MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 01 Juni 2026

KAJIAN TENTANG HUKUM MEYAKINI KEHAMILAN HANYA MELALUI MIMPI

Kehamilan hanya dapat terjadi secara medis melalui proses pembuahan sel telur oleh sperma. Jika seseorang mengaku hamil atau melahirkan akibat mimpi, ini bukanlah kejadian biologis yang sah melainkan seringkali merupakan upaya menutupi kasus kekerasan seksual atau pelecehan.

Secara medis dan hukum, klaim semacam itu tidak terbukti. Sebagai contoh, kasus viral seorang santriwati di Kabupaten Pekalongan yang mengaku "hamil lewat mimpi" terungkap sebagai korban kekerasan seksual oleh pimpinan pondok pesantren (oknum kyai). 

Para ulama menjelaskan bahwa hukum menafsirkan mimpi pada asalnya boleh. Dan tafsir mimpi ini sudah ada dari dahulu. Nabi Yusuf pernah menafsirkan mimpi dua orang yang bersama dengannya di penjara (lihat surat Yusuf ayat 36 – 49). Begitu pula dahulu ada di antara ulama salaf yang terkenal bisa menafsirkan mimpi; seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dari kalangan sahabat dan Muhammad bin Sirin dari kalangan tabi’in.

Abdullah bin Abbas pernah meriwayatkan bahwasanya seorang laki-laki pernah mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan mimpinya kepada beliau. Abu Bakar pun meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menafsirkan mimpi tersebut, dan beliau pun mengizinkannya. Setelah Abu Bakar menafsirkan mimpi tersebut beliau berkata,

“Ya Rasulullah, apakah tafsiranku benar atau salah?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “sebagian benar dan sebagian lagi salah.” (HR. Bukhari, 7046).

Ketahuilah bahwa mimpi-mimpi yang kita alami memiliki sumber dan faktor yang berbeda-beda, hal ini bisa kita lihat dari sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,

الرُّؤْيا ثَلاثٌ، فَرُؤْيا حَقٌّ، ورُؤْيا يُحَدِّثُ بِها الرَّجُلُ نَفْسَهُ، ورُؤْيا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطانِ فَمَن رَأى ما يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ

“Mimpi itu ada tiga: mimpi yang benar, mimpi karena seseorang menginginkan sesuatu, mimpi kesedihan yang datang dari setan. Maka siapa yang bermimpi buruk hendaklah dia bangun lalu mengerjakan sholat.” (HR. Tirmidzi, 2280).

Dalam riwayat yang lain, lebih jelas lagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إن الرؤيا ثلاث: منها أهاويل من الشيطان ليحزن بها ابن آدم، ومنها ما يهم به الرجل في يقظته، فيراه في منامه، ومنها جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة

“Sesungguhnya mimpi itu ada tiga: Mimpi buruk dari setan untuk membuat sedih manusia, mimpi disebabkan seseorang sangat menginginkan sesuatu ketika sadarnya, dan mimpi yang merupakan bagian dari 46 tanda kenabian.” (HR. Ibnu Majah, 3907).

Jadi, berdasarkan hadits tersebut, mimpi ada tiga jenis:

1. Mimpi buruk yang berisi ketakutan dan kesedihan. 

2. Mimpi ini datang dari setan.

3. Mimpi karena keinginan belum terpenuhi.

Mimpi baik yang datang dari Allah Ta'ala. Mimpi ini merupakan kabar gembira yang merupakan salah satu keistimewaan yang diberikan kepada para Nabi.

Mimpi Jadi Kenyataan. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا اقْتَرَبَ الزَّمانُ لَمْ تَكَدْ تَكْذِبُ رُؤْيا المُؤْمِنِ، ورُؤْيا المُؤْمِنِ جُزْءٌ مِن سِتَّةٍ وأرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Apabila waktu kiamat sudah mendekat, kebanyakan mimpi seorang mukmin tidak pernah salah (menjadi kenyataan). Mimpi seorang mukmin itu adalah salah satu dari tanda kenabian.” (HR. Bukhari, 7017).

Bukan berarti ketika seorang bermimpi lalu menjadi kenyataan, serta merta dia menjadi seorang nabi, karena tidak ada lagi nabi setelah nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun, maksudnya adalah mimpi yang benar tersebut adalah salah satu ilmu yang Allah berikan kepada para nabi, dan juga menjadi kabar gembira bagi orang yang beriman. (Lihat Ma’alim Sunan, 4/139).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إن الرسالة والنبوة قد انقطعت فلا رسول بعدي ولا نبي. قال: فشق ذلك على الناس فقال: «لكن المبشرات». قالوا: يا رسول الله وما المبشرات؟ قال: «رؤيا المسلم، وهي جزء من أجزاء النبوة»

“Sesungguhnya risalah kenabian telah terputus, tidak ada lagi nabi dan rasul sepeninggalku”. Maka para sahabat pun merasa berat karena hal tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda: “Tetapi masih ada mubasyirat (kabar-kabar gembira)”. Para sahabat bertanya: ya rasulullah berupa apa mubasyirat tersebut?. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “mimpi seorang muslim, dan itu merupakan salah satu tanda kenabian” (HR. Tirmidzi, 2272).

*Etika Ketika Bermimpi*

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan umat beliau sebuah sikap ketika seorang muslim mengalami mimpi baik begitu pula mimpi buruk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رَأى أحَدُكُمْ رُؤْيا يُحِبُّها، فَإنَّما هِيَ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَلَيْها ولْيُحَدِّثْ بِها، وإذا رَأى غَيْرَ ذَلِكَ مِمّا يَكْرَهُ، فَإنَّما هِيَ مِنَ الشَّيْطانِ، فَلْيَسْتَعِذْ مِن شَرِّها، ولاَ يَذْكُرْها لِأحَدٍ، فَإنَّها لاَ تَضُرُّهُ

“Apabila salah satu dari kalian bermimpi baik, maka itu dari Allah. Hendaknya dia memuji Allah dan silahkan ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Namun, jika dia bermimpi buruk, maka itu datangnya dari setan, hendaklah dia berlindung kepada Allah dari keburukannya (ta’awwudz), dan jangan dia ceritakan kepada orang lain, karena mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (HR. Bukhari, 6985).

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

الرُّؤْيا الصّالِحَةُ مِنَ اللهِ، والرُّؤْيا السَّوْءُ مِنَ الشَّيْطانِ، فَمَن رَأى رُؤْيا فَكَرِهَ مِنها شَيْئًا فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسارِهِ، ولْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ، لا تَضُرُّهُ ولا يُخْبِرْ بِها أحَدًا، فَإنْ رَأى رُؤْيا حَسَنَةً، فَلْيُبْشِرْ ولا يُخْبِرْ إلّا مَن يُحِبُّ

“Mimpi yang baik datangnya dari Allah Ta'ala, sedangkan mimpi buruk datangnya dari setan. Maka siapa yang bermimpi buruk hendaklah dia meniup (dengan sedikit ludah) ke sebelah kirinya sembari berta’wwudz (berlindung) kepada Allah dari gangguan setan, mimpi itu tidak akan memudharatkannya, dan jangan dia ceritakan kepada orang lain. Dan jika dia bermimpi baik, maka hendaklah dia bergembira, dan menceritakan kepada orang yang suka dengan mimpinya.” (HR. Muslim, 2261).

Singkatnya, mempercayai dan meyakini kebenaran mimpi, sebagaimana meyakini dan mengimani kehamilan seirang santri di Pekalongan (seperti kehamilan Maryam yang melahirkan Nabi Isa 'alaihissalam hanya melalui mimpi) secara mutlak dan tidak masuk akal adalah suatu kesalahan fatal. Dalam Islam, mimpi diklasifikasikan menjadi tiga: petunjuk dari Allah (benar), gangguan setan (buruk atau menakutkan), dan bunga tidur/ilusi pikiran. Mimpi yang tidak logis dan acak umumnya tidak memiliki arti dan tidak boleh dijadikan landasan hukum termasuk diantaranya adalah dongeng khurafat hasil mimpi yang konon mimpinya waliyullah tidak harus dipercayai apalagi diimani kebenarannya jika menyalahi syareat agama dan akal sehat. Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar