Dalam bukunya: “Islam, Kolonialisme dan Zaman Modern di Hindia-Belanda, Nico J.G. Kaptein seorang akademisi dan pakar studi Islam terkemuka asal Belanda yang memiliki fokus mendalam pada perkembangan Islam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia menyatakan bahwa jabatan “Mufti” yang disandang Habib Usman bin Yahya bukan begitu saja diberikan oleh penjajah, tetapi karena Habib Usman bin Yahya beberapa kali memintanya.
Habib Usman bin Yahya pernah menulis surat kepada Cristian Snouck Hurgronje pada 30 Agustus 1886 yang sudah saya tulis ulang sebelumnya dari manuskrip aslinya diantara isinya adalah agar Snouck berkenan menyebut nama Usman bin Yahya di hadapan para pejabat Belanda, baik yang ada di Batavia maupun di Eropa. Ia juga mengirim surat kepada Snouck tanggal 4 Januari 1887 yang isinya ia meminta jabatan dalam pemerintahan kolonial Belanda, namun tidak disebutkan jabatan apa yang ia inginkan. Baru pada surat yang dikirimkan kepada Snouck tanggal 8 Juli 1888/28 Syawal Habib Usman bin Yahya menyebut jabatan yang ia inginkan yaitu sebagai “Mufti” bagi pemerintah Penjajah Belanda. Adapun isi suratnya sebagai berikut,
الحمد لله وحده
الى حضرة الجناب المكرم والنحر المفخم ذى العلم المنيف الغني من الاعريف عزيزنا وصحبنا الدكتور سنوكهرخرنج طابت ايامه وهلا فى الافاق اعلقمه صمت الاخرى من بندر بتاوي ومشرفكم العزيز المؤرخ ٢٨ شعبان الينا وصل وبه الاتي حصل وما ذكرتم من مطلوبكم باموس باللغة المستهل عند الخضارم فعسى ان كان به فرصة لنا ان اصنع لكم جدولا فيه المستعملات من اللغة عند الحضارم وعند اهل مكة وعند اهل مصر وما حصل من التفاوت بينهم فى ذالك مثل هذه العينة التي باطن هذالكتاب وايضا مطلوبنا من فضلكم واحسانكم وعل. قدر محبتكم ان ترسلولنا نسخة من الجرابة التي طبعتوها فى بلدكم فى العلم الماضى او قبلها التي فيها ذكر كتابنا الوثيقة الوفية وذكر اسمنا مرادنا ان ترسلولنا نسخة منها مبادرة لحيث انها لم توجد الان فى بتاوي ومرادنا بها التوسل بها الى الرضى حصول مطلوبنا عند الرئيس وهو منزلة اطفيسور لعلها بالعرابية المفتي لحيث ان جميع قضاء اهل جاوا والملايو وغيرهم وروساءهم اقايتى معهم مثله مشكلة فى انكهتهم وطلاقهم وفرائضهم لم يطلبو معرفتها الامننا وروساء الانرنج فى بتاوي احيانا يستعينون بنا فى الاستخراج بعض الكتب او فى تفتيش مشايخ الطريقة او الكهنة مثلا ولاشيئ معنا حاصل لامشاهرة ولا غيرها بل ولا مقصودنا بذكر بل مقصودنا سيانة اسمنا وعرضنا عند العوام ليلا يتجرؤن علينا بالكلام الذي لا يليق مثلا وكذالك استعين بكم بحسب المحبة بيننا وبينكم ان تتسببون فى حصول تلك المرتبة لنا هذا ما اخبركم وايضا من طرق مسئلة الاحجار المكتوبة قد سفر ولدنا السيد محمد بن عثمان الى حضرموت فى تفنيش ذالك فاذا حصل من ذالك شيئا لابد ما اخبركن بذالك ودمتم مجمالين المكرمين
فى بتاوي ٢٨ شوال
الحقير عثمام بن عبد الله بن عقيل بن يحي
*"Segala puji bagi Allah semata.*
Kepada hadirat tuan yang mulia, yang terpandang, yang memiliki ilmu yang tinggi, yang tidak butuh diperkenalkan, sahabat kami yang kami cintai, *Dr. Snouck Hurgronje.* Semoga hari-harinya baik, dan namanya tersebar ke seluruh penjuru.
Surat mulia Anda dari Bandar Batavia bertanggal 28 Sya’ban telah sampai kepada kami, dan kami telah memahami isinya.
Adapun yang Anda minta berupa kamus dengan bahasa yang lazim dipakai orang-orang Hadhramaut, maka mudah-mudahan jika ada kesempatan bagi kami, kami akan buatkan untuk Anda sebuah tabel berisi kosakata yang dipakai oleh orang Hadhramaut, orang Mekah, dan orang Mesir, beserta perbedaan di antara mereka dalam hal itu. Contohnya seperti contoh yang ada di dalam buku ini.
Dan juga, kami memohon kemurahan dan kebaikan Anda, sesuai dengan besarnya cinta Anda kepada kami, agar berkenan mengirimkan kepada kami satu naskah jaraabah/buletin yang Anda terbitkan di negeri Anda pada tahun lalu atau sebelumnya, yang di dalamnya ada penyebutan kitab kami *Al-Watsiqah Al-Wafiyah* dan penyebutan nama kami. Tujuan kami adalah agar Anda segera mengirimkan satu naskah darinya, karena sekarang naskah itu tidak ada di Batavia. Kami menginginkannya untuk menjadikannya perantara guna tercapainya hajat kami di hadapan Tuan Residen, yaitu jabatan Adviseur yang dalam bahasa Arab disebut Mufti. Karena semua qadi orang Jawa, Melayu, dan lainnya, serta para kepala mereka, semuanya memiliki masalah yang sama seperti beliau dalam urusan nikah, talak, dan faraid. Mereka tidak meminta pengetahuan tentang itu kecuali dari kami. Dan para kepala orang Arab di Batavia kadang-kadang meminta bantuan kami untuk mengeluarkan beberapa kitab, atau untuk mencari para syaikh tarekat atau dukun misalnya.
Akan tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa, baik gaji maupun lainnya. Bukan pula tujuan kami dengan menyebut ini adalah popularitas. Tujuan kami hanyalah menjaga nama baik dan kehormatan kami di hadapan orang awam, agar mereka tidak berani berbicara kepada kami dengan perkataan yang tidak pantas misalnya.
Demikian juga, kami mohon bantuan Anda, sesuai dengan persahabatan antara kami dan Anda, untuk berupaya mewujudkan jabatan tersebut bagi kami. Inilah yang ingin kami sampaikan kepada Anda.
Juga terkait masalah batu-batu bertulis, anak kami Sayyid Muhammad bin Utsman telah pergi ke Hadhramaut untuk menyelidiki hal itu. Jika ada hasil dari itu, pasti kami akan mengabarkan kepada Anda.
Semoga Anda senantiasa dimuliakan.
Di Batavia, 28 Syawal.
Yang hina, Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya
Harapan Habib Usman untuk diangkat menjadi “mufti” itu sampai tahun 1888 belum juga dikabulkan. Entah apa yang membuat Snouck tidak segera mengusahakan agar Usman bin Yahya segera mendapat jabatan dari pemerintah Belanda. Oleh karena itu, Habib Usman mengirim surat lagi kepada Snouck pada 8 Juli 1888. Dalam surat itu Habib Usman bin Yahya meminta agar Snouck mengirimkan salinan surat kabar di Belanda yang memuat tulisan Snouck yang menyebut namanya dan kitabnya Al-Watsiqah Al-Wafiyah. Dalam surat itu Usman menyatakan bahwa jika Salinan surat kabar yang menyebut namanya itu telah datang ia akan membawanya kepada pejabat Belanda di Batavia untuk menjadi pertimbangan meminta jabatan. Dalam surat kali ini, Usman dengan terus terang menyebut jabatan apa yang ia inginkan. Dalam suratnya itu Usman menyatakan bahwa jabatan yang ia inginkan adalah sebagai “mufti” bagi pemerintah Belanda di Batavia. Inti surat Habib Usman bin Yahya meminta jabatan sebagai mufti beliau menuliskan dalam suratnya,
“…ومراد نا بها التوسل بها إلى حصول مطلوبنا عند الرئيس وهو منزلة اطفيسور لعلها بالعربية المفتي”
“…maksud kami dengan bantuan itu adalah menjadi jembatan tercapainya maksud kami kepada Gubernur Jenderal (ra’is) untuk mendapatkan jabatan Advisor (penasihat), mungkin dengan nama Arab, ‘mufti’.” Wallahu a'lam
Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin
*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar