MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 27 April 2026

KAJIAN TENTANG KISAH SETAN MENYERUPAI MALAIKAT JIBRIL MENIPU NABI, BENARKAH?

Masih ingatkah kita sebuah novel yang ditulis oleh Salman Rushdie pada tahun 1988. Karya ini tak pelak kemudian mencetuskan banyak kemarahan dan kehebohan di seluruh dunia Muslim. Bahkan pemimpin Iran kala itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini, mengeluarkan fatwa yang menyerukan hukuman mati bagi Salman Rushdie pada 1989. Menjadi pertanyaan, dari mana istilah itu berasal?

Apa yang dimaksud dengan “ayat-ayat setan”? Istilah “ayat-ayat setan” digunakan dalam literatur akademik modern untuk merujuk pada beberapa ayat dari Al-Quran yang menurut beberapa riwayat pernah dibacakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni surah An-Najm ayat 19-21, 

أَفَرَأَيْتُمُ اللاتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأخْرَى. أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الأنْثَى

“Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) Al-Lata dan Al-‘Uzza; dan Manat, yang ketiga (yang) kemudian (sebagai anak perempuan Allah).”

Novel karya Salman Rushdie yang menciderai dan mengusik umat islam kembali terulang ketika seorang yang bernama Abdul Wafi (Gus Wafi) dalam sebuah video yang viral dia menjelaskan tentang ayat-ayat gharaniq (ayat-ayat setan), dimana dia mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa membedakan mana Jibril yang asli dan mana yang palsu, dia juga mengatakan ternyata perlindungan Allah pernah jebol (dalam kasus ayat gharaniq ini). Jika perkataan tersebut tidak segera diklarifikasi dan minta maaf kepada umat islam bisa menimbulkan fitnah yang lebih besar dan bahkan ada pihak lain yang merasa dirugikan dengan statement tersebut dan meminta pertanggungjawaban dari Abdul Wafi melalui proses hukum.

Setelah melalui penelurusan ternyata rujukan yang disampaikan sepertinya dari Tafsir Al-Qurtubi karya Imam Al-Qurtubi (Abu 'Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh Al-Anshari Al-Khazraji Al-Andalusi Al-Qurthubi) ketika beliau menafsirkan surat Al-Hajj ayat 52, 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

قد ذكر كثير من المفسرين هاهنا قصة الغرانيق ، وما كان من رجوع كثير من المهاجرة إلى أرض الحبشة ، ظنا منهم أن مشركي قريش قد أسلموا . ولكنها من طرق كلها مرسلة ، ولم أرها مسندة من وجه صحيح ، والله أعلم .

قال ابن أبي حاتم : حدثنا يونس بن حبيب ، حدثنا أبو داود ، حدثنا شعبة ، عن أبي بشر ، عن سعيد بن جبير ، قال : قرأ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمكة " النجم " فلما بلغ هذا الموضع : ( أفرأيتم اللات والعزى . ومناة الثالثة الأخرى ) قال : فألقى الشيطان على لسانه : " تلك الغرانيق العلى . وإن شفاعتهن ترتجى " . قالوا : ما ذكر آلهتنا بخير قبل اليوم . فسجد وسجدوا ، فأنزل الله عز وجل هذه الآية : ( وما أرسلنا من قبلك من رسول ولا نبي إلا إذا تمنى ألقى الشيطان في أمنيته [ فينسخ الله ما يلقي الشيطان ثم يحكم الله آياته والله عليم حكيم ] )

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, lalu Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Hajj: 52)

Banyak dari kalangan mufassir telah menyebutkan di sini kisah Al-Gharaniq, dan tentang kembalinya banyak kaum Muhajirin ke negeri Habasyah, karena mereka mengira bahwa kaum musyrikin Quraisy telah masuk Islam. Akan tetapi semua jalur riwayatnya adalah mursal, dan aku tidak melihatnya bersambung sanadnya dari jalur yang sahih. Wallahu a'lam.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Habib, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Bisyr, dari Sa'id bin Jubair, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat An-Najm di Makkah. Ketika sampai pada ayat ini: "Maka apakah patut kamu menganggap Lata dan Uzza. Dan Manat yang ketiga, yang paling kemudian" (QS. An-Najm : 19-20), maka setan melemparkan ke lisannya: "Itulah gharaniq yang tinggi. Dan sungguh syafaat mereka benar-benar diharapkan." Mereka berkata: "Dia tidak pernah menyebut tuhan-tuhan kita dengan baik sebelum hari ini." Lalu beliau sujud dan mereka pun ikut sujud. 

Maka Allah 'Azza wa Jalla menurunkan ayat ini (QS. Al-Hajj : 52), "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, [lalu Allah menasakh (menghilangkan) apa yang dimasukkan oleh setan itu, kemudian Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana]."

Tentu saja hal ini menjadi kontroversial dan aneh, terutama dari sudut pandang non-Muslim, sebab ini memperlihatkan bahwa Nabi Muhammad tidak dapat membedakan antara apa yang datang dari setan dan apa yang diturunkan oleh Tuhan melalui Jibril. Kaum muslimin meragukan kebenaran cerita ini karena tidak ada referensi dari Al-Quran. Juga tidak disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam catatan yang paling awal dan paling terpercaya mengenai kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Bahkan juga tidak tercantum dalam kumpulan hadits shahih Bukhari dan Muslim. Bagaimanapun juga, ada yang membela dan meyakininya sebagaimana Abdul Wafi dan ada pula yang mengkritik riwayat ini. Bagi yang membela cerita itu sebagai kejadian otentik berdalih, “Itu memang terjadi, tetapi pada akhirnya Nabi bisa membedakan." Apa yang beliau (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) sampaikan pada kita pada akhirnya murni dari Allah Ta'ala (wahyu Ilahi) dan tidak ada lagi ayat-ayat setan sebagaimana diceritakan. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar