MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Selasa, 30 Juni 2026

KAJIAN TENTANG KAROMAH BISA MELIHAT RASULULLAH SAW SECARA LANGSUNG/TERJAGA


Dalam tradisi Islam, isu tentang bertemu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sadar atau terjaga (yaqdzah) merupakan salah satu perdebatan yang terus berlangsung. Masalah ini bukanlah perkara hukum yang wajib diimani, melainkan pengalaman spiritual yang diperdebatkan oleh para ulama.

Tersebutlah nama Seorang Syaikhah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi adalah salah satu tokoh perempuan shalehah dan waliyullah yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Beliau merupakan ibu dari ulama besar dan waliyullah Syeikh Abu Bakar As-Sakran, serta nenek moyang dari keluarga besar Ba'lawi.

Beliau lahir di perkampungan Al-Urra, Hadramaut, dari keluarga Az-Zubaidi yang berasal dari kabilah Bani Haritsah Al-Kindiah, suku yang terkenal dengan keberanian dan kekuatan.

Diceritakan oleh Al Imam Al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi (Shahibul Maulid), bahwanya di Yaman ada seorang wali agung perempuan yang bernama Syeikhah Sulthanah Radhiallahu ‘Anha. Beliau memiliki gelar Rabia‘atul Adawiyahnya Yaman Hadramaut. Pekerjaan beliau ini setiap waktunya bahkan setiap hembusan nafasnya selalu bershalawat kepada Baginda Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam. Dan lebih hebatnya lagi, beliau ini tiada pekerjaan lain selain shalawat, kecuali di saat waktu shalat tiba.

Pada suatu ketika beliau mendapat suara ghaib, yang meminta beliau untuk minta apa saja, dan permintaan tersebut pasti dikabulkan. Namun beliau sebagai seorang ahli tashawwuf yang mursyid, jadi beliau tidak langsung mengucapkan permintaannya. Beliau menemui Guru beliau dari keluarga Baqushair, dan menanyakan kepada Guru beliau "Apakah ada di dunia ini ada maqam kewalian yang tidak ada lagi maqam sesudahnya ??" Jawab Guru beliau : "Ada, yakni bertemu secara terjaga dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam." Kemudian Syeikhah Sulthanah meminta agar dipertemukan secara terjaga dengan Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seketika itu juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada di hadapan beliau.

Pada zaman beliau banyak orang-orang titip salam kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lewat beliau, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam titip menasihati kepada Syaikhah Sulthanah untuk orang-orang sekitarnya. Adapun kisah dimaksud sebagaimana diterangkan dalam sebuah kitab sebagai berikut,

قالوا إن الشيخة سلطانة بنت علي الزبيدي لازمت ذكر الحبيب ﷺ وصارت تلهج به حتى وصلت بسببه إلى مقام شريف وهو مقام المكالمة، فسمعت النداء من الحق يقول لها في سرها: يا سلطانة اطلبي ما تريدين، فرحلت إلى قُسْمٍ إلى عند الشيخ محمد بن حكم باقشير (٢) وأخبرته بذلك وقالت له: أبغي رتبة عظيمة وليس فوقها شيء من المراتب. فقال لها: إن رؤية الحبيب ﷺ ما فوقها شيء من المراتب، فقالت: يا رب أبغي الاجتماع بالنبي ﷺ يقظة فأعطاها الله ذلك حتى إنه يأتي إليها الآتي من أهل عصرها ويقول لها: قولي للنبي ﷺ كذا وكذا. فيأتي إليها النبي ويخبره بذلك فيقول لها: قولي له يفعل كذا وكذا أو لا يفعله. 

Mereka berkata: Sesungguhnya Asy-Syaikhah Sulthanah binti Ali Az-Zubaidi melazimi dzikir kepada Al-Habib (Nabi) Shallallahu 'alaihi wa sallam dan terus berdzikir dengannya sampai dengan sebab itu dia sampai ke maqam syarif (mulia), yaitu maqam Al-Mukalamah (diajak bicara langsung oleh Allah).

Maka dia mendengar seruan dari Al-Haq yang berkata kepadanya dalam sirnya: "Wahai Sulthanah, mintalah apa yang engkau inginkan". 

Lalu dia pergi ke Qism ke tempat Asy-Syaikh Muhammad bin Hakim Baqasyir dan mengabarkannya tentang itu. Dan dia berkata kepadanya: "Aku menginginkan kedudukan yang agung dan tidak ada di atasnya kedudukan apapun". 

Maka beliau berkata kepadanya: "Sesungguhnya melihat Al-Habib (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada di atasnya kedudukan apapun dari kedudukan-kedudukan". 

Maka dia berkata: "Wahai Rabb, aku menginginkan pertemuan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sadar/yaqzhah". 

Maka Allah memberinya hal itu, sampai-sampai ada orang yang datang kepadanya dari penduduk masanya dan berkata kepadanya: "Katakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam begini dan begitu". 

Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepadanya dan dia memberitahukannya hal itu. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: "Katakan kepadanya, lakukan begini dan begini, atau jangan dia lakukan". (Kunuz As-Sa'dah Al-Abadiyah, Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, hal.199). 

Singkatnya, bahwa mengaku bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan sadar bukan merupakan kemusyrikan. Tetapi itu merupakan keyakinan yang tidak benar, dan bisa menyebabkan kesesatan dan kemusyrikan.

Yaitu jika seseorang mengaku bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, kemudian, dia mendapatkan amalan-amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, lalu dia meyakini kebenarannya dan mengamalkannya, maka itu merupakan kesesatan. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Senin, 29 Juni 2026

KAJIAN TENTANG WAFATNYA ABU THALIB SEBAGAI SEORANG MUKMIN SESUAI PETUNJUK MIMPI




Mengenai status keimanan Abu Thalib sendiri ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat Abu Thalib wafat dalam keadaan tidak beriman karena sampai detik terakhir kewafatan tidak mengucapkan kalimat syahadat. Sesuai riwayat hadits Abu Thalib tetap berpegang pada agama Abdul Muthalib. Sebagaimana riwayat yang shahih sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ « أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَالاَ يُكَلِّمَانِهِ حَتَّى قَالَ آخِرَ شَىْءٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ . فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم « لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ » . فَنَزَلَتْ ( مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِى قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ) وَنَزَلَتْ ( إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ)

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah shallallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu,

“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muththalib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muththalib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan : “Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Kemudian turunlah ayat,

“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” (QS. Al-Qashshash: 56) (HR. Bukhari, no. 3884 dan Muslim, no. 24)

Dari ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ

“Apa manfaat yang engkau berikan kepada pamanmu (Abu Thalib) karena dia dulu telah membelamu dan marah demi mendukungmu?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هُوَ فِى ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِى الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Ia berada di tempat yang dangkal (tidak berada di bagian dasar) dari neraka. Seandainya bukan karena aku niscaya ia berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka.” (HR. Bukhari, no. 3883 dan Muslim, no. 209)

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib. Dia memakai dua sandal (dari api) hingga mendidih otaknya (karena panasnya kedua sandal itu).”(HR. Muslim, no. 213)

Namun ada juga yang meyakini bahwa wafatnya Abu Thalib dalam keadaan beriman kepada Allah Ta'ala sesuai pengakuannya sendiri saat berdialog dengan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar dalam mimpinya sesuai keterangan berikut,

ورأيت سيدي علي بن أبي طالب كرم الله وجهه، وحصلت بيني وبينه مذاكرة ومباحثة طويلة، ومن جملتها أني قلت له: إن السيدة فاطمة، اختلف أهل العلم في دفنها، هل كان في الحجرة أو في البقيع؟ فقال لي: إنها في البقيع، وأنا دفنتها بنفسي في الليل، ثم قلت له: وكذلك أبو طالب اختلف العلماء فيه، هل مات على الإيمان أم لا؟ وأنت داري بالأشياء، فقال: مات على الإيمان، والحمد لله على ذلك، قال سيدي رضي الله عنه: وقد سمعت السيد أحمد دحلان في الحلقة يقول: إن الذي ندين الله به، أن أبا طالب مات على الإيمان، والذي قال بإيمانه أربعة عشر حافظًا، قال سيدي: ونحن والحمد لله، معنا شيء زائد على الناس؛ لأن علمنا ليس ملتقطًا من الحروف، ولا من الكتب التي في الرفوف، بل متلقى من معدنه ومن أهله، وبعض الناس لما لم يعجبهم حق السلف خلّفوه". (تذكر الناس ص ٢٢٣-٢٢٤)

وفي هذا النص تصريح واضح من أحد كبارهم في عدم التعويل على الكتب المعتمدة على علوم الشرع، وإنما الاعتماد على الأحلام والرؤى بما تحمله من مخالفات شرعية، ويزعمون كذلك أن تلك المخالفات متلقاة من المعدن ومن أهل العلم، في أي معدن يقصدون، ومن هم أهل هذا المعدن الذين اتبع القوم سبيلهم؟ فالمعدن وأهله هو السبل الشيطانية التي قادتهم للانحراف عن مصادر المسلمين وهما الكتاب والسنة، وأردتهم في مهاوي الردى فتلقفوا من غيرهما فانحرفوا عن سواء السبيل.

"Dan aku (Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar)  melihat junjunganku Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu (karamallahu wajhah), lalu terjadilah antara aku dan beliau mudzakarah dan diskusi yang panjang. Dan di antaranya aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Sayyidah Fathimah, para ulama berselisih tentang pemakamannya, apakah di Hujrah atau di Baqi'? Maka beliau berkata kepadaku: Sesungguhnya beliau di Baqi', dan aku sendiri yang menguburkannya di malam hari. 

Kemudian aku berkata kepadanya: Demikian pula Abu Thalib, para ulama berselisih tentangnya, apakah dia wafat di atas keimanan atau tidak? Dan engkau mengetahui perkara-perkara. Maka beliau berkata: Dia wafat di atas keimanan, dan segala puji bagi Allah atas itu. 

Berkata sayyidku (semoga Allah meridhainya): Dan aku telah mendengar As-Sayyid Ahmad Dahlan di halaqah berkata: Sesungguhnya yang kami beragama kepada Allah dengannya adalah, bahwa Abu Thalib wafat di atas keimanan. Dan yang berkata dengan keimanannya ada 14 orang hafizh.

Berkata sayyidku: Dan kami, Alhamdulillah, memiliki sesuatu yang lebih dari manusia; karena ilmu kami tidak dipungut dari huruf-huruf, dan tidak dari kitab-kitab yang ada di rak, akan tetapi diambil langsung dari sumbernya dan dari ahlinya. Dan sebagian orang, tatkala kebenaran salaf tidak membuat mereka senang, maka mereka menyelisihinya". (Tadzkirus Naas hal.223-224)

Dan dalam teks ini ada pernyataan jelas dari salah seorang tokoh besar mereka tentang tidak berpegang pada kitab-kitab mu'tabar yang bersumber dari ilmu syariat, akan tetapi berpegang pada mimpi dan ru'ya yang membawa pelanggaran-pelanggaran syariat. Dan mereka menyangka pula bahwa pelanggaran-pelanggaran itu diambil dari "sumbernya dan ahlinya". Sumber apa yang mereka maksud, dan siapa "ahli sumber" yang mereka ikuti jalannya? Maka "sumber dan ahlinya" itu adalah jalan-jalan setan yang menuntun mereka menyimpang dari sumber kaum muslimin yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan menjerumuskan mereka ke jurang kebinasaan, lalu mereka mengambil dari selain keduanya maka mereka menyimpang dari jalan yang lurus." (Ash-Shufiyah fi Hadhramaut, Amin bin Ahmad bin Abdullah As-Sa'di, cet. Jami' Al-Huquq Mahfuzhah, cet.pertama 2008 M/1429 H. hal.312). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG KISAH PERNIKAHAN DI ALAM KUBUR DALAM "KITAB TADZKIRUN NAAS"



Kitab Tadzkir An-Nas (atau Tadzkirunnas) adalah kumpulan kalam nasihat, serta hikmah karya Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas. Di dalamnya banyak menyajikan kisah-kisah di luar nalar (khariqul 'adah) yang jika dicerna tanpa ilmu dan pemahaman dapat menghipnotis pembacanya percaya pada hal-hal khurafat dianggap sebagai karomah.

Kitab Tadzkirun Nas, ada sejumlah konten yang saya kuatirkan membentuk alam pikir yang mundur, memuja karomah secara salah, dan mengelu-elukan wali secara tidak proporsional.

Kisah-kisah seperti ini lebih dekat dengan khurofat dan bisa merusak pemahaman tentang karomah yang tidak proporsional. Karomah itu haqq, tapi dalam menerima berita karomah harus super hati-hati, agar tidak tercampur mana yang dongeng dan mana kejadian asli. Berita semacam itu harus dicek dengan level ketelitian seperti menyaring hadits. Sebagaimana kisah-kisah berikut,

وبلغنا أن الحبيب صالح بن عبد الله العطاس وعظ أناسا ، وحثّهم على الصلاة، وقال لهم: إن الذي يصلي لا تحرقه النار، وكانت هناك قهوة تُطبخ على النار فرفعها، وجلس محلها فوق النار، ولم تحرقه، يريهم عيِّانًا أن المصلي لا تحرقه النار. وجاء إلى مرة أحد من صلحاء البرزخ ثم لما أراد الخروج أُخذت به إلى ناحية بيت مقابل الباب الذي يريد أن يخرج منه، فقال لي: إن أهل هذا البيت يتهاونون بالصلاة، وإن المكان الذي يتهاون أهله بالصلاة لا يقدر أهل البرزخ أن يمروا حوله، فأخذت به إلى جهة أخرى، فبسط جناحيه، وطار في الهواء.

Dan sampai kepada kami bahwa Al-Habib Shalih bin Abdullah Al-Athas pernah menasihati beberapa orang, dan mendorong mereka untuk shalat. Beliau berkata kepada mereka: "Sesungguhnya orang yang shalat, api tidak akan membakarnya".

Dan di situ ada kopi yang sedang dimasak di atas api. Lalu beliau mengangkatnya, dan duduk di tempatnya tepat di atas api, dan beliau tidak terbakar. Beliau memperlihatkan secara nyata kepada mereka bahwa orang yang shalat, api tidak akan membakarnya.

Dan pernah suatu ketika datang salah seorang dari orang-orang shalih alam Barzakh Kemudian ketika dia hendak keluar, dia dibawa ke arah rumah yang berseberangan dengan pintu yang ingin dia lalui. Maka dia berkata kepadaku: "Sesungguhnya penghuni rumah ini meremehkan shalat. Dan sesungguhnya tempat yang penghuninya meremehkan shalat, maka penduduk Alam Barzakh tidak mampu lewat di sekitarnya".

Lalu dia membawaku ke arah lain, lalu dia membentangkan kedua sayapnya, dan terbang di udara." (Kitab Tadzkir An-Nas, Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, Zawiyah Al-Idrus Al-Ilmiah, Tarim, hal.98)

ورأيت امرأةً شريفةً بعد ما ماتت، وسألناها فقالت: إني قد حفظت نصف القرآن، وقد آتاني بعض الناس، وقال لي: أنك رأيت الشيخ أبا بكر بن سالم، وقال إن هذا عرس هذه الأيام، لأبنى فلان، على بنتى فلانة.

وقد وقع لي مثل هذا، وهو أنه مات بعض السادة عندنا، فخرجت إلى المسجد لحضور الصلاة عليه، فتوضأت وصليت ركعتين، فأعتراني ثِقَلٌ، ولم أقدر على الحركة، وأخذتني سِنةٌ، فدخل عليَّ ذلك السيد ومعه شريفة كانت ماتت قبله، فقلت لهما: ما شأن هذا الاختلاط؟ فقال إنها لي، وهي زوجتي في البرزخ.

Dan aku melihat seorang wanita yang mulia setelah dia wafat. Lalu kami bertanya kepadanya, maka dia berkata: "Sesungguhnya aku telah menghafal setengah Al-Qur'an. Dan sebagian orang telah mendatangiku dan berkata kepadaku: Sesungguhnya engkau telah melihat Asy-Syaikh Abu Bakar bin Salim, dan dia berkata: Sesungguhnya ini adalah pernikahan pada hari-hari ini, untuk anakku fulan, dengan putri fulanah".

Dan hal serupa pernah terjadi padaku, yaitu: wafatlah sebagian dari para sadah di daerah kami. Maka aku keluar ke masjid untuk menghadiri shalat jenazahnya. Lalu aku berwudhu dan shalat 2 rakaat. Maka datanglah rasa berat padaku, dan aku tidak mampu bergerak. Lalu kantuk menguasaiku. Maka masuklah kepadaku sayyid itu bersama seorang wanita mulia yang telah wafat sebelum dia. Maka aku berkata kepada keduanya: "Apa urusan pertemuan khalwat ini?" Maka dia berkata: "Dia adalah milikku, dan dia adalah istriku di alam barzakh". (Kitab Tadzkir An-Nas, Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, Zawiyah Al-Idrus Al-Ilmiah, Tarim, hal.197). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG SYAFAAT WALI MENYAMAI SYAFAAT NABI MUHAMMAD SAW, BENARKAH?



Dalam ajaran Islam, seorang wali atau orang saleh tidak bisa memberikan syafaat (pertolongan di akhirat) kepada orang non-muslim. Syafaat di akhirat hanya berlaku bagi mereka yang meninggal dalam keadaan beriman dan bertauhid (mengesakan Allah). Syafaat sepenuhnya adalah milik Allah dan hanya diberikan kepada orang-orang yang diridai-Nya. Para nabi, wali, atau syuhada hanya bisa memberikan syafaat jika telah diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Syafaat terbesar di akhirat (syafa'atul 'uzma) adalah milik Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diberikan untuk memberikan keringanan dan pertolongan, namun tetap dikhususkan bagi umatnya yang beriman dan pelaku dosa besar yang belum sempat bertaubat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْـوَةٌ مُسْـتَجَابَةٌ فَتَعَجَّـلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَـهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْـوَتِى شَــفَاعَةً لأُمَّـتِى يَوْمَ الْقِيَـامَـةِ فَهِىَ نَائـِلَةٌ إِنْ شَـاءَ اللَّهُ مَنْ مَـاتَ مِنْ أُمَّـتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajabah, maka setiap Nabi doanya dikabulkan segera, sedangkan saya menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat. Syafaat itu insya Allah diperoleh umatku yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”. (HR. Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) 

Namun anehnya ada saja pengakuan bahwa syafaat seorang wali bisa mengeluarkan penduduk Tarim dari neraka, baik yang beriman maupun yang kafirnya, sehingga dalam kitab Ash-Shufiyah fi Hadhramaut ini sebagai bentuk kritikan kepada kitab karya ba'alawi, adapun teksnya sebagai berikut,

وقال شيخ بن عبد الله العيدروس: «وروى عن الشيخ إبراهيم ابن الشيخ عبد الرحمن رحمه الله ونفع به، قال: قال لي الشيخ الجليل والقدوة الشهير أبو بكر بن الشيخ عبد الرحمن رحمه الله، ونفع بهم: أشهد عني أن والذي أعطى على الأولياء من الشفاعة مثل ما أعطى منها محمداً ﷺ على الأنبياء صلوات الله عليهم أجمعين؛ فإنه أخرج من النار كل من دخلها من أهل تريم ذلك كشفاً منه...». (٢)

وهذا النص فيه رفع منزلة أوليائهم في الشفاعة وجعلها في منزلة النبي ﷺ، وكذا رفع منزلة أوليائهم على بقية أولياء الصوفية وغيرهم، ودعوى التصرف في أمور الآخرة، حيث يزعمون - أن أولياءهم يخرجون من النار جميع أهل تريم مؤمنهم وكافرهم، الموحد منهم والمشرك، هكذا بلغ بهم الغلو والانحراف عن دين الله جل وعلا، ولا حول ولا قوة إلا بالله.

وكذا جعلوا شفاعة أوليائهم يوم القيامة لمحبيهم، وهذه دعوة منهم لمحبة أوليائهم على ما عندهم من الانحراف، وترويج هذه الفضيلة عند الناس للتعلق بهم، لينالوا هذه الشفاعة المزعومة، فقد جاء في مناقب محمد بن أحمد المعروف بمقدم تربة قسم أن جمل الليل قال: «لما مات محمد بن أحمد ارتفع عن تربته العذاب وأنه يشفع لجميع أهل محبته...». (٣)

ومن انحرافاتهم دعوى أن مشايخهم تتعدى للقبائل الحضرمية، جاء في كتاب شرح العينية: «وقال الشيخ الجليل الفقيه محمد أبي بكر عباد: الذي يغلب على الظن أن الشيخ محمد بن علي يشفع حتى في تهد (١) (٢).

قال عبد الله باسودان في كلام له في شرح الواسطة الشركية التي اعتمدتها صوفية حضرموت: «كما قال سيدنا الشيخ عبد الله الحداد صاحب الراتب - قدس الله روحه - أن الولي يكون اعتناؤه بقريبه واللائذين به بعد موته أقوى من اعتنائه بهم في حياته؛ لأنه مشغول بالتكاليف وبعد موته طرح عنه الأعباء وتجرد.. انتهى.

وذلك: لأن الله تعالى متولي أمر الولي في الدنيا والآخرة، بل قد يتوجه بعض من له حاجة إلى الولي من نحو شفاعة في جلب نفع أو دفع مكروه وضر من كل الأغراض الدنيوية والأخروية، فيعلم الله المتوجه إليه، ويأذن له في إيصال مطلوبه إليه، فيكون الله سبحانه هو الفاعل لذلك والولي واسطة وآلة». (٣)

Dan Syaikh bin Abdullah Al-Idrus berkata: "Dan diriwayatkan dari Asy-Syaikh Ibrahim bin Asy-Syaikh Abdurrahman (semoga Allah merahmatinya dan memberi manfaat dengannya), dia berkata: Berkata kepadaku Asy-Syaikh yang mulia dan qudwah yang masyhur Abu Bakar bin Asy-Syaikh Abdurrahman (semoga Allah merahmatinya dan memberi manfaat dengan mereka): Aku bersaksi atas diriku bahwa yang telah diberikan kepada para wali berupa syafaat itu semisal apa yang diberikan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dari syafaat atas para nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya dia telah mengeluarkan dari neraka setiap orang yang masuk ke dalamnya dari penduduk Tarim, hal itu secara kasyaf darinya..." (2) 

Dan teks ini berisi pengangkatan kedudukan para wali mereka dalam syafaat dan menyamakannya dengan kedudukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian pula mengangkat kedudukan para wali mereka di atas sisa wali-wali Sufi lainnya dan selain mereka. Serta klaim tasharruf (campur tangan dalam urusan akhirat, dimana mereka menyangka) bahwa para wali mereka mengeluarkan dari neraka seluruh penduduk Tarim, baik mukmin maupun kafirnya, yang bertauhid maupun musyriknya. Demikianlah ghuluw dan penyimpangan dari agama Allah Jalla wa 'Ala telah sampai pada mereka, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Demikian pula mereka menjadikan syafaat para wali mereka pada hari kiamat untuk orang-orang yang mencintai mereka. Dan ini adalah ajakan dari mereka untuk mencintai para wali mereka di atas penyimpangan yang ada pada mereka, dan menyebarkan keutamaan ini di tengah manusia agar bergantung kepada mereka, supaya mereka mendapatkan syafaat yang disangka-sangka ini.

Sungguh telah datang dalam Manaqib Muhammad bin Ahmad yang dikenal dengan Muqaddam Tarbat Qism bahwa Jammal Al-Lail berkata: "Tatkala Muhammad bin Ahmad wafat, siksaan diangkat dari kuburnya dan sesungguhnya dia memberi syafaat kepada seluruh orang yang mencintainya..." (3)_

______

(2) Al-'Aqd An-Nabawi fi Manaqib As-Sadah Al-Asyraf Bani Alawi juz 1 hal.365)

(3) Al-Maayru' Ar-Rawi juz 1 hal.174). 

Dan termasuk penyimpangan mereka adalah klaim bahwa syaikh-syaikh mereka mencakup kabilah-kabilah Hadramaut. Telah datang dalam kitab Syarh Al-'Ainiyah: "Dan berkata Asy-Syaikh yang mulia Al-Faqih Muhammad Abu Bakar 'Abbad: Yang lebih kuat menurut perkiraan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Ali memberi syafaat sampai kepada Tihd".

Berkata Abdullah Basudan dalam ucapannya tentang Syarh Al-Wasithah Asy-Syirkiyah yang dijadikan pegangan oleh Sufi Hadramaut: "Sebagaimana berkata junjungan kami Asy-Syaikh Abdullah Al-Haddad pemilik Ar-Ratib (semoga Allah mensucikan ruhnya): Sesungguhnya wali itu perhatiannya kepada kerabatnya dan orang-orang yang berlindung kepadanya setelah wafatnya lebih kuat daripada perhatiannya kepada mereka ketika hidupnya. Karena dia sibuk dengan taklif, dan setelah wafatnya beban itu diletakkan darinya dan dia menjadi murni... selesai.

Dan demikian itu: karena Allah Ta'ala yang mengurusi urusan wali di dunia dan akhirat. Bahkan terkadang sebagian orang yang punya hajat menghadap kepada wali dalam hal seperti syafaat untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudharat dan bahaya dari semua tujuan duniawi dan ukhrawi, maka Allah mengetahui orang yang menghadap kepadanya, lalu mengizinkannya untuk menyampaikan hajatnya kepadanya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala yang melakukan itu dan wali adalah perantara dan alat". (Ash-Shufiyah fi Hadhramaut, Amin bin Ahmad bin Abdullah As-Sa'di, cet. Jami' Al-Huquq Mahfuzhah, cet.pertama 2008 M/1429 H. hal.536-537). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 26 Juni 2026

INILAH ISI SURAT HABIB USMAN BIN YAHYA KEPADA SNOUCK HURGRONJE MEMINTA JABATAN SEBAGAI "MUFTI BATAVIA"

Dalam bukunya: “Islam, Kolonialisme dan Zaman Modern di Hindia-Belanda, Nico J.G. Kaptein seorang akademisi dan pakar studi Islam terkemuka asal Belanda yang memiliki fokus mendalam pada perkembangan Islam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia menyatakan bahwa jabatan “Mufti” yang disandang Habib Usman bin Yahya bukan begitu saja diberikan oleh penjajah, tetapi karena Habib Usman bin Yahya beberapa kali memintanya.

Habib Usman bin Yahya pernah menulis surat kepada Cristian Snouck Hurgronje pada 30 Agustus 1886 yang sudah saya tulis ulang sebelumnya dari manuskrip aslinya diantara isinya adalah agar Snouck berkenan menyebut nama Usman bin Yahya di hadapan para pejabat Belanda, baik yang ada di Batavia maupun di Eropa. Ia juga  mengirim surat kepada Snouck tanggal 4 Januari 1887 yang isinya ia meminta jabatan dalam pemerintahan kolonial Belanda, namun tidak disebutkan jabatan apa yang ia inginkan. Baru pada surat yang dikirimkan kepada Snouck tanggal 8 Juli 1888/28 Syawal Habib Usman bin Yahya menyebut jabatan yang ia inginkan yaitu sebagai “Mufti” bagi pemerintah Penjajah Belanda. Adapun isi suratnya sebagai berikut,

الحمد لله وحده

الى حضرة الجناب المكرم والنحر المفخم ذى العلم المنيف الغني من الاعريف عزيزنا وصحبنا الدكتور سنوكهرخرنج طابت ايامه وهلا فى الافاق اعلقمه صمت الاخرى من بندر بتاوي ومشرفكم العزيز المؤرخ ٢٨ شعبان الينا وصل وبه الاتي حصل وما ذكرتم من مطلوبكم باموس باللغة المستهل عند الخضارم فعسى ان كان به فرصة لنا ان اصنع لكم جدولا فيه المستعملات من اللغة عند الحضارم وعند اهل مكة وعند اهل مصر وما حصل من التفاوت بينهم فى ذالك مثل هذه العينة التي باطن هذالكتاب وايضا مطلوبنا من فضلكم واحسانكم وعل. قدر محبتكم ان ترسلولنا نسخة من الجرابة التي طبعتوها فى بلدكم فى العلم الماضى او قبلها التي فيها ذكر كتابنا الوثيقة الوفية وذكر اسمنا مرادنا ان ترسلولنا نسخة منها مبادرة لحيث انها لم توجد الان فى بتاوي ومرادنا بها التوسل بها الى الرضى حصول مطلوبنا عند الرئيس وهو منزلة اطفيسور لعلها بالعرابية المفتي لحيث ان جميع قضاء اهل جاوا والملايو وغيرهم وروساءهم اقايتى معهم مثله مشكلة فى انكهتهم وطلاقهم وفرائضهم لم يطلبو معرفتها الامننا وروساء الانرنج فى بتاوي احيانا يستعينون بنا فى الاستخراج بعض الكتب او فى تفتيش مشايخ الطريقة او الكهنة مثلا ولاشيئ معنا حاصل لامشاهرة ولا غيرها بل ولا مقصودنا بذكر بل مقصودنا سيانة اسمنا وعرضنا عند العوام ليلا يتجرؤن علينا بالكلام الذي لا يليق مثلا وكذالك استعين بكم بحسب المحبة بيننا وبينكم ان تتسببون فى حصول تلك المرتبة لنا هذا ما اخبركم وايضا من طرق مسئلة الاحجار المكتوبة قد سفر ولدنا السيد محمد بن عثمان الى حضرموت فى تفنيش ذالك فاذا حصل من ذالك شيئا لابد ما اخبركن بذالك ودمتم مجمالين المكرمين

فى بتاوي ٢٨ شوال 

الحقير عثمام بن عبد الله بن عقيل بن يحي

*"Segala puji bagi Allah semata.*

Kepada hadirat tuan yang mulia, yang terpandang, yang memiliki ilmu yang tinggi, yang tidak butuh diperkenalkan, sahabat kami yang kami cintai, *Dr. Snouck Hurgronje.* Semoga hari-harinya baik, dan namanya tersebar ke seluruh penjuru. 

Surat mulia Anda dari Bandar Batavia bertanggal 28 Sya’ban telah sampai kepada kami, dan kami telah memahami isinya. 

Adapun yang Anda minta berupa kamus dengan bahasa yang lazim dipakai orang-orang Hadhramaut, maka mudah-mudahan jika ada kesempatan bagi kami, kami akan buatkan untuk Anda sebuah tabel berisi kosakata yang dipakai oleh orang Hadhramaut, orang Mekah, dan orang Mesir, beserta perbedaan di antara mereka dalam hal itu. Contohnya seperti contoh yang ada di dalam buku ini.

Dan juga, kami memohon kemurahan dan kebaikan Anda, sesuai dengan besarnya cinta Anda kepada kami, agar berkenan mengirimkan kepada kami satu naskah jaraabah/buletin yang Anda terbitkan di negeri Anda pada tahun lalu atau sebelumnya, yang di dalamnya ada penyebutan kitab kami *Al-Watsiqah Al-Wafiyah* dan penyebutan nama kami. Tujuan kami adalah agar Anda segera mengirimkan satu naskah darinya, karena sekarang naskah itu tidak ada di Batavia. Kami menginginkannya untuk menjadikannya perantara guna tercapainya hajat kami di hadapan Tuan Residen, yaitu jabatan Adviseur yang dalam bahasa Arab disebut Mufti. Karena semua qadi orang Jawa, Melayu, dan lainnya, serta para kepala mereka, semuanya memiliki masalah yang sama seperti beliau dalam urusan nikah, talak, dan faraid. Mereka tidak meminta pengetahuan tentang itu kecuali dari kami. Dan para kepala orang Arab di Batavia kadang-kadang meminta bantuan kami untuk mengeluarkan beberapa kitab, atau untuk mencari para syaikh tarekat atau dukun misalnya. 

Akan tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa, baik gaji maupun lainnya. Bukan pula tujuan kami dengan menyebut ini adalah popularitas. Tujuan kami hanyalah menjaga nama baik dan kehormatan kami di hadapan orang awam, agar mereka tidak berani berbicara kepada kami dengan perkataan yang tidak pantas misalnya. 

Demikian juga, kami mohon bantuan Anda, sesuai dengan persahabatan antara kami dan Anda, untuk berupaya mewujudkan jabatan tersebut bagi kami. Inilah yang ingin kami sampaikan kepada Anda.

Juga terkait masalah batu-batu bertulis, anak kami Sayyid Muhammad bin Utsman telah pergi ke Hadhramaut untuk menyelidiki hal itu. Jika ada hasil dari itu, pasti kami akan mengabarkan kepada Anda. 

Semoga Anda senantiasa dimuliakan.

Di Batavia, 28 Syawal. 

Yang hina, Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya

Harapan Habib Usman untuk diangkat menjadi “mufti” itu sampai tahun 1888 belum juga dikabulkan. Entah apa yang membuat Snouck tidak segera mengusahakan agar Usman bin Yahya segera mendapat jabatan dari pemerintah Belanda.  Oleh karena itu, Habib Usman mengirim surat lagi kepada Snouck pada 8 Juli 1888. Dalam surat itu Habib Usman bin Yahya meminta agar Snouck mengirimkan salinan surat kabar di Belanda yang memuat tulisan Snouck yang menyebut namanya dan kitabnya Al-Watsiqah Al-Wafiyah. Dalam surat itu Usman menyatakan bahwa jika Salinan surat kabar yang menyebut namanya itu telah datang ia akan membawanya kepada pejabat Belanda di Batavia untuk menjadi pertimbangan meminta jabatan. Dalam surat kali ini, Usman dengan terus terang menyebut jabatan apa yang ia inginkan. Dalam suratnya itu Usman menyatakan bahwa jabatan yang ia inginkan adalah  sebagai “mufti” bagi pemerintah Belanda di Batavia. Inti surat Habib Usman bin Yahya meminta jabatan sebagai mufti beliau menuliskan dalam suratnya,

“…ومراد نا بها التوسل بها إلى حصول مطلوبنا عند الرئيس وهو منزلة اطفيسور لعلها بالعربية المفتي”

“…maksud kami dengan bantuan itu adalah menjadi jembatan tercapainya maksud kami kepada Gubernur Jenderal (ra’is) untuk mendapatkan jabatan Advisor (penasihat),  mungkin dengan nama Arab, ‘mufti’.” Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

MENYINGKAP DOA HABIB USMAN BIN YAHYA UNTUK RATU WIHELMINA BELANDA





Doa Habib Usman bin Yahya untuk Ratu Wilhelmina adalah sebuah teks doa khusus yang disusun untuk merayakan penobatan sang Ratu pada 1898. Doa ini berisi permohonan kepada Tuhan agar Ratu Belanda tersebut diberikan keberkahan, umur panjang, keadilan dalam memimpin, serta kesejahteraan bagi rakyatnya.

Teks doa ini disusun oleh Mufti Betawi, Habib Usman bin Yahya, bertepatan dengan penobatan Ratu Wilhelmina pada 6 September 1898.

Isi doa memohon kepada Allah SWT agar Ratu Wilhelmina senantiasa diberikan kelapangan, takdir kebaikan, umur panjang, kesehatan, dan kemampuan untuk memimpin dengan adil dan sejahtera. Teks doa ini dicetak dan disebarluaskan oleh para bupati di Jawa dan Madura atas instruksi pemerintah kolonial Belanda, yang kemudian memicu pro dan kontra di kalangan umat Islam Nusantara saat itu.

Langkah Habib Usman menyusun doa ini memicu kritik keras dari tokoh Islam lainnya. Ulama pada masa itu memandang bahwa mendoakan kesejahteraan penjajah kolonial, apalagi seorang pemimpin non-Muslim, adalah hal yang bertentangan dengan semangat perlawanan umat. Adapun doa tersebut sesuai manuskrip sejarah tertulis sebagai berikut,

اَللّٰهُمَّ يَا لَطِيْفُ الْطُفْ بِنَا، وَيَا كَنْزَ الضُّعَفَاءِ, وَيَا مَالِكَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، أَنْتَ تَعْلَمُ مَا ظَهَرَ مِنَّا وَمَا خَفِيَ، اَللّٰهُمَّ كَمَا لَطُفْتَ بِنَا فِي دِيَارِ هٰذِهِ الْمَمْلَكَةِ حَيْثُ لَا أَحَدَ يَتَعَرَّضُ عَلَيْنَا فِي دِيْنِنَا مِنْ صَلَاتِنَا وَزَكَاتِنَا وَصِيَامِنَا وَمَعَاشِنَا وَأَنْكِحَتِنَا، وَأَنْعَمْتَ، اَللّٰهُمَّ عَلَيْنَا لُطْفًا مِنْكَ بِالْأَمَانِ الْمَوْجُوْدِ لِأَنْفُسِنَا وَأَهَالِيْنَا وَأَمْوَالِنَا، وَيَسَّرْتَ لَنَا السَّعْيَ فِي أَسْبَابِ مَعِيْشَتِنَا، وَجَعَلْتَ الْوَاسِطَةَ وَالسَّبَبَ فِي هٰذِهِ النِّعَمِ لَنَا مِنْكَ هُوَ مَا قَدَّرْتَ مِنْ ضَبْطِ دَوْلَةِ الْهُولَنْدَا الْبِلَادَ الْأَمَانَ وَالْإِنْصَافَ مَعَ مُرَاعَاتِهَا مِمَّا رَاعَتْهُ مِنْ أَمْرِ دِيْنِنَا كَنَصْبِ قُضَاتِنَا وَإِجْرَاءِ أَرْزَاقِهِمْ وَإِصْلَاحِ مَسَاجِدِنَا وَعَدَمِ التَّعَرُّضِ لِشَيْءٍ مِنْ أُمُوْرِ دِيْنِنَا، وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِذٰلِكَ مِنَّا، فَنَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ مَزِيْدَ نِعَمِ هٰذِهِ الْأَلْطَافِ مِنْكَ لَنَا، اَللّٰهُمَّ كَمَا قَدَّرْتَ وَأَجْرَيْتَ هٰذِهِ النِّعْمَةَ بِوَاسِطَةِ هٰذِهِ الدَّوْلَةِ، فَنَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ مُكَافَأَةً لِإِحْسَانِهَا بِمَا ذُكِرَ أَنْ تُلْطِفَ بِالسَّلَامَةِ لِلْمَلِكَةِ الْجَدِيْدَةِ الْعَزِيْزَةِ، وَتَمُنَّ لَهَا بِطُوْلِ الْحَيَاةِ الْمُحَلَّاةِ بِالصِّحَّةِ الْبَدَنِيَّةِ، وَلِفُلَّالِهَا بِالْأَرْبَاحِ الدُّنْيَوِيَّةِ، وَبِمَخَبَّآتِ الْأَرْضِ مِنَ الْمَعَادِنِ وَالْمَزَارِعِ النَّبَاتِيَّةِ، وَتَمُنَّ لَهَا بِحُسْنِ الرِّعَايَةِ لِمَنْ فِي حِمَايَتِهَا بِكَمَالِ الْإِنْصَافِ وَبِحُسْنِ الِاتِّصَافِ بِمَا هُوَ مَحْبُوْبٌ عِنْدَكَ يَا وَلِيَّ الْهِدَايَةِ حَتَّى يَطْلُعَ كَوْكَبُ مُلْكِهَا مُضِيْئًا بَيْنَ الْأَنَامِ. مُسْعِدًا لِأَمْلَاكِهَا بِالْخِصْبِ والنِّظَامِ وَلِمَنْ تَحْتَ حِمَايَتِهَا بِصَلَاحِ كُلِّ شَأْنٍ وَدَوَامِ تِلْكَ النِّعَمِ لَنَا مَعَ السَّلَامَةِ عَلَى الدَّوَامِ،. آمِيْنَ

"Ya Allah, Wahai Dzat Yang Maha Lembut, lembutkanlah kami. Wahai Perbendaharaan orang-orang lemah, Wahai Pemilik langit dan bumi, Engkau tahu apa yang tampak dari kami dan apa yang tersembunyi.

Ya Allah, sebagaimana Engkau telah berlembut kepada kami di negeri kerajaan ini, di mana tidak ada seorang pun yang mengganggu kami dalam agama kami: dalam shalat kami, zakat kami, puasa kami, penghidupan kami, dan pernikahan kami. Dan Engkau telah memberi nikmat.

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kelembutan dari-Mu berupa rasa aman yang ada untuk jiwa kami, keluarga kami, dan harta kami. Engkau mudahkan kami berusaha untuk sebab-sebab penghidupan kami. 

Dan Engkau jadikan perantara serta sebab datangnya nikmat-nikmat ini kepada kami dari-Mu adalah apa yang Engkau tetapkan berupa kekuasaan Negara Belanda yang mengatur negeri ini dengan aman dan adil, serta menjaga perkara agama kami: seperti mengangkat hakim-hakim kami, memberi gaji mereka, memperbaiki masjid-masjid kami, dan tidak mengganggu sedikit pun urusan agama kami. Dan Engkau lebih tahu tentang itu daripada kami.

Maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, tambahkanlah nikmat-nikmat kelembutan-Mu ini untuk kami. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menetapkan dan menjalankan nikmat ini melalui perantara negara ini, maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, sebagai balasan atas kebaikan mereka sebagaimana yang telah disebut, agar Engkau berlembut dengan keselamatan untuk Ratu yang baru yang mulia. 

Anugerahkanlah untuknya panjang umur yang dihiasi kesehatan badan. Anugerahkanlah untuk rakyatnya keuntungan-keuntungan duniawi, dan anugerahkanlah simpanan-simpanan bumi berupa barang tambang dan pertanian. 

Anugerahkanlah untuknya kebaikan dalam menjaga orang-orang yang berada dalam perlindungannya dengan kesempurnaan keadilan dan dengan sifat-sifat terpuji yang Engkau cintai, Wahai Pemberi petunjuk. Hingga bintang kerajaannya terbit dengan cemerlang di antara manusia. Membahagiakan wilayah-wilayahnya dengan kesuburan dan keteraturan, dan bagi orang-orang yang berada di bawah perlindungannya dengan kebaikan segala urusan serta langgengnya nikmat-nikmat itu untuk kami beserta keselamatan selamanya. Aamiin."

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

MENYINGKAP ISI SURAT HABIB USMAN BIN YAHYA KEPADA SNOUCK HURGRONJE



Surat-menyurat antara Sayyid Usman bin Yahya (Mufti Betawi) dan penasihat kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, adalah kumpulan korespondensi rahasia era 1886–1913 yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Surat-surat ini membahas pelaporan intelijen, saran kebijakan, hingga permintaan jabatan secara langsung.

*Rincian penting dari korespondensi ini mencakup:*

*Pencarian Jabatan:* 

Dalam surat bertanggal 30 Agustus 1886 dan 4 Januari, Sayyid Usman secara aktif meminta Snouck untuk merekomendasikan namanya agar diangkat sebagai Mufti Batavia oleh pemerintah kolonial.

*Politik dan Keamanan:* Surat-surat mereka membahas strategi meredam pemberontakan berbasis agama di Hindia Belanda, termasuk langkah memisahkan antara agama dan politik untuk mencegah perlawanan rakyat.

*Karya dan Nasihat:* 

Mereka bertukar naskah dan fatwa, seperti penyusunan karya-karya Sayyid Usman yang didanai dan disebarkan oleh pemerintah kolonial untuk mengarahkan umat Islam.Kontroversi Doa: Surat juga membahas kecaman keras dari kalangan umat Islam terhadap Sayyid Usman karena ia mengeluarkan fatwa dan doa resmi dalam bahasa Arab untuk Ratu Wilhelmina dari Belanda.

Adapun contoh tulisan yang terdapat dalam manuskrip surat Habib Usman bin Yahya kepada Snouck Hurgronje sebagai berikut,

بتاوي ٣٠ اقتوبر ١٨٨٦

الحمد لله وحده

ان ابهى ما وشحت به صدور الكتاب والدفاتر ونطقت به ألسنة الاقلام عن افواه المحابر عاطر الحيات يفوح بعبير المحبة نفحه وشرق فى سماء الطروس صبحه يهدى لحضرة خلاص المجد ومعدن الفخار والحمد مخدوم السياءة والسعد الخواجة سنكهرخرنج لازال علمه زاخرا وسحاب فهمه ماطرا وكوكب سعده طالعا وضياء فضله لامعا أما بعد فصدر هذا الكتاب من بلد بتاوي فالموجب لذكران اصحابي الكرام الخواجة هولان والخواجة فندرسيس أخبراني بانكم اطلعهم ونظرتم قصجح الصادر من الشيخ نووي البنتني والشيخ جنيد بتاوي المقيمين فى مكة على رسالتي المسماة النصيحة الاتية ثم اني احببت الان ارسل هذه الرسالة ايضا المسماة الوثيقة الوفية اعرضها اليكم لتنظروها فالمقصود من تصنيفها وكذالك التي قبلها هو اعلام واعلان بان الطريقة التي نشت هذالزمان وعلمها المشايخ للجهال فهي ليست على الصواب بل ربما يقل امرها الى مفاسد بنية دنياوية بسبب فقد ان شروطها مع اني تلطفت فى هذه الرسالة فى أخرها لحيث لم اذكر احدا بعينه لاجل السلامة من الفتنة من مشايخ الطريقة فأنتم اذا رأيتم هذه الرسالة وتبين لكم ان فيها ارشاد الناس الى الحق والى عدم الدعاوي الفارغة ولاجل السلامة من المفاسد فالمطلوب من جنابكم ان تصححوا عليها وان تذكروا ما فيها من ارشاد الناس لكي يسلموا من المفاسد وان تذكروا اسمي عند ارباب الدولة الولنده فى ارض جاوه وغيرها لما استقرلي الابامة فى بتاوي لحيث ان كثيرا من مشايخ الطريقة وغيرهم من الحاسدين يريدون السعاية الى هلاكي ولو لا عدل الولنده فى ارض جاوه وغيرها لما استقرلي الاقامة فى بتاوي هذا ما اخبركم وارجوا من جنابكم جواب كتابي هذا بالعرابية وتصحيح هذه الرساله بالافرنجية وترسلوهما الى بتاوي الى عند الخواجة فندرسيس دام فضلكم وطابت إياكم

السيد عثمان بن عبد الله بن عقيل بن يحي

*Batavia, 30 Oktober 1886*

*Segala puji hanya bagi Allah semata.*

Sesungguhnya seindah-indah hiasan yang menghiasi dada kitab-kitab dan lembaran-lembaran, dan sefasih-fasih ucapan yang dilantunkan oleh lisan-lisan pena dari mulut-mulut tempat tinta, adalah puji-pujian yang harum, semerbak dengan wangi kecintaan. Semerbaknya menyebar, dan fajarnya terbit di langit lembaran-lembaran kertas. 

Aku persembahkan kepada junjungan yang merupakan puncak kemuliaan, sumber kebanggaan dan pujian, tuan hamba yang beruntung dan bahagia, *Snouck Hurgronje*. Semoga ilmunya senantiasa melimpah, awan pemahamannya senantiasa menurunkan hujan, bintang keberuntungannya terus terbit, dan cahaya keutamaannya senantiasa bersinar. 

Amma ba’du, maka surat ini dikirim dari negeri Batavia. Adapun sebabnya adalah bahwa dua orang sahabatku yang mulia, *Tuan Holla* dan *Tuan Fandersis* mengabarkan kepadaku bahwa kalian telah menelaah dan melihat risalah yang diterbitkan oleh *Syekh Nawawi Al-Bantani* dan *Syekh Junaid dari Batavia* yang bermukim di Makkah, atas risalahku yang bernama _An-Nashihah Al-Atiyah_. 

Kemudian aku ingin sekarang mengirimkan juga surat ini yang bernama *Al-Watsiqah Al-Wafiyyah* untuk aku ajukan kepada kalian agar kalian menelaahnya. Tujuan dari pengarangannya, begitu pula surat yang sebelumnya, adalah untuk memberitahukan dan mengumumkan bahwa tarekat yang berkembang di zaman ini dan yang diajarkan oleh para syaikh kepada orang-orang awam, ia tidak berada di atas kebenaran. Bahkan urusannya bisa sampai kepada kerusakan-kerusakan duniawi karena tidak terpenuhinya syarat-syaratnya.

Dan sesungguhnya aku telah berlemah-lembut dalam surat ini pada bagian akhirnya, di mana aku tidak menyebut seorang pun secara khusus, demi keselamatan dari fitnah terhadap para syaikh tarekat. 

Maka jika kalian melihat surat ini dan menjadi jelas bagi kalian bahwa di dalamnya ada bimbingan manusia kepada kebenaran, dan kepada meninggalkan klaim-klaim yang kosong, serta demi keselamatan dari kerusakan-kerusakan, maka yang aku minta dari tuan adalah agar kalian mengoreksinya. Dan agar kalian menyebutkan apa yang ada di dalamnya berupa bimbingan manusia supaya mereka selamat dari kerusakan.

Dan agar kalian menyebut namaku di hadapan para penguasa Belanda di tanah Jawa dan selainnya, karena aku bisa menetap di Batavia. Padahal banyak dari para syaikh tarekat dan selain mereka dari kalangan orang-orang dengki yang ingin mengadu domba untuk membinasakanku. Dan seandainya bukan karena keadilan orang-orang Belanda di tanah Jawa dan selainnya, niscaya aku tidak akan bisa menetap di Batavia.

Inilah yang aku kabarkan kepada kalian, dan aku berharap dari tuan jawaban atas suratku ini dalam bahasa Arab, dan koreksi surat ini dalam bahasa Belanda, lalu kalian kirimkan keduanya ke Batavia kepada *Tuan Fandersis*. Semoga keutamaan kalian langgeng dan hari-hari kalian baik.

*As-Sayyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya*

*Catatan :*

*Tuan Holla;* merupakan nama seorang meneer (tuan) Belanda yang dikisahkan sangat bersahabat dengan petani pribumi perkebunan teh di Garut tahun 1843. Masyarakat Garut mengenal Tuan Holla dengan istilah mitra noe tani (sahabat petani).

Pria bernama asli *Karel Frederik Holle (1829-1896) atau Sayyid Muhammad bin Holla* ini begitu optimis menciptakan petani teh di Garut melek akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selepas pensiun dari kerja, Tuan Holla sering meluangkan waktunya untuk mengajar petani di Garut mengenai cara berkebun menggunakan teknologi.

*Tuan Fandersis;* "Fandersis" adalah sebutan atau pelokalan dari kata "Pandersie" (dari bahasa Belanda: Collecteur atau Ontvanger), yaitu sebutan untuk pegawai kolonial Belanda yang bertugas mengumpulkan atau memungut pajak bumi dan hasil bumi dari rakyat.Istilah ini sangat populer di masa Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada abad ke-19, di mana para mandor, kepala desa, atau pejabat pribumi sering ditugaskan sebagai penarik pajak. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaa. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*