Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 19 : Dua Wahyu Allah kepada Nabinya
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (أُوحِيَ إِلَى بَعْضِ الأَنْبِيَاءِ: "أَطِعْنِي فِيْمَا أَمَرْتُكَ وَلاَ تَعْصِنِيْ فِيْمَا نَصَحْتُكَ") أَيْ فِيْمَا دَعَوْتُكَ إِلَى مَا فِيْهِ الصَّلَاحُ وَنَهَيْتُكَ عَمَّا فِيْهِ الْفَسَادُ.
Maqolah yang ke sembilan belas (Telah diwahyukeun kepada sebagian dari para nabi : "Taatilah aku dalam hal yang telah aku perintahkan ke padamu dan janganlah kamu bermaksiat ke padaku dalam hal yang telah aku nasehatkan ke padamu) Maksudnya dalam hal yang telah aku perintahkan kepadamu pada perkara yang di dalamnya ada kebaikan dan dalam hal yang telah aku larang kepadamu dari perkara yang di dalamnya ada kerusakan.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 20 : Dua Kesempurnaan Akal
(و) الْمَقَالَةُ الْعِشْرُوْنَ (قِيْلَ: "إِكْمَالُ العَقْلِ اتَّبَاعُ رِضْوَانِ اللَّهِ تَعَالَى وَاجْتِنَابُ سُخَطِهِ" ) أَيْ فَخِلَافُ ذَلِكَ جُنُوْنٌ.
Maqolah yang ke dua puluh (Dikatakan : Sempurnanya akal adalah mengikuti ridho Allah Ta'ala dan menjauhi murka Allah) Maksudnya menyelisihi semua itu adalah gila.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 21: Dua Perbedaan
(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ: "لَا غُرْبَةَ لِلْفَاضِلِ وَلَا وَطَنَ لِلْجَاهِلِ") أَيْ الْمُتَّصِفِ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ كَانَ مُكَرَّمًا مُعَظَّمًا عِنْدَ النَّاسِ فِي أَيِّ بَلَدٍ كَانَ، فَكَانَ كُلُّ بَلَدٍ عِنْدَهُ وَطَنًا وَلَوْكَانَ غَرِيبًا وَالْجَاهِلُ بِخِلَافِ ذَلِكَ.
Maqolah yang ke dua puluh satu (Dikatakan : "Tidak ada keterasingan bagi orang yang unggul dan tidak ada tempat tinggal bagi orang yang bodoh") Maksudnya orang yang disifati dengan ilmu dan amal jadilah ia dimulyakan dan diagungkan oleh manusia di daerah manapun ia berada, maka jadila setiap negara baginya adalah tanah air walaupun keberadaannya adalah sebagai orang asing, sedangkan orang bodoh bertentangan dengan itu semua.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 22 : Dua Ciri yang Taat Kepada Allah
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ : مَنْ كَانَ بِالطَّاعَةِ عِنْدَ اللَّهِ قَرِيبًا كَانَ بَيْنَ النَّاسِ غَرِيبًا) أَيْ مَنْ اسْتَأْنَسَ بِاشْتِغَالِ طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى صَارَ مُسْتَوْحِشًا عَنْ النَّاسِ.
Maqolah yang ke dua puluh dua (Dikatakan : Barang siapa yang melakukan ketaatan kepada Allah dengan merasa dekat maka jadilah ia di antara manusia terasing) Maksudnya barang siapa yang menemukan kesenangan dengan sibuk taat kepada Allah maka ia pasti akan menjadi terasing dari para manusia.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 23 : Dua Aktivitas Inti
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ: حَرَكَةُ الطَّاعَةِ دَلِيلُ الْمَعْرِفَةِ، كَمَا أَنَّ حَرَكَةَ الْجِسْمِ دَلِيلُ الْحَيَاةِ) وَالْمَعْنَى أَنَّ إتْيَانَ الْعَبْدِ الطَّاعَةَ لِلَّهِ تَعَالَى عَلَامَةٌ عَلَى مَعْرِفَتِهِ للَّهِ، فَإِذَا كَثُرَتْ الطَّاعَةُ كَثُرَتْ الْمَعْرِفَةُ، وَإِذَا قَلَّتْ قَلَّتْ، لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِرْآةُ الْبَاطِنِ.
Maqolah yang ke dua puluh tiga (Dikatakan : Gerakan ketaatan adalah tanda adanya kemarifatan, sebagaimana bahwa sesungguhnya gerakan badan adalah tanda adanya kehidupan) Ma'nanya sesungguhnya mendatangkannya seorang hamba pada ketaatan karna Allah Ta'ala adalah tanda atas kemarifatannya kepada Allah, ketika banyak ketaatan maka pasti akan banyak kema'rifatan dan ketika sedikit ketaatan maka pasti akan sedikit kema'rifatan karena sesungguhnya prilaku dzhohir adalah cermin bagi batin.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 24 : Dua Sumber Dosa dan Fitnah
(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَصْلُ جَمِيعِ الْخَطَايَا حُبُّ الدُّنْيَا) وَهِيَ مَا زَادَ عَنِ الْحَاجَةِ (وَأَصْلُ جَمِيعِ الْفِتَنِ مَنْعُ الْعُشْرِ وَالزَّكَاةِ) وَهَذَا مِنْ عَطْفِ الْعَامِّ عَلَى الْخَاصِّ، لِأَنَّ الْعُشْرَ خَاصٌّ بِالزُّرُوعِ وَالثِّمَارِ وَالزَّكَاةُ شَامِلَةٌ لِذَلِكَ, وَلِزَكَاةِ النَّقْدِ وَالْأَنْعَامِ وَلِزَكَاةِ الْبَدَنِ.
Maqolah yang ke dua puluh empat (Telah bersabda Nabi Muhammad ﷺ : "Pangkal seluruh dosa adalah cinta dunia) Yaitu perkara yang melebihi dari kebutuhan pokok (Dan pangkal seluruh fitnah adalah menahan dari membayar sepersepuluh dan menahan zakat) Athof lafadz ini adalah dari menathofkan lafadz umum pada lafadz yang lebih khusus, Karena sesungguhnya zakat persepuluh itu khusus bagi hasil tani dan buah buahan. Sedangkan lafadz zakat itu mencakup pada zakat hasil pertanian dan buah-buahan, dan mencapuk zakat emas dan ternak dan zakat fitrah.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 25 : Dua Pengakuan Kelemahan Diri
(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ : الْمُقِرُّ بِالتَّقْصِيرِ) أَيْ بِالْعَجْزِ عَنِ الطَّاعَةِ (أَبَدًا مَحْمُودٌ، وَالْإِقْرَارُ بِالتَّقْصِيرِ عَلَامَةُ الْقَبُولِ) لِأَنَّهُ إِشَارَةٌ إِلَى عَدَمِ الْعُجْبِ وَالْكِبْرِ.
Maqolah yang ke dua puluh lima (Dikatakan : Orang yang mengakui kelalaian dirinya) Maksudnya ketidak mampuan dari ketaatan (Selamanya terpuji dan mengakui kelalaian diri adalah tanda diterimanya amal) Karena sesungguhnya mengakui kelalaian diri adalah isyarat tidak adanya sifat ujub dan takabur.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 26 : Dua Perbuatan Tercela
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (قِيْلَ: كُفْرَانُ النِّعْمَةِ لُؤْمٌ) أَيْ عَدَمُ شُكْرِ لِلنِّعْمَةِ دَلِيلٌ عَلَى دَنَاءَةِ النَّفْسِ (وَصُحْبَةُ الْأَحْمَقِ) وَهُوَ وَاضِعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ مَعَ الْعِلْمِ بِقُبْحِهِ (شُؤمٌ) أَيْ غَيْرُ مُبَارَكٍ، كَمَا رَوَى الطَّبَرَانِيُّ عَنْ بَشِيْرٍ أَنَّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "اِصْرِمِ الْأَحْمَقَ" بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ وَالرَّاءِ أَيْ اِقْطَعْ وُدَّهُ، وَالْمَعْنَى لَا تُصَاحِبْهُ لِقُبْحِ حَالَتِهِ وَلِأَنَّ الطِّبَاعَ سَرَّاقَةٌ وَقَدْ يَسْرِقُ طَبْعُكَ مِنْهُ.
Maqolah yang ke dua puluh enam (Dikatakan : Mengkufuri nikmat adalah kehinaan) Maksudnya tidak adanya rasa mensyukuri nikmat menjadi tanda atas kehinaan diri (Dan menemani orang bodoh) Ahmak adalah orang yang menempatkan satu perkara pada selain tempatnya bersamaan dengan pengetahuan tentang jeleknya perkara itu (Adalah kesialan) Maksudnya tidak diberkahi, Sebagai mana telah meriwayatkan Imam At-Thobroni dari Basyir Sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda : "Putuskanlah hubunganmu dengan orang yang bodoh" Lafadz اِصْرِمْ dengan mengkasroh hamzah dan ro Maksudnya putuskanlah rasa suka padanya. Ma'nanya adalah kamu jangan menemaninya sebab jelek tingkah lakunya dan karena sesungguhnya karakter itu gampang mencuri dan terkadang mencuri tabiatmu darinya.
وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "خَصْلَتَانِ مَنْ كَانَتَا فِيْهِ كَتَبَهُ اللّٰهُ شَاكِرًا صَابِرًا، وَمَنْ لَمْ تَكُوْنَا فِيْهِ لَمْ يَكْتُبْهُ اللّٰهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا: مَنْ نَظَرَ فِى دِيْنِهِ إلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَاقْتَدَى بِهِ وَنَظَرَ فِى دُنْيَاهُ إلَى مَنْ هُوَ دُوْنَهُ فَحَمِدَ اللّٰهَ عَلَى مَا فَضَّلَهُ بِهِ عَلَيْهِ كَتَبَهُ اللّٰهُ شَاكِرًا صَابِرًا، وَمَنْ نَظَرَ فِى دِيْنِهِ إلَى مَنْ هُوَ دُوْنَهُ وَنَظَرَ فِى دُنْيَاهُ إلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَأَسِفَ عَلَى مَا فَاتَهُ لَمْ يَكْتُبْهُ اللّٰهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا" اهْ. هَذَا الْحَدِيْثُ جَامِعٌ لِجَمِيْعِ أَنْوَاعِ الْخَيْرِ.
Telah meriwayatkan Imam Tirmidzi dari Ibnu Umar bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda : "Dua perkara barang siapa yang ada dua perkara itu dalam dirinya maka pasti Allah akan menuliskannya sebagai orang yang bersyukur dan orang yang sabar. Barang siapa yang tidak ada dua perkara itu dalam dirinya maka Allah tidak akan menuliskannya sebagai orang yang bersyukur dan tidak pula sebagai orang yang sabar : Barang siapa yang melihat dalam agamanya kepada orang yang lebih tinggi darinya maka ia mengikutinya dan ia melihat dalam masalah dunianya kepada orang yang lebih rendah darinya kemudian ia memuji kepada Allah atas perkara yang Allah telah melebihkan kepadanya dengan dunia di atas orang itu maka pasti Allah akan menuliskannya sebagai orang yang bersyukur dan sebagai orang yang sabar. Barang siapa melihat dalam urusan agamanya kepada orang yang lebih rendah darinya dan melihat dalam urusan dunia kepada orang yang di atasnya kemudian ia menyesal atas perkara yang telah luput darinya maka Allah tidak akan menuliskannya sebagai orang yang bersyukur dan tidak juga sebagai orang yang bersabar". Hadist ini merangkum pada seluruh macam kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar