MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Kamis, 24 September 2026

EDISI KHUTBAH JUM'AT (Menjadi Manusia Yang Pandai Bersyukur Dan Bersabar)

*Khutbah Pertama* 

‎اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُّبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

‎أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّا بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

*Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,*

Dalam menjalani bahtera kehidupan yang penuh dinamika ini, seringkali kita terlupa akan dua pilar penting yang seharusnya menjadi pegangan kokoh setiap mukmin, yaitu rasa syukur atas nikmat Allah dan kesabaran dalam menghadapi setiap ujian. Padahal, keduanya adalah kunci utama menuju ketenangan jiwa, kekuatan hati, dan kebahagiaan yang abadi.

Oleh karena itu, Allah menurunkan banyak ayat tentang bersyukur dan bersabar sebagai pedoman bagi umat-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim : 7)

Secara naluriah, manusia pada dasarnya memang dipenuhi oleh sifat serakah, enggan bersyukur, berkeluh kesah, tidak perduli terhadap sesama. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا, إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا, وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.” (Q.S. Al-Ma’arij: 19-21)

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,*

Lebih lanjut Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa manusia suka mengingkari nikmat Allah ketika mendapatkan ujian,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18)

"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin." (QS. Al-Fajr : 15-18)

Lantas bagaimana caranya seorang mukmin agar senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menjalani kehidupan ini?

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,*

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

‎انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah darimu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu, karena yang demikian itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

Terdapat kisah penuh hikmah yang dijelaskan dalam kitab Bahrud Dumu’ [Darul Farj, 2004, hal. 132-133], karya Imam Jamaluddin Abdurrahman Al-Jauzi, atau dikenal dengan nama *Ibnul Jauzi* (w. 597 H.). Berikut kisahnya,

يروى في بعض الأخبار إن عمر بن الخطاب رضي الله عنه لقي حذيفة بن اليمان وهو يومئذ أمير المؤمنين، فقال لحذيفة: كيف أصبحت يا حذيفة؟ قال: أصبحت يا أمير المؤمنين  أحب  الفتنة، وأكره الحق، وأقول بما لم يخلق، وأشهد بما لم أر، وأصلي بلا وضوء، ولي في الأرض ما ليس لله في السماء

“Diriwayatkan di sebagian hadits, bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan Hudzaifah bin al-Yaman, dan Umar ketika itu sudah menjadi Amirul Mukminin. Dia berkata “bagaimana pagimu hai, Hudzaifah”, Hudzaifah menjawab “Pagiku, wahai Amirul Mukminin, aku menyukai fitnah, dan aku membenci kebenaran, aku mengucapkan hal yang bukan makhluk, aku bersaksi atas hal yang tidak ku lihat, aku shalat tanpa berwudhu, dan aku di bumi mempunyai apa yang Allah tidak punya di langit.”

فغضب عمر لذلك غضبا شديدا، وهمّ إن يبطش به، ثم تذكر صحبته من النبي، فأمسك، فهو كذلك إذ مرّ به عليّ بن أبي طالب رضي الله عنه، فرأى الغضب في وجهه، فقال: ما أغضبك يا أمير المؤمنين، فقصّ عليه القصّة 

“Mendengar hal itu, Umar kemudian sangat marah, dia ingin menghancurkan Hudzaifah, hanya saja dia teringat bahwa Hudzaifah adalah sahabat Nabi, maka dia mengurungkan niatnya itu. Tiba-tiba Ali bin Abi Talib berjalan bertemu Umar, dan umar masih dalam kondisi marah, lalu Ali bertanya “Apa yang membuatmu marah wahai Amirul Mukminin”, kemudian Umar menceritakan kisah tersebut.”

فقال: يا أمير المؤمنين لا يغضبك ذلك، أما قوله: إنه يحب الفتنة، فهو تأويل قوله تعالى: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ}(التغابن ١٥) 

“Ali berkata “hai, Amirul Mukminin, janganlah marah karena kejadian itu, ucapan Hudzaifah bahwa dia menyukai fitnah adalah takwilan dari surat al-Taghabun ayat 15.”

أما قوله: يكره الحق، فالحق هو الموت الذي لا بدّ منه ولا محيص عنه 

“Ucapannya tentang membenci kebenaran adalah tentang kematian yang pasti akan datang, dan tidak bisa dihindari.” 

وأما قوله: يقول بما لم يخلق: القرآن، فهو يقرأ القرآن وهو غير ومخلوق 

“Terkait berkata dengan hal yang tidak diciptakan adalah tentang Al-Qur’an, dan Qur’an sendiri bukanlah makhluk.” 

وأما قوله: يشهد بما لم ير، فانه يصدق بالله ولم يره 

“Terkait bersaksi terhadap hal yang tidak dia lihat, adalah tentang memperayai Allah meskipun tidak melihat-Nya.”

وأما قوله: يصلي بغير وضوء، فانه يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم بغير وضوء 

“Terkait shalat tanpa wudhu adalah tentang shalawat kepada Nabi tanpa berwudhu.” 

وأما قوله: إن له في الأرض ما ليس لله في السماء، فان له زوجة وبنين، وليس لله شيء من ذلك

“Terkait dia di bumi mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki Allah di langit adalah tentang anak dan istri, dan Allah sama sekali tidak mempunyai anak dan istri.”

فقال عمر: لله درّك: يا أبا الحسن، لقد كشفت عني هما عظيما

“Umar berkata “Kebaikan Allah ada padamu wahai Abul Hasan, engkau telah membebaskanku dari kegalauan yang sangat berat.”

*Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,*

Demikianlah khutbah tentang pentingnya bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar dalam menghadapi berbagai masalah dan musibah yang sudah menjadi sunnatullah harus dihadapi oleh manusia. Semoga kita termasuk orang yang kuat dan sabar dalam menghadapi segala bentuk permasalahan dalam hidup dan semoga kita termasuk orang-orang yang dilindungi dan dicintai Allah SWT.   

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

*Khutbah Kedua*   

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ 

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ  

عِبَادَ اللهِ إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   

Rabu, 23 September 2026

KAJIAN TENTANG HUKUM MENGUSAP WAJAH SETELAH SELESAI BERDOA

Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), khususnya Nahdliyin (pengikut NU), ketika setelah selesai shalat mengusap mukanya dengan tangan, baik keduanya maupun hanya tangan kanannya saja. 

Apakah hal tersebut diperbolehkan dalam Islam? atau apakah perbuatan tersebut ada dasarnya atau dalilnya?.

Karena ada sebagian umat Islam yang berbeda tafsir keagamaanya melarang sesama saudaranya yang juga berbeda tafsir keagamaanya dengan dirinya untuk mengusap muka setelah shalat atau setelah berdoa. 

Sebenarnya perbuatan tersebut ada dasarnya, sumbernya berasal dari beberapa riwayat hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diantaranya yang diriwayatkan dalam kitab Sunan Abu Dawud nomor 1275,

عن السائب بن يزيد عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا فرفع يديه مسح وجهه بيديه (سنن ابي داود ، رقم ١٢٧٥). 

"Dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya, apabila Rasulullah saw berdoa, beliau selalu mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya." (HR Sunan Abi Dawud, 1275). 

سنن ابن ماجه ١١٧١: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ قَالَا حَدَّثَنَا عَائِذُ بْنُ حَبِيبٍ عَنْ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ

Sunan Ibnu Majah 1171: Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] dan [Muhammad bin Ash Shabbah] keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami ['A`id bin Habib] dari [Shalih bin Hassan Al Anshari] dari [Muhammad bin Ka'ab Al Qurazhi] dari [Ibnu Abbas] ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila kamu berdo'a kepada Allah gunakanlah bagian dalam telapak tanganmu dan jangan dengan bagian luarnya, jika selesai do`a maka usaplah wajahmu dengan keduanya." (HR. Ibnu Majah no.1171)

سنن الترمذي ٣٣٠٨: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى فِي حَدِيثِهِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى وَقَدْ تَفَرَّدَ بِهِ وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ وَقَدْ حَدَّثَ عَنْهُ النَّاسُ وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيُّ ثِقَةٌ وَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ

Sunan Tirmidzi 3308: Telah menceritakan kepada kami [Abu Musa Muhammad binAl Mutsanna] dan [Ibrahim bin Ya'qub] serta lebih dari satu orang mereka berkata:? telah menceritakan kepada kami [Hammad bin IsaAl Juhani] dari [Hanzhalah bin Abu SufyanAl Jumahi] dari [Salim bin Abdullah] dari [ayahnya] dari [Umar bin Al Khathab radliallahu 'anhu] ia berkata: rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam sebuah doa maka beliau tidak menurunkan keduanya hingga mengusap mukanya dengan keduanya. Muhammad bin Al Mutsanna berkata dalam hadits tersebut: tidak mengembalikan keduanya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya. Abu Isa berkata: hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin Isa, ia sendirian yang meriwayatkan hadits tersebut sementara ia adalah orang yang sedikit haditsnya. Orang-orang telah menceritakan darinya, sedangkan Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi adalah orang yang tsiqah, ia ditsiqahkan oleh Yahya bin Sa'id Al Qaththan. (HR. At-Tirmidzi no.3308)

Juga penjelasan dari para ulama 4 Imam Mdzhab sebagaimana berikut ini,

من أقوال الحنفية  

في شرح الحصكفي 1/507  و  أما ( عند الصفا والمروة وعرفات ) ف ( يرفعهما كالدعاء ) والرفع فيه , وفي الاستسقاء مستحب ( فيبسط يديه ) حذاء صدره ( نحو السماء ) لأنها قبلة الدعاء ويكون بينهما فرجة والإشارة بمسبحته لعذر كبرد يكفي والمسح بعده على وجهه سنة في الأصح شرنبلالية . )  

وفي الفتاوى الهندية 5/318 : ( مسح الوجه باليدين إذا فرغ من الدعاء قيل : ليس بشيء , وكثير من مشايخنا - رحمهم الله تعالى - اعتبروا ذلك وهو الصحيح وبه ورد الخبر , كذا في الغياثية .)   

*Dari perkataan ulama Hanafiyah*

Dalam Syarh Al-Hashkafi 1/507: "Adapun (di Shafa dan Marwah serta Arafah) maka (ia mengangkat kedua tangannya seperti dalam doa) dan mengangkat tangan dalam hal itu, dan dalam istisqa' adalah mustahab (maka ia membentangkan kedua tangannya) sejajar dengan dadanya (ke arah langit) karena langit adalah kiblatnya doa dan di antara keduanya ada celah, dan berisyarat dengan jari telunjuknya karena uzur seperti dingin sudah cukup, dan mengusap wajah dengannya setelah doa adalah sunnah menurut pendapat yang paling sahih. Syurunbulaliyah."

Dan dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 5/318: "(Mengusap wajah dengan kedua tangan jika telah selesai dari doa, dikatakan: itu bukan apa-apa, dan banyak dari guru-guru kami - rahimahumullah ta'ala - menganggap hal itu dan itulah yang sahih dan telah datang khabar (hadis) tentangnya, demikian dalam Al-Ghiyatsiyah.)"[dianjurkan]

من أقوال المالكية  

في الفواكه الدواني 2/330 : ( واختلف هل يرفع يديه عند الدعاء أو لا ؟  

وعلى الرفع فهل يمسح وجهه بهما عقبه أم لا ؟ والذي في الترمذي عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه : { أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا رفع يديه في الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه } . فيفيد أنه كان يرفعهما ويمسح بهما وجهه .) 

وفي الفواكه الدواني أيضا 2/335 : ( واختلف في بسط اليد ولا بأس منه لانه أمارة الذل والسكينة ويستحب أن يمسح وجهه بيديه عقبه كما كان يفعله عليه الصلاة والسلام ) اه  وفي الفواكه الدواني أيضا 1/281 : ( ويرفع يديه في حال الدعاء وبطونهما إلى الأرض وقيل إلى السماء وورد أنه بعد الدعاء يضع يديه على وجهه ويمسحه بهما لكن من غير تقبيل )  

  *Dari perkataan ulama Malikiyah*

Dalam Al-Fawakih Ad-Dawani 2/330: "Dan diperselisihkan apakah ia mengangkat kedua tangannya ketika berdoa atau tidak? Dan jika mengangkat, apakah ia mengusap wajahnya dengan keduanya setelahnya atau tidak? Dan yang ada dalam At-Tirmidzi dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu: {Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam doa, beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya}. Maka ini berfaedah bahwa beliau mengangkat keduanya dan mengusap wajahnya dengan keduanya."

Dan dalam Al-Fawakih Ad-Dawani juga 2/335: "Dan diperselisihkan tentang membentangkan tangan dan tidak apa-apa melakukannya karena itu adalah tanda kerendahan dan ketenangan, dan dianjurkan untuk mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi 'alaihis shalatu wassalam."

Dan dalam Al-Fawakih Ad-Dawani juga 1/281: "Dan ia mengangkat kedua tangannya dalam keadaan berdoa dan telapaknya menghadap ke bumi, dan dikatakan menghadap ke langit, dan telah datang riwayat bahwa setelah berdoa ia meletakkan kedua tangannya di wajahnya dan mengusapnya dengan keduanya, akan tetapi tanpa menciumnya."

من أقوال الشافعية  

فتاوى ابن حجر 1/137 : ( وسئل ) رضي الله عنه - وحشرني في زمرته - عن تقبيل اليدين بعد كل دعاء خارج الصلاة هل له أصل كمسح الوجه بهما أم لا ؟ وإذا كان له أصل فهل هو صحيح , أو خبره ضعيف  ( فأجاب ) - فسح الله في مدته - : بأني لم أر له أصلا صحيحا ولا ضعيفا بعد مزيد البحث والتفتيش ; فلا ينبغي فعله .)  

وفي مغني المحتاج 1/370 : ( وأما مسح غير الوجه كالصدر فلا يسن مسحه قطعا بل نص جماعة على كراهته . وأما مسح الوجه عقب الدعاء خارج الصلاة , فقال ابن عبد السلام بعد نهيه عنه لا يفعله إلا جاهل ا هـ .  وقد ورد في المسح بهما أخبار بعضها غريب وبعضها ضعيف , ومع هذا جزم في التحقيق باستحبابه .)  

وفي حاشية البجيرمي على شرح المنهج 1/208 : ( قوله : ( لا مسح ) أي : في الصلاة أي : لا يندب فالأولى تركه ح ل ويسن خارجها م ر أي : يسن أن يمسح وجهه بيديه بعده لما ورد أن كل شعرة مسحها بيده بعد الدعاء تشهد له ويغفر له بعددها ح ف وما تفعله العامة من تقبيل اليد بعد الدعاء لا أصل له كما في شرح م ر و ع ش . )  

 *Dari perkataan ulama Syafi'iyah*

Fatawa Ibnu Hajar 1/137: "Dan beliau ditanya - radhiyallahu 'anhu - dan semoga Allah mengumpulkanku dalam golongannya - tentang mencium kedua tangan setelah setiap doa di luar shalat, apakah ada dasarnya seperti mengusap wajah dengan keduanya atau tidak? Dan jika ada dasarnya, apakah itu sahih atau hadisnya lemah? (Maka beliau menjawab) - semoga Allah melapangkan masanya -: Bahwa aku tidak melihat ada dasar yang sahih maupun yang lemah setelah penelitian dan pencarian lebih lanjut; maka tidak sepantasnya melakukannya."

Dan dalam Mughni Al-Muhtaj 1/370: "Adapun mengusap selain wajah seperti dada, maka tidak disunnahkan mengusapnya sama sekali, bahkan sekelompok ulama menegaskan kemakruhannya. Adapun mengusap wajah setelah doa di luar shalat, maka Ibnu Abdissalam setelah melarangnya berkata: Tidak ada yang melakukannya kecuali orang bodoh. Selesai. Dan telah datang dalam masalah mengusap dengan keduanya beberapa khabar, sebagiannya gharib dan sebagiannya dha'if, dan meskipun demikian, dalam kitab At-Tahqiq dipastikan kesunnahannya."

Dan dalam Hasyiyah Al-Bujairimi 'ala Syarh Al-Manhaj 1/208: "Perkataannya: (tidak mengusap) maksudnya: di dalam shalat, yaitu: tidak dianjurkan, maka yang lebih utama adalah meninggalkannya. Ha' Lam. Dan disunnahkan di luar shalat. Mim Ra' maksudnya: disunnahkan untuk mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelahnya karena telah datang riwayat bahwa setiap helai rambut yang ia usap dengan tangannya setelah doa akan menjadi saksi baginya dan akan diampuni baginya sejumlah helai rambut itu. Ha' Fa'. Dan apa yang dilakukan oleh orang awam berupa mencium tangan setelah doa tidak ada dasarnya sebagaimana dalam syarh Mim Ra' dan 'Ain Syin."

من أقوال الحنابلة  

في المغني لابن قدامة 1/449 : ( ولنا , قول النبي صلى الله عليه وسلم : { إذا دعوت الله فادع ببطون كفيك , ولا تدع بظهورهما , فإذا فرغت فامسح بهما وجهك } . رواه أبو داود , وابن ماجه . ولأنه فعل من سمينا من الصحابة . وإذا فرغ من القنوت فهل يمسح وجهه بيده ؟ فيه روايتان :  إحداهما , لا يفعل ; لأنه روي عن أحمد أنه قال : لم أسمع فيه بشيء . ولأنه دعاء في الصلاة , فلم يستحب مسح وجهه فيه , كسائر دعائها .  الثانية : يستحب ; للخبر الذي رويناه . وروى السائب بن يزيد , { أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا رفع يديه , ومسح وجهه بيديه } . ولأنه دعاء يرفع يديه فيه , فيمسح بهما وجهه , كما لو كان خارجا عن الصلاة )  

وفي غذاء الألباب 2/516 : ( وأن يسأل ما يصلح , ويمسح وجهه بيديه بعد فراغه ) اه  وفي الفتاوى الكبرى لابن تيمية 2/219 : ( وأما رفع النبي صلى الله عليه وسلم يديه في الدعاء : فقد جاء فيه أحاديث كثيرة صحيحة , وأما مسحه وجهه بيديه فليس عنه فيه إلا حديث , أو حديثان , لا يقوم بهما حجة , والله أعلم .) 

*Dari perkataan ulama Hanabilah*

Dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah 1/449: "Dan dalil kami adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: {Apabila engkau berdoa kepada Allah maka berdoalah dengan telapak tanganmu, dan jangan berdoa dengan punggung tanganmu, dan apabila telah selesai maka usaplah wajahmu dengan keduanya}. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dan karena itu adalah perbuatan orang-orang yang telah kami sebutkan dari kalangan sahabat. Dan apabila telah selesai dari qunut, apakah ia mengusap wajahnya dengan tangannya? Dalam hal ini ada dua riwayat: Pertama, tidak melakukannya; karena diriwayatkan dari Ahmad bahwa beliau berkata: Aku tidak mendengar apapun tentangnya. Dan karena itu adalah doa di dalam shalat, maka tidak dianjurkan mengusap wajahnya di dalamnya, seperti doa-doa lainnya di dalam shalat. Kedua: Dianjurkan; karena hadis yang telah kami riwayatkan. Dan As-Saib bin Yazid meriwayatkan, {Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berdoa beliau mengangkat kedua tangannya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya}. Dan karena itu adalah doa yang di dalamnya ia mengangkat kedua tangannya, maka ia mengusap wajahnya dengan keduanya, sebagaimana jika ia berada di luar shalat."

Dan dalam Ghidza' Al-Albab 2/516: "Dan hendaknya ia meminta apa yang baik, dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai."

Dan dalam Al-Fatawa Al-Kubra karya Ibnu Taimiyah 2/219: "Adapun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dalam doa: maka telah datang tentangnya hadis-hadis yang banyak yang sahih, dan adapun beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, maka tidak ada darinya kecuali satu hadis, atau dua hadis, yang tidak dapat dijadikan hujjah, wallahu a'lam."

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموافق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 19 September 2026

KAJIAN TENTANG PENGAKUAN TERPUTUSNYA NASAB BA'ALAWI MENURUT AL-HABIB MUSTHAFA AL-ATHAS SESUAI KITAB BA'ALAWI







Dalam penggalan sebuah percakapan di medsos ada sebuah kejujuran pengakuan dari seorang ba'alawi yaitu Al-Habib Musthafa Al-Athas dalan penjelasannya beliau menyatakan bahwa nasab ba'alawi adalah nasab yang cilukba alias datang secara tiba-tiba sebagai pengakuan nasab yang munqathi' (terputus) dari ahlul bait Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau merujuk kepada tiga kitab karya ulama ba'alawi yaitu Kitab Al-Imam Al-Muhajir hal.27 karya Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Kitab Al-Mu'jam Al-Latif hal.41 karya Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, dan Kitab Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167 karya As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi.

Melalui penelusuran saya dapatkan dan kutikpan isi kitab dimaksud sebagai berikut,

لقد واجه المهاجر وذرية من بعد فى حضرموت من الاناف فى إثبات نسبهم الى النبي صلى الله عليه وسلم مالم يواجه مثله أي فرع من فروع البيت النبوي وكان انكار هذه النسب او الطعن فيها يتكرر واجه يتكر بصور واشكال متعددة من قدوم الامام المهاجر الى حضرموت حتى عصر الحاضر

"Sungguh Al-Muhajir (Imam Ahmad bin Isa) dan keturunannya setelahnya di Hadhramaut telah menghadapi kesulitan yang sangat berat dalam menetapkan nasab mereka kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mana kesulitan seperti itu tidak pernah dihadapi oleh cabang manapun dari cabang-cabang keluarga Nabi (Bait Nabawi).

Dan pengingkaran terhadap nasab ini atau pencelaan terhadapnya terus berulang dengan berbagai bentuk dan model yang bermacam-macam, sejak kedatangan Imam Al-Muhajir ke Hadhramaut hingga masa sekarang ini." (Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Al-Imam Al-Muhajir hal.27)

أعلام تآصل بني علوي لوشستر إلا بعد تكاثرهم

وأعلام القبائل العلوية سواء كانت بالأسماء أو بالألقاب أو بالكنى لم تشتهر ولم تنتشر إلا بعد تكاثرها، وذلك بعد القرن الثامن الهجري لأنهم لم يتنشروا إلا فيه بعد، والهدف منها كما قلت سابقًا هو التعارف والتمايز. قال الله تعالى جلّ وعلا:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾

(سورة الحجرات، آية 13)

"Publikasi asal-muasal nasab Bani Alawi tidak menjadi terkenal/masyhur kecuali setelah jumlah mereka banyak (berkembang biak)."

“Nama-nama/penamaan kabilah-kabilah Alawiyah, baik yang berupa nama, gelar maupun kunyah, tidak menjadi terkenal dan tersebar kecuali setelah jumlah mereka semakin banyak. Hal itu terjadi setelah abad kedelapan Hijriah, karena sebelum itu mereka belum banyak tersebar. Tujuan dari penamaan tersebut, sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, adalah untuk saling mengenal dan membedakan satu sama lain.

Allah Ta‘ala berfirman:

‘Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.’ (QS. Al-Hujurat: 13. (Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Al-Mu'jam Al-Latif hal.41)

ظهور السلسلة فجأة، وتشتهر ولما تكون مشهورة؛ كما أنها لا واقع لها في دواوين النسب، فخبر الواحد لا عبرة به هنا بعد أن مضى على السلسلة قرون ولم تكن معروفة خلال تلك القرون المتصرفة

"Munculnya sebuah garis keturunan (silsilah nasab) secara tiba-tiba, lalu menjadi terkenal padahal sebelumnya tidak pernah terkenal; sebagaimana nasab tersebut tidak ada faktanya (tidak tercatat) di dalam kitab-kitab induk nasab, maka kabar perorangan (khabar ahad) tidak ada nilainya di sini setelah berlalunya berabad-abad lamanya atas silsilah tersebut dalam keadaan tidak dikenal selama abad-abad yang telah berlalu itu." (As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi, Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167).

Oleh karenanya, dari penjelasan kitab-kitab diatas dapat diketahui bahwa Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan keturunannya itu terkenal popularitasnya dan tersebar luas namanya (syuhrah wal istifazhah) baru pada abad ke-8 hijriyah dimana abad sebelumnya tidak diketahui dan tidak tercatat di dalam kitab nasab. Dari penjelasan video dan teks rujukan kitab tergantung bagaimana kita menyikapi kebenarannya. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan. Aamiin 

*والله الموافق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 08 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG KISAH SUMUR BARHUT HADHRAMAUT YAMAN TIDAK MENYALAHI SUNNAH




Ada teman yang bertanya terkait validitas kisah cerita dalam video ada seorang khatib yang mengkisahkan sumur Zamzam dan sumur Barhut yang ada di Yaman.

Sebagai jawabannya maka jadilah kajian ini bahwa Bi'ru Barhut yang ada di Hadhramaut memang terdapat dalam riwayat hadits. Sementara untuk kisahnya sebagaimana dikisahkan dalam video itu terdapat penjelasan dalam kitab Irsyadul Ibad. Adapun riwayat haditsnya sebagaimana berikut,

فالحديث رواه الطبراني في معجم الكبير عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خير ماء على وجه الأرض ماء زمزم، فيه طعام من الطعم، وشفاء من السقم، وشر ماء على وجه الأرض ماء برهوت بقية حضرموت كرجل الجراد من الهوام، يصبح يتدفق، ويمسي لا بلال بها. قال المناوي: قال الهيثمي: رجاله ثقات. وصححه ابن حبان وقال ابن حجر: رواته موثوقون، وفي بعضهم مقال، لكنه قوي في المتابعات، وقد جاء عن ابن عباس من وجه آخر موقوفا: زمزم فيه طعام من الطعم. أي إشباع أو طعام شبع من إضافة الشيء إلى صفته، والطعم بالضم: الطعام (وشفاء من السقم) أي: شفاء من الأمراض إذا شرب بنية صالحة، وفيه تقوية لمن ذهب إلى تفضيله على ماء الكوثر. (وشر ماء على وجه الأرض ماء بوادي برهوت) أي: ماء بئر بوادي برهوت، بفتح الباء، والبئر بئر عميقة بحضرموت، لا يمكن نزول قعرها، وقد تضم الباء وتسكن الراء، وهي المشار إليها بآية: وبئر معطلة [الحج: 45].

(بقية حضرموت كرجل الجراد من الهوام تصبح تتدفق وتمسي لا بلال لها) قال الزمخشري: برهوت بئر بحضرموت، يقال إن بها أرواح الكفار، واسم للبلد التي فيها هذا البئر، أو أراد باليمن. اهـ. في الفردوس عن الأصمعي عن رجل من أهل برهوت: أنهم يجدون الريح المنتن الفظيع منها، وفيه أنه يكره استعمال هذا الماء في الطهارة وغيرها، وبه قال جمع من الشافعية. انتهى. من كلام المناوي باختصار. وقال ياقوت الحموي في معجم البلدان: برهوت بضم الهاء وسكون الواو وتاء فوقها نقطتان: واد باليمن يوضع فيه أرواح الكفار، وقيل برهوت بئر بحضرموت، وقيل: هو اسم للبلد الذي فيه هذه البئر، ورواه ابن دريد برهوت بضم الباء وسكون الراء، وقيل: هو واد معروف.

وقال محمد بن أحمد: وبقرب حضرموت وادي برهوت، وهو الذي قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم: إن فيه أرواح الكفار والمنافقين، وهي بئر عادية في فلاة واد مظلم، وروي عن علي رضي الله عنه أنه قال: أبغض بقعة في الأرض إلى الله عز وجل: وادي برهوت بحضرموت، فيه أرواح الكفار، وفيه ماؤها، أسود منتن، تأوي إليه أرواح الكفار، وعنه أنه قال: شر بئر في الأرض: بئر بلهوت في برهوت، تجتمع فيه أرواح الكفار، وحكى الأصمعي عن رجل من حضرموت قال: إنا نجد من ناحية برهوت الرائحة المنتنة الفظيعة جدا، فيأتينا بعد ذلك أن عظيما من عظماء الكفار مات، فنرى أن تلك الرائحة منه، وعن ابن عباس رضي الله عنهما أن أرواح المؤمنين بالجابية من أرض الشام، وأرواح الكفار ببرهوت من حضرموت.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik air di atas permukaan bumi adalah air Zamzam. Di dalamnya ada makanan yang mengenyangkan, dan kesembuhan dari penyakit. Dan sejelek-jelek air di atas permukaan bumi adalah air di Bi’r Barhut, yang berada di lembah Hadramaut. Ia seperti kaki belalang yang dipenuhi hewan melata. Pagi hari airnya meluap, dan sore hari tidak tersisa setetes pun di dalamnya."

Al-Manawi berkata: Al-Haitsami berkata, "Perawi-perawinya tsiqah/terpercaya". Ibnu Hibban menshahihkannya. Ibnu Hajar berkata: "Perawinya tepercaya, dan pada sebagian mereka ada pembicaraan, tetapi ia kuat dengan adanya jalur penguat/mutaba’at". 

Dan telah datang dari Ibnu Abbas dari jalur lain secara mauquf: "Zamzam itu ada makanan yang mengenyangkan." Maksudnya: Mengenyangkan, atau makanan yang mengenyangkan, dari idhafah sesuatu kepada sifatnya. Dan ath-thu'mu dengan dhammah artinya: makanan. "Dan kesembuhan dari penyakit" yaitu: kesembuhan dari berbagai penyakit jika diminum dengan niat yang baik. Di dalamnya ada penguat bagi orang yang berpendapat tentang keutamaan air Zamzam atas air Al-Kautsar.

"Dan sejelek-jelek air di atas permukaan bumi adalah air di lembah Barhut" Yaitu: air sumur di lembah Barhut. Barhut dengan fathah pada ba’. Sumur itu adalah sumur yang sangat dalam di Hadramaut, yang dasarnya tidak mungkin bisa dicapai. Ada juga yang membaca Burhut dengan dhammah pada ba’ dan sukun pada ra’. Sumur inilah yang diisyaratkan dalam ayat: "dan sumur yang telah ditinggalkan" (QS. Al-Hajj: 45).  

"Sisa-sisa Hadramaut, seperti kaki belalang yang dipenuhi hewan melata. Pagi hari ia meluap dan sore hari tidak ada setetes pun airnya."

Az-Zamakhsyari berkata: Barhut adalah sumur di Hadramaut. Dikatakan bahwa di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir. Dan itu juga nama untuk negeri yang di dalamnya ada sumur tersebut, atau yang dimaksud adalah Yaman. Selesai.

Dalam Al-Firdaus dari Al-Ashma’i, dari seorang laki-laki penduduk Barhut: "Sesungguhnya mereka mencium bau busuk yang sangat mengerikan dari sana." Dan di dalamnya terkandung hukum makruh menggunakan air ini untuk bersuci dan selainnya. Demikianlah pendapat segolongan ulama Syafi’iyah. Selesai ringkasan dari ucapan Al-Manawi.

Yaqut Al-Hamawi berkata dalam Mu’jam Al-Buldan: Barhut dengan dhammah pada ha’, sukun pada wawu, dan ta’ yang bertitik dua di atasnya: yaitu lembah di Yaman yang di dalamnya diletakkan ruh-ruh orang kafir. Ada pula yang mengatakan Barhut adalah sumur di Hadramaut. Ada juga yang mengatakan: itu nama negeri yang di dalamnya ada sumur tersebut.  

Ibnu Duraid meriwayatkannya dengan Burhut dhammah pada ba’ dan sukun pada ra’. Ada pula yang mengatakan: ia adalah lembah yang dikenal. 

Dan Muhammad bin Ahmad berkata: "Didekat Hadramaut ada lembah Barhut. Itulah yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 'Sesungguhnya di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir dan orang-orang munafik'. Lembah itu adalah sebuah sumur kuno di padang sahara, di sebuah lembah yang gelap."

Diriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata: "Tempat yang paling dibenci Allah Azza wa Jalla di muka bumi adalah lembah Barhut di Hadramaut. Di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir, dan airnya berwarna hitam lagi busuk. Ruh-ruh orang kafir berkumpul ke sana."

Dan dari beliau juga:  "Seburuk-buruk sumur di muka bumi adalah sumur Balhut yang ada di Barhut. Di dalamnya berkumpul ruh-ruh orang kafir."

Al-Ashma’i meriwayatkan dari seorang laki-laki penduduk Hadramaut, ia berkata:  

"Sesungguhnya kami mencium dari arah Barhut bau yang sangat busuk dan mengerikan. Setelah itu datanglah kabar kepada kami bahwa seorang tokoh besar dari tokoh-tokoh orang kafir telah meninggal. Maka kami berpendapat bahwa bau itu berasal darinya."

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Ruh-ruh orang mukmin berada di Al-Jabiyah, di tanah Syam. Sedangkan ruh-ruh orang kafir berada di Barhut, di Hadramaut."

Adapun kisah ahli ibadah yang meninggal su'ul khatimah karena memutuskan silaturahim sebagai berikut, 

[قِصَّةٌ عَجِيبَةٌ فِي عُقُوبَةِ قَاطِعِ الرَّحِمِ]

وحكى شيخنا ابن حجر رحمه الله: (أن رجلاً غنياً حج، فأودع آخر موسوماً بالأمانة والصلاح ألف دينار حتى يعود من عرفة، فلما وجده قد مات، فسأل ورثته عن المال، فلم يكن لهم به علم، فسأل علماء مكة فقالوا: إذا كان نصف الليل .. فأت زمزم، وانظر فيها، وناد: يا فلان باسمه؛ فإن كان من أهل الخير .. فسيجيبك من أول مرة، فذهب ونادى فيها، فلم يجبه أحد.

فأخبرهم، فقالوا: إنا لله وإنا إليه راجعون، نخشى أن يكون صاحبك من أهل النار، اذهب إلى أرض اليمن، ففيها بئر تسمى: برهوت، إنها على فم جهنم، فانظر فيها بالليل وناد فيها: يا فلان؛ فسيجيبك منها(٢).

فمضى إلى اليمن، وسأل عن البئر، فدل عليها، فذهب إليها ليلاً، ونادى فيها: يا فلان، فأجابه، فقال: أين ذهبي؟ فقال: دفنته في الموضع الفلاني من داري، ولم آتمن عليه ولدي، فأتيهم واحفر هناك .. تجده.

فقال: ما الذي أنزلك ها هنا؟ وقد كنت أظن بك الخير؟! قال: كانت لي أخت فقيرة هجرتها، وكنت لا أحسن عليها، فعاقبني الله بسببها، وأنزلني هذا المنزل.

وتصديق ذلك: الحديث الصحيح: «لا يدخل الجنة قاطع» أي: قاطع رحمه وأقاربه(١).

=========

الحواشي:

(١) أورده ابن حجر في «الزواجر» (٢/١٥٥) ضمن الكبيرة (٣٠٣) وقال: (آية القتال - أي سورة سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم - واللعن فيها صريح، واللعن في الرعد، واللعن فيها بطريق العموم، لأن ما أمر الله به أن يوصل يشمل الأرحام وغيرها، والبقرة؛ واللعن فيها بطريق الاستلزام؛ إذ هو من لوازم الخسران).

(٢) اختلف العلماء في مقر الأرواح بعد الموت انظر تفصيل ذلك في «شرح الصدور بشرح حال الموتى وأهل القبور» للإمام السيوطي رحمه الله (ص ٤٥٣ - ٤٥٥).

[KISAH YANG MENAKJUBKAN TENTANG SIKSAAN ORANG YANG MEMUTUSKAN SILATURAHIM

Guru kami, Ibnu Hajar rahimahullah, menceritakan:  

"Bahwasanya ada seorang laki-laki kaya yang pergi haji. Maka dia menitipkan kepada orang lain yang dikenal amanah dan shalih sebesar seribu dinar, sampai dia kembali dari Arafah. 

Ketika dia mendapati orang yang dititipi itu telah meninggal, maka dia bertanya kepada para ahli warisnya tentang harta itu. Namun mereka tidak mengetahuinya sama sekali.

Lalu dia bertanya kepada para ulama Makkah. Mereka berkata: "Jika sudah tengah malam, maka pergilah ke sumur Zamzam, dan lihatlah ke dalamnya. Lalu panggillah: Wahai Fulan, dengan menyebut namanya. Jika dia termasuk orang baik, maka dia akan menjawabmu sejak panggilan pertama."

Maka dia pun pergi dan memanggil di sumur itu, tetapi tidak ada seorang pun yang menjawabnya. 

Dia pun mengabarkan hal itu kepada mereka. Mereka berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami khawatir temanmu termasuk penduduk neraka. Pergilah ke negeri Yaman. Di sana ada sebuah sumur yang bernama Barhut. Sesungguhnya sumur itu berada di mulut neraka Jahannam. Pergilah ke sana pada malam hari dan panggillah di sana: Wahai Fulan. Maka dia akan menjawabmu dari sana."(2)

Lalu dia pun pergi ke Yaman dan bertanya tentang sumur itu, maka ditunjukkanlah kepadanya. Dia pun pergi ke sana di waktu malam, dan memanggil: Wahai Fulan. Maka orang itu pun menjawabnya.

Dia bertanya: "Di mana emas ku?" Dia menjawab: "Aku menguburnya di tempat ini dan itu, di rumahku. Dan aku tidak mempercayakannya kepada anakku. Maka pergilah kepada mereka dan gali di sana, niscaya kamu akan menemukannya."

Dia bertanya lagi: "Apa yang menyebabkan kamu sampai ke tempat ini? Padahal aku menyangka kamu termasuk orang baik?!" Dia menjawab: "Dahulu aku memiliki seorang saudara perempuan yang miskin. Aku memutuskan hubungan dengannya, dan aku tidak berbuat baik kepadanya. Maka Allah menghukumku sebab itu, dan menempatkan aku di tempat ini."

Dan yang membenarkan hal itu adalah hadits yang shahih:  

«Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim» Yaitu: orang yang memutuskan hubungan dengan kerabatnya.(1)

==========  

Catatan kaki:  

(1) Ibnu Hajar menyebutkannya dalam kitab Az-Zawajir (2/155) pada dosa besar ke-303. Beliau berkata: "Ayat tentang peperangan - yaitu surat Muhammad ﷺ - terdapat lafaz laknat yang jelas di dalamnya. Dan laknat juga ada dalam surat Ar-Ra'd. Dan laknat di dalamnya secara umum, karena apa yang diperintahkan Allah untuk disambung mencakup silaturahim dan selainnya. Begitu juga dalam surat Al-Baqarah, laknat di dalamnya secara konsekuensi, karena itu termasuk konsekuensi dari kerugian."

(2) Para ulama berbeda pendapat tentang tempat ruh-ruh setelah mati. Lihat perinciannya dalam kitab Syarh Ash-Shudur bi Syarh Hali Al-Mauta wa Ahlil Qubur karya Imam As-Suyuthi rahimahullah (hal. 453 - 455). (Irsyadul Ibad ila Sabilir Rasyad, Imam Taqiyuddin Al-Maliabari  (938-1028), cet. Darul Minhaj, hal.508-509). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق 

Jumat, 07 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG MENGENAL SEBUTAN NAMA SYARIF BUKAN UNTUK ALAWIYYIN






Cukup membingungkan bagi sebagian muslim untuk membedakan syarief, sayyid dan habib. Tulisan ini tidak menjelaskan semuanya hanya terkait sebutan syarif dan Alawiyyin saja.

Dalam catatan sejarah ahli nasab yaman yaitu Syarif Umar bin Yusuf bin Rasuli Al-Kurdi Al-Yamani beliau adalah Al-Malik Al-Asyraf Mammaduddin Umar bin Yusuf (wafat 696 H/1296 M), raja ketiga dari Dinasti Rasuliyah yang memerintah di Yaman. Beliau adalah seorang penguasa ushul, sejarawan, ahli nasab, dan ilmuwan yang membuat karya penting dalam bidang astronomi serta silsilah nasab.

Thurfah Al-Ashab fi Ma'rifah Al-Ansab; sebuah kitab terkenal karyanya mengenai ilmu nasab (silsilah) dan sejarah suku-suku di Arab, yang hingga kini sering menjadi rujukan akademis dalam meneliti jalur keturunan. Pada halaman 92-93 menyebutkan,

يتلو ذلك ذكر الأشراف باليمن والحجاز ومعرفة نسبهم متصلا بعلي بن أبي طالب كرم الله وجهه. اعلم أن الشرف لا يطلق على كل من كان من ذرية أولاد علي كرم الله وجهه بل على من كان ذرية أولاده من فاطمة ابنة الرسول صلى الله عليه وسلم ورضي عنها وهما الحسن والحسين رضي الله عنهما، ومن كان من غيرهما من أولاد علي كرم الله وجهه يسمى علويا، ولا يسمون أشرافا. ومن كان من الخلفاء من أولاد العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه قيل لهم العباسيون، ومن كان من الخلفاء من بني أمية قيل لهم الأمويون. وقد مضى ذكر الخلفاء من بني أمية وبني العباس. والآن يبتدئ بذكر الأشراف الذين في اليمن والحجاز مفصلا مبينا إن شاء الله تعالى.

نسب الأشراف باليمن الذين هم بنو حمزة وبنو القاسم، وهم أولاد ترجمان الدين القاسم بن إبراهيم الرسي الذي هاجر إلى الرس في أيام المأمون بن هارون الرشيد رحمهم الله تعالى.

Berikutnya adalah penyebutan tentang para syarif (Asyraf) di Yaman dan Hijaz, serta penjelasan tentang nasab mereka yang bersambung kepada Ali bin Abi Thalib, karramallahu wajhah.

Ketahuilah bahwa gelar "Syariif" tidak diberikan kepada setiap orang yang merupakan keturunan dari anak-anak Ali, karramallahu wajhah. Gelar "Syariif" hanya khusus bagi keturunan anak-anaknya dari Fathimah radhiyallahu 'anha binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yaitu dari Al-Hasan dan Al-Husain, radhiyallahu 'anhuma.

Adapun yang berasal dari selain keduanya, dari anak-anak Ali, karramallahu wajhah, maka mereka disebut Alawiyyin, dan tidak disebut Asyraf (para syarif).

Dan bagi yang berasal dari para khalifah dari anak-anak Al-Abbas bin Abdul Muthalib, radhiyallahu 'anhu, maka mereka disebut Al-Abbasiyyun. Dan yang berasal dari para khalifah dari Bani Umayyah disebut Al-Umawiyyun. 

Sungguh telah berlalu penyebutan tentang para khalifah dari Bani Umayyah dan Bani Abbas. Dan sekarang kita akan memulai menyebutkan tentang para Asyraf yang ada di Yaman dan Hijaz secara rinci dan jelas, insya Allah Ta'ala. ((Umar bin Yusuf bin Rasuli Al-Kurdi Al-Yamani, Thurfah Al-Ashhab fi Ma'rifah Al-Anshab, Dar Shadir - Beirut hal.92-93)

Selama ini telah dipahami bahwa sebutan Bani Alawi (Ba'Alawi) dengan Alawiyyin adalah keturunan dari Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidi bin Jafar Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Husain bin Fatimah Azzahra bin Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun dalam kitab karya Syarif Ar-Rasuli pada halaman 112 beliau menyebutkan bahwa nasabnya para Syarif Bani Alawiyin berasal dari satu kakek yaitu Ali bin Idris bin Ja'far bin Nu'mah bin yusuf bin Ali bin Abdullah bin Dawud Al-Mahmud bin Musa bin Abdullah bin Musa bin Abdullah bin Sulaiman bin Musa bin Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Sebagaimana berikut,

ذكر الشرفاء العلاويين:  أصحاب وساع وغيرها من المخلاف وهم خمسة بطون: الفليتيون والعماريون والجمافرة والمثامنة والنعميون، ويجمع هذه البطون الخمسة رجل واحد وهو جدهم واسمه علي بن إدريس بن جعفر بن نعمة بن يوسف بن علي بن عبد الله بن داود المحمود بن موسى بن عبد الله بن موسى بن عبد الله بن سليمان بن موسى بن عبد الله بن الحسن بن الحسن بن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه، وقال هؤلاء كافة أولاد علي وليسوا من بني الطيب.

Penyebutan para Syarif Al-Alawiyyin: Yaitu para penduduk Wasa’ dan selainnya dari wilayah Mukhallaf. Mereka terdiri dari lima rumpun/bathn: Al-Fulaitiyyun, Al-‘Ammariyyun, Al-Jamaafirah, Al-Matsaaminah, dan An-Na’miyyun.

Kelima rumpun ini dikumpulkan oleh satu orang, yaitu kakek moyang mereka yang bernama: Ali bin Idris bin Ja’far bin Nu’mah bin Yusuf bin Ali bin Abdullah bin Dawud Al-Mahmud bin Musa bin Abdullah bin Musa bin Abdullah bin Sulaiman bin Musa bin Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, karramallahu wajhah. Dan mereka semua adalah anak keturunan Ali, dan mereka bukan dari Bani At-Thayyib. (Umar bin Yusuf bin Rasuli Al-Kurdi Al-Yamani, Thurfah Al-Ashhab fi Ma'rifah Al-Anshab, Dar Shadir - Beirut hal.112)

Catatan: "Mukhallaf" = wilayah pesisir Tihamah di Yaman, termasuk daerah Hodeidah. "Wasa’" = salah satu daerah di Mukhallaf.

Dari keterangan yang saya dapatkan dari kitab Thurfah Al-Ashhab fi Ma'rifah Al-Anshab bahwa para Syarif Alawiyyin keturunan Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berasal dari jalur Ali bin Idris bin Ja'far dan bukan dari jalur keturunan Alawi bin Ubaidillah. Apakah memang ada dua sebutan Alawiyyin? Silahkan komentar yang sopan. Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق

Kamis, 06 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG MENGHIAS KUBURAN TERMASUK BERMEGAH-MEGAHAN (AT-TAKATSUR)


Alhamdulillah malam ini Kamis, 6 Agustus 2026 ba'da isya' pengajian rutin Tafsir Hasyiah Ash-Shawi 'ala Tafsir Jalalain yang kebetulan sampai pada Surat At-Takatsur tentang larangan bermegah-megahan harta benda dan membanggakan nenek moyang yang telah meninggal dunia.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَام يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْم جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونَنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّه مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءُ بِأَنْفِهِ

 “Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek-moyang mereka yang telah wafat. Mereka itu hanyalah arang neraka jahanam, atau mereka lebih hina di sisi Allah dari hewan yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR at-Tirmidzi, dan bernilai hadits Hasan dalam Jami’ul Kabir).

Bagi Rasulullah, kemuliaan sejati hanyalah dengan ketakwaan dan ketaatan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam satu haditsnya, 

أَيُّهَا النَّاسُ! أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، أَلاَ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ وَلاَ أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

“Wahai manusia! Ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu, dan bahwa nenek moyang kalian adalah satu. Ingatlah bahwa tidak ada keunggulan bagi seorang Arab atas non-Arab, atau sebaliknya, dan tidak ada keunggulan bagi orang yang berkulit putih atas kulit hitam, atau sebaliknya, kecuali dengan ketakwaan.” (HR Ahmad dalam Jami’ul Hadits).

Ketika sampai pada penafsiran ayat kedua surat At-Takatsur Imam Ahmad bin Muhammad Ash-Shawi, seorang ulama agung dari kalangan Ahlusunnah wal Jama‘ah, bermazhab Maliki dalam fikih dan berpemikiran Asy‘ari dalam akidah mengingatkan saya akan polemik nasab saat ini yang bermula dari orang yang mengaku keturunan Nabi membanggakan diri dan merendahkan yang lainnya sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Ash-Shawi berikut,

قوله: {حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ} حتى غاية للإلهاء المذكور، وهذا هو محط الذم وإلا فإن تاب من ذلك قبل موته، وقيل: وكأنه لم يحصل منه تكاثر

قوله: (بأن متم فدفنتم فيها) أي فيقال: زار قبره إذا مات ودفن، والمعنى: ألهاكم حرصكم على تكثير أموالكم عن طاعة ربكم، حتى أتاكم الموت وأنتم على ذلك، ولا يقال: إن الزيارة تكون ساعة وتنقضي، والميت يمكث في قبره لأنا نقول: إن الموتى يرتحلون من القبور للحساب، فكان مدة مكثه في قبره زيارة له، والمقابر جمع مقبرة بتثليث الباء، وهي المحل الذي تدفن فيه الأموات، قوله: (أو عددتم الموتى) تفسير ثاني للزيارة، فعبر عن بلوغهم ذكر الموتى بزيارة المقابر تهكماً بهم، وعليه فزيارة المقابر كناية عن الانتقال من ذكر الإحياء إلى ذكر الأموات تفاخراً، وإنما كان تهكماً لأن زيارة القبور شرعت، لتذكر الموت ورفض حب الدنيا، وترك المباهاة والتفاخر، وهؤلاء عكسوا، حيث جعلوا زيارة القبور سبباً لمزيد القساوة، والاستغراق في حب الدنيا، والتفاخر في الكثرة. فحاصل الوجهين راجع إلى أن المراد بالزيارة، إما الانتقال إلى الموت، أو الانتقال من ذكر الأحياء إلى ذكر الأموات، وتعدادهم والتفاخر بهم، ومن ذلك ما يفعله أهل زماننا، ومن زخرفة النعوش والقبور، وما يتبع ذلك مما هو مذموم شرعاً طبعاً، وأما ذكر مكارم الأخلاق والطاعات فيجوز، إن لم يكن على وجه التعجب، بل على سبيل التحدث بالنعم أو ليقتدي به

Firman-Nya: {حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ}  

"Hingga kalian mengunjungi kuburan"  

"Hingga" adalah batas akhir dari kelalaian yang disebutkan. Dan inilah inti celaan. Adapun jika dia bertaubat dari itu sebelum matinya, maka seolah-olah tidak terjadi padanya sifat bermegah-megahan tersebut.

Firman-Nya: (بأن متم فدفنتم فيها)

"Maksudnya: karena kalian mati lalu dikuburkan di dalamnya" Yaitu dikatakan: "Dia menziarahi kuburnya" jika dia mati dan dikuburkan.  

Maknanya: Keserakahan kalian dalam memperbanyak harta telah melalaikan kalian dari ketaatan kepada Rabb kalian, hingga datang kematian kepada kalian sementara kalian masih dalam keadaan demikian.

Dan jangan dikatakan: "Ziarah itu hanya sebentar lalu selesai, sedangkan mayit tinggal di kuburnya." Karena kami katakan: Sesungguhnya orang-orang mati akan dibangkitkan dari kubur untuk dihisab. Maka selama dia tinggal di kuburnya itu dihitung sebagai "ziarah" baginya.

Dan Al-Maqabir adalah bentuk jamak dari Maqbarah dengan boleh dibaca 3 harokat pada huruf ba’nya (bisa dibaca : Maqbarah, Muqbarah atau Miqbarah). Yaitu tempat dikuburkannya orang-orang mati.

Firman-Nya: (أو عددتم الموتى)  

Ini adalah tafsir kedua untuk kata "Ziarah". Maka diungkapkan pencapaian mereka dalam menyebut-nyebut orang mati dengan istilah "menziarahi kuburan" sebagai bentuk sindiran kepada mereka.

Berdasarkan tafsir ini, maka "ziarah kubur" adalah kinayah / kiasan dari berpindahnya pembicaraan dari menyebut-nyebut orang yang masih hidup kepada menyebut-nyebut orang yang sudah mati, dengan tujuan berbangga-bangga.

Dan yang menjadikannya sebagai sindiran adalah karena ziarah kubur itu disyariatkan untuk mengingat mati, meninggalkan cinta dunia, dan meninggalkan berbangga-bangga serta berbangga dengan jumlah/kekayaan. Sedangkan mereka justru sebaliknya, menjadikan ziarah kubur sebagai sebab bertambahnya kekerasan hati, tenggelam dalam cinta dunia, dan berbangga-bangga dalam memperbanyak jumlah.

Maka hasil dari kedua wajah tafsir itu kembali kepada: bahwa yang dimaksud dengan "ziarah" adalah:  

Pertama: Berpindahnya manusia kepada kematian.  

Kedua: Berpindahnya pembicaraan dari menyebut orang yang hidup kepada menyebut orang yang mati, menghitung-hitung mereka, dan berbangga-bangga dengan mereka.

Dan termasuk dalam hal ini apa yang dilakukan oleh orang-orang di zaman kita, seperti menghias-hiasi usungan jenazah dan kuburan, serta apa yang mengikuti itu yang tercela secara syariat dan tabiat.  

Adapun menyebutkan kemuliaan akhlak dan ketaatan-ketaatan, maka itu boleh, jika tidak dengan cara takjub/berbangga, tetapi dengan cara menceritakan nikmat Allah, atau agar diteladani. (Tafsir Hasyiah Ash-Shawi 'Ala Tafsir Jalalain)

Satu hal penting sebagai pelajaran dan pengingat akan kondisi yang terjafi saat ini adalah berlomba menghias kuburan adalah termasuk bermegah-megahan yang tercela menurut syariat dan tabi'at sebagaimana  beliau jelaskan,

ومن ذلك ما يفعله أهل زماننا، ومن زخرفة النعوش والقبور، وما يتبع ذلك مما هو مذموم شرعاً طبعاً

"Dan termasuk dalam hal ini (bermegah-megahan) apa yang dilakukan oleh orang-orang di zaman kita, seperti menghias-hiasi usungan jenazah (keranda) dan (menghias) kuburan, serta apa yang mengikuti itu yang tercela secara syariat dan tabiat."  Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق

Senin, 03 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG RANGKUMAN ISI SETELAH MEMBACA KITAB KARYA SYAIKH IBNU HARJO AL-JAWI DAN KITAB KH. IMADUDDIN UTSMAN


Salah satu titik utama pemicu perdebatan nasab memang pada satu pertanyaan apakah Ahmad Al-Muhajir memiliki seorang anak bernama Ubaidillah?

Secara ringkas, ada dua posisi:

1. Pendukung nasab Ba'Alawi menyatakan bahwa Ahmad Al-Muhajir memiliki anak bernama Ubaidillah, yang kemudian mempunyai putra bernama Alawi, sehingga menjadi asal-usul Bani Ba'Alawi. 

2. Pengkritik/penolak nasab Ba'Alawi berpendapat bahwa kitab-kitab nasab yang lebih tua tidak mencantumkan nama Ubaidillah sebagai putra Ahmad Al-Muhajir. Mereka menjadikan hal ini sebagai salah satu alasan utama untuk meragukan kesinambungan nasab tersebut. 

Mengenai siapa saja anak Ahmad bin Isa, memang terdapat perbedaan riwayat:

1. Dalam sejumlah kitab nasab yang dijadikan rujukan oleh para pengkritik, disebutkan bahwa Ahmad bin Isa hanya mempunyai Muhammad, Ali, dan Husain, tanpa menyebut Ubaidillah. 

2. Sebagian kitab lain yang lebih kemudian dan tradisi internal Ba'Alawi memasukkan Ubaidillah sebagai putra Ahmad bin Isa. Dari Ubaidillah inilah silsilah Ba'Alawi diteruskan menurut pandangan mereka. 

Jadi, inti perdebatan bukan sekadar ada atau tidaknya nama Ubaidillah, tetapi juga:

1. kapan nama Ubaidillah mulai muncul dalam literatur,

2. kitab mana yang pertama kali mencatatnya, dan

3. seberapa kuat nilai historis sumber-sumber tersebut. 

Berikut ringkasan kronologis yang sering menjadi bahan diskusi dalam perdebatan nasab Ba'Alawi. Perlu diingat bahwa ini adalah ringkasan posisi dalam perdebatan; penilaian terhadap kekuatan masing-masing sumber masih diperselisihkan.

Kitab-Kitab yang lebih awal tidak menyebutkan nama Ubaidillah sebagai anak Ahmad bin Isa adalah :

1. Sirr Al-Silsilah Al-'Alawiyyah oleh Abu Nasr Al-Bukhari 341 H. (Tidak menyebutkan nama Ubaidillah)

2. Abu Abdillah Muhammad bin Ali Al-'Umari sekitar abad ke-5 H. Kitab Karya-karya nasab Alawiyin. (Tidak menyebutkan nama Ubaidillah)

3. Al-Majdi fi Ansab Ath-Thalibiyyin oleh Ali bin Muhammad Al-'Umari 490 H. (Tidak menyebutkan nama Ubaidillah)

4. Ibnu 'Inabah 828 H. Umdat Ath-Thalib (Menyebut jalur yang menjadi rujukan pendukung nasab Ba'Alawi menurut sebagian pembacaan)

Pokok perdebatan

Para pengkritik/penolak berargumen:

1. Kitab-kitab yang lebih awal tidak mencantumkan Ubaidillah sebagai anak Ahmad Al-Muhajir.

2. Jika benar Ubaidillah ada dan menjadi leluhur keturunan yang besar, mereka mempertanyakan mengapa namanya tidak muncul secara jelas dalam sebagian sumber awal.

Sementara itu, para pendukung menjawab:

1. Tidak semua kitab nasab memuat seluruh keturunan setiap tokoh.

2. Ada manuskrip dan riwayat lain yang menyebut Ubaidillah.

3. Keberadaan suatu nama dalam ilmu nasab tidak bergantung pada satu kitab saja, melainkan pada keseluruhan tradisi periwayatan nasab.

Catatan penting

Perlu dibedakan antara:

1. Perdebatan ilmiah tentang nasab, yang dapat diteliti melalui manuskrip, silsilah, dan kajian sejarah.

2. Kesimpulan bahwa suatu kelompok pasti benar atau pasti palsu, yang memerlukan bukti yang jauh lebih kuat daripada sekadar perbedaan isi beberapa kitab.

Jika ingin meneliti isu ini secara mendalam, langkah yang baik adalah membaca teks Arab dari kitab-kitab tersebut secara langsung dan membandingkan redaksinya, bukan hanya mengandalkan kutipan dari pihak yang pro atau kontra. Wallahu a'lam 🙏🏻

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق