MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Rabu, 23 September 2026

KAJIAN TENTANG HUKUM MENGUSAP WAJAH SETELAH SELESAI BERDOA

Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), khususnya Nahdliyin (pengikut NU), ketika setelah selesai shalat mengusap mukanya dengan tangan, baik keduanya maupun hanya tangan kanannya saja. 

Apakah hal tersebut diperbolehkan dalam Islam? atau apakah perbuatan tersebut ada dasarnya atau dalilnya?.

Karena ada sebagian umat Islam yang berbeda tafsir keagamaanya melarang sesama saudaranya yang juga berbeda tafsir keagamaanya dengan dirinya untuk mengusap muka setelah shalat atau setelah berdoa. 

Sebenarnya perbuatan tersebut ada dasarnya, sumbernya berasal dari beberapa riwayat hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diantaranya yang diriwayatkan dalam kitab Sunan Abu Dawud nomor 1275,

عن السائب بن يزيد عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا فرفع يديه مسح وجهه بيديه (سنن ابي داود ، رقم ١٢٧٥). 

"Dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya, apabila Rasulullah saw berdoa, beliau selalu mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya." (HR Sunan Abi Dawud, 1275). 

سنن ابن ماجه ١١٧١: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ قَالَا حَدَّثَنَا عَائِذُ بْنُ حَبِيبٍ عَنْ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ

Sunan Ibnu Majah 1171: Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] dan [Muhammad bin Ash Shabbah] keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami ['A`id bin Habib] dari [Shalih bin Hassan Al Anshari] dari [Muhammad bin Ka'ab Al Qurazhi] dari [Ibnu Abbas] ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila kamu berdo'a kepada Allah gunakanlah bagian dalam telapak tanganmu dan jangan dengan bagian luarnya, jika selesai do`a maka usaplah wajahmu dengan keduanya." (HR. Ibnu Majah no.1171)

سنن الترمذي ٣٣٠٨: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى فِي حَدِيثِهِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى وَقَدْ تَفَرَّدَ بِهِ وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ وَقَدْ حَدَّثَ عَنْهُ النَّاسُ وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيُّ ثِقَةٌ وَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ

Sunan Tirmidzi 3308: Telah menceritakan kepada kami [Abu Musa Muhammad binAl Mutsanna] dan [Ibrahim bin Ya'qub] serta lebih dari satu orang mereka berkata:? telah menceritakan kepada kami [Hammad bin IsaAl Juhani] dari [Hanzhalah bin Abu SufyanAl Jumahi] dari [Salim bin Abdullah] dari [ayahnya] dari [Umar bin Al Khathab radliallahu 'anhu] ia berkata: rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam sebuah doa maka beliau tidak menurunkan keduanya hingga mengusap mukanya dengan keduanya. Muhammad bin Al Mutsanna berkata dalam hadits tersebut: tidak mengembalikan keduanya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya. Abu Isa berkata: hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin Isa, ia sendirian yang meriwayatkan hadits tersebut sementara ia adalah orang yang sedikit haditsnya. Orang-orang telah menceritakan darinya, sedangkan Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi adalah orang yang tsiqah, ia ditsiqahkan oleh Yahya bin Sa'id Al Qaththan. (HR. At-Tirmidzi no.3308)

Juga penjelasan dari para ulama 4 Imam Mdzhab sebagaimana berikut ini,

من أقوال الحنفية  

في شرح الحصكفي 1/507  و  أما ( عند الصفا والمروة وعرفات ) ف ( يرفعهما كالدعاء ) والرفع فيه , وفي الاستسقاء مستحب ( فيبسط يديه ) حذاء صدره ( نحو السماء ) لأنها قبلة الدعاء ويكون بينهما فرجة والإشارة بمسبحته لعذر كبرد يكفي والمسح بعده على وجهه سنة في الأصح شرنبلالية . )  

وفي الفتاوى الهندية 5/318 : ( مسح الوجه باليدين إذا فرغ من الدعاء قيل : ليس بشيء , وكثير من مشايخنا - رحمهم الله تعالى - اعتبروا ذلك وهو الصحيح وبه ورد الخبر , كذا في الغياثية .)   

*Dari perkataan ulama Hanafiyah*

Dalam Syarh Al-Hashkafi 1/507: "Adapun (di Shafa dan Marwah serta Arafah) maka (ia mengangkat kedua tangannya seperti dalam doa) dan mengangkat tangan dalam hal itu, dan dalam istisqa' adalah mustahab (maka ia membentangkan kedua tangannya) sejajar dengan dadanya (ke arah langit) karena langit adalah kiblatnya doa dan di antara keduanya ada celah, dan berisyarat dengan jari telunjuknya karena uzur seperti dingin sudah cukup, dan mengusap wajah dengannya setelah doa adalah sunnah menurut pendapat yang paling sahih. Syurunbulaliyah."

Dan dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 5/318: "(Mengusap wajah dengan kedua tangan jika telah selesai dari doa, dikatakan: itu bukan apa-apa, dan banyak dari guru-guru kami - rahimahumullah ta'ala - menganggap hal itu dan itulah yang sahih dan telah datang khabar (hadis) tentangnya, demikian dalam Al-Ghiyatsiyah.)"[dianjurkan]

من أقوال المالكية  

في الفواكه الدواني 2/330 : ( واختلف هل يرفع يديه عند الدعاء أو لا ؟  

وعلى الرفع فهل يمسح وجهه بهما عقبه أم لا ؟ والذي في الترمذي عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه : { أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا رفع يديه في الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه } . فيفيد أنه كان يرفعهما ويمسح بهما وجهه .) 

وفي الفواكه الدواني أيضا 2/335 : ( واختلف في بسط اليد ولا بأس منه لانه أمارة الذل والسكينة ويستحب أن يمسح وجهه بيديه عقبه كما كان يفعله عليه الصلاة والسلام ) اه  وفي الفواكه الدواني أيضا 1/281 : ( ويرفع يديه في حال الدعاء وبطونهما إلى الأرض وقيل إلى السماء وورد أنه بعد الدعاء يضع يديه على وجهه ويمسحه بهما لكن من غير تقبيل )  

  *Dari perkataan ulama Malikiyah*

Dalam Al-Fawakih Ad-Dawani 2/330: "Dan diperselisihkan apakah ia mengangkat kedua tangannya ketika berdoa atau tidak? Dan jika mengangkat, apakah ia mengusap wajahnya dengan keduanya setelahnya atau tidak? Dan yang ada dalam At-Tirmidzi dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu: {Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam doa, beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya}. Maka ini berfaedah bahwa beliau mengangkat keduanya dan mengusap wajahnya dengan keduanya."

Dan dalam Al-Fawakih Ad-Dawani juga 2/335: "Dan diperselisihkan tentang membentangkan tangan dan tidak apa-apa melakukannya karena itu adalah tanda kerendahan dan ketenangan, dan dianjurkan untuk mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi 'alaihis shalatu wassalam."

Dan dalam Al-Fawakih Ad-Dawani juga 1/281: "Dan ia mengangkat kedua tangannya dalam keadaan berdoa dan telapaknya menghadap ke bumi, dan dikatakan menghadap ke langit, dan telah datang riwayat bahwa setelah berdoa ia meletakkan kedua tangannya di wajahnya dan mengusapnya dengan keduanya, akan tetapi tanpa menciumnya."

من أقوال الشافعية  

فتاوى ابن حجر 1/137 : ( وسئل ) رضي الله عنه - وحشرني في زمرته - عن تقبيل اليدين بعد كل دعاء خارج الصلاة هل له أصل كمسح الوجه بهما أم لا ؟ وإذا كان له أصل فهل هو صحيح , أو خبره ضعيف  ( فأجاب ) - فسح الله في مدته - : بأني لم أر له أصلا صحيحا ولا ضعيفا بعد مزيد البحث والتفتيش ; فلا ينبغي فعله .)  

وفي مغني المحتاج 1/370 : ( وأما مسح غير الوجه كالصدر فلا يسن مسحه قطعا بل نص جماعة على كراهته . وأما مسح الوجه عقب الدعاء خارج الصلاة , فقال ابن عبد السلام بعد نهيه عنه لا يفعله إلا جاهل ا هـ .  وقد ورد في المسح بهما أخبار بعضها غريب وبعضها ضعيف , ومع هذا جزم في التحقيق باستحبابه .)  

وفي حاشية البجيرمي على شرح المنهج 1/208 : ( قوله : ( لا مسح ) أي : في الصلاة أي : لا يندب فالأولى تركه ح ل ويسن خارجها م ر أي : يسن أن يمسح وجهه بيديه بعده لما ورد أن كل شعرة مسحها بيده بعد الدعاء تشهد له ويغفر له بعددها ح ف وما تفعله العامة من تقبيل اليد بعد الدعاء لا أصل له كما في شرح م ر و ع ش . )  

 *Dari perkataan ulama Syafi'iyah*

Fatawa Ibnu Hajar 1/137: "Dan beliau ditanya - radhiyallahu 'anhu - dan semoga Allah mengumpulkanku dalam golongannya - tentang mencium kedua tangan setelah setiap doa di luar shalat, apakah ada dasarnya seperti mengusap wajah dengan keduanya atau tidak? Dan jika ada dasarnya, apakah itu sahih atau hadisnya lemah? (Maka beliau menjawab) - semoga Allah melapangkan masanya -: Bahwa aku tidak melihat ada dasar yang sahih maupun yang lemah setelah penelitian dan pencarian lebih lanjut; maka tidak sepantasnya melakukannya."

Dan dalam Mughni Al-Muhtaj 1/370: "Adapun mengusap selain wajah seperti dada, maka tidak disunnahkan mengusapnya sama sekali, bahkan sekelompok ulama menegaskan kemakruhannya. Adapun mengusap wajah setelah doa di luar shalat, maka Ibnu Abdissalam setelah melarangnya berkata: Tidak ada yang melakukannya kecuali orang bodoh. Selesai. Dan telah datang dalam masalah mengusap dengan keduanya beberapa khabar, sebagiannya gharib dan sebagiannya dha'if, dan meskipun demikian, dalam kitab At-Tahqiq dipastikan kesunnahannya."

Dan dalam Hasyiyah Al-Bujairimi 'ala Syarh Al-Manhaj 1/208: "Perkataannya: (tidak mengusap) maksudnya: di dalam shalat, yaitu: tidak dianjurkan, maka yang lebih utama adalah meninggalkannya. Ha' Lam. Dan disunnahkan di luar shalat. Mim Ra' maksudnya: disunnahkan untuk mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelahnya karena telah datang riwayat bahwa setiap helai rambut yang ia usap dengan tangannya setelah doa akan menjadi saksi baginya dan akan diampuni baginya sejumlah helai rambut itu. Ha' Fa'. Dan apa yang dilakukan oleh orang awam berupa mencium tangan setelah doa tidak ada dasarnya sebagaimana dalam syarh Mim Ra' dan 'Ain Syin."

من أقوال الحنابلة  

في المغني لابن قدامة 1/449 : ( ولنا , قول النبي صلى الله عليه وسلم : { إذا دعوت الله فادع ببطون كفيك , ولا تدع بظهورهما , فإذا فرغت فامسح بهما وجهك } . رواه أبو داود , وابن ماجه . ولأنه فعل من سمينا من الصحابة . وإذا فرغ من القنوت فهل يمسح وجهه بيده ؟ فيه روايتان :  إحداهما , لا يفعل ; لأنه روي عن أحمد أنه قال : لم أسمع فيه بشيء . ولأنه دعاء في الصلاة , فلم يستحب مسح وجهه فيه , كسائر دعائها .  الثانية : يستحب ; للخبر الذي رويناه . وروى السائب بن يزيد , { أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا رفع يديه , ومسح وجهه بيديه } . ولأنه دعاء يرفع يديه فيه , فيمسح بهما وجهه , كما لو كان خارجا عن الصلاة )  

وفي غذاء الألباب 2/516 : ( وأن يسأل ما يصلح , ويمسح وجهه بيديه بعد فراغه ) اه  وفي الفتاوى الكبرى لابن تيمية 2/219 : ( وأما رفع النبي صلى الله عليه وسلم يديه في الدعاء : فقد جاء فيه أحاديث كثيرة صحيحة , وأما مسحه وجهه بيديه فليس عنه فيه إلا حديث , أو حديثان , لا يقوم بهما حجة , والله أعلم .) 

*Dari perkataan ulama Hanabilah*

Dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah 1/449: "Dan dalil kami adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: {Apabila engkau berdoa kepada Allah maka berdoalah dengan telapak tanganmu, dan jangan berdoa dengan punggung tanganmu, dan apabila telah selesai maka usaplah wajahmu dengan keduanya}. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dan karena itu adalah perbuatan orang-orang yang telah kami sebutkan dari kalangan sahabat. Dan apabila telah selesai dari qunut, apakah ia mengusap wajahnya dengan tangannya? Dalam hal ini ada dua riwayat: Pertama, tidak melakukannya; karena diriwayatkan dari Ahmad bahwa beliau berkata: Aku tidak mendengar apapun tentangnya. Dan karena itu adalah doa di dalam shalat, maka tidak dianjurkan mengusap wajahnya di dalamnya, seperti doa-doa lainnya di dalam shalat. Kedua: Dianjurkan; karena hadis yang telah kami riwayatkan. Dan As-Saib bin Yazid meriwayatkan, {Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berdoa beliau mengangkat kedua tangannya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya}. Dan karena itu adalah doa yang di dalamnya ia mengangkat kedua tangannya, maka ia mengusap wajahnya dengan keduanya, sebagaimana jika ia berada di luar shalat."

Dan dalam Ghidza' Al-Albab 2/516: "Dan hendaknya ia meminta apa yang baik, dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai."

Dan dalam Al-Fatawa Al-Kubra karya Ibnu Taimiyah 2/219: "Adapun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dalam doa: maka telah datang tentangnya hadis-hadis yang banyak yang sahih, dan adapun beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, maka tidak ada darinya kecuali satu hadis, atau dua hadis, yang tidak dapat dijadikan hujjah, wallahu a'lam."

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموافق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 19 September 2026

KAJIAN TENTANG PENGAKUAN TERPUTUSNYA NASAB BA'ALAWI MENURUT AL-HABIB MUSTHAFA AL-ATHAS SESUAI KITAB BA'ALAWI







Dalam penggalan sebuah percakapan di medsos ada sebuah kejujuran pengakuan dari seorang ba'alawi yaitu Al-Habib Musthafa Al-Athas dalan penjelasannya beliau menyatakan bahwa nasab ba'alawi adalah nasab yang cilukba alias datang secara tiba-tiba sebagai pengakuan nasab yang munqathi' (terputus) dari ahlul bait Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau merujuk kepada tiga kitab karya ulama ba'alawi yaitu Kitab Al-Imam Al-Muhajir hal.27 karya Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Kitab Al-Mu'jam Al-Latif hal.41 karya Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, dan Kitab Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167 karya As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi.

Melalui penelusuran saya dapatkan dan kutikpan isi kitab dimaksud sebagai berikut,

لقد واجه المهاجر وذرية من بعد فى حضرموت من الاناف فى إثبات نسبهم الى النبي صلى الله عليه وسلم مالم يواجه مثله أي فرع من فروع البيت النبوي وكان انكار هذه النسب او الطعن فيها يتكرر واجه يتكر بصور واشكال متعددة من قدوم الامام المهاجر الى حضرموت حتى عصر الحاضر

"Sungguh Al-Muhajir (Imam Ahmad bin Isa) dan keturunannya setelahnya di Hadhramaut telah menghadapi kesulitan yang sangat berat dalam menetapkan nasab mereka kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mana kesulitan seperti itu tidak pernah dihadapi oleh cabang manapun dari cabang-cabang keluarga Nabi (Bait Nabawi).

Dan pengingkaran terhadap nasab ini atau pencelaan terhadapnya terus berulang dengan berbagai bentuk dan model yang bermacam-macam, sejak kedatangan Imam Al-Muhajir ke Hadhramaut hingga masa sekarang ini." (Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Al-Imam Al-Muhajir hal.27)

أعلام تآصل بني علوي لوشستر إلا بعد تكاثرهم

وأعلام القبائل العلوية سواء كانت بالأسماء أو بالألقاب أو بالكنى لم تشتهر ولم تنتشر إلا بعد تكاثرها، وذلك بعد القرن الثامن الهجري لأنهم لم يتنشروا إلا فيه بعد، والهدف منها كما قلت سابقًا هو التعارف والتمايز. قال الله تعالى جلّ وعلا:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾

(سورة الحجرات، آية 13)

"Publikasi asal-muasal nasab Bani Alawi tidak menjadi terkenal/masyhur kecuali setelah jumlah mereka banyak (berkembang biak)."

“Nama-nama/penamaan kabilah-kabilah Alawiyah, baik yang berupa nama, gelar maupun kunyah, tidak menjadi terkenal dan tersebar kecuali setelah jumlah mereka semakin banyak. Hal itu terjadi setelah abad kedelapan Hijriah, karena sebelum itu mereka belum banyak tersebar. Tujuan dari penamaan tersebut, sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, adalah untuk saling mengenal dan membedakan satu sama lain.

Allah Ta‘ala berfirman:

‘Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.’ (QS. Al-Hujurat: 13. (Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Al-Mu'jam Al-Latif hal.41)

ظهور السلسلة فجأة، وتشتهر ولما تكون مشهورة؛ كما أنها لا واقع لها في دواوين النسب، فخبر الواحد لا عبرة به هنا بعد أن مضى على السلسلة قرون ولم تكن معروفة خلال تلك القرون المتصرفة

"Munculnya sebuah garis keturunan (silsilah nasab) secara tiba-tiba, lalu menjadi terkenal padahal sebelumnya tidak pernah terkenal; sebagaimana nasab tersebut tidak ada faktanya (tidak tercatat) di dalam kitab-kitab induk nasab, maka kabar perorangan (khabar ahad) tidak ada nilainya di sini setelah berlalunya berabad-abad lamanya atas silsilah tersebut dalam keadaan tidak dikenal selama abad-abad yang telah berlalu itu." (As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi, Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167).

Oleh karenanya, dari penjelasan kitab-kitab diatas dapat diketahui bahwa Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan keturunannya itu terkenal popularitasnya dan tersebar luas namanya (syuhrah wal istifazhah) baru pada abad ke-8 hijriyah dimana abad sebelumnya tidak diketahui dan tidak tercatat di dalam kitab nasab. Dari penjelasan video dan teks rujukan kitab tergantung bagaimana kita menyikapi kebenarannya. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan. Aamiin 

*والله الموافق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 08 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG KISAH SUMUR BARHUT HADHRAMAUT YAMAN TIDAK MENYALAHI SUNNAH




Ada teman yang bertanya terkait validitas kisah cerita dalam video ada seorang khatib yang mengkisahkan sumur Zamzam dan sumur Barhut yang ada di Yaman.

Sebagai jawabannya maka jadilah kajian ini bahwa Bi'ru Barhut yang ada di Hadhramaut memang terdapat dalam riwayat hadits. Sementara untuk kisahnya sebagaimana dikisahkan dalam video itu terdapat penjelasan dalam kitab Irsyadul Ibad. Adapun riwayat haditsnya sebagaimana berikut,

فالحديث رواه الطبراني في معجم الكبير عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خير ماء على وجه الأرض ماء زمزم، فيه طعام من الطعم، وشفاء من السقم، وشر ماء على وجه الأرض ماء برهوت بقية حضرموت كرجل الجراد من الهوام، يصبح يتدفق، ويمسي لا بلال بها. قال المناوي: قال الهيثمي: رجاله ثقات. وصححه ابن حبان وقال ابن حجر: رواته موثوقون، وفي بعضهم مقال، لكنه قوي في المتابعات، وقد جاء عن ابن عباس من وجه آخر موقوفا: زمزم فيه طعام من الطعم. أي إشباع أو طعام شبع من إضافة الشيء إلى صفته، والطعم بالضم: الطعام (وشفاء من السقم) أي: شفاء من الأمراض إذا شرب بنية صالحة، وفيه تقوية لمن ذهب إلى تفضيله على ماء الكوثر. (وشر ماء على وجه الأرض ماء بوادي برهوت) أي: ماء بئر بوادي برهوت، بفتح الباء، والبئر بئر عميقة بحضرموت، لا يمكن نزول قعرها، وقد تضم الباء وتسكن الراء، وهي المشار إليها بآية: وبئر معطلة [الحج: 45].

(بقية حضرموت كرجل الجراد من الهوام تصبح تتدفق وتمسي لا بلال لها) قال الزمخشري: برهوت بئر بحضرموت، يقال إن بها أرواح الكفار، واسم للبلد التي فيها هذا البئر، أو أراد باليمن. اهـ. في الفردوس عن الأصمعي عن رجل من أهل برهوت: أنهم يجدون الريح المنتن الفظيع منها، وفيه أنه يكره استعمال هذا الماء في الطهارة وغيرها، وبه قال جمع من الشافعية. انتهى. من كلام المناوي باختصار. وقال ياقوت الحموي في معجم البلدان: برهوت بضم الهاء وسكون الواو وتاء فوقها نقطتان: واد باليمن يوضع فيه أرواح الكفار، وقيل برهوت بئر بحضرموت، وقيل: هو اسم للبلد الذي فيه هذه البئر، ورواه ابن دريد برهوت بضم الباء وسكون الراء، وقيل: هو واد معروف.

وقال محمد بن أحمد: وبقرب حضرموت وادي برهوت، وهو الذي قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم: إن فيه أرواح الكفار والمنافقين، وهي بئر عادية في فلاة واد مظلم، وروي عن علي رضي الله عنه أنه قال: أبغض بقعة في الأرض إلى الله عز وجل: وادي برهوت بحضرموت، فيه أرواح الكفار، وفيه ماؤها، أسود منتن، تأوي إليه أرواح الكفار، وعنه أنه قال: شر بئر في الأرض: بئر بلهوت في برهوت، تجتمع فيه أرواح الكفار، وحكى الأصمعي عن رجل من حضرموت قال: إنا نجد من ناحية برهوت الرائحة المنتنة الفظيعة جدا، فيأتينا بعد ذلك أن عظيما من عظماء الكفار مات، فنرى أن تلك الرائحة منه، وعن ابن عباس رضي الله عنهما أن أرواح المؤمنين بالجابية من أرض الشام، وأرواح الكفار ببرهوت من حضرموت.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik air di atas permukaan bumi adalah air Zamzam. Di dalamnya ada makanan yang mengenyangkan, dan kesembuhan dari penyakit. Dan sejelek-jelek air di atas permukaan bumi adalah air di Bi’r Barhut, yang berada di lembah Hadramaut. Ia seperti kaki belalang yang dipenuhi hewan melata. Pagi hari airnya meluap, dan sore hari tidak tersisa setetes pun di dalamnya."

Al-Manawi berkata: Al-Haitsami berkata, "Perawi-perawinya tsiqah/terpercaya". Ibnu Hibban menshahihkannya. Ibnu Hajar berkata: "Perawinya tepercaya, dan pada sebagian mereka ada pembicaraan, tetapi ia kuat dengan adanya jalur penguat/mutaba’at". 

Dan telah datang dari Ibnu Abbas dari jalur lain secara mauquf: "Zamzam itu ada makanan yang mengenyangkan." Maksudnya: Mengenyangkan, atau makanan yang mengenyangkan, dari idhafah sesuatu kepada sifatnya. Dan ath-thu'mu dengan dhammah artinya: makanan. "Dan kesembuhan dari penyakit" yaitu: kesembuhan dari berbagai penyakit jika diminum dengan niat yang baik. Di dalamnya ada penguat bagi orang yang berpendapat tentang keutamaan air Zamzam atas air Al-Kautsar.

"Dan sejelek-jelek air di atas permukaan bumi adalah air di lembah Barhut" Yaitu: air sumur di lembah Barhut. Barhut dengan fathah pada ba’. Sumur itu adalah sumur yang sangat dalam di Hadramaut, yang dasarnya tidak mungkin bisa dicapai. Ada juga yang membaca Burhut dengan dhammah pada ba’ dan sukun pada ra’. Sumur inilah yang diisyaratkan dalam ayat: "dan sumur yang telah ditinggalkan" (QS. Al-Hajj: 45).  

"Sisa-sisa Hadramaut, seperti kaki belalang yang dipenuhi hewan melata. Pagi hari ia meluap dan sore hari tidak ada setetes pun airnya."

Az-Zamakhsyari berkata: Barhut adalah sumur di Hadramaut. Dikatakan bahwa di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir. Dan itu juga nama untuk negeri yang di dalamnya ada sumur tersebut, atau yang dimaksud adalah Yaman. Selesai.

Dalam Al-Firdaus dari Al-Ashma’i, dari seorang laki-laki penduduk Barhut: "Sesungguhnya mereka mencium bau busuk yang sangat mengerikan dari sana." Dan di dalamnya terkandung hukum makruh menggunakan air ini untuk bersuci dan selainnya. Demikianlah pendapat segolongan ulama Syafi’iyah. Selesai ringkasan dari ucapan Al-Manawi.

Yaqut Al-Hamawi berkata dalam Mu’jam Al-Buldan: Barhut dengan dhammah pada ha’, sukun pada wawu, dan ta’ yang bertitik dua di atasnya: yaitu lembah di Yaman yang di dalamnya diletakkan ruh-ruh orang kafir. Ada pula yang mengatakan Barhut adalah sumur di Hadramaut. Ada juga yang mengatakan: itu nama negeri yang di dalamnya ada sumur tersebut.  

Ibnu Duraid meriwayatkannya dengan Burhut dhammah pada ba’ dan sukun pada ra’. Ada pula yang mengatakan: ia adalah lembah yang dikenal. 

Dan Muhammad bin Ahmad berkata: "Didekat Hadramaut ada lembah Barhut. Itulah yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 'Sesungguhnya di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir dan orang-orang munafik'. Lembah itu adalah sebuah sumur kuno di padang sahara, di sebuah lembah yang gelap."

Diriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata: "Tempat yang paling dibenci Allah Azza wa Jalla di muka bumi adalah lembah Barhut di Hadramaut. Di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir, dan airnya berwarna hitam lagi busuk. Ruh-ruh orang kafir berkumpul ke sana."

Dan dari beliau juga:  "Seburuk-buruk sumur di muka bumi adalah sumur Balhut yang ada di Barhut. Di dalamnya berkumpul ruh-ruh orang kafir."

Al-Ashma’i meriwayatkan dari seorang laki-laki penduduk Hadramaut, ia berkata:  

"Sesungguhnya kami mencium dari arah Barhut bau yang sangat busuk dan mengerikan. Setelah itu datanglah kabar kepada kami bahwa seorang tokoh besar dari tokoh-tokoh orang kafir telah meninggal. Maka kami berpendapat bahwa bau itu berasal darinya."

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Ruh-ruh orang mukmin berada di Al-Jabiyah, di tanah Syam. Sedangkan ruh-ruh orang kafir berada di Barhut, di Hadramaut."

Adapun kisah ahli ibadah yang meninggal su'ul khatimah karena memutuskan silaturahim sebagai berikut, 

[قِصَّةٌ عَجِيبَةٌ فِي عُقُوبَةِ قَاطِعِ الرَّحِمِ]

وحكى شيخنا ابن حجر رحمه الله: (أن رجلاً غنياً حج، فأودع آخر موسوماً بالأمانة والصلاح ألف دينار حتى يعود من عرفة، فلما وجده قد مات، فسأل ورثته عن المال، فلم يكن لهم به علم، فسأل علماء مكة فقالوا: إذا كان نصف الليل .. فأت زمزم، وانظر فيها، وناد: يا فلان باسمه؛ فإن كان من أهل الخير .. فسيجيبك من أول مرة، فذهب ونادى فيها، فلم يجبه أحد.

فأخبرهم، فقالوا: إنا لله وإنا إليه راجعون، نخشى أن يكون صاحبك من أهل النار، اذهب إلى أرض اليمن، ففيها بئر تسمى: برهوت، إنها على فم جهنم، فانظر فيها بالليل وناد فيها: يا فلان؛ فسيجيبك منها(٢).

فمضى إلى اليمن، وسأل عن البئر، فدل عليها، فذهب إليها ليلاً، ونادى فيها: يا فلان، فأجابه، فقال: أين ذهبي؟ فقال: دفنته في الموضع الفلاني من داري، ولم آتمن عليه ولدي، فأتيهم واحفر هناك .. تجده.

فقال: ما الذي أنزلك ها هنا؟ وقد كنت أظن بك الخير؟! قال: كانت لي أخت فقيرة هجرتها، وكنت لا أحسن عليها، فعاقبني الله بسببها، وأنزلني هذا المنزل.

وتصديق ذلك: الحديث الصحيح: «لا يدخل الجنة قاطع» أي: قاطع رحمه وأقاربه(١).

=========

الحواشي:

(١) أورده ابن حجر في «الزواجر» (٢/١٥٥) ضمن الكبيرة (٣٠٣) وقال: (آية القتال - أي سورة سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم - واللعن فيها صريح، واللعن في الرعد، واللعن فيها بطريق العموم، لأن ما أمر الله به أن يوصل يشمل الأرحام وغيرها، والبقرة؛ واللعن فيها بطريق الاستلزام؛ إذ هو من لوازم الخسران).

(٢) اختلف العلماء في مقر الأرواح بعد الموت انظر تفصيل ذلك في «شرح الصدور بشرح حال الموتى وأهل القبور» للإمام السيوطي رحمه الله (ص ٤٥٣ - ٤٥٥).

[KISAH YANG MENAKJUBKAN TENTANG SIKSAAN ORANG YANG MEMUTUSKAN SILATURAHIM

Guru kami, Ibnu Hajar rahimahullah, menceritakan:  

"Bahwasanya ada seorang laki-laki kaya yang pergi haji. Maka dia menitipkan kepada orang lain yang dikenal amanah dan shalih sebesar seribu dinar, sampai dia kembali dari Arafah. 

Ketika dia mendapati orang yang dititipi itu telah meninggal, maka dia bertanya kepada para ahli warisnya tentang harta itu. Namun mereka tidak mengetahuinya sama sekali.

Lalu dia bertanya kepada para ulama Makkah. Mereka berkata: "Jika sudah tengah malam, maka pergilah ke sumur Zamzam, dan lihatlah ke dalamnya. Lalu panggillah: Wahai Fulan, dengan menyebut namanya. Jika dia termasuk orang baik, maka dia akan menjawabmu sejak panggilan pertama."

Maka dia pun pergi dan memanggil di sumur itu, tetapi tidak ada seorang pun yang menjawabnya. 

Dia pun mengabarkan hal itu kepada mereka. Mereka berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami khawatir temanmu termasuk penduduk neraka. Pergilah ke negeri Yaman. Di sana ada sebuah sumur yang bernama Barhut. Sesungguhnya sumur itu berada di mulut neraka Jahannam. Pergilah ke sana pada malam hari dan panggillah di sana: Wahai Fulan. Maka dia akan menjawabmu dari sana."(2)

Lalu dia pun pergi ke Yaman dan bertanya tentang sumur itu, maka ditunjukkanlah kepadanya. Dia pun pergi ke sana di waktu malam, dan memanggil: Wahai Fulan. Maka orang itu pun menjawabnya.

Dia bertanya: "Di mana emas ku?" Dia menjawab: "Aku menguburnya di tempat ini dan itu, di rumahku. Dan aku tidak mempercayakannya kepada anakku. Maka pergilah kepada mereka dan gali di sana, niscaya kamu akan menemukannya."

Dia bertanya lagi: "Apa yang menyebabkan kamu sampai ke tempat ini? Padahal aku menyangka kamu termasuk orang baik?!" Dia menjawab: "Dahulu aku memiliki seorang saudara perempuan yang miskin. Aku memutuskan hubungan dengannya, dan aku tidak berbuat baik kepadanya. Maka Allah menghukumku sebab itu, dan menempatkan aku di tempat ini."

Dan yang membenarkan hal itu adalah hadits yang shahih:  

«Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim» Yaitu: orang yang memutuskan hubungan dengan kerabatnya.(1)

==========  

Catatan kaki:  

(1) Ibnu Hajar menyebutkannya dalam kitab Az-Zawajir (2/155) pada dosa besar ke-303. Beliau berkata: "Ayat tentang peperangan - yaitu surat Muhammad ﷺ - terdapat lafaz laknat yang jelas di dalamnya. Dan laknat juga ada dalam surat Ar-Ra'd. Dan laknat di dalamnya secara umum, karena apa yang diperintahkan Allah untuk disambung mencakup silaturahim dan selainnya. Begitu juga dalam surat Al-Baqarah, laknat di dalamnya secara konsekuensi, karena itu termasuk konsekuensi dari kerugian."

(2) Para ulama berbeda pendapat tentang tempat ruh-ruh setelah mati. Lihat perinciannya dalam kitab Syarh Ash-Shudur bi Syarh Hali Al-Mauta wa Ahlil Qubur karya Imam As-Suyuthi rahimahullah (hal. 453 - 455). (Irsyadul Ibad ila Sabilir Rasyad, Imam Taqiyuddin Al-Maliabari  (938-1028), cet. Darul Minhaj, hal.508-509). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق 

Jumat, 07 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG MENGENAL SEBUTAN NAMA SYARIF BUKAN UNTUK ALAWIYYIN






Cukup membingungkan bagi sebagian muslim untuk membedakan syarief, sayyid dan habib. Tulisan ini tidak menjelaskan semuanya hanya terkait sebutan syarif dan Alawiyyin saja.

Dalam catatan sejarah ahli nasab yaman yaitu Syarif Umar bin Yusuf bin Rasuli Al-Kurdi Al-Yamani beliau adalah Al-Malik Al-Asyraf Mammaduddin Umar bin Yusuf (wafat 696 H/1296 M), raja ketiga dari Dinasti Rasuliyah yang memerintah di Yaman. Beliau adalah seorang penguasa ushul, sejarawan, ahli nasab, dan ilmuwan yang membuat karya penting dalam bidang astronomi serta silsilah nasab.

Thurfah Al-Ashab fi Ma'rifah Al-Ansab; sebuah kitab terkenal karyanya mengenai ilmu nasab (silsilah) dan sejarah suku-suku di Arab, yang hingga kini sering menjadi rujukan akademis dalam meneliti jalur keturunan. Pada halaman 92-93 menyebutkan,

يتلو ذلك ذكر الأشراف باليمن والحجاز ومعرفة نسبهم متصلا بعلي بن أبي طالب كرم الله وجهه. اعلم أن الشرف لا يطلق على كل من كان من ذرية أولاد علي كرم الله وجهه بل على من كان ذرية أولاده من فاطمة ابنة الرسول صلى الله عليه وسلم ورضي عنها وهما الحسن والحسين رضي الله عنهما، ومن كان من غيرهما من أولاد علي كرم الله وجهه يسمى علويا، ولا يسمون أشرافا. ومن كان من الخلفاء من أولاد العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه قيل لهم العباسيون، ومن كان من الخلفاء من بني أمية قيل لهم الأمويون. وقد مضى ذكر الخلفاء من بني أمية وبني العباس. والآن يبتدئ بذكر الأشراف الذين في اليمن والحجاز مفصلا مبينا إن شاء الله تعالى.

نسب الأشراف باليمن الذين هم بنو حمزة وبنو القاسم، وهم أولاد ترجمان الدين القاسم بن إبراهيم الرسي الذي هاجر إلى الرس في أيام المأمون بن هارون الرشيد رحمهم الله تعالى.

Berikutnya adalah penyebutan tentang para syarif (Asyraf) di Yaman dan Hijaz, serta penjelasan tentang nasab mereka yang bersambung kepada Ali bin Abi Thalib, karramallahu wajhah.

Ketahuilah bahwa gelar "Syariif" tidak diberikan kepada setiap orang yang merupakan keturunan dari anak-anak Ali, karramallahu wajhah. Gelar "Syariif" hanya khusus bagi keturunan anak-anaknya dari Fathimah radhiyallahu 'anha binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yaitu dari Al-Hasan dan Al-Husain, radhiyallahu 'anhuma.

Adapun yang berasal dari selain keduanya, dari anak-anak Ali, karramallahu wajhah, maka mereka disebut Alawiyyin, dan tidak disebut Asyraf (para syarif).

Dan bagi yang berasal dari para khalifah dari anak-anak Al-Abbas bin Abdul Muthalib, radhiyallahu 'anhu, maka mereka disebut Al-Abbasiyyun. Dan yang berasal dari para khalifah dari Bani Umayyah disebut Al-Umawiyyun. 

Sungguh telah berlalu penyebutan tentang para khalifah dari Bani Umayyah dan Bani Abbas. Dan sekarang kita akan memulai menyebutkan tentang para Asyraf yang ada di Yaman dan Hijaz secara rinci dan jelas, insya Allah Ta'ala. ((Umar bin Yusuf bin Rasuli Al-Kurdi Al-Yamani, Thurfah Al-Ashhab fi Ma'rifah Al-Anshab, Dar Shadir - Beirut hal.92-93)

Selama ini telah dipahami bahwa sebutan Bani Alawi (Ba'Alawi) dengan Alawiyyin adalah keturunan dari Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidi bin Jafar Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Husain bin Fatimah Azzahra bin Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun dalam kitab karya Syarif Ar-Rasuli pada halaman 112 beliau menyebutkan bahwa nasabnya para Syarif Bani Alawiyin berasal dari satu kakek yaitu Ali bin Idris bin Ja'far bin Nu'mah bin yusuf bin Ali bin Abdullah bin Dawud Al-Mahmud bin Musa bin Abdullah bin Musa bin Abdullah bin Sulaiman bin Musa bin Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Sebagaimana berikut,

ذكر الشرفاء العلاويين:  أصحاب وساع وغيرها من المخلاف وهم خمسة بطون: الفليتيون والعماريون والجمافرة والمثامنة والنعميون، ويجمع هذه البطون الخمسة رجل واحد وهو جدهم واسمه علي بن إدريس بن جعفر بن نعمة بن يوسف بن علي بن عبد الله بن داود المحمود بن موسى بن عبد الله بن موسى بن عبد الله بن سليمان بن موسى بن عبد الله بن الحسن بن الحسن بن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه، وقال هؤلاء كافة أولاد علي وليسوا من بني الطيب.

Penyebutan para Syarif Al-Alawiyyin: Yaitu para penduduk Wasa’ dan selainnya dari wilayah Mukhallaf. Mereka terdiri dari lima rumpun/bathn: Al-Fulaitiyyun, Al-‘Ammariyyun, Al-Jamaafirah, Al-Matsaaminah, dan An-Na’miyyun.

Kelima rumpun ini dikumpulkan oleh satu orang, yaitu kakek moyang mereka yang bernama: Ali bin Idris bin Ja’far bin Nu’mah bin Yusuf bin Ali bin Abdullah bin Dawud Al-Mahmud bin Musa bin Abdullah bin Musa bin Abdullah bin Sulaiman bin Musa bin Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, karramallahu wajhah. Dan mereka semua adalah anak keturunan Ali, dan mereka bukan dari Bani At-Thayyib. (Umar bin Yusuf bin Rasuli Al-Kurdi Al-Yamani, Thurfah Al-Ashhab fi Ma'rifah Al-Anshab, Dar Shadir - Beirut hal.112)

Catatan: "Mukhallaf" = wilayah pesisir Tihamah di Yaman, termasuk daerah Hodeidah. "Wasa’" = salah satu daerah di Mukhallaf.

Dari keterangan yang saya dapatkan dari kitab Thurfah Al-Ashhab fi Ma'rifah Al-Anshab bahwa para Syarif Alawiyyin keturunan Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berasal dari jalur Ali bin Idris bin Ja'far dan bukan dari jalur keturunan Alawi bin Ubaidillah. Apakah memang ada dua sebutan Alawiyyin? Silahkan komentar yang sopan. Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق

Kamis, 06 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG MENGHIAS KUBURAN TERMASUK BERMEGAH-MEGAHAN (AT-TAKATSUR)


Alhamdulillah malam ini Kamis, 6 Agustus 2026 ba'da isya' pengajian rutin Tafsir Hasyiah Ash-Shawi 'ala Tafsir Jalalain yang kebetulan sampai pada Surat At-Takatsur tentang larangan bermegah-megahan harta benda dan membanggakan nenek moyang yang telah meninggal dunia.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَام يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْم جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونَنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّه مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءُ بِأَنْفِهِ

 “Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek-moyang mereka yang telah wafat. Mereka itu hanyalah arang neraka jahanam, atau mereka lebih hina di sisi Allah dari hewan yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR at-Tirmidzi, dan bernilai hadits Hasan dalam Jami’ul Kabir).

Bagi Rasulullah, kemuliaan sejati hanyalah dengan ketakwaan dan ketaatan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam satu haditsnya, 

أَيُّهَا النَّاسُ! أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، أَلاَ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ وَلاَ أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

“Wahai manusia! Ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu, dan bahwa nenek moyang kalian adalah satu. Ingatlah bahwa tidak ada keunggulan bagi seorang Arab atas non-Arab, atau sebaliknya, dan tidak ada keunggulan bagi orang yang berkulit putih atas kulit hitam, atau sebaliknya, kecuali dengan ketakwaan.” (HR Ahmad dalam Jami’ul Hadits).

Ketika sampai pada penafsiran ayat kedua surat At-Takatsur Imam Ahmad bin Muhammad Ash-Shawi, seorang ulama agung dari kalangan Ahlusunnah wal Jama‘ah, bermazhab Maliki dalam fikih dan berpemikiran Asy‘ari dalam akidah mengingatkan saya akan polemik nasab saat ini yang bermula dari orang yang mengaku keturunan Nabi membanggakan diri dan merendahkan yang lainnya sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Ash-Shawi berikut,

قوله: {حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ} حتى غاية للإلهاء المذكور، وهذا هو محط الذم وإلا فإن تاب من ذلك قبل موته، وقيل: وكأنه لم يحصل منه تكاثر

قوله: (بأن متم فدفنتم فيها) أي فيقال: زار قبره إذا مات ودفن، والمعنى: ألهاكم حرصكم على تكثير أموالكم عن طاعة ربكم، حتى أتاكم الموت وأنتم على ذلك، ولا يقال: إن الزيارة تكون ساعة وتنقضي، والميت يمكث في قبره لأنا نقول: إن الموتى يرتحلون من القبور للحساب، فكان مدة مكثه في قبره زيارة له، والمقابر جمع مقبرة بتثليث الباء، وهي المحل الذي تدفن فيه الأموات، قوله: (أو عددتم الموتى) تفسير ثاني للزيارة، فعبر عن بلوغهم ذكر الموتى بزيارة المقابر تهكماً بهم، وعليه فزيارة المقابر كناية عن الانتقال من ذكر الإحياء إلى ذكر الأموات تفاخراً، وإنما كان تهكماً لأن زيارة القبور شرعت، لتذكر الموت ورفض حب الدنيا، وترك المباهاة والتفاخر، وهؤلاء عكسوا، حيث جعلوا زيارة القبور سبباً لمزيد القساوة، والاستغراق في حب الدنيا، والتفاخر في الكثرة. فحاصل الوجهين راجع إلى أن المراد بالزيارة، إما الانتقال إلى الموت، أو الانتقال من ذكر الأحياء إلى ذكر الأموات، وتعدادهم والتفاخر بهم، ومن ذلك ما يفعله أهل زماننا، ومن زخرفة النعوش والقبور، وما يتبع ذلك مما هو مذموم شرعاً طبعاً، وأما ذكر مكارم الأخلاق والطاعات فيجوز، إن لم يكن على وجه التعجب، بل على سبيل التحدث بالنعم أو ليقتدي به

Firman-Nya: {حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ}  

"Hingga kalian mengunjungi kuburan"  

"Hingga" adalah batas akhir dari kelalaian yang disebutkan. Dan inilah inti celaan. Adapun jika dia bertaubat dari itu sebelum matinya, maka seolah-olah tidak terjadi padanya sifat bermegah-megahan tersebut.

Firman-Nya: (بأن متم فدفنتم فيها)

"Maksudnya: karena kalian mati lalu dikuburkan di dalamnya" Yaitu dikatakan: "Dia menziarahi kuburnya" jika dia mati dan dikuburkan.  

Maknanya: Keserakahan kalian dalam memperbanyak harta telah melalaikan kalian dari ketaatan kepada Rabb kalian, hingga datang kematian kepada kalian sementara kalian masih dalam keadaan demikian.

Dan jangan dikatakan: "Ziarah itu hanya sebentar lalu selesai, sedangkan mayit tinggal di kuburnya." Karena kami katakan: Sesungguhnya orang-orang mati akan dibangkitkan dari kubur untuk dihisab. Maka selama dia tinggal di kuburnya itu dihitung sebagai "ziarah" baginya.

Dan Al-Maqabir adalah bentuk jamak dari Maqbarah dengan boleh dibaca 3 harokat pada huruf ba’nya (bisa dibaca : Maqbarah, Muqbarah atau Miqbarah). Yaitu tempat dikuburkannya orang-orang mati.

Firman-Nya: (أو عددتم الموتى)  

Ini adalah tafsir kedua untuk kata "Ziarah". Maka diungkapkan pencapaian mereka dalam menyebut-nyebut orang mati dengan istilah "menziarahi kuburan" sebagai bentuk sindiran kepada mereka.

Berdasarkan tafsir ini, maka "ziarah kubur" adalah kinayah / kiasan dari berpindahnya pembicaraan dari menyebut-nyebut orang yang masih hidup kepada menyebut-nyebut orang yang sudah mati, dengan tujuan berbangga-bangga.

Dan yang menjadikannya sebagai sindiran adalah karena ziarah kubur itu disyariatkan untuk mengingat mati, meninggalkan cinta dunia, dan meninggalkan berbangga-bangga serta berbangga dengan jumlah/kekayaan. Sedangkan mereka justru sebaliknya, menjadikan ziarah kubur sebagai sebab bertambahnya kekerasan hati, tenggelam dalam cinta dunia, dan berbangga-bangga dalam memperbanyak jumlah.

Maka hasil dari kedua wajah tafsir itu kembali kepada: bahwa yang dimaksud dengan "ziarah" adalah:  

Pertama: Berpindahnya manusia kepada kematian.  

Kedua: Berpindahnya pembicaraan dari menyebut orang yang hidup kepada menyebut orang yang mati, menghitung-hitung mereka, dan berbangga-bangga dengan mereka.

Dan termasuk dalam hal ini apa yang dilakukan oleh orang-orang di zaman kita, seperti menghias-hiasi usungan jenazah dan kuburan, serta apa yang mengikuti itu yang tercela secara syariat dan tabiat.  

Adapun menyebutkan kemuliaan akhlak dan ketaatan-ketaatan, maka itu boleh, jika tidak dengan cara takjub/berbangga, tetapi dengan cara menceritakan nikmat Allah, atau agar diteladani. (Tafsir Hasyiah Ash-Shawi 'Ala Tafsir Jalalain)

Satu hal penting sebagai pelajaran dan pengingat akan kondisi yang terjafi saat ini adalah berlomba menghias kuburan adalah termasuk bermegah-megahan yang tercela menurut syariat dan tabi'at sebagaimana  beliau jelaskan,

ومن ذلك ما يفعله أهل زماننا، ومن زخرفة النعوش والقبور، وما يتبع ذلك مما هو مذموم شرعاً طبعاً

"Dan termasuk dalam hal ini (bermegah-megahan) apa yang dilakukan oleh orang-orang di zaman kita, seperti menghias-hiasi usungan jenazah (keranda) dan (menghias) kuburan, serta apa yang mengikuti itu yang tercela secara syariat dan tabiat."  Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق

Senin, 03 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG RANGKUMAN ISI SETELAH MEMBACA KITAB KARYA SYAIKH IBNU HARJO AL-JAWI DAN KITAB KH. IMADUDDIN UTSMAN


Salah satu titik utama pemicu perdebatan nasab memang pada satu pertanyaan apakah Ahmad Al-Muhajir memiliki seorang anak bernama Ubaidillah?

Secara ringkas, ada dua posisi:

1. Pendukung nasab Ba'Alawi menyatakan bahwa Ahmad Al-Muhajir memiliki anak bernama Ubaidillah, yang kemudian mempunyai putra bernama Alawi, sehingga menjadi asal-usul Bani Ba'Alawi. 

2. Pengkritik/penolak nasab Ba'Alawi berpendapat bahwa kitab-kitab nasab yang lebih tua tidak mencantumkan nama Ubaidillah sebagai putra Ahmad Al-Muhajir. Mereka menjadikan hal ini sebagai salah satu alasan utama untuk meragukan kesinambungan nasab tersebut. 

Mengenai siapa saja anak Ahmad bin Isa, memang terdapat perbedaan riwayat:

1. Dalam sejumlah kitab nasab yang dijadikan rujukan oleh para pengkritik, disebutkan bahwa Ahmad bin Isa hanya mempunyai Muhammad, Ali, dan Husain, tanpa menyebut Ubaidillah. 

2. Sebagian kitab lain yang lebih kemudian dan tradisi internal Ba'Alawi memasukkan Ubaidillah sebagai putra Ahmad bin Isa. Dari Ubaidillah inilah silsilah Ba'Alawi diteruskan menurut pandangan mereka. 

Jadi, inti perdebatan bukan sekadar ada atau tidaknya nama Ubaidillah, tetapi juga:

1. kapan nama Ubaidillah mulai muncul dalam literatur,

2. kitab mana yang pertama kali mencatatnya, dan

3. seberapa kuat nilai historis sumber-sumber tersebut. 

Berikut ringkasan kronologis yang sering menjadi bahan diskusi dalam perdebatan nasab Ba'Alawi. Perlu diingat bahwa ini adalah ringkasan posisi dalam perdebatan; penilaian terhadap kekuatan masing-masing sumber masih diperselisihkan.

Kitab-Kitab yang lebih awal tidak menyebutkan nama Ubaidillah sebagai anak Ahmad bin Isa adalah :

1. Sirr Al-Silsilah Al-'Alawiyyah oleh Abu Nasr Al-Bukhari 341 H. (Tidak menyebutkan nama Ubaidillah)

2. Abu Abdillah Muhammad bin Ali Al-'Umari sekitar abad ke-5 H. Kitab Karya-karya nasab Alawiyin. (Tidak menyebutkan nama Ubaidillah)

3. Al-Majdi fi Ansab Ath-Thalibiyyin oleh Ali bin Muhammad Al-'Umari 490 H. (Tidak menyebutkan nama Ubaidillah)

4. Ibnu 'Inabah 828 H. Umdat Ath-Thalib (Menyebut jalur yang menjadi rujukan pendukung nasab Ba'Alawi menurut sebagian pembacaan)

Pokok perdebatan

Para pengkritik/penolak berargumen:

1. Kitab-kitab yang lebih awal tidak mencantumkan Ubaidillah sebagai anak Ahmad Al-Muhajir.

2. Jika benar Ubaidillah ada dan menjadi leluhur keturunan yang besar, mereka mempertanyakan mengapa namanya tidak muncul secara jelas dalam sebagian sumber awal.

Sementara itu, para pendukung menjawab:

1. Tidak semua kitab nasab memuat seluruh keturunan setiap tokoh.

2. Ada manuskrip dan riwayat lain yang menyebut Ubaidillah.

3. Keberadaan suatu nama dalam ilmu nasab tidak bergantung pada satu kitab saja, melainkan pada keseluruhan tradisi periwayatan nasab.

Catatan penting

Perlu dibedakan antara:

1. Perdebatan ilmiah tentang nasab, yang dapat diteliti melalui manuskrip, silsilah, dan kajian sejarah.

2. Kesimpulan bahwa suatu kelompok pasti benar atau pasti palsu, yang memerlukan bukti yang jauh lebih kuat daripada sekadar perbedaan isi beberapa kitab.

Jika ingin meneliti isu ini secara mendalam, langkah yang baik adalah membaca teks Arab dari kitab-kitab tersebut secara langsung dan membandingkan redaksinya, bukan hanya mengandalkan kutipan dari pihak yang pro atau kontra. Wallahu a'lam 🙏🏻

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق 

Sabtu, 01 Agustus 2026

(2) KAJIAN TENTANG NASAB BA'ALAWI SEBAGAI JAWABAN KH. IMADUDDIN UTSMAN TERHADAP KHULASHAH AN-NAFISAH KARYA IBNU HARJO AL-JAWI

 




ال ابن حرجو الجاوي:

السابع عشرالنجفي (ت: ق 9) في مخطوطة «بحر الأنساب» (ص 34) ذكر 5 أبناء: محمد، وعلي، والحسين، وأحمد، والرضى.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا الكتاب وان ذكر ان ابناء احمد بن عيسى خمسة  فلا يخالف  الشجرة المباركة لان  الثلاثة الذين ذكروا فيها في ذكر ابناءه المعقبين فقط وهؤلاء الخمسة في ذكر ابناءه المعقبين وغير المعقبين. ولا يكون من هؤلاء الخمسة عبد الله او عبيد الله وهذا يؤكد بطلان ما ذكره في السلوك.

قال ابن حرجو الجاوي:

الثامن عشر  علي السقاف (ت: 895 هـ) في «البرقة المشيقة» (ص 48) ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: عبد الله مكبرا.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: على السكران او السقاف على ما قال ابن حرجو في البرقة المشيقة هو أول من ذكر نسب علوي بن عبيد متصلا إلى أحمد بن عيسى. وذكر فيه نسبه فهو علي بن أبي بكر السكران بن عبد الرحمن السقاف بن محمد مولى دويلة بن علي بن علوي بن محمد الفقيه المقدم بن محمد صاحب مرباط بن علي خالع قسم بن علوي بن محمد بن علوي بن عبيد بن أحمد بن عيسى (ص. ٤٨) وهذا النسب مردود كما سبق وانه اخذه بلا دليل قط. وان احد عشر اسما من مولى دويلة الى عبيد اسماء وهمية لا يذكرهم النسابون في كتب الانساب والمؤرخون في تواريخهم.  انتشر خبر نسب باعلوي مبتدئا من كتابه هذا ثم من كتب باعلوي غيره ثم نقله الناس حسنا بالظن وجمعا للروايات وملئا للصفحات.  وكتاب البرقة مردود لانه مخالف لما سبقه ولانه خرج ممن له مصلحة نفسية فالقاعدة في فني النسب والتاريخ تقول: لا يؤخذ الخبر ممن كان له مصلحة الا اذا وجد ما يعضده قال عبد الماجد ال قراجا في كتابه الكافي المنتخب: فان ظهرت مصلحة عند المثبت او النافي يترك قوله غالبا وقد يعمل بنقيد مصلحته في حالات مخصصة ولا يؤخذ بقوله الا اذا وجد ما يعضده عند غيره ممن ليست لهم مصلحة انتهى انظر الصفحة 49 منه. 

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Ketujuhbelas: An-Najafi (w. abad 9 H) dalam naskah “Bahr Al-Ansab” (hal. 34) menyebutkan 5 anak: Muhammad, Ali, Husain, Ahmad, dan Ar-Ridha.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Kitab ini, meskipun menyebut bahwa anak-anak Ahmad bin Isa ada lima, namun tidak menyelisihi Asy-Syajarah Al-Mubarakah.  

Karena tiga orang yang disebut di dalamnya adalah dalam rangka menyebutkan anak-anaknya yang memiliki keturunan saja.  

Adapun lima orang ini adalah dalam rangka menyebutkan anak-anaknya yang memiliki keturunan dan yang tidak memiliki keturunan.  

Dan di antara kelima orang ini tidak ada Abdullah atau Ubaidillah.  

Dan ini menguatkan kebatilan apa yang disebut dalam kitab As-Suluk.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata: 

Kedelapanbelas: Ali As-Saqqaf (w. 895 H) dalam “Al-Burqah Al-Musyiqah” (hal. 48) menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Abdullah, dengan huruf besar.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ali As-Sakran, atau As-Saqqaf sebagaimana disebut Ibnu Harju, dalam Al-Burqah Al-Musyiqah adalah orang pertama yang menyebut nasab ‘Alawi bin Ubaid bersambung kepada Ahmad bin Isa.  

Dan dia menyebutkan nasabnya di dalamnya, yaitu:  Ali bin Abi Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Saqqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin ‘Alawi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi bin Ubaid bin Ahmad bin Isa (hal. 48).

Dan nasab ini tertolak sebagaimana telah berlalu, dan dia mengambilnya tanpa dalil sama sekali.  

Dan sebelas nama dari Maula Dawilah sampai Ubaid adalah nama-nama fiktif yang tidak disebut oleh para ahli nasab dalam kitab-kitab nasab dan oleh para sejarawan dalam kitab-kitab sejarah mereka.

Berita tentang nasab Ba ‘Alawi tersebar bermula dari kitabnya ini, kemudian dari kitab-kitab Ba ‘Alawi yang lain, lalu manusia menukilnya karena berbaik sangka, mengumpulkan riwayat-riwayat, dan memenuhi lembaran-lembaran.

Dan kitab _Al-Burqah_ adalah tertolak karena menyelisihi kitab-kitab sebelumnya, dan karena kitab itu keluar dari orang yang memiliki kepentingan pribadi.  

Maka kaidah dalam ilmu nasab dan sejarah mengatakan: “Berita tidak diambil dari orang yang memiliki kepentingan kecuali jika ada penguatnya.”  

Berkata Abdulmajid Al-Qaraja dalam kitabnya Al-Kafi Al-Muntakhab:  “Jika tampak adanya kepentingan pada pihak yang menetapkan atau menafikan, maka ucapannya ditinggalkan pada umumnya. Dan terkadang bisa diamalkan yang bertentangan dengan kepentingannya dalam keadaan-keadaan tertentu. Dan ucapannya tidak diambil kecuali jika ada penguatnya dari selainnya yang tidak memiliki kepentingan.” Selesai. Lihat hal. 49 darinya.

قال ابن حرجو الجاوي:

التاسع عشر السخاوي (ت: 902 هـ) في «الضوء اللامع» (5 / 59) ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: عبيد الله بالتصغير.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود لعلل ثلاث المخالفة والمصلحة واللا نسبية فيما تقدم ذكره فاما المراد بعلة المخالفة فلانه مخالف لما قبله واما المراد بعلة المصلحة فان السخاوي يروي هذا عن اشخاص آل باعلوي الذين لقيهم في مكة واما المراد باللا نسبية لان كتابه غير كتاب النسب. 

قال ابن حرجو الجاوي:

العشرون بحرق (ت: 930 هـ) في «مواهب القدوس» (ص 6) ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: عبد الله.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت:مواهب القدوس في مناقب ابن العيدروس المنسوب  للفقيه العلامة محمد بن عمر بحرق ت ۹۳۰ هـ  كتاب منحول  نسخته جديدة كتبت في اندونيسيا سنة 1363 ه بكتابة عمر بن محمد بن محمد باراجا منذ اربع وثمانين سنة فقط من غير ذكر اصل. وذكر الباحث اليمني سالم فرج مفلح ان ذلك الكتاب من الكتب الخرافية الوهمية انظر في كتابه جناية الاستعمار البريطاني في تاريخ حضرموت الصفحة 6 وفي كتابه التزوير واستلاب الهوية الصفحة 121.

قال ابن حرجو الجاوي:

الحادي والعشرون محمد خرد (ت: 960هـ) في «غرر البهاء الضوئي» (ص 101) ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: عبد الله أو عبيد الله، وأطال فيه.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود ايضا لعلل ثلاث المخالفة والمصلحة واللا نسبية كما قلت في الضوء اللامع فليراجعه.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Kesembilanbelas: As-Sakhawi (w. 902 H) dalam “Adh-Dhau’ Al-Lami’” (5/59) menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Ubaidillah dengan tashghir/diperkecil.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab: 

Aku katakan: Ini tertolak karena 3 sebab: mukhalafah/penyelisihan, mashlahah/kepentingan, dan la nasabiyyah/bukan kitab nasab, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.  

Adapun yang dimaksud dengan sebab _mukhalafah_ adalah karena kitab ini menyelisihi kitab-kitab sebelumnya.  

Adapun yang dimaksud dengan sebab _mashlahah_ adalah karena As-Sakhawi meriwayatkan ini dari orang-orang keluarga Ba ‘Alawi yang dia temui di Makkah.  

Adapun yang dimaksud dengan _la nasabiyyah_ adalah karena kitabnya bukan kitab nasab.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata: 

Keduapuluh: Bahraq (w. 930 H) dalam “Mawahib Al-Quddus” (hal. 6) menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Abdullah.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Mawahib Al-Quddus fi Manaqib Ibn Al-‘Aidrus yang dinisbatkan kepada Al-Faqih Al-‘Allamah Muhammad bin Umar Bahraq w. 930 H adalah kitab palsu/manhuul.  

Salinannya baru, ditulis di Indonesia tahun 1363 H dengan tulisan Umar bin Muhammad bin Muhammad Baraja, hanya 84 tahun yang lalu, tanpa menyebutkan asal naskahnya.  

Dan peneliti Yaman Salim Faraj Muflih menyebutkan bahwa kitab tersebut termasuk kitab-kitab khurafat dan fiktif.  

Lihat dalam kitabnya Jinayat Al-Isti’mar Al-Britani fi Tarikh Hadramaut hal. 6, dan dalam kitabnya At-Tazwir wa Istilab Al-Huwiyah hal. 121.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Keduapuluh satu: Muhammad Kharad (w. 960 H) dalam “Ghurar Al-Baha’ Adh-Dhau’i” (hal. 101) menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Abdullah atau Ubaidillah, dan dia memanjangkan pembahasannya.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini juga tertolak karena 3 sebab: _mukhalafah_, _mashlahah_, dan _la nasabiyyah_, sebagaimana yang telah aku katakan dalam Adh-Dhau’ Al-Lami’. Silakan rujuk ke sana.

قال ابن حرجو الجاوي:

الثاني والعشرون أبو بكر العيدروس (ت: 914 هـ) ذكر في «الجزء اللطيف في التحكيم الشريف» (ص 493) ذكر أن من أبناء أحمد بن عيسى: عبيد الله مصغرا.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود ايضا لعلل ثلاث المخالفة والمصلحة واللا نسبية كما قلت في الضوء اللامع والغرر فليراجعهما.

قال ابن حرجو الجاوي:

الثالث والعشرون بامخرمة (870 - 947 هـ) في «قلادة النحر» (5 / 231) ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: عبد الله عبيد الله مكبرا أو مصغرا، وهما شخص واحد.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود ايضا لعلتي المخالفة واللا نسبية. 

قال ابن حرجو الجاوي:

الرابع والعشرون ابن حجر الهيثمي (ت: 974هـ) في مخطوطة «معجم شيوخه» (ورقة 31) نقلا عن العيدروس ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: عبد الله.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود ايضا لعلل ثلاث المخالفة والمصلحة واللا نسبية كما قلت في الضوء اللامع والغرر فليراجعها.

قال ابن حرجو:

الخامس والعشرون السمرقندي (ت: 996هـ) في «تحفة الطالب» (ص 76) ذكر نقلا من ابن العنبة من أولاد أحمد عيسى محمد فقط. ثم زاد - نقلا من أئمة محققين منهم ابن سمرة (ت: 586 هـ)، والجندي (ت: 732 هـ)، والعواجي (ت: 801 هـ وفي نسخة الفتوحي)، والحسين الأهدل (ت: 855 هـ)، ومحمد أبي الحب (ت: 611 هـ)، ومحمد بن أبي بكر عباد (ت: 801 هـ)، وعبد الرحمن بن حسان (ت: 818 هـ) - ولدا اسمه: عبد الله.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: قوله "ذكر نقلا من ابن العنبة من أولاد أحمد عيسى محمد فقط" هذا مؤكد. وقوله "ثم زاد - نقلا من أئمة محققين منهم ابن سمرة (ت: 586 هـ)، والجندي (ت: 732 هـ)، والعواجي (ت: 801 هـ وفي نسخة الفتوحي)، والحسين الأهدل (ت: 855 هـ)، ومحمد أبي الحب (ت: 611 هـ)، ومحمد بن أبي بكر عباد (ت: 801 هـ)، وعبد الرحمن بن حسان (ت: 818 هـ)" هذا غير مؤكد، بل بعضه كذب لان ابن سمرة في كتابه طبقات فقهاء اليمن لم يذكر عبد الله ابنا لاحمد بن عيسى؛ وتلخيص العواجي كتاب وهمي لا يكون في الدنيا؛ وكتاب تحفة الزمان حققه عبد الله محمد الحبشي الباعلوي فلا يحتج به لعلة المصلحة؛  ومحمد ابن ابي الحب لا يذكر شيأ بنسب عائلة على السكران الا منقولا من كتب باعلوي بلا مصدر؛ ومحمد بن ابي بكر باعباد قيل في كتب با علوي ان له كتابا اسمه  صلحاء ومشايخ أهل البيت وذكر فيه نسب باعلوي وهذا كذب لان  الكتاب غير موجود في الدنيا؛  وعبد الرحمن بن حسان لا بينة على انه اثبت نسب باعلوي، والكتاب المنسوب اليه وهو تاريخ ابن حسان الذي طبعه باذيب مكذوب عليه لانه مطبوع من مخطوطة لاعنوان لها ولامقدمة ولا خاتمة وليس لها اسم المؤلف ولا اسم ناسخها ولا تاريخ التأليف والنسخ ثم ينسب الى ابن حسان.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Keduapuluh dua: Abu Bakar Al-‘Aidrus (w. 914 H) menyebutkan dalam “Al-Juz’ Al-Lathif fi At-Tahkim Asy-Syarif” (hal. 493) bahwa termasuk anak-anak Ahmad bin Isa adalah: Ubaidillah dengan tashghir/diperkecil.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini juga tertolak karena 3 sebab: mukhalafah/penyelisihan, mashlahah/kepentingan, dan _la nasabiyyah/bukan kitab nasab, sebagaimana yang telah aku katakan dalam Adh-Dhau’ Al-Lami’ dan Al-Ghurar. Silakan rujuk keduanya.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Keduapuluh tiga: Ba Makhramah (870 - 947 H) dalam “Qiladat An-Nahr” (5/231) menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Abdullah Ubaidillah, dengan huruf besar atau kecil, dan keduanya adalah satu orang.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini juga tertolak karena 2 sebab: _mukhalafah_ dan _la nasabiyyah_.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Keduapuluh empat: Ibnu Hajar Al-Haitsami (w. 974 H) dalam naskah “Mu’jam Syuyukhihi” (lembar 31), menukil dari Al-‘Aidarous, menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Abdullah.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini juga tertolak karena 3 sebab: mukhalafah, mashlahah, dan la nasabiyyah, sebagaimana yang telah aku katakan dalam Adh-Dhau’ Al-Lami’ dan Al-Ghurar_ Silakan rujuk.

Ibnu Harjo berkata:  

Keduapuluh lima: As-Samarqandi (w. 996 H) dalam “Tuhfatu Ath-Thalib” (hal. 76) menyebutkan, menukil dari Ibnu ‘Inabah, bahwa dari anak-anak Ahmad bin Isa hanya Muhammad saja.  

Kemudian dia menambah - menukil dari para imam yang muhaqqiq di antaranya: Ibnu Samrah (w. 586 H), Al-Jundi (w. 732 H), Al-‘Awaji (w. 801 H dan dalam naskah Al-Futuhi), Al-Husain Al-Ahdal (w. 855 H), Muhammad Abu Al-Hubb (w. 611 H), Muhammad bin Abi Bakar ‘Abbad (w. 801 H), dan Abdurrahman bin Hassan (w. 818 H) - seorang anak bernama: Abdullah.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ucapannya “menyebutkan menukil dari Ibnu ‘Inabah bahwa dari anak-anak Ahmad bin Isa hanya Muhammad saja” ini benar.  

Adapun ucapannya “kemudian dia menambah - menukil dari para imam muhaqqiq di antaranya Ibnu Samrah..., Al-Jundi..., Al-‘Awaji..., Al-Husain Al-Ahdal..., Muhammad Abu Al-Hubb..., Muhammad bin Abi Bakar ‘Abbad..., Abdurrahman bin Hassan... - seorang anak bernama Abdullah” ini tidak benar, bahkan sebagian darinya adalah dusta.

Karena Ibnu Samrah dalam kitabnya Thabaqat Fuqaha’ Al-Yaman tidak menyebut Abdullah sebagai anak Ahmad bin Isa.  

Dan Talkhish Al-‘Awaji adalah kitab fiktif yang tidak ada di dunia ini.  

Dan kitab Tuhfatu Az-Zaman ditahqiq oleh Abdullah Muhammad Al-Habsyi Al-Ba ‘Alawi, maka tidak bisa dijadikan hujjah karena sebab mashlahah/kepentingan.  

Dan Muhammad bin Abi Al-Hubb tidak menyebut sedikit pun tentang nasab keluarga Ali As-Sakran kecuali menukil dari kitab-kitab Ba ‘Alawi tanpa sumber.  

Dan Muhammad bin Abi Bakar Ba ‘Abad, dikatakan dalam kitab-kitab Ba ‘Alawi bahwa dia memiliki kitab bernama Shulaha’ wa Masyaikh Ahlil Bait dan di dalamnya disebut nasab Ba ‘Alawi, dan ini dusta karena kitab itu tidak ada di dunia ini.  

Dan Abdurrahman bin Hassan tidak ada bukti bahwa dia menetapkan nasab Ba ‘Alawi.  

Dan kitab yang dinisbatkan kepadanya yaitu Tarikh Ibnu Hassan yang dicetak oleh Ba’dhib adalah dusta atas namanya. Karena kitab itu dicetak dari naskah yang tidak ada judulnya, tidak ada muqaddimah, tidak ada penutup, tidak ada nama pengarang, tidak ada nama penyalin, tidak ada tanggal penulisan dan penyalinan, lalu dinisbatkan kepada Ibnu Hassan.

قال ابن حرجو الجاوي:

السادس والعشرون  عبد القادر العيدروس (ت: 1038 هـ) في «النور السافر» (74) ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: عبد الله.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود ايضا لعلل ثلاث المخالفة والمصلحة واللا نسبية كما قلت في الضوء اللامع والغرر فليراجعهما.

قال ابن حرجو الجاوي:

السابع والعشرون  ضامن بن شدقم (ت: 1090 هـ) في «تحفة الأزهار» (943) ذكر 3 أبناء أحمد بن عيسى: عبد الله، ومحمد، وعلي (أبو الحسين). أما عبد الله فخلف ابنين: إسماعيل، وعلوي. وعلوي خلف محمدا.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود ايضا لعلة المخالفة فهي مخالفة لكتاب أقدم منه وهي الشجرة المباركة حيث قطعت ان ابناء احمد بن عيسى المعقبين  منحصرون في ثلاثة محمد وعلى وحيسن.  والقاعدة في فني التاريخ والنسب تقول شرط قبول كتاب الا يكون مخالفا للاصول قال النسابة الشيخ خليل بن ابراهيم في مقدمات في علم الأنساب: شروط اعتماد الرقعة أي الكتاب أن لا تكون مخالفة للأصول انظر الصفحة ٥٨.

قال ابن حرجو الجاوي:

الثامن والعشرون العياشي (ت: 1090 هـ) في «الرحلة العياشية» ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: عبد الله.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود لعلتي المخالفة واللانسبية كما تقدم.

قال ابن حرجو الجاوي:

التاسع والعشرون محمد باعلوي (ت: 1093 هـ) في «المشرع الروي» (1 / 75-76) ذكر من أبناء أحمد بن عيسى عبيد الله مصغرا وأنه هو عبد الله مكبرا.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود لعلل ثلاث المخالفة والمصلحة واللا نسبية كما تقدم.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Keduapuluh enam: Abdul Qadir Al-‘Aidarous (w. 1038 H) dalam “An-Nur As-Safir” (74) menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Abdullah.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini juga tertolak karena 3 sebab: mukhalafah/penyelisihan, mashlahah/kepentingan, dan la nasabiyyah /bukan kitab nasab, sebagaimana yang telah aku katakan dalam Adh-Dhau’ Al-Lami’ dan Al-Ghurar. Silakan rujuk keduanya.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Keduapuluh tujuh: Dhaman bin Syadqam (w. 1090 H) dalam “Tuhfatu Al-Azhar” (943) menyebutkan 3 anak Ahmad bin Isa: Abdullah, Muhammad, dan Ali (Abu Al-Husain).  

Adapun Abdullah, dia memiliki 2 anak: Ismail dan ‘Alawi. Dan ‘Alawi memiliki anak bernama Muhammad.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini juga tertolak karena sebab mukhalafah.  

Karena kitab ini menyelisihi kitab yang lebih tua darinya, yaitu Asy-Syajarah Al-Mubarakah, yang memastikan bahwa anak-anak Ahmad bin Isa yang memiliki keturunan hanya terbatas pada tiga orang: Muhammad, Ali, dan Husain.  

Dan kaidah dalam ilmu sejarah dan nasab mengatakan: syarat diterimanya sebuah kitab adalah tidak menyelisihi kaidah-kaidah pokok.  

Berkata ahli nasab Syaikh Khalil bin Ibrahim dalam Muqaddimat fi ‘Ilm Al-Ansab: “Syarat untuk menerima naskah/kitab adalah tidak menyelisihi kaidah-kaidah pokok.” Lihat hal. 58.

Ibnu Harju Al-Jawi berkata:  

Keduapuluh delapan: Al-‘Ayyasyi (w. 1090 H) dalam “Ar-Rihlah Al-‘Ayyasyiyah” menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Abdullah.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab: 

Aku katakan: Ini tertolak karena 2 sebab: mukhalafah dan la nasabiyyah, sebagaimana telah berlalu.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata: 

Keduapuluh sembilan: Muhammad Ba ‘Alawi (w. 1093 H) dalam “Al-Masyra’ Ar-Rawi” (1/75-76) menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Ubaidillah dengan tashghir, dan bahwasanya dia adalah Abdullah dengan huruf besar.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini juga tertolak karena 3 sebab: mukhalafah, _mashlahah, dan la nasabiyyah, sebagaimana telah berlalu.

قال ابن حرجو الجاوي:

الثلاثون المحبي (ت: 1111 هـ) في «خلاصة الأثر» (1 / 74) ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: عبيد الله بالتصغير. وهو مجمع عليه عند أهل التحقيق.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا مردود لعلل ثلاث المخالفة والمصلحة وللانسبية، صرح المحبي انه اخذ من كتاب المشرع الروي لابي بكر الشلي باعلوي. و قوله "وهو مجمع عليه عند أهل التحقيق" قول مضحك لا ينقله اهل التحقيق.  كيف ابن حرجو ان ينقله وقبل لحظة سرد كتب الانساب وليس فيها ذكر عبد الله ابنا لاحمد بن عيسى الا بعد القرن التاسع والحال انه من اهل القرن الرابع، فهل نسب هذه  صورته كان مجمعا عليه؟ فادعاء الاجماع لنسب باعلوي ادعاء باطل فإن الإجماع في شيء يشترط أن يكون في وقت وقوعه كما قال الشيخ عبد الوهاب خلاف في كتابه أصول الفقه: الثاني: أن يتفق على الحكم الشرعي في الواقع جميع المجتهدين من المسلمين في وقت وقوعها انظر الصفحة 47 منه، والحال أن محل النزاع في عبيد هل هو ابن لأحمد بن عيسى أم لا؟ فإنه عاش في القرن الرابع ولم يكن فيه وفي ما بعده الى القرن التاسع  كتاب واحد من كتب الأنساب ذكر أنه ابن له فأين الاجماع؟ والإجماع يحتاج إلى مستند ولا شيء لنسب عبيد من مستند في القرون الرابع والخامس والسادس والسابع والثامن .وأحمد بن عيسى وأبنائه مذكورون في كتب الأنساب في تلك القرون وليس في جملتهم عبيد. فإنما صدر ادعائهم في النسب الشريف في القرن التاسع وكان يوم صدوره من يرفضه كما حكى علي بن أبي بكر السكران في البرقة وجود الحاسدين في نسبه انظر الصفحة 122 و123 منها. وكذا حكى عمر بن عبد الرحمن باعلوي (ت: 889 هـ) في كتابه فتح الله الرحيم الرحمن ما نصه ومن هنا استولى على ظن بعض الحساد والشقاق والعناد وقال أنهم ليسوا من ذرية فاطمة الزهرآء رضوان الله عليها إلخ إنتهى انظر الصفحة ٤٣ و ٤٤ منه. فكيف كان نسب الذي فيه من لا يصدقه في أول ادعائه يكون مجمعا عليه؟ فادعاء الاجماع من المحبي في نسب باعلوي باطل مردود.

قال ابن حرجو الجاوي:

الحادي والثلاثون  الزبيدي (ت: 1205هـ) في «الروض الجلي» (ص 29) ذكر من أبناء أحمد بن عيسى: أبو القاسم الأبح النفاط، ومحمد، وعبد الله عبيد الله.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا الكتاب منحول لا للزبيدي بل من صنيع حسن محمد قاسم كما قد بينته في اول الكتاب. 

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata: 

Ketigapuluh: Al-Muhibbi (w. 1111 H) dalam “Khulashatul Atsar” (1/74) menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Ubaidillah dengan tashghir/diperkecil. Dan ini disepakati oleh para ahli tahqiq.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini juga tertolak karena 3 sebab: mukhalafah/penyelisihan, mashlahah/kepentingan, dan la nasabiyyah/bukan kitab nasab.  

Al-Muhibbi sendiri menegaskan bahwa dia mengambilnya dari kitab Al-Masyra’ Ar-Rawi karya Abu Bakar Asy-Syilli Al-Ba ‘Alawi.  

Dan ucapannya “dan ini disepakati oleh para ahli tahqiq” adalah ucapan yang lucu, tidak akan diucapkan oleh para ahli tahqiq.  

Bagaimana mungkin Ibnu Harjo menukilnya, padahal sesaat sebelumnya dia sendiri telah menyebut kitab-kitab nasab yang di dalamnya tidak ada penyebutan Abdullah sebagai anak Ahmad bin Isa kecuali setelah abad ke-9.  

Padahal Ahmad bin Isa hidup di abad ke-4. Maka apakah nasab yang seperti ini keadaannya bisa dikatakan ijma’?  

Mengaku adanya ijma’ untuk nasab Ba ‘Alawi adalah pengakuan batil.  

Karena ijma’ dalam suatu perkara disyaratkan terjadi pada waktu kejadian perkara itu.  

Sebagaimana berkata Syaikh Abdul Wahhab Khallaf dalam kitabnya Ushulul Fiqh: "Kedua: Hendaklah semua mujtahid dari kaum muslimin sepakat atas hukum syar’i dalam kejadian itu pada waktu kejadiannya.” Lihat hal. 47 darinya.

Padahal tempat perselisihan adalah: apakah Ubaid itu anak Ahmad bin Isa atau bukan?  

Padahal dia hidup di abad ke-4. Dan tidak ada satu kitab nasab pun dari abad ke-4 sampai abad ke-9 yang menyebut dia sebagai anaknya. Lalu di mana ijma’nya?

Dan ijma’ itu butuh kepada sandaran/dalil. Dan tidak ada sedikit pun sandaran untuk nasab Ubaid pada abad ke-4, 5, 6, 7, dan 8.  

Padahal Ahmad bin Isa dan anak-anaknya disebut dalam kitab-kitab nasab pada abad-abad tersebut, dan tidak ada Ubaid di antara mereka.

Maka sesungguhnya pengakuan mereka tentang nasab syarif ini baru muncul di abad ke-9.  

Dan pada hari kemunculannya ada orang yang menolaknya, sebagaimana diceritakan Ali bin Abi Bakar As-Sakran dalam Al-Burqah adanya orang-orang yang dengki terhadap nasabnya. Lihat hal. 122-123 darinya.

Demikian juga diceritakan Umar bin Abdurrahman Ba ‘Alawi (w. 889 H) dalam kitabnya Fathullah Ar-Rahim Ar-Rahman:  Dari sinilah sebagian pendengki, tukang fitnah, dan pembangkang berprasangka dan berkata: Sesungguhnya mereka bukan dari keturunan Fathimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha...” Selesai. Lihat hal. 43-44 darinya.

Maka bagaimana mungkin nasab yang sejak awal pengakuannya ada yang tidak membenarkannya bisa dikatakan ijma’?  

Maka pengakuan ijma’ dari Al-Muhibbi tentang nasab Ba ‘Alawi adalah batil dan tertolak.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata: 

Ketigapuluh satu: Az-Zubaidi (w. 1205 H) dalam “Ar-Raudh Al-Jali” (hal. 29) menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa: Abu Al-Qasim Al-Abah An-Nafath, Muhammad, dan Abdullah Ubaidillah.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab: 

Aku katakan: Kitab ini adalah kitab palsu/manhuul. Bukan karya Az-Zubaidi, melainkan buatan Hasan Muhammad Qasim, sebagaimana telah aku jelaskan di awal kitab.

قال ابن حرجو الجاوي:

الثاني والثلاثون ابن المشهور (ت: 1320 هـ) في «شمس الظهيرة» (1 / 51) ذكر اثنين فقط، هما: محمد، وعبد الله

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت شمس الظهيرة مردودة لعلتي المخالفة والمصلحة.

قال ابن حرجو الجاوي:

ان نسابة أواخر القرن الرابع (البخاري) لم يذكر البتة أبناء أحمد المهاجر بن عيسى الرومي، بل لم يذكر أحمد المهاجر بن عيسى الرومي (ت: 345 هـ)، بل لم يذكر من أبناء عيسى سوى الحسين فقط مع أن عيسى له 30 ولدا على ما قيل. وهذا لا يعني أن أحمد بن عيسى شخص أسطوري.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا صحيح الا ان قوله " وهذا لا يعني أن أحمد بن عيسى شخص أسطوري" يشير الى عدم فهم عبارات النسابين وذلك لان البخاري صاحب سر سلسلة العلوية لا يقطع ابناءه في الحسين فلا يحتاج ابن حرجو ان يعلقه بقوله ذلك. فان ظهور عيسى في القرن الخامس مقبول عند اصحاب الفن لعدم مخالفته لكتب سبقته. 

قال ابن حرجو الجاوي:

ان نسابة القرن الرابع والخامس العبدلي والعمري ذكر من أبناء أحمد بن عيسى واحدا فقط هو: محمد.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: قد علقت مثل هذا في اول الكتاب بأن العبيدلي والعمري عبرا بالتبعيض فلا معارض في ظهور اسماء غير محمد فيما بعده فلا يجوز ان يستدل ابن حرجو بذلك على ظهور عبد الله في القرن التاسع في كتب الانساب بعد عدم ذكره فيما سبقه لان الشجرة المباركة في القرن الخامس قد قطع ان اولاد احمد المعقبين انما هم من ثلاثة محمد وعلي وحسين.

قال ابن حرجو الجاوي:

ان نسابة أواخر القرن الخامس أبا إسماعيل ابن طباطبا زاد واحدا آخر لم يسبق إلى هذه الزيادة قبل فترة نحو قرن واحد وهو: علي مع أن معاصريه العبيدلي والعمري لم يذكرا سوى محمد فقط. فيكون ابن طباطبا منفردا بزيادة هنا.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: هذا ايضا يشير الى ان ابن حرجو لا يفهم عبارات النسابين فان المهم من كل قضية هل هو مخالف لما قبله ام لا؟ لا كونه منفردا  ام لا؟ فان زيادة علي  من ابي اسماعيل في جملة ابناء احمد بن عيسى لا تخالف ما سبقه من كتب الانساب لانها لا تقطع ابناءه في محمد فقط حيث عبرت بالتبعيض.  فالحاصل زيادة علي من ابي اسماعيل مقبولة. والقاعدة  في فني التاريخ والنسب تقول شرط قبول كتاب الا يكون مخالفا للاصول قال النسابة الشيخ خليل بن ابراهيم في مقدمات في علم الأنساب: شروط اعتماد الرقعة أي الكتاب ألا تكون مخالفة للأصول انظر الصفحة ٥٨.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata: 

Ketigapuluh dua: Ibnu Al-Masyhur (w. 1320 H) dalam “Syams Azh-Zhahirah” (1/51) hanya menyebutkan dua orang saja, yaitu: Muhammad dan Abdullah.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Syams Azh-Zhahirah tertolak karena 2 sebab: mukhalafah/penyelisihan dan mashlahah/kepentingan.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Bahwa ahli nasab akhir abad ke-4, Al-Bukhari, sama sekali tidak menyebut anak-anak Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi.  

Bahkan dia tidak menyebut Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi (w. 345 H) sama sekali.  

Bahkan dia tidak menyebut dari anak-anak Isa kecuali Husain saja, padahal Isa memiliki 30 anak menurut yang dikatakan.  

Dan ini tidak berarti bahwa Ahmad bin Isa adalah tokoh mitos.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini benar. Hanya saja ucapannya “dan ini tidak berarti bahwa Ahmad bin Isa adalah tokoh mitos” menunjukkan bahwa dia tidak memahami ungkapan para ahli nasab.  

Karena Al-Bukhari, pemilik kitab Sirtu As-Silsilah Al-‘Alawiyyah, tidak memastikan anak-anaknya hanya pada Husain. Maka tidak perlu Ibnu Harju mengomentarinya dengan ucapan itu.  

Karena kemunculan nama Isa di abad ke-5 diterima oleh para ahli karena tidak menyelisihi kitab-kitab yang mendahuluinya.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Bahwa ahli nasab abad ke-4 dan ke-5, Al-‘Ubaidili dan Al-‘Umari, menyebutkan dari anak-anak Ahmad bin Isa hanya satu orang saja, yaitu: Muhammad.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Aku telah mengomentari hal seperti ini di awal kitab, bahwa Al-‘Ubaidili dan Al-‘Umari menyebutnya dengan tab’idh/sebagian.  

Maka tidak ada pertentangan jika muncul nama-nama selain Muhammad pada kitab-kitab setelahnya.  

Maka tidak boleh Ibnu Harju berdalil dengan itu atas munculnya nama Abdullah di abad ke-9 dalam kitab-kitab nasab setelah tidak disebut dalam kitab-kitab sebelumnya.  

Karena Asy-Syajarah Al-Mubarakah di abad ke-5 telah memastikan bahwa anak-anak Ahmad yang memiliki keturunan hanyalah dari tiga orang: Muhammad, Ali, dan Husain.

Ibnu Harju Al-Jawi berkata:  

Bahwa ahli nasab akhir abad ke-5, Abu Ismail Ibnu Thabathaba, menambah satu orang lagi yang tidak pernah ditambah sebelumnya selama hampir satu abad, yaitu: Ali.  

Padahal orang-orang yang sezamannya, Al-‘Ubaidili dan Al-‘Umari, tidak menyebut kecuali Muhammad saja.  

Maka Ibnu Thabathaba menyendiri dengan tambahan ini.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Ini juga menunjukkan bahwa Ibnu Harju tidak memahami ungkapan para ahli nasab.  

Karena yang penting dari setiap masalah adalah: apakah dia menyelisihi kitab sebelumnya atau tidak? Bukan apakah dia menyendiri atau tidak.

Maka penambahan Ali dari Abu Ismail dalam jumlah anak-anak Ahmad bin Isa tidak menyelisihi kitab-kitab nasab sebelumnya, karena kitab-kitab itu tidak memastikan anak-anaknya hanya pada Muhammad saja, karena mereka menyebutnya dengan tab’idh/sebagian.

Kesimpulannya: penambahan Ali dari Abu Ismail adalah diterima.  

Dan kaidah dalam ilmu sejarah dan nasab mengatakan: syarat diterimanya sebuah kitab adalah tidak menyelisihi kaidah-kaidah pokok.  

Berkata ahli nasab Syaikh Khalil bin Ibrahim dalam Muqaddimat fi ‘Ilm Al-Ansab: “Syarat untuk menerima naskah/kitab adalah tidak menyelisihi kaidah-kaidah pokok.” Lihat hal. 58.

قال ابن حرجو الجاوي:

ان نسابة القرن السادس والسابع (الرازي) زاد واحدا آخر لم يسبق إلى هذه الزيادة قبل فترة نحو قرن واحد وهو: الحسين. فيكون الرازي منفردا بزيادة هنا. 

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: زيادة الشجرة المباركة اسم الحسين مقبولة لانها لا تخالف ما سبقها من الكتب. وذلك لان ما قبلها لا يقطع بان ابناء احمد بن عيسى انما هم في محمد وعلي فقط. والقاعدة في فني التاريخ والنسب تقول شرط قبول كتاب ان لا يكون مخالفا للاصول قال النسابة الشيخ خليل بن ابراهيم في مقدمات في علم الأنساب: شروط اعتماد الرقعة أي الكتاب أن لا تكون مخالفة للأصول انظر الصفحة ٥٨.

والأهم لابن حرجو ان يتوقف في هذا الكتاب طويلا ويتفكر عباراته ويطابقها بالقواعد النسبية لان فيه ما يقطع ان اولاد احمد بن عيسى انما هم من ثلاثة محمد وعلي وحسين. فلو لم يخطر في ذهنه شيء مما اقصده فأقول: انظر يا اخي ما عبر به الرازي في الشجرة المباركة قال: أما أحمد الابح فعقبه من ثلاثة بنين: محمد أبو جعفر بالري، وعلى بالرملة، وحسين عقبه بنيسابور. انظر في الصفحة 127 من الطبعة الثانية. فانظر قوله " فعقبه من ثلاثة بنين" عبر بالجملة التى قال فيها ابن عنبة في انها تدل على ان عقبه منحصر في ثلاثة قال ابن عنبة: اذا قالوا "عقبه من فلان"  او " العقب من فلان" فانه يدل على ان عقبه منحصر فيه انتهى فزيادة اسم عبيد اوعبد الله بعد ثلاثة قرون مردودة عند اصحاب الفن.

قال ابن حرجو الجاوي:

ان نسابة القرن السابع والثامن (الجندي والرسولي) زاد واحدا آخر هو: عبد الله

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: زيادة عبد الله في السلوك بعد عدم ذكره في الكتب التي قبله مردودة لا تقبل لان السلوك مخالف للكتاب الذي سبقه وهو الشجرة المباركة فهي قد قطعت بأن ابناء احمد بن عيسى المعقبين انما هم ثلاثة محمد وعلي وحسين،  والقاعدة في فني التاريخ والنسب تقول شرط قبول كتاب الا يكون مخالفا للاصول. قال النسابة الشيخ خليل بن ابراهيم في مقدمات في علم الأنساب: شروط اعتماد الرقعة أي الكتاب أن لا تكون مخالفة للأصول انظر الصفحة ٥٨. وكتاب السلوك ليس كتابا في النسب بل كتابا في التاريخ ولا يجوز اثبات النسب الا بكتب النسب. قال النسابة عبد الرحمن بن ماجد ال قراجا في كتابه الكافي المنتخب: ولا يقدم (المؤرخ) بحال على ما يثبته النسابة خصوصا ان كانوا اقرب زمانا او مكانا انظر الصفحة ٧١ منه. و ما ذكر في السلوك انما هو لنسب جديد لا لنسب علوي وليس في اخوتهما اي دليل، ومن اراد ان يكون مقبولا في قوله ان جديدا وعلوي اخوان فليأت بكتاب قبل السلوك ذكر ان علوي اخو جديد.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Bahwa ahli nasab abad ke-6 dan ke-7, Ar-Razi, menambah satu orang lagi yang tidak pernah ditambah sebelumnya selama hampir satu abad, yaitu: Husain.  

Maka Ar-Razi menyendiri dengan tambahan ini.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Penambahan nama Husain dalam Asy-Syajarah Al-Mubarakah adalah diterima, karena tidak menyelisihi kitab-kitab sebelumnya.  

Hal itu karena kitab-kitab sebelumnya tidak memastikan bahwa anak-anak Ahmad bin Isa hanyalah Muhammad dan Ali saja.  

Dan kaidah dalam ilmu sejarah dan nasab mengatakan: syarat diterimanya sebuah kitab adalah tidak menyelisihi kaidah-kaidah pokok.  

Berkata ahli nasab Syaikh Khalil bin Ibrahim dalam Muqaddimat fi ‘Ilm Al-Ansab: "Syarat untuk menerima naskah/kitab adalah tidak menyelisihi kaidah-kaidah pokok.”_ Lihat hal. 58.

Dan yang paling penting bagi Ibnu Harju adalah agar dia berhenti lama pada kitab ini, merenungi ungkapan-ungkapannya, dan mencocokkannya dengan kaidah-kaidah nasab.  

Karena di dalamnya ada penegasan bahwa anak-anak Ahmad bin Isa hanyalah dari tiga orang: Muhammad, Ali, dan Husain.  

Maka jika belum terlintas di benaknya apa yang aku maksud, maka aku katakan: Lihatlah wahai saudaraku apa yang diungkapkan oleh Ar-Razi dalam _Asy-Syajarah Al-Mubarakah_.  

Beliau berkata: “Adapun Ahmad Al-Abah, maka keturunannya dari tiga anak laki-laki: Muhammad Abu Ja’far di Ray, Ali di Ramalah, dan Husain, keturunannya di Naisabur.” Lihat hal. 127 dari cetakan kedua.

Maka perhatikan ucapannya _“maka keturunannya dari tiga anak laki-laki”_.  

Dia menggunakan susunan kalimat yang menurut Ibnu ‘Inabah menunjukkan bahwa keturunannya terbatas pada tiga orang.  

Ibnu ‘Inabah berkata: “Jika mereka berkata ‘keturunannya dari si fulan’ atau ‘keturunan dari si fulan’, maka itu menunjukkan bahwa keturunannya terbatas padanya.” Selesai.  

Maka penambahan nama Ubaid atau Abdullah setelah tiga abad adalah tertolak menurut para ahli.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Bahwa ahli nasab abad ke-7 dan ke-8, Al-Jundi dan Ar-Rasuli, menambah satu orang lagi, yaitu: Abdullah.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan: Penambahan nama Abdullah dalam_As-Suluk setelah tidak disebut dalam kitab-kitab sebelumnya adalah tertolak dan tidak diterima.  

Karena As-Suluk menyelisihi kitab yang mendahuluinya, yaitu Asy-Syajarah Al-Mubarakah.  

Kitab itu telah memastikan bahwa anak-anak Ahmad bin Isa yang memiliki keturunan hanyalah tiga orang: Muhammad, Ali, dan Husain.

Dan kaidah dalam ilmu sejarah dan nasab mengatakan: syarat diterimanya sebuah kitab adalah tidak menyelisihi kaidah-kaidah pokok.  

Berkata ahli nasab Syaikh Khalil bin Ibrahim dalam Muqaddimat fi ‘Ilm Al-Ansab: “Syarat untuk menerima naskah/kitab adalah tidak menyelisihi kaidah-kaidah pokok.”_ Lihat hal. 58.

Dan kitab As-Suluk bukanlah kitab nasab, melainkan kitab sejarah.  

Dan tidak boleh menetapkan nasab kecuali dengan kitab-kitab nasab.  

Berkata ahli nasab Abdurrahman bin Majid Al-Qaraja dalam kitabnya Al-Kafi Al-Muntakhab: “Dan tidak boleh sama sekali seorang sejarawan mendahulukan pendapatnya atas apa yang ditetapkan oleh ahli nasab, terlebih jika mereka lebih dekat zaman atau tempatnya.” Lihat hal. 71 darinya.

Dan apa yang disebut dalam _As-Suluk_ itu adalah untuk nasab Jadid, bukan untuk nasab ‘Alawi.  

Dan tidak ada dalil sama sekali tentang persaudaraan keduanya.  

Dan barangsiapa ingin diterima ucapannya bahwa Jadid dan ‘Alawi adalah bersaudara, maka hendaklah dia mendatangkan kitab sebelum As-Suluk yang menyebut bahwa ‘Alawi adalah saudara Jadid.

قال ابن حرجو الجاوي:

ان كل نسابة في كل طبقة لم يستوعب ذكر الأشخاص، فأحيانا لا يذكر تماما، وأحيانا ينقص، وأحيانا يزيد. قلت: فليس كل ما يقع يقال وليس كل ما يقال يكتب، وليس كل ما يكتب يصيب؛ فليس عدم الذكر عدم الوجود، كما أن عدم العلم ليس علما بالعدم، فالعالم حجة على الجاهل، فزيادة الثقة مقبولة. وفوق كل ذي علم عليم. والله أعلم.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: قوله " ان كل نسابة في كل طبقة لم يستوعب ذكر الأشخاص فأحيانا لا يذكر تماما، وأحيانا ينقص" نعم لانه ربما قصد الاختصار وعلى ذلك اشار بالتبعيض في قوله "ومن اولاده" فاذا قطع العدد كقول الرازي في ابناء احمد بن عيسى "فعقبه من ثلاثة بنين  محمد وعلى وحسين"  فلا سبيل لزيادة عبد الله بعده لانه قد علم علما يقينيا ان اولاده المعقبين انما هم هؤلاء الثلاثة.

وقوله " وأحيانا يزيد" نعم ولكن بشرط عدم المخالفة كزيادة الرازي حسينا في جملة ابناء احمد بن عيسى فانه لا يخالف ما قبله اذ لم يكن كتاب قبل الرازي يقطع ان ابناءه المعقبين من اثنين. بخلاف زيادة عبد الله فانها تخالف ما سبقه لان الرازي في القرن السادس قد قطع بان ابنائه  ثلاثة محمد وعلي وحسين.

وقوله " فليس كل ما يقع يقال" نعم لكن الأليق الا يقال مالم يقع الا لاصحاب الخرافات؛ وقوله "وليس كل ما يقال يكتب" نعم كادعاء باعلوي الشرف يقال كل يوم والمحققون لا يكتبونه؛ وقوله "وليس كل ما يكتب يصيب" نعم كنسب باعلوي قد كتبه علي السكران ولا يصيب؛ وقوله " فليس عدم الذكر عدم الوجود" نعم كالجهل الذي في قلوب ناصري باعلوي لا يذكرونه ويشعرون وجوده؛ وقوله " كما أن عدم العلم ليس علما بالعدم" نعم لكن العدم المستمر في عبد الله ابنا لاحمد بن عيسى في المصادر المعتمدة يُورث العلم بالعدم؛ وقوله " فالعالم حجة على الجاهل" نعم انا عالم ببطلان نسب باعلوي فانا حجة على الجاهل؛

وقوله " فزيادة الثقة مقبولة" نعم في الحديث بشرط ان تكون الزيادة لا تعارض أصل الحديث تقبل وتعتبر تفردا مقبولا. كأن يروي الجماعة حديثا ويزيد أحدهم كلمة تشرح صفة أو قيدا لا يتعارض مع الأصل، هذه تقبل غالبا لأن الثقة قد يحفظ ما غفل عنه غيره. مثال شهير فيها حديث: جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا، زاد أبو مالك الأشجعي فقال وجعلت لنا الأرض كلها مسجدا وجعلت تربتها لنا طهورا،  الزيادة قبلها الإمام مسلم وجماعة من الفقهاء واعتبروها حجة في اشتراط التراب للتيمم. بينما اعتبرها نقاد آخرون تفردا يحتاج لمراجعة لأن غيره من الأوثقين لم يذكرها بهذا اللفظ.  فالحاصل زيادة اسماء في اولاد احد في كتب الانساب مقبولة اذا استوفت شروطها كزيادة الرازي حسينا في جملة ابناء احمد بن عيسى ومردودة اذا لم تستوفها كزيادة الجندي عبد الله فيها.  

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata: 

Sesungguhnya setiap ahli nasab pada setiap tingkatan tidak mencakup penyebutan semua orang.  

Kadang tidak menyebut sama sekali, kadang mengurangi, dan kadang menambah.  

Aku katakan: Maka tidak semua yang terjadi boleh diucapkan, dan tidak semua yang diucapkan ditulis, dan tidak semua yang ditulis itu benar.  

Maka tidak disebut bukan berarti tidak ada, sebagaimana tidak tahu bukan berarti tahu tidak ada.  

Maka orang yang berilmu adalah hujjah atas orang yang bodoh.  

Dan tambahan dari orang tsiqah/terpercaya adalah diterima.  

Dan di atas setiap orang yang berilmu ada yang lebih berilmu. Wallahu a’lam.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan:  

Perkataannya “sesungguhnya setiap ahli nasab pada setiap tingkatan tidak mencakup penyebutan semua orang, maka kadang tidak menyebut sama sekali, dan kadang mengurangi”  

Ya benar. Karena terkadang dia bermaksud meringkas. Dan atas dasar itu dia memberi isyarat tab’idh/sebagian dalam ucapannya “dan termasuk anak-anaknya”.  

Maka jika dia memastikan jumlah, seperti ucapan Ar-Razi tentang anak-anak Ahmad bin Isa: “maka keturunannya dari tiga anak laki-laki: Muhammad, Ali, dan Husain”,  

maka tidak ada jalan untuk menambah Abdullah setelahnya. Karena telah diketahui secara yakin bahwa anak-anaknya yang memiliki keturunan hanyalah tiga orang ini.

Dan ucapannya “dan kadang menambah”  

Ya benar. Tetapi dengan syarat tidak menyelisihi. Seperti penambahan Ar-Razi terhadap Husain dalam jumlah anak-anak Ahmad bin Isa.  

Karena itu tidak menyelisihi kitab sebelumnya, sebab tidak ada kitab sebelum Ar-Razi yang memastikan bahwa anak-anaknya yang memiliki keturunan hanya dua orang.  

Berbeda dengan penambahan Abdullah, karena itu menyelisihi kitab sebelumnya. Karena Ar-Razi di abad ke-6 telah memastikan bahwa anak-anaknya adalah tiga: Muhammad, Ali, dan Husain.

Dan ucapannya “maka tidak semua yang terjadi boleh diucapkan” 

Ya benar. Tetapi yang lebih layak adalah tidak mengucapkan sesuatu yang tidak terjadi, kecuali bagi para ahli khurafat.

Dan ucapannya “dan tidak semua yang diucapkan ditulis”

Ya benar. Seperti pengakuan Ba ‘Alawi sebagai keturunan syarif yang diucapkan setiap hari, tetapi para peneliti tidak menuliskannya.

Dan ucapannya “dan tidak semua yang ditulis itu benar”  

Ya benar. Seperti nasab Ba ‘Alawi yang telah ditulis oleh Ali As-Sakran dan itu tidak benar.

Dan ucapannya “maka tidak disebut bukan berarti tidak ada”  

Ya benar. Seperti kebodohan yang ada di hati para pembela Ba ‘Alawi, mereka tidak menyebutkannya padahal mereka merasakan adanya.

Dan ucapannya “sebagaimana tidak tahu bukan berarti tahu tidak ada” 

Ya benar. Tetapi ketiadaan yang terus-menerus terhadap Abdullah sebagai anak Ahmad bin Isa dalam sumber-sumber mu’tabar, itu mewariskan ilmu tentang ketiadaannya.

Dan ucapannya “maka orang yang berilmu adalah hujjah atas orang yang bodoh” 

Ya benar. Aku adalah orang yang berilmu tentang kebatilan nasab Ba ‘Alawi, maka aku adalah hujjah atas orang yang bodoh.

Dan ucapannya “maka tambahan dari orang tsiqah adalah diterima” 

Ya benar dalam hadits, dengan syarat tambahannya tidak bertentangan dengan pokok hadits, maka diterima dan dianggap sebagai tafarrud/penyendirian yang diterima.  

Seperti jika sekelompok orang meriwayatkan sebuah hadits, lalu salah satunya menambah satu kata yang menjelaskan sifat atau qaid, yang tidak bertentangan dengan pokoknya. Ini biasanya diterima karena orang tsiqah terkadang menghafal apa yang dilalaikan orang lain.  

Contoh terkenalnya: hadits “Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci”.  

Abu Malik Al-Asyja’i menambah: “dan dijadikan untuk kami seluruh bumi sebagai masjid, dan dijadikan debunya untuk kami sebagai alat bersuci”.  

Tambahan ini diterima oleh Imam Muslim dan sekelompok fuqaha, dan mereka menjadikannya hujjah dalam mensyaratkan debu untuk tayammum.  

Sementara sebagian kritikus lain menganggapnya tafarrud yang perlu ditinjau ulang karena orang-orang yang lebih tsiqah darinya tidak menyebutkannya dengan lafadz ini.

Kesimpulannya: penambahan nama-nama dalam anak-anak seseorang dalam kitab-kitab nasab adalah diterima jika memenuhi syarat-syaratnya.  

Seperti penambahan Ar-Razi terhadap Husain dalam jumlah anak-anak Ahmad bin Isa.  

Dan tertolak jika tidak memenuhi syaratnya, seperti penambahan Al-Jundi terhadap Abdullah di dalamnya.

قال ابن حرجو الجاوي:

ان كتب الأنساب القديمة المخطوطة لا تزال كثيرة، وبعضها مفقودة؛ فمن القصور والمجازفة جدا نفي صحة نسب شخص ما بحجة عدم ذكره في كتب، مع كون هذه الكتب لا تزال على صورها المخطوطة التي لم يطلع عليها بل بعضها قد يكون ضائعا مندرسا. والله أعلم.

قال عماد الدين عثمان البنتني

قلت: قوله: لا يجوز ان يدعى احد الشرف ولما طلب منه البينة علل بانها مفقودة لان ذلك يؤدي الى فتح باب واسع في ادعاء الشرف. وان فتحنا باب التشكيك بناءً على "المخطوطات المفقودة"،  لتعطلت كل الأحكام التاريخية والحديثية والأنساب، ولجاز لأي شخص في العالم أن يدعي أي نسب أو حدث تاريخي، ويقول لخصمه: "دليلي في كتاب مفقود لم تطلع عليه".فمن يدعي نسبا عليه تقديم بينته من المدوّنات ولا يحق له مطالبة الآخرين بالإيمان بنسبه بناءً على غيب لم يطلع عليه أحد. 

خاتمة

فالحاصل ان محاولة ابن حرجو الجاوي لنصرة نسب باعلوي الباطل لاتنجح؛  فانه لا يستطيع ان يأتي بكتاب في الانساب قبل القرن السابع ذكر فيه ان عبد الله ابن لأحمد بن عيسى ليكون ادعائهم الشرف الحسيني صحيحا، او كتابا فيها قبل القرن التاسع ذكر فيه ان علوي أخو جديد ليكون ادعاء باعلوي انهم من بيت ابي علوي الذي ذكر في السلوك صحيحا. فبعدم نجاح ابن حرجو الجاوي في ذلك تبقى عائلة باعلوي ليست من الاشراف الحسينية ولا من عائلة بيت ابي علوي الذي ذكر في السلوك  انما هم مدعون فقط فيهما.   نسأل الله حسن الخاتمة وان يجعل نهايات اعمالنا سببا لرفعة درجاتنا في الدنيا والآخرة وقد تم هذا الكتاب  لجواب ابن حرجو الجاوي في تحقيق بطلان نسب باعلوي في ليلة السبت السادس عشر من صفر سنة الف واربعمائة وثمان واربعين من الهجرة على صاحبها افضل الصلاة والسلام , كتبته يوما ونصف يوم وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين والحمد لله رب العالمين.

Ibnu Harjo Al-Jawi berkata:  

Sesungguhnya kitab-kitab nasab kuno yang masih berupa naskah sangatlah banyak, dan sebagian darinya hilang.  

Maka sangat ceroboh dan gegabah jika seseorang menafikan keabsahan nasab seseorang dengan alasan tidak disebut dalam kitab-kitab, padahal kitab-kitab itu masih dalam bentuk naskah yang belum dilihat, bahkan sebagian darinya mungkin hilang dan musnah. Wallahu a’lam.

‘Imaduddin Utsman Al-Bantani menjawab:  

Aku katakan:  

Ucapannya: “tidak boleh seseorang mengaku sebagai syarif, dan ketika diminta bukti dia beralasan bahwa buktinya hilang” 

Karena itu akan membuka pintu yang sangat lebar untuk pengakuan sebagai syarif.  

Dan jika kita membuka pintu keraguan dengan alasan “naskah-naskah yang hilang”,  

maka akan lumpuhlah semua hukum sejarah, hadits, dan nasab.  

Dan akan boleh bagi siapa saja di dunia ini mengaku nasab apa pun atau peristiwa sejarah apa pun, lalu berkata kepada lawannya: “dalilku ada di kitab yang hilang yang belum kamu lihat.”

Maka barangsiapa mengaku nasab, wajib baginya mendatangkan buktinya dari kitab-kitab yang telah dibukukan.  

Dan dia tidak berhak menuntut orang lain untuk beriman dengan nasabnya berdasarkan hal ghaib yang tidak dilihat seorang pun.

Khatimah / Penutup

Kesimpulannya:  

Upaya Ibnu Harjo Al-Jawi untuk membela nasab Ba ‘Alawi yang batil tidak akan berhasil.  

Karena dia tidak mampu mendatangkan satu kitab nasab pun sebelum abad ke-7 yang menyebut bahwa Abdullah adalah anak Ahmad bin Isa,  

agar pengakuan mereka sebagai keturunan Husain menjadi benar.  

Atau satu kitab pun sebelum abad ke-9 yang menyebut bahwa ‘Alawi adalah saudara Jadid,  

agar pengakuan Ba ‘Alawi bahwa mereka dari Bait Abi ‘Alawi yang disebut dalam As-Suluk menjadi benar.

Maka dengan gagalnya Ibnu Harjo Al-Jawi dalam hal itu,  

tetaplah keluarga Ba ‘Alawi bukan termasuk Asyraf Husainiyyin,  

dan bukan pula dari keluarga Bait Abi ‘Alawi yang disebut dalam As-Suluk.  

Mereka hanyalah pengaku saja dalam keduanya.

Kami memohon kepada Allah husnul khatimah,  

dan semoga Dia menjadikan akhir dari amal-amal kami sebagai sebab terangkatnya derajat kami di dunia dan akhirat.

Telah selesai kitab ini sebagai jawaban atas Ibnu Harjo Al-Jawi dalam menetapkan kebatilan nasab Ba ‘Alawi,  

pada malam Sabtu tanggal 16 Shafar tahun 1448 Hijriyah.  

Atas Nabi yang terbaik shalawat dan salam.  

Aku menulisnya dalam waktu sehari setengah hari.  

Shalawat dan salam atas junjungan kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya semuanya.  

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق