MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Kamis, 06 Agustus 2026

KAJIAN TENTANG MENGHIAS KUBURAN TERMASUK BERMEGAH-MEGAHAN (AT-TAKATSUR)


Alhamdulillah malam ini Kamis, 6 Agustus 2026 ba'da isya' pengajian rutin Tafsir Hasyiah Ash-Shawi 'ala Tafsir Jalalain yang kebetulan sampai pada Surat At-Takatsur tentang larangan bermegah-megahan harta benda dan membanggakan nenek moyang yang telah meninggal dunia.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَام يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْم جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونَنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّه مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءُ بِأَنْفِهِ

 “Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek-moyang mereka yang telah wafat. Mereka itu hanyalah arang neraka jahanam, atau mereka lebih hina di sisi Allah dari hewan yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR at-Tirmidzi, dan bernilai hadits Hasan dalam Jami’ul Kabir).

Bagi Rasulullah, kemuliaan sejati hanyalah dengan ketakwaan dan ketaatan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam satu haditsnya, 

أَيُّهَا النَّاسُ! أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، أَلاَ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ وَلاَ أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

“Wahai manusia! Ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu, dan bahwa nenek moyang kalian adalah satu. Ingatlah bahwa tidak ada keunggulan bagi seorang Arab atas non-Arab, atau sebaliknya, dan tidak ada keunggulan bagi orang yang berkulit putih atas kulit hitam, atau sebaliknya, kecuali dengan ketakwaan.” (HR Ahmad dalam Jami’ul Hadits).

Ketika sampai pada penafsiran ayat kedua surat At-Takatsur Imam Ahmad bin Muhammad Ash-Shawi, seorang ulama agung dari kalangan Ahlusunnah wal Jama‘ah, bermazhab Maliki dalam fikih dan berpemikiran Asy‘ari dalam akidah mengingatkan saya akan polemik nasab saat ini yang bermula dari orang yang mengaku keturunan Nabi membanggakan diri dan merendahkan yang lainnya sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Ash-Shawi berikut,

قوله: {حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ} حتى غاية للإلهاء المذكور، وهذا هو محط الذم وإلا فإن تاب من ذلك قبل موته، وقيل: وكأنه لم يحصل منه تكاثر

قوله: (بأن متم فدفنتم فيها) أي فيقال: زار قبره إذا مات ودفن، والمعنى: ألهاكم حرصكم على تكثير أموالكم عن طاعة ربكم، حتى أتاكم الموت وأنتم على ذلك، ولا يقال: إن الزيارة تكون ساعة وتنقضي، والميت يمكث في قبره لأنا نقول: إن الموتى يرتحلون من القبور للحساب، فكان مدة مكثه في قبره زيارة له، والمقابر جمع مقبرة بتثليث الباء، وهي المحل الذي تدفن فيه الأموات، قوله: (أو عددتم الموتى) تفسير ثاني للزيارة، فعبر عن بلوغهم ذكر الموتى بزيارة المقابر تهكماً بهم، وعليه فزيارة المقابر كناية عن الانتقال من ذكر الإحياء إلى ذكر الأموات تفاخراً، وإنما كان تهكماً لأن زيارة القبور شرعت، لتذكر الموت ورفض حب الدنيا، وترك المباهاة والتفاخر، وهؤلاء عكسوا، حيث جعلوا زيارة القبور سبباً لمزيد القساوة، والاستغراق في حب الدنيا، والتفاخر في الكثرة. فحاصل الوجهين راجع إلى أن المراد بالزيارة، إما الانتقال إلى الموت، أو الانتقال من ذكر الأحياء إلى ذكر الأموات، وتعدادهم والتفاخر بهم، ومن ذلك ما يفعله أهل زماننا، ومن زخرفة النعوش والقبور، وما يتبع ذلك مما هو مذموم شرعاً طبعاً، وأما ذكر مكارم الأخلاق والطاعات فيجوز، إن لم يكن على وجه التعجب، بل على سبيل التحدث بالنعم أو ليقتدي به

Firman-Nya: {حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ}  

"Hingga kalian mengunjungi kuburan"  

"Hingga" adalah batas akhir dari kelalaian yang disebutkan. Dan inilah inti celaan. Adapun jika dia bertaubat dari itu sebelum matinya, maka seolah-olah tidak terjadi padanya sifat bermegah-megahan tersebut.

Firman-Nya: (بأن متم فدفنتم فيها)

"Maksudnya: karena kalian mati lalu dikuburkan di dalamnya" Yaitu dikatakan: "Dia menziarahi kuburnya" jika dia mati dan dikuburkan.  

Maknanya: Keserakahan kalian dalam memperbanyak harta telah melalaikan kalian dari ketaatan kepada Rabb kalian, hingga datang kematian kepada kalian sementara kalian masih dalam keadaan demikian.

Dan jangan dikatakan: "Ziarah itu hanya sebentar lalu selesai, sedangkan mayit tinggal di kuburnya." Karena kami katakan: Sesungguhnya orang-orang mati akan dibangkitkan dari kubur untuk dihisab. Maka selama dia tinggal di kuburnya itu dihitung sebagai "ziarah" baginya.

Dan Al-Maqabir adalah bentuk jamak dari Maqbarah dengan boleh dibaca 3 harokat pada huruf ba’nya (bisa dibaca : Maqbarah, Muqbarah atau Miqbarah). Yaitu tempat dikuburkannya orang-orang mati.

Firman-Nya: (أو عددتم الموتى)  

Ini adalah tafsir kedua untuk kata "Ziarah". Maka diungkapkan pencapaian mereka dalam menyebut-nyebut orang mati dengan istilah "menziarahi kuburan" sebagai bentuk sindiran kepada mereka.

Berdasarkan tafsir ini, maka "ziarah kubur" adalah kinayah / kiasan dari berpindahnya pembicaraan dari menyebut-nyebut orang yang masih hidup kepada menyebut-nyebut orang yang sudah mati, dengan tujuan berbangga-bangga.

Dan yang menjadikannya sebagai sindiran adalah karena ziarah kubur itu disyariatkan untuk mengingat mati, meninggalkan cinta dunia, dan meninggalkan berbangga-bangga serta berbangga dengan jumlah/kekayaan. Sedangkan mereka justru sebaliknya, menjadikan ziarah kubur sebagai sebab bertambahnya kekerasan hati, tenggelam dalam cinta dunia, dan berbangga-bangga dalam memperbanyak jumlah.

Maka hasil dari kedua wajah tafsir itu kembali kepada: bahwa yang dimaksud dengan "ziarah" adalah:  

Pertama: Berpindahnya manusia kepada kematian.  

Kedua: Berpindahnya pembicaraan dari menyebut orang yang hidup kepada menyebut orang yang mati, menghitung-hitung mereka, dan berbangga-bangga dengan mereka.

Dan termasuk dalam hal ini apa yang dilakukan oleh orang-orang di zaman kita, seperti menghias-hiasi usungan jenazah dan kuburan, serta apa yang mengikuti itu yang tercela secara syariat dan tabiat.  

Adapun menyebutkan kemuliaan akhlak dan ketaatan-ketaatan, maka itu boleh, jika tidak dengan cara takjub/berbangga, tetapi dengan cara menceritakan nikmat Allah, atau agar diteladani. (Tafsir Hasyiah Ash-Shawi 'Ala Tafsir Jalalain)

Satu hal penting sebagai pelajaran dan pengingat akan kondisi yang terjafi saat ini adalah berlomba menghias kuburan adalah termasuk bermegah-megahan yang tercela menurut syariat dan tabi'at sebagaimana  beliau jelaskan,

ومن ذلك ما يفعله أهل زماننا، ومن زخرفة النعوش والقبور، وما يتبع ذلك مما هو مذموم شرعاً طبعاً

"Dan termasuk dalam hal ini (bermegah-megahan) apa yang dilakukan oleh orang-orang di zaman kita, seperti menghias-hiasi usungan jenazah (keranda) dan (menghias) kuburan, serta apa yang mengikuti itu yang tercela secara syariat dan tabiat."  Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

والله الموفق الى أقوم الطريق

Tidak ada komentar:

Posting Komentar