Shalat hadiah atau dikenal juga dengan sholat unsil qabri merupakan shalat yang pahalanya ditujukan kepada orang yang sudah meninggal. Shalat ini dapat dikerjakan ketika jenazah baru saja dikebumikan. Namun, dapat pula dikerjakan meskipun jenazah telah lama dikebumikan.
Shalat hadiah dua rakaat untuk orang meninggal terdapat keterangan tentangnya dalam beberapa kitab salaf yang biasanya dilaksanakan di antara waktu Maghrib dan Isya’. Sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Zainuddin Al-Maliabari dalam Qurrah Al-’Ain, menurut pendapat Hanabilah (Mazhab Hambali) dan mayoritas ulama, pahala shalat yang dihadiahkan akan sampai kepada orang meninggal yang ditujukannya, tentu atas izin Allah Ta'ala.
حكم صلاة الهدية سؤال:ما حكم صلاةالهدية للميت التي يصليها الإنسان بين العشائين فهل هي صحيحة ومحصلة لما نواه أولا؟ الجواب: والله الموفق للصواب أن الإنسان إذا صلى شيئا من النوافل ثم وهب للميت وأهداه له فإن ذلك الثواب يصل إلى الميت بإذن الله وهو مذهب الحنابلة وجمهور العلماء والله سبحانه وتعالى اعلم
“Hukum shalat hadiah. Pertanyaan: apa hukumnya shalat hadiah untuk mayit, yang dilakukan oleh seseorang di antara Maghrib dan Isya’, apakah sah dan dapat menghasilkan apa yang ia niati?”
“Jawaban: Semoga Allah memberi pertolongan. Sesungguhnya apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah, kemudian ia berikan dan hadiahkan untuk mayit, maka pahala shalat tersebut sampai kepada mayit dengan izin Allah. Ini adalah pendapat Hanabilah dan mayoritas ulama. Dan Allah Subahanhu wa Ta’ala maha mengetahui.” (Syekh Zainuddin Al-Maliabari, Qurrah Al-‘Ain bi Muhimmat Ad-Din, hal. 59)
Demikian halnya diterangkan dalam Kitab Nihayatuz Zain yang merupakan salah satu kitab fikih mazhab Syafi’i yang fenomenal untuk kalangan pesantren di Indonesia. Kitab ini sangat dekat dalam forum-forum bahtsul masail NU, sebuah tradisi musyawarah keilmuan pesantren bagi kalangan Nahdliyin.
Nama lengkap kitab ini adalah Nihayah Az-Zain Fi Irsyad Al-Mubtadi'in. Sebuah kitab fikih syarah dari kitab Qurrah Al-‘Ain karya Syekh Zainuddin Al-Malibari. Kitab Nihayatuz Zain ini dikarang oleh Syekh Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi, seorang Ulama yang berasal dari kampung Tanara di Banten.
Sebagai syarah Qurrah Al-‘Ain, kitab Nihayatuz Zain ini sama seperti kitab Fathul Mu’in, hanya saja kitab Nihayatuz Zain sedikit lebih tebal sehingga bisa digolongkan syarah mutawassith (pertengahan). Dalam kitab tersebut menjelaskan,
لا يأتي على الميت أشد من الليلة الأولى ، فارحموا موتاكم بالصدقة ، فمن لم يجد فليصل ركعتين ، يقرأ فيهما فاتحة الكتاب ، وآية الكرسي ، والهاكم التكاثر ، وقل هو الله أحد إحـدى عـشـرة مرة ، ويقول : اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد ، اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان بن فلان ، فيبعث الله مـن ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نهر وهدية يؤنسونه في قبره إلى أن ينفخ في الصور
"Tidak datang pada mayyit tatkala dimakamkan yang lebih berat daripada malam pertama, (oleh karenanya) kasihanilah mayyit kalian dengan sedekah, barangsiapa yang tidak mampu bersedekah, maka shalatlah dua raka'at bacalah surat Al-Fatihah satu kali, ayat Kursi satu kali, surat Alhakumuttakatsur satu kali dan surat Al-Ikhlas sebelas kali pada setiap raka'atnya, kemudian setelah salam, bacalah doa Ya Allah sesungguhnya aku shalat sunnah ini dan Engkau telah mengetahui niatku, ya Allah sampaikanlah pahala shalat ini ke makam fulan bin fulan (sebutkan nama mayyitnya) ", maka Allah akan menyampaikan pahalanya pada saat itu juga ke makam fulan bin fulan dengan seribu Malaikat dan setiap Malaikat membawa sungai yang mengalir dan hadiah, yang selalu menemaninya sampai hari pembangkitan." (Syaikh Nawawi bin Umar Al-Bantani, Nihayah Az-Zain Fi Irsyad Al-Mubtadi'in, hal.111)
Berdasarkan hasil Muktamar NU di Surabaya pada tanggal 20-25 Desember 1971, Muktamar NU memutuskan shalat sunah hadiah Sebagaimana dimaksud tidak boleh dilakukan dan hukumnya haram, kemungkinan menurut Muktamar meskipun ada nas Ulama Syafi'iyah mengenai itu tapi hadits yang disebutkan tidak bisa dijadikan sandaran. Muktamar NU memutuskan dengan mengambil keterangan Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Tuhfah,
لَا تَجُوزُ وَلَا تَصِحُّ هَذِهِ الصَّلَوَاتُ بِتِلْكَ النِّيَّاتِ الَّتِي اسْتَحْسَنَهَا الصُّوفِيَّةُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَرِدَ لَهَا أَصْلٌ فِي السُّنَّةِ نَعَمْ إنْ نَوَى مُطْلَقَ الصَّلَاةِ ثُمَّ دَعَا بَعْدَهَا بِمَا يَتَضَمَّنُ نَحْوَ اسْتِعَاذَةٍ أَوْ اسْتِخَارَةٍ مُطْلَقَةٍ لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ بَأْسٌ
“Tidak boleh dan tidak sah shalat-shalat ini yang diangggap baik oleh kalangan Sufi tanpa dasar hadits sama sekali. Betul! Bila berniat shalat Mutlak kemudian berdoa Setelahnya dengan semacam doa minta perlindungan atau Istikharah tidaklah mengapa”. (Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfah Al-Muhtaaj II/238]
Bagi sebagian Ulama yang mensunahkan jenis shalat ini mereka memang mencantumkan dasar haditsnya kemudian praktek shalat ini pun merujuk Hadits tersebut seperti diungkapkan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dan diikuti ketwrangan dalam Kitab Fathul 'Allam karya Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Abdul Lathif Al-Jardani Al-Husaini (1331H),
ومنه صلاة ركعتين للأنس في القبر روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتي على الميت أشد من الليلة الأولى فارحموا بالصدقة من يموت فمن لم يجد فليصل ركعتين يقرأ فيهما أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة وآية الكرسي مرة و { ألهاكم التكاثر } 102 التكاثر الآية 1 مرة و { قل هو الله أحد } 112 الإخلاص الآية 1 عشر مرات ويقول بعد السلام اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان ابن فلان فيبعث الله من ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلى يوم ينفخ في الصور اه
وفي الحديث أن فاعل ذلك له ثواب جسيم منه أنه لا يخرج من الدنيا حتى يرى مكانه في الجنة قال بعضهم فطوبى لعبد واظب على هذه الصلاة كل ليلة وأهدى ثوابها لكل ميت من المسلمين وبالله التوفيق
Di antara shalat sunah yang tidak kerjakan secara berjamaah adalah shalat dua rakaat untu memberikan penghiburan bagi mayit dalam kubur, diriwayatkan dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam beliau bersabda “Tidak ada yang lebih berat bagi orang yang meninggal selain malam pertamanya, maka belasilah dengan memberi shadaqah atas yang telah meninggal, barangsiapa tidak menemukan (harta) maka shalatlah dua rakaat yang disetiap rakaatnya membaca surat al-Fatihah sekali, ayat kursi sekali, surat at-takaatsur sekali dan surat al-Ikhlaash 10 kali, dan ucapkanlah seusai salam, "Ya Allah, sesungguhnya aku shalat dengan shalat ini dan Engkau mengetahui akan apa yang aku inginkan. Ta Allah, berikan pahalanya pada kuburan fulan anaknya fulan (disebut nama orang yang meninggal disertai nama ayahnya), maka seketika itu juga, Allah mengirimkan 1000 malaikat dengan setiap satu malaikat membawa cahaya dan hadiah yang dapat menghiburnya hingga datangnya hari ditiupkannya sangkakala”
Dalam sebuah hadits “Bahwa yang mengerjakan shalat tersebut dianugerahi pahala besar diantaranya dia tidak akan keluar dari dunia ini (mati) hingga terlebih dahulu melihat tempatnya disurga”. Berkata sebagian Ulama “Berbahagialah bagi hamba yang merutinkan shalat ini setiap malam dan menghadiahkan pahalanya untuk setiap orang meninggalnya kaum muslimin.” (Nihayah Az-Zain Halaman 111, cetakan pustaka As-Salam Surabaya, & Fathul 'Allam Fii Mursyid Al-Anam Juz 2 Halaman 56-57, cetakan Daar Ibnu Hazm). Wallahu a'lam
Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin
*والله الموفق الى أقوم الطريق*
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar