Setelah mi'rajnya Al-Faqih Muqaddam 70 kali dalam satu malam dan karomah lainnya yang terdapat dalam beberapa kitab ba'alawi diantaranya kitab Al-Jauhar Asy-Syafaf, Syarh Al-'Ainiyah dan Al-Ustadz Al-A'zham Al-Faqih Al-Muqaddam yang akan saya kutipkan redaksi kitabnya dimana selama ini menurut pendapat ba'lawi juga pengikutnya bahwa mi'rajnya Al-Faqih Muqaddam itu melalui shalat dengan dalih "Shalat adalah Mi'rajnya orang Mukmin".
رواية الخطيب في الجوهر الشفاف: ومن جملة ما كتب إليه شيخ شيوخنا محمد بن علي بن أبي علوي أنه عرج بي إلى سدرة المنتهى سبع مرات في ليلة واحدة، وفي رواية سبع وعشرين، وفي رواية سبعين مرة، وذكر أن رجلًا من أهل السريات الصادقات، والكرامات الخارقات أتى من دمشق يقال له الفضل، فلما قدم أتى إلى الشيخ الجليل شيخ شيوخنا الفقيه محمد بن علي بن أبي علوي وقال له: ما أتيت إليك إلا لأعلمك أني ما وجدت جاثمًا على قلبك إلا الشيخ عبدالرحمن المقعد، وأنت تحكم له، فهو رجل مكتسب، وأنت صاحب نسبة، فقال شيخ شيوخنا: وما هذه النسبة؟ قال: سدرة المنتهى، وقال أيضًا: لو اجتمع أهل المشرق والمغرب على أن يفكوا قفلك لما قدروا«
Dalam riwayat Al-Khatib di Al-Jauhar Asy-Syafaf: "Di antara yang ditulis kepada kami oleh Syekh Syekh kami, Muhammad bin Ali bin Abi Alawi, adalah bahwa aku diangkat ke Sidrat Al-Muntaha tujuh kali dalam satu malam. Dalam riwayat lain disebutkan tujuh puluh kali, dan dalam riwayat lain lagi tujuh puluh kali. Ia menyebutkan bahwa seorang laki-laki dari kalangan para wali yang ikhlas dan memiliki karamah luar biasa datang dari Damaskus, yang dikenal dengan nama Al-Fadhil. Ketika ia tiba, ia mendatangi syekh yang mulia, Syekh Syekh kami, Faqih Muhammad bin Ali bin Abi Alawi, dan mengatakannya: 'Aku datang kepadamu hanya untuk memberitahumu bahwa aku tidak menemukan sesuatu yang menghalangimu kecuali Syekh Abdul Rahman yang terkurung, dan kamu harus memberikan keputusan untuknya, karena dia adalah orang yang berusaha, dan kamu adalah orang yang memiliki nasab.' Maka Syeikh-Syeikh kami bertanya: 'Apa nasab ini?' Ia menjawab: 'Sidrat Al-Muntaha,' dan ia juga berkata: 'Seandainya orang-orang dari timur dan barat berkumpul untuk membukakan kunci hatimu, mereka tidak akan mampu.'" (Jauhar Asy-Syafaf juz 1 hal. 79)
Sementara di dalam kitab Syarh Al-'Ainiyah dijelaskan sebagai berikut,
وكان من جملة ما كتب به إلى الشيخ سعد، أنه قال: عرج بي إلى سدرة المنتهى سبع مرات. وفى رواية سبعة وعشرين مرة فى ليلة واحدة. وفي رواية سبعين مرة. ومن جملة ما كتب به الشيخ سعد بن علي: بعد ما عرف تمكينه وتأبيدو وحراسته عن الزيغ : أني أقول قول الناصح محب المشفق, فلا يكون قلبك متعلقا بكرامات ولا غيرها, ولا تلتفت اليها,ولو ظهرت لك اى ظهور, واليكم قلبك متعلقا بمحبة الله, وإلزام حالك الذي انت عليه, ولو قامت عليك القيامة, ولو رأين اى هول فلا يهولنك, وكلما عرض عليك شيئ, فزانه بميزان الشرع وكتاب الله, فما وافق الحق فاتبعه. ومالم يوفق الحق فاتركه. وأنت بافقيه! أهدى من ان تهدى إنشاء الله, وأعلم بالشريعة والحقيقة.
Di antara apa yang ditulis oleh Syaikh (Al-Faqih Muqaddam) kepada Syaikh Sa'ad adalah: "Aku telah diangkat ke Sidratul Muntaha sebanyak tujuh kali." Dalam riwayat lain disebutkan sebanyak 27 kali dalam satu malam, dan dalam riwayat lain sebanyak 70 kali."
Di antara apa yang ditulis oleh Syaikh Sa'ad bin 'Ali setelah dia mengetahui keteguhan dan kekuatan iman Syaikh (Al-Faqih Muqaddam), serta perlindungan Allah dari penyimpangan,adalah: "Aku katakan dengan penuh nasihat dan kasih sayang, Janganlah hatimu terikat dengan karamah atau hal-hal lainnya, dan janganlah kamu memperhatikannya, meskipun karamah itu tampak jelas bagimu.
Hubungkanlah hatimu dengan cinta kepada Allah dan tetaplah dalam keadaanmu yang sekarang, meskipun kiamat sudah terjadi dan kamu melihat kejadian yang sangat menakutkan, janganlah hal itu membuatmu gentar.
Setiap kali ada sesuatu yang muncul di hadapanmu, timbanglah dengan timbangan syariat dan kitab Allah. Apa yang sesuai dengan kebenaran, ikutilah. Dan apa yang tidak sesuai dengan kebenaran, tinggalkanlah.
Kamu, insya Allah lebih mendapat petunjuk dan lebih mengetahui tentang syariat dan hakikat." (Syarh Al-'Ainiyah, Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, cetakan Dar Al-Ulum Al-islamiyah hal.158)
Maka dalam kitab karya ba'alawi Al-Imam Muhammad bin Zain Smith (murid dari Imam Al-Haddad) mengungkapkan bahwa gurunya bisa melakukan mi'raj menghadap Allah Ta'ala dan juga pernah dibelah dadanya di Masjid Bani Alawi menyamai apa yang pernah dialami Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana keterangan berikut,
ومن كلامه - نفع الله به - الأرواح تسلم على كل يوم عند طلوع الشمس وتنادي من أربع جهات: من جهة الوجه، ومن جهة العين، ومن جهة الشمال، ومن خلفي. أما التي من جهة الوجه فهم الأولياء، وأما التي من جهة اليمين فهم المحبون والمبتدئون، وأما التي من جهة الشمال فهم أهل الإنكار، وأما التي من ورائي فهم المرضون وهذا يختص بصاحب الخلافة انتهى كلامه نفع الله به.
وقال - قدس الله سره -: إنه يكون للولي ما يكون للنبي وإني قد وضعت في الدراج بمسجد المعجزة وعرج بي إلى السماء حتى وقفت بين يدي الله عز وجل وحصل لي شق الصدر بمسجد بني علوي.
وكان رضي الله عنه يقول: لا يقوم مقامنا أولا ينوب منابنا إلا أربعون رجلا أو المهدي. وهكذا من يبلغ درجة الكمال يكون كذلك أو كما قال.
وقال لبعض خواصه: إن السر عظيم ويشير إلى نفسه ولا يطلق لسانه إلا من شاء الله. وذلك من ذلك السر نصيب.
وقال لبعض أصحابه: أنت لابد أن تركب فرس المهدي قال: فمكثت ثم بعد مدة قدر الله أني ركبت فرسه فعرفت عند ذلك أنه المهدي حقيقة وأن منة المهدي قد تحققت فيه حقا وتحقيقا، وكان يقول: لو عرف الناس وأنصفوا لتحققوا أني أحق بأمورهم منهم.
ومن كلامه - نفع الله به -: كنا نطلب من الكل والآن الكل يطلب منا. وهذه صفة القطب وقال: مقامنا لا أحد يطيق حمله على الانفراد ولكن إذا قربت الوفاة جمعناه في جماعة. وهذا قريب مما سبق من قوله لا يطيق حمله إلا الأربعون أو المهدي.
Di antara perkataan beliau (semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau) adalah, “Ruh-ruh memberikan salam kepadaku setiap hari ketika matahari terbit. Mereka menyeru dari empat arah, yaitu dari arah depan, dari arah mata, dari arah utara, dan dari belakangku. Adapun yang datang dari arah depan, mereka adalah para wali. Adapun yang datang dari arah kanan, mereka adalah orang-orang yang mencintai dan para pemula. Adapun yang datang dari arah utara, mereka adalah orang-orang yang mengingkari. Sedangkan yang datang dari belakangku, mereka adalah orang-orang yang diridai. Hal ini khusus bagi pemegang kekhalifahan.” Selesai perkataan beliau. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau.
Beliau berkata (semoga Allah menyucikan rahasianya), *“SESUNGGUHNYA SEORANG WALI DAPAT MEMPEROLEH SESUATU SEBAGAIMANA SEORANG NABI. AKU PERNAH DITEMPATKAN DI AD-DARRAJ DI MASJID AL-MU'JIZAH KEMUDIAN AKU DINAIKKAN KE LANGIT HINGGA AKU BERDIRI DIHADAPAN ALLAH YANG MAHA AGUNG. DADAKU JUGA PERNAH DIBELAH DI MASJID BANI ALAWI".*
Beliau (semoga Allah meridai beliau) juga pernah berkata,
“Tidak ada seorang pun yang dapat menduduki kedudukan kami atau menggantikan posisi kami, kecuali empat puluh orang laki-laki atau Al-Mahdi.” Demikian pula, orang yang telah mencapai derajat kesempurnaan akan berada dalam keadaan yang demikian, atau sebagaimana yang beliau katakan.
Beliau berkata kepada salah seorang orang kepercayaannya,
“Sesungguhnya, rahasia itu sangat agung.” Beliau memberikan isyarat kepada dirinya sendiri, tetapi tidak mengungkapkannya dengan lisannya kecuali jika Allah menghendaki. Orang tersebut memperoleh bagian dari rahasia itu.
Beliau berkata kepada salah seorang sahabatnya,
“Engkau pasti akan menaiki kuda Al-Mahdi.” Orang itu berkata, “Aku pun menunggu. Kemudian, setelah beberapa waktu, Allah menakdirkan aku untuk menaiki kudanya. Pada saat itulah aku mengetahui bahwa dialah Al-Mahdi yang sebenarnya dan bahwa anugerah Al-Mahdi benar-benar telah terwujud dalam dirinya.” Beliau juga pernah berkata,
“Seandainya manusia mengetahui dan bersikap adil, niscaya mereka akan menyadari bahwa aku lebih berhak atas urusan mereka daripada harta benda mereka sendiri.”
Di antara perkataan beliau (semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau) adalah, “Dahulu kami yang mencari semua orang, tetapi sekarang semua oranglah yang mencari kami.” Inilah salah satu sifat seorang kutub (wali yang diyakini memiliki kedudukan spiritual tertinggi dalam hierarki kewalian). Beliau juga berkata, “Kedudukan kami adalah suatu kedudukan yang tidak sanggup dipikul oleh seorang pun secara sendirian. Akan tetapi, apabila ajal telah mendekat, kami menghimpunnya dalam suatu kelompok.” Pernyataan ini mendekati perkataan beliau sebelumnya, yaitu bahwa tidak ada yang sanggup memikul kedudukan tersebut kecuali empat puluh orang atau Al-Mahdi. (Ghayah Al-Qashd wa Al-Murad fi Manaqib Al-Imam Al-Haddad, Al-Imam Muhammad bin Zain Smith (murid Imam Al-Haddad), juz 1 hal 102).
Dari kisah-kisah mi'rajnya wali-wali ba'alawi yang terdapat dalam kitab-kitab ba'alawi tersebut perlu dilakukan verifikasi ilmiah akan validitas dan keabsahan kisahnya, karena bisa jadi hanya sebagai kisah fiktip untuk pembodohan dan pendangkalan aqidah umat Islam. Wallahu a'lam bis-Shawab
Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin
*والله ألموفق الى أقوم الطريق*


.jpeg)

%20(8).jpeg)
%20(7).jpeg)






