MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 27 April 2026

KITAB NASHOIHUL IBAD BAB 10 MAQALAH 16-20

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 16

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ (قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى: بَيْنَمَا أَطُوْفُ يَوْمًا فِى أَزِقَّةِ الْبَصْرَةِ) أَيْ أَدُوْرُ بِهَا

Maqolah yang keenam belas (Telah berkata Hasan al-Basri rahimahullah Ta'ala: Ketika aku sedang berkeliling di gang-gang Basrah) Maksudnya berkeliling di dalamnya

(وَفِى أَسْوَاقِهَا مَعَ شَابٍّ عَابٍدٍ فَإِذَا أَنَا بِطَبِيْبٍ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى الْكُرْسِيِّ وَبَيْنَ يَدَيْهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ وَصِبْيَانٌ بِأَيْدِيهِمْ قَوَارِيْرُ فِيْهَا مَاءٌ وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَسْتَوْصِفُ دَوَاءً) أَيْ يَطْلُبُ مِنْ ذٰلِكَ الطَّبِيْبِ أَنْ يَذْكُرَ صِفَاتِ دَوَاءٍ (لِدَائِهِ) أَيْ كُلِّ وَاحِدٍ

(Dan di pasar-pasarnya dengan seorang pemuda yang rajin ibadah, tiba-tiba aku melihat seorang dokter dia sedang duduk di atas kursi dan di depannya ada pria, wanita, dan anak-anak, di tangan mereka ada botol yang berisi air dan setiap orang meminta resep obat) Maksudnya meminta kepada dokter tersebut untuk menyebutkan sifat-sifat obat (untuk penyakitnya) Maksudnya masing-masing orang.

(فَقَالَ) أَيْ اَلْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ (فَتَقَدَّمَ الشَّابُّ) أَيْ الْعَابِدُ (إلَى الطَّبِيْبِ فَقَالَ) أَيْ ذٰلِكَ الشَّابُّ (أَيُّهَا الطَّبِيْبُ هَلْ عِنْدَكَ دَوَاءٌ يَغْسِلُ الذُّنُوْبَ وَيَشْفِي مَرَضَ الْقُلُوْبِ ، فَقَالَ) أَيْ اَلطَّبِيْبُ (نَعَمْ) أَيْ ذٰلِكَ عِنْدِي

(Kemudian berkata) Maksudnya Hasan al-Basri (Kemudian pemuda tersebut maju) Maksudnya pemuda yang rajin beribadah (kepada dokter dan berkata) Maksudnya pemuda tersebut (Wahai dokter, apakah Anda memiliki obat yang dapat membersihkan dosa dan menyembuhkan penyakit hati? Maka dia berkata) Maksudnya dokter (Ya) Maksudnya itu ada padaku

(فَقَالَ) أَيْ الشَّابُّ (هَاتِ) أَيْ أَحْضِرْ ذٰلِكَ الدَّوَاءَ لِى (فَقَالَ) أَيْ الطَّبِيْبُ (خُذْ مِنِّيْ عَشَرَةَ أَشْيَاءَ) مِنَ الْعَقَاقِيْرِ، قَالَ: (خُذْ عُرُوْقَ شَجَرَةِ الْفَقْرِ مَعَ عُرُوْقِ شَجَرَةِ التَّوَاضُعِ) شَبَّهَ الْفَقْرَ وَالتَّوَاضُعَ بِالشَّجَرَةِ فِى كَوْنِ كُلٍّ مُرْتَفِعًا وَالْعُرُوْقَ سَبَبٌ لِحَيَاةِ تِلْكَ الشَّجَرَةِ.

(Kemudian dia berkata) Maksudnya pemuda (Berikanlah kepadaku) Maksudnya berikanlah obat itu kepadaku (Lalu dia berkata) Maksudnya doketer (Ambillah dariku sepuluh jenis obat) dari berbagai ramuan, dia berkata: (Ambillah akar pohon kemiskinan bersama dengan akar pohon kerendahan hati) Dia menyamakan kemiskinan dan kerendahan hati dengan pohon karena keduanya tinggi dan akar adalah penyebab kehidupan pohon tersebut.

وَالْمَعْنَى خُذِ الْعُرُوْقَ الَّتِي هِيَ مِنْ أَسْبَابِ وُجُوْدِ حَقِيْقَةِ الْفَقْرِ وَالتَّوَاضُعِ الْمُشَبَّهَيْنِ بِالشَّجَرَةِ الْعَالِيَةِ لِارْتِفَاعِهِمَا عِنْدَ اللّٰهِ تَعَالَى.

Maknanya, ambillah akar yang akar itu merupakan sebab adanya hakikat kemiskinan dan kerendahan hati yang disamakan keduanya dengan pohon yang tinggi karena keduanya mulia di sisi Allah Ta'ala.

قَالَ ابْنُ عَطَاءٍ: التَّوَاضُعُ قَبُوْلُ الْحَقِّ مِمَّنْ كَانَ. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مِنَ التَّوَاضُعِ أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ مِنْ سُؤْرِ أَخِيْهِ.

Telah berkata Ibnu 'Atho: Kerendahan hati adalah menerima kebenaran dari siapapun. Dan telah berkata Ibnu Abbas: Sebagian dari kerendahan hati adalah bahwa seseorang meminum dari sisa minuman saudaranya.

وَقَالَ الْقُشَيْرِيُّ: وَالْفَقْرُ شِعَارُ الْأَوْلِيَاءِ وَحُلْيَةُ الْأَصْفِيَاءِ وَاخْتِيَارُ اللّٰهِ تَعَالَى لِخَوَاصِّهِ مِنَ الْأَتْقِيَاءِ وَالْأَنْبِيَاءِ.

Dan Telah berkata al-Qusyairi: Kemiskinan adalah lambang para wali dan perhiasan orang-orang pilihan, serta pilihan Allah Ta'ala untuk orang-orang yang istimewa bagi Allah dari golongan orang-orang yang bertakwa dan golongan para nabi.

(وَاجْعَلْ فِيْهَا) أَيْ فِى تِلْكَ الْعُرُوْقِ (إِهْلِيْلَجَ التَّوْبَةِ) هٰذَا مِنْ إِضَافَةِ الْمُشَبَّهِ بِهِ لِلْمُشَبَّهِ ، أَيْ اِجْعَلِ التَّوْبَةَ الْمُشَبَّهَةَ بِالْإِهْلِيْلَجِ فِى أَنَّ كُلًّا يُذْهِبُ الْوَسَخَ فَالْإِهْلِيْلَجُ يُذْهِبُ وَسَخَ الْبَطْنِ وَالتَّوْبَةُ تُذْهِبُ الذُّنُوْبَ.

(Dan jadikanlah olehmu padanya) Maksudnya pada akar-akar tersebut (Bratawali tobat) Lafadz Ini adalah memudhofkan musyabbah bih pada musyabbah, Maksudnya jadikanlah olehmu tobat yang disamakan dengan Bratawali dalam hal bahwa masing masing dari Bratawali dan tobat itu dapat menghilangkan kotoran, Bratawali itu dapat menghilangkan kotoran perut, dan tobat itu dapat menghilangkan dosa.

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ]. وَإِذَا أَحَبَّ اللّٰهُ عَبْدًا لَمْ يَضُرَّهُ ذَنْبٌ (وَاطْرَحْهُ) أَيْ الْإِهْلِيْلَِجَ مَعَ تِلْكَ الْعُرُوْقِ (فِى هَاوُنِ الرِّضَا) أَيْ فِى الرِّضَا الشَّبِيْهِ بِالْمِهْرَاسِ فِى أَنَّ كُلًّا يُدَقُّ فِيْهِ.

Telah bersabda Nabi ﷺ: [Orang yang bertobat dari dosa itu seperti orang yang tidak memiliki dosa]. Dan jika Allah mencintai seorang hamba, tidak akan membahayakannya suatu dosa (Dan jadikanlah itu) Maksudnya Batrawali itu bersama akar-akar tersebut (Di dalam lumpang keridhaan) Maksudnya dalam keridhaan yang disamakan dengan lumpang karena sesungguhnya masing-masing dari keduanya itu ditumbuk di dalamnya.

قَالَ النَّوَوِيُّ: اَلرِّضَا سُرُوْرُ الْقَلْبِ بِمُرِّ الْقَضَاءِ. وَقَالَ الْمُحَاسِبِيُّ: الرِّضَا سُكُوْنُ الْقَلْبِ تَحْتَ مَجَارِي الْأَحْكَامِ . وَقَالَ رُوَيْمٌ: اَلرِّضَا اِسْتِقْبَالُ الْأَحْكَامِ بِالْفَرَحِ

Telah berkata imam An-Nawawi: Keridhaan adalah kegembiraan hati dengan pahitnya takdir. Dan telah berkata al-Muhasibi: Keridhaan adalah ketenangan hati di bawah berjalannya hukum-hukum. Telah berkata ar-Ruwaim: Keridhaan adalah menerima hukum-hukum dengan sukacita

(وَاسْحَقْهُ) أَيْ ذٰلِكَ الْمَجْمُوْعَ مِنَ الْفَقْرِ وَالتَّوَاضُعِ وَالتَّوْبَةِ وَالرِّضَا (بِمِنْجَارِ الْقَنَاعَةِ) أَيْ بِالْقَنَاعَةِ الشَّبِيْهَةِ بِالْمِدَقَّةِ.

(Dan lumatkanlah itu) Maksudnya gabungan dari kemiskinan, kerendahan hati, tobat, dan keridhaan (Dengan alu qonaah) Maksudnya dengan qonaah yang disamakan dengan alu.

قَالَ بَعْضُهُمْ: اَلْقَنَاعَةُ تَرْكُ التَّشَوُّفِ إِلَى الْمَفْقُوْدِ وَالْاِسْتِغْنَاءُ بِالْمَوْجُوْدِ. وَقَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ: اَلْقَنَاعَةُ مِنَ الرِّضَا بِمَنْزِلَةِ الْوَرَعِ مِنَ الزُّهْدِ فَالْقَنَاعَةُ أَوَّلُ الرِّضَا وَالْوَرَعُ أَوَّلُ الزُّهْدِ.

Telah berkata sebagian dari ulama: Qona'ah adalah meninggalkan keinginan terhadap yang tidak ada dan merasa cukup dengan yang ada. Dan telah berkata Abu Sulaiman ad-Darani: Qonaah dari keridhaan seperti kedudukan wara’ dari kezuhudan, maka qona'ah adalah awal keridhaan dan wara’ adalah awal kezuhudan.

(وَاجْعَلْهُ) أَيْ الْمَذْكُوْرَ مِنَ الْقَنَاعَةِ وَمَا قَبْلَهَا (فِى قِدْرِ التُّقَى) قَالَ أَبُو عَبْدِ اللّٰهِ الرَّوْزَبَادِيُّ: التَّقْوَى مُجَانَبَةُ مَا يُبْعِدُكَ عَنِ اللّٰهِ،

(Dan jadikanlah itu) Maksudnya hal yang telah disebutkan dari qonaah dan apa yang sebelumnya (ke dalam kuali taqwa) Telah berkata Abu Abdillah ar-Rauzabadi: Taqwa adalah menjauhi apa yang menjauhkanmu dari Allah.

وَقَالَ ابْنُ عَطَاءٍ: لِلتَّقْوَى ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهُ مُحَافَظَةُ الْحُدُوْدِ وَبَاطِنُهُ النِّيَّةُ وَالْإِخْلَاصُ

Telah berkata Ibnu Atha: Taqwa itu ada yang lahir dan batin, yang lahir dari takwa adalah menjaga batasan-batasan hukum, dan yang batin dari takwa adalah niat dan keikhlasan.

(وَصُبَّ عَلَيْهِ) أَيْ اَلْمَجْمُوْعُ مِنَ التُّقَى وَمَا قَبْلَهَا (مَاءُ الْحَيَاءِ) وَقَالَ الْجُنَيْدُ: اَلْحَيَاءُ حَالَةٌ تَنْشَأُ مِنْ رُؤْيَةِ النِّعَمِ وَرُؤْيَةِ التَّقْصِيرِ. وَقَالَ ذُو النُّوْنِ الْمِصْرِيُّ: الْحَيَاءُ وُجُوْدُ الْهَيْبَةِ فِى الْقَلْبِ مَعَ وَحْشَةِ مَا سَبَقَ مِنْكَ إلَى رَبِّكَ،

(Dan tuangkanlah di atasnya) Maksudnya gabungan dari taqwa dan apa yang sebelumnya (Air malu) Telah berkata al-Junaid: Malu adalah keadaan yang muncul dari melihat nikmat dan melihat kekurangan. Telah berkata Dzu an-Nun al-Mishri: Malu adalah adanya rasa takut dalam hati bersama kesepian dari apa yang telah berlalu darimu kepada Tuhanmu.

(وَاغْلِهِ) أَيْ اَغْلِ مَا فِى الْقِدْرِ مِنَ الْمَاءِ وَمَا مَعَهُ (بِنَارِ الْمَحَبَّةِ) قَالَ أَبُو يَزِيْدِ الْبُسْطَامِيُّ: الْمَحَبَّةُ اسْتِقْلَالُ الْكَثِيْرِ مِنْ نَفْسِكَ وَاسْتِكْثَارُ الْقَلِيْلِ مِنْ حَبِيْبِكَ، وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللّٰهِ الْقُرَشِيُّ: حَقِيْقَةُ الْمَحَبَّةِ أَنْ تَهَبَ كُلَّكَ لِمَنْ أَحْبَبْتَ فَلَا يَبْقَى لَكَ مِنْكَ شَيْءٌ

(Dan didihkanlah itu) Maksudnya didihkanlah apa yang ada di dalam kuali dari air dan apa yang bersamanya (Dengan api cinta) Telah berkata Abu Yazid al-Bustomi: Cinta adalah menganggap sedikit sesuatu yang banyak dari dirimu dan menganggap banyak sesuatu yang sedikit dari kekasihmu. Telah berkata Abu Abdillah al-Qurasyi: Hakikat cinta adalah engkau memberikan seluruh dirimu kepada yang kau cintai sehingga tidak tersisa untukmu dari dirimu suatu apapun.

(وَاجْعَلْهُ) أَيْ الْمَحَبَّةُ وَمَا يُغْلَى بِهَا (فِى قَدْحِ الشُّكْرِ) وَهُوَ الْاِعْتِرَافُ بِنِعْمَةِ الْمُنْعِمِ عَلَى وَجْهِ الْخُضُوْعِ

(Dan jadikanlah itu) Maksudnya cinta dan apa yang dididihkan dengannya (Ke dalam cawan syukur) Syukur adalah pengakuan tulus atas nikmat dari sang pemberi nikmat dengan kerendahan hati.

(وَرُوِّحْهُ) أَيْ مَا فِى الْقَدْحِ (بِمِرْوَحَةِ الرَّجَاءِ) قَالَ أَبُو عَبْدِ اللّٰهِ بْنُ خَفِيْفٍ: اَلرَّجَاءُ هُوَ اسْتِبْشَارٌ بِوُجُوْدِ فَضْلِهِ تَعَالَى ، وَقِيْلَ هُوَ النَّظَرُ إلَى سَعَةِ رَحْمَةِ اللّٰهِ تَعَالَى

(Dan segarkanlah itu) Maksudnya apa yang ada di dalam cawan (Dengan kipas roja) Telah berkata Abu Abdillah Ibnu Khafif: Roja adalah menyambut gembira dengan adanya karunia Allah Ta'ala. Dan dikatakan roja adalah memandang pada keluasan rahmat Allah Ta'ala.

(وَاشْرَبْهُ) أَيْ مَا فِي الْإِنَاءِ (بِمِلْعَقَةِ الْحَمْدِ) أَيْ اَلثَّنَاءِ عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى مَعَ التَّعْظِيْمِ لَهُ وَالْمِلْعَقَةُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَسُكُوْنِ اللَّامِ وَفَتْحِ الْعَيْنِ، وَيُقَالُ: مِعْلَقَةٌ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَسُكُوْنِ الْعَيْنِ وَفَتْحِ اللَّامِ

(Dan minumlah itu) Maksudnya apa yang ada di dalam wadah (Dengan sendok pujian) yaitu memuji Allah Ta'ala dengan pengagungan kepada-Nya. Lafadz مِلْعَقَةٌ dengan harokat kasrah pada huruf mim, sukun pada huruf lam, dan fathah pada huruf ain. Juga dikatakan: مِعْلَقَةٌ dengan harokat kasrah pada huruf mim, sukun pada huruf ain, dan fathah pada huruf lam.

(فَإِنَّكَ إنْ فَعَلْتَ ذٰلِكَ) أَيْ الْمَذْكُوْرَ كُلَّهُ مِنَ الْعَشَرَةِ (فَإِنَّهُ يَنْفَعُكَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَبَلَاءٍ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ).

(Maka sesungguhnya jika kamu melakukan itu) Maksudnya semua yang telah disebutkan dari sepuluh (Maka itu akan bermanfaat bagimu dari segala penyakit dan musibah di dunia dan akhirat).


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 17

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (قِيْلَ: جَمَعَ بَعْضُ الْمُلُوْكِ خَمْسَةً مِنَ الْحُكَمَاءِ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَتَكَلَّمَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِحِكْمَتَيْنِ فَتَكَلَّمَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِحِكْمَتَيْنِ فَصَارَتْ) أَيْ جُمْلَةُ الْحِكَمِ مِنَ الْخَمْسَةِ أَشْخَاصٍ (عَشَرَةً،

Maqolah yang ketujuh belas (Dikatakan: Sebagian dari para raja mengumpulkan lima orang dari kalangan para hukama, lalu raja tersebut memerintahkan mereka agar berbicara masing-masing dari mereka dengan dua hikmah, maka setiap orang dari mereka berbicara dua hikmah sehingga jadilah jumlahnya) Maksudnya jumlah kebijaksanaan dari lima orang tersebut (menjadi sepuluh,

فَقَالَ الْأَوَّلُ) مِنْهُمْ (خَوْفُ الْخَالِقِ) جَلَّ وَعَلَا (أَمْنٌ) أَيْ سَلَامَةٌ مِنَ الْمَخَاوِفِ (وَأَمْنُهُ) أَيْ عَدَمُ الْخَوْفِ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى (كُفْرٌ، وَأَمْنُ الْمَخْلُوْقِ عِتْقٌ) أَيْ عَدَمُ الْخَوْفِ مِنَ الْمَخْلُوْقِ خُرُوْجٌ عَنْ خِدْمَتِهِ (وَخَوْفُهُ) أَيْ الْمَخْلُوْقِ (رِقٌّ) أَيْ عَبْدٌ لَهُ.

Maka berkata yang pertama) dari mereka (Takut kepada Sang Pencipta) Yang Maha Agung dan maha luhur (adalah keamanan) Maksudnya adalah keselamatan dari segala ketakutan (dan merasa aman dari-Nya) Maksudnya tidak takut kepada Allah Ta'ala (adalah kekufuran. Merasa aman dari makhluk adalah kemerdekaan) Maksudnya tidak adanya rasa takut kepada makhluk merupakan kebebasan dari melayaninya (dan takut kepadanya) Maksudnya kepada makhluk (adalah perbudakan) yaitu menjadi hamba baginya.

(وَقَالَ الثَّانِي: اَلرَّجَاءُ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى غِنًى لَا يَضُرُّهُ فَقْرٌ وَالْيَأْسُ عَنْهُ) أَيْ قَطْعُ الرَّجَاءِ عَنِ اللّٰهِ تَعَالَى (فَقْرٌ لَا يَنْفَعُ مَعَهُ غِنًى)

(Dan berkata yang kedua: Harapan kepada Allah Ta'ala adalah kekayaan yang tidak akan membahayakannya kemiskinan, dan putus asa darinya) Maksudnya memutuskan harapan dari Allah Ta'ala (adalah kemiskinan yang tidak akan berguna bersamanya kekayaan)

قَالَ ذُو النُّوْنِ الْمِصْرِيُّ: مَنْ قَنِعَ اِسْتَرَاحَ مِنْ أَهْلِ زَمَانِهِ وَاسْتَطَالَ عَلَى أَقْرَانِهِ، وَقِيْلَ: مَنْ تَبِعَتْ عَيْنَاهُ مَا فِى أَيْدِي النَّاسِ طَالَ حُزْنُهُ.

Telah berkata Dzun-Nun al-Mishri: Barangsiapa yang mempunyai sifat qona'ah, ia akan beristirahat dari orang-orang di zamannya dan akan lebih unggul di atas teman-temannya, dan dikatakan: Barangsiapa yang kedua matanya mengikuti pada apa yang ada di tangan orang lain maka akan menjadi berkepanjangan kesedihannya.

وَأَنْشَدَ بَعْضُهُمْ مِنْ بَحْرِ الْوَافِرِ فَقَالَ:

Dan sebagian dari ulama menyenandungkan syair dari Bahr Wafir:

يَنَالُ بِهِ الْغِنَى كَىرْمٌ وَجُوْعٌ*وَأَحْسِنْ بِالْفَتَى مِنْ يَوْمِ عَارٍ
Duhai alangkah baiknya seorang pemuda ketika hari mendapatkan aib*Dia dapat memperoleh dengannya kekayaan, kemulyaan dan lapar

(وَقَالَ الثَّالِثُ: لَا يَضُرُّ مَعَ غِنَى الْقَلْبِ) وَهُوَ الْقَنَاعَةُ (فَقْرُ الْكِيْسِ) أَيْ عَدَمُ الْمَالِ فِى يَدِهِ (وَلَا يَنْفَعُ مَعَ فَقْرِ الْقَلْبِ) وَهُوَ الطَّمَعُ (غِنَى الْكِيْسِ) أَيْ كَثْرَةُ الْمَالِ فِى قَبْضَتِهِ.

(Dan berkata yang ketiga: Tidak akan membahayakan bersama kekayaan hati) yaitu qonaah (kemiskinan kantong) Maksudnya ketiadaan uang di tangannya (dan tidak akan bermanfaat bersama kemiskinan hati) yaitu ketamakan (kekayaan kantong) Maksudnya banyaknya harta dalam genggamannya.

قَالَ وَهْبٌ: إِنَّ الْعِزَّ وَالْغِنَى خَرَجَا يَجُوْلَانِ يَطْلُبَانِ رَفِيْقًا فَلَقِيَا الْقَنَاعَةَ فَاسْتَقَرَّا، وَفِى الزَّبُوْرِ: اَلْقَانِعُ غَنِيٌّ وَإِنْ كَانَ جَائِعًا.

Telah berkata Wahb: Sesungguhnya kemuliaan dan kekayaan keduanya keluar mencari teman, lalu mereka bertemu dengan qona''ah kemudian menjadi tenanglah keduanya, dan di dalam kitab Zabur disebutkan: Orang yang qona'ah itu kaya walaupun dia lapar.

(وَقَالَ الرَّابِعُ: لَا يَزْدَادُ غِنَى الْقَلْبِ مَعَ الْجُوْدِ إِلَّا غِنًى) وَحَقِيقَةُ الْجُوْدِ أَنْ لَا يَصْعُبَ عَلَيْهِ الْبَذْلُ

(Dan berkata yang keempat: Tidaklah bertambah kekayaan hati bersama kedermawanan kecuali semakin bertambah kaya) dan hakikat kedermawanan adalah tidak merasa sulit atas seseorang dalam memberi

(وَلَا يَزْدَادُ فَقْرُ الْقَلْبِ مَعَ غِنَى الْكِيْسِ إِلَّا فَقْرًا) قَالَ الدَّقَّاقُ: مَنْ لَمْ يَصْحَبْهُ التُّقَى فِى فَقْرِهِ أَكَلَ الْحَرَامَ الْمَحْضَ

(Dan tidaklah bertambah kemiskinan hati bersama kekayaan kantong kecuali semakin bertambah miskin) Telah berkata ad-Daqqaq: Barangsiapa yang tidak menyertai ketaqwaan dalam kemiskinannya, maka ia akan memakan perkara haram yang murni.

(وَقَالَ الْخَامِسُ: أَخْذُ الْقَلِيْلِ مِنَ الْخَيْرِ خَيْرٌ مِنْ تَرْكِ الْكَثِيْرِ مِنَ الشَّرِّ وَتَرْكُ الْجَمِيْعِ مِنَ الشَّرِّ خَيْرٌ مِنْ أَخْذِ الْقَلِيْلِ مِنَ الْخَيْرِ)

(Dan berkata yang kelima: Mengambil yang sedikit dari kebaikan itu lebih baik daripada meninggalkan yang banyak dari keburukan, dan meninggalkan semua dari keburukan itu lebih baik daripada mengambil sedikit dari kebaikan)

هٰذَا قَرِيْبٌ مِنْ قَوْلِ بَعْضِ الْأَطِبَّاءِ: اَلرُّمَّانُ خَيْرٌ كُلُّهُ وَالْحُوْتُ شَرٌّ كُلُّهُ فَأَكْلُ الْقَلِيْلِ مِنَ الْحُوْتِ خَيْرٌ مِنْ أَكْلِ الْكَثِيْرِ مِنَ الرُّمَّانِ.

Ini mirip dengan perkataan sebagian tabib: Buah delima itu semuanya baik, dan ikan paus itu semuanya buruk, maka memakan sedikit dari ikan paus itu lebih baik daripada memakan banyak dari buah delima.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 18

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: [عَشَرَةُ أَصْنَافٍ) أَيْ أَنْوَاعٍ (مِنْ أُمَّتِيْ لَا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إلَّا مَنْ تَابَ، أَوَّلُهُمُ الْقَلَّاعُ) بِفَتْحِ الْقَافِ وَتَشْدِيْدِ اللَّامِ

Maqolah yang kedelapan belas (Telah berkata Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma dari Nabi ﷺ: "Sepuluh golongan) Maksudnya macam (Dari umatku mereka tidak akan masuk surga kecuali orang yang bertobat. Yang pertama adalah al-Qalla',) Lafadz اَلْقَلَّاعُ dengan memfathahkan huruf ق dan mentasydid huruf ل

(وَالْجَيُّوْفُ) وَيُقَالُ الْجَيَّافُ بِفَتْحِ الْجِيمِ وَتَشْدِيدِ الْيَاءِ كَمَا فِى الْقَامُوسِ (وَالْقَتَّاتُ وَالدَّيْبُوْبُ) بِفَتْحِ الدَّالِ وَسُكُوْنِ الْيَاءِ (وَالدَّيُّوْثُ وَصَاحِبُ الْعَرْطَبَةِ وَصَاحِبُ الْكُوْبَةِ وَالْعُتُلُّ وَالزَّنِيْمُ وَالْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ،

(al-Jayyūf,) dan dikatakan al-Jayyāf dengan memfathahkan huruf ج dan mentasydid huruf ي sebagaimana dalam kamus (al-Qattāt, ad-Daybūb,) dengan memfathahkan huruf د dan mentasydid huruf ي (ad-Dayyūts, pemilik al-Artabah, pemilik al-Kubah, al-‘Utul, az-Zanīm, anak yang durhaka kepada orang tuanya,

قِيْلَ) لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ (يَا رَسُولَ اللّٰهِ مَا الْقَلَّاعُ ؟ قَالَ) :ﷺ (الَّذِيْ يَمْشِي بَيْنَ يَدَيْ الْأُمَرَاءِ) أَيْ وَهُوَ السَّاعِي إِلَيْهِمْ بِالْبَاطِلِ وَالْكَذِبِ

Dikatakan) kepada Rasulullah ﷺ: (Ya Rasulullah, siapa itu al-Qalla'? Kemudian bersabda) Nabi ﷺ: (Orang yang berjalan di depan para pemimpin) Maksudnya yaitu orang yang datang kepada pemimpin dengan kebatilan dan kebohongan

(وَقِيْلَ: مَا الْجَيُّوْفُ ؟ قَالَ) ﷺ: (اَلنَّبَّاشُ) أَيْ سَرَّاقُ الْأَكْفَانِ مِنَ الْقُبُوْرِ.

(Dan dikatakan: Siapa itu al-Jayyūf? Kemudian bersabda) Nabi ﷺ: (Pencuri kain kafan) Maksudnya orang yang mencuri kain kafan dari kuburan.

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: كَانَ بِبَلَدِنَا نَبَّاشٌ وَكَانَ فِى الْبَلَدِ قَاضٍ صَالِحٍ فَلَمَّا قَرُبَتْ وَفَاتُهُ دَعَا ذٰلِكَ النَّبَّاشَ، وَقَالَ: لَقَدْ بَلَغَنِيْ أَنَّكَ تَسْرِقُ الْأَكْفَانَ وَقَدْ دَنَتْ وَفَاتِيْ وَقَدْ أَعْدَدْتُ قِيْمَةَ كَفَنِيْ فَخُذْهُ الْآنَ وَلَا تَهْتِكْنِيْ فِى قَبْرِيْ، فَأَجَابَهُ النَّبَّاشُ إلَى ذٰلِكَ.

Telah berkata sebagian dari salaf: Ada di negeri kami seorang pencuri kain kafan dan ada di negeri itu seorang hakim yang sholeh. Ketika sudah dekat ajalnya, hakim tersebut memanggil pencuri kain kafan, dan hakim berkata: "Benar-benar telah sampai kepadaku bahwa kamu mencuri kain kafan dan benar-benar telah dekat ajalku, aku telah menyiapkan uang senilai kain kafanku, maka ambillah sekarang dan jangan merusakku di dalam kuburku," lalu menyetujuinya si pencuri kain kafan itu pada permintaan hakim.

فَلَمَّا جَاءَ وَقْتُ مَوْتِهِ سَمِعَ النَّبَّاشُ النَّاعِيَ فَأَخْبَرَ زَوْجَتَهُ بِمَا وَقَعَ مَعَ الْقَاضِي فَقَالَتْ: اِحْذَرْهُ. فَلَمَّا دُفِنَ ثَارَ فِى نَفْسِهِ أَنْ يَسْرِقَ كَفَنَهُ، فَقَالَتْ زَوْجَتُهُ: لَا تَفْعَلْ، فَلَمْ يَلْتَفِتْ إلَى قَوْلِهَا،

Ketika tiba waktu kematiannya hakim, pencuri kain kafan mendengar kabar kematiannya lalu dia memberitahu kepada istrinya tentang kesepakatan yang terjadi bersama hakim itu. kemudian berkata Istrinya: Berhati-hatilah kamu. Ketika hakim itu dikuburkan, timbul dalam dirinya keinginan untuk mencuri kain kafan hakim tersebut, kemudian berkatalah istrinya: Jangan kau lakukan, tetapi dia tidak mendengarkan kata-katanya.

فَلَمَّا حَفَرَ الْقَبْرَ وَدَخَلَ فِيْهِ فَإِذَا الْمَيِّتُ قَدْ أُجْلِسَ، فَقَالَ أَحَدُ الْمَلَكَيْنِ لِلْآخَرِ: شُمَّ رِجْلَيْهِ فَشَمَّهُمَا وَقَالَ: لَيْسَ فِيْهِمَا شَيْءٌ إنَّهُ لَمْ يَسْعَ بِهِمَا فِى مَعْصِيَةٍ قَطُّ ،

Ketika dia menggali kuburn dan masuk ke dalamnya, maka tiba-tiba mayat itu benar-benar sudah didudukkan. lalu berkatalah salah satu dari dua malaikat kepada malaikat yang lain: Ciumlah / enduslah kedua kakinya, maka dia mencium kedua kaki hakim tersebut dan berkata: Tidak ada pada kedua kaki ini dosa apapun, sungguh dia tidak pernah berjalan dengan kedua kakinya untuk suatu kemaksiatan sama sekali,

فَقَالَ: شُمَّ يَدَيْهِ، فَشَمَّهُمَا وَقَالَ: لَمْ يَعْمَلْ بِهِمَا مَعْصِيَةً، قَالَ: شُمَّ عَيْنَيْهِ فَشَمَّهُمَا وَقَالَ: إنَّهُ لَمْ يَنْظُرْ بِهِمَا إلَى مُحَرَّمٍ قَطُّ، فَقَالَ: شُمَّ سَمْعَهُ فَشَمَّ أَحَدَ أُذُنَيْهِ فَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا ثُمَّ شَمَّ الْأُخْرَى فَوَقَفَ فَقَالَ أَحَدُ الْمَلَكَيْنِ؛ مَا وَجَدْتَ ؟

Kemudian berkatalah salah satu dari kedua malaikat itu: "Ciumlah kedua tangannya," maka dia mencium kedua tangannya dan berkata: "Dia tidak pernah melakukan dengan kedua tangannya suatu kemaksiatan." Kemudian salah satu dari kedua malaikat itu berkata: "Ciumlah keuda matanya," maka dia mencium kedua matanya dan berkata: "Sungguh dia tidak pernah melihat dengan kedua matanya kepada yang haram sama sekali." Kemudian salah satu dari kedua malaikat itu berkata: "Ciumlah pendengarannya," maka dia mencium salah satu dari kedua telinganya dan dia tidak menemukan dosa apapun, kemudian dia mencium telinga yang lainnya kemudian dia berhenti, lalu bertanyalah salah satu malaikat: "Apa yang kamu temukan?"

قَالَ: بَعْضَ نَتْنٍ، قَالَ: أَتَدْرِي مَا هٰذِهِ النَّتْنَةُ ؟ إنَّهُ أَصْغَى بِإِحْدَى سَمْعَيْهِ إلَى أَحَدِ الْخَصْمَيْنِ أَكْثَرَ مِنَ الْآخَرِ فَانْفُخْ فِيْهِ فَلَمَّا نَفَخَ فِيْهِ خَرَجَتْ مِنْهُ نَارٌ اِمْتَلَأَ الْقَبْرُ مِنْهَا نَارًا فَلَحِقَ بَصَرَ النَّبَّاشِ فَعَمِيَ، كَذَا فِى قَمْعِ النُّفُوْسِ.

Dia berkata: "Aku menemukan sebagan bau busuk," lalu dikatakan: "Apakah kamu tahu apa bau busuk ini? sungguh dia telah mendengarkan dengan salah satu dari kedua pendengarannya kepada salah satu dari dua orang yang sedang berperkara lebih banyak daripada yang lain. tiuplah pada telinga yang bau. Ketika malaikat meniupnya keluar dari salah satu telinga itu api, menjadi penuh kuburan dari api tersebut dengan api, lalu api itu mengenai mata si pencuri kain kafan sehingga dia menjadi buta, demikian dalam kitab 'Qam' an-Nufus'.

(وَقِيْلَ) لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: (مَا الْقَتَّاتُ ؟ قَالَ) ﷺ: (اَلنَّمَّامُ) قَالَ مُعَاذٌ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: قُلْتُ [يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ أَرَأَيْتَ قَوْلَ اللّٰهِ تَعَالَى :﴿يَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ أَفْوَاجًا﴾ [النبأ: الآية ١٨]،

Dikatakan) kepada Rasulullah ﷺ: (Siapa itu al-Qattāt? Kemudian bersabda) Nabi ﷺ : (Orang yang mengadu domba) Berkata Mu'adz Radhiallahu Anhu: Aku berkata: [Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Ta'ala: ﴾Pada hari ditiupnya sangkakala maka kalian datang berbondong-bondong﴿ [Q.S an-Naba: Ayat 18],

فَقَالَ ﷺ: يَا مُعَاذُ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ شَيْءٍ عَظِيْمٍ، ثُمَّ أَرْسَلَ عَيْنَيْهِ الشَّرِيْفَتَيْنِ بِالْبُكَاءِ، ثُمَّ قَالَ ﷺ: يُحْشَرُ عَشَرَةُ أَصْنَافٍ مِنْ أُمَّتِيْ أَشْتَاتًا قَدْ مَيَّزَهُمُ اللّٰهُ مِنْ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَيُبْدِي صُوَرَهُمْ،

Kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Wahai Mu'adz, engkau telah bertanya tentang sesuatu yang sangat besar," kemudian Nabi ﷺ meneteskan air mata dari kedua matanya yang mulia dengan tangisan, lalu Nabi ﷺ bersabda: "Akan dikumpulkan sepuluh golongan dari umatku dalam keadaan berpisah-pisah, Benar-benar Allah telah memisahkan mereka dari kumpulan kaum muslimin dan Allah menampakkan rupa-rupa mereka,

فَمِنْهُمْ عَلَى صُوْرَةِ الْقِرَدَةِ، وَبَعْضُهُمْ عَلَى صُوْرَةِ الْخَنَازِيْرِ، وَبَعْضُهُمْ مُنَكَّسُوْنَ بِأَرْجُلِهِمْ وَوُجُوْهِهِمْ يُسْحَبُوْنَ عَلَيْهَا،

Di antara mereka ada yang berwujud seperti kera, sebagian dari mereka berwujud seperti babi, sebagian dari mereka dengan kepala terbalik dan wajah mereka diseret di atas tanah,

وَبَعْضُهُمْ عُمْيٌ يَتَرَدَّدُوْنَ، وَبَعْضُهُمْ صُمٌّ بُكْمٌ لَا يَعْقِلُوْنَ، وَبَعْضُهُمْ يَمْضَغُوْنَ أَلْسِنَتَهُمْ مُتَدَلِّيَاتٍ عَلَى صُدُوْرِهِمْ يَسِيْلُ الْقَيْحُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ لُعَابًا يُقَذِّرُهُمْ أَهْلُ الْجَمْعِ،

Sebagian dari mereka buta dan mondar-mandir, sebagian dari mereka tuli dan bisu tidak berakal, sebagian dari mereka menggigit lidah mereka yang tergantung di dada mereka, mengalir nanah dari mulut mereka sebagai ludah yang menjadikan jijik kepada mereka orang-orang yang berkumpul di padang mahsyar,

وَبَعْضُهُمْ مُقَطَّعَةٌ أَيْدِيْهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ، وَبَعْضُهُمْ مُصَلَّبُوْنَ عَلَى جُذُوْعٍ مِنَ النَّارِ، وَبَعْضُهُمْ أَشَدُّ نَتْنًا مِنَ الْجِيَفِ، وَبَعْضُهُمْ يُكْسَوْنَ جَلَابِيْبَ سَابِغَةً مِنْ قَطِرَانٍ،

Sebagian dari mereka terpotong-potong tangan-tangan mereka dan kaki-kaki mereka, sebagian dari mereka disalib di atas batang-batang pohin dari api, sebagian dari mereka lebih bau busuk daripada bangkai-bangkai, dan sebagian dari mereka dikenakan jubah-jubah yang sangat panjang yang terbuat dari ter,

فَأَمَّا الَّذِيْنَ عَلَى صُوْرَةِ الْقِرَدَةِ فَالْقَتَّاتُ بَيْنَ النَّاسِ، وَأَمَّا الَّذِيْنَ عَلَى صُوْرَةِ الْخَنَازِيْرِ فَأَكَلَةُ السُّحْتِ وَالْكَسْبِ الْحَرَامِ مِثْلُ الْمُكْسَةِ وَالرِّشَا، وَأَمَّا الْمُنَكَّسُوْنَ بِرُؤُوْسِهِمْ وَوُجُوْهِهِمْ فَأَكَلَةُ الرِّبَا،

Adapun orang-orang yang berwujud seperti kera adalah mereka yang suka mengadu domba di antara manusia, adapun orang-orang yang berwujud seperti babi adalah mereka yang memakan harta haram seperti harta hasil malak dan suap, adapun mereka yang kepalanya terbalik dan wajah mereka diseret adalah orang-orang yang memakan riba

وَأَمَّا الْعُمْيُ فَمَنْ يَجُوْرُ فِى الْحُكْمِ، وَأَمَّا الصُّمُّ الْبُكْمُ فَهُمُ الَّذِيْنَ يَعْجَبُوْنَ بِأَعْمَالِهِمْ، وَأَمَّا الَّذِيْنَ يَمْضَغُوْنَ أَلْسِنَتَهُمْ فَالْعُلَمَاءُ وَالْقُصَّاصُ الَّذِيْنَ يُخَالِفُ قَوْلُهُمْ عَمَلَهُمْ،

Adapun mereka yang buta adalah orang-orang yang berbuat curang dalam hukum, adapun mereka yang tuli dan bisu adalah orang-orang yang membangga-banggakan amal perbuatan mereka, adapun orang-orang yang menggigit lidah mereka adalah para ulama dan penceramah yang bertentangan antara perkataan mereka dan perbuatan mereka,

وَأَمَّا الْمُقَطَّعَةُ أَيْدِيْهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ فَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْجِيْرَانَ، وَأَمَّا الْمُصَلَّبُوْنَ عَلَى جُذُوْعٍ مِنَ النَّارِ فَالسُّعَاةُ بِالنَّاسِ إلَى السُّلْطَانِ،

Adapun mereka yang dipotong tangan-tangan mereka dan kaki-kaki mereka adalah orang-orang yang menyakiti tetangga-tetangga, adapun mereka yang disalib di atas batang-batang pohon dari api adalah mereka yang membawa berita bohong tentang manusia kepada penguasa,

وَأَمَّا الَّذِيْنَ هُمْ أَشَدُّ نَتْنًا مِنَ الْجِيَفِ فَالَّذِيْنَ يَتَمَتَّعُوْنَ بِالشَّهَوَاتِ وَاللَّذَّاتِ وَيَمْنَعُوْنَ حَقَّ اللّٰهِ تَعَالَى مِنْ أَمْوَالِهِمْ، وَأَمَّا الَّذِيْنَ يُكْسَوْنَ الْجَلَابِيْبَ فَأَهْلُ الْكِبْرِ وَالْخُيَلَاءِ وَالْفَخْرِ] كَذَا رَوَاهُ الْقُرْطُبِيُّ.

Adapun orang-orang yang lebih bau busuk daripada bangkai adalah mereka yang menikmati syahwat dan kenikmatan dan meolak hak Allah Ta'ala dari sebagian harta mereka, adapun mereka yang dikenakan jubah-jubah adalah orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri] Demikian telah meriwayatkan pada hadits ini Imam al-Qurtubi.

(وَقِيْلَ) لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: (مَا الدَّيْبُوْبُ ؟ قَالَ) ﷺ: (اَلَّذِيْ يَجْمَعُ فِى بَيْتِهِ الْفَتَيَاتِ) أَيْ اَلْإِمَاءَ (لِلْفُجُوْرِ) أَيْ اَلزِّنَا، أَيْ وَهُوَ الْجَامِعُ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ

(Dan dikatakan) kepada Rasulullah ﷺ: (Siapa itu ad-Dayybūb? Bersabda) Nabi ﷺ: (Orang yang mengumpulkan gadis-gadis di dalam rumahnya) Maksudnya budak-budak perempuan (untuk berbuat zina) Maksudnya zina, yaitu orang yang mengumpulkan antara laki-laki dan perempuan.

(وَقِيْلَ) لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: (مَا الدَّيُّوْثُ ؟ قَالَ) ﷺ: (اَلَّذِيْ لَا يَغَارُ عَلَى أَهْلِهِ) أَيْ زَوْجَتِهِ وَبِنْتِهِ وَأُخْتِهِ. (وَقِيْلَ) لِرَسُولِ اللّٰهِ ﷺ: (مَا صَاحِبُ الْعَرْطَبَةِ ؟ قَالَ) ﷺ: (اَلَّذِيْ يَضْرِبُ بِالطَّبْلِ) وَهُوَ الْكُوْبَةُ الْكَبِيْرَةُ.

(Dan dikatakan) kepada Rasulullah ﷺ: (Siapa itu ad-Dayyūts? Bersabda) Nabi ﷺ: (Orang yang tidak cemburu kepada keluarganya) Maksudnya istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya. (Dan dikatakan) kepada Rasulullah ﷺ: (Siapa itu pemilik al-‘Artabah? Bersabda) Nabi ﷺ: (Orang yang memukul drum) yaitu drum besar.

(وَقِيْلَ) لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: (مَا صَاحِبُ الْكُوبَةِ ؟ قَالَ) ﷺ: (اَلَّذِيْ يَضْرِبُ الطُّنْبُوْرَ) بِضَمِّ الطَّاءِ وَهُوَ الطَّبْلُ الصَّغِيْرُ.

(Dan dikatakan) kepada Rasulullah ﷺ: (Siapa itu pemilik al-Kubah? Bersabda) Nabi ﷺ: (Orang yang memukul tambur) dengan mendhammahkan ta' yaitu drum kecil.

(وَقِيْلَ) لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: (مَا الْعُتُلُّ ؟ قَالَ) ﷺ: (اَلَّذِيْ لَا يَعْفُوْ عَنِ الذَّنْبِ وَلَا يَقْبَلُ الْعُذْرَ) أَيْ وَهُوَ الْمُتَكَبِّرُ.

(Dan dikatakan) kepada Rasulullah ﷺ: (Siapa itu al-‘Utul? Bersabda) Nabi ﷺ: (Orang yang tidak memaafkan dosa dan tidak menerima permohonan maaf) Maksudnya orang yang sombong.

(وَقِيْلَ) لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: (مَا الزَّنِيْمُ ؟ قَالَ) ﷺ: (اَلَّذِيْ وُلِدَ مِنَ الزِّنَا) وَعُلِّقَ بِمَنْ لَيْسَ مِنْهُ (وَيَقْعُدُ عَلَى قَارِعَةِ الطَّرِيْقِ) أَيْ أَعْلَاهُ (فَيَغْتَابُ النَّاسَ) وَهُوَ ظَلُوْمٌ

(Dan dikatakan) kepada Rasulullah ﷺ: (Apa itu zanīm? Bersabda) Nabi ﷺ: (Orang yang dilahirkan dari zina) dan dinisbatkan kepada orang yang bukan ayahnya (dan dia duduk di tepi jalan) yaitu di tempat yang tinggi (lalu dia menggunjing orang lain) Sedangkan dia sendiri adalah orang yang zalim.

(وَالْعَاقُ]) مَشْهُوْرٌ ، وَضَابِطُ الْعُقُوْقِ هُوَ أَنْ يَصْدُرَ مِنَ الْوَلَدِ مَا يَتَأَذَّى الْوَالِدَانِ أَوْ أَحَدُهُمَا بِهِ إيْذَاءً لَيْسَ بِالْهَيِّنِ فِى الْعُرْفِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُحَرَّمًا

(Dan durhaka) itu sudah dikenal banyak orang, dan definisi durhaka adalah apabila keluar dari anak sesuatu yang dapat menyakiti orang tua atau salah satu dari mereka dengan sesuatu tersebut dengan benar-benar menyakiti yang itu tidak ringan menurut adat, meskipun sesuatu itu bukan sesuatu yang diharamkan

لَوْ فَعَلَهُ مَعَ الْغَيْرِ كَأَنْ يَلْقَاهُ فَيَقْطَبُ فِى وَجْهِهِ أَوْ يَقْدِمَ عَلَيْهِ فِى مَلَأٍ فَلَا يَقُوْمُ لَهُ وَلَا يَعْبَأُ بِهِ، وَنَحْوِ ذٰلِكَ مِمَّا يَقْضِي أَهْلُ الْعَقْلِ وَالْمُرُوْءَةِ بِأَنَّهُ مُؤْذٍ إِيْذَاءً عَظِيْمًا.

Andai dia mengerjakannya dengan orang lain seperti dia bertemu dengan orang tua lalu dia merengut di depan orang tua atau dia datang kepada orang tua di hadapan orang banyak lalu dia tidak berdiri untuk menyambut orang tua dan dia tidak peduli pada orang tua, dan hal-hal semacam itu dari hal-hal yang dianggap oleh orang-orang berakal dan beradab bahwa hal-hal itu sebagai menyakiti dengan benar-benar menyakiti yang berdampak besar.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 19

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [عَشَرَةُ نَفَرٍ لَنْ يَقْبَلَ اللّٰهُ تَعَالَى صَلَاتَهُمْ: رَجُلٌ صَلَّى وَحِيْدًا) أَيْ مُنْفَرِدًا (بِغَيْرِ قِرَاءَةٍ) وَاتَّفَقَ الْإِمَامُ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَالْإِمَامُ مَالِكٌ وَالْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ عَلَى صِحَّةِ صَلَاةِ الْمَأْمُوْمِ بِغَيْرِ قِرَاءَتِهِ شَيْئًا مِنَ الْفَاتِحَةِ.

Maqalah yang kesembilan belas (Telah bersabda Nabi ﷺ: [Sepuluh golongan yang Allah Ta'ala tidak akan menerima sholat mereka: Orang yang sholat sendirian) Maksudnya Munfarid (tanpa membaca Al-Fatihah,). Dan telah bersepakat Imam Abu Hanifah, sahabat-sahabatnya, Imam malik dan Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu Anhum atas sahnya sholat makmum tanpa dia membaca sedikitpun dari surat al-Fatihah

(وَرَجُلٌ لَا يُؤَدِّي الزَّكَاةَ) أَيْ لَا يُخْرِجُ مَا يَجِبُ إخْرَاجُهُ مِنَ الْأَمْوَالِ الزَّكَوِيَّةِ إِلَى مُسْتَحِقِّيْهِ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِيْنَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْتُوْنَ الزَّكَوٰةَ﴾ [فصلت: الآية ٧] فَسَمَّاهُمُ اللّٰهُ مُشْرِكِيْنَ.

(Seorang laki-laki yang tidak menunaikan zakat,) Maksudnya tidak mengeluarkan zakat yang wajib mengeluarkannya dari harta-harta zakat kepada para mustahiknya. Allah Ta'ala berfirman: ﴾Celakalah bagi orang-orang musyrik yang tidak menunaikan zakat﴿ [Fussilat: ayat 7], maka Allah menyebut mereka sebagai orang-orang musyrik.

(وَرَجُلٌ يَؤُمُّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ) قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: [ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمْ اَلْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَإِمَامٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ].

(Seorang laki-laki yang menjadi imam bagi suatu kaum, sedangkan kaum tersebut kepada lelaki itu membenci,) Telah bersabda Nabi Alaihis Sholatu Wassalam: [Tiga golongan yang tidak melewati pahala shalat mereka pada telinga mereka: Seorang budak yang melarikan diri sampai ia kembali, seorang wanita yang bermalam sedangkan suaminya marah padanya, dan seorang imam yang mengimami suatu kaum sedangkan kaum tersebut kepada imam itu membenci].

(وَرَجُلٌ مَمْلُوْكٌ آبِقٌ) أَيْ شَخْصٌ رَقِيْقٌ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى هَارِبٌ مِنْ سَيِّدِهِ. قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: [إذَا أَبَقَ الْعَبْدُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ، وَفِى رِوَايَةٍ فَقَدْ كَفَرَ حَتَّى يَرْجِعَ].

(Seorang budak yang melarikan diri,) Maksudnya seseorang yang berstatus budak, baik laki-laki maupun perempuan, yang melarikan diri dari tuannya. Telah bersabda Nabi ﷺ: [Jika melarikan diri seorang budak, maka tidak diterima shalatnya, dan dalam riwayat lain: Maka benar-benar dia telah kufur sampai ia kembali].

(وَرَجُلٌ شَارِبُ الْخَمْرِ مُدْمِنٌ) قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: [اِجْتَنِبُوْا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا أُمُّ الْخَبَائِثِ].

(Seorang laki-laki yang pecandu minuman keras) Telah bersabda Nabi Alaihis Sholatu Wassalam: [Jauhilah minuman keras, karena minuman keras itu adalah induk segala kejahatan].

(وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا سَاخِطٌ عَلَيْهَا) قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: [ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللّٰهُ لَهُمْ صَلَاةً وَلَا تَصْعَدُ لَهُمْ إلَى السَّمَاءِ: اَلسَّكْرَانُ حَتَّى يَصْحُوَ وَالْمَرْأَةُ السَّاخِطُ عَلَيْهَا زَوْجُهَا وَالْعَبْدُ الْآبِقُ عَلَى مَوْلَاهُ حَتَّى يَرْجِعَ فَيَضَعَ يَدَهُ فِى يَدِّ مَوَالِيْهِ].

(Seorang wanita yang bermalam sedangkan suaminya marah padanya) Telah bersabda Nabi Alaihis Sholatu Wassalam: [Tiga golongan yang Allah tidak menerima shalat mereka dan tidak diangkat pahala shalat mereka ke langit: orang yang mabuk sampai ia sadar, seorang wanita yang suaminya marah padanya, dan seorang budak yang melarikan diri dari tuannya sampai ia kembali dan meletakkan tangannya di tangan tuannya].

(وَامْرَأَةٌ حُرَّةٌ تُصَلِّي بِغَيْرِ خِمَارٍ) وَهُوَ ثَوْبٌ تُغَطِّي بِهِ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا

(Seorang wanita merdeka yang shalat tanpa mengenakan khimar) yaitu pakaian yang dapat menutupi dengan pakaian itu seorang perempuan pada kepalanya.

(وَآكِلُ الرِّبَا) قَالَ بَعْضُهُمْ: وَرَدَ أَنَّ أَكَلَةَ الرِّبَا يُحْشَرُوْنَ فِى صِفَةِ الْكِلَابِ وَالْخَنَازِيْرِ مِنْ أَجْلِ حِيْلَتِهِمْ عَلَى أَكْلِ الرِّبَا كَمَا مُسِخَ أَصْحَابُ السَّبْتِ حَتَّى تَحَيَّلُوْا عَلَى اصْطِيَادِ الْحِيْتَانِ الَّتِيْ نَهَاهُمُ اللّٰهُ عَنِ اصْطِيَادِهَا يَوْمَ السَّبْتِ

(Pemakan riba,) Sebagian dari ulama berkata: "Telah sampai riwayat bahwa para pemakan riba akan dikumpulkan dalam rupa anjing dan babi karena mereka mengakali untuk memakan riba, sebagaimana telah dirubah Ashabus Sabat karena mereka mengakali untuk tetap menangkap ikan-ikan yang mana Allah telah melarang mereka untuk mengakap ikan ikan itu di hari sabtu."

فَحَفَرُوْا لَهَا حِيْضَانَا تَقَعُ فِيْهَا يَوْمَ السَّبْتِ حَتَّى يَأْخُذُوْهَا يَوْمَ الْأَحَدِ فَلَمَّا فَعَلُوْا ذٰلِكَ مَسَخَهُمُ اللّٰهُ قِرَدَةً وَخَنَازِيْرَ، وَهٰكَذَا الَّذِيْنَ يَتَحَيَّلُوْنَ عَلَى الرِّبَا بِأَنْوَاعِ الْحِيَلِ فَإِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى لَا يَخْفَى عَلَيْهِ حِيَلُ الْمُحْتَالِيْنَ، كَذَا نُقِلَ مِنَ الزَّوَاجِرِ.

Lalu mereka menggali untuk memburu ikan-ikan itu kolam-kolam yang akan jatuh ke dalamnya pada hari Sabtu, lalu mereka mengambilnya pada hari Ahad. Ketika mereka melakukan itu, Allah mengubah wujud mereka menjadi kera dan babi. Demikian pula orang-orang yang mengakal-ngakali atas transaksi riba dengan macam-macam tipu daya, Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak ada samar bagi-Nya dari tipu daya orang-orang yang menipu daya, Demikian ini dinukil dari kitab Az-Zawajir.

(وَالْإِمَامُ الْجَائِرُ) عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ ﷺ يَقُوْلُ: [يُجَاءُ بِالْوَالِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُنْبَذُّ بِهِ عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ فَيَرْتَجُّ بِهِ الْجِسْرُ ارْتِجَاجَةً لَا يَبْقَى مِنْهُ مَفْصَلٌ إلَّا زَالَ عَنْ مَكَانِهِ فَإِنْ كَانَ مُطِيعًا لِلّٰهِ فِى عَمَلِهِ مَضَى وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا انْخَرَقَ بِهِ الْجِسْرُ فَيَهْوَى بِهِ فِى جَهَنَّمَ مِقْدَارَ خَمْسِيْنَ أَلْفَ عَامٍ].

(Seorang imam yang zalim) Dari Abu Dzar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: [Akan didatangkan seorang penguasa pada hari kiamat, lalu ia akan dilemparkan ke atas jembatan Jahannam, maka akan berguncang jembatan itu bersamanya dengan guncangan yang dahsyat sehingga tidak ada satu sendi pun yang tersisa Kecuali sudah bergeser dari tempatnya. Jika ia taat kepada Allah dalam pekerjaannya, maka ia akan melintas, dan jika ia berdosa, maka akan runtuh jembatan itu bersamanya sehingga jembatan itu jatuh bersamanya ke dalam Jahannam selama lima puluh ribu tahun].

(وَرَجُلٌ لَا تَنْهَاهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَا يَزْدَادُ مِنَ اللّٰهِ إلَّا بُعْدًا) نُقِلَ عَنِ الْعَارِفِ الْمُرْسِي: اَلْعَمَلُ يَنْشَأُ مِنَ الْعَبْدِ عَلَى صُوْرَةِ اللُّقْمَةِ حِلًّا وَحُرْمَةً.

(Seorang laki-laki yang tidak mencegah kepadanya sholatnya dari perbuatan keji dan mungkar tidaklah dia bertambah dari Allah melainkan semakin jauh). Dinukil dari Arif al-Mursi: Amal perbuatan itu akan timbul pada seorang hamba berdasarkan satu suap makanan, baik halal maupun haram.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 10 Maqolah 20

(وَ) الْمَقَالَةُ الْعِشْرُوْنَ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [يَنْبَغِي) أَيْ يُطْلَبُ (لِلدَّاخِلِ فِي الْمَسْجِدِ عَشْرُ خِصَالٍ: أَوَّلُهَا: أَنْ يَتَعَاهَدَ خُفَّيْهِ أَوْ نَعْلَيْهِ) أَيْ يَحْفَظَهُمَا مِنَ النَّجَاسَةِ لِئَلَّا تَقَعَ فِي الْمَسْجِدِ

Maqolah yang kedua puluh (Telah bersabda Nabi ﷺ: [Selayaknya) Maksudnya dituntut (Bagi orang yang masuk masjid sepuluh perkara: Yang pertama dari sepuluh perkara itu: Adalah hendaknya dia menjaga kedua sepatunya atau kedua sendalnya) Maksudnya menjaga keduanya dari najis-najis supaya tidak jatuh di masjid

(وَأَنْ يَبْدَأَ بِرِجْلِهِ الْيُمْنَى) عِنْدَ دُخُوْلِ الْمَسْجِدِ وَكُلِّ مَحَلٍّ شَرِيْفٍ وَمَا جَهِلَ حَالَهُ وَأَنْ يَنْزِعَ نَعْلَهُ الْيُسْرَى أَوَّلًا عِنْدَ وُصُوْلِهِ بَابَ الْمَسْجِدِ وَيَحُطَّ رِجْلَهُ الْيُسْرَى عَلَى ظَهْرِهَا ثُمَّ يَنْزِعَ نَعْلَهُ الْيُمْنَى.

(Dan hendaknya dia mendahulukan dengan kakinya yang kanan) Ketika masuk masjid dan ketika masuk setiap tempat yang mulia dan tempat yang dia tidak tahu keadaannya dan hendaknya dia melepas sendalnya yang kiri pertama kali ketika dia sampai di pintu masjid dan hendaknya dia menurunkan kakinya yang kiri di atas punggung sendalnya kemudian dia melepas sendalnya yang kanan

(وَ) الثَّانِي (أَنْ يَقُوْلَ إذَا دَخَلَ) أَيْ أَرَادَ الدُّخُوْلَ: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ

(Dan) Yang kedua (Hendaknya dia berucap ketika masuk) Maksudnya ketika ingin masuk: Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan Dzat-Nya yang maha mulia, dan dengan kekuasaan-Nya yang maha kekal, dari setan yang terkutuk. Segala puji adalah milik Allah. Ya Allah, limpahkanlah tambahan rahmat kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga Nabi Muhammad, dan kepada para sahabatnya

(بِسْمِ اللّٰهِ وَسَلَامٌ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ وَعَلَى مَلَائِكَةِ اللّٰهِ، اللّٰهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ إنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ) أَوْ يَقُوْلُ: اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ وَافْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، ثُمَّ يَقُوْلُ بِسْمِ اللّٰهِ.

