MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Kamis, 23 Juli 2026

KAJIAN TENTANG KAROMAH MELIHAT DI DALAM KUBUR PEROKOK AKAN MENGHISAP KEMALUANNYA


Sejak awal abad XI Hijriyah atau sekitar empat ratus tahun yang lalu, rokok dikenal dan membudaya di berbagai belahan dunia Islam. Sejak itulah sampai sekarang hukum rokok gencar dibahas oleh para ulama di berbagai negeri, baik secara kolektif maupun pribadi. Perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hukum rokok tidak dapat dihindari dan berakhir kontroversi. Itulah keragaman pendapat yang merupakan fatwa-fatwa yang selama ini telah banyak terbukukan.

Syahdan; As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain Al-Masyhur (w: 1320 H) (pengarang kitab Bughyah Al-Mustarsyidin) menjelaskan bahwa tembakau sudah dikenal sebagai salah satu dari keburukan yang termasuk dalam hal yang dihalalkan, karena dapat merusak keadaan (jiwa) dan harta. 

التنباك معروف من أقبح الحلال إذ فيه إذهاب الحال والمال، ولا يختار استعماله أكلاً أو سعوطاً أو شرباً لدخانه ذو مروءة من الرجال، وقد أفتى بتحريمه أئمة من أهل الكمال كالقطب سيدنا عبد الله الحداد والعلامة أحمد الهدوان، كما ذكره القطب أحمد بن عمر بن سميط عنهما وغيرهم من أمثالهم، بل أطال في الزجر عنه الحبيب الإمام الحسين ابن الشيخ أبي بكر بن سالم وقال: أخشى على من لم يتب عنه قبل موته أن يموت على سوء الخاتمة والعياذ بالله تعالى. 

"Tembakau itu dikenal sebagai seburuk-buruk perkara halal, karena di dalamnya ada penghilangan keadaan baik dan penghabisan harta. Dan tidaklah pantas orang yang punya muru'ah/kewibawaan dari kalangan laki-laki memilih menggunakannya, baik dengan cara dimakan, dihirup ke hidung, atau diminum asapnya.

Sungguh telah berfatwa tentang haramnya para imam dari kalangan ahli kesempurnaan, seperti Al-Qutb Sayyidina Abdullah Al-Haddad dan Al-Allamah Ahmad Al-Hadwan. 

Sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qutb Ahmad bin Umar bin Sumaith dari keduanya, dan juga yang lainnya yang semisal mereka.

Bahkan Al-Habib Al-Imam Al-Husain bin Syaikh Abu Bakar bin Salim sangat panjang dalam melarangnya dan berkata: "Aku khawatir bagi orang yang tidak bertaubat darinya sebelum mati, bahwa ia akan mati dalam keadaan su'ul khatimah wal 'iyadzu billah".

Tidaklah seorang laki-laki yang memiliki kehormatan dan harga diri memilih untuk menggunakannya (baik dengan cara dimakan, dihirup, maupun dihisap asapnya). Telah ada fatwa pengharaman tembakau dari para imam besar yang sempurna keilmuannya, seperti Al-Quthub Sayyiduna Abdullah Al-Haddad dan Al-‘Allamah Ahmad Al-Hinduan, sebagaimana disebutkan oleh Al-Quthub Ahmad bin Umar bin Sumaiṭ dari keduanya dan juga dari selain mereka yang semisal. Bahkan Al-Habib Al-Imam Al-Husain bin Syaikh Abi Bakar bin Salim sangat keras melarangnya. Ia menjelaskan bahwa: ia khawatir, barang siapa yang tidak bertaubat dari tembakau sebelum wafatnya, maka ia akan mati dalam su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk). (Bughyah Al-Mustarsyidin hal.552).

قال : لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف ، وكل ما يروى فيه من ذلك لا أصل له ، بل مكذوب لحدوثه بعد الألف ، واختلف العلماء فيه حلاً وحرمة ، وألفت فيه التآليف ، وأطال كل في الاستدلال لمدعاه ، والخلاف فيه واقع بين متأخري الأئمة الأربعة ، والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام ، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره ، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً ، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها ، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر ، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه ، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة.

"Beliau berkata: Tidak ada hadits tentang tembakau, dan tidak ada atsar dari seorang pun dari kalangan Salaf. Dan semua yang diriwayatkan tentangnya tidak ada asalnya, bahkan itu dusta karena tembakau muncul setelah tahun 1000 Hijriyah.

Para ulama berbeda pendapat tentangnya antara halal dan haram. Banyak kitab yang dikarang tentangnya, dan masing-masing panjang lebar dalam berdalil untuk pendapatnya. Perselisihan ini terjadi di kalangan ulama muta'akhirin dari 4 mazhab.

Yang tampak adalah: 

1. Jika ada hal yang mengharamkannya secara khusus bagi orang yang membahayakan akal atau badannya, maka haram.  

Sebagaimana madu diharamkan bagi orang yang demam, dan tanah liat bagi orang yang membahayakannya.

2. Terkadang ada keadaan yang membolehkannya, bahkan menjadikannya sunnah.  

Seperti jika digunakan untuk berobat dengan ucapan dokter yang tsiqah, atau dari pengalaman dirinya sendiri bahwa itu obat untuk penyakit yang dideritanya. Sama seperti berobat dengan najis selain khamr murni.

3. Jika kosong dari 'ilal/penyebab di atas, maka hukumnya makruh. Karena adanya khilaf yang kuat tentang haramnya itu menunjukkan kepada kemakruhan." (Bughyah Al-Mustarsyidin hal.552).

Akan tetapi yang lebih dahsyat lagi adalah keterangan terkait karomah Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan yang bisa melihat perokok di dalam kuburnya menghisap kemaluannya,

وكان الحبيب أحمد بن عمر الهندوان يرى ذنوب الناس مكتوبة على جباههم، وقد كشف الله له عن صاحب قبر كان يميز التبّاك، فرآه يمص ذكره بدل قصبة الرشية التي كان يمصها وهو في الدنيا.

ويقال: إنه مر بدار يقال لها: دار آل الصليبية، فجلس عندها يرى المارين في الطريق، فكشف الله له عن بواطنهم، فكان يرى بعضهم على صورة كلب، وبعضهم على صورة خنزير، فدعا الله أن يستر عنه ذلك وكان عظيم الحال، قال الحبيب عبد الله الحداد: إن الله أورثه مقام الصديقية الكبرى. وقال له يوماً: خاطرك بالهندوان، فقيل له: ما يصلح الهندوان إلا الحداد.

وحث – رضي الله عنه – على التبكير للجمعة والغسل لها، وبعد أن ذكر الأحاديث الواردة في فضلها قال:

كان الحبيب عبد الله الحداد لا يترك غسل الجمعة، لا في حضر ولا في سفر، ولا في حر ولا في برد. وكان يقول: ما من سنة سنها النبي ﷺ إلا وأرجو أني قد عملت بها.

وقال – رضي الله عنه –: الشيخ عبد الله باعلوي إذا زار الفقيه.. يندهش ويقول: الصيد كل الصيد في جوف الفراء.

والحبيب عبد الله الحداد قد يطلع إلى التربة ويزور الفقيه فقط، ويقرأ ثلاثاً من الإخلاص والمعوذتين ثم يرتب الفاتحة ويرجع، وربما سئل وقيل له: لماذا لا تكمل الزيارة؟

فقال: الحج عرفة، يعني: إن زيارة الفقيه كافية؛ لأن أرواح البقية حاضرة عنده.

Al-Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan pernah melihat dosa-dosa manusia tertulis di kening mereka. Dan Allah telah menyingkapkan kepadanya tentang penghuni sebuah kubur yang dulu di dunia pekerjaannya menyaring (menghisap) tembakau (merokok). Beliau melihatnya sedang menghisap kemaluannya, sebagai ganti dari pipa rokok yang biasa ia hisap ketika di dunia.

Diceritakan pula: Beliau pernah melewati sebuah rumah yang disebut "Dar Aali Ash-Shalibiyyah" (rumah keluarga Shalibiyah). Lalu beliau duduk di dekatnya sambil memperhatikan orang-orang yang lewat di jalan. Maka Allah menyingkapkan batin mereka kepadanya. Beliau melihat sebagian dari mereka berwujud seperti anjing, dan sebagian lagi berwujud seperti babi. Lalu beliau berdoa kepada Allah agar menutup hal itu darinya. Dan beliau adalah orang yang memiliki kedudukan yang sangat agung.

Al-Habib Abdullah Al-Haddad berkata: "Sesungguhnya Allah mewariskan kepadanya maqam Ash-Shiddiqiyyah Al-Kubra/derajat shiddiqin yang paling tinggi." Dan suatu hari beliau berkata kepadanya: "Hati-hati kamu dengan Al-Hinduan." Maka dikatakan kepadanya: "Tidak ada yang pantas dengan Al-Hinduan kecuali Al-Haddad."

Beliau radhiyallahu 'anhu juga menganjurkan untuk bersegera berangkat ke shalat Jumat dan mandi untuknya. Setelah beliau menyebutkan hadits-hadits yang datang tentang keutamaannya, beliau berkata: Al-Habib Abdullah Al-Haddad tidak pernah meninggalkan mandi Jumat, baik ketika mukim maupun safar, baik di cuaca panas maupun dingin. Dan beliau berkata: "Tidak ada satu sunnah pun yang disunnahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku berharap aku telah mengamalkannya."

Beliau radhiyallahu 'anhu berkata: "Asy-Syaikh Abdullah Ba'Alawi, apabila berziarah kepada Al-Faqih... beliau terkagum dan berkata: 'Buruan yang sesungguhnya ada di dalam bulu." Maksudnya: orang yang paling mulia ada di dalam diri Al-Faqih (Al-Muqaddam).

Dan Al-Habib Abdullah Al-Haddad, terkadang beliau hanya naik ke pekuburan dan berziarah kepada Al-Faqih (Al-Muqaddam) saja (tidak ziarah ke tempat lain). Beliau membaca 3x surat Al-Ikhlas dan Al-Mu'awwidzatain, kemudian menyusun Al-Fatihah lalu pulang.  

Terkadang beliau ditanya dan dikatakan: "Mengapa engkau tidak menyempurnakan ziarahnya?" Maka beliau menjawab: "Haji itu Arafah"  

Maksudnya: "Ziarah kepada Al-Faqih saja sudah cukup, karena ruh-ruh yang lainnya hadir di sisinya." (Tuhfah Al-Ahbab wa Tadzkirah Uli Al-Albab, Umar bin Alawi bi Abi Bakar Al-Kaaf, hal.203). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق 

KAJIAN TENTANG NABI MUHAMMAD TIDAK PERNAH MEMANGGIL AHLUL BAIT DENGAN SEBUTAN SYAIKH


Dalam literatur dan hadits shahih, tidak ditemukan riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ahlul Bait (keluarga beliau) dengan sebutan Syaikh.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak secara khusus menetapkan sebutan Syaikh sebagai gelar eksklusif untuk keturunannya. Istilah Syaikh berasal dari bahasa Arab yang berarti kepala suku, ketua, atau seseorang yang memiliki ilmu dan otoritas tinggi dalam agama. Gelar ini tidak diturunkan berdasarkan garis darah (nasab), melainkan diberikan kepada siapa saja yang memiliki kedalaman ilmu agama. 

Ketika ada kisah yang dicatat dalam kitab dimana Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam memanggil dengan sebutan syaikh kepada seseorang yang selama ini mengaku sebagai dzurriyah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka harus dipertanyakan validitas kisah tersebut.

Sebagaimana ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (memanggil) kepada keluarganya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ ‏:‏ ‏(‏ وأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ ‏)‏ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قُرَيْشًا فَخَصَّ وَعَمَّ فَقَالَ ‏"‏ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ فَإِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا يَا مَعْشَرَ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ فَإِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا يَا مَعْشَرَ بَنِي قُصَىٍّ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ فَإِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا يَا مَعْشَرَ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ فَإِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا إِنَّ لَكِ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلاَلِهَا ‏"‏ ‏.‏

Dari Abu Hurairah: "Ketika (ayat berikut) diturunkan: 'Dan peringatkanlah keluarga dekatmu'. (QS. Asy-Syu'ara : 214), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan (keluarga) Quraisy (memanggil mereka) satu per satu, beliau berkata: 'Wahai orang-orang Quraisy! Tebuslah diri kalian dari api! Aku tidak memiliki kekuasaan untuk mencegah bahaya atau memberikan manfaat kepada kalian di hadapan Allah! Wahai orang-orang Banu 'Abd Manaf! Tebuslah diri kalian dari api! Aku tidak memiliki kekuasaan untuk mencegah bahaya atau memberikan manfaat kepada kalian di hadapan Allah! Wahai orang-orang Banu Qusayy! Tebuslah diri kalian dari api! Aku tidak memiliki kekuasaan untuk mencegah bahaya atau memberikan manfaat kepada kalian! Wahai orang-orang Banu 'Abdul-Muttalib! Tebuslah diri kalian dari api! Aku tidak memiliki kekuasaan untuk mencegah bahaya atau memberikan manfaat kepada kalian! Wahai Fatimah binti Muhammad! Tebuslah dirimu dari api! Aku tidak memiliki kekuasaan untuk mencegah bahaya atau memberikan manfaat kepada kalian di hadapan Allah! Semua yang kalian miliki adalah rahim, dan hubungan kekerabatan yang akan muncul darinya." (HR. Al-Bukhari no.4398 dan At-Tirmidzi no.3185)

Oleh karenanya perlu adanya validasi kisah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil sebutan syaikh kepada seseorang yang mengaku sebagai bagian dari keturunannya sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran dalam kitab karyanya Al-Burqah Al-Musyiqah fi Dzikr Libas Al-Hirqah Al-Aniqah halaman 151-152 tersebut,

نسب آل باعلوي من أول أجدادهم الشيخ الإمام واحد زمانه الذي إذا قال في أي وقت في صلاة أو غيرها ببلدة تريم أو غيرها من البلاد: السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته، سمع في ذلك الوقت كشفا المصطفى ﷺ يقول له: وعليك السلام يا شيخ. شيخنا الإمام الشيخ علي بن علوي، بن محمد بن علوي بن عبد الله بن أحمد بن عيسى بن محمد ابن علي بن جعفر الصادق بن محمد الباقر بن علي زين العابدين بن الحسين بن علي بن أبي طالب كرم الله وجوههم ورضي عنهم، ولعلوي ابن عبد الله بن أحمد بن عيسى بن محمد بن علي بن جعفر أخ اسمه الشيخ جديد بن عبد الله بن أحمد بن عيسى، وهو جد الشيخ الإمام أبي الحسن علي بن محمد بن أحمد بن محمد المكي، جديد بن علي بن محمد بن جديد ابن عبد الله بن أحمد بن عيسى، وجديد بن عبد الله، وعلوي بن عبد الله أخ اسمه الشيخ بصري، وهو جد الشيخ الإمام واحد دهره سالم بن بصري. ولقد أحسن من قال في هذا النسب الفاخر المال:

نسب أضاء عموده في رفعةٍ

كالبدر فيه ترفُعٌ وضياءُ

وتنائل شهدُ المدد بفضلها

والفضل ما شهدت به الأعداء

Nasab keluarga Al-Ba'alawi dari awal leluhur mereka:

Asy-Syaikh Al-Imam, manusia paling utama di zamannya. Yaitu orang yang apabila ia mengucapkan kapan saja, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, di kota Tarim atau di negeri-negeri lain:  

"Assalamu 'alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh" (Keselamatan atasmu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan berkah-Nya)

Maka pada saat itu juga beliau melihat secara kasyaf Nabi Al-Musthafa Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawabnya: "Wa 'alaikas salam ya Syaikh," (Dan atasmu juga keselamatan wahai Syaikh).

Al-Imam Asy-Syaikh Ali bin Alawi, bin Muhammad, bin Alawi, bin Abdullah, bin Ahmad, bin Isa, bin Muhammad, bin Ali, bin Ja'far Ash-Shadiq, bin Muhammad Al-Baqir, bin Ali Zainal Abidin, bin Al-Husain, bin Ali bin Abi Thalib. Semoga Allah memuliakan wajah-wajah mereka dan meridhai mereka.

Dan untuk Alawi bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja'far memiliki seorang saudara bernama: Asy-Syaikh Jadid bin Abdullah bin Ahmad bin Isa. Beliau adalah kakek dari Asy-Syaikh Al-Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Makki Al-Jadid bin Ali, bin Muhammad, bin Jadid, bin Abdullah, bin Ahmad, bin Isa. 

Dan Jadid bin Abdullah serta Alawi bin Abdullah memiliki seorang saudara bernama: Asy-Syaikh Bashri. Beliau adalah kakek dari Asy-Syaikh Al-Imam, manusia paling utama di masanya, Salim bin Bashri.

Dan sungguh indah ucapan orang yang berkata tentang nasab yang mulia ini:

نسب أضاء عموده في رفعةٍ

Sebuah nasab yang tiangnya bercahaya dalam kemuliaan

كالبدر فيه ترفُعٌ وضياءُ

Seperti bulan purnama, di dalamnya ada ketinggian dan ccahaya

وتنائل شهدُ المدد بفضلها

Dan para penolong pun bersaksi atas keutamaannya

والفضل ما شهدت به الأعداء 

Dan seutama-utamanya keutamaan adalah yang disaksikan oleh musuh sekalipun. (Al-Burqah Al-Musyiqah, Syaikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran, hal.151-152). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق 

Sabtu, 18 Juli 2026

KAJIAN TENTANG KAROMAH HABIB ABU BAKAR BIN SALIM AL-IDRUS BISA MENGHIDUPKAN ORANG MATI


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

اَلَمۡ تَرَ اِلَى الَّذِيۡنَ خَرَجُوۡا مِنۡ دِيَارِهِمۡ وَهُمۡ اُلُوۡفٌ حَذَرَ الۡمَوۡتِ فَقَالَ لَهُمُ اللّٰهُ مُوۡتُوۡا ثُمَّ اَحۡيَاھُمۡ​ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَذُوۡ فَضۡلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰـكِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا يَشۡکُرُوۡنَ‏ 

"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka, "Matilah kamu!" Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (QS. Al-Baqarah:  243)

عن ابن عباس: " ألم تر إلى الذين خرجوا من ديارهم وهم ألوف حذر الموت "، قال: كانوا أربعة آلاف خرجوا فرارا من الطاعون, فأماتهم الله, فمر عليهم نبي من الأنبياء, فدعا ربه أن يحييهم حتى يعبدوه, فأحياهم.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang firman Allah: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedangkan mereka beribu-ribu karena takut mati" [QS. Al-Baqarah: 243]. Beliau berkata: "Mereka berjumlah 4000 orang. Mereka keluar melarikan diri dari wabah tha'un. Lalu Allah mematikan mereka. Kemudian lewatlah seorang Nabi (Hizqil; Bani Israil) dari para Nabi di tempat mereka. Maka Nabi itu berdoa kepada Tuhannya agar Dia menghidupkan mereka kembali supaya mereka bisa beribadah kepada-Nya. Lalu Allah menghidupkan mereka." (Tafsir Ath-Thabari)

Syahdan, dikisahkan bahwa Imam Yahya bin Hasan dimana suatu ketika berjalan dengan romobongan dari Tarim, Hadhramaut, Yaman, rombongan tersebut hendak ziarah ke Baitullah al-Haram Makkah kemudian ziarah ke makam Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam perjalanan ke Madinah setelah dari Makkah, seorang rombongannya ada yang meninggal. Kemudian ada yang melapor kepada Imam Yahya bahwa ada anggota rombongan yang meninggal. 

Lalu Imam Yahya datang dan memegang telinga orang tersebut dan berkata: “Hai kamu mau saya ajak ziarah ke jaddana (kakekku) Al-Musthafa Shallallahu 'alaihi wa sallam. Nanti setelah berziarah ke jaddana Al-Musthafa Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mau mati, matilah. Ayo qum biidznillah, hiduplah kembali dengan izin Allah.”

Akhirnya seorang anggota rombongan yang mati itu hidup kembali. Tetapi ketika kembali sampai di Tarim setelah ziarah ke makam Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang tersebut meninggal lagi. 

Itulah asal-usulnya kenapa disebut Bin Yahya, karena mempunyai karamah bisa menghidupkan. Menurut sumber kedua, disebut Yahya itu memang yang memberikan nama adalah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai keterangan Habib Alwi bin Thahir Al-Hadad, Mufti Johor Malaysia bersumber dari NU Online.

Demikian halnya terdapat kisah karomah yang sama dalam menghidupkan orang mati dalam Kitab Syarah Al-Ainiyah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad sebagai berikut,

وذكر العلامة محمد بن عمر بحرق الحضرمي في كتابه [مواهب القدوس في مناقب ابن عبيدروس] عن شيخه العارف بالله محمد بن أحمد باجرفيل الدوعني، أنه قال: اشهدوا أن الشيخ أبا بكر أمير المؤمنين، المالك للحل والعزل، والتولية والعقد، وأنه اليوم خير أهل الأرض ظاهراً وباطناً.

وذكر الشيخ بحرق المذكور، في كتابه المذكور، عن شيخه السيد الإمام الحسين بن الصديق الأهدل اليمني المحدث، أنه قال في الشيخ أبي بكر: لو أشرقت شمسه، لأحرقت الوجود كله. وكان يشير إليه بالقطبية. ونقل الإمام بحرق المذكور عن عمه الشيخ الإمام علي بن أبي بكر، أنه قال فيه: أشهد أنك القطب، وابن القطب، وأنك سوف تسكن عدن، تموت بها، وذلك قبل أن يسكن عدن.

وكان له الكرامات الخارقة، من إحياء الموتى، والاطلاع على الخواطر، وإظهار المعدوم، وإنقاذ الغريق. وبالجملة فيتعسر تدوين أحواله، ومناقبه وكراماته كثيرة. وقصدنا الاختصار في هذا الشرح. فلينظر من الكتب المذكورة، أحواله فيها، مثل كتاب تلميذه بحرق، وكتاب [العقد] لابن أخيه شيخ، وكتاب [النور] للسيد خرد، وغيرها.

ومن كلامه رضي الله عنه: ما خسر صاحب حسن الظن وإن أخطأ، فإنه غير ملوم. حسن الظن الكنز الأكبر، والاسم الأعظم.

Telah menyebutkan Al-‘Allamah Muhammad bin Umar Bahraq Al-Hadhrami dalam kitabnya [Mawahib Al-Quddus fi Manaqib Ibn ‘Ubaidarus] dari gurunya, Al-‘Arif Billah Muhammad bin Ahmad Bajarfail Ad-Du’ani, bahwa beliau berkata: “Saksikanlah bahwa Asy-Syaikh Abu Bakar adalah Amirul Mukminin, yang memiliki hak untuk melepaskan dan mengangkat, untuk melantik dan mengikat perjanjian. Dan sesungguhnya beliau hari ini adalah sebaik-baik penduduk bumi, lahir dan batin.”

Dan telah menyebutkan Asy-Syaikh Bahraq yang telah disebutkan, di dalam kitabnya yang telah disebutkan, dari gurunya As-Sayyid Al-Imam Al-Husain bin Ash-Shiddiq Al-Ahdal Al-Yamani Al-Muhaddits, bahwa beliau berkata tentang Asy-Syaikh Abu Bakar: “Seandainya mataharinya terbit, niscaya akan membakar seluruh alam.” Dan beliau mengisyaratkan kepadanya dengan Al-Quthbiyah/derajat Quthub.

Dan Al-Imam Bahraq yang telah disebutkan menukil dari pamannya, Asy-Syaikh Al-Imam Ali bin Abu Bakar, bahwa beliau berkata tentangnya: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Al-Quthub, dan putra Al-Quthub. Dan sesungguhnya engkau akan tinggal di ‘Adn, dan wafat di sana.” Padahal hal itu dikatakan sebelum beliau tinggal di ‘Adn.

Dan beliau memiliki karamah-karamah yang luar biasa, di antaranya: menghidupkan orang mati, mengetahui apa yang terlintas dalam hati, memunculkan sesuatu yang tidak ada, dan menyelamatkan orang yang tenggelam. Secara global, sulit untuk menuliskan seluruh keadaan, manaqib dan karamahnya, karena sangat banyak. Tujuan kami di sini adalah ringkas dalam syarah ini.  

Maka hendaklah dilihat di kitab-kitab yang telah disebutkan tentang keadaan beliau di dalamnya, seperti:  

1.  Kitab muridnya, Bahraq 

2.  Kitab [Al-‘Aqdu] karya keponakannya, Syaikh 

3.  Kitab [An-Nur] karya As-Sayyid Khard, dan lainnya.

Dan di antara ucapan beliau radhiyallahu ‘anhu: “Tidak akan merugi orang yang berbaik sangka, meskipun ia salah. Karena ia tidak tercela. Berbaik sangka adalah perbendaharaan terbesar, dan Ismul A’zham /nama Allah yang paling agung.” (Syarh Al-Ainiyah, hal. 215). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق

Minggu, 12 Juli 2026

KAJIAN TENTANG JENAZAH YANG MANDI SENDIRI, BENARKAH?





Diberanda sy lewat sebuah video pendek muncul seorang habib yg menjelaskan terkait jenazah yg bisa memandikan dirinya sendiri (mandi sendiri) ada dua ulama berbeda pendapat dalam penjelasannya konon jika dia mengutip perkataan Imam Romli dalam kitabnya adalah diperbolehkan.

Melalui penelusuran sy dapatkan jawaban bahwa perbedaan pendapat Imam Romli tersebut bukan kebolehan jenazah mandi sendiri tetapi jika ada jin yg memandikan jenazah menurut Imam Ibnu Hajar (Al-Haitami) tidak cukup (tidak boleh) dan menurut Imam Romli adalah cukup (boleh)

واختلف في تغسيل الجن، فذهب ابن حجر إلى عدم الاكتفاء بتغسيلهم, وذهب الرملي الى الاكتفاء بذالك.

"Ulama berbeda pendapat tentang jika yang memandikan itu jin, maka Ibnu Hajar berpendapat bahwa tidak cukup dengan memandikan mereka. Sedangkan Ramli berpendapat bahwa itu sudah cukup." ((I'anah Ath-Thalibin juz 2 hal. 952)

Hukum memandikan jenazah adalah Fardhu Kifayah. Jika kita melihat ada jenazah yang dimandikan oleh malaikat maka itu tidak mencukupi dan harus diulang mandinya karena yang diperintahkan adalah kita. Sedangkan jika yang memandikan jenazah adalah jin maka terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar yang berpendapat tidak mencukupi , sedangkan menurut Imam Romli sudah mencukupi.

Menurut Ibnu Qosim jika ada jenazah yang mandi sendiri sebab karomahnya maka sudah mencukupi, tidak bisa dikatakan bahwa yang diperintah dengan wajibnya memandikan adalah selain jenazahnya karena boleh saja bahwa perintah tersebut karena jenazahnya tidak mampu mandi sendiri, maka jika jenazahnya bisa mandi sendiri sebab karomahnya maka itu sudah mencukupi.

(قوله: وإن شاهدنا الملائكة تغسله) غاية لمفهوم ما قبله، أي فلا يسقط عنا الطلب بفعل غيرنا، وإن شاهدنا الملائكة تغسله فلا بد من إعادة غسله.

قال سم: وينبغي في صلاة الملائكة ما قيل في غسلهم إياه، بخلاف التكفين والدفن، فيجزئ من الملائكة. قال: وظاهر أن الحمل كالدفن، بل أولى كما هو ظاهر. اه.

وإنما اكتفى بذلك منهم لأن المقصود الستر والمواراة، وقد حصلا. بخلاف الغسل والصلاة، فإن المقصود منهما التعبد بفعلنا مع النظافة في الغسل. واختلف في تغسيل الجن، فذهب ابن حجر إلى عدم الاكتفاء بتغسيلهم. وذهب الرملي إلى الاكتفاء بذلك.

قال سم: (فرع) لو غسل الميت نفسه كرامة، فهل يكفي؟ لا يبعد أن يكفي. ولا يقال المخاطب بالفرض غيره، لجواز أنه إنما خوطب بذلك غيره لعجزه، فإذا أتى به كرامة كفى. (إعانة الطالبين ج ٢ ص ١٢٤)

"(Perkataanya: Dan jika kita melihat malaikat memandikannya) adalah batasan untuk makna sebelumnya, yaitu tidak gugur kewajiban kita dengan perbuatan orang lain, meskipun kita melihat malaikat memandikannya, tetap harus dimandikan lagi.

Syaikh Sam berkata: Dan dalam shalat malaikat, berlaku apa yang dikatakan tentang memandikan mereka, berbeda dengan mengkafani dan mengkubur, maka itu sudah cukup jika dilakukan oleh malaikat.

Dia berkata: Dan yang jelas, membawa mayit ke kubur seperti mengkubur, bahkan lebih utama.

Dan dia hanya mencukupkan diri dengan itu dari mereka karena tujuan adalah menutupi dan menyembunyikan, dan itu telah tercapai. Berbeda dengan mandi dan shalat, karena tujuan dari keduanya adalah ibadah dengan melakukan kita sendiri beserta kebersihan dalam mandi.

Ulama berbeda pendapat tentang jika yang memandikan itu jin, maka Ibnu Hajar berpendapat bahwa tidak cukup dengan memandikan mereka. Sedangkan Ramli berpendapat bahwa itu sudah cukup.

Syaikh Sam berkata: (Cabang) Jika mayit memandikan dirinya sendiri sebagai karamah, apakah itu cukup? Tidak jauh bahwa itu cukup. Dan tidak dikatakan bahwa yang diperintahkan dengan kewajiban adalah orang lain, karena boleh jadi dia hanya diperintahkan dengan itu karena ketidakmampuannya, maka jika dia melakukannya sebagai karamah, itu sudah cukup." (I'anah Ath-Thalibin juz 2 hal. 951-952)

قال سم : (فرع) لو غسل الميت نفسه كرامة، فهل يكفي؟ لا يبعد أن يكفي. ولا يقال المخاطب بالفرض غيره، لجواز أنه إنما خوطب بذلك غيره لعجزه، فإذا أتى به كرامة كفى. (نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ج ٢ ص ٤٤١)

"Syaikh Sam berkata: (Cabang) Jika mayit memandikan dirinya sendiri sebagai karamah, apakah itu cukup? Tidak jauh bahwa itu cukup. Dan tidak dikatakan bahwa yang diperintahkan dengan kewajiban adalah orang lain, karena boleh jadi dia hanya diperintahkan dengan itu karena ketidakmampuannya, maka jika dia melakukannya sebagai karamah, itu sudah cukup." (Nihayah Al-Muhtaj Ila Syarh Al-Minhaj juz 2 hal.441) Wallahu 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 09 Juli 2026

KAJIAN TENTANG BENARKAH SUFI BA'ALAWI TIDAK BERTAQLID DENGAN MADZAB IMAM SYAFI'I







Kitab Sirah As-Salaf Min Bani 'Alawi Al-Husainiyyin" (سيرة السلف من بني علوي الحسينيين), karya ulama dan sejarawan Hadramaut, Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri. Kitab ini adalah rujukan utama yang mengupas tuntas tentang biografi, jejak langkah, dan sejarah para leluhur Bani Alawi. Untuk lebih mengenal karya ini, berikut adalah diantara penjelasanya bahwa Kaum Alawiyin adalah sufi bermazhab Syafi’i, tetapi mereka tidak bertaqlid kepada Imam Syafi’i dalam segala hal. Bahkan mereka menyelisihi mazhabnya dalam banyak masalah sebagaimana dijelaskan pada halaman 32.

أمَّا المستوى الصوفي: فقد قدَّمنا في الفصل الأول من المحاضرة أنَّ المذهب الصوفي لم يدخل (حضرموت) إلا في أوائل القرن السابع، وذلك أنَّ الشيخ أبا مدين زعيم الصوفية في المغرب أرسل إلى (حضرموت) أحد أذكياء تلاميذه (١)، وأمره أن يتصل بالفقيه المقدَّم بصورة خاصة، وأن يتصل بعلماء آخرين من (حضرموت)، وأرسل معه خرقة التصوف، وهي عبارة عن لباس يُلبسه الشيخ المريد، فإذا لبسه.. صار داخلاً في دائرته، فيحكمه في قيادة نفسه، ويولِّيه أمره.

وقد ألبس الشيخ أبو مدين بالواسطة سيدنا الفقيه ذلك اللباس، ولما رآه شيخه أبو مروان.. غضب عليه، كما

(١) هو الشيخ عبد الرحمن بن محمد المقعد، ولكن عاجلته الوفاة بـ(مكة)، فأوصى الشيخ عبد الله المغربي بأن يذهب إلى الفقيه بـ(حضرموت)، وفعلاً التقى به هناك، وتمَّ له ما أراد أن يعمله مع الفقيه من إلباس وتحكيم كما ذكره.

Adapun tingkatan tasawuf: sungguh telah kami sampaikan pada bab pertama dari ceramah ini bahwa mazhab sufi tidak masuk ke Hadramaut kecuali pada awal abad ke-7 H. 

Hal itu terjadi karena Syekh Abu Madyan,  pemimpin kaum sufi di Maghrib, mengutus salah seorang muridnya yang paling cerdas ke Hadramaut (1), dan memerintahkannya untuk berhubungan secara khusus dengan Al-Faqih Al-Muqaddam, dan juga berhubungan dengan ulama-ulama lain dari Hadramaut.

Beliau juga mengirimkan bersamanya khirqah tasawuf, yaitu sejenis pakaian yang dikenakan oleh seorang syekh kepada muridnya. Jika pakaian itu dikenakan, maka ia telah masuk ke dalam lingkaran tarekatnya. Sang syekh berhak mengatur jiwanya dan memimpin urusannya.

Dan Syekh Abu Madyan telah memakaikan pakaian itu kepada junjungan kita Al-Faqih secara tidak langsung. Ketika gurunya, Abu Marwan, melihat hal itu, ia pun marah kepadanya, sebagaimana...

------------

(1) Dia adalah Syekh Abdurrahman bin Muhammad Al-Mu’qad. Namun kematian menjemputnya di Makkah. Maka ia berwasiat kepada Syekh Abdullah Al-Maghribi agar pergi menemui Al-Faqih di Hadramaut. Dan benar, ia pun bertemu dengannya di sana. Dan terlaksanalah apa yang dikehendaki untuk dilakukan bersama Al-Faqih, yaitu pemakaian khirqah dan pembaiatan kepemimpinan, sebagaimana telah disebutkan. (Siyar As-Salaf min Bani 'Alawi Al-Husainiyin, Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri, Dar Al-Hawi, hal.30)

أنه لم يَرُقْ ذلك أيضًا في عيون بعضٍ من علماء (تريم)؛ لما يخافونه من ضياع آمالهم العظمى التي يأملونها من زعامة وقيادة وإمامة وغيرها في الإمام الفقيه الذي يتلقى بعض معارفه وعلومه عند الشيخ أبي مروان، وهو مقلِّد سلاحه تارة، وواضع سيفه على فخذه تارةً أخرى.

ولكن هؤلاء المتأثِّمين كانوا يظنون أن الطريقة التي سيجري عليها سيدنا الفقيه وأتباعه وسلالته هي طريق صوفية بحتة، ولكن سيدنا الفقيه أرجح عقلًا وأبعد نظرًا من ذلك، فلم يشأ أن تكون له ولا لأتباعه مرتفعات ولا سياحات ولا دروشة ولا طرائق منكرة، ولم يكن من طريقهم أن يقلدوا شيوخهم تقليدًا أعمى فيما لعله يكون مخالفًا للكتاب والسنة، بل إن طريقتهم أو سيرتهم هي: ما يحويه هذا المبدأ السامي الذي تتضمنه هذه العبارة: (الطريقة العلوية، أو سيرة السلف، هي: اتباع الكتاب والسنة، والاقتداء برجال الصدر الأول)، بهذا تصلح كتبهم ومواعظهم ومكاناتهم، كما يُستخرج ذلك من أعمالهم، قال سيدنا الحداد:

والزم كتابَ اللهِ واتبعْ سنَّةً

واعتقِدْ هداكَ اللهُ بالأسلافِ

Bahwa hal itu juga tidak disukai di mata sebagian ulama Tarim, karena mereka khawatir akan sirnanya cita-cita besar mereka berupa kepemimpinan, kedudukan, dan keimamahan dan lainnya pada diri Al-Imam Al-Faqih. Padahal beliau menimba sebagian ilmu dan pengetahuannya dari Syekh Abu Marwan, yang terkadang mengenakan senjatanya, dan terkadang meletakkan pedangnya di atas pahanya.

Namun orang-orang yang dengki ini mengira bahwa jalan yang akan ditempuh oleh junjungan kita Al-Faqih, para pengikutnya, dan keturunannya adalah jalan tasawuf murni. Akan tetapi junjungan kita Al-Faqih memiliki akal yang lebih kuat dan pandangan yang lebih jauh dari itu. Maka beliau tidak ingin ada bagi dirinya dan para pengikutnya hal-hal seperti murtifa’at¹, siyāhāt², darwasyah³, dan thariqah-thariqah yang munkar.  

Dan bukan termasuk jalan mereka untuk bertaqlid buta kepada syekh-syekh mereka dalam hal yang mungkin menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah.  

Bahkan jalan dan sirah mereka adalah apa yang tercakup dalam prinsip yang agung ini, yang terkandung dalam ungkapan berikut:  

"Thariqah Alawiyyah, atau Sirah As-Salaf, adalah: mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan meneladani orang-orang generasi pertama." Dengan inilah kitab-kitab mereka, nasihat-nasihat mereka, dan kedudukan mereka menjadi baik, sebagaimana dapat diambil dari amal-amal mereka.

Berkata junjungan kita Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad:

Berpeganglah pada Kitab Allah dan ikutilah Sunnah

Dan berakidahlah - semoga Allah memberimu petunjuk - dengan akidah As-Salaf. (Siyar As-Salaf min Bani 'Alawi Al-Husainiyin, Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri, Dar Al-Hawi, hal.31)

Catatan Istilah:

1.  Murtifa’at: Kebiasaan sebagian sufi untuk menyendiri di tempat-tempat tinggi/gunung

2.  Siyahat: Pengembaraan/ berkelana tanpa tujuan syar’i

3.  Darwasyah: Gaya hidup sufi ekstrem seperti mengemis, berpakaian compang-camping

وقال الحبيبُ علِيُّ بنُ محمدِ الحبشيِّ ـ المتوفى سنة (١٣٣٣هـ) ـ:

وما بي أعمالٌ خلتْ عن شوائبٍ

وعِلمٌ وأخلاقٌ وكثرةُ أورادِ

فَالعلويون صوفية، إلا أنَّ تصوفهم لم يشغلهم عن إدارة شؤونهم الاجتماعية فضلًا عن العائلية، فهم كمن نُسب إليه التصوف من الصحابة والتابعين.

والعلويون صوفية زهاد، ولكن زهدهم لم يمنعهم من جمع الأموال العائلة من طرقها المشروعة لإنفاقها في إطعام الضيوف وإكرامهم، وفي بناء المساجد والأوقاف عليها، وفي بناء السقايات والبرك، وفي إقامة المطابخ والزوايا، وفي نشر العلم والدعوة إلى الله، وإصلاح ذات البين والتصافي على المحاويج.

والعلويون صوفية شافعية في مذهبهم، ولكنهم لم يقلدوا الشافعي في كل شيء، بل خالفوا مذهبه في كثير من المسائل (١)، وأشعرية في عقائدهم، ولكنهم خالفوا...

----------

(١) كصيغة بيع العهدة، وجواز المخابرة في الأرض، والمأخذة في التخييل.

Dan berkata Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi - wafat tahun 1333 H -:

"Aku tidak memiliki amal-amal yang bersih dari noda, dan tidak pula ilmu, akhlak, dan banyaknya wirid"  

Kaum Alawiyin adalah sufi, hanya saja tasawuf mereka tidak menyibukkan mereka dari mengurus urusan sosial, apalagi urusan keluarga.  

Mereka seperti orang-orang yang dinisbatkan kepadanya tasawuf dari kalangan sahabat dan tabi’in.

Kaum Alawiyin adalah sufi yang zuhud, tetapi zuhud mereka tidak menghalangi mereka untuk mengumpulkan harta keluarga dari jalan-jalan yang halal, untuk dibelanjakan pada: memberi makan tamu dan memuliakan mereka, membangun masjid dan mewakafkannya, membangun tempat air dan kolam, mendirikan dapur umum dan zawiyah, menyebarkan ilmu dan berdakwah kepada Allah, mendamaikan orang yang berselisih, dan membantu orang-orang yang membutuhkan.

Kaum Alawiyin adalah sufi bermazhab Syafi’i, tetapi mereka tidak bertaqlid kepada Imam Syafi’i dalam segala hal. Bahkan mereka menyelisihi mazhabnya dalam banyak masalah (1).  

Dan mereka bermazhab Asy’ari dalam akidah, tetapi mereka juga menyelisihi... (Siyar As-Salaf min Bani 'Alawi Al-Husainiyin, Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri, Dar Al-Hawi, hal.32)

---------

(1) Contohnya: seperti bentuk jual beli ‘uhdah, bolehnya mukhabarah dalam pertanian, dan al-mu’akhkhadzah fit takhyil.

الأشعريُّ في كثيرٍ من المسائل.

منها: اختيارُهم صحَّةَ إيمانِ المقلِّد، ومع إعجابهم بكتب الغزالي وفلسفته الأخلاقية (١)، فلم يقلِّدوه في كلِّ ما يقول تقليدًا أعمى، بل لاحظوا عليه بعض الملاحظات، حتى قال قائلهم: إنَّ في "الإحياء" قولاتٍ لو استطعنا أن نمحوَها بدموعنا أو بماءِ عيوننا.. لفعلنا (٢).

والعلويون صوفيةٌ يحبُّ البعضُ منهم السماعَ (٣)، ولكنَّه السماعُ المعتدلُ الذي ليس فيه غريزةٌ ولا شَرَهٌ محذَّر، كما يُنسب هذا إلى بعض رجال الطرائق الأخرى.

والعلويون صوفيةٌ لا توجد بينهم الخلواتُ ومزاولةُ الرياضات إلا نادرًا، ويجري بدون اجتهادٍ معقول.

-------

(١) كلمة الأخلاقية بها تناسخٌ من حيث القواعد، والصحيح: الخُلُقية، ولكن جرت بالنَّاسخ.

(٢) وقد اكتفوا بكتب الغزالي والوردي وأمثالهما عن التأليف في التصوف والتربية والسلوك، وأشغلوا أوقاتهم بتطبيق ما فيها إلا ما لا يرد من آرائهم.

(٣) هو الغناء مع استعمال بعض الآلات التي لم يُحرِّمها الشرع.

"Al-Asy’ari dalam banyak masalah.

Di antaranya: pilihan mereka tentang sahnya iman orang muqallid¹. 

Dan bersamaan dengan kekaguman mereka kepada kitab-kitab Al-Ghazali dan filsafat akhlaqiyah(1)-nya, mereka tidak bertaqlid buta kepada semua perkataannya.  

Bahkan mereka memberikan beberapa catatan kritis kepadanya, sampai-sampai ada salah seorang dari mereka yang berkata:  

"Sesungguhnya di dalam kitab Ihya’ ada beberapa pernyataan, seandainya kami mampu menghapusnya dengan air mata kami atau dengan air mata kami.. niscaya kami akan melakukannya"(2).

Kaum Alawiyin adalah sufi yang sebagian dari mereka menyukai sama’ [mendengarkan musik](3), tetapi itu adalah sama’ yang sedang-sedang saja, yang tidak ada di dalamnya hawa nafsu dan kerakusan yang tercela, sebagaimana yang dinisbatkan kepada sebagian tokoh thariqah-thariqah lain.

Kaum Alawiyin adalah sufi yang tidak ada di antara mereka khalwat dan latihan-latihan berat kecuali sangat jarang, dan itu pun dilakukan tanpa memberatkan diri secara berlebihan. (Siyar As-Salaf min Bani 'Alawi Al-Husainiyin, Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri, Dar Al-Hawi, hal.33)

----------

(1) Kata al-akhlaqiyah di sini ada kesalahan penulisan dari segi kaidah. Yang benar adalah: al-khuluqiyah. Tetapi sudah umum digunakan oleh para penulis.  

(2) Mereka mencukupkan diri dengan kitab-kitab Al-Ghazali, Al-Wardi dan semisalnya dalam masalah tasawuf, tarbiyah dan suluk. Dan mereka menyibukkan waktu mereka untuk mengamalkan apa yang ada di dalamnya, kecuali pendapat-pendapat mereka yang tertolak.  

(3) Yaitu nyanyian dengan menggunakan sebagian alat musik yang tidak diharamkan syariat.

ولا بقصد تعذيب نفوس، بل لتهذيبها ونفي الرعونة والكدرات والشهوات المستولية عليها.

والعلويون صوفية، ولكن تصوفهم هذا لم يمنعهم من أن يتولى علماؤهم وعظماؤهم المناصب الشرعية من قضاء وفتوى وتدريس، ومن مزاولة الأعمال الاقتصادية من زراعة وتجارة وصناعة لائقة، سواء كان ذلك إدارياً أو مباشرة.

فسيدنا الفقيه المقدم مثلاً ـ الذي يُعدُّ أشهر صوفي علوي أو حضرمي ـ قد لا يتخيل البعض منا أنه يقوم بتعهد نخيله وزروعه، والإشراف على شؤونه البيئية، والاعتناء بضيعه، إلى حد أنه يشتري السمك بنفسه مباشرة من السوق، وقد لا يتخيل أيضاً أن نخيله يُعدُّ بالألوف، وأن ما يكسبه من التمر سنوياً ـ كما في السلسلة العيدروسية ـ هو مبلغ (٣٦٠) زنبلاً؛ أي: جُرَّة يملؤها (١٨٠٠) رطل (١).

----------

(١) يتصدق كل يوم بزنبيل على عدد أيام السنة تقريباً.

"Dan bukan dengan tujuan menyiksa jiwa, tetapi untuk membersihkannya, menghilangkan kebodohan, kotoran hati, dan syahwat yang menguasainya.

Kaum Alawiyin adalah sufi, tetapi tasawuf mereka ini tidak menghalangi ulama dan tokoh-tokoh mereka untuk memangku jabatan-jabatan syar’i seperti menjadi qadhi/hakim, mufti, dan mengajar.  

Dan juga tidak menghalangi mereka untuk menekuni kegiatan ekonomi seperti pertanian, perdagangan, dan industri yang layak, baik secara manajerial maupun terjun langsung.

Maka contohnya junjungan kita Al-Faqih Al-Muqaddam (yang dianggap sebagai sufi Alawi atau Hadrami yang paling terkenal) sebagian dari kita mungkin tidak membayangkan bahwa beliau mengurus sendiri pohon kurmanya dan tanamannya, mengawasi urusan lingkungan, memperhatikan kebunnya, sampai-sampai beliau membeli ikan sendiri langsung dari pasar.

Dan mungkin juga sebagian kita tidak membayangkan bahwa pohon kurmanya berjumlah ribuan. Dan apa yang beliau hasilkan dari kurma setiap tahun sebagaimana disebut dalam As-Silsilah Al-‘Idrusiyah adalah sebanyak 360 zanbil¹.  

Yaitu: satu jurrat yang isinya 1800 liter. (Siyar As-Salaf min Bani 'Alawi Al-Husainiyin, Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri, Dar Al-Hawi, hal.35)

--------

(1) Beliau bersedekah setiap hari satu zanbil, sesuai dengan jumlah hari dalam setahun kurang lebih.

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Rabu, 08 Juli 2026

PEMBELAAN SYAIKH IBRAHIM AL-BAJURI KEPADA PENUNTUT ILMU DARI JAWA ATAS PEMUNGUTAN PAJAK KOLONIAL BELANDA 1816 M

 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐚𝐚𝐧 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡𝐮-𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫, 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐈𝐛𝐫𝐚𝐡𝐢𝐦 𝐚𝐥-𝐁𝐚𝐣𝐮𝐫𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐓𝐡𝐚𝐥𝐢𝐛𝐮-𝐥-'𝐈𝐥𝐦𝐢 𝐚𝐬𝐚𝐥 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐉𝐚𝐰𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐮𝐧𝐠𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐣𝐚𝐤 𝐊𝐨𝐥𝐨𝐧𝐢𝐚𝐥 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟐𝟕𝟔 𝐇/𝟏𝟖𝟔𝟎 𝐌

Dokumen koleksi dari Başbakanlık Osmanlı Arşivi (Arsip Kesultanan Ottoman/Turki di Istanbul). 

Inv. BOA A.MKT.UM. 372/94

𝗗𝗲𝘀𝗸𝗿𝗶𝗽𝘀𝗶 𝗗𝗼𝗸𝘂𝗺𝗲𝗻

Ini adalah surat rekomendasi/syafaat (tazkiyah) yang ditulis oleh ulama besar Mesir, Syaikh Ibrahim al-Bajuri, Syaikhu-l-Azhar masa tahun 1847–1860 M), yang ditujukan kepada Shadru-l-A'zham (Wazir Agung/Perdana Menteri) Kekhalifahan Daulah 'Aliyah Utsmāniyah di Istanbul.

Surat ini ditulis untuk memohon bantuan seorang penuntut ilmu asal Tanah Jawa yang telah lama belajar dan berkeluarga di Makkah dan ingin pulang ke tanah air untuk berdagang namun khawatir ditarik pajak/bea cukai tinggi oleh pemeritah "kaum Nasrani" yang dalam konteks sejarahnya yakni "Pemerintah Kolonial Belanda".

Dalam surat tersebut tidak disebutkan nama dari pria tersebut melainkan hanya ciri-cirinya saja, tidak disebutkan pula nama dari Shadru-l-A'zham-nya, namun jika kita lihat dari petunjuk informasi tahunnya disebutkan tahun 1276 H, maka kemungkinannya antara dua; Mustafa Reşid Pasha atau Mehmed Emin Âli Pasha di masa Sultan Abdülmecid I yang memimpin Kekhalifahan Utsmaniyah dari tahun 1839 hingga 1861 Masehi.

𝗧𝗲𝗸𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗼𝗸𝘂𝗺𝗲𝗻 𝘀𝘂𝗿𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝘂𝘁:

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜

حمدًا لك يا من أمره بين الكاف والنون وشكراً لك (عن؟) أن تدرك وصفه الواصفون والصلاة

Segala puji bagi-Mu, wahai Dzat yang urusan-Nya di antara huruf Kaf dan Nun¹, dan syukur bagi-Mu atas ketidakmampuan para pensifat untuk menggapai sifat-Mu serta shalawat ...

¹ yakni apabila Dia-Nya Allah menghendaki sesuatu, cukup berkata "Kun" / Jadilah!

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜𝗜

والسلام على السر المصون والجوهر المكنون وعلى آله وأصحابه المحفوظين عن الشكوك والظنون

... dan salam semoga tercurah kepada sang rahasia yang terpelihara, permata yang tersembunyi (Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam), juga kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang senantiasa terjaga dari segala keraguan dan prasangka.

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜𝗜𝗜

تحف تحيات نشرها (عميم؟) وأزكى دعوات تتناسق كالدر النظيم نهدي ذلك إلى الذات

(serta) bingkisan penghormatan yang penyebarannya merata serta doa-doa paling suci yang tersusun rapi sebagaimana untaian mutiara, kami persembahkan hal itu kepada pribadi ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜𝗩

السنية صاحب الهمة العلية المحفوظ عن جميع (الفترآ\المضرات؟) اللابس تاج الأمرا(ء) العزيز المفخم

Yang mulia, punya tekad yang tinggi, terjaga dari segala (keburukan/bahaya), mengenakan mahkotanya para Amir (pemimpin) yang mulia ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗩

المكرم صاحبنا العزيز صدر الأعظم حفظه الله تعالى عن جميع البلاء والبليات وحرسه عن

Yang diagungkan, dimuliakan, sahabat kami yang amat perkasa: Wazir Agung (Shadru-l-A’zham), semoga Allah Ta’ala menjaganya dari segala bala dan petaka, serta senantiasa melindunginya dari ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗩𝗜

أعين الحاسدين والباغيات بجاه النبي سيد السادات آمين يا مجيب الدعوات (...)

Matanya orang-orang yang dengki nan zhālim, dengan berkahnya kedudukan Nabi, penghulunya para pemimpin. Amin (Perkenankanlah Wahai Yang Maha Pengabul Segala Doa)

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗩𝗜𝗜

أما بعد ما يليق بالمقام من جزيل التحية وعظيم الإكرام نعلمكم علمكم الله أن هذا

Adapun setelah itu, dengan segala penghormatan yang layak bagi kedudukan yang mulia ini serta pengagungan yang agung, kami memberitahukan kepada Tuan – semoga Allah senantiasa menambahkan ilmu kepadamu – bahwa ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗩𝗜𝗜𝗜

الرجل أتى من مكان بعيد وقد قاسى من التعب الشديد صاحب ديانة وتقوا (ى؟) (و) هو

Ada seorang pria yang datang dari tempat yang jauh dan benar-benar telah mengalami keletihan yang teramat sangat, beliau adalah seorang yang taat beragama lagi bertaqwa, dan beliau (juga) ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗜𝗫

رجل من مملكة أرض الجاوا (ى\ه) وقد جاور في مكة مدة عديدة لطلب العلم وتحصيل الفائدة

... Adalah seorang pria dari kerajaan tanah Jawa (h?), dan ia telah bermukim di Makkah dalam kurun waktu yang lama untuk menuntut ilmu serta mengambil manfaat (dari ilmu tersebut).

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫

وتأهل فيها وحصل العيال من أهلها فالآن أراد أن يرجع إلى بلده ليتجر فيه وتحصيل

Beliau juga telah menikah di sana dan memiliki keluarga (anak - istri) dari penduduk setempat. Dan saat ini, ia hendak kembali ke negerinya untuk berdagang di sana dan mencari ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫𝗜

النفقة لعياله والحال أن البلد تحت حكم النصارى فأراد أن يلتمس من الدولة

... nafkah bagi keluarganya. Sementara situasi kondisi saat ini, negeri tersebut di bawah kekuasaan kaum Nasrani (Kolonial Belanda), maka beliau bermaksud untuk memohon kepada Kesultanan ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫𝗜𝗜

العلية ورقة الفسح على أن النصارى لا يأخذون من مال تجارة العشور(.) هذا

Yang Mulia (Daulah ‘Utsmaniyyah) sebuah surat izin (surat keterangan jalan), agar kiranya Kaum Nasrani (Kolonial Belanda) tidak memungut pajak sepersepuluh (bea cukai( dari harta dagangannya. Demikianlah ...

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫𝗜𝗜𝗜

هو المطلوب والمأمول من الله ومنكم القبول بجاه سيدنا الرسول والزهرا البتول

Yang diminta nan diharapkan, dan dari Allah-lah kemudian dari Anda kami mengharapkan pengabulan, dengan berkah kedudukan junjungan kami, Sang Rasul dan Az-Zahra-l-Batul (Fathimah binti ar-Rasul Sang Putri yang bercahaya dan menjaga kesucian dirinya).

𝗕𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗫𝗜𝗩

آمين يا خير المسئول وصلى الله على خير خلقه محمد وآله وصحبه وسلم

Amin, wahai Sebaik-baik Tempat Meminta. Dan semoga shalawat dan keselamatan dari Allah tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad serta keluarga dan sahabatnya.

الشيخ

إبراهيم الباجوري

خادم العلم

والفقه

بالأزهر

𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉

𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 𝒂𝒍-𝑩𝒂𝒋𝒖𝒓𝒊

𝑲𝒉𝒂𝒅𝒊𝒎𝒖-𝒍-‘𝑰𝒍𝒎𝒊

𝑫𝒂𝒏 𝑭𝒊𝒒𝒉

𝒅𝒊 𝑨𝒍-𝑨𝒛𝒉𝒂𝒓

𝗧𝗲𝗿𝗷𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗻

Segala puji bagi-Mu, wahai Dzat yang urusan-Nya berada di antara Kaf dan Nun (yakni apabila Dia menghendaki sesuatu, cukup berkata "Kun" / Jadilah!), dan rasa syukur ke hadirat-Mu atas ketidakmampuan para makhluk untuk menggambarkan sifat-Mu yang agung. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Sang Rahasia yang Terpelihara dan Permata yang Tersembunyi (Baginda Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam), serta kepada keluarga dan para sahabatnya yang terjaga dari segala keraguan dan prasangka.

Bersama ini, kami hadiahkan bingkisan penghormatan yang amat luas serta doa-doa paling suci yang tersusun indah bagai untaian mutiara, kami persembahkan kepada pribadi yang mulia, pemilik tekad yang tinggi, yang terjaga dari segala marabahaya, yang mengenakan mahkota para pemimpin yang agung, yang dimuliakan dan dihormati, sahabat kami yang perkasa: Shadru-l-A’zham (Wazir Agung/Perdana Menteri Khilafah Utsmaniyah). Semoga Allah Ta'ala senantiasa menjaganya dari segala bala dan petaka, serta melindunginya dari mata orang-orang yang dengki nan zhalim, demi dengan berkahnya kedudukan agung Nabi, penghulu para pemimpin. Amin, Wahai Maha Pengabul Segala Doa.

Jadi, dengan segala penghormatan yang layak bagi kedudukan Tuan yang tinggi dan pengagungan yang mulia, kami memberitahukan kepada Tuan —semoga Allah senantiasa melimpahkan ilmu kepadmu— Ada seorang pria yang datang dari tempat yang jauh dan benar-benar telah mengalami keletihan yang teramat sangat, beliau adalah seorang yang taat beragama lagi bertaqwa, dan beliau (juga) Adalah seorang pria dari kerajaan tanah Jawa (h?), dan ia telah bermukim di Makkah dalam kurun waktu yang lama untuk menuntut ilmu serta mengambil manfaat (dari ilmu tersebut). Beliau juga telah menikah di sana dan memiliki keluarga (anak - istri) dari penduduk setempat. 

Dan saat ini, ia hendak kembali ke negerinya untuk berdagang di sana dan mencari nafkah bagi keluarganya. Sementara situasi kondisi saat ini, negeri tersebut di bawah kekuasaan kaum Nasrani (Kolonial Belanda), maka beliau bermaksud untuk memohon kepada pihak Kesultanan Yang Mulia (Daulah ‘Utsmaniyyah) sebuah surat izin (surat keterangan jalan), agar kiranya Kaum Nasrani (Kolonial Belanda) tidak memungut pajak sepersepuluh (bea cukai( dari harta dagangannya. Demikianlah Yang diminta nan diharapkan, dan dari Allah-lah kemudian dari Tuan kami mengharapkan pengabulan, dengan berkah kedudukan junjungan kami, Sang Rasul dan Az-Zahra-l-Batul (Fathimah binti ar-Rasul Sang Putri yang bercahaya dan menjaga kesucian dirinya).

Amin, Wahai Sebaik-baik Tempat Meminta! Dan semoga shalawat dan keselamatan dari Allah tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad serta keluarga dan sahabatnya.

Syaikh Ibrahim al-Bajuri

Khadimu-l-‘Ilmi dan Fiqh di Al-Azhar 

𝗕𝗶𝗼𝗴𝗿𝗮𝗳𝗶 𝗦𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁

Syaikh Ibrahim al-Bajuri, bernama Burhanuddin, Ibrahim bin Muhammad al-Jizawi bin Ahmad al-Bajuri al-Asy'ariy asy-Syafi'iy an-Naqsyabandiy al-Khalwatiy al-Azhariy. Lahir tahun 1198 H/1784 M di Desa al-Bajur, Provinsi al-Munufiyyah, Mesir. Tarikh wafatnya ada yang mengatakan pada 28 Zulqa'dah 1267 H (1860 M), ada juga yang mengatakan tahun 1277 H/1861 M.

Beliau menjadi Syaikhu-l-Azhar yang ke-19 di usianya yang ke-65 tahun, tepatnya pada bulan Sya'ban 1263 H/Juli 1847 M. Beliau mengajar beberapa pelajaran kepada para murid. Beliau juga melanggengkan mengajar tafsir karya Imam Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Tafsir Al-Kabir hingga jatuh sakit sebab tua yang tidak memungkinkannya untuk melanjutkan pelajaran dan mengurusi semua administrasi Al-Azhar.

Karangannya sangat banyak, lebih kurang ada 12 karya besar dari tahun 1222 H ketika usianya 24 tahun sampai 1238 dan beberapa karya belum rampung sekitar 6 karya. (44 Imam Akbar; Kamus Biografi Ulama Al-Azhar; Mujawirin). Wallahu a'lam 🙏🏻 

Kamis, 02 Juli 2026

EDISI KHUTBAH JUM'AT (MENJADI MANUSIA PENEBAR KASIH SAYANG)

*Khutbah Pertama*   

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيمِ. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ 

*Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah*

Puji syukur Alhamdulillah, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulillah Muhammad Shallallallahu 'alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang setia mengikuti jejak lampahnya hingga akhir zaman.

Sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku khatib untuk senantiasa mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian, agar selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, takwa merupakan sebaik-baiknya bekal dalam menjalani hidup di dunia dan bekal keselamatan menuju akhirat kelak.   

*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah*

Implementasi takwa tidak hanya terwujud dalam ritual ibadah saja, seperti shalat, puasa, dan lainnya. Tetapi juga harus terwujud dalam keseharian kita, mulai dari cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Karenanya, seorang Muslim yang bertakwa bukanlah mereka yang hanya rajin beribadah saja, tetapi juga yang kehadirannya membawa ketenangan dan kenyamanan bagi lingkungan sekitarnya.   

Inilah salah satu visi misi besar diutusnya Nabi Muhammad saw, yaitu untuk membawa ketenangan atau rahmat bagi seluruh alam semesta, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ    

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’, [21]: 107).

Dalam menafsirkan ayat di atas, Ibnu Abbas sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Baghawi, mengatakan bahwa diutusnya Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta bersifat umum, mencakup seluruh makhluk tanpa terkecuali, baik bagi mereka yang beriman pada ajaran yang dibawa olehnya maupun yang belum beriman.   

Dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’anil Azim, jilid V, halaman 359 dijelaskan,  

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُوَ عَامٌ فِي حَقِّ مَنْ آمَنَ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ   

“Ibnu Abbas berkata: ‘Rahmat itu bersifat umum, berlaku bagi siapa saja yang beriman maupun tidak beriman sekali pun.”   

*Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah*

Lantas, bagaimana cara kita menjadi muslim yang menenangkan dan tidak meresahkan? Setidaknya ada beberapa cara yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari.   

*Pertama,* dengan senantiasa menjaga lisan agar ucapan-ucapan yang keluar tidak menyakiti orang lain. Sebab lisan adalah bagian kecil dari anggota tubuh yang memiliki dampak sangat besar. Dengan lisan, kita bisa menyejukkan dan menenangkan hati orang lain, tetapi dengan lisan pula kita bisa melukai perasaan mereka, bisa memecah belah persaudaraan, bahkan menghancurkan rumah tangga. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab : 70-71)

Tidak hanya menjaga lisan, tetapi juga senantiasa menjaga tangan dari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain, termasuk ketika bermedia sosial, karena apa yang kita ketik, kita bagikan, dan kita komentari juga merupakan bagian dari tindakan yang perlu kita jaga agar tidak menyakiti orang lain. Sebab itu, Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ   

“Seorang muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).   

*Kedua,* senantiasa berusaha menjadi muslim yang penyayang. Caranya adalah dengan menjadi pribadi yang mudah memaafkan, ringan tangan untuk menolong, serta peduli terhadap keadaan orang lain. Sehingga dengan senantiasa melakukan perbuatan mulia tersebut, kita tidak akan senang melihat orang lain menderita, apalagi menjadi penyebab penderitaan tersebut.

Sikap penyayang inilah yang menjadi salah satu inti dari ajaran Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu haditsnya, yaitu,  

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ! ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Pengasih! Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidzi).   

*Ketiga,* senantiasa berusaha menahan amarah dan memperbanyak bersabar. Ini sangat penting untuk kita perhatikan bersama, karena marah dapat menjadi penyebab munculnya tindakan-tindakan meresahkan. Misalnya, seseorang ketika marah akan mudah kehilangan kendali, mengucapkan kata-kata kotor, hingga melakukan tindakan yang akan disesali di kemudian hari. Maka menjadi manusia yang menenangkan berarti kita harus mampu mengendalikan emosi, menahan amarah, serta menyikapi setiap persoalan dengan kepala dingin dan penuh kesabaran. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ   

“Orang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat, tetapi ia yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari & Muslim).   

*Ma’asyiral Muslimin rahimahullah* 

Demikianlah khutbah Jumat pada hari ini. Mari kita semua berusaha meneladani akhlak Rasulullah dengan menjadi muslim yang kehadirannya membawa ketenangan bukan keresahan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing kita agar mampu menjaga lisan, perbuatan, dan seluruh sikap kita, agar kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Amin ya Rabbal 'alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

*Khutbah Kedua*   

الحَمْدُ للهِ حَمْدًا كثيرا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: 

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