Kamis, 24 September 2026

EDISI KHUTBAH JUM'AT (Menjadi Manusia Yang Pandai Bersyukur Dan Bersabar)

*Khutbah Pertama* 

‎اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُّبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

‎أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّا بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

*Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,*

Dalam menjalani bahtera kehidupan yang penuh dinamika ini, seringkali kita terlupa akan dua pilar penting yang seharusnya menjadi pegangan kokoh setiap mukmin, yaitu rasa syukur atas nikmat Allah dan kesabaran dalam menghadapi setiap ujian. Padahal, keduanya adalah kunci utama menuju ketenangan jiwa, kekuatan hati, dan kebahagiaan yang abadi.

Oleh karena itu, Allah menurunkan banyak ayat tentang bersyukur dan bersabar sebagai pedoman bagi umat-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim : 7)

Secara naluriah, manusia pada dasarnya memang dipenuhi oleh sifat serakah, enggan bersyukur, berkeluh kesah, tidak perduli terhadap sesama. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا, إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا, وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.” (Q.S. Al-Ma’arij: 19-21)

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,*

Lebih lanjut Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa manusia suka mengingkari nikmat Allah ketika mendapatkan ujian,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18)

"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin." (QS. Al-Fajr : 15-18)

Lantas bagaimana caranya seorang mukmin agar senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menjalani kehidupan ini?

*Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,*

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

‎انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah darimu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu, karena yang demikian itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

Terdapat kisah penuh hikmah yang dijelaskan dalam kitab Bahrud Dumu’ [Darul Farj, 2004, hal. 132-133], karya Imam Jamaluddin Abdurrahman Al-Jauzi, atau dikenal dengan nama *Ibnul Jauzi* (w. 597 H.). Berikut kisahnya,

يروى في بعض الأخبار إن عمر بن الخطاب رضي الله عنه لقي حذيفة بن اليمان وهو يومئذ أمير المؤمنين، فقال لحذيفة: كيف أصبحت يا حذيفة؟ قال: أصبحت يا أمير المؤمنين  أحب  الفتنة، وأكره الحق، وأقول بما لم يخلق، وأشهد بما لم أر، وأصلي بلا وضوء، ولي في الأرض ما ليس لله في السماء

“Diriwayatkan di sebagian hadits, bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan Hudzaifah bin al-Yaman, dan Umar ketika itu sudah menjadi Amirul Mukminin. Dia berkata “bagaimana pagimu hai, Hudzaifah”, Hudzaifah menjawab “Pagiku, wahai Amirul Mukminin, aku menyukai fitnah, dan aku membenci kebenaran, aku mengucapkan hal yang bukan makhluk, aku bersaksi atas hal yang tidak ku lihat, aku shalat tanpa berwudhu, dan aku di bumi mempunyai apa yang Allah tidak punya di langit.”

فغضب عمر لذلك غضبا شديدا، وهمّ إن يبطش به، ثم تذكر صحبته من النبي، فأمسك، فهو كذلك إذ مرّ به عليّ بن أبي طالب رضي الله عنه، فرأى الغضب في وجهه، فقال: ما أغضبك يا أمير المؤمنين، فقصّ عليه القصّة 

“Mendengar hal itu, Umar kemudian sangat marah, dia ingin menghancurkan Hudzaifah, hanya saja dia teringat bahwa Hudzaifah adalah sahabat Nabi, maka dia mengurungkan niatnya itu. Tiba-tiba Ali bin Abi Talib berjalan bertemu Umar, dan umar masih dalam kondisi marah, lalu Ali bertanya “Apa yang membuatmu marah wahai Amirul Mukminin”, kemudian Umar menceritakan kisah tersebut.”

فقال: يا أمير المؤمنين لا يغضبك ذلك، أما قوله: إنه يحب الفتنة، فهو تأويل قوله تعالى: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ}(التغابن ١٥) 

“Ali berkata “hai, Amirul Mukminin, janganlah marah karena kejadian itu, ucapan Hudzaifah bahwa dia menyukai fitnah adalah takwilan dari surat al-Taghabun ayat 15.”

أما قوله: يكره الحق، فالحق هو الموت الذي لا بدّ منه ولا محيص عنه 

“Ucapannya tentang membenci kebenaran adalah tentang kematian yang pasti akan datang, dan tidak bisa dihindari.” 

وأما قوله: يقول بما لم يخلق: القرآن، فهو يقرأ القرآن وهو غير ومخلوق 

“Terkait berkata dengan hal yang tidak diciptakan adalah tentang Al-Qur’an, dan Qur’an sendiri bukanlah makhluk.” 

وأما قوله: يشهد بما لم ير، فانه يصدق بالله ولم يره 

“Terkait bersaksi terhadap hal yang tidak dia lihat, adalah tentang memperayai Allah meskipun tidak melihat-Nya.”

وأما قوله: يصلي بغير وضوء، فانه يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم بغير وضوء 

“Terkait shalat tanpa wudhu adalah tentang shalawat kepada Nabi tanpa berwudhu.” 

وأما قوله: إن له في الأرض ما ليس لله في السماء، فان له زوجة وبنين، وليس لله شيء من ذلك

“Terkait dia di bumi mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki Allah di langit adalah tentang anak dan istri, dan Allah sama sekali tidak mempunyai anak dan istri.”

فقال عمر: لله درّك: يا أبا الحسن، لقد كشفت عني هما عظيما

“Umar berkata “Kebaikan Allah ada padamu wahai Abul Hasan, engkau telah membebaskanku dari kegalauan yang sangat berat.”

*Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,*

Demikianlah khutbah tentang pentingnya bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar dalam menghadapi berbagai masalah dan musibah yang sudah menjadi sunnatullah harus dihadapi oleh manusia. Semoga kita termasuk orang yang kuat dan sabar dalam menghadapi segala bentuk permasalahan dalam hidup dan semoga kita termasuk orang-orang yang dilindungi dan dicintai Allah SWT.   

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

*Khutbah Kedua*   

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ 

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ  

عِبَادَ اللهِ إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   

Rabu, 23 September 2026

KAJIAN TENTANG HUKUM MENGUSAP WAJAH SETELAH SELESAI BERDOA

Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), khususnya Nahdliyin (pengikut NU), ketika setelah selesai shalat mengusap mukanya dengan tangan, baik keduanya maupun hanya tangan kanannya saja. 

Apakah hal tersebut diperbolehkan dalam Islam? atau apakah perbuatan tersebut ada dasarnya atau dalilnya?.

Karena ada sebagian umat Islam yang berbeda tafsir keagamaanya melarang sesama saudaranya yang juga berbeda tafsir keagamaanya dengan dirinya untuk mengusap muka setelah shalat atau setelah berdoa. 

Sebenarnya perbuatan tersebut ada dasarnya, sumbernya berasal dari beberapa riwayat hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diantaranya yang diriwayatkan dalam kitab Sunan Abu Dawud nomor 1275,

عن السائب بن يزيد عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا فرفع يديه مسح وجهه بيديه (سنن ابي داود ، رقم ١٢٧٥). 

"Dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya, apabila Rasulullah saw berdoa, beliau selalu mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya." (HR Sunan Abi Dawud, 1275). 

سنن ابن ماجه ١١٧١: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ قَالَا حَدَّثَنَا عَائِذُ بْنُ حَبِيبٍ عَنْ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ

Sunan Ibnu Majah 1171: Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] dan [Muhammad bin Ash Shabbah] keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami ['A`id bin Habib] dari [Shalih bin Hassan Al Anshari] dari [Muhammad bin Ka'ab Al Qurazhi] dari [Ibnu Abbas] ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila kamu berdo'a kepada Allah gunakanlah bagian dalam telapak tanganmu dan jangan dengan bagian luarnya, jika selesai do`a maka usaplah wajahmu dengan keduanya." (HR. Ibnu Majah no.1171)

سنن الترمذي ٣٣٠٨: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى فِي حَدِيثِهِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى وَقَدْ تَفَرَّدَ بِهِ وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ وَقَدْ حَدَّثَ عَنْهُ النَّاسُ وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيُّ ثِقَةٌ وَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ

Sunan Tirmidzi 3308: Telah menceritakan kepada kami [Abu Musa Muhammad binAl Mutsanna] dan [Ibrahim bin Ya'qub] serta lebih dari satu orang mereka berkata:? telah menceritakan kepada kami [Hammad bin IsaAl Juhani] dari [Hanzhalah bin Abu SufyanAl Jumahi] dari [Salim bin Abdullah] dari [ayahnya] dari [Umar bin Al Khathab radliallahu 'anhu] ia berkata: rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam sebuah doa maka beliau tidak menurunkan keduanya hingga mengusap mukanya dengan keduanya. Muhammad bin Al Mutsanna berkata dalam hadits tersebut: tidak mengembalikan keduanya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya. Abu Isa berkata: hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin Isa, ia sendirian yang meriwayatkan hadits tersebut sementara ia adalah orang yang sedikit haditsnya. Orang-orang telah menceritakan darinya, sedangkan Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi adalah orang yang tsiqah, ia ditsiqahkan oleh Yahya bin Sa'id Al Qaththan. (HR. At-Tirmidzi no.3308)

Juga penjelasan dari para ulama 4 Imam Mdzhab sebagaimana berikut ini,

من أقوال الحنفية  

في شرح الحصكفي 1/507  و  أما ( عند الصفا والمروة وعرفات ) ف ( يرفعهما كالدعاء ) والرفع فيه , وفي الاستسقاء مستحب ( فيبسط يديه ) حذاء صدره ( نحو السماء ) لأنها قبلة الدعاء ويكون بينهما فرجة والإشارة بمسبحته لعذر كبرد يكفي والمسح بعده على وجهه سنة في الأصح شرنبلالية . )  

وفي الفتاوى الهندية 5/318 : ( مسح الوجه باليدين إذا فرغ من الدعاء قيل : ليس بشيء , وكثير من مشايخنا - رحمهم الله تعالى - اعتبروا ذلك وهو الصحيح وبه ورد الخبر , كذا في الغياثية .)   

*Dari perkataan ulama Hanafiyah*

Dalam Syarh Al-Hashkafi 1/507: "Adapun (di Shafa dan Marwah serta Arafah) maka (ia mengangkat kedua tangannya seperti dalam doa) dan mengangkat tangan dalam hal itu, dan dalam istisqa' adalah mustahab (maka ia membentangkan kedua tangannya) sejajar dengan dadanya (ke arah langit) karena langit adalah kiblatnya doa dan di antara keduanya ada celah, dan berisyarat dengan jari telunjuknya karena uzur seperti dingin sudah cukup, dan mengusap wajah dengannya setelah doa adalah sunnah menurut pendapat yang paling sahih. Syurunbulaliyah."

Dan dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 5/318: "(Mengusap wajah dengan kedua tangan jika telah selesai dari doa, dikatakan: itu bukan apa-apa, dan banyak dari guru-guru kami - rahimahumullah ta'ala - menganggap hal itu dan itulah yang sahih dan telah datang khabar (hadis) tentangnya, demikian dalam Al-Ghiyatsiyah.)"[dianjurkan]

من أقوال المالكية  

في الفواكه الدواني 2/330 : ( واختلف هل يرفع يديه عند الدعاء أو لا ؟  

وعلى الرفع فهل يمسح وجهه بهما عقبه أم لا ؟ والذي في الترمذي عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه : { أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا رفع يديه في الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه } . فيفيد أنه كان يرفعهما ويمسح بهما وجهه .) 

وفي الفواكه الدواني أيضا 2/335 : ( واختلف في بسط اليد ولا بأس منه لانه أمارة الذل والسكينة ويستحب أن يمسح وجهه بيديه عقبه كما كان يفعله عليه الصلاة والسلام ) اه  وفي الفواكه الدواني أيضا 1/281 : ( ويرفع يديه في حال الدعاء وبطونهما إلى الأرض وقيل إلى السماء وورد أنه بعد الدعاء يضع يديه على وجهه ويمسحه بهما لكن من غير تقبيل )  

  *Dari perkataan ulama Malikiyah*

Dalam Al-Fawakih Ad-Dawani 2/330: "Dan diperselisihkan apakah ia mengangkat kedua tangannya ketika berdoa atau tidak? Dan jika mengangkat, apakah ia mengusap wajahnya dengan keduanya setelahnya atau tidak? Dan yang ada dalam At-Tirmidzi dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu: {Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya dalam doa, beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya}. Maka ini berfaedah bahwa beliau mengangkat keduanya dan mengusap wajahnya dengan keduanya."

Dan dalam Al-Fawakih Ad-Dawani juga 2/335: "Dan diperselisihkan tentang membentangkan tangan dan tidak apa-apa melakukannya karena itu adalah tanda kerendahan dan ketenangan, dan dianjurkan untuk mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi 'alaihis shalatu wassalam."

Dan dalam Al-Fawakih Ad-Dawani juga 1/281: "Dan ia mengangkat kedua tangannya dalam keadaan berdoa dan telapaknya menghadap ke bumi, dan dikatakan menghadap ke langit, dan telah datang riwayat bahwa setelah berdoa ia meletakkan kedua tangannya di wajahnya dan mengusapnya dengan keduanya, akan tetapi tanpa menciumnya."

من أقوال الشافعية  

فتاوى ابن حجر 1/137 : ( وسئل ) رضي الله عنه - وحشرني في زمرته - عن تقبيل اليدين بعد كل دعاء خارج الصلاة هل له أصل كمسح الوجه بهما أم لا ؟ وإذا كان له أصل فهل هو صحيح , أو خبره ضعيف  ( فأجاب ) - فسح الله في مدته - : بأني لم أر له أصلا صحيحا ولا ضعيفا بعد مزيد البحث والتفتيش ; فلا ينبغي فعله .)  

وفي مغني المحتاج 1/370 : ( وأما مسح غير الوجه كالصدر فلا يسن مسحه قطعا بل نص جماعة على كراهته . وأما مسح الوجه عقب الدعاء خارج الصلاة , فقال ابن عبد السلام بعد نهيه عنه لا يفعله إلا جاهل ا هـ .  وقد ورد في المسح بهما أخبار بعضها غريب وبعضها ضعيف , ومع هذا جزم في التحقيق باستحبابه .)  

وفي حاشية البجيرمي على شرح المنهج 1/208 : ( قوله : ( لا مسح ) أي : في الصلاة أي : لا يندب فالأولى تركه ح ل ويسن خارجها م ر أي : يسن أن يمسح وجهه بيديه بعده لما ورد أن كل شعرة مسحها بيده بعد الدعاء تشهد له ويغفر له بعددها ح ف وما تفعله العامة من تقبيل اليد بعد الدعاء لا أصل له كما في شرح م ر و ع ش . )  

 *Dari perkataan ulama Syafi'iyah*

Fatawa Ibnu Hajar 1/137: "Dan beliau ditanya - radhiyallahu 'anhu - dan semoga Allah mengumpulkanku dalam golongannya - tentang mencium kedua tangan setelah setiap doa di luar shalat, apakah ada dasarnya seperti mengusap wajah dengan keduanya atau tidak? Dan jika ada dasarnya, apakah itu sahih atau hadisnya lemah? (Maka beliau menjawab) - semoga Allah melapangkan masanya -: Bahwa aku tidak melihat ada dasar yang sahih maupun yang lemah setelah penelitian dan pencarian lebih lanjut; maka tidak sepantasnya melakukannya."

Dan dalam Mughni Al-Muhtaj 1/370: "Adapun mengusap selain wajah seperti dada, maka tidak disunnahkan mengusapnya sama sekali, bahkan sekelompok ulama menegaskan kemakruhannya. Adapun mengusap wajah setelah doa di luar shalat, maka Ibnu Abdissalam setelah melarangnya berkata: Tidak ada yang melakukannya kecuali orang bodoh. Selesai. Dan telah datang dalam masalah mengusap dengan keduanya beberapa khabar, sebagiannya gharib dan sebagiannya dha'if, dan meskipun demikian, dalam kitab At-Tahqiq dipastikan kesunnahannya."

Dan dalam Hasyiyah Al-Bujairimi 'ala Syarh Al-Manhaj 1/208: "Perkataannya: (tidak mengusap) maksudnya: di dalam shalat, yaitu: tidak dianjurkan, maka yang lebih utama adalah meninggalkannya. Ha' Lam. Dan disunnahkan di luar shalat. Mim Ra' maksudnya: disunnahkan untuk mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelahnya karena telah datang riwayat bahwa setiap helai rambut yang ia usap dengan tangannya setelah doa akan menjadi saksi baginya dan akan diampuni baginya sejumlah helai rambut itu. Ha' Fa'. Dan apa yang dilakukan oleh orang awam berupa mencium tangan setelah doa tidak ada dasarnya sebagaimana dalam syarh Mim Ra' dan 'Ain Syin."

من أقوال الحنابلة  

في المغني لابن قدامة 1/449 : ( ولنا , قول النبي صلى الله عليه وسلم : { إذا دعوت الله فادع ببطون كفيك , ولا تدع بظهورهما , فإذا فرغت فامسح بهما وجهك } . رواه أبو داود , وابن ماجه . ولأنه فعل من سمينا من الصحابة . وإذا فرغ من القنوت فهل يمسح وجهه بيده ؟ فيه روايتان :  إحداهما , لا يفعل ; لأنه روي عن أحمد أنه قال : لم أسمع فيه بشيء . ولأنه دعاء في الصلاة , فلم يستحب مسح وجهه فيه , كسائر دعائها .  الثانية : يستحب ; للخبر الذي رويناه . وروى السائب بن يزيد , { أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا رفع يديه , ومسح وجهه بيديه } . ولأنه دعاء يرفع يديه فيه , فيمسح بهما وجهه , كما لو كان خارجا عن الصلاة )  

وفي غذاء الألباب 2/516 : ( وأن يسأل ما يصلح , ويمسح وجهه بيديه بعد فراغه ) اه  وفي الفتاوى الكبرى لابن تيمية 2/219 : ( وأما رفع النبي صلى الله عليه وسلم يديه في الدعاء : فقد جاء فيه أحاديث كثيرة صحيحة , وأما مسحه وجهه بيديه فليس عنه فيه إلا حديث , أو حديثان , لا يقوم بهما حجة , والله أعلم .) 

*Dari perkataan ulama Hanabilah*

Dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah 1/449: "Dan dalil kami adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: {Apabila engkau berdoa kepada Allah maka berdoalah dengan telapak tanganmu, dan jangan berdoa dengan punggung tanganmu, dan apabila telah selesai maka usaplah wajahmu dengan keduanya}. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dan karena itu adalah perbuatan orang-orang yang telah kami sebutkan dari kalangan sahabat. Dan apabila telah selesai dari qunut, apakah ia mengusap wajahnya dengan tangannya? Dalam hal ini ada dua riwayat: Pertama, tidak melakukannya; karena diriwayatkan dari Ahmad bahwa beliau berkata: Aku tidak mendengar apapun tentangnya. Dan karena itu adalah doa di dalam shalat, maka tidak dianjurkan mengusap wajahnya di dalamnya, seperti doa-doa lainnya di dalam shalat. Kedua: Dianjurkan; karena hadis yang telah kami riwayatkan. Dan As-Saib bin Yazid meriwayatkan, {Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berdoa beliau mengangkat kedua tangannya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya}. Dan karena itu adalah doa yang di dalamnya ia mengangkat kedua tangannya, maka ia mengusap wajahnya dengan keduanya, sebagaimana jika ia berada di luar shalat."

Dan dalam Ghidza' Al-Albab 2/516: "Dan hendaknya ia meminta apa yang baik, dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai."

Dan dalam Al-Fatawa Al-Kubra karya Ibnu Taimiyah 2/219: "Adapun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dalam doa: maka telah datang tentangnya hadis-hadis yang banyak yang sahih, dan adapun beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, maka tidak ada darinya kecuali satu hadis, atau dua hadis, yang tidak dapat dijadikan hujjah, wallahu a'lam."

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat. Aamiin 

*والله الموافق الى أقوم الطريق*

Sabtu, 19 September 2026

KAJIAN TENTANG PENGAKUAN TERPUTUSNYA NASAB BA'ALAWI MENURUT AL-HABIB MUSTHAFA AL-ATHAS SESUAI KITAB BA'ALAWI







Dalam penggalan sebuah percakapan di medsos ada sebuah kejujuran pengakuan dari seorang ba'alawi yaitu Al-Habib Musthafa Al-Athas dalan penjelasannya beliau menyatakan bahwa nasab ba'alawi adalah nasab yang cilukba alias datang secara tiba-tiba sebagai pengakuan nasab yang munqathi' (terputus) dari ahlul bait Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau merujuk kepada tiga kitab karya ulama ba'alawi yaitu Kitab Al-Imam Al-Muhajir hal.27 karya Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Kitab Al-Mu'jam Al-Latif hal.41 karya Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, dan Kitab Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167 karya As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi.

Melalui penelusuran saya dapatkan dan kutikpan isi kitab dimaksud sebagai berikut,

لقد واجه المهاجر وذرية من بعد فى حضرموت من الاناف فى إثبات نسبهم الى النبي صلى الله عليه وسلم مالم يواجه مثله أي فرع من فروع البيت النبوي وكان انكار هذه النسب او الطعن فيها يتكرر واجه يتكر بصور واشكال متعددة من قدوم الامام المهاجر الى حضرموت حتى عصر الحاضر

"Sungguh Al-Muhajir (Imam Ahmad bin Isa) dan keturunannya setelahnya di Hadhramaut telah menghadapi kesulitan yang sangat berat dalam menetapkan nasab mereka kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mana kesulitan seperti itu tidak pernah dihadapi oleh cabang manapun dari cabang-cabang keluarga Nabi (Bait Nabawi).

Dan pengingkaran terhadap nasab ini atau pencelaan terhadapnya terus berulang dengan berbagai bentuk dan model yang bermacam-macam, sejak kedatangan Imam Al-Muhajir ke Hadhramaut hingga masa sekarang ini." (Musthafa bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Athas, Al-Imam Al-Muhajir hal.27)

أعلام تآصل بني علوي لوشستر إلا بعد تكاثرهم

وأعلام القبائل العلوية سواء كانت بالأسماء أو بالألقاب أو بالكنى لم تشتهر ولم تنتشر إلا بعد تكاثرها، وذلك بعد القرن الثامن الهجري لأنهم لم يتنشروا إلا فيه بعد، والهدف منها كما قلت سابقًا هو التعارف والتمايز. قال الله تعالى جلّ وعلا:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾

(سورة الحجرات، آية 13)

"Publikasi asal-muasal nasab Bani Alawi tidak menjadi terkenal/masyhur kecuali setelah jumlah mereka banyak (berkembang biak)."

“Nama-nama/penamaan kabilah-kabilah Alawiyah, baik yang berupa nama, gelar maupun kunyah, tidak menjadi terkenal dan tersebar kecuali setelah jumlah mereka semakin banyak. Hal itu terjadi setelah abad kedelapan Hijriah, karena sebelum itu mereka belum banyak tersebar. Tujuan dari penamaan tersebut, sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, adalah untuk saling mengenal dan membedakan satu sama lain.

Allah Ta‘ala berfirman:

‘Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.’ (QS. Al-Hujurat: 13. (Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Al-Mu'jam Al-Latif hal.41)

ظهور السلسلة فجأة، وتشتهر ولما تكون مشهورة؛ كما أنها لا واقع لها في دواوين النسب، فخبر الواحد لا عبرة به هنا بعد أن مضى على السلسلة قرون ولم تكن معروفة خلال تلك القرون المتصرفة

"Munculnya sebuah garis keturunan (silsilah nasab) secara tiba-tiba, lalu menjadi terkenal padahal sebelumnya tidak pernah terkenal; sebagaimana nasab tersebut tidak ada faktanya (tidak tercatat) di dalam kitab-kitab induk nasab, maka kabar perorangan (khabar ahad) tidak ada nilainya di sini setelah berlalunya berabad-abad lamanya atas silsilah tersebut dalam keadaan tidak dikenal selama abad-abad yang telah berlalu itu." (As-Sayyid Husain bin Haidar Al-Hasyimi, Rasail fi A'lam Al-Ansab hal.167).

Oleh karenanya, dari penjelasan kitab-kitab diatas dapat diketahui bahwa Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan keturunannya itu terkenal popularitasnya dan tersebar luas namanya (syuhrah wal istifazhah) baru pada abad ke-8 hijriyah dimana abad sebelumnya tidak diketahui dan tidak tercatat di dalam kitab nasab. Dari penjelasan video dan teks rujukan kitab tergantung bagaimana kita menyikapi kebenarannya. Wallahu a'lam 

Demikian Asimun Mas'ud At-Tamanmini menyampaikan semoga bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan. Aamiin 

*والله الموافق الى أقوم الطريق*