Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 31
(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ) رَحِمَهُ اللَّهُ (أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأَجْنَاسِ، فَإِنَّ الشَّيْءَ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِضِدِّهِ (الشَّبَابُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهُ إِلَّا الشُّيُوخُ) أَيْ أَهْلُ الْهَرَمِ (وَالْعَافِيَةُ) أَيْ دِفَاعُ الْمَكْرُوهِ (لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا أَهْلُ الْبَلَاءِ) قَالَ الْغَزَالِيُّ بَدَلَ هَذِهِ الْجُمْلَةِ: وَلَا يَعْرِفُ قَدْرَ الْغِنَى إِلَّا أَهْلُ الْفَقْرِ (وَالصِّحَّةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا الْمَرْضَى) جَمْعُ مَرِيضٍ أَيْ إِلَّا أَهْلُ السَّقَمِ (وَالْحَيَاةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا الْمَوْتَى. قَالَ الشَّاعِرُ أَبُو نُوَاسٍ) بِضَمِّ النُّونِ وَبِالْوَاوِ اسْمُهُ الْحَسَنُ بْنُ هَانَىءَ. وَسَبَبُ تَلْقِيبِهِ بِأَبِي نُوَاسٍ أَنَّهُ كَانَ لَهُ ذُؤَابَتَانِ تَنُوْسَانِ أَيْ تَتَحَرَّكَانِ عَلَى عَاتِقِهِ اهْ. مِنْ بَحْرِ اَلطَّوِيلِ:
Maqolah yang ke tiga puluh satu (Dari Hatim Al-Ashom) Rahimahullah (Sesungguhnya Hatim Al-Ashom berkata: Empat perkara yang tidaklah mengetahui pada nilainya empat perkara itu kecuali empat) Dari kelompok, Karena sesungguhnya sesuatu itu hanya bisa diketahui dengan kebalikannya (Masa muda tidaklah mengetahui pada nilainya masa muda itu kecuali orang-orang yang sudah tua) Maksudnya orang-orang yang lanjut usia (Dan kesejahtraan) Maksudnya terhindar dari perkara yang dibenci (Tidaklah mengetahui pada nilai kesejahtraan kecuali orang-orang yang terkena musibah) Telah berkata Imam Al-Ghozali sebagai ganti dari kalimat ini: Tidaklah mengetahui nilai kekayaan kecuali orang fakir (Dan sehat tidaklah mengetahui pada nilainya sehat kecuali orang-orang yang sakit) Lafadz الْمَرْضَى adalah jamak dari lafadz مَرِيضٌ. Maksudnya kecuali orang-orang yang sakit (Dan kehidupan tidaklah mengetahui pada nilai kehidupan kecuali orang-orang yang mati. Telah berkata seorang penya'ir Abu Nuwas) Lafadz نُوَاسٍ dibaca dengan mendhommahkan huruf nun dan dengan wawu. Namanhya adalah Hasan bin Hani dan sebab dilaninya Hasan bin Hani dengan nama Abu Nuwas karena sesungguhnya ada padanya dua kuncir yang keduanya berubah-ubah Maksudnya kedua-duanya bergerak-gerak di atas pundaknya. Syair dari Bahar Thowil:
| وَرَحْمَةُ رَبِّي مِنْ ذُنُوبِيَ أَوْسَعُ | * | (ذُنُوْبِيَ إِنْ فَكَّرْتُ فِيهَا كَثِيرَةٌ |
| وَلَكِنِّي فِي رَحْمَةِ اللَّهِ أَطْمَعُ | * | وَمَا طَمَعِي فِي صَالِحٍ إِنْ عَمِلْتُهُ |
| وَإِنِّي لَهُ عَبْدٌ أُقِرُّ وَأَخْضَعُ | * | هُوَ اللَّهُ مَوْلَايَ الَّذِي هُوَ خَالِقِي |
| وَإِنْ تَكُنِ الْأُخْرَى فَمَا أَنَا أَصْنَعُ) | * | فَإِنْ يَكُ غُفْرَانٌ فَذَلِكَ رَحْمَةٌ |
| (Dosa dosaku jika aku fikir tentangnya itu adalah banyak | * | Sedangkan rahmat Allah itu lebih luas daripada dosa-dosaku |
| Bukanlah harapanku dalam amal sholeh jika aku melaksanakan amal sholeh itu | * | Akan tetapi aku lebih berharap pada rahmatnya Allah |
| Dialah Allah pelindungku dzat yang menciptakan aku | * | Dan sungguh aku baginya adalah hamba dan aku mengakui hal itu dan aku tunduk kepadanya |
| Jika terjadi ampunan maka itulah kasih sayang Allah | * | Dan jika yang terjadi yang lain maka tidkalah aku melakukan hal itu) |
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [مَنْ أَرَادَ أَنْ لَا يُوْقِفَهُ اللَّهُ عَلَى قَبِيْحِ أَعْمَالِهِ وَلَا يَنْشُرَ لَهُ دِيْوَانًا فَلْيَدْعُ بِهَذَا الدُّعَاءِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ وَهُوَ: اللَّهُمَّ إِنَّ مَغْفِرَتَكَ أَرْجَى مِنْ عَمَلِيْ، وَإِنَّ رَحْمَتَكَ أَوْسَعُ مِنْ ذَنْبِيْ، اللَّهُمَّ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَهْلًا أَنْ أَبْلُغَ رَحْمَتَكَ فَرَحْمَتُكَ أَهْلٌ أَنْ تَبْلُغَنِيْ لِأَنَّهَا وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ].
Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Barang siapa yang ingin agar tidak memperlihatkan kepadanya oleh Allah atas amal-amalnya yang jelek dan agar Allah tidak membuka kepadanya catatan amalnya maka hendaklah ia berdoa dengan doa ini di akhir setiap sholat. Doa itu adalah: Ya Allah sesungguhnya ampunanmu itu lebih aku harapkan daripada amalku, dan sesungguhnya kasih sayangmu itu lebih luas daripada dosaku, Ya Allah jika aku bukan orang yang layak untuk mencapai rahmatmu sungguh rahmatmu itu layak untuk sampai kepadaku karena rahmatmu itu luas mencakup segala sesuatu wahai dzat yang maha pengasih di antara para pengasih].
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 32
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: إِذَا كَانَ) أَيْ جَاءَ (يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُوضَعُ الْمِيزَانُ فَيُؤْتَى بِأَهْلِ الصَّلَاةِ فَيُوَفَّوْنَ أُجُورَهُمْ) أَيْ يُعْطَوْنَ أُجُورَهُمْ كَامِلَةً (بِالْمِيزَانِ، ثُمَّ يُؤْتَى بِأَهْلِ الصَّوْمِ) وَفِي نُسَخٍ: بِأَهْلِ الْحَجِّ (فَيُوَفَّوْنَ أُجُوْرَهُمْ بِالْمِيْزَانِ، ثُمَّ يُؤْتَى بِأَهْلِ الْبَلَاءِ لَا يُنْصَبُ لَهُمْ مِيزَانٌ وَلَا يُنْشَرُ لَهُمْ دِيْوَانٌ) أَيْ جَرِيْدَةُ الْحِسَابِ (فَيُوَفَّوْنَ أُجُورَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ) أَيْ عَدَدٍ مَحْصُورٍ (حَتَّى يَتَمَنَّى أَهْلُ الْعَافِيَةِ لَوْ كَانُوا بِمَنْزِلَتِهِمْ) فَلَوْ مَصْدَرِيَّةٌ (مِنْ كَثْرَةِ ثَوَابِ اللَّهِ تَعَالَى) عَلَيْهِمْ.
Maqolah yang ke tiga puluh dua (Telah bersabda Nabi ﷺ: Ketika telah ada) Maksudnya telah datang (Hari kiamat maka diletakkanlah timbangan kemudian didatangkan orang-orang yang ahli sholat kemudian diberikan sepenuhnya kepada mereka pahala-pahala mereka) Maksudnya mereka diberi pahala yang sempurna (atas timbangan, Kemudian didatangkan orang-orang yang ahli puasa) Dan dalam satu salinan: Orang-orang yang ahli haji (Kemudian diberikan sepenuhnya kepada mereka pahala-pahala mereka atas timbangan, Kemudian didatangkan orang-orang yang ahli musibah tidak dipasang bagi mereka timbangan dan tidak dibuka bagi mereka catatan amal) Maksudnya catatan hisab (Kemudian diberikan sepenuhnya kepada mereka pahala-pahala mereka dengan tanpa hisab) Maksudnya tanpa hitungan yang terbatas (Sampai-sampai berharap orang-orang yang ahli sejahtera andaikan orang-orang ahli sejahtera itu ada pada tempat ahlul musibah) Lafadz لَوْ ini adalah masdariyah (Sebab banyaknya pahala dari Allah Ta'ala) Kepada ahlul musibah.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 33
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ: يَسْتَقْبِلُ ابْنَ آدَمَ أَرْبَعُ نُهُبَاتٍ) بِضَمِّ النُّونِ وَهِيَ الَّتِي تَغْلِبُهُ (يَنْتَهِبُ) أَيْ يَأْخُذُ بِالْقَهْرِ (مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ وَیَنْتَهِبُ الْوَرَثَةُ) بِفَتْحَاتٍ جَمْعُ وَارِثٍ (مَالَهُ) بَعْدَ مَوْتِهِ (وَینَتَّهِبُ الدُّودُ جِسْمَهُ) فِي الْقَبْرِ (وَيَنْتَهِبُ الْخُصَمَاءُ) بِضَمٍّ فَفَتْحٍ جَمْعُ خَصِيمٍ وَهُمْ مَنْ لَهُمْ الْحَقُّ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُمْ بِأَخْذِ أَمْوَالِهِمْ أَوْ بِاغْتِيَابِهِمْ أَوْ بِضَرْبِهِمْ مَثَلًا أَوْ بِغَيْرِ ذَلِكَ (عَمَلَهُ) إِنْ کَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ وَإِلَّا حُمِلَ عَلَيْهِ ذَنْبُهُمْ.
Maqolah yang ke tiga puluh tiga (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana: Akan menghadapi kepada anak Adam empat perampasan) lafadz نُهُبَاتٍ dengan mendhommahkan huruf nun yaitu yang bisa mengalahkan anak Adam (Akan merampas) Maksudnya mengambil dengan paksa (Oleh malaikat maut pada ruh anak Adam, dan akan merampas oleh ahli waris) Lafadz الْوَرَثَةِ dengan memfathahkan semuanya jamak dari lafadz وَارِثٍ (Pada harta anak Adam) Sesudah matinya anak Adam (Dan akan merampas oleh cacing pada badan anak Adam) Di dalam qubur (Dan akan merampas oleh orang-orang yang menggugat) Lafadz الْخُصَمَاءُ dengan mendhommahkan kemudian fathah jamak dari lafadz خَصِيم mereka adalah orang yang memiliki pada diri mereka hak kepada orang yang telah berbuat dzolim kepada mereka dengan mengambil pada harta-harta mereka atau dengan menyakiti mereka atau dengan memukul mereka seumpamanya atau dengan selain hal itu (Pada amalnya anak Adam) Jika ada bagi anak Adam itu amal yang sholeh dan jika tidak ada maka dibebankan kepadanya dosa-dosa mereka.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 34
(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ: مَنِ اشْتَغَلَ بِالشَّهَوَاتِ فَلَا بُدَّ لَهُ مِنَ النِّسَاءِ) أَيْ مِنْ تَنَاوُلِ النِّسَاءِ (وَمَنِ اشْتَغَلَ بِجَمْعِ الْمَالِ فَلَا بُدَّ لَهُ مِنَ الْحَرَامِ) أَيْ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الْحَرَامِ (وَمَنِ اشْتَغَلَ بِمَنَافِعِ الْمُسْلِمِينَ فَلَا بُدَّ لَهُ مِنْ الْمُدَارَاةِ) أَيْ مِنْ مُلَاطَفَتِهِمْ بِالْقَوْلِ وَالْفِعْلِ (وَمَنِ اشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ فَلَا بُدَّ لَهُ مِنَ الْعِلْمِ) إِذْ لَا تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إِلَّا بِالْعِلْمِ بِكَيْفِيَّتِهَا.
Maqolah yang ke tiga puluh empat (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana: Barang siapa yang sibuk dengan syahwat maka tidak boleh tidak baginya dar wanita) Maksudnya dari bergaul dengan wanita (Dan barang siapa yang sibuk dengan mengumpulkan harta maka tidak boleh tidak baginya dari perkara haram) Maksudnya dari terjerumus pada perkara haram (Dan barang siapa sibuk dengan memberikan manfaat kepada orang-orang islam maka tidak boleh tidak baginya dari beramah tamah) Maksudnya bersikap lemah lembut kepada orang-orang islam dengan ucapan dan perbuatan (Dan barang siapa yang sibuk dengan ibadah maka tidak boleh tidak baginya dari ilmu) Karena tidaklah sah ibadah kecuali dengan ilmu tentang tatacara-tatacara ibadah.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 35
(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَ كَرَّمَ وَجْهَهُ (إِنَّ أَصْعَبَ الْأَعْمَالِ أَرْبَعُ خِصَالٍ: الْعَفْوُ عِنْدَ الْغَضَبِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اللَّهُ عَنْهُ عَذَابَهُ].
Maqolah yang ke tiga puluh lima (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Sesungguhnya paling susahnya amal itu ada empat perkara: Memaafkan ketika marah) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda : [Barang siapa yang menahan amarahnya maka pasti Allah akan menahan darinya pada adab Allah].
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ وَبَسَطَ رِضَاهُ وَبَذَلَ مَعْرُوفَهُ وَوَصَلَ رَحِمَهُ وَأَدَّى أَمَانَتَهُ أَدْخَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي نُورِهِ الْأَعْظَمِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang menahan amarahnya dan meluaskan ridhonya dan mengerahkan kebaikannya dan menyambungkan kasih sayangnya dan menunaikan amanahnya maka pasti akan memasukkan kepadanya oleh Allah Azza Wajalla pada hari kiamat ke dalam cahaya Allah yang maha agung] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami.
(وَالْجُودُ) أَيْ بَذْلُ الْمَالِ (فِي الْعُسْرَةِ) أَيْ فِي وَقْتِ الْفَقْرِ وَصُعُوبَةِ الْمَالِ (وَالْعِفَّةُ) أَيْ مَنْعُ الْحَرَامِ (فِي الْخَلْوَةِ) أَيْ فِي وَقْتِ الِانْفِرَادِ عَنْ النَّاسِ، فَالْعَفِيفُ مَنْ يُبَاشِرُ الْأُمُورَ عَلَى وَفْقِ الشَّرْعِ وَالْمُرُوءَةِ (وَقَوْلُ الْحَقِّ لِمَنْ يَخَافُهُ) كَسُلْطَانٍ جَائِرٍ (أَوْ يَرْجُوهُ) أَيْ يَرْجُو عَفْوَهُ أَوْ إِعْطَاءَهُ.
(Dan kedermawanan) Maksudnya mengorbankan harta (Dalam keadaan susah) Maksudnya di waktu fakir dan di waktu kesulitan harta (Dan menjaga kehormatan) Maksudnya menghindari perkara haram (Di saat sendiri) Maksudnya di waktu sendirian jauh dari orang lain. Orang yang menjaga kehormatannya adalah orang yang melakukan perkara perkara sesuai dengan syariat dan kehormatan (Dan berkata benar kepada orang yang ia takut kepadanya) Seperti sultan yang dzolim (Atau kepada orang yang ia berharap kepadanya) Maksudnya ia mengharapkan maafnya atau pemberiannya.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 36
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ (فِي الزَّبُورِ: أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: إنَّ الْعَاقِلَ الْحَكِيمَ) أَيْ كَامِلَ الْعِلْمِ (لَا يَخْلُو مِنْ أَرْبَعِ سَاعَاتٍ) يَقْسِمُهَا عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ (سَاعَةً يُنَاجِي فِيهَا رَبَّهُ) بِذِكْرِهِ وَتِلَاوَةِ كَلَامِهِ وَشِكَايَةِ الْحَالِ عِنْدَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ (وَسَاعَةٌ يُحَاسِبُ فِيهَا نَفْسَهُ) بِأَنْ يَكْتُبَ أَعْمَالَهُ وَحَرَكَاتِهِ لَيْلًا وَنَهَارًا فِي الْكَاغِدِ ثُمَّ يَنْظُرَهُ فِي آخِرِ النَّهَارِ وَفِي آخِرِ اللَّيْلِ فَيَشْكُرُ أَوْ يَسْتَغْفِرُ (وَسَاعَةً يَمْشِي فِيهَا إلَى إخْوَانِهِ الَّذِينَ يُخْبِرُونَهُ بِعُيُوبِهِ) لِيَرْجِعَ مِنْهَا (وَسَاعَةٌ فِيهَا يُخَلِّى) أَيْ يَتْرُكُ (بَيْنَ نَفْسِهِ وَبَيْنَ لَذَّاتِهَا الْحَلَالَ).
Maqolah yang ke tiga puluh enam (Dalam kitab Zabur: Telah mewahyukan Allah Ta'ala kepada Daud alaihissalam: Sesungguhnya orang berakal yang bijaksana) Maksudnya yang sempurna dalam ilmu (Tidak akan kosong dari empat waktu) ia membaginya atas perbuatan-perbuatan ini (Satu waktu ia bermunajat pada saat itu kepada Tuhannya) Dengan berzikir kepadanya dan membaca firman-Nya dan mengadukan keadaannya kepada-Nya dan yang semisal dari hal itu (Dan satu waktu ia mengevaluasi pada saat itu kepada dirinya) Dengan menulis amal-amalnya dan gerak-geriknya malam dan siang di kertas kemudian ia melihatnya di sore hari dan di akhir malam lalu ia bersyukur atau memohon ampun (Dan satu waktu ia berjalan pada waktu itu kepada saudara-saudaranya yang akan memberitahukan kepadanya kekurangan-kekurangannya) Agar ia bisa meninggalkan dari aib-aib itu (Dan satu waktu pada saati itu ia menyendiri) Maksudnya ia meninggalkan (Antara dirinya dan antara kenikmatan kenikmatan dunia yang halal).
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 37
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: جَمِيعُ الْعِبَادَاتِ مِنَ الْعُبُودِيَّةِ) أَيْ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ (أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (الْوَفَاءُ بِالْعُهُودِ) وَهُوَ أَدَاءُ فَرَائِضِ اللَّهِ تَعَالَى (وَالْمُحَافَظَةُ عَلَى الْحُدُودِ) وَهُوَ اجْتِنَابُ مُحَرَّمَاتِ اللَّهِ تَعَالَی (وَالصَّبْرُ عَلَى الْمَفْقُودِ) مِنْ مَحْبُوبَاتِهِ (وَالرِّضَا بِالْمَوْجُودِ) مِنَ الْمَطَاعِمِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ.
Maqolah yang ke tiga puluh tujuh (Telah berkata: Sebagian orang-orang yang bijaksana: Semua ibadah dari jenis penghambaaan) Maksudnya dari rukun islam (Itu ada empat) Dari perkara (Memenuhi janji) Yaitu kefardhuan-kefardhuan dari Allah Ta'ala (Dan menjaga pada batasan) Yaitu menjauhi perkara yang telah diharamkan oleh Allah Ta'ala (Dan bersabar atas yang hilang) Dari perkara-perkara yang dicintainya (Dan ridha dengan yang ada) Dari makanan dan pakaian dan tempat tinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar