Hal yang kerap menjadi perbincangan utamanya di media sosial kala Ramadhan antara lain adalah soal bacaan doa saat buka puasa. Menurut sebagian kalangan, doa yang lazim dibaca masyarakat, yaitu: Allâhumma laka shumtu wa bika âmantu wa ‘alâ rizqika afthartu, didukung oleh hadits yang dhaif.
Sejumlah pihak ini menawarkan alternatif lafal doa yang didukung hadits shahih riwayat Abu Dawud, yaitu: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insyâ Allah.
Pertanyaannya apakah benar doa berbuka puasa yang diamalkan oleh masyarakat selama ini hanya bersandar pada hadits yang dhaif? Apakah benar kualitas hadits riwayat Abu Dawud terkait doa berbuka puasa lebih shahih dibandingkan hadits yang diamalkan oleh masyarakat selama ini? Mari kita perhatikan keterangan berikut ini.
Hadits lengkap riwayat Abu Dawud berbunyi sebagai berikut,
حدثنا عبد الله بن محمد بن يحيى أبو محمد حدثنا علي بن الحسن أخبرني الحسين بن واقد حدثنا مروان يعني ابن سالم المقفع قال رأيت ابن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف وقال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
Kami mendapat riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Yahya, yaitu Abu Muhammad, kami mendapat riwayat dari Ali bin Hasan, kami mendapat riwayat dari Husein bin Waqid, kami mendapat riwayat dari Marwan, yaitu Bin Salim Al-Muqaffa‘, ia berkata bahwa aku melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya, lalu memangkas sisanya. Ia berkata, Rasulullah bila berbuka puasa membaca, ‘Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insyâ Allah. (HR Abu Dawud)
Sementara doa berbuka puasa yang kerap diamalkan masyarakat, yaitu: 'Allâhumma berkata,umtu wa ‘alâ rizqika afthartu’ bersumber dari riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai keterangan Syekh M Khatib As-Syarbini berikut ini,
وأن يقول عقب فطره اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت لانه صلى الله عليه وسلم كان يقول ذلك رواه الشيخان
(Mereka yang berpuasa) dianjurkan setelah berbuka membaca: ‘Allâhumma laka shumtu, wa ‘alâ rizqika afthartu.’ Pasalnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan doa ini yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. (Lihat Syekh M Khatib as-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman: 385).
Kalau mau dilihat tingkat keshahihannya, doa riwayat Imam Bukhari dan Muslim jelas diatas lebih shahih dibandingkan sekadar riwayat Abu Dawud berdasarkan kesepakatan ulama ahli hadits. Dari sini sudah jelas bahwa doa yang diamalkan masyarakat selama ini sudah benar dan didukung oleh hadis yang shahih dan kuat.
Lalu bagaimana dengan doa riwayat Abu Dawud? Karena juga mengetahui ada doa dari riwayat perawi lainnya, ulama dari Madzhab Syafi’i menggabungkan doa riwayat Imam Bukhari dan Muslim dengan doa riwayat Abu Dawud. Demikian disebutkan Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyatul Bujairimi berikut ini,
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ (ويسن أن يزيد على ذلك) وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ.
(Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu) dianjurkan menambahkan lafal, wa bika âmantu, wa bika wa ‘alaika tawakkaltu. Dzahabaz zhama’u, wabtallatil ‘urûqu, wa tsabatal ajru, insyâ Allah. Yâ wâsi‘al fadhli, ighfir lî. Alhamdulillâhil ladzî hadânî fa shumtu, wa razaqanî fa afthartu.
Tuhanku, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Sebab dan kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah. Dan insya Allah pahala sudah tetap. Wahai Zat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya. (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi 'Alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman: 385).
Berikut ini fatwa-fatwa ulama empat mazhab (dengan beberapa tambahan):
1. Imam Az Zaila’i Rahimahullah, ahli hadits mazhab Hanafi.
Beliau berkata,
وَمِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْت وَعَلَيْك تَوَكَّلْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت
Termasuk SUNNAH adalah ketika berbuka membaca, "ALLAHUMMA LAKA SHUMTU WA BIKA AMANTU… dan seterusnya. (Tabyin Al-Haqaiq, 1/324).
2. Imam An Nafrawi Al Maliki Rahimahullah Beliau berkata,
وَيَقُولُ نَدْبًا عِنْدَ الْفِطْرِ: اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرْت
Dianjurkan membaca di saat berbuka, "ALLAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALA RIZQIKA AFTHARTU FAGHFIRLI MA QADDAMTU WA MA AKHKHARTU. (Al-Fawakih Ad-Dawani, 1/305).
3. Imam An Nawawi Asy-Syafi’i Rahimahullah Beliau berkata,
والمستحب أن يقول عِنْدَ إفْطَارِهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أفطرت
Mustahab (sunah) membaca di saat berbuka, "ALLAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALA RIZQIKA AFTHARTU. (Al-Majmu’ Asy-Syarh Al-Muhadzdzab, 6/362).
4. Imam Al Buhuti Al-Hambali Rahimahullah Berikut ini ucapannya,
وَ يُسَنُّ أَنْ يَدْعُوَ عِنْدَ فِطْرِهِ فَإِنَّ لَهُ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ لِمَا رَوَى ابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لَا تُرَدُّ وَ يُسَنُّ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ فِطْرِهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Disunahkan berdoa di saat menjelang berbuka karena bagi orang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak, berdasarkan hadits Abdullah bin Amr bahwa orang berpuasa itu menjelang berbuka doanya tidak tertolak.
Disunahkan membaca menjelang berbuka, "ALLAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALA RIZQIKA AFTHARTU… (Kaysyaf Al-Qina’, 5/293).
Demikian para ulama dari empat mazdhab menjelaskan bahwa doa tersebut dibaca SEBELUM BERBUKA. Adapun yang mengatakan dibacanya SETELAH BERBUKA diantaranya adalah ulama Salafi Wahabi Syaikh Shalih Al-Utsaimin.
Syaikh Shalih Utsaimin berkata dalam fatwanya yang lain,
لكن ورد ذكر إن صح عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم فإنه يكون بعد الإفطار: (ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله) هذا لا يكون إلا بعد الفطر، وكذلك ورد عن بعض الصحابة أنه كان يقول: (اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت) فأنت ادع الله بالدعاء المناسب الذي ترى أنك محتاج إليه.
Tetapi telah sampai zikir yang jika shahih dari Nabi ﷺ dibacanya SETELAH BERBUKA, "Dzahabazh zhama’u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru Insya Allah." Doa ini hanya saat setelah berbuka. Demikian juga telah sampai dari sebagian sahabat Nabi bahwa beliau membaca, " ALLAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALA RIZQIKA AFTHARTU," maka berdoalah kepada Allah dengan doa-doa yang pas, yang anda anggap sesuai kebutuhan anda. (Al-Liqa Asy-Syahri, 8/18).
Dalam Fatwanya beliau juga berkata,
والدعاء المأثور: «اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت» ومنه أيضاً قول النبي عليه الصلاة والسلام: «ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاءالله». وهذان الحديثان وإن كان فيهما ضعف لكن بعض أهل العلم حسنهما، وعلى كل حال فإذا دعوت بذلك أو بغيره عند الإفطار فإنه موطن إجابة.
Doa yang ma’tsur (Allahumma Laka Shumtu wa ‘Ala Rizqika Afthartu), di antaranya juga ucapan Nabi ﷺ: Dzahabazh zhama’u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru Insya Allah. Dua hadits ini, jika di dalamnya ada kelemahan, tetapi sebagian ulama telah menghasankan keduanya. Bagaimana pun juga, jika Anda berdoa dengan doa ini atau selainnya saat menjelang berbuka, maka itu adalah momen dikabulkannya doa. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 19/363).
Dari keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa para ulama terdahulu sangat bijak dalam mengatasi perbedaan riwayat. Mereka menggabungkan dua riwayat yang berbeda tanpa menyalahkan, atau mengecilkan riwayat lain. Gabungan dua riwayat ini kemudian disuguhkan kepada masyarakat yang kemudian diamalkan turun-temurun oleh mereka hingga kini.
Doa ini dibaca boleh sebelum berbuka menurut ulama 4 madzhab atau setelah setelah mereka membatalkan puasanya sebagaimana fatwanya ulama Salafi Wahabi Syaikh Shalih Al-Utsaimin. Saran kami, sebaiknya kita tidak perlu membesar-besarkan perbedaan. Kita sebaiknya tidak menyalahkan doa berbuka puasa masyarakat, terlebih amalan mereka didukung oleh hadits yang lebih shahih dibandingkan doa alternatif yang mereka tawarkan. Selain itu, sebaiknya kita mencari titik temu pada dua riwayat dan penjelasan ulama yang berbeda. Kebijaksanaan ini yang menjadi warisan para ulama terdahulu. Wallahu a‘lam.
Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin
*والله الموفق الى أقوم الطريق*
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar