Peristiwa terbelahnya lautan dikategorikan sebagai mukjizat, yang dimiliki Nabi Musa 'alaihissalam dan bukan karomah. Dalam ajaran Islam, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul untuk membuktikan kenabian mereka, sedangkan karomah diberikan kepada para Wali (kekasih Allah).
Kisah yang paling terkenal mengenai hal ini adalah mukjizat Nabi Musa 'alaihissalam. Atas perintah Allah, beliau memukulkan tongkatnya ke Laut Merah (atau Laut Teberau) sehingga airnya terbelah menjadi jalan kering. Hal ini memungkinkan Nabi Musa dan kaum Bani Israil menyeberang dengan selamat dari kejaran Firaun.
Kejadian ini diabadikan di dalam Al-Qur'an Surah Asy-Syu'ara ayat 63, "Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar."
Bagi umat Islam, peristiwa ini adalah mukjizat mutlak dari Allah yang melampaui hukum alam. Sementara itu, sebagian ilmuwan dan pakar mengkaji peristiwa tersebut melalui pendekatan ilmiah, seperti kemungkinan adanya fenomena alam atau angin besar (surut ekstrem) yang membuka jalan air di masa lalu.
Terkait mensikapi cerita karomah para wali dalam dunia sufi yang khariqul adat maka seharusnya menggunakan standar kehati-hatian agar bisa membedakan mana karomah mana khurafat. Sebagaimana Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menafsirkan surat Al-Baqarah: 34, mengutip ucapan Laits bin Saad dan Imam Syafii rahimahullah;
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
“Jika kalian melihat seseorang dapat berjalan di atas air dan terbang di udara, janganlah kalian terpesona sebelum menilai perkaranya dengan Al-Quran dan Sunah.”
Dengan cara pandang seperti ini, maka tidak akan kita temukan seorang muslim yang terpedaya hanya karena sesuatu yang sepintas menggambarkan kehebatan, luar biasa atau mampu menampilkan sesuatu yang lain dari biasanya, jika tidak ada indikasi atau bukti bahwa semua itu paralel dengan istiqamahnya di jalan Allah Taala. Maka, jika demikian, apa yang dianggap luar biasa, bukanlah kebaikan, bukan pula karomah, apalagi mukjizat dari Allah Taala.
Diantara keanehan kisah karomah yang mengandung khurafat dan belum jelas kebenarannya tertulis dalam kitab Nasyr Al-Mahasin Al-Ghaliyah sebagai berikut,
النوع الثالث: انقلاق البحر وجفافه
من ذلك ما روي في بعض التصانيف أنه مات بعض الفقراء في سفينة، قال الراوي: فأردنا إلقاءه في البحر، فرأيت البحر قد انشق نصفين ونزلت السفينة إلى الأرض، فخرجت وحفرنا له قبراً ودفناه، فلما فرغنا استوى الماء وارتفعت السفينة وسرنا.
وروينا عن الأستاذ أبي القاسم القشيري رضي الله تعالى عنه في رسالته عن بعضهم قال: كنا في مركب فمات رجل عليل كان معنا، فأخذنا في جهازه وأردنا أن نلقيه في البحر، فانصار البحر جافاً، فنزلت السفينة فخرجنا وحفرنا له قبراً ودفناه، فلما فرغنا استوى الماء وارتفع المركب وسرنا.
النوع الرابع: انقلاب الأعيان
اعلم أن هذا النوع مما كثر وقوعه لهم واشتهر عنهم، كانقلاب الحصى جواهر وذهباً لكثير منهم، وانقلاب ماء البحر عذباً، ولبعضهم سماً، ولبعضهم مع الرمل سويقاً، وسكراً، ولبعضهم الأسطوانة ذهباً وفضة، ولبعضهم حبة الباذنجان ذهباً، ولبعضهم نشارة الخشب دقيقاً، ولبعضهم الحطب ذهباً وغير ذلك مما يتعذر حصره، وهذه الأشياء مشهورة مذكورة في الكتب المشتملة على بعض كرامات الأولياء كالرسالة وغيرها.
*Jenis Ketiga: Terbelahnya Laut dan Mengeringnya*
Termasuk dari itu, apa yang diriwayatkan dalam sebagian kitab-kitab tasawuf: Bahwa ada seorang fakir meninggal di dalam kapal. Perawi berkata: Maka kami hendak melemparnya ke laut, lalu aku melihat laut terbelah menjadi dua dan kapal turun ke daratan. Maka aku keluar, kami gali kubur untuknya dan menguburkannya. Setelah selesai, air laut kembali seperti semula dan kapal terangkat lalu kami melanjutkan perjalanan.
Dan diriwayatkan kepada kami dari Ustadz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi (semoga Allah meridhainya) dalam Risalahnya, dari sebagian mereka: Kami berada di atas kapal, lalu seorang laki-laki sakit yang bersama kami meninggal. Maka kami mengurus jenazahnya dan hendak melemparkannya ke laut, tiba-tiba laut menjadi kering. Maka kapal turun, kami keluar, menggali kubur untuknya dan menguburkannya. Setelah selesai, air laut kembali normal, kapal terangkat dan kami melanjutkan perjalanan.
*Jenis Keempat: Berubahnya Benda/Zat*
Ketahuilah bahwa jenis ini termasuk yang paling banyak terjadi pada mereka dan terkenal dari mereka. Seperti berubahnya kerikil menjadi permata dan emas bagi banyak dari mereka, berubahnya air laut menjadi air tawar, bagi sebagian lain menjadi racun, bagi sebagian lain bersama pasir menjadi sawiq/bubur gandum, dan gula, dan bagi sebagian lain tiang menjadi emas dan perak, dan bagi sebagian lain biji terong menjadi emas, dan bagi sebagian lain serbuk kayu menjadi tepung, dan bagi sebagian lain kayu bakar menjadi emas, dan selain itu yang sulit untuk dihitung.
Hal-hal ini masyhur dan disebutkan dalam kitab-kitab yang memuat sebagian karamah para wali, seperti Risalah Qusyairiyah dan lainnya." (Nasyr Al-Mahasin Al-Ghaliyah fi Fadhl Al-Masyayikh Ash-Shufiyah Ashhab Al-Maqamat Al-'Aliyah, Abi Muhammad Abdullah bin As'ad bin Ali bin Sulaiman Al-Yafi'i (w.768 H.), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiah, Beirut - Libanon hal.24). Wallahu a'lam
Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin
*والله الموفق الى أقوم الطريق*

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar