MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Rabu, 08 Juli 2026

PEMBELAAN SYAIKH IBRAHIM AL-BAJURI KEPADA PENUNTUT ILMU DARI JAWA ATAS PEMUNGUTAN PAJAK KOLONIAL BELANDA 1816 M

 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐚𝐚𝐧 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡𝐮-𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫, 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐈𝐛𝐫𝐚𝐡𝐢𝐦 𝐚𝐥-𝐁𝐚𝐣𝐮𝐫𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐓𝐡𝐚𝐥𝐢𝐛𝐮-𝐥-'𝐈𝐥𝐦𝐢 𝐚𝐬𝐚𝐥 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐉𝐚𝐰𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐮𝐧𝐠𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐣𝐚𝐤 𝐊𝐨𝐥𝐨𝐧𝐢𝐚𝐥 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟐𝟕𝟔 𝐇/𝟏𝟖𝟔𝟎 𝐌

Dokumen koleksi dari Başbakanlık Osmanlı Arşivi (Arsip Kesultanan Ottoman/Turki di Istanbul). 

Inv. BOA A.MKT.UM. 372/94

𝗗𝗲𝘀𝗸𝗿𝗶𝗽𝘀𝗶 𝗗𝗼𝗸𝘂𝗺𝗲𝗻

Ini adalah surat rekomendasi/syafaat (tazkiyah) yang ditulis oleh ulama besar Mesir, Syaikh Ibrahim al-Bajuri, Syaikhu-l-Azhar masa tahun 1847–1860 M), yang ditujukan kepada Shadru-l-A'zham (Wazir Agung/Perdana Menteri) Kekhalifahan Daulah 'Aliyah Utsmāniyah di Istanbul.

Surat ini ditulis untuk memohon bantuan seorang penuntut ilmu asal Tanah Jawa yang telah lama belajar dan berkeluarga di Makkah dan ingin pulang ke tanah air untuk berdagang namun khawatir ditarik pajak/bea cukai tinggi oleh pemeritah "kaum Nasrani" yang dalam konteks sejarahnya yakni "Pemerintah Kolonial Belanda".

Dalam surat tersebut tidak disebutkan nama dari pria tersebut melainkan hanya ciri-cirinya saja, tidak disebutkan pula nama dari Shadru-l-A'zham-nya, namun jika kita lihat dari petunjuk informasi tahunnya disebutkan tahun 1276 H, maka kemungkinannya antara dua; Mustafa Reşid Pasha atau Mehmed Emin Âli Pasha di masa Sultan Abdülmecid I yang memimpin Kekhalifahan Utsmaniyah dari tahun 1839 hingga 1861 Masehi.

𝗧𝗲𝗸𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗼𝗸𝘂𝗺𝗲𝗻 𝘀𝘂𝗿𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝘂𝘁:

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜

حمدًا لك يا من أمره بين الكاف والنون وشكراً لك (عن؟) أن تدرك وصفه الواصفون والصلاة

Segala puji bagi-Mu, wahai Dzat yang urusan-Nya di antara huruf Kaf dan Nun¹, dan syukur bagi-Mu atas ketidakmampuan para pensifat untuk menggapai sifat-Mu serta shalawat ...

¹ yakni apabila Dia-Nya Allah menghendaki sesuatu, cukup berkata "Kun" / Jadilah!

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜𝗜

والسلام على السر المصون والجوهر المكنون وعلى آله وأصحابه المحفوظين عن الشكوك والظنون

... dan salam semoga tercurah kepada sang rahasia yang terpelihara, permata yang tersembunyi (Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam), juga kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang senantiasa terjaga dari segala keraguan dan prasangka.

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜𝗜𝗜

تحف تحيات نشرها (عميم؟) وأزكى دعوات تتناسق كالدر النظيم نهدي ذلك إلى الذات

(serta) bingkisan penghormatan yang penyebarannya merata serta doa-doa paling suci yang tersusun rapi sebagaimana untaian mutiara, kami persembahkan hal itu kepada pribadi ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜𝗩

السنية صاحب الهمة العلية المحفوظ عن جميع (الفترآ\المضرات؟) اللابس تاج الأمرا(ء) العزيز المفخم

Yang mulia, punya tekad yang tinggi, terjaga dari segala (keburukan/bahaya), mengenakan mahkotanya para Amir (pemimpin) yang mulia ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗩

المكرم صاحبنا العزيز صدر الأعظم حفظه الله تعالى عن جميع البلاء والبليات وحرسه عن

Yang diagungkan, dimuliakan, sahabat kami yang amat perkasa: Wazir Agung (Shadru-l-A’zham), semoga Allah Ta’ala menjaganya dari segala bala dan petaka, serta senantiasa melindunginya dari ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗩𝗜

أعين الحاسدين والباغيات بجاه النبي سيد السادات آمين يا مجيب الدعوات (...)

Matanya orang-orang yang dengki nan zhālim, dengan berkahnya kedudukan Nabi, penghulunya para pemimpin. Amin (Perkenankanlah Wahai Yang Maha Pengabul Segala Doa)

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗩𝗜𝗜

أما بعد ما يليق بالمقام من جزيل التحية وعظيم الإكرام نعلمكم علمكم الله أن هذا

Adapun setelah itu, dengan segala penghormatan yang layak bagi kedudukan yang mulia ini serta pengagungan yang agung, kami memberitahukan kepada Tuan – semoga Allah senantiasa menambahkan ilmu kepadamu – bahwa ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗩𝗜𝗜𝗜

الرجل أتى من مكان بعيد وقد قاسى من التعب الشديد صاحب ديانة وتقوا (ى؟) (و) هو

Ada seorang pria yang datang dari tempat yang jauh dan benar-benar telah mengalami keletihan yang teramat sangat, beliau adalah seorang yang taat beragama lagi bertaqwa, dan beliau (juga) ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜𝗫

رجل من مملكة أرض الجاوا (ى\ه) وقد جاور في مكة مدة عديدة لطلب العلم وتحصيل الفائدة

... Adalah seorang pria dari kerajaan tanah Jawa (h?), dan ia telah bermukim di Makkah dalam kurun waktu yang lama untuk menuntut ilmu serta mengambil manfaat (dari ilmu tersebut).

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫

وتأهل فيها وحصل العيال من أهلها فالآن أراد أن يرجع إلى بلده ليتجر فيه وتحصيل

Beliau juga telah menikah di sana dan memiliki keluarga (anak - istri) dari penduduk setempat. Dan saat ini, ia hendak kembali ke negerinya untuk berdagang di sana dan mencari ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫𝗜

النفقة لعياله والحال أن البلد تحت حكم النصارى فأراد أن يلتمس من الدولة

... nafkah bagi keluarganya. Sementara situasi kondisi saat ini, negeri tersebut di bawah kekuasaan kaum Nasrani (Kolonial Belanda), maka beliau bermaksud untuk memohon kepada Kesultanan ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫𝗜𝗜

العلية ورقة الفسح على أن النصارى لا يأخذون من مال تجارة العشور(.) هذا

Yang Mulia (Daulah ‘Utsmaniyyah) sebuah surat izin (surat keterangan jalan), agar kiranya Kaum Nasrani (Kolonial Belanda) tidak memungut pajak sepersepuluh (bea cukai( dari harta dagangannya. Demikianlah ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫𝗜𝗜𝗜

هو المطلوب والمأمول من الله ومنكم القبول بجاه سيدنا الرسول والزهرا البتول

Yang diminta nan diharapkan, dan dari Allah-lah kemudian dari Anda kami mengharapkan pengabulan, dengan berkah kedudukan junjungan kami, Sang Rasul dan Az-Zahra-l-Batul (Fathimah binti ar-Rasul Sang Putri yang bercahaya dan menjaga kesucian dirinya).

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫𝗜𝗩

آمين يا خير المسئول وصلى الله على خير خلقه محمد وآله وصحبه وسلم

Amin, wahai Sebaik-baik Tempat Meminta. Dan semoga shalawat dan keselamatan dari Allah tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad serta keluarga dan sahabatnya.

الشيخ

إبراهيم الباجوري

خادم العلم

والفقه

بالأزهر

𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉

𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 𝒂𝒍-𝑩𝒂𝒋𝒖𝒓𝒊

𝑲𝒉𝒂𝒅𝒊𝒎𝒖-𝒍-‘𝑰𝒍𝒎𝒊

𝑫𝒂𝒏 𝑭𝒊𝒒𝒉

𝒅𝒊 𝑨𝒍-𝑨𝒛𝒉𝒂𝒓

𝗧𝗲𝗿𝗷𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗻

Segala puji bagi-Mu, wahai Dzat yang urusan-Nya berada di antara Kaf dan Nun (yakni apabila Dia menghendaki sesuatu, cukup berkata "Kun" / Jadilah!), dan rasa syukur ke hadirat-Mu atas ketidakmampuan para makhluk untuk menggambarkan sifat-Mu yang agung. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Sang Rahasia yang Terpelihara dan Permata yang Tersembunyi (Baginda Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam), serta kepada keluarga dan para sahabatnya yang terjaga dari segala keraguan dan prasangka.

Bersama ini, kami hadiahkan bingkisan penghormatan yang amat luas serta doa-doa paling suci yang tersusun indah bagai untaian mutiara, kami persembahkan kepada pribadi yang mulia, pemilik tekad yang tinggi, yang terjaga dari segala marabahaya, yang mengenakan mahkota para pemimpin yang agung, yang dimuliakan dan dihormati, sahabat kami yang perkasa: Shadru-l-A’zham (Wazir Agung/Perdana Menteri Khilafah Utsmaniyah). Semoga Allah Ta'ala senantiasa menjaganya dari segala bala dan petaka, serta melindunginya dari mata orang-orang yang dengki nan zhalim, demi dengan berkahnya kedudukan agung Nabi, penghulu para pemimpin. Amin, Wahai Maha Pengabul Segala Doa.

Jadi, dengan segala penghormatan yang layak bagi kedudukan Tuan yang tinggi dan pengagungan yang mulia, kami memberitahukan kepada Tuan —semoga Allah senantiasa melimpahkan ilmu kepadmu— Ada seorang pria yang datang dari tempat yang jauh dan benar-benar telah mengalami keletihan yang teramat sangat, beliau adalah seorang yang taat beragama lagi bertaqwa, dan beliau (juga) Adalah seorang pria dari kerajaan tanah Jawa (h?), dan ia telah bermukim di Makkah dalam kurun waktu yang lama untuk menuntut ilmu serta mengambil manfaat (dari ilmu tersebut). Beliau juga telah menikah di sana dan memiliki keluarga (anak - istri) dari penduduk setempat. 

Dan saat ini, ia hendak kembali ke negerinya untuk berdagang di sana dan mencari nafkah bagi keluarganya. Sementara situasi kondisi saat ini, negeri tersebut di bawah kekuasaan kaum Nasrani (Kolonial Belanda), maka beliau bermaksud untuk memohon kepada pihak Kesultanan Yang Mulia (Daulah ‘Utsmaniyyah) sebuah surat izin (surat keterangan jalan), agar kiranya Kaum Nasrani (Kolonial Belanda) tidak memungut pajak sepersepuluh (bea cukai( dari harta dagangannya. Demikianlah Yang diminta nan diharapkan, dan dari Allah-lah kemudian dari Tuan kami mengharapkan pengabulan, dengan berkah kedudukan junjungan kami, Sang Rasul dan Az-Zahra-l-Batul (Fathimah binti ar-Rasul Sang Putri yang bercahaya dan menjaga kesucian dirinya).

Amin, Wahai Sebaik-baik Tempat Meminta! Dan semoga shalawat dan keselamatan dari Allah tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad serta keluarga dan sahabatnya.

Syaikh Ibrahim al-Bajuri

Khadimu-l-‘Ilmi dan Fiqh di Al-Azhar 

𝗕𝗶𝗼𝗴𝗿𝗮𝗳𝗶 𝗦𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁

Syaikh Ibrahim al-Bajuri, bernama Burhanuddin, Ibrahim bin Muhammad al-Jizawi bin Ahmad al-Bajuri al-Asy'ariy asy-Syafi'iy an-Naqsyabandiy al-Khalwatiy al-Azhariy. Lahir tahun 1198 H/1784 M di Desa al-Bajur, Provinsi al-Munufiyyah, Mesir. Tarikh wafatnya ada yang mengatakan pada 28 Zulqa'dah 1267 H (1860 M), ada juga yang mengatakan tahun 1277 H/1861 M.

Beliau menjadi Syaikhu-l-Azhar yang ke-19 di usianya yang ke-65 tahun, tepatnya pada bulan Sya'ban 1263 H/Juli 1847 M. Beliau mengajar beberapa pelajaran kepada para murid. Beliau juga melanggengkan mengajar tafsir karya Imam Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Tafsir Al-Kabir hingga jatuh sakit sebab tua yang tidak memungkinkannya untuk melanjutkan pelajaran dan mengurusi semua administrasi Al-Azhar.

Karangannya sangat banyak, lebih kurang ada 12 karya besar dari tahun 1222 H ketika usianya 24 tahun sampai 1238 dan beberapa karya belum rampung sekitar 6 karya. (44 Imam Akbar; Kamus Biografi Ulama Al-Azhar; Mujawirin). Wallahu a'lam 🙏🏻 

Kamis, 02 Juli 2026

EDISI KHUTBAH JUM'AT (MENJADI MANUSIA PENEBAR KASIH SAYANG)

*Khutbah Pertama*   

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيمِ. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ 

*Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah*

Puji syukur Alhamdulillah, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulillah Muhammad Shallallallahu 'alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang setia mengikuti jejak lampahnya hingga akhir zaman.

Sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku khatib untuk senantiasa mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian, agar selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, takwa merupakan sebaik-baiknya bekal dalam menjalani hidup di dunia dan bekal keselamatan menuju akhirat kelak.   

*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah*

Implementasi takwa tidak hanya terwujud dalam ritual ibadah saja, seperti shalat, puasa, dan lainnya. Tetapi juga harus terwujud dalam keseharian kita, mulai dari cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Karenanya, seorang Muslim yang bertakwa bukanlah mereka yang hanya rajin beribadah saja, tetapi juga yang kehadirannya membawa ketenangan dan kenyamanan bagi lingkungan sekitarnya.   

Inilah salah satu visi misi besar diutusnya Nabi Muhammad saw, yaitu untuk membawa ketenangan atau rahmat bagi seluruh alam semesta, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ    

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’, [21]: 107).

Dalam menafsirkan ayat di atas, Ibnu Abbas sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Baghawi, mengatakan bahwa diutusnya Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta bersifat umum, mencakup seluruh makhluk tanpa terkecuali, baik bagi mereka yang beriman pada ajaran yang dibawa olehnya maupun yang belum beriman.   

Dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’anil Azim, jilid V, halaman 359 dijelaskan,  

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُوَ عَامٌ فِي حَقِّ مَنْ آمَنَ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ   

“Ibnu Abbas berkata: ‘Rahmat itu bersifat umum, berlaku bagi siapa saja yang beriman maupun tidak beriman sekali pun.”   

*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah*

Lantas, bagaimana cara kita menjadi muslim yang menenangkan dan tidak meresahkan? Setidaknya ada beberapa cara yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari.   

*Pertama,* dengan senantiasa menjaga lisan agar ucapan-ucapan yang keluar tidak menyakiti orang lain. Sebab lisan adalah bagian kecil dari anggota tubuh yang memiliki dampak sangat besar. Dengan lisan, kita bisa menyejukkan dan menenangkan hati orang lain, tetapi dengan lisan pula kita bisa melukai perasaan mereka, bisa memecah belah persaudaraan, bahkan menghancurkan rumah tangga. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab : 70-71)

Tidak hanya menjaga lisan, tetapi juga senantiasa menjaga tangan dari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain, termasuk ketika bermedia sosial, karena apa yang kita ketik, kita bagikan, dan kita komentari juga merupakan bagian dari tindakan yang perlu kita jaga agar tidak menyakiti orang lain. Sebab itu, Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ   

“Seorang muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).   

*Kedua,* senantiasa berusaha menjadi muslim yang penyayang. Caranya adalah dengan menjadi pribadi yang mudah memaafkan, ringan tangan untuk menolong, serta peduli terhadap keadaan orang lain. Sehingga dengan senantiasa melakukan perbuatan mulia tersebut, kita tidak akan senang melihat orang lain menderita, apalagi menjadi penyebab penderitaan tersebut.

Sikap penyayang inilah yang menjadi salah satu inti dari ajaran Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu haditsnya, yaitu,  

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ! ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Pengasih! Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidzi).   

*Ketiga,* senantiasa berusaha menahan amarah dan memperbanyak bersabar. Ini sangat penting untuk kita perhatikan bersama, karena marah dapat menjadi penyebab munculnya tindakan-tindakan meresahkan. Misalnya, seseorang ketika marah akan mudah kehilangan kendali, mengucapkan kata-kata kotor, hingga melakukan tindakan yang akan disesali di kemudian hari. Maka menjadi manusia yang menenangkan berarti kita harus mampu mengendalikan emosi, menahan amarah, serta menyikapi setiap persoalan dengan kepala dingin dan penuh kesabaran. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ   

“Orang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat, tetapi ia yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari & Muslim).   

*Ma’asyiral Muslimin rahimahullah* 

Demikianlah khutbah Jumat pada hari ini. Mari kita semua berusaha meneladani akhlak Rasulullah dengan menjadi muslim yang kehadirannya membawa ketenangan bukan keresahan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing kita agar mampu menjaga lisan, perbuatan, dan seluruh sikap kita, agar kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Amin ya Rabbal 'alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

*Khutbah Kedua*   

الحَمْدُ للهِ حَمْدًا كثيرا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: 

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ

Rabu, 01 Juli 2026

KAJIAN TENTANG KHURAFAT YANG DIANGGAP KAROMAH "MEWAKILI BUANG HAJAT DAN KOTORAN MENJADI EMAS"


Karomah adalah anugerah luar biasa dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang shaleh dan bertakwa (para wali Allah). Sebaliknya, khurafat adalah kepercayaan atau cerita rekaan yang menyimpang dari ajaran Islam dan tidak berdasar pada dalil.

Khurafat adalah cerita-cerita mempesonakan yang bercampur dengan perkara dusta, atau cerita rekaan, khayalan, ajaran-ajaran, ramalan, pemujaan, atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam namun diyakini kebenarannya. Budaya khurafat berasal dari masyarakat Jahiliyah, yang percaya pada arah terbang burung sebagai penentu nasib mereka. Mereka juga percaya bahwa burung hantu atau gagak yang hinggap dan bersuara di atas rumah menandakan kematian salah satu penghuni rumah tersebut.

Disebutkan dalam kitab yang masyhur dikalangan ba'alawi yang penuh khurafat meski juga ada yang merupakan karomah wali diantaranya yaitu,

وحكى سيدي أن رجلاً أعمى في الهجرين، يقال له بن نعمان كان يسير كل يوم إلى قيدون، فيأتى له بمسألة واحدة من العلم فقط ويرجع. وما بين البلدين نحو أربع ساعات. فخرج ذات يوم، ومعه بنته تقوده. فلما كان في أثناء الطريق أراد قضاء الحاجة فجلس. فقالت له بنته: اصبر قليلاً، حتى أدق الأرض، كيلا يصيبك الرشاش، فلما قضى حاجته قال لبنته: ارجعي بنا. فقالت له: لم ترجع. فقال: إني في كل يوم أستفيد مسألة من قيدون، وأني استفدتها اليوم منك.

وقال رضي الله عنه: بلغنا أن السيد حاتم الأهدل كان حريصاً على مجالس الإخوان في الله ويشق عليه فراقهم، وكان له مملوك أمره أن يجلس بالباب، فإذا أراد أحد من إخوانه قضاء الحاجة والخلاء نظر إلى ذلك العبد، فينتقل الحدث إليه فيروح العبد إلى الخلاء وينوب عنه. ووقع للحبيب هادون بن هود بن علي بن أحسن العطاس، أنه لما زار المدينة المشرفة بات ليلة بالحرام، فتحركت عليه بطنه، وذهب ليخرج فوجد الأبواب مقفلة، فراح إلى ناحية في أخريات الحرم، ووضع المخارج في ثوبه، فلما كان الصباح، ذهب إلى خارج المدينة ليرميه، فإذا هو ذهب يتلألأ.

Dan diceritakan oleh junjungan kami bahwa ada seorang laki-laki buta di Hijrain atau Hajrain (terletak di daerah Yaman di lembah Dau'an Hadhramaut), yang dipanggil Ibnu Nu’man. Beliau berjalan setiap hari ke Qidun (nama sebuah kota di Hadhramaut Yaman) untuk mengambil satu masalah ilmu saja, lalu pulang. Dan jarak antara dua negeri itu sekitar empat jam perjalanan. 

Maka beliau keluar pada suatu hari, dan bersamanya putrinya yang menuntunnya. Ketika di tengah jalan beliau ingin buang hajat, lalu beliau duduk. Putrinya berkata kepadanya: "Bersabarlah sebentar, sampai aku menggali tanah, supaya cipratannya tidak mengenai engkau." 

Ketika beliau selesai buang hajat, beliau berkata kepada putrinya: "Mari kita kembali pulang." Putrinya berkata: "Kenapa kita kembali?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya setiap hari aku mengambil satu masalah ilmu dari Qaidun, dan sesungguhnya aku telah mengambilnya hari ini darimu."

Dan beliau - semoga Allah meridhainya - berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Sayyid Hatem al-Ahdal sangat bersemangat menghadiri majelis-majelis ikhwan fi Allah, dan berat baginya berpisah dengan mereka. Dan beliau memiliki seorang budak yang beliau perintahkan duduk di pintu. Maka jika salah satu dari saudara-saudaranya ingin buang hajat dan masuk WC, ia melihat kepada budak itu, lalu hadats itu pindah kepadanya, maka budak itu pergi ke WC dan menggantikan tuannya.

Dan terjadi pada Al-Habib Hadun bin Hud bin Ali bin Hasan al-Athas, bahwa ketika beliau ziarah ke Madinah al-Munawwarah, beliau bermalam satu malam di Haram. Lalu perutnya bergerak-gerak, dan beliau pergi untuk keluar, tapi beliau mendapati pintu-pintu terkunci. Maka beliau pergi ke sudut di bagian belakang Haram, dan beliau buang hajat ke pakaiannya. Ketika pagi tiba, beliau pergi keluar kota untuk membuangnya, ternyata kotoran itu menjadi emas yang berkilau-kilau." (Tadzkir An-Nas, Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, hal.47-48). Wallahu a'lam 

Catatan tentang kisah tersebut adalah :

1. Kisah Pertama: Ibrohnya adab menuntut ilmu dan hikmah dari hal sepele. Ini masuk akal dan banyak terjadi pada ulama. 

2. "Kisah Memindahkan hadats ke budak" ini masuk kategori khurafat. Ulama Ahlussunnah sepakat tidak ada manusia yang bisa memindahkan najis/hadats orang lain ke dirinya. Ini bertentangan dengan kaidah syariat.

3. "Kisah kotoran jadi emas" juga termasuk khurafat karena menyelisihi kebiasaan Allah (Sunnatullah) dan sunnah Rasul-Nya.

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG KISAH KAROMAH TERBELAHNYA LAUTAN DAN BERUBAHNYA KERIKIL MENJADI EMAS PERMATA


Peristiwa terbelahnya lautan dikategorikan sebagai mukjizat, yang dimiliki Nabi Musa 'alaihissalam dan bukan karomah. Dalam ajaran Islam, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul untuk membuktikan kenabian mereka, sedangkan karomah diberikan kepada para Wali (kekasih Allah).

Kisah yang paling terkenal mengenai hal ini adalah mukjizat Nabi Musa 'alaihissalam. Atas perintah Allah, beliau memukulkan tongkatnya ke Laut Merah (atau Laut Teberau) sehingga airnya terbelah menjadi jalan kering. Hal ini memungkinkan Nabi Musa dan kaum Bani Israil menyeberang dengan selamat dari kejaran Firaun.

Kejadian ini diabadikan di dalam Al-Qur'an Surah Asy-Syu'ara ayat 63, "Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar."

Bagi umat Islam, peristiwa ini adalah mukjizat mutlak dari Allah yang melampaui hukum alam. Sementara itu, sebagian ilmuwan dan pakar mengkaji peristiwa tersebut melalui pendekatan ilmiah, seperti kemungkinan adanya fenomena alam atau angin besar (surut ekstrem) yang membuka jalan air di masa lalu.

Terkait mensikapi cerita karomah para wali dalam dunia sufi yang khariqul adat maka seharusnya menggunakan standar kehati-hatian agar bisa membedakan mana karomah mana khurafat. Sebagaimana Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menafsirkan surat Al-Baqarah: 34, mengutip ucapan Laits bin Saad dan Imam Syafii rahimahullah;

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Jika kalian melihat seseorang dapat berjalan di atas air dan terbang di udara, janganlah kalian terpesona sebelum menilai perkaranya dengan Al-Quran dan Sunah.”

Dengan cara pandang seperti ini, maka tidak akan kita temukan seorang muslim yang terpedaya hanya karena sesuatu yang sepintas menggambarkan kehebatan, luar biasa atau mampu menampilkan sesuatu yang lain dari biasanya, jika tidak ada indikasi atau bukti bahwa semua itu paralel dengan istiqamahnya di jalan Allah Taala. Maka, jika demikian, apa yang dianggap luar biasa, bukanlah kebaikan, bukan pula karomah, apalagi mukjizat dari Allah Taala.

Diantara keanehan kisah karomah yang mengandung khurafat dan belum jelas kebenarannya tertulis dalam kitab Nasyr Al-Mahasin Al-Ghaliyah sebagai berikut,  

النوع الثالث: انقلاق البحر وجفافه

من ذلك ما روي في بعض التصانيف أنه مات بعض الفقراء في سفينة، قال الراوي: فأردنا إلقاءه في البحر، فرأيت البحر قد انشق نصفين ونزلت السفينة إلى الأرض، فخرجت وحفرنا له قبراً ودفناه، فلما فرغنا استوى الماء وارتفعت السفينة وسرنا.

وروينا عن الأستاذ أبي القاسم القشيري رضي الله تعالى عنه في رسالته عن بعضهم قال: كنا في مركب فمات رجل عليل كان معنا، فأخذنا في جهازه وأردنا أن نلقيه في البحر، فانصار البحر جافاً، فنزلت السفينة فخرجنا وحفرنا له قبراً ودفناه، فلما فرغنا استوى الماء وارتفع المركب وسرنا.

النوع الرابع: انقلاب الأعيان

اعلم أن هذا النوع مما كثر وقوعه لهم واشتهر عنهم، كانقلاب الحصى جواهر وذهباً لكثير منهم، وانقلاب ماء البحر عذباً، ولبعضهم سماً، ولبعضهم مع الرمل سويقاً، وسكراً، ولبعضهم الأسطوانة ذهباً وفضة، ولبعضهم حبة الباذنجان ذهباً، ولبعضهم نشارة الخشب دقيقاً، ولبعضهم الحطب ذهباً وغير ذلك مما يتعذر حصره، وهذه الأشياء مشهورة مذكورة في الكتب المشتملة على بعض كرامات الأولياء كالرسالة وغيرها.

*Jenis Ketiga: Terbelahnya Laut dan Mengeringnya*  

Termasuk dari itu, apa yang diriwayatkan dalam sebagian kitab-kitab tasawuf: Bahwa ada seorang fakir meninggal di dalam kapal. Perawi berkata: Maka kami hendak melemparnya ke laut, lalu aku melihat laut terbelah menjadi dua dan kapal turun ke daratan. Maka aku keluar, kami gali kubur untuknya dan menguburkannya. Setelah selesai, air laut kembali seperti semula dan kapal terangkat lalu kami melanjutkan perjalanan.

Dan diriwayatkan kepada kami dari Ustadz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi (semoga Allah meridhainya) dalam Risalahnya, dari sebagian mereka: Kami berada di atas kapal, lalu seorang laki-laki sakit yang bersama kami meninggal. Maka kami mengurus jenazahnya dan hendak melemparkannya ke laut, tiba-tiba laut menjadi kering. Maka kapal turun, kami keluar, menggali kubur untuknya dan menguburkannya. Setelah selesai, air laut kembali normal, kapal terangkat dan kami melanjutkan perjalanan.

*Jenis Keempat: Berubahnya Benda/Zat* 

Ketahuilah bahwa jenis ini termasuk yang paling banyak terjadi pada mereka dan terkenal dari mereka. Seperti berubahnya kerikil menjadi permata dan emas bagi banyak dari mereka, berubahnya air laut menjadi air tawar, bagi sebagian lain menjadi racun, bagi sebagian lain bersama pasir menjadi sawiq/bubur gandum, dan gula, dan bagi sebagian lain tiang menjadi emas dan perak, dan bagi sebagian lain biji terong menjadi emas, dan bagi sebagian lain serbuk kayu menjadi tepung, dan bagi sebagian lain kayu bakar menjadi emas, dan selain itu yang sulit untuk dihitung.

Hal-hal ini masyhur dan disebutkan dalam kitab-kitab yang memuat sebagian karamah para wali, seperti Risalah Qusyairiyah dan lainnya." (Nasyr Al-Mahasin Al-Ghaliyah fi Fadhl Al-Masyayikh Ash-Shufiyah Ashhab Al-Maqamat Al-'Aliyah, Abi Muhammad Abdullah bin As'ad bin Ali bin Sulaiman Al-Yafi'i (w.768 H.), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiah, Beirut - Libanon hal.24). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Selasa, 30 Juni 2026

KAJIAN TENTANG KAROMAH BISA MELIHAT RASULULLAH SAW SECARA LANGSUNG/TERJAGA


Dalam tradisi Islam, isu tentang bertemu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sadar atau terjaga (yaqdzah) merupakan salah satu perdebatan yang terus berlangsung. Masalah ini bukanlah perkara hukum yang wajib diimani, melainkan pengalaman spiritual yang diperdebatkan oleh para ulama.

Tersebutlah nama Seorang Syaikhah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi adalah salah satu tokoh perempuan shalehah dan waliyullah yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Beliau merupakan ibu dari ulama besar dan waliyullah Syeikh Abu Bakar As-Sakran, serta nenek moyang dari keluarga besar Ba'lawi.

Beliau lahir di perkampungan Al-Urra, Hadramaut, dari keluarga Az-Zubaidi yang berasal dari kabilah Bani Haritsah Al-Kindiah, suku yang terkenal dengan keberanian dan kekuatan.

Diceritakan oleh Al Imam Al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi (Shahibul Maulid), bahwanya di Yaman ada seorang wali agung perempuan yang bernama Syeikhah Sulthanah Radhiallahu ‘Anha. Beliau memiliki gelar Rabia‘atul Adawiyahnya Yaman Hadramaut. Pekerjaan beliau ini setiap waktunya bahkan setiap hembusan nafasnya selalu bershalawat kepada Baginda Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam. Dan lebih hebatnya lagi, beliau ini tiada pekerjaan lain selain shalawat, kecuali di saat waktu shalat tiba.

Pada suatu ketika beliau mendapat suara ghaib, yang meminta beliau untuk minta apa saja, dan permintaan tersebut pasti dikabulkan. Namun beliau sebagai seorang ahli tashawwuf yang mursyid, jadi beliau tidak langsung mengucapkan permintaannya. Beliau menemui Guru beliau dari keluarga Baqushair, dan menanyakan kepada Guru beliau "Apakah ada di dunia ini ada maqam kewalian yang tidak ada lagi maqam sesudahnya ??" Jawab Guru beliau : "Ada, yakni bertemu secara terjaga dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam." Kemudian Syeikhah Sulthanah meminta agar dipertemukan secara terjaga dengan Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seketika itu juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada di hadapan beliau.

Pada zaman beliau banyak orang-orang titip salam kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lewat beliau, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam titip menasihati kepada Syaikhah Sulthanah untuk orang-orang sekitarnya. Adapun kisah dimaksud sebagaimana diterangkan dalam sebuah kitab sebagai berikut,

قالوا إن الشيخة سلطانة بنت علي الزبيدي لازمت ذكر الحبيب ﷺ وصارت تلهج به حتى وصلت بسببه إلى مقام شريف وهو مقام المكالمة، فسمعت النداء من الحق يقول لها في سرها: يا سلطانة اطلبي ما تريدين، فرحلت إلى قُسْمٍ إلى عند الشيخ محمد بن حكم باقشير (٢) وأخبرته بذلك وقالت له: أبغي رتبة عظيمة وليس فوقها شيء من المراتب. فقال لها: إن رؤية الحبيب ﷺ ما فوقها شيء من المراتب، فقالت: يا رب أبغي الاجتماع بالنبي ﷺ يقظة فأعطاها الله ذلك حتى إنه يأتي إليها الآتي من أهل عصرها ويقول لها: قولي للنبي ﷺ كذا وكذا. فيأتي إليها النبي ويخبره بذلك فيقول لها: قولي له يفعل كذا وكذا أو لا يفعله. 

Mereka berkata: Sesungguhnya Asy-Syaikhah Sulthanah binti Ali Az-Zubaidi melazimi dzikir kepada Al-Habib (Nabi) Shallallahu 'alaihi wa sallam dan terus berdzikir dengannya sampai dengan sebab itu dia sampai ke maqam syarif (mulia), yaitu maqam Al-Mukalamah (diajak bicara langsung oleh Allah).

Maka dia mendengar seruan dari Al-Haq yang berkata kepadanya dalam sirnya: "Wahai Sulthanah, mintalah apa yang engkau inginkan". 

Lalu dia pergi ke Qism ke tempat Asy-Syaikh Muhammad bin Hakim Baqasyir dan mengabarkannya tentang itu. Dan dia berkata kepadanya: "Aku menginginkan kedudukan yang agung dan tidak ada di atasnya kedudukan apapun". 

Maka beliau berkata kepadanya: "Sesungguhnya melihat Al-Habib (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada di atasnya kedudukan apapun dari kedudukan-kedudukan". 

Maka dia berkata: "Wahai Rabb, aku menginginkan pertemuan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sadar/yaqzhah". 

Maka Allah memberinya hal itu, sampai-sampai ada orang yang datang kepadanya dari penduduk masanya dan berkata kepadanya: "Katakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam begini dan begitu". 

Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepadanya dan dia memberitahukannya hal itu. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: "Katakan kepadanya, lakukan begini dan begini, atau jangan dia lakukan". (Kunuz As-Sa'dah Al-Abadiyah, Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, hal.199). 

Singkatnya, bahwa mengaku bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan sadar bukan merupakan kemusyrikan. Tetapi itu merupakan keyakinan yang tidak benar, dan bisa menyebabkan kesesatan dan kemusyrikan.

Yaitu jika seseorang mengaku bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, kemudian, dia mendapatkan amalan-amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, lalu dia meyakini kebenarannya dan mengamalkannya, maka itu merupakan kesesatan. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Senin, 29 Juni 2026

KAJIAN TENTANG WAFATNYA ABU THALIB SEBAGAI SEORANG MUKMIN SESUAI PETUNJUK MIMPI




Mengenai status keimanan Abu Thalib sendiri ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat Abu Thalib wafat dalam keadaan tidak beriman karena sampai detik terakhir kewafatan tidak mengucapkan kalimat syahadat. Sesuai riwayat hadits Abu Thalib tetap berpegang pada agama Abdul Muthalib. Sebagaimana riwayat yang shahih sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ « أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَالاَ يُكَلِّمَانِهِ حَتَّى قَالَ آخِرَ شَىْءٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ . فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم « لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ » . فَنَزَلَتْ ( مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِى قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ) وَنَزَلَتْ ( إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ)

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah shallallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu,

“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muththalib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muththalib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan : “Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Kemudian turunlah ayat,

“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” (QS. Al-Qashshash: 56) (HR. Bukhari, no. 3884 dan Muslim, no. 24)

Dari ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ

“Apa manfaat yang engkau berikan kepada pamanmu (Abu Thalib) karena dia dulu telah membelamu dan marah demi mendukungmu?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هُوَ فِى ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِى الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Ia berada di tempat yang dangkal (tidak berada di bagian dasar) dari neraka. Seandainya bukan karena aku niscaya ia berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka.” (HR. Bukhari, no. 3883 dan Muslim, no. 209)

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib. Dia memakai dua sandal (dari api) hingga mendidih otaknya (karena panasnya kedua sandal itu).”(HR. Muslim, no. 213)

Namun ada juga yang meyakini bahwa wafatnya Abu Thalib dalam keadaan beriman kepada Allah Ta'ala sesuai pengakuannya sendiri saat berdialog dengan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar dalam mimpinya sesuai keterangan berikut,

ورأيت سيدي علي بن أبي طالب كرم الله وجهه، وحصلت بيني وبينه مذاكرة ومباحثة طويلة، ومن جملتها أني قلت له: إن السيدة فاطمة، اختلف أهل العلم في دفنها، هل كان في الحجرة أو في البقيع؟ فقال لي: إنها في البقيع، وأنا دفنتها بنفسي في الليل، ثم قلت له: وكذلك أبو طالب اختلف العلماء فيه، هل مات على الإيمان أم لا؟ وأنت داري بالأشياء، فقال: مات على الإيمان، والحمد لله على ذلك، قال سيدي رضي الله عنه: وقد سمعت السيد أحمد دحلان في الحلقة يقول: إن الذي ندين الله به، أن أبا طالب مات على الإيمان، والذي قال بإيمانه أربعة عشر حافظًا، قال سيدي: ونحن والحمد لله، معنا شيء زائد على الناس؛ لأن علمنا ليس ملتقطًا من الحروف، ولا من الكتب التي في الرفوف، بل متلقى من معدنه ومن أهله، وبعض الناس لما لم يعجبهم حق السلف خلّفوه". (تذكر الناس ص ٢٢٣-٢٢٤)

وفي هذا النص تصريح واضح من أحد كبارهم في عدم التعويل على الكتب المعتمدة على علوم الشرع، وإنما الاعتماد على الأحلام والرؤى بما تحمله من مخالفات شرعية، ويزعمون كذلك أن تلك المخالفات متلقاة من المعدن ومن أهل العلم، في أي معدن يقصدون، ومن هم أهل هذا المعدن الذين اتبع القوم سبيلهم؟ فالمعدن وأهله هو السبل الشيطانية التي قادتهم للانحراف عن مصادر المسلمين وهما الكتاب والسنة، وأردتهم في مهاوي الردى فتلقفوا من غيرهما فانحرفوا عن سواء السبيل.

"Dan aku (Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar)  melihat junjunganku Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu (karamallahu wajhah), lalu terjadilah antara aku dan beliau mudzakarah dan diskusi yang panjang. Dan di antaranya aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Sayyidah Fathimah, para ulama berselisih tentang pemakamannya, apakah di Hujrah atau di Baqi'? Maka beliau berkata kepadaku: Sesungguhnya beliau di Baqi', dan aku sendiri yang menguburkannya di malam hari. 

Kemudian aku berkata kepadanya: Demikian pula Abu Thalib, para ulama berselisih tentangnya, apakah dia wafat di atas keimanan atau tidak? Dan engkau mengetahui perkara-perkara. Maka beliau berkata: Dia wafat di atas keimanan, dan segala puji bagi Allah atas itu. 

Berkata sayyidku (semoga Allah meridhainya): Dan aku telah mendengar As-Sayyid Ahmad Dahlan di halaqah berkata: Sesungguhnya yang kami beragama kepada Allah dengannya adalah, bahwa Abu Thalib wafat di atas keimanan. Dan yang berkata dengan keimanannya ada 14 orang hafizh.

Berkata sayyidku: Dan kami, Alhamdulillah, memiliki sesuatu yang lebih dari manusia; karena ilmu kami tidak dipungut dari huruf-huruf, dan tidak dari kitab-kitab yang ada di rak, akan tetapi diambil langsung dari sumbernya dan dari ahlinya. Dan sebagian orang, tatkala kebenaran salaf tidak membuat mereka senang, maka mereka menyelisihinya". (Tadzkirus Naas hal.223-224)

Dan dalam teks ini ada pernyataan jelas dari salah seorang tokoh besar mereka tentang tidak berpegang pada kitab-kitab mu'tabar yang bersumber dari ilmu syariat, akan tetapi berpegang pada mimpi dan ru'ya yang membawa pelanggaran-pelanggaran syariat. Dan mereka menyangka pula bahwa pelanggaran-pelanggaran itu diambil dari "sumbernya dan ahlinya". Sumber apa yang mereka maksud, dan siapa "ahli sumber" yang mereka ikuti jalannya? Maka "sumber dan ahlinya" itu adalah jalan-jalan setan yang menuntun mereka menyimpang dari sumber kaum muslimin yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan menjerumuskan mereka ke jurang kebinasaan, lalu mereka mengambil dari selain keduanya maka mereka menyimpang dari jalan yang lurus." (Ash-Shufiyah fi Hadhramaut, Amin bin Ahmad bin Abdullah As-Sa'di, cet. Jami' Al-Huquq Mahfuzhah, cet.pertama 2008 M/1429 H. hal.312). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG KISAH PERNIKAHAN DI ALAM KUBUR DALAM "KITAB TADZKIRUN NAAS"



Kitab Tadzkir An-Nas (atau Tadzkirunnas) adalah kumpulan kalam nasihat, serta hikmah karya Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas. Di dalamnya banyak menyajikan kisah-kisah di luar nalar (khariqul 'adah) yang jika dicerna tanpa ilmu dan pemahaman dapat menghipnotis pembacanya percaya pada hal-hal khurafat dianggap sebagai karomah.

Kitab Tadzkirun Nas, ada sejumlah konten yang saya kuatirkan membentuk alam pikir yang mundur, memuja karomah secara salah, dan mengelu-elukan wali secara tidak proporsional.

Kisah-kisah seperti ini lebih dekat dengan khurofat dan bisa merusak pemahaman tentang karomah yang tidak proporsional. Karomah itu haqq, tapi dalam menerima berita karomah harus super hati-hati, agar tidak tercampur mana yang dongeng dan mana kejadian asli. Berita semacam itu harus dicek dengan level ketelitian seperti menyaring hadits. Sebagaimana kisah-kisah berikut,

وبلغنا أن الحبيب صالح بن عبد الله العطاس وعظ أناسا ، وحثّهم على الصلاة، وقال لهم: إن الذي يصلي لا تحرقه النار، وكانت هناك قهوة تُطبخ على النار فرفعها، وجلس محلها فوق النار، ولم تحرقه، يريهم عيِّانًا أن المصلي لا تحرقه النار. وجاء إلى مرة أحد من صلحاء البرزخ ثم لما أراد الخروج أُخذت به إلى ناحية بيت مقابل الباب الذي يريد أن يخرج منه، فقال لي: إن أهل هذا البيت يتهاونون بالصلاة، وإن المكان الذي يتهاون أهله بالصلاة لا يقدر أهل البرزخ أن يمروا حوله، فأخذت به إلى جهة أخرى، فبسط جناحيه، وطار في الهواء.

Dan sampai kepada kami bahwa Al-Habib Shalih bin Abdullah Al-Athas pernah menasihati beberapa orang, dan mendorong mereka untuk shalat. Beliau berkata kepada mereka: "Sesungguhnya orang yang shalat, api tidak akan membakarnya".

Dan di situ ada kopi yang sedang dimasak di atas api. Lalu beliau mengangkatnya, dan duduk di tempatnya tepat di atas api, dan beliau tidak terbakar. Beliau memperlihatkan secara nyata kepada mereka bahwa orang yang shalat, api tidak akan membakarnya.

Dan pernah suatu ketika datang salah seorang dari orang-orang shalih alam Barzakh Kemudian ketika dia hendak keluar, dia dibawa ke arah rumah yang berseberangan dengan pintu yang ingin dia lalui. Maka dia berkata kepadaku: "Sesungguhnya penghuni rumah ini meremehkan shalat. Dan sesungguhnya tempat yang penghuninya meremehkan shalat, maka penduduk Alam Barzakh tidak mampu lewat di sekitarnya".

Lalu dia membawaku ke arah lain, lalu dia membentangkan kedua sayapnya, dan terbang di udara." (Kitab Tadzkir An-Nas, Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, Zawiyah Al-Idrus Al-Ilmiah, Tarim, hal.98)

ورأيت امرأةً شريفةً بعد ما ماتت، وسألناها فقالت: إني قد حفظت نصف القرآن، وقد آتاني بعض الناس، وقال لي: أنك رأيت الشيخ أبا بكر بن سالم، وقال إن هذا عرس هذه الأيام، لأبنى فلان، على بنتى فلانة.

وقد وقع لي مثل هذا، وهو أنه مات بعض السادة عندنا، فخرجت إلى المسجد لحضور الصلاة عليه، فتوضأت وصليت ركعتين، فأعتراني ثِقَلٌ، ولم أقدر على الحركة، وأخذتني سِنةٌ، فدخل عليَّ ذلك السيد ومعه شريفة كانت ماتت قبله، فقلت لهما: ما شأن هذا الاختلاط؟ فقال إنها لي، وهي زوجتي في البرزخ.

Dan aku melihat seorang wanita yang mulia setelah dia wafat. Lalu kami bertanya kepadanya, maka dia berkata: "Sesungguhnya aku telah menghafal setengah Al-Qur'an. Dan sebagian orang telah mendatangiku dan berkata kepadaku: Sesungguhnya engkau telah melihat Asy-Syaikh Abu Bakar bin Salim, dan dia berkata: Sesungguhnya ini adalah pernikahan pada hari-hari ini, untuk anakku fulan, dengan putri fulanah".

Dan hal serupa pernah terjadi padaku, yaitu: wafatlah sebagian dari para sadah di daerah kami. Maka aku keluar ke masjid untuk menghadiri shalat jenazahnya. Lalu aku berwudhu dan shalat 2 rakaat. Maka datanglah rasa berat padaku, dan aku tidak mampu bergerak. Lalu kantuk menguasaiku. Maka masuklah kepadaku sayyid itu bersama seorang wanita mulia yang telah wafat sebelum dia. Maka aku berkata kepada keduanya: "Apa urusan pertemuan khalwat ini?" Maka dia berkata: "Dia adalah milikku, dan dia adalah istriku di alam barzakh". (Kitab Tadzkir An-Nas, Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, Zawiyah Al-Idrus Al-Ilmiah, Tarim, hal.197). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*