MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Sabtu, 20 Juni 2026

MENYEBUT NAMA HABIB ABDULLAH AL-HADDAD MENYELAMATKAN PERTANYAAN MUNKAR DAN NAKIR


Beberapa hari yang lalu saya memposting sebuah penggalan video dari WAG dimana terlihat Habib Ahmad bin Ali Assegaf menyampaikan (terlihat beliau membaca kitab) bahwa ada seorang yang meninggal dunia ketika ditanya oleh malaikat (Munkar Nakir), "Man Robbuka (siapa tuhanmu), dia menjawab, "Habibi Abdullah (kekasihku adalah Abdullah)." Dan ketika ditanya malaikat, "Wa Man Nabiyuka (dan siapa nabimu)," dia menjawab, "Habibi Abdullah (kekasihku adalah Abdullah)."

Dari sanalah saya terobsesi mencari rujukan kitab apa kira-kira yang menyampaikan kisah aneh bin ajaib tersebut.

Syahdan, akhirnya saya dapatkan kitab Jami' Karamat Al-Auliya' karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani juz 2 hal.244-245 terdapat kisah yang mirip dengan apa disampaikan Habib Ahmad bin Ali Assegaf sebagaimana dalam video tersebut meskipun redaksinya sedikit berbeda sebagaimana berikut,

(عبد الله بن علوى ابن الأستاذ الأعظم) 

إمام العلماء العاملين وقدوة الأولياء العارفين ، وهو شيخ الشريعة والحقيقة ، وشيخ مشايخ الطريقة و من كراماته : أنه أنكر على رجل بمكة المشرفة شرب الخمر ، فقال له :رجل خياط أستعين بذلك على صنعتى ، فقال : إن أغناك الله عن ذلك تعاهدني على أن لا تعود لشربه ؟ فقال نعم ، فدعا رضى الله عنه ربه أن يتوب عليه وأن يغنيه عنه فتاب وحسنت توبته وأغناه الله ، وعاهده ثلاث ليال لئلا ينقض توبته ، رأى السيد عبد الله المذكور كأن قائلا يقول : احفروا لفلان في محل كذا مد البصر ، ومن صلى عليه غفر له ، فاستيقظ وسأل عنه فإذا هو قد مات فصلى عليه .

ومنها : أن رجلا أنشد أبياتا تتعلق بالبعث والحساب ، فتواجد صاحب الترجمة وخر مغشيا عليه ، فلما أفاق قال للرجل : أعد الأبيات ، فقال الرجل : بشرط تضمن لى الجنة ، فقال : ليس ذلك إلى ولكن اطلب ماشئت من المال, فقال الرجل : ما أريد إلا الجنة وإن حصل لنا شيء ما كرهنا فدعا له بالجنة ، فحسنت حالة الرجل وانتقل إلى رحمة الله ، وشيعه السيد عبد الله المذكور وحضر دفنه ، وجلس عند قبره ساعة فتغير وجهه ثم ضحك واستبشر ، فسئل عن ذلك

فقال : إن الرجل لما سأله الملكان عن ربه قال : شيخي عبد الله باعلوى ، فتعبت لذلك ، فسألاه أيضا فأجاب بذلك ، فقالا : مرحبا بك وبشيخك عبد الله باعلوى. قال بعضهم : هكذا ينبغي أن يكون الشيخ يحفظ مريده حتى بعد موته .

(Abdullah bin Alawi bin Al-Ustadz Al-A'zham) 

Adalah Imam para ulama yang beramal dan teladan para wali. Ia adalah guru syariat dan hakikat, serta guru dari para syaikh tarekat. Di antara karamatnya adalah ketika ia menegur seorang pria di Mekkah yang sedang minum khamar. Pria itu berkata, "Saya adalah seorang tukang jahit yang mengandalkan itu untuk pekerjaan saya." Abdullah bertanya, "Jika Allah memberikanmu kecukupan, maukah engkau berjanji untuk tidak kembali meminum khamar?" Pria itu menjawab, "Ya." Maka Abdullah berdoa kepada Allah agar pria tersebut bertaubat dan diberikan kecukupan, dan Allah mengabulkan doanya. Pria tersebut bertaubat dengan baik, dan Abdullah mengikat janji selama tiga malam agar taubatnya tidak terputus.

(Suatu ketika), Abdullah melihat seolah-olah ada yang berkata, "Galilah (kubur) untuk si fulan di tempat yang terlihat, dan barang siapa yang menshalatkan atasnya, akan diampuni." Ia terbangun dan menanyakan tentang orang itu, dan ternyata ia telah meninggal, lalu Abdullah menshalatkan atasnya.

Di lain waktu, seorang pria melantunkan syair tentang kebangkitan dan perhitungan amal, sehingga Abdullah merasa terharu dan pingsan. Ketika ia sadar, ia meminta pria itu untuk mengulangi syairnya. Pria itu menjawab, "Dengan syarat engkau menjamin saya surga." Abdullah menjawab, "Itu bukan urusanku, tetapi mintalah apa pun yang kau inginkan dari harta." Pria itu berkata, "Saya tidak ingin selain surga, dan jika kami mendapatkan sesuatu, kami tidak keberatan." Abdullah mendoakan pria itu agar mendapatkan surga. Keadaan pria itu membaik dan ia pun berpulang kepada rahmat Allah. Abdullah mengantarkan jenazahnya dan hadir dalam pemakamannya. Ia duduk di dekat kuburnya sejenak, wajahnya berubah, lalu ia tertawa dan bersuka cita. Ketika ditanya tentang itu, ia berkata, "Ketika malaikat bertanya kepada pria itu tentang Tuhannya, ia menjawab, 'Guru saya Abdullah Alawi,' dan saya merasa lelah karena itu. Mereka bertanya lagi, dan ia menjawab dengan hal yang sama, lalu mereka berkata, 'Selamat datang kepadamu dan gurumu Abdullah Alawi.'" Sebagian orang berkata, "Begitulah seharusnya seorang guru menjaga muridnya bahkan setelah ia meninggal." (Jami' Karamat Al-Auliya' karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani  juz 2 hal.244-245). Wallahu a'lam bis-Shawab 🙏 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 19 Juni 2026

KAJIAN TENTANG MAKAM WALI DI SURABAYA BISA PINDAH KE ZANBAL TARIM, HADHRAMAUT YAMAN


Syahdan; Mengenal Haul Solo merupakan peringatan haul untuk mengenang wafatnya seorang ulama yaitu Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (pengarang kitab maulid Simtudduror) lahir di Qasam (Hadramaut, Yaman) dan wafat di Seiwun (Hadramaut, Yaman). Meskipun tidak pernah menetap di Indonesia, keturunan dan keluarganya berdakwah di Nusantara, dan jangan heran kenapa haulnya diadakan di Solo? Konon, makam seorang wali itu bisa berpindah sebagaimana kisah wali yang makamnya pindah dijelaskan dalam sebuah kitab.

Sebelumnya saya infokan  bahwa Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih & Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih: diakui sebagai Dua Wali Quthub Kota Malang.

Dikisahkan bahwa Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih melakukan perjalanan hijrahnya menuju pulau Jawa lebih tepatnya yakni di kota Surabaya. Beliau menetap di Surabaya sampai akhir hayatnya. 

Ketika wafatnya, Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah (Keponakan Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih) yang kala itu sedang berada di kota Tarim. Beliau bermimpi bahwasannya para salaf (Sadah Ba'alawi) di alam barzakh sedang dalam keadaan menunggu kedatangan salah seorang. Maka Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah bertanya kepada mereka tentang perihal itu. Mereka mengatakan,

" Sesungguhnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam dan para Salaf Ba'alawi, mereka sedang menunggu kedatangan salah satu anak turun mereka yang wafat di Surabaya "

Kemudian dalam mimpi tersebut, Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah melihat seakan-akan para salaf tersebut datang sembari membawa jenazah menuju ke Pemakaman Zanbal Tarim dan dikebumikan di depan Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam.

Seketika al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah terbangun dari tidurnya dan menunggu kabar salah satu seorang Sadah Alawiyyin yang wafat dari Jawa. 

Tidak lama kemudian, sampailah kabar wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih dan mimpi yang dialami oleh Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah terjadi persis bersamaan dengan hari wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih.

Dan juga diriwayatkan, ketika Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih wafat dan dikebumikan. Makam beliau menghilang dari pandangan orang-orang. 

Mereka tidak mengetahui dan juga tidak lagi mendapati keberadaan makam tersebut. 

Maka putra beliau yang bernama Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih merasa sedih akan kejadian tersebut. 

Ketika Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih tidur, beliau melihat Ayahanda nya yang berkata, "Jangan cari aku, karena sesungguhnya aku telah dipindahkan ke pemakaman Zanbal."

Narasi kisah tersebut adalah gambaran kisah yang terdapat dalam kitab Lawami' An-Nur Nukhbah Min A'lam Hadhramaut juz 2 hal. 106 sebagai berikut,

سافر الحبيب أحمد إلى جواه "سرباية"، ومكث بها بقية حياته وتوفي بسُرباية. وعند وفاته رأى الحبيب عبد القادر، وكان بتريم، أن السلف وكان في البرزخ كانوا على غاية من الانتظار لاستقبال أحد الوافدين إليهم، فسألهم فقالوا: إن الفقيه والسلف منتظرين أحد أبنائهم توفي في "سُرباية"، ثم رأى كأنهم جاؤوا بالميت إلى زنبيل ودفن أمام قبر الفقيه المقدم فانتبه الرائي وانتظر خبراً من جاوة عن موت أحد العلويين. فكان الأمر كما ذُكر حيث وصل إليهم خبر وفاة الحبيب أحمد بن محمد بلفقيه، وكانت الرؤيا موافقة ليوم وفاته.

وقبل أيضاً أنه لما توفي ودفن في المقبرة طمس القبر عن الأنظار ولم يفقوا عليه، فأغتمَّ لذلك ولده عبد القادر، فلما كان في المنام رأى والده يقول له: لا تبحث عني فإني قد نُقلت إلى "زنبيل". (لوامع النور نخبة من أعلام حضرموت ص ١.٦)

Al-Habib Ahmad melakukan perjalanan ke Jawa "Surabaya", dan beliau tinggal di sana hingga sisa hidupnya, lalu wafat di Surabaya. 

Ketika beliau wafat, Al-Habib Abdul Qadir yang berada di Tarim melihat dalam mimpi bahwa para salaf yang berada di alam barzakh sedang sangat menanti untuk menyambut kedatangan seseorang di antara mereka. Beliau bertanya kepada mereka, maka mereka menjawab: "Sesungguhnya para fuqaha dan para salaf sedang menunggu salah seorang anak mereka yang wafat di 'Surabaya'." 

Kemudian beliau melihat seakan-akan mereka membawa jenazah itu ke "Zanbal" dan menguburkannya di depan makam Al-Faqih Al-Muqaddam. Lalu orang yang bermimpi itu terbangun dan menanti kabar dari Jawa tentang wafatnya salah seorang dari keturunan Alawi. 

Maka jadilah kenyataan seperti yang disebutkan, yaitu sampailah kepada mereka berita wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih. Dan mimpinya itu bertepatan dengan hari wafatnya.

Disebutkan juga bahwa ketika beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman, kuburannya tertutup dari pandangan dan mereka tidak menemukannya. Maka putranya Abdul Qadir pun bersedih karena hal itu. Ketika ia tidur, ia bermimpi melihat ayahnya berkata kepadanya: "Jangan cari aku, karena sesungguhnya aku telah dipindahkan ke 'Zanbil'." (Lawami’ An-Nur Nukhbah min A’lam Hadhramaut, Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali bin Abu Bakar Al-Masyhur, cet. Maktabah Dar Al-Muhajir li An-Nashr wa At-Tauzi', Sana'a - Yaman, juz 2 hal. 106). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG TIGA HIKMAH ACARA HAUL DAN TIGA TANDA KEMATIAN

Haul kematian adalah tradisi peringatan wafatnya seseorang yang diadakan setahun sekali berdasarkan penanggalan Hijriah. Esensi utamanya adalah untuk mendoakan almarhum, mengingat kematian, bersedekah, serta mengenang kembali jasa, ilmu, atau keteladanan yang ditinggalkan.

Kematian adalah kepastian dan pengingat dari Allah SWT bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Ini adalah peringatan keras agar manusia menjauhi maksiat, bersegera dalam taubat, dan memperbanyak bekal amal shaleh, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ (١٢٤) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا (١٢٥) قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ (١٢٦)

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat? Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan." (QS. Thaha : 124-126)

Tiga hikmah haul adalah :

1. Lil Istighfar 

2. Lil Istidzkar

3. Lil Ijtima'

Tiga tanda kematian sebagaimana kisah malaikat maut dengan nabi Ya'kub 'alaihissalam,

كان مُؤاخِيًا لِمَلَكِ الْمَوتِ فَزارَه فَقالَ لَه يَعقُوبُ عَلَيه الصلاةُ والسلامُ: يا مَلكَ الْمَوتِ، أَزائِراً جئتَ أم قابضاً رُوحِي؟ فَقالَ: بَل زائِراً، قالَ: فإنِّي أَسأَلُكَ حاجَةً، قالَ: وما هِي؟ قال: أن تُعْلِمَني إذا دَنَى أَجلِي وأَرَدتَ أن تَقبِضَ رُوحِي، فَقال: نَعَم أُرسِلُ إلَيك رَسُولَين أو ثَلاثَةً فلمَّا انْقَضَى أجَلُه أتَى إليه مَلَكُ الْمَوتِ، فَقال: أَزائِراً جئتَ، أم لِقَبضِ رُوحِي؟ فَقال: لِقَبضِ رُوحِكَ، فَقالَ: أوَلَستَ كنتَ أَخبَرتَني أنَّكَ تُرسِلُ إليَّ رَسُولَين، أو ثَلاثةً؟ قال: قَد فَعَلتُ، بَياضُ شَعرِكَ بَعدَ سَوادِه، وضُعفُ بَدَنِك بَعد قُوَّتِه، وانْحِناءُ جِسمِك بَعدَ استِقامَتِه، هذِه رُسُلِي يا يَعقُوبُ إلى بَنِي آدَمَ، قَبلَ الْمَوتِ

Dikisahkan dalam kitab Majmu’at Rasail, karya Abu Hamid Al-Ghazali, bahwa malaikat maut (Izrail) bersahabat dengan Nabi Ya’qub AS. Suatu ketika Nabi Ya’qub berkata kepada malaikat maut. Aku menginginkan sesuatu yang harus kamu penuhi sebagai tanda persaudaraan kita.

Apakah itu? tanya malaikat maut. Jika ajalku telah dekat, beri tahu aku. Malaikat maut berkata, Baik aku akan memenuhi permintaanmu, aku tidak hanya akan mengirim satu utusanku, namun aku akan mengirim dua atau tiga utusanku. Setelah mereka bersepakat, mereka kemudian berpisah.

Setelah beberapa lama, malaikat maut kembali menemui Nabi Ya’qub. Kemudian, Nabi Ya’qub bertanya, Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?

Aku datang untuk mencabut nyawamu. Jawab malaikat maut. Lalu, mana ketiga utusanmu? tanya Nabi Ya’qub. Sudah kukirim. Jawab malaikat, Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan bungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya’qub, itulah utusanku untuk setiap bani Adam.

Kisah tersebut di atas mengingatkan tentang tiga tanda kematian yang akan selalu menemui kita, yaitu memutihnya rambut; melemahnya fisik, dan bungkuknya badan. Jika ketiga atau salah satunya sudah ada pada diri kita, itu berarti malaikat maut telah mengirimkan utusannya. Karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi utusan tersebut.

Kematian adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia sebagaimana yang telah ditegaskan dalam firman Allah SWT: 

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran [3]: 185).

Karena itu, kita berharap agar saat menghadapi kematian dalam keadaan tunduk dan patuh kepada-Nya. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran [3]: 102).

Tidaklah terlalu penting kita akan mati, tapi yang terpenting adalah sejauh mana persiapan menghadapi kematian itu. Rasulullah SAW mengingatkan agar kita bersegera untuk menyiapkan bekal dengan beramal saleh.  

Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan tentu akan kesulitan dalam mengarungi perjalanan yang panjang dan melelahkan. 

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ

“Oleh karena itu, Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Juga mengutip keterangan dari kitab Zuhur Ar-Riyadhah, Imam Al-Ghazali mengisahkan dalam Mukasyafatul Qulub bahwa Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam bersahabat dengan malaikat maut. Pada suatu ketika, malaikat datang kepadanya. Ditanya oleh Nabi Ya‘qub, “Wahai malaikat maut, engkau datang kemari untuk bertamu atau mencabut ruhku?” Malaikat menjawab, “Aku datang hanya bertamu.”

Nabi Ya’qub ‘alaihissalam bertanya, “Jika begitu, aku ingin menyampaikan suatu permintaan.” Malaikat bertanya, “Permintaan apa itu?” Nabi melanjutkan, “Aku harap engkau memberitahuku saat ajalku sudah dekat dan engkau ingin mencabut ruhku.” Malaikat pun menyanggupi, “Baiklah, aku akan mengirim dua atau tiga utusan.”

Tatkala ajal Sang Nabi sudah habis, malaikat maut kembali datang. Ditanya lagi oleh Nabi alaihissalam, “Apakah engkau sekadar bertamu, atau hendak mencabut ruh?” Malaikat menjawab, “Aku datang untuk mencabut ruhmu.” Sang Nabi terkejut, sebab malaikat datang tiba-tiba untuk mencabut nyawa tanpa pemberitahuan sebelumnya, “Bukankah engkau pernah memberi tahuku akan mengirim dua atau dua utusan?” Malaikat menjawab, “Benar, dan aku telah mengirim putih rambutmu sebagai utusan pertama. Padahal engkau tahu, rambutmu sebelumnya hitam. Kemudian aku mengirim lemah badanmu sebagai utusan kedua. Padahal, engkau tahu tubuhmu sebelumnya kuat. Terakhir, aku mengirim bongkok tubuhmu sebagai utusan ketiga. Padahal, tubuhmu sebelumnya tegak. Itulah utusan-utusanku kepadamu, wahai Ya‘qub, sekaligus kepada Bani Adam menjelang kematian mereka.”

Di antara pelajaran penting yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah jangan pernah lalai dalam mengingat kematian. Cukuplah putihnya uban, lemah dan bongkoknya badan menjadi pertanda dekatnya kematian. Kendati demikian, kematian bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Adapun waktu, tempat, dan caranya dirahasiakan. Pesan kisah ini sejalan dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,

أكثروا ذكر هادم اللذات, وهي الموت

 “Perbanyaklah mengingat perkara yang memutus berbagai kenikmatan, yaitu kematian.” (H.R. At-Tirmidzi). 

Mengapa beliau berpesan demikian? Sebab pada dasarnya, manusia memiliki sifat lalai dan pelupa. Tak terkecuali para nabi. Contohnya seperti yang terjadi pada Nabi Yaqub ‘alaihissalam. Namun, menurut para ulama, kelalaian Nabi Yaqub ‘alaihissalam ini bukan sebuah kekurangan, melainkan semata agar menjadi pelajaran bagi umat-nya dan juga umat-umat berikutnya.

Dalam kaitan ini, Imam As-Samarqandi menambahkan, ada banyak manfaat dari mengingat kematian, di antaranya 

(1) semakin giat dalam beribadah, 

(2) menyegerakan bertaubat, 

(3) merasa cukup atas apa yang diberikan Allah. 

Sebaliknya, melalaikan kematian akan mewarisi sifat malas dalam beribadah, menuda-nunda bertaubat, dan tamak alias tidak puas atas pemberian Allah. (Lihat: Syekh Ibrahim As-Samarqandi, Tanbih Al-Ghafilin, [Surabaya: Harisma], hal. 10).

Manfaat lain dari mengingat kematian adalah menghilangkan sifat hasud, menjernihkan hati, menghapus dosa-dosa, menjauhkan kesusahan, dan mengendalikan diri dari perbuatan hura-hura serta mencari kegembiraan semata. Bahkan, mengingat kematian hingga 20 kali dalam sehari semalam akan mewarisi kematian husnul khatimah dan dibangkitkan bersama para syuhada pada hari Kiamat. Demikian sebagaimana yang diriwayatkan oleh Siti ‘Aisyah radliyallahu ‘anha. Wallahu ‘alam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Senin, 15 Juni 2026

KAJIAN TENTANG ASAL MULA TAHUN BARU HIJRIAH

Masyarakat Arab sejak masa silam, sebelum kedatangan Islam, telah menggunakan kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan). Mereka sepakat tanggal 1 ditandai dengan kehadiran hilal. Mereka juga menetapkan nama bulan sebagaimana yang kita kenal. Mereka mengenal bulan Dzulhijah sebagai bulan haji, mereka kenal bulan Rajab, Ramadhan, Syawal, Safar, dan bulan-bulan lainnya. Bahkan mereka juga menetapkan adanya 4 bulan suci: Dzulqa’dah, Dzulhijah, Shafar Awal (Muharam), dan Rajab. Selama 4 bulan suci ini, mereka sama sekali tidak boleh melakukan peperangan.

Hanya saja masyarakat jazirah Arab belum memiliki angka tahun. Mereka tahu tanggal dan bulan, tapi tidak ada tahunnya. Biasanya, acuan tahun yang mereka gunakan adalah peristiwa terbesar yang terjadi ketika itu. Kita kenal ada istilah tahun gajah, karena pada saat itu terjadi peristiwa besar, serangan pasukan gajah dari Yaman oleh raja Abrahah. Tahun Fijar, karena ketika itu terjadi perang Fijar. Tahun renovasi Ka’bah, karena ketika itu Ka’bah rusak akibat banjir dan dibangun ulang. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian tokohnya sebagai acuan, semisal; 10 tahun setelah meninggalnya Ka’ab bin Luai.

Keadaan semacam ini berlangsung terus sampai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Ketka itu, para sahabat belum memiliki acuan tahun. Acuan yang mereka gunakan untuk menamakan tahun adalah peristiwa besar yang terjadi ketika itu. Berikut beberapa nama tahun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

1. Tahun izin (sanatul idzni), karena ketika itu kaum muslimin diizinkan Allah untuk berhijrah ke Madinah.

2. Tahun perintah (sanatul amri), karena mereka mendapat perintah untuk memerangi orang musyrik.

3. Tahun tamhish, artinya ampunan dosa. Di tahun ini Allah menurunkan firmanNya, ayat 141 surat Ali Imran, yang menjelaskan bahwa Allah mengampuni kesalahan para sahabat ketika Perang Uhud.

4. Tahun zilzal (ujian berat). Ketika itu, kaum muslimin menghadapi berbagai cobaan ekonomi, keamanan, krisis pangan, karena perang khandaq. Dst. (Arsyif Multaqa Ahlul Hadits, Abdurrahman Al-Faqih, 14 Maret 2005)

Sampai akhirnya di zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah. Di tahun ketiga beliau menjabat sebagai khalifah, beliau mendapat sepucuk surat dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu menjabat sebagai gubernur untuk daerah Bashrah.

*Latarbelakang Tahun Baru Islam (Hijriyah)* 

Berawal dari surat-surat tak bertanggal, yang diterima Abu Musa Al-Asy-‘ari radhiyallahu ’anhu; sebagai gubernur Basrah kala itu, dari khalifah Umar bin Khatab. Abu Musa mengeluhkan surat-surat tersebut kepada Sang Khalifah melalui sepucuk surat,

إنه يأتينا منك كتب ليس لها تاريخ

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda, tanpa tanggal.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

إنَّه يأتينا مِن أمير المؤمنين كُتبٌ، فلا نَدري على أيٍّ نعمَل، وقد قرأْنا كتابًا محلُّه شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, namun kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Karena kejadian inilah kemudian Umar bin Khatab mengajak para sahabat untuk bermusyawarah; menentukan kalender yang nantinya menjadi acuan penanggalan bagi kaum muslimin.

*Penetapan Patokan Tahun Hijriyah*

Dalam musyawarah Khalifah Umar bin Khatab dan para sahabat, muncul beberapa usulan mengenai patokan awal tahun.

Ada yang mengusulkan penanggalan dimulai dari tahun diutus Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagian lagi mengusulkan agar penanggalan dibuat sesuai dengan kalender Romawi, yang mana mereka memulai hitungan penanggalan dari masa raja Iskandar (Alexander). Yang lain mengusulkan, dimulai dari tahun hijrahnya Nabi shallallahu 'alaihi wa salam ke kota Madinah. Usulan ini disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu. Hati Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu ternyata condong kepada usulan ke dua ini,

الهجرة فرقت بين الحق والباطل فأرخوا بها

” Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan.” Kata Umar bin Khatab radhiyallahu ’anhu mengutarakan alasan.

Akhirnya para sahabat pun sepakat untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun. 

Sebelum penanggalan hijriyah ditetapkan, masyarakat Arab dahulu menjadikan peristiwa-peristiwa besar sebagai acuan tahun. Tahun renovasi Ka’bah misalnya, karena pada tahun tersebut, Ka’bah direnovasi ulang akibat banjir. Tahun fijar, karena saat itu terjadi perang fijar. Tahun fiil (gajah), karena saat itu terjadi penyerbuan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Oleh karena itu kita mengenal tahun kelahiran Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan istilah tahun fiil/tahun gajah. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian seorang tokoh sebagai patokan, misal 7 tahun sepeninggal Ka’ab bin Luai.” Untuk acuan bulan, mereka menggunakan sistem bulan qomariyah (penetapan awal bulan berdasarkan fase-fase bulan)

Sistem penanggalan seperti ini berlanjut sampai ke masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan khalifah Abu Bakr Ash-Sidiq radhiyallahu ’anhu. Barulah di masa khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu ’anhu, ditetapkan kalender hijriyah yang menjadi pedoman penanggalan bagi kaum muslimin.

Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahillah dalam Fathul Bari menyatakan,

وأفاد السهيلي أن الصحابة أخذوا التاريخ بالهجرة من قوله تعالى : لمسجد أسس على التقوى من أول يوم لأنه من المعلوم أنه ليس أول الأيام مطلقا ، فتعين أنه أضيف إلى شيء مضمر وهو أول الزمن الذي عز فيه الإسلام ، وعبد فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – ربه آمنا ، وابتدأ بناء المسجد ، فوافق رأي الصحابة ابتداء التاريخ من ذلك اليوم ، وفهمنا من فعلهم أن قوله تعالى من أول يوم أنه أول أيام التاريخ الإسلامي ، كذا قال ، والمتبادر أن معنى قوله : من أول يوم أي دخل فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – وأصحابه المدينة والله أعلم .

“Dan As-Suhaili memberikan tambahan informasi: para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan penanggalan, karena merujuk kepada firman Allah Ta’ala,

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه َ

“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 108)

Sudah suatu hal yang maklum; maksud hari pertama (dalam ayat ini) bukan berarti tak menunjuk pada hari tertentu. Nampak jelas ia dinisbatkan pada sesuatu yang tidak tersebut dalam ayat. Yaitu hari pertama kemuliaan islam. Hari pertama Nabi shallallahu’alaihiwasallam bisa menyembah Rabnya dengan rasa aman. Hari pertama dibangunnya masjid (masjid pertama dalam peradaban Islam, yaitu masjid Quba). Karena alasan inilah, para sahabat sepakat untuk menjadikan hari tersebut sebagai patokan penanggalan.

Dari keputusan para sahabat tersebut, kita bisa memahami, maksud “sejak hari pertama” (dalam ayat) adalah, hari pertama dimulainya penanggalan umat Islam. Demikian kata beliau. Dan telah diketahui bahwa makna firman Allah ta’ala: min awwali yaumin (sejak hari pertama) adalah, hari pertama masuknya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya ke kota Madinah. Allahua’lam.” (Fathul Bari, 7/335)

Sebenarnya ada opsi-opsi lain mengenai acuan tahun, yaitu tahun kelahiran atau wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Namun mengapa dua opsi ini tidak dipilih? Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan alasannya,”

لأن المولد والمبعث لا يخلو واحد منهما من النزاع في تعيين السنة ، وأما وقت الوفاة فأعرضوا عنه لما توقع بذكره من الأسف عليه ، فانحصر في الهجرة ، .

“Karena tahun kelahiran dan tahun diutusnya beliau menjadi Nabi, belum diketahui secara pasti. Adapun tahun wafat beliau, para sahabat tidak memilihnya karena akan menyebabkan kesedihan manakala teringat tahun itu. Oleh karena itu ditetapkan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun.” (Fathul Bari, 7/335)

Alasan lain mengapa tidak menjadikan tahun kelahiran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai acuan; karena dalam hal tersebut terdapat unsur menyerupai kalender Nashrani. Yang mana mereka menjadikan tahun kelahiran Nabi Isa sebagai acuan.

Dan tidak menjadikan tahun wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai acuan, karena dalam hal tersebut terdapat unsur tasyabuh dengan orang Persia (majusi). Mereka menjadikan tahun kematian raja mereka sebagai acuan penanggalan.

*Penentuan Bulan*

Perbincangan berlanjut seputar penentuan awal bulan kalender hijriyah. Sebagian sahabat mengusulkan bulan Ramadhan. Sahabat Umar bin Khatab dan Ustman bin Affan mengusulkan bulan Muharram.

بل بالمحرم فإنه منصرف الناس من حجهم

“Sebaiknya dimulai bulan Muharam. Karena pada bulan itu orang-orang usai melakukan ibadah haji.” Kata Umar bin Khatab radhiyallahu ’anhu. Akhirnya para sahabatpun sepakat.

Alasan lain dipilihnya bulan muharam sebagai awal bulan diutarakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah,

لأن ابتداء العزم على الهجرة كان في المحرم ؛ إذ البيعة وقعت في أثناء ذي الحجة وهي مقدمة الهجرة ، فكان أول هلال استهل بعد البيعة والعزم على الهجرة هلال المحرم فناسب أن يجعل مبتدأ ، وهذا أقوى ما وقفت عليه من مناسبة الابتداء بالمحرم

“Karena tekad untuk melakukan hijrah terjadi pada bulan muharam. Dimana baiat terjadi dipertengahan bulan Dzulhijah (bulan sebelum muharom). Dari peristiwa baiat itulah awal mula hijrah. Bisa dikatakan hilal pertama setelah peristiwa bai’at adalah hilal bulan muharam, serta tekad untuk berhijrah juga terjadi pada hilal bulan muharam (awal bulan muharam). Karena inilah muharam layak dijadikan awal bulan. Ini alasan paling kuat mengapa dipilih bulan muharam.” (Fathul Bari, 7/335)

Dari musyarah tersebut, ditentukanlah sistem penanggalan untuk kaum muslimin, yang berlaku hingga hari ini. Dengan menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun dan bulan muharam sebagai awal bulan. Oleh karena itu kalender ini populer dengan istilah kalender hijriyah.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah penanggalan hijriyah di atas:

Kalender hijriyah ditetapkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para sahabat. Dan kita tahu bahwa ijma’ merupakan dalil qath’i yang diakui dalam Islam.

Sistem penanggalan yang dipakai oleh para sahabat adalah bulan qamariyah. Hal ini diketahui dari surat Umar bin Khatab yang ditulis untuk Abu Musa Al-Asy-‘ari; di situ tertulis bulan sya’ban, hanya saja tidak diketahui tahunnya.

Para sahabat menjadikan kalender hijriyah sebagai acuan penanggalan dalam segala urusan kehidupan mereka; baik urusan ibadah maupun dunia. Sehingga memisahkan penggunaan kalender hijriyah, antara urusan ibadah dan urusan dunia, adalah tindakan yang menyelisihi konsesus para sahabat. Seyogyanya bagi seorang muslim, menjadikan kalender hijriyah sebagai acuan penanggalan dalam kesehariannya. Kalender hijriyah merupakan syi’ar Islam, yang menbedakannya dengan agama-agama lainnya. Wallahu a’lam bis showab

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin  

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 13 Juni 2026

SAMBUTAN RESEPSI PERNIKAHAN

 

*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله محمد بن عبد الله، أما بعد :

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala atas  segala nikmat-Nya yang tak terhingga, dan semoga shalawat serta salam Nya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya.

*Bapak, Ibu dan para undangan yang kami muliakan*

Mengawali sambutan kami mewakili dua keluarga yang sedang bersanding saat ini yaitu *Bapak Sugito dan ibu Eny Mulyanti  dengan Bapak M. Sholeh dan ibu Maftucha.*

Pertama kami memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang dengan ridho-Nya, kita dapat bersama sama hadir dalam acara Resepsi Penikahan anak-anak beliau yaitu

*LILY APRILIANTI, S.E Putri kedua Bapak Sugito dan ibu Eny Mulyanti dengan MASRUCHAN putra kedua dari Bapak M. Sholeh dan ibu Maftucha.*

Yang akad nikahnya telah berlangsung pada hari ini Minggu, 14 Juni 2026 di tempat ini Gedung Graha Garda Dirgantara, dengan penuh berkah dan lancar sesuai rencana.

Sungguh kami merasa bahagia atas kehadiran Bapak-Bapqk, Ibu-Ibu dan Saudara saudara para hadirin memenuhi undangan kami turut merayakan pernikahan putra putri kami *LILY APRILIANI, S.E dengan MASRUCHAN.*

Kami atas nama keluarga besar kedua mempelai mengucapkan banyak terima kasih atas kehadirannya dan mohon ma’af atas kekeliruan dan kekhilafan dalam penghormatan, penerimamaan, dan pelayanan kami kepada Bapak, ibu dan para undangan sekalian.

Kami sangat menyadari bahwa resepsi pernikahan ini, tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik dan semeriah ini tanpa bantuan dari berbagai pihak, termasuk sanak keluarga, tetangga, teman sejawat, handai tolan termasuk para undangan, khusus kepada segenap  Panitia yang dengan ikhlas meluangkan waktu dan tenaga demi suksesnya acara ini.

Atas kehadirannya  kami mengucapkan syukur serta memanjatkan do’a, *"Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala  melimpahkan pahala-Nya atas kehadiran dan doa restu Bapak, Ibu dan hadirin sekalian.

Pada kesempatan inipun kami mohon keikhlasan Bapak, Ibu para undangan untuk mendo’akan pasangan suami isteri anak kami *LILY APRILIANI, S.E dengan MASRUCHAN.* yang mulai sa’at ini hidup bersama sebagai suami istri.

Semoga senantiasa dalam limpahan kasih sayang dan barokah Allah Ta'ala, dikaruniakab keturunan  yang shaleh dan shalehah. Dipanjangkan umur dan jodoh sampai akhir hayat dan dimurahkan rizki halalnya dan sempurna ibadahnya.  Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin.     

Akhir kata sekali lagi kami menyampaikan rasa terima kasih yang tulus dari lubuk hati yang dalam, atas kehadiran, kehormatan dan partisipasi yang diberikan, serta mohon ma’af bila dalam pelayanan kami, terutama hidangan yang kurang memenuhi selera Bapak, Ibu serta para undangan.

Akhirnya, marilah kita panjatkan doa kehadirat Allah Ta'ala semoga bimbingan, petunjuk, kemudahan dan keberkahan dari Allah senatiasa menyertai keduanya dan keluarga besarnya.

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*الحمد لله رب العالمين*

*Yaa Allah, ya Rohman....*

*Jadikanlah resepsi pernikahan ini pernikahan yang penuh barakah,*

*Menjadi pembuka pintu rahmat bagi kedua mempelai, bagi kedua orang tuanya, bagi keluarganya dan bagi seluruh ummat,*

*Menjadi penyempurna keimanan dan keislamannya,*

*Menjadi tungku tempat mereka menempa sabar dan syukur,*

*Menjadi sekolah tempat mereka belajar menjadi dewasa,*

*Menjadi jalan bagi keduanya menuju cinta-Mu.*

*Yaa Allah, ya Ghoffar*

*Ampuni dosa keduanya, atas kesalahan2 dalam perjalanannya menuju pelaminan ini ya Robb,*

*Atas kesalahan kepada kedua orang tuanya, dan atas kesalahan lainnya,*

*Maafkan segala khilaf mereka, Sucikan hati mereka,*

*Luruskanlah niat mereka,*

*Kuatkan tekad mereka,*

*Bimbing keduanya ke jalan yang Engkau ridhai dan Lindungi mereka dari segala tipu daya syaitan, agar dapat menapaki jalan kehidupan baru ini, di jalan-Mu yang lurus.*

*Ya Allah ya Ahad*

*Satukan hati kedua mempelai ya Allah,*

*Sebagaimana Engkau satukan Adam dan Hawa,*

*Sebagaiman Engkau jadikan telaga kasih sayang antara Rasulullah dan Khadijatul Kubra,*

*Sebagaimana Engkau sematkan cinta kasih yang tulus antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimatus Zahra,*

*Ya Allah ya Wadud*

*Jadikanlah kedua mempelai suami Istri yang,*

*Saling mencintai di kala dekatnya,*

*Saling menjaga diri di kala jauhnya,*

*Saling menghibur di kala dukanya,*

*Saling mengingatkan untuk ketaatannya,*

*Saling mendoakan untuk kebaikannya,*

*Serta saling menyempurnakan dalam ibadahnya.*

 *ربنا تقبل منا انك أنت السميع العليم، وتب علينا انك أنت التواب الرحيم*

*ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار*

*وصلى الله على خير خلقه محمد وعلى أله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين*

 Akhir kata, terima kasih dan mohon maaf

*والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kamis, 11 Juni 2026

NASEHAT PERNIKAHAN UNTUK PENGANTIN

Wahai pengantin yang tengah memulai babak baru dalam kehidupan, izinkan saya menyampaikan beberapa nasehat yang mungkin akan menjadi pegangan sepanjang perjalanan kalian bersama. Semoga kata-kata ini bisa mengingatkan dan menuntun kalian pada jalan yang penuh berkah.

1. Tahabub: Kasih Sayang yang Tak Pernah Padam

Cinta adalah dasar dari segala hal yang kalian bangun dalam pernikahan ini. Namun, tahukah kalian, cinta yang sejati bukanlah yang hanya muncul di saat suka, tetapi yang selalu hadir dalam setiap keadaan? Tahabub, kasih sayang yang tulus dan ikhlas, adalah bentuk cinta yang tak pernah surut, meskipun badai datang menerpa. Jangan hanya mencintai pasanganmu ketika dunia terasa indah, tapi cintailah dia juga di saat dia sedang lelah, dalam kekurangannya, dalam segala kekhilafannya. Ketahuilah, cinta yang kalian beri akan kembali berlipat ganda, menguatkan hubungan kalian untuk melalui semua ujian kehidupan.

2. Ta'awun: Tolong-Menolong dengan Hati yang Lapang

Ingatlah, dalam pernikahan, kalian bukan hanya dua individu yang hidup berdampingan, tetapi dua jiwa yang saling menguatkan. Ta'awun, saling tolong-menolong, adalah kunci kebahagiaan rumah tangga. Jangan pernah merasa berat untuk saling membantu, baik dalam urusan rumah tangga yang sepele maupun dalam tantangan hidup yang besar. Ciptakan sebuah ruang di mana masing-masing kalian merasa dihargai dan didukung. Ketika pasanganmu jatuh, ulurkan tanganmu. Ketika dia lelah, beri dia semangat. Dan ketika salah satu di antara kalian merasa hilang arah, jadilah pelita yang menuntun. Sebab, kebahagiaan pernikahan tidak datang dari satu pihak saja, tetapi dari kerja sama dua hati yang saling memberi.

3. Ta'afu: Memaafkan Tanpa Syarat

Pernikahan adalah perjalanan panjang yang akan penuh dengan ujian, dan di dalamnya pasti ada kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak. Dalam setiap perselisihan, selalu ada ruang untuk saling menyakiti, namun di sana juga ada kesempatan untuk saling memaafkan. Ta'afu, saling memaafkan dengan hati yang lapang, adalah obat yang paling mujarab untuk meredakan amarah dan menjaga keharmonisan. Belajarlah untuk tidak membiarkan luka lama menggores kebahagiaan kalian. Ketika kalian memaafkan, bukan berarti kalian mengabaikan kesalahan, tetapi kalian memilih untuk melangkah maju, menata hati, dan menjaga cinta tetap tumbuh. Ingatlah, di dalam memaafkan ada kekuatan untuk memulai kembali.

4. Tasyawur: Berbicara dengan Hati yang Jujur

Setiap hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi yang baik. Tasyawur, berbincang dengan penuh kejujuran, adalah alat untuk saling memahami dan menguatkan ikatan di antara kalian. Jangan biarkan ketidakpahaman mengendap di hati. Bicarakan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kalian dengan lembut, namun jelas. Jangan takut untuk mengungkapkan apa yang mengganggu hati, karena setiap masalah yang dibicarakan dengan baik akan lebih mudah diselesaikan. Dan lebih dari itu, dalam setiap percakapan, pastikan bahwa rasa saling menghormati selalu ada. Dengan komunikasi yang jujur dan terbuka, kalian akan menemukan kekuatan untuk tumbuh bersama.

Wahai pengantin, perjalanan kalian baru saja dimulai. Tidak akan selalu mulus, dan akan ada banyak tantangan di sepanjang jalan. Namun, ingatlah bahwa dengan tahabub, ta'awun, ta'afu, dan tasyawur, kalian akan selalu menemukan jalan keluar, tidak peduli seberapa besar pun rintangan yang datang. Biarkan cinta, kasih sayang, dan saling pengertian menjadi pedoman yang kalian pegang, dan Allah akan memberkahi setiap langkah kalian.

Selamat menempuh hidup baru, semoga pernikahan kalian dilimpahi kebahagiaan, kedamaian, dan keberkahan yang tiada henti.

Ya Allah, Engkau telah menjadikan pernikahan sebagai ikatan suci yang kukuh. Maka berkahilah kami dengan pernikahan, dan berkahilah pernikahan itu melalui kami.

Ya Allah, himpunlah apa yang tercerai dari hati pasangan suami istri. Satukan kehendak dan langkah mereka. Samakan tujuan dan harapan mereka.

Ya Allah, lindungilah kami semua dari setan, baik dari golongan manusia maupun jin, yang berusaha memisahkan apa yang telah Engkau hubungkan. Jauhkanlah kami dari mereka yang meniup buhul-buhul untuk memisahkan antara kekasih dan kekasihnya, antara suami dan istrinya. Aamiin

Senin, 01 Juni 2026

KAJIAN TENTANG HUKUM MEYAKINI KEHAMILAN HANYA MELALUI MIMPI

Kehamilan hanya dapat terjadi secara medis melalui proses pembuahan sel telur oleh sperma. Jika seseorang mengaku hamil atau melahirkan akibat mimpi, ini bukanlah kejadian biologis yang sah melainkan seringkali merupakan upaya menutupi kasus kekerasan seksual atau pelecehan.

Secara medis dan hukum, klaim semacam itu tidak terbukti. Sebagai contoh, kasus viral seorang santriwati di Kabupaten Pekalongan yang mengaku "hamil lewat mimpi" terungkap sebagai korban kekerasan seksual oleh pimpinan pondok pesantren (oknum kyai). 

Para ulama menjelaskan bahwa hukum menafsirkan mimpi pada asalnya boleh. Dan tafsir mimpi ini sudah ada dari dahulu. Nabi Yusuf pernah menafsirkan mimpi dua orang yang bersama dengannya di penjara (lihat surat Yusuf ayat 36 – 49). Begitu pula dahulu ada di antara ulama salaf yang terkenal bisa menafsirkan mimpi; seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dari kalangan sahabat dan Muhammad bin Sirin dari kalangan tabi’in.

Abdullah bin Abbas pernah meriwayatkan bahwasanya seorang laki-laki pernah mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan mimpinya kepada beliau. Abu Bakar pun meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menafsirkan mimpi tersebut, dan beliau pun mengizinkannya. Setelah Abu Bakar menafsirkan mimpi tersebut beliau berkata,

“Ya Rasulullah, apakah tafsiranku benar atau salah?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “sebagian benar dan sebagian lagi salah.” (HR. Bukhari, 7046).

Ketahuilah bahwa mimpi-mimpi yang kita alami memiliki sumber dan faktor yang berbeda-beda, hal ini bisa kita lihat dari sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,

الرُّؤْيا ثَلاثٌ، فَرُؤْيا حَقٌّ، ورُؤْيا يُحَدِّثُ بِها الرَّجُلُ نَفْسَهُ، ورُؤْيا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطانِ فَمَن رَأى ما يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ

“Mimpi itu ada tiga: mimpi yang benar, mimpi karena seseorang menginginkan sesuatu, mimpi kesedihan yang datang dari setan. Maka siapa yang bermimpi buruk hendaklah dia bangun lalu mengerjakan sholat.” (HR. Tirmidzi, 2280).

Dalam riwayat yang lain, lebih jelas lagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إن الرؤيا ثلاث: منها أهاويل من الشيطان ليحزن بها ابن آدم، ومنها ما يهم به الرجل في يقظته، فيراه في منامه، ومنها جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة

“Sesungguhnya mimpi itu ada tiga: Mimpi buruk dari setan untuk membuat sedih manusia, mimpi disebabkan seseorang sangat menginginkan sesuatu ketika sadarnya, dan mimpi yang merupakan bagian dari 46 tanda kenabian.” (HR. Ibnu Majah, 3907).

Jadi, berdasarkan hadits tersebut, mimpi ada tiga jenis:

1. Mimpi buruk yang berisi ketakutan dan kesedihan. 

2. Mimpi ini datang dari setan.

3. Mimpi karena keinginan belum terpenuhi.

Mimpi baik yang datang dari Allah Ta'ala. Mimpi ini merupakan kabar gembira yang merupakan salah satu keistimewaan yang diberikan kepada para Nabi.

Mimpi Jadi Kenyataan. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا اقْتَرَبَ الزَّمانُ لَمْ تَكَدْ تَكْذِبُ رُؤْيا المُؤْمِنِ، ورُؤْيا المُؤْمِنِ جُزْءٌ مِن سِتَّةٍ وأرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Apabila waktu kiamat sudah mendekat, kebanyakan mimpi seorang mukmin tidak pernah salah (menjadi kenyataan). Mimpi seorang mukmin itu adalah salah satu dari tanda kenabian.” (HR. Bukhari, 7017).

Bukan berarti ketika seorang bermimpi lalu menjadi kenyataan, serta merta dia menjadi seorang nabi, karena tidak ada lagi nabi setelah nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun, maksudnya adalah mimpi yang benar tersebut adalah salah satu ilmu yang Allah berikan kepada para nabi, dan juga menjadi kabar gembira bagi orang yang beriman. (Lihat Ma’alim Sunan, 4/139).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إن الرسالة والنبوة قد انقطعت فلا رسول بعدي ولا نبي. قال: فشق ذلك على الناس فقال: «لكن المبشرات». قالوا: يا رسول الله وما المبشرات؟ قال: «رؤيا المسلم، وهي جزء من أجزاء النبوة»

“Sesungguhnya risalah kenabian telah terputus, tidak ada lagi nabi dan rasul sepeninggalku”. Maka para sahabat pun merasa berat karena hal tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda: “Tetapi masih ada mubasyirat (kabar-kabar gembira)”. Para sahabat bertanya: ya rasulullah berupa apa mubasyirat tersebut?. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “mimpi seorang muslim, dan itu merupakan salah satu tanda kenabian” (HR. Tirmidzi, 2272).

*Etika Ketika Bermimpi*

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan umat beliau sebuah sikap ketika seorang muslim mengalami mimpi baik begitu pula mimpi buruk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رَأى أحَدُكُمْ رُؤْيا يُحِبُّها، فَإنَّما هِيَ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَلَيْها ولْيُحَدِّثْ بِها، وإذا رَأى غَيْرَ ذَلِكَ مِمّا يَكْرَهُ، فَإنَّما هِيَ مِنَ الشَّيْطانِ، فَلْيَسْتَعِذْ مِن شَرِّها، ولاَ يَذْكُرْها لِأحَدٍ، فَإنَّها لاَ تَضُرُّهُ

“Apabila salah satu dari kalian bermimpi baik, maka itu dari Allah. Hendaknya dia memuji Allah dan silahkan ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Namun, jika dia bermimpi buruk, maka itu datangnya dari setan, hendaklah dia berlindung kepada Allah dari keburukannya (ta’awwudz), dan jangan dia ceritakan kepada orang lain, karena mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (HR. Bukhari, 6985).

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

الرُّؤْيا الصّالِحَةُ مِنَ اللهِ، والرُّؤْيا السَّوْءُ مِنَ الشَّيْطانِ، فَمَن رَأى رُؤْيا فَكَرِهَ مِنها شَيْئًا فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسارِهِ، ولْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ، لا تَضُرُّهُ ولا يُخْبِرْ بِها أحَدًا، فَإنْ رَأى رُؤْيا حَسَنَةً، فَلْيُبْشِرْ ولا يُخْبِرْ إلّا مَن يُحِبُّ

“Mimpi yang baik datangnya dari Allah Ta'ala, sedangkan mimpi buruk datangnya dari setan. Maka siapa yang bermimpi buruk hendaklah dia meniup (dengan sedikit ludah) ke sebelah kirinya sembari berta’wwudz (berlindung) kepada Allah dari gangguan setan, mimpi itu tidak akan memudharatkannya, dan jangan dia ceritakan kepada orang lain. Dan jika dia bermimpi baik, maka hendaklah dia bergembira, dan menceritakan kepada orang yang suka dengan mimpinya.” (HR. Muslim, 2261).

Singkatnya, mempercayai dan meyakini kebenaran mimpi, sebagaimana meyakini dan mengimani kehamilan seirang santri di Pekalongan (seperti kehamilan Maryam yang melahirkan Nabi Isa 'alaihissalam hanya melalui mimpi) secara mutlak dan tidak masuk akal adalah suatu kesalahan fatal. Dalam Islam, mimpi diklasifikasikan menjadi tiga: petunjuk dari Allah (benar), gangguan setan (buruk atau menakutkan), dan bunga tidur/ilusi pikiran. Mimpi yang tidak logis dan acak umumnya tidak memiliki arti dan tidak boleh dijadikan landasan hukum termasuk diantaranya adalah dongeng khurafat hasil mimpi yang konon mimpinya waliyullah tidak harus dipercayai apalagi diimani kebenarannya jika menyalahi syareat agama dan akal sehat. Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*