(Dengan nama Allah, dan kesejahteraan semoga tercurah kepada Rasulullah dan kepada para malaikat Allah. Ya Allah, bukakanlah untuk kami pintu-pintu rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi karunia.) Atau berucap: Ya Allah ampunilah untukku dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatmu kemudian berucap: Bismillah

(وَ) الثَّالِثُ (أَنْ يُسَلِّمَ عَلَى أَهْلِ الْمَسْجِدِ وَأَنْ يَقُوْلَ إذَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ) أَيْ اَلْمَسْجِدِ (أَحَدٌ: اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِيْنَ).

(Dan) Yang ketiga (Hendaknya dia mengucapkan salam kepada ahli masjid dan hendaklah mengucapkan ketika tidak ada di dalamnya) Maksudnya di dalam Masjid (Seorangpun: Semoga keselamatan kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh)

(وَ) الرَّابِعُ (أَنْ يَقُوْلَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ).

(Dan) Yang keempat (Hendaknya dia mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad Adalah utusan Allah)

(وَ) الْخَامِسُ (أَنْ لَا يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي) فَيَحْرُمُ الْمُرُوْرُ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي وَسُتْرَتِهِ فِى صَلَاةٍ صَحِيْحَةٍ فِى اعْتِقَادِ الْمُصَلِّي وَلَوْ نَفْلًا وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَارُّ طَرِيْقًا آخَرَ حَيْثُ لَمْ يُقَصِّرِ الْمُصَلِّي

(Dan) Yang kelima (Hendaknya dia tidak melewati didepan orang yang sedang sholat) Karena haram lewat di depan orang yang sedang sholat dan di depan pembatasnya, dalam shalat yang sah menurut keyakinan orang yang sholat walaupun shalat sunnah dan meskipun tidak mendapati orang yang ingin lewat pada jalan yang lain sekiranya tidak lalai orang yang sholat tersebut.

وَيَجُوْزُ الْمُرُوْرُ إذَا اضْطَرَّ إلَيْهِ لِإِنْقَاذِ نَحْوِ غَرِيْقٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ، بَلْ نَقَلَ الْإِمَامُ عَنِ الْأَئِمَّةِ جَوَازَهُ إنْ لَمْ يَجِدْ طَرِيْقًا، وَهَذَا ضَعِيْفٌ.

Dan boleh lewat jika terpaksa atas orang tersebut untuk menyelamatkan seumpama orang yang tenggelam menurut pendapat yang dapat diandalkan, bahkan telah menukil seorang imam dari para Imam bolehnya lewat jika dia tidak menemukan jalan lain, dan pendapat ini lemah.

أَمَّا إنْ قَصَّرَ الْمُصَلِّي بِأَنْ صَلَّى فِى مَحَلٍّ يَغْلِبُ فِيْهِ الْمُرُوْرُ ذٰلِكَ الْوَقْتَ كَالْمَطَافِ أَوْ تَرَكَ فُرْجَةً فِى صَفٍّ قُدَّامَهُ فَاحْتِيْجَ لِلْمُرُوْرِ بَيْنَ يَدَيْهِ لِسَدِّهَا فَلَا يَحْرُمُ وَإِنْ تَعَدَّدَتِ الصُّفُوْفُ.

Adapun jika lalai orang yang shalat dengan cara dia shalat di tempat yang pada umumnya di tempat tersebut sering dilewati pada waktu itu seperti di tempat thawaf atau dia meninggalkan celah dalam shaf di depannya sehingga diperlukan untuk lewat di depan orang yang sholat tersebut untuk menutup celah tersebut, maka tidak haram meskipun berjumlah banyak shaf-shaf shalat.

(وَ) السَّادِسُ (أَنْ لَا يَعْمَلَ) فِى الْمَسْجِدِ (بِعَمَلِ الدُّنْيَا) كَأَنْ يَبِيْعَ أَوْ يَشْتَرِيَ، وَيُسَنُّ أَنْ يَقُوْلَ عِنْدَ رُؤْيَةِ ذٰلِكَ: لَا أَرْبَحَ اللّٰهُ تِجَارَتَكَ.

(Dan) yang keenam, (hendaknya dia tidak melakukan) di dalam masjid (Dengan pekerjaan duniawi) semisal dia menjual atau membeli. Dan disunnahkan untuk mengatakan ketika melihat itu: "Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada perdaganganmu."

(وَ) السَّابِعُ (أَنْ لَا يَتَكَلَّمَ بِكَلَامِ الدُّنْيَا) كَنَشْدِ ضَالَّةٍ وَيُسَنُّ أَنْ يَقُوْلَ عِنْدَ سَمَاعِ ذٰلِكَ: لَا رَدَّهَا اللّٰهُ عَلَيْكَ.

(Dan) yang ketujuh (hendaknya dia tidak berbicara dengan pembicaraan duniawi) seperti mencari barang hilang. Dan disunnahkan untuk mengatakan ketika mendengar itu: "Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu."

(وَ) الثَّامِنُ (أَنْ لَا يَخْرُجَ) وَلَا يَجْلِسَ (حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ) لَكِنْ إذَا دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَأَرَدْتَ الطَّوَافَ فَالْأَفْضَلُ أَنْ تَبْدَأَ بِالطَّوَافِ ثُمَّ تَنْوِي بِالرَّكْعَتَيْنِ سُنَّةَ الطَّوَافِ وَتَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ مَعًا.

(Dan) yang kedelapan (hendaknya dia tidak keluar) dan tidak duduk (sampai dia shalat dua rakaat). Tetapi jika kamu masuk ke Masjidil Haram dan kamu ingin melakukan tawaf, maka yang lebih utama adalah hendaknya kamu memulai dengan tawaf kemudian berniat dengan dua rakaat sunnah tawaf dan tahiyatul masjid sekaligus.

(وَ) التَّاسِعُ (أَنْ لَا يَدْخُلَ إلَّا بِوُضُوْءٍ) وَيُنْدَبُ لِمَنْ لَمْ يَأْتِ بِالتَّحِيَّةِ أَنْ يَقُوْلَ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، فَتَنْدَفِعُ الْكَرَاهَةُ بِذٰلِكَ، وَهٰذَا حَيْثُ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ الْوُضُوْءُ فِى الْمَسْجِدِ قَبْلَ طُوْلِ الْفَصْلِ وَإِلَّا فَلَا يَكْفِي ذٰلِكَ لِتَقْصِيْرِهِ بِتَرْكِ الْوُضُوْءِ مَعَ تَيَسُّرِهِ.

(Dan) yang kesembilan (hendaknya dia tidak masuk kecuali dengan wudhu). Dan disunnahkan bagi siapa yang tidak melaksanakan tahiyatul masjid untuk mengatakan empat kali: "Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar," maka terhindar kemakruhan karena itu. Dan ini sekiranya tidak memungkinkan baginya wudhu di dalam masjid sebelum lama terpisah, kalau tidak maka tidak cukup membacca itu karena kelalaiannya meninggalkan wudhu padahal memungkinkan baginya.

(وَ) الْعَاشِرُ (أَنْ يَقُوْلَ إذَا قَامَ: سُبْحَانَك اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ)

(Dan) yang kesepuluh (hendaknya dia mengatakan ketika berdiri: "Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.")

رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [مَنْ جَلَسَ فِى مَجْلِسٍ وَكَثُرَ فِيْهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُوْمَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذٰلِكَ: سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ إلَّا غَفَرَ اللّٰهُ لَهُ مَا كَانَ فِى مَجْلِسِهِ ذَلِكَ].

Telah meriwayatkan Imam Tirmidzi dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: ["Barangsiapa yang duduk di suatu majelis dan banyak di dalamnya keramaian, lalu dia berkata sebelum berdiri dari majelisnya itu: 'Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu', melainkan Allah akan mengampuni baginya dosa-dosa yang ada di majelisnya tersebut."]

وَرُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَكْتَالَ بِالْمِكْيَالِ الْأَوْفَى فَلْيَقُلْ آخِرَ مَجْلِسِهِ أَوْ حِيْنَ يَقُوْمُ: ﴿سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ١٨٠ وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ ١٨١ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ١٨٢﴾ [الصافات: الآيات ١٨٢ ، ١٨٠].

Dan diriwayatkan dari Ali bahwa dia berkata: "Barangsiapa yang ingin mendapatkan timbangan dengan timbangan yang penuh, hendaklah ia mengucapkan di akhir majelisnya atau ketika ia berdiri: Mahasuci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul pembawa risalah. dan segala puji adalah milik Allah Tuhan seluruh alam." [QS. As-Saffat: Ayat 180-182]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar