MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 29 Juni 2026

KAJIAN TENTANG WAFATNYA ABU THALIB SEBAGAI SEORANG MUKMIN SESUAI PETUNJUK MIMPI




Mengenai status keimanan Abu Thalib sendiri ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat Abu Thalib wafat dalam keadaan tidak beriman karena sampai detik terakhir kewafatan tidak mengucapkan kalimat syahadat. Sesuai riwayat hadits Abu Thalib tetap berpegang pada agama Abdul Muthalib. Sebagaimana riwayat yang shahih sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ « أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَالاَ يُكَلِّمَانِهِ حَتَّى قَالَ آخِرَ شَىْءٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ . فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم « لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ » . فَنَزَلَتْ ( مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِى قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ) وَنَزَلَتْ ( إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ)

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah shallallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu,

“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muththalib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muththalib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan : “Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Kemudian turunlah ayat,

“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” (QS. Al-Qashshash: 56) (HR. Bukhari, no. 3884 dan Muslim, no. 24)

Dari ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ

“Apa manfaat yang engkau berikan kepada pamanmu (Abu Thalib) karena dia dulu telah membelamu dan marah demi mendukungmu?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هُوَ فِى ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِى الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Ia berada di tempat yang dangkal (tidak berada di bagian dasar) dari neraka. Seandainya bukan karena aku niscaya ia berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka.” (HR. Bukhari, no. 3883 dan Muslim, no. 209)

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib. Dia memakai dua sandal (dari api) hingga mendidih otaknya (karena panasnya kedua sandal itu).”(HR. Muslim, no. 213)

Namun ada juga yang meyakini bahwa wafatnya Abu Thalib dalam keadaan beriman kepada Allah Ta'ala sesuai pengakuannya sendiri saat berdialog dengan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar dalam mimpinya sesuai keterangan berikut,

ورأيت سيدي علي بن أبي طالب كرم الله وجهه، وحصلت بيني وبينه مذاكرة ومباحثة طويلة، ومن جملتها أني قلت له: إن السيدة فاطمة، اختلف أهل العلم في دفنها، هل كان في الحجرة أو في البقيع؟ فقال لي: إنها في البقيع، وأنا دفنتها بنفسي في الليل، ثم قلت له: وكذلك أبو طالب اختلف العلماء فيه، هل مات على الإيمان أم لا؟ وأنت داري بالأشياء، فقال: مات على الإيمان، والحمد لله على ذلك، قال سيدي رضي الله عنه: وقد سمعت السيد أحمد دحلان في الحلقة يقول: إن الذي ندين الله به، أن أبا طالب مات على الإيمان، والذي قال بإيمانه أربعة عشر حافظًا، قال سيدي: ونحن والحمد لله، معنا شيء زائد على الناس؛ لأن علمنا ليس ملتقطًا من الحروف، ولا من الكتب التي في الرفوف، بل متلقى من معدنه ومن أهله، وبعض الناس لما لم يعجبهم حق السلف خلّفوه". (تذكر الناس ص ٢٢٣-٢٢٤)

وفي هذا النص تصريح واضح من أحد كبارهم في عدم التعويل على الكتب المعتمدة على علوم الشرع، وإنما الاعتماد على الأحلام والرؤى بما تحمله من مخالفات شرعية، ويزعمون كذلك أن تلك المخالفات متلقاة من المعدن ومن أهل العلم، في أي معدن يقصدون، ومن هم أهل هذا المعدن الذين اتبع القوم سبيلهم؟ فالمعدن وأهله هو السبل الشيطانية التي قادتهم للانحراف عن مصادر المسلمين وهما الكتاب والسنة، وأردتهم في مهاوي الردى فتلقفوا من غيرهما فانحرفوا عن سواء السبيل.

"Dan aku (Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar)  melihat junjunganku Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu (karamallahu wajhah), lalu terjadilah antara aku dan beliau mudzakarah dan diskusi yang panjang. Dan di antaranya aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Sayyidah Fathimah, para ulama berselisih tentang pemakamannya, apakah di Hujrah atau di Baqi'? Maka beliau berkata kepadaku: Sesungguhnya beliau di Baqi', dan aku sendiri yang menguburkannya di malam hari. 

Kemudian aku berkata kepadanya: Demikian pula Abu Thalib, para ulama berselisih tentangnya, apakah dia wafat di atas keimanan atau tidak? Dan engkau mengetahui perkara-perkara. Maka beliau berkata: Dia wafat di atas keimanan, dan segala puji bagi Allah atas itu. 

Berkata sayyidku (semoga Allah meridhainya): Dan aku telah mendengar As-Sayyid Ahmad Dahlan di halaqah berkata: Sesungguhnya yang kami beragama kepada Allah dengannya adalah, bahwa Abu Thalib wafat di atas keimanan. Dan yang berkata dengan keimanannya ada 14 orang hafizh.

Berkata sayyidku: Dan kami, Alhamdulillah, memiliki sesuatu yang lebih dari manusia; karena ilmu kami tidak dipungut dari huruf-huruf, dan tidak dari kitab-kitab yang ada di rak, akan tetapi diambil langsung dari sumbernya dan dari ahlinya. Dan sebagian orang, tatkala kebenaran salaf tidak membuat mereka senang, maka mereka menyelisihinya". (Tadzkirus Naas hal.223-224)

Dan dalam teks ini ada pernyataan jelas dari salah seorang tokoh besar mereka tentang tidak berpegang pada kitab-kitab mu'tabar yang bersumber dari ilmu syariat, akan tetapi berpegang pada mimpi dan ru'ya yang membawa pelanggaran-pelanggaran syariat. Dan mereka menyangka pula bahwa pelanggaran-pelanggaran itu diambil dari "sumbernya dan ahlinya". Sumber apa yang mereka maksud, dan siapa "ahli sumber" yang mereka ikuti jalannya? Maka "sumber dan ahlinya" itu adalah jalan-jalan setan yang menuntun mereka menyimpang dari sumber kaum muslimin yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan menjerumuskan mereka ke jurang kebinasaan, lalu mereka mengambil dari selain keduanya maka mereka menyimpang dari jalan yang lurus." (Ash-Shufiyah fi Hadhramaut, Amin bin Ahmad bin Abdullah As-Sa'di, cet. Jami' Al-Huquq Mahfuzhah, cet.pertama 2008 M/1429 H. hal.312). Wallahu a'lam

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar