Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 6
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: [عَشَرَةٌ مِنْ هٰذِهِ الْأُمَّةِ) الْمُحَمَّدِيَّةِ (هُمْ كُفَّارٌ بِاللّٰهِ الْعَظِيْمِ ويَظُنُّوْنَ أَنَّهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ:
Maqolah yang keenam (Telah bersabda Nabi Alaihis Sholatu Was-salam: [Ada sepuluh dari umat ini) Umat Muhammad (Mereka kafir kepada Allah yang maha agung dan mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang beriman:
القَاتِلُ لِمُسْلِمٍ أَوْ ذَمِيٍّ بِغَيْرِ حَقٍّ، والسَّاحِرُ والدَّيُّوْثُ الَّذِيْ لَا يُغَارُ علَى أَهْلِهِ) أَيْ حُرَمِهِ مِنَ الزَّوْجَةِ وَالْبِنْتِ وَالْأُخْتِ.
Orang yang membunuh kepada orang muslim atau membunuh kepada kafir dzimmi tanpa hak, dan tukang sihir dan dayuts yang tidak cemburu terhadap keluarganya) Maksudnya orang-orang yang menjadi kehormatannya dari istri, anak perempuan dan saudara perempuan
1.Kafir Dzimmi adalah orang-orang yang tertutup hatinya dari agama islam tapi mereka hidup rukun dan damai bersama orang-orang islam.
2.Dayuts adalah seorang kepala rumah tangga yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap keluarganya. Dia membiarkan istri atau anak perempuannya atau saudara perempuannya bermaksiat dengan lelaki lain.
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ مِنَ الْغِيْرَةِ مَا يُحِبُّ اللّٰهُ وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُ اللّٰهُ، وَإنَّ مِنَ الْخُيَلَاءِ مَا يُحِبُّ اللهُ وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُ اللّٰهُ،
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya di antara rasa cemburu ada rasa cemburu yang Allah sukai dan di antara rasa cemburu ada rasa cemburu yang Allah benci. Dan sesungguhnya di antara kesombongan ada kesombongan yang Allah sukai dan di antara kesombongan ada kesombongan yang Allah benci.
فَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِيْ يُحِبُّهَا اللّٰهُ فَالْغَيْرَةُ فِى الرِّيْبَةِ، وَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِيْ يُبْغِضُهَا اللّٰهُ فَالْغَيْرَةُ فِى غَيْرِ الرِّيْبَةِ،
Adapun rasa cemburu yang Allah menyukainya adalah rasa cemburu dalam hal yang mencurigakan. Dan adapun rasa cemburu yang Allah membencinya adalah rasa cemburu dalam selain hal yang mencurigakan
وَأَمَّا الْخُيَلَاءُ الَّتِيْ يُحبُّهَا اللهُ فَاخْتِيَالُ الرَّجُلِ فِى الْقِتَالِ وَاخْتِيَالُهُ عِنْدَ الصَّدَقَةِ، وَأَمَّا الْخُيَلَاءُ الَّتِيْ يُبْغِضُهَا اللّٰهُ فَاخْتِيَالُ الرَّجُلِ فِى الْبَغْيِ والْفَخْرِ] رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ.
Dan adapun kesombongan yang Allah menyukainya adalah sombongnya seseorang dalam peperangan dan sombongnya seseorang ketika bersedekah. Dan adapun kesombongan yang Allah membencinya adalah sombongnya seseorang dalam kedzoliman dan kebanggaan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Abu Daud dan Imam an-Nasai dan Imam Ibnu Hibban
1.Yang dimaksud Allah menyukai orang yang sombong saat bersedekah adalah orang yang tidak ingin kalah dari orang lain ketika bersedekah. Ketika ada orang lain yang bersedekah lebih banyak dari yang dia sedekahkan maka dia berusaha untuk bersedekah lebih banyak lagi.
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللّٰهَ تَعالَى لَا يَقْبَلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الصَّقُوْرِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا، قِيْلَ: وَمَا الصَّقُوْرُ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قالَ: اَلَّذِيْ يُدْخِلُ عَلَى أَهْلِهِ الرِّجَالَ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak akan menerima pada hari kiamat dari seorang shoqur amalan sunnah dan amalan wajib. Ditanya: Apa shoqur itu wahai rasulallah? Nabi bersabda: Shoqur adalah orang yang memasukkan kepada keluarganya laki-laki lain] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhari
1.Di indonesia shoqur juga bisa dikatakan sebagai germo atau muncikari yaitu orang-orang yang menyediakan, menyalurkan dan memberikan akses pada sesuatu yang berkaitan dengan pelacuran. Hanya saja shoqur lebih dikhususkan ma'nanya pada seorang kepala keluarga yang menyewakan istrinya sendiri atau keluarganya untuk disetubuhi laki-laki lain.
(وَمَانِعُ الزَّكَاةِ) عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: [مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وجَبِيْنُهُ وَظَهْرُهُ
(Dan orang yang menolak zakat) Dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Tidaklah dari orang yang mempunyai emas atau perak yang tidak menunaikan dari emas dan perak tersebut pada hak-hak kewajibannya melainkan ketika terjadi hari kiamat maka dibuatkan lempengan-lempengan bagi orang tersebut lempengan-lempengan besi dari api neraka kemudian dipanaskan lempengan-lempengan tersebut di neraka jahannam kemudian disetrika dengan lempengan tersebut lambungnya dan pelipisnya dan punggungnya
كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيْدَتْ لَهُ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيرَى سَبِيْلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ].
Setiap kali lempengan tersebut menjadi dingin maka di ulangi lagi untuknya dalam sehari. Ada kira-kiranya sehari itu adalah lima puluh ribu tahun hingga diselesaikan pengadilan antar hamba kemudian dia melihat jalannya bisa jadi ke surga dan bisa jadi ke neraka].
(وَشَارِبُ الْخَمْرِ) فِى الْحَدِيْثِ: [شَارِبُ الْخَمْرِ يُحْشَرُ والْكُوْزُ مُعَلَّقٌ فِى عُنقِهِ والْقَدَحُ فِى يَدِهِ وَهُوَ أَنْتَنُ مِنْ كُلِّ جِيْفَةٍ عَلَى الْأَرْضِ يَلْعَنُهُ كُلُّ مَنْ يَمُرُّ عَلَيْهِ مِنَ الْخَلْقِ].
(Dan orang yang meminum arak) Dalam sebuah hadits: [Orang yang meminum arak akan dikumpulkan dan bejana digantungkan pada lehernya dan gelas pada tangannya dan dia lebih busuk daripada setiap bangkai di bumi. Melaknat kepadanya setiap orang yang lewat padanya dari golongan manusia].
(وَمَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْحَجُّ فَلَمْ يَحُجَّ) قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ﴾ [آل عمرَان: الآية ٩٧] أَيْ وَمَنْ تَرَكَ اِعْتِقَادَ وُجُوْبِ الْحَجِّ فَإِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنْهُ.
(Dan orang yang telah wajib kepadanya haji kemudian dia tidak berhaji) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Barang siapa kufur maka sesungguhnya Allah maha tidak membutuhkan sesuatupun dari seluruh alam﴿ [Q.S Ali Imran: Ayat 97]. Maksudnya dan barang siapa yang meninggalkan keyakinan wajibnya haji maka sesungguhnya Allah maha tidak membutuhkan sesuatupun darinya
رُوِيَ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: [أَنَّهُ دَعَا لِأَمَّتِهِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ، فَأَوْحَى اللّٰهُ إِلَيْهِ: إِنِّيْ قَدْ غَفَرْتُ لَهُم مَا بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ، وَلَمْ أَغْفِرْ لَهُمْ ظُلْمَهُمْ بَعْضَهُمْ لِبَعْضٍ.
Diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ: [Sesungguhnya Rasul mendoakan untuk umatnya di sore hari di padang arofah dan nabi memintakan ampunan untuk umatnya kemudian Allah memberi wahyu kepada Rasul: Sungguh aku benar-benar telah memberikan ampunan bagi umatmu dosa antara aku dan umatmu dan aku tidak memberikan ampunan bagi umat kedzoliman mereka sebagian dari mereka dzolim kepada yang lain.
فَزَادَ فِى الْاِسْتِغْفَارِ وَقَالَ: إنَّكَ قَادِرٌ أَنْ تُرْضِيَ خُصُوْمَهُمْ، فَلَمْ يُجِبْهُ تِلْكَ اللَّیْلَةَ، فَلَمَّا كَانَ غَدَاةُ الْمُزْدَلِفَةِ أَوْحَى اللّٰهُ إِلَيْهِ بِالْإِجَابَةِ فَتَبَسَّمَهُ وَقَالَ: عَجِبْتُ مِنْ عَدُوِّ اللّٰهِ إِبْلِيْسَ لَمَّا أَجَابَ اللّٰهُ لِيْ دُعَائِيْ صَاحَ بِالْوَيْلِ وَالثُّبُوْرِ وَوَضَعَ التُّرَابَ عَلَى ڕَأْسِهِ].
Kemudian Rasul menambah dalam beristigfar dan berdoa: Sesungguhnya engkau dzat yang mampu untuk membuat ridho orang yang menuntut mereka. kemudian Allah tidak menjawab Rasul pada malam itu. Kemudian ketika terjadi pagi hari di muzdalifah Allah memberi wahyu kepada Rasul dengan pengkabualn doa kemudian Rasul tersenyum dan bersabda: Aku heran kepada musuh Allah yakni Iblis ketika Allah mengabulkan doaku dia berteriak celaka dan binasa dan menaruh tanah di atas kepalanya].
(وَالسَّاعِي فِى الْفِتَنِ) أَيْ اَلْعَامِلُ فِى أَسْبَابِ الْفِتَنِ (وَبَائِعُ السِّلَاحِ) وَهِيَ كُلُّ عِدَّةٍ لِلْحَرْبِ (مِنْ أَهْلِ الْحَرْبِ) وَمِنْ بِمَعْنَى اللَّامِ
(Dan orang yang kesana kemari menyebar fitnah) Maksudnya orang yang membuat-buat sebab-sebab terjadinya fitnah (Dan orang yang menjual senjata) Yaitu segala persiapan untuk perang (Untuk kafir harbi) Dan huruf مِنْ bermakna ل
(وَنَاكِحُ الْمَرْأَةِ) أَيْ اَلزَّوْجَةِ (فِى دُبُرِهَا، وَنَاكِحُ ذَاتِ رَحِمٍ مَحْرَمٍ) أَيْ وَاطِىءُ ذِيْ قَرَابَةٍ مَحْرَمٍ بِمِلْكٍ أَوْ غَيْرِهِ (إِنْ عَلِمَ) أَيْ ظَنَّ (هٰذِهِ الْأَفْعَالَ حَلَالًا كَفَرَ) أَمَّا إِذَا اعْتَقَدَ أَنَّهَا حَرَامٌ فَلَا يَكْفُرُ.
(Dan orang yang menikahi wanita) Maksudnya istrinya (Pada dzuburnya, dan orang yang menikahi saudara mahramnya) Maksudnya orang yang menjimak kerabatnya yang menjadi mahrom karena hubungan budak atau yang lain (Jika ia mengetahui) Maksudnya menduga kuat (Perbuatan-perbuatan ini halal maka dia kafir) Adapun jika ia meyakini sesungguhnya perbuatan-perbuatan ini haram maka dia tidak kafir.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 7
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [لَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ فِى السَّمَاءِ وَلَا فِى الْأَرْضِ مُؤْمِنًا حَتَّى يَكُوْنَ وَصُوْلًا) أَيْ مُتَلَطِّفًا لِلنَّاسِ
Maqolah yang ketujuh (Telah bersabda Nabi ﷺ: [Tidaklah menjadi seorang hamba baik di langit maupun di bumi benar-benar menjadi orang yang beriman hingga hamba tersebut benar-benar menyambung tali silaturrahmi) Maksudnya lemah lembut kepada manusia
(وَلَا يَكُوْنُ وَصُوْلًا حَتَّى يَكُوْنَ مُسْلِمًا) أَيْ مُنْقَادًا
(Dan tidaklah benar-benar menyambung tali silatur rahmi hingga dia benar benar menjadi muslim) Maksudnya patuh
(وَلَا يَكُوْنُ مُسْلِمًا حَتَّى يَسْلَمَ النَّاسُ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ) أَيْ فَلَا يُؤْذِي النَّاسَ بِلِسَانِهِ وَلَا بِيَدِهِ
(Dan tidaklah benar-benar menjadi muslim hingga selamat manusia dari tangannya dan lidahnya) Makusdnya tidak menyakiti manusia dengan lidahnya dan tidak menyakiti manusia dengan tangannya
(وَلَا يَكُوْنُ مُسْلِمًا حَتَّى يَكُوْنَ عَالِمًا، وَلَا يَكُوْنُ عَالِمًا حَتَّى يَكُوْنَ بِالْعِلْمِ عَامِلًا، وَلَا يَكُوْنُ بِالْعِلْمِ عَامِلًا حَتَّى يَكُوْنَ زَاهِدًا) وَالزُّهْدُ تَرْكُ رَاحَةِ الدُّنْيَا طَلَبًا لِرَاحَةِ الْآخِرَةِ
(Dan tidaklah benar-benar menjadi muslim hinga dia benar-benar menjadi orang yang berilmu, dan tidaklah benar-benar menjadi orang yang berilmu hinga dia benar-benar mengamalkan, dan tidaklah benar-benar menjadi orang yang mengamalkan ilmu hingga dia benar-benar menjadi zuhud) Zuhud adalah meninggalkan kenyamanan-kenyamanan dunia karena mencari kenyamanan akhirat.
(وَلَا يَكُوْنُ زَاهِدًا حَتَّى يَكُوْنَ وَرِعًا) وَالْوَرَعُ مُلَازَمَةُ الْأَعْمَالِ الْجَمِيْلَةِ. قَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ الرَّازِيّ: كَيْفَ يَكُوْنُ زَاهِدًا مَنْ لَا وَرَعَ لَهُ، تَوَرَّعْ عَمَّا لَيْسَ لَكَ ثُمَّ ازْهَدْ فِيْمَا لَكَ. اهُ.
(Dan tidaklah benar-benar menjadi zuhud hingga dia benar-benar menjadi wara') Wara' adalah senantiasa melakukan amal-amal yang baik. Telah berkata Yahya bin Mu'ad Ar-Razi: Bagaimana mungkin menjadi zuhud orang yang tidak ada sifat wara' padanya. Berwira'ilah kamu dari apa-apa yang bukan milikmu kemudian zuhudlah kamu dalam harta yang menjadi milikmu.
(وَلَا يَكُوْنُ وَرِعًا حَتَّى يَكُوْنَ مُتَوَاضِعًا) عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ يَعُوْدُ الْمَرِيْضَ، وَيُشَيِّعُ الْجَنَائِزَ، وَيَرْكَبُ الْحِمَارَ، وَيُجِيْبُ دَعْوَةَ الْعَبْدِ.
(Dan tidaklah benar-benar menjadi wara' hingga dia benar-benar menjadi orang yang tawadhu') Dari Anas bin Malik berkata: Adalah Rasulullah ﷺ beliau menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menunggangi himar, dan memenuhi undangan dari seorang budak.
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ كَانَ حَسَنَ الصُّوْرَةِ فِى حَسَبٍ لَا يَشِيْنُهُ مُتَوَاضِعًا كَانَ مِنْ خَالِصِ أَهْلِ اللّٰهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ] رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang bagus rupanya dalam derajat sosial, dia tidak menjatuhkan kehormatannya dan ia tetap rendah hati, maka jadilah ia termasuk yang khusus di antara wali-wali Allah pada hari kiamat] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim
(وَلَا يَكُوْنُ مُتَوَاضِعًا حَتَّى يَكُوْنَ عَارِفًا بِنَفْسِهِ) قَالَ الشَّاعِرُ:
(Dan tidaklah benar-benar menjadi tawadhu' hingga dia benar-benar menjadi orang yang mengerti tentang dirinya sendiri) Telah berkata seorang penya'ir:
| عَلَيْكَ شَامِلَةٌ فَالْعُمْرُ مَعْدُوْدٌ | * | يَا ابْنَ آدَمَ لَا تَغْرُرْكَ عَافِيَةٌ |
| Wahai anak adam jangan sampai menipu kepadamu keadaan sehat | * | atas dirimu yang menyeluruh karena umur itu terhitung |
| لِكُلِّ شَيْءٍ مِنَ الْآفَاتِ مَقْصُوْدٌ | * | مَا أَنْتَ إلَّا كَزَرْعٍ عِنْدَ خُضْرَتِهِ |
| Tidaklah kamu melainkan seperti tanaman ketika hijaunya tanaman tersebut | * | bagi segala sesuatu dari berbagai penyakit dijadikan sasaran |
| فَأَنْتَ عِنْدَ كَمَالِ الْأَمْرِ مَحْصُوْدٌ | * | فَإِنْ سَلِمْتَ مِنَ الْآفَاتِ أَجْمَعِهَا |
| Jika kamu selamat dari berbagai penyakit seluruhnya | * | Maka kamu ketika sudah sempurna akan dipanen |
(وَلَا يَكُوْنُ عَارِفًا بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُوْنَ عَاقِلًا فِى الْكَلَامِ]). قَالَ بِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ: إِذَا أَعْجَبَكَ الْكَلَامُ فَاصْمُتْ، وَإِذَا أَعْجَبَكَ الصَّمْتُ فَتَكَلَّمْ.
(Dan tidaklah benar benar bisa menjadi orang yang mengerti tentang diri sendiri hingga dia benar-benar menjadi orang yang berakal dalam ucapannya) Telah berkata Bisyr bin Harits: Jika kamu merasa takjub untuk berbicara maka diamlah dan jika kamu merasa takjub untuk diam maka berbicaralah.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 8
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ (قِيْلَ: رَأَى يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ الرَّازِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ فَقِيْهًا) أَيْ عَالِمًا بِالْفِقْهِ (رَاغِبًا فِى الدُّنْيَا) أَيْ مُتَوَجِّهًا إلَيْهَا
Maqolah yang ke delapan (Dikatakan: Telah melihat Yahya bin Mu'ad ar-Razi Rahimahullah kepada seorang ulama fikih) Maksudnya seorang yang berilmu dalam bidang fikih (Yang cinta pada dunia) Yaitu yang menghadap kepada dunia
(فَقَالَ:) أَيْ يَحْيَى (يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ وَالسُّنَّةِ) أَيْ عِلْمِ حَدِيْثِ النَّبِيِّ ﷺ (قُصُوْرُكُمْ) أَيْ دِيَارُكُمُ الْكَبِيْرَةُ (قَيْصَرِيَّةٌ) نِسْبَةٌ إلَى قَيْصَرَ وَهُوَ مَلِكُ الرُّوْمِ
(Kemudian dia berkata:) Maksudnya Yahya (Wahai pemilik ilmu dan sunnah) Maksudnya ilmu tentang hadits Nabi ﷺ (Istana-istana kalian) Maksudnya rumah-rumah kalian yang besar (Itu seperti rumah para kaisar) Dinisbatkan pada kaisar yaitu raja romawi
(وَبُيُوْتُكُمْ كِسْرَوِيَّةٌ) نِسْبَةٌ إلَى كِسْرَى وَهُوَ مَلِكُ الْفُرْسِ
(Dan ruma-rumah kalian itu seperti rumah para raja persi) Dinisbatkan pada lafadz kisro yaitu raja persi
(وَمَسَاكِنُكُمْ قَارُوْنِيَّةٌ) نِسْبَةٌ إلَى قَارُوْنَ مِنْ قَوْمِ سَيِّدِنَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ
(Dan tempat tinggal kalian itu seperti tempat tinggal Qorun) Dinisbatkan kepada Qorun dari kaum tuan kita musa Alaihissalam
(وَأَبْوَابُكُمْ طَالُوْتِيَّةٌ) نِسْبَةٌ إلَى قَوْمِ طَالُوْتَ كَانَ مِنَ الْمُلُوْكِ وَأَبْوَابُ بُيُوْتِهِمْ عَالِيَةٌ
(Dan pintu-pintu kalian itu seperti pintu-pintu bangsa Tholut) Dinisbatkan kepada kaum Tolut. Tolut adalah termasuk seorang raja dan pintu-pintu rumah mereka itu tinggi tinggi.
(وَثِيَابُكُمْ جَالُوْتِيَّةٌ) نِسْبَةٌ إلَى جَالُوْتَ الَّذِي قَتَلَهُ سَيِّدُنَا دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلَامُ
(Dan baju-baju kalian itu seperti baju Jalut) Dinisbatkan kepada Jalut yang telah membunuh padanya oleh tuan kita Daud Alaihis Salam
(وَمَذَاهِبُكُمْ) أَيْ طُرُقُكُمْ فِى الدِّيْنِ (شَيْطَانِيَّةٌ، وَضِيَاعُكُمْ) أَيْ عَقَارَاتُكُمْ أَوْ صَنَاعَاتُكُمْ (مَرْوَانِيَّةٌ) نِسْبَةٌ إلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ كَانَ مُلُوْكُ الشَّامِ مِنْ أَوْلَادِهِ
(Dan madzhab-madzhab kalian) Maksudnya toriqoh-toriqoh kalian di dalam beragama (Itu seperti madzhab setan, dan aset-aset kalian) Maksudnya pekarangan-pekarangan kalian atau pabrik-pabrik kalian (Itu Seperti aset-aset bangsa marwan) Dinisbatkan kepada Marwan bin Hakam dia itu termasuk dari para raja negri Syam dari anak cucu Hakam
(وَوِلَايَتُكُمْ) عَلَى الْبِلَادِ (فِرْعَوْنِيَّةٌ) نِسْبَةٌ إلَى فِرْعَوْنَ
(Dan wilayah-wilayah kalian) Di atas negara-negara (Itu seperti wilayah-wilayah Fir'aun) Dinisbatkan kepada Fir'aun
(وَقُضَاتُكُمْ عَاجِلِيَّةٌ) أَيْ مُسْتَعْجِلُوْنَ فِى الْأَحْكَامِ مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ (أَصْحَابُ رِشْوَةٍ) وَهُوَ مَا يُعْطِي الشَّخْصُ لِلْحَاكِمِ لِيَحْكُمَ لَهُ أَوْ يُحَمِّلُهُ عَلَى مَا يُرِيْدُ (غَشَّاشَةٌ) أَيْ أَيْدِيهِمْ بِالْخِيَانَةِ رَشَّاشَةٌ كَمَا فِي الْأَسَاسِ
(Dan hakim-hakim kalian itu tergesa-gesa,) Maksudnya mereka semua tergesa-gesa dalam memutuskan hukum tanpa berfikir (Penerima suap,) Yaitu sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada hakim agar hakim memutuskan hukum untuknya atau agar dia dapat mempengaruhi hakim pada sesuatu yang dia inginkan (Penipu) Maksudnya tangan-tangan mereka memercikkan pengkhianatan sebagaimana dalam kitab al-Asas
(وَأَئِمَّتُكُمْ جَاهِلِيَّةٌ فَأَيْنَ الْمُحَمَّدِيَّةُ) أَيْ فَأَيْنَ السِّيَرُ الْمُحَمَّدِيَّةُ.
(Dan pemimpin-pemimpin kalian adalah bangsa jahiliyah. Maka dimanaka ajaran Nabi Muhammad ﷺ?) Maksudnya maka dimanakah jalan hidup yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad ﷺ?
وَقَالَ الشَّاعِرُ:
Telah berkata seorang penyair:
| وَالطَّالِبُ مَسْكَنُهُ فِى دَارِ السَّلَامِ | * | (أَيُّهَا الْمُنَاجِي رَبَّهُ بِأَنْوَاعِ الْكَلَامِ |
| Wahai orang yang bermunajat kepada tuhannya dengan berbagai bahasa | * | Dan wahawi orang yang sedang mencari tempat tinggalnya di surga |
| وَمَا أَرَاكَ مُنْصِفًا لِنَفْسِكَ بَيْنَ الْأَنَامِ | * | وَالْمُسَوِّفُ لِلتَّوْبَةِ عَامًا بَعْدَ عَامٍ |
| Wahai orang yang menunda taubatnya tahun demi tahun | * | Kenapa aku tidak melihat dirimu sebagai orang yang benar-benar ingsyaf untuk dirimu sendiri di antara umat manusia |
| وَأَحْيَيْتَ طُوْلَ لَيْلِكَ بِالْقِيَامِ | * | إِنَّكَ لَوْ رَافَقْتَ يَوْمَكَ يَا غَافِلٌ بِالصِّيَامِ |
| Sungguhlah engkau hei orang-orang yang lalai. Andai engkau menemani harimu dengan puasa | * | Dan engkau menghidupkan sepanjang malammu dengan bangun malam |
| لَكُنْتَ أَحْرَى أَنْ تَنَالَ شَرَفَ الْمَقَامِ | * | وَاقْتَصَرْتَ بِالْقَلِيْلِ مِنَ الْمَاءِ وَالطَّعَامِ |
| Dan kamu membatasi sedikit saja dari air dan makanan | * | Niscaya engkau menjadi lebih pantas untuk bisa memperoleh kedudukan yang mulia |
| وَالرِّضْوَانَ الْأَكْبَرَ مِنْ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ) | * | وَالْكَرَامَةَ الْعَظِيْمَةَ مِنْ رَبِّ الْأَنَامِ |
| Dan kemuliaan yang agung dari dzat yang mengurus dan mengatur manusia | * | Dan keridhoan yang paling agung dari Allah yang mempunyai sifa maha agung dan maha mulia |
وَقَالَ الشَّاعِرُ مِنْ بَحْرِ الطَّوِيْلِ:
Telah berkata seorang penyair dari bahar thowil:
| قَرِيْنُ الْفَتَى فِى الْقَبْرِ مَا كَانَ يَفْعَلُ | * | تَخَيَّرْ خَلِيْلًا مِنْ فِعَالِكَ إِنَّهُ |
| Pilihlah olehmu seorang teman dari perbuatanmu sendiri. Sesungguhnya | * | Akan menjadi teman seorang pemuda di alam kuburnya apa apa yang telah dia kerjakan |
| بِغَيْرِ الَّذِيْ يَرْضَى بِهِ اللّٰهُ تُشْغَلُ | * | فَإِنْ كُنْتَ مَشْغُوْلًا بِشَيْءٍ فَلَا تَكُنْ |
| Jika kamu sibuk dengan melakukan sesuatu maka janganlah kamu | * | Disibukkan dengan selain perkara yang Allah ridhoi |
| إِلَى قَبْرِهِ إلَّا الَّذِيْ كَانَ يَعْمَلُ | * | فَلَنْ يَصْحَبَ الْإِنْسَانَ مِن بَعْدِ مَوْتِهِ |
| Karena tidak akan menyertai manusia setelah dia mati | * | Ke alam kuburnya kecuali sesuatu yang telah dia kerjakan |
| يُقِيْمُ قَلِيْلًا عِنْدَهُمْ ثُمَّ يَرْحَلُ | * | أَلَا إِنَّمَا الْإِنْسَانَ ضَيْفٌ لِأَهْلِهِ |
| Ingatla sesungguhnya manusia itu hanya ibarat tamu bagi keluarganya | * | Dia bermukim sejenak disisi keluarganya kemudian dia pergi |
وَقَالَ الشَّاعِرُ:
Dan telah berkata seorang penyair:
| فَقَالَتِ الدَّارُ لِيْ قَامُوْا قَلِيْلًا وَقَدْ رَحِلُوْا | * | سَأَلْتُ الدَّارَ تُخْبِرُنِيْ عَنِ الْأَحْبَابِ مَا فَعَلُوْا |
| Aku bertanya kepada rumah agar dia mengabarkan kepadaku tentang orang-orang terkasih apa saja yang mereka lakukan | * | Lalu berkatalah rumah tersebut kepadaku mereka bermukim sejenak dan mereka benar-benar telah pergi |
| وَأَيُّ مَنْزِلٍ تَرَى يَا دَارُ فِيْهِ نَزَلُوْا | * | فَقُلْتُ: يَا دَارُ أَيْنَ رَاحُوْا فَأَطْلُبُهُمْ |
| Kemudian aku berkata: Wahai rumah kemana mereka pergi maka aku akan mencari merka | * | Dan tempat tinggal mana yang engkau lihat wahai rumah yang di dalamnya mereka tinggal |
| وَقَدْ لَقُوْا قَرِيْنَهُمْ وَاللّٰهِ مَا عَمِلُوْا | * | فَقَالَتِ الدَّارُ: قَدْ سَكَنُوا الْقُبُوْرَ |
| Maka rumah berkata: Mereka benar-benar telah tinggal di kuburan | * | Dan mereka benar-benar telah bertemu teman mereka demi Allah teman mereka adalah sesuatu yang telah mereka amalkan |
| يَا سَائِلِيْ بِهِمْ مُنْيَةُ الْأَجَلُ | * | يَا بِئْسَ غَرَّتْهُمْ آمَالُهُمْ وَغَدَرٌ |
| Aduhai betapa celakanya, telah menipu kepada mereka semua lamunan-lamunan kosong mereka dan pengkhianatan | * | Hai orang yang bertanya kepadaku tentang mereka! kematian itu pasti |
| مَا كَانَتِ الْقَوْمُ تَفْعَلُ بِهِ زَلَلٌ | * | وَفِى الصَّحَائِفِ كُلٌّ كَائِنَةٌ مِنْ قَبِيْحٍ |
| Dan di dalam lembaran-lembaran amal mereka semua ada perbuatan-perbuatan buruk | * | Apa saja yang suatu kaum lakukan dengan perbuatan buruk menjadikan mereka tergelincir |
| وَلَا لَهُمْ مَلْجَأٌ فِيْهَا وَلَا حِيَلٌ | * | إِنْ يَسْتَغِيْثُوْا فَلَا أَحَدٌ يُغِيْثُهُمْ |
| Jika mereka meminta pertolongan maka tiada seorangpun yang bisa menolong mereka | * | Tidak pula ada bagi mereka tempat berlindung dan juga tidak ada daya |
| وَلَيْسَ يُغْنِي نَدَمٌ لِلْقَوْمِ وَقَدْ حُصِّلُوْا | * | إِلَّا حَزَانَى نَدَامَى فِى قُبُوْرِهِمْ |
| Melainkan orang-orang yang berduka dan orang-orang yang penuh penyesalan di alam kubur mereka | * | Dan sudah tidak berguna penyesalan bagi suatu kaum sedang mereka telah dihisab |
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 9
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ (قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: عَشَرَةُ خِصَالٍ يُبْغِضُهَا اللّٰهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ عَشَرَةِ أَنْفُسٍ) أَيْ أَكْثَرُ بُغْضًا مِنْ غَيْرِهِمْ
Maqolah yang kesembilan (Telah berkata sebagian dari para hukama: Ada sepuluh perkara yang Allah Subanahu Wata'ala membencinya dari sepuluh orang) Maksudnya yang paling dibenci dari pada selain sepuluh orang tersebut
1.Sepuluh perkara ini adalah sifat-sifat tercela yang dibenci oleh Allah, dan jika dilakukan oleh sepuluh jenis orang berikut ini, maka hal itu lebih dibenci oleh Allah.
(الْبُخْلُ مِنْ الْأَغْنِيَاءِ) قَالَ حَكِيْمٌ: اَلْبُخْلُ مَحْوُ صِفَاتِ الْإِنْسَانِيَّةِ وَإِثْبَاتُ عَادَاتِ الْحَيَوَانِيَّةِ
(Kikir dari kalangan orang-orang kaya) Telah berkata Hakim: Pelit itu menghapus sifat-sifat kemanusiaan dan pelit itu menetapkan kebiasaan-kebiasaan kebinatangan.
(وَالْكِبْرُ مِنَ الْفُقَرَاءِ) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ ﷺ قَالَ: [إذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ] رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَالرِّوَايَةُ الْمَشْهُورَةُ بِرَفْعِ كَافِ أَهْلَكُهُمْ وَرُوِيَ بِنَصْبِهَا،
(Dan sombong dari kalangan orang-orang fakir) Dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: [Jika seseorang berkata manusia telah binasa maka dialah orang yang paling binasa di anatar mereka] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Muslim. Dan riwayat yang paling masyhur adalah dengan merofakan huruf ك pada lafadz أهلكهم dan diriwayatkan pula dengan menashobkannya
وَهٰذَا النَّهْيُ لِمَنْ قَالَ ذٰلِكَ عَجَبًا بِنَفْسِهِ وَتَصَاغُرًا لِلنَّاسِ وَارْتِفَاعًا عَلَيْهِمْ فَهٰذَا هُوَ الْحَرَامُ ، وَأَمَّا مَنْ قَالَهُ لِمَا يَرَى فِى النَّاسِ مِنْ نَقْصٍ فِى أَمْرِ دِينِهِمْ وَقَالَهُ تَحَزُّنًا عَلَيْهِمْ وَعَلَى الدِّينِ فَلَا بَأْسَ بِهِ، هَكَذَا فَسَّرَهُ الْعُلَمَاءُ.
Dan larangan ini bagi orang yang mengatakan hal itu karena ujub pada dirinya dan karena merendahkan manusia dan karena merasa lebih tinggi atas mereka maka ini adalah haram. Adapun orang yang mengatakan hal itu karena apa yang dia lihat di kalangan manusia karena kekurangan dalam urusan agama mereka dan dia mengucapkannya karena prihatin kepada mereka dan atas agama maka tidak apa apa mengucapkannya. Demikian ini telah menafsirkannya para ulama
(وَالطَّمَعُ مِنَ الْعُلَمَاءِ) قِيْلَ لَمَّا نَطَقَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ بِذِكْرِ الطَّمَعِ فَقَالَ: ﴿لَوْ شِئْتَ لَنَخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا﴾ [الْكَهْفِ: الْآيَةُ ٧٧] قَالَ الْخَضِرُ لَهُ: ﴿هَذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَ﴾ [الكَهْفِ: الْآيَةُ ٧٨]
(Dan serakah dari kalangan ulama) Dikatakan ketika berucap Nabi Musa Alaihis Salam dengan mengungkapkan rasaa tamak dengan berkata ﴾Seandainya engkau hendaki niscaya engkau mengambil atas hal itu upah﴿ [Q.S Al-Kahfi: Ayat 77] Berkata Nabi Khidir kepada Nabi Musa ﴾Ini adalah perpisahan antara diriku dan dirimu﴿ [Q.S Al-Kahfi: Ayat 78]
وَقِيْلَ لَمَّا قَالَ ذٰلِكَ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَفَ بَيْنَ يَدَيْهِمَا ظَبْيٌ وَكَانَا جَائِعَيْنِ، الْجَانِبُ الَّذِي يَلِي مُوسَى غَيْرُ مَشْوِيٍّ وَالْجَانِبُ الَّذِي يَلِي الْخَضِرَ مَشْوِيٌّ.
Dan dikatakan ketika Nabi Khidir mengatakan itu kepada Nabi Musa Alaihis Salam maka berdiri di hadapan keduanya seekor kijang dan keduanya sedang lapar. Bagian yang didekat Nabi Musa tidak dipanggang sedangkan bagian yang didekat Nabi Khidir sudah dipanggang.
(وَقِلَّةُ الْحَيَاءِ مِنَ النِّسَاءِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَيَاءٌ فَلَا دِيْنَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَيَاءٌ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
(Dan sedikitnya rasa malu dari kalangan wanita) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang tidak ada padanya sifat malu maka tidak ada agama baginya, Dan barang siapa yang tidak ada padanya sifat malu di dunia maka dia tidak akan masuk surga] Tela meriwayatkan pada hadits ini Imam ad-Dailami
(وَحُبُّ الدُّنْيَا مِنَ الشُّيُوْخِ) قَالَ أَبُو بَكْرٍ الْمَرَاغِيُّ: اَلْعَاقِلُ مَنْ دَبَّرَ أَمْرَ الدُّنْيَا بِالْقَنَاعَةِ وَالتَّسْوِيْفِ وَأَمْرَ الْآخِرَةِ بِالْحِرْصِ وَالتَّعْجِيْلِ وَأَمْرَ الدِّينِ بِالْعِلْمِ وَالْاِجْتِهَادِ.
(Dan cinta dunia dari kalangan orang yang sudah tua) Telah berkata Abu Bakar al-Marogi: Orang yang berakal adalah orang yang mengatur urusan dunia dengan qona'ah dan penundaan dan mengatur urusan akhirat dengan semangat dan bersegera dan mengatur urusan agama dengan ilmu dan bersungguh sungguh.
(وَالْكَسَلُ) فِى الْأَعْمَالِ (مِنَ الشُّبَّانِ وَالْجَوْرِ مِنَ السُّلْطَانِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ أَرْضَى سُلْطَانًا بِمَا يُسْخِطُ رَبَّهُ خَرَجَ مِنْ دِيْنِ اللّٰهِ تَعَالَى] رَوَاهُ الْحَاكِمُ .
(Dan malas) Dalam beramal (Dari kalangan pemuda dan ketidak adilan dari kalangan raja) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang membuat ridho hati seorang raja dengan cara yang membuat tuhannya murka maka dia keluar dari agam Allah Ta'ala]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim
(وَالْجُبْنُ مِنَ الْغُزَاةِ) وَهُوَ ضَعْفُ الْقَلْبِ يُحْجِمُ بِهِ عَنْ لِقَاءِ الْعَدُوِّ
(Dan sifat penakut dari kalangan pejuang) Yaitu kelemahan hati yang membuat dia mundur sebab takut dari bertemu musuh
(وَالْعُجْبُ مِنَ الزُّهَّادِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ حَمِدَ نَفْسَهُ عَلَى عَمَلٍ صَالِحٍ فَقَدْ ضَلَّ شُكْرُهُ وَحَبِطَ عَمَلُهُ] رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ.
(Dan ujub dari kalangan ahli zuhud) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang memuji pada dirinya atas amal sholeh maka benar-benar telah hilang syukurnya dan terhapus pahala amalnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nuaim
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا مِنْ أَحَدٍ يَلْبَسُ ثَوْبًا لِيُبَاهِيَ بِهِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إلَيْهِ إلَّا لَمْ يَنْظُرِ اللّٰهُ إلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَنْزِعَهُ مَتَى مَا نَزَعَهُ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ .
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidaklah seorangpun yang mengenakan pakaian untuk berbangga-bangga dengan pakaian itu sehingga manusia melihat kepadanya melainkan Allah tidak akan mlihat kepadanya pada hari kiamat sehingga dia melepas pakaian itu kapanpun dia melepasnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam at-Thobroni
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [وَيْحَ ابْنِ آدَمَ كَيْفَ يَزْهُو وَإِنَّمَا هُوَ جِيْفَةٌ يُؤْذِي مَنْ مَرَّ بِهِ ابْنُ آدَمَ مِنَ التُّرَابِ خُلِقَ وَإِلَيْهِ يَصِيْرُ] رواه الديلمي.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Celakalah anak adam. Bagaimana dia bisa menyombongkan diri padahal sesungguhnya dia hanyalah bangkai yang mengganggu orang-orang yang melewatinya. Anak adam itu dari tanah dia diciptakan dan kepada tanah dia akan kembali] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam ad-Dailami
(وَالرِّيَاءُ مِنَ الْعِبَادِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّاكُمْ أَنْ تَخْلِطُوْا طَاعَةَ اللّٰهِ بِحُبِّ ثَنَاءِ الْعِبَادِ فَتُحْبِطَ أَعْمَالُكُمْ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
(Dan sifat riya dari kalangan para hamba) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah kalian agar tidak mencampur aduk ketaatan kepada Allah dengan cinta pujian dari para hamba sehingga dihapus pahala amalan-amalan kalian] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam ad-Dailami
وَأَمَّا وُجُوْدُ الْحَمْدِ مِنَ النَّاسِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُحِبَّهُ فَلَا بَأْسَ بِهِ لِأَنَّهُ لَيْسَ رِيَاءً
Adapun adanya pujian dari manusia tanpa dia suka dipuji manusia maka tidak apa apa atas pujian tersebut karena itu bukan riya
كَمَا رُوِيَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: [أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ ؟ قَالَ: تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ] رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Sebagaimana telah diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiallahu Anhu berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ: [Bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang mengerjakan suatu amal dari amal baik kemudian memuji kepadanya manusia karena amalan tersebut? Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Itu adalah berita gembira yang didahulukan untuk orang yang beriman] Telah meriwayatkan kepada hadits ini Imam Muslim
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 10
(وَ) الْمَقَالَةُ الْعَاشِرَةُ (قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [اَلْعَافِيَةُ عَلَى عَشَرَةِ أَوْجُهٍ، خَمْسَةٌ فِى الدُّنْيَا وَخَمْسَةٌ فِى الْآخِرَةِ. فَأَمَّا الَّتِي فِى الدُّنْيَا) فَهِيَ (اَلْعِلْمُ وَالْعِبَادَةُ وَالرِّزْقُ مِنَ الْحَلَالِ) فِى الْمَطَاعِمِ وَالْمَلَابِسِ
Maqolah yang kesepuluh (Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Kesejahteraan itu ada sepuluh macam. Lima di dunia dan lima di akhirat. Adapun yang di dunia) Yaitu (Ilmu, ibadah, rizki dari yang halal,) Pada makanan dan pakaian
(وَالصَّبْرُ عَلَى الشِّدَّةِ). سُئِلَ الْجُنَيْدُ قَدَّسَ سِرَّهُ عَنِ الصَّبْرِ فَقَالَ: تَجَرُّعُ الْمِرَارَةَ مِنْ غَيْرِ تَعْبِيْسٍ، وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللّٰهُ وَجْهَهُ: الصَّبْرُ مِنَ الْإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ.
(Sabar atas musibah) Ditanya Imam Junaid Qoddasa Sirrohu tentang sabar. Maka dia berkata: Sabar adalah menelan kepahitan tanpa menunjukkan wajah yang masam. Dan berkata Ali bin Abi Tholib Karromallahu Wajhah: Sabar dalam iman itu seperti kedudukan kepala pada jasad
(وَالشُّكْرُ عَلَى النِّعْمَةِ) وَشُكْرُ الْعَبْدِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ إنَّمَا هُوَ نُطْقُ اللِّسَانِ وَإِقْرَارُ الْقَلْبِ بِإِنْعَامِ اللّٰهِ تَعَالَى
(Dan bersyukur atas kenikmatan) Syukur seorang hamba pada hakikatnya hanyalah merupakan ucapan lisan dan pengakuan hati atas nikmat-nikmat dari Allah Ta'ala.
(وَأَمَّا الَّتِيْ فِى الْآخِرَةِ فَإِنَّهُ يَأْتِيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ بِالرَّحْمَةِ وَاللُّطْفِ) أَيْ الرِّفْقِ عِنْدَ نَزْعِ رُوْحِهِ،
(Dan adapun yang di akhirat maka sesungguhnya lima kesejahtraan itu adalah datang kepadanya malaikat maut dengan kasih sayang dan kelembutan,) Maksudnya dengan kelembutan saat mencabut ruhnya.
وَالثَّانِي (لَا يُرَوِّعُهُ) أَيْ لَا يُفْزِعُهُ (مُنْكَرٌ) بِفَتْحِ الْكَافِ (وَنَكِيْرٌ فِى الْقَبْرِ) بَلْ يُؤْنِسُهُ ،
Dan yang kedua adalah (Tidak membuatnya takut) Maksudnya tidak membuatnya kaget (Malaikat Munkar) Lafadz منكر Dengan memfathahkan huruf ك (Dan Malaikat Nakir di dalam kubur,) Tetapi justru menhiburnya
وَمَجِيْءُ مَلِكٍ عِنْدَ الْقَبْضِ لَيْسَ مِنَ الْآخِرَةِ بَلْ مِنَ الدُّنْيَا وَكَذَا الْمَيِّتُ فِى الْقَبْرِ فإِنَّ الْقَبْرَ يُقَالُ لَهُ بَرْزَخٌ لَكِنْ لَمَّا كَانَ وَقْتُ الْمَوْتِ يَقْرُبُ مِنْ أَحْوَالِ الْآخِرَةِ يُقَالُ لَهُ الْآخِرَةُ فَكُلُّ مَا قَارَبَ شَيْئًا يُعْطَى حُكْمُهُ.
Dan datangnya malaikat saat pencabutan nyawa itu bukan termasuk akhirat, melainkan masih bagian dari dunia dan begitu juga orang yang mati di dalam kubur karena sesungguhnya kubur disebut baginya sebagai alam barzakh namun karena waktu kematian dekat dari keadaan akhirat maka dikatakan namanya akhirat. Segala sesuatu yang mendekati sesuatu diberi hukum yang serupa dengannya
وَالثَّالِثُ (يَكُوْنُ آمِنًا) أَيْ غَيْرَ خَائِفٍ (فِى) وَقْتِ (الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ) وَهُوَ حِيْنَ يُؤْمَرُ بِالْكَافِرِ بِالذَّهَابِ إلَى النَّارِ وَحِيْنَ تُغْلَقُ النَّارُ عَلَى أَهْلِهَا وَيَيْأَسُوْنَ مِنَ الْخُرُوْجِ مِنْهَا وَحِيْنَ يُذْبَحُ الْمَوْتُ فِى صُوْرَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ بِلَا مَوْتٍ فَيَيْأَسُ أَهْلُ النَّارِ مِنَ الْخُرُوْجِ مِنْهَا.
Dan yang ketiga adalah (Dia dalam keadaan aman) Maksudnya tidak takut (Pada) Waktu (Ketakutan terbesar,) Yaitu ketika diperintah kepada orang-orang kafir untuk pergi ke neraka dan ketika dikunci neraka pada penghuninya dan mereka putus asa untuk bisa keluar dari neraka dan ketika kematian disembelih dalam bentuk domba berwarna putih di antara surga dan neraka dan menyeru malaikat yang menjadi juru penyeru: Wahai ahli neraka kekekalan tanpa kematian sehingga berputus asa para penduduk neraka untuk keluar dari neraka.
وَالرَّابِعُ (تُمْحَى سَيِّئَآتُهُ وَتُقْبَلُ حَسَنَاتُهُ) .
Dan yang keempat adalah (Dihapus dosa-dosanya dan diterima kebaikan-kebaikannya)
وَالْخَامِسُ (يَمُرُّ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ اللَّامِعِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ فِى السَّلَامَةِ) مِنْ كَلَالِيْبِ الصِّرَاطِ وَغَيْرِهَا مِنْ أَهْوَالِ ذٰلِكَ الْيَوْمِ.
Dan yang kelima adalah (Dia melewat di atas jembatan shirot seperti petir yang menyambar sehingga dia masuk surga dalam keadaan selamat) Dari besi-besi pengait shirot dan selainnya dari ancaman-ancaman pada hari itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar