari sekian banyak pendapat.

فَالْوُضُوءُ حَسَنَةٌ فَيُضَاعَفُ بِعَشْرَةٍ ثُمَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْعَشْرِ يُضَاعَفُ بِسَبْعِمِائَةٍ فَيَنْبَغِي الْمُلَازَمَةُ عَلَى هٰذَا الْأَجْرِ الْعَظِيمِ.

Wudhu adalah satu kebaikan, lalu digandakan sepuluh kali, kemudian setiap satu dari sepuluh itu digandakan lagi dengan tujuh ratus kali. maka sepatutnya istiqomah pada pahala yang sangat besar ini.

(وَسَخِيٌّ) فَمَنْ أَعْطَى الْبَعْضَ وَأَبْقَى الْبَعْضَ فَهُوَ صَاحِبُ سَخَاءٍ، وَمَنْ بَذَلَ الْأَكْثَرَ وَأَبْقَى لِنَفْسِهِ شَيْئًا فَهُوَ صَاحِبُ جُودٍ، وَاَلَّذِي قَاسَى الضَّرُورَةَ وَآثَرَ غَيْرَهُ بِالْبُلْغَةِ فَهُوَ صَاحِبُ إِيْثَارٍ، قَالَهُ الْقُشَيْرِيُّ.

(Orang yang dermawan,) Barangsiapa yang memberikan sebagian dan menyisakan sebagian maka dia adalah orang yang memiliki sifat sakhā'. Barangsiapa yang memberikan lebih banyak dan menyisakan untuk dirinya sedikit maka dia adalah orang yang memiliki sifat jūd. Dan barangsiapa yang menahan diri dari kebutuhan yang mendesak dan dia lebih mendahulukan orang lain dengan sesuatu yang mencukupi, dia adalah orang yang memiliki sifat ītsār." Telah mengatakan pada hal ini Imam Al-Qusyairi.

(وَحَسَنُ الْخُلُقِ) وَهُوَ بَسْطُ الْوَجْهِ وَكَفُّ الْأَذَى وَبَذْلُ النَّدَى، وَقِيلَ: هُوَ هَيْئَةٌ لِلنَّفْسِ تَصْدُرُ عَنْهَا الْأَفْعَالُ الْجَمِيلَةُ عَقْلًا وَشَرْعًا بِسُهُولَةٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ.

(Orang yang bagus akhlaknya,) Yaitu orang yang ceria wajahnya, menahan diri dari menyakiti dan memberikan kebaikan, dan dikatakan: Akhlak yang baik adalah sifat dalam hati yang akan muncul darinya perbuatan-perbuatan yang indah menurut akal dan menurut syari'at dengan mudah tanpa perlu berfikir

(وَالْمُصَدِّقُ رَبَّهُ بِمَا ضَمِنَ اللّٰهُ لَهُ) مِنَ الرِّزْقِ. قَالَ فِي رُوحِ الْبَيَانِ: اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ أَرْبَعَةً لَا تَقْبَلُ التَّغَيُّرَ أَصْلًا: الْعُمْرُ وَالرِّزْقُ وَالْأَجَلُ وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ

(Orang yang membenarkan Tuhannya atas apa yang telah Allah jamin baginya,) Dari rezeki. Telah berkata Imam dalam kitab Ruhul Bayan: Telah bersepakat Para ulama bahwa sesungguhnya empat hal itu tidak akan menerima pada perubahan sama sekali: umur, rezeki, ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan.

(وَالْمُحْسِنُ إلَى مَسْتُوْرَاتِ الْأَرَامِلِ) أَيْ اَلْمُحْسِنُ بِالْعَطَاءِ وَغَيْرِهِ لِلنِّسَاءِ الَّتِي لَا أَزْوَاجَ لَهُنَّ وَهُنَّ فَقِيرَاتٌ مَسْتُوْرَاتٌ لَا يَظْهَرْنَ لِلرِّجَالِ.

(Orang yang berbuat baik kepada janda-janda yang tersembunyi,) Yakni orang yang berbuat baik dengan memberi dan selainnya kepada para wanita yang tiada suami bagi mereka, dan mereka miskin, hidup tersembunyi dan mereka tidak menampakkan diri di hadapan laki-laki.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إنَّ السَّاعِيَ عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ أَوِ الْقَائِمِ اللَّيْلِ الصَّائِمِ النَّهَارَ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya orang yang berusaha membantu janda-janda dan orang-orang miskin itu seperti orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang shalat malam dan berpuasa di siang hari]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Muslim.

(وَالْمُسْتَعِدُّ لِلْمَوْتِ) بِإِتْيَانِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ.

(Dan orang yang bersiap untuk menghadapi kematian) Dengan cara melakukan amal-amal sholeh.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 29

(و) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (قَالَ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ) رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى (مَكْتُوبٌ فِى التَّوْرَاةِ) هٰذِهِ الْمَوَاعِظُ السَّبْعَةُ وَالْعِشْرُوْنَ، الْأَوَّلُ: (مَنْ تَزَوَّدَ فِى الدُّنْيَا) لِسَفَرِ الْآخِرَةِ بِالتَّقْوَى وَهُوَ اِجْتِنَابُ كُلِّ مَا يُخَافُ مِنْهُ ضَرَرٌ فِي الدِّينِ (صَارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَبِيْبَ اللّٰهِ).

Maqolah yang kedua puluh sembilan (Telah berkata Wahb bin Munabbih) Rahimahullah Ta'ala: (Tertulis dalam Taurat) Nasihat-nasihat yang berjumlah dua puluh tujuh ini. Pertama: (Barangsiapa yang berbekal di dunia) Untuk perjalanan akhirat dengan ketakwaan, yaitu menjauhi segala sesuatu yang dikhawatirkan darinya marabahaya di dalam agama, (Maka jadilah dia pada hari kiamat kekasih Allah).

(وَ) الثَّانِي (مَنْ تَرَكَ الْغَضَبَ صَارَ فِي جِوَارِ اللّٰهِ) قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: [لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ إنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ]. وَرُوِيَ أَنَّهُ قَالَ: [مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اللّٰهُ عَنْهُ عَذَابَهُ].

(Dan) Yang kedua: (Barangsiapa yang meninggalkan kemarahan, maka dia akan berada dalam perlindungan Allah) Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam pertarungan, sesungguhnya orang yang kuat itu hanya orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah]. Dan diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Barangsiapa yang menahan kemarahannya, maka Allah akan menahan dari orang tersebut Adzab-Nya].

(وَ) الثَّالِثُ (مَنْ تَرَكَ حُبَّ الْعَيْشِ) أَيْ الْحَيَاةِ (فِي الدُّنْيَا) بِأَنْ لَا يُحِبَّ التَّمَتُّعَ فِيهَا (صَارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ آمِنًا) أَيْ سَالِمًا مِنْ عَذَابِ اللّٰهِ.

(Dan) Yang ketiga: (Barangsiapa yang meninggalkan kecintaan terhadap kehidupan) Yaitu kehidupan (Di dunia) Dengan tidak mencintai kenikmatan di dalamnya (Maka dia akan menjadi pada hari Kiamat) Yakni dia selamat dari adzab Allah.

(و) الرَّابِعُ (مَنْ تَرَكَ الْحَسَدَ صَارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَحْمُودًا عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ) قَالَ ﷺ: [وَإِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ ابْنَيْ آدَمَ إنَّمَا قَتَلَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ حَسَدًا].

(Dan) Yang keempat: (Barangsiapa yang meninggalkan hasad maka jadilah dia pada hari Kiamat orang yang dipuji di hadapan seluruh makhluk). Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Hindarilah oleh kalian hasad, karena sesungguhnya dua putra Adam telah membunuh salah satu dari keduanya pada saudaranya sendiri karena hasad].

(وَ) الْخَامِسُ (مَنْ تَرَكَ حُبَّ الرِّيَاسَةِ) أَيْ اَلْمَشْيٍ الْحَسَنِ (صَارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَزِيزًا عِنْدَ الْمَلِكِ الْجَبَّارِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا مِنْ رَجُلٍ يَتَعَاظَمُ فِي نَفْسِهِ وَيَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ إلَّا لَقِيَ اللّٰهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَالْحَاكِمُ.

(Dan) Yang kelima: (Barangsiapa yang meninggalkan kecintaan terhadap kepemimpinan) Yakni perjalanan hidup yang baik (Maka jadilah dia pada hari Kiamat mulia di sisi Allah Sang Raja Yang Maha Perkasa). Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Tidak ada seorang pun yang merasa agung dalam dirinya dan angkuh dalam cara berjalannya melainkan dia akan bertemu Allah dan Allah kepada orang tersebut benar-benar marah]. Telah meriwayatkan pada Hadits ini Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Hakim.

(وَ) السَّادِسُ (مَنْ تَرَكَ الْفُضُولَ) فِي الدُّنْيَا مِنَ الْكَلَامِ وَالْمَالِ وَالْجَاهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمُبَاحَاتِ الَّتِي تُوْقِعُ فِي الْمَعْصِيَةِ وَالْغَفْلَةِ (صَارَ نَاعِمًا فِي الْأَبْرَارِ) أَيْ مُتَوَسِّعًا فِي الْأَطْعِمَةِ مَعَ الْأَبْرَارِ .

(Dan) Yang keenam: (Barangsiapa yang meninggalkan hal-hal yang berlebihan) Di dunia, seperti perkataan, harta, kedudukan, dan hal-hal lainnya dari perkara-perkara mubah yang dapat menjerumuskan ke dalam kemaksiatan dan kelalaian (Maka jadilah dia orang yang berbahagia bersama orang-orang yang berbakti) Yakni Orang yang leluasa menikmati berbagai makanan bersama orang-orang yang berbakti.

(وَ) السَّابِعُ (مَنْ تَرَكَ الْخُصُومَةَ فِي الدُّنْيَا صَارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْفَائِزِيْنَ) أَيْ النَّاجِيْنَ وَالظَّافِرِيْنَ بِالْخَيْرِ.

(Dan) Yang ketujuh: (Barangsiapa yang meninggalkan pertikaian di dunia maka jadilah dia pada hari Kiamat termasuk dari orang-orang yang beruntung) Yakni orang-orang yang selamat dan orang-orang yang memperoleh pada kebaikan.

قَالَ ﷺ: [مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي رُبْضِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ تَرَكَهُ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي وَسَطِهَا، وَمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي أَعْلَاهَا].

Rasulullah ﷺ bersabda: [Barangsiapa yang meninggalkan debat dan dia salah maka akan dibangunkan baginya rumah di pinggiran surga. Barangsiapa yang meninggalkan debat padahal dia benar, akan dibangunkan baginya rumah di tengah surga. Dan barangsiapa yang baik akhlaknya, akan dibangunkan baginya rumah di surga yang paling tinggi].

(وَ) الثَّامِنُ (مَنْ تَرَكَ الْبُخْلَ فِي الدُّنَىا صَارَ مَذْكُورًا عِنْدَ رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَا يَجْتَمِعُ الْإِيمَانُ وَالْبُخْلُ فِي قَلْبِ رَجُلٍ مُؤْمِنٍ أَبَدًا] رَوَاهُ ابْنُ سَعْدٍ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [وَأَيُّ دَاءٍ أَدْوَأُ مِنْ الْبُخْلِ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

(Dan) Yang kedelapan: (Barangsiapa yang meninggalkan sifat kikir di dunia, maka jadilah dia orng yang disebut-sebut di hadapan seluruh makhluk). Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Tidak akan berkumpul keimanan dan kekikiran dalam hati seorang mukmin selamanya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Sa'ad. Dan diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Mana ada penyakit yang lebih parah daripada penyakit kikir] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Muslim.

(وَ) التَّاسِعُ (مَنْ تَرَكَ الرَّاحَةَ فِي الدُّنْيَا) بِأَنْ أَتْعَبَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللّٰهِ تَعَالَى (صَارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَسْرُورًا) فِي دَارِ السَّلَامِ.

(Dan) Yang kesembilan: (Barangsiapa yang meninggalkan kenyamanan di dunia) Dengan bersusah payah pada dirinya dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala (Maka jadilah dia bergembira pada hari Kiamat) di negeri keselamatan.

(وَ) الْعَاشِرُ (مَنْ تَرَكَ الْحَرَامَ) فِي الْمَآكِلِ وَالْمَشَارِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ (صَارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي جِوَارِ الْأَنْبِيَاءِ) عَلَيْهِمْ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

(Dan) Yang kesepuluh: (Barangsiapa yang meninggalkan perkara yang haram) Dalam makanan-makanan, minuman-minuman, pakaian-pakaian, perkataan-perkataan, dan perbuatan-perbuatan (Maka jadilah dia pada hari Kiamat berada di dekat para Nabi) Alaihis Sholat Was-Salam.

(وَ) الْحَادِيَ عَشَرَ (مَنْ تَرَكَ النَّظَرَ فِي الْحَرَامِ فِي الدُّنْيَا أَفْرَحَ اللّٰهُ عَيْنَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الْجَنَّةِ) بِنَظَرِ مَا يَسُرُّهُ مِمَّا لَمْ تَرَ عَيْنٌ وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ وَلَمْ يَخْطُرْ بِبَالٍ

(Dan) Kesebelas: (Barangsiapa yang meninggalkan pandangan kepada yang haram di dunia, maka Allah akan menyenangkan kedua matanya pada hari Kiamat di dalam surga) Dengan melihat sesuatu yang menyenangkannya, dari keindahan-keindahan yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam pikiran.

(وَمَنْ تَرَكَ الْغِنَى فِي الدُّنْيَا وَاخْتَارَ الْفَقْرَ بَعَثَهُ اللّٰهُ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الْوَلِيِّينَ وَالنَّبِيِّينَ).

(Dan barangsiapa yang meninggalkan kekayaan di dunia dan dia memilih kemiskinan, maka Allah Ta'ala akan membangkitkannya pada hari Kiamat bersama para Wali dan Nabi).

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إنْ كُنْتَ تُحِبُّنِي فَأَعِدَّ لِلْفَقْرِ تِجْفَافًا فَإِنَّ الْفَقْرَ أَسْرَعُ إلَى مَنْ يُحِبُّنِي مِنَ السَّيْلِ إلَى مُنْتَهَاهُ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ.

Dan diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Jika engkau terbukti mencintaiku, maka persiapkanlah dirimu menghadapi kefaqiran seperti Tijfaf, karena kemiskinan lebih cepat kepada orang yang mencintaiku daripada aliran air yang mencapai tujuannya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi.

1.

تِجْفَفًا dengan harokat kasrah pada huruf ت bermakna kain tebal yang digunakan untuk melindungi kuda dalam peperangan.

2.

Pelindung Kuda: Sebuah kain tebal atau lapisan pelindung yang diletakkan pada kuda untuk melindunginya dari tusukan senjata seperti tombak, pedang, atau panah selama peperangan.

3.

Simbol Kesiapan: Secara kiasan, kata ini digunakan untuk menggambarkan kesiapan menghadapi kesulitan atau tantangan, seperti kemiskinan atau ujian hidup.

(وَ) الثَّانِيَ عَشَرَ (مَنْ قَامَ بِحَوَائِجِ النَّاسِ فِي الدُّنْيَا قَضَى اللّٰهُ حَوَائِجَهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ) قَالَ ﷺ: [مَنْ قَضَى لِأَخِيهِ الْمُسْلِمِ حَاجَةً كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ كَمَنْ حَجَّ وَاعْتَمَرَ]،

(Dan) Yang kedua belas: (Barangsiapa yang membantu pada kebutuhan-kebutuhan orang lain di dunia maka Allah akan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya di dunia dan akhirat). Telah bersabda Nabi ﷺ: [Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya sesama Muslim, maka ada baginya pahala seperti orang yang menunaikan haji dan umrah].

وَقَالَ ﷺ: [مَنْ قَضَى لِأَخِيهِ الْمُسْلِمِ حَاجَةً كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ كَمَنْ خَدَمَ اللّٰهَ عُمُرَهُ] أَيْ كَمَنْ أَطَاعَهُ كَمَا قَالَهُ الْحِفْنِيُّ: أَيْ كَمَنْ صَلَّى طُولَ عُمُرِهِ فَإِنَّ الصَّلَاةَ هِيَ خِدْمَةُ اللّٰهِ فِي الْأَرْضِ، كَمَا قَالَهُ الْعَزِيْزِيُّ.

Dan Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya sesama Muslim, maka ada baginya pahala seperti orang yang mengabdi kepada Allah sepanjang umurnya]. Maksudnya, seperti orang yang taat kepada Allah, sebagaimana telah mengatakan tentangnya Imam Hifni: Maksudnya, seperti orang yang shalat sepanjang umurnya, karena sesungguhnya shalat adalah pengabdian kepada Allah di bumi, sebagaimana telah mengatakan tentangnya Imam Al-'Azizi.

(وَ) الثَّالِثَ عَشَرَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي قَبْرِهِ مُؤْنِسٌ فَلْيَقُمْ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ وَلْيُصَلِّ صَلَاةَ النَّافِلَةِ وَلَوْ رَكْعَةً).

(Dan) Yang ketiga belas: (Barangsiapa yang ingin ada baginya di dalam kuburnya teman yang menghibur, maka hendaklah dia bangun di kegelapan malam dan melaksanakan shalat sunnah, meskipun hanya satu rakaat).

(وَ) الرَّابِعَ عَشَرَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ فِي ظِلِّ عَرْشِ الرَّحْمٰنِ فَلْيَكُنْ زَاهِدًا) أَيْ مُعْرِضًا بِقَلْبِهِ عَنِ الدُّنْيَا. قَالَ ﷺ: [نَجَا أَوَّلُ هٰذِهِ الْأُمَّةِ بِالزُّهْدِ وَالْيَقِيْنِ وَسَيَهْلِكُ آخِرُهَا بِالْحِرْصِ وَطُولِ الْأَمَلِ].

(Dan) Yang keempat belas: (Barangsiapa yang ingin supaya dia dapat berada di dalam naungan Arsy Ar-Rahman, maka hendaklah dia menjadi seorang zahid) Yaitu orang yang berpaling dengan hatinya dari dunia. Telah bersabda Nabi ﷺ: [Pasti akan selamat generasi awal umat ini karena zuhud dan keyakinan, dan akan binasa generasi akhir umat ini karena ketamakan dan panjang angan-angan].

(وَ) الْخَامِسَ عَشَرَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ حِسَابُهُ يَسِيرًا فَلْيَكُنْ نَاصِحًا لِنَفْسِهِ وَإِخْوَانِهِ) رُوِيَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ قَالَ: [مَنْ لَمْ يَزْدَدْ يَوْمًا بِيَوْمٍ خَيْرًا فَذَلِكَ رَجُلٌ تَجَهَّزَ إلَى النَّارِ عَلَى بَصِيرَةٍ] رَوَاهُ الْعَسْكَرِيُّ.

(Dan) Yang kelima belas: (Barangsiapa yang ingin agar hisabnya menjadi ringan, maka hendaklah dia menjadi orang yang tulus bagi dirinya sendiri dan saudara-saudaranya). Diriwayatkan dari Utsman bin Affan sesungguhnya dia berkata: [Barangsiapa yang tidak bertambah dari hari ke hari kebaikannya, maka dia itu adalah orang yang bersiap-siap menuju neraka dengan penuh kesadaran]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Askari.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ لِأَخِيهِ نُصْحًا فِي نَفْسِهِ فَلْيَذْكُرْهُ لَهُ] رَوَاهُ ابْنُ عَدِيٍّ.

Dan diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Jika menemukan salah seorang dari kalian untuk saudaranya suatu kebaikan dalam dirinya, maka hendaklah dia menyebutkan kebaikan itu kepada saudaranya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Adi.

(وَ) السَّادِسَ عَشَرَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ الْمَلَائِكَةُ زَائِرِيْنَ لَهُ فَلْيَكُنْ وَرِعًا) فَالْوَرَعُ شَرْطٌ فِي اسْتِقَامَةِ الدِّينِ فَأَدْنَى الْوَرَعِ وَرَعُ الْعُدُوْلِ الْمَذْكُورُ فِي الشَّهَادَاتِ وَأَعْلَاهُ وَرَعُ الصَّدِّيقِينَ. قَالَ ﷺ: [خَيْرُ دِينِكُمْ الْوَرَعُ].

(Dan) Yang keenam belas: (Barangsiapa yang ingin agar malaikat menjadi tamu baginya, maka hendaklah dia menjadi seorang wara'). Wara' adalah syarat dalam istiqamah beragama. ؛Paling rendahnya tingkat wara' adalah wara'nya orang-orang adil yang disebutkan dalam bab persaksian, Dan paling tingginya tingkat wara' adalah wara'nya orang-orang shiddiqin. Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Sebaik-baik agama kalian adalah wara].

(وَ) السَّابِعَ عَشَرَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْكُنَ فِي بُحْبُوحَةِ الْجَنَّةِ) أَيْ وَسَطِهَا (فَلْيَكُنْ ذَاكِرًا لِلّٰهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ)

(Dan) Yang ketujuh belas: (Barangsiapa yang ingin tinggal di tengah-tengah surga) Yakni tengah-tengahnya (Maka hendaklah dia menjadi orang yang selalu berdzikir kepada Allah pada waktu siang dan malam).

قَالَ الْقُشَيْرِيُّ: لَا يَصِلُ عَبْدٌ الَى اللّٰهِ تَعَالَى إلَّا بِدَوَامِ الذِّكْرِ وَالذِّكْرُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ذِكْرُ اللِّسَانِ وَذِكْرُ الْقَلْبِ، فَذِكْرُ اللِّسَانِ بِهِ يَصِلُ الْعَبْدُ إلَى اسْتِدَامَةِ ذِكْرِ الْقَلْبِ وَالتَّأْثِيرُ لِذِكْرِ الْقَلْبِ فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ ذَاكِرًا بِلِسَانِهِ وَقَلْبِهِ فَهُوَ الْكَامِلُ فِي وَصْفِهِ فِي حَالِ سُلُوكِهِ.

Telah berkata Imam Al-Qusyairi: Tidak akan sampai seorang hamba kepada Allah kecuali dengan terus-menerus berdzikir. Dzikir itu terbagi menjadi dua jenis: Dzikir lisan dan dzikir hati. Dzikir lisan dengannyalah bisa mencapai seorang hamba pada keteguhan dzikir hati dan pengaruh itu pada dzikir hati. Jika terbukti seorang hamba berdzikir dengan lisannya dan hatinya, maka dia adalah orang yang sempurna dalam sifatnya dalam kondisi perjalanan spiritualnya.

(وَ) الثَّامِنَ عَشَرَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَلْيَتُبْ إلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَصُوحًا) قَالَ الْقُشَيْرِيُّ: التَّوْبَةُ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ السَّالِكِينَ وَأَوَّلُ مَقَامٍ مِنْ مَقَامَاتِ الطَّالِبِينَ.

(Dan) Yang kedelapan belas: (Barangsiapa yang ingin masuk surga tanpa hisab, maka hendaklah dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang tulus). Telah berkata Imam Al-Qusyairi: Taubat adalah tingkatan pertama dari tingkatan-tingkatan orang yang menempuh jalan menuju ridho Allah dan maqam pertama dari maqam-maqam para murid.

قَالَ أَهْلُ الْمَعْرِفَةِ: اغْسِلُوا أَرْبَعًا بِأَرْبَعٍ وُجُوهَكُمْ بِمَاءِ أَعْيُنِكُمْ، وَأَلْسِنَتَكُمْ بِذِكْرِ خَالِقِكُمْ، وَقُلُوبَكُمْ بِخَشْيَةِ رَبِّكُمْ، وَذُنُوبَكُمْ بِالتَّوْبَةِ إلَى مَوْلَاكُمْ.

Telah berkata orang-orang ahlul ma'rifah: Basuhlah oleh kalian empat hal dengan empat hal: wajah-wajah kalian dengan air mata kalian, lidah-lidah kalian dengan dzikir kepada Pencipta kalian, hati-hati kalian dengan rasa takut kepada Tuhan kalian, dan dosa-dosa kalian dengan taubat kepada Tuhan kalian.

(وَ) التَّاسِعَ عَشَرَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ غَنِيًّا فَلْيَكُنْ رَاضِيًا بِمَا قَسَمَ لَهُ اللّٰهُ وَلِغَيْرِهِ مِنَ الْمَالِ وَالْجَاهِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ) قَالَ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زَيْدٍ: اَلرِّضَا بَابُ اللّٰهِ الْأَعْظَمُ وَجَنَّةُ الدُّنْيَا.

(Dan) Yang kesembilan belas: (Barangsiapa yang ingin menjadi kaya, maka hendaklah dia itu ridha dengan apa yang telah Allah bagikan untuknya dan untuk orang lain, dari harta, kedudukan, atau yang lainnya). Telah berkata Abdul Wahid bin Zaid: Ridha adalah pintu Allah yang paling besar dan surga dunia.

(و) الْعِشْرُونَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ مَعَ اللّٰهِ فَقِيهًا فَلْيَكُنْ خَاشِعًا) فِي أُمُورِ دِينِهِ ، أَيْ مُنْقَادًا فِيْهَا لِلْحَقِّ قَابِلًا لَهُ مِنْ أَيِّ قَائِلٍ كَانَ.

(Dan) Kedua puluh: (Barangsiapa yang ingin agar dia terbukti kepada Allah benar-benar faham, maka hendaklah dia menjadi orang yang khusyuk) Dalam urusan-urusan agamanya, Yakni patuh dalam urusan-urusan agama untuk kebenaran seraya menerima pada kebenaran dari siapa pun yang mengatakannya.

(وَ) الْحَادِي وَالْعِشْرُونَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ حَكِيمًا فَلْيَكُنْ عَالِمًا) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ غَدَا أَوْ رَاحَ وَهُوَ فِي تَعْلِيمِ دِيْنِهِ وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ] رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ.

(Dan) Yang kedua puluh satu: (Barangsiapa yang ingin agar dia menjadi orang yang bijaksana, maka hendaklah dia menjadi orang yang berilmu). Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Barangsiapa yang pergi pagi atau sore hari dan dia itu dalam rangka mempelajari agamanya, maka dia itu berada di surga]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim

وَهَذَا مَا يُقَالُ عِنْدَ الْقِيَامِ مِنَ الدَّرْسِ مِنَ الشَّيْخِ عَلِيٍّ الْمَغْرِبِيِّ قَدَّسَ سِرَّهُ: اَللّٰهُمَّ إنِّيْ اِسْتَوْدَعْتُكَ مَا قَرَأْتُهُ فَارْدُدْهُ إلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ إلَيْهِ .

Dan inilah sesuatu yang diucapkan ketika bangkit dari pelajaran dari Syaikh Ali Al-Maghribi, Qoddasa Sirrohu: Ya Allah, sesungguhnya aku menitipkan kepada-Mu ilmu-ilmu yang aku telah membaca ilmu tersebut, maka kembalikanlah ilmu itu kepadaku ketika aku butuh pada ilmu tersebut.

(وَ) الثَّانِي وَالْعِشْرُونَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ سَالِمًا مِنَ النَّاسِ) أَيْ مِنْ شُرُورِهِمْ (فَلَا يَذْكُرْ أَحَدًا مِنْهُمْ إلَّا بِخَيْرٍ وَلْيَعْتَبِرْ فِيهَا) أَيْ فِي نَفْسِهِ (مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خُلِقَتْ) فَهِيَ مَخْلُوقَةٌ مِنْ نُطْفَةٍ قَذِرَةٍ (وَلِمَاذَا خُلِقَتْ) فَهِي مَخْلُوقَةٌ لِطَاعَةِ اللّٰهِ تَعَالَى.

(Dan) Yang kedua puluh dua: (Barangsiapa yang ingin agar dia selamat dari manusia) Yakni dari kejahatan manusia (Maka janganlah dia menyebut seorang pun dari mereka kecuali dengan kebaikan, dan hendaklah dia merenungkan padanya) Yakni pada dirinya (Dari apa dia diciptakan) maka dia itu diciptakan dari air mani yang kotor (Dan untuk apa dia diciptakan) maka dia itu diciptakan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّكَ وَنَارَ الْمُؤْمِنِ لَا تُحْرِقُكَ وَإِنْ عَثَرَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ يَمِينَهُ بِيَدِ اللّٰهِ إذَا شَاءَ أَنْ يُنْعِشَهُ أَنْعَشَهُ] رَوَاهُ الْحَكِيْمُ.

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Berhati-hatilah terhadap api seorang mukmin agar api itu tidak membakarmu, meskipun dia terjatuh setiap hari tujuh kali. Sesungguhnya, tangan kanannya itu berada dalam pertolongan Allah jika Allah menghendaki untuk membangkitkannya, maka Allah akan membangkitkannya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim.

(وَ) الثَّالِثُ وَالْعِشْرُوْنَ (مَنْ أَرَادَ الشَّرَفَ) أَيْ الْعُلُوَّ (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَخْتَرِ الْآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا) بِأَنْ يُلَازِمَ الْعِبَادَاتِ فِي جَمِيعِ أَوْقَاتِهِ حَسْبَمَا يُطِيقُ.

(Dan) Yang kedua puluh tiga: (Barangsiapa yang ingin meraih kemuliaan) Yakni ketinggian derajat (Di dunia dan akhirat, maka hendaklah dia memilih akhirat daripada dunia) Dengan cara dia senantiasa melaksanakan berbagai ibadah di semua waktunya sebatas yang dia mampu.

(وَ) الرَّابِعُ وَالْعِشْرُونَ (مَنْ أَرَادَ الْفِرْدَوْسَ) وَهُوَ أَعْلَى الْجِنَانِ (وَالنَّعِيمَ الَّذِي لَا يَفْنَى) وَهُوَ نَعِيمُ الْجَنَّةِ (لَا يُضَيِّعْ عُمُرَهُ فِي فَسَادِ الدُّنْيَا) بِفِعْلِ الْمَعَاصِي.

(Dan) Yang kedua puluh empat: (Barangsiapa yang menginginkan Firdaus) Yaitu tingkatan paling tinggi dari surga-surga (Dan kenikmatan yang tidak akan sirna) Yaitu kenikmatan surga (Maka janganlah dia menyia-nyiakan umurnya dalam kerusakan dunia) Dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan.

(و) الْخَامِسُ وَالْعِشْرُونَ (مَنْ أَرَادَ الْجَنَّةَ) أَيْ السُّرُورَ (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِالسَّخَاوَةِ لِأَنَّ السَّخِيَّ قَرِيبٌ إلَى الْجَنَّةِ وَبَعِيدٌ مِنَ النَّارِ)

(Dan) Yang kedua puluh lima: (Barangsiapa yang menginginkan surga) Yakni kebahagiaan (Di dunia dan akhirat, maka hendaklah dia bersikap dermawan, karena sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat dengan surga dan jauh dari neraka).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: [السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ ، وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى بَعِيدٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنَ النَّارِ، وَالْجَاهِلُ السَّخِيُّ أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى مِنَ الْعَابِدِ الْبَخِيلِ].

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah Ta'ala, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, jauh dari neraka. Orang yang kikir itu jauh dari Allah Ta'ala, jauh dari manusia, jauh dari surga, dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan itu lebih dicintai oleh Allah Ta'ala daripada ahli ibadah yang kikir].

وَمِنْ حِكَايَاتِ الْكُرَمَاءِ: أَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَعَبْدَ اللّٰهِ بْنَ جَعْفَرٍ خَرَجُوا لِلْحَجِّ، فَفَاتَهُمْ أَثْقَالُهُمْ، فَجَاعُوا وَعَطِشُوا، فَمَرُّوا بِخِبَاءِ عَجُوزٍ فِيهِ شَاةٌ، فَسَأَلُوهَا فَسَقَتْهُمْ لَبَنَهَا ثُمَّ ذَبَحَتْهَا لَهُمْ،

Dari sebagian kisah-kisah orang yang dermawan: Sesungguhnya Hasan, Husain, dan Abdullah bin Ja'far itu mereka keluar untuk menunaikan haji. kemudian hilang dari mereka barang bawaan mereka, sehingga mereka kelaparan dan kehausan. Kemudian Mereka melewati sebuah kemah milik seorang wanita tua yang di dalamnya ada seekor kambing kemudian mereka meminta bantuan kepada wanita tua tersebut, kemudian wanita tua itu memberi mereka susu kambingnya, lalu menyembelih kambing itu untuk mereka.

فَبَعْدَ مُدَّةٍ رَآهَا الْحَسَنُ بِالْمَدِينَةِ فَعَرَفَهَا، فَأَعْطَاهَا أَلْفَ شَاةٍ وَأَلْفَ دِينَارٍ، ثُمَّ أَرْسَلَهَا لِأَخِيهِ الْحُسَيْنِ، فَأَعْطَاهَا مِثْلَهُ، ثُمَّ أَرْسَلَهَا لِابْنِ جَعْفَرٍ الطَّيَّارِ، فَأَعْطَاهَا أَلْفَيْ شَاةٍ وَأَلْفَيْ دِينَارٍ، وَقَالَ: لَوْ بَدَأَتْ بِي لَأَتْعَبَتْهُمَا،

Setelah beberapa waktu, Hasan melihat wanita itu di Madinah dan hasan mengenali wanita tua tersebut. Kemudian hasan memberi wanita tua tersebut seribu ekor kambing dan seribu dinar. Kemudian, Hasan mengirim wanita tua itu kepada saudaranya, Husain, kemudian husain memberinya sama seperti pemberian hasan. Lalu, Husain mengirimnya kepada Abdullah bin Ja'far Atthoyyar, kemudian Abdullah bin Ja'far memberinya dua ribu ekor kambing dan dua ribu dinar. Abdullah bin Ja'far berkata: Jika wanita tua itu memulai dariku, pasti dia akan membuat Hasan dan Husain bersusah payah.

فَرَجَعَتْ بِأَرْبَعَةِ آلَافِ شَاةٍ وَأَرْبَعَةِ آلْآفِ دِينَارٍ

Kemudian wanita tua itu kembali dengan membawa empat ribu ekor kambing dan empat ribu dinar.

(و) السَّادِسُ وَالْعِشْرُونَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يُنَوِّرَ قَلْبَهُ بِالنُّورِ التَّامِّ فَعَلَيْهِ بِالتَّفَكُّرِ وَالِاعْتِبَارِ) أَيْ بِالتَّفَكُّرِ فِي عَظَمَةِ اللّٰهِ تَعَالَى وَالْاِتِّعَاظِ بِالْمَوْتِ.

(Dan) Yang kedua puluh enam: (Barangsiapa yang ingin menerangi hatinya dengan cahaya yang sempurna, maka hendaklah dia merenung dan mengambil pelajaran) Yakni dengan merenungkan keagungan Allah Ta'ala dan mengambil pelajaran dari kematian.

(وَ) السَّابِعُ وَالْعِشْرُوْنَ (مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ لَهُ بَدَنٌ صَابِرٌ وَلِسَانٌ ذَاكِرٌ وَقَلْبٌ خَاشِعٌ فَعَلَيْهِ بِكَثْرَةِ الْاِسْتِغْفَارِ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ)

(Dan) Yang kedua puluh tujuh: (Barangsiapa yang ingin ada baginya tubuh yang sabar, lisan yang selalu berdzikir, dan hati yang khusyuk, maka hendaklah dia memperbanyak istighfar untuk kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat).

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ.

Telah bersabda Nabi ﷺ: [Barangsiapa yang memohonkan ampunan untuk kaum mukminin dan mukminat, maka Allah akan mencatat untuknya atas setiap mukmin dan mukminah satu kebaikan]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ath-Thabarani dari Ubadah bin Ash-Shamit.

وَقَالَ ﷺ: [مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعًا وَعِشْرِينَ مَرَّةً كَانَ مِنَ الَّذِينَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ وَيُرْزَقُ بِهِمْ أَهْلُ الْأَرْضِ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ.

Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Barangsiapa yang memohonkan ampunan untuk kaum mukminin dan mukminat setiap hari sebanyak dua puluh tujuh kali, maka jadilah dia dari sebagian orang-orang yang doanya dikabulkan bagi mereka dan akan diberi rizqi karena istighfar mereka para penduduk bumi]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Ath-Thabarani dari Abu Darda'

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [عَشْرٌ تَمْنَعُ عَشْرًا: سُورَةُ الْفَاتِحَةِ تَمْنَعُ غَضَبَ الرَّبِّ، وَسُورَةُ يٰسٍ تَمْنَعُ عَطَشَ الْقِيَامَةِ، وَسُورَةُ الدُّخَانِ تَمْنَعُ أَهْوَالَ الْقِيَامَةِ، وَسُورَةُ الْوَاقِعَةِ تَمْنَعُ الْفَقْرَ، وَسُورَةُ الْمُلْكِ تَمْنَعُ عَذَابَ الْقَبْرِ،

Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Ada sepuluh perkara yang dapat mencegah sepuluh perkara: Surah Al-Fatihah itu dapat mencegah kemurkaan Allah, Surah Yasin itu dapat mencegah dahaga pada hari Kiamat, Surah Ad-Dukhan itu dapat mencegah kengerian-kengerian hari Kiamat, Surah Al-Waqi'ah itu dapat mencegah kemiskinan, Surah Al-Mulk itu dapat mencegah adzab kubur,

وَسُورَةُ الْكَوْثَرِ تَمْنَعُ خُصُومَةَ الْخُصَمَاءِ، وَسُورَةُ الْكَافِرُوْنَ تَمْنَعُ الْكُفْرَ عِنْدَ النَّزْعِ، وَسُورَةُ الْإِخْلَاصِ تَمْنَعُ النِّفَاقَ، وَسُورَةُ الْفَلَقِ تَمْنَعُ حَسَدَ الْحَاسِدِينَ، وَسُورَةُ النَّاسِ تَمْنَعُ الْوَسْوَاسَ].

Surah Al-Kautsar itu dapat mencegah tuntutan dari orang-orang yang menuntut, Surah Al-Kafirun itu dapat mencegah kekufuran saat sakaratul maut, Surah Al-Ikhlas itu dapat mencegah kemunafikan, Surah Al-Falaq mencegah hasad dari orang-orang yang hasad, dan Surah An-Nas mencegah bisikan hati yang jahat)].

وَأَخْتِمُ هٰذَا الْكِتَابَ بِهٰذَا الْحَدِيثِ تَبَرُّكًا بِهِ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى جَمْيْعِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Dan saya menutup buku ini dengan hadits ini sebagai bentuk tabarruk dengannya. Semoga Allah melimpahkan tambahan rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, kepada seluruh sahabatnya, dan kepada semua nabi dan rasul. Segala puji adalah milik Allah, Dzat yang mengurus mengatur seluruh alam.