Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 9
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ (قَالَ بَزَرْجَمْهَرُ: سِتُّ خِصَالٍ تَعْدِلُ) أَيْ تُسَاوِى (جَمِیْعَ الدُّنْيَا) أَيْ أَمْتِعَتَهَا وَأَمْوَالَهَا
Maqolah yang ke sembilan (Telah berkata Imam Bazar Jamhar: Ada enam perkara yang dapat membandingi) Maksudnya menyamai (Seluruh dunia) Maksudnya kesenangan-kesenangan dunia dan harta-harta dunia
(اَلطَّعَامُ الْمَرِيْءُ) أَيْ اَللَّذِيْذُ (وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ) الْبَارُّ بِوَالِدَيْهِ (وَالزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ الْمُوَافِقَةُ) أَيْ اَلَّتِيْ تُطِيْعُ اللّٰهَ وَزَوْجَهَا (وَالْكَلَامُ الْمُحْكِمُ) أَيْ اَلْمُتْقَنُ الَّذِيْ لَا يَتَغَيَّرُ
(Makanan yang mudah ditelan) Maksudnya makanan yang enak (Dan anak yang sholih) Yang berbakti kepada kedua orang tuanya (Dan istri yang sholihah yang taat) Maksudnya yang taat kepada Allah dan suaminya (Dan perkataan yang pasti) Maksudnya yang sempurna yang tidak berubah-ubah
(وَكَمَالُ الْعَقْلِ). .رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [لِكُلِّ عَمَلٍ دِعَامَةٌ وَدِعَامَةُ عَمَلِ الْمَرْءِ عَقْلُهُ] فَبِقَدْرِ عَقْلِهِ تَكُوْنُ عِبَادَتُهُ لِرَبِّهِ.
(Dan sempurnanya akal) Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda [Bagi setiap amalan ada penopangnya dan penopang amal seseorang adalah akalnya]. Maka sesuai dengan batas kecerdasan akalnya akan ada ibadah seseorang kepada Rabb-Nya
وَقَالَ عُمَرُ بْن الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: أَصْلُ الرَّجُلِ عَقْلُهُ وَحَسَبُهُ دِيْنُهُ وَمُرُوْءَتُهُ خَلْقُهُ (وَصِحَّةُ الْبَدَنِ).
Dan telah berkata Umar Bin Khottob Radhiallahu Anhu: Asal seseorang adalah akalnya sedangkan derajat seseorang adalah agamanya dan martabat seseorang adalah akhlaknya (Dan sehatnya badan).
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 10
(وَ) الْمَقَالَةُ الْعَاشِرَةُ (عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ: لَوْلَا الْأَبْدَالُ لَخَسَفَتِ الْأَرْضُ وَمَا فِيْهَا)
Maqolah yang ke sepuluh (Dari Hasan Al-Basri Rahimahullah: Andai tidak ada wali Abdal maka pasti bumi akan lenyap dan apa yang ada di dalamnya)
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَلْأَبْدَالُ أَرْبَعُوْنَ رجُلاً اِثْنَانِ وَعِشْرُوْنَ بِالشَّامِ وَثَمَانِيَةَ عَشَرَ بِالْعِرَاقِ كُلَّمَا مَاتَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ أَبْدَلَ اللّٰهُ مَكَانَهُ فَإِذَا جَاءَ الْأَمْرُ قُبِضُوْا كُلُّهُمْ فَعِنْدَ ذٰلِكَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Wali abdal itu ada empat puluh lelaki dua puluh dua di Syam dan delapan belas di Irak setiap kali mati salah seorang dari mereka maka Allah mengganti tempat orang itu dan ketika telah datang hari kiamat maka nyawa mereka dicabut semuanya dan ketika nyawa mereka telah dicabut maka akan datang hari kiamat] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَنْ تَخْلُوَ الْأَرْضُ عَنْ أَرْبَعِيْنَ رَجُلًا مِثْلَ خَلِيْلِ الرَّحْمٰنِ فَبِهِمْ يُسْقَوْنَ وَبِهِمْ يُنْصَرُوْنَ مَا مَاتَ مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلَّا أَبْدَلَ اللّٰهُ مَكَانَهُ آخَرَ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidaklah bumi kosong dari empat puluh lelaki yang seperti kekasih Ar-Rahman. Maka sebab mereka di beri riziki makhluk di dunia dan sebab mereka ditolong makhluk di dunia tidaklah mati salah seorang dari mereka melainkan Allah akan mengganti tempat orang itu dengan yang lain]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thabrani
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ فَهُوَ مِنَ الْأَبْدَالِ: اَلرِّضَا بالقَضَاءِ وَالصَّبْرُ عَنْ مَحَارِمِ اللّٰهِ وَالْغَضَبُ فِى ذَاتِ اللّٰهِ] رَوَاهُ اِبْنُ عَدِيُّ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tiga perkara barang siapa yang ada pada tiga perkara ini maka ia termasuk wali Abdal: Ridho atas ketentuan Allah dan sabar menjauhi larangan-larangan Allah dan marah karna Allah] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Adi
(وَلَوْلَا الصَّالِحُوْنَ) أَيْ اَلْقَائِمُوْنَ بِمَا عَلَيْهِمْ مِنْ حُقُوْقِ اللّٰهِ وَحُقُوْقِ الْعِبَادِ (لَهَلَكَ الطَّالِحُوْنَ) أَيْ اَلْفَاسِدُوْنَ بِإِتْيَانِ الْمَعَاصِى
(Dan andai tidak ada orang-orang sholeh) Maksudnya orang-orang yang senantiasa melaksanakan apa saja yang menjadi kewajiban mereka dari hak-hak kepada Allah dan hak-hak kepada sesama hamba (Maka pasti hancur orang-orang yang tidak sholeh) Maksudnya orang-orang yang rusak dengan melakukan berbagai kemaksiatan
(وَلَوْلَا الْعُلَمَاءُ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ كَالْبَهَائِمِ). قَالَ أَبُوْ اللَّيْثِ: مَنْ جَلَسَ عِنْدَ عَالِمٍ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى حِفْظِ شَيْءٍ مِنَ الْعِلْمِ نَالَ سَبْعَ كَرَامَاتٍ:
(Dan andai tidak ada ulama pasti manusia semuanya akan menjadi seperti binatang) Telah berkata Imam Abu Laits: Barang siapa yang duduk disamping ulama dan ia tidak mampu menghafal sedikitpun dari ilmu maka dia tetap akan memperoleh tujuh kemuliaan:
فَضْلَ الْمُتَعَلِّمِيْنَ وَحَبْسَهُ عَنِ الذُّنُوْبِ وَنُزُوْلَ الرَّحْمَةِ عَلَيْهِ حَالَ خُرُوْجِهِ مِنْ بَيْتِهِ وَإِذَا نَزَلَتِ الرَّحْمَةُ عَلَى أَهْلِ الْحَلَقَةِ حَصَلَ لَهُ نَصِيْبٌ وَيُكْتَبُ لَهُ طَاعَةً مَا دَامَ مُسْتَمِعًا
Mendapat keutamaan orang-orang yang mengaji dan ditahannya orang itu dari berbuat dosa dan turun rahmat kepadanya ketika dia keluar dari rumah orang alim dan ketika rahmat turun kepada jamaah pengajian pasti hasil baginya pahala dan dicatat baginya sebagai ketaatan selama dia mendengarkan
وَإِذَا ضَاقَ قَلْبُهُ لِعَدَمِ الْفَهْمِ صَارَ غَمُّهُ وَسِيْلَةً إِلَى حَضْرَةِ اللّٰهِ تَعَالَى وَيَرَى عِزَّ الْعَالِمِ وَذِلَّ الْفَاسِقِ فَيَمِيْلُ طَبْعُهُ إِلَى الْعِلْمِ وَيَرُدَّ قَلْبَهُ عَنِ الْفِسْقِ.
Dan ketika terasa sesak hatinya karena tidak paham maka jadilah kesusahannya sebagai wasilah menuju kehadirat Allah dan ia melihat kemuliaan ulama dan hinanya orang fasik sehingga condong tabiatnya kepada ilmu dan ia dapat menolak hatinya dari kefasikkan.
(وَلَوْلَا السُّلْطَانُ لَأَهْلَكَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا) بِالْقَتْلِ وَالْغَصْبِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ
(Dan andai tidak ada Sultan maka akan saling membinasakan sebagian orang dengan sebagian yang lain) Dengan cara membunuh dan dengan cara merampas harta dan dengan cara yang selain itu.
(وَلَوْلَا الْحَمْقَى) أَيْ اَلَّذِيْنَ فَسَدَتْ عُقُوْلُهُمْ (لَخَرَبَتِ الدُّنْيَا) أَيْ لَفَسَدَتِ الْبِلَادُ وَالْمَنَازِلُ
(Dan andai tidak ada orang-orang bodoh) Maksudnya orang-orang yang rusak akalnya (Maka pasti akan menjadi rusak alam dunia) Maksudnya pasti akan rusak suatu negara dan rumh-rumah.
(وَلَوْلَا الرِّيْحُ لَأَنْتَنَّ كُلُّ شَيْءٍ) بِسَبَبِ الْجِيْفِ.
(Andai tidak ada angin pasti akan busuk segala sesuatu) Dengan sebab bangkai-bangkai
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 11
(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ لَمْ يَخْشَ اللّٰهَ لَمْ يَنْجُ مِنْ زَلَّةِ اللِّسَانِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [طُوْبَى لِمَنْ مَلَكَ لِسَانَهُ وَوَسِعَهُ بَيْتُهُ وبَكَى عَلَى خَطِيْئَتِهِ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ
Maqolah yang ke sebelas (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana sesungguhnya mereka berkata: Barang siapa tidak takut kepada Allah maka dia tidak akan bisa selamat dari terpelesetnya lisan) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Keberuntungan bagi orang yang mampu mengendalikan lisannya dan terasa luas baginya rumahnya dan dia menangis atas kesalahannya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thabrani
(وَمَنْ لَمْ يَخْشَ قُدُوْمَهُ عَلَى اللّٰهِ) أَيْ مَنْ لَمْ يَخْشَ لِقَاءَ اللّٰهِ بِالْمَوْتِ (لَمْ يَنْجُ قَلْبُهُ مِنَ الْحَرَامِ وَالشُّبْهَةِ)
(Dan barang siapa yang tidak takut akan kedatangannya kepada Allah) Maksudnya barang siapa yang tidak takut bertemu dengan Allah sebab kematian (Maka hatinya tidak akan bisa selamat dari perkara haram dan syubhat)
فَالْمُحَرَّمَاتُ قِسْمَانِ أَحَدُهُمَا شَيْءٌ مُحَرَّمٌ لِذَاتِهِ كَالْمَيِّتَةِ وَالدَّمِ وَنَحْوِ ذٰلِكَ فَهٰذَا لَا يَحِلُّ إِلَّا لِسَدِّ بَقَاءِ رُوْحِهِ. وَالثَّانِى حَلَالٌ فِى نَفْسِهِ كَالْمَاءِ الطَّاهِرِ وَالْأَرُزِ لَكِنَّهُ مَمْلُوْكٌ لِلْغَيْرِ فَيَحْرُمُ عَلَيْكَ حَتَّى يَصِيْرَ مِلْكَكَ بِوَجْهٍ جَائِزٍ فِى الشَّرْعِ.
Maka perkara yang diharamkan itu ada dua bagian salah satu dari keduanya adalah sesuatu yang diharamkan karena dzatnya seperti bangkai dan darah dan yang semisal itu dan ini tidak halal kecuali untuk mempertahankan nyawanya. Dan yang kedua adalah sesuatu yang halal pada dzatnya seperti air yang suci dan beras akan tetapi barang itu dimiliki orang lain maka haram atasmu sampai barang itu menjadi milikmu dengan cara yang sah dalam hukum Syariat.
وَالشُّبْهَاتُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ: مَا تُيُقِّنَ تَحْرِيْمُهُ وَشَكَّ فِى حِلِّهِ، وَفِى هٰذَا حُكْمُ الْحَرَامِ. وَمَا تُيُقِّنَ حِلُّهُ وَشُكَّ فِى تَحْرِيْمِهِ، وَهٰذِهِ الشُّبْهَةُ تَرْكُهَا مِنَ الْوَرَعِ، وَمَا يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُوْنَ حَلَالًا وَحَرَامًا فَيَنْبَغِى تَرْكُهُ.
Dan perkara syubhat itu ada tiga tingkatan: Yang pertama adalah perkara syubhat yang diyakini keharamannya dan diragukan kehalalannya dan dalam hal ini adalah hukumnya haram dan yang kedua adalah perkara syubhat yang diyakini kehalalannya dan diragukan keharamannya dan perkara syubhat ini meninggalkannya termasuk dari wara' dan yang ketiga adalah perkara yang dimungkinkan kehalalannya dan dimungkinkan keharamannya maka sepatutnya meninggalkan itu
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: [دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إِلَى مَا لَا يُرِيْبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ والْكِذْبَ رَيْبَةٌ] رَوَاهُ التُّرْمُذِيُّ. وَيُرِيْبُكَ بِفَتْحِ الْيَاءِ وَضَمِّهَا.
Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu karena sesungguhnya benar itu menenangkan dan bohong itu meragukan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Tirmidzi. Dan lafadz يُرِيْبُكَ dengan memfathahkan huruf ي atau mendzommahkannhya
وَمَعْنَى هٰذَا الْحَدِيْثِ: اُتْرُكْ مَا تَشُكُّ فِى حِلِّهِ وَاعْدِلْ إِلَى مَا لَا تَشُكُّ فِى حِلِّهِ، كَذَا أَفَادَ الشَّيْخُ حَسَنٌ اَلْحَمْزَاوِيُّ، وَمَعْنَى الرَّيْبَةُ اِضْطِرَابُ الْقَلْبِ. اهـ.
Dan ma'na hadits ini: adalah tinggalkan olehmu sesuatu yang kamu ragu tentang kehalalannya dan berpindahlah kepada sesuatu yang kamu tidak ragu tentang kehalalannya. Demikian telah menjelaskan Syekh Hasan Al-Hamzawi dan ma'na رَيْبَةٌ adalah kebingungan hati.
(وَمَنْ لَمْ يَكُنْ آيِسًا) أَيْ قاَطِعَ الرَّجَاءِ (عَنِ الْخَلْقِ لَمْ يَنْجُ مِنَ الطَّمَعِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اِسْتَعِيْذُوْا بِاللّٰهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبْعٍ - أَيْ دَنَسٍ - وَمِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى غَيْرِ مَظْمَعٍ، وَمِنْ طَمَعٍ حَيْثُ لَا مَظْمَعَ] رَوَاهُ الْإٍمَامُ أَحْمَدُ وَالطَّبْرَانِيُّ وَالْحَاكِمُ.
(Dan barang siapa tidak memutus harapan) Maksudnya memutus harapan (Dari sesama makhluk maka ia tidak akan bisa selamat dari sifat toma') Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Berlindunglah kalian kepada Allah dari sifat toma' yang mengajak kepada watak yang tidak baik maksudnya kotor dan dari sifat toma' yang mengajak kepada sesuatu yang tidak dapat diharapkan dan dari sifat toma' sekiranya tidak ada harapan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Thobroni dan Imam Hakim
(ومَنْ لَمْ يَكُنْ حَافِظًا عَلَى عَمَلِهِ) مِمَّا يُفْسِدُهُ (لَمْ يَنْجُ مِنَ الرِّيَاءِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِيَّاكُمْ أَنْ تَخْلِطُوْا طَاعَةَ اللّٰهِ بِحُبِّ ثَنَاءِ الْعِبَادِ فَتَحْبِطَ أَعْمَالُكُمْ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
(Dan barang siapa yang tidak menjaga amalnya) Dari perkara yang dapat merusaknya (Maka dia tidak akan bisa selamat dari sifat riya) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Berhati hatilah kalian dalam mencampur adukkan ketaatan kepada Allah dengan sifat senang terhadap pujian dari hamba-hamba sehingga menjadi sia-sia amal-amal kalian]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami
(وَمَنْ لَمْ يَسْتَعِنْ بِاللّٰهِ عَلَى اخْتِرَاسِ قَلْبِهِ لَمْ يَنْجُ مِنَ الْحَسَدِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَلْحَسَدُ يُفْسِدُ الْإِيْمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصِّبْرُ الْعَسَلَ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
(Dan barang siapa yang tidak meminta pertolongan kepada Allah untuk menjaga hatinya maka dia tidak akan bisa selamat dari sifat iri dengki) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Iri dengki itu dapat merusak keimanan sebagaimana bisa merusaknya buah mahoni pada manisnya madu]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami.
(وَمَنْ لَمْ يَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْضَلُ مِنْهُ عِلْمًا وَعَمَلًا لَمْ يَنْجُ مِنَ الْعُجْبِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ حَمِدَ نَفْسَهُ عَلَى عَمَلٍ صَالِحٍ فَقَدْ ضَلَّ شُكْرُهُ وحَبِطَ عَمَلُهُ] رَوَاهُ أَبُوْ نُعَيْمٍ،
(Dan barang siapa yang tidak melihat kepada orang yang dia lebih hebat dari pada dirinnya keilmuannya dan amalnya maka dia tidak akan bisa selamat dari sifat ujub) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang memuji-muji pada dirinya sendiri atas amalnya yang sholih maka benar benar telah sia-sia syukurnya dan terhapus pahala amalnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَيْسَ بِالْخَيْرِ أَنْ يُظْهِرَ الْقَوْلَ بِلِسَانِهِ وَالْعُجْبُ فِى قَلْبِهِ] رَوَاهُ الدَّارُقُطْنِيُّ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ الْعُجْبَ لَيُحْبِطُ عَمَلَ سَبْعِينَ سَنَةً] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidaklah baik apabila orang menampakkan ucapan dengan lisannya sementara ujub masih ada dalam hatinya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thobroni. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya sifat ujub itu benar-benar dapat menghpus amal selama tujuh puluh tahun] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami
[nextpage]
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 12
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ (عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ) رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى، وَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ التَّابِعِيْنَ (أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ فَسَادَ الْقُلُوْبِ عَنْ سِتَّةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا: يُذْنِبُوْنَ بِرَجَاءِ التَّوْبَةِ) وَفِى نُسْخَةٍ بِرَجَاءِ الرَّحْمَةِ وَذٰلِكَ تَمَنٍّ
Maqolah yang ke dua belas (Dari Hasan Al-Basri) Rahimahullahu Ta'ala. Dia adalah sebagian dari pembesar tabiin (Sesungguhnya dia berkata: Sesungguhnya kerusakan hati itu sebab enam perkara yang pertama dari enam perkara itu: Adalah manusia sengaja berbuat dosa dengan mengharapkan taubat) Dan dalam suatu naskh dengan mengharapkan rahmat dari Allah dan itu adalah harapan kosong
(وَيَعْلَمُوْنَ الْعِلْمَ وَلَا يَعْمَلُوْنَ) فَلَا فَائِدَةَ فِى الْعِلْمِ إِذَا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ وَإِنَّمَا ثَمْرَةُ الْعِلْمِ الْعَمَلُ بِهِ (وَإِذَا عَمِلُوْا لَا يُخْلِصُوْنَ) وَإِذَا لَمْ يُخْلِصِ الْمَرْءُ فِى الْعِبَادَةِ لَمْ يَصْدُقْ فِيْهَا فَالصِّدْقُ أَصْلٌ وَالْإِخْلَاصُ فَرْعٌ،
(Dan mereka mengerti ilmu dan tidak mengamalkannya) Maka tidak ada manfaatnya suatu ilmu jika tidak mengamalkannya sungguh buahnya ilmu itu hanya mengamalkannya (Dan ketika mereka mengamalkan mereka tidak ikhlas) Dan ketika seseorang tidak ikhlas dalam beribadah maka tidak ada kejujuran di dalamnya maka jujur itu adalah pokok dan keikhlasan adalah cabangnya
وَمِنْ دُعَاءِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: يَا دَلِيْلَ الْحَيَارِى دُلَّنِيْ عَلَى طَرِيْقِ الصَّادِقِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِيْنَ
Dan dari sebgaian doa Imam Ahmad Bin Hambal Radhiallahu Anhu : Wahai dzat yang membimbing orang orang yang kebingungan tunjukkan aku pada jalan orang orang yang jujur dan jadikanlah aku termasuk di antara hamba hambamu yang ikhlas
(وَيَأْكُلُوْنَ رِزْقَ اللّٰهِ وَلَا يَشْكُرُوْنَ) فَالشُّكْرُ إِجْرَاءُ الْأَعْضَاءِ فِى مَرْضَاةِ اللّٰهِ تَعَالَى وَإِجْرَاءُ الْأَمْوَالِ فِيْهَا
(Dan mereka memakan rizki dari Allah dan mereka tidak bersyukur) Syukur adalah menggunakan anggota badan untuk hal-hal yang diridhoi Allah Ta'ala dan menggunakan harta-harta untuk hal-hal yang diridhoi Allah
(وَمَا يَرْضَوْنَ بِقِسْمَةِ اللّٰهِ) فِى حَالَاتِهِ. قَالَ سَيِّدِيْ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيُّ قَدَّسَ سِرَّهُ: اِرْضَ بِالدُّوْنِ وَالْزَمْهُ جِدًّا فَتُنْقَلُ إِلَى الْأَعْلَى وَالْأَنْفَسِ وَبِهِ تَهْنَأُ وَفِيْهِ تَبْقَى وَتُحْفَظُ بِلَا عَنَاءِ دُنْيَا وَأُخْرَى ثُمَّ تَتَرَقَّى مِنْ ذٰلِكَ إِلَى مَا هُوَ أَقَرُّ عَيْنًا مِنْهُ وَأَهْنَأُ.
(Dan mereka tidak ridho dengan ketentuan dari Allah) Dalam berbagai keadaannya. Telah berkata: Tuanku Abdul Qodir Al-Jailani Qoddasa Sirrohu: Ridholah kamu dengan yang rendah dan peganglah ia dengan sungguh-sungguh sehingga kamu dipindahkan pada maqom yang lebih tinggi dan lebih berharga. Dan sebab ridho itulah kamu akan nyaman dan sebab ridho itu kamu akan kekal dan kamu akan dijaga tanpa bersusah payah di dunia dan akhirat kemudian kamu akan terus naik dari hal itu kepada maqom yang mana maqom itu lebih menyenangkan mata dari pada yang rendah dan lebih nikmat.
(وَيُدْفِنُوْنَ مَوْتَاهُمْ وَلَا يَعْتَبِرُوْنَ) أَيْ لَا يَتَذَكَّرُوْنَ لِلْمَوْتِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ القَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ] رَوَاهُ التُّرْمُذِيُّ وَابْنُ مَاجَه وَالْحَاكِمُ.
(Dan mereka mengubur mayit-mayit mereka namu mereka tidak mengambil pelajaran) Maksudnya mereka tidak mengingat pada kematian. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sungguh kuburan itu adalah yang pertama dari tahapan-tahapan akhirat jika seseorang selamat dari alam kubur maka tahapan-tahapan setelah alam kubur lebih mudah dari pada alam kubur dan jika seseorang tidak selamat dari alam kubur maka tahapan-tahapan setelah alam kubur akan lebih sulit dari pada alam kubur].
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ للمَوْتِ فَزْعًا فَإِذَا أَتَى أَحَدَكُمْ وَفَاةُ أَخِيْهِ فَلْيَقُلْ إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِليْهِ رَاجِعُوْنَ وَإنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ اَللَٰهُمَّ اكْتُبْهُ عِنْدَكَ فِى المُحْسِنِيْنَ واجْعَلْ كِتَابَهُ فِى عِلِّيِّيْنَ واخْلُفْ عَقِبَهُ فِى الْآخِرِيْنَ، اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya kematian itu mengejutkan. Ketika datang kepada salah seorang dari kalian kematian saudaranya maka hendaklah ia berkata: Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan sesungguhnya kita semua kepada Allah akan kembali dan sesungguhnya kita semua hanya kepada Allah pasti akan kembali Ya Allah semoga Engkau mencatatnya di sisimu dalam golongan orang-orang yang baik dan semoga Engkau menjadikan kitabnya dalam Iliyyin dan semoga Engkau mengganti anak keturunannya di antara orang orang yang terakhir Ya Allah semoga Engkau tidak mengharamkan kami pada pahalanya dan semoga engkau tidak menguji kami setelahnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thabrani
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ سَمِعَ بِمَوْتِ مُسْلِمٍ فَدَعَا لَهُ بِخَيْرٍ كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ أَجْرَ مَنْ عَادَهُ حَيًّا وَشَيَّعَهُ مَيِّنًا] رَوَاهُ الدَّارُ قُطْنِى
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang mendengar tentang kematian seorang muslim kemudia ia berdoa untuknya dengan kebaikan maka pasti Allah akan menulis baginya dengan pahala orang yang menjenguknya ketika masih hidup dan yang mengantarnya ketika sudah mati]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Daruqutni
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 13
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ (قَالَ أَيْضًا: مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا وَاخْتَارَهَا عَلَى الْآخِرَةِ عَاقَبَهُ اللّٰهُ بِسِتِّ عُقُوْبَاتٍ ثَلَاثٌ فِى الدُّنْيَا وَثَلَاثٌ فِى الْآخِرَةِ، أَمَّا الثَّلَاثُ الَّتِيْ هِيَ فِى الدُّنْيَا: فَأَمَلٌ لَيْسَ لَهُ مُنْتَهَى)
Maqolah yang ke tiga belas (Imam Hasan Basri telah berkata juga: Barang siapa yang mengharapkan dunia dan lebih memilihnya diatas akhirat maka Allah akan memberikan sangsi padanya dengan enam sangsi. Tiga sangsi itu di dunia dan tiga sangsi itu di akhirat. Adapun tiga sangsi yang di dunia: Adalah lamunan-lamunan kosong yang tidak ada habisnya)
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ [مَثَّلَ الْإِنْسَانَ وَالْأَمَلَ وَالْأَجَلَ فَمَثَّلَ الْأَجَلَ إِلَى جَانِبِهِ وَالْأَمَلَ أَمَامَهُ فَبَيْنَمَا هُوَ يَطْلُبُ الْأَمَلَ أَمَامَهُ إِذْ أَتَاهُ الْأَجَلُ فَاخْتَلَجَهُ] أَيْ اِنْتَزَعَهُ، رَوَاهُ ابْنُ أَبِى الدُّنْيَا.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ [Membuat perumpamaan terhadap manusia dan lamunan-lamunan kosong dan ajal Maka Nabi membuat perumpamaan terhadap ajal berada di sampingnya dan lamunan-lamunan kosong berada di depannya ketika manusia mengejar lamunan kosong di depannya tiba-tiba datang kepadanya ajal kemudian ajal mencabut nyawanya ]. Maksudnya mencabut nyawanya. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Abi Dunia
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [كَمْ مِنْ مُسْتَفْبِلٍ يَوْمًا لَا يَسْتَكْمِلُهُ وَمُنْتَظِرٍ غَدًا لَا يَبْلُغُهُ لَوْ نَظَرْتُمْ إِلَى الْأَجَلِ وَمَسِيْرِهِ لَأَبْغَضْتُمُ الْأَمَلَ وَغُرُوْرَهُ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ .
Dan diriwaayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Berapa banyak orang yang menghadapi suatu hari namun dia tidak dapat menyempurnakannya, dan berapa banyak orang yang menantikan hari esok namun dia tidak sampai padanya. Jika kalian melihat ajal dan tempat perjalanannya maka pasti kalian akan membenci pada lamunan-lamunan kosong dan tipu dayanya.]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami
(وَحِرْصٌ غَالِبٌ لَيْسَ لَهُ قَنَاعَةٌ) فَالْحِرْصُ يَسْلُبُ فَضَائِلَ النَّفْسِ وَيَمْنَعُ مِنَ التَّوَفُّرِ عَلَى الْعِبَادَةِ وَيَبْعَثُ عَلَى التَّوَرُطِ فِى الشُّبُهَاتِ،
(Dan keserakahan yang mendominasi tidak ada baginya kepuasan) Maka sifat rakus itu mencabut keutamaan-keutamaan diri dan menghalangi dari menyempurnakan ibadah dan mendorong agar terjerumus ke dalam perkara-perkara syubhat
وَلَيْسَ لِلْحَرِيْصِ غَايَةٌ مَقْصُوْدَةٌ يَقِفُ عِنْدَهَا وَلَا نِهَايَةٌ مَحْدُوْدَةٌ يَقْنَعُ بِهَا لِأَنَّهُ إِذَا وَصَلَ بِالْحِرْصِ إِلَى مَا أَمَّلَ أَغْرَاهُ ذٰلِكَ بِزِيَادَةِ الْحِرْصِ وَالْأَمَلِ وَإِنْ لَمْ يَصِلْ رَأَى إِضَاعَةَ الْغِنَى لَوْمًا وَصَارَ بِمَا سَلَفَ مِنْ رَجَائِهِ أَبْسَطَ أَمَلًا
Dan tidak ada bagi orang yang serakah batas akhir yang dituju yang dia akan berhenti pada tujuan akhir itu dan tidak ada batas akhir yang dibatasi yang ia akan menerima pada batas akhir itu. Karena sesungguhnya ketika dia bisa mencapai dengan sifat serakahnya pada perkara yang ia angan-angankan maka akan menggoda kepadanya keberhasilan itu dengan bertambahnya keserakahan dan bertambahnya angan-angan dan jika ia tidak bisa mencapai maka ia melihat pada sia-sianya kekayaan dengan celaan dan jadilah dia dengan harta yang telah lalu dari harapannya menjadi lebih luas angan-angannya
(وَأُخِذَ مِنْهُ حَلَاوَةُ الْعِبَادَةِ) بِتَشَاغُلِهِ عَنْهَا
(Dan diambil darinya kenikmatan ibadah) Karena kesibukkannya menjauhi ibadah
(وَأَمَّا الثَّلَاثُ الَّتِي هِيَ فِى الْآخِرَةِ: فَهَوْلٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ) أَيْ فَهِيَ أُمُوْرٌ مُخَوِّفَةٌ وَمُفْزِعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (وَالْحِسَابُ الشَّدِيْدُ) وَهُوَ حِسَابُ الْمُنَاقِشَةِ (وَالْحَسْرَةُ الطَّوِيْلَةُ) أَيْ اَلْحُزْنُ الْمَدِيْدُ بِسَبَبِ التَّعَبِ الشَّدِيْدِ.
(Dan adapun tiga sangsi yang di akhirat: Adalah keributan pada hari kiamat) Maksudnya akhirat adalah perkara-perkara yang menakutkan dan mengagetkan pada hari kiamat (Dan hisab yang sangat berat) Dan hisab yang sangat berat adalah hisab didebat (Dan penyesalan yang panjang) Maksudnya kesedihan yang panjang karena rasa lelah yang sangat
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 14
(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ (قَالَ أَحْنَفُ بْنُ قَيْسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: لَا رَاحَةَ لِلْحَسُوْدِ) قَالَ عَبْدُ الْمُعْطِي السَّمْلَاوِيُّ نَقْلًا عَنْ شَيْخِهِ الْبَدْرِ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى : يُبْلَى الْحَسُوْدُ بِخَمْسَةٍ : حُصُوْلُ الذَّمِّ لَهُ وَحُزْنٌ دَاءِمٌ وَغَلْقُ بَابِ التَّوْفِيقِ عَلَيْهِ وَمُصِيبَةٌ دَاءِمَةٌ لَا أَجْرَ فِيهَا. وَالْغَضَبُ الشَّدِيْدُ عَلَيْهِ مِنْ اللّٰهِ تَعَالِيَ.
Maqolah yang ke empat belas (Telah berkata Ahnaf Bin Qois Radhiallahu Anhu: Tidak ada ketenangan bagi orang yang iri dengki) Telah berkata Abdul Mu'ti As-Samlawi dengan menukil dari gurunya Al-Badr Rahimahullah Ta'ala: Akan diberi ujian orang yang iri dengki dengan lima musibah: Hasilnya cacian bagi dirinya dan kesedihan yang terus menerus dan dikunci pintu taufiq atas dirinya dan musibah yang terus menerus tidak ada pahala di dalamnya. Dan murka yang sangat besar kepada dirinya dari Allah Ta'ala.
قَالَ عَلِيٌّ الْمَاوَرْدِيُّ: وَحَقِيْقَةُ الْحَسَدِ شِدَّةُ الْحُزْنِ عَلَى الْخَيْرَاتِ الَّتِي تَكُوْنُ لِلنَّاسِ الْأَفَاضِلِ. أَمَّا الْمُنَافَسَةُ فَهِيَ طَلَبُ التَّشَبُّهِ بِالْأَفَاضِلِ مِنْ غَيْرِ إِدْخَالِ ضَرَرٍ عَلَيْهِمْ. وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [الْمُؤْمِنُ يَغْبِطُ وَالْمُنَافِقُ يَحْسُدُ].
Telah berkata Ali Al-Mawardi: Hakikat dari sifat iri dengki adalah sangat bersedih atas kebaikan-kebaikan yang ada pada manusia yang lebih utama. Adapun bersaing maka itu adalah mengejar kesamaan dengan orang-orang yang lebih utama dengan tanpa memasukkan kemadaratan kepada orang yang lebih utama. Dan benar-benar telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bersabda: [Orang mu'min itu cemburu dan orang munafik itu iri dengki].
(وَلَا مُرُوْءَةَ لِلْكَذُوْبِ) فَالْمُرُوْءَةُ مُرَاعَاةُ الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُوْنُ عَلَى أَفْضَلِهَا حَتَّي لَا يَظْهَرَ مِنْهَا قَبِيْحٌ عَنْ قَصِّهِ وَلَا يَتَوَجَّهُ إِلَيْهَا ذَمٌّ بِاسْتِحْقَاقٍ.
(Tidak ada martabat bagi pembohong) Muru'ah adalah menjaga kehormatan dari keadaan-keadaan yang ada pada keadaan yang lebih utama hingga tidak tampak dari keadaan-keadaan itu prilaku yang buruk dari kisahnya dan tidak menghadap pada keadaan-keadaan itu sebuah celaam dengan sebenarnya
رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [مَنْ عَامَلَ النَّاسَ فَلَمْ يَظْلِمْهُمْ وَحَدَّثَهُمْ فَلَمْ يَكْذِبْهُمْ وَوَعَدَهُمْ فَلَمْ يُخْلِفْهُمْ فَهُوَ مِمَّنْ كَمُلَتْ مُرُوْءَتُهُ وَظَهَرَتْ عَدَالَتُهُ وَوَجَبَتْ أُخُوَّتُهُ ].
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Barang siapa yang bermuamalah dengan manusia kemudian dia tidak berbuat dzolim kepada mereka dan dia berkata pada mereka kemudian dia tidak berbohong pada mereka dan dia berjanji pada mereka kemudian dia tidak ingkar pada mereka maka dia adalah termasuk dari sebagian orang yang telah sempurna kehormatannya dan nampak keadilannya dan wajib berukhuwah dengannya].
(وَلَا حِيْلَةَ لِلْبَخِيْلِ) وَحَدُّ السَّخَاءِ بَذْلُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ عِنْدَ الْحَاجَةِ وَأَنْ يُوْصِلَهُ إلَى مُسْتَحِقِّهِ بِقَدْرِ الطَّاعَةِ،
(Dan tidak ada jalan keluar bagi orang yang pelit) Definisi dermawan adalah memberikan sesuatu yang ia butuh padanya ketika butuh dan menyalurkan sesuatu itu kepada orang yang berhak dengan ukuran keta'atan
وَإِذَا كَانَ السَّخَاءُ مَحْدُودًا، فَمَنْ وَقَفَ عَلَى حَدِّهِ سُمِيَ كَرِيمًا وَكَانَ لِلْحَمْدِ مُسْتَحِقًّا،وَمَنْ قَصَرَ عَنْهُ كَانَ بَخِيلًا وَكَانَ لِلذَّمِّ مُسْتَوْجِبًا.
Dan jika ada sifat dermawan itu terbatas maka barang siapa yang berhenti pada batas kedermawanan maka dia dinamakan sebagai orang yang mulia dan ada baginya atas pujian sebagai orang yang berhak. Dan barang siapa yang mengurangi dari batasan kedermawanan maka ia ada sebagai orang yang pelit dan ada baginya atas hinaan sebagai orang yang berhak
رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [طَعَامُ الْجَوَادِ دَوَاءٌ وَطَعَامُ الْبَخِيلِ دَاءٌ]،وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ: اَلْبَخِيْلُ لَيْسَ لَهُ خَلِيْلٌ.
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Makanan dari orang dermawan itu jadi obat dan makanan dari orang pelit itu jadi penyakit]. Dan telah berkata sebagian dari orang-orang yang beradab: Orang yang pelit itu tidak ada baginya kekasih.
وَقَالَ صَالِحُ بْنُ عَبْدِ الْقُدُّوْسِ مِنْ بَحْرِ الطَّوِيْلِ:
Telah berkata Sholeh Bin Abdul Quddus dari bahar towil:
| وَيَسْتُرُهُ عَنْهُمْ جَمِيْعًا سَخَاؤُهُ | * | وَيُظْهِرُ عَيْبَ الْمَرْْءِ فِى النَّاسِ بُخْلُهُ |
| Akan menampakan aib seseorang di antara manusia sifat pelitnya | * | Dan akan menutupi aib dari semua manusia sifat dermawannya |
| أَرَى كُلَّ عَيْبٍ فَالسَّخَاءُ غِطَاؤُهُ | * | تَغَطَّ بِأَثْوَابِ السَّخَاءِ فَإِنَّنِيْ |
| Maka tutupilah oleh kalian dengan baju-baju kedermawanan karena sesungguhnya | * | Aku telah melihat setiap aib maka sifat dermawanlah yang menjadi penutupnya |
(وَلَا وَفَاءَ لِلْمُلُوْكِ) لِأَنَّهُ لَا يَسْتَحْيِ وَلَا يَخَافُ مِنْ آحَادِ الرَّعِيَّةِ، رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ:[صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِيْ إِنْ صَلَحُوْا صَلَحَتِ الْأُمَّةُ: اَلْأُمَرَاءُ وَالْفُقَهَاءُ] رَوَاهُ أَبُوْ نُعَيْمٍ.
(Dan tidak ada kesetiaan bagi raja-raja) karena sesungguhnya raja-raja tidak akan malu dan takut kepada salah seorang dari rakyat. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Ada dua golongan dari umatku jika keadaan mereka baik maka pasti akan baik keadaan suatu umat: Yaitu para pemimpin dan para fuqoha].
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَنْ تَهْلِكَ الرَّعِيَّةُ وَإِنْ كَانَتْ ظَالِمَةً مُسِيْئَةً إِذَا كَانَتِ الْوُلَاةُ هَادِيَةً مَهْدِيَّةً وَلٰكِنْ تَهْلِكُ الرَّعِيَّةُ وَإِنْ كَانَتْ هَادِيَةٌ مَهْدِيَّةً إِذَا كَانَتِ الوُلَاةُ ظَالِمَةً مُسِيْئةً] رَوَاهُ أَبُوْ نُعَيْمٍ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Rakyat tidak akan binasa meskipun terbukti mereka dzolim dan buruk ketika ada para penguasa yang memberi petunjuk dan diberi hidayah akan tetapi rakyat akan binasa meskipun terbukti mereka memberi petunjuk dan diberi hidayah ketika ada para penguasa yang dzolim dan buruk]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Abu Nu'aim
وَرُوِيَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ أَنْشَدَ مِنْ بَحْرِ الْبَسِيْطِ:
Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Abu Bakar telah melantunkan sya'ir dari bahar basith:
| فَانْظُرْ إِلَى مَلِكٍ فِي زِيِّ مِسْكِيْنِ | * | إِذَا أَرَدْتَ شَرِيْفَ النَّاسِ كُلِّهِمِ |
| Jika kamu ingin menjadi manusia mulia di antara manusia seluruhnya | * | Maka lihatlah raja yang menggunakan pakaian orang miskin |
| وَذَاكَ يَصْلُحُ لِلدُّنْيَا وَلِلدِّيْنِ | * | ذَاكَ الَّذِيْ حَسُنَتْ فِى النَّاسِ سِيْرَتُهُ |
| Itulah orang yang bagus akhlaknya di antara manusia | * | Dan itulah orang yang layak untuk memimpin dunia dan agama |
(وَلَا سُؤْدَدَ لِسَيِّئِ الْخُلُقِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [سُوْءُ الْخُلُقِ شُؤْمٌ وشِرَارُكُمْ أَسْوَأُكُمْ خُلُقًا] رَوَاهُ الْخَطِيْبُ، وَرُوِيَ أَنَّهُ َﷺ قَالَ: [إِنَّ الْخُلُقَ السَّيِّئَ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ] رَوَاهُ الْعَسْكَرِيُّ،
(Tidak ada kemuliaan bagi orang yang buruk akhlaknya) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Akhlak yang buruk itu adalah kesialan dan yang paling buruk di antara kalian adalah yang paling buruk di antara kalian akhlaknya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Khotib. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya akhlak yang buruk itu dapat merusak amal sebagaimana merusaknya cuka pada madu]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Askari
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَحَبُّ عِبَادِ اللّٰهِ تَعَالَى إِلَى اللّٰهِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَكَارِمُ الْأَخْلَاقِ مِنْ أَعْمَالِ الجَنَّةِ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ.
Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Yang paling dicintai dari hamba-hamba Allah oleh Allah adalah yang paling baik di antara mereka akhlaknya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Akhlak-akhlak yang mulia itu termasuk dari amalan-amalan ahli surga]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni.
وَأَنْشَدَ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ مِنْ بَحْرِ الْبَسِيْطِ:
Dan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu telah melantunkan sya'ir dari bahar basit:
| فَالْعَقْلُ أَوَّلُهَا وَالدِّيْنُ ثَانِيْهَا | * | إنَّ الْمَكَارِمَ أَخْلَاقٌ مُطَهِّرَةٌ |
| Sesungguhnya kemuliaan itu adalah akhlak yang disucikan | * | Maka akal adalah yang pertama dari akhlak yang disucikan dan agama adalah yang kedua |
| وَالْجُوْدُ خَامِسُهَا وَالْعُرْفُ سَادِسُهَا | * | وَالْعِلْمُ ثَالِثُهَا وَالْحِلْمُ رَابِعُهَا |
| Dan ilmu adalah yang ketiganya dan rendah hati adalah yang keempatnya | * | Dan dermawan adalah yang kelimanya dan adat adalah yang keenamnya |
| وَالشُّكْرُ تَاسِعُهَا وَاللَّيِنُ عَاشِرُهَا | * | وَالْبِرُّ سَابِعُهَا وَالصَّبْرُ ثَامِنُهَا |
| Dan berbakti pada kedua orang tua adalah yang ketujuhnya dan sabar adalah yang ke delapannya | * | Dan syukur adalah yang kesembilannya dan lemah lembut adalah yang kesepuluhnya |
وَالْمُرَادُ بِالْعَقْلِ كَمَا فِى الْحَدِيْثِ اِجْتِنَابُ مَحَارِمِ اللّٰهِ وَأَدَاءُ فَرَائِضِ اللّٰهِ
Dan yang dimaksud dengan akal sebagimana dalam hadits adalah menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah dan menunaikan perintah-perintah dari Allah.
(وَلَا رَادَّ لِقَضَاءِ اللّٰهِ) أَيْ لِتَقْدِيْرِهِ الْأَشْيَاءَ وَإِرَادَتِهِ لَهَا كَمَا قَالَهُ الشَّيْخُ الْحِفْنِيُ.
(Dan tidak ada penangkal terhadap qodho Allah) Maksudnya terhadap takdirnya pada segala sesuatu dan kehendak Allah pada segala sesuatu sebagaimana telah berkata tentang keterangan itu Syeikh Al-Hifni.
Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 15
(وَ)الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ (سُئِلَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ) أَيْ الَّذِيْنَ جَرَّبُوْا الْأُمُوْرَ(هَلْ يَعْرِفُ الْعَبْدُ إِذَا تَابَ أَنَّ تَوْبَتَهُ قُبِلَتْ أَمْ رُدَّتْ، قَالَ: لَا أَحْكُمُ فِى ذٰلِكَ) أَيْ فِى كَوْنِ تَوْبَةِ الْعَبْدِ مَقْبُوْلَةً أَوْ مَرْدُودَةً (وَلٰكِنْ لِذٰلِكَ) أَيْ لِقَبُوْلِ التَّوْبَةِ (عَلَامَاتٌ) سِتَّةٌ
Maqolah yang ke lima belas (Telah ditanya sebagian dari orang-orang yang bijaksana) Maksudnya orang-orang yang telah membuktikan berbagai hal (Apakah seorang hamba dapat mengetahui ketika bertaubat bahwa sesungguhnya taubatnya telah diterima atau ditolak? Maka sebagian dari orang-orang bijak itu berkata: Saya tidak bisa memastikan tentang hal itu) Maksudnya tentang keadaan taubatnya seorang hamba diterima atau ditolak (Akan tetapi bagi hal itu) Maksudnya bagi diterimanya taubat (Ada tanda-tanda) yang enam
إِحْدَاهَا (أَنْ يَرَى) أَنْ يَعْرِفَ (نَفْسَهُ غَيْرَ مَعْصُوْمَةٍ مِنَ الْمَعْصِيَةِ) فَيُجَوِّزُ وُقُوْعُهَا فِيهَا. (وَ) الثَّانِيَةُ (يَرَى فِى قَلْبِهِ الْفَرَحَ غَائِبًا) أَيْ بَعِيدًا عَنْهُ (وَالْحُزْنَ شَاهِدًا) أَيْ حَاضِرًا عِنْدَهُ.
Salah satu dari yang enam itu (Hendaknya ia mengetahui) Hendaknya ia mengetahui (Pada dirinya sendiri tidak dima'sum dari kemaksiatan) Sehingga memperkenankan dirinya terjerumus ke dalam kemaksiatan (Dan) Yang kedua (Dia melihat dalam dirinya terhadap rasa bahagia tidak ada) Maksudnya jauh dari kebahagiaan (Dan terhadap rasa sedih hadir) Maksudnya hadir di dalam hatinya.
(وَ)الثَّالِثَةُ (يَقْرُبُ أَهْلَ الْخَيْرِ وَيُبَاعِدُ أَهْلَ الشَّرِّ) خَوْفًا مِنَ الْوُقُوْعِ فِى الْمَعْصِيَةِ. (وَ) الرَّابِعَةُ (يَرَى الْقَلِيْلَ مِنَ الدُّنْيَا كَثِيرًا) فَيَأْخُذُ مِنْهَا بِقَدْرِ ضَرُوْرَتِهِ (وَيَرَى الْكَثِيْرَ مِنْ عَمَلِ الْآخِرَةِ قَلِيلًا) فَيَطْلُبُ الزِّيَادَةَ عَلَيْهِ
(Dan) Yang ke tiga (Dia mendekati orang yang baik dan menjauhi orang yang buruk) Karena takut terjerumus ke dalam kemaksiatan (Dan) Yang ke empat (Dia melihat sedikit dari dunia sebagai banyak) Sehingga dia mengambil dari dunia itu dengan ukuran kebutuhannya (Dan dia melihat banyak dari amal akhirat sebagai sedikit) Sehingga ia mencari tambahan atas amalnya.
(وَ) الْخَامِسَةُ (يَرَى قَلْبَهُ مُشْتَغِلًا بِمَا ضُمِنَ) أَيْ اُلْتُزِمَ (مِنَ اللّٰهِ تَعَالِيَ) مِنْ أَنْوَاعِ التَّكَالِيْفِ (فَارِغًا) أَيْ خَالِيًا (عَمَّا ضَمِنَ) أَيْ كَفَلَ (اللّٰهُ) تَعَالَى (مِنْهُ) أَيْ لَهُ بِهِ مِنَ الرِّزْقِ.
(Dan) Yang ke lima (Dia melihat hatinya sibuk dengan sesuatu yang diwajibkan) Maksudnya di wajibkan (Dari Allah Ta'ala) Dari segala macam kewajiban-kewajiban. (Hatinya kosong) Maksudnya kosong (Dari sesuatu yang telah menjamin) Maksudnya memastikan (Allah) Ta'ala (Padanya) Maksudnya menjamin padanya dengan sesuatu itu dari rizki.
(وَ) السَّادِسَةُ (يَكُوْنُ حَافِظَ اللِّسَانِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ حِفْظُ اللِّسَانِ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ ذُنُوْبًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ] رَوَاهُ ابْنُ نَصْرٍ
(Dan) Yang keenam (Terbukti dia menjaga lisan) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi bersabda: [Amalan-amalan yang paling dicintai Allah adalah menjaga lisan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya manusia yang paling banyak dosanya pada hari kiamat adalah yang paling banyak diantara mereka berbicara dalam perkara yang tidak bermanfaat untuknya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Nasr
(دَاءِمَ الْفِكْرَةِ)فِي عَظَمَةِ اللّٰهِ وَجَنَّتِهِ وَنَارِهِ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَلتَّفَكُّرُ فِى عَظَمَةِ اللّٰهِ وَجَنَّتِهِ وَنَارِهِ سَاعَةً خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ] وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللّٰهِ وَلَا تَفَكَّرُوْا فِى اللّٰهِ فَتَهْلَكُوْا]، (لَازِمَ الْغَمِّ وَالنَّدَامَةِ) عَلَى مَا فَعَلَ مِنَ الْمَعَاصِيْ.
(Kekalnya pemikiran) Dalam memikirkan keagungan Allah dan surganya Allah dan nerakanya Allah. Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tafakur dalam memikirkan keagungan Allah dan surganya dan nerakanya satu waktu itu lebih baik daripada mendirikan sholat malam]. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Bertafakurlah kalian semua dalam memikirkan ciptaan Allah dan janganlah bertafakur kalian semua dalam memikirkan dzatnya Allah sehingga kalian binasa]. (Senantiasa bingung dan sedih) Atas perkara yang telah dia lakukan dari kemaksiatan.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 16
(و) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ (قَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ رَحِمَهُ اللّٰهُ: مِنْ أَعْظَمِ الْاِغْتِرَارِ) أَيْ اَلْاِجْتِرَاءِ عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى (عِنْدِيْ اَلتَّمَادِي) أَيْ اَلْمُلَازَمَةُ (فِى الذُّنُوْبِ عَلَى رَجَاءِ الْعَفْوِ) أَيْ مَعَ رَجَاءِ مَحْوِ ذُنُوبِهِ (مِنْ غَيْرِ نَدَامَةٍ) أَيْ تَوْبَةٍ مِنْهَا
Maqolah yang ke enam belas (Telah berkata Yahya Bin Mu'adz Rahimahullah: Dari sebagian penipuan terbesar) Maksudnya lancang kepada Allah Ta'ala (Menurut saya adalah terus menerus) Maksudnya terus menerus (Dalam dosa-dosa dengan harapan dima'afkan) Maksudnya dengan harapan dihapus dosa-dosanya (Tanpa menyesal) Maksudnya tanpa taubat dari dosa-dosa
(وَتَوَقُّعُ الْقُرْبِ) أَيْ اِنْتِظَارُ حُصُوْلِ الْمَرْتَبَةِ (مِنَ اللّٰهِ تَعَالى بِغَيْرِ طَاعَةٍ) بَلْ بِالتَّعْطِيْلِ (وَانْتِظَارُ زَرْعِ الْجَنَّةِ بِبَذْرِ النَّارِ) أَيْ اِنْتِظَارُ نَعِيْمِ الْجَنَّةِ بِفِعْلِ الْمَعَاصِي
(Dan mengharapkan kedekatan) Maksudnya menunggu hasilnya martabat (Dari Allah Ta'ala tanpa melakukan keta'atan) Bahkan dengan menganggur (Dan menunggu tanaman surga dengan menabur benih neraka) Maksudnya menunggu kenikmatan-kenikmatan surga dengan melakukan kemaksiatan.
(وَطَلَبُ دَارِ الْمُطِيْعِيْنَ بِالْمَعَاصِي) أَيْ طَلَبُ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ مِنْ غَيْرِ طَرِيقِهَا بَلْ بِمُخَالَفَةِ أَمْرِ اللّٰهِ تَعَالَى قَالَ تَعَالَى [اِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ]
(Dan mencari tempat orang-orang yang ta'at dengan kemaksiatan) Maksudnya menuntut masuk surga tanpa menempuh jalan menuju surga bahkan dengan menyelisihi perintah dari Allah Ta'ala. Allah ta'ala berfirman: [Sesungguhnya kalian hanya dibalas dengan sesuatu yang telah kalian kerjakan].
(وَانْتِظَارُ الْجَزَاءِ) بِالْخِصَالِ الَّتِي تُؤَدِّي إلَى الرَّاحَةِ (بِغَيْرِ عَمَلٍ) صَالِحٍ يُوْصِلُ إِلَى ذٰلِكَ
(Dan menunggu balasan) dengan perkara-perkara yang mendatangkan ketenangan (Tanpa beramal) Sholih yang bisa menyampaikan dia pada perkara itu
(وَالتَّمَنِّى عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ مَعَ الِْافْرَاطِ) أَيْ مُجَاوَزَةِ حَدِّ الِاعْتِدَالِ (قَالَ الشَّاعِرُ) مِنْ بَحْرِ الْبَسِيْطِ:
(Dan berangan-angan kepada Allah Azza Wajalla serta melewati batas) Maksudnya melewati batas kewajaran (Telah berkata seorang penya'ir) Dari Bahar Basit:
| اِنَّ السَّفِيْنَةَ لَا تَجْرِى عَلَى الْيَبِسِ) | * | (يَرْجُو النَّجَاةَ وَلَا يَسْلُكْ مَسَالِكَهَا |
| (Dia mengharapkan keselamatan sedangkan dia tidak mau menempuh jalan-jalan menuju keselamatan | * | Sesungguhnya perahu itu tidak akan melewat di atas daratan yang kering) |
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 6 Maqolah 17
(و) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ ( قَالَ أَحْنَفُ بْنُ قَيْسٍ) رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى (حِيْنَ سُئِلَ مَا خَيْرُ مَا يُعْطَى الْعَبْدُ) قَالَ هُو(عَقْلٌ غَرِيْزِيٌ) أَى طَبِيْعِيٌ.
Maqolah yang ke tujuh belas: (Telah berkata Ahnaf Bin Qois) Rahimahullhahu Ta'ala (Ketika dia ditanya: Apa sebaik-baiknya anugrah yang diberikan kepada seorang hamba?) Ahnaf menjawab (Akal Ghorizi) Maksudnya watak.
رُوِيَ عَنِ النَّبِىِّ ﷺ أَنَّهُ قَال: [مَا اكْتَسَبَ الْمَرْءُ مِثْلَ عَقْلٍ يَهْدِى صَاحِبَهُ إلَى هُدًى أَوْ يَرَدُّهُ عَنْ رَدًى]
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Tidaklah seseorang dapat berusaha seperti akal yang akan memnunjukkan kepada pemiliknnya petunjuk atau akan menolak kepada pemiliknya dari perkara yang buruk]
(قِيْلَ فَاِنْ لَمْ يَكُنْ)أَى لَمْ يُوجَدِ الْعَقْلُ (قَالَ أَدَبٌ صَالِحٌ) وَهُوَ مَعْرِفَةُ مَا يَحْتَرِزُ بِهِ عَنْ جَمِيْعِ أَنْوَاعِ الْخَطَأِ
(Dikatakan maka jika tidak ada) Maksudnya jika tidak ditemukan akal (Maka Ahnaf menjawab: Adab yang sholih) Yaitu mengetahui sesuatu yang dapat menjaganya sebab perkara itu dari berbagai macam kesalahan.
(قِيْلَ فَاِنْ لَمْ يَكُنْ) أَى لَمْ يُوْجَدْ ذٰلِكَ الْأَدَبُ (قَالَ صَاحِبٌ مُوَفِّقٌ)
(Dikatakan maka jika tidak ada) Maksudnya jika tidak ditemukan adzab yang sholih itu (Maka Ahnaf menjawab: Sahabat yang setia)
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الْإِيْمَانِ التَّوَدُّدُ إلَى النَّاسِ وَمَا يَسْتَغْنِى رَجُلٌ عَنْ مَشُوْرَةٍ وَإِنَّ أَهْلَ الْمَعْرُوْفِ فَى الدُّنْيَا هُمْ أَهْلُ الْمَعْرُوْفِ فِى الْآخِرَةِ وَأَهْلَ الْمُنْكَرِ فِى الدُّنْيَا هُمْ أَهْلُ الْمُنْكَرِ فِى الْآخِرَةِ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُ
Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Pangkalnya akal sesudah iman adalah sayang kepada manusia. Dan tidaklah seseorang kaya dari pepatah dan sesungguhnya orang yang ahli dalam kebaikan di dunia mereka adalah orang yang ahli dalam kebaikan di akhirat dan orang yang ahli munkar di dunia mereka adalah orang yang ahli munkar di akhirat]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi
(قِيْلَ فَاِنْ لَمْ يَكُنْ) أَى لَمْ يُوْجَدْ ذٰلِكَ الصَّاحِبُ (قَالَ قَلْبٌ مُرَابِطٌ) أَى صَابِرٌ عَلَى أَذِيَّةِ الْخَلْقِ، رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَوْ كَانَ الْمُؤْمِنُ عَلَى قَصَبَةٍ فِى الْبَحْرِ لَقَيَّضَى اللّٰهُ لَهُ مَنْ يُؤْذِيْهِ] رَوَاهُ ابْنُ أَبِى شَيْبَةَ
(Dikatakan maka jika tidak ada)Maksudnya jika tidak ditemukan sahabat yang setia itu (Maka Ahnaf menjawab: Hati yang teguh) Maksudnya sabar terhadap gangguan makhluk. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Seandainya seorang mukmin berada di atas rakit bambu di lautan, niscaya Allah akan menyiapkan baginya seseorang yang akan mengganggunya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Abi Syaibah
Catatan!
Maksud dari kalimat "Niscaya Allah akan menyiapkan baginya seseorang yang akan mengganggunya" adalah Untuk melipat gandakan pahalanya dan menaikan derajatnya
(فَاِنْ لَمْ يَكُنْ)بِأَنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الصَّبْرِ (قَالَ طُوْلُ الصُّمْتِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيْقَةَ الْإِيْمَانِ حَتَّى يَخْزُنَ لِسَانَهُ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ،
(Maka jika tidak ada) Karena tidak mampu untuk bersabar (Maka Ahnaf menjawab: Panjangnya diam) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidak akan sampai seorang hamba pada hakikat keimanan sampai dia menjaga lisannya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thobroni
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَال: [رَحِمَ اللّٰهُ مَنْ حَفِظَ لِسَانَهُ وَعَرَفَ زَمَانَهُ وَاسْتَقَامَتْ طَرِيقَتُهُ] رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ
Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Allah merahmati orang yang menjaga lisannya dan mengetahui zamannya dan lurus jalannya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim
(قِيْلَ فَاِنْ لَمْ يَكُنْ) بِأَنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الصَّمْتِ وَلَمْ يُوجَدْ مِنْهُ وَاحِدٌ مِنْ تِلْكَ الْخَمْسَةِ (قَالَ مَوْتٌ حَاضِرٌ) أَى مَوْتًا خَيْرٌ مِنْ حَيَاتِهِ.
(Dikatakan maka jika tidak ada) Karena dia tidak mampu untuk diam dan tidak ditemukan dalam dirinya satupun dari kelima perkara itu (Maka Ahnaf menjawab: Mati yang hadir) Maksudnya kematian itu lebih baik dibandingkan hidupnya.
Catatan!
Maksud dari pernyataan "kematian lebih baik dibandingkan hidupnya" adalah untuk menegaskan bahwa nilai kehidupan seseorang yang tidak menemukan satupun dari lima perkara tersebut dianggap kurang berharga dibandingkan kematian, namun bukan berarti dianjurkan untuk mengambil tindakan bunuh diri ketika tidak menemukan satupun dari lima perkara itu karena bunuh diri merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah Ta'ala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar