MEDIA ONLINE RESMI MAJELIS WAKIL CABANG (WCNU)NU KECAMATAN CIPAYUNG KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

Sabtu, 19 September 2026

KAJIAN TENTANG PENGAKUAN TERPUTUSNYA NASAB BA'ALAWI MENURUT AL-HABIB MUSTHAFA AL-ATHAS SESUAI KITAB BA'ALAWI







Dalam penggalan sebuah percakapan di medsos ada sebuah kejujuran pengakuan dari seorang ba'alawi yaitu Al-Habib Musthafa Al-Athas dalan penjelasannya beliau menyatakan bahwa nasab ba'alawi adalah nasab yang cilukba alias datang secara tiba-tiba sebagai pengakuan nasab yang munqathi' (terputus) dari ahlul bait Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau merujuk kepada tiga kitab karya ulama ba'alawi yaitu Kitab Al-Imam Al-Muhajir hal.27 karya Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Kitab Al-Mu'jam Al-Latif hal.41 karya Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, dan Kitab Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167 karya As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi.

Melalui penelusuran saya dapatkan dan kutikpan isi kitab dimaksud sebagai berikut,

لقد واجه المهاجر وذرية من بعد فى حضرموت من الاناف فى إثبات نسبهم الى النبي صلى الله عليه وسلم مالم يواجه مثله أي فرع من فروع البيت النبوي وكان انكار هذه النسب او الطعن فيها يتكرر واجه يتكر بصور واشكال متعددة من قدوم الامام المهاجر الى حضرموت حتى عصر الحاضر

"Sungguh Al-Muhajir (Imam Ahmad bin Isa) dan keturunannya setelahnya di Hadhramaut telah menghadapi kesulitan yang sangat berat dalam menetapkan nasab mereka kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mana kesulitan seperti itu tidak pernah dihadapi oleh cabang manapun dari cabang-cabang keluarga Nabi (Bait Nabawi).

Dan pengingkaran terhadap nasab ini atau pencelaan terhadapnya terus berulang dengan berbagai bentuk dan model yang bermacam-macam, sejak kedatangan Imam Al-Muhajir ke Hadhramaut hingga masa sekarang ini." (Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Al-Imam Al-Muhajir hal.27)

أعلام تآصل بني علوي لوشستر إلا بعد تكاثرهم

وأعلام القبائل العلوية سواء كانت بالأسماء أو بالألقاب أو بالكنى لم تشتهر ولم تنتشر إلا بعد تكاثرها، وذلك بعد القرن الثامن الهجري لأنهم لم يتنشروا إلا فيه بعد، والهدف منها كما قلت سابقًا هو التعارف والتمايز. قال الله تعالى جلّ وعلا:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾

(سورة الحجرات، آية 13)

"Publikasi asal-muasal nasab Bani Alawi tidak menjadi terkenal/masyhur kecuali setelah jumlah mereka banyak (berkembang biak)."

“Nama-nama/penamaan kabilah-kabilah Alawiyah, baik yang berupa nama, gelar maupun kunyah, tidak menjadi terkenal dan tersebar kecuali setelah jumlah mereka semakin banyak. Hal itu terjadi setelah abad kedelapan Hijriah, karena sebelum itu mereka belum banyak tersebar. Tujuan dari penamaan tersebut, sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, adalah untuk saling mengenal dan membedakan satu sama lain.

Allah Ta‘ala berfirman:

‘Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.’ (QS. Al-Hujurat: 13. (Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Al-Mu'jam Al-Latif hal.41)

ظهور السلسلة فجأة، وتشتهر ولما تكون مشهورة؛ كما أنها لا واقع لها في دواوين النسب، فخبر الواحد لا عبرة به هنا بعد أن مضى على السلسلة قرون ولم تكن معروفة خلال تلك القرون المتصرفة

"Munculnya sebuah garis keturunan (silsilah nasab) secara tiba-tiba, lalu menjadi terkenal padahal sebelumnya tidak pernah terkenal; sebagaimana nasab tersebut tidak ada faktanya (tidak tercatat) di dalam kitab-kitab induk nasab, maka kabar perorangan (khabar ahad) tidak ada nilainya di sini setelah berlalunya berabad-abad lamanya atas silsilah tersebut dalam keadaan tidak dikenal selama abad-abad yang telah berlalu itu." (As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi, Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167).

Oleh karenanya, dari penjelasan kitab-kitab diatas dapat diketahui bahwa Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan keturunannya itu terkenal popularitasnya dan tersebar luas namanya (syuhrah wal istifazhah) baru pada abad ke-8 hijriyah dimana abad sebelumnya tidak diketahui dan tidak tercatat di dalam kitab nasab. Dari penjelasan video dan teks rujukan kitab tergantung bagaimana kita menyikapi kebenarannya. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan. Aamiin 

*والله الموافق الى أقوم الطريق*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar