MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Jumat, 09 Oktober 2026

KAJIAN TENTANG KEHEBATAN MI'RAJNYA HABIB ABDULLAH BIN ALWI AL-HADDAD MENYAMAI MI'RAJNYA NABI


Setelah mi'rajnya Al-Faqih Muqaddam 70 kali dalam satu malam dan karomah lainnya yang terdapat dalam beberapa kitab ba'alawi diantaranya kitab Al-Jauhar Asy-Syafaf, Syarh Al-'Ainiyah dan Al-Ustadz Al-A'zham Al-Faqih Al-Muqaddam yang akan saya kutipkan redaksi kitabnya dimana selama ini menurut pendapat ba'lawi juga pengikutnya bahwa mi'rajnya Al-Faqih Muqaddam itu melalui shalat dengan dalih "Shalat adalah Mi'rajnya orang Mukmin". 

رواية الخطيب في الجوهر الشفاف: ومن جملة ما كتب إليه شيخ شيوخنا محمد بن علي بن أبي علوي أنه عرج بي إلى سدرة المنتهى سبع مرات في ليلة واحدة، وفي رواية سبع وعشرين، وفي رواية سبعين مرة، وذكر أن رجلًا من أهل السريات الصادقات، والكرامات الخارقات أتى من دمشق يقال له الفضل، فلما قدم أتى إلى الشيخ الجليل شيخ شيوخنا الفقيه محمد بن علي بن أبي علوي وقال له: ما أتيت إليك إلا لأعلمك أني ما وجدت جاثمًا على قلبك إلا الشيخ عبدالرحمن المقعد، وأنت تحكم له، فهو رجل مكتسب، وأنت صاحب نسبة، فقال شيخ شيوخنا: وما هذه النسبة؟ قال: سدرة المنتهى، وقال أيضًا: لو اجتمع أهل المشرق والمغرب على أن يفكوا قفلك لما قدروا«

Dalam riwayat Al-Khatib di Al-Jauhar Asy-Syafaf: "Di antara yang ditulis kepada kami oleh Syekh Syekh kami, Muhammad bin Ali bin Abi Alawi, adalah bahwa aku diangkat ke Sidrat Al-Muntaha tujuh kali dalam satu malam. Dalam riwayat lain disebutkan tujuh puluh kali, dan dalam riwayat lain lagi tujuh puluh kali. Ia menyebutkan bahwa seorang laki-laki dari kalangan para wali yang ikhlas dan memiliki karamah luar biasa datang dari Damaskus, yang dikenal dengan nama Al-Fadhil. Ketika ia tiba, ia mendatangi syekh yang mulia, Syekh Syekh kami, Faqih Muhammad bin Ali bin Abi Alawi, dan mengatakannya: 'Aku datang kepadamu hanya untuk memberitahumu bahwa aku tidak menemukan sesuatu yang menghalangimu kecuali Syekh Abdul Rahman yang terkurung, dan kamu harus memberikan keputusan untuknya, karena dia adalah orang yang berusaha, dan kamu adalah orang yang memiliki nasab.' Maka Syeikh-Syeikh kami bertanya: 'Apa nasab ini?' Ia menjawab: 'Sidrat Al-Muntaha,' dan ia juga berkata: 'Seandainya orang-orang dari timur dan barat berkumpul untuk membukakan kunci hatimu, mereka tidak akan mampu.'" (Jauhar Asy-Syafaf juz 1 hal. 79)

Sementara di dalam kitab Syarh Al-'Ainiyah dijelaskan sebagai berikut,

وكان من جملة ما كتب به إلى الشيخ سعد، أنه قال: عرج بي إلى سدرة المنتهى سبع مرات. وفى رواية سبعة وعشرين مرة فى ليلة واحدة.  وفي رواية سبعين مرة. ومن جملة ما كتب به الشيخ سعد بن علي: بعد  ما عرف تمكينه وتأبيدو وحراسته عن الزيغ : أني أقول قول الناصح محب المشفق, فلا يكون قلبك متعلقا بكرامات ولا غيرها, ولا تلتفت اليها,ولو ظهرت لك اى ظهور, واليكم قلبك متعلقا بمحبة الله, وإلزام حالك الذي انت عليه, ولو قامت عليك القيامة, ولو رأين اى هول فلا يهولنك,  وكلما عرض عليك شيئ, فزانه بميزان الشرع وكتاب الله, فما وافق الحق فاتبعه. ومالم يوفق الحق فاتركه. وأنت بافقيه! أهدى من ان تهدى إنشاء الله, وأعلم بالشريعة والحقيقة.

Di antara apa yang ditulis oleh Syaikh (Al-Faqih Muqaddam) kepada Syaikh Sa'ad adalah: "Aku telah diangkat ke Sidratul Muntaha sebanyak tujuh kali." Dalam riwayat lain disebutkan sebanyak 27 kali dalam satu malam, dan dalam riwayat lain sebanyak 70 kali."

Di antara apa yang ditulis oleh Syaikh Sa'ad bin 'Ali setelah dia mengetahui keteguhan dan kekuatan iman Syaikh (Al-Faqih Muqaddam), serta perlindungan Allah dari penyimpangan,adalah: "Aku katakan dengan penuh nasihat dan kasih sayang, Janganlah hatimu terikat dengan karamah atau hal-hal lainnya, dan janganlah kamu memperhatikannya, meskipun karamah itu tampak jelas bagimu.

Hubungkanlah hatimu dengan cinta kepada Allah dan tetaplah dalam keadaanmu yang sekarang, meskipun kiamat sudah terjadi dan kamu melihat kejadian yang sangat menakutkan, janganlah hal itu membuatmu gentar.

Setiap kali ada sesuatu yang muncul di hadapanmu, timbanglah dengan timbangan syariat dan kitab Allah. Apa yang sesuai dengan kebenaran, ikutilah. Dan apa yang tidak sesuai dengan kebenaran, tinggalkanlah.

Kamu, insya Allah lebih mendapat petunjuk dan lebih mengetahui tentang syariat dan hakikat." (Syarh Al-'Ainiyah, Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, cetakan Dar Al-Ulum Al-islamiyah hal.158)

Maka dalam kitab karya ba'alawi Al-Imam Muhammad bin Zain Smith (murid dari Imam Al-Haddad) mengungkapkan bahwa gurunya bisa melakukan mi'raj menghadap Allah Ta'ala dan juga pernah dibelah dadanya di Masjid Bani Alawi menyamai apa yang pernah dialami Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana keterangan berikut, 

ومن كلامه - نفع الله به - الأرواح تسلم على كل يوم عند طلوع الشمس وتنادي من أربع جهات: من جهة الوجه، ومن جهة العين، ومن جهة الشمال، ومن خلفي. أما التي من جهة الوجه فهم الأولياء، وأما التي من جهة اليمين فهم المحبون والمبتدئون، وأما التي من جهة الشمال فهم أهل الإنكار، وأما التي من ورائي فهم المرضون وهذا يختص بصاحب الخلافة انتهى كلامه نفع الله به.

وقال - قدس الله سره -: إنه يكون للولي ما يكون للنبي وإني قد وضعت في الدراج بمسجد المعجزة وعرج بي إلى السماء حتى وقفت بين يدي الله عز وجل وحصل لي شق الصدر بمسجد بني علوي.

وكان رضي الله عنه يقول: لا يقوم مقامنا أولا ينوب منابنا إلا أربعون رجلا أو المهدي. وهكذا من يبلغ درجة الكمال يكون كذلك أو كما قال.

وقال لبعض خواصه: إن السر عظيم ويشير إلى نفسه ولا يطلق لسانه إلا من شاء الله. وذلك من ذلك السر نصيب.

وقال لبعض أصحابه: أنت لابد أن تركب فرس المهدي قال: فمكثت ثم بعد مدة قدر الله أني ركبت فرسه فعرفت عند ذلك أنه المهدي حقيقة وأن منة المهدي قد تحققت فيه حقا وتحقيقا، وكان يقول: لو عرف الناس وأنصفوا لتحققوا أني أحق بأمورهم منهم.

ومن كلامه - نفع الله به -: كنا نطلب من الكل والآن الكل يطلب منا. وهذه صفة القطب وقال: مقامنا لا أحد يطيق حمله على الانفراد ولكن إذا قربت الوفاة جمعناه في جماعة. وهذا قريب مما سبق من قوله لا يطيق حمله إلا الأربعون أو المهدي.

Di antara perkataan beliau (semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau) adalah, “Ruh-ruh memberikan salam kepadaku setiap hari ketika matahari terbit. Mereka menyeru dari empat arah, yaitu dari arah depan, dari arah mata, dari arah utara, dan dari belakangku. Adapun yang datang dari arah depan, mereka adalah para wali. Adapun yang datang dari arah kanan, mereka adalah orang-orang yang mencintai dan para pemula. Adapun yang datang dari arah utara, mereka adalah orang-orang yang mengingkari. Sedangkan yang datang dari belakangku, mereka adalah orang-orang yang diridai. Hal ini khusus bagi pemegang kekhalifahan.” Selesai perkataan beliau. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau.

Beliau berkata (semoga Allah menyucikan rahasianya), *“SESUNGGUHNYA SEORANG WALI DAPAT MEMPEROLEH SESUATU SEBAGAIMANA SEORANG NABI. AKU PERNAH DITEMPATKAN DI AD-DARRAJ DI MASJID AL-MU'JIZAH KEMUDIAN AKU DINAIKKAN KE LANGIT HINGGA AKU BERDIRI DIHADAPAN ALLAH YANG MAHA AGUNG. DADAKU JUGA PERNAH DIBELAH DI MASJID BANI ALAWI".* 

Beliau (semoga Allah meridai beliau) juga pernah berkata,

“Tidak ada seorang pun yang dapat menduduki kedudukan kami atau menggantikan posisi kami, kecuali empat puluh orang laki-laki atau Al-Mahdi.” Demikian pula, orang yang telah mencapai derajat kesempurnaan akan berada dalam keadaan yang demikian, atau sebagaimana yang beliau katakan.

Beliau berkata kepada salah seorang orang kepercayaannya,

“Sesungguhnya, rahasia itu sangat agung.” Beliau memberikan isyarat kepada dirinya sendiri, tetapi tidak mengungkapkannya dengan lisannya kecuali jika Allah menghendaki. Orang tersebut memperoleh bagian dari rahasia itu.

Beliau berkata kepada salah seorang sahabatnya,

“Engkau pasti akan menaiki kuda Al-Mahdi.” Orang itu berkata, “Aku pun menunggu. Kemudian, setelah beberapa waktu, Allah menakdirkan aku untuk menaiki kudanya. Pada saat itulah aku mengetahui bahwa dialah Al-Mahdi yang sebenarnya dan bahwa anugerah Al-Mahdi benar-benar telah terwujud dalam dirinya.” Beliau juga pernah berkata,

“Seandainya manusia mengetahui dan bersikap adil, niscaya mereka akan menyadari bahwa aku lebih berhak atas urusan mereka daripada harta benda mereka sendiri.”

Di antara perkataan beliau (semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau) adalah, “Dahulu kami yang mencari semua orang, tetapi sekarang semua oranglah yang mencari kami.” Inilah salah satu sifat seorang kutub (wali yang diyakini memiliki kedudukan spiritual tertinggi dalam hierarki kewalian). Beliau juga berkata, “Kedudukan kami adalah suatu kedudukan yang tidak sanggup dipikul oleh seorang pun secara sendirian. Akan tetapi, apabila ajal telah mendekat, kami menghimpunnya dalam suatu kelompok.” Pernyataan ini mendekati perkataan beliau sebelumnya, yaitu bahwa tidak ada yang sanggup memikul kedudukan tersebut kecuali empat puluh orang atau Al-Mahdi. (Ghayah Al-Qashd wa Al-Murad fi Manaqib Al-Imam Al-Haddad, Al-Imam Muhammad bin Zain Smith (murid Imam Al-Haddad), juz 1 hal 102).

Dari kisah-kisah mi'rajnya wali-wali ba'alawi yang terdapat dalam kitab-kitab ba'alawi tersebut perlu dilakukan verifikasi ilmiah akan validitas dan keabsahan kisahnya, karena bisa jadi hanya sebagai kisah fiktip untuk pembodohan dan pendangkalan aqidah umat Islam. Wallahu a'lam bis-Shawab

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله ألموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 08 Oktober 2026

EDISI KHUTBAH JUM'AT (Keimanan Itu Tentang Sabar & Syukur)

*Khutbah Pertama*

‎اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُّبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

‎أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah*

Dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, kita harus memahami bahwa syukur dan sabar adalah dua pilar utama penopang keimanan dan sumber ketenangan hidup bagi setiap Muslim. 

Sementara ketaqwaan tidak hanya terwujud dalam ritual ibadah saja tetapi harus diwujudkan dalam keseharian kita, mulai dari bertutur kata, bersikap dan memperlakukan orang lain. 

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah*

Di dalam Al-Qur'an surat Lukman yang terdiri dari 34 ayat terdapat 8 nasehat Luqmanul Hakim kepada anaknya dari mulai ayat 12 - 19 dan dua diantaranya adalah wasiat syukur dan sabar. Sebagaimana firman Allah Ta'ala, 

وَلَقَدۡ اٰتَيۡنَا لُقۡمٰنَ الۡحِكۡمَةَ اَنِ اشۡكُرۡ لِلّٰهِ‌ؕ وَمَنۡ يَّشۡكُرۡ فَاِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهٖ‌ۚ وَمَنۡ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِىٌّ حَمِيۡدٌ‏

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji." (QS. Luqman : 12)

Sementara wasiat Luqmanul Hakim tentang kesabaran sebagaimana firman Allah, 

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS. Luqman : 17)

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah*

Lantas bagaimana cara ideal seorang mukmin menjadi pribadi yang bersyukur dan bersabar? Jawabnya adalah memahami bahwa secara naluriah manusia itu memiliki sifat serakah dan suka mengeluh sebagaimana firman Allah Ta'ala, 

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia ketika diuji dengan kesusahan dia mengeluh dan jika diuji dengan nikmat dia kikir. 

Selama ini kita memahami bahwa syukur itu terkait dengan nikmat yang di dapat padahal bersyukur harus dalam setiap keadaan. Sementara ujian kaitannya dengan musibah dan kesusahan, padahal ujian itu bisa berupa kesenangan juga bisa berupa kesusahan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18)

"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin." (QS. Al-Fajr : 15-18)

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah*

Singkatnya, keimanan dan ketaqwaan harus diwujudkan dalam bentuk kesabaran dan rasa syukur dalam bentuk kepedulian kita atas kehidupan orang lain. Sehingga kita mendapatkan kemuliaan dan kesenangan serta kemudahan rizki dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin 

بارَكَ لي ولَكمْ في القُرْآنِ العَظِيمِ، ونَفَعني وإيّاكم بما فيهِ مِنْ الآياتِ والذّكرِ الحكيمِ، أَقُولُ قَوْلي هذا وأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيمَ لي ولَكمْ ولسائرِ المُسْلِمينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فاستغفروهُ إنّهُ هُو الغَفُورُ الرّحيمُ.

*Khutbah Kedua*

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ السَّعَادَةَ الحَقِيقِيَّةَ تَنْطَوِي بَيْنَ جَانِبَيْ الشُّكْرِ وَالصَّبْرِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ الصَّادِقِينَ، وَالشَّاكِرِينَ لِنِعْمَائِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. وَأَقِمِ الصَّلَاة...

Sabtu, 03 Oktober 2026

KAJIAN TENTANG 3 HIKMAH PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

Memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ialah suatu amalan yang mulia. Dalam pelaksanaannya, kita disuguhkan dengan kegiatan yang dapat mengingatkan perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam kepada seluruh penjuru dunia, juga mengingatkan kita untuk senantiasa bersholawat kepadanya. Memperingati maulid Nabi seharusnya bukan hanya sekadar ceremony, tetapi menjadi momentum untuk dapat memetik hikmah dari peringatan tersebut. Adapun hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam, ialah sebagai berikut:

*1. Menguatkan Kecintaan kepada Nabi*

Peringatan Maulid Nabi adalah kesempatan emas untuk meneguhkan rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Dengan mengenang hari kelahiran beliau, umat Islam diingatkan kembali tentang sosok yang menjadi teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Kecintaan ini tidak hanya dalam bentuk kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata untuk mengikuti ajaran dan sunnah beliau. Rasulullah bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِن وَلَدِهِ وَ وَالِدِهِ رواه البخاري

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari ayahnya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari)

*2. Meneladani akhlak dan perbuatan Nabi*

Maulid Nabi mengajak umat Islam untuk meneladani akhlak dan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, seperti kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan keadilan. Peringatan ini merupakan ajang untuk belajar dan menerapkan akhlak tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bisa menciptakan masyarakat yang lebih baik dan harmonis. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21).

Dalam rangka meneladani akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terangkum dalam 4 sifat wajib bagi para rasul itu ada empat, yakni sidik, amanah, tabligh, dan fatanah.

*2.1. Sidiq*

Sidik artinya selalu jujur dan benar. Semua yang disampaikan oleh rasul adalah benar karena hal tersebut berasal dari wahyu Allah SWT. Para rasul selalu menyampaikan kebenaran dengan jujur walaupun tantangannya sangat berat.

Allah SWT berfirman,

وَمَا أَتْكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا لَهُكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al-Hasyr : 7)

*2.2. Amanah*

Amanah artinya dapat dipercaya. Para rasul dipercaya oleh Allah untuk menyampaikan risalah yang benar. Mereka menerima perintah dari Allah dengan penuh tanggung jawab tidak mengurangi atau menambah apa yang telah diwahyukan kepada mereka.

Hal ini dijelaskan dalam Qur'an surah Asy-Syu'ara ayat 143. Allah SWT berfirman,

إِنِّي لَكُمْ رَسُوْلُ أَمِينٌ

"Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu." (QS. Asy-Syu'ara : 147)

*2.3. Tabligh*

Tablig artinya menyampaikan. Rasul selalu menyampaikan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT. Tidak ada satupun ayat atau wahyu yang disembunyikan oleh mereka.

Meskipun dalam penyampaian wahyu tersebut, para rasul mendapat perlawanan dari umatnya namun mereka tidak pernah gentar menghadapinya. Dalam Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 67, Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

"Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga engkau dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS. Al-Maidah : 67)

*2.4 Fatanah*

Fatanah artinya memiliki kecerdasan yang tinggi. Para rasul telah dibekali kecerdasan dan kemampuan yang hebat oleh Allah untuk menghadapi umatnya. Hal ini disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 179 mengenahi orang-orang kafir itu bodoh.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ، لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا، أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak mereka gunakan untuk memahami. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak mereka gunakan untuk melihat. Dan mereka memiliki telinga, tetapi tidak mereka gunakan untuk mendengarkan. Mereka seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi." (QS. Al-A’raf : 179)

*3. Memperdalam Pemahaman terhadap Ajaran Islam*

Melalui peringatan Maulid, umat Islam diingatkan untuk menggali lebih dalam tentang ajaran Islam dan kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dua warisan berharga yang Rasulullah tinggalkan untuk umatnya ialah Al-Qur-an dan As-Sunnah. Maka, sudah sepatutnya dalam peringatan Maulid Nabi ini dapat membangkitkan semangat kita untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan ajaran dari 2 hal tersebut. Rasulullah bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallahu alaihi wa sallam.” (HR. Malik).

Secara keseluruhan, peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam memiliki banyak hikmah yang bisa diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hikmah-hikmah ini tidak hanya bermanfaat untuk memperdalam spiritualitas dan keimanan, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup umat Islam secara keseluruhan. Wallahu a'lam

Kamis, 24 September 2026

EDISI KHUTBAH JUM'AT (Menjadi Manusia Yang Pandai Bersyukur Dan Bersabar)

*Khutbah Pertama* 

‎اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُّبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

‎أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّا بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

*Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,*

Dalam menjalani bahtera kehidupan yang penuh dinamika ini, seringkali kita terlupa akan dua pilar penting yang seharusnya menjadi pegangan kokoh setiap mukmin, yaitu rasa syukur atas nikmat Allah dan kesabaran dalam menghadapi setiap ujian. Padahal, keduanya adalah kunci utama menuju ketenangan jiwa, kekuatan hati, dan kebahagiaan yang abadi.

Oleh karena itu, Allah menurunkan banyak ayat tentang bersyukur dan bersabar sebagai pedoman bagi umat-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim : 7)

Secara naluriah, manusia pada dasarnya memang dipenuhi oleh sifat serakah, enggan bersyukur, berkeluh kesah, tidak perduli terhadap sesama. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا, إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا, وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.” (Q.S. Al-Ma’arij: 19-21)

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,*

Lebih lanjut Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa manusia suka mengingkari nikmat Allah ketika mendapatkan ujian,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18)

"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin." (QS. Al-Fajr : 15-18)

Lantas bagaimana caranya seorang mukmin agar senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menjalani kehidupan ini?

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,*

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

‎انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah darimu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu, karena yang demikian itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

Terdapat kisah penuh hikmah yang dijelaskan dalam kitab Bahrud Dumu’ [Darul Farj, 2004, hal. 132-133], karya Imam Jamaluddin Abdurrahman Al-Jauzi, atau dikenal dengan nama *Ibnul Jauzi* (w. 597 H.). Berikut kisahnya,

يروى في بعض الأخبار إن عمر بن الخطاب رضي الله عنه لقي حذيفة بن اليمان وهو يومئذ أمير المؤمنين، فقال لحذيفة: كيف أصبحت يا حذيفة؟ قال: أصبحت يا أمير المؤمنين  أحب  الفتنة، وأكره الحق، وأقول بما لم يخلق، وأشهد بما لم أر، وأصلي بلا وضوء، ولي في الأرض ما ليس لله في السماء

“Diriwayatkan di sebagian hadits, bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan Hudzaifah bin al-Yaman, dan Umar ketika itu sudah menjadi Amirul Mukminin. Dia berkata “bagaimana pagimu hai, Hudzaifah”, Hudzaifah menjawab “Pagiku, wahai Amirul Mukminin, aku menyukai fitnah, dan aku membenci kebenaran, aku mengucapkan hal yang bukan makhluk, aku bersaksi atas hal yang tidak ku lihat, aku shalat tanpa berwudhu, dan aku di bumi mempunyai apa yang Allah tidak punya di langit.”

فغضب عمر لذلك غضبا شديدا، وهمّ إن يبطش به، ثم تذكر صحبته من النبي، فأمسك، فهو كذلك إذ مرّ به عليّ بن أبي طالب رضي الله عنه، فرأى الغضب في وجهه، فقال: ما أغضبك يا أمير المؤمنين، فقصّ عليه القصّة 

“Mendengar hal itu, Umar kemudian sangat marah, dia ingin menghancurkan Hudzaifah, hanya saja dia teringat bahwa Hudzaifah adalah sahabat Nabi, maka dia mengurungkan niatnya itu. Tiba-tiba Ali bin Abi Talib berjalan bertemu Umar, dan umar masih dalam kondisi marah, lalu Ali bertanya “Apa yang membuatmu marah wahai Amirul Mukminin”, kemudian Umar menceritakan kisah tersebut.”

فقال: يا أمير المؤمنين لا يغضبك ذلك، أما قوله: إنه يحب الفتنة، فهو تأويل قوله تعالى: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ}(التغابن ١٥) 

“Ali berkata “hai, Amirul Mukminin, janganlah marah karena kejadian itu, ucapan Hudzaifah bahwa dia menyukai fitnah adalah takwilan dari surat al-Taghabun ayat 15.”

أما قوله: يكره الحق، فالحق هو الموت الذي لا بدّ منه ولا محيص عنه 

“Ucapannya tentang membenci kebenaran adalah tentang kematian yang pasti akan datang, dan tidak bisa dihindari.” 

وأما قوله: يقول بما لم يخلق: القرآن، فهو يقرأ القرآن وهو غير ومخلوق 

“Terkait berkata dengan hal yang tidak diciptakan adalah tentang Al-Qur’an, dan Qur’an sendiri bukanlah makhluk.” 

وأما قوله: يشهد بما لم ير، فانه يصدق بالله ولم يره 

“Terkait bersaksi terhadap hal yang tidak dia lihat, adalah tentang memperayai Allah meskipun tidak melihat-Nya.”

وأما قوله: يصلي بغير وضوء، فانه يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم بغير وضوء 

“Terkait shalat tanpa wudhu adalah tentang shalawat kepada Nabi tanpa berwudhu.” 

وأما قوله: إن له في الأرض ما ليس لله في السماء، فان له زوجة وبنين، وليس لله شيء من ذلك

“Terkait dia di bumi mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki Allah di langit adalah tentang anak dan istri, dan Allah sama sekali tidak mempunyai anak dan istri.”

فقال عمر: لله درّك: يا أبا الحسن، لقد كشفت عني هما عظيما

“Umar berkata “Kebaikan Allah ada padamu wahai Abul Hasan, engkau telah membebaskanku dari kegalauan yang sangat berat.”

*Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,*

Demikianlah khutbah tentang pentingnya bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar dalam menghadapi berbagai masalah dan musibah yang sudah menjadi sunnatullah harus dihadapi oleh manusia. Semoga kita termasuk orang yang kuat dan sabar dalam menghadapi segala bentuk permasalahan dalam hidup dan semoga kita termasuk orang-orang yang dilindungi dan dicintai Allah SWT.   

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

*Khutbah Kedua*   

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ 

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ  

عِبَادَ اللهِ إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   

Rabu, 23 September 2026

KAJIAN TENTANG HUKUM MENGUSAP WAJAH SETELAH SELESAI BERDOA

Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), khususnya Nahdliyin (pengikut NU), ketika setelah selesai shalat mengusap mukanya dengan tangan, baik keduanya maupun hanya tangan kanannya saja. 

Apakah hal tersebut diperbolehkan dalam Islam? atau apakah perbuatan tersebut ada dasarnya atau dalilnya?.

Karena ada sebagian umat Islam yang berbeda tafsir keagamaanya melarang sesama saudaranya yang juga berbeda tafsir keagamaanya dengan dirinya untuk mengusap muka setelah shalat atau setelah berdoa. 

Sebenarnya perbuatan tersebut ada dasarnya, sumbernya berasal dari beberapa riwayat hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diantaranya yang diriwayatkan dalam kitab Sunan Abu Dawud nomor 1275,

عن السائب بن يزيد عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا فرفع يديه مسح وجهه بيديه (سنن ابي داود ، رقم ١٢٧٥). 

"Dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya, apabila Rasulullah saw berdoa, beliau selalu mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya." (HR Sunan Abi Dawud, 1275). 

سنن ابن ماجه ١١٧١: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ قَالَا حَدَّثَنَا عَائِذُ بْنُ حَبِيبٍ عَنْ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ

Sunan Ibnu Majah 1171: Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] dan [Muhammad bin Ash Shabbah] keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami ['A`id bin Habib] dari [Shalih bin Hassan Al Anshari] dari [Muhammad bin Ka'ab Al Qurazhi] dari [Ibnu Abbas] ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila kamu berdo'a kepada Allah gunakanlah bagian dalam telapak tanganmu dan jangan dengan bagian luarnya, jika selesai do`a maka usaplah wajahmu dengan keduanya." (HR. Ibnu Majah no.1171)

سنن الترمذي ٣٣٠٨: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى فِي حَدِيثِهِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى وَقَدْ تَفَرَّدَ بِهِ وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ وَقَدْ حَدَّثَ عَنْهُ النَّاسُ وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيُّ ثِقَةٌ وَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ

Sunan Tirmidzi 3308: Telah menceritakan kepada kami [Abu Musa Muhammad binAl Mutsanna] dan [Ibrahim bin Ya'qub] serta lebih dari satu orang mereka berkata:? telah menceritakan kepada kami [Hammad bin IsaAl Juhani] dari [Hanzhalah bin Abu SufyanAl Jumahi] dari [Salim bin Abdullah] dari [ayahnya] dari [Umar bin Al Khathab radliallahu 'anhu] ia berkata: rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam sebuah doa maka beliau tidak menurunkan keduanya hingga mengusap mukanya dengan keduanya. Muhammad bin Al Mutsanna berkata dalam hadits tersebut: tidak mengembalikan keduanya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya. Abu Isa berkata: hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin Isa, ia sendirian yang meriwayatkan hadits tersebut sementara ia adalah orang yang sedikit haditsnya. Orang-orang telah menceritakan darinya, sedangkan Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi adalah orang yang tsiqah, ia ditsiqahkan oleh Yahya bin Sa'id Al Qaththan. (HR. At-Tirmidzi no.3308)

Juga penjelasan dari para ulama 4 Imam Mdzhab sebagaimana berikut ini,

من أقوال الحنفية  

في شرح الحصكفي 1/507  و  أما ( عند الصفا والمروة وعرفات ) ف ( يرفعهما كالدعاء ) والرفع فيه , وفي الاستسقاء مستحب ( فيبسط يديه ) حذاء صدره ( نحو السماء ) لأنها قبلة الدعاء ويكون بينهما فرجة والإشارة بمسبحته لعذر كبرد يكفي والمسح بعده على وجهه سنة في الأصح شرنبلالية . )  

وفي الفتاوى الهندية 5/318 : ( مسح الوجه باليدين إذا فرغ من الدعاء قيل : ليس بشيء , وكثير من مشايخنا - رحمهم الله تعالى - اعتبروا ذلك وهو الصحيح وبه ورد الخبر , كذا في الغياثية .)   

*Dari perkataan ulama Hanafiyah*

Dalam Syarh Al-Hashkafi 1/507: "Adapun (di Shafa dan Marwah serta Arafah) maka (ia mengangkat kedua tangannya seperti dalam doa) dan mengangkat tangan dalam hal itu, dan dalam istisqa' adalah mustahab (maka ia membentangkan kedua tangannya) sejajar dengan dadanya (ke arah langit) karena langit adalah kiblatnya doa dan di antara keduanya ada celah, dan berisyarat dengan jari telunjuknya karena uzur seperti dingin sudah cukup, dan mengusap wajah dengannya setelah doa adalah sunnah menurut pendapat yang paling sahih. Syurunbulaliyah."

Dan dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 5/318: "(Mengusap wajah dengan kedua tangan jika telah selesai dari doa, dikatakan: itu bukan apa-apa, dan banyak dari guru-guru kami - rahimahumullah ta'ala - menganggap hal itu dan itulah yang sahih dan telah datang khabar (hadis) tentangnya, demikian dalam Al-Ghiyatsiyah.)"[dianjurkan]

من أقوال المالكية  

في الفواكه الدواني 2/330 : ( واختلف هل يرفع يديه عند الدعاء أو لا ؟  

وعلى الرفع فهل يمسح وجهه بهما عقبه أم لا ؟ والذي في الترمذي عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه : { أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا رفع يديه في الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه } . فيفيد أنه كان يرفعهما ويمسح بهما وجهه .) 

وفي الفواكه الدواني أيضا 2/335 : ( واختلف في بسط اليد ولا بأس منه لانه أمارة الذل والسكينة ويستحب أن يمسح وجهه بيديه عقبه كما كان يفعله عليه الصلاة والسلام ) اه  وفي الفواكه الدواني أيضا 1/281 : ( ويرفع يديه في حال الدعاء وبطونهما إلى الأرض وقيل إلى السماء وورد أنه بعد الدعاء يضع يديه على وجهه ويمسحه بهما لكن من غير تقبيل )  

  *Dari perkataan ulama Malikiyah*

Dalam Al-Fawakih Ad-Dawani 2/330: "Dan diperselisihkan apakah ia mengangkat kedua tangannya ketika berdoa atau tidak? Dan jika mengangkat, apakah ia mengusap wajahnya dengan keduanya setelahnya atau tidak? Dan yang ada dalam At-Tirmidzi dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu: {Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam doa, beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya}. Maka ini berfaedah bahwa beliau mengangkat keduanya dan mengusap wajahnya dengan keduanya."

Dan dalam Al-Fawakih Ad-Dawani juga 2/335: "Dan diperselisihkan tentang membentangkan tangan dan tidak apa-apa melakukannya karena itu adalah tanda kerendahan dan ketenangan, dan dianjurkan untuk mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi 'alaihis shalatu wassalam."

Dan dalam Al-Fawakih Ad-Dawani juga 1/281: "Dan ia mengangkat kedua tangannya dalam keadaan berdoa dan telapaknya menghadap ke bumi, dan dikatakan menghadap ke langit, dan telah datang riwayat bahwa setelah berdoa ia meletakkan kedua tangannya di wajahnya dan mengusapnya dengan keduanya, akan tetapi tanpa menciumnya."

من أقوال الشافعية  

فتاوى ابن حجر 1/137 : ( وسئل ) رضي الله عنه - وحشرني في زمرته - عن تقبيل اليدين بعد كل دعاء خارج الصلاة هل له أصل كمسح الوجه بهما أم لا ؟ وإذا كان له أصل فهل هو صحيح , أو خبره ضعيف  ( فأجاب ) - فسح الله في مدته - : بأني لم أر له أصلا صحيحا ولا ضعيفا بعد مزيد البحث والتفتيش ; فلا ينبغي فعله .)  

وفي مغني المحتاج 1/370 : ( وأما مسح غير الوجه كالصدر فلا يسن مسحه قطعا بل نص جماعة على كراهته . وأما مسح الوجه عقب الدعاء خارج الصلاة , فقال ابن عبد السلام بعد نهيه عنه لا يفعله إلا جاهل ا هـ .  وقد ورد في المسح بهما أخبار بعضها غريب وبعضها ضعيف , ومع هذا جزم في التحقيق باستحبابه .)  

وفي حاشية البجيرمي على شرح المنهج 1/208 : ( قوله : ( لا مسح ) أي : في الصلاة أي : لا يندب فالأولى تركه ح ل ويسن خارجها م ر أي : يسن أن يمسح وجهه بيديه بعده لما ورد أن كل شعرة مسحها بيده بعد الدعاء تشهد له ويغفر له بعددها ح ف وما تفعله العامة من تقبيل اليد بعد الدعاء لا أصل له كما في شرح م ر و ع ش . )  

 *Dari perkataan ulama Syafi'iyah*

Fatawa Ibnu Hajar 1/137: "Dan beliau ditanya - radhiyallahu 'anhu - dan semoga Allah mengumpulkanku dalam golongannya - tentang mencium kedua tangan setelah setiap doa di luar shalat, apakah ada dasarnya seperti mengusap wajah dengan keduanya atau tidak? Dan jika ada dasarnya, apakah itu sahih atau hadisnya lemah? (Maka beliau menjawab) - semoga Allah melapangkan masanya -: Bahwa aku tidak melihat ada dasar yang sahih maupun yang lemah setelah penelitian dan pencarian lebih lanjut; maka tidak sepantasnya melakukannya."

Dan dalam Mughni Al-Muhtaj 1/370: "Adapun mengusap selain wajah seperti dada, maka tidak disunnahkan mengusapnya sama sekali, bahkan sekelompok ulama menegaskan kemakruhannya. Adapun mengusap wajah setelah doa di luar shalat, maka Ibnu Abdissalam setelah melarangnya berkata: Tidak ada yang melakukannya kecuali orang bodoh. Selesai. Dan telah datang dalam masalah mengusap dengan keduanya beberapa khabar, sebagiannya gharib dan sebagiannya dha'if, dan meskipun demikian, dalam kitab At-Tahqiq dipastikan kesunnahannya."

Dan dalam Hasyiyah Al-Bujairimi 'ala Syarh Al-Manhaj 1/208: "Perkataannya: (tidak mengusap) maksudnya: di dalam shalat, yaitu: tidak dianjurkan, maka yang lebih utama adalah meninggalkannya. Ha' Lam. Dan disunnahkan di luar shalat. Mim Ra' maksudnya: disunnahkan untuk mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelahnya karena telah datang riwayat bahwa setiap helai rambut yang ia usap dengan tangannya setelah doa akan menjadi saksi baginya dan akan diampuni baginya sejumlah helai rambut itu. Ha' Fa'. Dan apa yang dilakukan oleh orang awam berupa mencium tangan setelah doa tidak ada dasarnya sebagaimana dalam syarh Mim Ra' dan 'Ain Syin."

من أقوال الحنابلة  

في المغني لابن قدامة 1/449 : ( ولنا , قول النبي صلى الله عليه وسلم : { إذا دعوت الله فادع ببطون كفيك , ولا تدع بظهورهما , فإذا فرغت فامسح بهما وجهك } . رواه أبو داود , وابن ماجه . ولأنه فعل من سمينا من الصحابة . وإذا فرغ من القنوت فهل يمسح وجهه بيده ؟ فيه روايتان :  إحداهما , لا يفعل ; لأنه روي عن أحمد أنه قال : لم أسمع فيه بشيء . ولأنه دعاء في الصلاة , فلم يستحب مسح وجهه فيه , كسائر دعائها .  الثانية : يستحب ; للخبر الذي رويناه . وروى السائب بن يزيد , { أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا رفع يديه , ومسح وجهه بيديه } . ولأنه دعاء يرفع يديه فيه , فيمسح بهما وجهه , كما لو كان خارجا عن الصلاة )  

وفي غذاء الألباب 2/516 : ( وأن يسأل ما يصلح , ويمسح وجهه بيديه بعد فراغه ) اه  وفي الفتاوى الكبرى لابن تيمية 2/219 : ( وأما رفع النبي صلى الله عليه وسلم يديه في الدعاء : فقد جاء فيه أحاديث كثيرة صحيحة , وأما مسحه وجهه بيديه فليس عنه فيه إلا حديث , أو حديثان , لا يقوم بهما حجة , والله أعلم .) 

*Dari perkataan ulama Hanabilah*

Dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah 1/449: "Dan dalil kami adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: {Apabila engkau berdoa kepada Allah maka berdoalah dengan telapak tanganmu, dan jangan berdoa dengan punggung tanganmu, dan apabila telah selesai maka usaplah wajahmu dengan keduanya}. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dan karena itu adalah perbuatan orang-orang yang telah kami sebutkan dari kalangan sahabat. Dan apabila telah selesai dari qunut, apakah ia mengusap wajahnya dengan tangannya? Dalam hal ini ada dua riwayat: Pertama, tidak melakukannya; karena diriwayatkan dari Ahmad bahwa beliau berkata: Aku tidak mendengar apapun tentangnya. Dan karena itu adalah doa di dalam shalat, maka tidak dianjurkan mengusap wajahnya di dalamnya, seperti doa-doa lainnya di dalam shalat. Kedua: Dianjurkan; karena hadis yang telah kami riwayatkan. Dan As-Saib bin Yazid meriwayatkan, {Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berdoa beliau mengangkat kedua tangannya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya}. Dan karena itu adalah doa yang di dalamnya ia mengangkat kedua tangannya, maka ia mengusap wajahnya dengan keduanya, sebagaimana jika ia berada di luar shalat."

Dan dalam Ghidza' Al-Albab 2/516: "Dan hendaknya ia meminta apa yang baik, dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai."

Dan dalam Al-Fatawa Al-Kubra karya Ibnu Taimiyah 2/219: "Adapun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dalam doa: maka telah datang tentangnya hadis-hadis yang banyak yang sahih, dan adapun beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, maka tidak ada darinya kecuali satu hadis, atau dua hadis, yang tidak dapat dijadikan hujjah, wallahu a'lam."

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموافق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 19 September 2026

KAJIAN TENTANG PENGAKUAN TERPUTUSNYA NASAB BA'ALAWI MENURUT AL-HABIB MUSTHAFA AL-ATHAS SESUAI KITAB BA'ALAWI







Dalam penggalan sebuah percakapan di medsos ada sebuah kejujuran pengakuan dari seorang ba'alawi yaitu Al-Habib Musthafa Al-Athas dalan penjelasannya beliau menyatakan bahwa nasab ba'alawi adalah nasab yang cilukba alias datang secara tiba-tiba sebagai pengakuan nasab yang munqathi' (terputus) dari ahlul bait Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau merujuk kepada tiga kitab karya ulama ba'alawi yaitu Kitab Al-Imam Al-Muhajir hal.27 karya Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Kitab Al-Mu'jam Al-Latif hal.41 karya Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, dan Kitab Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167 karya As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi.

Melalui penelusuran saya dapatkan dan kutikpan isi kitab dimaksud sebagai berikut,

لقد واجه المهاجر وذرية من بعد فى حضرموت من الاناف فى إثبات نسبهم الى النبي صلى الله عليه وسلم مالم يواجه مثله أي فرع من فروع البيت النبوي وكان انكار هذه النسب او الطعن فيها يتكرر واجه يتكر بصور واشكال متعددة من قدوم الامام المهاجر الى حضرموت حتى عصر الحاضر

"Sungguh Al-Muhajir (Imam Ahmad bin Isa) dan keturunannya setelahnya di Hadhramaut telah menghadapi kesulitan yang sangat berat dalam menetapkan nasab mereka kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mana kesulitan seperti itu tidak pernah dihadapi oleh cabang manapun dari cabang-cabang keluarga Nabi (Bait Nabawi).

Dan pengingkaran terhadap nasab ini atau pencelaan terhadapnya terus berulang dengan berbagai bentuk dan model yang bermacam-macam, sejak kedatangan Imam Al-Muhajir ke Hadhramaut hingga masa sekarang ini." (Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Al-Imam Al-Muhajir hal.27)

أعلام تآصل بني علوي لوشستر إلا بعد تكاثرهم

وأعلام القبائل العلوية سواء كانت بالأسماء أو بالألقاب أو بالكنى لم تشتهر ولم تنتشر إلا بعد تكاثرها، وذلك بعد القرن الثامن الهجري لأنهم لم يتنشروا إلا فيه بعد، والهدف منها كما قلت سابقًا هو التعارف والتمايز. قال الله تعالى جلّ وعلا:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾

(سورة الحجرات، آية 13)

"Publikasi asal-muasal nasab Bani Alawi tidak menjadi terkenal/masyhur kecuali setelah jumlah mereka banyak (berkembang biak)."

“Nama-nama/penamaan kabilah-kabilah Alawiyah, baik yang berupa nama, gelar maupun kunyah, tidak menjadi terkenal dan tersebar kecuali setelah jumlah mereka semakin banyak. Hal itu terjadi setelah abad kedelapan Hijriah, karena sebelum itu mereka belum banyak tersebar. Tujuan dari penamaan tersebut, sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, adalah untuk saling mengenal dan membedakan satu sama lain.

Allah Ta‘ala berfirman:

‘Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.’ (QS. Al-Hujurat: 13. (Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Al-Mu'jam Al-Latif hal.41)

ظهور السلسلة فجأة، وتشتهر ولما تكون مشهورة؛ كما أنها لا واقع لها في دواوين النسب، فخبر الواحد لا عبرة به هنا بعد أن مضى على السلسلة قرون ولم تكن معروفة خلال تلك القرون المتصرفة

"Munculnya sebuah garis keturunan (silsilah nasab) secara tiba-tiba, lalu menjadi terkenal padahal sebelumnya tidak pernah terkenal; sebagaimana nasab tersebut tidak ada faktanya (tidak tercatat) di dalam kitab-kitab induk nasab, maka kabar perorangan (khabar ahad) tidak ada nilainya di sini setelah berlalunya berabad-abad lamanya atas silsilah tersebut dalam keadaan tidak dikenal selama abad-abad yang telah berlalu itu." (As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi, Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167).

Oleh karenanya, dari penjelasan kitab-kitab diatas dapat diketahui bahwa Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan keturunannya itu terkenal popularitasnya dan tersebar luas namanya (syuhrah wal istifazhah) baru pada abad ke-8 hijriyah dimana abad sebelumnya tidak diketahui dan tidak tercatat di dalam kitab nasab. Dari penjelasan video dan teks rujukan kitab tergantung bagaimana kita menyikapi kebenarannya. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan. Aamiin 

*والله الموافق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 08 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG KISAH SUMUR BARHUT HADHRAMAUT YAMAN TIDAK MENYALAHI SUNNAH




Ada teman yang bertanya terkait validitas kisah cerita dalam video ada seorang khatib yang mengkisahkan sumur Zamzam dan sumur Barhut yang ada di Yaman.

Sebagai jawabannya maka jadilah kajian ini bahwa Bi'ru Barhut yang ada di Hadhramaut memang terdapat dalam riwayat hadits. Sementara untuk kisahnya sebagaimana dikisahkan dalam video itu terdapat penjelasan dalam kitab Irsyadul Ibad. Adapun riwayat haditsnya sebagaimana berikut,

فالحديث رواه الطبراني في معجم الكبير عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خير ماء على وجه الأرض ماء زمزم، فيه طعام من الطعم، وشفاء من السقم، وشر ماء على وجه الأرض ماء برهوت بقية حضرموت كرجل الجراد من الهوام، يصبح يتدفق، ويمسي لا بلال بها. قال المناوي: قال الهيثمي: رجاله ثقات. وصححه ابن حبان وقال ابن حجر: رواته موثوقون، وفي بعضهم مقال، لكنه قوي في المتابعات، وقد جاء عن ابن عباس من وجه آخر موقوفا: زمزم فيه طعام من الطعم. أي إشباع أو طعام شبع من إضافة الشيء إلى صفته، والطعم بالضم: الطعام (وشفاء من السقم) أي: شفاء من الأمراض إذا شرب بنية صالحة، وفيه تقوية لمن ذهب إلى تفضيله على ماء الكوثر. (وشر ماء على وجه الأرض ماء بوادي برهوت) أي: ماء بئر بوادي برهوت، بفتح الباء، والبئر بئر عميقة بحضرموت، لا يمكن نزول قعرها، وقد تضم الباء وتسكن الراء، وهي المشار إليها بآية: وبئر معطلة [الحج: 45].

(بقية حضرموت كرجل الجراد من الهوام تصبح تتدفق وتمسي لا بلال لها) قال الزمخشري: برهوت بئر بحضرموت، يقال إن بها أرواح الكفار، واسم للبلد التي فيها هذا البئر، أو أراد باليمن. اهـ. في الفردوس عن الأصمعي عن رجل من أهل برهوت: أنهم يجدون الريح المنتن الفظيع منها، وفيه أنه يكره استعمال هذا الماء في الطهارة وغيرها، وبه قال جمع من الشافعية. انتهى. من كلام المناوي باختصار. وقال ياقوت الحموي في معجم البلدان: برهوت بضم الهاء وسكون الواو وتاء فوقها نقطتان: واد باليمن يوضع فيه أرواح الكفار، وقيل برهوت بئر بحضرموت، وقيل: هو اسم للبلد الذي فيه هذه البئر، ورواه ابن دريد برهوت بضم الباء وسكون الراء، وقيل: هو واد معروف.

وقال محمد بن أحمد: وبقرب حضرموت وادي برهوت، وهو الذي قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم: إن فيه أرواح الكفار والمنافقين، وهي بئر عادية في فلاة واد مظلم، وروي عن علي رضي الله عنه أنه قال: أبغض بقعة في الأرض إلى الله عز وجل: وادي برهوت بحضرموت، فيه أرواح الكفار، وفيه ماؤها، أسود منتن، تأوي إليه أرواح الكفار، وعنه أنه قال: شر بئر في الأرض: بئر بلهوت في برهوت، تجتمع فيه أرواح الكفار، وحكى الأصمعي عن رجل من حضرموت قال: إنا نجد من ناحية برهوت الرائحة المنتنة الفظيعة جدا، فيأتينا بعد ذلك أن عظيما من عظماء الكفار مات، فنرى أن تلك الرائحة منه، وعن ابن عباس رضي الله عنهما أن أرواح المؤمنين بالجابية من أرض الشام، وأرواح الكفار ببرهوت من حضرموت.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik air di atas permukaan bumi adalah air Zamzam. Di dalamnya ada makanan yang mengenyangkan, dan kesembuhan dari penyakit. Dan sejelek-jelek air di atas permukaan bumi adalah air di Bi’r Barhut, yang berada di lembah Hadramaut. Ia seperti kaki belalang yang dipenuhi hewan melata. Pagi hari airnya meluap, dan sore hari tidak tersisa setetes pun di dalamnya."

Al-Manawi berkata: Al-Haitsami berkata, "Perawi-perawinya tsiqah/terpercaya". Ibnu Hibban menshahihkannya. Ibnu Hajar berkata: "Perawinya tepercaya, dan pada sebagian mereka ada pembicaraan, tetapi ia kuat dengan adanya jalur penguat/mutaba’at". 

Dan telah datang dari Ibnu Abbas dari jalur lain secara mauquf: "Zamzam itu ada makanan yang mengenyangkan." Maksudnya: Mengenyangkan, atau makanan yang mengenyangkan, dari idhafah sesuatu kepada sifatnya. Dan ath-thu'mu dengan dhammah artinya: makanan. "Dan kesembuhan dari penyakit" yaitu: kesembuhan dari berbagai penyakit jika diminum dengan niat yang baik. Di dalamnya ada penguat bagi orang yang berpendapat tentang keutamaan air Zamzam atas air Al-Kautsar.

"Dan sejelek-jelek air di atas permukaan bumi adalah air di lembah Barhut" Yaitu: air sumur di lembah Barhut. Barhut dengan fathah pada ba’. Sumur itu adalah sumur yang sangat dalam di Hadramaut, yang dasarnya tidak mungkin bisa dicapai. Ada juga yang membaca Burhut dengan dhammah pada ba’ dan sukun pada ra’. Sumur inilah yang diisyaratkan dalam ayat: "dan sumur yang telah ditinggalkan" (QS. Al-Hajj: 45).  

"Sisa-sisa Hadramaut, seperti kaki belalang yang dipenuhi hewan melata. Pagi hari ia meluap dan sore hari tidak ada setetes pun airnya."

Az-Zamakhsyari berkata: Barhut adalah sumur di Hadramaut. Dikatakan bahwa di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir. Dan itu juga nama untuk negeri yang di dalamnya ada sumur tersebut, atau yang dimaksud adalah Yaman. Selesai.

Dalam Al-Firdaus dari Al-Ashma’i, dari seorang laki-laki penduduk Barhut: "Sesungguhnya mereka mencium bau busuk yang sangat mengerikan dari sana." Dan di dalamnya terkandung hukum makruh menggunakan air ini untuk bersuci dan selainnya. Demikianlah pendapat segolongan ulama Syafi’iyah. Selesai ringkasan dari ucapan Al-Manawi.

Yaqut Al-Hamawi berkata dalam Mu’jam Al-Buldan: Barhut dengan dhammah pada ha’, sukun pada wawu, dan ta’ yang bertitik dua di atasnya: yaitu lembah di Yaman yang di dalamnya diletakkan ruh-ruh orang kafir. Ada pula yang mengatakan Barhut adalah sumur di Hadramaut. Ada juga yang mengatakan: itu nama negeri yang di dalamnya ada sumur tersebut.  

Ibnu Duraid meriwayatkannya dengan Burhut dhammah pada ba’ dan sukun pada ra’. Ada pula yang mengatakan: ia adalah lembah yang dikenal. 

Dan Muhammad bin Ahmad berkata: "Didekat Hadramaut ada lembah Barhut. Itulah yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 'Sesungguhnya di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir dan orang-orang munafik'. Lembah itu adalah sebuah sumur kuno di padang sahara, di sebuah lembah yang gelap."

Diriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata: "Tempat yang paling dibenci Allah Azza wa Jalla di muka bumi adalah lembah Barhut di Hadramaut. Di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir, dan airnya berwarna hitam lagi busuk. Ruh-ruh orang kafir berkumpul ke sana."

Dan dari beliau juga:  "Seburuk-buruk sumur di muka bumi adalah sumur Balhut yang ada di Barhut. Di dalamnya berkumpul ruh-ruh orang kafir."

Al-Ashma’i meriwayatkan dari seorang laki-laki penduduk Hadramaut, ia berkata:  

"Sesungguhnya kami mencium dari arah Barhut bau yang sangat busuk dan mengerikan. Setelah itu datanglah kabar kepada kami bahwa seorang tokoh besar dari tokoh-tokoh orang kafir telah meninggal. Maka kami berpendapat bahwa bau itu berasal darinya."

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Ruh-ruh orang mukmin berada di Al-Jabiyah, di tanah Syam. Sedangkan ruh-ruh orang kafir berada di Barhut, di Hadramaut."

Adapun kisah ahli ibadah yang meninggal su'ul khatimah karena memutuskan silaturahim sebagai berikut, 

[قِصَّةٌ عَجِيبَةٌ فِي عُقُوبَةِ قَاطِعِ الرَّحِمِ]

وحكى شيخنا ابن حجر رحمه الله: (أن رجلاً غنياً حج، فأودع آخر موسوماً بالأمانة والصلاح ألف دينار حتى يعود من عرفة، فلما وجده قد مات، فسأل ورثته عن المال، فلم يكن لهم به علم، فسأل علماء مكة فقالوا: إذا كان نصف الليل .. فأت زمزم، وانظر فيها، وناد: يا فلان باسمه؛ فإن كان من أهل الخير .. فسيجيبك من أول مرة، فذهب ونادى فيها، فلم يجبه أحد.

فأخبرهم، فقالوا: إنا لله وإنا إليه راجعون، نخشى أن يكون صاحبك من أهل النار، اذهب إلى أرض اليمن، ففيها بئر تسمى: برهوت، إنها على فم جهنم، فانظر فيها بالليل وناد فيها: يا فلان؛ فسيجيبك منها(٢).

فمضى إلى اليمن، وسأل عن البئر، فدل عليها، فذهب إليها ليلاً، ونادى فيها: يا فلان، فأجابه، فقال: أين ذهبي؟ فقال: دفنته في الموضع الفلاني من داري، ولم آتمن عليه ولدي، فأتيهم واحفر هناك .. تجده.

فقال: ما الذي أنزلك ها هنا؟ وقد كنت أظن بك الخير؟! قال: كانت لي أخت فقيرة هجرتها، وكنت لا أحسن عليها، فعاقبني الله بسببها، وأنزلني هذا المنزل.

وتصديق ذلك: الحديث الصحيح: «لا يدخل الجنة قاطع» أي: قاطع رحمه وأقاربه(١).

=========

الحواشي:

(١) أورده ابن حجر في «الزواجر» (٢/١٥٥) ضمن الكبيرة (٣٠٣) وقال: (آية القتال - أي سورة سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم - واللعن فيها صريح، واللعن في الرعد، واللعن فيها بطريق العموم، لأن ما أمر الله به أن يوصل يشمل الأرحام وغيرها، والبقرة؛ واللعن فيها بطريق الاستلزام؛ إذ هو من لوازم الخسران).

(٢) اختلف العلماء في مقر الأرواح بعد الموت انظر تفصيل ذلك في «شرح الصدور بشرح حال الموتى وأهل القبور» للإمام السيوطي رحمه الله (ص ٤٥٣ - ٤٥٥).

[KISAH YANG MENAKJUBKAN TENTANG SIKSAAN ORANG YANG MEMUTUSKAN SILATURAHIM

Guru kami, Ibnu Hajar rahimahullah, menceritakan:  

"Bahwasanya ada seorang laki-laki kaya yang pergi haji. Maka dia menitipkan kepada orang lain yang dikenal amanah dan shalih sebesar seribu dinar, sampai dia kembali dari Arafah. 

Ketika dia mendapati orang yang dititipi itu telah meninggal, maka dia bertanya kepada para ahli warisnya tentang harta itu. Namun mereka tidak mengetahuinya sama sekali.

Lalu dia bertanya kepada para ulama Makkah. Mereka berkata: "Jika sudah tengah malam, maka pergilah ke sumur Zamzam, dan lihatlah ke dalamnya. Lalu panggillah: Wahai Fulan, dengan menyebut namanya. Jika dia termasuk orang baik, maka dia akan menjawabmu sejak panggilan pertama."

Maka dia pun pergi dan memanggil di sumur itu, tetapi tidak ada seorang pun yang menjawabnya. 

Dia pun mengabarkan hal itu kepada mereka. Mereka berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami khawatir temanmu termasuk penduduk neraka. Pergilah ke negeri Yaman. Di sana ada sebuah sumur yang bernama Barhut. Sesungguhnya sumur itu berada di mulut neraka Jahannam. Pergilah ke sana pada malam hari dan panggillah di sana: Wahai Fulan. Maka dia akan menjawabmu dari sana."(2)

Lalu dia pun pergi ke Yaman dan bertanya tentang sumur itu, maka ditunjukkanlah kepadanya. Dia pun pergi ke sana di waktu malam, dan memanggil: Wahai Fulan. Maka orang itu pun menjawabnya.

Dia bertanya: "Di mana emas ku?" Dia menjawab: "Aku menguburnya di tempat ini dan itu, di rumahku. Dan aku tidak mempercayakannya kepada anakku. Maka pergilah kepada mereka dan gali di sana, niscaya kamu akan menemukannya."

Dia bertanya lagi: "Apa yang menyebabkan kamu sampai ke tempat ini? Padahal aku menyangka kamu termasuk orang baik?!" Dia menjawab: "Dahulu aku memiliki seorang saudara perempuan yang miskin. Aku memutuskan hubungan dengannya, dan aku tidak berbuat baik kepadanya. Maka Allah menghukumku sebab itu, dan menempatkan aku di tempat ini."

Dan yang membenarkan hal itu adalah hadits yang shahih:  

«Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim» Yaitu: orang yang memutuskan hubungan dengan kerabatnya.(1)

==========  

Catatan kaki:  

(1) Ibnu Hajar menyebutkannya dalam kitab Az-Zawajir (2/155) pada dosa besar ke-303. Beliau berkata: "Ayat tentang peperangan - yaitu surat Muhammad ﷺ - terdapat lafaz laknat yang jelas di dalamnya. Dan laknat juga ada dalam surat Ar-Ra'd. Dan laknat di dalamnya secara umum, karena apa yang diperintahkan Allah untuk disambung mencakup silaturahim dan selainnya. Begitu juga dalam surat Al-Baqarah, laknat di dalamnya secara konsekuensi, karena itu termasuk konsekuensi dari kerugian."

(2) Para ulama berbeda pendapat tentang tempat ruh-ruh setelah mati. Lihat perinciannya dalam kitab Syarh Ash-Shudur bi Syarh Hali Al-Mauta wa Ahlil Qubur karya Imam As-Suyuthi rahimahullah (hal. 453 - 455). (Irsyadul Ibad ila Sabilir Rasyad, Imam Taqiyuddin Al-Maliabari  (938-1028), cet. Darul Minhaj, hal.508-509). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق