MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Jumat, 26 Juni 2026

MENYINGKAP DOA HABIB USMAN BIN YAHYA UNTUK RATU WIHELMINA BELANDA





Doa Habib Usman bin Yahya untuk Ratu Wilhelmina adalah sebuah teks doa khusus yang disusun untuk merayakan penobatan sang Ratu pada 1898. Doa ini berisi permohonan kepada Tuhan agar Ratu Belanda tersebut diberikan keberkahan, umur panjang, keadilan dalam memimpin, serta kesejahteraan bagi rakyatnya.

Teks doa ini disusun oleh Mufti Betawi, Habib Usman bin Yahya, bertepatan dengan penobatan Ratu Wilhelmina pada 6 September 1898.

Isi doa memohon kepada Allah SWT agar Ratu Wilhelmina senantiasa diberikan kelapangan, takdir kebaikan, umur panjang, kesehatan, dan kemampuan untuk memimpin dengan adil dan sejahtera. Teks doa ini dicetak dan disebarluaskan oleh para bupati di Jawa dan Madura atas instruksi pemerintah kolonial Belanda, yang kemudian memicu pro dan kontra di kalangan umat Islam Nusantara saat itu.

Langkah Habib Usman menyusun doa ini memicu kritik keras dari tokoh Islam lainnya. Ulama pada masa itu memandang bahwa mendoakan kesejahteraan penjajah kolonial, apalagi seorang pemimpin non-Muslim, adalah hal yang bertentangan dengan semangat perlawanan umat. Adapun doa tersebut sesuai manuskrip sejarah tertulis sebagai berikut,

اَللّٰهُمَّ يَا لَطِيْفُ الْطُفْ بِنَا، وَيَا كَنْزَ الضُّعَفَاءِ, وَيَا مَالِكَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، أَنْتَ تَعْلَمُ مَا ظَهَرَ مِنَّا وَمَا خَفِيَ، اَللّٰهُمَّ كَمَا لَطُفْتَ بِنَا فِي دِيَارِ هٰذِهِ الْمَمْلَكَةِ حَيْثُ لَا أَحَدَ يَتَعَرَّضُ عَلَيْنَا فِي دِيْنِنَا مِنْ صَلَاتِنَا وَزَكَاتِنَا وَصِيَامِنَا وَمَعَاشِنَا وَأَنْكِحَتِنَا، وَأَنْعَمْتَ، اَللّٰهُمَّ عَلَيْنَا لُطْفًا مِنْكَ بِالْأَمَانِ الْمَوْجُوْدِ لِأَنْفُسِنَا وَأَهَالِيْنَا وَأَمْوَالِنَا، وَيَسَّرْتَ لَنَا السَّعْيَ فِي أَسْبَابِ مَعِيْشَتِنَا، وَجَعَلْتَ الْوَاسِطَةَ وَالسَّبَبَ فِي هٰذِهِ النِّعَمِ لَنَا مِنْكَ هُوَ مَا قَدَّرْتَ مِنْ ضَبْطِ دَوْلَةِ الْهُولَنْدَا الْبِلَادَ الْأَمَانَ وَالْإِنْصَافَ مَعَ مُرَاعَاتِهَا مِمَّا رَاعَتْهُ مِنْ أَمْرِ دِيْنِنَا كَنَصْبِ قُضَاتِنَا وَإِجْرَاءِ أَرْزَاقِهِمْ وَإِصْلَاحِ مَسَاجِدِنَا وَعَدَمِ التَّعَرُّضِ لِشَيْءٍ مِنْ أُمُوْرِ دِيْنِنَا، وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِذٰلِكَ مِنَّا، فَنَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ مَزِيْدَ نِعَمِ هٰذِهِ الْأَلْطَافِ مِنْكَ لَنَا، اَللّٰهُمَّ كَمَا قَدَّرْتَ وَأَجْرَيْتَ هٰذِهِ النِّعْمَةَ بِوَاسِطَةِ هٰذِهِ الدَّوْلَةِ، فَنَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ مُكَافَأَةً لِإِحْسَانِهَا بِمَا ذُكِرَ أَنْ تُلْطِفَ بِالسَّلَامَةِ لِلْمَلِكَةِ الْجَدِيْدَةِ الْعَزِيْزَةِ، وَتَمُنَّ لَهَا بِطُوْلِ الْحَيَاةِ الْمُحَلَّاةِ بِالصِّحَّةِ الْبَدَنِيَّةِ، وَلِفُلَّالِهَا بِالْأَرْبَاحِ الدُّنْيَوِيَّةِ، وَبِمَخَبَّآتِ الْأَرْضِ مِنَ الْمَعَادِنِ وَالْمَزَارِعِ النَّبَاتِيَّةِ، وَتَمُنَّ لَهَا بِحُسْنِ الرِّعَايَةِ لِمَنْ فِي حِمَايَتِهَا بِكَمَالِ الْإِنْصَافِ وَبِحُسْنِ الِاتِّصَافِ بِمَا هُوَ مَحْبُوْبٌ عِنْدَكَ يَا وَلِيَّ الْهِدَايَةِ حَتَّى يَطْلُعَ كَوْكَبُ مُلْكِهَا مُضِيْئًا بَيْنَ الْأَنَامِ. مُسْعِدًا لِأَمْلَاكِهَا بِالْخِصْبِ والنِّظَامِ وَلِمَنْ تَحْتَ حِمَايَتِهَا بِصَلَاحِ كُلِّ شَأْنٍ وَدَوَامِ تِلْكَ النِّعَمِ لَنَا مَعَ السَّلَامَةِ عَلَى الدَّوَامِ،. آمِيْنَ

"Ya Allah, Wahai Dzat Yang Maha Lembut, lembutkanlah kami. Wahai Perbendaharaan orang-orang lemah, Wahai Pemilik langit dan bumi, Engkau tahu apa yang tampak dari kami dan apa yang tersembunyi.

Ya Allah, sebagaimana Engkau telah berlembut kepada kami di negeri kerajaan ini, di mana tidak ada seorang pun yang mengganggu kami dalam agama kami: dalam shalat kami, zakat kami, puasa kami, penghidupan kami, dan pernikahan kami. Dan Engkau telah memberi nikmat.

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kelembutan dari-Mu berupa rasa aman yang ada untuk jiwa kami, keluarga kami, dan harta kami. Engkau mudahkan kami berusaha untuk sebab-sebab penghidupan kami. 

Dan Engkau jadikan perantara serta sebab datangnya nikmat-nikmat ini kepada kami dari-Mu adalah apa yang Engkau tetapkan berupa kekuasaan Negara Belanda yang mengatur negeri ini dengan aman dan adil, serta menjaga perkara agama kami: seperti mengangkat hakim-hakim kami, memberi gaji mereka, memperbaiki masjid-masjid kami, dan tidak mengganggu sedikit pun urusan agama kami. Dan Engkau lebih tahu tentang itu daripada kami.

Maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, tambahkanlah nikmat-nikmat kelembutan-Mu ini untuk kami. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menetapkan dan menjalankan nikmat ini melalui perantara negara ini, maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, sebagai balasan atas kebaikan mereka sebagaimana yang telah disebut, agar Engkau berlembut dengan keselamatan untuk Ratu yang baru yang mulia. 

Anugerahkanlah untuknya panjang umur yang dihiasi kesehatan badan. Anugerahkanlah untuk rakyatnya keuntungan-keuntungan duniawi, dan anugerahkanlah simpanan-simpanan bumi berupa barang tambang dan pertanian. 

Anugerahkanlah untuknya kebaikan dalam menjaga orang-orang yang berada dalam perlindungannya dengan kesempurnaan keadilan dan dengan sifat-sifat terpuji yang Engkau cintai, Wahai Pemberi petunjuk. Hingga bintang kerajaannya terbit dengan cemerlang di antara manusia. Membahagiakan wilayah-wilayahnya dengan kesuburan dan keteraturan, dan bagi orang-orang yang berada di bawah perlindungannya dengan kebaikan segala urusan serta langgengnya nikmat-nikmat itu untuk kami beserta keselamatan selamanya. Aamiin."

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

MENYINGKAP ISI SURAT HABIB USMAN BIN YAHYA KEPADA SNOUCK HURGRONJE



Surat-menyurat antara Sayyid Usman bin Yahya (Mufti Betawi) dan penasihat kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, adalah kumpulan korespondensi rahasia era 1886–1913 yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Surat-surat ini membahas pelaporan intelijen, saran kebijakan, hingga permintaan jabatan secara langsung.

*Rincian penting dari korespondensi ini mencakup:*

*Pencarian Jabatan:* 

Dalam surat bertanggal 30 Agustus 1886 dan 4 Januari, Sayyid Usman secara aktif meminta Snouck untuk merekomendasikan namanya agar diangkat sebagai Mufti Batavia oleh pemerintah kolonial.

*Politik dan Keamanan:* Surat-surat mereka membahas strategi meredam pemberontakan berbasis agama di Hindia Belanda, termasuk langkah memisahkan antara agama dan politik untuk mencegah perlawanan rakyat.

*Karya dan Nasihat:* 

Mereka bertukar naskah dan fatwa, seperti penyusunan karya-karya Sayyid Usman yang didanai dan disebarkan oleh pemerintah kolonial untuk mengarahkan umat Islam.Kontroversi Doa: Surat juga membahas kecaman keras dari kalangan umat Islam terhadap Sayyid Usman karena ia mengeluarkan fatwa dan doa resmi dalam bahasa Arab untuk Ratu Wilhelmina dari Belanda.

Adapun contoh tulisan yang terdapat dalam manuskrip surat Habib Usman bin Yahya kepada Snouck Hurgronje sebagai berikut,

بتاوي ٣٠ اقتوبر ١٨٨٦

الحمد لله وحده

ان ابهى ما وشحت به صدور الكتاب والدفاتر ونطقت به ألسنة الاقلام عن افواه المحابر عاطر الحيات يفوح بعبير المحبة نفحه وشرق فى سماء الطروس صبحه يهدى لحضرة خلاص المجد ومعدن الفخار والحمد مخدوم السياءة والسعد الخواجة سنكهرخرنج لازال علمه زاخرا وسحاب فهمه ماطرا وكوكب سعده طالعا وضياء فضله لامعا أما بعد فصدر هذا الكتاب من بلد بتاوي فالموجب لذكران اصحابي الكرام الخواجة هولان والخواجة فندرسيس أخبراني بانكم اطلعهم ونظرتم قصجح الصادر من الشيخ نووي البنتني والشيخ جنيد بتاوي المقيمين فى مكة على رسالتي المسماة النصيحة الاتية ثم اني احببت الان ارسل هذه الرسالة ايضا المسماة الوثيقة الوفية اعرضها اليكم لتنظروها فالمقصود من تصنيفها وكذالك التي قبلها هو اعلام واعلان بان الطريقة التي نشت هذالزمان وعلمها المشايخ للجهال فهي ليست على الصواب بل ربما يقل امرها الى مفاسد بنية دنياوية بسبب فقد ان شروطها مع اني تلطفت فى هذه الرسالة فى أخرها لحيث لم اذكر احدا بعينه لاجل السلامة من الفتنة من مشايخ الطريقة فأنتم اذا رأيتم هذه الرسالة وتبين لكم ان فيها ارشاد الناس الى الحق والى عدم الدعاوي الفارغة ولاجل السلامة من المفاسد فالمطلوب من جنابكم ان تصححوا عليها وان تذكروا ما فيها من ارشاد الناس لكي يسلموا من المفاسد وان تذكروا اسمي عند ارباب الدولة الولنده فى ارض جاوه وغيرها لما استقرلي الابامة فى بتاوي لحيث ان كثيرا من مشايخ الطريقة وغيرهم من الحاسدين يريدون السعاية الى هلاكي ولو لا عدل الولنده فى ارض جاوه وغيرها لما استقرلي الاقامة فى بتاوي هذا ما اخبركم وارجوا من جنابكم جواب كتابي هذا بالعرابية وتصحيح هذه الرساله بالافرنجية وترسلوهما الى بتاوي الى عند الخواجة فندرسيس دام فضلكم وطابت إياكم

السيد عثمان بن عبد الله بن عقيل بن يحي

*Batavia, 30 Oktober 1886*

*Segala puji hanya bagi Allah semata.*

Sesungguhnya seindah-indah hiasan yang menghiasi dada kitab-kitab dan lembaran-lembaran, dan sefasih-fasih ucapan yang dilantunkan oleh lisan-lisan pena dari mulut-mulut tempat tinta, adalah puji-pujian yang harum, semerbak dengan wangi kecintaan. Semerbaknya menyebar, dan fajarnya terbit di langit lembaran-lembaran kertas. 

Aku persembahkan kepada junjungan yang merupakan puncak kemuliaan, sumber kebanggaan dan pujian, tuan hamba yang beruntung dan bahagia, *Snouck Hurgronje*. Semoga ilmunya senantiasa melimpah, awan pemahamannya senantiasa menurunkan hujan, bintang keberuntungannya terus terbit, dan cahaya keutamaannya senantiasa bersinar. 

Amma ba’du, maka surat ini dikirim dari negeri Batavia. Adapun sebabnya adalah bahwa dua orang sahabatku yang mulia, *Tuan Holla* dan *Tuan Fandersis* mengabarkan kepadaku bahwa kalian telah menelaah dan melihat risalah yang diterbitkan oleh *Syekh Nawawi Al-Bantani* dan *Syekh Junaid dari Batavia* yang bermukim di Makkah, atas risalahku yang bernama _An-Nashihah Al-Atiyah_. 

Kemudian aku ingin sekarang mengirimkan juga surat ini yang bernama *Al-Watsiqah Al-Wafiyyah* untuk aku ajukan kepada kalian agar kalian menelaahnya. Tujuan dari pengarangannya, begitu pula surat yang sebelumnya, adalah untuk memberitahukan dan mengumumkan bahwa tarekat yang berkembang di zaman ini dan yang diajarkan oleh para syaikh kepada orang-orang awam, ia tidak berada di atas kebenaran. Bahkan urusannya bisa sampai kepada kerusakan-kerusakan duniawi karena tidak terpenuhinya syarat-syaratnya.

Dan sesungguhnya aku telah berlemah-lembut dalam surat ini pada bagian akhirnya, di mana aku tidak menyebut seorang pun secara khusus, demi keselamatan dari fitnah terhadap para syaikh tarekat. 

Maka jika kalian melihat surat ini dan menjadi jelas bagi kalian bahwa di dalamnya ada bimbingan manusia kepada kebenaran, dan kepada meninggalkan klaim-klaim yang kosong, serta demi keselamatan dari kerusakan-kerusakan, maka yang aku minta dari tuan adalah agar kalian mengoreksinya. Dan agar kalian menyebutkan apa yang ada di dalamnya berupa bimbingan manusia supaya mereka selamat dari kerusakan.

Dan agar kalian menyebut namaku di hadapan para penguasa Belanda di tanah Jawa dan selainnya, karena aku bisa menetap di Batavia. Padahal banyak dari para syaikh tarekat dan selain mereka dari kalangan orang-orang dengki yang ingin mengadu domba untuk membinasakanku. Dan seandainya bukan karena keadilan orang-orang Belanda di tanah Jawa dan selainnya, niscaya aku tidak akan bisa menetap di Batavia.

Inilah yang aku kabarkan kepada kalian, dan aku berharap dari tuan jawaban atas suratku ini dalam bahasa Arab, dan koreksi surat ini dalam bahasa Belanda, lalu kalian kirimkan keduanya ke Batavia kepada *Tuan Fandersis*. Semoga keutamaan kalian langgeng dan hari-hari kalian baik.

*As-Sayyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya*

*Catatan :*

*Tuan Holla;* merupakan nama seorang meneer (tuan) Belanda yang dikisahkan sangat bersahabat dengan petani pribumi perkebunan teh di Garut tahun 1843. Masyarakat Garut mengenal Tuan Holla dengan istilah mitra noe tani (sahabat petani).

Pria bernama asli *Karel Frederik Holle (1829-1896) atau Sayyid Muhammad bin Holla* ini begitu optimis menciptakan petani teh di Garut melek akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selepas pensiun dari kerja, Tuan Holla sering meluangkan waktunya untuk mengajar petani di Garut mengenai cara berkebun menggunakan teknologi.

*Tuan Fandersis;* "Fandersis" adalah sebutan atau pelokalan dari kata "Pandersie" (dari bahasa Belanda: Collecteur atau Ontvanger), yaitu sebutan untuk pegawai kolonial Belanda yang bertugas mengumpulkan atau memungut pajak bumi dan hasil bumi dari rakyat.Istilah ini sangat populer di masa Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada abad ke-19, di mana para mandor, kepala desa, atau pejabat pribumi sering ditugaskan sebagai penarik pajak. Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaa. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Senin, 22 Juni 2026

KAJIAN TENTANG HUKUM BERPAKAIAN BERGAYA ULAMA BAGI ORANG AWAM


Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda,

أَبْغَضُ الْعِبَادِ إِلَى اللَّهِ مَنْ كَانَ ثَوْبَاهُ خَيْرًا مِنْ عَمَلِهِ ، أَنْ تَكُونَ ثِيَابُهُ ثِــيَابَ الأَنْـبِـــيَاءِ وَعَمَلُهُ عَمَلَ الْجَبَّارِينَ. (رواه الديلـمي عن عائشة)

"Hamba yang paling dibenci oleh Allah adalah, orang yang kedua pakaiannya lebih baik daripada amal perbuatannya yaitu, pakaiannya ibarat pakaian para nabi tetapi amal perbuatannya seperti perbuatan orang-orang angkara murka." (HR. Ad-Dailami dari Aisyah rah.)

Berpakaian ala ulama (seperti gamis, sorban, atau peci putih) secara umum diperbolehkan dan bahkan bernilai ibadah karena termasuk menutup aurat dan mengikuti sunnah. Namun, menurut pandangan para ulama, hukumnya menjadi makruh atau haram jika pakaian tersebut dimaksudkan untuk menipu orang lain agar dianggap sebagai orang alim (ahli ilmu) padahal orang awam yang tidak alim.

Cara berpakaian tentu bukan hal yang bisa dianggap remeh, apalagi jika dapat menimbulkan kesimpangsiuran orang lain dan berpotensi memunculkan ghurur atau menyebabkan tertipunya orang yang melihat. Misalkan pesulap, dukun atau manusia jadi-jadian (bergaya ulama) yang notabene tidak kompeten di bidang agama mengenakan jubah dan sorban yang merupakan identitas keulamaan, lalu mereka berfatwa atau berbicara tentang agama, maka ini sangat membahayakan umat.

Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili Asy-Syafi’i An-Naqsabandy menjelaskan masalah tersebut dalam kitab Tanwirul Qulub hal.99,

ومن البدع توسيع الثياب والأكمام لكنه مكروه لا حرام إلا ما صار شعارا للعلماء فيندب لهم ليعرفوا ويحرم على غيرهم التشبه بهم في ذلك لئلا يغتر بهم فيستفتوا فيفتوا بغير علم 

"Diantara beberapa perbuatan bid'ah itu adalah melebarkan baju dan lengan baju, tetapi ini hukumnya makruh, tidak haram, kecuali baju itu telah menjadi syiar atau ciri khas ulama, maka hal ini dianjurkan agar keulamaannya diketahui. Dan haram bagi selain ulama untuk berpakaian menyerupai (ulama), agar tidak terjadi penipuan. Sehingga kemudian mereka (yang bukan ulama) memberikan fatwa tanpa ilmu." (Tanwirul Qulub, Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili Asy-Syafi’i An-NaqsabandI, hal.99).

Demikian halnya berpakaian mengikuti pakaian ala habaib seperti sorban, imamah dan baju gamis luar yang biasa dipakainya. Maka terdepat keterangan terkait pakaian kebiasaan mereka,

وذكر ابن عبيدالله أن السيد محمد بن علوي بن أحمد بن الفقيه المقدم اشتهر بصاحب العمائم بعد أن احترقت عليه عدة عمائم بسبب الاستغراق في المطالعة بجوار السراج إلا أن ذلك لا يؤكد كما استنتج ابن عبيدالله الاستمرار في لبس العمائم لأن صاحب العمائم لم يكن يلبسها بحضرموت. وإنما كان بمقدشوة من أرض الصومال حيث كان هاجر إليها لطلب لعلامة العلم على عبدالصمد الشيخ محمد بن الجوهي“". 

قال ابن عبيدالله وفي مناقب سيدنا الحسن بن عبدالله الحداد المسمى المواهب والمنن لحفيده العلامة أحمد علوي بن أحمد ابن الحسن ما نصه:  (ولم يلبس بعد الحج إلا الخوذة والبشت والكوفية البيضاء المخرمة والعمامة للجمعة والزيارة والأوابين في البلد وسروال وقميص من البفْت وفوقه أيضاً بفت وكان حجه في سئة ١/5‏ ١اه.‏

Ibnu Ubaidillah menyebutkan bahwa Sayyid Muhammad bin Alawi bin Ahmad bin Al-Faqih Al-Muqaddam terkenal dengan julukan “Pemilik Serban” setelah beberapa serbannya terbakar karena beliau terlalu tenggelam dalam membaca di dekat lampu minyak. Namun hal itu tidak memastikan, sebagaimana disimpulkan Ibnu Ubaidillah, kebiasaan beliau terus-menerus memakai serban. Karena “Pemilik Serban” tidak memakainya di Hadhramaut. Beliau justru memakainya di Mogadishu, tanah Somalia, tempat beliau hijrah untuk menuntut ilmu kepada Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Al-Jauhi.

Ibnu Ubaidillah berkata: Dan dalam Manaqib Sayyidina Al-Hasan bin Abdullah Al-Haddad yang berjudul Al-Mawahib wa Al-Minan karya cucunya Al-‘Allamah Ahmad Alawi bin Ahmad bin Al-Hasan disebutkan teks berikut, “Dan beliau tidak memakai setelah haji kecuali khawdzah(1), bisyit(2), kufiah putih bermotif, dan serban untuk shalat Jumat, ziarah, serta shalat Awwabin di negeri. Juga celana dan baju dari kain baft, dan di atasnya juga kain baft(3). Haji beliau pada tahun 1151 H.”_

____

(1). Al-Khawdzah: Penutup kepala yang keras. Khawdzah dirancang untuk memberikan perlindungan kepala dari cedera di tempat kerja, konstruksi, atau saat berkendara.

(2) Al-Bisyit: Jubah longgar. Bisyit dan syal pria tradisional yang lebar dan terbuka yang dikenakan di atas baju. 

(3) Baft: Kain katun yang ringan, tipis, dan berwarna putih. (Al-Istizadah fi Akhbar As-Sadah, Al-Habib Ali bin Muhsin Assegaf, juz 1 hal.208). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

HABAIB BANI ALAWI AHLI WARA' TIDAK SUKA MENDATANGI PEMIMPIN



Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْأُمَرَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْعُلَمَاءَ وَيَمْقُتُ الْعُلَمَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْأُمَرَاءَ لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْأُمَرَاءَ رَغِبُوْا فِي الدُّنْيَا وَإِذَا خَالَطَهُمُ الْأُمَرَاءَ رَغِبُوْا فِي الْآخِرَةِ

“Sungguh Allah mencintai penguasa (pemerintah) yang mendatangi ulama. Dan (Allah) membenci ulama yang mendatangi penguasa, karena ulama ketika dekat dengan penguasa akan senang pada dunia, namun jika penguasa yang mendekati ulama maka mereka akan senang pada akhirat.” (HR. Ad-Dailami).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, 

إِذَا رَأيْتَ العالِمَ يُخالِطُ السُّلْطانَ مُخالطَةً كَثِيرَةً فاعْلَمْ أنَّهُ لِصٌّ

“Jika kamu melihat orang alim berbaur dengan penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri.” (HR. Abu Hurairah).

Dari beberapa hadits ini, Sayyid Muhammad Murtadha Az-Zabidi dalam salah satu karyanya memberikan alasan kenapa para ulama akan kehilangan otoritasnya ketika sudah berbaur dengan pemerintah. Menurutnya, karena beberapa orang dari mereka akan melakukan kebohongan, kemunafikan, mencari muka dan ingin dipuji hanya untuk mendapatkan pangkat dan harta yang lebih banyak, padahal semua ini merupakan penyebab hancurnya agama seseorang. Karena itu, menurut Sayyid Murtadha, para ulama seharusnya mengambil jarak dengan pemerintah agar bisa selamat dari beberapa perbuatan hina, agar otoritasnya tidak hilang. (Sayyid Murtadha, Ithafussadah Al-Mutaqin bi Syarhi Ihya Ulumiddin, Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt, juz I, hal. 638).

Demikian halnya penjelasan dalam kitab bahwa ternyata bani alawi (habaib) tidak suka mendatangi pemimpin,

اشتهر العلويون بالورع الشديد، ولمع في ذلك قصص كثيرة أولاً، فما حدث عند انتقالهم من بلدتهم بيت جبر إلى تريم، فلقد كانوا ينقلون التراب الذي يستعملونه لبيوتهم من بيت جبر إلى تريم، حتى لا يبنوا بيوتهم إلا من تراب حلال يملكونه.

ومن ورعهم: أنهم كانوا لا يدخلون بيوت الأمراء والسلاطين، ولا يأكلون من طعامهم وذلك خوفاً أن يكون من مظلمة، ويؤكد ذلك كلام الحبيب عبدالله بن حسين بن طاهر (ت ١٢٧٧هـ) الذي يقول: إنه لا يجوز دخول دار الظلمة والفسقة، ولا حضور المواضع التي يشاهد فيها المنكر مع عدم القدرة على تغييره.(١)

وتروى في ذلك قصص كثيرة منها: ما رواه الفقيه عبدالله بن عمر بامخرمة، وكان شاهد عيان، فقال: إن السلطان بدر بن عبدالله بن عمر الكثيري الذي تولى السلطنة سنة ١٠٥٨هـ ذهب قاصداً قرية حريضة لزيارة الحبيب عمر بن عبدالرحمن العطاس، وأرسل له رسولاً يستأذنه في الدخول إلى بلده المذكور، وكان مع السلطان جند عظيم، فأشار على السلطان بإبقائه في مكانه، وأنه سيأتيه، لأنه أحق بذلك، وعمل الحبيب قهوته، وأخذ جمرته، فقيل له الخادم: إن النار توجد عند السلطان، فقال الحبيب: نحن لا نستعمل نار السلطان أبداً، وقال السلطان: يا سبحان الله! تتحرجون حتى عن قهوتنا ونارنا.

وذكر الأستاذ ابن هاشم: "أن هذا السلطان كان عظيم القدر، سمت الأخلاق، له مكانة رفيعة أكسبها بحلمه وأخلاقه الفاضلة، وكان يقصد أعلام الفتوى والولاية يزورهم ويستشيرهم ويكرمهم، ويتحمل ما يبدر منهم من كلمة عتب أو نصيحة قاسية".(٢)

___________

(١) مجموع كلام الحبيب عبدالله بن حسين بن طاهر صفحة ١١٤.

(٢) محمد بن هاشم تاريخ الدولة الكثيرية بتريم للدراسات والنشر صفحة ١٠١-١٠٢.

Para Alawiyyin terkenal dengan sikap wara’ yang sangat tinggi. Banyak kisah yang menonjol dalam hal ini. Pertama, apa yang terjadi ketika mereka pindah dari kampung mereka Bait Jabir ke Tarim. Mereka memindahkan tanah yang dipakai untuk rumah-rumah mereka dari Bait Jabir ke Tarim, agar mereka tidak membangun rumah kecuali dari tanah halal yang mereka miliki sendiri.

Di antara sikap wara’ mereka: mereka tidak masuk ke rumah para amir dan sultan, serta tidak makan dari makanan mereka. Hal itu karena takut kalau makanan itu berasal dari kezaliman. Hal itu dikuatkan oleh perkataan Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir, wafat 1277 H, yang berkata: Sesungguhnya tidak boleh masuk ke rumah orang zalim dan fasik, serta tidak menghadiri tempat-tempat yang terlihat kemungkaran di dalamnya tanpa adanya kemampuan untuk mengubahnya. (1)

Banyak kisah yang diriwayatkan tentang hal itu, di antaranya: apa yang diriwayatkan Al-Faqih Abdullah bin Umar Bamakhromah, dan beliau adalah saksi mata. Beliau berkata: Sesungguhnya Sultan Badr bin Abdullah bin Umar Al-Katsiri yang menjabat sebagai sultan tahun 1058 H, pergi menuju desa Haridhah untuk menziarahi Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas. Ia mengirim utusan untuk meminta izin masuk ke negeri tersebut. Bersama sultan ada pasukan besar. Maka Al-Habib memberi isyarat kepada sultan agar tetap di tempatnya, dan beliau sendiri yang akan mendatanginya, karena sultan lebih berhak untuk didatangi. Al-Habib membuat kopinya dan mengambil bara apinya. Lalu pelayan berkata kepadanya: Api ada di tempat sultan. Maka Al-Habib berkata: Kami tidak pernah memakai api milik sultan sama sekali. Sultan pun berkata: Maha Suci Allah! Kalian sampai bersikap hati-hati seperti itu, bahkan terhadap kopi dan api kami.

Ustadz Ibnu Hasyim menyebutkan: “Sultan ini adalah orang yang agung kedudukannya, mulia akhlaknya, memiliki kedudukan tinggi yang ia peroleh karena sifat lembut dan akhlaknya yang mulia. Ia mendatangi tokoh-tokoh fatwa dan kewalian, menziarahi mereka, meminta nasihat mereka, memuliakan mereka, dan bersabar terhadap ucapan celaan atau nasihat keras yang keluar dari mereka.” (2). (Istizadah fi Akhbar As-Sadah, Al-Habib Ali bin Muhsin Assegaf, juz 1 hal.187)

_________

1. Majmu’ Kalam Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir hal 114.  

2. Muhammad bin Hasyim, Tarikh Ad-Daulah Al-Katsiriyyah bi Tarim li Ad-Dirasat wa An-Nasyr hal 101-102.

وجاء السلطان بدر بوطويرق مؤسس الدولة الكثيرية الأولى إلى تريم، كما ذكره الأستاذ بن هاشم في تاريخ الدولة الكثيرية، ونوى زيارة الولي الصالح السيد أحمد بن علوي باحجيب (المتوفى سنة ٩٧٣هـ) فقال لجماعته: مرادنا نزور السيد الشريف أحمد ولا نزعجه أو نكدر عليه، وذلك لما علمه من السيد أحمد يستوحش من أهل الدنيا، فلما أخبروا السيد أحمد بقدوم السلطان قال: لا حول ولا قوة إلا بالله! وأيش لنا حاجة بمجيئه؟ وقال: نحن نخرج إليه، ثم أخذ ملحفته وغطى بها جسده ويديه، ثم خرج لمقابلة السلطان فلما وصل استلم السلطان يده وبقي واقفاً، فقال له السيد: الله الله في العدل، فقد كان والدك طيباً مع الناس، وأنت الله الله فيهم، فقال السلطان: قد جئنا بشيء من الذهب والفضة باسم الفقراء تفرقونه على من شئتم من جماعتكم، فقال السيد: لا حاجة لذلك، وأنتم عليكم مصاريف كبيرة، فقال السلطان: اقبلوا منا شيئاً من البن والعود، فقال السيد: عندنا البن والعود ولا نحتاج لشيء منهما، ثم استودع منه، ولما رجع السلطان بدر بوطويرق قال لجماعته: الحمد لله الذي جعل في ولايتي مثل هذا السيد

Sultan Badr Buthairiq, pendiri Negara Katsiri pertama, datang ke Tarim, sebagaimana disebutkan Ustadz Ibnu Hasyim dalam Tarikh Ad-Daulah Al-Katsiriyyah. Ia berniat menziarahi wali saleh Sayyid Ahmad bin Alawi Bahajjib, wafat tahun 973 H. Lalu ia berkata kepada rombongannya: Maksud kami menziarahi Sayyid Asy-Syarif Ahmad, dan kami tidak ingin mengganggunya atau membuatnya susah. Hal itu karena ia tahu bahwa Sayyid Ahmad merasa tidak nyaman dengan orang-orang dunia. 

Ketika mereka memberitahu Sayyid Ahmad tentang kedatangan sultan, beliau berkata: Laa haula wa laa quwwata illa billah! Apa urusan kami dengan kedatangannya? Lalu beliau berkata: Kita keluar menemuinya. Kemudian beliau mengambil selendangnya dan menutupi tubuh serta kedua tangannya, lalu keluar untuk menemui sultan. Ketika sampai, sultan menjabat tangannya dan tetap berdiri. Maka Sayyid berkata kepadanya: Allah, Allah dalam berbuat adil. Sungguh ayahmu baik terhadap manusia, maka engkau, Allah, Allah terhadap mereka. 

Sultan berkata: Kami datang membawa sedikit emas dan perak atas nama fakir miskin, kalian bagikan kepada siapa saja yang kalian kehendaki dari kelompok kalian. Sayyid berkata: Tidak perlu. Kalian memiliki pengeluaran besar. Sultan berkata: Terimalah dari kami sedikit kopi dan gaharu. Sayyid berkata: Kami punya kopi dan gaharu, dan kami tidak butuh sedikit pun dari keduanya. Lalu beliau berpamitan darinya. 

Ketika Sultan Badr Buthairiq kembali, ia berkata kepada rombongannya: Segala puji bagi Allah yang menjadikan di wilayahku orang seperti Sayyid ini. (Istizadah fi Akhbar As-Sadah, Al-Habib Ali bin Muhsin Assegaf, juz 1 hal.187-188). Wallahu a’lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 20 Juni 2026

KAROMAH AL-FAQIH AL-MUQADDAM BISA BERKUNJUNG KE SURGA, DAN JUGA MENGABARKAN KEPADA NABI AKAN TERJADINYA KEBAKARAN MASJID NABAWI


Peristiwa yang dimaksud dikenal sebagai salah satu karamah (keistimewaan) dari Al-Faqih Al-Muqaddam (Muhammad bin Ali Ba'alawi), pendiri Tarekat Alawiyyin di Hadramaut, Yaman. Beliau kasyaf (diberi penglihatan ghaib oleh Allah Ta'ala) mengenai akan terjadinya peristiwa kebakaran Masjid Nabawi yang terjadi pada awal Ramadhan 654 H. Sebagaimana dijelaskan Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani berikut,

(محمد بن علي بن محمد صاحب مرباط) المشهور بالأستاذ الأعظم الفقيه المقدم أبو علي جمال المسلمين والإسلام، وواسطة عقد العلماء الأعلام، شيخ شيوخ الشريعة، وإمام أئمة الطريقة والحقيقة، بدر العلم والتصوف، ومكث في القطيبة مائة وعشرين ليلة، كما قاله الشيخ عبد الرحمن السقاف.

ومن كراماته أن خادمه بإفريقية سافر سفراً طويلاً، فبلغ أهله أنه قد مات، فتعبوا وأتوا إلى الأستاذ فأطرق ساعة وقال: لم يمت بإفريقية، فقيل له: قد جاء الخبر بموته، فقال: إني اطلعت على الجنة فلم أجده فيها ولم يدخل فقيرى النار، ثم جاء الخبر بحياته وقدم هو بعد مدة.

ومنها: أنه وافق جماعة في الطلب في صغره وجعلوا على من فاته الجماعة شيئاً، فنام الأستاذ وقت القيلولة فلم يستيقظ إلا بالإقامة، فأشار إلى الدلو فطلع من البئر ملآن وتوضّاً وأدرك الجماعة.

ومنها: أنه قال لأصحابه: لعل أحداً منكم رأى رؤيا، فقال رجل: رأيت القيامة قامت وحضر الأولياء وقائل يقول: اشتغل الشيخ محمد بن علي بالتمر، فقال الأستاذ: التمر يحرق فاحترق التمر جميعه، فقال الرجل: والله ما رأيت رؤيا وإنما قلت ذلك ليعطني من ذلك التمر، فقال: لا حاجة لنا بما يحول بيننا وبين ربنا.

ومنها: أنه أخبر بأمور غريبة فوقعت كما أخبر، منها: أنه أخبر بغرق بغداد، فزادت الدجلة زيادة مهولة ودخل الماء من سور البلد وانهدمت دار الوزير وخزانة الخليفة وثلاثة وثلاثون داراً، ومات تحت الهدم خلق كثير وغرق جم غفير، وذلك في جمادى الآخرة سنة ٦٥٤.

وأخبر بحريق المسجد النبوي على صاحبه أفضل الصلاة والسلام، فاحترق أول رمضان في السنة المذكورة، وأخبر بواقعة التتار المصيبة التي لم يُسمع مثلها في الفلك الدوار المشتملة على كل قبيح وعار، فقتل الخليفة في صفر سنة ٦٥٦، وهذه الأمور الثلاثة وقعت بعد موته.

وأخبر بسيل عظيم يكون في حضرموت، فسال أوديتها وأخرب عدة بلدان، وأهلك ما ينيف عن أربعمائة إنسان. توفي الشيخ سنة ٦٥٣ بمدينة تريم، وقبره مشهور يُزار، وعمره ٧٩ سنة. قاله في المشرع الروي.

Muhammad bin Ali bin Muhammad pemilik Marbat, yang terkenal dengan sebutan Al-Ustadz Al-A’zham Al-Faqih Al-Muqaddam, Abu Ali, perhiasan kaum muslimin dan Islam, penghubung untaian para ulama terkemuka, guru dari para guru syariat, imam dari para imam tarekat dan hakikat, rembulan ilmu dan tasawuf. Beliau tinggal di Al-Qatibah selama seratus dua puluh malam, sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Abdurrahman As-Saqqaf.

Di antara karamah beliau: 

1. Khadim (pembantu) beliau di Afrika pernah melakukan perjalanan jauh. Sampai kabar kepada keluarganya bahwa ia telah meninggal. Mereka sedih dan mendatangi Al-Ustadz. Beliau menunduk sejenak lalu berkata: "Ia tidak mati di Afrika." Dikatakan kepada beliau: "Sudah datang kabar kematiannya." Beliau menjawab: "Sungguh aku telah mendatangi surga dan aku tidak mendapatinya di sana, dan orang miskin kami tidak akan masuk neraka." Kemudian datang kabar bahwa ia masih hidup, dan ia pun datang beberapa waktu setelahnya.

2. Ketika beliau masih kecil, beliau sepakat dengan sekelompok orang untuk menuntut ilmu. Mereka membuat syarat, siapa yang ketinggalan berjamaah harus membayar sesuatu. Al-Ustadz tertidur di waktu qailulah dan tidak bangun kecuali saat iqamah dikumandangkan. Lalu beliau memberi isyarat ke timba, maka timba itu naik dari sumur dalam keadaan penuh. Beliau berwudhu dan mendapati shalat berjamaah.

3. Beliau berkata kepada murid-muridnya: "Mungkin salah satu dari kalian bermimpi." Maka seorang laki-laki berkata: "Aku bermimpi kiamat telah terjadi dan para wali hadir, lalu ada suara yang berkata: Syekh Muhammad bin Ali sibuk dengan kurma." Al-Ustadz berkata: "Kurma itu akan terbakar." Maka semua kurma itu pun terbakar. Laki-laki itu berkata: "Demi Allah aku tidak bermimpi, aku hanya berkata begitu agar aku diberi kurma itu." Beliau menjawab: "Kami tidak butuh sesuatu yang menghalangi kami dari Tuhan kami."

4. Beliau mengabarkan perkara-perkara aneh yang kemudian terjadi sesuai kabarnya. Di antaranya: 

- Beliau mengabarkan tenggelamnya Baghdad. Maka Sungai Tigris meluap sangat besar, air masuk dari benteng kota, rumah menteri hancur, perbendaharaan khalifah jebol, dan tiga puluh tiga rumah roboh. Banyak orang mati tertimpa reruntuhan dan banyak yang tenggelam. Itu terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahun 654 H.

- Beliau mengabarkan kebakaran Masjid Nabawi kepada pemiliknya (Nabi Muhammad) sebaik-baik shalawat dan salam tercurah kepadanya. Maka masjid itu terbakar pada awal Ramadhan tahun yang disebutkan.

- Beliau mengabarkan musibah bangsa Tartar yang belum pernah terdengar semisalnya di dunia berputar ini, musibah yang mencakup segala keburukan dan aib. Khalifah terbunuh pada bulan Safar tahun 656 H. Ketiga peristiwa ini terjadi setelah beliau wafat.

- Beliau mengabarkan banjir besar akan terjadi di Hadhramaut. Maka lembah-lembahnya meluap, beberapa negeri hancur, dan lebih dari empat ratus orang binasa.

Syekh wafat tahun 653 H di kota Tarim. Kubur beliau terkenal dan diziarahi. Umur beliau 79 tahun. Ini disebutkan dalam kitab Al-Masyra’ Ar-Rawi. (Jami' Karamat Al-Auliya' karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani  juz 1 hal.213-214). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

MENYEBUT NAMA HABIB ABDULLAH AL-HADDAD MENYELAMATKAN PERTANYAAN MUNKAR DAN NAKIR


Beberapa hari yang lalu saya memposting sebuah penggalan video dari WAG dimana terlihat Habib Ahmad bin Ali Assegaf menyampaikan (terlihat beliau membaca kitab) bahwa ada seorang yang meninggal dunia ketika ditanya oleh malaikat (Munkar Nakir), "Man Robbuka (siapa tuhanmu), dia menjawab, "Habibi Abdullah (kekasihku adalah Abdullah)." Dan ketika ditanya malaikat, "Wa Man Nabiyuka (dan siapa nabimu)," dia menjawab, "Habibi Abdullah (kekasihku adalah Abdullah)."

Dari sanalah saya terobsesi mencari rujukan kitab apa kira-kira yang menyampaikan kisah aneh bin ajaib tersebut.

Syahdan, akhirnya saya dapatkan kitab Jami' Karamat Al-Auliya' karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani juz 2 hal.244-245 terdapat kisah yang mirip dengan apa disampaikan Habib Ahmad bin Ali Assegaf sebagaimana dalam video tersebut meskipun redaksinya sedikit berbeda sebagaimana berikut,

(عبد الله بن علوى ابن الأستاذ الأعظم) 

إمام العلماء العاملين وقدوة الأولياء العارفين ، وهو شيخ الشريعة والحقيقة ، وشيخ مشايخ الطريقة و من كراماته : أنه أنكر على رجل بمكة المشرفة شرب الخمر ، فقال له :رجل خياط أستعين بذلك على صنعتى ، فقال : إن أغناك الله عن ذلك تعاهدني على أن لا تعود لشربه ؟ فقال نعم ، فدعا رضى الله عنه ربه أن يتوب عليه وأن يغنيه عنه فتاب وحسنت توبته وأغناه الله ، وعاهده ثلاث ليال لئلا ينقض توبته ، رأى السيد عبد الله المذكور كأن قائلا يقول : احفروا لفلان في محل كذا مد البصر ، ومن صلى عليه غفر له ، فاستيقظ وسأل عنه فإذا هو قد مات فصلى عليه .

ومنها : أن رجلا أنشد أبياتا تتعلق بالبعث والحساب ، فتواجد صاحب الترجمة وخر مغشيا عليه ، فلما أفاق قال للرجل : أعد الأبيات ، فقال الرجل : بشرط تضمن لى الجنة ، فقال : ليس ذلك إلى ولكن اطلب ماشئت من المال, فقال الرجل : ما أريد إلا الجنة وإن حصل لنا شيء ما كرهنا فدعا له بالجنة ، فحسنت حالة الرجل وانتقل إلى رحمة الله ، وشيعه السيد عبد الله المذكور وحضر دفنه ، وجلس عند قبره ساعة فتغير وجهه ثم ضحك واستبشر ، فسئل عن ذلك

فقال : إن الرجل لما سأله الملكان عن ربه قال : شيخي عبد الله باعلوى ، فتعبت لذلك ، فسألاه أيضا فأجاب بذلك ، فقالا : مرحبا بك وبشيخك عبد الله باعلوى. قال بعضهم : هكذا ينبغي أن يكون الشيخ يحفظ مريده حتى بعد موته .

(Abdullah bin Alawi bin Al-Ustadz Al-A'zham) 

Adalah Imam para ulama yang beramal dan teladan para wali. Ia adalah guru syariat dan hakikat, serta guru dari para syaikh tarekat. Di antara karamatnya adalah ketika ia menegur seorang pria di Mekkah yang sedang minum khamar. Pria itu berkata, "Saya adalah seorang tukang jahit yang mengandalkan itu untuk pekerjaan saya." Abdullah bertanya, "Jika Allah memberikanmu kecukupan, maukah engkau berjanji untuk tidak kembali meminum khamar?" Pria itu menjawab, "Ya." Maka Abdullah berdoa kepada Allah agar pria tersebut bertaubat dan diberikan kecukupan, dan Allah mengabulkan doanya. Pria tersebut bertaubat dengan baik, dan Abdullah mengikat janji selama tiga malam agar taubatnya tidak terputus.

(Suatu ketika), Abdullah melihat seolah-olah ada yang berkata, "Galilah (kubur) untuk si fulan di tempat yang terlihat, dan barang siapa yang menshalatkan atasnya, akan diampuni." Ia terbangun dan menanyakan tentang orang itu, dan ternyata ia telah meninggal, lalu Abdullah menshalatkan atasnya.

Di lain waktu, seorang pria melantunkan syair tentang kebangkitan dan perhitungan amal, sehingga Abdullah merasa terharu dan pingsan. Ketika ia sadar, ia meminta pria itu untuk mengulangi syairnya. Pria itu menjawab, "Dengan syarat engkau menjamin saya surga." Abdullah menjawab, "Itu bukan urusanku, tetapi mintalah apa pun yang kau inginkan dari harta." Pria itu berkata, "Saya tidak ingin selain surga, dan jika kami mendapatkan sesuatu, kami tidak keberatan." Abdullah mendoakan pria itu agar mendapatkan surga. Keadaan pria itu membaik dan ia pun berpulang kepada rahmat Allah. Abdullah mengantarkan jenazahnya dan hadir dalam pemakamannya. Ia duduk di dekat kuburnya sejenak, wajahnya berubah, lalu ia tertawa dan bersuka cita. Ketika ditanya tentang itu, ia berkata, "Ketika malaikat bertanya kepada pria itu tentang Tuhannya, ia menjawab, 'Guru saya Abdullah Alawi,' dan saya merasa lelah karena itu. Mereka bertanya lagi, dan ia menjawab dengan hal yang sama, lalu mereka berkata, 'Selamat datang kepadamu dan gurumu Abdullah Alawi.'" Sebagian orang berkata, "Begitulah seharusnya seorang guru menjaga muridnya bahkan setelah ia meninggal." (Jami' Karamat Al-Auliya' karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani  juz 2 hal.244-245). Wallahu a'lam bis-Shawab 🙏 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Jumat, 19 Juni 2026

KAJIAN TENTANG MAKAM WALI DI SURABAYA BISA PINDAH KE ZANBAL TARIM, HADHRAMAUT YAMAN


Syahdan; Mengenal Haul Solo merupakan peringatan haul untuk mengenang wafatnya seorang ulama yaitu Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (pengarang kitab maulid Simtudduror) lahir di Qasam (Hadramaut, Yaman) dan wafat di Seiwun (Hadramaut, Yaman). Meskipun tidak pernah menetap di Indonesia, keturunan dan keluarganya berdakwah di Nusantara, dan jangan heran kenapa haulnya diadakan di Solo? Konon, makam seorang wali itu bisa berpindah sebagaimana kisah wali yang makamnya pindah dijelaskan dalam sebuah kitab.

Sebelumnya saya infokan  bahwa Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih & Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih: diakui sebagai Dua Wali Quthub Kota Malang.

Dikisahkan bahwa Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih melakukan perjalanan hijrahnya menuju pulau Jawa lebih tepatnya yakni di kota Surabaya. Beliau menetap di Surabaya sampai akhir hayatnya. 

Ketika wafatnya, Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah (Keponakan Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih) yang kala itu sedang berada di kota Tarim. Beliau bermimpi bahwasannya para salaf (Sadah Ba'alawi) di alam barzakh sedang dalam keadaan menunggu kedatangan salah seorang. Maka Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah bertanya kepada mereka tentang perihal itu. Mereka mengatakan,

" Sesungguhnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam dan para Salaf Ba'alawi, mereka sedang menunggu kedatangan salah satu anak turun mereka yang wafat di Surabaya "

Kemudian dalam mimpi tersebut, Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah melihat seakan-akan para salaf tersebut datang sembari membawa jenazah menuju ke Pemakaman Zanbal Tarim dan dikebumikan di depan Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam.

Seketika al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah terbangun dari tidurnya dan menunggu kabar salah satu seorang Sadah Alawiyyin yang wafat dari Jawa. 

Tidak lama kemudian, sampailah kabar wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih dan mimpi yang dialami oleh Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah terjadi persis bersamaan dengan hari wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih.

Dan juga diriwayatkan, ketika Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih wafat dan dikebumikan. Makam beliau menghilang dari pandangan orang-orang. 

Mereka tidak mengetahui dan juga tidak lagi mendapati keberadaan makam tersebut. 

Maka putra beliau yang bernama Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih merasa sedih akan kejadian tersebut. 

Ketika Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih tidur, beliau melihat Ayahanda nya yang berkata, "Jangan cari aku, karena sesungguhnya aku telah dipindahkan ke pemakaman Zanbal."

Narasi kisah tersebut adalah gambaran kisah yang terdapat dalam kitab Lawami' An-Nur Nukhbah Min A'lam Hadhramaut juz 2 hal. 106 sebagai berikut,

سافر الحبيب أحمد إلى جواه "سرباية"، ومكث بها بقية حياته وتوفي بسُرباية. وعند وفاته رأى الحبيب عبد القادر، وكان بتريم، أن السلف وكان في البرزخ كانوا على غاية من الانتظار لاستقبال أحد الوافدين إليهم، فسألهم فقالوا: إن الفقيه والسلف منتظرين أحد أبنائهم توفي في "سُرباية"، ثم رأى كأنهم جاؤوا بالميت إلى زنبيل ودفن أمام قبر الفقيه المقدم فانتبه الرائي وانتظر خبراً من جاوة عن موت أحد العلويين. فكان الأمر كما ذُكر حيث وصل إليهم خبر وفاة الحبيب أحمد بن محمد بلفقيه، وكانت الرؤيا موافقة ليوم وفاته.

وقبل أيضاً أنه لما توفي ودفن في المقبرة طمس القبر عن الأنظار ولم يفقوا عليه، فأغتمَّ لذلك ولده عبد القادر، فلما كان في المنام رأى والده يقول له: لا تبحث عني فإني قد نُقلت إلى "زنبيل". (لوامع النور نخبة من أعلام حضرموت ص ١.٦)

Al-Habib Ahmad melakukan perjalanan ke Jawa "Surabaya", dan beliau tinggal di sana hingga sisa hidupnya, lalu wafat di Surabaya. 

Ketika beliau wafat, Al-Habib Abdul Qadir yang berada di Tarim melihat dalam mimpi bahwa para salaf yang berada di alam barzakh sedang sangat menanti untuk menyambut kedatangan seseorang di antara mereka. Beliau bertanya kepada mereka, maka mereka menjawab: "Sesungguhnya para fuqaha dan para salaf sedang menunggu salah seorang anak mereka yang wafat di 'Surabaya'." 

Kemudian beliau melihat seakan-akan mereka membawa jenazah itu ke "Zanbal" dan menguburkannya di depan makam Al-Faqih Al-Muqaddam. Lalu orang yang bermimpi itu terbangun dan menanti kabar dari Jawa tentang wafatnya salah seorang dari keturunan Alawi. 

Maka jadilah kenyataan seperti yang disebutkan, yaitu sampailah kepada mereka berita wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih. Dan mimpinya itu bertepatan dengan hari wafatnya.

Disebutkan juga bahwa ketika beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman, kuburannya tertutup dari pandangan dan mereka tidak menemukannya. Maka putranya Abdul Qadir pun bersedih karena hal itu. Ketika ia tidur, ia bermimpi melihat ayahnya berkata kepadanya: "Jangan cari aku, karena sesungguhnya aku telah dipindahkan ke 'Zanbil'." (Lawami’ An-Nur Nukhbah min A’lam Hadhramaut, Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali bin Abu Bakar Al-Masyhur, cet. Maktabah Dar Al-Muhajir li An-Nashr wa At-Tauzi', Sana'a - Yaman, juz 2 hal. 106). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*