MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Jumat, 09 Oktober 2026

KAJIAN TENTANG KEHEBATAN MI'RAJNYA HABIB ABDULLAH BIN ALWI AL-HADDAD MENYAMAI MI'RAJNYA NABI


Setelah mi'rajnya Al-Faqih Muqaddam 70 kali dalam satu malam dan karomah lainnya yang terdapat dalam beberapa kitab ba'alawi diantaranya kitab Al-Jauhar Asy-Syafaf, Syarh Al-'Ainiyah dan Al-Ustadz Al-A'zham Al-Faqih Al-Muqaddam yang akan saya kutipkan redaksi kitabnya dimana selama ini menurut pendapat ba'lawi juga pengikutnya bahwa mi'rajnya Al-Faqih Muqaddam itu melalui shalat dengan dalih "Shalat adalah Mi'rajnya orang Mukmin". 

رواية الخطيب في الجوهر الشفاف: ومن جملة ما كتب إليه شيخ شيوخنا محمد بن علي بن أبي علوي أنه عرج بي إلى سدرة المنتهى سبع مرات في ليلة واحدة، وفي رواية سبع وعشرين، وفي رواية سبعين مرة، وذكر أن رجلًا من أهل السريات الصادقات، والكرامات الخارقات أتى من دمشق يقال له الفضل، فلما قدم أتى إلى الشيخ الجليل شيخ شيوخنا الفقيه محمد بن علي بن أبي علوي وقال له: ما أتيت إليك إلا لأعلمك أني ما وجدت جاثمًا على قلبك إلا الشيخ عبدالرحمن المقعد، وأنت تحكم له، فهو رجل مكتسب، وأنت صاحب نسبة، فقال شيخ شيوخنا: وما هذه النسبة؟ قال: سدرة المنتهى، وقال أيضًا: لو اجتمع أهل المشرق والمغرب على أن يفكوا قفلك لما قدروا«

Dalam riwayat Al-Khatib di Al-Jauhar Asy-Syafaf: "Di antara yang ditulis kepada kami oleh Syekh Syekh kami, Muhammad bin Ali bin Abi Alawi, adalah bahwa aku diangkat ke Sidrat Al-Muntaha tujuh kali dalam satu malam. Dalam riwayat lain disebutkan tujuh puluh kali, dan dalam riwayat lain lagi tujuh puluh kali. Ia menyebutkan bahwa seorang laki-laki dari kalangan para wali yang ikhlas dan memiliki karamah luar biasa datang dari Damaskus, yang dikenal dengan nama Al-Fadhil. Ketika ia tiba, ia mendatangi syekh yang mulia, Syekh Syekh kami, Faqih Muhammad bin Ali bin Abi Alawi, dan mengatakannya: 'Aku datang kepadamu hanya untuk memberitahumu bahwa aku tidak menemukan sesuatu yang menghalangimu kecuali Syekh Abdul Rahman yang terkurung, dan kamu harus memberikan keputusan untuknya, karena dia adalah orang yang berusaha, dan kamu adalah orang yang memiliki nasab.' Maka Syeikh-Syeikh kami bertanya: 'Apa nasab ini?' Ia menjawab: 'Sidrat Al-Muntaha,' dan ia juga berkata: 'Seandainya orang-orang dari timur dan barat berkumpul untuk membukakan kunci hatimu, mereka tidak akan mampu.'" (Jauhar Asy-Syafaf juz 1 hal. 79)

Sementara di dalam kitab Syarh Al-'Ainiyah dijelaskan sebagai berikut,

وكان من جملة ما كتب به إلى الشيخ سعد، أنه قال: عرج بي إلى سدرة المنتهى سبع مرات. وفى رواية سبعة وعشرين مرة فى ليلة واحدة.  وفي رواية سبعين مرة. ومن جملة ما كتب به الشيخ سعد بن علي: بعد  ما عرف تمكينه وتأبيدو وحراسته عن الزيغ : أني أقول قول الناصح محب المشفق, فلا يكون قلبك متعلقا بكرامات ولا غيرها, ولا تلتفت اليها,ولو ظهرت لك اى ظهور, واليكم قلبك متعلقا بمحبة الله, وإلزام حالك الذي انت عليه, ولو قامت عليك القيامة, ولو رأين اى هول فلا يهولنك,  وكلما عرض عليك شيئ, فزانه بميزان الشرع وكتاب الله, فما وافق الحق فاتبعه. ومالم يوفق الحق فاتركه. وأنت بافقيه! أهدى من ان تهدى إنشاء الله, وأعلم بالشريعة والحقيقة.

Di antara apa yang ditulis oleh Syaikh (Al-Faqih Muqaddam) kepada Syaikh Sa'ad adalah: "Aku telah diangkat ke Sidratul Muntaha sebanyak tujuh kali." Dalam riwayat lain disebutkan sebanyak 27 kali dalam satu malam, dan dalam riwayat lain sebanyak 70 kali."

Di antara apa yang ditulis oleh Syaikh Sa'ad bin 'Ali setelah dia mengetahui keteguhan dan kekuatan iman Syaikh (Al-Faqih Muqaddam), serta perlindungan Allah dari penyimpangan,adalah: "Aku katakan dengan penuh nasihat dan kasih sayang, Janganlah hatimu terikat dengan karamah atau hal-hal lainnya, dan janganlah kamu memperhatikannya, meskipun karamah itu tampak jelas bagimu.

Hubungkanlah hatimu dengan cinta kepada Allah dan tetaplah dalam keadaanmu yang sekarang, meskipun kiamat sudah terjadi dan kamu melihat kejadian yang sangat menakutkan, janganlah hal itu membuatmu gentar.

Setiap kali ada sesuatu yang muncul di hadapanmu, timbanglah dengan timbangan syariat dan kitab Allah. Apa yang sesuai dengan kebenaran, ikutilah. Dan apa yang tidak sesuai dengan kebenaran, tinggalkanlah.

Kamu, insya Allah lebih mendapat petunjuk dan lebih mengetahui tentang syariat dan hakikat." (Syarh Al-'Ainiyah, Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, cetakan Dar Al-Ulum Al-islamiyah hal.158)

Maka dalam kitab karya ba'alawi Al-Imam Muhammad bin Zain Smith (murid dari Imam Al-Haddad) mengungkapkan bahwa gurunya bisa melakukan mi'raj menghadap Allah Ta'ala dan juga pernah dibelah dadanya di Masjid Bani Alawi menyamai apa yang pernah dialami Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana keterangan berikut, 

ومن كلامه - نفع الله به - الأرواح تسلم على كل يوم عند طلوع الشمس وتنادي من أربع جهات: من جهة الوجه، ومن جهة العين، ومن جهة الشمال، ومن خلفي. أما التي من جهة الوجه فهم الأولياء، وأما التي من جهة اليمين فهم المحبون والمبتدئون، وأما التي من جهة الشمال فهم أهل الإنكار، وأما التي من ورائي فهم المرضون وهذا يختص بصاحب الخلافة انتهى كلامه نفع الله به.

وقال - قدس الله سره -: إنه يكون للولي ما يكون للنبي وإني قد وضعت في الدراج بمسجد المعجزة وعرج بي إلى السماء حتى وقفت بين يدي الله عز وجل وحصل لي شق الصدر بمسجد بني علوي.

وكان رضي الله عنه يقول: لا يقوم مقامنا أولا ينوب منابنا إلا أربعون رجلا أو المهدي. وهكذا من يبلغ درجة الكمال يكون كذلك أو كما قال.

وقال لبعض خواصه: إن السر عظيم ويشير إلى نفسه ولا يطلق لسانه إلا من شاء الله. وذلك من ذلك السر نصيب.

وقال لبعض أصحابه: أنت لابد أن تركب فرس المهدي قال: فمكثت ثم بعد مدة قدر الله أني ركبت فرسه فعرفت عند ذلك أنه المهدي حقيقة وأن منة المهدي قد تحققت فيه حقا وتحقيقا، وكان يقول: لو عرف الناس وأنصفوا لتحققوا أني أحق بأمورهم منهم.

ومن كلامه - نفع الله به -: كنا نطلب من الكل والآن الكل يطلب منا. وهذه صفة القطب وقال: مقامنا لا أحد يطيق حمله على الانفراد ولكن إذا قربت الوفاة جمعناه في جماعة. وهذا قريب مما سبق من قوله لا يطيق حمله إلا الأربعون أو المهدي.

Di antara perkataan beliau (semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau) adalah, “Ruh-ruh memberikan salam kepadaku setiap hari ketika matahari terbit. Mereka menyeru dari empat arah, yaitu dari arah depan, dari arah mata, dari arah utara, dan dari belakangku. Adapun yang datang dari arah depan, mereka adalah para wali. Adapun yang datang dari arah kanan, mereka adalah orang-orang yang mencintai dan para pemula. Adapun yang datang dari arah utara, mereka adalah orang-orang yang mengingkari. Sedangkan yang datang dari belakangku, mereka adalah orang-orang yang diridai. Hal ini khusus bagi pemegang kekhalifahan.” Selesai perkataan beliau. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau.

Beliau berkata (semoga Allah menyucikan rahasianya), *“SESUNGGUHNYA SEORANG WALI DAPAT MEMPEROLEH SESUATU SEBAGAIMANA SEORANG NABI. AKU PERNAH DITEMPATKAN DI AD-DARRAJ DI MASJID AL-MU'JIZAH KEMUDIAN AKU DINAIKKAN KE LANGIT HINGGA AKU BERDIRI DIHADAPAN ALLAH YANG MAHA AGUNG. DADAKU JUGA PERNAH DIBELAH DI MASJID BANI ALAWI".* 

Beliau (semoga Allah meridai beliau) juga pernah berkata,

“Tidak ada seorang pun yang dapat menduduki kedudukan kami atau menggantikan posisi kami, kecuali empat puluh orang laki-laki atau Al-Mahdi.” Demikian pula, orang yang telah mencapai derajat kesempurnaan akan berada dalam keadaan yang demikian, atau sebagaimana yang beliau katakan.

Beliau berkata kepada salah seorang orang kepercayaannya,

“Sesungguhnya, rahasia itu sangat agung.” Beliau memberikan isyarat kepada dirinya sendiri, tetapi tidak mengungkapkannya dengan lisannya kecuali jika Allah menghendaki. Orang tersebut memperoleh bagian dari rahasia itu.

Beliau berkata kepada salah seorang sahabatnya,

“Engkau pasti akan menaiki kuda Al-Mahdi.” Orang itu berkata, “Aku pun menunggu. Kemudian, setelah beberapa waktu, Allah menakdirkan aku untuk menaiki kudanya. Pada saat itulah aku mengetahui bahwa dialah Al-Mahdi yang sebenarnya dan bahwa anugerah Al-Mahdi benar-benar telah terwujud dalam dirinya.” Beliau juga pernah berkata,

“Seandainya manusia mengetahui dan bersikap adil, niscaya mereka akan menyadari bahwa aku lebih berhak atas urusan mereka daripada harta benda mereka sendiri.”

Di antara perkataan beliau (semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau) adalah, “Dahulu kami yang mencari semua orang, tetapi sekarang semua oranglah yang mencari kami.” Inilah salah satu sifat seorang kutub (wali yang diyakini memiliki kedudukan spiritual tertinggi dalam hierarki kewalian). Beliau juga berkata, “Kedudukan kami adalah suatu kedudukan yang tidak sanggup dipikul oleh seorang pun secara sendirian. Akan tetapi, apabila ajal telah mendekat, kami menghimpunnya dalam suatu kelompok.” Pernyataan ini mendekati perkataan beliau sebelumnya, yaitu bahwa tidak ada yang sanggup memikul kedudukan tersebut kecuali empat puluh orang atau Al-Mahdi. (Ghayah Al-Qashd wa Al-Murad fi Manaqib Al-Imam Al-Haddad, Al-Imam Muhammad bin Zain Smith (murid Imam Al-Haddad), juz 1 hal 102).

Dari kisah-kisah mi'rajnya wali-wali ba'alawi yang terdapat dalam kitab-kitab ba'alawi tersebut perlu dilakukan verifikasi ilmiah akan validitas dan keabsahan kisahnya, karena bisa jadi hanya sebagai kisah fiktip untuk pembodohan dan pendangkalan aqidah umat Islam. Wallahu a'lam bis-Shawab

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin

*والله ألموفق الى أقوم الطريق*

Kamis, 08 Oktober 2026

EDISI KHUTBAH JUM'AT (Keimanan Itu Tentang Sabar & Syukur)

*Khutbah Pertama*

‎اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُّبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

‎أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah*

Dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, kita harus memahami bahwa syukur dan sabar adalah dua pilar utama penopang keimanan dan sumber ketenangan hidup bagi setiap Muslim. 

Sementara ketaqwaan tidak hanya terwujud dalam ritual ibadah saja tetapi harus diwujudkan dalam keseharian kita, mulai dari bertutur kata, bersikap dan memperlakukan orang lain. 

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah*

Di dalam Al-Qur'an surat Lukman yang terdiri dari 34 ayat terdapat 8 nasehat Luqmanul Hakim kepada anaknya dari mulai ayat 12 - 19 dan dua diantaranya adalah wasiat syukur dan sabar. Sebagaimana firman Allah Ta'ala, 

وَلَقَدۡ اٰتَيۡنَا لُقۡمٰنَ الۡحِكۡمَةَ اَنِ اشۡكُرۡ لِلّٰهِ‌ؕ وَمَنۡ يَّشۡكُرۡ فَاِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهٖ‌ۚ وَمَنۡ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِىٌّ حَمِيۡدٌ‏

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji." (QS. Luqman : 12)

Sementara wasiat Luqmanul Hakim tentang kesabaran sebagaimana firman Allah, 

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS. Luqman : 17)

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah*

Lantas bagaimana cara ideal seorang mukmin menjadi pribadi yang bersyukur dan bersabar? Jawabnya adalah memahami bahwa secara naluriah manusia itu memiliki sifat serakah dan suka mengeluh sebagaimana firman Allah Ta'ala, 

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia ketika diuji dengan kesusahan dia mengeluh dan jika diuji dengan nikmat dia kikir. 

Selama ini kita memahami bahwa syukur itu terkait dengan nikmat yang di dapat padahal bersyukur harus dalam setiap keadaan. Sementara ujian kaitannya dengan musibah dan kesusahan, padahal ujian itu bisa berupa kesenangan juga bisa berupa kesusahan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18)

"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin." (QS. Al-Fajr : 15-18)

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah*

Singkatnya, keimanan dan ketaqwaan harus diwujudkan dalam bentuk kesabaran dan rasa syukur dalam bentuk kepedulian kita atas kehidupan orang lain. Sehingga kita mendapatkan kemuliaan dan kesenangan serta kemudahan rizki dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin 

بارَكَ لي ولَكمْ في القُرْآنِ العَظِيمِ، ونَفَعني وإيّاكم بما فيهِ مِنْ الآياتِ والذّكرِ الحكيمِ، أَقُولُ قَوْلي هذا وأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيمَ لي ولَكمْ ولسائرِ المُسْلِمينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فاستغفروهُ إنّهُ هُو الغَفُورُ الرّحيمُ.

*Khutbah Kedua*

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ السَّعَادَةَ الحَقِيقِيَّةَ تَنْطَوِي بَيْنَ جَانِبَيْ الشُّكْرِ وَالصَّبْرِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ الصَّادِقِينَ، وَالشَّاكِرِينَ لِنِعْمَائِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. وَأَقِمِ الصَّلَاة...

Sabtu, 03 Oktober 2026

KAJIAN TENTANG 3 HIKMAH PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

Memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ialah suatu amalan yang mulia. Dalam pelaksanaannya, kita disuguhkan dengan kegiatan yang dapat mengingatkan perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam kepada seluruh penjuru dunia, juga mengingatkan kita untuk senantiasa bersholawat kepadanya. Memperingati maulid Nabi seharusnya bukan hanya sekadar ceremony, tetapi menjadi momentum untuk dapat memetik hikmah dari peringatan tersebut. Adapun hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam, ialah sebagai berikut:

*1. Menguatkan Kecintaan kepada Nabi*

Peringatan Maulid Nabi adalah kesempatan emas untuk meneguhkan rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Dengan mengenang hari kelahiran beliau, umat Islam diingatkan kembali tentang sosok yang menjadi teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Kecintaan ini tidak hanya dalam bentuk kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata untuk mengikuti ajaran dan sunnah beliau. Rasulullah bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِن وَلَدِهِ وَ وَالِدِهِ رواه البخاري

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari ayahnya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari)

*2. Meneladani akhlak dan perbuatan Nabi*

Maulid Nabi mengajak umat Islam untuk meneladani akhlak dan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, seperti kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan keadilan. Peringatan ini merupakan ajang untuk belajar dan menerapkan akhlak tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bisa menciptakan masyarakat yang lebih baik dan harmonis. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21).

Dalam rangka meneladani akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terangkum dalam 4 sifat wajib bagi para rasul itu ada empat, yakni sidik, amanah, tabligh, dan fatanah.

*2.1. Sidiq*

Sidik artinya selalu jujur dan benar. Semua yang disampaikan oleh rasul adalah benar karena hal tersebut berasal dari wahyu Allah SWT. Para rasul selalu menyampaikan kebenaran dengan jujur walaupun tantangannya sangat berat.

Allah SWT berfirman,

وَمَا أَتْكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا لَهُكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al-Hasyr : 7)

*2.2. Amanah*

Amanah artinya dapat dipercaya. Para rasul dipercaya oleh Allah untuk menyampaikan risalah yang benar. Mereka menerima perintah dari Allah dengan penuh tanggung jawab tidak mengurangi atau menambah apa yang telah diwahyukan kepada mereka.

Hal ini dijelaskan dalam Qur'an surah Asy-Syu'ara ayat 143. Allah SWT berfirman,

إِنِّي لَكُمْ رَسُوْلُ أَمِينٌ

"Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu." (QS. Asy-Syu'ara : 147)

*2.3. Tabligh*

Tablig artinya menyampaikan. Rasul selalu menyampaikan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT. Tidak ada satupun ayat atau wahyu yang disembunyikan oleh mereka.

Meskipun dalam penyampaian wahyu tersebut, para rasul mendapat perlawanan dari umatnya namun mereka tidak pernah gentar menghadapinya. Dalam Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 67, Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

"Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga engkau dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS. Al-Maidah : 67)

*2.4 Fatanah*

Fatanah artinya memiliki kecerdasan yang tinggi. Para rasul telah dibekali kecerdasan dan kemampuan yang hebat oleh Allah untuk menghadapi umatnya. Hal ini disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 179 mengenahi orang-orang kafir itu bodoh.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ، لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا، أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak mereka gunakan untuk memahami. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak mereka gunakan untuk melihat. Dan mereka memiliki telinga, tetapi tidak mereka gunakan untuk mendengarkan. Mereka seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi." (QS. Al-A’raf : 179)

*3. Memperdalam Pemahaman terhadap Ajaran Islam*

Melalui peringatan Maulid, umat Islam diingatkan untuk menggali lebih dalam tentang ajaran Islam dan kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dua warisan berharga yang Rasulullah tinggalkan untuk umatnya ialah Al-Qur-an dan As-Sunnah. Maka, sudah sepatutnya dalam peringatan Maulid Nabi ini dapat membangkitkan semangat kita untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan ajaran dari 2 hal tersebut. Rasulullah bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallahu alaihi wa sallam.” (HR. Malik).

Secara keseluruhan, peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam memiliki banyak hikmah yang bisa diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hikmah-hikmah ini tidak hanya bermanfaat untuk memperdalam spiritualitas dan keimanan, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup umat Islam secara keseluruhan. Wallahu a'lam