MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 29 Juni 2026

KAJIAN TENTANG SYAFAAT WALI MENYAMAI SYAFAAT NABI MUHAMMAD SAW, BENARKAH?



Dalam ajaran Islam, seorang wali atau orang saleh tidak bisa memberikan syafaat (pertolongan di akhirat) kepada orang non-muslim. Syafaat di akhirat hanya berlaku bagi mereka yang meninggal dalam keadaan beriman dan bertauhid (mengesakan Allah). Syafaat sepenuhnya adalah milik Allah dan hanya diberikan kepada orang-orang yang diridai-Nya. Para nabi, wali, atau syuhada hanya bisa memberikan syafaat jika telah diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Syafaat terbesar di akhirat (syafa'atul 'uzma) adalah milik Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diberikan untuk memberikan keringanan dan pertolongan, namun tetap dikhususkan bagi umatnya yang beriman dan pelaku dosa besar yang belum sempat bertaubat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْـوَةٌ مُسْـتَجَابَةٌ فَتَعَجَّـلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَـهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْـوَتِى شَــفَاعَةً لأُمَّـتِى يَوْمَ الْقِيَـامَـةِ فَهِىَ نَائـِلَةٌ إِنْ شَـاءَ اللَّهُ مَنْ مَـاتَ مِنْ أُمَّـتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajabah, maka setiap Nabi doanya dikabulkan segera, sedangkan saya menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat. Syafaat itu insya Allah diperoleh umatku yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”. (HR. Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) 

Namun anehnya ada saja pengakuan bahwa syafaat seorang wali bisa mengeluarkan penduduk Tarim dari neraka, baik yang beriman maupun yang kafirnya, sehingga dalam kitab Ash-Shufiyah fi Hadhramaut ini sebagai bentuk kritikan kepada kitab karya ba'alawi, adapun teksnya sebagai berikut,

وقال شيخ بن عبد الله العيدروس: «وروى عن الشيخ إبراهيم ابن الشيخ عبد الرحمن رحمه الله ونفع به، قال: قال لي الشيخ الجليل والقدوة الشهير أبو بكر بن الشيخ عبد الرحمن رحمه الله، ونفع بهم: أشهد عني أن والذي أعطى على الأولياء من الشفاعة مثل ما أعطى منها محمداً ﷺ على الأنبياء صلوات الله عليهم أجمعين؛ فإنه أخرج من النار كل من دخلها من أهل تريم ذلك كشفاً منه...». (٢)

وهذا النص فيه رفع منزلة أوليائهم في الشفاعة وجعلها في منزلة النبي ﷺ، وكذا رفع منزلة أوليائهم على بقية أولياء الصوفية وغيرهم، ودعوى التصرف في أمور الآخرة، حيث يزعمون - أن أولياءهم يخرجون من النار جميع أهل تريم مؤمنهم وكافرهم، الموحد منهم والمشرك، هكذا بلغ بهم الغلو والانحراف عن دين الله جل وعلا، ولا حول ولا قوة إلا بالله.

وكذا جعلوا شفاعة أوليائهم يوم القيامة لمحبيهم، وهذه دعوة منهم لمحبة أوليائهم على ما عندهم من الانحراف، وترويج هذه الفضيلة عند الناس للتعلق بهم، لينالوا هذه الشفاعة المزعومة، فقد جاء في مناقب محمد بن أحمد المعروف بمقدم تربة قسم أن جمل الليل قال: «لما مات محمد بن أحمد ارتفع عن تربته العذاب وأنه يشفع لجميع أهل محبته...». (٣)

ومن انحرافاتهم دعوى أن مشايخهم تتعدى للقبائل الحضرمية، جاء في كتاب شرح العينية: «وقال الشيخ الجليل الفقيه محمد أبي بكر عباد: الذي يغلب على الظن أن الشيخ محمد بن علي يشفع حتى في تهد (١) (٢).

قال عبد الله باسودان في كلام له في شرح الواسطة الشركية التي اعتمدتها صوفية حضرموت: «كما قال سيدنا الشيخ عبد الله الحداد صاحب الراتب - قدس الله روحه - أن الولي يكون اعتناؤه بقريبه واللائذين به بعد موته أقوى من اعتنائه بهم في حياته؛ لأنه مشغول بالتكاليف وبعد موته طرح عنه الأعباء وتجرد.. انتهى.

وذلك: لأن الله تعالى متولي أمر الولي في الدنيا والآخرة، بل قد يتوجه بعض من له حاجة إلى الولي من نحو شفاعة في جلب نفع أو دفع مكروه وضر من كل الأغراض الدنيوية والأخروية، فيعلم الله المتوجه إليه، ويأذن له في إيصال مطلوبه إليه، فيكون الله سبحانه هو الفاعل لذلك والولي واسطة وآلة». (٣)

Dan Syaikh bin Abdullah Al-Idrus berkata: "Dan diriwayatkan dari Asy-Syaikh Ibrahim bin Asy-Syaikh Abdurrahman (semoga Allah merahmatinya dan memberi manfaat dengannya), dia berkata: Berkata kepadaku Asy-Syaikh yang mulia dan qudwah yang masyhur Abu Bakar bin Asy-Syaikh Abdurrahman (semoga Allah merahmatinya dan memberi manfaat dengan mereka): Aku bersaksi atas diriku bahwa yang telah diberikan kepada para wali berupa syafaat itu semisal apa yang diberikan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dari syafaat atas para nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya dia telah mengeluarkan dari neraka setiap orang yang masuk ke dalamnya dari penduduk Tarim, hal itu secara kasyaf darinya..." (2) 

Dan teks ini berisi pengangkatan kedudukan para wali mereka dalam syafaat dan menyamakannya dengan kedudukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian pula mengangkat kedudukan para wali mereka di atas sisa wali-wali Sufi lainnya dan selain mereka. Serta klaim tasharruf (campur tangan dalam urusan akhirat, dimana mereka menyangka) bahwa para wali mereka mengeluarkan dari neraka seluruh penduduk Tarim, baik mukmin maupun kafirnya, yang bertauhid maupun musyriknya. Demikianlah ghuluw dan penyimpangan dari agama Allah Jalla wa 'Ala telah sampai pada mereka, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Demikian pula mereka menjadikan syafaat para wali mereka pada hari kiamat untuk orang-orang yang mencintai mereka. Dan ini adalah ajakan dari mereka untuk mencintai para wali mereka di atas penyimpangan yang ada pada mereka, dan menyebarkan keutamaan ini di tengah manusia agar bergantung kepada mereka, supaya mereka mendapatkan syafaat yang disangka-sangka ini.

Sungguh telah datang dalam Manaqib Muhammad bin Ahmad yang dikenal dengan Muqaddam Tarbat Qism bahwa Jammal Al-Lail berkata: "Tatkala Muhammad bin Ahmad wafat, siksaan diangkat dari kuburnya dan sesungguhnya dia memberi syafaat kepada seluruh orang yang mencintainya..." (3)_

______

(2) Al-'Aqd An-Nabawi fi Manaqib As-Sadah Al-Asyraf Bani Alawi juz 1 hal.365)

(3) Al-Maayru' Ar-Rawi juz 1 hal.174). 

Dan termasuk penyimpangan mereka adalah klaim bahwa syaikh-syaikh mereka mencakup kabilah-kabilah Hadramaut. Telah datang dalam kitab Syarh Al-'Ainiyah: "Dan berkata Asy-Syaikh yang mulia Al-Faqih Muhammad Abu Bakar 'Abbad: Yang lebih kuat menurut perkiraan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Ali memberi syafaat sampai kepada Tihd".

Berkata Abdullah Basudan dalam ucapannya tentang Syarh Al-Wasithah Asy-Syirkiyah yang dijadikan pegangan oleh Sufi Hadramaut: "Sebagaimana berkata junjungan kami Asy-Syaikh Abdullah Al-Haddad pemilik Ar-Ratib (semoga Allah mensucikan ruhnya): Sesungguhnya wali itu perhatiannya kepada kerabatnya dan orang-orang yang berlindung kepadanya setelah wafatnya lebih kuat daripada perhatiannya kepada mereka ketika hidupnya. Karena dia sibuk dengan taklif, dan setelah wafatnya beban itu diletakkan darinya dan dia menjadi murni... selesai.

Dan demikian itu: karena Allah Ta'ala yang mengurusi urusan wali di dunia dan akhirat. Bahkan terkadang sebagian orang yang punya hajat menghadap kepada wali dalam hal seperti syafaat untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudharat dan bahaya dari semua tujuan duniawi dan ukhrawi, maka Allah mengetahui orang yang menghadap kepadanya, lalu mengizinkannya untuk menyampaikan hajatnya kepadanya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala yang melakukan itu dan wali adalah perantara dan alat". (Ash-Shufiyah fi Hadhramaut, Amin bin Ahmad bin Abdullah As-Sa'di, cet. Jami' Al-Huquq Mahfuzhah, cet.pertama 2008 M/1429 H. hal.536-537). Wallahu a’lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar