Syahdan; Mengenal Haul Solo merupakan peringatan haul untuk mengenang wafatnya seorang ulama yaitu Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (pengarang kitab maulid Simtudduror) lahir di Qasam (Hadramaut, Yaman) dan wafat di Seiwun (Hadramaut, Yaman). Meskipun tidak pernah menetap di Indonesia, keturunan dan keluarganya berdakwah di Nusantara, dan jangan heran kenapa haulnya diadakan di Solo? Konon, makam seorang wali itu bisa berpindah sebagaimana kisah wali yang makamnya pindah dijelaskan dalam sebuah kitab.
Sebelumnya saya infokan bahwa Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih & Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih: diakui sebagai Dua Wali Quthub Kota Malang.
Dikisahkan bahwa Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih melakukan perjalanan hijrahnya menuju pulau Jawa lebih tepatnya yakni di kota Surabaya. Beliau menetap di Surabaya sampai akhir hayatnya.
Ketika wafatnya, Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah (Keponakan Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih) yang kala itu sedang berada di kota Tarim. Beliau bermimpi bahwasannya para salaf (Sadah Ba'alawi) di alam barzakh sedang dalam keadaan menunggu kedatangan salah seorang. Maka Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah bertanya kepada mereka tentang perihal itu. Mereka mengatakan,
" Sesungguhnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam dan para Salaf Ba'alawi, mereka sedang menunggu kedatangan salah satu anak turun mereka yang wafat di Surabaya "
Kemudian dalam mimpi tersebut, Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah melihat seakan-akan para salaf tersebut datang sembari membawa jenazah menuju ke Pemakaman Zanbal Tarim dan dikebumikan di depan Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam.
Seketika al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah terbangun dari tidurnya dan menunggu kabar salah satu seorang Sadah Alawiyyin yang wafat dari Jawa.
Tidak lama kemudian, sampailah kabar wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih dan mimpi yang dialami oleh Al-Habib Abdul Qadir Shahib Cheilah terjadi persis bersamaan dengan hari wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih.
Dan juga diriwayatkan, ketika Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih wafat dan dikebumikan. Makam beliau menghilang dari pandangan orang-orang.
Mereka tidak mengetahui dan juga tidak lagi mendapati keberadaan makam tersebut.
Maka putra beliau yang bernama Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih merasa sedih akan kejadian tersebut.
Ketika Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih tidur, beliau melihat Ayahanda nya yang berkata, "Jangan cari aku, karena sesungguhnya aku telah dipindahkan ke pemakaman Zanbal."
Narasi kisah tersebut adalah gambaran kisah yang terdapat dalam kitab Lawami' An-Nur Nukhbah Min A'lam Hadhramaut juz 2 hal. 106 sebagai berikut,
سافر الحبيب أحمد إلى جواه "سرباية"، ومكث بها بقية حياته وتوفي بسُرباية. وعند وفاته رأى الحبيب عبد القادر، وكان بتريم، أن السلف وكان في البرزخ كانوا على غاية من الانتظار لاستقبال أحد الوافدين إليهم، فسألهم فقالوا: إن الفقيه والسلف منتظرين أحد أبنائهم توفي في "سُرباية"، ثم رأى كأنهم جاؤوا بالميت إلى زنبيل ودفن أمام قبر الفقيه المقدم فانتبه الرائي وانتظر خبراً من جاوة عن موت أحد العلويين. فكان الأمر كما ذُكر حيث وصل إليهم خبر وفاة الحبيب أحمد بن محمد بلفقيه، وكانت الرؤيا موافقة ليوم وفاته.
وقبل أيضاً أنه لما توفي ودفن في المقبرة طمس القبر عن الأنظار ولم يفقوا عليه، فأغتمَّ لذلك ولده عبد القادر، فلما كان في المنام رأى والده يقول له: لا تبحث عني فإني قد نُقلت إلى "زنبيل". (لوامع النور نخبة من أعلام حضرموت ص ١.٦)
Al-Habib Ahmad melakukan perjalanan ke Jawa "Surabaya", dan beliau tinggal di sana hingga sisa hidupnya, lalu wafat di Surabaya.
Ketika beliau wafat, Al-Habib Abdul Qadir yang berada di Tarim melihat dalam mimpi bahwa para salaf yang berada di alam barzakh sedang sangat menanti untuk menyambut kedatangan seseorang di antara mereka. Beliau bertanya kepada mereka, maka mereka menjawab: "Sesungguhnya para fuqaha dan para salaf sedang menunggu salah seorang anak mereka yang wafat di 'Surabaya'."
Kemudian beliau melihat seakan-akan mereka membawa jenazah itu ke "Zanbal" dan menguburkannya di depan makam Al-Faqih Al-Muqaddam. Lalu orang yang bermimpi itu terbangun dan menanti kabar dari Jawa tentang wafatnya salah seorang dari keturunan Alawi.
Maka jadilah kenyataan seperti yang disebutkan, yaitu sampailah kepada mereka berita wafatnya Al-Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih. Dan mimpinya itu bertepatan dengan hari wafatnya.
Disebutkan juga bahwa ketika beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman, kuburannya tertutup dari pandangan dan mereka tidak menemukannya. Maka putranya Abdul Qadir pun bersedih karena hal itu. Ketika ia tidur, ia bermimpi melihat ayahnya berkata kepadanya: "Jangan cari aku, karena sesungguhnya aku telah dipindahkan ke 'Zanbil'." (Lawami’ An-Nur Nukhbah min A’lam Hadhramaut, Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali bin Abu Bakar Al-Masyhur, cet. Maktabah Dar Al-Muhajir li An-Nashr wa At-Tauzi', Sana'a - Yaman, juz 2 hal. 106). Wallahu a'lam
Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin
*والله الموفق الى أقوم الطريق*


Tidak ada komentar:
Posting Komentar