Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 11
(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ) أَيْ أَصْلُهُ فَقِوَامُ الدِّينِ لَيْسَ إِلَّا بِهَا كَمَا أَنَّ الْبَيْتَ لَا يَقُومُ إِلَّا عَلَى عَمُودِهِ فَهِيَ تَحْقِيقٌ لِلْعُبُودِيَّةِ وَأَدَاءٌ لِحَقِّ الرُّبُوبِيَّةِ وَجَمِيْعِ الْعِبَادَاتِ وَسَائِلُ إلَى تَحْقِيقِ سِرِّهَا (وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ)، قَالَ ﷺ: [الصَّمْتُ أَرْفَعُ الْعِبَادَةِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. أَيْ السُّكُوتُ عَمَّا لَا يَنْفَعُ فِى الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَتَرْكُ الرَّدِّ عَلَى مَنْ اِعْتَدَى مِنْ أَرْفَعِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ، فَإِنَّ أَكْثَرَ الْخَطَايَا مِنَ اللِّسَانِ، أَمَّا إذَا كَانَ الْإِنْسَانُ خَالِيًا عَنْ النَّاسِ فَلَا يَكُونُ سُكُوتُهُ مِنَ الْعِبَادَةِ.
Maqolah yang ke sebelas (Dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Nabi bersabda: [Sholat adalah tiang agama) Maksudnya pangkalnya agama. Maka tegaknya agama itu tidak ada kecuali dengan sholat sebagaimana sesungguhnya rumah itu tidak akan bisa berdiri kecuali dengan tiang rumah Maka sholat adalah perwujudan untuk ibadah dan pelaksanaan pada hak-hak ketuhanan dan seluruh ibadah itu menjadi sarana menuju perwujudan dari rahasia sholat. (Dan tidak berkata-kata itu lebih utama) Telah berkata ﷺ: [Tidak berkata-kata adalah setinggi-tingginya ibadah] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailami dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu. Maksudnya diam dari perkara yang tidak bermanfaat dalam urusan agama dan dunia dan meninggalkan dari menjawab kepada orang yang dzolim adalah sebagian dari setinggi-tingginya warna ibadah. Karena sesungguhnya paling banyaknya kesalahan itu dari lisan. Adapun ketika ada manusia yang sepi dari manusia maka tidak menjadi diamnya orang itu bagian dari ibadah.
(وَالصَّدَقَةُ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ، وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ) قَالَ ﷺ: [الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَسِتْرٌ لِلْجَاهِلِ] رَوَاهُ أَبُو الشَّيْخِ عَنْ مُحْرِزٍ وَذَلِكَ لِمَا فِي الصَّمْتِ مِنَ الْوَقَارِ، أَيْ الرَّزَانَةِ الْمُنَاسِبَةِ لِحَقِّ الْعِلْمِ وَلِأَنَّ الْمَرْءَ جَهْلُهُ مَسْتُورٌ مَا لَمْ يَتَكَلَّمْ.
(Shodaqoh itu bisa memadamkan murkanya Allah dan diam itu lebih utama) Telah bersabda Nabi ﷺ: [Diam adalah perhiasan bagi orang alim dan penutup untuk orang-orang bodoh] Telah meriwayatkan hadits ini Abu Syaikh dari Muhriz dan hal itu karena perkara yang ada sebab diam nyatanya wibawa maksudnya ketenangan hati yang sesuai dengan kebenaran ilmu dan karena sesungguhnya seseorang itu kebodohannya tertutup selama ia tidak berbicara.
(وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ) أَيْ وِقَايَةٌ (مِنَ النَّارِ، وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ) قَالَ ﷺ: [الصَّمْتُ سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ عَنْ أَنَسٍ، أَيْ السُّكُوتُ عَمَّا لَا ثَوَابَ فِيهِ سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ الْحَسَنَةِ لِسَلَامَةِ صَاحِبِهِ مِنَ الْغِيبَةِ وَنَحْوِهَا. أَمَّا الِاشْتِغَالُ بِمَا فِيهِ ثَوَابٌ مِنْ نَحْوِ ذِكْرٍ وَقِرَاءَةِ قُرْآنٍ وَعِلْمٍ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الصَّمْتِ.
(Puasa adalah benteng) Maksudnya pelindung (Dari neraka dan diam itu lebih utama) Telah bersabda ﷺ: [Diam adalah pimpinan akhlak] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailami dari Anas. Maksudnya diam dari perkara yang tidak mengandung pahala di dalamnya adalah pimpinan akhlak yang baik karena selamatnya orang yang mempunyai diam dari gibah dan seumpama gibah. Adapun sibuk dengan perkara yang di dalamnya ada pahala dari seumpama dzikir dan membaca Al-Qur'an dan membaca ilmu maka hal itu lebih utama dibandingkan diam.
(وَالْجِهَادُ سَنَامُ الدِّينِ) أَيْ أَعْلَاهُ إِنْ تَعَيَّنَ وَذَلِكَ أَنَّ الْجِهَادَ يُعْلَمُ مِنْ مَحَلٍّ بَعِيدٍ كَمَا أَنَّ سَنَامَ الْإِبِلِ يُرَى مِنْ بَعِيدٍ (وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ]) قَالَ ﷺ: [الصَّمْتُ حِكَمٌ وَقَلِيلُ فَاعِلُهُ] رَوَاهُ الْقُضَاعِيُّ عَنْ أَنَسٍ وَالدَّيْلَمِيِّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ، أَيْ الصَّمْتُ حِكْمَةٌ، أَيْ نَافِعٌ يَمْنَعُ مِنَ الْجَهْلِ وَقَلَّ مَنْ يَصْمُتُ عَمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَمَنْ يَمْنَعُ نَفْسَهُ عَنِ النُّطْقِ بِمَا يُشِيْنُهُ. وَمِنْ ثَمَّ قِيلَ: [مِنْ بَحْرِ الْخَفِيفِ]
(Dan jihad adalah puncak agama) Maksudnya yang tertinggi dari agama jika sudah wajib dan hal itu sesungguhnya jihad bisa diketahui dari tempat yang jauh sebagaimana sesungguhnya punuk unta bisa dilihat dari kejauhan (Dan diam itu lebih utama) Telah bersabda Nabi ﷺ: [Diam merupakan hikmah dan sangat sedikit orang yang melakukannya] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Qudho'i dari Anas dan Imam Ad-Dailami dari Ibnu Umar. Maksudnya diam adalah kebijaksanaan maksudnya yang bermanfaat yang bisa mencegah dari kebodohan dan sedikit orang yang bisa diam dari perkara yang tidak mengandung faedah di dalamnya dan sedikit orang yang bisa mencegah pada dirinya sendiri darii berucap atas perkara yang akan mempermalukan dirinya. Oleh karena itulah dikatakan: [Dari Bahar Khofif]
| َقَدْ فَرَشْتَ الْفُضُولَ عَرْضًا وَطُولًا | * | يَا كَثِيرَ الْفُضُولِ قَصِّرْ قَلِيلًا |
| فَاسْكُتِ الْآنَ إِنْ أَرَدْتَ جَمِيلًا | * | قَدْ أَخَذْتَ مِنَ الْقَبِيحِ بِحَظٍّ |
| ًWahai orang yang banyak bicara kurangilah ucapanmu sedikit | * | Sungguh kau telah menyebarkan ucapan itu dengan mengemukakan dan melebih-lebihkan |
| Sungguh kau telah mengambil dari keburukan sebagai jatah | * | Maka diamlah sekarang juga jika engkau mengharapkan keindahan |
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ وَهَوَاكَ فِي ذَاتِ اللَّهِ]رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Paling utamanya jihad adalah engkau memerangi dirimu dan hawa nafsumu di dalam meraih ridho Allah] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailami.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 12
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ (قِيلَ: أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى نَبِيٍّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ بَنِي إسْرَائِيلَ) عَلَيْهِمْ السَّلَامُ (وَقَالَ) جَلَّ وَعَزَّ (صَمْتُكَ عَنِ الْبَاطِلِ) وَهُوَ مَا لَا يُفِيدُ شَيْئًا (لِي) أَيْ لِأَجْلِي (صَوْمٌ) أَيْ ثَوَابُهُ كَثَوَابِ الصَّوْمِ (وَحِفْظُكَ الْجَوَارِحَ) أَيْ الْعَوَامِلَ كَالْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ (عَنِ الْمَحَارِمِ لِي صَلَاةٌ) أَيْ أَجْرُهُ كَأَجْرِ الصَّلَاةِ (وَإِيَاسُكَ) أَيْ قَطْعِ طَمَعَكَ (عَنِ الْخَلْقِ لِي صَدَقَةٌ) أَيْ ثَوَابُهُ كَثَوَابِ الصَّدَقَةِ (وَكَفُّكَ الْأَذَى) أَيْ وُصُولَ الْمَكْرُوهِ (عَنِ الْمُسْلِمِينَ لِي) أَيْ لِأَجْلِي (جِهَادٌ) أَيْ ثَوَابُهُ كَثَوَابِ الْجِهَادِ.
Maqolah yang ke dua belas (Dikatakan: Telah mewahyukan Allah Ta'ala kepada Nabi dari Bani Israil) Alaihimus Salam (Dan Allah berfirman) Jalla Wa Azza (Diamnya engkau dari kebatilan) Yaitu perkara yang tidak memberikan faedah apapun (Karena ku) Maksudnya karena arah-arah ridhoku (Adalah puasa) Maksudnya ganjaran diam dari kebatilan itu seperti ganjaran puasa (Dan menjaganya kamu pada angota badan) Maksudnya anggota badan seperti kedua tangan dan kedua kaki (Dari yang diharamkan karenaku adalah sholat) Maksudnya ganjaran menjaga anggota badan dari yang diharamkan itu seperti ganjaran sholat (Dan keputusasaanmu) Maksudnya putusnya sifat tomamu (Dari Makhluk karenaku adalah shodaqoh) Maksudnya pahala memutus sifat toma dari adalah shodaqoh (Dan menahannya kamu dari menyakiti) Maksudnya menyalurkan perkara yang dibenci (Pada orang orang muslim karena ku) Maksudnya karena arah-arah ridhoku (Adalah jihad) Maksudnya pahala menahan dari menyakiti pada orang-orang muslim itu seperti pahala jihad.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 13
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (مِنْ ظُلْمَةِ الْقَلْبِ: بَطْنٌ شَبْعَانٌ مِنْ غَيْرِ مُبَالَاةٍ) بِأَنْ كَانَ الشِّبْعُ زَائِدًا عَنْ ثُلُثِ الْمَصَارِينَ الَّذِي هُوَ الشِّبْعُ الشَّرْعِيُّ (وَصُحْبَةُ الظَّالِمِينَ) أَيْ الْمُتَجَاوِزِينَ عَنِ الْحَقِّ إِلَى الْبَاطِلِ (وَنِسْيَانُ الذُّنُوبِ الْمَاضِيَةِ) بِأَنْ يَغْفُلَ عَنْهَا مِنْ غَيْرِ نَدَمٍ (وَطُولُ الْأَمَلِ) وَهُوَ تَرَقُّبُ مَا يُسْتَبْعَدُ حُصُولُهُ.
Maqolah yang ke tiga belas (Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu Anhu ia berkata: Empat) Dari perkara (Dari sebagian sebab gelapnya hati: Perut yang kenyang dari selain kepedulian) Dengan adanya perut itu kenyang melebihi sepertiga usus yang merupakan kenyang menurut syara (Dan bergaul bersama orang-orang dzolim) Maksudnya orang-orang yang saling melewati batas dari batas kebenaran menuju batas kebatilan (Dan lupa dari dosa-dosa yang telah lalu) Dengan cara lupa dari dosa itu dengan tanpa penyesalan (Dan panjang angan-angan) Yaitu mengharapkan perkara yang mustahil hasilnya perkara itu.
وَعَنْ عَلِيٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: [إِنَّ أَشَدَّ مَا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ خِضْلَتَانِ: إِتْبَاعُ الْهَوَى وَطُولُ الْأَمَلِ، فَأَمَّا إتْبَاعُ الْهَوَى فَإِنَّهُ يَعْدِلُ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَالْحُبُّ لِلدُّنْيَا] رَوَاهُ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا.
Diriwayatkan dari Ali Sesungguhnya Rasulallah ﷺ bersabda: [Sesungguhnya paling beratnya perkara yang aku khawatir menimpa kalian semua adalah dua perkara: Mengikuti hawa nafsu dan panjang angan angan. Adapun mengikuti hawa nafsu karena sesungguhnya mengikuti hawa nafsu itu bisa memalingkan seseorang dari kebenaran dan adapun panjang angan-angan itu menjadi sebab cinta dunia] Telah meriwayatkan hadits ini Ibnu Abid-Dunia
(وَأَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (مِنْ نُورِ الْقَلْبِ: بَطْنٌ جَائِعٌ مِنْ حَذَرٍ) أَيْ لِأَجْلِ تَيَقُّظٍ وَتَأَهُّبٍ (وَصُحْبَةُ الصَّالِحِينَ) أَيْ الْخَالِصِينَ مِنْ كُلِّ فَسَادٍ (وَحِفْظُ الذُّنُوبِ الْمَاضِيَةِ) بِأَنْ يَتَذَكَّرَهَا مَعَ النَّدَمِ (وَقَصْرُ الْأَمَلِ) أَيْ حَبْسُهُ.
(Dan empat) Dari perkara (Dari sebagian sebab terangnya hati: Perut yang lapar karena berhati-hati) Maksudnya karena arah kewaspadaan dan siap-siap (Dan bersahabat bersama orang-orang sholeh) Maksudnya mereka yang murni dari setiap kerusakan (Dan mengingat dari dosa yang telah berlalu) Dengan cara mengingat dosa itu disertai penyesalan (Dan memendekkan angan-angan) Maksudnya menahan dari berangan-angan.
قَالَ أَبُو الطَّيِّبِ: مَنْ جَلَسَ مَعَ ثَمَانِيَةِ أَصْنَافٍ زَادَهُ اللَّهُ ثَمَانِيَةَ أَشْيَاءَ: مَنْ جَلَسَ مَعَ الْأَغْنِيَاءِ زَادَهُ اللَّهُ حُبَّ الدُّنْيَا وَالرَّغْبَةَ فِيْهَا، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُقَرَاءِ حَصَلَ لَهُ الشُّكْرُ وَالرِّضَا بِقِسْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ السُّلْطَانِ زَادَهُ اللَّهُ الْقَسْوَةَ وَالْكِبْرَ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ النِّسَاءِ زَادَهُ اللَّهُ الْجَهْلَ وَالشَّهْوَةَ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصِّبْيَانِ ازْدَادَ مِنْ اللَّهْوِ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُسَّاقِ ازْدَادَ مِنْ الْجَرَاءَةِ عَلَى الذُّنُوبِ وَتَسْوِيفِ التَّوْبَةِ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصَّالِحِينَ ازْدَادَ رَغْبَةً فِي الطَّاعَةِ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْعُلَمَاءِ ازْدَادَ مِنْ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ.
Telah berkata Abu Toyyib: Barang siapa yang duduk bersama delapan golongan maka pasti Allah akan menambah kepadanya delapan perkara: Barang siapa duduk bersama orang-orang kaya maka pasti Allah akan menambah kepadanya cinta dunia dan senang kepada dunia, dan barang siapa duduk bersama orang-orang fakir maka akan hasil kepadanya rasa syukur dan ridho atas bagian dari Allah Ta'ala, Dan barang siapa duduk bersama sultan maka pasti Allah akan menambah kepadanya kerasnya hati dan sombong, dan barang siapa duduk bersama perempuan maka pasti Allah akan menambahkan kepadanya kebodohan dan syahwat, dan barang siapa duduk bersama anak-anak kecil maka bertambah kepadanya dari bermain-main, dan barang siapa duduk bersama orang-orang fasik maka bertambah kepadanya dari berani melakukan pada dosa-dosa dan menunda-nunda taubat, dan barang siapa duduk bersama orang orang sholeh maka bertambah kepadanya rasa suka dalam ketaatan, dan barang siapa duduk bersama para ulama maka bertambah kepadanya dari ilmu dan amal
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 14
(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَنَّهُ قَالَ: مَنِ ادَّعَى أَرْبَعَةً) مِنَ الصِّفَاتِ (بِلَا أَرْبَعَةٍ) مِنَ الْأَدِلَّةِ (فَدَعْوَاهُ كَاذِبَةٌ) فَلَا تُقْبَلُ كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ: [مِنْ بَحْرِ الْخَفِيفِ]
Maqolah yang ke empat belas (Dari Hatim Al-Ashom Rahmatullahi Alaihi sesungguhnya ia berkata: Barang siapa yang mengaku-ngaku atas empat) Dari sifat-sifat (Tanpa empat) Dari bukti-bukti (Maka pengakuan orang itu adalah dusta) Maka tidak diterima sebagaimana telah berkata sebagian ulama: [Dari Bahar Khofif]
| َ أَوْ تَكُنْ شَاعِرًا فَكُنْ كَابْنِ هَانِي | * | إِنْ تَكُنْ فَارِسًا فَكُنْ كَعَلِيٍّ |
| كَذَّبَتْهُ شَوَاهِدُ الْاِمْتِحَانِ | * | كُلُّ مَنْ يَدَّعِي بِمَا لَيْسَ فِيهِ |
| ًJika terbukti kamu seorang penunggang kuda maka maka jadilah kamu seperti sayyidina Ali | * | Atau jika kamu terbukti seorang penyair maka jadilah kamu seperti Ibnu Hani |
| Setiap orang yang mengaku-ngaku atas perkara yang tidak ada dalam dirinya | * | Maka akan mendustakan kepadanya bukti-bukti ujian |
(مَنِ ادَّعَی حُبَّ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ تَعَالَى فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ) لِجَرَاءَتِهِ عَلَى قُرْبِ حَمَاهُ تَعَالَى (وَمَنِ ادَّعَى حُبَّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَكَرِهَ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِينَ فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ) لِأَنَّهُمْ أَحْبَابُهُ ﷺ (وَمَنِ ادَّعَى حُبَّ الْجَنَّةِ وَلَمْ يَتَصَدَّقْ) بِمَا تَيَسَّرَ لَهُ (فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ، وَمَنِ ادَّعَی خَوْفَ النَّارِ وَلَمْ یَنْتَهِ عَنِ الذُّنُوبِ فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ) قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ.
(Barang siapa yang mengaku cinta kepada Allah sedangkan ia tidak menjauh dari larangan Allah Ta'ala maka pengakuan orang itu adalah dusta) Karena beraninya ia dalam mendekati batas larangan Allah (Dan barang siapa mengaku mencintai Nabi Alaihis Salam sedangkan ia benci kepada orang-orang fakir dan orang-orang miskin maka pengakuan orang itu adalah dusta) Karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dicintai Nabi ﷺ (Dan barang siapa mengaku-ngaku cinta surga sedangkan ia tidak bersedekah) Atas perkara yang mudah baginya (Maka pengakuan orang itu adalah dusta, dan barang siapa mengaku-ngaku takut neraka sedangkan ia tidak menjauh dari perbuatan-perbuatan dosa maka pengakuan orang itu adalah dusta) Telah bersabda Nabi ﷺ: [Telah di kelilingi neraka dengan syahwat dan telah dikelilingi surga dengan perkara-perkara yang dibenci] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Bukhori dan Imam Muslim Dari Abu Huroiroh.
وَهَذَا مِنْ جَوَامِعِ كَلِمِهِ ﷺ فِي ذَمِّ الشَّهَوَاتِ وَفِي الْحَضِّ عَلَى الطَّاعَاتِ، فَكَأَنَّهُ ﷺ قَالَ: لَا يُوصَلُ إِلَى الْجَنَّةِ إِلَّا بِارْتِكَابِ الْمَشَقَّاتِ وَلَا إِلَى النَّارِ إِلَّا بِتَعَاطِي الشَّهَوَاتِ، فَمَنْ خَرَقَ الْحِجَابَ دَخَلَ.
Dan ini adalah sebagian dari jawami'ul kalim Nabi ﷺ Dalam mencela syahwat dan dalam mendorong kepada keta'atan. Seakan-akan Nabi ﷺ bersabda: Tidak akan bisa sampai ke dalam surga kecuali melakukan perkara-perkara yang sulit dan tidak akan sampai ke dalam neraka kecuali dengan menuruti syahwat. Barang siapa menembus hijab maka pasti ia akan masuk.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 15
(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ: [عَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأُمُورِ (نِسْيَانُ الذُّنُوبِ الْمَاضِيَةِ) مِنْ غَيْرِ نَدَمٍ عَلَيْهَا (وَهِيَ) أَيْ وَالْحَالُ أَنَّهَا (عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مَحْفُوظَةٌ) أَيْ مَضْبُوطَةٌ بِعَدَدِهَا وَزَمَانِهَا وَمَحَلِّهَا (وَذِكْرُ الْحَسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ) بِالْقَلْبِ (وَلَا يَدْرِي أَقُبِلَتْ) أَيْ الْحَسَنَاتُ (أَمْ رُدَّتْ، وَنَظَرُهُ إلَى مَنْ فَؤَّقَهُ فِي الدُّنْيَا) بِأَنْ طَمَحَ النَّظَرَ لَهَا وَلَمْ يَرْضَ بِالْقِسْمَةِ (وَنَظَرُهُ إلَى مَنْ دُونَهُ فِي الدِّينِ) أَيْ الْعَمَلِ الصَّالِحِ وَلَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ عَلَى نِعَمِ عَمَلِ نَفْسِهِ (يَقُولُ اللَّهُ: أَرَذْتُهُ) بِمَعْنَى إيَّاهُ عَنِ الدُّنْيَا وَإِعَانَتِيْ إيَّاهُ عَلَى الطَّاعَةِ (وَلَمْ يُرِدْنِيْ) بِالرِّضَا وَالشُّكْرِ (فَتَرَكْتُهُ) بِتَرْكِ نُصْرَتِهِ (وَعَلَامَةُ السَّعَادَةِ أَرْبَعَةٌ) مِنْ الْأُمُورِ (ذِكْرُ الذُّنُوبِ الْمَاضِيَةِ) بِالنَّدَمِ وَالِاسْتِغْفَارِ (وَنِسْيَانُ الْحَسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ) كَأَنَّهَا لَمْ تَقَعْ مِنْهُ لِأَنَّهَا لَا تَخْلُوْ مِنَ الْعِلَلِ (وَنَظَرُهُ إلَى مَنْ فَوْقَهُ فِي الدِّيْنِ) فَيَقْتَدِي بِهِ (وَنَظَرُهُ إلَى مَنْ دُونَهُ فِي الدُّنْيَا) فَيَشْكُرُ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ تَعَالَى عَلَيْهِ.
Maqolah yang ke lima belas (Dari Nabi Alaihis Salam sesungguhnya Nabi bersabda: [Tanda-tandanya celaka itu ada empat) Dari perkara (Melupakan dosa yang telah berlalu) Dengan tanpa penyesalan atas dosa-dosanya (Sedangkan dosa itu) Maksudnya sedangkan keadaan sesungguhnya dosa itu (Di sisi Allah Ta'ala itu terjaga) Maksudnya dicatat dengan jumlahnya dan waktunya dan tempat dari dosa itu (Dan mengingat-ingat kebaikan yang telah lalu) Dengan hati (Sedangkan ia tidak tahu apakah diterima) Maksudnya kebaikan-kebaikan (Atau ditolak, dan pandangan orang itu kepada orang yang ada di atasnya dalam urusan dunia) Dengan cara ia berhasrat melihat pada dunia dan ia tidak ridho atas bagian dari Allah (Dan pandangan orang itu kepada orang yang ada di bawahnya dalam urusan adama) Maksudnya amal sholeh dan ia tidak bersyukur kepada Allah atas kenikmatan amaliah dirinya sendiri (Allah berfirman: Aku menginginkan dia) Dengan ma'na kepadanya jauh dari dunia dan pertolonganku kepadanya dalam ketaatan (Sedangkan ia tidak menginginkan aku) Dengan ridho dan syukur (Maka aku meninggalkan dia) Dengan cara meninggalkan pertolongan padanya (Dan tanda-tanda kebahagiaan ada empat) Dari perkara-perkara (Mengingat dosa-dosa yang telah berlalu) Dengan penyesalan dan memohon ampunan (Dan melupakan kebaikan-kebaikan yang telah berlalu) Seakan-akan kebaikan-kebaikan itu tidak terjadi darinya karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu tidaklah kosong dari kekurangan (Dan pandangan orang itu kepada orang yang ada di atasnya dalam urusan agama) kemudian ia mengikuti padanya (Dan pandangan orang itu kepada orang yang ada di bawahnya dalam urusan dunia) Kemudian ia bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat Allah Ta'ala kepadanya.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 16
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ: أَنَّ شَعَائِرَ الْإِيمَانِ) أَيْ أَعْلَامُهُ (أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأَعْمَالِ (التَّقْوَى) وَهُوَ فِي الطَّاعَةِ يُرَادُ بِهِ الْإِخْلَاصُ، وَفِي الْمَعْصِيَةِ يُرَادُ بِهِ التَّرْكُ وَالْحَذَرُ. وَقِيلَ: هُوَ مُحَافَظَةُ آدَابِ الشَّرِيعَةِ، وَقِيلَ: هُوَ الْاِقْتِدَاءُ بِالنَّبِيِّ ﷺ قَوْلًا وَفِعْلًا (وَالْحَيَاءُ) وَهُوَ نَوْعَانِ: نَفْسَانِيٌّ وَهُوَ الَّذِي خَلَقَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي النُّفُوسِ كُلِّهَا كَالْحَيَاءِ مِنْ كَشْفِ الْعَوْرَةِ وَالْجِمَاعِ بَيْنَ النَّاسِ، وَإِيمَانِي وَهُوَ أَنْ يَمْنَعَ الْمُؤْمِنُ مِنْ فِعْلِ الْمَعَاصِي خَوْفًا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى (وَالشُّكْرِ) وَهُوَ الثَّنَاءُ عَلَى الْمُحْسِنِ بِذِكْرِ إحْسَانِهِ فَالْعَبْدُ يَشْكُرُ اللَّهَ أَيْ يُثْنِي عَلَيْهِ بِذِكْرِ إحْسَانِهِ الَّذِي هُوَ نِعْمَةٌ (وَالصَّبْرُ) وَهُوَ تَرْكُ الشَّكْوَى مِنْ أَلَمِ الْبَلْوَى لِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى.
Maqolah yang ke enam belas (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana: Sesungguhnya Syiar simbol-simbol iman) Maksudnya simbol-simbol iman (Itu ada empat) Dari amalan-amalan (Takwa) Takwa dalam keta'atan adalah yang dimaksud dengannya ikhlas dan dalam maksiat adalah yang dimaksud dengannya meninggalkan maksiat dan waspada. Dan dikatakan: Takwa adalah menjaga adab-adab syari'at, dan dikatakan: Takwa adalah mengikuti kepada Nabi ﷺ dalam ucapan dan perbuatan (Dan malu) Malu itu ada dua macam: Malu Nafsani. Malu Nafsani adalah sifat malu yang telah menciptakannya Allah Ta'ala dalam setiap jiwa seluruhnya seperi malu sebab terbukanya aurat dan berjima di hadapan manusia. Dan malu Imani. Malu Imani adalah yang mencegahnya seorang mu'min dari perbuatan maksiat karena takut kepada Allah Ta'ala (Dan syukur) Syukur adalah memuji-muji kepada orang yang memberikan kebaikan dengan cara menyebut kebaikan-kebaikannya. Seorang hamba itu bersyukur kepada Allah maksudnya ia memuji kepada Allah dengan menyebut kebaikan-kebaikan Allah yang kebaikan itu merupakan kenikmatan (Dan sabar) Sabar adalah meninggalkan mengeluh dari pedihnya cobaan kepada selain Allah Ta'ala.
وَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَدْعُوَ بِدُعَاءِ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ ابْنِ حَبِيبٍ الَّذِي عَلَّمَهُ إِيَّاهُ سَيِّدُنَا الْخَضِرُ عَلَيْهِ السَّلَامُ عِنْدَ رُجُوعِهِ مِنَ الْأَرْضِ السُّفْلَى بِسَبَبِ أَخْذِ الْجِنِّ إِيَّاهُ إِلَى الْمَدِينَةِ الشَّرِيفَةِ وَهُوَ هَذَا: اَللَّهُمَّ قَنِّعْنَا بِمَا رَزَقْتَنَا وَاعْصِمْنَا مِنْ حَيْثُ نَهَيْتَنَا وَلَا تُحْوِجْنَا إِلَى مَنْ أَغْنَيْتَهُ عَنَّا وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ وَبِكَأْسِهِ فَاسْقِنَا وَمِنْ مَعَاصِيْكَ جَنِّبْنَا وَعَلَى التَّقْوَى أَمِّتْنَا وَلِلذِّكْرِ أَلْهِمْنَا وَمِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ فَاجْعَلْنَا وَأَسْعِدْنَا وَلَا تُشْقِنَا يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. وَرُوِيَ أَنَّهُ قُلْ قَالَ: [ذِرْوَةُ الْإِيمَانِ أَرْبَعُ خِلَالٍ: الصَّبْرُ لِلْحُكْمِ وَالرِّضَا بِالْقَدْرِ وَالْإِخْلَاصُ لِلتَّوَكُّلِ وَالْإِسْتِسْلَامُ لِلرَّبِّ] رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ.
Patut kepada kita supaya kita berdoa dengan doanya Tamim Ad-Dari bin Habib yang telah mengajarkan doa itu kepadanya Sayyiduna Khodir Alaihis Salam ketika pulangnya ia di bumi bawah sebab jin membawa dirinya menuju kota Madinah yang mulia. Doa itu adalah ini : Ya Allah semoga engkau memberikan sifat qona'ah kepada kami pada perkara yang telah engkau berikan rizki kepada kami dan semoga engkau menjaga kami dari sekiranya perkara yang telah engkau larang kepada kami dan janganlah enkau menjadikan butuh kami kepada orang yang telah engkau jadikan kaya kepadanya dari kami dan semoga engkau mengumpulkan kami pada golongan umat Nabi Muhammad ﷺ dan dengan gelasnya Nabi semoga engkau memberikan minum kami semua dan dari kemaksiatan-kemaksiatan kepadamu semoga engkau menjauhkan kami semua dan di atas taqwa semoga engkau mematikan kami semua dan karena dzikir semoga engkau mengilhamkan kepada kami semua dan dari golongan orang-orang yang akan mewarisi surga na'im semoga engkau menjadikannya kepada kami dan semoga engkau membahagiakan kami semua dan semoga engkau tidak mencelakakan kami semua wahai dzat yang mempunyai kemaha agungan dan kemaha muliaan. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Puncak iman itu ada empat perkara: Sabar kepada hukum Allah dan ridho kepada takdir dan ikhlas karena bertawakkal dan berserah diri kepada Allah ] Telah meriwayatkan hadits ini Abu Nu'aim.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: اَلْأُمَّهَاتُ) أَيْ الْأُصُولُ (أَرْبَعٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (أُمُّ الْأَدْوِيَةِ) جَمْعُ دَوَاءٍ وَهُوَ مَا يُتَدَاوَى بِهِ (وَأُمُّ الْآدَابِ) وَهِيَ مَعْرِفَةُ مَا يُحْتَرَزُ بِهِ عَنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْخَطَأِ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ) وَهِيَ فِعْلُ الْمُكَلَّفِ عَلَى خِلَافِ هَوَى نَفْسِهِ تَعْظِيمًا لِرَبِّهِ (وَأُمُّ الْأَمَانِي) جَمْعُ أُمْنِيَّةٍ وَهُوَ تَقْدِيرُ حُصُولِ شَيْءٍ مُمْتَنِعٍ أَوْ مُمْكِنٍ (فَأُمُّ الْأَدْوِيَةِ قِلَّةُ الْأَكْلِ) فَإِنَّ الْاِحْتِمَاءَ مِنْ أَكْلِ مَا يَضُرُّ خَيْرٌ مِنَ الْأَدْوِيَةِ لِكُلِّ دَاءٍ (وَأُمُّ الْآدَابِ قِلَّةُ الْكَلَامِ) فَكَثْرَةُ الْكَلَامِ تُنْفِي الْأَدَبَ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ قِلَّةُ الذُّنُوبِ) فَالذُّنُوبُ تُنْفِي الْعِبَادَةَ الَّتِي هِيَ تَعْظِيمُ اللَّهِ تَعَالَى (وَأُمُّ الْأَمَانِي الصَّبْرُ) وَهُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ، فَالصَّبْرُ أَمَرُّ مِنَ الصِّبْرِ. وَيُقَالُ: بِالصَّبْرِ تَنَالُ مَا تُرِيدُ وَبِالتَّقْوَى يَلِيْنُ لَكَ الْحَدِيدُ.
Maqolah yang ke tujuh belas (Dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Induk-induk) Maksudnya pokok-pokok (Itu ada empat) Dari perkara-perkara (Induknya obat-obatan) Lafadz الْأَدْوِيَةُ adalah jamak dari lafadz دَوَاءٌ yaitu perkara yang menjadi obat dengannya (Dan induk adab) Adab adalah mengetahui perkara yang bisa dihindari atas perkara itu dari semua macam-macam kesalahan (Dan induk ibadah) Ibadah adalah pekerjaan seorang mukallaf dalam menyelisihi hawa nafsunya sendiri karena mengagungkan kepada tuhannya (Dan induk angan-angan) Lafadzالْأَمَانِي adalah jamak dari lafadz أُمْنِيَّةٌ yaitu mengharapkan hasilnya suatu perkara yang mustahil atau yang mungkin (Maka induknya obat-obatan adalah sedikitnya makan) Karena sesungguhnya menjaga dari memakan suatu perkara yang memadharatkan itu lebih baik dibandingkan obat-obatan untuk setiap penyakit (Dan induknya adab adalah sedikitnya berbicara) Karena banyaknya berbicara itu dapat menghilangkan tata krama (Dan induknya ibadah adalah sedikitnya dosa-dosa) Karena dosa-dosa itu dapat menghilangkan ibadah yang sejatinya ibadah itu mengagungkan Allah Ta'ala (Dan induknya angan-angan adalah sabar) Sabar adalah menahan diri dari kegelisahan, karena sabar itu lebih pahit dibandingkan buah mahoni, dan dikatakan: Dengan sabar engkau bisa memperoleh perkara yang engkau mau dan dengan takwa akan menjadi lunak kepadamu besi.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 18
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَرْبَعَةُ جَوَاهِرَ) وَهِيَ لِبَاسُ الطَّبِيعَةِ (فِي جِسْمِ بَنِي آدَمَ يُزِيلُهَاأَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ) مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ (أَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ) وَهُوَ جَوْهَرٌ رُوحَانِيٌّ خَلَقَهُ اللَّهُ تَعَالَى مُتَعَلِّقًا بِبَدَنِ الْإِنْسَانِ (وَالدِّينُ) وَهُوَ مَا يَدْعُو أَصْحَابُ الْعُقُولِ إِلَى قَبُولِ مَا هُوَ مِنَ الرّسُولِ ﷺ (وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ) أَيْ الْخَالِصُ (فَالْغَضَبُ يُزِيلُ الْعَقْلَ) وَهُوَ نُورٌ فِي الْقَلْبِ يُعْرَفُ بِهِ الْحَقُّ وَالْبَاطِلُ.
Maqolah yang ke delapan belas (Telah bersabda Nabi Alaihis Salam: Empat perhiasan) Yaitu pakaian alami (Di dalam diri anak Adam yang bisa menghilangkan kepadanya empat perkara) Dari sifat-sifat yang tercela (Adapun perhiasan-perhiasan itu adalah akal) Akal adalah permata ruhani yang telah menciptakannya Allah Ta'ala berhubungan dengan badan manusia (Dan agama) Agama adalah perkara yang menyeru orang-orang yang memiliki akal untuk menerima perkara yang perkara itu berasal dari Rasul ﷺ (Dan malu dan amal sholeh) Maksudnya yang murni (Maka marah itu dapat menghilangkan akal) Akal adalah cahaya dalam hati yang bisa diketahui dengannya kebenaran dan kebatilan.
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يَا مُعَاوِيَةُ إِيَّاكَ وَالْغَضَبَ فَإِنَّ الْغَضَبَ يُفْسِدُ الْإِيمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصَّبْرُ الْعَسَلَ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Wahai mu'awiyah waspadalah kamu terhadap sifat marah karena sesungguhnya marah itu dapat merusak keimanan sebagaimana dapat merusak buah mahoni pada madu] telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi
(وَالْحَسَدُ) وَهُوَ تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْغَيْرِ (يُزِيلُ الدِّينَ) أَيْ الشَّرِيعَةَ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ] رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. قَالَ الشَّاعِرُ: [مِنْ بَحْرِ الْمُتَقَارِبِ]
(Dan sifat hasud) Hasud adalah mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain (Itu dapat menghilangkan agama) Maksudnya syari'at. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah kalian terhadap sifat hasud karena sesungguhnya hasud itu dapat memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana bisa memakan api pada kayu bakar] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Abu Daud. Telah berkata seorang penyair: [Dari Bahar Mutaqorrib]
| أَتَدْرِي عَلَى مَنْ أَسَأْتَ الْأَدَبَ | * | أَلَا قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي حَاسِدًا |
| إِذَا أَنْتَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ | * | أَسَأْتَ عَلَى اللَّهِ فِي فِعْلِهِ |
| وَسَدَّ عَلَيْكَ وُجُوهَ الطَّلَبِ | * | فَجَازَاكَ رَبِّي بِأَنْ زَادَنِي |
| Ingat ucapkanlah kepada orang yang bersifat dirinya kepadaku hasud | * | Apakah kamu tahu kepada siapa kamu bersu'ul adab |
| Engkau telah berbuat buruk kepada Allah dalam keputusan Allah | * | Ketika kamu tidak ridho kepadaku atas perkara yang telah Allah berikan |
| Maka membalas kepadamu tuhanku dengan menambahkan kenikmatan kepadaku | * | Dan Allah menutup atasmu segala bentuk permintaan |
(وَالطَّمَعُ) أَيْ الرَّغْبَةُ فِي الشَّيْءِ (يُزِيلُ الْحَيَاءَ، وَالْغِيبَةُ تُزِيلُ الْعَمَلَ الصَّالِحَ) وَالْغِيبَةُ بِكَسْرِ الْغَيْنِ أَنْ يَذْكُرَ الشَّخْصُ مَسَاوِيَ الْإِنْسَانِ فِي غَيْبَتِهِ وَهِيَ فِيهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ فَهِيَ بُهْتَانٌ وَإِنْ وَاجَهَهُ بِهَا فَھوَ شَتْمٌ.
(Dan sifat thoma) Maksudnya ingin pada sesuatu (Itu dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah itu dapat menghilangkan amal sholeh) Lafadz الْغِيبَةُ dengan mengkasrohkan huruf ghin adalah menyebutkan oleh seseorang pada keburukan manusia disaat manusia tersebut tidak ada sedangkan keburukan itu memang ada pada diri manusia tersebut dan jika tidak ada keburukan itu dalam diri manusia tersebut maka menyebutkan keburukan manusia itu adalah fitnah dan jika berhadapan langsung dengan manusia tersebut dengan menyebut keburukannya maka itu adalah mencaci maki.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 19
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: [أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) نَفْسِهَا (الْخُلُودُ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) أَيْ إطَالَةُ الْإِقَامَةِ فِي الْجَنَّةِ أَنْعَمُ لِأَهْلِهَا مِنْ وُجُودِ نَفْسِ الْجَنَّةِ (وَخِذْمَةُ الْمَلَائِكَةِ فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) فَخِدْمَةُ الْمَلَائِكَةِ تَدُلُّ عَلَى زِيَادَةِ ارْتِفَاعِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (وَجِوَارُ الْأَنْبِيَاءِ) بِكَسْرِ الْجِيمِ وَضَمِّهَا مِنْ قُرْبِهِمْ (فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَحَسُنَ أُوْلّئِكَ رَفِيْقًا﴾ [النِّسَاءُ: الْآيَةَ ٦٩]، (وَرِضَا اللَّهِ تَعَالَى فِي الْجَنَّةِ) عَنْ أَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) لِأَنَّ رِضْوَانَ اللَّهِ تَعَالَى أَكْبَرُ مِنْ جَمِيعِ النِّعَمِ.
Maqolah yang ke sembilan belas (Dari Nabi sesungguhnya Nabi bersabda: Empat) Dari perkara (Di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Dzatnya Surga (Kekal di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Maksudnya lama tinggal di dalam surga itu lebih nikmat bagi penduduk surga daripada keberadaan surga itu sendiri (Dan berkhidmatnya para malaikat di dalam surga) Kepada penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Maka berkhidmahnya para malaikat itu menujukkan atas lebih tingginya derajat penduduk surga (Dan bertetangga dengan para Nabi) Ladadz جِوَارُ dengan mengkasrohkan huruf jim atau mendhommahkannya karena dekat dengan mereka (Di dalam surga) Bagi penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Dan sebaik-baiknya para nabi itu sebagai teman﴿ [An-Nisa: Ayat 69] (Dan ridho Allah Ta'ala di dalam surga) Pada penduduka surga (Itu lebih baik daripada surga) Karena sesungguhnya ridho allah Ta'ala itu lebih besar daripada seluruh jenis kenikmatan.
(وَأَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) نَفْسِهَا (اَلْخُلُودُ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) أَيْ طُولُ الْإِقَامَةِ فِيهَا أَشَدُّ عَلَى أَهْلِهَا مِنْ دُخُولِهَا (وَتَوْبِيْخُ الْمَلَائِكَةِ الْكُفَّارَ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالتَّوْبِيخُ التَّعْيِيرُ وَالتَّعْنِيفُ وَالتَّهْدِيدُ (وَجِوَارُ الشَّيْطَانِ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالشَّيْطَانُ قَرِينُ أَهْلِهَا فِي سِلْسِلَةٍ وَاحِدَةٍ (وَغَضَبُ اللَّهِ تَعَالَى فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ]) وَأَهْلُ اللَّهِ تَعَالَى لَا يُبَالُونَ مِنْ دُخُولِ النَّارِ إذَا حَصَلَ لَهُمُ الرِّضْوَانُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، فَالْحَيَّاتُ وَالْعَقَارِبُ فِي النَّارِ لَا تَتَأَلَّمُ بِهَا لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى رَضِيَ عَنْهَا فِي دُخُولِهَا النَّارَ.
(Dan empat) Dari perkara (Di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Dzatnya neraka (Kekal di dalam neraka) Maksudnya lama tinggal di dalam neraka itu lebih buruk atas penduduk neraka daripada masuk ke dalam neraka (Dan menegurnya para malaikat kepada orang kafir di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Taubikh adalah mengibaratkan dan menegur dan menggertak (Dan bertetangga dengan setan di neraka itu lebih buruk daripada neraka) Maka setan itu mendampingi ahli neraka dalam rantai yang satu (Dan murka Allah Ta'ala di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka]) Dan para wali Allah Ta'ala itu mereka tidak perduli masuk neraka ketika hasil kepada mereka ridho dari Allah Ta'ala. Maka ular-ular dan kalajengking-kalajengking di dalam neraka itu tidak merasa sakit sebab neraka karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah ridho kepada mereka dalam masuknya mereka ke dalam neraka.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 20
(وَ) الْمَقَالَةُ الْعِشْرُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ حِينَ سُئِلَ كَيْفَ أَنْتَ) أَيْ عَلَى أَيِّ حَالٍ أَنْتَ (فَقَالَ: أَنَا مَعَ الْمَوْلَى) أَيْ الْمُتَوَلِّي لِأُمُورِنَا (عَلَى الْمُوَافَقَةِ) لِأَوَامِرِهِ (وَمَعَ النَّفْسِ عَلَى الْمُخَالَفَةِ) لِمُرَادَاتِهَا (وَمَعَ الْخَلْقِ عَلَى النَّصِيحَةِ) وَهِيَ الدُّعَاءُ إِلَى مَا فِيهِ الصَّلَاحُ وَالنَّهْيُ عَمَّا فِيهِ الْفَسَادُ (وَمَعَ الدُّنْيَا) أَيْ مَتَاعِهَا (عَلَى الضَّرُورَةِ) أَيْ الْحَاجَةِ اللَّازِمَةِ الَّتِي لَا مَدْفَعَ لَهَا.
Maqolah yang ke dua puluh (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana ketika ditanya bagaimana kamu) Maksudnya dalam kondisi apa kamu (Kemudian ia menjawab: Aku bersama tuhan) Maksudnya dzat yang mengatur urusan kita (Dalam keserasian) pada perintah-perintah tuhan (Dan bersama nafsu dalam keadaan menyelisihi) pada yang di inginkan nafsu (Dan bersama makhluk dalam nasihat) Nasihat adalah mengajak kepada perkara yang didalamnya ada kemaslahatan dan mencegah dari perkara yang di dalamnya ada kerusakan (Dan bersama dunia) Maksudnya kesenangan dunia (Dalam kedaruratan) Maksudnya kebutuhan yang pasti yang tidak bisa ditolak pada kebutuhan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar