MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Rabu, 01 Juli 2026

KAJIAN TENTANG KHURAFAT YANG DIANGGAP KAROMAH "MEWAKILI BUANG HAJAT DAN KOTORAN MENJADI EMAS"


Karomah adalah anugerah luar biasa dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang shaleh dan bertakwa (para wali Allah). Sebaliknya, khurafat adalah kepercayaan atau cerita rekaan yang menyimpang dari ajaran Islam dan tidak berdasar pada dalil.

Khurafat adalah cerita-cerita mempesonakan yang bercampur dengan perkara dusta, atau cerita rekaan, khayalan, ajaran-ajaran, ramalan, pemujaan, atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam namun diyakini kebenarannya. Budaya khurafat berasal dari masyarakat Jahiliyah, yang percaya pada arah terbang burung sebagai penentu nasib mereka. Mereka juga percaya bahwa burung hantu atau gagak yang hinggap dan bersuara di atas rumah menandakan kematian salah satu penghuni rumah tersebut.

Disebutkan dalam kitab yang masyhur dikalangan ba'alawi yang penuh khurafat meski juga ada yang merupakan karomah wali diantaranya yaitu,

وحكى سيدي أن رجلاً أعمى في الهجرين، يقال له بن نعمان كان يسير كل يوم إلى قيدون، فيأتى له بمسألة واحدة من العلم فقط ويرجع. وما بين البلدين نحو أربع ساعات. فخرج ذات يوم، ومعه بنته تقوده. فلما كان في أثناء الطريق أراد قضاء الحاجة فجلس. فقالت له بنته: اصبر قليلاً، حتى أدق الأرض، كيلا يصيبك الرشاش، فلما قضى حاجته قال لبنته: ارجعي بنا. فقالت له: لم ترجع. فقال: إني في كل يوم أستفيد مسألة من قيدون، وأني استفدتها اليوم منك.

وقال رضي الله عنه: بلغنا أن السيد حاتم الأهدل كان حريصاً على مجالس الإخوان في الله ويشق عليه فراقهم، وكان له مملوك أمره أن يجلس بالباب، فإذا أراد أحد من إخوانه قضاء الحاجة والخلاء نظر إلى ذلك العبد، فينتقل الحدث إليه فيروح العبد إلى الخلاء وينوب عنه. ووقع للحبيب هادون بن هود بن علي بن أحسن العطاس، أنه لما زار المدينة المشرفة بات ليلة بالحرام، فتحركت عليه بطنه، وذهب ليخرج فوجد الأبواب مقفلة، فراح إلى ناحية في أخريات الحرم، ووضع المخارج في ثوبه، فلما كان الصباح، ذهب إلى خارج المدينة ليرميه، فإذا هو ذهب يتلألأ.

Dan diceritakan oleh junjungan kami bahwa ada seorang laki-laki buta di Hijrain atau Hajrain (terletak di daerah Yaman di lembah Dau'an Hadhramaut), yang dipanggil Ibnu Nu’man. Beliau berjalan setiap hari ke Qidun (nama sebuah kota di Hadhramaut Yaman) untuk mengambil satu masalah ilmu saja, lalu pulang. Dan jarak antara dua negeri itu sekitar empat jam perjalanan. 

Maka beliau keluar pada suatu hari, dan bersamanya putrinya yang menuntunnya. Ketika di tengah jalan beliau ingin buang hajat, lalu beliau duduk. Putrinya berkata kepadanya: "Bersabarlah sebentar, sampai aku menggali tanah, supaya cipratannya tidak mengenai engkau." 

Ketika beliau selesai buang hajat, beliau berkata kepada putrinya: "Mari kita kembali pulang." Putrinya berkata: "Kenapa kita kembali?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya setiap hari aku mengambil satu masalah ilmu dari Qaidun, dan sesungguhnya aku telah mengambilnya hari ini darimu."

Dan beliau - semoga Allah meridhainya - berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Sayyid Hatem al-Ahdal sangat bersemangat menghadiri majelis-majelis ikhwan fi Allah, dan berat baginya berpisah dengan mereka. Dan beliau memiliki seorang budak yang beliau perintahkan duduk di pintu. Maka jika salah satu dari saudara-saudaranya ingin buang hajat dan masuk WC, ia melihat kepada budak itu, lalu hadats itu pindah kepadanya, maka budak itu pergi ke WC dan menggantikan tuannya.

Dan terjadi pada Al-Habib Hadun bin Hud bin Ali bin Hasan al-Athas, bahwa ketika beliau ziarah ke Madinah al-Munawwarah, beliau bermalam satu malam di Haram. Lalu perutnya bergerak-gerak, dan beliau pergi untuk keluar, tapi beliau mendapati pintu-pintu terkunci. Maka beliau pergi ke sudut di bagian belakang Haram, dan beliau buang hajat ke pakaiannya. Ketika pagi tiba, beliau pergi keluar kota untuk membuangnya, ternyata kotoran itu menjadi emas yang berkilau-kilau." (Tadzkir An-Nas, Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, hal.47-48). Wallahu a'lam 

Catatan tentang kisah tersebut adalah :

1. Kisah Pertama: Ibrohnya adab menuntut ilmu dan hikmah dari hal sepele. Ini masuk akal dan banyak terjadi pada ulama. 

2. "Kisah Memindahkan hadats ke budak" ini masuk kategori khurafat. Ulama Ahlussunnah sepakat tidak ada manusia yang bisa memindahkan najis/hadats orang lain ke dirinya. Ini bertentangan dengan kaidah syariat.

3. "Kisah kotoran jadi emas" juga termasuk khurafat karena menyelisihi kebiasaan Allah (Sunnatullah) dan sunnah Rasul-Nya.

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

KAJIAN TENTANG KISAH KAROMAH TERBELAHNYA LAUTAN DAN BERUBAHNYA KERIKIL MENJADI EMAS PERMATA


Peristiwa terbelahnya lautan dikategorikan sebagai mukjizat, yang dimiliki Nabi Musa 'alaihissalam dan bukan karomah. Dalam ajaran Islam, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul untuk membuktikan kenabian mereka, sedangkan karomah diberikan kepada para Wali (kekasih Allah).

Kisah yang paling terkenal mengenai hal ini adalah mukjizat Nabi Musa 'alaihissalam. Atas perintah Allah, beliau memukulkan tongkatnya ke Laut Merah (atau Laut Teberau) sehingga airnya terbelah menjadi jalan kering. Hal ini memungkinkan Nabi Musa dan kaum Bani Israil menyeberang dengan selamat dari kejaran Firaun.

Kejadian ini diabadikan di dalam Al-Qur'an Surah Asy-Syu'ara ayat 63, "Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar."

Bagi umat Islam, peristiwa ini adalah mukjizat mutlak dari Allah yang melampaui hukum alam. Sementara itu, sebagian ilmuwan dan pakar mengkaji peristiwa tersebut melalui pendekatan ilmiah, seperti kemungkinan adanya fenomena alam atau angin besar (surut ekstrem) yang membuka jalan air di masa lalu.

Terkait mensikapi cerita karomah para wali dalam dunia sufi yang khariqul adat maka seharusnya menggunakan standar kehati-hatian agar bisa membedakan mana karomah mana khurafat. Sebagaimana Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menafsirkan surat Al-Baqarah: 34, mengutip ucapan Laits bin Saad dan Imam Syafii rahimahullah;

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Jika kalian melihat seseorang dapat berjalan di atas air dan terbang di udara, janganlah kalian terpesona sebelum menilai perkaranya dengan Al-Quran dan Sunah.”

Dengan cara pandang seperti ini, maka tidak akan kita temukan seorang muslim yang terpedaya hanya karena sesuatu yang sepintas menggambarkan kehebatan, luar biasa atau mampu menampilkan sesuatu yang lain dari biasanya, jika tidak ada indikasi atau bukti bahwa semua itu paralel dengan istiqamahnya di jalan Allah Taala. Maka, jika demikian, apa yang dianggap luar biasa, bukanlah kebaikan, bukan pula karomah, apalagi mukjizat dari Allah Taala.

Diantara keanehan kisah karomah yang mengandung khurafat dan belum jelas kebenarannya tertulis dalam kitab Nasyr Al-Mahasin Al-Ghaliyah sebagai berikut,  

النوع الثالث: انقلاق البحر وجفافه

من ذلك ما روي في بعض التصانيف أنه مات بعض الفقراء في سفينة، قال الراوي: فأردنا إلقاءه في البحر، فرأيت البحر قد انشق نصفين ونزلت السفينة إلى الأرض، فخرجت وحفرنا له قبراً ودفناه، فلما فرغنا استوى الماء وارتفعت السفينة وسرنا.

وروينا عن الأستاذ أبي القاسم القشيري رضي الله تعالى عنه في رسالته عن بعضهم قال: كنا في مركب فمات رجل عليل كان معنا، فأخذنا في جهازه وأردنا أن نلقيه في البحر، فانصار البحر جافاً، فنزلت السفينة فخرجنا وحفرنا له قبراً ودفناه، فلما فرغنا استوى الماء وارتفع المركب وسرنا.

النوع الرابع: انقلاب الأعيان

اعلم أن هذا النوع مما كثر وقوعه لهم واشتهر عنهم، كانقلاب الحصى جواهر وذهباً لكثير منهم، وانقلاب ماء البحر عذباً، ولبعضهم سماً، ولبعضهم مع الرمل سويقاً، وسكراً، ولبعضهم الأسطوانة ذهباً وفضة، ولبعضهم حبة الباذنجان ذهباً، ولبعضهم نشارة الخشب دقيقاً، ولبعضهم الحطب ذهباً وغير ذلك مما يتعذر حصره، وهذه الأشياء مشهورة مذكورة في الكتب المشتملة على بعض كرامات الأولياء كالرسالة وغيرها.

*Jenis Ketiga: Terbelahnya Laut dan Mengeringnya*  

Termasuk dari itu, apa yang diriwayatkan dalam sebagian kitab-kitab tasawuf: Bahwa ada seorang fakir meninggal di dalam kapal. Perawi berkata: Maka kami hendak melemparnya ke laut, lalu aku melihat laut terbelah menjadi dua dan kapal turun ke daratan. Maka aku keluar, kami gali kubur untuknya dan menguburkannya. Setelah selesai, air laut kembali seperti semula dan kapal terangkat lalu kami melanjutkan perjalanan.

Dan diriwayatkan kepada kami dari Ustadz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi (semoga Allah meridhainya) dalam Risalahnya, dari sebagian mereka: Kami berada di atas kapal, lalu seorang laki-laki sakit yang bersama kami meninggal. Maka kami mengurus jenazahnya dan hendak melemparkannya ke laut, tiba-tiba laut menjadi kering. Maka kapal turun, kami keluar, menggali kubur untuknya dan menguburkannya. Setelah selesai, air laut kembali normal, kapal terangkat dan kami melanjutkan perjalanan.

*Jenis Keempat: Berubahnya Benda/Zat* 

Ketahuilah bahwa jenis ini termasuk yang paling banyak terjadi pada mereka dan terkenal dari mereka. Seperti berubahnya kerikil menjadi permata dan emas bagi banyak dari mereka, berubahnya air laut menjadi air tawar, bagi sebagian lain menjadi racun, bagi sebagian lain bersama pasir menjadi sawiq/bubur gandum, dan gula, dan bagi sebagian lain tiang menjadi emas dan perak, dan bagi sebagian lain biji terong menjadi emas, dan bagi sebagian lain serbuk kayu menjadi tepung, dan bagi sebagian lain kayu bakar menjadi emas, dan selain itu yang sulit untuk dihitung.

Hal-hal ini masyhur dan disebutkan dalam kitab-kitab yang memuat sebagian karamah para wali, seperti Risalah Qusyairiyah dan lainnya." (Nasyr Al-Mahasin Al-Ghaliyah fi Fadhl Al-Masyayikh Ash-Shufiyah Ashhab Al-Maqamat Al-'Aliyah, Abi Muhammad Abdullah bin As'ad bin Ali bin Sulaiman Al-Yafi'i (w.768 H.), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiah, Beirut - Libanon hal.24). Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموفق الى أقوم الطريق*