MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Rabu, 01 Juli 2026

KAJIAN TENTANG KHURAFAT YANG DIANGGAP KAROMAH "MEWAKILI BUANG HAJAT DAN KOTORAN MENJADI EMAS"


Karomah adalah anugerah luar biasa dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang shaleh dan bertakwa (para wali Allah). Sebaliknya, khurafat adalah kepercayaan atau cerita rekaan yang menyimpang dari ajaran Islam dan tidak berdasar pada dalil.

Khurafat adalah cerita-cerita mempesonakan yang bercampur dengan perkara dusta, atau cerita rekaan, khayalan, ajaran-ajaran, ramalan, pemujaan, atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam namun diyakini kebenarannya. Budaya khurafat berasal dari masyarakat Jahiliyah, yang percaya pada arah terbang burung sebagai penentu nasib mereka. Mereka juga percaya bahwa burung hantu atau gagak yang hinggap dan bersuara di atas rumah menandakan kematian salah satu penghuni rumah tersebut.

Disebutkan dalam kitab yang masyhur dikalangan ba'alawi yang penuh khurafat meski juga ada yang merupakan karomah wali diantaranya yaitu,

وحكى سيدي أن رجلاً أعمى في الهجرين، يقال له بن نعمان كان يسير كل يوم إلى قيدون، فيأتى له بمسألة واحدة من العلم فقط ويرجع. وما بين البلدين نحو أربع ساعات. فخرج ذات يوم، ومعه بنته تقوده. فلما كان في أثناء الطريق أراد قضاء الحاجة فجلس. فقالت له بنته: اصبر قليلاً، حتى أدق الأرض، كيلا يصيبك الرشاش، فلما قضى حاجته قال لبنته: ارجعي بنا. فقالت له: لم ترجع. فقال: إني في كل يوم أستفيد مسألة من قيدون، وأني استفدتها اليوم منك.

وقال رضي الله عنه: بلغنا أن السيد حاتم الأهدل كان حريصاً على مجالس الإخوان في الله ويشق عليه فراقهم، وكان له مملوك أمره أن يجلس بالباب، فإذا أراد أحد من إخوانه قضاء الحاجة والخلاء نظر إلى ذلك العبد، فينتقل الحدث إليه فيروح العبد إلى الخلاء وينوب عنه. ووقع للحبيب هادون بن هود بن علي بن أحسن العطاس، أنه لما زار المدينة المشرفة بات ليلة بالحرام، فتحركت عليه بطنه، وذهب ليخرج فوجد الأبواب مقفلة، فراح إلى ناحية في أخريات الحرم، ووضع المخارج في ثوبه، فلما كان الصباح، ذهب إلى خارج المدينة ليرميه، فإذا هو ذهب يتلألأ.

Dan diceritakan oleh junjungan kami bahwa ada seorang laki-laki buta di Hijrain atau Hajrain (terletak di daerah Yaman di lembah Dau'an Hadhramaut), yang dipanggil Ibnu Nu’man. Beliau berjalan setiap hari ke Qidun (nama sebuah kota di Hadhramaut Yaman) untuk mengambil satu masalah ilmu saja, lalu pulang. Dan jarak antara dua negeri itu sekitar empat jam perjalanan. 

Maka beliau keluar pada suatu hari, dan bersamanya putrinya yang menuntunnya. Ketika di tengah jalan beliau ingin buang hajat, lalu beliau duduk. Putrinya berkata kepadanya: "Bersabarlah sebentar, sampai aku menggali tanah, supaya cipratannya tidak mengenai engkau." 

Ketika beliau selesai buang hajat, beliau berkata kepada putrinya: "Mari kita kembali pulang." Putrinya berkata: "Kenapa kita kembali?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya setiap hari aku mengambil satu masalah ilmu dari Qaidun, dan sesungguhnya aku telah mengambilnya hari ini darimu."

Dan beliau - semoga Allah meridhainya - berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Sayyid Hatem al-Ahdal sangat bersemangat menghadiri majelis-majelis ikhwan fi Allah, dan berat baginya berpisah dengan mereka. Dan beliau memiliki seorang budak yang beliau perintahkan duduk di pintu. Maka jika salah satu dari saudara-saudaranya ingin buang hajat dan masuk WC, ia melihat kepada budak itu, lalu hadats itu pindah kepadanya, maka budak itu pergi ke WC dan menggantikan tuannya.

Dan terjadi pada Al-Habib Hadun bin Hud bin Ali bin Hasan al-Athas, bahwa ketika beliau ziarah ke Madinah al-Munawwarah, beliau bermalam satu malam di Haram. Lalu perutnya bergerak-gerak, dan beliau pergi untuk keluar, tapi beliau mendapati pintu-pintu terkunci. Maka beliau pergi ke sudut di bagian belakang Haram, dan beliau buang hajat ke pakaiannya. Ketika pagi tiba, beliau pergi keluar kota untuk membuangnya, ternyata kotoran itu menjadi emas yang berkilau-kilau." (Tadzkir An-Nas, Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, hal.47-48). Wallahu a'lam 

Catatan tentang kisah tersebut adalah :

1. Kisah Pertama: Ibrohnya adab menuntut ilmu dan hikmah dari hal sepele. Ini masuk akal dan banyak terjadi pada ulama. 

2. "Kisah Memindahkan hadats ke budak" ini masuk kategori khurafat. Ulama Ahlussunnah sepakat tidak ada manusia yang bisa memindahkan najis/hadats orang lain ke dirinya. Ini bertentangan dengan kaidah syariat.

3. "Kisah kotoran jadi emas" juga termasuk khurafat karena menyelisihi kebiasaan Allah (Sunnatullah) dan sunnah Rasul-Nya.

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG KISAH KAROMAH TERBELAHNYA LAUTAN DAN BERUBAHNYA KERIKIL MENJADI EMAS PERMATA


Peristiwa terbelahnya lautan dikategorikan sebagai mukjizat, yang dimiliki Nabi Musa 'alaihissalam dan bukan karomah. Dalam ajaran Islam, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul untuk membuktikan kenabian mereka, sedangkan karomah diberikan kepada para Wali (kekasih Allah).

Kisah yang paling terkenal mengenai hal ini adalah mukjizat Nabi Musa 'alaihissalam. Atas perintah Allah, beliau memukulkan tongkatnya ke Laut Merah (atau Laut Teberau) sehingga airnya terbelah menjadi jalan kering. Hal ini memungkinkan Nabi Musa dan kaum Bani Israil menyeberang dengan selamat dari kejaran Firaun.

Kejadian ini diabadikan di dalam Al-Qur'an Surah Asy-Syu'ara ayat 63, "Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar."

Bagi umat Islam, peristiwa ini adalah mukjizat mutlak dari Allah yang melampaui hukum alam. Sementara itu, sebagian ilmuwan dan pakar mengkaji peristiwa tersebut melalui pendekatan ilmiah, seperti kemungkinan adanya fenomena alam atau angin besar (surut ekstrem) yang membuka jalan air di masa lalu.

Terkait mensikapi cerita karomah para wali dalam dunia sufi yang khariqul adat maka seharusnya menggunakan standar kehati-hatian agar bisa membedakan mana karomah mana khurafat. Sebagaimana Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menafsirkan surat Al-Baqarah: 34, mengutip ucapan Laits bin Saad dan Imam Syafii rahimahullah;

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Jika kalian melihat seseorang dapat berjalan di atas air dan terbang di udara, janganlah kalian terpesona sebelum menilai perkaranya dengan Al-Quran dan Sunah.”

Dengan cara pandang seperti ini, maka tidak akan kita temukan seorang muslim yang terpedaya hanya karena sesuatu yang sepintas menggambarkan kehebatan, luar biasa atau mampu menampilkan sesuatu yang lain dari biasanya, jika tidak ada indikasi atau bukti bahwa semua itu paralel dengan istiqamahnya di jalan Allah Taala. Maka, jika demikian, apa yang dianggap luar biasa, bukanlah kebaikan, bukan pula karomah, apalagi mukjizat dari Allah Taala.

Diantara keanehan kisah karomah yang mengandung khurafat dan belum jelas kebenarannya tertulis dalam kitab Nasyr Al-Mahasin Al-Ghaliyah sebagai berikut,  

النوع الثالث: انقلاق البحر وجفافه

من ذلك ما روي في بعض التصانيف أنه مات بعض الفقراء في سفينة، قال الراوي: فأردنا إلقاءه في البحر، فرأيت البحر قد انشق نصفين ونزلت السفينة إلى الأرض، فخرجت وحفرنا له قبراً ودفناه، فلما فرغنا استوى الماء وارتفعت السفينة وسرنا.

وروينا عن الأستاذ أبي القاسم القشيري رضي الله تعالى عنه في رسالته عن بعضهم قال: كنا في مركب فمات رجل عليل كان معنا، فأخذنا في جهازه وأردنا أن نلقيه في البحر، فانصار البحر جافاً، فنزلت السفينة فخرجنا وحفرنا له قبراً ودفناه، فلما فرغنا استوى الماء وارتفع المركب وسرنا.

النوع الرابع: انقلاب الأعيان

اعلم أن هذا النوع مما كثر وقوعه لهم واشتهر عنهم، كانقلاب الحصى جواهر وذهباً لكثير منهم، وانقلاب ماء البحر عذباً، ولبعضهم سماً، ولبعضهم مع الرمل سويقاً، وسكراً، ولبعضهم الأسطوانة ذهباً وفضة، ولبعضهم حبة الباذنجان ذهباً، ولبعضهم نشارة الخشب دقيقاً، ولبعضهم الحطب ذهباً وغير ذلك مما يتعذر حصره، وهذه الأشياء مشهورة مذكورة في الكتب المشتملة على بعض كرامات الأولياء كالرسالة وغيرها.

*Jenis Ketiga: Terbelahnya Laut dan Mengeringnya*  

Termasuk dari itu, apa yang diriwayatkan dalam sebagian kitab-kitab tasawuf: Bahwa ada seorang fakir meninggal di dalam kapal. Perawi berkata: Maka kami hendak melemparnya ke laut, lalu aku melihat laut terbelah menjadi dua dan kapal turun ke daratan. Maka aku keluar, kami gali kubur untuknya dan menguburkannya. Setelah selesai, air laut kembali seperti semula dan kapal terangkat lalu kami melanjutkan perjalanan.

Dan diriwayatkan kepada kami dari Ustadz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi (semoga Allah meridhainya) dalam Risalahnya, dari sebagian mereka: Kami berada di atas kapal, lalu seorang laki-laki sakit yang bersama kami meninggal. Maka kami mengurus jenazahnya dan hendak melemparkannya ke laut, tiba-tiba laut menjadi kering. Maka kapal turun, kami keluar, menggali kubur untuknya dan menguburkannya. Setelah selesai, air laut kembali normal, kapal terangkat dan kami melanjutkan perjalanan.

*Jenis Keempat: Berubahnya Benda/Zat* 

Ketahuilah bahwa jenis ini termasuk yang paling banyak terjadi pada mereka dan terkenal dari mereka. Seperti berubahnya kerikil menjadi permata dan emas bagi banyak dari mereka, berubahnya air laut menjadi air tawar, bagi sebagian lain menjadi racun, bagi sebagian lain bersama pasir menjadi sawiq/bubur gandum, dan gula, dan bagi sebagian lain tiang menjadi emas dan perak, dan bagi sebagian lain biji terong menjadi emas, dan bagi sebagian lain serbuk kayu menjadi tepung, dan bagi sebagian lain kayu bakar menjadi emas, dan selain itu yang sulit untuk dihitung.

Hal-hal ini masyhur dan disebutkan dalam kitab-kitab yang memuat sebagian karamah para wali, seperti Risalah Qusyairiyah dan lainnya." (Nasyr Al-Mahasin Al-Ghaliyah fi Fadhl Al-Masyayikh Ash-Shufiyah Ashhab Al-Maqamat Al-'Aliyah, Abi Muhammad Abdullah bin As'ad bin Ali bin Sulaiman Al-Yafi'i (w.768 H.), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiah, Beirut - Libanon hal.24). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Selasa, 30 Juni 2026

KAJIAN TENTANG KAROMAH BISA MELIHAT RASULULLAH SAW SECARA LANGSUNG/TERJAGA


Dalam tradisi Islam, isu tentang bertemu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sadar atau terjaga (yaqdzah) merupakan salah satu perdebatan yang terus berlangsung. Masalah ini bukanlah perkara hukum yang wajib diimani, melainkan pengalaman spiritual yang diperdebatkan oleh para ulama.

Tersebutlah nama Seorang Syaikhah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi adalah salah satu tokoh perempuan shalehah dan waliyullah yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Beliau merupakan ibu dari ulama besar dan waliyullah Syeikh Abu Bakar As-Sakran, serta nenek moyang dari keluarga besar Ba'lawi.

Beliau lahir di perkampungan Al-Urra, Hadramaut, dari keluarga Az-Zubaidi yang berasal dari kabilah Bani Haritsah Al-Kindiah, suku yang terkenal dengan keberanian dan kekuatan.

Diceritakan oleh Al Imam Al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi (Shahibul Maulid), bahwanya di Yaman ada seorang wali agung perempuan yang bernama Syeikhah Sulthanah Radhiallahu ‘Anha. Beliau memiliki gelar Rabia‘atul Adawiyahnya Yaman Hadramaut. Pekerjaan beliau ini setiap waktunya bahkan setiap hembusan nafasnya selalu bershalawat kepada Baginda Rasulullah Shallallallahu 'alaihi wa sallam. Dan lebih hebatnya lagi, beliau ini tiada pekerjaan lain selain shalawat, kecuali di saat waktu shalat tiba.

Pada suatu ketika beliau mendapat suara ghaib, yang meminta beliau untuk minta apa saja, dan permintaan tersebut pasti dikabulkan. Namun beliau sebagai seorang ahli tashawwuf yang mursyid, jadi beliau tidak langsung mengucapkan permintaannya. Beliau menemui Guru beliau dari keluarga Baqushair, dan menanyakan kepada Guru beliau "Apakah ada di dunia ini ada maqam kewalian yang tidak ada lagi maqam sesudahnya ??" Jawab Guru beliau : "Ada, yakni bertemu secara terjaga dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam." Kemudian Syeikhah Sulthanah meminta agar dipertemukan secara terjaga dengan Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seketika itu juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada di hadapan beliau.

Pada zaman beliau banyak orang-orang titip salam kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lewat beliau, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam titip menasihati kepada Syaikhah Sulthanah untuk orang-orang sekitarnya. Adapun kisah dimaksud sebagaimana diterangkan dalam sebuah kitab sebagai berikut,

قالوا إن الشيخة سلطانة بنت علي الزبيدي لازمت ذكر الحبيب ﷺ وصارت تلهج به حتى وصلت بسببه إلى مقام شريف وهو مقام المكالمة، فسمعت النداء من الحق يقول لها في سرها: يا سلطانة اطلبي ما تريدين، فرحلت إلى قُسْمٍ إلى عند الشيخ محمد بن حكم باقشير (٢) وأخبرته بذلك وقالت له: أبغي رتبة عظيمة وليس فوقها شيء من المراتب. فقال لها: إن رؤية الحبيب ﷺ ما فوقها شيء من المراتب، فقالت: يا رب أبغي الاجتماع بالنبي ﷺ يقظة فأعطاها الله ذلك حتى إنه يأتي إليها الآتي من أهل عصرها ويقول لها: قولي للنبي ﷺ كذا وكذا. فيأتي إليها النبي ويخبره بذلك فيقول لها: قولي له يفعل كذا وكذا أو لا يفعله. 

Mereka berkata: Sesungguhnya Asy-Syaikhah Sulthanah binti Ali Az-Zubaidi melazimi dzikir kepada Al-Habib (Nabi) Shallallahu 'alaihi wa sallam dan terus berdzikir dengannya sampai dengan sebab itu dia sampai ke maqam syarif (mulia), yaitu maqam Al-Mukalamah (diajak bicara langsung oleh Allah).

Maka dia mendengar seruan dari Al-Haq yang berkata kepadanya dalam sirnya: "Wahai Sulthanah, mintalah apa yang engkau inginkan". 

Lalu dia pergi ke Qism ke tempat Asy-Syaikh Muhammad bin Hakim Baqasyir dan mengabarkannya tentang itu. Dan dia berkata kepadanya: "Aku menginginkan kedudukan yang agung dan tidak ada di atasnya kedudukan apapun". 

Maka beliau berkata kepadanya: "Sesungguhnya melihat Al-Habib (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada di atasnya kedudukan apapun dari kedudukan-kedudukan". 

Maka dia berkata: "Wahai Rabb, aku menginginkan pertemuan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sadar/yaqzhah". 

Maka Allah memberinya hal itu, sampai-sampai ada orang yang datang kepadanya dari penduduk masanya dan berkata kepadanya: "Katakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam begini dan begitu". 

Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepadanya dan dia memberitahukannya hal itu. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: "Katakan kepadanya, lakukan begini dan begini, atau jangan dia lakukan". (Kunuz As-Sa'dah Al-Abadiyah, Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, hal.199). 

Singkatnya, bahwa mengaku bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan sadar bukan merupakan kemusyrikan. Tetapi itu merupakan keyakinan yang tidak benar, dan bisa menyebabkan kesesatan dan kemusyrikan.

Yaitu jika seseorang mengaku bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, kemudian, dia mendapatkan amalan-amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, lalu dia meyakini kebenarannya dan mengamalkannya, maka itu merupakan kesesatan. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Senin, 29 Juni 2026

KAJIAN TENTANG WAFATNYA ABU THALIB SEBAGAI SEORANG MUKMIN SESUAI PETUNJUK MIMPI




Mengenai status keimanan Abu Thalib sendiri ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat Abu Thalib wafat dalam keadaan tidak beriman karena sampai detik terakhir kewafatan tidak mengucapkan kalimat syahadat. Sesuai riwayat hadits Abu Thalib tetap berpegang pada agama Abdul Muthalib. Sebagaimana riwayat yang shahih sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ « أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَالاَ يُكَلِّمَانِهِ حَتَّى قَالَ آخِرَ شَىْءٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ . فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم « لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ » . فَنَزَلَتْ ( مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِى قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ) وَنَزَلَتْ ( إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ)

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah shallallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu,

“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muththalib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muththalib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan : “Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Kemudian turunlah ayat,

“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” (QS. Al-Qashshash: 56) (HR. Bukhari, no. 3884 dan Muslim, no. 24)

Dari ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ

“Apa manfaat yang engkau berikan kepada pamanmu (Abu Thalib) karena dia dulu telah membelamu dan marah demi mendukungmu?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هُوَ فِى ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِى الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Ia berada di tempat yang dangkal (tidak berada di bagian dasar) dari neraka. Seandainya bukan karena aku niscaya ia berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka.” (HR. Bukhari, no. 3883 dan Muslim, no. 209)

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib. Dia memakai dua sandal (dari api) hingga mendidih otaknya (karena panasnya kedua sandal itu).”(HR. Muslim, no. 213)

Namun ada juga yang meyakini bahwa wafatnya Abu Thalib dalam keadaan beriman kepada Allah Ta'ala sesuai pengakuannya sendiri saat berdialog dengan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar dalam mimpinya sesuai keterangan berikut,

ورأيت سيدي علي بن أبي طالب كرم الله وجهه، وحصلت بيني وبينه مذاكرة ومباحثة طويلة، ومن جملتها أني قلت له: إن السيدة فاطمة، اختلف أهل العلم في دفنها، هل كان في الحجرة أو في البقيع؟ فقال لي: إنها في البقيع، وأنا دفنتها بنفسي في الليل، ثم قلت له: وكذلك أبو طالب اختلف العلماء فيه، هل مات على الإيمان أم لا؟ وأنت داري بالأشياء، فقال: مات على الإيمان، والحمد لله على ذلك، قال سيدي رضي الله عنه: وقد سمعت السيد أحمد دحلان في الحلقة يقول: إن الذي ندين الله به، أن أبا طالب مات على الإيمان، والذي قال بإيمانه أربعة عشر حافظًا، قال سيدي: ونحن والحمد لله، معنا شيء زائد على الناس؛ لأن علمنا ليس ملتقطًا من الحروف، ولا من الكتب التي في الرفوف، بل متلقى من معدنه ومن أهله، وبعض الناس لما لم يعجبهم حق السلف خلّفوه". (تذكر الناس ص ٢٢٣-٢٢٤)

وفي هذا النص تصريح واضح من أحد كبارهم في عدم التعويل على الكتب المعتمدة على علوم الشرع، وإنما الاعتماد على الأحلام والرؤى بما تحمله من مخالفات شرعية، ويزعمون كذلك أن تلك المخالفات متلقاة من المعدن ومن أهل العلم، في أي معدن يقصدون، ومن هم أهل هذا المعدن الذين اتبع القوم سبيلهم؟ فالمعدن وأهله هو السبل الشيطانية التي قادتهم للانحراف عن مصادر المسلمين وهما الكتاب والسنة، وأردتهم في مهاوي الردى فتلقفوا من غيرهما فانحرفوا عن سواء السبيل.

"Dan aku (Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar)  melihat junjunganku Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu (karamallahu wajhah), lalu terjadilah antara aku dan beliau mudzakarah dan diskusi yang panjang. Dan di antaranya aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Sayyidah Fathimah, para ulama berselisih tentang pemakamannya, apakah di Hujrah atau di Baqi'? Maka beliau berkata kepadaku: Sesungguhnya beliau di Baqi', dan aku sendiri yang menguburkannya di malam hari. 

Kemudian aku berkata kepadanya: Demikian pula Abu Thalib, para ulama berselisih tentangnya, apakah dia wafat di atas keimanan atau tidak? Dan engkau mengetahui perkara-perkara. Maka beliau berkata: Dia wafat di atas keimanan, dan segala puji bagi Allah atas itu. 

Berkata sayyidku (semoga Allah meridhainya): Dan aku telah mendengar As-Sayyid Ahmad Dahlan di halaqah berkata: Sesungguhnya yang kami beragama kepada Allah dengannya adalah, bahwa Abu Thalib wafat di atas keimanan. Dan yang berkata dengan keimanannya ada 14 orang hafizh.

Berkata sayyidku: Dan kami, Alhamdulillah, memiliki sesuatu yang lebih dari manusia; karena ilmu kami tidak dipungut dari huruf-huruf, dan tidak dari kitab-kitab yang ada di rak, akan tetapi diambil langsung dari sumbernya dan dari ahlinya. Dan sebagian orang, tatkala kebenaran salaf tidak membuat mereka senang, maka mereka menyelisihinya". (Tadzkirus Naas hal.223-224)

Dan dalam teks ini ada pernyataan jelas dari salah seorang tokoh besar mereka tentang tidak berpegang pada kitab-kitab mu'tabar yang bersumber dari ilmu syariat, akan tetapi berpegang pada mimpi dan ru'ya yang membawa pelanggaran-pelanggaran syariat. Dan mereka menyangka pula bahwa pelanggaran-pelanggaran itu diambil dari "sumbernya dan ahlinya". Sumber apa yang mereka maksud, dan siapa "ahli sumber" yang mereka ikuti jalannya? Maka "sumber dan ahlinya" itu adalah jalan-jalan setan yang menuntun mereka menyimpang dari sumber kaum muslimin yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan menjerumuskan mereka ke jurang kebinasaan, lalu mereka mengambil dari selain keduanya maka mereka menyimpang dari jalan yang lurus." (Ash-Shufiyah fi Hadhramaut, Amin bin Ahmad bin Abdullah As-Sa'di, cet. Jami' Al-Huquq Mahfuzhah, cet.pertama 2008 M/1429 H. hal.312). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG KISAH PERNIKAHAN DI ALAM KUBUR DALAM "KITAB TADZKIRUN NAAS"



Kitab Tadzkir An-Nas (atau Tadzkirunnas) adalah kumpulan kalam nasihat, serta hikmah karya Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas. Di dalamnya banyak menyajikan kisah-kisah di luar nalar (khariqul 'adah) yang jika dicerna tanpa ilmu dan pemahaman dapat menghipnotis pembacanya percaya pada hal-hal khurafat dianggap sebagai karomah.

Kitab Tadzkirun Nas, ada sejumlah konten yang saya kuatirkan membentuk alam pikir yang mundur, memuja karomah secara salah, dan mengelu-elukan wali secara tidak proporsional.

Kisah-kisah seperti ini lebih dekat dengan khurofat dan bisa merusak pemahaman tentang karomah yang tidak proporsional. Karomah itu haqq, tapi dalam menerima berita karomah harus super hati-hati, agar tidak tercampur mana yang dongeng dan mana kejadian asli. Berita semacam itu harus dicek dengan level ketelitian seperti menyaring hadits. Sebagaimana kisah-kisah berikut,

وبلغنا أن الحبيب صالح بن عبد الله العطاس وعظ أناسا ، وحثّهم على الصلاة، وقال لهم: إن الذي يصلي لا تحرقه النار، وكانت هناك قهوة تُطبخ على النار فرفعها، وجلس محلها فوق النار، ولم تحرقه، يريهم عيِّانًا أن المصلي لا تحرقه النار. وجاء إلى مرة أحد من صلحاء البرزخ ثم لما أراد الخروج أُخذت به إلى ناحية بيت مقابل الباب الذي يريد أن يخرج منه، فقال لي: إن أهل هذا البيت يتهاونون بالصلاة، وإن المكان الذي يتهاون أهله بالصلاة لا يقدر أهل البرزخ أن يمروا حوله، فأخذت به إلى جهة أخرى، فبسط جناحيه، وطار في الهواء.

Dan sampai kepada kami bahwa Al-Habib Shalih bin Abdullah Al-Athas pernah menasihati beberapa orang, dan mendorong mereka untuk shalat. Beliau berkata kepada mereka: "Sesungguhnya orang yang shalat, api tidak akan membakarnya".

Dan di situ ada kopi yang sedang dimasak di atas api. Lalu beliau mengangkatnya, dan duduk di tempatnya tepat di atas api, dan beliau tidak terbakar. Beliau memperlihatkan secara nyata kepada mereka bahwa orang yang shalat, api tidak akan membakarnya.

Dan pernah suatu ketika datang salah seorang dari orang-orang shalih alam Barzakh Kemudian ketika dia hendak keluar, dia dibawa ke arah rumah yang berseberangan dengan pintu yang ingin dia lalui. Maka dia berkata kepadaku: "Sesungguhnya penghuni rumah ini meremehkan shalat. Dan sesungguhnya tempat yang penghuninya meremehkan shalat, maka penduduk Alam Barzakh tidak mampu lewat di sekitarnya".

Lalu dia membawaku ke arah lain, lalu dia membentangkan kedua sayapnya, dan terbang di udara." (Kitab Tadzkir An-Nas, Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, Zawiyah Al-Idrus Al-Ilmiah, Tarim, hal.98)

ورأيت امرأةً شريفةً بعد ما ماتت، وسألناها فقالت: إني قد حفظت نصف القرآن، وقد آتاني بعض الناس، وقال لي: أنك رأيت الشيخ أبا بكر بن سالم، وقال إن هذا عرس هذه الأيام، لأبنى فلان، على بنتى فلانة.

وقد وقع لي مثل هذا، وهو أنه مات بعض السادة عندنا، فخرجت إلى المسجد لحضور الصلاة عليه، فتوضأت وصليت ركعتين، فأعتراني ثِقَلٌ، ولم أقدر على الحركة، وأخذتني سِنةٌ، فدخل عليَّ ذلك السيد ومعه شريفة كانت ماتت قبله، فقلت لهما: ما شأن هذا الاختلاط؟ فقال إنها لي، وهي زوجتي في البرزخ.

Dan aku melihat seorang wanita yang mulia setelah dia wafat. Lalu kami bertanya kepadanya, maka dia berkata: "Sesungguhnya aku telah menghafal setengah Al-Qur'an. Dan sebagian orang telah mendatangiku dan berkata kepadaku: Sesungguhnya engkau telah melihat Asy-Syaikh Abu Bakar bin Salim, dan dia berkata: Sesungguhnya ini adalah pernikahan pada hari-hari ini, untuk anakku fulan, dengan putri fulanah".

Dan hal serupa pernah terjadi padaku, yaitu: wafatlah sebagian dari para sadah di daerah kami. Maka aku keluar ke masjid untuk menghadiri shalat jenazahnya. Lalu aku berwudhu dan shalat 2 rakaat. Maka datanglah rasa berat padaku, dan aku tidak mampu bergerak. Lalu kantuk menguasaiku. Maka masuklah kepadaku sayyid itu bersama seorang wanita mulia yang telah wafat sebelum dia. Maka aku berkata kepada keduanya: "Apa urusan pertemuan khalwat ini?" Maka dia berkata: "Dia adalah milikku, dan dia adalah istriku di alam barzakh". (Kitab Tadzkir An-Nas, Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, Zawiyah Al-Idrus Al-Ilmiah, Tarim, hal.197). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG SYAFAAT WALI MENYAMAI SYAFAAT NABI MUHAMMAD SAW, BENARKAH?



Dalam ajaran Islam, seorang wali atau orang saleh tidak bisa memberikan syafaat (pertolongan di akhirat) kepada orang non-muslim. Syafaat di akhirat hanya berlaku bagi mereka yang meninggal dalam keadaan beriman dan bertauhid (mengesakan Allah). Syafaat sepenuhnya adalah milik Allah dan hanya diberikan kepada orang-orang yang diridai-Nya. Para nabi, wali, atau syuhada hanya bisa memberikan syafaat jika telah diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Syafaat terbesar di akhirat (syafa'atul 'uzma) adalah milik Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diberikan untuk memberikan keringanan dan pertolongan, namun tetap dikhususkan bagi umatnya yang beriman dan pelaku dosa besar yang belum sempat bertaubat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْـوَةٌ مُسْـتَجَابَةٌ فَتَعَجَّـلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَـهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْـوَتِى شَــفَاعَةً لأُمَّـتِى يَوْمَ الْقِيَـامَـةِ فَهِىَ نَائـِلَةٌ إِنْ شَـاءَ اللَّهُ مَنْ مَـاتَ مِنْ أُمَّـتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajabah, maka setiap Nabi doanya dikabulkan segera, sedangkan saya menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat. Syafaat itu insya Allah diperoleh umatku yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”. (HR. Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) 

Namun anehnya ada saja pengakuan bahwa syafaat seorang wali bisa mengeluarkan penduduk Tarim dari neraka, baik yang beriman maupun yang kafirnya, sehingga dalam kitab Ash-Shufiyah fi Hadhramaut ini sebagai bentuk kritikan kepada kitab karya ba'alawi, adapun teksnya sebagai berikut,

وقال شيخ بن عبد الله العيدروس: «وروى عن الشيخ إبراهيم ابن الشيخ عبد الرحمن رحمه الله ونفع به، قال: قال لي الشيخ الجليل والقدوة الشهير أبو بكر بن الشيخ عبد الرحمن رحمه الله، ونفع بهم: أشهد عني أن والذي أعطى على الأولياء من الشفاعة مثل ما أعطى منها محمداً ﷺ على الأنبياء صلوات الله عليهم أجمعين؛ فإنه أخرج من النار كل من دخلها من أهل تريم ذلك كشفاً منه...». (٢)

وهذا النص فيه رفع منزلة أوليائهم في الشفاعة وجعلها في منزلة النبي ﷺ، وكذا رفع منزلة أوليائهم على بقية أولياء الصوفية وغيرهم، ودعوى التصرف في أمور الآخرة، حيث يزعمون - أن أولياءهم يخرجون من النار جميع أهل تريم مؤمنهم وكافرهم، الموحد منهم والمشرك، هكذا بلغ بهم الغلو والانحراف عن دين الله جل وعلا، ولا حول ولا قوة إلا بالله.

وكذا جعلوا شفاعة أوليائهم يوم القيامة لمحبيهم، وهذه دعوة منهم لمحبة أوليائهم على ما عندهم من الانحراف، وترويج هذه الفضيلة عند الناس للتعلق بهم، لينالوا هذه الشفاعة المزعومة، فقد جاء في مناقب محمد بن أحمد المعروف بمقدم تربة قسم أن جمل الليل قال: «لما مات محمد بن أحمد ارتفع عن تربته العذاب وأنه يشفع لجميع أهل محبته...». (٣)

ومن انحرافاتهم دعوى أن مشايخهم تتعدى للقبائل الحضرمية، جاء في كتاب شرح العينية: «وقال الشيخ الجليل الفقيه محمد أبي بكر عباد: الذي يغلب على الظن أن الشيخ محمد بن علي يشفع حتى في تهد (١) (٢).

قال عبد الله باسودان في كلام له في شرح الواسطة الشركية التي اعتمدتها صوفية حضرموت: «كما قال سيدنا الشيخ عبد الله الحداد صاحب الراتب - قدس الله روحه - أن الولي يكون اعتناؤه بقريبه واللائذين به بعد موته أقوى من اعتنائه بهم في حياته؛ لأنه مشغول بالتكاليف وبعد موته طرح عنه الأعباء وتجرد.. انتهى.

وذلك: لأن الله تعالى متولي أمر الولي في الدنيا والآخرة، بل قد يتوجه بعض من له حاجة إلى الولي من نحو شفاعة في جلب نفع أو دفع مكروه وضر من كل الأغراض الدنيوية والأخروية، فيعلم الله المتوجه إليه، ويأذن له في إيصال مطلوبه إليه، فيكون الله سبحانه هو الفاعل لذلك والولي واسطة وآلة». (٣)

Dan Syaikh bin Abdullah Al-Idrus berkata: "Dan diriwayatkan dari Asy-Syaikh Ibrahim bin Asy-Syaikh Abdurrahman (semoga Allah merahmatinya dan memberi manfaat dengannya), dia berkata: Berkata kepadaku Asy-Syaikh yang mulia dan qudwah yang masyhur Abu Bakar bin Asy-Syaikh Abdurrahman (semoga Allah merahmatinya dan memberi manfaat dengan mereka): Aku bersaksi atas diriku bahwa yang telah diberikan kepada para wali berupa syafaat itu semisal apa yang diberikan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dari syafaat atas para nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya dia telah mengeluarkan dari neraka setiap orang yang masuk ke dalamnya dari penduduk Tarim, hal itu secara kasyaf darinya..." (2) 

Dan teks ini berisi pengangkatan kedudukan para wali mereka dalam syafaat dan menyamakannya dengan kedudukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian pula mengangkat kedudukan para wali mereka di atas sisa wali-wali Sufi lainnya dan selain mereka. Serta klaim tasharruf (campur tangan dalam urusan akhirat, dimana mereka menyangka) bahwa para wali mereka mengeluarkan dari neraka seluruh penduduk Tarim, baik mukmin maupun kafirnya, yang bertauhid maupun musyriknya. Demikianlah ghuluw dan penyimpangan dari agama Allah Jalla wa 'Ala telah sampai pada mereka, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Demikian pula mereka menjadikan syafaat para wali mereka pada hari kiamat untuk orang-orang yang mencintai mereka. Dan ini adalah ajakan dari mereka untuk mencintai para wali mereka di atas penyimpangan yang ada pada mereka, dan menyebarkan keutamaan ini di tengah manusia agar bergantung kepada mereka, supaya mereka mendapatkan syafaat yang disangka-sangka ini.

Sungguh telah datang dalam Manaqib Muhammad bin Ahmad yang dikenal dengan Muqaddam Tarbat Qism bahwa Jammal Al-Lail berkata: "Tatkala Muhammad bin Ahmad wafat, siksaan diangkat dari kuburnya dan sesungguhnya dia memberi syafaat kepada seluruh orang yang mencintainya..." (3)_

______

(2) Al-'Aqd An-Nabawi fi Manaqib As-Sadah Al-Asyraf Bani Alawi juz 1 hal.365)

(3) Al-Maayru' Ar-Rawi juz 1 hal.174). 

Dan termasuk penyimpangan mereka adalah klaim bahwa syaikh-syaikh mereka mencakup kabilah-kabilah Hadramaut. Telah datang dalam kitab Syarh Al-'Ainiyah: "Dan berkata Asy-Syaikh yang mulia Al-Faqih Muhammad Abu Bakar 'Abbad: Yang lebih kuat menurut perkiraan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Ali memberi syafaat sampai kepada Tihd".

Berkata Abdullah Basudan dalam ucapannya tentang Syarh Al-Wasithah Asy-Syirkiyah yang dijadikan pegangan oleh Sufi Hadramaut: "Sebagaimana berkata junjungan kami Asy-Syaikh Abdullah Al-Haddad pemilik Ar-Ratib (semoga Allah mensucikan ruhnya): Sesungguhnya wali itu perhatiannya kepada kerabatnya dan orang-orang yang berlindung kepadanya setelah wafatnya lebih kuat daripada perhatiannya kepada mereka ketika hidupnya. Karena dia sibuk dengan taklif, dan setelah wafatnya beban itu diletakkan darinya dan dia menjadi murni... selesai.

Dan demikian itu: karena Allah Ta'ala yang mengurusi urusan wali di dunia dan akhirat. Bahkan terkadang sebagian orang yang punya hajat menghadap kepada wali dalam hal seperti syafaat untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudharat dan bahaya dari semua tujuan duniawi dan ukhrawi, maka Allah mengetahui orang yang menghadap kepadanya, lalu mengizinkannya untuk menyampaikan hajatnya kepadanya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala yang melakukan itu dan wali adalah perantara dan alat". (Ash-Shufiyah fi Hadhramaut, Amin bin Ahmad bin Abdullah As-Sa'di, cet. Jami' Al-Huquq Mahfuzhah, cet.pertama 2008 M/1429 H. hal.536-537). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 26 Juni 2026

INILAH ISI SURAT HABIB USMAN BIN YAHYA KEPADA SNOUCK HURGRONJE MEMINTA JABATAN SEBAGAI "MUFTI BATAVIA"

Dalam bukunya: “Islam, Kolonialisme dan Zaman Modern di Hindia-Belanda, Nico J.G. Kaptein seorang akademisi dan pakar studi Islam terkemuka asal Belanda yang memiliki fokus mendalam pada perkembangan Islam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia menyatakan bahwa jabatan “Mufti” yang disandang Habib Usman bin Yahya bukan begitu saja diberikan oleh penjajah, tetapi karena Habib Usman bin Yahya beberapa kali memintanya.

Habib Usman bin Yahya pernah menulis surat kepada Cristian Snouck Hurgronje pada 30 Agustus 1886 yang sudah saya tulis ulang sebelumnya dari manuskrip aslinya diantara isinya adalah agar Snouck berkenan menyebut nama Usman bin Yahya di hadapan para pejabat Belanda, baik yang ada di Batavia maupun di Eropa. Ia juga  mengirim surat kepada Snouck tanggal 4 Januari 1887 yang isinya ia meminta jabatan dalam pemerintahan kolonial Belanda, namun tidak disebutkan jabatan apa yang ia inginkan. Baru pada surat yang dikirimkan kepada Snouck tanggal 8 Juli 1888/28 Syawal Habib Usman bin Yahya menyebut jabatan yang ia inginkan yaitu sebagai “Mufti” bagi pemerintah Penjajah Belanda. Adapun isi suratnya sebagai berikut,

الحمد لله وحده

الى حضرة الجناب المكرم والنحر المفخم ذى العلم المنيف الغني من الاعريف عزيزنا وصحبنا الدكتور سنوكهرخرنج طابت ايامه وهلا فى الافاق اعلقمه صمت الاخرى من بندر بتاوي ومشرفكم العزيز المؤرخ ٢٨ شعبان الينا وصل وبه الاتي حصل وما ذكرتم من مطلوبكم باموس باللغة المستهل عند الخضارم فعسى ان كان به فرصة لنا ان اصنع لكم جدولا فيه المستعملات من اللغة عند الحضارم وعند اهل مكة وعند اهل مصر وما حصل من التفاوت بينهم فى ذالك مثل هذه العينة التي باطن هذالكتاب وايضا مطلوبنا من فضلكم واحسانكم وعل. قدر محبتكم ان ترسلولنا نسخة من الجرابة التي طبعتوها فى بلدكم فى العلم الماضى او قبلها التي فيها ذكر كتابنا الوثيقة الوفية وذكر اسمنا مرادنا ان ترسلولنا نسخة منها مبادرة لحيث انها لم توجد الان فى بتاوي ومرادنا بها التوسل بها الى الرضى حصول مطلوبنا عند الرئيس وهو منزلة اطفيسور لعلها بالعرابية المفتي لحيث ان جميع قضاء اهل جاوا والملايو وغيرهم وروساءهم اقايتى معهم مثله مشكلة فى انكهتهم وطلاقهم وفرائضهم لم يطلبو معرفتها الامننا وروساء الانرنج فى بتاوي احيانا يستعينون بنا فى الاستخراج بعض الكتب او فى تفتيش مشايخ الطريقة او الكهنة مثلا ولاشيئ معنا حاصل لامشاهرة ولا غيرها بل ولا مقصودنا بذكر بل مقصودنا سيانة اسمنا وعرضنا عند العوام ليلا يتجرؤن علينا بالكلام الذي لا يليق مثلا وكذالك استعين بكم بحسب المحبة بيننا وبينكم ان تتسببون فى حصول تلك المرتبة لنا هذا ما اخبركم وايضا من طرق مسئلة الاحجار المكتوبة قد سفر ولدنا السيد محمد بن عثمان الى حضرموت فى تفنيش ذالك فاذا حصل من ذالك شيئا لابد ما اخبركن بذالك ودمتم مجمالين المكرمين

فى بتاوي ٢٨ شوال 

الحقير عثمام بن عبد الله بن عقيل بن يحي

*"Segala puji bagi Allah semata.*

Kepada hadirat tuan yang mulia, yang terpandang, yang memiliki ilmu yang tinggi, yang tidak butuh diperkenalkan, sahabat kami yang kami cintai, *Dr. Snouck Hurgronje.* Semoga hari-harinya baik, dan namanya tersebar ke seluruh penjuru. 

Surat mulia Anda dari Bandar Batavia bertanggal 28 Sya’ban telah sampai kepada kami, dan kami telah memahami isinya. 

Adapun yang Anda minta berupa kamus dengan bahasa yang lazim dipakai orang-orang Hadhramaut, maka mudah-mudahan jika ada kesempatan bagi kami, kami akan buatkan untuk Anda sebuah tabel berisi kosakata yang dipakai oleh orang Hadhramaut, orang Mekah, dan orang Mesir, beserta perbedaan di antara mereka dalam hal itu. Contohnya seperti contoh yang ada di dalam buku ini.

Dan juga, kami memohon kemurahan dan kebaikan Anda, sesuai dengan besarnya cinta Anda kepada kami, agar berkenan mengirimkan kepada kami satu naskah jaraabah/buletin yang Anda terbitkan di negeri Anda pada tahun lalu atau sebelumnya, yang di dalamnya ada penyebutan kitab kami *Al-Watsiqah Al-Wafiyah* dan penyebutan nama kami. Tujuan kami adalah agar Anda segera mengirimkan satu naskah darinya, karena sekarang naskah itu tidak ada di Batavia. Kami menginginkannya untuk menjadikannya perantara guna tercapainya hajat kami di hadapan Tuan Residen, yaitu jabatan Adviseur yang dalam bahasa Arab disebut Mufti. Karena semua qadi orang Jawa, Melayu, dan lainnya, serta para kepala mereka, semuanya memiliki masalah yang sama seperti beliau dalam urusan nikah, talak, dan faraid. Mereka tidak meminta pengetahuan tentang itu kecuali dari kami. Dan para kepala orang Arab di Batavia kadang-kadang meminta bantuan kami untuk mengeluarkan beberapa kitab, atau untuk mencari para syaikh tarekat atau dukun misalnya. 

Akan tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa, baik gaji maupun lainnya. Bukan pula tujuan kami dengan menyebut ini adalah popularitas. Tujuan kami hanyalah menjaga nama baik dan kehormatan kami di hadapan orang awam, agar mereka tidak berani berbicara kepada kami dengan perkataan yang tidak pantas misalnya. 

Demikian juga, kami mohon bantuan Anda, sesuai dengan persahabatan antara kami dan Anda, untuk berupaya mewujudkan jabatan tersebut bagi kami. Inilah yang ingin kami sampaikan kepada Anda.

Juga terkait masalah batu-batu bertulis, anak kami Sayyid Muhammad bin Utsman telah pergi ke Hadhramaut untuk menyelidiki hal itu. Jika ada hasil dari itu, pasti kami akan mengabarkan kepada Anda. 

Semoga Anda senantiasa dimuliakan.

Di Batavia, 28 Syawal. 

Yang hina, Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya

Harapan Habib Usman untuk diangkat menjadi “mufti” itu sampai tahun 1888 belum juga dikabulkan. Entah apa yang membuat Snouck tidak segera mengusahakan agar Usman bin Yahya segera mendapat jabatan dari pemerintah Belanda.  Oleh karena itu, Habib Usman mengirim surat lagi kepada Snouck pada 8 Juli 1888. Dalam surat itu Habib Usman bin Yahya meminta agar Snouck mengirimkan salinan surat kabar di Belanda yang memuat tulisan Snouck yang menyebut namanya dan kitabnya Al-Watsiqah Al-Wafiyah. Dalam surat itu Usman menyatakan bahwa jika Salinan surat kabar yang menyebut namanya itu telah datang ia akan membawanya kepada pejabat Belanda di Batavia untuk menjadi pertimbangan meminta jabatan. Dalam surat kali ini, Usman dengan terus terang menyebut jabatan apa yang ia inginkan. Dalam suratnya itu Usman menyatakan bahwa jabatan yang ia inginkan adalah  sebagai “mufti” bagi pemerintah Belanda di Batavia. Inti surat Habib Usman bin Yahya meminta jabatan sebagai mufti beliau menuliskan dalam suratnya,

“…ومراد نا بها التوسل بها إلى حصول مطلوبنا عند الرئيس وهو منزلة اطفيسور لعلها بالعربية المفتي”

“…maksud kami dengan bantuan itu adalah menjadi jembatan tercapainya maksud kami kepada Gubernur Jenderal (ra’is) untuk mendapatkan jabatan Advisor (penasihat),  mungkin dengan nama Arab, ‘mufti’.” Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*