MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Minggu, 22 Februari 2026

KAJIAN TENTANG DALIL HADITS SHALAT TARAWIH 11 RAKAAT SALAH TEMPAT


*Sejarah Singkat Shalat Tarawih*

Dalam Shahih Al Bukhari pada Bab “Keutamaan Qiyam Ramadhan” disebutkan beberapa riwayat diantaranya sebagai berikut.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ » . قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَتُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَالأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ، ثُمَّ كَانَ الأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِى خِلاَفَةِ أَبِى بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ – رضى الله عنهما 

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu“. Ibnu Syihab berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, namun orang-orang terus melestarikan tradisi menegakkan malam Ramadhan (secara bersama, jamaah), keadaan tersebut terus berlanjut hingga zaman kekhalifahan Abu Bakar dan awal-awal kekhilafahan ‘Umar bin Al Khaththob radhiyallahu ‘anhu. (HR. Bukhari no. 2009)

Pada masa Rasulullah SAW, shalat Tarawih tidak memiliki jumlah rakaat yang baku. Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah melaksanakan shalat malam (qiyamullail) di bulan Ramadhan secara berjamaah bersama para sahabat selama beberapa malam. Namun, beliau kemudian menghentikan praktik tersebut karena khawatir shalat ini akan dianggap wajib oleh umatnya.

Berkaitan dengan shalat tarawih, sebenarnya Nabi Muhammad SAW sendiri hanya shalat qiyamu Ramadhan selama tiga malam saja, lalu tak pernah lagi berjamaah. Ini tercatat dalam kitab-kitab hadits mu'tabarah. Misalnya riwayat Imam Bukhari berikut ini,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ، أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا، فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ، فَصَلَّوْا مَعَهُ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا، فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ، فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ: (أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ، لَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، فَتَعْجِزُوا عَنْهَا). قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: تَابَعَهُ يُونُسُ.   

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah mengabarkan kepada kami Al-Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bahwa 'Aisyah RA mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah SAW pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat di belakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan beliau. Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah SAW keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat masjid sudah penuh dengan jamaah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat shubuh. Setelah beliau selesai shalat fajar, beliau menghadap kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: "Amma ba'du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidam mampu." Abu Abdullah al-Bukhori berkata, "Hadits ini dikuatkan oleh Yunus." (HR. Imam Bukhari)

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab r.a., shalat Tarawih mulai dilaksanakan secara berjamaah di masjid dengan jumlah 20 rakaat. Umar mengumpulkan umat Islam dan menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imam untuk memimpin shalat ini. Sejak saat itu, shalat Tarawih dengan 20 rakaat menjadi praktik yang umum diikuti oleh mayoritas umat Islam. Seperti yang tercantum dalam hadits di kitab Shahih Bukhari,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ : خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ ، فَقَالَ عُمَرُ : إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ، ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ ، قَالَ عُمَرُ : نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِي يَقُومُونَ ، يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dari Abdurrahman bin Abdil Qari, ia berkata: “Aku keluar bersama Umar bin Khattab ra. pada suatu malam di bulan Ramadan menuju masjid. Saat itu, orang-orang berkelompok-kelompok dalam keadaan terpisah; ada yang shalat sendiri, dan ada pula yang shalat lalu sekelompok orang mengikuti shalatnya. Maka Umar berkata, ‘Menurutku, jika aku mengumpulkan mereka di bawah satu imam, itu akan lebih baik.’ Kemudian, ia bertekad dan mengumpulkan mereka untuk shalat di bawah bacaan Ubay bin Ka’b. Lalu, pada malam lain, aku keluar bersamanya dan orang-orang sedang shalat mengikuti imam mereka. Umar pun berkata, *‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini!* Namun, shalat yang mereka tinggalkan untuk tidur lebih utama daripada yang mereka kerjakan.’ Maksudnya adalah shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang saat itu shalat di awal malam.” (Imam Bukhari, Shahih Bukhari, [Darul Taufik al-Najah, Beirut], no. 2010).

*Pandangan Mazhab tentang Jumlah Rakaat Shalat Tarawih*

Perbedaan jumlah rakaat shalat Tarawih bukanlah sesuatu yang baru. Para ulama dari berbagai mazhab memiliki pendapat yang berbeda berdasarkan dalil yang mereka gunakan:

*Mazhab Hanafi:*

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa shalat Tarawih terdiri dari 20 rakaat. Pandangan ini berdasarkan praktik yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan sahabat lainnya. Menurut Imam As-Sarakhsi dari madzhab Hanafi:

فَإِنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِنْدِنَا

“Maka sesungguhnya shalat tarawih itu 20 rakaat, selain shalat witir, menurut pendapat kami.” (As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, (2/144).

Praktik dalam kisah Umar sendiri ada dalam hadits Nabi SAW,

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً – قَالَ – وَكَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينَ ، وَكَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عِصِيِّهِمْ فِي عَهْدِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِ

Dari Saib bin Yazid, ia berkata: “Dahulu, pada masa Umar bin Khattab ra., mereka menunaikan shalat malam di bulan Ramadan sebanyak dua puluh rakaat.” Ia juga berkata: “Mereka membaca ayat-ayat panjang hingga mencapai ratusan ayat, dan pada masa Utsman bin Affan ra., mereka bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri dalam shalat.” (Abu Bakar Ahmad bin Husain bin Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan Al-Kubro Lil Baihaqi, no. 4691).

Jumlah ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) para sahabat sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi.

*Mazhab Maliki:*

Dalam Mazhab Maliki, jumlah rakaat shalat Tarawih yang dianjurkan adalah 36 rakaat, bukan 20 rakaat. Imam Malik dalam kitab Al-Mudawwanah menyebutkan bahwa penduduk Madinah menambah jumlah rakaat menjadi 36 sebagai bentuk perbanyakan ibadah di bulan Ramadhan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk semangat ibadah mereka dibandingkan penduduk Makkah yang tetap melaksanakan 20 rakaat.

وَكَانَ السَّلَفُ الصَّالِح يَقُوْمُونَ فِى الْمَسَاجِدِ بِعِشْرِيْنَ رَكْهَةً….ثُمَّ صَلُّوْا بَعْدَ ذلِكَ سِتًّا وَثَلَاثِيْنَ رَكْعَةً….وَهذَا اخْتَارُهُ مَالِك

“Para salafus shalih dahulu melaksanakan shalat malam di masjid sebanyak dua puluh rakaat… kemudian setelah itu mereka menunaikan shalat sebanyak tiga puluh enam rakaat.. Imam Malik pun memilih pendapat ini.” (Imam Sahnun bin Sa’id at-Tanukhi, Al-Mudawwanah, (2/231).

*Mazhab Syafi’i:*

Kalangan Syafi’iyyah menyatakan bahwa shalat Tarawih berjumlah 20 rakaat. Pandangan ini mengikuti praktik yang dilakukan oleh mayoritas sahabat di zaman Khalifah Umar bin Khattab kala itu. Imam An-Nawawi juga menegaskan bahwa jumlah ini sudah menjadi standar di kalangan ulama Syafi’iyyah. Imam An-Nawawi dari mazhab Syafi’i menerangkan dalam kitabnya,

مَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ غَيْرِ الْوِتْرِ   

“Menurut mazhab kami jumlahnya 20 rakaat dengan 10 kali salam, selain shalat witir.” (An-Nawawi, Al-Majmu’, (3/527).

*Mazhab Hanbali:* 

Dalam Mazhab Hanbali, jumlah rakaat shalat Tarawih juga mencapai 20 rakaat. Imam Ibnu Qudaman dalam kitab Al-Mughni menyebutkan bahwa shalat Tarawih adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan kemudian dihidupkan kembali oleh Umar bin Khattab.

وَقِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عِشْرُونَ رَكْعَةً يَعْنِي صَلَاةُ التَّرَاوِيْحِ وَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَوَّلُ مَنْ سَنَّهَا رَسُولُ اللهِ   

“Dan qiyam bulan Ramadhan itu 20 rakaat, yaitu shalat tarawih. Hukumnya sunnah muakkadah, dan orang yang pertama kali melakukannya adalah Rasulullah Saw.” (Imam Ibnu Qudaman, Al-Mughni, (1/456).

Selain pandangan mazhab di atas, ada pula kelompok yang melaksanakan shalat Tarawih hanya 8 rakaat. Pendapat ini merujuk pada hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah melaksanakan shalat malam lebih dari 11 rakaat, termasuk Witir. Ini tercantum dalam hadis yang shahih dari Aisyah ketika ditanya oleh Abu Salamah bin Abdurrahman,

كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Bagaimanakah salatnya Rasulullah ﷺ di bulan Ramadan?” Aisyah menjawab, “Salat Rasulullah Saw. tidak pernah lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadan atau di selain bulan Ramadan.”

Sebagai tambahan, penulis menambahkan perspektif Tarawih dalam kitab Mausuah Fiqhiyyah,

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ مِنْ قِيَامِ النَّاسِ فِي زَمَانِ عُمَرَ رضي الله تعالى عنه بِعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَمَعَ عُمَرُ النَّاسَ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنْ الرَّكَعَاتِ جَمْعًا مُسْتَمِرًّا قَالَ الْكَاسَانِيُّ: جَمَعَ عُمَرُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله تعالى عنه فَصَلَّى بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِ أَحَدٌ فَيَكُونُ إجْمَاعًا مِنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ. وَقَالَ الدُّسُوقِيُّ وَغَيْرُهُ: كَانَ عَلَيْهِ عَمَلُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ. وَقَالَ ابْنُ عَابِدِينَ: عَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ شَرْقًا وَغَرْبًا. وَقَالَ عَلِيٌّ السَّنْهُورِيُّ: هُوَ الَّذِي عَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ وَاسْتَمَرَّ إلَى زَمَانِنَا فِي سَائِرِ الْأَمْصَارِ وَقَالَ الْحَنَابِلَةُ: وَهَذَا فِي مَظِنَّةِ الشُّهْرَةِ بِحَضْرَةِ الصَّحَابَةِ فَكَانَ إجْمَاعًا وَالنُّصُوصُ فِي ذَلِكَ كَثِيرَةٌ

“Menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan sebagian Malikiyah), shalat tarawih adalah 20 rakaat berdasar hadist yang telah diriwayatkan Malik bin Yazid bin Ruman dan Imam al-Baihaqi dari Sa’ib bin Yazid tentang shalatnya umat Islam di masa Sayyidina Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh, yakni 20 rakaat. Umar mengumpulkan orang-orang untuk melakukan tarawih 20 rakaat secara berjamaah dan masih berlangsung hingga sekarang. Imam al-Kasani berkata, ‘Umar telah mengumpulkan para sahabat Rasulullah, lantas Ubay bin Ka’ab mengimami mereka shalat 20 rakaat, dan tidak ada satu orang pun yang mengingkarinya, maka hal itu sudah menjadi ijma’ (kesepakatan) mereka.’  Imam Ad-Dasukyi dan lainnya berkata, ‘Itulah yang dilakukan para sahabat dan tabi’in.’ Imam Ibnu ‘Abidin berkata, ‘Itulah yang dilakukan orang-orang mulai dari bumi timur sampai bumi barat.’ ‘Ali As-Sanhuri berkata, ‘Itulah yang dilakukan orang-orang sejak dulu sampai masaku dan masa yang akan datang selamanya.’ Para ulama mazhab Hanbali mengatakan, ‘Hal sudah menjadi keyakinan yang masyhur di masa para sahabat, maka ini merupakan ijma’ dan banyak dalil-dalil nash yang menjelaskannya." (Wahbah Zuhaili, Mausuah AlFiqhiyyah, (27/142).

Sementara terkait dengan bilangan shalat Tarawih 11 rakaat mengambil hujjah/dalil yang salah tempat yaitu dalil hadits tentang shalat witir 11 rakaat sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Dr. Ahmad Umar Hasyim dalam Faidh Al-Bari' Fi Syarh Shahih Al-Bukhari juz 3 hal.287, 

*فيض الباري فى شرح صحيح البخاري الجزء الثالث*

وفي هذا دلالة على جواز أداء النافلة في المسجد وفي جماعة، وجواز الاقتداء بمن لم ينو الجماعة أو الإمامة، وأنه إذا تعارضت مصلحتان أو مصلحة ومفسدة اعتبر أهمها، لأنه لما عارضه خوف الافتراض عليهم تركه لعظم المفسدة التي تخاف من عجزهم عن أداء الفرض، **وفي الحديث دلالة على استحباب التشهد في صدر الخطبة**، وقول: أما بعد. فيها، واستقبال الجماعة بها، ثم قال: ولكني خشيت أن تفرض عليكم فتعجزوا عنها. فتوفي رسول الله والأمر على ذلك.

**٢٠١٣ -** حدثنا إسماعيل، قال: حدثني مالك، عن سعيد المقبري، عن أبي سلمة بن عبد الرحمن، أنه سأل عائشة رضي الله عنها: كيف كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان؟ فقالت: «ما كان يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة، يصلي أربعًا، فلا تسأل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي أربعًا، فلا تسأل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي ثلاثًا».

فقلت: يا رسول الله، أتنام قبل أن توتر؟ قال: «يا عائشة، إن عيني تنامان ولا ينام قلبي».

**٢٠١٣ -** سأل أبو سلمة بن عبد الرحمن السيدة عائشة رضي الله عنها: كيف كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان؟ فقالت: ما كان يزيد في رمضان ولا في غيرها على إحدى عشرة ركعة، والمراد بقوله: (ولا في غيرها)، بالتأنيث أي غير ليالي رمضان، وفي بعض النسخ (ولا في غيره)، أي غير رمضان.

ومعلوم أن صلاة التراويح عشرون ركعة، وعند مالك: **ست وثلاثون ركعة**، فالمراد بقوله: (على إحدى عشرة ركعة)؟ الجواب: **هو أن المراد بالصلاة هنا صلاة الوتر**، والسؤال والجواب واردان عليها.

وقد وضحت كيفية صلاته هذا العدد وهو: إحدى عشرة ركعة، فقالت: (يصلي أربعًا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي أربعًا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي ثلاثًا) فقلت: يا رسول الله أتنام قبل أن توتر؟ قال: «يا عائشة إن عيني تنامان ولا ينام قلبي». وهذا من خصوصيات صلوات وسلامه عليه. (ص ٢٨٧)

_Faidh Al-Bari Fi Syarh Shahih Al-Bukhari Juz 3_

Dalam hadits ini terdapat dalil tentang bolehnya melaksanakan shalat sunnah di masjid dan berjamaah, serta bolehnya mengikuti imam yang tidak berniat jamaah atau imam. Juga, jika ada dua kemaslahatan yang bertentangan, atau kemaslahatan dan kemafsadatan, maka yang lebih penting harus dipertimbangkan. Karena, ketika Nabi khawatir akan memberatkan umatnya, beliau meninggalkannya karena besarnya kemafsadatan yang ditakutkan, yaitu mereka tidak mampu melaksanakan shalat fardhu.

*Dalam hadits ini juga terdapat dalil tentang disyariatkannya membaca tasyahud di awal khutbah, dan mengucapkan "Amma ba'du" di dalamnya, serta menghadap jamaah.* Kemudian Nabi bersabda: "Aku khawatir jika aku memerintahkan kalian untuk melakukannya, maka kalian tidak mampu melakukannya." Maka Rasulullah wafat, dan perkara itu tetap seperti itu.

*2013 -* Telah menceritakan kepada kami Ismail, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Sa'id al-Maqburi, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa dia bertanya kepada Aisyah RA: "Bagaimana shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan?" Aisyah menjawab: "Beliau tidak menambah shalat di bulan Ramadhan dan tidak pula di selainnya, lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, jangan tanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rakaat, jangan tanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat."

Aku ('Aisyah) bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum witir?" Beliau menjawab: "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur."

*2013 -* Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah RA: "Bagaimana shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan?" Aisyah menjawab: "Beliau tidak menambah shalat di bulan Ramadhan dan tidak pula di selainnya, lebih dari sebelas rakaat." Yang dimaksud dengan "tidak pula di selainnya" adalah selain malam Ramadhan. Dalam beberapa riwayat, "tidak pula di selain Ramadhan".

*Diketahui bahwa shalat tarawih adalah dua puluh (20) rakaat, dan menurut Imam Malik (Malik bin Anas), tiga puluh enam (36) rakaat. Maka, yang dimaksud dengan "sebelas (11) rakaat" adalah shalat witir. Pertanyaan dan jawaban (antara 'Aisyah dan Rasulullah SAW) itu tentang shalat witir (bukan shalat tarawih).*

Cara shalat beliau adalah sebelas rakaat, yaitu: empat rakaat, empat rakaat, dan tiga rakaat. Aku (Abu Salamah) bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum witir?" Beliau menjawab: "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur." Ini adalah salah satu kekhususan Nabi SAW. (Faidh Al-Bari Fi Syar Shahih Al-Bukhari karya Syeikh Dr. Ahmad Umar Hasyim cet. Dar Al-Wabil Ash-Shoyyib juz 3 hal. 287). 

(Syekh Dr. Ahmad Umar Hasyim beliau adalah salah satu ulama Al-Azhar yang dijuluki sebagai Amirul Mu'minin di bidang hadits dan juga singa podium Azhar. Sampai saat ini beliau masih aktif mengisi seminar dan majlis ilmu di Mesir). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG TATA CARA DAN JUMLAH RAKAAT SHALAT WITIR


عدد ركعات صلاة الوتر

أقل الوتر ركعة . لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ( الوتر ركعة من آخر الليل ) رواه مسلم، وقوله صلى الله عليه وسلم : ( صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى ) متفق عليه ، فإذا اقتصر الإنسان عليها فقد أتى بالسنة … ويجوز الوتر بثلاث وبخمس وبسبع وبتسع .

فإن أوتر بثلاث فله صفتان كلتاهما مشروعة :

الأولى : أن يسرد الثلاث بتشهد واحد . 

لحديث عائشة رضي الله عنها قالت : كان النبي صلى الله عليه وسلم يوتر بثلاث لا يقعد إلا في آخرهن ” رواه النسائي إسناد حسن ، والبيهقي بإسناد صحيح .

الثانية : أن يسلم من ركعتين ثم يوتر بواحدة .

لما ورد عن ابن عمر رضي الله عنهما : أنه كان يفصل بين شفعه ووتره بتسليمة ، وأخبر أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفعل ذلك . رواه ابن حبان وإسناده قوي .

أما إذا أوتر بخمس أو بسبع فإنها تكون متصلة ، ولا يتشهد إلا تشهدا واحدا في آخرها ويسلم ،فعن أم سلمة رضي الله عنها قالت : كان النبي صلى الله عليه وسلم يوتر بخمس وبسبع ولا يفصل بينهن بسلام ولا كلام . رواه النسائي.

وإذا أوتر بتسع فإنها تكون متصلة ويجلس للتشهد في الثامنة ثم يقوم ولا يسلم ويتشهد في التاسعة ويسلم . لما روته عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله كان يصلي تسع ركعات لا يجلس فيها إلا في الثامنة فيذكر الله ويحمده ويدعوه ثم ينهض ولا يسلم ثم يقوم فيصل التاسعة ثم يقعد فيذكر الله ويحمده ويدعوه ثم يسلم تسليما يسمعنا ) رواه مسلم 

وإن أوتر بإحدى عشرة ، فإنه يسلم من كل ركعتين ، ويوتر منها بواحدة. والله أعلم بالصواب

Jumlah rakaat shalat witir

Paling sedikit shalat witir adalah satu rakaat, berdasarkan sabda Nabi SAW: "Witir itu satu rakaat di akhir malam" (HR. Muslim), dan sabda beliau: "Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, jika salah seorang di antara kamu khawatir subuh, maka shalat satu rakaat, itu menjadi witir baginya atas apa yang telah dia shalat" (Muttafaqun 'alaih).

Jika seseorang hanya shalat witir satu rakaat, maka dia telah melaksanakan sunnah.

Boleh shalat witir dengan tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat.

Jika shalat witir tiga rakaat, maka ada dua cara yang disyariatkan:

1. Shalat tiga rakaat dengan satu tasyahud, berdasarkan hadits Aisyah RA: "Nabi SAW shalat witir tiga rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat terakhir" (HR. Nasa'i dengan sanad hasan, dan Baihaqi dengan sanad sahih).

2. Shalat dua rakaat, kemudian salam, kemudian shalat satu rakaat, berdasarkan hadits Ibnu Umar RA: "Beliau memisahkan antara dua rakaat dan satu rakaat witir dengan salam, dan beliau memberitahu bahwa Nabi SAW melakukan hal itu" (HR. Ibnu Hibban dengan sanad kuat).

Jika shalat witir lima atau tujuh rakaat, maka shalat itu dilakukan secara terus-menerus, tidak duduk kecuali pada rakaat terakhir, dan tidak salam kecuali pada rakaat terakhir, berdasarkan hadits Ummi Salamah RA: "Nabi SAW shalat witir lima dan tujuh rakaat, tidak memisahkan antara rakaat-rakaat itu dengan salam atau perkataan" (HR. Nasa'i).

Jika shalat witir sembilan rakaat, maka shalat itu dilakukan secara terus-menerus, duduk untuk tasyahud pada rakaat kedelapan, kemudian berdiri untuk rakaat kesembilan, dan salam, berdasarkan hadits Aisyah RA: "Nabi SAW shalat sembilan rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan, kemudian beliau tasyahud, memuji Allah, dan berdoa, kemudian berdiri untuk rakaat kesembilan, kemudian duduk, memuji Allah, dan berdoa, kemudian salam" (HR. Muslim).

Jika shalat witir sebelas rakaat, maka salam setiap dua rakaat, dan witir dengan satu rakaat.

أكثر ركعات الوتر هي إحدى عشرة (11) ركعة أو ثلاث عشرة (13) ركعة، وهو ما ثبت عن النبي ﷺ في الغالب، ويمكن صلاتها مثنى مثنى (ركعتين ركعتين) ثم يوتر بواحدة، أو يسرد أكثرها بتشهد واحد. (عبد الله بن باز)

*تفاصيل عدد ركعات الوتر:*

- أكثرها (على الراجح): إحدى عشرة ركعة.

- أكثرها (في رواية): ثلاث عشرة ركعة.

- أقلها: ركعة واحدة، وصلاة ثلاث أو خمس أو سبع أو تسع أو إحدى عشرة كله جائز.

- أفضل الكيفيات: أن يصليها ركعتين ركعتين، ثم يوتر بواحدة.

- وقت الوتر: يبدأ بعد صلاة العشاء إلى طلوع الفجر.

Jumlah rakaat shalat witir paling banyak adalah sebelas (11) rakaat atau tiga belas (13) rakaat, dan ini adalah yang paling banyak diriwayatkan dari Nabi SAW. Shalat witir dapat dilakukan dengan cara dua rakaat-dua rakaat, kemudian ditutup dengan satu rakaat, atau dengan cara terus-menerus dengan satu tasyahud. (Abdullah bin Baz)

*Rincian jumlah rakaat shalat witir:*

- Paling banyak (menurut pendapat yang kuat): sebelas rakaat.

- Paling banyak (dalam riwayat lain): tiga belas rakaat.

- Paling sedikit: satu rakaat. Shalat witir tiga, lima, tujuh, sembilan, atau sebelas rakaat semuanya diperbolehkan.

- Cara terbaik: shalat dua rakaat-dua rakaat, kemudian ditutup dengan satu rakaat.

- Waktu shalat witir: mulai setelah shalat isya hingga terbit fajar.

*Penjelasan Mausu’ah Al-Fiqhiyyah*

الفرعُ الرابعُ: عددُ رَكَعاتِ صلاةِ الوترِ

المسألةُ الأُولى: الوِتْرُ بركعةٍ

يجوزُ الوترُ بركعةٍ واحدةٍ منفصلةٍ ممَّا قبلَها، وهذا مذهبُ الجمهور : المالِكيَّة ، والشافعيَّة ، والحَنابِلَة ، وهو قول طائفةٍ من السلف 

الأدلَّة:

أولًا: من السُّنَّة

1- عن ابنِ عُمرَ رَضِيَ اللهُ عنهما: ((أنَّ رجلًا سألَ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن صلاةِ اللَّيلِ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: صلاةُ اللَّيلِ مَثْنَى مَثنَى، فإذا خشِي أحدُكم الصبحَ صَلَّى ركعةً واحدًة، تُوتِرُ له ما قدْ صلَّى )) 

2- عن ابنِ عُمرَ رَضِيَ اللهُ عنهما، أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: ((الوترُ ركعةٌ من آخِرِ اللَّيلِ )) 

3- عن عائشةَ زوجِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، قالت: ((كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُصلِّي فيما بين أن يَفرَغَ من صلاةِ العشاءِ- وهي التي يَدْعو الناسُ العَتَمَةَ- إلى الفجرِ إحْدَى عشرةَ ركعةً يُسلِّم بين كلِّ ركعتينِ، ويُوتِرُ بواحدةٍ  )) 

ثانيًا: مِن الآثار

1- عن أبى مِجْلَز: (أنَّ أبا موسى الأشعريَّ كان بين مَكَّةَ والمدينةِ فصلَّى العشاءَ ركعتينِ، ثم قام فصلَّى ركعةً أوترَ بها، فقرأ بمائةِ آيةٍ من النساءِ، ثم قال: ما ألوتُ أنْ أضَعَ قدَمِي حيثُ وضَعَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قدَميه، وأنْ أقرأَ بما قرأَ به  ) 

2- عن نافع: (أنَّ عبدَ اللهِ بنَ عُمرَ كان يُسلِّم بين الركعةِ والركعتينِ في الوترِ؛ حتى يأمُرَ ببعضِ حاجتِه  ) 

3- عن ابنِ عبَّاس رَضِيَ اللهُ عنهما، قيل له: (هلْ لك في أميرِ المؤمنينَ معاويةَ ؛ ما أَوْتر إلَّا بواحدةٍ؟! قال: أصاب؛ إنَّه فقيهٌ!)  ، وفي رواية: (دعْه؛ فإنَّه قد صحِب النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم) 

4- عن عطاء بن يزيد أنه سمعَ أبا أيُّوبَ يقولُ: (الوترُ حقٌّ فمن أحبَّ أن يوترَ بخمسِ ركعاتٍ فليفعَلْ، ومن أحبَّ أن يوترَ بثلاثِ رَكَعاتٍ فليفعل، ومن أحبَّ أن يوترَ بواحدةٍ فليفعَلْ) 

المسألة الثَّانية: الوترُ بثلاثِ ركَعَاتٍ متصلةٍ بتشهُّدٍ واحدٍ

يجوزُ الوترُ بثلاثِ ركَعاتٍ متصلةٍ بتشهُّدٍ واحدٍ، وهذا مذهبُ الشافعيَّة ، والحَنابِلَة ، وبه قالت طائفةٌ من السَّلف ، واختارَه ابنُ تيميَّة ، وابنُ باز ، وابنُ عُثَيمين 

الأدلَّة:

أولًا: من السُّنَّة

عنِ ابنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عنهما، قال: ((كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُوتِرُ بثلاثٍ، يَقرأُ في الأولى بـسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى )) 

ثانيًا: من الآثار

1- عن أنسٍ رَضِيَ اللهُ عنه: (أنَّه صلَّى الوِترَ ثلاثَ ركعاتٍ، لم يسلِّمْ إلَّا في آخرِهنَّ). 

2- عن عطاء بن يزيد أنه سمعَ أبا أيُّوبَ يقولُ: (الوترُ حقٌّ فمن أحبَّ أن يوترَ بخمسِ ركعاتٍ فليفعَلْ، ومن أحبَّ أن يوترَ بثلاثِ رَكَعاتٍ فليفعل، ومن أحبَّ أن يوترَ بواحدةٍ فليفعَلْ) 

المَسألةُ الثالثة: الوترُ بثلاثِ رَكَعاتٍ متصلةٍ بتشهُّدَينِ 

لا يُشرَعُ الوترُ بثلاثِ ركَعاتٍ متصلَّةٍ بتشهُّدينِ كهيئةِ المغربِ، وهذا مذهبُ الحَنابِلَة ، ووجهٌ للشافعيَّة ، واختيارُ ابنِ باز ، وابنِ عُثَيمين 

الدَّليلُ مِنَ الآثار:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: (لا توتِروا بثَلاثِ رَكَعاتٍ فتَشبَّهوا بالمغرِبِ ، ولَكِن أوتِروا بخَمسٍ أو بسَبعٍ أو بتِسعٍ أو بإحدَى عَشرةَ). 

المسألةُ الرابعة: الوترُ بخمسٍ وبسَبْعٍ وبتِسعٍ 

يجوزُ الوترُ بخمسِ ركعاتٍ يَسرُدها فلا يجلسُ إلَّا في آخِرِها، وبسبعِ ركعاتٍ له أن يَسرُدَها فلا يجلسُ إلا في آخِرِها، وله أنْ يجلسَ في السادسةِ للتشهُّدِ، ثم يقومُ للسابعةِ، ويجلس للتشهُّد ثم يُسلِّم، وبتِسعٍ؛ يَسرُدُ ثمانيَ ركعاتٍ، ثم يجلسُ للثامنةِ، ثم يقومُ للتاسعةِ ويتشهَّدُ ويُسلِّمُ، وهذا مذهبُ الشافعيَّة ، ووجهٌ عند الحَنابِلَة ، واختيارُ ابنِ باز 

الأَدِلَّةُ مِنَ السُّنَّة:

1- عن عائشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، قالت: ((كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُصلِّي من الليلِ ثَلاثَ عَشرةَ ركعةً، يُوتِرُ من ذلك بخمسٍ، لا يجلسُ في شيءٍ إلَّا في آخِرِها )) 

2- عن سَعدِ بنِ هِشامِ بنِ عامرٍ، أنَّه قال لعائشةَ رَضِيَ اللهُ عنها: يا أمَّ المؤمنين، أَنبئِينى عن وِتْرِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فقالت: ((كنَّا نُعِدُّ له سواكَه وطَهورَه، فيبعثُه اللهُ ما شاءَ أنْ يبعثَه مِن اللَّيلِ، فيتسوَّك، ويتوضَّأ، ويُصلِّي تِسعَ ركعاتٍ لا يجلسُ فيها إلَّا في الثامنةِ، فيذكُرُ اللهَ ويَحمَدُه ويَدعوه، ثم يَنهَضُ ولا يُسلِّم، ثم يقومُ فيَصِلُ التاسعةَ، ثم يقعُد فيذكُرُ اللهَ ويَحمَدُه ويدعوه، ثم يُسلِّم تسليمًا يُسمِعُنا، ثم يُصلِّي ركعتينِ بعدَما يُسلِّمُ وهو قاعدٌ، فتِلك إحدى عشرةَ ركعةً يا بُنيَّ، فلمَّا أسنَّ نبيُّ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، وأخَذه اللحمُ أَوْترَ بسبعٍ، وصنَع في الركعتينِ مِثل صَنيعِه الأوَّل، فتلك تِسعٌ يا بُنيَّ )) 

3- عن مسروقٍ، قال: سألتُ عائشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، عن صلاةِ رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم باللَّيل؟ فقالت: ((سبعٌ، وتسعٌ، وإحدى عَشرةَ، سوى ركعتَيِ الفجرِ )) 

4- عن عائشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، قالت: ((لَمَّا أسَنَّ رَسولُ اللَّه صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وأخَذَ اللَّحْمَ صلَّى سَبْعَ ركَعاتٍ لا يَقْعُدُ إلَّا في آخرِهِنَّ  )) 

5- عن سَعدِ بنِ هِشامِ بنِ عامرٍ، قال: قُلتُ:(( يا أمَّ المؤمنينَ، أَنبئِيني عن وِتْرِ رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فقالت: كنَّا نُعِدُّ له سواكَه وطَهورَه، فيبعثُه اللهُ ما شاءَ أنْ يبعثَه مِن اللَّيلِ، فيتسوَّكُ ويتوضَّأُ، ويُصلِّي تِسعَ ركَعاتٍ لا يجلسُ فيها إلَّا في الثامنةِ، فيذكُرُ اللهَ ويَحمَدُه ويَدعوه، ثم يَنهَضُ ولا يُسلِّم، ثم يقومُ فيُصَلِّي التَّاسِعةَ، ثمَّ يقعُدُ فيذكُرُ اللهَ ويَحمَدُه ويدعوه، ثمَّ يُسلِّمُ تسليمًا يُسمِعُنا ...  فلمَّا أسنَّ نبيُّ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وأخَذه اللَّحمُ أوترَ بسَبعٍ ...)) 

6- عن عائِشةَ رَضِيَ اللهُ عنها: ((أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أوتَر بخمسٍ، وأوتَر بسبعٍ)). 

7 - عن أم سلمة رضي الله عنها قالت:(( كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يُوتِرُ بثلاثَ عشرةَ، فلمَّا كَبِرَ وضَعُفَ أوتَرَ بسبعٍ)). 

*Cabang keempat: Jumlah rakaat shalat witir*

*Masalah pertama: Witir satu rakaat.*

Witir satu rakaat yang terpisah dari sebelumnya diperbolehkan, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama: Maliki, Syafii, dan Hanbali, serta pendapat sekelompok ulama salaf.

Dalil:

1. Dari Ibnu Umar RA, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam, maka Rasulullah SAW bersabda: "Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, jika salah seorang di antara kamu khawatir subuh, maka shalat satu rakaat, itu menjadi witir baginya atas apa yang telah dia shalat."

2. Dari Ibnu Umar RA, bahwa Nabi SAW bersabda: "Witir itu satu rakaat di akhir malam."

3. Dari Aisyah RA, istri Nabi SAW, dia berkata: "Rasulullah SAW shalat antara selesai shalat isya hingga fajar sebanyak sebelas rakaat, beliau salam setiap dua rakaat, dan witir dengan satu rakaat."

*Masalah kedua: Witir tiga rakaat yang terhubung dengan satu tasyahud*

Witir tiga rakaat yang terhubung dengan satu tasyahud diperbolehkan, dan ini adalah pendapat Syafii dan Hanbali, serta pendapat sekelompok ulama salaf.

Dalil:

1. Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata: "Rasulullah SAW witir dengan tiga rakaat, beliau membaca pada rakaat pertama 'Sabbihisma Rabbika al-A'la'."

2. Dari Anas RA: "Beliau shalat witir tiga rakaat, tidak salam kecuali pada rakaat terakhir."

*Masalah ketiga: Witir tiga rakaat yang terhubung dengan dua tasyahud*

Tidak disyariatkan witir tiga rakaat yang terhubung dengan dua tasyahud seperti shalat maghrib, dan ini adalah pendapat Hanbali, serta pendapat Syafii.

Dalil:

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: "Janganlah kamu witir dengan tiga rakaat, sehingga kamu menyerupai shalat maghrib, tetapi witirlah dengan lima, tujuh, sembilan, atau sebelas rakaat."

*Masalah keempat: Witir lima, tujuh, dan sembilan rakaat*

Witir lima rakaat diperbolehkan, yaitu dengan cara terus-menerus tanpa duduk kecuali pada rakaat terakhir. Witir tujuh rakaat juga diperbolehkan, yaitu dengan cara terus-menerus tanpa duduk kecuali pada rakaat terakhir, atau duduk pada rakaat keenam untuk tasyahud, kemudian berdiri untuk rakaat ketujuh, dan duduk untuk tasyahud, kemudian salam. Witir sembilan rakaat juga diperbolehkan, yaitu dengan cara terus-menerus delapan rakaat, kemudian duduk pada rakaat kedelapan, kemudian berdiri untuk rakaat kesembilan, dan tasyahud, kemudian salam.

Dalil:

1. Dari Aisyah RA, dia berkata: "Rasulullah SAW shalat malam tiga belas rakaat, witir dengan lima rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat terakhir."

2. Dari Sa'd bin Hisyam bin Amir, bahwa dia bertanya kepada Aisyah RA tentang witir Rasulullah SAW, maka dia berkata: "Kami menyiapkan untuk beliau siwak dan air wudhu, maka Allah membangkitkan beliau pada waktu yang dikehendaki, maka beliau bersiwak, berwudhu, dan shalat sembilan rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan, kemudian beliau berdiri untuk rakaat kesembilan, kemudian duduk, dan tasyahud, kemudian salam." Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Senin, 09 Februari 2026

KAJIAN TENTANG MALAM JUM'AT ARWAH PULANG KE RUMAH


Dalam ajaran Islam, ruh orang mukmin memiliki keterkaitan yang erat dengan hal-hal duniawi. Meskipun ruh ini tidak pernah meninggalkan tempat peristirahatan abadi mereka, keterikatannya dengan hal-hal duniawi terasa lebih kuat pada sore hari Kamis hingga matahari terbit pada hari Sabtu. Oleh karenanya, di hari-hari tersebut orang-orang terbiasa melakukan ziarah ke kuburan untuk mengenang dan mendoakan orang-orang yang telah pergi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa arwah orang-orang beriman akan datang setiap malam Jumat ke langit dunia. Mereka berdiri di dekat rumah-rumah dan tempat tinggal mereka dahulu. Dengan penuh kesedihan, mereka berseru kepada keluarganya. 

Arwah-arwah itu melanjutkan seruannya dengan penuh penyesalan, "Dulu, kami pernah berada di dunia seperti kalian, menikmati kenikmatan yang kalian miliki sekarang. Tetapi sayangnya, kami tidak menggunakan kenikmatan itu dalam ketaatan kepada Allah, dan kami menahan diri dari memberikan kebaikan kepada yang berhak. Akhirnya, semua yang kami tahan itu menjadi beban bagi kami, manfaatnya pun beralih kepada orang lain, sedangkan kami harus mempertanggungjawabkannya. Wahai hamba-hamba Allah, dengarkanlah perkataan kami dan jangan lupakan kami. Semoga Allah mengasihi kalian, sebelum kalian mengalami nasib seperti kami." Baca Juga Rawat Tradisi, Ansor Karanganyar Kebumen Gelar Ziarah Wali   Keterangan ini tercatat dalam hadits yang populer dan ditulis dalam beberapa kitab. 

Penjelasan di atas mengandung pesan bahwa orang yang sudah meninggal sangat membutuhkan doa, sedekah, serta amal baik dari keluarga dan kerabat yang masih hidup. Mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk beramal, sehingga mereka hanya bisa berharap pada kebaikan dan doa dari orang yang masih hidup. Hadits ini mengingatkan kita agar selalu mengingat mereka yang telah tiada dengan cara yang bermanfaat, seperti mendoakan ampunan dan rahmat bagi mereka, serta beramal atas nama mereka. 

Dalam kitab Hidayatul Ahya’ Ila al-Amwat Wa Ma Yashilu Ilaihim Juz 1 Halaman 172 disebutkan,

ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﺇﻥ ﺃﺭﻭﺍﺡ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻳﺄﺗﻮﻥ ﻛﻞ ﺟﻤﻌﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﻘﻔﻮﻥ ﺑﺤﺬﺍﺀ ﺩﻭﺭﻫﻢ ﻭﺑﻴﻮﺗﻬﻢ ﻓﻴﻨﺎﺩﻱ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﺑﺼﻮﺕ ﺣﺰﻳﻦ: ﻳﺎ ﺃﻫﻠﻲ ﻭﻭﻟﺪﻱ ﻭﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ﻭﻗﺮﺍﺑﺎﺗﻲ، ﺍﻋﻄﻔﻮﺍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺸﻲﺀ، ﺭﺣﻤﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺍﺫﻛﺮﻭﻧﺎ ﻭﻻ ﺗﻨﺴﻮﻧﺎ، ﻭﺍﺭﺣﻤﻮﺍ ﻏﺮﺑﺘﻨﺎ، ﻭﻗﻠﺔ ﺣﻴﻠﺘﻨﺎ، ﻭﻣﺎ ﻧﺤﻦ ﻓﻴﻪ، ﻓﺈﻧﺎ ﻗﺪ ﺑﻘﻴﻨﺎ ﻓﻲ ﺳﺤﻴﻖ ﻭﺛﻴﻖ، ﻭﻏﻢ ﻃﻮﻳﻞ، ﻭﻭﻫﻦ ﺷﺪﻳﺪ، ﻓﺎﺭﺣﻤﻮﻧﺎ ﺭﺣﻤﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻻ ﺗﺒﺨﻠﻮﺍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺪﻋﺎﺀ ﺃﻭ ﺻﺪﻗﺔ ﺃﻭ ﺗﺴﺒﻴﺢ، ﻟﻌﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺮﺣﻨﺎ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻧﻮﺍ ﺃﻣﺜﺎﻟﻨﺎ، ﻓﻴﺎ ﺣﺴﺮﺗﺎﻩ ﻭﺍﻧﺪﺍﻣﺎﻩ ﻳﺎ ﻋﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ، ﺍﺳﻤﻌﻮﺍ ﻛﻼﻣﻨﺎ، ﻭﻻ ﺗﻨﺴﻮﻧﺎ، ﻓﺄﻧﺘﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﻥ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﻀﻮﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﻓﻲ ﺃﻳﺪﻳﻜﻢ ﻛﺎﻧﺖ ﻓﻲ ﺃﻳﺪﻳﻨﺎ، ﻭﻛﻨﺎ ﻟﻢ ﻧﻨﻔﻖ ﻓﻲ ﻃﺎﻋﺔ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻣﻨﻌﻨﺎﻫﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﻖ ﻓﺼﺎﺭ ﻭﺑﺎﻻً ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻭﻣﻨﻔﻌﺘﻪ ﻟﻐﻴﺮﻧﺎ، ﻭﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻭﺍﻟﻌﻘﺎﺏ ﻋﻠﻴﻨﺎ   

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya arwah orang-orang beriman akan datang setiap malam Jumat ke langit dunia, lalu mereka berdiri di dekat rumah-rumah dan tempat tinggal mereka. Maka masing-masing dari mereka berseru dengan suara yang sedih: “Wahai keluargaku, anak-anakku, penghuni rumahku, dan kerabatku, kasihanilah kami dengan sesuatu, semoga Allah Ta'ala merahmati kalian. Ingatlah kami dan jangan lupakan kami, sayangilah keterasingan kami, kelemahan kami, dan apa yang sedang kami alami. Sesungguhnya kami berada di dalam tempat yang sempit, dalam kegelapan yang pekat, dalam kesedihan yang panjang, dan dalam kesusahan yang besar.” Maka kasihanilah kami, semoga Allah merahmati kalian, dan janganlah kalian kikir untuk mendoakan kami, bersedekah, atau bertasbih. Semoga Allah merahmati kami sebelum kalian menjadi seperti kami. Betapa penyesalan dan kesedihan yang amat mendalam, wahai hamba-hamba Allah, dengarkanlah perkataan kami, dan janganlah kalian melupakan kami. Kalian tahu bahwa kenikmatan yang ada di tangan kalian dulu pernah berada di tangan kami, tetapi kami tidak menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah. Kami menghalangi (kenikmatan tersebut) dari kebenaran sehingga menjadi beban bagi kami dan manfaatnya berpindah kepada orang lain, sedangkan hisab (perhitungan) dan siksa menimpa kami,”

Keterangan yang sejalan dalam kitab Al-Bujairomi Ala al-Khatib Juz 2 ayat 301, ruh-ruh ini juga mengingatkan keluarga mereka tentang nikmat-nikmat yang pernah mereka miliki, yang saat ini berada di tangan orang yang masih hidup. Mereka menyesali ketika tidak menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Allah. Seruan ini mengandung harapan agar yang masih hidup mau mengingat dan mendoakan mereka, serta melakukan amal baik atas nama mereka.

(وَيُنْدَبُ زِيَارَةُ الْقُبُورِ) فَرْعٌ: رُوحُ الْمُؤْمِنِ لَهَا ارْتِبَاطٌ بِقَبْرِهِ لَا تُفَارِقُهُ أَبَدًا، لَكِنَّهَا أَشَدُّ ارْتِبَاطًا بِهِ مِنْ عَصْرِ الْخَمِيسِ إلَى شَمْسِ السَّبْتِ؛ وَلِذَلِكَ اعْتَادَ النَّاسُ الزِّيَارَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَفِي عَصْرِ يَوْمِ الْخَمِيسِ وَأَمَّا زِيَارَتُهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِشُهَدَاءَ أُحُدٍ يَوْمَ السَّبْتِ فَلِضِيقِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عَمَّا يُطْلَبُ فِيهِ مِنْ الْأَعْمَالِ مَعَ بُعْدِهِمْ عَنْ الْمَدِينَةِ. اهـ. ق ل عَلَى الْمَحَلِّيِّ وَقَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -إنَّ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِينَ يَأْتُونَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا وَيَقِفُونَ بِحِذَاءِ بُيُوتِهِمْ وَيُنَادِي كُلُّ وَاحِدٍ بِصَوْتٍ حَزِينٍ أَلْفَ مَرَّةٍ يَا أَهْلِي وَأَقَارِبِي وَوَلَدِي يَا مَنْ سَكَنُوا بُيُوتَنَا وَلَبِسُوا ثِيَابَنَا وَاقْتَسَمُوا أَمْوَالَنَا هَلْ مِنْكُم من احد يذكرنا ويفكرونا في غربتنا ونحن في سجن طويل وحصن شديد فارحمونا يرحمكم الله  

Ruh orang mukmin memiliki keterikatan dengan kuburnya dan tidak pernah meninggalkannya sama sekali. Namun, keterikatannya menjadi lebih kuat sejak Kamis sore hingga terbitnya matahari pada hari Sabtu. Oleh karena itu, orang-orang terbiasa berziarah pada hari Jumat atau Kamis sore. Adapun ziarah Rasulullah saw kepada para syuhada Uhud pada hari Sabtu, itu disebabkan karena kesibukan hari Jumat yang dipenuhi dengan amalan-amalan, serta karena jauhnya jarak mereka dari Madinah." Beliau bersabda: "Sesungguhnya ruh-ruh orang beriman datang setiap malam ke langit dunia dan berdiri di dekat rumah-rumah mereka. Setiap ruh berseru dengan suara yang penuh kesedihan sebanyak seribu kali: 'Wahai keluargaku, kerabatku, dan anak-anakku, wahai kalian yang tinggal di rumah kami, yang memakai pakaian kami, dan yang membagi-bagikan harta kami. Apakah di antara kalian ada yang mengingat dan memikirkan kami di dalam keterasingan kami ini, sementara kami berada dalam penjara yang panjang dan di dalam benteng yang kuat? Maka kasihanilah kami, semoga Allah merahmati kalian." Kesimpulannya, ajaran Islam mengajarkan bahwa ruh orang-orang beriman tetap memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan duniawi, khususnya dengan keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Keterikatan ini mencerminkan pentingnya menjaga hubungan spiritual dan emosional dengan orang yang telah meninggal. Ziarah kubur dan doa menjadi cara untuk menghormati mereka dan mengingat bahwa kehidupan ini sementara. Semoga dengan tindakan ini, kita dapat mengingat nasihat mereka untuk menggunakan setiap nikmat yang diberikan Allah dalam ketaatan, serta terus berdoa untuk mereka yang telah pergi.

Dalam kitab I’anatuth Thalibin Juz II ada kisah arwah yang datang kerumahnya di dunia menengok aktivitas keluarganya.

وورد أيضا أن ارواح المؤمنين تأتى فى كل ليلة الى سماء الدنيا وتقف بحذاء بيوتها وينادى كل واحد منها بصوت خزين يااهل واقاربى وولدى يامن سكنوابيوتنا ولبسوا ثيابنا واقتسموا اموالنا هل منكم من أحد يذكرنا ويتفكرنا فى غربتنا ونحن فى سجن طويل وحصن شديد فارحمونا يرحمكم الله. ولاتبخلوا علينا قبل أن تصيروا مثلنا ياعباد الله ان الفضل الذى فى ايديكم كان فى ايدينا وكنا لاتنفق منه فى سبيل الله وحسابه ووباله علينا والمنفعة لغيرنا فان لم تنصرف اى الارواح بشيئ فتنصرف بالحسرة والحرمان وورد أيضا عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال مالميت فى قبره إلاكالغريق المغوث ينتظر دعوة تلحقه من ابنه او اخيه اوصديق له فاذا لحقته كانت أحب اليه من الدنيا ومافيها.

Keterangan dari hadits bahwa arwah orang-orang mukmin datang pada tiap malam ke langit dunia, dan berhenti di jurusan rumah-rumahnya dan berseru-seru dengan suara yang mengharukan seribu kali “wahai keluargaku, sanak-saudara, dan anak-anakku, wahai kau yang mendiami rumah-rumahku, memakai pakaianku dan membagi-bagi hartaku. Apakah ada diantara kalian yang mengingat dan memikirkanku dalam pengasinganku ini dan aku berada dalam tahanan yang cukup lama dalam benteng yang kuat. Kasihanilah kami, maka Allah akan mengasihanimu. Janganlah kamu semua bakhil kepadaku sebelum kamu (berposisi) sepertiku.Wahai hamba-hamba Allah sesungguhnya apa yang kau miliki sekarang dulu juga (pernah) ku miliki, hanya saja dulu aku tidak membelanjakannya di jalan Allah, dimana pemeriksaannya dan bahayanya menimpaku sedang kegunaannya bermanfaat kepada  orang lain”. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Selasa, 27 Januari 2026

DOA UNTUK ANAK SHOLEHKU MUHAMMAD AMMAR AL-FAQIH

MILAD KE-5

اللهم احفظ إبني محمد عمار الفقيه واحرسه بعينك الذي لا تنام، واجعله من الصالحين البارين، وحفظة كتابك الكريم، وارزقه فرحة وسعادة لا تنتهي، وبارك له في عامه الجديد

اللهم اجعل ابني حسن الخلق والخلق، قوي الدين والبدن، سعيد الدنيا والاخرة، وقر عيني به، وارزقه الصحبة الصالحة

اللهم إني أستودعك عاما مضى من عمره، وعاما قادم، فبدل أقداره إلى أجملها، واجعله عام خير وفرح

حصنتك برب الفلق يا بني أن لا يقترب منك سوء، ولا يضرك مع اسمه شيء

اللهم ارزقه الحكمة، والعلم النافع، وأعني على تربيته على ما يرضيك

يا رب، أسعد قلبه، وأبعد عنه الحزن، واجعله سنداً لي في الحياة

اللهم بارك لي فيه، ولا تريني فيه بأساً يبكيني، فإنه قطعة من روحي

Ya Allah, lindungilah anakku Muhammad Ammar Al-Faqih dan jagalah dia dengan penjagaan-Mu yang tidak pernah tidur. Jadikanlah dia termasuk orang-orang yang shalih dan berbakti, serta penghafal Kitab-Mu yang mulia. Berikanlah dia kebahagiaan dan kesenangan yang tidak pernah berakhir, dan berkahilah dia di tahun barunya.

Ya Allah, jadikanlah anakku memiliki akhlak dan perilaku yang baik, kuat dalam agama dan fisik, bahagia di dunia dan akhirat, dan jadikanlah dia penyejuk hatiku. Berikanlah dia teman-teman yang baik.

Ya Allah, aku titipkan tahun yang telah berlalu dari umurnya dan tahun yang akan datang kepada-Mu. Ubahlah takdirnya menjadi yang lebih baik, dan jadikanlah tahun ini tahun kebaikan dan kebahagiaan.

Aku lindungkan kamu dengan Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, wahai anakku, agar tidak ada keburukan yang mendekatimu, dan tidak ada yang dapat membahayakanmu dengan nama-Nya.

Ya Allah, berikanlah anakku hikmah dan ilmu yang bermanfaat, dan bantulah aku untuk mendidiknya sesuai dengan apa yang Engkau ridhai.

Ya Rabb, jadikanlah hatinya bahagia, jauhkanlah kesedihan darinya, dan jadikanlah dia sebagai sandaran bagiku dalam kehidupan.

Ya Allah, berkahilah aku dengan anakku, dan janganlah Engkau perlihatkan kepadaku sesuatu yang menyakitkan darinya, karena dia adalah bagian dari jiwaku.

Sabtu, 24 Januari 2026

KAJIAN TENTANG JENAZAH YANG MANDI SENDIRI, BENARKAH?

Diberanda sy lewat sebuah video pendek seorang habib yg menjelaskan terkait jenazah yg bisa memandikan dirinya sendiri (mandi sendiri) ada dua ulama berbeda pendapat dalam penjelasannya konon jika dia mengutip perkataan Imam Romli dalam kitabnya adalah diperbolehkan.

Melalui penelusuran sy dapatkan jawaban bahwa perbedaan pendapat Imam Romli tersebut bukan kebolehan jenazah mandi sendiri tetapi jika ada jin yg memandikan jenazah menurut Imam Ibnu Hajar (Al-Haitami) tidak cukup (tidak boleh) dan menurut Imam Romli adalah cukup (boleh)

واختلف في تغسيل الجن، فذهب ابن حجر إلى عدم الاكتفاء بتغسيلهم

"Ulama berbeda pendapat tentang jika yang memandikan itu jin, maka Ibnu Hajar berpendapat bahwa tidak cukup dengan memandikan mereka. Sedangkan Ramli berpendapat bahwa itu sudah cukup." ((I'anah Ath-Thalibin juz 2 hal. 124)

Hukum memandikan jenazah adalah Fardhu Kifayah. Jika kita melihat ada jenazah yang dimandikan oleh malaikat maka itu tidak mencukupi dan harus diulang mandinya karena yang diperintahkan adalah kita. Sedangkan jika yang memandikan jenazah adalah jin maka terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar yang berpendapat tidak mencukupi , sedangkan menurut Imam Romli sudah mencukupi.

Menurut Ibnu Qosim jika ada jenazah yang mandi sendiri sebab karomahnya maka sudah mencukupi, tidak bisa dikatakan bahwa yang diperintah dengan wajibnya memandikan adalah selain jenazahnya karena boleh saja bahwa perintah tersebut karena jenazahnya tidak mampu mandi sendiri, maka jika jenazahnya bisa mandi sendiri sebab karomahnya maka itu sudah mencukupi.

(قوله: وإن شاهدنا الملائكة تغسله) غاية لمفهوم ما قبله، أي فلا يسقط عنا الطلب بفعل غيرنا، وإن شاهدنا الملائكة تغسله فلا بد من إعادة غسله.

قال سم: وينبغي في صلاة الملائكة ما قيل في غسلهم إياه، بخلاف التكفين والدفن، فيجزئ من الملائكة. قال: وظاهر أن الحمل كالدفن، بل أولى كما هو ظاهر. اه.

وإنما اكتفى بذلك منهم لأن المقصود الستر والمواراة، وقد حصلا. بخلاف الغسل والصلاة، فإن المقصود منهما التعبد بفعلنا مع النظافة في الغسل. واختلف في تغسيل الجن، فذهب ابن حجر إلى عدم الاكتفاء بتغسيلهم. وذهب الرملي إلى الاكتفاء بذلك.

قال سم: (فرع) لو غسل الميت نفسه كرامة، فهل يكفي؟ لا يبعد أن يكفي. ولا يقال المخاطب بالفرض غيره، لجواز أنه إنما خوطب بذلك غيره لعجزه، فإذا أتى به كرامة كفى. (إعانة الطالبين ج ٢ ص ١٢٤)

"(Perkataanya: Dan jika kita melihat malaikat memandikannya) adalah batasan untuk makna sebelumnya, yaitu tidak gugur kewajiban kita dengan perbuatan orang lain, meskipun kita melihat malaikat memandikannya, tetap harus dimandikan lagi.

Syaikh Sam berkata: Dan dalam shalat malaikat, berlaku apa yang dikatakan tentang memandikan mereka, berbeda dengan mengkafani dan mengkubur, maka itu sudah cukup jika dilakukan oleh malaikat.

Dia berkata: Dan yang jelas, membawa mayit ke kubur seperti mengkubur, bahkan lebih utama.

Dan dia hanya mencukupkan diri dengan itu dari mereka karena tujuan adalah menutupi dan menyembunyikan, dan itu telah tercapai. Berbeda dengan mandi dan shalat, karena tujuan dari keduanya adalah ibadah dengan melakukan kita sendiri beserta kebersihan dalam mandi.

Ulama berbeda pendapat tentang jika yang memandikan itu jin, maka Ibnu Hajar berpendapat bahwa tidak cukup dengan memandikan mereka. Sedangkan Ramli berpendapat bahwa itu sudah cukup.

Syaikh Sam berkata: (Cabang) Jika mayit memandikan dirinya sendiri sebagai karamah, apakah itu cukup? Tidak jauh bahwa itu cukup. Dan tidak dikatakan bahwa yang diperintahkan dengan kewajiban adalah orang lain, karena boleh jadi dia hanya diperintahkan dengan itu karena ketidakmampuannya, maka jika dia melakukannya sebagai karamah, itu sudah cukup." (I'anah Ath-Thalibin juz 2 hal. 124)

قال سم : (فرع) لو غسل الميت نفسه كرامة، فهل يكفي؟ لا يبعد أن يكفي. ولا يقال المخاطب بالفرض غيره، لجواز أنه إنما خوطب بذلك غيره لعجزه، فإذا أتى به كرامة كفى. (نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ج 2 ص 444)

"Syaikh Sam berkata: (Cabang) Jika mayit memandikan dirinya sendiri sebagai karamah, apakah itu cukup? Tidak jauh bahwa itu cukup. Dan tidak dikatakan bahwa yang diperintahkan dengan kewajiban adalah orang lain, karena boleh jadi dia hanya diperintahkan dengan itu karena ketidakmampuannya, maka jika dia melakukannya sebagai karamah, itu sudah cukup." (Nihayah Al-Muhtaj Ila Syarh Al-Minhaj juz 2 hal.444) Wallahu 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG HUKUM DAN BATASAN MENCINTAI YAHUDI (DAN NON-MUSLIM LAINNYA)

Dalam sebuah penggalan video yg lewat di beranda FB Habib Ali Al-Jufri mengatakan mencintai yahudi adalah jalan sufi, sepertinya beliau sedang menjawab satu pertanyaan sebagaimana beliau ucapkan, 

أأذا قال تحب اليهود, قال : نعم, مرة أخرى... مرة أخرى... انا احب اليهود واكرم اختلال المختل منهم

"Apakah kamu mengatakan, kamu mencintai orang Yahudi? Dia menjawab: Ya, sekali lagi...sekali lagi... saya mencintai orang Yahudi dan saya menghormati orang yang sakit di antara mereka."

Bagaimana pandangan Islam batasan mencintai yahudi (dan non-muslim secara umum)?

Dalam pandangan Islam, batasan mencintai Yahudi (dan non-muslim secara umum) berkaitan erat dengan prinsip Al-Wala' (loyalitas/kecintaan) dan Al-Bara' (berlepas diri). 

Islam membedakan antara interaksi sosial (muamalah) yang baik dengan loyalitas akidah. Berikut adalah rincian batasan kebolehannya:

*1. Batasan dalam Interaksi Sosial (yang dibolehkan)*

Islam membolehkan (bahkan mendorong) seorang Muslim untuk berbuat baik, bersikap adil, dan bergaul dengan non-muslim, termasuk Yahudi, selama mereka tidak memerangi umat Islam. 

a. Berbuat Adil dan Berbuat Baik: 

Muslim diperbolehkan berlaku adil, bersikap baik, dan membantu mereka dalam urusan keduniawian.

b. Hidup Berdampingan (Koeksistensi): 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berteman baik dengan seorang Yahudi (contoh: Muhairik) dan bertetangga dengan mereka.

c. Hubungan Sosial: 

Diperbolehkan menjalin hubungan sosial, seperti teman sepekerjaan, selama menjaga kehormatan dan tidak merugikan. 

*2. Batasan dalam Loyalitas/Kecintaan (yang dilarang)*

Islam melarang menjadikan mereka sebagai auliyaa (teman setia/pemimpin/pelindung) yang diiringi dengan loyalitas penuh pada keyakinan atau ketaatan yang merugikan Islam. 

a. Loyalitas Akidah: 

Tidak boleh mencintai/menjadikan mereka teman setia yang loyalitasnya melebihi loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya, terutama jika mereka memerangi Islam.

b. Tasyabbuh (Menyerupai): 

Dilarang meniru gaya hidup atau perilaku khusus mereka yang bertentangan dengan syariat, karena dapat merusak keimanan.

c. Mengutamakan Mereka: 

Dilarang mengutamakan kepentingan mereka di atas kepentingan sesama muslim. 

Sementara dengan sangat jelas Allah Ta'ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Maidah : 51)

Asbabun nuzul ayat diatas berkenaan dengan Ubadah bin Al-Samit memegang teguh keimannya yang berlindung hanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ubadah bin Al-Samit adalah sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam terkemuka dari kaum Anshar, seorang pemimpin, peserta Baiat Aqabah, panglima perang, dan hakim pertama di Palestina yang dikenal karena keteguhan iman, keilmuan Al-Qur'an, dan keberaniannya dalam banyak peperangan, serta dihormati sebagai salah satu perawi hadits terpercaya. 

12156 - حدثنا أبو كريب قال، حدثنا ابن إدريس قال، سمعت أبي، عن عطية بن سعد قال: جاء عبادة بن الصامت من بني الحارث بن الخزرج، إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إن لي موالي من يهود كثيرٌ عدَدُهم، وإني أبرأ إلى الله ورسوله من وَلاية يهود، وأتولَّى الله ورسوله. فقال عبد الله بن أبي: إنّي رجل أخاف الدَّوائر، لا أبرأ من ولاية مواليّ. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعبد الله ابن أبيّ: يا أبا الحباب، ما بخلتَ به من ولاية يهود على عبادة بن الصامت فهو إليك دونه؟ (1) قال: قد قبلتُ. فأنـزل الله: " يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضُهم أولياء بعض " إلى قوله: فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ .

12156 - Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, dia berkata: Aku mendengar dari ayahku, dari 'Athiyah bin Sa'ad, dia berkata: Ubadah bin Al-Samit dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak sekutu dari orang Yahudi, dan aku melepaskan diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari perwalian (perlindungan) Yahudi, dan aku berwala' (berlindung) kepada Allah dan Rasul-Nya.

Abdullah bin Ubay berkata: Aku adalah orang yang takut akan perubahan keadaan, aku tidak melepaskan diri dari perwalian (perlindungan) sekutuku.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Abdullah bin Ubay: Wahai Abu Al-Hubab, apakah kamu tidak memberikan perwalian Yahudi kepada Ubadah bin Al-Samit? Abdullah bin Ubay berkata: Aku menerimanya.

Maka Allah menurunkan ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." sampai ayat "Maka kamu melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya..." (Tafsir Ath-Thabari)

Abdulloh bin Ubay dalam riwayat hadits diatas adalah Abdullah bin Ubay bin Salul (pemimpin kaum munafik Madinah), yang sering disalahartikan sebagai Abdullah bin Ubay bin Ka'ab (sahabat utama penghafal Al-Qur'an), padahal keduanya adalah orang yang sangat berbeda, di mana yang satu adalah musuh dalam selubung (munafik) dan yang lainnya adalah salah satu sahabat terdekat dan ahli Al-Qur'an yang bernama lengkap Ubay bin Ka'ab bin Qays Al-Khazraji Al-Anshari. 

Jadi, Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik Madinah) dan Abdullah bin Ubay bin Ka'ab (tokoh penghafal Al-Qur'an adalah nama tokoh berbeda di zaman Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG PERINGATAN HAUL DAN DALILNYA (By Request)

*Definisi haul*

Haul berasal dari Bahasa Arab “Al-Haulu” ) الحول ) atau “Al-Haulaini”( الحولين ) artinya kekuatan, kekuasaan, daya, upaya, perubahan, perpindahan, setahun, dua tahun, pemisah, dan sekitar. ‎Sedang haul dalam arti dalam satu tahun, dapat ditemukan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits, yaitu:

a) Surat Al Baqarah: 240, berbentuk mufrad, dalam arti satu tahun dalam arti satu tahun untuk kasus perceraian, yaitu:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (البقره :240)

"Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya (yaitu) diberi nafkah hingga satu tahun lamanya." (QS. Al-Baqarah: 240)

b) Al-Hadits berbentuk mufrad dalam kasus zakat, yaitu:

لَا زَكاتَ فى الما ل المستفادِ حَتَّى يحُولَ عليه الحولُ… .رواه الترمذي

"Tidak wajib zakat terhadap harta yang belum haul (berumur satu tahun)." (HR. At-Turmudzi)

Kemudian kata haul tersebut berkembang menjadi istilah Bahasa Indonesia, yang lazim di pakai komunitas masyarakat muslim di indonesia, dan dari istilah indonesia inilah, katahaul memiliki dua pengertian, yaitu:

1) Haul berarti berlakunya waktu dua belas bulan, tahun Hijriyyah terhadap harta yang wajib dizakati di tangan pemilik (Muzzaki) ‎arti ini berkaitan erat dengan masalah zakat.

2) Haul berati upacara peringatan mengenang satu tahun dan seterusnya wafatnya seseorang (terutama tokoh agama islam), dengan berbagai acara, yang puncaknya menziarahi kubur almarhum atau almarhumah Secara kultural, “haul” ialah peringatan hari kematian seorang tokoh masyarakat, seperti syaikh, wali, sunan, kiai, ulama, orang tua, keluarga dan lain-lain yang diadakan setahun sekali bertepatan dengan tanggal wafatnya. Untuk mengenang jasa-jasa, karomah, akhlaq, dan keutamaan mereka.

Dari dua pengetian tersebut, yang akan diuraikan dalam tulisan ini hanya yang menyangkut pengertian yang kedua, yaitu yang berhubungan dengan peringatan genap satu tahun dari wafatnya almarhum atau almarhumah, sebab haul dengan arti: “Peringatan genap satu tahun”,sudah berlaku bagi keluarga siapa saja, tidak terbatas bagi orang orang yang ada di Indonesia saja, tetapi berlaku pula bagi komunitas masyarakat atau negara lainnya, sekalipun bukan muslim.‎

*Tujuan Diadakannya Peringatan Haul*

Peringatan haul ini diadakan karena adanya tujuan yang penting yaitu mengenang jasa dan hasil perjuangan para tokoh terhadap tanah air, bangsa serta umat dan kemajuan agama Allah, atau mengenang jasa orang tua dan keluarga seperti peringatan haul wali songo, ulama besar, orang tua dan lainnya, untuk dijadikan suri tauladan oleh generasi penerus yang biasanya disisi dengan pengajian,  lantunan kalimah-kalimah thoyyibah seperti bacaan surat Yaasiin, surat-surat pendek, dzikir tahlil serta doa dan istighfar (memohonkan ampunan) buat yang telah meninggal.

Sebagaimana perintah Allah dalam firman-Nya,

وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

"Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr : 10)

وما أحسن ما استنبط الإمام مالك من هذه الآية الكريمة : أن الرافضي الذي يسب الصحابة ليس له في مال الفيء نصيب لعدم اتصافه بما مدح الله به هؤلاء في قولهم : ( ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم )

"Dan betapa baiknya apa yang disimpulkan oleh Imam Malik dari ayat yang mulia ini: bahwa orang Rafidhah yang mencela sahabat-sahabat (nabi) tidak berhak mendapatkan bagian dari harta fai' (rampasan perang) karena (Rafidhah) tidak memiliki sifat yang dipuji oleh Allah dalam firman-Nya: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallaha 'anha,

وقال إسماعيل بن علية ، عن عبد الملك بن عمير ، عن مسروق ، عن عائشة قالت : أمرتم بالاستغفار لأصحاب محمد - صلى الله عليه وسلم - فسببتموهم . سمعت نبيكم - صلى الله عليه وسلم - يقول : " لا تذهب هذه الأمة حتى يلعن آخرها أولها " . رواه البغوي

"Dari Ismail bin Aliyah, dari Abdul Malik bin Umair, dari Masruq, dari Aisyah, dia berkata: Kamu diperintahkan untuk memohon ampun bagi sahabat-sahabat Muhammad SAW, tetapi kamu malah mencela mereka. Aku mendengar Nabi kalian SAW bersabda: "Umat ini tidak akan binasa sampai generasi terakhir mereka melaknat generasi pertama mereka." (HR. Al-Baghawi) (Tafsir Ibnu Katsir)

*Rangkaian Kegiatan yang dilaksanakan dalam Acara Haul*

a. Ziarah ke makam sang tokoh dan membaca dzikir, tahlil, kalimah thayyibah serta membaca Al-Qur’an secara berjama’ah dan do’a bersama di makam;

وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” (QS Ar-Ra’d: 24) “Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Lanjutan riwayat:

ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ

Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”

b. Diadakan doa dan istighfar bersama yang diisi bacaan kalimah-kalimah thoyyibah, majlis ta’lim, mau’idzoh hasanah, pernbacaan biografi sang tokoh/manaqib seorang wali/ulama atau orang tua dan keluarga

ما الْمَيّتُ في القَبْرِ إلاّ كالْغَرِيْق الْمُتَغَوِّثِ يَنتَظِرُ دَعْوَةً تَلحَقُه مِن أبٍ أوْ أُمٍّ أوْ أخٍ أوْ صَدِيقٍ فإذا لَحِقَتْه كانَتْ أحَبَّ إليه مِن الدُّنيا ومَا فيها وإنَّ اللهَ عزّ وجلّ لَيُدخِلُ على أهْلِ القُبُورِ مِن دُعاءِ أهْلِ الأَرْضِ أمْثَالَ الجِبالِ وإنَّ هَديَّةَ الأَحْيَاءِ إلى الأَمْوَاتِ الاِسْتِغفارُ لهم  

"Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak, dan kawan yang tepercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia berikut segala isinya. Dan sesungguhnya Allah menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka." (HR. Ad-Dailami)

c. Dihidangkan sekedar makanan dan minuman dengan niat selamatan/shodaqoh ‘anil mayit.

وَعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ: تَصَدَّقُوْا عَلَى اَنْفُسِكُمْ وَعَلَى اَمْوَاتِكُمْ وَلَوْ بِشُرْبَةِ مَاءٍ فَاِنْ لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَى ذَالِكَ فَبِأَيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَاِنْ لَمْ تَعْلَمُوْا شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ فَادْعُوْا لَهُمْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ فَاِنَّ اللهَ وَعَدَكُمُ اْلاِجَابَةِ.

"Sabda Nabi SAW: Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan untuk orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya seteguk air. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat kitab suci Allah (Al-Qur’an), jika kalian tidak mengerti sesuatu dari Al-Qur’an maka berdoalah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, Allh telah berjanji akan mengabulkan doa kalian." (HR. An-Nasa'i)

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*