MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Senin, 27 April 2026

KITAB NASHOIHUL IBAD BAB 7 MAQALAH 1-5

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 7

بَابُ السُّبَاعِيِّ

وَفِيْهِ عَشَرَةُ مَوَاعِظِ، خَمْسَةٌ أَخْبَارٌ وَالْبَاقِي آثَارٌ.

Dalam bab ini ada sepuluh nasihat, lima Akhbar dan sisanya atsar.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 7 Maqolah 1

اَلْمَقَالَةُ الْأُوْلَى (عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: سَبْعَةُ نَفَرٍ يُظِلُّهُمُ اللّٰهُ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ) أَيْ يَحْمِيْهِمُ اللّٰهُ فِى الْمَوْقِفِ مِنَ الْمَكَارِهِ

Maqolah yang pertama (Dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu dari Nabi ﷺ: Ada tujuh golongan yang mereka akan diberi naungan oleh Allah di bawah naungan 'Arsy-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya) Maksudnnya Allah akan melindungi mereka di padang mahsyar dari kesulitan-kesulitan.

(إِمَامٌ عَادِلٌ) وَهُوَ كُلُّ مَنْ نَظَرَ فِى شَيْءٍ مِنْ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الْوُلَاةِ وَالْحُكَّامِ

(Imam yang adil) Imam yang adil adalah setiap orang yang mempertimbangkan sesuatu dari urusan orang-orang Islam dari kalangan penguasa dan pemerintah.

(وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ اللّٰهِ تَعَالَى) أَيْ اِبْتَدَأَ عُمُرَهُ فِيهَا وَمُتَلَبِّسًا بِهَا وَخُصَّ الشَّابُّ لِأَنَّهُ مَحَلُّ الشَّهْوَةِ

(Dan pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah) Maksudnya dia mengawali umurnya dalam beribadah kepada Allah dan terlibat dengan ibadah dan dikhusukan menyebut pemuda karena sesungguhnya pemuda adalah tempatnya syahwat.

(وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللّٰهَ) بِلِسَانِهِ أَوْ قَلْبِه (خَالِيًا) مِنَ النَّاسِ أَوْ مِنَ الْاِلْتِفَاتِ لِمَا سِوَى اللّٰهِ ( فَفَاضَتْ) أَيْ سَالَتْ (عَيْنَاهُ دَمْعًا مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ تَعَالَى، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْمَسْجِدِ إذَا خَرَجَ) مِنْهُ (حَتَّى يَعُوْدَ إلَيْهِ) أَيْ قَلْبُهُ شَدِيْدُ الْحُبِّ لَهُ وَلِمُلَازَمَةِ الْجَمَاعَةِ فِيْهِ

(Dan lelaki yang yang berdzikir kepada Allah) Dengan lisannya atau dengan hatinya (Dalam keadaan sepi) Dari manusia atau dari berpaling kepada selain Allah (Sehingga berlinanglah) Maksudnya mengalir (Kedua matanya dengan air mata karena takut kepada Allah Ta'ala. Dan seorang laki-laki yang hatinya terkait dengan masjid ketika dia keluar) Dari masjid (Hingga dia kembali ke masjid) Maksudnya hatinya sangat cinta pada masjid dan cinta untuk berjamaah di dalam masjid.

(وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ) أَيْ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ (فَأَخْفَاهَا) أَيْ كَتَمَهَا عَنِ النَّاسِ (فَلَمْ تَعْلَمْ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِيْنُهُ) أَيْ لَوْ قُدِّرَتِ الشِّمَالُ رَجُلًا مُسْتَيْقِظًا مَا عَلِمَ صَدَقَةَ الْيَمِيْنِ لِلْإِخْفَاءِ، وَقِيْلَ الْمُرَادُ عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ مِنَ النَّاسِ

(Dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan suatu sedekah) Maksudnya sedekah sunnah (Kemudian dia menyembunyikannya) Maksudnya merahasiakannya dari manusia (Sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya) Maksudnya andai tangan kiri dianggap sebagai seseorang yang terjaga maka ia tidak akan mengetahui sedekahnya tangan kanan karena kerahasiaannya. Dan dikatakan yang dimaksud dari tangan kanannya dan tangan kirinya adalah manusia

(وَرَجُلَانِ تَحَابَّا) أَيْ أَحَبَّ كُلٌّ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ (فِي اللّٰهِ) أَيْ لِطَلَبِ رِضَا اللّٰهِ لَا لِغَرَضٍ دُنْيَوِيٍّ (فَاجْتَمَعَا عَلَى ذٰلِكَ) الْحُبِّ (وَافْتَرَقَا عَلَيْهِ) أَيْ اِسْتَمَرَّا عَلَى مَحَبَّتِهِمَا حَتَّى فَرَّقَ بَيْنَهُمَا الْمَوْتُ

(Dua orang yang saling mencintai) Maksudnya mencintai masing-masing dari keduanya pada pasangannya (Karena Allah) Maksudnya karena mengharapkan ridho Allah bukan karena tujuan duniawi (Kemudian mereka berkumpul karena itu) Cinta (Dan mereka berpisah karena cinta tersebut) Maksudnya mereka tetap dalam cinta mereka sampai kematian memisahkan keduanya

(وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ جَمَالٍ إلَى نَفْسِهَا فَأَبَى) أَيْ اِمْتَنَعَ (وَقَالَ) بِلِسَانِهِ أَوْ بِقَلْبِهِ زَاجِرًا لَهَا عَنِ الْفَاحِشَةِ (إنِّيْ أَخَافُ اللّٰهَ تَعَالَى) وَقَدْ نَظَمَ هٰذِهِ السَّبْعَةَ أَبُو شَامَةٍ مِنْ الْبَحْرِ الطَّوِيلِ فَقَالَ:

(Dan seorang lelaki yang mengajak kepadanya seorang wanita yang memiliki paras cantik kepada diri wanita itu kemudian dia menolak) Maksudnya menolak (Dan dia berkata) Dengan lisannya atau dengan hatinya sambil mencegah wanita itu dari perbuatan zinah (Sesungguhnya aku takut kepada Allah Ta'ala) Dan benar-benar telah menadzomkan tujuh golongan ini oleh Abu Syamah dari bahar towil:

يُظِلُّهُمُ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ بِظِلِّهِ*وَقَالَ النَّبِيُّ الْمُصْطَفَى إِنَّ سَبْعَةً
Dan telah bersabda Nabi Musthofa sesungguhnya ada tujuh golongan*Yang mereka akan diberi naungan oleh Allah yang maha agung dengan naungannya
وَبَاكٍ مُصَلٍّ وَالْإِمَامُ بِعَدْلِهِ*مُحِبٌّ عَفِیْفٌ نَاشِیءٌ مُتَصَدِّقٌ
Orang yang cinta karena Allah, Orang yang menjaga dirinya dari perbuatan zinah, Orang yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, Orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi*Orang yang menangis ketika berdzikir kepada Allah, Orang yang sholat dan imam karena sifat adilnya

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 7 Maqolah 2

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: اَلْبَخِيْلُ) وَهُوَ الْمَانِعُ مِنْ مَالِ نَفْسِهِ (لَا يَخْلُوْ مِنْ إِحْدَى السَّبْعِ) اَلْمُهْلِكَاتِ

Maqolah yang ke dua (Telah berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu : Orang yang pelit) Yaitu orang yang menahan dari hartanya sendiri (Tidak akan lepas dari salah satu yang tujuh) yang membinasakan

(إِمَّا أَنْ يَمُوْتَ فَيَرِثُهُ مَنْ يَبذُلُ) أَىْ يُفْنِى وَفِى نٌسْخَةٍ يَبْذُرُ أَىْ يُفَرِّقُ (مَالَهُ وَيُنْفِقُهُ) أَىْ يُخْرِجُهُ (لِغَيْرِ مَا أَمَرَ اللّٰهُ تَعَالَى أَوْ يُسَلِّطُ اللّٰهُ عَلَيْهِ سُلْطَانًا جَائِرًا فَيَأْخُذُهُ) أَىْ مَالَهُ مِنْهُ (بَعْدَ تَذْلِيْلِ نَفْسِهِ) بِالتَّعْذِيْبِ

(Mungkin dia akan mati kemudian mewarisi darinya orang yang akan menghabiskan) Yaitu merusak dan dalam sebuah naskah, akan memubadzirkan, Maksudnya menghamburkan (Hartanya dan membelanjakannya) Maksudnya mengeluarkan hartanya (Untuk selain perkara yang telah Allah Ta'ala perintahkan atau Allah akan mengutus kepadanya Sultan yang dzolim kemudian Sultan itu mengambil hartanya) Maksudnya hartanya dari dirinya (Sesudah menghinakan dirinya) Dengan siksaan.

(أَوْ يُهِيْجُ) أَىْ يُحَرِّكُ اللّٰهُ لَهُ (شَهْوََةً تُفْسِدُ عَلَيْهِ مَالَهُ) فِى تِلْكَ الشَّهْوَةِ

(Atau Allah akan membangkitkan) Maksudnya Allah akan menggerakkan bagi orang pelit itu (Syahwat yang akan merusak padanya pada hartanya) Karena syahwat tersebut.

(أَوْ يَبْدُوْلَهُ رَأْيٌ) أَيْ يَظْهَرُ مِنْهُ فِكْرَةٌ (فِى بِنَاءٍ أَوْ عِمَارَةٍ) بِبِنَاءٍ أَوْ نَحْوِهِ (فِى أَرْضٍ خَرَابٍ) أَيْ فَاسِدَةٍ (فَيَذْهَبُ فِيْهِ مَالُهُ أَوْ يُصِيْبُ لَهُ) أَيْ لِذٰلِكَ الْمَالِ (نَكْبَةٌ) بِفَتْحِ النُّوْنِ أَىْ مُصِيْبَةٌ (مِنْ نَكَبَاتِ الدُّنْيَا مِنْ غَرْقٍ) فِى الْمَاءِ

(Atau akan nampak baginya suatu ide) Maksudnya nampak dari dirinyanya sebuah pemikiran (Tentang pembangunan atau arsitektur) Dengan pembangunan atau semacamnya (Di tanah yang rusak) Maksudnya yang rusak (Sehingga habis di tempat itu hartanya atau akan menimpa pada harta itu) Maksudnya pada harta itu (Musibah) Dengan memfathahkan huruf nun Maksudnya musibah (Dari musibah-musibah dunia karena tenggelam) Ke dalam air

(أَوْ حَرْقٍ) بِالنَّارِ (أَوْ سَرِقَةٍ وَمَا أَشْبَهَ ذٰاِلكَ) مِنْ إِصَابَةِ الْمَطَرِ أَوِ الدُّوْدِ أَوِ الْفِعْرَانِ

(Atau terbakar) Dengan api (Atau tercuri dan yang serupa dengan itu) Karena terkena hujan atau serangga atau tikus-tikus.

(أَوْ يُصِيْبُهُ) أَيْ بَدَنَهُ (عِلَّةٌ دَائِمَةٌ فَيُنْفِقُ مَالَهُ فِى مُدَاوَاتِهَا أَوْ يُدْفِنُهُ) أَىْ مَالَهُ (فِى مَوْضِعٍ مِنَ الْمَوَاضِعِ فَيَنْسَاهُ فَلَا يَجِدُهُ) أَوْ يَمُوْتُ هُوَ قَبْلَ أَنْ يَأْخُذَ مَالَهُ فِى ذٰلِكَ الْمَوْضِعِ وَلَا يَعْرِفُ أَحَدٌ مَوْضِعَ ذٰلِكَ الْمَالِ فَهٰذِهِ كُلُّهَا مُشَاهَدَةٌ بَيْنَ النَّاسِ أَعُوَْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الْبُخْلِ.

(Atau akan menimpa kepadanya) Maksudnya kepada badannya (Penyakit yang berkepanjangan sehingga dia membelanjakan hartanya untuk mengobati penyakitnya atau dia mengubur harta itu) Maksunya hartanya (Di satu tempat dari berbagai tempat kemudian dia melupakannya sehingga dia tidak dapat menemukannya) Atau dia mati sebelum mengambil hartanya di tempat tersebut dan tidak ada yang tahu seorangpun pada tempat harta tersebut. Maka semua ini adalah hal yang sering terjadi di antara manusia. Aku berlindung kepada Allah dari sifat kikir.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 7 Maqolah 3

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: مَنْ كَثُرَ ضَحْكُهُ قَلَّتْ هَيْبَتُهُ) فَلَا يَهَا بُهُ النَّاسُ وَلَا يُعَظِّمُهُ. عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ الْغِفَارِي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: [إيَّاكَ وَكَثْرَةَ الضَّحِكِ فإِنَّهُ يُمِيْتُ الْقَلْبَ وَيَذْهَبُ بِنُوْرِ الْوَجْهِ]

Maqolah yang ke tiga (Telah berkata Umar Radhiallahu Anhu: Barang siapa banyak tertawanya maka berkuranglah wibawanya) Sehingga tidak akan memuliakan kepadanya manusia dan mengagungkannya. Dari Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallhuanhu berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Jauhilah olehmu banyak tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah].

(وَمَنْ اِسْتَخَفَّ بِالنَّاسِ اُسْتُخِفَّ بِهِ) وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [اَلْمُزَاحُ اِسْتِدْرَاجٌ مِنَ الشَّيْطَانِ واخْتِدَاعٌ مِنَ الْهَوَى] وَقَالَ عُمَرُ ابْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى: اِتَّقُوْا الْمِزَاحَ فَإِنَّهُ حَمَقَةٌ تُوْرِثُ ضَغِيْنَةً. وَقَالَ الْمَاوَرْدِيُّ:

(Dan barang siapa yang meremehkan manusia maka ia akan diremehkan oleh manusia) Dan benar-benar telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bersabda: [Bercanda adalah tipu daya dari setan dan tipuan dari hawa nafsu]. Dan telah berkata Umar bin Abdul Aziz Rahimahullahu Ta'ala: Hindari olehmu bercanda karena sesungguhnya bercanda itu adalah kebodohan yang menimbulkan dendam. Dan Imam Al-Mawardi berkata:

لَكِنَّمَا آخِرُهُ عَدَاوَةٌ*إِنَّ الْمِزَاحَ بَدْؤُهُ حَلَاوَةٌ
Sungguh guyonan itu awalnya manis*Akan tetapi akhirnya adalah permusuhan
وَيَجْتَرِي بَِسخْفِهِ السَّخِيْفُ*يَحْتَدُّ مِنْهُ الرَّجُلُ الشَّرِيْفُ
Menjadi marah karena guyonan itu orang yang mulia*Dan lancang merendahkan kepada orang mulia itu rakyat jelata

قَوْلُهُ: يَحْتَدُّ أَيْ يَغْضَبُ وَالسَّخِيْفُ نَاقِصُ الْعَقْلِ

Ucapan penyair: Lafadz يَحْتَدُّ maksudnya adalah marah dan lafadz اَلسَّخِيْفُ adalah orang yang kurang akalnya

(ومَنْ أَكْثَرَ مِنْ شَيْءٍ عُرِفَ بِهِ) أَيْ اِشْتَهَرَ بَيْنَ النَّاسِ بِذٰلِكَ الشَّيْءِ كَمَا قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللّٰهُ وَجْهَهُ: قِيْمَةُ الْمَرْءِ مَا كَانَ يُحْسِنُهُ. (وَمَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ) بِفَتْحَتَيْنِ أَيْ خَطَؤُهُ مِنَ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ.

(Dan barangsiapa banyak melakukan sesuatu maka ia pasti dikenal karena sesuatu itu) Maksudnya ia terkenal di antara manusia karena sesuatu itu sebagaimana telah berkata Ali Karramallahu Wajhah: Nilai seseorang adalah sesuatu yang dia bisa mengerjakan sebaik-baiknya (Dan barang siapa banyak omongannya maka banyak pula salahnya) Lafadz سقط dengan dua fathah maksudnya adalah kesalahannya dari ucapan dan perbuatan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ ذُنُوْبًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِيْمَا لَا يَعْنِیْهِ] رَوَاهُ ابْنُ نَصْرٍ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sungguh manusia yang paling banyak dosa-dosanya pada hari kiamat adalah yang paling banyak di antara mereka ucapannya dalam hal yang tidak bermanfaat baginya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Nasr

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يُعَذَّبُ اللِّسَانُ بِعَذَابِ لَا يُعَذّبُ بِهِ شَيءٌ مِنَ الْجَوَارِحِ فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ لِمَ عَذَّبْتَنِيْ بِعَذَابٍ لَمْ تُعَذِّبْ بِهِ شَيْئًا مِنَ الْجَوَارِحِ

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Akan diadzab lisan dengan suatu adzab yang tidak akan diadzab dengan adzab tersebut sesuatu apapun dari anggota-anggota badan yang lain kemudian lisan berkata: Ya Rabb kenapa engkau mengadzabku dengan suatu adzab yang tidak akan diadzab dengan adzab tersebut sesuatu apapun dari anggota-anggota badan yang lain ?

فَيُقَالُ لَهُ: خَرَجَتْ مِنْكَ كَلِمَةٌ بَلَغَتْ مَشَارِقَ الْأَرْضِ ومَغَارِبَهَا فَسُفِكَ بِهَا الدَّمُ الْحَرَامُ وأُخِذَ بِهَا الْمَالُ الْحَرَامُ وَانْتُهِكَ بِهَا الْفَرْجُ الحَرَامُ فَوَعِزَّتِيْ لِأُعَذِّبَنَّكَ بِعَذَابٍ لَا أُعَذِّبُ بِهِ شَيْئًا مِنَ الْجوَارِحِ] رَوَاهُ أَبُوْ نُعَیْمٍ.

Maka dikatakan kepada lisan: Telah keluar darimu perkataan yang sampai ke belahan timur dan barat sehingga ditumpahkan sebab perkataanmu itu darah yang haram dan dirampas karena perkataanmu itu harta yang haram dan dilanggar sebab perkataanmu itu farji wanita yang haram. Demi kemuliaanku benar-benar aku akan mengadzabmu dengan suatu adza yang aku tidak akan mengadzab dengannya suatu apapun dari anggota badan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aimin.

(وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ قَلَّ حَيَاؤُهُ) قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: مَنْ كَسَاهُ الْحَيَاءُ ثَوْبُهُ لَمْ يَرَ النَّاسُ عَيْبَهُ. وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: حَيَاةُ الْوَجْهِ بِحَيَائِهِ كَمَا أَنَّ حَيَاةَ الْغَرْسِ بِمَائِهِ. قَالَ صَالِحُ بْنُ عَبْدِ الْقُدُّوْسِ مِنْ بَحْرِ الطَّوِيْلِ :

(Dan barang siapa yang banyak kesalahan ucapannya maka sedikitlah rasa malunya) Telah berkata sebagian dari para hukama: Barang siapa yang menutup rasa malu sebagai bajunya maka manusia tidak akan melihat aibnya. Dan telah berkata sebagian ahli bahasa: hidupnya wajah itu bergantung sifat malunya sebagaimana sesungguhnya hidupnya tanaman itu bergantung airnya. Telah berkata Sholih Bin Abdul Quddus dari bahar towil

وَلَا خَيْرَ فِى وَجْهٍ إِذَا قَلَّ مَاؤُهُ*إِذَا قَلَّ مَاءُ الْوَجْهِ قَلَّ حَيَاؤُهُ
Jika sedikit air wajah maka sedikit rasa malunya*Dan tidak ada kebaikan pada wajah jika sedikit airnya
يَدُلُّ عَلَى فِعْلِ الْكَرِيْمِ حَيَاؤُهُ*حَيَاءُكَ فَاحْفَظْهُ عَلَيْكَ وَإِنَّمَا
Rasa malumu jagalah dia olehmu karena sesungguhnya*Akan menunjukkan pada perbuatan orang yang mulia rasa malunya

(وَمَنْ قَلَّ حَيَاؤُهُ قَلَّ وَرَعُهُ) وَهُوَ اجْتِنَابُ الشُّبُهَاتِ خَوْفًا مِنَ الْوُقُوْعِ فِى الْمُحَرَّمَاتِ (وَمَنْ قَلَّ وَرَعُهُ مَاتَ قَلْبُهُ) فَلَمْ يَقْبَلِ الْمَوَاعِظَ فَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى قَلْْبٌ قَاسٍ.

(Dan barang siapa yang sedikit rasa malunya maka sedikitlah sifat wara'nya) Wara' adalah menjauhi perkara-perkara syubhat karena takut terjerumus dalam perkara-perkara yang diharamkan (Dan barang siapa yang sedikit sifat wara'nya maka matilah hatinya) Sehingga tidak menerima pada nasihat. Sungguh manusia yang paling jauh dari Allah Adalah hati yang keras.


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 7 Maqolah 4

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ فِى) تَفْسِيْرِ (قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَّهُمَا﴾ [الكهف: الآية ٨٢]) أَيْ يَتِيْمَيْنِ هُمَا أَصْرَمُ وَصَرِيْمُ

Maqolah yang ke empat (Dari Utsman Radhiallahu Anhu Sesungguhnya dia berkata mengenai) Tafsir (Firman Allah Ta'ala: ﴾Dan ada di bawahnya harta simpanan milik kedua anak yatim itu﴿ [Q.S Al-Kahfi: Ayat 82]) Maksudnya kedua anak yatim mereka adalah ashrom dan shorim

(﴿وَكَانَ أَبُوْهُمَا صَلِحًا﴾ [الكهف: الآية ٨٢]) اِسْمُهُ كَاشِحٌ (اَلْكَنْزُ لَوْحٌ مِنْ ذَهَبٍ وَعَلَيْهِ، أَيْ اللَّوْحِ، سَبْعَةُ أَسْطُرٍ مَكْتُوْبٌ فِى إِحْدَاهَا) أَيْ السَّبْعَةِ

(﴾Dan bapak dari kedua anak yatim itu adalah orang yang sholeh﴿ [Q.S Al-Kahfi: Ayat 82]) Namanya adalah Kasyih (Harta simpanan itu berupa papan dari emas dan di atasnya maksudnya di atas papan emas ada tujuh baris tulisan ditulis pada salah satunya) Maksudnya dari yang tujuh

(عَجِبْتُ لِمَنْ عَرَفَ الْمَوْتَ) أَنَّهُ وَاقِعٌ يَقِيْنًا (وَهُوَ يَضْحَكُ) فِى السِّخْرِى بِكَسْرِ السِّيْنِ

(Aku heran kepada orang yang tau kematian) Sesungguhnya kematian itu akan terjadi dengan yakin (Sedangkan dia tertawa) Dalam mengejek. lafadz اَلسِّخْرِ divaca dengan kasroh pada huruf س.

(وَعَجِبْتُ لِمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا فَانِيَةً وَهُوَ يَرْغَبُ فِيْهَا) وَيَتَوَجَّهُ إِلَى اِشْتِغَالِهَا

(Dan aku heran kepada orang yang mengerti dunia akan rusak sedangkan dia berhasrat pada dunia) dan dia menghadap pada kesibukan dunia

(وَعَجِبْتُ لِمَنْ عَرَفَ أَنَّ الْْأُمُوْرَ بِأَقْدَارٍ) أَيْ بِتَقْدِيْرِ اللّٰهِ إِيَّاهَا (وَهُوَ يَغْتَمُّ) أَيْ يَحْزَنُ (لِلْفَوَاتِ) أَيْ لِفَوَاتِ تِلْكَ الْأُمُوْرِ

(Dan saya heran kepada orang yang mengetahui bahwa segala urusan itu dengan batas takdir) Maksudnya dengan takdir Allah kepada semua perkara (Sedangkan dia bersedih) Maksudnya bersedih (karena kehilangan) Maksudnya karena kehilangan perkara-perkara itu

(وَعَجِبْتُ لِمَنْ عَرَفَ الْحِسَابَ) بِالْمُنَاقَشَةِ (وَهُوَ يَجْمَعُ مَالًا، وَعَجِبْتُ لِمَنْ عَرَفَ النَّارَ) أَيْ دَارَ الْعِقَابِ (وَهُوَ يَذْنَبُ) أَيْ وَالْحَالُ أَنَّهُ يَفْعَلُ الْإِثْمَ

(Dan aku heran kepada orang yang mengetahui hisab) Dengan perdebatan (Sedangkan dia mengumpulkan harta, dan aku heran kepada orang yang mengetahui neraka) Maksudnya tempat siksa (Sedangkan dia berbuat dosa) Maksudnya keadaan sesungguhnya orang itu berbuat dosa.

(وَعَجِبْتُ لِمَنْ عَرَفَ الْجَنَّةَ) أَيْ دَارَ الثَّوَابِ (يَقِيْنًا وَهُوَ يَسْتَرِيْحُ بِالدُّنْيَا) أَيْ يُقْبِلُ الرَّاحَةَ بِالدُّنْيَا

(Dan aku heran kepada orang yang mengetahui surga) Maksudnya tempat pahala (Dengan yakin sedangkan dia bersantai dengan dunia) Maksudnya ia menghadapi kenyamanan dengan dunia

(وَعَجِبْتُ لِمَنْ عَرْفَ الشَّيْطَانَ عَدُوًّا) لَهُ (فَأَطَاعَهُ) فِى دُعَائِهِ إِلَى الْمَعَاصِى.

(Dan aku heran kepada orang yang mengetahui setan sebagai musuh) Baginya (Kemudian dia menta'ati setan) Dalam ajakannya menuju kemaksiatan


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 7 Maqolah 5

الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ(سُئِلَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (مَا أَثْقَلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا أَوْسَعُ مِنَ الْأَرْضِ وَمَا أَغْنَى مِنَ الْبَحْرِ وَمَا أَشَدُّ مِنَ الْحَجَرِ وَمَا أَحَرُّ مِنَ النَّارِ وَمَا أَبْرَدُ مِنَ الزَّمْهَرِيْرِ وَمَا أَمَرُّ مِنَ السُّمِّ؟

(Ditanya Ali Radhiallahu Anhu) Wa Karroma Wajhahu (Apa yang lebih berat daripada langit dan apa yang lebih luas daripada bumi dan apa yang lebih kaya daripada lautan dan apa yang lebih keras daripada batu dan apa yang lebih panas daripada api dan apa yang lebih dingin daripada air embun dan apa yang lebih pait daripada racun?
فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: اَلْبُهْتَانُ) أَيْ اِفْتِرَاءُ الْكَذِبِ وَالْقَذْفُ بِالْبَاطِلِ (عَلَى الْبَرَايَا)أَيْ الْخَلَائِقِ(أَثْقَلُ مِنَ السَّمَاءِ. وَالْحَقُّ) أَيْ اَلْحُكْمُ الْمُطَابِقُ لِلْوَاقِعِ (أَوْسَعُ مِنَ الْأَرْضِ) مِنْ مَشْرِقِهَا إِلَى مَغْرِبِهَا

Berkata Ali Radhiallahu Anhu: Berdusta) Maksudnya berbuat kebohongan dan menuduh dengan batil (Kepada manusia) Maksudnya para makhluk (Itu lebih berat daripada langit. Dan kebenaran) Maksudnya hukum yang cocok dengan realitas (Itu lebih luas daripada bumi)</span></b> Dari awal arah timurnya sampai arah baratnya

(وَقَلْبُ الْقَانِعِ) أي الرَّاضِى بِالْقِسْمَةِ (أَغْنَى مِنَ الْبَحْرِ وَقَلْبُ الْمُنَافِقِ أَشَدُّ) قَسْوَةً (مِنَ الْحَجَرِ) فَإِنَّ الْحَجَرَ يَتَأَثَّرُ بِالْحَدِيْدِ وَبِمُرُوْرِ الْحَبْلِ وَالْمَطَرِ مَعَ طُوْلِ الزَّمَنِ بِخِلَافِ قَلْبِ الْمُنَافِقِ فَإِنَّهُ لَا يَتَأَثَّرُ بِأَنْوَاعِ الْمَوَاعِظِ

(Dan hati orang yang qona'ah) Maksudnya ridho dengan bagian dari Allah (Itu lebih kaya daripada lautan dan hati orang munafik itu lebih berat) kerasnya (daripada batu) Karena sesungguhnya batu itu dapat membekas oleh besi dan oleh gesekan tali dan oleh hujan dengan lamanya waktu berbeda dengan orang munafik karena sesungguhnya hati orang munafik itu tidak akan membekas dengan berbagai macam nasihat.

(وَالسُّلْطَانُ الْجَائِرُ أَحَرُّ) أَيْ أَشَدُّ حَرًّا (مِنَ النَّارِ وَالْحَاجَةُ إِلَى اللَّئِيْمِ) أَيْ طَلَبُ الْحَاجَةِ مِنَ الشَّحِيْحِ النَّفْسِ وَالدَنِيْءِ الْأَصْلِ (أَبْرَدُ مِنَ الزَّمْهَرِيْرِ) أَيْ شِدَّةِ الْبَرْدِ

(Dan penguasa yang dzolim itu lebih panas) Maksudnya sangat panas (Daripada api dan butuh kepada orang yang tercela) Maksudnya meminta kebutuhan dari orang yang pelit sifatnya dan dari orang yang hina asalnya (Itu lebih dingin daripada zamharir) Maksudnya sesuatu yang sangat dingin

(وَالصَّبْرُ أَمَرُّ) أَيْ أَشَدُّ مُرًّا (مِنَ السُّمِّ، وَقِيْلَ: اَلنَّمِيْمَةُ أََمَرُّ مِنَ السُّمِّ) رُوِيَ أَنَّهُ قَالَ: [لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَهُوَ بِفَتْحِ الْقَافِ وَتَشْدِيْدِ التَّاءِ: أَيْ نَمَّامٌ كَمَا فِى رِوَايَةٍ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَيْسَ مِنِّي ذُو حَسَدٍ وَلَا نَمِيْمَةٍ وَلَا كَهَانَةٍ وَلَا أَنَا مِنْهُ].

(Dan sabar itu lebih pahit) Maksudnya sangat pahit (Daripada racun, dan dikatakan: Namimah itu lebih pahit daripada racun) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi bersabda: [Tidak akan masuk surga orang yang suka adu domba] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhari dan Imam Muslim Dan Imam Abu Daud. Lafadz قتات dengan memfathahkan huruf ق dan tasydid pada huruf ت: Maksudnya adalah orang yang suka adu domba. Sebagaimana dalam riwayat sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Bukan termasuk golongan umatku orang yang dengki dan bukan termasuk golongan umatku orang yang suka adu domba dan bukan termasuk golongan umatku seorang dukun dan aku tidaklah termasuk dari golongan itu].


Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 7 Maqolah 6

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: اَلدُّنْيَا دَارُ مَنْ لَا دَارَ لَهُ) لِزَوَالِهَا (وَمَالُ مَنْ لَا مَالَ لَهُ) كَذٰلِكَ (وَلَهَا يَجْمَعُ مَنْ لَا عَقْلَ لَهُ) كَامِلَ

Maqolah yang ke enam (Telah bersabda Nabi ﷺ: Dunia adalah tempat orang yang tidak ada tempat baginya) Karena kefanaan dunia (Dan dunia adalah harta orang yang tidak ada harta baginya) Juga karena kefanaannya (Dan untuk dunia menumpuk-numpuk harta orang yang tidak ada akal sehat baginya) Akal yang sempurna

(وَيَشْتَغِلُ بِشَهَوَاتِهَا مَنْ لَا فَهْمَ لَهُ وَعَلَيْهَا يَحْزَنُ مَنْ لَا عِلْمَ لَهُ، وَلَهَا يَحْسُدُ مَنْ لَا لُبَّ لَهُ) وَاللُّبُّ هُوَ الْعَقْلُ الْمُنَوِّرُ بِنُوْرِ الْقُدْسِ الصَّافِيِّ عَنْ قُشُوْرِ الْأَوْهَامِ (وإلَيْهَا يَسْعَى) أَيْ يَذْهَبُ (مَنْ لَا يَقِيْنَ لَهُ) أَيْ مَنْ لَا طُمَأْنِيْنَةَ لِقَلْبِهِ.

(Dan sibuk dengan syahwat dunia orang yang tidak ada pemahaman baginya dan karena dunia bersedih orang yang tidak ada ilmu baginya, dan untuk dunia iri orang yang tidak ada fikiran baginya) Dan lafadz لُبُّ maknanya yaitu aqal yang bisa menerangi dengan cahaya dari Allah yang murni dari kulit-kulit pemahaman yang salah (Dan kepada dunia akan berjalan) Maksudnya pergi (Orang yang tidak ada keyakinan baginya) Maksudnya orang yang tidak ada kepercayaan pada hatinya

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللّٰهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيْرَيْنِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللّٰهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللّٰهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِى سَبِيْلِ الشَّيْطَانِ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Jika ada orang yang keluar rumah dia berusaha untuk anaknya yang kecil maka dia berada di jalan Allah dan jika ada orang yang keluar rumah dia berusaha untuk kedua orang tua yang sudah tua keduanya dan renta keduanya maka dia berada di jalan Allah dan jika ada orang yang keluar rumah dia berusaha untuk dirinya menjaga dirinya dari meminta maka dia berada di jalan Allah dan jika ada orang yang keluar rumah dia berusaha karena ria dan berbangga-bangga maka dia berada di jalan setan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thabrani


Tidak ada komentar:

Posting Komentar