MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Minggu, 26 April 2026

KITAB NASHOIHUL IBAD BAB 5 MAQALAH 21-25

 



Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 21

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الدَّوْرِيِّ) رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى (شَقِيَ إِبْلِيْسُ بِخَمْسَةِ أَشْيَاءَ: لم يُقِرَّ بِالذَّنْبِ) أَيْ لَمْ يَعْتَرِفْ بِهِ عَلَى نَفْسِهِ (وَلَمْ يَنْدَمْ) أَيْ لَمْ يَحْزَنْ عَلَى ذَنْبِهِ (وَلَمْ يَلُمْ نَفْسَهُ) عَلَى فِعْلِهِ (وَلَمْ يَعْزِمْ عَلَى التَّوْبَةِ، وَقَنِطَ) مِنْ بَابِ ضَرَبَ وَتَعِبَ (مِنْ رَحْمَةِ اللّٰهِ. وَسَعِدَ آدَمُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ

Maqolah yang ke dua puluh satu (Muhammad bin Dauri berkata) Rahimahullahu Ta'ala (Iblis telah celaka karena lima perkara: Ia tidak mengakui atas dosanya) Maksudnya ia tidak mengakui dosa itu atas dirinya (Dan ia tidak menyesal) Maksudnya ia tidak bersedih atas dosanya (Dan ia tidak mencela dirinya) Karena perbuatannya (Dan ia tidak niat untuk bertaubat, dan ia berputus asa) lafadz قنط itu dari bab wazan ضَرَبَ dan dari bab wazan تَعِبَ (Dari rahmat Allah. Dan Nabi Adam telah bahagia) Alaihis Salam

(بِخَمْسَةِ أَشْيَاءَ: أَقَرَّ بِالذَّنْبِ) وَقَالَ: [رَبَّنَا َظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ] [الأعرَاف: الآية ٢٣].

(Karena lima perkara: Ia mengakui atas dosanya) Dan ia berkata: [Tuhan kami kami telah mendzolimi diri kami dan jika engkau tidak memberikan ampunan untuk kami dan jika engkau tidak menyayangi kami sungguh kami benar-benar akan menjadi termasuk dari golongan orang orang yang rugi] [Q.S Al-A'rof: Ayat 23]

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا: [إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللّٰهُ عَلَيْهِ] رَوَاهُ الشَّيْخَانِ

Dan dari Aisyah Radhiallahu Anha: [Sesungguhnya seorang hamba ketika ia mengakui atas dosanya kemudian ia bertaubat maka pasti Allah akan menerima tobat atasnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhari dan Imam Muslim

(وَنَدِمَ عَلَيْهِ) أَيْ اَلذَّنْبِ. وَعَنْ عَبْدِ اللّٰهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ : [مَنْ أَخْطَأَ خَطِيْئَةً أَوْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ثُمَّ نَدِمَ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.

(Dan ia menyesal atasnya) Maksudnya dosa. Dan dari Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu Anhuma berkata. Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang melakukan kesalahan atau melakukan dosa kemudian ia menyesal maka penyesalan itu menjadi penghapus dosanya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi

(وَلَامَ نَفْسَهُ) عَلَى فِعْلِ ذٰلِكَ الْخَطَأِ (وَأَسْرَعَ فِى التَّوْبَةِ) بِتَعَاِطِي أَسْبَابِهَا (وَلَمْ يَقْنَطْ مِنْ رَحْمَةِ اللّٰهِ).

(Dan ia mencaci dirinya) karena melakukan kesalahan itu (Dan ia bersegera dalam bertaubat) Dengan cara memenuhi sebab-sebab taubat (Dan ia tidak berputus asa dari mengharapkan rahmat Allah).

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 22

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (عَنْ شَقِيْقِ الْبَلْخِيِّ) رَحِمَهُ اللّٰهُ، وَهُوَ أُسْتَاذُ حَاتِمِ الْأَصَمِّ:

Maqolah yang ke dua puluh dua (Dari Syaqiq Al-Balkhi) Rahimahullah. Ia adalah guru dari Hatim Al-Ashom

قِيْلَ كَانَ سَبَبُ تَوْبَتِهِ أَنَّهُ كَانَ مِنْ أَبْنَاءِ الْأَغْنِيَاءِ خَرَجَ لِلتِّجَارَةِ إِلَى أَرْضِ التُّرْكِ فَدَخَلَ بَيْتًا لِلْأَصْنَامِ فَرَأَى خَادِمًا لِلْأَصْنَامِ فِيْهِ قَدْ حُلِقَ رَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ

Dikatakan yang menjadi sebab taubatnya Syaqiq Al-Balkhi adalah sesungguhnya dia menjadi salah satu dari anak orang kaya, dia pergi berdagang ke tanah Turki, kemudian dia memasuki rumah milik berhala dan melihat seorang pelayan milik berhala. di dalamnya benar benar telah dipangkas rambut dari pelayan itu dan janggut dari pelayan itu.

فَقَالَ شَقِيْقٌ لِلْخَادِمِ: إِنَّ لَكَ صَانِعًا حَيًّا عَالِمًا قَادِرًا فَاعْبُدْهُ وَلَا تَعْبُدْ هٰذِهِ الْأَصْنَام الَّتِيْ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، فَقَالَ: إِنْ كَانَ الْأَمْرُ كَمَا تَقُوْلُ فَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَرْزُقَكَ بِبَلَدِكَ فَلِمَ تَحَمَّلْتَ الْمَشَقَّةَ إِلَى هَا هُنَا لِلتِّجَارَةِ؟ فَانْتَبَهَ شَقِيْقٌ وَأَخَذَ فِى طَرِيْقِ الزُّهْدِ.

Maka Shaqiq berkata kepada pelayan: Sesungguhnya kamu mempunyai Pencipta yang maha hidup, Maha Mengetahui, dan Mahakuasa, maka sembahlah Dia dan janganlah kamu menyembah berhala-berhala ini yang tidak dapat memberi madarat dan tidak dapat memberi manfaat. Maka pelayan berkata: Jika terbukti itu seperti yang kamu katakan, Maka dzat yang engkau sebut itu mampu memberi rezeki kepadamu di negaramu, jadi mengapa kamu menanggung kesulitan dengan datang ke sini untuk berdagang? Kemudian Shaqiq sadar dan ia menempuh jalan zuhud.

وَقِيْلَ: كَانَ سَبَبُ زُهْدِهِ أَنَّهُ رَأَى مَمْلُوْكًا يَلْعَبُ فِي زَمَانٍ قَحْطٍ وَكَانَ النَّاسُ مَحْزُوْنِيْنَ بِهِ فَقَالَ شَقِيْقٌ: مَا هَذَا النَّشَاطُ الَّذِيْ فِيْكَ أَمَّا تَرَى مَا فِيْهِ النَّاسُ مِنَ الجَدْبِ؟ فَقَالَ ذٰلِكَ الْمَمْلُوْكُ: وَمَا عَلَيَّ مِنْ ذٰلِكَ وَلِمَوْلَايَ قَرْيَةٌ خَالِصَةٌ يَدْخُلُ لَهُ مِنْهَا مَا نَحْتَاجُ نَحْنُ إِلَيْهِ.

Dikatakan: Yang menjadi sebab zuhudnya adalaha sesungguhnya ia melihat seorang budak yang bermain pada musim kemarau dan manusia menjadi disedihkan karena musim kemarau kemudian Syaqiq berkata: Kenapa kesenangan ini ada pada dirimu tidakkah kamu melihat kesusahan-kesusahan yang ada di dalam kesusahan itu manusia karena kekeringan ? Kemudian budak itu berkata: Dan kesalahan apa yang ada padaku dari bersenang senang sedangkan adalah milik tuanku desa yang murni yang masuk miliknya ke dalam desa apa yang kami butuhkan darinya.

فَانْتَبَهَ شَقِیْقٌ وَقَالَ: إِنْ كَانَ لِمَوْلَاهُ قَرْيَةٌ وَمَوْلَاهُ مَخْلُوْقٌ فَقِيْرٌ ثُمَّ إِنَّهُ لَیْسَ يَهْتَمُّ لِرِزْقِهِ فَكَيْفَ يَلِيْقُ أَنْ يَهْتَمَّ الْمُسْلِمُ لِرِزْقِهِ وَمَوْلَاهُ غَنِيٌّ.

Kemudian Shaqiq sadar dan berkata: Jika tuannya mempunyai desa sementara tuannya adalah makhluk yang fakir kemudian sesungguhnya budak itu tidak gelisah pada rizkinya, maka apakah pantas seorang muslim gelisah pada rizkinya sementara tuannya adalah dzat yang maha kaya.

(أَنَّهُ قَالَ: عَلَيْكُمْ بِخَمْسِ خِصَالٍ) أَيْ اِلْزَمُوْهَا (فَاعْمَلُوْهَا) وَهٰذَا تَرْغِيْبٌ وَتَرْهِيْبٌ (اُعْبُدُوْا اللّٰهَ بِقَدْرِ حَاجَتِكُمْ إِلَيْهِ) وَطَلَبِكُمْ مِنْهُ إِلَى إِحْسَانِهِ وَإِفْضَالِهِ

(Sesungguhnya Syaqiq berkata: Wajib atas kalian lima perkara) Maksudnya lalzimkanlah oleh kalian lima perkara ini (Maka amalkanlah oleh kalian lima perkara ini) Dan ini adalah mendorong dan memperingati (Beribadahlah kalian kepada Allah dengan batas kebutuhan kalian kepadanya) Dan dengan batas permintaan kalian darinya kepada kebaikannya dan karunianya.

(وَخُذُوْا مِنَ الدُّنْيَا) أَيْ مِنْ مَتَاعِهَا (بِقَدْرِ عُمْرِكُمْ) أَيْ حَيَاتِكُمْ وَبَقَائِكُمْ (فِيْهَا، وَأَذْنِبُوْا اللّٰهَ) أَيْ عَامِلُوْا مَعَ اللّٰهِ بِالذَّنْبِ (بِقَدْرِ طَاقَتِكُمْ عَلَى عَذَابِهِ) فَلَا طَاقَةَ لِأَحَدٍ عَلَى تَحَمُّلِ عَذَابِ اللّٰهِ تَعَالَى فَإِنَّ عَذَابَهُ شَدِيْدٌ

(Dan ambillah oleh kalian dari dunia) Maksudnya dari kesenangan dunia (Dengan sebatas umur kalian) Maksudnya sebatas hidupmu dan sisa hidupmu (Di dunia, Dan berbuat dosalah kalian kepada Allah) Maksudnya beramallah kalian terhadap Allah dengan sebuah dosa (Dengan sebatas kemampuan kalian atas adzabnya Allah) Maka tidak ada yang sanggup bagi seseorang untuk menanggung adzabnya Allah karena sesungguhnya adzab Allah itu sangatlah berat

(وَتَزَوَّدُوْا فِى الدُّنْيَا) أَيْ اِتَّخِذُوْا فِيْهَا زَادًا لِسَفَرِكُمْ إِلَى الْآخِرَةِ (بِقَدْرِ مُكْثِكُمْ فِى الْقَبْرِ) أَيْ وَمَا بَعْدَهُ، وَإِنَّمَا ذُكِرَ الْقَبْرُ لِأَنَّهُ أَوَّلُ أُمُوْرِ الْآخِرَةِ فَإِذَا خُفِّفَ فِيْهِ خُفِّفَ فِيْمَا بَعْدَهُ وَإِذَا شُدِّدَ فِيْهِ شُدِّدَ فِيْمَا بَعْدَهُ

(Dan berbekallah kalian di dunia) Maksudnya ambillah oleh kalian di dunia bekal untuk perjalanan kalian menuju akhirat (Dengan sebatas lamanya kalian tinggal di dalam qubur) Maksudnya dan tempat sesudah qubur, Dan sesungguhnya hanya disebutkan qubur karena qubur merupakan awal dari urusan akhirat maka jika diringankan di dalamnya pasti akan ringan di tempat sesudahnya dan jika diberatkan di dalamnya maka pasti akan diberatkan di tempat sesudahnya.

(وَاعْمَلُوْا لِلْجَنَّةِ) أَيْ اِعْمَلُوْا عَمَلًا يُؤَدِّيْ إِلَى الْجَنَّةِ (بِقَدْرِ مَا تُرِيْدُوْنَ فِيْهَا الْمَقَامَ) بِفَتْحِ الْمِيْمِ: أَيْ اَلْمَنْزِلَةَ وَالْمَرْتَبَةَ، فَإِنَّ مَرَاتِبَ أَهْلِ الْجَنَّةِ مُتَفَاوِتَةٌ بِحَسْبِ أَعْمَالِهِمُ الْحَسَنَةِ إِنْ كَانَتْ أَحْسَنَ فَجَزَاؤُهَا أَلْطَفُ بِفَضْلِ اللّٰهِ تَعَالَى.

(Dan beramallah kalian untuk surga) Maksudnya kerjakanlah oleh kalian amalan yang dapat menghantar menuju surga (Dengan sebatas perkara yang kalian maksud di dalamnya kedudukan) Lafadz الْمَقَامَ dengan memfathahkan mim: Maksudnya kedudukan dan derajat. Karena sesungguhnya tingkatan-tingkatan ahli surga itu berbeda-beda dengan hitungan amalan mereka yang baik jika terbukti amalan itu lebih baik maka balasannya itu lebih lembut dengan keutamaan dari Allah.

وَعَنْ شَقِيْقٍ اَلْبَلْخِيِّ أَنَّهُ قَالَ: طَلَبْنَا خَمْسًا فَوَجَدْنَاهَا فِى خَمْسٍ: طَلَبْنَا تَرْكَ الذُّنُوْبِ فَوَجَدْنَاهُ فِى صَلَاةِ الضُّحَى، وَطَلَبْنَا ضِيَاءَ الْقُبُوْرِ فَوَجَدْنَاهُ فِى صَلَاةِ اللَّيْلِ، وَطَلَبْنَا جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ فَوَجَدْنَا فِى قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

Dan dari Syaqiq Al-Balkhi sesungguhnya ia berkata: Kami mencari lima perkara kemudian kami menemukan lima perkara itu di dalam lima perkara lain: Kami mencari cara meninggalkan dosa kemudian kami menemukannya di dalam sholat dhuha, dan kami mencari cahaya qubur kemudian kami menemukannya di dalam sholat malam dan kami mencari jawaban munkar dan nakir kemudian kami temukan dalam bacaan quran.

وَطَلَبْنَا عُبُوْرَ الصِّرَاطِ فَوَجَدْنَاهُ فِى الصَّوْمِ وَالصَّدَقَةِ، وَطَلَبْنَا ظِلَّ الْعَرْشِ فَوَجَدْنَاهُ فِى الْخَلْوَةِ.

Dan kami mencari kelancaran melewati sirot kemudian kami menemukannya di dalam puasa dan sedekah dan kami mencari naungan arsy kemudian kami menemukannya dalam berkhalwat.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 23

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: رَأَيْتُ جَمِيْعَ الْأَخِلَّاءِ) أَيْ اَلْأَصْدِقَاءِ (فَلَمْ أَرَ خَلِيْلًا أَفْضَلَ مِنْ حِفْظِ اللِّسَانِ) وَكَمْ بَيْنَ عَبْدٍ سَكَتَ تَصَاوُنًا عَنِ الْكَذِبِ وَالْغِيْبَةِ وَبَيْنَ عَبْدٍ سَكَتَ لِاسْتِيْلَاءِ سُلْطَانِ الْهَيْبَةِ عَلَيْهِ

Maqolah yang ke dua puluh tiga (Telah berkata Umar Radhiallahu Anhu: Aku melihat seluruh teman) Maksudnya teman-teman (Maka aku tidak melihat teman yang lebih utama dari pada menjaga lisan) Dan betapa banyak di antara seorang hamba diam untuk menjaga diri dari kebohongan dan gibah dan betapa banyak di antara seorang hamba diam karena begitu dominannya wibawa pada orang itu.

(وَرَأَيْتُ جَمِيْعَ اللِّبَاسِ فَلَمْ أَرَ لِبَاسًا أَفْضَلَ مِنَ الْوَرَعِ) قَالَ إِبْرَاهِيْمُ بْنُ أَدْهَمَ: اَلْوَرَعُ تَرْكُ كُلِّ شُبْهَةٍ أَمَّا تَرْكُ مَا لَا يَنْفَعُكَ فَهُوَ تَرْكُ الْفُضَلَاتِ. قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ لِأَبِيْ هُرَيْرَةَ: [كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ].

(Dan aku melihat seluruh pakaian maka aku tidak melihat pakaian yang lebih utama dari pada wara') Telah berkata Ibrahim bin Adham: Wara adalah meninggalkan setiap syubhat adapun meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat untukmu maka itu adalah meninggalkan sampah. Telah bersabda Rasulullah ﷺ kepada Abu Huroiroh: [Jadilah engkau bersifat wara maka pasti kau akan menjadi manusia yang paling banyak pahala ibadahnya].

(وَرَأَيْتُ جَمِيْعَ الْمَالِ فَلَمْ أَرَ مَالًا أَفْضَلَ مِنَ الْقَنَاعَةِ) وَهِيَ تَرْكُ التَّطَلَُع إِلَى الْمَفْقُوْدِ وَالْاِسْتِغْنَاء بِالْمَوْجُوْدِ. قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: [كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَگُنْ قَنِعًا تَگُنْ اَشْگَرَ النَّاسِ، واَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَگُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحْسِنْ مُجَاوَرَةَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا، وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ].

(Dan aku melihat seluruh jenis harta maka aku tidak melihat harta yang lebih utama dari qona'ah) Qona'ah adalah meninggalkan dari mengharapkan pada sesuatu yang tidak ada dan merasa cukup pada perkara yang ada. Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Jadilah kamu orang yang wara' maka pasti kamu akan menjadi manusia yang paling banyak pahala ibadahnya dan jadilah kamu orang yang qona'ah maka pasti kamu akan menjadi manusia yang paling bersyukur, dan cintailah olehmu manusia sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri maka pasti kamu akan menjadi orang yang beriman, berbuat baiklah kamu dengan tetangga yang menjadi tetanggamu maka pasti kamu akan menjadi seorang muslim, dan sedikitlah tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa itu dapat mematikan hati].

(وَرَأَيْتُ جَمِيْعَ الْبِرِّ فَلَمْ أَرَ بِرًّا أَفْضَلَ مِنَ النَّصِيْحَةِ) هِيَ الصِّدْقُ فِى الْعَمَلِ اهـ.

(Dan aku melihat seluruh kebaikan maka aku tidak melihat kebaikan yang lebih utama dari ketulusan) Ketulusan adalah jujur dalam beramal.

وَالْبِرُّ نَوْعَانِ: صِلَةٌ وَمَعْرُوْفٌ، فَالصِّلَةُ تَبَرُّعٌ بِبَذْلِ الْمَالِ فِى الْجِهَاتِ الْمَحْمُوْدَةِ لِغَيْرِ عِوَضٍ مَطْلٌوْبٍ. قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ : [جُبِلَتِ الْقُلُوْبُ عَلَى حُبِّ مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْهَا وَبُغْضِ مَنْ أَسَاءَ إِلَيْهَا]. فَفِى الْبِرِّ رِضَا النَّاسِ وَفِى التَّقْوَى رِضَا اللّٰهِ تَعَالَى وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تمَّتْ سَعَادَتُهُ وَعَمَّتْ نِعْمَتُهُ.

Dan kebaikan itu ada dua macam: Silah dan ma'ruf. Silah adalah bersuka rela dengan mengeluarkan harta untuk tujuan yang terpuji tanpa imbalan yang di harapkan. Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Hati diberi sifat untuk mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat jahat padanya]. Maka dalam kebaikan ada keridhoan manusia dan dalam ketakwaan ada keridhoan Allah Ta'ala dan barang siapa yang mengumpulkan keduanya maka benar benar menjadi sempurna kebahagiaannya dan menjadi merata kenikmatannya.

وَالْمَعْرُوْفُ نَوْعَانِ: قَوْلٌ وَعَمَلٌ، فَالْقَوْلُ هُوَ طِيْبُ الْكَلَامِ وَحُسْنُ الْبِشْرِ وَالتَّوَدُّدُ بِجَمِيْلِ الْقَوْلِ، وَالْعَمَلُ هُوَ بَذْلُ الْجَاهِ وَالْإِعَانَةُ بِالنَّفْسِ فِى النَّائِبَةِ.

Dan ma'ruf itu ada dua macam: Ucapan dan Amal. Maka kema'rufan yang berupa ucapan adalah baiknya ucapan dan bagusnya keceriaan wajah dan berusaha dicintai orang lain dengan perkataan yang indah. Dan kema'rufan yang berupa amal adalah mengunakan kedudukannhya dan menolong orang lain dengan nyawa sekalipun dalam bencana.

(وَرَأَيْتُ جَمِيْعَ الْأَطْعِمَةِ فَلَمْ أَرَ طَعَامًا أَلَذَّ مِنَ الصَّبْرِ) وَالصَّبْرُ ثَلَاثَةُ أَرْكَانٍ: حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ السُّخْطِ بِالْقَضَاءِ، وَحَبْسُ اللِّسَانِ عَنِ الْقَوْلِ السَّيْئِ، وَحَبْسُ الْجَوَارِحِ عَنْ نَحْوِ لَطْمٍ وَشَقِّ جَيْبٍ وَصِيَاحٍ وَتَسْوِيْدِ وَجْهٍ وَوَضْعِ نَحْوِ تُرَابٍ عَلَى نَحْوِ رَأْسٍ.

(Dan aku melihat seluruh makanan maka aku tidak melihat makanan yang lebih lezat dari kesabaran) Dan sabar itu ada tiga rukun: menjaga nafsu dari marah pada qodho dan menjaga lisan dari berkata buruk dan menjaga anggota badan dari seumpama memukul dan merobek kerah baju dan menjerit dan menghitam-hitamkan wajah dan meyimpan semisal tanah di atas semisal kepala.

فَمَنْ قَامَ بِهٰذِهِ الْأَرْكَانِ جَازَ فَضِيْلَةَ الصَّبْرِ الَّذِيْ هُوَ نِصْفُ الْإِيْمَان وَصَارَتِ الْبَلِيَّةُ مَحْضَ إِحْسَانٍ.

Maka barang siapa yang mendirikan tiga rukun ini maka dia pasti meraih keutamaan sabar yang keutamaan sabar itu adalah setengah dari keimanan dan pasti sebuah ujian akan menjadi kebaikan yang murni.

ثُمَّ الصَّبْرُ عَلَى أَقْسَامٍ: صَبْرٌ عَلَى مَا هُوَ كَسْبٌ لِلْعَبْدِ، وَصَبْرٌ عَلَى مَا لَيْسَ بِكَسْبٍ. فَالصَّبْرُ عَلَى الْمُكْتَسَبِ عَلَى قِسْمَيْنِ: صَبْرٌ عَلَى مَا أَمَرَ اللّٰهُ تَعَالَى بِهِ وَصَبْرٌ عَلَى مَا نُهِيَ عَنْهُ

Dan sabar itu ada beberapa bagian: Sabar atas sesuatu yang sesuatu itu adalah wilayah ikhtiar untuk seorang hamba. Dan sabar atas sesuatu yang bukan termasuk wilayah ikhtiar hamba. Dan sabar atas wilayah ikhtiar manusia itu ada dua bagian: Sabar atas sesuatu yang telah Allah perintahkan dengannya dan sabar atas sesuatu yang telah dilarang darinya

وَأمَّا الصَّبْرُ عَلَى مَا لَيْسَ بِمُكْتَسَبٍ لِلْعَبْدِ فَصَبْرُهُ عَلَى مُقَاسَاةِ مَا يَتَّصِلُ بِهِ مِنْ حُكْمِ اللهِ فِيْمَا يَنَالُهُ فِيْهِ مَشَقَّةٌ.

Dan adapun sabar atas sesuatu yang bukan termasuk wilayah ikhtiar hamba yakni sabarnya hamba atas kerasnya sesuatu yang menimpa kepadanya dari takdir Allah dalam perkara yang ia peroleh di dalamnya ada kesengsaraan.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 24

(و) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ أَنَّهُ قَالَ: اَلزُّهْدُ خَمْسُ خِصَالٍ) مَحْمُوْدَةٍ (اَلثِّقَةُ بِاللّٰهِ) أَيْ مَعَ حُبِّ الْفَقْرِ كَمَا قَالَهُ عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ الْمُبَارَكِ وَشَقِيْقُ الْبَلَخِيُّ وَيُوْسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ، وَهٰذَا مِنْ أَمَارَاتِ الزُّهْدِ فَإِنَّهُ لَا يَقْوَى الْعَبْدُ عَلَى الزُّهْدِ إِلَّا بِالثِّقَةِ بِاللّٰهِ تَعَالَى

Maqolah yang ke dua puluh empat (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana sesungguhnya mereka berkata: Zuhud itu ada lima perkara) Yang terpuji (Yakin kepada Allah) Maksudnya disertai sikap mencintai kefakiran sebagaimana telah berkata tentangnya Abdullah bin Mubarok dan Syakik Al-Balkhi dan Yusuf bin Asbat, Dan ini termasuk tanda tanda kezuhudan karena sungguh tidaklah kuat seorang hamba untuk zuhud kecuali dengan yakin kepada Allah Ta'ala.

(وَالتَّبَرِّيْ عَنِ الْخَلْقِ) وَهُوَ كَمَا قَالَ أَبُوْ سُلَيْمَانَ الدَّارَانِي: اَلزُّهْدُ تَرْكُ مَا يُشْغِلُ عَنِ اللّٰهِ تَعَالَى (وَالْإِخْلَاصُ فِى الْعَمَلِ) وَهُوَ كَمَا قَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ: لَا يَبْلُغُ أَحَدٌ حَقِيْقَةَ الزُّهْدِ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ ثَلَاثُ خِصَالٍ: عَمَلٌ بِلَا عِلَاقَةٍ، وَقَوْلٌ بِلَا طَمَعٍ، وَعِزٌّ بِلَا رِيَاسَةٍ

(Dan berlepas diri dari makhluk) Yaitu sebagaimana telah berkata Abu Sulaiman Ad-Darani: Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang menyibukkannya dari Allah Ta'ala (Dan Ikhlas dalam beramal) Yaitu sebagaimana telah berkata Yahya bin Mu'ad: Tidaklah seseorang mencapai hakikat zuhud hingga ada dalam dirinya tiga sifat: Amal perbuatan tanpa pamrih dan berucap tanpa toma' dan mulia tanpa menjadi pemimpin.

(وَاحْتِمَالُ الظُّلْمِ). عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [اَلزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيْمِ الْحَلَالِ وَلَا إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلٰكِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا تَكُوْنَ بِمَا فِي يَدِكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِى يَدِ اللّٰهِ وَأَنْ تَكُوْنَ فِى ثَوَابِ الْمُصِيْبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ مِنْكَ فِيْهَا لَوْ أنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ] رَوَاهُ التُّرْمُذِيُّ وَابْنُ مَاجَه عَنْ أَبِى ذَرٍّ.

(Dan menahan kedzoliman) Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Zuhud di dunia itu bukan dengan mengharamkan pada yang halal dan bukan menyia-nyiakan harta akan tetapi zuhud di dunia itu adalah hendaknya kamu tidak terbukti dengan harta yang ada di tanganmu lebih meyakinkan dirimu dari pada harta kekayaan yang ada di tangan Allah dan hendaknya kamu ada dalam meraih pahala musibah ketika kamu tertimpa dengan musibah itu lebih disukai olehmu daripada musibah itu sendiri andai benar-benar musibah itu ditetapkan padamu]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dari Abu Dzar.

(وَالْقَنَاعَةُ بِمَا فِى الْيَدِ) وَهُوَ كَمَا قَالَ الْجُنَيْدُ: اَلزُّهْدُ خُلُوُّ الْقَلْبِ عَمَّا خَلَتْ مِنْهُ الْيَدُ. وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: اَلزُّهْدُ فِى الدُّنْيَا قَصْرُ الْأَمَلِ لَيْسَ بِأَكْلِ الْغَلِيْظِ وَلَا بِلُبْسِ الْعَبَاءِ وَهٰذَا مِنْ أَمَّارَاتِ الزُّهْدِ وَالْأَسْبَابِ الْبَاعِثَةِ عَلَيْهِ فَالزَّاهِدُ لَا يَفْرَحُ بِمَوْجُوْدٍ مِنَ الدُّنْيَا وَلَا يَتَأَسَّفُ عَلَى مَفْقُوْدٍ مِنْهَا .

(Dan Qona'ah atas harta yang ada di tangan) Yaitu sebagaimana Imam Junaid telah berkata: Zuhud adalah kosongnya hati dari perkara yang kosong darinya oleh tangan. Dan Sufyan Ats-Tsauri berkata: Zuhud di dunia adalah memendekkan lamunan bukan dengan memakan makanan yang kasar-kasar dan bukan dengan memakai jubah dan ini hanyalah sebagin dari tanda tanda zuhud dan ini termasuk sebab-sebab yang mendorong pada zuhud. Orang yang zuhud tidak bergembira pada yang ada di dunia dan tidak sedih atas sesuatu yang hilang darinya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 25

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (عَنْ بَعْضِ الْعُبَّادِ أَنَّهُ قَالَ فِى الْمُنَاجَاةِ) فِى اللَّيْلِ (إِلٰهِىْ طُوْلُ الْأَمَلِ غَرَّنِيْأَىْ خَدَعَنِيْ وَقَدْ ذَمَّ اللّٰهُ الْأَمَلَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى [ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ]

Maqolah yang ke dua puluh lima (Dari sebagian dari orang-orang yang ahli beribadah mereka berkata di dalam munajat) Di waktu malam (Wahai tuhanku panjangnya angan-angan telah menipuku) Maksudnya menipuku dan sungguh Allah telah mencela pada panjangnya angan-angan dengan firman Allah Ta'ala [Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan akan melalaikan mereka panjangnya angan-angan, Sehingga kelak mereka akan mengetahui]

(وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِيْ) أَىْ أَوْقَعَنِيْ فِى الْمَهْلَكَةِ، رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [مَنْ أُشْرِبَ قَلْبُهُ حُبَّ الدُّنْيَا اِلْتَاطَ مِنْهَا بِثَلاَبٍ: شَقَاءٍ لاَ يَنْفَ


KITAB NASHOIHUL IBAD BAB 5 MAQALAH 16-20

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 16

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى (بَيْنَ يَدَيِ التَّقْوَى) أَيْ أَمَامَ التَّقْوَى (خَمْسُ عَقَبَاتٍ) أَيْ مَصَاعِدَ (مَنْ جَاوَزَهَا) أَيْ تِلْكَ الْخَمْسَ (نَالَ التَّقْوَى) وَهِيَ: تَرْكُ مُرَادَاتِ النَّفْسِ, وَمُجَانَبَةُ نَهْيِ اللّٰهِ تَعَالَى.

Maqolah yang ke enam belas (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana) Rahimahullahu Ta'ala (Di hadapan takwa) Maksudnya di hadapan takwa (Ada lima rintangan) Maksudnya tanjakan (Barang siapa yang menempuh pada lima rintangan itu) Maksudnya lima tanjakan itu (Maka pasti ia akan memperoleh takwa) Takwa yaitu: Meninggalkan perkara-perkara yang diinginkan oleh nafsu dan menjauhi larangan dari Allah Ta'ala.

(أَوَّلُهَا: اِخْتِيَارُ الشِّدَّةِ) أَيْ الثِّقَلِ (عَلَى النِّعْمَةِ) أَيْ التَّمَتُّعِ.

(Yang pertama dari lima rintangan itu: Adalah memilih kesulitan) Maksudnya beban berat (Di atas kenikmat) Maksudnya kesenangan.

(وَثَانِيْهَا: اِخْتِيَارُ الْجَهْدِ) بِفَتْحِ الْجِيْمِ أَيْ الْمَشَقَّةِ (عَلَى الرَّاحَةِ) أَيْ زَوَالِ التَّعَبِ.

(Dan yang kedua dari lima rintangan itu: Adalah memilih bekerja keras) Lafadz الْجَهْدُ dengan memfathahkan ج Maksudnya bersusah payah (Dari pada bernyaman-nyaman) Maksudnya hilangnya susah payah.

(وَثَالِثُهَا: اِخْتِيَارُ الذِّلِّ) أَيْ الضَّعْفِ (عَلَى الْعِزِّ) أَيْ الْقُوَّةِ وَالْغَلَبَةِ.

(Dan yang ketiga dari lima rintangan itu: Adalah memilih hina) Maksudnya lemah (Di atas kemulyaan) Maksudnya kekuatan dan kemenangan.

(وَرَابِعُهَا: اِخْتِيَارُ السُّكُوْتِ عَلَى الْفُضُوْلِ) وَهُوَ مَا لَا خَيْرَ فِيْهِ مِنَ الْكَلَامِ.

(Dan yang keempat dari lima rintangan itu: Adalah memilih diam dari pada beromong kosong) Beromong kosong adalah sesuatu yang tidak ada kebaikan di dalamnya dari ucapan.

(وَخَامِسُهَا: اِخْتِيَارُ الْمَوْتِ عَلَى الْحَيَاةِ) وَالْمَوْتُ عِنْدَ أَهْلِ اللّٰهِ تَعَالَى قَمْعُ هَوَى النَّفْسِ, فَمَن مَاتَ عَنْ هَوَاهُ فَقَدْ حَيَّى بِهٰذِهِ.

(Dan yang kelima: Adalah memilih mati di atas kehidupan) Dan mati menurut wali Allah adalah hancurnya kesenangan nafsu, Maka barang siapa yang mati dari hawa nafsunya maka benar benar ia telah hidup dalam pengertian ini.

ثُمَّ الْمَوْتُ يَنْقَسِمُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ: مَوْتٌ أَحْمَرُ وَهُوَ مُخَالَفَةُ النَّفْسِ,

Kemudian mati terbagi pada empat bagian: Yang pertama adalah mati merah yaitu menyelisihi nafsu

وَمَوْتٌ أَبْيَضُ وَهُوَ الْجُوْعُ لِأَنَّهُ يُنَوِّرُ الْبَاطِنَ وَيُبَيِّضُ وَجْهَ الْقَلْبِ فَمَنْ مَاتَ شَبْعُهُ حَيِيَتْ فَطَنَتُهُ

Dan yang kedua adalah mati putih yaitu lapar karena sesungguhnya lapar itu dapat menerangi batin dan memutihkan wajah hati. Barang siapa yang mati rasa kenyangnya maka pasti hidup kecerdasannya

وَمَوْتٌ أَخْضَرُ وَهُوَ لُبْسُ الْمُرَقَّعِ مِنَ الْخِرَقِ الْمُلْقَاةِ الَّتِيْ لَا قِيْمَةَ لَهَا لِانْقِطَاعِهِ وَشِدَّتِهِ بِالْقَنَاعَةِ

Dan yang ketiga adalah mati hijau yaitu pakaian bertambal dari serpihan-serpihan yang dibuang yang tidak ada nilai baginya karena sifat zuhudnya dan karena sifat sangatnya pada qona'ah.

وَمَوْتٌ أَسْوَدُ وَهُوَ اِحْتِمَالُ أَذَى الْخَلْقِ وَهُوَ الْفَنَاءُ فِى اللّٰهِ لِشُهُوْدِ الْأَذَى مِنْهُ بِرُؤْيَةِ فَنَاءِ الْأَفْعَالِ فِى فِعْلِ مَحْبُوْبِهِ.

Dan yang keempat adalah mati hitam yaitu menanggung rasa sakit dari makhluk. Makhluk adalah fana menurut Allah karena menyaksikan rasa sakit dari Allah dengan melihat perbuatan-perbuatan fana (makhluk) dalam perbuatan dzat (Allah) yang dicintainya.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 17

(و) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: النَّجْوَى تُحَصِّنُ الْأَسْرَارَ) أَيْ الْمُسَارَرَةُ تَحْفَظُ الْأُمُوْرَ الْمَكْتُوْمَةِ, فَكِتْمَانُ الْأَسْرَارِ أَقْوَى أَسْبَابِ النَّجَاحِ,

Maqolah yang ke tujuh belas (Dari Nabi ﷺ: Berbisik-bisik itu dapat membentengi rahasia-rahasia) Maksudnya berbisik-bisik itu dapat menjaga urusan yang disimpan. Maka menyimpan rahasia-rahasia adalah paling kuatnya sebab kesuksesan.

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [اِسْتَعِيْنُوْا عَلَى الْحَاجَاتِ بِالْكِتْمَانِ فَإِنَّ كُلَّ ذِيْ نِعْمَةٍ مَحْسُوْدٌ].

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesunngguhnya Nabi bersbda: [Minta tolonglah kalian semua atas kebutuhan dengan cara menyembunyikan karena sesungguhnya setiap yang memiliki nikmat akan dihasud].

(وَالصَّدَقَةُ تُحَصِّنُ الْأَمْوَالِ) رُوِيَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: [مَا مِنْ يَوْمٍ غَرَبَتْ فِيْهِ شَمْسُهُ إِلَّا وَمَلكَانِ يُنَادِيَانِ: اَللّٰهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَمُمْسِكًا تَلَفًا وَأُنْزِلَ فِى ذَالِكَ الْقُرْآنُ: فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ٥ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ٦ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ٧] [الليل: الآية ٥-٧]

(Dan sedekah itu akan menjaga harta-harta) Diriwayatkan dari Abu Darda ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: [Tidak ada satu haripun yang mataharinya terbenam di dalamnya melainkan dua malaikat berseru: Ya Allah semoga engkau memberikan kepada orang yang berinfak pengganti dan semoga engkau memberikan kepada orang yang pelit kerusakan. Dan diturunkan Al-Quran dalam makna seperti itu: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, (5) dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, (6) maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (7) ]. [Q.S Al-Lail: Ayat 5-7]

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عنهُمَا: أَيْ مَنْ أَعْطَى فِيْمَا أُمِرَ وَاتَّقَىٰ فِيْمَا حَضَرَ وَصَدَّقَ بِالْخَلَفِ مِنْ عَطَائِهِ فَسَنُهَيِّئُهُ لِلْخَصْلَةِ الَّتِيْ تُؤَدِّي إِلَى رَاحَةٍ.

Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata: Maksudnya orang yang memberikan hartanya pada perkara yang ia telah diperintah dan ia berhati-hati pada harta yang ada dan ia membenarkan pada balasan dari pemberiannya maka kami akan menjadikan ia berseri-seri karena kebiasaan yang mendorong kebiasaan itu pada ketenangan.

(وَالْإِخْلَاصُ يُحَصِّنُ الْأَعْمَالِ) فَأَعْلَى مَرَاتِبِ الْإِخْلَاصِ تَصْفِيَةُ الْعَمَلِ عَنْ مُلَاحَظَةِ الْخَلْقِ بِأَنْ لَا يُرِيْدَ بِعِبَادَتِهِ إِلَّا إِمْتِثَالَ أَمْرِ اللّٰهِ وَالْقِيَامَ بِحَقِّ الْعُبُوْدِيَّةِ دُوْنَ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَيْهِ بِالْمَحَبَّةِ وَالثَّنَاءِ وَالْمَالِ وَنَحْوِ ذَالِكَ.

(Dan Ikhlas itu dapat menjaga amal-amal) Maka paling tingginya tingkatan-tingkatan ikhalas adalah memurnikan amal dari perhatian manusia dengan tidak mengharapkan atas ibadahnya kecuali menjalankan perintah Allah dan mendirikan kewajiban ibadah bukan karena supaya manusia menghapad padanya dengan cinta dan pujian dan harta dan semisal dari itu semua.

وَالْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَعْمَلَ لِلّٰهِ لِيُعْطِيَهُ الْحُظُوْظَ الْأُخْرَوِيَةَ كَالْبُعَادِ عَنِ النَّارِ وَإِدْخَالِهِ الْجَنَّةَ وََتَنْعِيْمِهِ بِأَنْوَاعِ مَلَاذِهَا.

Dan tingkatan yang kedua: Adalah beramal karena Allah supaya Allah memberi kepadanya bagian keakhiratan seperti dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan diberikan kenikmatan kenikmatan dengan berbagai warna kenikmatan surga.

وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَعْمَلَ لِلّٰهِ لِيُعْطِيَهُ حَظًّا دُنْيَوِيًا كَتَوْسِعَةِ الرِّزْقِ وَدَفْعِ الْمُؤْذِيَاتِ وَمَا عَدَا ذَالِكَ رِيَاءُ مَذْمُوْمٍ.

Dan tingkatan ikhlas yang ketiga: Adalah beramal karena Allah supaya Allah memberi kepadanya bagian duniawi seperti diluaskannya rizki dan dicegah dari hal-hal yang menyakitkan. Dan perkara yang selain itu semua adalah ria yang tercela.

(وَالصِّدْقُ) فِى الْمَقَالِ (يُحَصِّنُ الْأَقْوَالَ) فَالْكَاذِبُ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ كَلَامُهُ عِنْدَ اللّٰهِ وَعِنْدَ الْخَلْقِ.

(Dan jujur) Dalam perkataan (Itu dapat membentengi berbagai perkataan) Maka orang yang berbohong itu tidak diterima ucapannya di sisi Allah dan di sisi Makhluk.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا فِى قَوْلِهِ تَعَالَى: [وَلَا تَلْبِسُوْا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ]. [البقرة: الآية ٤٢]. أَيْ لَا تُخَلِّطُوْا الصِّدْقَ بِالْكَذِبِ.

Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata mengenai firman Allah Ta'ala: [Janganlah kalian saling mencampuradukkan kebenaran dengan kebathilan]. [Q.S Al-Baqoroh: Ayat 42]. Maksudnya janganlah kalian mencampuradukkkan kejujuran dengan kedustaan.

وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: اَلْخَرْسُ خَيْرٌ مِنَ الْكَذِبِ وَصِدْقُ اللِّسَانِ أَوَّلُ السَّعَادَةٍ.

Sebagian orang-orang bijaksana berkata: Bisu itu lebih baik daripada bohong dan jujurnya perkataan adalah awal kebahagiaan.

وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: اَلصَّادِقُ مُصَانٌ خَلِيْلٌ وَالْكَاذِبُ مُهَانٌ ذَلِيْلٌ.

Sebagian ulama ahli balaghoh berkata: Orang yang jujur itu dijaga dikasihi dan orang yang berbohong itu terhina lagi rendah

(وَالْمَشُوْرَةُ) فِى الْأُمُوْرِ (تُحَصِّنُ الْآرَاءَ) أَيْ اَلتَّدْبِيْرَاتِ فَالْمَشُوْرَةُ سَبَبُ نَجَاةٍ مِنْ سِهَامِ الظُّلْمِ.

(Musyawarah) di dalam berbagai perkara (Itu dapat membentengi berbagai pendapat) Maksudnya berbagai pemikiran karena musyawarah adalah sebab keselamatan dari berbagai anak panah kedzoliman

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [اَلْمَشُوْرَةُ حِصْنٌ مِنَ النَّدَامَةِ وَأَمَانٌ مِنَ الْمَلَامَةِ].

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnhya Nabi bersabda: [Musyawarah adalah benteng dari penyesalan dan pengaman dari balabencana].

وَقَالَ عَلِيُّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللّٰهُ وَجْهَهُ وَرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: نِعْمَ الْمَوَازِرَةُ الْمُشَاوَرَةُ, وَبِئْسَ الْاِسْتِعْدَادُ الْاِسْتِبْدَادُ.

Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu Waradhiallahu Anhu berkata: sebaik baiknya memberi bantuan itu dengan bermusyawarah dan sejelek jeleknya persiapan adalah semena-mena.

وَالْمَشُوْرَةُ بِسُكُوْنِ الشِّيْنِ وَفَتْحِ الْوَاوِ أَوْ بِضَمِّ الشِّيْنِ وَسُكُوْنِ الْوَاوِ.

Lafadz المشورة itu dengan mensukunkan huruf ش dan memfathahkan huruf و atau dengan mendhommahkan huruf ش dan mensukunkan huruf و.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 18

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنَّ فِي جَمْعِ المَالِ خَمْسَةَ أَشْيَاءَ) مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْمُوْمَةِ

Maqolah yang ke delapan belas (Nabi Alaihis Salam bersabda: Sesungguhnya dalam mengumpulkan harta itu ada lima perkara:) Dari sifat-sifat yang tercela

(اَلْعَنَاءَ) أَيْ اَلذِّلَّةَ وَحُصُوْلَ الْمَشَقَّةِ (فِى جَمْعِهِ) أَيْ اَلْمَالِ

(Susah payah) kehinaan dan hasilnya kesusahan (Dalam mengumpulkannya) Maksudnya harta

(والشُّغْلَ عَنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى بِإِصْلَاحِهِ) أَيْ اَلْمَالِ

(Dan sibuk jauh dari berdzikir kepada Allah Ta'ala karena mengurusnya) Maksudnya harta

(وَالخَوْفَ مِنْ سَالِبِهِ) أَيْ آخِذَهُ بِالْقَهْرِ أَوْ بِالْاِخْتِلَاسِ (وَسَارِقِهِ) أَيْ آخِذِهِ خُفْيَةً

(Dan takut terhadap orang yang mengambilnya) Maksudnya mengambil harta dengan paksaan atau dengan menjambret (Dan terhadap orang yang mencurinya) Maksudnya mengambil harta secara sembunyi-sembunyi

(وَاحْتِمَالَ اسْمِ الْبَخِيْلِ لِنَفْسِهِ وَمُفَارَقَةَ الصَّالِحِينَ مِنْ أَجْلِهِ) أَيْ مِنْ أَجْلِ خِدْمَةِ الْمَالِ

(Dan menanggung julukan orang yang paling pelit untuk dirinnya dan berpisah dengan orang-orang sholeh karena arah arah harta) Maksudnya karena arah-arah berkhidmah pada harta

(وَفِي تَفْرِيْقِهِ) أَيْ اَلْمَالِ بِإِجْرَائِهِ عَلَى سَبِيْلِ الْخَيْرِ (خَمْسَةَ أَشْيَاءَ) مِنَ الصِّفَاتِ الْمَحْمُوْدَةِ

(Dan sesungguhnya dalam membagi-bagikannya) Maksudnya harta dengan membelanjakannya pada jalan kebaikan (Itu ada lima perkara:) Dari sifat-sifat yang terpuji

(رَاحَةَ النَّفْسِ) أَيْ اَلْبَدَنِ (مِنْ) تَعَبِ (طَلَبِهِ) أَيْ اَلْمَالِ

(Tenangnya diri) Maksudnya badan (Dari) Rasa letih (mencari harta) Maksudnya harta

(وَالْفَرَاغَ لِذِكْرِ اللّٰهِ) أَيْ اَلتَّبَتُّلَ إِلَى ذِكْرِ اللّٰهِ تَعَالَى وَالْاِنْقِطَاعِ (مِنْ حِفْظِهِ) أَيْ اَلْمَالِ

(Dan waktu luang untuk berdzikir kepada Allah) Maksudnya sungguh-sungguh beribadah dengan berdzikir kepada Allah Ta'ala dan terputus (Dari menjaganya) Maksudnya harta

(وَالْأَمْنَ) أَيْ عَدَمُ الْخَوْفِ (مِنْ سَالِبِهِ وسَارِقِهِ) وَهُوَ الْآخِذُ مِنْ مَحْرُوْزٍ بِحَافِظٍ أَوْ بِمَكَانٍ بِلَا شُبْهَةٍ

(Dan rasa aman) Maksudnya tidakadanya rasa takut (Pada orang yang mengambil harta dan orang yang mencurinya) سَارِقٌ Adalah orang yang mengambil harta dari harta yang dijaga oleh penjaga atau oleh tempat terpercaya

(وَاكْتِسَابَ اسْمِ الْكَرِيْمِ لِنَفْسِهِ ومُصَاحَبَةَ الصَّالِحِيْنَ لِفِرَاقِهِ) قَالَ بَعْضُ الْفُصَحَاءِ: جُوْدُ الرَّجُلِ يُحَبِّبُهُ إِلَى أَضْدَادِهِ وَبُخْلُهُ يُبَغِّضُهُ إِلَى أَوْلَادِهِ.

(Dan memperoleh julukan orang dermawan untuk dirinya dan bersahabat dengan orang-orang sholeh karena berpisah dari harta) Sebagian dari orang-orang fasih berkata: Baik hatinya seseorang itu menjadi sebab ia dicintai oleh musuh-musuhnya dan pelitnya seseorang itu menjadi sebab dibencinya ia oleh anak-anaknya.

وَقَالَ بَعْضُ الْفُصَحَاءِ: خَيْرُ الْأَمْوَالِ مَا اسْتَرَقَّ حُرًّا وَخَيْرُ الْأَعْمَالِ مَا اسْتَحَقَّ شُكْرًا.

Dan sebagian dari orang-orang fasih berkata: Sebaik-baiknya harta adalah harta yang telah memperbudak orang merdeka dan sebaik-baiknya amal adalah amal yang patut disukuri


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 19

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى: لَا يَجْتَمِعُ فِى هٰذَا الزَّمَانِ لِأَحَدٍ مَالٌ إِلَّا وَعِنْدَهُ خَمْسُ خِصَالٍ) أَيْ صِفَاتٍ مَذْمُوْمَةٍ

Maqolah yang ke sembilan belas (Dari Supyan Ats-Tsauri Rahimahullahu Ta'ala: Tidaklah berkumpul pada masa ini bagi seseorang suatu harta melainkan di sisinya ada lima perkara) Maksudnya sifat-sifat yang tercela

(طُوْلُ الْأَمَلِ) أَيْ تَرَقُّبُ مَا يُسْتَبْعَدُ حُصُوْلُهُ

(Panjang angan-angan) Maksudnya mengharapkan sesuatu yang mustahil hasilnya perkara itu.

(وَحِرْصٌ غَالِبٌ) فَالرَّاغِبُ فِى الدُّنْيَا مَلُوْمٌ وَطَالِبُ فُضُوْلِهَا مَذْمُوْمٌ وَالرَّغْبَةُ إِنَّمَا تُخْتَصُّ بِمَا جَاوَزَ حَدَّ الْحَاجَةِ، وَالْفُضُوْلُ إِنَّمَا يَنْطَلِقُ عَلَى مَا زَادَ عَلَى قَدْرِ الْكِفَايَةِ .

(Keserakahan yang terlalu kuat) Maka orang yang gila pada dunia itu dicela dan orang yang mencari kelebihan-kelebihan dunia itu dicacat dan kesenangan hanyalah dikhususkan atas perkara yang melewati batas kebutuhan dan berlebih lebihan hanyalah digunakan atas perkara yang melebihi pada ukuran kecukupan

قَالَ ﷺ : [لَيْسَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا لِلْآخِرَةِ وَلَا الْآخِرَةَ لِلدُّنْيَا ولٰكِنْ خَيْرُكُمْ مَنْ أَخَذَ مِنْ هٰذِهِ وَهٰذِهِ].

Rasulullah ﷺ bersabda: [Bukanlah yang terbaik di antara kalian orang yang meninggalkan dunia untuk akhirat dan bukanlah yang terbaik di antara kalian orang yang meninggalkan akhirat untuk dunia akan tetapi orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mengambil dari dunia dan dari Akhirat].

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [نِعْمَ الْمَطِيَّةُ الدُّنْيَا فَارْتَحِلُوْهَا تُبَلِّغْكُمُ الْآخِرَةَ].

Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Sebaik-baiknya kendaraan adalah dunia maka berangkatlah kalian dengan dunia yang akan menghantarkan kamu menuju akhirat].

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ کَرَّمَ اللّٰهُ وَجْهَهُ: اَلدُّنْیَا دَارُ صِدْقٍ لِمَنْ صَدَقَهَا وَدَارُ نَجَاةٍ لِمَنْ فَهِمَ عَنْهَا وَدَارُ غِنًى لِمَنْ تَزَوَّدَ مِنْهَا .

Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu berkata: Dunia adalah tempat kebenaran bagi orang yang membenarkannya dan tempat keselamatan bagi orang yang memahami tentang dunia dan tempat kekayaan bagi orang yang menyiapkan bekal darinya.

(وَشُحٌّ شَدِيْدٌ) أَيْ بُخْلٌ مُطَاعٌ (وَقِلَّةُ الْوَرَعِ) أَيْ عَدَمِهِ، فَالْوَرَعُ هُوَ اجْتِنَابُ الشُّبُهَاتِ خَوْفًا مِنَ الْوُقُوْعِ فِى الْمُحَرَّمَاتِ. وَقِيْلَ: هُوَ مُلَازَمَةُ الْأَعْمَالِ الْجَمِيْلَةِ.

(Dan sifat pelit yang sangat) Maksudnya kekikiran yang diikuti (Dan sedikitnya rasa wara') Maksudnya tidak adanya rasa wara'. Wara' adalah menjauhi syubhat-syubhat karena takut terjatuh pada perkara-perkara yang diharamkan. Dan dikatakan: Wara' adalah senantiasa melakukan amal-amal yang baik.

(وَنِسْيَانُ الْآخِرَةِ، قَالَ الْقَائِلُ:

(Dan lupa pada akhirat. Seorang penyair berkata:

إِنَّ لَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ خَلِيْلًا*يَا خَاطِبَ الدُّنْيَا إِلَى نَفْسِهِ
فِي مَوْضِعٍ آخَرَ مِنْهُ بَدِيْلًا*تَسْتَنْكِحُ الْبَعْلَ وَقَدْ وُطِئَتْ
لِقَنْلِهِمْ قَتِيْلًا قَتِيْلًا*مَا أَقْبَلَ الدُّنْيَا لِخُطَابِهَا
يَعْمَلُ فِىْ جِسْمِيْ قَلِيْلًا قَلِيْلًا*إِنِّيْ لَمُغْتَرٌّ وَإنَّ الْبَلَا
نَادَى الْمُنَادِيْ الرَّحِيْلُ الرَّحِيْلًا)*تَزَوَّدُوْا لِلْمَوْتِ زَادًا فَقَدْ
Wahai orang yang melamar dunia untuk dirinya*Sesungguhnya bagi dunia itu setiap hari ada kekasih baru
Dunia meminta dinikahi oleh pria padahal dunia telah dijima*Di tempat yang lain sebagai ganti dari pria itu
Aduhai betapa dunia mudah menerima bagi para pelamarnya*Untuk membunuh mereka semua satu persatu
Sungguh aku benar-benar telah tertipu dan sesungguhnya balai*Telah menjalar dalam tubuhku sedikit demi sedikit
persiapkanlah oleh kalian semua bekal untuk kematian. ،Karena benar-benar*Telah menyeru sang juru penyeru ayo berangkat ayo berangkat

أَيْ اِرْكَبُوْا مَرْكُوْبَكُمْ وَسِيْرُوْا فِى طَرِيْقِ الْآخِرَةِ

Maksudnya naikilah oleh kalian kendaraan kalian dan berjalanlah kalian ke jalan menuju akhirat


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 20

(وَ) الْمَقَالَةُ الْعِشْرُوْنَ (عَنْ حَاتِمِ الْأَصَمِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ أَنَّهُ قَالَ: اَلْعَجَلَةُ) أَيْ اَلْإِسْرَاعُ فِى الْأُمُوْرِ (مِنَ الشَّيْطَانِ إِلَّا فِى خَمْسِ مَوَاضِعَ فَإِنَّهَا) أَيْ اَلْعَجَلَةَ فِيْهَا (مِنْ سُنَنِ رَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ : إِطْعَامُ الضَّيْفِ) بِمَا لَا يَتَكَلَّفُ عِنْدَ الْمُضِيْفِ (إِذَا نَزَلَ) أَيْ اَلضَّيْفُ فِى مَنْزِلِهِ.

Maqolah yang ke dua puluh (Dari Hatim Al-Ashom Rahimahullah sesungguhnya ia berkata: Terburu-buru) Maksudnya tergesa gesa dalam suatu urusan (Itu dari setan kecuali dalam lilma tempat karena sesungguhnya terburu-buru) Maksudnya terburu-buru dalam lima tempat (Itu termasuk sunah sunah Rasulullah ﷺ: Memberi makan tamu) Dengan makanan yang tidak memberatkan bagi tuan rumah (Ketika singgah) Maksudnya tamu ke dalam rumahnya tuan rumah.

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ ﷺ قَالَ: [مَنْ أَظْعَمَ أَخَاهُ المُسْلِمَ شَهْوَتَهُ حَرَّمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى عَلَى النَّارِ] أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ.

Dan dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: [Barang siapa memberi makan kepada saudaranya yang muslim yang menjadi kesenangannya maka Allah mengharamkan padanya masuk neraka] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi.

وَعَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَالَ: [مَنْ أَطْعَمَ أَخَاهُ مِنَ الْخُبْزِ حَتَّى يُشْبِعَهُ وسَقَاهُ مِنَ الْمَاءِ حَتَّى يُرْوِيَهُ بَعُدَ مِنَ النَّارِ سَبْعَ خَنَادِقَ كُلُّ خَنْدَقٍ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ] أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ وَالطَّبْرَانِيُّ وَالْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallahu Anhuma sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: [Barang siapa yang memberi makan saudaranya roti samapi ia mengenyangkannya dan ia memberi minum saudaranya air sampai ia menyegarkannya maka ia menjadi jauh dari neraka tujuh jurang setiap jurangnya itu perjalanan tujuh ratus tahun]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam An-Nasai dan Imam Thabrani dan Imam Hakim dan Imam Al-Baihaqi

(وَتَجْهِيْزُ الْمَيْتِ) بِالْغُسْلِ وَالتَّكْفِيْنِ وَالصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَالدَّفْنِ (إِذَا مَاتَ) يَقِيْنًا.

(Dan mengurus orang mati) Dengan cara memandikan dan mengkafani dan mensholati atasnya dan mengurubkan (Ketika mati) Secara yakin.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ أَوَّلَ مَا يُجَازَى الْمُؤْمِنُ بَعْدَ مَوْتِهِ أَنْ يُغْفَرَ لِجَمِيعِ مَنْ تَبِعَ جَنَازَتَهُ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya perkara yang pertama kali di balas kepada orang mu'min setelah kematiannya adalah diampuni bagi semua orang yang mengikuti jenazahnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِذَا مَاتَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ اسْتَحْيَا اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَذِّبَ مَنْ حَمَلَهُ وَمَنْ تَبِعَهُ ومَنْ صَلَّى عَلَيْهِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: [Ketika mati seorang lelaki dari Ahli surga maka Allah Azza Wajalla malu untuk mengadzab kepada orang yang membawanya dan kepada orang yang mengikutinya dan kepada orang yang mensholati atasnya].Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi

(وَتَزْوِيْجُ الْبِنْتِ إِذَا بَلَغَتْ) عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَالَ: [مَنْ زَوَّجَ بِنْتًا تَوَّجَهُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجَ الْمُلُوكِ] أَخْرَجَهُ ابْنُ شَاهِيْنِ.

(Dan menikahkan anak perempuan ketika telah baligh) Dari Aisyah Radhiallahu Anha Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: [Barang siapa yang menikahkan anak perempuan maka Allah pasti akan memberikan mahkota kepadanya pada hari kiamat dengan mahkota para raja] Telah meriwayatkan pada hadits ini Ibnu Syahin.

(وَقَضَاءُ الدَّيْنِ إِذَا وَجَبَ) كَأَنْ جَاءَ أَجَلُهُ (وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ إِذَا فَرَطَ) بِوَزْنِ قَتَلَ أَيْ تَقَدَّمَ، وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا: [إنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ فِى الْمَجْلِسِ يَقُوْلُ: رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الغَفُورُ مِائَةَ مَرَّةٍ] رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَأَبُوْ دَاوُدَ.

(Dan membayar hutang ketika sudah wajib) Seperti telah datang temponya (Dan bertaubat dari dosa ketika telah melakukannya) Lafadz فَرَطَ dengan wazan قَتَلَ Maksudnya telah berlalu. Dari Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma: [Sungguh kami benar-benar menghitung kepada Rasulullah ﷺ dalam sekali duduk, beliau membaca: Ya Tuhanku, semoga engkau mengampuniku dan semoga engkau menerima taubatku sesungguhnya engkau maha penerima taubat dan maha pengampun, seratus kali.] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dan Imam Abu Daud